Flashback
Cerita Dewasa · 18+
Pertemuan dengan Bidadari Rien
Cerita seru dari sebuah pengalaman seorang pemuda yang penuh misteri dari seorang yang bernama Kino. Berbagai bidadari ia temui salah diantaranya, seorang bidadari yang tak terduga. Nama panjangnya adalah Rinduwati Suliandara.
Mba Rien, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang 9uru tari di Sanggar Tari Pelangi. Kino tak pernah tahu usia wanita itu yang sesungguhnya, tetapi pokoknya ia tak tampak terlalu tua, walau jelas bukan pula remaja. Wajahnya -jika memakai ukuran normal- tidaklah terlalu cantik.
Tidak pula terlalu jelek. Biasa-biasa saja Tetapi Mba Rien memiliki mata yang sangat indah, bening dihiasi bulu mata lentik. Juga memiliki bibir yang -menurut Kino- sangat menarik, karena selalu kelihatan basah.

Waktu itu Kino duduk di bangku SMA, kelas dua A. Untuk usianya, waktu itu Kino tergolong “terlambat” dalam soal pacaran. Ia tidak punya teman wanita istimewa, karena baginya semua teman wanitanya sama saja. Konon ada yang naksir, namanya Alma, gadis dari kelas dua B.
Tetapi Kino tidak tertarik, walau kata teman-temannya gadis itu tergolong ratu. Bagi Kino, ia memang ratu, tetapi entah kenapa ia tidak tertarik. Berenang di sungai lebih menarik bagi Kino, katimbang jalan-jalan dengan Alma.
Tetapi Mba Rien menarik hatinya sejak awal mereka berjumpa. Waktu itu, Kino mengantar adik perempuannya, Susi, ke sanggar untuk latihan menari. Kino sangat sayang kepada adik satu-satunya yang baru berusia 7 tahun itu (jarak dua kakak-beradik ini memang terlalu jauh).
Dengan sepeda, diboncengnya Susi ke sanggar, dan diantarnya sampai ke ruang latihan di tengah kompleks sanggar. Saat itulah ia melihat Mba Rien, sedang mengikatkan setagen ke sekeliling pinggangnya.
“Selamat sore Susi…,” ucap Mba Rien menyapa Susi, lalu sekejap melirik Kino. Suara wanita itu lembut tetapi bernada wibawa, pikir Kino sambil melepas gandengan tangan adiknya.
“Mba Rien, ini kakak saya…,” Susi menunjuk ke Kino yang masih berdiri di pintu ruang latihan. Mba Rien mengangkat muka, dan tersenyum kepada Kino. Agak canggung, Kino membalas tersenyum dan berucap serak, “Selamat sore, mbak…”.
Mba Rien hanya mengangguk tanpa berhenti tersenyum, lalu menerima salam Susi, dan berbalik menuju tempat segerombolan anak-anak yang sedang bersiap belajar menari. Kino masih berdiri, memandang tubuh Mba Rien dari belakang, dan entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup lebih keras.
Tubuh Mba Rien menyita perhatiannya, terbungkus kain dan baju ketat, menampakkan lika-liku yang menawan. Astaga, pikir Kino, wanita ternyata bisa menarik juga!
Untuk beberapa jenak, Kino masih berdiri di depan pintu, menelan ludah berkali-kali dan merasa wajahnya merah karena malu. Kepada siapa? Entahlah. Tetapi perjumpaan pertama dengan Mba Rien berbekas keras di kalbunya.
Sambil mengayuh sepedanya pulang, Kino tiba-tiba memiliki pikiran-pikiran seronok. Gila kamu! tukasnya dalam hati, menyalahkan diri sendiri. Mana mungkin kamu bisa meremas-remas tubuh itu! ucap suara lain di kepalanya.
Meremas….? Dari mana datangnya ide gila itu? pikir Kino gelisah. Berkali-kali Kino merasa sadel sepedanya terasa lebih kecil dari biasanya, dan selakangannya sering terasa geli. Sial! sergahnya dalam hati.
Ketika ayah memintanya menjemput Susi, dengan bersemangat Kino mengatakan ya. Lalu, ia pun tiba di sanggar 15 menit sebelum waktu latihan selesai. Ia duduk di bawah pohon kamboja, tidak jauh dari ruang latihan.
Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Mba Rien melenggak-lenggok mengajarkan gerakan yang diikuti oleh belasan anak-anak kecil. Pandangan Kino tak lekang dari gerakan-gerakan Mba Rien, dan entah kenapa ia kini mengerti apa artinya sebuah tari yang indah! Selama ini, bagi Kino menari adalah kegiatan perempuan yang tak menarik.
Menjemukan, bahkan. Tetapi ketika melihat Mba Rien mengangkat tangan, melenggok ke kiri, menggerakkan pinggulnya …., Kino menelan ludah lagi. Bajingan kamu! ucap sebuah suara di dalam kepalanya.
Kino membuang muka, mengalihkan pandangannya ke hamparan rumput. Tetapi, seperti ditarik magnit, muka Kino sesekali kembali lagi memandang ke ruang latihan.
Dari ruang tari, Rien juga bisa melihat keluar, walau perbedaan terang menyebabkan matanya agak silau jika harus memandang ke arah tempat Kino duduk. Sambil terus menggerakkan tubuhnya, Rien melirik dan mengernyit heran melihat remaja itu betah duduk sendirian.
Biasanya, para penjemput murid-muridnya datang terlambat, dan tidak pernah berlama-lama di sanggar tari. Apalagi yang laki-laki, entah itu kakak atau ayah atau paman. Pada umumnya, di kota kecil ini, menari bukanlah sesuatu yang menarik untuk pria. Makanya, tingkah Kino bagi Rien agak tidak biasa.
Ketika akhirnya latihan selesai, Kino bangkit dan mendekat ke arah ruang latihan, tetapi tetap dalam keteduhan pohon kamboja. Entah kenapa, ia tak berani lebih dekat.
Sebetulnya ia ingin mendekat, tetapi dadanya berdegup kencang setiap kali ia melangkah. Semakin dekat ke ruang latihan, semakin kencang degupnya. Sebab itu, ia berhenti setelah dua langkah saja. Ia akan menunggu saja sampai Susi keluar dan menghampirinya.
Rien, dengan sedikit peluh di lehernya, mengucap salam perpisahan kepada murid-muridnya. Lalu, sambil melepas stagen, ia berjalan ke pintu. Dilihatnya Susi berlari ke arah penjemputnya, remaja yang betah berlama-lama di bawah pohon kamboja menonton latihannya itu.
Sambil melepas ikat rambutnya, sehingga rambutnya yang sebahu kini tergerai, Rien berdiri di pintu dan berucap lembut, tetapi juga cukup keras untuk didengar Kino.
“Kenapa tadi tidak tunggu di dalam saja, Dik…,” ujarnya. Kino cuma bisa menyeringai seperti kera sedang makan kacang.
Rien tersenyum melihat seringai remaja yang tampak kikuk itu. Kino menelan ludah melihat senyum itu. Entah kenapa, senyum itu tampak menarik sekali. Rasanya, Kino seperti disiram air sejuk.
Gila kamu! ucap suara di dalam kepalanya lagi. Dan Kino pun cepat-cepat membungkuk berpamitan, lalu menggandeng tangan Susi menuju sepeda. Rien kembali tersenyum memandang kedua kakak-beradik yang akur itu meninggalkan sanggarnya.
*****
Sejak pertemuan itu, Kino sering melamunkan Mba Rien. Lebih gila lagi, saat mandi dan menyabuni tubuhnya, Kino merasakan darahnya berdesir membayangkan Mba Rien. Percuma ia mengguyurkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya, tetap saja kelaki-lakiannya perlahan menegang. Aduh celaka! jeritnya dalam hati, ketika melihat ke bawah.
Cepat-cepat ia menyabuni dirinya, lalu membilasnya, membungkus tubuhnya dengan handuk dan lari ke luar kamar mandi menuju kamarnya. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat tonjolan di bawah pinggangnya yang terbungkus handuk itu!
Malam hari, ketika ia gelisah bergulang-guling di ranjangnya, Kino kembali membayangkan Mba Rien. Lagi-lagi terbayang pinggulnya yang padat berisi, pinggangnya yang ramping, dan dadanya yang membusung walau tidak terlalu besar.
Kino juga terkenang lehernya yang agak basah oleh keringat. Juga bibirnya. Ya, bibirnya itu yang paling menawan. Selalu basah, dan tampaknya lembut sekali. Apalagi kalau ia tersenyum, menampakkan sedikit gigi-giginya yang putih. Bagaimana rasanya menggigit bibir itu?
Kino makin gelisah, sebab kini kelaki-lakiannya menengang lagi seperti ketika ia sedang mandi. Malam sudah agak larut, dan rumah sudah sepi. Tak ada suara-suara, selain jangkerik. Kino menelungkupkan tubuhnya.
Celaka, justru gerakan itu menyebabkan kelaki-lakiannya terjepit di antara tubuhnya dan kasur yang empuk. Tanpa sadar, Kino menggerak-gerakkan badannya, menggesekkan kelaki-lakiannya ke kasur. Matanya terpejam, dan terbayang ia berada di atas tubuh Mba Rien.
Terbayang ia mengulum bibir Mba Rien yang basah. Terbayang dadanya yang ceking menempel di dada Mba Rien yang kenyal. Gila! Kino terlonjak ketika merasakan cairan hangat mengalir cepat membasahi celana dalamnya. Untung ia sigap, sehingga seprai tidak ikut basah.
Hanya saja, di pagi hari ia harus mencari alasan untuk bisa mencuci sendiri celana dalamnya, tanpa harus mencuci pakaian anggota keluarga yang lain!
*****
Beberapa hari setelah perjumpaan pertamanya dengan Kino, kembali Rien terheran melihat remaja itu sudah ada setengah jam sebelum latihan usai. Setengah jam! Betapa lamanya ia akan menanti di situ sendirian, ucap Rien dalam hati sambil terus menggerakkan badannya di depan para penari cilik.
Berkali-kali Rien melirik ke arah pohon kamboja, dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa gerangan remaja itu begitu betah menunggu adiknya. Terlebih-lebih lagi, remaja itu selalu memandang ke dalam dengan seksama.
Sialan, mungkin ia tertarik melihat tubuhku, umpat Rien dalam hati. Tetapi, mungkin juga ia tertarik pada tarianku. Siapa tahu? Atau mungkin tertarik pada dua-duanya, ucap Rien dalam hati. Ia tersenyum sendiri ketika mengambil kesimpulan terakhir ini.
“Satu … dua…tiga …. empat, putar……,” Rien memutar tubuh memberi contoh, diikuti oleh bidadari-bidadari kecil yang tertatih-tatih mencoba meniru sesempurna mungkin.
“Satu .. dua … tiga … empat, putar….,” suaranya lembut, tetapi tegas dan cukup nyaring.
Kino menyenderkan tubuhnya di batang pohon kamboja. Sayup-sayup suara Mba Rien sampai di telinganya. Terdengar merdu. Gila! semua yang berhubungan dengan wanita itu selalu bagus. Apa-apaan ini? sebuah suara menghardik di kepala Kino, membuatnya tertunduk sendiri.
Dicabutnya sebatang rumput, dimain-mainkannya di antara jari-jarinya. Kino merenung, bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi dalam dirinya. Mengapa Mba Rien jadi begitu menarik, padahal ia jauh lebih tua dariku?
Mengapa Alma yang seusia dengannya itu tidak semenarik Mba Rien, padahal Alma juga cantik. Kino menarik nafas dalam-dalam, lalu kepalanya terangkat lagi, memandang lagi ke dalam ruang latihan.
Cuma kali ini ia tidak melihat Mba Rien di sana. Dipanjang-panjangkannya lehernya, mencari-cari, kemana gerangan wanita itu.
Kino bahkan memiringkan tubuhnya, sampai hampir rebah ke kiri, untuk melihat sudut terjauh yang masih terjangkau pandangan. Mba Rien tidak ada, sementara murid-muridnya masih bergerak sesuai irama musik dari tape-recorder. Kemana dia?
Hampir copot rasanya jantung Kino, ketika tiba-tiba Mba Rien muncul dari balik tembok rumah di sebelah ruang latihan. Rupanya, ada gang yang menghubungkan rumah itu dengan ruang latihan, yang tidak terlihat dari tempat Kino duduk.
Rupanya Mba Rien meninggalkan murid-muridnya untuk masuk ke rumah itu. Dan kini ia berjalan kembali ke ruang latihan, tetapi tidak melalui gang, melainkan lewat pintu depan. Lewat di depan Kino, melenggang santai dengan kainnya yang ketat membungkus tubuhnya yang indah.
“Hayo.., tunggu di dalam, Dik!” ucap Mba Rien menghentikan langkah sebelum masuk. Senyum yang memikat Kino terhias di bibirnya. Kino menelan ludah, tak bisa menyahut, dan cuma bisa meringis lagi. Betul-betul seperti kera yang sedang kepedasan.
“Hayo …,” ajak Mba Rien lagi, lembut tetapi tegas.
Kino bangkit, dan dengan ragu-ragu melangkah mendekat. Mba Rien tertawa kecil, lalu melanjutkan langkah mendahului masuk.
Pelan-pelan Kino menyusulnya. Ketika ia tiba di ruang latihan, Mba Rien sudah berputar-putar lagi memberi contoh gerakan tarinya. Kino mencari-cari bangku untuk duduk, tetapi tak ada satu pun di sana. Ia lalu berdiri saja, menyender di sebuah tiang yang cukup besar.
Rien melirik, melihat remaja itu berdiri kikuk. Kasihan, pikirnya. Tetapi biarlah begitu, kalau ia memang tertarik pada tarianku -atau tubuhku!- biar saja ia berdiri sampai pegal. Tersenyum Rien mendengar kata hatinya yang terakhir ini. Ya, biar dia berdiri sampai pegal!
Selama 20 menit, Kino berdiri saja melihat adiknya latihan menari. Susi terlihat senang melihat kakaknya sudah hadir. Berkali-kali Susi kelihatan ketinggalan langkah, karena ia tersenyum-senyum kepada kakaknya.
Kino mengernyitkan dahinya, meletakkan telunjuk di bibirnya, memperingatkan Susi agar tetap serius. Rien tersenyum melihat tingkah keduanya.
Ketika akhirnya latihan selesai, Kino bernafas lega. Bukan saja karena ia sudah pegal berdiri, tetapi juga karena sebenarnya ia agak tersiksa. Betapa tidak? Sejak tadi ia terpesona oleh gerak Mba Rien, tetapi ia harus menyembunyikan perasaan itu. Betapa sulit!
Rien berjalan mendekati Kino sambil melepas stagen. Kino berdiri kikuk ketika akhirnya Rien berdiri di hadapannya, cukup dekat untuk mencium bau keringatnya yang ternyata tidak mengganggu Kino.
“Suka menari?” tanya Rien. Matanya memandang lekat remaja di hadapannya. Senyumnya mengembang halus. Kino menelan ludah lagi.
Kino menggeleng kuat. Rien tertawa kecil, “Saya pikir kamu suka. Sebab, kamu betah menunggu adikmu latihan.”
“Saya …., sebetulnya saya suka ..,” ucap Kino tergagap.
“Oh, ya???” Rien membelalakan matanya yang indah, senyumnya mengembang lagi. Kino menelan ludah lagi. “Seberapa suka, sebetulnya …,” tanya Rien lagi, ringan.
“Mmmm … saya suka menonton saja.” jawab Kino sekenanya.
“Menonton anak-anak kecil menari?” tanya Rien. Wah! Kino tertunduk, mukanya tiba-tiba terasa panas. Sial!
Rien tergelak melihat Kino tertunduk malu. Kini ia tahu apa yang sesungguhnya ditonton laki-laki belia ini! Ia ke sini untuk menontonku, melihat tubuhku! Dan kesimpulan ini membuat dirinya senang. Bagi Rien, menyenangkan penonton adalah tujuan utamanya menari, bukan?
“Siapa nama kamu?” tanya Rien lembut sambil melepas ikat rambutnya. Kino mengangkat muka, melihat kedua tangan Rien terangkat, dan samar-sama kedua ketiaknya yang mulus terlihat dari lengan bajunya yang agak tersingsing.
“Kino..,” terdengar jawaban pelan. Rien tersenyum lagi, sengaja berlama-lama membuka ikat rambutnya, membiarkan remaja itu melihat apa yang ingin dilihatnya. Nakal sekali kamu, Rien! sebuah suara terdengar di kalbunya.
Siksaan bagi Kino baru berhenti ketika Susi menarik tangannya pulang. Sambil menggumamkan selamat sore, ia berbalik dan menggandeng adiknya ke tempat sepeda.
“Datang lagi, yaaa!” seru Rien ketika Kino sedang bersiap mengayuh. Duh! Kino jadi serba salah. Apakah ia harus menjawab seruan itu? Ah, sudahlah! sergahnya dalam hati dan cepat-cepat mendayung. Dari kejauhan Rien memandang kakak-beradik itu menghilang di balik tikungan. Senyum manis masih di bibirnya.
Demikianlah seterusnya, Kino semakin terpikat oleh wanita yang pandai menari dan pandai menggoda itu. Sekali waktu ia mencoba menghindar, meminta kepada ayah untuk tidak usah menjemput Susi dengan alasan harus latihan bola kaki.
Selama empat kali latihan, ia tidak mampir ke sanggar, dan tidak berjumpa Mba Rien. Dan itu artinya, sudah sebulan ia tidak melihat tubuh molek itu melenggak-lenggok. Lama juga, ya?
Sampai suatu hari, ada pertunjukkan dari di balai kota, diselingi permainan band sebuah kelompok amatir yang cukup populer di kota kecil ini. Kino datang bersama teman-temannya, tentu hanya untuk menonton band. Acara tari-tarian di sore hari dilewatkan saja. Rombongan Kino baru tiba di atas pukul 8, saat band mulai naik panggung.
Di situlah Kino berjumpa lagi dengan Mba Rien. Saat band memainkan lagu ketiga, Kino pergi ke belakang panggung untuk buang air kecil, karena di sana lah terdapat toilet untuk umum.
Saat kembali ke tempat duduknya, sewaktu meliwati pintu yang menuju tempat pemain berganti pakaian, Kino melihat Mba Rien duduk di sebuah bangku. Langkahnya terhenti, lalu ia menyelinap ke balik tembok yang agak gelap. Dari situ, ia bisa melihat Mba Rien, tetapi wanita itu tidak bisa melihatnya.
Rien memakai jeans ketat dan sebuah kaos agak longgar berwarna putih. Rambutnya digelung ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan agak basah oleh keringat. Ia tampak letih, dan sedang menikmati sebotol minuman dingin.
Bibirnya menjepit sebuah sedotan, dan matanya tampak melamun. Bagi Kino, Mba Rien tampak menawan malam itu. Ia kemudian melihat wanita itu bangkit menuju ke sebuah kamar di belakang panggung. Kino mengikuti gerak-geriknya dengan seksama, aman dalam lindungan bayang-bayang yang gelap.
Tak lama kemudian, tampak Mba Rien membuka sebuah pintu, dan di dalam terlihat terang berderang tetapi sepi. Berjingkat, Kino berpindah tempat sehingga bisa memandang lebih bebas ke dalam ruangan itu.
Rien menutup pintu ruang, tetapi rupanya kurang begitu kuat mendorong, sehingga masih tersisa celah untuk melihat ke dalam. Dengan jantung berdegup kencang, Kino melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa. Semua orang berada di depan panggung asyik menonton band.
Pelan-pelan ia melangkah mendekati ruang yang ternyata adalah ruang ganti pakaian bagi para artis. Ia tiba di depan pintu ruang itu, dan dari celah yang tersisa, ia bisa melihat ke dalam. Kino menelan ludah, dan menahan kagetnya. Di dalam, Mba Rien tampak sedang membuka kaosnya, membelakangi Kino.
Tubuhnya yang putih dan padat terlihat jelas, apalagi kemudian ia berputar menghadap sebuah cermin yang pantulannya terlihat dari tempat Kino berdiri. Ia bisa melihat dua payudara yang indah, terbungkus beha yang tampak terlalu kecil. Lutut Kino terasa bergetar.
Kemudian tampak Mba Rien melepas celana jeansnya. Kino merasa kakinya terpaku di tanah. Dengan kuatir ia melihat ke sekeliling, takut kepergok. Tetapi suasana di sekitar ruang ganti itu tetap sepi.
Maka ia tetap mengintip ke dalam. Jeans sudah dibuka dan tergeletak di lantai. Mba Rien hanya bercelana dalam dan berbeha, dan tubuhnya indah bukan main. Putih mulus, padat berisi. Kino berkali-kali menelan ludah.
Pemandangan indah itu berlangsung tak lebih dari 10 menit, karena kini Mba Rien sudah berganti rok panjang dan baju hem coklat. Tetapi bagi Kino, rasanya lama sekali. Cepat-cepat ia berbalik dan tergopoh kembali ke depan panggung.
Rien mendengar suara langkah orang. Terkejut, ia segera lari ke pintu dan melihat pintu belum tertutup sepenuhnya. Celaka, pikirnya, seseorang tadi mengintipku berganti pakaian. Cepat-cepat dikuaknya pintu, dilongokkannya kepala, bersiap berteriak jika memergoki si pengintip. Tetapi di luar sepi, tidak ada siapa-siapa. Ah, mungkin cuma perasaanku saja, pikir Rien.
Sementara itu, di depan panggung Kino gelisah mengenang pengalamannya. Lagu-lagu yang dibawakan band di depannya terasa hambar. Teman-temannya terlihat girang, tetapi ia sendiri kurang bergairah.
Dengan alasan mengantuk, ia pulang lebih dulu dari teman-temannya yang keheranan. “Ada apa denganmu, Kino?” tanya sobatnya, Dodi.
Ia tidak menjawab, dan hanya menggumam sambil melangkah meninggalkan arena pertunjukkan. “Dasar kutu buku …,” gerutu Iwan, temannya yang lain. Kino tak peduli, dan terus melangkah menembus malam.
Dan malam itu, Kino menikmati hayalnya di atas ranjang, meremas-remas kelaki-lakiannya yang menegang sambil membayangkan tubuh mulus Mba Rien. Tak berapa lama, ia mengerang tertahan, merasakan cairan hangat memenuhi telapak tangannya.
Dengan tissue yang sudah disiapkannya, ia melap tangannnya, lalu tidur nyenyak sambil berharap bertemu Mba Rien di alam mimpi. Namun mimpinya ternyata kosong belaka, tentu karena ia sebetulnya sudah sangat mengantuk malam itu.
Bersambung…
Pandangan Penuh Cinta
Seminggu setelah peristiwa di belakang panggung itu, Kino mengantar Susi ke sanggar Mba Rien. Sebelum berangkat, ia sudah bersumpah untuk tidak berlama-lama. Begitu sampai, ia akan segera melepas Susi dan kembali kerumah secepatnya.
Kepada Susi ia telah pual berpesan agar tidak perlu diantar sampai pintu ruang latihan. Susi mencibir manja, tetapi tidak membantah ucapan kakaknya.
Namun semua rencana buyar ketika ternyata Kino berjumpa Mba Rien di gerbang halaman sanggar. Turun dari sepedanya, Kino tergagap menyampaikan salam kepada wanita yang tubuhnya memenuhi hayal Kino seminggu ini.
“Hai, Kino … lama sekali kamu tidak kelihatan. Kemana saja?” sambut Mba Rien riang.
“Sibuk, mbak..,” jawab Kino menunduk. Adiknya sudah turun dan berlari masuk.
“Wah… begitu sibuknya, sampai tidak sempat menonton Mba Rien lagi, ya!?” sergah Mba Rien sambil tersenyum manis. Kino menyahut dengan gumam tak jelas, dan menunduk seperti seorang pesakitan di hadapan polisi.
“Eh .. tidakkah kamu ingin melihat adikmu menari lengkap?” ucap Mba Rien lagi, dan tiba-tiba tangannya telah menyentuh tangan Kino. Tergagap, Kino menjawab sekenanya, tetapi entah apa isi jawaban itu, ia sendiri tak ingat!
“Hayo masuk, sekali ini kamu bisa melihat anak-anak menari sampai selesai!” kata Mba Rien yang kini sudah memegang erat satu tangan Kino dan menariknya masuk ke halaman sanggar. Kino tak kuasa menolak, dan dengan kikuk ia mengikuti langkah Mba Rien sambil menyeret sepedanya.
Mba Rien tidak memakai kain sore ini. Tubuhnya dibungkus rok span hitam dan hem kuning muda dengan leher V yang agak rendah.
Ia juga tidak berdiri memberi contoh di depan anak-anak, melainkan duduk bersimpuh di lantai, di sebelah Kino yang bersila. Dari tempat mereka duduk, Kino bisa melihat anak-anak menari lengkap tanpa instruksi Mba Rien.
Bagi Kino, anak-anak itu kelihatan seperti daun-daun kering yang berterbangan di tiup angin. Jauh sekali bedanya dibandingkan dengan jika yang menari adalah Mba Rien.
Kino melirik ke sebelah kanannya, tempat Mba Rien bersimpuh. Darahnya berdesir cepat melihat rok span wanita itu terangkat sampai setengah pahanya. Aduhai, pahanya mulus sekali, dihiasi bulu-bulu halus yang hampir tak tampak.
Betisnya juga indah sekali, tidak terlalu besar, tetapi juga tampak kokoh karena sering berdiri lama ketika menari. Mba Rien sendiri sedang serius memperhatikan anak-anak menari, sehingga tidak menyadari bahwa remaja di sampingnya sedang sibuk menelan ludah!
Ketika suatu saat Mba Rien harus berganti posisi bersimpuhnya, Kino mencuri pandang lagi. Sekejap, ia bisa melihat seluruh pangkal paha Mba Rien. Celana dalam berwarna putih, tipis menerawangkan warna kehitaman di selangkangan, membuat Kino terkesiap. Cepat-cepat dialihkannya pandangan kembali ke tempat anak-anak menari.
Rien menoleh untuk menanyakan sesuatu, tetapi seketika ia melihat wajah Kino seperti kepiting rebus. Ah, ia tiba-tiba sadar akan posisi duduknya.
Remaja yang sekarang sedang pura-pura memperhatikan tarian itu pasti tadi melihat rok ku tersingkap, pikir Rien menahan tawa. Minta ampun, remaja sekarang begitu cepat matang! Rien membatalkan keinginannya untuk menanyakan komentar Kino.
Sebaliknya, ia malah bangkit membuat Kino memalingkan muka dengan wajah bersalah. Pikir Kino, jangan-jangan ia tahu aku tadi melihat pahanya.
“Kamu mau minum, Kino?” tanya Mba Rien setelah berdiri, dan tanpa menunggu jawab ia berkata lagi, “Yuk, ikut saya ambil minum di ruang sebelah.”
Kino bangkit dan mengikuti wanita pujaannya seperti kerbau dicucuk hidungnya. Entah kenapa, wanita ini tidak bisa kubantah! ucapnya dalam hati.
Ruangan itu terletak di sebelah ruangan latihan, berupa sebuah dapur lengkap dengan meja makannya. Ada sebuah lemari es besar, dan Mba Rien tampak sedang membukanya dan mengambil beberapa minuman botol.
Kino berdiri tidak jauh di belakangnya, melihat dengan takjub tubuh yang agak membungkuk di depannya. Kepala Mba Rien tersembunyi di balik pintu lemari es, tetapi bagian belakang tubuhnya yang seksi terlihat nyata di mata Kino. Gila! Segalanya terlihat indah! umpat Kino dalam hati.
Kemudian mereka minum sambil duduk di kursi makan. Mba Rien menawarkan kue, tetapi Kino menolak halus. Mereka berbincang-bincang, atau lebih tepatnya Mba Rien bercerita tentang segala macam.
Kino lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Entah kenapa, Rien sendiri merasa semakin dekat dengan remaja di hadapannya. Rien merasa bahwa Kino adalah adik lelaki yang tak pernah dimilikinya. Saudara kandungnya semua perempuan, dan tinggal di lain kota. Di sini ia hidup sendirian, di sebuah kamar indekos tak jauh dari sanggar.
Untuk Rien, Kino adalah remaja yang menyenangkan. Tidak berulah seperti kebanyakan remaja seusianya. Kino juga sopan, walaupun matanya sering nakal. Ah, seusia itu pastilah sedang mengalami kebangkitan gairah seksual.
Ia ingat, pada usia seusia Kino dulu, ia juga mengalami “revolusi” yang sama. Saat itu, pikirannya tak lekang dari gairah seks dan lawan jenis. Kino pastilah tak berbeda, cuma ia sangat sopan dan pemalu.
Sore itu mereka berpisah karena latihan menari telah usai. Kino mengucapkan terimakasih atas suguhan Mba Rien, dan Rien melambai di gerbang sambil mengucap, “Jangan bosan kemari, ya, Kino!”
Ah, bagaimana aku bisa bosan? ujar Kino dalam hati.
Bersambung…
Pelajaran Bercinta Pertama
Sebelumnya… Hubungan Rien dan Kino berkembang cepat bagai api membakar ilalang kering. Susi sudah tidak lagi latihan menari, karena kini ayah dan ibu menyuruh Susi lebih berkonsentrasi ke pelajaran sekolah. Ujian akan berlangsung tiga bulan lagi. Kino tidak lagi mengantar Susi, tetapi justru kunjungannya ke sanggar semakin sering!
Ada satu hal yang membuat mereka semakin dekat. Keduanya suka berenang, dan Rien dengan senang hati mengajak Kino ke pantai jika waktu senggang. Seperti kali ini, Kino pulang lebih cepat karena 9uru-9urunya harus berseminar di luar kota.
Dari sekolah, Kino menuju sanggar untuk melihat kalau-kalau Mba Rien ingin berenang. Dan ternyata Rien memang sedang tidak berkegiatan, sedang sendirian membaca-baca majalah di sanggar.
“Berenang, yuk, Mba Rien..,” ajak Kino. Kini ia sudah berani mengajak duluan, setelah berkali-kali mereka berenang bersama di sungai, di kolam renang, maupun di pantai. Selama itu, mereka berenang bersama-sama dengan beberapa orang lainnya.
Kadang-kadang bersama Dodi dan Iwan, sahabat Kino. Kadang-kadang bersama Niken, salah seorang penari di sanggar. Teman-teman Kino pun kini tahu, bahwa di antara Mba Rien dan Kino “ada apa-apa”. Tetapi mereka cuma bungkam, karena Kino pasti akan berang setiap kali topik itu diangkat dalam pembicaraan.
Siang itu mereka berenang berdua saja. Teman-teman Kino memilih memancing di danau di luar kota. Niken tidak ada di sanggar karena harus belanja ke pasar. Rien dengan senang hati menerima ajakan Kino, dan segera mengambil pakaian renang dan sepedanya.
Di pantai tidak banyak orang, karena ini memang bukan hari libur. Rien mengajak Kino ke sebuah bukit pasir yang dipenuhi semak, karena tempat itu jauh lebih sejuk di bandingkan tempat di mana orang-orang biasa berenang atau bermain pasir. Kino menurut saja.
Mereka pun lalu berenang, bermain-main air dan saling berlomba mencapai batu karang di tengah laut. Mba Rien bukanlah perenang yang dapat diremehkan, begitu selalu kata Kino kepada teman-temannya. Tubuhnya gesit seperti ikan, dan tahan berenang berjam-jam.
Setelah puas berenang, mereka kembali berteduh di bawah semak-semak. Kino menggelar dua handuk lebar yang selalu dibawanya jika berenang ke pantai.
Rien merebahkan tubuhnya yang penat di sebelah Kino yang juga sudah tergeletak kecapaian. Mereka terdiam mendengarkan debur ombak memecah pantai. Kino memejamkan mata dan merasakan otot-otot tubuhnya pegal dan sedikit linu.
“Kino..,” tiba-tiba Rien berucap, hampir tak terdengar.
“Hah?…” Kino kaget dan setengah bangkit. Mba Rien masih tergeletak dengan mata tertutup, tetapi bibirnya tersenyum.
“Ada apa, Mba?” tanya Kino.
“Aku mau tanya, tetapi kamu musti jawab yang jujur ya!” kata Mba Rien, masih memejamkan mata dan tersenyum. Kino cuma diam.
“Kino .., kamu senang melihat saya, bukan?” tanya Mba Rien pelan. Kino cuma diam, tak tahu harus menjawab apa. Di hadapannya tergeletak seorang wanita dewasa, dengan tubuh sempurna, basah oleh air laut, dan bertanya seperti itu! Apa jawabannya?
“Lho, kenapa diam?” sergah Mba Rien, kini membuka matanya, memandang Kino dengan sinar mata yang menembus kalbu. Kino menelan ludah, lalu menunduk.
Rien lalu bangkit, duduk bersila menghadap Kino yang kini juga sudah duduk dengan kepala agak menunduk. Lalu Rien melakukan sesuatu yang selama ini tak pernah terduga oleh Kino. Ia membuka pakaian renangnya, menanggalkan bagian atasnya, memperlihatkan buah dadanya yang ranum, putih mulus dan basah berkilauan!
Aduhai indahnya dua bukit kenyal yang turun naik seirama nafas pemiliknya, dengan puncak yang dihiasi dua puting coklat kehitaman, berdiri tegak bagai menantang!
Kino mengangkat muka, pandangannya terpaku di kedua payudara indah di hadapannya. Mulutnya terkunci rapat. Rien tersenyum melihatnya, lalu dengan lembut digenggamnya kedua tangan Kino. “Jangan malu, Kino. Katakan kamu memang suka melihat tubuh saya, bukan?” ucapnya setengah berbisik. Kino menangguk pelan.
“Ingin menyentuhnya?” bisik Mba Rien lagi. Kino tergagap, mengangkat mukanya dan memandang wajah wanita di depannya tak percaya. Tetapi di wajah itu ada sepasang mata yang sangat sejuk, bagai danau di kaki bukit tempat teman-temannya biasa memancing. Sebuah hamparan air yang tampak tenang meneduhkan hatinya yang bergejolak.
“Apa maksud, Mba Rien?” ucap Kino tersekat.
“Tidak inginkah kamu menyentuh dadaku?” jawab Mba Rien, genggaman tangannya semakin kuat, dan kini perlahan-lahan mengangkat tangan Kino. Tersenyum lagi, Rien merasa betapa kedua tangan itu bergetar.
Cepat-cepat kemudian ia meletakkan kedua tangan Kino di dadanya, di puncak-puncak payudaranya yang membusung. Kino segera menarik kembali tangannya, bagai menyentuh benda bertegangan listrik. Rien tertawa kecil.
“Hayo, pegang lagi…,” ucapnya ringan. Diraihnya lagi kedua tangan Kino dan diletakkannya kembali di atas payudaranya. Kali ini Kino tak menarik tangannya, dan membiarkan kedua telapak tangannya menerima sebuah kelembutan, kehangatan, kekenyalan, dan entah apa lagi …. semuanya serba menakjubkan.
Pelan-pelan, Kino mulai memegang lebih erat, menempelkan seluruh telapaknya di puncak-puncak payudara Mba Rien. Baru kali ini, setelah lepas dari susu ibunya 13 tahun yang lalu, Kino memegang kembali payudara seorang wanita!
“Senang?” tanya Mba Rien, masih dengan suaranya yang setengah berbisik, setengah menuntut. Kino hanya bisa mengangguk dan menatap lekat mata Mba Rien, seakan-akan hanya dari kedua mata itulah ia bisa memiliki kekuatan untuk hidup saat ini.
Lalu Mba Rien menurunkan tangan Kino, mengenakan kembali pakaian renangnya, dan mengusap lembut wajah Kino. “Kamu sekarang sudah dewasa, Kino!” ucapnya riang, sambil bangkit dan menarik tangan Kino untuk ikut berdiri. Lalu ia berlari, menyeret Kino kembali ke laut, terjun sambil berteriak riang, dan melesat meninggalkan Kino menuju batu karang di tengah.
Kino merasa tubuhnya yang panas bagai bara dicelupkan ke dalam air dingin, segera memadamkan api yang tadinya sudah hampir membesar. Kino menyelam sedalam-dalamnya, seakan-akan hendak bersembunyi dari rasa malu yang tiba-tiba mengukungnya.
Tapi kemudian ia segera timbul kembali, segera bersemangat lagi mengejar wanita yang baru saja memberinya pelajaran sangat berharga dalam hidup ini. Aku telah dewasa! jeritnya dalam hati.
Bersambung…
Rangsangan Itu Bertambah
Pengalaman di pantai segera disusul pengalaman-pengalaman berikutnya. Kino kini sangat dekat dengan Mba Rien-nya, tetapi hubungan mereka menampakkan dimensi yang aneh. Jika ada orang bertemu mereka berdua, niscaya orang-orang itu akan berkata, ‘Akur sekali kakak-beradik itu!’.
Bahkan kedua orang tua Kino memandang seperti itu, dan karenanya tidak pernah tahu apa yang terjadi antara Rien dan anak mereka.
Sebaliknya, bagi Rien dan Kino, hubungan mereka telah memasuki babak yang sangat menentukan. Bagi Rien, kini Kino adalah seorang lelaki sempurna, lengkap dengan segala atributnya, termasuk birahinya terhadap wanita.
Kino adalah sebuah kepompong yang sedang berubah menjadi kupu-kupu. Dan Rien adalah seorang peri yang membantu kupu-kupu itu terbang.
Minggu sore itu, Rien mengajak Kino mencari kenari di hutan kecil dekat danau. Mereka berangkat setelah pukul 3, saat matahari memulai perjalanan turunnya.
Tadinya Niken hendak ikut, demikian pula Dodi teman Kino. Tetapi lalu Niken sakit perut karena datang bulan, dan Dodi harus mengantar ibunya ke dokter gigi. Jadilah akhirnya mereka hanya berdua ke hutan.
Rien hanya bercelana pendek, dan memakai t-shirt yang ditutupi jaket parasut. Kino bercelana khaki militer, lengkap dengan sepatu bot, dan t-shirt hijau tua. Berdua mereka menyusuri jalan setapak, masuk semakin jauh ke dalam hutan yang konon dulu menjadi salah satu tempat pertahanan bala tentara Nippon.
Di hutan ini banyak pohon kenari, dan dalam waktu kurang dari setengah jam, keranjang mereka berdua sudah dipenuhi kenari. Dengan gesit, Rien berlarian menemukan kenari-kenari yang masih utuh di tanah. Kino selalu kalah gesit, terutama karena ia selalu lebih banyak memandang Mba Rien yang tampak seksi sore itu.
Lalu, tiba-tiba saja hujan turun. Pertama cuma rintik-rintik, tetapi lalu berubah sangat lebat. Mereka pun berlarian mencari tempat berteduh, dan beruntung karena tidak jauh dari situ ada sebuah gua kecil bekas persembunyian tentara Jepang. Kino menyeret Mba Rien berlari ke gua itu, dan tiba di sana sedetik sebelum hujan yang sangat deras jatuh ke bumi.
“Wah, untung ada gua ini!” tukas Mba Rien sambil gemetar menahan dingin yang tiba-tiba menyerbu. Gua kecil ini tidaklah terlalu dalam, tetapi sangat lembab, sehingga dindingnya dipenuhi lumut dan udaranya lebih dingin dari di luar. Apalagi sekarang turun hujan. Kino pun ikut gemetar kedinginan.
Mereka berdiri berdekatan, dan entah bagaimana, Rien akhirnya memeluk tubuh Kino dari belakang. Kino tak menolak, dan bahkan merentangkan tangannya ke belakang, balas memeluk kedua lengan Mba Rien.
Perlahan-lahan, gemetaran tubuh mereka mereda, sejalan dengan tersebarnya kehangatan dari dua tubuh yang menempel itu. Kino perlahan-lahan mulai merasakan kekenyalan di punggungnya, tempat kedua payudara Mba Rien menempel erat.
Rien merebahkan kepalanya di punggung pemuda belia yang harum sabun mandi ini. Sebentuk perasaan sayang tiba-tiba saja menghambur keluar dari dadanya, menyebabkan Rien memejamkan mata.
Setelah lebih dari sepuluh menit, hujan tampaknya makin membesar saja. Sementara langit mulai gelap menjelang sore. Rien sedang berpikir-pikir bagaimana caranya pulang, ketika ia mendengar Kino memanggil namanya.
“Kenapa, Kino?” tanyanya sambil tetap memejamkan mata dan merebahkan kepala di punggung remaja itu.
“Aku juga ingin memeluk, Mba Rien…” ucap Kino pelan. Rien tersenyum dan berkata pelan, “Seperti aku memeluk kamu?”
Kino tidak menyahut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Seperti apa ia ingin memeluk Mba Rien, ia belum tahu caranya!
Rien tersenyum lagi, lalu melepaskan pelukannya. Ia berkata lembut, “Sini…, putar tubuhmu menghadap aku..”
Kino memutar tubuhnya, lalu tiba-tiba saja ia sudah memeluk Mba Rien yang tubuhnya agak lebih pendek sedikit darinya. Dagu Kino menyentuh dahi Mba Rien, dan kedua tangan Mba Rien merengkuh erat, bagai hendak meluluhkan tubuh Kino.
Oh, begini rupanya rasanya dipeluk seorang wanita dewasa! pikir Kino dalam hati, dan ia merasakan sebuah kehangatan menjalar dari antara kedua kakinya.
“Begini?” tanya Mba Rien dengan sedikit nada menggoda. Kino cuma mengangguk. Rien tertawa kecil, nafasnya yang hangat menyerbu leher Kino dan menelusup ke dalam t-shirtnya. Kino pun bergidik, membuat Rien tambah tertawa. Lalu tiba-tiba Rien menggigit leher Kino. Tersentak, Kino lalu ikut tertawa kegelian.
Rien tidak berhenti menggigit, dan bahkan lalu berubah menciumi leher perjaka ini. Hmm, harum sabun wangi, desahnya dalam hati. Persis seperti wangi bayi kakaknya yang dulu ia sering bantu memandikannya.
Dengan gemas, ia menciumi terus leher Kino, membuat remaja ini menggelinjang kegelian. Saat itulah Kino merasakan sebuah desakan kuat untuk membalas tindakan Mba Rien.
Tanpa disadari, Kino menunduk dan menempelkan wajahnya ke wajah Rien yang sedang tengadah. Tanpa sengaja pula, kedua bibir mereka telah berpadu.
Sejenak Rien tersentak kaget, tapi ia lalu memejamkan mata dan segera melumat bibir Kino. Berdesir cepat darah Kino merasakan bibir basah yang hangat mengulum bibirnya, dan desahan nafas harum menyerbu penciumannya. Astaga, inilah rupanya ciuman pertama itu!
Tentu saja Kino tak tahu cara berciuman. Ia diam saja membiarkan Mba Rien mengerjakan segalanya, termasuk memaksanya membuka mulut agar lidahnya bisa masuk ke dalam mulutnya.
Dengan nafas tersengal, Kino mencoba melakukan sesuatu dengan lidahnya sendiri, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Maka ia diam saja, membiarkan Mba Rien mengulum-ulum bibirnya, menelusuri rongga mulut dengan lidahnya, dan menghisap-hisap bibir bawahnya dengan rakus.
Rien sendiri merasa kaget atas apa yang ia kerjakan. Rupanya, birahi yang selama ini tak pernah ia tampilkan, kini menyeruak keluar dengan kekuatan sendiri tanpa dapat dicegah.
Telah lama sekali Rien tidak berciuman, sejak ia memutus hubungan dengan Rian yang sekarang entah di mana. Telah lama tubuhnya tidak merasa gejolak seperti ini, dan kalaupun ia membiarkan Kino memegang payudaranya di pantai, itu hanyalah untuk menghapus penasaran remaja yang menarik simpatinya.
Kejadian di pantai dulu, bagi Rien, bukanlah birahi. Tetapi kini, di gua yang gelap dan dingin ini, Rien kaget ketika sadar bahwa ia begitu bersemangat menciumi Kino!
Untunglah kesadaran itu cepat datang. Buru-buru ia menghentikan ciumannya, dan dengan satu tangan ia menghapus bekas-bekas ludah di bibir Kino. Sambil tersenyum, ia minta maaf dengan suara lembut, ” … Mba Rien keterlaluan, nih!”
Kino mengernyitkan dahi tak mengerti. “Kenapa berhenti, Mba?” tanyanya penuh heran.
“Tidak. Kamu tidak boleh saya ciumi seperti itu. Kamu bukan pacar saya…,” kata Mba Rien, masih dengan suara lembut, meneduhkan hati Kino yang sudah bergejolak.
“Tapi saya suka, Mba Rien…” Kino bersikeras. Rien tersenyum melihat tuntutan remaja ini.
“Suka apa?” tanyanya menggoda.
“Suka dicium seperti itu,” jawab Kino cepat. Ia kini semakin berani berdebat.
Sejenak Rien bimbang. Simpatinya kembali datang. Kasihan ia melihat remaja ini terputus di tengah jalan yang sedang dinikmatinya. Tetapi ia tahu, kalau ciuman itu diteruskan, dirinya sendiri akan ikut hanyut. Satu-satunya jalan untuk menghindari kekecewaan Kino adalah dengan menciumnya lagi, tetapi tidak dengan birahi.
Maka Rien berkata, “Baiklah …” lalu ia menarik leher Kino, mendekatkan bibirnya ke bibir Kino dan menciumi remaja ini dengan lembut.
Kino memejamkan mata, menikmati ciuman Mba Rien yang terasa sekali dipenuhi kasih sayang. Tubuhnya bagai disiram kehangatan kasih yang tak tergambarkan oleh kata-kata. Tubuhnya bagai melayang tak menginjak bumi. Tubuhnya bagai awan di langit yang biru sejuk.
Rien menahan senyum melihat tingkah Kino yang memejamkan mata dan memeluk tubuhnya seperti tak hendak dilepaskan. Tetapi ada satu hal yang tidak diperhitungkannya! Perlahan tapi pasti, ia merasakan sesuatu membesar menempel sedikit di atas perutnya. Karena Kino lebih tinggi, maka bagian depan kelaki-lakiannya menempel di perut Rien, dan Rien segera menyadari apa yang terjadi.
Dengan tangan kirinya, Rien meraba bagian itu. Ah, tegang sekali kelaki-lakian Kino, dan panas pula rasanya, seperti dialiri air mendidih. Sejenak Rien bimbang lagi, sementara bibirnya masih sibuk mengulum-ngulum bibir Kino.
Apa yang harus ku lakukan? Rien berpikir keras, tetapi tangannya sudah pula mulai meremas. Seakan-akan tangan itu punya pikiran sendiri di luar kepalanya!
Akhirnya kepala Rien mengalah kepada tangannya. Ia melanjutkan remasan, dan mulai menyukai pilihannya. Nafas Kino terdengar terengah-engah, dan Rien semakin merasa tak enak jika harus berhenti sekarang.
Ia sudah membangkitkan api di tubuh remaja ini, ia pula yang harus memadamkannya. Dengan pikiran begitu, Rien membuka resleting celana Kino yang masih terpejam seakan-akan tak sadar.
Pelan-pelan tangan Rien merayap ke dalam celana dalam Kino dan menemukan kelaki-lakiannya sudah tegang dan agak basah di ujungnya. Ah, halus dan kenyal sekali kelaki-lakiannya, desah Rien dalam hati, diam-diam menikmati apa yang dikerjakannya.
Kino merasakan tangan Mba Rien merayapi kelaki-lakiannya, membuat dirinya semakin terlena. Ia merasakan desakan aneh yang nikmat, sama dengan desakan-desakan yang selama ini ia rasakan kalau berhayal sendirian di kamarnya.
Kini desakan itu semakin kuat, dan apa yang dikerjakan Mba Rien di bawah sana sangat berbeda dengan apa yang biasa ia kerjakan. Kali ini jauh lebih nikmat, jauh lebih menggairahkan.
Tangan Rien meremas lebih kuat, lalu menggosok ke atas ke bawah. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan. Rian, pacarnya dulu, pernah mengajarkan bagaimana cara terbaik untuk memuaskan laki-laki dengan tangan.
Maka dilakukannya apa yang telah lama tidak dilakukannya. Rien kini ikut memejamkan mata, berkonsentrasi pada bagian bawah tubuh Kino tanpa melepaskan ciumannya. Ia merasakan betapa kelaki-lakian itu kini menegang dengan cepat, dan mulai berdenyut-denyut.
Rien tahu, sebentar lagi Kino akan mencapai orgasme pertama di tangannya. Sejenak ia menurunkan telapak tangannya sampai ke pangkal kelaki-lakian Kino, lalu dengan gaya mengurut ia membawa naik telapak tangannya, dan sesampai di atas ia meremas-remas dengan kuat.
Kino tak tahan lagi. Tangan Mba Rien yang halus dirasakannya bagai sedang menarik lepas sebuah sumbat di bawah sana. Dan dengan lepasnya sumbat itu, sebuah air bah yang dahsyat menyerbu keluar. Kino mengerang pelan, melepaskan bibirnya dari bibir Mba Rien, mendongak seakan berusaha menghisap lebih banyak udara, lalu menjerit tertahan.
Rien merasakan betapa kelaki-lakian Kino tiba-tiba membesar dengan cepat, lalu bergetar dan berdenyut-denyut kuat. Telapak tangan Rien meremas untuk terakhir kalinya, lalu mulai menerima semprotan-semprotan cairan kental panas.
Ia mengepalkan tangannya, menampung semua itu agar tidak bermuncratan ke mana-mana. Tidak kurang dari tujuh kali rasanya semprotan cairan itu memenuhi kepalannya. Lalu, Kino terkulai lemas, dan memeluk tubuh Mba Rien. Pelan-pelan Rien mengeluarkan tangannya, dan diam-diam mengambil sapu tangan untuk membersihkan tangan itu.
“Enak?” tanya Mba Rien lembut, seperti seorang ibu menanyakan bagaimana rasanya makan malam yang dihidangkannya. Kino tertawa tertahan, malu bercampur senang. Hujan masih turun, walau tak lagi lebat. Kino tak peduli. Walau harus bertarung melawan macan di hutan ini pun, ia tak peduli. Selama Mba Rien ada di sisinya, ia tak peduli!
Bersambung…
Menguak Rahasia Berdua
“Peristiwa Kenari”, demikian Rien menamakannya, adalah sebuah langkah tak terencana yang sempat membuat wanita lajang ini panik. Ketika mereka berdua akhirnya tiba kembali di kota, menembus rintik hujan dan gelap senja, Rien sempat ingin berbincang dahulu.
Ia ingin menjelaskan sesuatu, agar Kino tak salah tangkap. Tetapi mulutnya terkunci, dan otaknya buntu. Lagipula, apa yang bisa ia jelaskan? Misteri apa yang bisa ia ungkap dalam sebuah peristiwa pendek yang begitu bergelora tadi? Dan kenapa ia harus kuatir akan Kino; kesalah-tangkapan apa yang mungkin terbesit di benak pria muda itu?
Akhirnya mereka berpisah dengan kikuk. Di perempatan dekat kantor camat, Rien berbelok ke kiri, ke tempat kostnya. Sambil berusaha tersenyum menenangkan diri, ia melambaikan tangan dari atas sepedanya.
Kino tampak ragu-ragu, apakah hendak ikut belok kiri atau terus, langsung ke rumahnya. Tetapi dilihatnya Mba Rien hanya melambai, tidak menawarkan mampir. Maka ia pun hanya membalas lambaian dan melanjutkan perjalanan ke rumah.
Di tempat kost, Rien memutuskan untuk segera mandi, terburu-buru melepas jaket parasut dan celana pendeknya. Dengan bersaput handuk, ia berlari kecil ke kamar mandi di sebelah kamar tidurnya. Teman satu kostnya, seorang 9uru SMP bernama Laras yang sebaya dengannya, tak tampak.
Mungkin sedang bermain ke tetangga sebelah. Cepat-cepat Rien mengunci pintu kamar mandi dan membuka pakaian-pakaian dalamnya. Lalu ia membasuk kaki-kakinya yang terpercik lumpur, dan mencuci tangan.
Sewaktu mencuci tangan itulah, terbayang kembali “peristiwa kenari” yang barusan dialaminya. Sambil tersenyum, dalam hati ia memarahi dirinya sendiri. Rien, kamu telah membuka gerbang ke arah dunia yang tak terduga! Kini, apa yang akan terjadi berikutnya, kamu harus simak dengan seksama.
Dan dengan hati-hati. Siapa yang tahu, apa yang kini bergejolak di hati Kino, dan apakah keremajaannya mampu menampung gejolak itu. Rien mengambil sabun dan membasuh kedua tangannya dengan seksama. Tangan itu yang tadi meremas-membelai, menguak sebuah tabir dari babak cerita di panggung kehidupan!
Lalu Rien menumpahkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya. Segera kesegaran menyerbu badannya, membuatnya ingin bernyanyi. Maka tak lama kemudian ia menggumamkan lagu -entah apa- sambil mulai menyabuni tubuhnya. Lehernya yang jenjang ia sabuni.
Sepasang bukit indah di dadanya, ia sabuni, sampai dipenuhi busa-busa harum. Pada saat menyabuni bagian bawah tubuhnya, ia terkejut sendiri. Hampir saja sabun lepas dari genggaman. Ternyata kewanitaannya basah oleh cairan bening yang telah lama tak pernah ada di sana.
Kekagetannya juga berlanjut, ketika Rien sadar bahwa di bagian itu ada rasa hangat yang berlebihan. Ada sensitifitas yang lebih dari biasanya. Tanpa sabun, tangannya bergerak lebih ke bawah, mengusap-usap seperti sedang menduga apa gerangan yang terjadi.
Sebenarnya, Rien tak perlu menduga, karena setiap usapan mendatangkan rasa yang telah lama tak dirasakannya: sebentuk geli yang bercampur nikmat, yang dengan mudah membuat jantungnya berdegup sekian kali lebih kencang. Tanpa bisa dicegah, Rien tiba-tiba mendesah, dan kedua kakinya bagai sedang berseteru, saling memisahkan diri satu sama lainnya.
Suara kucuran air cukup keras menyembunyikan desah Rien yang kini memperkuat usapan tangannya. Bahkan itu bukan lagi mengusap namanya. Itu meremas namanya. Menekan-nekan dengan telapak, dan menggaruk-mengurat dengan jari tengah.
Lalu pangkal ibu jarinya bertumbu pada bagian atas, bergerak-gerak seperti sedang menarik picu senjata. Rien menggelinjang, dan hampir saja terpeleset di lantai kamar mandi yang licin. Tangan kirinya yang bebas buru-buru berpegangan ke tembok, sementara tangan lainnya tak hendak berhenti.
Malah bergerak makin cepat seperti ada sesuatu yang mendesak yang harus dilakukan di bawah sana. Mata Rien sedikit terpejam, dan mulutnya yang berpagar bibir basah itu sedikit terbuka. Nafasnya sedikit memburu. Serbuan-serbuan kenikmatan datang entah dari mana, dan Rien agak terhuyung, sehingga ia akhirnya bersandar di tembok marmer yang dingin dan basah.
Suara orang membuka pintu ruang depan membuat Rien tersentak sadar. Buru-buru ia kembali ke dekat bak mandi. Terdengar suara Laras nyaring, “Rieeeen …….. kau kah itu di kamar mandi?”
Rien membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba tersekat, sebelum menjawab keras-keras, “Ya, ini aku La … sedang mandi…”, entah apa pula perlunya menambahkan kata “sedang mandi” di ujung kalimat!
“Dari mana saja, anak manis?” teriak Laras lagi, terdengar melangkah menuju kamarnya di seberang kamar Rien.
“Dari hutan mencari kenari …. “, jawab Rien sambil mulai mengguyur. Duh, segera saja api yang berkobar di tubuhnya padam. Dalam hati Rien bersyukur, Laras datang sebelum dirinya betul-betul terlena oleh tangannya sendiri! Tetapi sesungguhnya ia juga kesal, kenapa Laras datang pada saat seperti itu. Sambil tertawa kecil, Rien menghentikan perdebatan di kalbunya. “Peristiwa Kenari” ternyata tidak hanya mengubah hidup Kino!!
Sementara Kino telah pula sampai di rumahnya. Ia telah pula di kamar mandi, dan telah pula menyabuni tubuhnya. Sama dengan Mba Rien, ia telah pula kembali membayangkan apa yang terjadi di hutan tadi.
Bedanya, Kino tak berhenti karena terganggu oleh teriakan ayah, atau panggilan ibu, atau ajakan Susi untuk bermain petak umpet. Kino melanjutkan gerakan-gerakan tangannya, mengerang pelan ketika akhirnya ledakan-ledakan orgasme tercapai.
Seminggu setelah “peristiwa kenari”, Kino disibukkan oleh ulangan-ulangan di sekolahnya. Dalam kesibukannya itu, Kino tak bertemu Mba Rien. Ia tak mungkin bisa menemui Mba Rien, karena diam-diam Mba Rien pergi ke rumah salah seorang kakaknya di kota B, 6 kilometer di sebelah selatan.
Sebuah pesan pendek disampaikan Niken kepada Kino, ketika pria remaja ini lewat di depan sanggar (tentu saja, ia sengaja lewat!). Kata Niken, Mba Rien menyuruh Kino rajin belajar supaya semua ulangannya bernilai bagus. Kata Niken lagi, Mba Rien baru akan pulang bulan depan, karena sanggar akan tutup sementara murid-murid menjalani ulangan.
Untuk beberapa saat, Kino merasa ada sesuatu yang tak beres. Kenapa dia tiba-tiba menghindar? sergahnya dalam hati, disertai gundah karena kepergian Mba Rien hanya berjarak seminggu dari peristiwa di gua itu.
Apakah ia marah? Tetapi apa yang membuatnya marah? Mba Rien tak tampak marah ketika ia melakukan itu di gua; ia bahkan tampak ceria, dan matanya penuh senyum menggoda. Apakah ia malu menemuiku lagi? Tapi, bukankah aku yang seharusnya malu menemuinya?
Pikiran-pikiran itu berkecamuk sepanjang hari, berlanjut sepanjang malam, sehingga Kino baru tertidur pukul 2 pagi. Untung keesokan harinya ulangan belum lagi dimulai karena masih dalam rentang “minggu tenang”.
Tentu saja Kino tak punya seorang pun yang bisa diajak mendiskusikan pikiran-pikirannya. Tidak Dodi dan Iwan yang baginya cuma akan menambah persoalan. Tidak juga ibu, dan apalagi tentu bukan ayah. Keduanya pasti cuma akan marah dan menuduh yang bukan-bukan.
Maka Kino terpaksa mengambil kesimpulan sendiri. Ia pergi ke pantai sendiri, berenang sampai letih, lalu tidur-tiduran di bawah semak-semak tempat ia dulu pertama kali menyentuh dada Mba Rien. Sambil tertidur itu lah ia memutuskan, bahwa tak mungkin Mba Rien bermaksud buruk.
Tak mungkin tiba-tiba Mba Rien meninggalkan dirinya penuh dengan tanya yang belum terjawab. Ia adalah seorang wanita bijaksana, pikir Kino dalam hati, dan ia pergi karena aku harus ulangan umum. Karena aku harus berkonsentrasi dengan buku-bukuku. Karena dengan Mba Rien di dekatnya, buku-buku akan dia lempar jauh-jauh!
Pikiran itu meneduhkan gejolak hati Kino, walau tak pernah menjadi jawaban sempurna bagi pertanyaan-pertanyaan yang terus berdatangan di kepalanya. Pikiran itu pula yang membantu Kino berkonsentrasi ke pelajaran sekolahnya, sehingga ulangan umum tak terasa begitu menyiksa.
Dua minggu ia hanya belajar dan belajar, sehingga ketika ulangan tiba, kepalanya seperti penuh dengan huruf dan angka. Satu demi satu ia menyelesaikan mata ulangan dengan sedikit kesulitan saja. Di akhir masa ulangan, kepalanya terasa kosong sekali. Ringan dan sejuk.
“Kamu kelihatan riang dan optimis…,” tiba-tiba Alma sudah berdiri di dekatnya, memeluk tas dan menuaskan senyum di mukanya yang tampak letih setelah seharian berkutat dengan kertas ulangan.
Kino membalas senyum Alma, dan tiba-tiba sadar bahwa cuma gadis ini yang tampaknya peduli akan perasaannya. Kino teringat, Alma pula yang dua minggu lalu -sebelum ulangan dimulai- bertanya kenapa wajahnya keruh. Alma pula yang pernah menawarkan sebotol minuman dingin ketika ia sedang duduk sendirian di pinggir lapangan basket menunggu bel masuk setelah istirahat. Alma yang penuh perhatian!
“Lega rasanya setelah semua ulangan selesai,” ucap Kino sambil memandang Alma, dan menyadari betapa indah kedua bola mata gadis yang oleh Dodi dan Iwan selalu dipuji-puji setinggi langit. Alma tersenyum lagi, menembakkan seberkas perasaan yang belum jelas tertangkap oleh Kino.
“Pulang sama-sama?” kata Alma lembut, seperti mengajak, seperti menebak. Ah, Kino tak tega mengatakan “tidak”, maka ia cuma mengangguk dan mereka berjalan beriringan pulang. Kino menuntut sepedanya, Alma berjalan sambil tetap mendekap tas sekolahnya. Sayup-sayup Kino mendengar Dodi berteriak “cihuiii..” dan Iwan memperdengarkan suitan nakalnya. Kino mengutuk dalam hati, dua monyet itu sungguh tak punya sopan. Tetapi ia tersenyum juga.
Mereka berjalan pelan-pelan, menyusuri jalan yang dipagari pohon-pohon asam rindang, berbincang-bincang ringan tentang sekolah. Alma bertanya tentang rencana liburan, Kino mengatakan ia belum punya rencana.
Alma berbicara tentang rencana berkemah anak-anak kelas dua dan kelas tiga, Kino mengatakan dukungannya kepada rencana itu. Alma bertanya apakah Kino akan ikut berkemah, dan Kino menjawab “mungkin”. Alma lalu terdiam. Kino juga diam. Pohon-pohon asam juga diam. Angin juga diam.
Dalam diam Kino membandingkan Alma dengan Mba Rien. Betapa berbedanya! Alma tampak lembut, mungil, terkadang seperti sedang bersedih. Mba Rien selalu menggairahkan, tegas, dan penuh ide kegiatan.
Tetapi Alma sangat cantik, terutama jika mereka sedang berdua, dan jika ia sedang bertanya, “Ada apa?” dengan suaranya yang pelan dan matanya yang menatap bening. Di depan Mba Rien, Kino seperti murid di hadapan maha-9uru dunia persilatan, mengikuti segala gerak-geriknya dengan seksama, mematuhi anjuran dan permintaannya.
Di depan Alma, sebaliknya, ia merasa perlu melingkarkan tangan di bahu yang tampak ringkih itu. Merasa perlu selalu jalan di sebelah kanan kalau beriringan. Merasa perlu menawarkan membawa alat-alat laboratorium setiap kali mereka selesai praktikum.
Mereka tiba di depan bioskop satu-satunya di kota itu. Mereka harus berpisah di sini, kecuali jika Kino ingin mengantar Alma sampai ke rumahnya. Alma memecah kesunyian di antara mereka, “Sampai jumpa lagi sehabis liburan,” katanya pelan, lalu mulai berbelok.
“Alma..,” tiba-tiba saja Kino sudah berucap, tapi ia sendiri lupa hendak bicara apa. Alma menghentikan langkah, berputar menghadap Kino yang juga sedang berdiri terpaku. Alma menunggu, wajahnya penuh harap. Ah, mengertikah Kino apa artinya “harap”?
“Aku ingin ikut berkemah…, tapi…,” Kino berucap penuh keraguan. Cepat sekali wajah Alma berubah mendengar ucapan Kino, dan bibirnya yang mungil susah-payah menyembunyikan senyum yang tiba-tiba menyeruak. Segumpal harapan tersekat di kerongkongnya.
“….. tapi aku tidak tahu harus mendaftar kepada siapa.” lanjut Kino setelah menelan ludah yang terasa pahit.
“Aku bendahara panitia,” sergah Alma cepat sekali, seperti memang sudah dipersiapkan sejak tadi tetapi ditahan-tahan, “Kamu bisa mendaftar kepadaku. Hari ini juga namamu sudah bisa kutulis sebagai peserta. Aku bisa menalangi uang pendaftarannya. Aku….,” Alma menghentikan ucapannya, sadar melihat Kino berdiri melongo memandang gadis di depannya bicara penuh semangat, seperti berbicara di depan pertemuan partai politik!
Alma merasa mukanya tersiram air hangat, dan ia segera menunduk menyembunyikan rasa malu yang menyerbu. Kino tiba-tiba ingin tertawa keras, tetapi ia bertahan sekuat tenaga, sehingga yang keluar cuma senyuman yang lebar.
“Kalau begitu,” ucap Kino sambil tetap menahan senyum, “Sampai jumpa di alun-alun sekolah Sabtu depan!”
Alma mengangkat muka, memperlihatkan wajahnya yang memerah tetapi juga bersinar riang sempurna. Matanya berbinar seperti bintang timur di pagi hari. Mulutnya mengguratkan senyum amat manis, bahkan bagi Kino, bahkan di terik siang yang kering itu.
“Sampai jumpa,” bisiknya, tetapi tentu Kino tak mendengar karena ia telah mulai melangkah lagi sambil melambaikan tangan. Alma mengangkat tangan kananya, melambai pelan, dan akhirnya berbalik untuk berjalan ke arah rumahnya. Bumi terasa empuk, seperti kasur terbuat dari busa. Alma senang sekali hari itu. Senang-senang-senang sekali!
Bumi perkemahan adalah arena penuh suka-duka remaja. Pak 6uru dan Bu 6uru adalah sipir-sipir penjara, dan anak-anak kelas dua dan kelas tiga adalah para pesakitan. Tetapi siapa yang peduli! Setelah letih didera ulangan dan ujian, bumi perkemahan adalah penjara yang dirindukan.
Di sini mereka bisa berteriak mengalahkan guntur di langit, bernyanyi tanpa not balok dan tanpa dirijen (yaitu Pak Sulih, 9uru seni yang terlalu tua itu!), serta tidur melewati batas waktu yang selalu ditetapkan secara sepihak oleh orangtua. Di sini pula menyebar cinta remaja, cinta monyet, puppy love, atau apa lah namanya!
Di perkemahan itu pula, Kino “menemukan” Alma, setelah sekian lama mereka berteman. Kino kini menyadari, Alma bukan gadis biasa, bukan semata-mata teman sekelas yang duduk di bangku kayu berwarna coklat tua itu. Bukan seperti Tres, atau Sriani, atau Gina, atau Lisa.
Karena Alma punya kelebihan dari semua mereka itu: Alma peduli padanya, peduli pada apa yang dirasakannya, dan peduli dengan ketulusan. Karena Alma tidak meminta, tetapi memberi. Alma tidak mengajak, tetapi mendampingi.
Pagi itu, dengan alasan menemani Alma mengambil air di sungai, Kino menarik gadis itu ke balik sebuah batu besar. Di situ, di antara gemersik air dingin dan kicauan burung yang terlambat bangun, Kino menciumnya. Lembut dan penuh perasaan, ia mengulum bibir gadis yang kini memeluknya erat sekali.
Alma memejamkan mata, merasakan angin seperti sutra menyelimuti tubuh mereka berdua, mendengar nyanyian merdu dari daun-daun yang berjatuhan. Kino merengkuh tubuh yang terasa jauh lebih mungil itu (Alma cuma setinggi hidungnya), melumat bibirnya yang basah dan terasa manis. Ember terguling berkelontangan.
Sejak itu, Dodi dan Iwan mengubah lagu Antara Anyer dan Jakarta dengan teks gubahan mereka sendiri. Kino pusing sekali mendengar gubahan yang tidak karuan itu. Bahasanya buruk, tidak puitis, dan jelas-jelas memproklamirkan percintaan Alma dengannya. Pusing sekali Kino dibuatnya, tetapi apa lah dayanya, cuma Dodi dan Iwan yang bisa menghiburnya dengan ketololan-ketololan seperti itu!
Enam hari menjelang masa sekolah, Alma menemani kedua orangtuanya ke ibukota, katanya hendak menjenguk kakek-neneknya. Inilah pertama kalinya Alma merasa perlu melaporkan kepergiaannya kepada Kino, karena sejak perkemahan dan ciuman pertama itu, Kino resmi menjadi kekasihnya.
Seorang kekasih harus tahu kemana pasangannya pergi, bukan? Maka Alma menulis surat pendek, di atas kertas merah jambu, dan dikirim lewat kurir istimewa bernama Dodi dengan pesan wanti-wanti, “Jangan dibuka sebelum tiba di tangan Kino!”
Kino tersenyum membaca surat itu, sementara Dodi memanjang-manjangkan leher ingin mengintip isinya. Dengan seksama, dilipatnya kertas merah muda itu, dan disimpannya di dompet. Kepada Dodi, ia bilang bahwa Alma pergi ke ibukota untuk menikah dengan pria pilihan orangtua mereka.
Dodi mencibir tak percaya, tapi Kino tak peduli apakah temannya percaya atau tidak. Mereka lalu bersiap-siap berenang ke sungai, dan mengajak Iwan ikut serta. Sepanjang sore, mereka berlomba-lomba menyebrangi sungai, dan Kino selalu menang. Kedua temannya terlalu ceking dan terlalu banyak bergadang.
Sepulangnya dari berenang, ketika Dodi dan Iwan telah terpisah darinya, Kino bertemu Niken.
“Hai…, apa kabar!” sergah wanita teman Mba Rien itu.
“Kabar baik,” ucap Kino pendek. Sebetulnya ia ingin melanjutkan dengan pertanyaan tentang Mba Rien, tetapi Kino ragu apakah hal itu patut ditanyakan kepada Mba Niken.
“Tidak pernah ke sanggar lagi?” tanya Niken, entah kenapa Kino merasa wanita ini sedang menggodanya.
“Mmmm …. bukankah latihan tari belum dimulai lagi, dan Susi belum perlu datang lagi?” jawab Kino.
Niken tertawa kecil, “Maksudku, …. koq tidak pernah ngobrol dengan Mba Rien lagi, dia kan sudah datang!”
Kino menelan ludah. Oh, Mba Rien telah pulang. Cepat sekali rasanya waktu berlalu, pikirnya dalam hati. Lalu, entah kenapa ia akhirnya berjalan beriringan dengan Niken ke arah sanggar. Niken berceloteh entah tentang apa, Kino tak begitu memperhatikan, karena kepalanya sibuk menjawab berbagai persoalan yang tiba-tiba muncul.
Sesampai di sanggar, Niken berkata bahwa ia hendak ke belakang dulu, dan bahwa Mba Rien ada di ruang latihan. Kino menggumamkan terimakasih, menjawab sekenannya, lalu berjalan ke arah ruang latihan. Langkahnya terasa berat, tetapi kaki-kakinya seperti digerakkan oleh mesin yang tak bisa dikendalikannya sendiri.
“Hei!!! Kino!…apa kabar?” suara Mba Rien yang lepas-nyaring terdengar begitu Kino muncul di pintu ruang latihan. Kino terpaku sejenak, matanya menyesuaikan diri dengan keremangan ruang latihan. Akhirnya ia melihat Mba Rien, sedang menggelar tikar-tikar bersama seorang wanita lain yang tak dikenal Kino.
Rien mendekat dengan cepat. Duh, kenapa ia jadi rindu kepada remaja ini? sergahnya dalam hati, tetapi ia tak mempedulikan perasaannya. Dipeluknya Kino sebelum pemuda ini sepenuhnya sadar apa yang terjadi, lalu dikecupnya cepat pipinya. Kemudian dilepasnya pelukan secepat ia mencium pipinya, dan diberondongnya Kino dengan serentetan pertanyaan.
Kino tergagap-gagap menjawab pertanyaan tentang ulangan, tentang liburan, tentang orangtuanya, tentang Susi, tentang …. entah tentang apa lagi. Banyak sekali yang tak bisa dijawabnya. Mba Rien tampak bersemangat sekali, dan Kino baru belakangan menyadari bahwa rambut wanita ini telah berubah pendek.
Tetapi perubahan itu justru menambahkan kecantikan baru, karena lehernya yang jenjang dan mulus itu semakin terpampang indah, dan matanya yang bersinar itu semakin tampil. Kino tiba-tiba merasa ingin melingkarkan tangannya di leher yang menggairahkan itu!
Setelah mencencar dengan pertanyaan dan menyeret Kino untuk membantunya menggelar tikar-tikar, akhirnya Mba Rien mengajak Kino ke tempat kostnya. Kino hendak membantah, karena hari sudah mulai gelap. Tetapi, sebagaimana biasanya, ia tak pernah bisa menolak inisiatif Mba Rien.
Lagipula ini malam Minggu dan sekolah belum lagi mulai. Kino tadi sore telah mengatakan akan bermalam minggu bersama teman-teman, dan ayah-ibu telah mengijinkannya pulang paling lambat pukul 11. Maka akhirnya Kino bertandang ke tempat kost Mba Rien.
Di tempat kost Mba Rien, tampak Mba Laras sedang berbincang dengan seorang pria berwajah tampan dan berpakaian rapi, mungkin pacarnya. Kino mengangguk sopan, dan Mba Laras mencubit pahanya sambil mengomel, mengatakan bahwa Kino tidak adil karena hanya datang kalau ada Mba Rien.
Pria yang sedang bersama Mba Laras bertanya, siapa si Kino itu (usil juga dia!) dan segera dijawab bahwa Kino adalah adik bungsu Rien. Pria itu menggumamkan, “Oooo..” yang entah mengandung curiga atau percaya. Kino tiba-tiba sebal kepada pria yang -harus diakuinya- berwajah tampan dan berbaju cukup bagus untuk ukuran kota kecil.
Mba Rien mengajak Kino masuk ke kamarnya, dan Kino tentu menurut saja karena Mba Laras juga mengusirnya dari ruang tamu (“mengganggu pembicaraaan,” katanya). Di kamar, Mba Rien mengeluarkan sebungkus kue bolu oleh-oleh dari kakaknya, dan Kino bersuka-cita melahap pengganan lezat kegemarannya itu.
Mba Rien terus bercerita tentang kakaknya, tentang anak kakaknya, tentang kota yang terkenal dengan bolunya, dan sebagainya, dan seterusnya. Kino, seperti biasa, cuma mendengar dengan seksama. Tetapi mata Kino tak lekang dari Mba Rien yang bergerak lincah mengimbangi keramaian ceritanya.
Ia seperti burung gelatik di pagi hari, pikir Kino. Menggairahkan pula, dengan dada yang terlonjak-lonjak seperti itu, dengan mulut yang basah seperti itu, dengan pinggul yang bergoyang seperti itu.
Lalu terdengar Laras berteriak dari kamar tamu, mengatakan bahwa ia dan teman prianya akan keluar untuk menonton. Mba Rien keluar sebentar dan berbicara dengan pria teman Laras itu, lalu terdengar pintu depan ditutup, dan Mba Rien kembali ke kamar.
Kino sedang berdiri membuka-buka album foto di meja kerja Mba Rien yang dipenuhi majalah-majalah dan buku tentang tari-menari. Cantik sekali Mba Rien dalam foto-foto penampilannya.
Ia memang penari yang kata orang penuh bakat, dan sudah pernah diajak tur keliling Indonesia oleh seorang sutradara tari dari ibukota. Kino juga pernah mendengar bahwa Mba Rien diajak tur ke luar negeri, tetapi entah kapan realisasinya.
Kino tersentak ketika merasakan nafas Mba Rien di tengkuknya. Tanpa terdengar, Mba Rien telah berdiri di belakang Kino, dekat sekali.
Dengan ringan ia menjelaskan foto-foto di album itu, tetapi Kino tak bisa sepenuhnya mengerti. Betapa tidak! Tubuh Mba Rien menempel di tubuhnya. Nafasnya harum memenuhi udara. Dadanya yang kenyal menekan punggung Kino, membuat pemuda ini tiba-tiba bersyukur bahwa Mba Laras dan teman prianya pergi ke luar rumah!
Lalu, entah kekuatan apa yang datang ke Kino, tiba-tiba ia sudah berbalik dan memeluk Mba Rien. Bukan itu saja, Kino bahkan tiba-tiba sudah mengulum bibir basah yang bernafas harum menggairahkan itu. Rien tergagap, kedua tangannya siap mendorong dada Kino.
Tetapi dengan tiba-tiba pula tangan itu kehilangan daya, dan berhenti di dada Kino, bukan mendorong melainkan menempel saja. Lalu, ketika Kino terus melumat bibirnya, Rien tak kuasa mencegah kedua tangannya merengkuh tubuh pemuda itu. Kedua payudaranya terhenyak di dada Kino, membuat Kino semakin bergairah menciumi wanita yang selalu menggairahkan birahinya ini.
Rien mengerang mendapat perlakuan Kino yang penuh nafsu itu. Matanya terpejam penuh penyerahan, juga ketika pelan-pelan mereka bergeser ke arah dipan. Tangan Rien meremas punggung Kino, dan bahkan lalu menekan tengkuk pemuda itu, mendorong Kino untuk berbuat lebih bergairah lagi.
Dan Kino pun menyambut ajakan seperti itu dengan sepenuh hati. Entah bagaimana awalnya, kedua tangannya kini meremas-remas payudara Rien, menyebabkan wanita itu terengah-engah. Puting-puting susunya terasa menegang mendapat perlakuan Kino yang sebetulnya agak kasar itu.
Terasa gatal pula, karena Rien tergesek-gesek beha nilonnya. Kehangatan tiba-tiba menjalari tubuhnya, ke arah bawah, ke antara dua pahanya yang kini menempel erat di paha Kino.
Keduanya lalu terjerembab di dipan yang berderit menahan beban yang lebih berat dari biasanya. Kino menindih Rien dan masih menghujaninya dengan ciuman. Rok Rien yang pendek telah tersingkap, memperlihatkan seluruh pahanya, dan celana dalam krem tipis yang berenda-renda.
Sejenak Kino melihat pemandangan itu, menyebabkan ia semakin bergairah menciumi Mba Rien-nya. Tetapi cuma itulah yang bisa dikerjakan Kino selama ini, meremas payudara (sebagaimana Mba Rien mengajarinya di pantai) dan menciumi bibirnya (seperti “peristiwa kenari” sore itu). Tidak lebih dari itu yang bisa dikerjakan pemuda tak berpengalaman ini!
Adalah Rien yang kemudian tak merasa cukup diciumi dan diremas-remas seperti itu. Tubuhnya minta lebih dari itu, dan Rien ingin mendapatkannya dari Kino, pemuda yang semakin lama semakin disukainya ini.
Ia tahu, ini adalah sebuah permintaan yang berbahaya dan harus diperlakukan hati-hati. Tetapi pancaran birahi dari pemuda yang sekarang mendekapnya ini begitu kuat, mengundang Rien untuk hanyut lebih jauh lagi, berenang lebih dalam lagi. Sanggupkah ia menolaknya?
Dengan tangan kanannya yang bebas, Rien tiba-tiba sudah menuntun tangan kanan Kino, membawanya ke bawah. Tangan pemuda itu tampak lemas tak berdaya, mengikuti saja. Sambil mengerangkan sesuatu yang tak jelas, Rien menelusupkan tangan Kino dan tangannya ke balik celana dalamnya.
Kino merasakan telapak tangannya mengusap rambut-rambut halus dan bukit kecil yang hangat di balik nilon tipis itu. Ah, apa yang harus kulakukan? pikirnya risau. Tetapi Kino diam saja, karena tangan Mba Rien kini mengajak tangannya berputar-putar mengusap.
Hangat sekali di bawah sana, jauh lebih hangat daripada kedua payudaranya, ucap Kino dalam hati. Apalagi kemudian tangannya didorong lebih ke bawah. Tidak hanya ada hangat di sana, tetapi juga agak basah. Gerakannya masih mengusap-usap, menuruti saja gerakan tangan Mba Rien yang kini tampak semakin terengah-engah.
Tiba-tiba Mba Rien melepaskan bibirnya dari pagutan Kino, membuat pemuda ini agak terperanjat. Apalagi kemudian Mba Rien bangkit, membuat Kino khawatir telah melakukan suatu kesalahan fatal. Tetapi ternyata tidak.
Ternyata Mba Rien bangkit untuk melepas celana dalamnya, dengan sebuah gerakan cepat yang menakjubkan. Kino terkesima melihat Mba Rien kini menggeletak di sampingnya, dengan rok tersingkap sepenuhnya, dan dengan kewanitaan yang terpampang jelas, menampakkan segitiga hitam rambut-rambut halus yang sedikit membukit, dan sepasang bibir yang membasah. Kino menelan ludah berkali-kali. Pemandangan itu sungguh berada di luar batas khayalnya selama ini. Jauh di luar batas!
Wajah Mba Rien tampak serius dengan sinar yang menggairahkan, pikir Kino sambil mencari jawab di mata wanita itu. Ia sungguh bingung, tak tahu harus berbuat apa. Mba Rien tersenyum, lalu berbisik, “Kino.. Mba ingin kamu melakukan sesuatu malam ini. Mau?”
Kino mengangguk bisu. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain itu? Ia melihat Mba Rien tersenyum seperti biasanya, penuh dengan bujukan agar ia percaya saja kepadanya. Iapun diam saja, ketika tangan Mba Rien menuntun tangannya kembali ke bawah, ke segitiga yang tampak menggoda dan mengundang itu.
Dia diam saja ketika dengan sabar Mba Rien memintanya menjulurkan jari tengahnya. Ia diam saja ketika Mba Rien, dengan tangan kirinya, menguak bibir-bibir di bawah sana, memperlihatkan dinding halus yang tampak licin-basah dan agak berdenyut berwarna merah muda itu.
“Oh, Kino… tolong gosok-gosokkan jari tengahmu di sana….,” tiba-tiba Mba Rien mendesah penuh dengan permohonan. Kino terenyuh mendengar baru kali ini Mba Rien memohon. Cepat-cepat ia memenuhi permintaannya, dan dengan rasa kagum mulai menelusuri celah bibir dan dinding halus yang basah itu dengan jari tengahnya.
Perlahan ia menelusur ke bawah, ujung jarinya terasa menyentuh sebuah liang liat yang agak sempit. Perlahan ia naik kembali, terus ke atas karena tangan Mba Rien menariknya sampai hampir keluar dari lepitan bibir-bibir yang tampaknya menebal itu. Ujung jari Kino kini merasakan sebuah tonjolan kecil di balik selaput kulit yang agak tebal.
Mba Rien tampak memejamkan mata erat-erat ketika Kino mengurut-urut tonjolan itu seperti yang diminta Mba Rien.
“Terus, Kino… teruskan, ohhhhhh..,” Mba Rien seperti merengek-rengek dengan wajah yang semakin memerah dan mulut membuka menghembuskan nafas memburu. Kino memenuhi permintaannya, menggosok dan mengurut dengan jari tengahnya lebih cepat lagi.
Mudah sekali melakukannya, karena jarinya licin dipenuhi cairan kental bening yang ia tak tahu apa namanya. Mudah sekali jari tangannya melesak ke liang kenyal kecil di bawah sana, karena liang itu seperti membuka dengan sendirinya, dan seperti hendak menyedot masuk jarinya.
Gerakan-gerakan tangan Kino semakin teratur; naik…, turun…. berputar,… naik … turun …. melesak sedikit. Demikan seterusnya, sementara Mba Rien kini menggelinjang, mengerang-erang seperti orang mengejan, dan melentingkan badannya seakan punggungnya tertusuk duri.
“Oooooh, Kino… lebih cepat lagi …. Kino, ahhhh…,” Mba Rien kini seperti orang mau menangis dan memohon-dengan-sangat kepada Kino. Sungguh membuat iba Kino, tetapi sungguh menggairahkan pula permintaan itu. Maka Kino bergerak secepat mungkin, sekeras mungkin, sekuat mungkin.
Tangannya terasa pegal, tetapi ia tak peduli, ia harus lebih cepat lagi dan lebih kuat lagi menggosok. Harus lebih kuat lagi memutar sambil menekan kalau perlu, karena setiap putaran dan tekanan tampaknya membuat Mba Rien semakin keenakan.
Rasanya seperti sedang menimba sumur dengan satu tangan, peluh telah membasahi dahi Kino, tetapi untuk wanita ini rasanya masuk sumur pun rela!
Tiba-tiba Mba Rien mengejang, dan untuk beberapa detik Kino menyangka perempuan ini sedang menghadapi maut. Kaget, ia tarik tangannya, tetapi Mba Rien memprotes…”Ah, jangan Kino….jangan berhenti!” sambil menarik tangan Kino untuk kembali ke bawah sana.
Cepat-cepat Kino memenuhi permintaan itu, dan menggosok-mengurut kembali sekuat tenaga. Satu kali, dua kali, tiga kali …. lima kali… akhirnya Mba Rien seperti berteriak tertahan. Tubuhnya menggeliat lalu melenting seperti busur panah, lalu terjerembab kembali ke kasur dan berguncang-guncang seperti sedang diserang batuk hebat.
Tetapi bukan batuk yang keluar dari mulutnya, melainkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan. Kino takut sekali melihatnya!
“Ohhhhhh…, Kino!” ucap Mba Rien seperti orang menahan tangis, memeluk leher pemuda itu, meraihnya ke pelukan tubuhnya yang masih turun-naik dengan nafas memburu. Kinopun terdiam menempelkan kepalanya di dada Mba Rien, mendengar jantungnya bagai berdentum-dentum, keras sekali.
“Kino…. maafkan Mba Rien !” tiba-tiba terdengar wanita itu berucap. Kino hendak mengangkat kepalanya, tetapi tertahan oleh tangan yang memeluk erat lehernya.
Lalu ia merasakan air hangat mengalir di dahinya. Mba Rien menangis! Ada apa gerangan? Apa yang salah? Cepat-cepat Kino melepaskan diri dari pelukan, dan memandang heran. Mba Rien memang menangis, matanya penuh air mata, tetapi mulutnya tersenyum manis. “Kenapa?” tanya Kino dengan sejuta keheranan.
Mba Rien menggelengkan kepalanya pelan-pelan, tangannya lembut mengusap wajah Kino, lalu juga mengusap rambutnya yang agak menutupi dahi. Dia berbisik, “Aku telah menguak sebuah rahasia penting untukmu …. .”
Cerita Sex Ranjang yang Ternoda
Kino diam dan masih mengernyitkan dahi. Mba Rien berkata lagi, masih dengan berbisik, “Itu tadi orgasme pertamaku di tangan kamu, Kino…”
Orgasme. Rahasia penting. Kino menghela nafas panjang. Ia menguakkan kepadaku rahasia terpenting seorang wanita. Mba Rien membawakan kepadaku dunia yang kini justru penuh misteri untuk dikuakkan, pikir Kino dengan dada dipenuhi aneka perasaan: bangga bahwa ia dipilih oleh wanita menggairahkan ini, takjub karena ternyata orgasme itu begitu indah sekaligus menakutkan, terharu karena melihat wanita ini harus berjuang melawan dirinya sendiri sampai menangis!
Dengan cepat dipeluknya Mba Rien, diciuminya leher wanita yang harum itu. Oh, terimakasih untuk kunci rahasia itu Mba Rien. Terimakasih banyak!!
Bersambung…
Menutup Layar
Kino terus menciumi leher jenjang yang harum dan kini agak basah oleh keringat. Ia mengecup-mengembus, menggigit kecil, menghela nafas menghirup semerbak tubuh wanita yang menggairahkan ini. Rasa terimakasih memicu semangat dan birahinya, ingin rasanya ia mendekap dan melumat tubuh hangat yang ditindihnya ini.
Mba Rien tertawa kecil menerima perlakuan Kino, “Stop ….,” ucapnya, tetapi kata itu seperti kehilangan makna. Dan Kino tak mau berhenti, malah semakin bersemangat menelusuri urat samar kebiruan di leher yang bak pualam itu. Kino naik menciumi dagu Mba Rien, menyusur bawah rahangnya, lalu turun lagi sampai ke pangkal leher.
Tangannya dengan cepat menyibak kaos wanita itu, sekaligus membuka beha coklat di bawahnya, menampakkan dada ranum yang bergerak naik-turun dengan cepatnya.“Ah, Kino …. Ohhh,” akhirnya Mba Rien hanya bisa mendesah, dan perlahan tangannya yang tenggelam di rambut Kino kini justru menekan kepala pemuda itu.
Justru mendorongnya agak lebih ke bawah, sehingga bibir Kino kini menelusuri lembah indah di antara kedua payudara yang membusung-mengembung-menggairahkan. Harum sekali lembah itu, lembut dan bergetar menyembunyikan jantung yang berdebar kencang.
Kino semakin berani, mengangkat mukanya menggigit daging yang membola halus-licin itu sehingga Mba Rien menggelinjang dan menjerit kecil, “Oh, …. jangan Kino…” tapi tangannya tak juga sanggup mendorong kepala Kino lepas dari dadanya. Mba Rien hanya bisa berkata tak bisa berbuat. Sebuah penolakan yang tak punya daya, sebuah penyerahan yang tak terelakkan. Apalagi ketika mulut pemuda yang menghembus-hembuskan nafas panas itu kini tiba di satu puncak payudaranya.
“Oh … jangan itu,… Kino, jangan itu… “, erang Mba Rien, tetapi terlambat sudah!
Dengan cepat Kino menyedot puting kenyal yang berdiri menantang itu. Mba Rien menggeliat, melepaskan tangannya dari kepala Kino, meremas-remas seprai seperti hendak mencari kekuatan dari situ. Dunia nyata seperti menghilang dari pandangan Rien yang kini terpejam menahan nikmat tak terperi yang menyerbu tubuhnya.
Satu tangannya bergerak ke atas, menggenggam tiang ranjang seakan kini seluruh hidupnya bergantung di sana. Tak ada lagi pikiran bimbang, atau takut, atau kuatir di kepalanya. Semuanya hilang berganti kenikmatan belaka, menjalar-jalar seperti api keluar dari mulut Kino yang kini mengemut-emut puting susunya.
Kino pun semakin bersemangat, menyedot kuat-kuat dan mengulum-ulum daging kecil kenyal yang terasa aneh di mulutnya itu. Beginikah seorang bayi merasakan susu ibunya? pikir Kino sambil membayangkan betapa rakusnya dulu ketika ia masih bayi!
Rien merasakan kewanitaannya berdenyut lagi, bagai bangkit dari istirahat, setelah tak lebih dari 10 menit lalu bergeletar terlanda orgasme. Kini kedua kakinya membuka lebih lebar lagi, dan tak sadar ia menarik satu tangan Kino untuk kembali ke bawah sana. Kino pun tak perlu mendapat tuntunan lagi sekarang. Tiba-tiba saja ia sudah menjadi piawai.
Tangannya dengan cepat melakukan lagi apa yang baru saja ia pelajari dalam permainan serba menggairahkan ini. Tangan itu tahu harus berbuat apa di ladang subur yang selalu menjanjikan kehangatan itu. Penuh kepastian, tangan pemuda itu kini mengusap-usap, menerobos-menelusup, meraih-raih. Rien membuka pahanya semakin lebar, semakin menguak, menyediakan keleluasaan kepada Kino.
“Ohhh, Kino…. Ohhh, aku mau …. Aaah, aku ingin ….,” Mba Rien seperti kehabisan kata-kata, “Kino,… aku,… ahhh..” Apa yang hendak disampaikannya? tanya Kino dalam hati, tetapi ia tidak berani bertanya. Mulutnya tak hendak lepas dari mainan baru di puncak payudara yang menggelorakan itu!
Dengan satu jari tengahnya, Kino membuka-menguak sepasang bibir di bawah sana. Telah menebal, bibir-bibir itu. Basah dan licin pula. Hangat dan berdenyut juga. Jari Kino seperti menari-nari, melenggak-lenggok di taman sutera yang halus menggelincirkan. Terkadang, jari itu menelusup jauh ke bawah dan sampai di sebuah liang sempit yang berdenyut-denyut.
Rien tersentak ketika disentuh ujung jari Kino di bagian yang sangat peka itu. Tubuh bagian bawahnya tiba-tiba terangkat meninggalkan kasur, dan akibat gerakan itu jari Kino akhirnya melesak masuk, tergelincir cepat sampai tenggelam sepanjang satu buku jari.
Ada sedikit lengket dan panas dan basah terasa oleh Kino di ujung jari yang dilingkari sebentuk otot liat-kenyal yang bergerak-gerak seperti mulut kecil. Dan Rien pun merintih pelan, “…. teruskan … masukkan …. Oh, Kino… teruskan…”. Dan Kino mendorong lebih dalam, merasakan jarinya kini menelusuri dinding licin bak sutra yang basah. Dan Rien semakin keras mengerang lalu memutar pinggulnya dalam gerakan asal-asalan. Kino menarik sedikit jarinya, tapi tangan Mba Rien mendorongnya kembali.
Kino menarik lagi, tetapi didorong lagi. Ditarik-didorong. Ditarik-didorong. Berkali-kali, semakin lama semakin cepat, seperti kereta api sedang mengambil ancang untuk melaju. Rien menutup mulut dengan punggung tangannya, menahan sebuah teriakan-teriakan kecil yang terputus-putus… ah … ah … ah. Lalu ia menggelepar kuat sekali, dan tangan Kino lepas dari selangkangannya, seperti dilemparkan oleh kekuatan gaib.
Kino sendiri terkejut sekali dibuatnya. Dan Mba Rien tidak bisa diajak bicara, karena wanita itu menggeliat, mengguling ke samping, lalu tertelungkup dengan tubuh berguncang-guncang. Ranjang berderit-derit. Kino terpana. Astaga, apa yang telah kulakukan?
Kino hendak bangkit meninggalkan tempat tidur, tetapi tiba-tiba Mba Rien telah berbalik. Wajahnya agak memerah dan bibirnya yang menggairahkan itu seperti tomat matang. Matanya setengah tertutup, memandang sayu, tetapi penuh dengan sinar yang tak bisa digambarkan oleh kata-kata. Kino setengah terduduk di pinggir ranjang, tak pasti apa yang harus dilakukannya. Lagipula, kini ia kuatir ada orang yang mendengar kegaduhan di kamar ini, walaupun ia juga tahu paviliun tempat Mba Rien indekos terpisah oleh halaman cukup luas dari rumah utama.
Mba Rien tiba-tiba tertawa kecil, “Aduh, Kino… lihat apa yang telah kamu lakukan,” ucapnya masih agak terengah. Pakaiannya semrawut, behanya sudah terlepas sama sekali, dan roknya tersingkap lebar.
“Maaf, Mba …,” ucap Kino pelan. Ia sungguh-sungguh bermaksud minta maaf.
“Hei… kenapa harus minta maaf?”, ucap Mba Rien ringan, lalu ia bangkit dan merapikan pakaiannya, tetapi tidak memakai kembali beha maupun celana dalamnya yang kini entah di mana. “Kamu memberikan lebih dari yang aku minta, dan tak perlu minta maaf untuk itu …” lanjut Mba Rien lagi dengan suara lembut, hampir berbisik.
Mereka duduk berdua di pinggir ranjang. Mba Rien memeluk bahu Kino, lalu mencium leher Kino sedikit di bawah kuping. Kino menggeliat kegelian, lalu balas memeluk pinggang Mba Rien. Kemudian ia mendengar wanita itu berbisik dengan nafasnya yang hangat menyentuh tengkuk Kino, “..sekarang giliran kamu, yaa…”
Tangan Mba Rien cepat sekali telah membuka resleting celana Kino yang diam saja tak tahu harus berbuat apa. Lalu dengan lembut tetapi agak memaksa, Mba Rien mendorong tubuh pemuda itu sehingga telentang di kasur, sementara ia sendiri tetap duduk dan terus membuka resleting sampai lepas sama sekali. Lalu jari-jarinya yang letik mulai mengelus-elus di atas celana dalam Kino yang telah menggembung dan agak basah di sana-sini. Ah, Kino pun hanya bisa memejamkan mata, membiarkan apa pun yang akan terjadi berikutnya. Ia pasrah saja.
Dengan tangan yang lain Mba Rien membuka kancing baju Kino, satu-persatu dengan ketrampilan dan ketenangannya. Tak lama kemudian, dada Kino yang bidang telah terbuka sama sekali. Lalu Mba Rien membungkukan badannya sedikit, dan …. Kino menggeliat kegelian ketika bibir basah wanita itu tiba di putingnya yang kecil.
Rasanya seperti disengat kenikmatan dan Kino mengerang pelan. Mba Rien bahkan lalu mengulum dan menyedot, sehingga Kino tak lagi hanya mengerang tetapi juga merintih. Enak sekali, ternyata jika seseorang bermain-main dengan puting susumu! pikirnya dalam hati.
Sementara itu jemari-jemari Mba Rien yang lain telah masuk menyelinap ke balik celana dalam Kino, dan menemukan kejantanan pemuda itu tegak-keras-panas. Jemari itu lalu meremas pelan, mengelus dan menelusur ke atas ke bawah. Kino memejamkan matanya erat-erat, seakan memastikan bahwa ini adalah sebuah mimpi yang nyata, sebuah kenyataan yang dimimpikannya. Tubuhnya meregang merasakan jemari itu melakukan sesuatu yang menakjubkan, membuat seluruh daerah di bawah perutnya terasa tiga kali lebih besar dari biasanya.
Mulut Rien terus mengulum puting Kino yang kecil, tangannya terus menggosok-meremas. Dua sumber kenikmatan saling bertumbukan di tubuh Kino, menyebabkan pemuda ini bergetar hebat. Sebuah desakan gairah mulai terkumpul di tubuh bagian bawahnya, membuat kedua pahanya terasa berat. Seluruh otot tubuhnya seperti sedang bersiap-siap meledak, seperti seorang lifter bersiap-siap mengangkat barbel, seperti kuda yang berancang-ancang melompat, seperti burung garuda yang bersiap mengudara.
Gerakan Rien makin cepat, dan sedotan mulutnya makin kuat memilin-milin puting Kino yang tentu saja tak pernah lebih besar dari semula. Tidak seperti puting payudaranya Mba Rien. Tangan Mba Rien naik-turun dengan bergairah, begitu cepat sehingga hanya tampak dalam bayang-bayang. Kino mengerang panjang ketika akhirnya ia tak bisa lagi menahan serbuan puncak birahi menerjang mencari jalan keluar.
Apalagi kemudian satu tangan Mba Rien yang masih bebas, ikut bermain di bawah sana, memegangi kantong di bawah kelaki-lakian Kino yang seperti mengeras-membatu. Tangan Mba Rien meremas pelan kantong kenyal itu. Pelan saja, tetapi sudah cukup membuat Kino menggeramkan penyerahannya, mengerangkan kepasrahannya, ketika dengan deras cairan hangat kental lepas dari tempat persembunyiannya, menghambur keluar.
Langit-langit kamar Mba Rien memudar di mata Kino. Ranjang Mba Rien terasa seperti awan yang membumbung membawa tubuhnya melayang. Jemari dan tangan Mba Rien masih meremas menggosok. Mulutnya yang basah masih mengulum-menyedot. Dunia nyata seakan berkeping-keping. Meledak mengamburkan pijar-pijar pelangi di kepala Kino. Sungguh menakjubkan!
Lalu sepi bagai turun dari langit. Kino tergeletak lemas. Mba Rien tertelungkup di sebelahnya, dengan kepala tersandar ke dadanya. Nafas mereka berdua masih memburu. Samar-samar terdengar detik jam dinding. Malam minggu sedang menuju titik kulminasi.
Setelah segalanya tenang, Kino bangkit dan merapikan pakaiannya. Mba Rien keluar menuju kamar mandi. Segalanya seperti sediakala, kecuali ranjang yang berantakan tak keruan. Dengan cekatan Kino membereskan seprai dan mengembalikan bantal ke tempatnya. Ia menemukan beha dan celana dalam Mba Rien, yang segera dilipatnya baik-baik dan diletakkan di kursi meja rias. Setelah menghela nafas dalam-dalam, ia melangkah keluar, ke ruang tamu. Kosong tak ada siapa-siapa.
Lalu Mba Rien muncul dari kamar mandi. Wajahnya penuh senyum seperti biasanya. Lalu mereka duduk berhadap-hadapan. Lama tidak berkata-kata, cuma saling menukar senyum. Ketika akhirnya Mba Rien membuka percakapan, bahan pembicaraan terasa hambar, dan wanita yang wajahnya bersinar tetapi kelihatan letih itu pun berkali-kali menguap tak mampu mengusir kantuk.
Pukul 10 lewat seperempat, Kino akhirnya berpamit. Mba Rien berdiri di pintu depan memandangnya pergi. Kino tak bisa melihat wajahnya, karena terlindung bayangan pintu, tetapi ia tahu Mba Rien tersenyum. Maka ia pun tersenyum sekali lagi, lalu berbalik menuntun sepedanya ke jalan raya. Gelap malam segera menyambutnya, merangkulnya dengan embun basah yang segar. Entah kenapa, Kino merasa seperti seorang ksatria pulang dari medan pertempuran!
Itulah malam paling bergelora yang pernah dijalani Kino bersama Mba Rien. Seminggu setelah itu, sekolah dimulai dan pertemuan keduanya tak pernah lagi terjadi malam hari. Kino juga tak lagi bisa sering mengantar-jemput Susi ke tempat latihan menari, karena kini ia punya aktifitas baru: mengantar Alma pulang. Mengerjakan PR bersama. Latihan vocal group untuk acara-acara sekolah. Kegiatan ekstrakulikuler selepas sekolah. Dan sebagainya.
Mba Rien masih sering mengajak berenang bersama (tetapi Alma tidak pernah ikut karena ia tidak bisa berenang), mereka masih dengan riang saling berlomba mencapai batu karang, mengalahkan Dodi dan Iwan dan Niken yang selalu terlalu banyak tertawa.
Mereka juga masih mencari kenari ke hutan, tetapi anehnya tak lagi ada hujan yang menyebabkan mereka terpaksa berteduh di gua. Tak sekali pun mereka pernah membicarakan adegan-adegan bergelora yang sering diputar-ulang oleh Kino di atas ranjangnya sendirian. Mba Rien seperti lupa tentang apa pun yang terjadi malam itu, seperti halnya ketika ia melupakan kejadian di pantai dan di gua. Segalanya normal-normal saja.
Dan hari-hari pun berlalu dengan cepat, musim berganti dari hujan ke panas, dari basah ke kering. Ada suatu masa kemarau yang agak panjang, membuat daun-daun menguning dan suasana gerah di mana-mana.
Pada masa seperti itu, kota kecil tempat mereka tinggal pun seperti kehilangan energi. Orang-orang jarang mau ke luar rumah, lebih sering duduk-duduk di beranda, atau berteduh di bawah pohon di halaman sendiri. Toko-toko yang jumlahnya memang tidak banyak, juga sepi pengunjung. Babah Ong, pemilik toko kelontong di ujung jalan semakin sering mengomel-mengeluh.
Kemarau kali ini membawa cerita lain bagi Kino. Ia semakin dekat berhubungan dengan Alma dan semakin jarang bertemu dengan Mba Rien. Bukan apa-apa, tetapi memang suasana panas menghalangi keinginan pergi ke pantai, sementara sungai juga menipis airnya, dan kenari tidak berbuah. Lagipula, setiap kali mengantar Alma pulang, Kino dipaksa mampir. Ibunda Alma, Nyonya Tuti, seorang bidan satu-satunya di kota itu, menyukai pemuda ini. Ia selalu mempunyai alasan tepat untuk menyuruh Kino berlama-lama menemani Alma. Misalnya, hari itu ibu yang bertubuh gemuk bulat itu sudah menyediakan es cendol segar. Siapa bisa menolak itu di siang yang begini terik? Tetapi Kino bersopan-santun, mencoba menolak tawaran menggiurkan itu.
“Ayooo…,” sergah Alma manja, menarik kelingking Kino, menyeretnya masuk ke beranda seperti menyeret anak kambing, “Kamu tadi bilang haus…”
“Sudah siang, Alma,” kata Kino mencoba berdalih.
Ibu Tuti tertawa mendengar alasan Kino, “Setiap hari kalian pulang pukul 1, apa bedanya hari ini?”
“Ayooo…,” Alma menarik-narik lagi, kali ini pergelangan Kino yang dicekalnya erat-erat. Terpaksa Kino melangkah masuk, menunduk menghindari tatapan Ibu Tuti yang seperti mau menggodanya sambil berkata, “Kino malu sama Ibu, ya? Baiklah kalau begitu Ibu masuk, kalian berdua saja minum cendol itu.”
Begitulah, akhirnya Kino minum cendol yang memang segar. Berdua saja di beranda yang sepi. Ibunda sudah pergi ke paviluan sebelah, tempatnya membuka praktek KB. Rumah besar yang menghadap jalan kecil menuju pasar ini tampak lengang. Berhadapan, diam-diam, Alma dan Kino menghabiskan minuman mereka. Sejuk sekali rasanya leher menelan cendol-cendol yang dingin itu.
Kino menyukai suasana seperti ini, di mana ia bisa berlama-lama berhadapan dengan Alma tanpa siapa-siapa di sekeliling mereka. Wajah Alma yang selalu tampak segar itu (Kino kadang-kadang membandingkannya dengan buah jeruk manis yang baru dikelupas) selalu sedap dipandang. Apalagi kalau kedua matanya yang bening menatap kepadanya, dengan bulu mata lentik yang jarang berkerejap. Di suasana panas seperti ini, Kino senang sekali berteduh di sinar mata yang lembut itu. Senang sekali mereguk nada rindu yang mengalun pula dari sana.
“Apa, sih, yang kamu lihat?” sergah Alma sambil menggigit-gigit sendok plastiknya.
“Kamu.” jawab Kino pendek, bertopang dagu dengan satu tangan.
“Setiap hari kamu lihat saya. Tidak bosan?”
Kino menggeleng. Pertanyaan kuno, ucapnya dalam hati sambil menahan tawa. Itu pertanyaan yang mengundang tanggapan lebih lanjut, mengundang kata-kata seperti, “tak kan pernah bosan” atau “mana mungkin aku bosan memandangmu” dan yang semacam itu. Kino mengunci mulutnya, tetapi tidak menyembunyikan senyum di matanya.
“Tidak bosan?” tanya Alma lagi, sudah berhenti menggigit-gigit sendoknya. Bibirnya yang semakin basah oleh minuman terlihat indah agak berkilauan.
Kino menggeleng lagi. Ia tahu Alma ingin mendengar serentetan kata-kata berbunga tentang ketidak-bosanan, tentang kerinduan yang menerus, tentang keinginan untuk selalu berdua. Tetapi Kino menguatkan hati. Kadang-kadang ia ingin menyampaikan segala sesuatu yang indah dalam diam. Tanpa kata-kata.
“Betul?” kali ini Alma terdengar penasaran, gemas diperlakukan seperti ini oleh pemuda yang tak pernah berhenti membuatnya terpesona.
“Kenapa tidak bosan?” tanya Alma.
Kino menahan senyum. Mengangkat bahu dan tetap mengunci mulutnya. Alma semakin gemas, dan karena tidak tahan lagi, ia bangkit berpindah tempat ke sebelah Kino. Jemarinya yang halus tiba-tiba saja sudah hinggap di pangkal lengan Kino, mengancamkan sebuah cubitan.
“Ayo jawab. Atau Alma cubit!” ucapnya sengit. Kino pura-pura tidak mendengar, memandang ke luar beranda dan melihat sekeliling. Sepi sekali siang ini.
Alma mencubit pelan. Mana tega ia mencubit keras. Kino meringis pura-pura kesakitan, lalu menoleh memandangi wajah Alma yang kini dekat sekali di sisinya. Aku ingin mencium bibir ranum yang basah itu, ucap Kino dalam hati. Pasti manis seperti es cendol yang diminumnya.
“Jawab…atau…,” bisik Alma lirih, tak meneruskan kalimatnya melihat kedua mata Kino memandangnya dengan penuh rindu. Dekat sekali.
Kino semakin mendekatkan wajahnya sampai bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Alma. Gadis itu terdiam, jemarinya berhenti mencubit, berubah menjadi cengkraman lemah. Kino menghela nafas menikmati harum nafas Alma yang hangat menghambur dari mulutnya yang setengah terbuka. Perlahan-lahan wajah mereka semakin mendekat. Kino mencium gadis itu, merasakan manis gula jawa yang tersisa di bibirnya yang basah, mengulum lembut seperti khawatir tindakannya akan menimbulkan gempa bumi.
Alma menyambut ciuman Kino dengan mata terpejam dan dengan kehangatan yang justru mengusir terik kemarau hari itu.
Suatu Sabtu di penghujung musim panas, Kino menerima sepucuk surat dari Mba Rien yang disampaikan lewat Susi. Ketika itu Kino baru saja tiba dari bermain voli di lapangan di depan kantor Pak Camat. Dengan tangan masih berpeluh, buru-buru disobeknya sampul putih yang cuma bertuliskan “untuk Kino di rumah” itu. Di dalamnya, ada sehelai kertas surat biru muda tipis, dan potongan sebuah brosur. Apa ini? tanya Kino dalam hati, lalu ia mulai membaca:
Adikku Kino yang cakep… (Kino tersenyum membaca sapaan ini. Ada rasa rindu menjalar tiba-tiba. Telah lama ia tak berjumpa Mba Rien).
Hari Minggu besok, Mba Rien akan pergi ke ibukota. Ada seorang sutradara tari menawarkan peran untuk sebuah pertunjukan besar. Mba Rien tidak tahu berapa lama akan berada di ibukota. Kalau peran itu jadi diberikan kepada Mba Rien, mungkin Mba Rien akan berada di sana lebih dari setahun .. (Kino menelan ludah, merasakan mulutnya kering. Lama sekali, setahun itu!)
Mba Rien ingin mengucapkan selamat tinggal. Rajin-rajinlah belajar agar nanti bisa bersekolah ke institut teknologi yang dulu pernah kamu ceritakan itu … (Jantung Kino berdegup kencang. Mengapa tiba-tiba ia merasa dirinya akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga?).
Mba Rien tidak akan pernah melupakan kamu. Mba Rien juga tahu kamu akan tetap mengingat Mba Rien. Tetapi jangan lupa mengingat hal-hal lain yang penting dalam hidupmu. Terutama, jangan pernah melupakan cita-citamu, keinginan mu yang tertinggi… (Sampai di sini, Kino menghela nafas panjang, merasakan segumpal kesedihan menyumbat kerongkongannya. Apakah ini ucapan perpisahan?).
Mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi. Sampaikan salam Mba Rien kepada orang tuamu. Jaga Susi baik-baik, ia seorang yang berbakat tari.
Peluk-cium, Mba Rien
NB : Mba Rien lampirkan potongan brosur pertunjukan tari di ibukota dan alamat sanggarnya. Kalau kamu berkesempatan, tengoklah Mba Rien di sana.
Kino melihat jam di dinding. Jarum menunjukkan pukul tiga sore. Masih ada waktu sebelum bertandang ke rumah Alma. Cepat-cepat Kino berlari ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang berkeringat dan berdebu. Seperempat jam kemudian ia sudah mengayuh sepedanya dengan kecepatan maksimum menuju rumah kost Mba Rien. Ia ingin menemui wanita istimewa itu untuk mengucapkan selamat jalan.
“Baru saja Mbak Rien pergi, dijemput oleh kakaknya naik mobil.” kata Mbak Laras di depan pintu. Kino lemas mendengar penjelasan itu.
“Tapi, bukankah ia baru akan berangkat ke ibukota hari Minggu besok?” tanya Kino, seperti hendak mempersoalkan benar-tidaknya Mbak Rien telah pergi.
“Betul,” jawab Mbak Laras, “Tetapi kakaknya ingin Mbak Rien menginap di rumahnya, sebelum berangkat ke ibukota. Di rumah kakaknya itu telah berkumpul kedua orang tua mereka dan anggota keluarga yang lain. Semacam pesta perpisahan.”
“Rumah kakaknya tidak jauh, bukan?” tanya Kino, teringat tentang kepergian Mbak Rien sewaktu masa ujian dulu. Kalau tidak salah, jaraknya hanya 6 kilometer.
“Bukan kakaknya yang di dekat sini,” kata Mbak Laras, “Yang menjemputnya tadi adalah kakak yang satu lagi, yang tinggal di kota L.”
Kino merasakan bumi tempatnya berpijak bergoyang-goyang. Kota itu jauhnya 100 km dari sini. Ia menunduk lesu, bersandar ke pintu rumah kost, membuat Laras iba. Kasihan pemuda ini, pikir Laras dalam hati, ia pasti sangat kecewa tidak berjumpa “kakak kesayangan”-nya.
Laras bisa membaca hubungan istimewa yang terjalin antara teman kostnya dengan pemuda ini, walau tak pernah tahu seberapa jauh mereka berhubungan. Ia hanya tahu, Rien sangat menyayangi pemuda ini, dan memberlakukannya seperti adik sendiri. Tapi ia tidak pernah tahu bahwa keduanya pernah bergumul di kamar ketika ia pergi menonton beberapa waktu yang silam.
Setelah mengucapkan permisi, Kino meninggalkan rumah kost itu dengan tubuh tanpa daya. Ia tidak menaiki sepedanya, melainkan berjalan saja perlahan-lahan. Hari telah menjelang senja, matahari dipenuhi semburat merah-jingga.
Angin semilir seperti mencoba memberikan sedikit saja kesejukan di hari yang panas ini. Baju Kino basah oleh keringat, karena tadi ia mengeluarkan semua tenaganya untuk cepat-cepat sampai ke rumah kost. Kini ia mengutuk-utuk ajakan Dodi dan Iwan untuk main voli, dan menyesali diri karena menampik permintaan Susi untuk menjemputnya di sanggar.
Seandainya tadi aku menjemput Susi, pastilah aku masih sempat bertemu Mbak Rien! umpatnya dalam hati. Sebuah batu agak besar di pinggir jalan ditendangnya. Tentu saja, jempolnya sakit bukan main, sedangkan batu itu tak bergeming.
Malamnya, malam minggu yang seharusnya indah, terasa kelabu bagi Kino. Ia berusaha menyembunyikan galau di hatinya sekuat tenaga. Tetapi percuma saja menyembunyikan perasaan di depan Alma. Gadis itu punya indra kesepuluh, khusus untuk menembus dinding kalbu Kino!
Akhirnya Kino mengaku dan menceritakan kepergian Mbak Rien. Tidak itu saja, Kino juga menceritakan hubungannya dengan Mbak Rien, setelah memberlakukan sensor ketat di sana-sini. Alma terdiam mendengarkan cerita itu.
Gadis ini memang telah lama menduga bahwa antara Kino dan wanita itu terjadi sesuatu yang lebih dari sekedar persahabatan. Tetapi ia tidak pernah punya bukti, dan kalau ia bertemu Mbak Rien (dan ini sering terjadi), ia selalu menaruh hormat kepada wanita yang tampak selalu ceria tetapi juga penuh wibawa itu. Kini, melihat dan mendengar Kino bercerita tentangnya, Alma merasa dadanya bergemuruh. Cemburu. Iri. Curiga.
“Kenapa kamu baru cerita sekarang?” tanyanya ketus.
“Karena kamu tidak pernah bertanya,” jawab Kino, berusaha menyembunyikan kagetnya mendengar Alma berucap dengan nada ketus. Baru kali ini ia mendengar nada itu di suara Alma.
“Kenapa tidak kamu susul ke kota L,” ujar Alma, kini dengan nada sinis.
Kino mengangkat mukanya, memandang Alma lekat-lekat. Benarkah ia berucap seperti itu, sinis begitu? Kino menemukan sebuah wajah dingin, dengan bibir terkatup rapat membentuk garis tipis yang tegas. Jelas sekali, Alma yang manis dan lembut itu kini sedang meradang. Marah.
Pukul 8 malam, hanya setengah jam dari waktu kedatangannya, Kino berpamitan. Alma tidak mengantar ke gerbang seperti biasa. Tidak membiarkan bibirnya dikecup. Tidak melambai. Kino berjalan gontai pulang ke rumah. Ia merasa, sebuah babak dalam kehidupannya usai sudah. Panggung sudah kembali diterangi lampu-lampu. Penonton sudah bertepuk tangan. Pemain telah berganti pakaian dan pulang ke rumah masing-masing.
Di langit banyak sekali ada bintang. Kino menengadah. Ia menyerah pada Sang Sutradara di atas sana. Babak pertama telah selesai. Mari menutup layar.
Bersambung…
Musim Berderap Berlalu
Kemarau akhirnya berlalu. Rintik hujan pertama jatuh di senja hari Rabu itu, saat orang-orang pada umumnya berada di rumah. Awan yang menjanjikan hujan sebenarnya telah sering bergantung-gantung di langit selama seminggu terakhir ini. Tetapi baru sekarang hujan benar-benar turun. Mulanya hanya menetes-netes seperti tidak sungguh-sungguh hendak turun ke bumi, tetapi lalu dengan cepat membesar. Tanah yang telah lama kering, segera menghisap air dengan cepat, dan bau bumi yang basah segera memenuhi udara. Pohon-pohon seperti jejingkrakan, selayaknya anak-anak yang ramai mandi hujan di halaman rumah masing-masing.
Kino berada di beranda rumah Alma ketika hujan turun. Patut kiranya diketahui, hubungan mereka telah membaik kembali, setelah sempat “perang dingin” selama seminggu. Kepergian Mba Rien dan rasa sedih yang menelungkupi Kino telah menjadi picu dari ketegangan itu (lihat cerita Menutup Layar). Tetapi kemudian segalanya kembali seperti semula, dan Kino kembali mengantar Alma pulang setiap hari, atau membuat PR bersama seperti hari ini.
“Akhirnya hujan turun juga….,” Kino menggumam, berdiri di beranda memandang halaman rumah Alma dengan cepat tergenang air. Alma berdiri di sampingnya, menggigit-gigit pensil, merengkuh tangan kekasihnya.
“Seperti dicurahkan dari langit,” ucap Alma perlahan, mendongak memandang garis-garis air turun seperti jarum-jarum raksasa dari langit yang gelap kehitaman.
“Aku suka air hujan,” kata Kino, “Aku tidak suka terik berkepanjangan. Rasanya badanku mengering di saat kemarau, dan segala sesuatu bisa berubah menjadi bencana.”
“Mmm…,” Alma cuma bergumam. Ia juga tidak suka kemarau, terutama kemarau yang baru saja lalu. Ia tidak suka pertengkaran terjadi antara mereka berdua, dan sekarang bersyukur karena hujan telah datang. Mungkin benar kata Kino, kemarau lah yang menyebabkan mereka berdua bertengkar.
Kino memeluk bahu Alma, dan gadis itu menyandarkan kepalanya manja ke dada kekasihnya. Berdua mereka memandangi hujan, hampir lupa mengerjakan PR matematika yang tertinggal di atas meja. Kalau tidak terdengar Ibunda mendehem dari ruang tamu di dalam, pastilah PR itu tak kan pernah selesai.
Musim hujan juga mengiringi hari-hari akhir dari sekolah Kino dan Alma. Mereka kini telah duduk di kelas tiga, dan telah memasuki masa akhir. Ujian akan segera tiba, lalu mereka harus menempuh perguruan tinggi. Segalanya berjalan dengan cepat, seakan-akan air hujan ikut memperlancar roda kehidupan di kota kecil itu. Tanpa terasa, Kino dan Alma kini tenggelam lagi dalam kesibukan mempersiapkan diri menghadapi kertas-kertas ujian.
Mereka belajar dengan intensif, dalam kelompok yang semakin besar, karena melibatkan pula Dodi dan Iwan dan dua teman putri yang konon adalah pasangan mereka: Sita (pacar Dodi) dan Wiwik (pacar Iwan). Enam orang ini sering berkumpul, terutama di rumah Alma yang adalah rumah terbesar di antara rumah-rumah mereka, dan karena hanya Alma yang rumahnya tidak ramai oleh anak-anak kecil. (Alma adalah putri bungsu. Kedua kakaknya sudah tinggal di luar rumah).
Sesekali, mereka juga belajar di rumah Iwan yang punya kebun jambu di halaman belakangnya. Tetapi belajar di rumah Iwan adalah kesia-siaan belaka. Mereka lebih sering berada di atas pohon jambu, masing-masing berbekal sekantong garam-cabai-terasi. Sedap sekali makan rujak di atas pohon!
Belajar bersama dalam kelompok besar juga sering menimbulkan pertengkaran. Maklumlah, ada enam kepala remaja yang keras, masing-masing tidak mau mengalah kecuali kepada pasangannya. Dan kalau ada tiga pasang remaja bertengkar, pastilah tidak ada penyelesaian. Alma paling sering mengeluhkan hal ini kepada Kino, dan mengusulkan agar mereka kembali belajar berdua saja. Apa boleh buat, Kino pun setuju, dan Dodi maupun Iwan cuma menggerendeng tak berani menyatakan penolakan.
Tetapi belajar berdua –sebagai sepasang kekasih– juga ada kelemahannya bukan?
Siang itu, ketika Kino dan Alma tiba dari sekolah, ibu Alma terlihat sedang berkemas-kemas dibantu asistennya. Sebuah tas hitam besar berisi alat-alat kebidanan tampak telah siap. Sebuah mobil milik BKKBN menunggu di jalan.
“Ibu harus ke kota R, Alma,” ucap Ibunda, tampak terengah-engah karena harus berjalan bulak-balik. Ibu ini terlalu gemuk, pikir Kino dalam hati. Cepat-cepat ia menolongnya membawa tas ke mobil.
“Kino,.. tolong temani Alma hari ini. Ayahnya juga sedang rapat sampai malam di kantor Bupati,” kata Ibunda sambil menutup pintu mobil. Lalu, sebelum mobil berjalan, ia melongokkan kepala dari jendela dan berucap, “Kamu makan siang di sini saja, Kino. Lalu belajarlah,…. jangan nakal!” Kata-kata yang terakhir itu diucapkan sambil melirik ke Alma, yang masih menggendong tas sekolah dan berdiri mematung di sebelah Kino.
“Baik, tante..” kata Kino.
“Ya, bu…” kata Alma.
Mobil pun lalu pergi diiringi lambaian tangan kedua remaja itu. Setelah mobil hilang dari pandangan, barulah keduanya berjalan masuk ke dalam rumah yang sepi. Alma berjalan di depan sambil mengayun-ayunkan tasnya. Kino mengikuti dengan langkah ringan.
“Makan dulu, yuk…” ajak Alma yang tentu segera di-iya-kan oleh Kino. Perutnya selalu lapar di hari-hari yang penuh hujan seperti ini. Apalagi jam memang telah menunjukkan waktu untuk makan siang, dan Ibunda Alma telah menyiapkan satu ayam panggang utuh.
Lahap sekali mereka berdua makan hari itu. Walau pada awalnya kikuk juga, makan berduaan di rumah yang sepi. Alma dengan canggung menyiapkan piring dan menyendoki nasi untuk Kino. Ia tiba-tiba merasa gugup, karena rasanya mereka berdua sudah suami-istri, makan siang bersama seperti ini. Kino juga canggung, karena ia sebenarnya tidak biasa dilayani. Di rumah, ia mengambil nasi sendiri, sesuka hati.
Alma tertawa kecil pada suapan pertamanya. Kino mengernyitkan dahi, “Kenapa?” “Ah, tidak… aku cuma merasa lucu saja,” jawab Alma.”Apanya yang lucu?” “Kita. Makan berduaan, seperti…” Alma tidak meneruskan kata-katanya. “Seperti apa?” desak Kino. Alma terus mengunyah, lalu menjawab, “Sudahlah. Tidak boleh terlalu banyak bicara jika sedang makan!”
Kino tersenyum mendengar “perintah” itu. Mereka pun makan diam-diam, dan memang makanannya juga sedap untuk dinikmati tanpa banyak bicara. Tak berapa lama, ayam hanya tersisa sepertiganya. Kino merasa sangat kenyang, dan Alma pun takjub sendiri. Belum pernah ia makan begitu banyak, padahal ayam panggang sudah sering jadi menu di rumah ini.
Lalu Kino membantu Alma mencuci piring di dapur, berdiri bersisian di bak cuci piring sambil mengobrol. Sesekali tangan mereka yang dipenuhi sabun bersentuhan, dan Alma dengan manja minta Kino membersihkan sabun yang menciprat ke ujung hidungnya.
“Tanganku juga penuh sabun, bagaimana bisa membersihkan hidungmu,” protes Kino.
“Gunakan pipimu!” sergah Alma sambil tersenyum manis.
Nakal juga pacarku ini, pikir Kino sambil mulai menyeka sabun dari hidung Alma dengan pipinya. Tetapi tentu saja Kino tidak cuma menyekakan pipinya ke hidung yang agak berkeringat itu. Dengan cepat ia mengecup hidung itu setelah tak bersabun. Dengan cepat pula ia turun agak ke bawah, mengecup bibir yang masih tersenyum itu. Alma menarik kepalanya, tapi kurang ke belakang, tak mampu menghindar sepenuhnya.
Lalu tiba-tiba saja mereka lupa piring-piring yang belum dibilas. Lupa tangan mereka yang berleleran sabun. Bibir mereka tiba-tiba saja sudah saling melumat dan tangan Alma sudah memeluk leher Kino. Kedua kaki Alma berjinjit, agar ia bisa leluasa mengulum bibir kekasihnya, dan agar Kino leluasa pula melumat bibirnya. Tangan Kino pun kini merangkul pinggang Alma, menekan tubuhnya agar lebih rapat lagi. Sedap sekali mencium bibir gadis yang kau sayangi, yang wajahnya selalu kau rindukan. Alma pun terpejam membiarkan tubuhnya terhenyak ke depan. Lembut sekali rasanya dicium pria pujaan mu, pria yang tahu bagaimana memanjakanmu.
Hujan tiba-tiba turun, keras menerpa jendela dapur, menimbulkan suara berisik bertalu-talu. Tetapi Kino dan Alma tidak mendengar apa-apa. Di telinga mereka cuma ada debur jantung yang semakin mengencang, dan nafas yang mendesah-desah. Cuma ada musik romantis yang mengiringi tarian kerinduan di atas awan-awan cinta. Perlahan-lahan tubuh Kino dan Alma semakin merapat, dan kedua mulut mereka semakin sibuk mengulum, menghisap dan terkadang menggigit. Alma mengerang pelan ketika kekasihnya mengulum perlahan bibir bawahnya, membuatnya membuka mulut agak lebih lebar. Lalu terasa lidah Kino menyerbu masuk, menyentuh-nyentuh lidahnya sendiri. Rasanya hangat dan geli, tetapi juga mesra dan memanjakan.
Perasaan nikmat yang lain juga kini muncul di dada Alma, yang terhenyak rapat di dada Kino. Dengan tangan semakin erat merangkul leher pemuda pujaannya, gadis belia ini merasakan kegelian memenuhi puncak-puncak payudaranya yang ranum. Apalagi gerakan tubuhnya menyebabkan gesekan-gesekan kecil. Ia menggelinjang dan semakin merapatkan dadanya.
Oh, jangan biarkan semua ini berlalu! jeritnya dalam hati. Matanya terpejam rapat, dan nafasnya yang hangat semakin menderu. Alma terhanyut dalam gelora baru yang telah lama terpendam sejak ia memacari Kino. Ia menggeliat merasakan tubuhnya bagai dipenuhi rasa geli yang aneh, yang menyebar perlahan ke segala penjuru, dan yang menyebabkan jantungnya berpacu. Terengah-engah, Alma mencoba memahami semua ini, tetapi kepalanya terasa kosong tak bisa berpikir. Segalanya terasa tak masuk akal, karena cuma ada rasa dan emosi. Cuma ada gairah dan birahi.
Kino pun terpejam merasakan hangat menerpa dari tubuh gadis yang dipeluknya. Selama ini, tubuh itu lah yang ia peluk dengan sayang, yang ia terima ketika bersandar. Kini tubuh itu begitu dekat, begitu hangat, dan begitu ranum seperti baru pertama kali disentuhnya. Sambil mengulum bibir Alma yang semakin terasa panas dan basah, Kino mengusap-usap punggung gadis itu. Ia tak peduli, sabun menodai seragam putihnya. Ia tak bisa berpikir lain, selain ingin mengusap-usap tubuh gadis yang dirindukannya ini. Tangannya lembut menjalar ke sana ke mari. Juga ke bawah pinggang Alma, ke bagian belakang yang kenyal dan menonjol seksi itu. Kino meremas gemas bagian itu.
Alma menjerit tertahan, menggeliat kaget merasakan remasan tangan Kino. Sebuah aliran panas yang menggelisahkan menyerbu dari bagian yang diremas itu, menerobos ke mana-mana, mendatangkan sebuah demam tanpa sakit. Ini bukan flu, pikir Alma, ini bukan demam biasa. Ini demam cinta. Alma mengerang, melepaskan ciumannya, dan menyembunyikan wajahnya di leher Kino. Tangannya lebih erat merangkul, dan kini tubuh bagian bawahnya ia tempelkan lebih keras lagi ke tubuh Kino. Remasan tangan pemuda itu di bagian belakang telah memicu sebuah gemuruh di dalam tubuh Alma.
“Jangan di sini, Kino…,” desah Alma, repot sekali berucap di tengah nafas yang memburu. Ia melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, lalu mengajak Kino ke ruang tengah. Kino membiarkan tangannya dituntun. Mereka berdua sudah lupa sama sekali, ada beberapa piring dan sendok masih menggeletak di bak cucian. Tangan mereka masih agak basah, walau busa sabun telah lama hilang.
Di ruang tengah, Alma menarik Kino untuk duduk bersama di sebuah sofa empuk. Dengan segera mereka melanjutkan apa yang tadi terputus di dapur. Kino menindih tubuh kekasihnya, menciumi lehernya yang lembab oleh keringat walaupun udara sebenarnya agak sejuk. Alma menggeliat kegelian dan merebahkan tubuhnya pasrah. Ia ingin Kino melakukan sesuatu hari ini, tapi ia tak pasti apakah “sesuatu” itu. Ia ingin membiarkannya saja sebagai misteri yang menegangkan. Dan ketegangan adalah bumbu dari percumbuan, bukan?
Dengan satu tangannya, Kino membuka kancing-kancing baju Alma. Oh, ia dengan mudah bisa melakukannya, teringat pengalamannya dengan Mba Rien yang kini sedang ia coba lupakan sekuat hati. Satu demi satu kancing itu lolos dari lubangnya, sehingga akhirnya baju Alma di bagian depan terkuak sudah. Sebuah beha putih membungkus sepasang bukit ranum, jauh lebih kecil daripada payudara Mba Rien yang padat membusung itu.
Tetapi tak kalah menggemaskan pula, dada Alma yang terlihat turun naik dengan cepat itu. Jemari Kino tak tertahankan, menelusup masuk ke bawah beha, merayapi salah satu bukit ranum itu. Alma menggeliat-geliat kegelian, merasakan kenikmatan baru yang belum pernah diterimanya dari siapa pun. Ia memang senang menempelkan dadanya di pangkal lengan Kino jika bergandengan, tetapi sungguh-sungguh disentuh langsung seperti ini….. wow, berbeda sekali rasanya!
Kino merasakan puting Alma langsung mengeras ketika tersentuh ujung jarinya. Ia putar-putarkan ujung jari itu dengan ringan di sana. Ah, puting itu terasa panas seperti menyimpan air mendidih. Kenyal pula, seperti terbuat dari karet berkualitas tinggi. Bukit kecil di bawahnya terasa padat dan halus-licin. Berkali-kali telapak tangan Kino seperti tergelincir di sana, seperti seorang pemain ski yang meluncur gembira di bukit bersalju.
Alma kini mengerang di sela desahan-desahan nafasnya. Sebuah aliran kehangatan, kecil saja bagai sebuah parit, terasa mulai terbentuk di pangkal pahanya. Dengan gelisah, Alma merapatkan kedua pahanya, kuatir aliran itu menerobos keluar membasahi celananya, atau bahkan membasahi sofa. Tetapi berbarengan dengan itu, juga ada rasa nikmat yang makin lama makin kuat terasa.
Semakin ia merapatkan pahanya, justru semakin nikmat rasanya. Membingungkan sekali, segalanya terasa penuh paradoks. Segalanya terasa janggal sekaligus memikat. Alma akhirnya menyerah saja, membiarkan apa pun yang terjadi. Ia cuma bisa mengerang ketika sebuah tangan Kino mengelus-elus pahanya, perlahan-lahan mengangkat rok seragamnya semakin tinggi.
Kino mengelus perlahan, menikmati paha yang lembut-hangat-mulus itu. Telapak tangannya seperti sedang menjalani pualam yang hangat, membuat ujung-ujung saraf di sana bergairah. Sesekali ia tak tahan meremas, merasakan tubuh Alma bereaksi cepat terhadap setiap ramasan itu. Kino merasa seperti seorang konduktor orkestra, yang dengan gerakan tangannya mampu mengatur musik, kapan mengalun perlahan dan kapan menggelora penuh semangat.
Dengan mata terpejam, Alma mencari-cari mulut Kino. Ketika ditemukannya, ia mengulum bibir pemuda itu, sambil mendesah. Kino pun menyambut pagutan bergairah itu, sementara tangannya kini telah sampai di pinggir celana dalam Alma, di bagian berkaret yang ketat memagari apa pun yang ada di baliknya. Mulanya, Kino ingin menerobos barikade itu, tetapi sebuah suara kecil di hatinya segera melarang. Jemarinya pun menghindari pinggiran itu, melainkan naik mengusap ke arah atas. Kain nilon terasa halus di telapak tangannya, juga terasa hangat karena tak mampu mencegah panas yang muncul dari tubuh yang diselaputinya. Dengan lembut dan mesra, Kino mengelus-elus kewanitaan Alma yang masih diselimuti celana dalamnya.
Alma meregang, diusap-dielus di bagian itu, ia merasa seakan-akan sebuah ledakan sedang bersiap-siap meletus di dalam tubuhnya. Geli sekali rasanya. Nikmat sekali rasanya. Tangan Kino bagai sedang mengirimkan berjuta-juta rasa, dan semua rasa itu berpangkal pada kenikmatan belaka. Alma tanpa sadar merenggangkan kedua pahanya, membiarkan tangan Kino menjelajah lebih ke bawah lagi, ke bagian yang kini lembab oleh cairan hangat itu. Alma kini tak lagi kuatir, apakah lembab itu akan berubah menjadi basah, menjadi banjir, menjadi apa pun. Ia sungguh tak peduli.
Dengan jari tengahnya, Kino mulai menelusuri celah yang terbentuk di antara dua punuk kecil di bawah sana yang masih terlindung nilon tipis. Perlahan-lahan jarinnya menelusur ke bawah, lancar karena nilon memang adalah kain yang licin. Terutama juga karena kain itu telah basah. Ujung jari Kino melesak sedikit, menyentuh bagian terbawah yang terhenyak di sofa.
Alma mengerang merasakan kegelian-kenikmatan menyerbu tubuh bagian bawahnya. Ia mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga tangan Kino bisa menelusup lebih ke bawah. Lalu, jari itu naik lagi perlahan, menelusuri jalur yang sama yang ditempuhnya ketika turun. Tubuh Alma pun terhenyak kembali, dan bergeletar pelan ketika ujung jari itu menyentuh sebuah tonjolan kecil di bagian atas. Apalagi kemudian Kino berlama-lama di sana, memutar dan menekan tonjolan itu.
Tanpa dapat ditahan oleh Alma, tubuhnya meregang. Sebuah gemuruh bagai banjir bandang memenuhi tubuhnya. Banjir itu menerjang segala yang menghalanginya, menyerbu seperti hendak membuat tubuh Alma meledak. Kino mempercepat usapan dan gosokan jari tangannya; ia tahu sebentar lagi kekasihnya akan tiba di puncak kenikmatan yang telah didakinya dengan sabar ini. Kino tahu, dari pengalamannya dengan Mba Rien, sebentar lagi tubuh mungil ini akan menggelepar dilanda orgasme. Maka ia mempercepat gerakan tangannya, dan menekan tubuh kekasihnya lebih dalam ke sofa.
Walaupun sudah mengantisipasinya, Kino tak urung terkejut juga ketika akhirnya Alma mencapai klimaks. Terkejut karena gadis yang lembut dan manja itu berteriak cukup keras, seperti seorang yang disengat listrik. Cepat-cepat Kino membungkamnya dengan mencium mulut Alma. Agak sulit melakukan hal ini, karena Alma seperti menghindar, menggelepar dan menggelengkan kepalanya dengan mulut terpejam. Ketika akhirnya Kino berhasil mengulum bibirnya, Alma pun masih mengerang keras, walau kali ini ia hanya mengeluarkan suara “Ngggg….”.
Tak kurang dari 3 menit lamanya diperlukan oleh Alma untuk melepaskan semua desakan birahi yang menggumuruh di tubuhnya. Setelah itu, ia merasa lunglai dan tak bertulang. Ia merengkuh leher Kino, mencoba mencari kekuatan dari kekasihnya.
Matanya seakan tak bisa membuka, karena kepalanya masih berenang-renang di danau kenikmatan. Untuk sejenak, Alma khawatir ia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Ia sudah berada di dunia lain, ia sudah tewas! Hanya kemudian sebuah gigitan kecil dari Kino di cuping telinganya yang membuat ia sadar, bahwa tadi itu bukanlah kematian. Tadi itu adalah orgasme pertamanya bersama pemuda yang dicintainya.
Kino menciumi leher Alma dengan mesra. Ia seakan sedang mensyukuri kejadian barusan. Ia pun merasa bangga telah berhasil membawa Alma ke puncak birahi. Terlebih-lebih lagi, ia merasakan perbedaan yang besar dengan percumbuan sebelumnya bersama Mba Rien. Dengan wanita itu, Kino hanya dipenuhi birahi, dan ia hanyalah sebuah perahu yang dinakodai Mba Rien. Dengan Alma, Kino dipenuhi rasa sayang, dan ia adalah nakodanya.
Siang itu, Kino berhasil pula memendam keinginannya untuk melanjutkan percumbuan. Alma sebetulnya menawarkan kelanjutan, dengan caranya yang lugu (dia bilang, “Lagi?” dengan ragu-ragu). Tetapi Kino tersenyum saja, perlahan-lahan melepaskan pelukannya, mencium pipi gadis yang tampak makin cantik dengan muka bersinar. Ia berbisik, “Jangan, Alma .. kita cuma berdua di sini. Nanti kita terlena terlalu jauh..”
Alma terharu mendengar ucapan pemuda ini. Dipeluknya leher Kino erat-erat. My hero, you are my hero! jeritnya dalam hati, penuh suka cita.
Masa ujian pun tiba, membuat semua murid di kota kecil itu menghilang dari pantai atau sungai atau danau tempat mereka biasanya bermain. Semua anak-anak usia sekolah tampak berwajah serius, bahkan tak sedikit yang terlalu serius sehingga kehilangan warna kanak-kanaknya. Kino dan Alma tampak penuh percaya diri, begitu pula Dodi, Iwan dan kedua pacar-pacar mereka. Dengan tenang -walaupun kadang-kadang agak gentar- mereka menghadapi setiap kertas ujian, dan selalu menyelesaikan soal-soal sebelum bel akhir berdentang.
Hari-hari yang sibuk selalu terasa lebih pendek dari hari biasa. Secepat datangnya, secepat itu pula masa ujian berlalu. Anak-anak sekolah berhamburan ke luar dari kelas pada hari terakhir, berteriak-teriak seakan perjuangan mereka telah usai dengan kemenangan.
Padahal, tentu saja perjuangan itu justru baru dimulai. Jalan masih panjang, walau sekarang mereka tak punya pikiran lain selain liburan sebulan penuh. Anak-anak SMA sudah pula mempersiapkan acara perkemahan, sebelum mereka bersiap-siap ikut testing masuk perguruan tinggi.
Alma terpilih sebagai ketua regu kelas 3, sementara Kino bertanggungjawab pada keamanan bumi perkemahan bersama beberapa “jagoan” yang selama ini menguasai dunia anak-anak SMA. Kino sendiri bukan termasuk jagoan, ia belum pernah berkelahi sepanjang sekolah menengah atas.
Terakhir berkelahi, ia masih kelas dua SMP, dan lawan berkelahinya kini adalah salah satu jagoan itu. Tetapi, walau tak suka berkelahi, Kino dikenal tegas dan dihormati, terutama karena dua sahabatnya, Dodi dan Iwan, sering bercerita membual tentang kehebatan Kino bermain pencak-silat. Nah,.. itulah gunanya memiliki dua sahabat tukang bual!
Perkemahan dilaksanakan di kaki sebuah bukit, kira-kira 10 kilometer dari kota. Mereka naik truk pinjaman dari kesatuan zeni Angkatan Darat, yang juga meminjamkan dua tenda raksasa untuk ruang P3K dan dapur umum. Selebihnya, masing-masing regu membawa sendiri atau meminjam tenda-tenda parasut. Ramai sekali bumi perkemahan yang bersebelahan dengan hutan karet itu dihuni anak-anak SMA. Berbagai acara berlangsung semarak, termasuk beramai-ramai mendaki bukit dan berenang-renang di bawah air terjun.
Kino sibuk mengatur keamanan, termasuk membantu beberapa anak-anak kelas dua yang jatuh sakit akibat terlalu bersemangat. Ruang P3K ramai oleh suara batuk dan orang muntah. Para “perawat” amatir tampak sigap melayani si sakit, dan Ibu Murni, ibu 9uru olahraga dan kesehatan, tampak letih memimpin mereka. Untunglah, beberapa di antara perawat amatir itu sudah terlatih sebagai anggota regu palang merah remaja.
Di tengah kesibukan dan keceriaan bumi perkemahan, tentu saja cinta remaja berkembang tak kalah meriah. Kino dan Alma mendapat begitu banyak kesempatan untuk berduaan, terutama ketika acara api unggun, di mana semua anak duduk melingkar menyaksikan berbagai pertujukan oleh masing-masing wakil regu. Pada umumnya adalah menyanyi dengan iringan gitar yang tentu saja lebih banyak false-nya.
Percumbuan antar remaja juga tak terelakkan, walaupun para 9uru sudah memperingatkan anak-anak gadis agar berhati-hati dengan “milik” mereka. Kino adalah anggota keamanan yang juga ditugasi mengawasi kemah-kemah peserta, agar setiap malam tidak ada “pelarian” atau “penyebrangan” dari wilayah anak laki ke wilayah perempuan (atau sebaliknya!). Tetapi, siapa yang mengawasi Kino? … Ha! .. tidak ada. Bahkan “jagoan-jagoan” pun pura-pura tidak tahu, ketika suatu malam Alma minta Kino menemaninya ke sungai untuk “sebuah urusan”.
“Kamu membuat saya serba-salah…,” bisik Kino sambil mengiringi langkah Alma menuju sungai. Beberapa anggota keamanan tersenyum saja ketika Kino melambai minta ijin.
Alma menahan tawa, lalu balas berbisik, “Tetapi saya memang perlu ke sungai!”
“Untuk apa?”
“Pipis!”
Kino menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah ia nanti minta diceboki pula? gerutunya dalam hati. Walaupun tentunya menarik, kalau Alma nanti sungguh-sungguh minta itu!
“Saya juga ingin berdua dengan kamu…” bisik Alma lagi ketika mereka sudah melewati pintu gerbang bumi perkemahan yang dijaga dua “jagoan” berjaket parasut hijau. Kepada kedua penjaga itu, Kino cuma tersenyum, dan keduanya cuma mengangkat muka sebentar lalu kembali menekuni sebuah majalah. Kino tahu, itu majalah untuk orang dewasa yang diam-diam diselundupkan oleh salah seorang peserta untuk menyogok para penjaga!
Akhirnya mereka tiba di sungai, dan Alma memang benar ingin buang air. Kino menunggu di pinggir, membelakangi sungai dan Alma yang sedang berjongkok. Sepi sekali malam itu, hanya terdengar gemercik air dan desiran angin.
Selesai buang air kecil dan membersihkan diri, Alma merengkuh tangan Kino untuk mengajaknya pulang. Berdua mereka menyusuri sungai kembali ke bumi perkemahan. Tetapi, pada sebuah pohon besar di tikungan pertama, Kino menghentikan langkah mereka. Ditariknya Alma minggir, ke bawah bayang-bayang gelap pohon, lalu dilumatnya bibir gadis itu dengan gemas. Alma segera membalas, dan nafasnya segera mendesah-desah cepat, karena ia memang sudah menunggu-nunggu inisiatif kekasihnya ini sejak tadi!
Cepat sekali ciuman mereka berubah menjadi pagutan-kecupan yang menggelora. Alma merengkuh leher Kino dan menyambut setiap serbuan penuh gairah dari pemuda itu. Gadis ini telah pula membuka resleting depan jaketnya, mengundang Kino untuk melakukan remasan-remasan yang sangat disukainya itu. Kino pun tak hendak mengecewakan Alma.
Cepat-cepat ia menelusupkan tangannya ke balik jaket, lalu ke bawah kaos. Ah, Alma tidak mengenakan beha! Kino menemukan dua bukit kenyal di dada gadis itu telah siap diremas-remas gemas. Hangat sekali rasanya kedua gumpalan yang hanya sedikit lebih besar dari telapak tangan Kino itu.
Kenyal dan lentur dan halus. Kedua tangan Kino meremas-menekan, menyebabkan Alma mengerang, semakin mempererat rengkuhannya di leher pemuda itu dan semakin bernafsu menciumi bibirnya. Untunglah suara air sungai masih cukup keras, dan gesekan daun-daun yang ditiup angin menyembunyikan desah nafas mereka.
Sejak percumbuan pertama mereka di ruang tengah di rumah Alma, gadis ini sudah dua kali mencapai orgasme di tangan Kino. Sekali, sewaktu pulang dari rumah Dodi dan hari telah malam, Kino mengajak Alma masuk ke sebuah gang kosong dan gelap di dekat bioskop.
Di sana, sambil berdiri seperti malam ini, Kino meremas-mengurut kekasihnya sampai mencapai klimaks. Kedua, di belakang rumah Alma, ketika untuk kesekian-kalinya ibunda harus keluar kota untuk membantu orang melahirkan, gadis ini juga mengalami orgasme yang melenakan. Bahkan di belakang rumah itu pula Alma pertama kali membantu Kino mencapai klimaks dengan tangannya.
Kini, di bawah pohon yang gelap, di malam yang dingin, Alma dengan cepat terbakar birahi. Tubuhnya sangat sensitif terhadap setiap sentuhan Kino. Sepertinya, apa pun yang dilakukan Kino dengan tangannya, pasti menyebabkan getaran-getaran nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh. Tak bedanya kali ini, walau sambil berdiri di bawah pohon yang sebenarnya berkesan angker, Alma dengan mudah merasakan orgasmenya terpicu oleh usapan dan remasan jari Kino di payudaranya.
Apalagi Kino melepaskan ciumannya, kemudian agak menurunkan tubuhnya, menunduk dan membenamkan kepalanya di balik jaket Alma. Oh, nafas Kino yang hangat segera mengalahkan dingin malam, menyerbu dada Alma yang kini terbuka karena kaosnya telah terangkat setengahnya. Kedua payudaranya yang putih mulus tampak tegak-terpampang-menantang, dengan dua puting hitam yang terasa berdenyut bergairah.
Alma menjerit tertahan ketika salah satu putingnya tertangkap mulut Kino. Tak kuasa ia mencegah suara erangan parau keluar dari kerongkongannya ketika Kino mulai menghisap sambil menjilati putingnya dengan ujung lidah. Sementara telapak tangan Kino telah pula menutupi dan meremas payudara yang satu lagi, membuat Alma menggelinjang kekiri-kekanan dengan gelisah.
Inilah kali pertama Alma merasakan perlakuan seperti itu dari seorang pemuda terhadap dadanya yang ranum dan yang rasanya semakin membesar saja. Kenikmatan tiada tara segera memenuhi dadanya, dan sebentuk orgasme segera meletup menggetarkan badannya.
Alma mengerang-erang merasakan kewanitaannya tiba-tiba sangat basah dan berdenyut liar disertai geli dan nikmat yang berkepanjangan. Ia melingkarkan satu kakinya ke kaki Kino, menambah rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya ke tubuh pemuda itu. Ia juga tak sadar menggerak-gerakan pinggulnya, menggesek-gesekkan selangkangannya yang terlindung jeans ke paha Kino.
Bahkan gesekan itu semakin lama semakin cepat dan liar, sejalan dengan semakin gemas dan bernafsunya Kino mengulum puting payudara Alma. Di tengah angin yang mendesir dan suara air sungai yang begemercik keras, gadis ini menikmati kilmaksnya yang sangat kuat mendera tubuh. Kino terpaksa melepaskan pagutannya pada dada Alma, kembali menegakkan tubuh dan merengkuh gadis itu erat dalam dekapan, karena tubuh gadis itu berguncang hebat sambil merapat sangat erat di pahanya. Kino juga harus membungkam mulut Alma yang mengerang semakin kencang, karena ia khawatir ada orang yang mendengarnya.
Insting Kino ternyata juga benar. Ketika Alma tengah menikmati klimaksnya, terdengar suara langkah-langkah orang di kejauhan, dari arah bumi perkemahan. Cepat-cepat Kino mendorong Alma yang masih menggeliatt-geliat itu, menyenderkan tubuhnya ke pohon, sehingga mereka berdua semakin terlindung gelap malam.
“Sst.. ada orang…” bisik Kino ke telinga gadis itu, lalu ia melumat bibirnya yang hangat dan basah, membungkam erangannya. Alma berdiri tegang, menahan geli-nikmat yang memenuhi pangkal pahanya, memeluk leher Kino erat-erat. Berdua mereka berdiri saling merapat, menunggu siapa yang akan lewat.
Suara orang berbincang sambil berjalan terdengar semakin mendekat. Lalu lampu senter tampak diarahkan ke tanah, dan sebentar kemudian tampak dua orang “jagoan” berjalan ke arah Kino dan Alma bersembunyi. Tetapi, karena mereka mengarahkan senter ke bawah, kedua pasangan itu tak terlihat. Ah, ternyata mereka adalah “patroli” malam yang tampaknya sedang mengecek wilayah sungai, atau mungkin juga sambil mengambil air, karena salah seorang dari mereka tampak menenteng jeriken (tempat air).
Setelah patroli berlalu, sambil menahan tawa, Alma dan Kino keluar dari persembunyian dan setengah berlari kembali ke bumi perkemahan. Tak lupa Alma mengancingkan kembali jaketnya dan merapikan rambutnya yang berantakan.
Ia sebenarnya menyesal harus berhenti “di tengah jalan” seperti ini, tetapi ia tahu Kino tak akan mengambil risiko lebih jauh. Berdua mereka masuk ke bumi perkemahan dengan wajah tak bersalah. Kino melambai ke para penjaga gerbang, yang masih asik dengan majalah mereka. Alma kembali ke kemahnya, sementara Kino menuju posko keamanan.
Bersambung…
Percumbuan Perpisahan
Pengumuman kelulusan 100% membuat anak-anak SMA di kota kelahiran Kino bersuka-cita. Walaupun sebenarnya SMA ini sudah sejak tiga tahun silam selalu meluluskan semua siswanya, tetap saja berita tersebut ditanggapi agak berlebihan.
Anak-anak kelas tiga saling menandatangani baju mereka, melakukan arak-arakan di sekitar sekolah, atau menceburkan diri ke sungai kecil di belakang lapangan voli. Suasana serba ceria ini menular ke adik-adik mereka di SMP dan SD, lalu juga merembet ke seluruh penduduk kota yang jumlahnya memang tidak banyak.
Pak Camat bahkan membuat hajatan khusus, mengundang sebuah band dari sebuah kota besar untuk manggung di depan kantornya. Pasar malam segera digelar di sekitar panggung, dan para pedagang berlomba-lomba memberikan potongan harga. Semarak sekali suasana kota, nyaris menyerupai suasana hari raya.
Malam itu, Kino duduk bersebelahan dengan Alma menonton berbagai acara di atas panggung. Dodi dan Iwan entah kemana, masing-masing dengan pacar mereka. Kino mengajak pula Susi, adiknya. Tetapi, gadis kecil ini kemudian lebih suka ikut Ayah dan Ibu yang berkeliling pasar malam.
“Mau sekolah ke mana?” tiba-tiba Alma bertanya di tengah acara tarian daerah.
“Aku ingin jadi arsitek,…. mungkin di institut teknologi di kota B atau kota S,” jawab Kino, tersadar bahwa keceriaan lulus sekolah ternyata akan segera disusul dengan ketegangan baru: masuk perguruan tinggi.
“Aku ingin jadi dokter,.. mungkin ke ibukota,” ucap Alma sambil memainkan dompet di pangkuannya.
Kino terdiam. Kalau mereka diterima di masing-masing perguruan tinggi yang mereka lamar, berarti keduanya akan berpisah. Cukup jauh jarak antara kota-kota tujuan Kino dengan ibukota.
“Kenapa kamu tidak ke ibukota juga?” tanya Alma dengan suara pelan, nyaris tenggelam oleh suara gamelan di panggung.
“Ayah dan Ibu mengatakan, biaya hidup di ibukota terlalu mahal,” jawab Kino.
Alma menghela nafas panjang dan menghembuskannya dalam desah, “Yaaah…, aku beruntung punya paman yang tinggal di ibukota dan bersedia menampungku. Setidaknya, Ayah dan Ibu tidak perlu membiayai indekos.”
Kino juga punya seseorang di ibukota. Seorang penari yang sedang meniti karir. Tetapi saat ini, menyebut namanya pun ia tak berani. Ia takut menyinggung perasaan Alma.
“Bagaimana kabarnya Mba Rien?”
Kino tersentak. Justru Alma yang memulai menyebut nama itu. “Tidak tahu,” jawab Kino cepat. Ia memang tidak pernah mendengar kabar dari wanita itu.
Keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Acara silih berganti dengan cepat dan lancar. Lalu, band pop dari kota M naik ke panggung disambut tepuk tangan riuh dari anak-anak muda yang sudah tak sabar menunggu. Kino dan Alma pun tenggelam kembali dalam keceriaan, mengikuti lagu demi lagu dengan bersemangat. Sejenak, mereka lupa akan perguruan tinggi dan perpisahan.
Seusai pertunjukan band, masih ada satu pertunjukan lagi, yaitu wayang kulit sampai pagi. Tetapi kebanyakan anak-anak muda tidak lagi menyukai medium tradisional ini. Apalagi timing-nya juga kurang tepat. Sehabis jejingkrakan menikmati musik rock, mana mungkin mereka mau duduk-diam mendengar tutur-cerita dalang dalam bahasa daerah!
Kino mengajak Alma pulang, terpisah dari teman-teman yang lain dan dari kedua orangtua mereka yang masih ingin menonton wayang. Berdua, pasangan ini berjalan pelan-pelan sambil mengobrol kiri-kanan.
Perbincangan menyerempet pula masalah masa depan dan kemungkinan perpisahan. Mereka sama-sama mulai menyadari bahwa hidup ternyata masih sangat panjang di depan sana, masih berliku dan mendaki. Alma banyak menunduk mencoba memikirkan skenario apa yang akan mereka berdua mainkan di masa mendatang. Apakah mereka akan tetap bisa berhubungan walau terpisah ribuan kilometer?
Kino mengusulkan mengambil jalan pintas, menyusuri pematang sawah. Bulan hampir purnama, awam hujan tidak tampak, sehingga malam tak terlalu gelap. Pematang bahkan jelas terlihat, seperti lintasan-lintasan bersinar membentuk aneka kotak hitam yang adalah sawah-sawah tanpa padi. Ini baru musim tanam, padi belum lagi muncul dari air yang tergenang. Bayangan bulan dan bintang-bintang tampak di permukaan sawah, bagai lampu-lampu penunjuk jalan.
Berdua mereka berjalan beriringan, lalu masuk ke perkebunan kopi yang memisahkan persawahan dan areal perumahan kota. Pohon-pohon kopi tidaklah terlalu lebat berdaun, sehingga sinar benda-benda langit malam tetap bisa menerobos menerangi tanah. Bagai lampu-lampu sorot, membentuk beraneka tuas sinar, seperti pilar-pilar putih yang menjulur ke bawah dari langit. Indah sekali malam ini.
Kini Alma bisa berjalan sambil memeluk lengan kekasihnya, terbebas dari kekhawatiran dilihat orang banyak. Berjalan di tengah kota, tak mungkin bisa bergandengan mesra begini. Biar bagaimana pun, kota kecil belumlah siap menerima sepasang kekasih yang saling memperlihatkan perasaan di tengah orang ramai.
Tampaknya tidak ada orang lain melintas di kebun kopi. Mereka pun bisa berciuman sambil berjalan pelan, terutama jika jalan sedang lurus. Alma tinggal memalingkan dan mengangkat muka, membiarkan Kino mengecup ringan bibirnya. Nafas mereka yang hangat berpadu-satu, terkadang menimbulkan uap tipis yang segera bergabung dengan embun malam. Semakin jauh mereka masuk ke dalam kebun kopi, semakin romantis suasananya.
Lalu mereka tiba di sebuah pondok yang agak terpencil, dan bagai sudah bersepakat, mereka berhenti di halamannya. Di sini keadaan jauh lebih gelap, karena ada pohon-pohon lain yang berdaun lebat. Kino mendorong Alma ke arah beranda pondok yang tak berpenghuni, yang kalau pagi hari digunakan untuk istirahat para petani. Di beranda itu Kino melumat bibir kekasihnya lebih bergairah lagi. Alma menerima pagutan kekasihnya dengan tak kalah bergairah.
Ia senang sekali dicium Kino yang bisa menggabungkan gairah dan kemesraan dalam takaran yang tepat. Ciuman pria ini tidak terburu-buru, tetapi tidak pula terlalu perlahan. Tidak memaksa-maksa, tetapi justru mengundang. Alma terutama senang sekali merasakan bibir bawahnya dihisap-dikulum perlahan, ditelusuri oleh lidah Kino yang hangat. Sebentar saja, nafas gadis ini sudah terengah-engah.
Sejak mengenal percumbuan yang menggairahkan ini, Alma berani pergi dengan Kino tanpa beha. Ia cuma mengenakan kaos, dan untuk menyembunyikan puting-putingnya, ia selalu memakai jaket. Dengan begitu, Alma memberikan keleluasaan kepada kekasihnya untuk bermain-main dengan payudaranya yang ranum. Kino tak perlu repot membuka beha, yang kadang-kadang seperti tidak mau dibuka itu!
Malam ini pun Kino segera menelusupkan kedua tangannya ke bawah kaos Alma, meremas-remas kedua bukit menggairahkan itu, perlahan membangkitkan bara birahi di antara mereka berdua. Dengan kedua ibu jarinya, Kino mengusap-usap kedua puting Alma yang menegang-mengenyal. Halus-lembut rasanya kedua puncak payudara itu di jari-jari Kino. Nafas Alma semakin menderu, menyebabkan dadanya turun-naik semakin cepat, dan puting-putingnya bagai meronta-ronta di bawah telapak tangan Kino.
Di beranda pondok ada sebuah bangku panjang dari kayu. Ke sana lah Alma perlahan-lahan mendorong kekasihnya agar duduk. Kino pun menurut, membiarkan dirinya terduduk. Alma cepat-cepat mengangkat tubuhnya, duduk di pangkuan pemuda itu dengan kedua kaki direntangkan. Oh, ini lah posisi yang sejak dulu diimpikan Alma! Ia senang sekali dipangku seperti ini, dengan rok tersingkap sampai ke pangkal pahanya, dan dengan selangkangan yang terhenyak lekat di pangkuan Kino. Ia merasa terkuak-terbuka bebas, siap menerima sentuhan-sentuhan kenikmatan dari setiap gerakan Kino. Ia mengerang perlahan, merasakan serbuan gairah tiba-tiba muncul dengan cepat dari dalam tubuhnya yang semakin hangat.
Kino melepaskan ciumannya, menelusuri leher Alma yang harum sabun wangi (dia belum mengenal parfum, tentu saja!). Kedua tangannya tetap meremas-remas payudara gadis itu, yang kini terasa semakin kenyal dan keras saja. Puting-putingnya semakin tegak dan panas pula, seperti menyimpan arang-bara yang masih menyala. Alma mengangkat kedua tangannya agak ke atas, memeluk kepala kekasihnya. Jaketnya terpampang-terbuka, dan kaosnya sudah terangkat setengahnya, menampakkan dua bukit putih-mulus menggairahkan. Dalam suasana remang-remang, tubuh Alma tampak indah sekali, bagai lukisan seorang maestro.
Bibir Kino kini menelusuri pangkal leher Alma, dan gadis itu mengerang pelan merasakan geli yang menimbulkan nikmat menjalar-jalar sepanjang perjalanan bibir pemuda itu. Dengan tak sabar, ditunggunya bibir Kino menuju ke bawah, semakin mendekati dadanya yang dipenuhi debur jantungnya yang bergelora. Oh,.. cepatlah sedikit sayangku! jeritnya dalam hati, menanti akhir perjalanan bibir yang terasa terlalu pelan itu. Alma merasa jaketnya telalu menganggu, maka ia melepaskannya, sehingga kini ia tinggal berkaos, itu pun sudah setengah terbuka. Lalu, ia lebih berani lagi, meloloskan kaosnya dari atas kepalanya, sehingga kini gadis itu bertelanjang dada, di keremangan malam yang mempesona.
Kino sebenarnya agak kuatir mereka berdua dipergoki dalam keadaan seperti ini. Tetapi jangkerik ramai berbunyi di sekitar mereka, menandakan bahwa serangga-serangga itu tidak terganggu. Jika mereka tidak terganggu, berarti tidak ada mahluk lain di sekitar mereka. Itu lah antara lain pelajaran dasar seorang pencinta alam!
Bibir Kino kini telah tiba di celah di antara dua bukit yang membusung mempesona itu. Oh,.. harum sekali dada Alma yang mulus dan lembut. Kino berkali-kali menghela nafas, memasukkan keharuman tubuh gadis itu ke dalam tubuhnya, menjadikan keharuman itu sebagai pembangkit gairah yang memang sudah sejak tadi bergelora. Kedua tangannya semakin gemas-meremas, membuat Alma merintih pelan.
Lalu, Kino pun melakukan sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu gadis itu sejak tadi: ia menghisap salah satu puting Alma, perlahan-lahan saja. Alma seperti tersedak, tubuhnya terangkat sedikit dari pangkuan Kino, menggeliat-geliat seperti di ulat ditusuk duri. Sebuah kenikmatan tak terkira memenuhi tubuh gadis belia ini, bagai sebuah siraman air surgawi, membuatnya berenang-renang melayang-layang mengapung-apung.
Satu tangan Kino meninggalkan payudara yang kini dihisap-hisap oleh mulutnya. Tangan itu meluncur cepat ke bawah, menelusup ke balik rok, mengusap-usap bagian belakang tubuh Alma yang agak terangkat dari pangkuannya. Telapak tangan Kino terasa nyaman mengusap-usap bagian itu, yang saat ini masih terbungkus celana dalam nilon tipis dan halus.
Kino senang sekali mengusap-usapnya, terasa penuh dan padat, dan hangat pula. Sesekali ia gemas meremas, membuat Alma tersentak lagi, menghenyakkan tubuhnya ke pangkuan Kino. Akibatnya, bagian depan kewanitaannya membentur keras bagian depan kejantanan Kino yang tentu saja masih tersembunyi di balik celananya. Itu pun sudah lah mampu membuat keduanya merasakan serbuan kenikmatan.
Alma kini bahkan tanpa sadar menggesek-gesekkan selangkangannya ke pangkuan Kino yang menonjol keras menyembunyikan kejantanannya yang telah tegak-tegang. Oh,.. nikmat sekali rasanya gesekan-gesekan itu, walaupun masih diperantarai kain nilon dan jeans.
Alma merintih-rintih pelan merasakan kewanitaannya terkuak dan terhenyak di sebuah tonjolan keras yang panas membara itu. Tonjolan itu tepat terhimpit di antara dua bibir menebal di bawah sana, menimbulkan rasa geli-gatal yang nikmat. Kino pun mendorong tubuh bagian bawahnya lebih ke depan, mempererat penyatuan mereka, sementara tangannya menekan bokong Alma ke bawah.
“Aaah,… Kino, geli sekali rasanya….,” Alma mendesah, seakan-akan ingin minta penegasan, apakah yang dirasakannya itu sudah betul, sudah nyata? Gadis ini sungguh tak punya pengetahuan, dan tak bisa menamakan, apa yang sedang dialaminya bersama pemuda ini? Gerangan misteri kehidupan apa yang kini sedang dijalaninya?
Kino berhenti mengulum puting kekasihnya, lalu berbisik dengan nafas memburu, “Pindah ke dalam, yuk?”
Alma tak bisa lain selain mengangguk cepat. Ia pasrah saja ketika Kino dengan perkasa mengangkat tubuhnya, seperti seorang kakak menggendong adiknya. Alma memeluk leher kekasihnya erat-erat, melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya, memejamkan mata merasakan tubuhnya seperti dibawa terbang. Mungkin begitulah rasanya dibawa terbang burung garuda raksasa!
Sambil tak lupa meraih jaket Alma yang tertinggal di bangku, Kino membopong tubuh kekasihnya masuk ke dalam pondok. Di dalam ada dipan kayu, agak ke belakang dari ruangan yang gelap pekat.
Dengan cekatan Kino meletakkan jaket Alma di dipan, lalu perlahan-lahan menurunkan tubuh gadis itu di atasnya. Alma kini terlentang dengan kaki tetap melingkari pinggang kekasihnya. Kino menindih tubuhnya, kembali menciumi leher dan lalu segera mengulum puting payudaranya. Alma mengerang-menggeliat, kini menyerahkan tubuhnya diperlakukan apa-saja.
Ia merasakan celana dalamnya perlahan ditarik, merasakan salah satu kakinya diangkat sehingga celana dalam itu kini lolos terbuka, merasakan kewanitaannya terpampang-telanjang, dibelai angin malam yang menerobos masuk dinding pondok. Darahnya mendesir cepat, menunggu dengan tegang, apa yang akan dilakukan Kino?
Sambil tetap mengulum puting Alma dan menindih tubuhnya, Kino mengusap-usap kewanitaan Alma yang telah terbuka bebas. Ah,.. hangat dan sedikit basah bagian itu. Jari tengah Kino dengan leluasa bisa meluncur licin di antara kedua bibirnya. Alma menggelinjang merasakan jari itu menelusup menimbulkan rasa nikmat di seluruh selangkangannya. Tanpa sadar, ia membuka kedua pahanya semakin lebar, dengan kedua kaki kini bertelektekan di atas dipan. Lalu tangan Kino sejenak meninggalkan kewanitaannya, Alma agak kecewa: kenapa berhenti?
Sebelum bisa memprotes, Alma tiba-tiba tersentak, merasakan sebentuk otot-kenyal menyentuh permukaan kewanitaannya. Bukan,… itu bukan jari tengah Kino,.. terlalu besar untuk sebuah jari. Terlalu kenyal dan padat dan panas pula.
Oh,… Alma tiba-tiba sadar bahwa yang dirasakannya di bawah sana adalah kejantanan Kino. Ia belum pernah melihat kejantanan seorang pria, tetapi ia bisa membayangkannya setelah merasakan benda itu menyentuh kewanitaannya. Ia mengerang merasakan betapa sentuhan kejantanan itu jauh lebih nikmat dibandingkan sentuhan jari.
Lebih penuh-padat-kenyal, terjepit di antara bibir-bibir kewanitaannya, membentur-bentur bagian atasnya. Alma menggeliat kegelian ketika ujung kejantanan yang basah-hangat itu membentur sesuatu yang terletak di celah atas kewanitaannya.
Oh,… bagian itu terasa sangat geli, dibentur-bentur benda halus-kenyal-tumpul. Oh,… rasanya seperti gatal yang minta digaruk-garuk. Terus…, terus…, terus…., Alma menjerit dalam hati, merasakan tubuhnya seperti dipenuhi geli-gatal yang bersumber-utama di selangkangannya.
Kino mengerang pula, merasakan kenikmatan dari kejantanannya yang menelusur celah basah-panas di bawah sana. Setiap kali ujung kejantanannya membentur tonjolan kecil di antara lepitan bibir kewanitaan Alma, serbuan kenikmatan memenuhi tubuhnya.
Gerakan menggesek-menekan menyebabkan kejantanannya seperti diurut-urut, enak dan nikmat sekali. Apalagi kemudian Alma mengangkat kakinya, kembali memeluk pinggang Kino, menyebabkan kewanitaannya semakin terkuak. Kejantanan Kino kini sempurna terjepit melintang di atas kewanitaan yang semakin lama semakin dipenuhi cairan licin. Kino pun menggerak-gerakkan pinggulnya, maju-mundur sambil tetap menekan. Alma mengerang-merintih dengan kedua tangan semakin erat memeluk leher kekasihnya, nyaris membuat Kino tak bisa bernafas.
Dari bagian bawah perutnya, Alma merasakan seperti ada gumpalan yang semakin lama semakin membesar, hendak meledak. Gumpalan itu seperti dipenuhi kenikmatan, siap menyebarkan isinya ke seluruh tubuhnya. Alma semakin mengangkangkan kakinya, meletakkan keduanya semakin tinggi di punggung Kino. Bagian belakang tubuhnya bahkan kini sudah terangkat dari dipan.
Oh,…. tiba-tiba ia merasakan gemuruh birahi memenuhi tubuhnya, bergulung-gulung seperti ombak besar menuju pantai. Dengan punggung tangannya, Alma menutup mulut, mencegah teriakan yang kini memenuhi kerongkongannya. Kino semakin cepat memaju-mundurkan pinggulnya, menyebabkan kejantanannya semakin cepat menggeleser-geleser membentur-bentur. Alma menjerit tertahan ….. tubuhnya terasa meledak berkeping-keping, kepalanya dipenuhi sensasi kenikmatan, pandangannya hilang melayang walau matanya masih terbuka.
Kino mendorong keras untuk terakhir kalinya. Kejantanannya tergelincir lepas dari jepitan bibir kewanitaan Alma, terus ke atas, ke bagian yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Di sana, di atas rambut-rambut itu, kejantanan Kino seperti bergelegak sebelum akhirnya meregang dan menumpahkan cairan-cairan kental putih. Alma tersentak, merasakan perut bagian bawahnya dipenuhi rasa panas dan lengket. Oh,… apa yang terjadi?
Kino pun terkaget ketika merasakan cairan-cairan panas keluar dari tubuhnya tanpa bisa dicegah. Alma mengangkat tubuhnya, bertelektekan di kedua sikunya. Nafasnya masih memburu.
“Kino! … apa yang terjadi?” sergahnya dengan suara mengandung nada kuatir.
“Aku … aku…,” Kino tergagap, cepat-cepat menegakkan tubuhnya sambil menjauhkan kejantanannya dari tubuh Alma.
Tangan Alma mengusap bagian yang dipenuhi cairan lengket itu. Oh,… tiba-tiba ia teringat pelajaran informal dari Ibunda. Bukankah ini air mani seorang pria? Bukankah ini yang dapat membuat seorang wanita hamil? Astaga!
“Kino! … tadi kamu tidak memasukkannya, bukan?” bisik Alma yang kini sudah sepenuhnya terduduk di dipan. Kekhawatiran telah memusnahkan rasa nikmat yang barusan diterimanya.
“Memasukkan?….. Memasukkan apa?” Kino masih tergagap, sambil memakai kembali celana dalam yang tadi tersangkut melingkar di pahanya.
“Oooh, Kino!… kita tadi melakukan hubungan suami-istri!” nada suara Alma kini seperti hendak menangis.
Kino tersadar, berpikir cepat. Tidak. Tadi ia tidak memasukkan kejantanannya ke dalam kewanitaan Alma. “Tetapi, aku tidak memasukkannya, Alma. Hanya menggesek-gesekkannya di bagian luar!” ucapnya, berusaha tenang, walau tak sepenuhnya berhasil. Sebuah perasaan bersalah memenuhi dadanya.
Alma mengambil saputangan dari kantong jaketnya, menghapus sisa-sisa cairan cinta di bawah perutnya. Cepat-cepat ia merapikan pakaiannya. Kino duduk di sampingnya, nafasnya masih agak memburu. Alma tak tega melihat kekasihnya tertegun dengan perasaan bersalah. Setelah selesai merapikan diri, ia memeluk Kino erat-erat, menyembunyikan wajahnya di pundak kekasihnya, sambil berbisik, “Ooh.., aku yang bersalah, kenapa membiarkan kamu melakukannya!”
Kino mengusap rambut Alma penuh kelembutan, “Kita berdua yang bersalah..” bisiknya.
“Ya…, tempat ini berbahaya,” ucap Alma, nada khawatir telah hilang, berganti nada waspada.
“Sebaiknya kita segera pergi,” balas Kino sambil bangkit dan menarik kekasihnya keluar.
Dingin malam menyambut keduanya di luar. Orkes malam dari para jangkerik masih menguasai suasana. Dengan langkah cepat, sepasang kekasih itu meninggalkan pondok, kembali menembus kebun kopi, menuju areal perumahan. Mereka bahkan lalu berlari sambil tertawa kecil, lega karena merasa telah terhindar dari peristiwa yang masih penuh misteri bagi mereka berdua.
Alma sendiri kini merasa mendapatkan pengalaman sangat berharga tentang cinta dan birahi. Entah bagaimana ia bisa menggambarkannya, karena semuanya masih samar-samar. Semuanya masih penuh misteri, menegangkan sekaligus mengasyikkan.
Bagi Kino, ini pengalaman baru pula. Tetapi ia masih kuatir, terutama karena kini ia berhubungan dengan wanita yang sama-sama belia. Kembali pikirannya menerawang ke Mba Rien. Dengan wanita itu, Kino merasa segalanya terkendali. Segalanya serba pasti. Sementara dengan Alma, setiap percumbuan adalah petualangan baru, sebuah perjalanan menembus wilayah asing yang penuh misteri tak terungkapkan.
Mereka tiba di rumah Alma tepat pukul 12.00. Kedua orang tua Alma rupanya masih menonton wayang. Kino mengecup pipi kekasihnya, menyuruh gadis itu cepat-cepat masuk rumah lewat pintu samping. Lalu ia sendiri juga cepat-cepat kembali pulang. Ia ingin segera berbasuh dan berganti pakaian dalam!
Pada suatu hari, Ayah memanggil Kino dan mengajaknya berbincang serius.
“Bagaimana persiapan mu masuk perguruan tinggi?” ucap Ayah membuka percakapan. Kino menguraikan secara singkat rencananya masuk jurusan arsitektur. Ia menjelaskan kepada Ayah bahwa perhatiannya kini difokuskan pada matematika dan pengetahuan alam.
“Bagaimana dengan bahasa Inggris?”
Kino tersenyum kecut dan menunduk. Ia memang lemah di mata ajaran yang satu ini.
“Ayah dengar, mata ajaran itu diperhatikan pula dalam seleksi. Kalau kamu cuma pintar di matematika dan ilmu alam, tetapi gagal di bahasa, ya…. kesempatan kamu berkurang.”
Kino diam saja. Sebetulnya, ia ingin mengatakan bahwa kelemahannya disebabkan oleh 9uru yang kurang pandai mengajar. Juga oleh kurangnya fasilitas di kota kecil ini. Di mana bisa membeli buku untuk latihan bahasa Inggris di sini? pikirnya.
“Bagaimana kalau kamu kursus di luar kota?” usul Ayah.
“Di mana?” Kino balik bertanya, “Lagipula bagaimana dengan biayanya?”
Ayah tersenyum. “Jangan kuatir soal biaya. Ayah dan Ibu ada sedikit tabungan yang memang kami siapkan untuk membantu kamu mempersiapkan diri.”
“Tetapi di mana Kino bisa kursus? Apakah harus pulang-pergi?”
“Ayah punya teman di kota M, kamu bisa tinggal di sana sambil mempersiapkan diri.”
Kino memandang lantai rumah. Kota M adalah kota yang cukup besar dan sering diperbincangkan oleh anak-anak sekolah. Pada umumnya, kota itu memang menjadi tujuan bagi mereka yang ingin melangkah lebih jauh. Katakanlah, kota itu semacam tempat mengasah kemampuan, sebelum bersaing di kota-kota besar. Di situ ada berbagai fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik daripada di kota kelahiran Kino, termasuk kursus-kursus yang diselenggarakan sarjana-sarjana baru.
“Minggu depan, teman Ayah itu akan kemari. Nanti, kamu bisa ikut dia kembali ke M dan tinggal di sana 2 atau 3 bulan. Lalu, baru ikut ujian saringan perguruan tinggi. Setuju?” ucap Ayah.
Kino mengangkat muka, tersenyum lebar. Tentu saja ia setuju. Ia ingin sekali masuk ke perguruan tinggi, dan segala dukungan orangtua kepadanya sungguh membesarkan hati. Dengan cepat dan kuat, Kino menganggukkan kepala. Ayah tertawa sambil mengusap-usap kepala Kino.
“Kapan kamu berangkat?” tanya Alma mendengar kabar dari Kino. Pemuda itu sengaja datang ke rumah pacarnya untuk memberi kabar tentang rencananya. Alma ikut senang, tetapi ia juga tiba-tiba menyadari bahwa akan ada perpisahan.
“Minggu depan. Ah,.. aku tak sabar menunggu hari itu!” jawab Kino riang, tak memperhatikan wajah Alma yang agak tersaput kekhawatiran.
“Lama sekali di sana…,” potong Alma. Tiga bulan bukan waktu yang sedikit. Sekarang, setelah menjadi pacar Kino, gadis ini merasa satu hari tak bertemu saja sudah menggelisahkan. Bagaimana harus menghadapi 90 hari tanpa Kino? Dengan siapa aku belajar?
“Aku memerlukan persiapan sungguh-sungguh Alma. Aku ingin sekali masuk perguruan tinggi, menjadi arsitek,” celoteh Kino bersemangat. Ia sungguh tak melihat reaksi Alma. Ia lalu menceritakan impiannya, ingin merancang bangunan-bangunan yang indah sekaligus kokoh. Bangunan modern tetapi bernafaskan tradisi. Gedung tinggi, tetapi tidak kaku. Banyak sekali yang diinginkannya!
Alma terdiam mendengar celoteh pacarnya. Kini semakin jelas baginya, perpisahan dengan Kino tak akan bisa dihindari. Pemuda itu penuh ambisi. Kalau ia belajar dengan tekun di M, Alma pun yakin pemuda itu akan berhasil masuk jurusan yang diimpikannya. Ia tahu, Kino bukan anak yang menganggap enteng masa depan. Pastilah pemuda ini akan mencurahkan seluruh perhatiannya. Lalu, apakah ia akan melupakanku?
Bersambung…
Saatnya Untuk Berpisah
Kota M terletak sekitar 100-an kilometer dari kota kelahiran Kino. Ke sanalah kini pemuda itu menuju, naik kendaraan umum bersama teman ayahnya, Paman Tingga namanya, yang bersedia menampung Kino selama ia mempersiapkan diri untuk seleksi perguruan tinggi. Pagi masih basah dan agak berembun ketika keduanya berangkat ke terminal berjalan kaki.
Sambil melangkah, Kino mengenang perpisahannya tadi malam dengan Alma. Ada kesenduan di raut muka gadis manis itu, walaupun Kino berusaha menghiburnya dengan bercanda. Lagipula, apa yang dirisaukannya? Toh, mereka hanya akan berpisah dua bulan.
Bagi Kino, tak apa lah berpisah dari Alma, karena ia merasa memerlukan konsentrasi penuh untuk persiapan masa depannya. Tetapi bagi Alma rupanya agak lain. Gadis itu merasa inilah awal dari sebuah perpisahan panjang yang tak terelakkan.
Malam itu mereka meminta ijin untuk menonton. Kedua orangtua Alma mengijinkan, dengan perjanjian agar mereka pulang sebelum pukul 11. Tetapi, mereka membatalkan acara menonton, karena ternyata film yang tadinya mereka akan tonton telah diganti dengan sebuah film silat.
Akhirnya mereka duduk saja di pinggir alun-alun dekat pantai. Ada sebuah tembok pendek pembatas alun-alun dengan jalan. Di sana lah keduanya duduk berayun-ayun kaki, menghadap ke selatan ke arah laut yang menghitam nun di sana. Awan hujan tak tampak di langit, tetapi angin terasa mulai dingin. Kino memeluk pundak kekasihnya.
“Apa rencana kamu setelah kursus?” tanya Alma sambil memainkan kancing bawah jaketnya.
“Mmmm …, belum tahu. Mungkin langsung ikut test seleksi,” jawab Kino. Ia memang membicarakan kemungkinan ini dengan ayahnya beberapa waktu yang lalu. Ayah dan ibu juga setuju jika Kino ingin ikut test langsung di lokasi perguruan tinggi yang ditujunya, di kota B. Tetapi, menurut kedua orangtuanya, keputusan ada di tangan Kino setelah ikut kursus.
“Berarti kamu langsung ke B…,” ucap Alma sambil mengibaskan rambut yang menutupi mukanya.
“Ya,.. senang sekali kalau bisa ikut test di sana. Aku ingin sekali melihat kampusnya. Kata orang, kampus itu besar sekali, berkali-kali lebih besar dari alun-alun ini!” jawab Kino bersemangat. Ia merasa, ikut ujian seleksi di kampus itu akan menambah motivasi dan kemungkinan lulus.
“Tetapi, itu berarti kita tak akan bertemu lagi,” bisik Alma.
Kino menoleh. Memandang kekasihnya yang kini menunduk. Rambutnya yang legam tergerai menutup wajahnya. Dengan lembut, Kino mencoba menyibak rambut itu. Alma mengelak. Kino mencoba lagi, Alma tetap mengelak, bahkan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya.
“Apa maksudmu?” tanya Kino.
Alma menggeser duduknya menjauh, lalu menghadapkan tubuhnya ke Kino. Wajahnya serius, “Maksudku,… kita akan berpisah semakin lama. Lalu, kalau diterima di perguruan tinggi,… kamu dan aku akan sama-sama sibuk kuliah. Kemungkinan, kita tak akan bertemu lagi dalam waktu satu atau dua tahun. Atau mungkin lebih.”
“Ya,… agaknya begitu,” ucap Kino pelan. Ia memang juga punya dugaan yang sama, tetapi apa yang bisa dilakukannya? Bukankah sekolah tinggi-tinggi adalah keinginan mereka berdua? Kalau mereka terpaksa berpisah karena keinginan itu, apa yang bisa mereka lakukan?
“Lalu kita akan saling melupakan…,” bisik Alma, matanya berkaca-kaca.
“Kenapa saling melupakan?” sergah Kino.
“Karena kita akan sama-sama sibuk kuliah…”
“Tetapi kita bisa saling menyurati. Kita bisa … ”
“Tetap saja….,” Alma memotong dengan cepat, “Kita tetap akan saling menjauh tanpa kita sengaja.”
“Kita masih bisa bertemu lagi, Alma. Aku pasti itu!” ucap Kino mencoba tegas, walau ia sendiri tak tahu apakah suaranya betul-betul kedengaran tegas. Ia sendiri ragu, apakah memang ada kepastian di masa depan? Bukankah masa depan selalu samar-samar?
Alma menghela nafas panjang, lalu menghempaskannya dalam desah yang keras. “Yah .. pasti kita bertemu lagi, tetapi mungkin sebagai dua orang yang berbeda…” ucapnya pelan.
Kino terdiam. Tiba-tiba ia sadar, betapa ia tak kuasa mengatur aliran kehidupan. Betapa kecilnya ia menghadapi dunia yang begitu luas, yang berada di luar batas kendalinya. Ia ingin sekolah dan menjadi arsitek ulung, tetapi untuk itu ia harus meninggalkan banyak sekali kenangan manis. Tidak hanya Alma, tetapi juga Susi adik satu-satunya, ayah dan ibunya, teman-temannya, sungai tempatnya berenang, pantai yang menyimpan jutaan memori, hutan kenari, kota kecil yang damai ….. banyak sekali!
“Melamun apa?” teguran Paman Tingga di sampingnya membuat Kino tersentak. Tak terasa, mereka sudah sampai di terminal. Kino tersipu sambil berbohong, mengatakan bahwa ia sedang membayangkan kota M.
Paman Tingga tersenyum, lalu menepuk pundaknya. “Jangan bohong. Kamu pasti sedang melamunkan pacarmu,” ucapnya sambil tertawa pelan.
“Yah,.. yang itu juga kulamunkan, sambil membayangkan kota M,” jawab Kino tak mau kalah. Paman Tingga tertawa lebih keras.
Mereka naik ke kendaraan umum yang sudah menunggu. Kino duduk dekat jendela, sementara teman ayahnya turun lagi untuk membeli makanan kecil dan minuman. Kino tinggal di atas mobil, melanjutkan lamunannya.
Setelah bosan duduk di alun-alun, Alma dan Kino berjalan-jalan menyusur pantai. Pada malam hari, terutama di saat libur sekolah seperti ini, dan jika hujan tidak turun, pantai selalu ramai oleh warung-warung dan orang yang berjalan-jalan. Anak-anak tampak berlarian main kejar-kejaran.
Sekelompok orang tampak duduk mengelilingi sepasang lelaki bermain catur diterangi lampu petromaks. Di tempat lain, sekelompok remaja bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Berpasang-pasang kekasih tampak juga berjalan-jalan seperti halnya Kino dan Alma. Sekali-kali mereka berpapasan dengan orang yang dikenal, saling bertegur sapa, atau sejenak berhenti untuk bercakap berbasa-basi.
Alma dan Kino lebih banyak diam sambil berjalan. Masing-masing tenggelam dalam lamunan, terutama tentang telah tibanya saat perpisahan. Masing-masing mencoba mencari apa saja kah makna perpisahan itu? Tetapi mereka berdua hanya menemukan satu: perpisahan itu menyakitkan. Memedihkan. Membuatmu tak berdaya.
Alma menggamit tekan kekasihnya, meremas pelan, lalu bertanya memecah keheningan, “Apakah kamu mencintai ku?”
“Ya,” jawab Kino pendek. Sial! Mengapa pendek sekali jawaban itu? umpat Kino dalam hati. Tetapi, lalu seberapa panjang kah seharusnya? Satu kalimat? Dua kalimat? Satu halaman surat? Seberapa kah?
“Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya?” tanya Alma lagi.
“Kenapa?” malah Kino balik bertanya.
“Aku yang bertanya duluan. Kamu, koq, malah bertanya kembali,” sergah Alma.
“Ya. Aku juga bertanya sendiri, kenapa aku tak pernah mengatakannya,”
“Lalu, apa jawabnya?” desak Alma.
“Aku tak tahu. Tetapi kenapa itu jadi persoalan, Alma? Aku memang tak pernah mengucapkannya. Aku tak bisa. Tak pandai,” jawab Kino agak kesal.
Alma menghentikan langkah. Kino terpaksa juga ikut berhenti. Mereka telah berada agak jauh dari keramaian. Suara ombak berdebur keras. Semakin terdengar keras di tengah keheningan.
Alma memegang kedua tangan Kino, menghadapnya dengan muka tengadah, memandang dengan mata beningnya. Sebagian rambut menutupi mukanya, melintang di hidungnya yang bangir, di bibirnya yang ranum, di pipi berlesung-pipitnya. Ah, Kino melihat kecantikan semata di tengah samar-samar malam. Melihat sinar kerinduan di mata itu, bagai bintang-bintang berpijar lembut. Melihat seraut wajah tempat ia melabuhkan impian-impiannya. Mengapa semuanya tampak begitu mengesankan saat engkau harus berpisah?
Alma terpejam merasakan nafas kekasihnya dekat sekali menerpa wajahnya. Bibir Kino perlahan menyentuh bibirnya. Kedua tangan mereka saling meremas. Angin keras mengibarkan jaket-jaket mereka. Ciuman kali ini terasa sangat lembut, selembut awan putih di langit biru. Sangat hangat, sehangat mentari di pagi yang cerah. Mesra dan manja mengalunkan kerinduan. Alma membuka mulutnya, mengundang kekasihnya datang merasuki seluruh jiwa-raganya. Datanglah kekasih, reguk habis rinduku, bawa daku terbang setinggi mungkin.
Keduanya berdiri rapat. Kino mengulum mesra bibir kekasihnya, menghirup harum-sedap nafasnya, menggigit manja lidahnya yang nakal. Alma membuka sedikit matanya, memandang wajah Kino yang dekat sekali di depannya.
Sebentar lagi ia akan pergi jauh, gumam Alma dalam hati. Sebentar lagi wajah itu hanya akan ada di dompet ku, menjadi sebuah potret kekasih yang mungkin juga akan segera lusuh karena terlalu sering disentuh. Sambil membalas ciuman kekasihnya, diam-diam Alma merekam wajah itu sedetil mungkin.
Mematrinya di benak. Ah, Kino ….. dahinya yang selalu serius. Matanya yang tajam-tegas. Tulang pipinya yang mengguratkan ketakmenyerahan. Hidungnya yang menggemaskan (aku senang sekali mencubit hidung itu!). Bibirnya yang selalu bergairah. Selalu!
Kino melepaskan ciumannya, membuka mata dan menemukan sepasang mata kekasihnya memandang mesra. Ia berbisik, “Alma, aku ingin bercumbu malam ini. Mari kita pergi dari sini…”
Alma tertawa pelan, “Ke mana kamu hendak membawa ku?” tanyanya sambil memeluk leher Kino.
Kino melihat sekeliling. Pantai tampak sepi, tetapi juga terlalu menakutkan di tengah malam seperti ini. Tidak di sini. Kino memutuskan untuk mengajak Alma ke sebuah tempat yang selama ini menjadi “persembunyian” mereka: sebuah pondok di tengah kebun kopi. Tetapi lokasinya ada di sisi lain dari kota, sehingga untuk ke sana mereka perlu berjalan cepat.
“Ke sana?” Alma bertanya ketika melihat Kino diam saja. Ah, gadis ini memang bisa membaca pikiran ku, ucap Kino dalam hati.
“Ayo, kita ke sana…,” kata Kino bergairah, menggulung kaki celananya dan menarik tangan Alma untuk meninggalkan pantai. Alma tertawa kecil, mengikuti tarikan tangan ke kasihnya. Sebentar kemudian mereka telah berlari-lari menyebrang jalan, menelusuri alun-alun menuju tengah kota. Lalu, di depan kantor camat mereka berbelok, melintasi persawahan, berjalan beriringan sambil sekali-sekali bercanda. Malam semakin larut….
“Waahhh… melamun lagi!” Paman Tingga telah naik kembali ke mobil. Kino terperanjat dan tersipu lagi. Sialan! Lamunannya terpotong di tengah jalan.
“Nih,… makan kacang goreng supaya tidak terlalu banyak melamun,” ujar Paman Tingga sambil menyodorkan sebungkus kacang. Kino mengucapkan terimakasih dan mulai memasukkan beberapa butir ke mulutnya.
Paman Tingga lalu mengajak mengobrol, bertanya-tanya tentang sekolah Kino. Terpaksalah Kino menimpalinya, menjawab semua pertanyaannya dengan lengkap. Paman Tingga lalu juga bercerita tentang dirinya dan anak-anaknya yang masih kecil.
Tentang kota M yang katanya tumbuh pesat karena menjadi pusat perdagangan bagi kota-kota kecil sekitarnya. Paman Tingga ini seorang pedagang yang konon sedang naik daun. Ia sering mundar-mandir ke ibukota mengurus bisnisnya. Kino senang juga mendengar ulasannya tentang lika-liku bisnis, walaupun dunia itu sangat asing baginya.
Tetapi ketika mobil mulai bergerak, Paman Tingga berhenti bercerita. Bahkan tak lama kemudian ia terlihat terkantuk-kantuk. Baru 10 menit mobil melaju, Paman Tingga telah menyandarkan kepalanya di jok dan tertidur nyenyak. Kino masih mengunyah kacang, memandang ke luar jendela, melihat betapa kotanya dengan cepat tertinggal di belakang.
Tanpa sadar, ia melamunkan lagi peristiwa semalam …..
Pondok itu tetap sepi dan tetap bagai magnit, menarik kedua remaja itu untuk datang berkunjung, walau setiap kali pula mereka ingin menghindar. Mungkin juga bagai lampu yang menarik laron-laron terbang mendekat. Kalau terlalu dekat, pastilah mereka akan hangus terbakar, bukan? Tetapi bagaimana jika laron-laron itu sudah terbakar api asmara sebelum menghampiri sang lampu?
Alma dan Kino mengendap-endap mendekat, sambil melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang melintas. Tampaknya tidak ada seorang pun di sekitar. Kino menggenggam erat tangan kekasihnya, perlahan-lahan mendekati pondok. Serangga malam menghentikan musik mereka setiap kali sepasang remaja ini melangkah. Tetapi setelah mereka berlalu, serangga itu kembali ramai memperdengarkan musik mereka.
Kino langsung mengajak Alma masuk. Pondok itu tentu saja gelap gulita. Setelah beberapa saat, barulah mata mereka bisa menyesuaikan diri, bisa melihat ruang kosong dengan dipan kayu itu. Kino segera duduk, dan Alma segera naik ke pangkuannya. Mereka langsung berciuman, tanpa bertukar kata lagi. Nafas Alma sudah memburu sejak tadi, bukan hanya karena harus berjalan cepat dan setengah berlari, tetapi juga karena ia memang selalu bergairah jika berduaan dengan Kino.
Ciuman mereka tak lagi lembut-mesra seperti ketika di pantai tadi, melainkan bergelora, saling pagut dan saling mengulum. Nafas mereka berdua berdesahan, saling menyerobot seperti hendak saling mengalahkan. Kedua pasang bibir mereka saling menekan memilin, bergantian menghisap-hisap.
Kedua lidah mereka bergelut bergelung seperti dua naga kecil yang bermain-main di taman basah dan hangat yang adalah mulut mereka. Berkali-kali Alma seperti tersedak, tak tahan diperlakukan begitu bergairah oleh kekasihnya. Tetapi berkali-kali pula ia kembali mengulum bibir pemuda itu, membiarkan lidahnya bermain semakin jauh ke dalam mulutnya, menyentuh langit-langitnya, menimbulkan rasa geli dan hangat.
Seperti biasanya, Alma hanya memakai kaos tebal dan jaket, tanpa beha. Dengan leluasa, tangan Kino segera menelusup menelusuri bukit-bukit indah di balik kaos itu. Bukit-bukit yang naik turun, membusung penuh, kenyal-padat, hangat. Tangan Kino langsung gemas meremas, memijat, menekan. Jari-jarinya bermain ringan di atas kedua puting yang telah menegang tegak.
Alma pun mengerang merintih merasakan kedua buah dadanya bagai dipenuhi uap panas, bergulung-gulung seakan badai yang sedang melanda bumi. Sambil memeluk leher Kino, gadis itu membusungkan dadanya, memajukan seluruh tubuhnya, menghenyakkan kedua payudaranya di tangan kekasihnya. Ia ingin diremas lebih keras lagi, lebih bergairah lagi.
Mulut Kino meninggalkan mulut Alma, kini menciumi lehernya yang jenjang. Menciumi kulit mulus-lembut nan harum di bawah telinganya. Menggigit cuping telinga itu, membuat Alma terkejut, tetapi juga sangat senang. Apalagi kemudian Kino menggigit pula lehernya, pelan-pelan saja. Oh, geli sekaligus nikmat rasanya diperlakukan seperti itu. Seperti disengat-sengat bara kenikmatan yang membangkitkan api birahi semakin besar.
Alma memajukan duduknya, mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga mulut Kino kini semakin turun. Cepat-cepat Alma mengangkat kedua tangannya, membiarkan Kino menaikkan kaosnya. Segera dua payudara gadis yang kenyal-padat itu terpampang, indah sekali dalam keremangan malam, putih bersih bagai bersinar.
Hmmm,… Kino menenggelamkan wajahnya di lembah harum di antara dua bukit indah itu. Hmmm …, tubuh Alma selalu penuh keharuman sabun wangi, dan juga bedak yang biasa dipakai bayi. Hmmm …., sungguh menggairahkan rasanya menciumi dada ranum yang agak basah oleh keringat itu. Dengan gemas, digigitnya sedikit daging di pangkal salah satu payudara itu. Alma mengerang. Alma merintih.
“Uuuh ….,” Alma merintih ketika mulut Kino naik dan mengulum puting sebelah kiri. Tubuh gadis itu menggelinjang ke kiri.
“Aaaah ….,” Alma mengerang ketika Kino meremas payudara sebelah kanan. Tubuh gadis itu bergeser ke kanan.
Begitulah terus. Ke kiri. Ke kanan. Kekiri kekanan. Gerakan-gerakan Alma menimbulkan gesekan nikmat di bawah sana, di tempat selangkangannya yang terhenyak rapat di pangkuan Kino. Ada cairan bening tipis mengalir pelan dari dalam tubuhnya, membasahi celana dalamnya. Ada rasa hangat turun bersama aliran itu. Ada rasa geli-nikmat yang merayap perlahan ke seluruh penjuru tubuh.
Dengan satu tangannya yang masih bebas, Kino menyingkap rok Alma lebih ke atas, sehingga antara dia dan gadis itu kini hanya ada seutas kain nilon tipis yang telah basah di sana-sini. Setelah itu, tangan Kino masuk menelusup dari belakang.
Alma mengerang merasakan tangan itu membawa kehangatan ke bagian belakang tubuhnya yang penuh-padat itu. Alma merintih ketika Kino meremas-remas bagian itu, seakan-akan sedang memeras buah hendak mengambil airnya. Gadis itu semakin memajukan duduknya, semakin rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya ke pangkuan Kino. Malam terasa semakin panas. Keringat muncul di beberapa bagian tubuh keduanya; di ketiak, di punggung, di tengkuk.
Lalu celana dalam Alma terlepas sudah, entah oleh tangan Kino atau oleh tangannya sendiri. Tidak jelas lagi, siapa melakukan apa dalam pergumulan bergairah yang tak terkendal ini. Kedua tangan Kino kini ada di bawah. Yang satu meremas-remas di belakang, yang lain menelusup ke depan. Alma mengangkat tubuhnya, tidak lagi duduk di pangkuan Kino, memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada kedua tangan pemuda itu. Kino pun segera memanfaatkan keleluasaan itu.
Jari-jarinya mengusap-menelusupi kewanitaan Alma yang terasa panas membara. Gadis itu menggelinjang hebat ketika merasakan ujung jari Kino menyentuh-nyentuh bagian-bagian yang sangat sensitif di bawah sana. Rasanya, bagian-bagian itu telah berubah seluruhnya menjadi ujung saraf belaka, tidak dilapisi apa-apa. Sehingga setiap sentuhan, seberapa pun ringannya, sanggup mengirimkan sentakan-sentakan kenikmatan ke seluruh tubuh.
Lalu celana panjang Kino juga telah terbuka. Sekali lagi, entah siapa yang melakukannya. Mungkin Kino, mungkin Alma, mungkin keduanya. Kejantanan Kino tahu-tahu juga sudah di luar, tegak berdenyut. Alma meraihnya dengan gemas, tersentak merasakan betapa panasnya otot-kenyal yang menggairahkan itu.
Kino mengerang ketika merasakan tangan halus lembut meremasnya di bagian yang sangat sensitif, di ujung yang telah sedikit basah pula. Lalu tangan Alma menuntun kejantanan Kino ke depan kewanitaannya. Oh, Alma menggosok-gosok kewanitaannya dengan otot-kenyal padat panas itu. Oh, rasanya nikmat sekali bagi keduanya. Menggelitik-gelitik, menimbulkan geli nikmat di mana-mana.
Dengan kedua tangannya yang kokoh, Kino kini menopang tubuh Alma. Kedua telapak tangannya menjadi tumpuan dari pantat gadis itu, sementara dengan tangannya Alma terus menggosok-gosokkan kejantanan Kino.
Pelan-pelan, kewanitaannya terasa semakin menguak, semakin membuka. Apalagi cengkraman tangan Kino juga ikut merentangkan bagian bawah itu, membuatnya semakin terbuka. Kejantanan yang kenyal-tegang itu kini menelusuri permukaan kewanitaan Alma, menimbulkan rasa geli yang sangat nikmat. Membuat liangnya semakin basah dan licin. Berdenyut-denyut pula.
Sesekali, ujung kejantanan Kino menelusup sedikit ke dalam. Oh,… Alma terpejam merasakan tusukan-tusukan kecil menyeruak ke dalam tubuhnya. Ahhh …, Kino juga terpejam merasakan ujung-ujung sarafnya seperti dibelai-belai mesra. Betapa hangat, basah dan licin permukaan liang kewanitaan itu. Betapa halus, bagai sutra. Alma mengerang-merintih, terus memainkan otot-kenyal di tangannya, menggosok ke depan ke belakang, memutar-mutar.
Lalu pelan-pelan Kino menurunkan tubuh Alma, ….. cuma sedikit saja, mungkin cuma tiga senti. Tetapi itu sudah cukup membuat Alma tersentak, mengerang “Aaah…”, merasakan sebuah benda tumpul hangat menyeruak ke dalam tubuhnya. Rasanya sedikit pedih, tetapi juga geli dan nikmat. Bercampur baur. Mengejutkan.
“Jangan, Kino….,” desah Alma sambil berusaha mengangkat tubuhnya. Tetapi entah kenapa, ia tak sanggup melakukan hal itu. Rasa nikmat di bawah sana menahannya untuk bergerak. Maka akhirnya ia cuma menggeliat-geliat.
Kino mengerang pelan. Oh,.. hangat sekali di dalam sana. Ia merasakan ujung kejantanannya dibalut entah oleh apa. Terasa sempit tetapi juga licin, mencekal erat tetapi juga berdenyut-denyut. Dengan kedua tangannya, Kino mempertahankan posisi tubuh Alma yang kini bagai mengambang: antara atas dan bawah, antara kenikmatan dan kekhawatiran.
Alma merasakan nikmat luar biasa datang dari liang kewanitaannya yang kini bagai tersumbat sebentuk otot-kenyal. Tak sadar, ia menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, menyebabkan si sumbat menyeruak dinding-dinding bagian dalam kewanitaannya, menimbulkan kenikmatan tambahan. Kino tetap menahan tubuh Alma agar tidak melesak lebih ke bawah. Diam-diam ia khawatir akan apa yang mereka lakukan. Ia takut jika seluruh kejantanannya masuk dan merusak sesuatu di dalam sana, walau ia sendiri tak tahu, ada apa di dalam sana.
“Aaaaaah!”, tiba-tiba Alma mengerang. Orgasmenya datang bagai banjir bandang. Kedua kakinya mengejang, dan ia ingin merapatkan pahanya, menjepit kejantanan Kino untuk menimbulkan kenikmatan yang lebih lagi. Tetapi tangan pemuda itu sangat kokoh mencengkram tubuhnya, sehingga akhirnya Alma hanya menyerah saja.
Membiarkan tubuhnya berguncang-guncang ketika ia mencapai klimaks yang sedap itu. Kedua tangan Alma mencengkram bahu Kino. Tubuhnya meregang. Matanya terpejam erat, mulutnya setengah terbuka, mengeluarkan keluh berkepanjangan, “Nggggggg….”.
Bersamaan dengan itu, Kino merasakan ujung kejantanannya bagai dipilin-diremas oleh daging kenyal hangat yang bergerak-gerak liar. Sekuat tenaga ditopangnya tubuh Alma yang sedang bergetar hebat. Keringat Kino membasahi badannya, karena tubuh gadis itu tidaklah ringan. Apalagi kalau sedang meregang-mengejang seperti ini.
Lalu, Kino merasakan klimaksnya datang, ketika Alma masih mengerang-merintih dengan kedua tangan mencengkram bahunya. Cepat-cepat Kino mengangkat tubuh gadis itu, walaupun Alma terdengar memprotes. Ia masih cukup waras untuk tidak menumpahkan cairan cintanya di dalam. Dengan satu gerakan, ia menggeser duduknya. Kejantanannya lepas dari cengkraman permukaan liang yang sebetulnya sangat menjanjikan kenikmatan itu.
Alma pun akhirnya sadar apa yang dihindari Kino. Gadis itu cepat-cepat menggeser ke arah berlawanan. Ia melihat ke bawah, ke arah otot-kenyal yang masih tegak dan seperti bergerak-gerak menggeliat. Oh,.. cepat-cepat diraihnya bagian tubuh Kino yang tadi memberikan kenikmatan di tubuhnya itu. Cepat-cepat ia meremas, ingin berpartisipasi dalam pencapaian klimaksnya.
“Aaaaah!” Kino mengerang panjang, merasakan tubuhnya bagai disentak-sentak ketika cairan-cairan cinta memancar kuat dari kejantanannya.
Tangan Alma yang halus terasa menambah nikmat pancaran itu, sekaligus menampung cairan-cairan kental panas yang berebut keluar. Alma terduduk di samping Kino, dengan tangan tetap mencengkram, merasakan getaran-gejolak klimaks kekasihnya. Kino berkali-kali mengerang, dengan tubuh meregang dan kedua tangan bertelektekan di dipan. Alma merasakan otot-kenyal berdenyut-denyut dalam genggamannya. Menakjubkan sekali!
Betapa kuatnya klimaks Kino kali ini, menyebabkan tubuhnya seperti dioyak-oyak, tulang-tulangnya seperti lepas, ototnya seperti meledak. Ia menghempaskan tubuhnya di dipan, diikuti Alma yang berbaring di sebelahnya.
eduanya masih telanjang di bagian bawah, terengah-engah seperti habis berlari sepanjang hari. Tangan Alma tetap menggenggam di bawah sana, senang bisa menampung tumpahan cinta kekasihnya. Hangat dan licin rasanya.
Lamunan Kino buyar ketika mobil yang ditumpanginya membelok tajam, menyebabkan tubuh Paman Tingga membentur tubuhnya. Lelaki setengah baya itu tetap tertidur, cuma menggumam tak jelas, lalu kembali menegakkan tubuhnya di sandaran kursi.
Kino menghela nafas panjang. Kota kelahirannya semakin jauh tertinggal. Mobil melesat laju di jalan raya antarkota. Di kiri-kanan jalan, sawah luas terbentang, menghijau bagai hamparan karpet . Langit tampak biru dibercaki awan putih. Puluhan burung bangau tampak terbang ke arah selatan.
Kino tiba di kota M menjelang sore. Rumah Paman Tingga cukup besar dan Kino mendapat kamar di belakang, dekat dapur dan gudang. Setelah beristirahat sebentar, Paman Tingga mengajak Kino membicarakan agenda mereka untuk dua bulan mendatang. Mendengar kata dua bulan, Kino mengeluh dalam hati. Lama sekali rasanya dua bulan itu.
Lalu, keesokan harinya Kino diantar Paman Tingga ke tempat kursus yang telah ramai oleh pemuda sebayanya. Ruang belajar tampak jauh lebih besar dari kelas di sekolah di kota kelahirannya.
Teman-teman barunya juga jauh lebih banyak, dan jauh lebih banyak tingkah. Sebagian dari mereka bahkan sudah bertingkah seperti layaknya remaja kota besar, memakai kaca mata hitam segala. Kino tersenyum simpul melihat salah seorang dari mereka memakai kacamata secara terbalik. Pastilah itu kacamata pinjaman!
Demikianlah, hari-hari berikutnya Kino sibuk mengikuti kursus di kota M dan mulai bisa melupakan hal-hal lain. Konsentrasinya penuh ke pelajaran, dan hanya sekali-sekali ia teringat akan Alma dan kota kelahirannya. Hari-hari pun terasa semakin cepat berlalu.
Bersambung…
Selamat Tinggal, Alma!
Waktu dan hari berlalu begitu cepatnya. Kalender di dinding kamar Kino, di rumah Paman Tingga, begitu cepat dipenuhi tanda silang yang menandai bergulirnya hari ke minggu, minggu ke bulan. Dua bulan terasa seperti dua minggu.Ayah dan ibunya datang ke M minggu lalu bersama Susi yang sudah kangen kepada kakaknya.
Ketiganya merasa bersyukur melihat Kino dalam keadaan sehat, dan bahkan bertambah gemuk. Berkali-kali Ayahanda mengucapkan terimakasih kepada suami-istri Tingga yang sangat baik itu.
Ibunda menyerahkan oleh-oleh hasil bumi (setandan pisang mas, sebutir besar nangka setengah matang, sekarung jagung) sambil memuji-muji Bibi Tingga yang pandai menjaga kesehatan Kino. Susi memeluk kaki abangnya penuh kerinduan. Suasana menjadi semarak sekali.
Mereka berbicara panjang lebar sepanjang siang: ayah-ibu, suami-istri Tingga, dan Kino. Hanya Susi yang kelihatannya tidak menikmati hari itu, karena sebenarnya ia ingin segera bermain-main dengan abangnya. Lalu, mereka makan siang bersama, menikmati ikan gurame dari empang sendiri yang sudah digoreng Ibunda. Sedap sekali, apalagi dengan sambal terasi buatan Bibi Tingga yang terkenal lezat itu.
Seusai makan, sementara ayah-ibu terus berbincang dengan suami-istri Tingga, Kino membawa adiknya berjalan-jalan. Senang sekali Susi menggandeng kembali tangan abangnya. Mulutnya ramai berceloteh tentang betapa sepinya rumah tanpa Kino. Juga tentang dua ekor ayamnya yang mati dimakan musang.
Juga tentang sungai yang tidak lagi ramai oleh anak-anak dan remaja: mereka semua sedang sibuk menyiapkan diri menempuh seleksi perguruan tinggi. Ah, begitu bersemangatnya penduduk kota ku untuk menjadi lebih berpendidikan, ucap Kino dalam hati. Semua keluarga berbicara tentang bagaimana mengirim anak-anak mereka ke kota besar untuk bersekolah.
Kino tahu, pada umumnya penduduk kota kelahirannya itu adalah petani yang cukup berhasil, dan sebagian besar tak ingin anaknya terus tinggal di kota kecil. Bagus sekali pandangan seperti itu, bukan? Tetapi kadang-kadang Kino juga berpikir: kalau semua orang pergi ke kota besar, siapa yang akan tinggal menjadi petani?
“Oh, ya!!” tiba-tiba Susi berseru sambil merogoh kantong bajunya, lalu menyerahkan sebuah amplop merah-muda, “Hampir Susi lupa,… ini ada surat dari Mba Alma!”
Sejenak jantung Kino berdegup lebih kencang ketika menerima amplop itu. Sejak tiba di M, hampir tak pernah sempat ia menulis surat. Setiap hari ia belajar dan belajar saja. Pagi hari ke tempat kursus sampai tengah hari, lalu pulang untuk makan siang.
Setelah itu pergi lagi ke tempat kursus untuk duduk di ruang baca, membaca apa saja yang ada di sana. Tempat kursus itu sangat modern dibandingkan sekolah Kino, memakai kipas angin segala. Kino betah berlama-lama di sana, dan selalu pulang ketika hari menjelang senja.
Lain halnya dengan Alma. Setiap minggu pasti menulis surat, bahkan pernah dua kali dalam seminggu. Di laci meja Kino kini ada sepuluh suratnya, panjang lebar dan selalu penuh kerinduan. Kino baru sempat menulis balasan dua kali. Yang terakhir baru saja dikirimnya seminggu yang lalu.
Kino mengajak Susi mampir di sebuah restoran untuk membeli es-krim. Gadis kecil itu melonjak-lonjak gembira. Di kotanya, tidak ada es-krim seperti di M. Kalau pun ada, harganya jarang terjangkau uang sakunya. Di kota M ini, es-krim nya lezat dan lembut. Porsinya pun besar. Susi memilih rasa coklat dan pisang. Kino memesan minuman ringan, lalu mulai membaca surat Alma.
Tidak seperti biasanya, surat Alma kali ini cukup pendek (walaupun masih lebih dari dua halaman). Dibuka dengan kata-kata penuh kerinduan (yang sebagiannya sudah dihapal Kino!), surat itu menceritakan rencana Alma pergi ke ibukota untuk ikut seleksi masuk perguruan tinggi.
Orangtua Alma sangat mengharapkan gadis itu masuk ke jurusan kedokteran dan mendesaknya agar segera pergi ke ibukota agar persiapannya lebih matang. Menjelang akhir dari suratnya, cukup jelas terbaca betapa Alma gundah membayangkan perpisahan dengan Kino.
Bagaimana kita bisa bertemu lagi sebelum aku ke ibukota? Begitu Alma bertanya berkali-kali. Apakah Kino akan pulang dalam waktu dekat ini? Kapan? Bisakah Kino memberi kabar secepatnya, barangkali dengan telepon interlokal? (dan itu berarti harus pergi ke kantor telepon).
Kino menghela nafas panjang. Susi melirik sambil terus menyantap es-krimnya. Gadis kecil ini tahu, abangnya sedang risau. Ia juga tahu, abangnya tidak ingin diganggu. Ketika akhirnya Kino mengajak Susi kembali ke rumah Paman Tingga, gadis kecil ini mengurangi celotehnya.
Tetapi tangannya menggandeng tangan Kino lebih erat. Ia merasa, abangnya memerlukan bantuan walaupun cuma dari anak kecil. Tetapi, tentu saja Susi tak pernah tahu, bantuan seperti apakah yang dibutuhkan Kino saat itu. Cuma naluri persaudaraannya saja yang bicara, sementara akalnya belum lagi bisa sampai ke persoalan-persoalan remaja yang amat pelik itu.
Sebelum kembali ke kotanya, kedua orang tua Kino sepakat dengan Paman Tingga untuk mengirim pemuda itu langsung ke kota B, tempat institut teknologi yang dicita-citakan. Mereka setuju, kalau Kino bisa tiba di B jauh-jauh hari sebelum masa ujian seleksi, tentu akan lebih baik bagi persiapan mental.
“Bolehkah saya pulang dulu, Ayah?” tanya Kino ketika berkesempatan berbicara berdua.
Ayahnya tersenyum. Lelaki setengah baya ini tahu, kenapa anaknya ingin pulang dahulu. Ia sudah mendengar dari Susi dan dari istrinya, ada seorang gadis yang menjadi pacar Kino. Ia sendiri tak keberatan, karena ia mengenal keluarga gadis itu.
“Boleh. Tetapi selesaikan dahulu kursusmu. Masih dua minggu lagi. bukan?” kata Ayahnda.
Kino berpikir cepat. Kalau ia harus pulang dua minggu lagi, mungkin Alma sudah pergi ke ibukota. Maka segera ia berujar, “Bolehkah pulang Sabtu depan?”
“Kenapa harus Sabtu depan?” tanya Ayah.
“Aku…,” Kino menelan ludah, “Aku ingin bertemu Alma sebelum ke B..”
“Ayah tahu,” ucap Ayah tertawa kecil, “Tetapi, kenapa harus Sabtu depan?”
“Alma akan pergi ke ibukota…., aku ingin bertemu sebelum ia pergi,” kata Kino sambil berdoa dalam hati agar ayahnya tidak bertanya lebih lanjut.
“Ooo… begitu,” ucap Ayah sambil mengangguk-angguk.
“Jadi? Bolehkah aku pulang Sabtu depan?” sergah Kino, tidak sabar melihat ayahnya cuma mengangguk-angguk.
Ayah tertawa kecil lagi, lalu menepuk kepala Kino dengan sayang sambil berkata, “Tanyakan ke ibumu. Kalau dia setuju, ayah juga setuju.”
Kino bersorak dalam hati. Mana mungkin ibu tidak setuju! Wanita bermata lembut itu tidak akan pernah menolak permintaan Kino untuk pulang!
Sabtu pagi itu langit cerah, tetapi angin bertiup agak kencang dan basah menjanjikan hujan. Pohon-pohon bagai para penari, meliuk-liuk. Seakan mereka sedang menyiapkan tarian penyambutan bagi sang hujan. Kino tiba di kota kelahirannya pukul delapan pagi, saat pasar sayur masih sibuk menerima pasokan barang dagangan.
Beberapa truk pengangkut sayur-mayur masih parkir di halaman pasar, di seberang terminal antar kota tempat Kino turun. Buruh-buruh masih sibuk menurunkan karung dan keranjang besar yang tampak sangat berat itu. Bau sayur dan buah segar bercampur sampah basah memenuhi udara.
Kino bergegas turun dari bis yang ditumpanginya. Kepalanya penuh rencana, yang semuanya berpusat pada perjumpaan dengan Alma. Ia akan segera menuju rumah gadis itu setelah menemui kedua orangtuanya.
Ia sudah menelpon Alma dari kantor telepon di kota M, mengabarkan kedatangannya hari ini. Alma terdengar gugup di telepon. Ah, tak sabar rasanya Kino ingin bertemu gadis itu! Cepat-cepat ia melangkah keluar dari terminal, setengah berlari, membelok menuju pusat kota.
Tetapi baru saja Kino membelok, ia tersentak. Langkahnya terhenti. Di depannya, Alma berdiri dengan rambut berkibaran. Sebuah tas kecil tergantung ringan di bahunya. Kedua tangan bersidekap memeluk dadanya.
“Alma! Sedang apa kau di sini?”
“Menunggu kamu,” sahut gadis itu. Mukanya cerah, senyumnya lebar, sebagian rambut menutupi muka.
Dengan kedua tangan, Kino memegang bahu gadis itu. Mencengkramnya agak keras, membuat Alma meringis. Kino tidak berani memeluknya di tengah keramaian terminal, walaupun ia ingin sekali. Sangat ingin!
“Hari masih pagi sekali! Apakah kamu di sini sejak fajar?” tanya Kino sambil menyingkirkan sedikit rambut dari kening Alma. Gadis itu tertawa kecil sambil menggeleng, tentu saja ia di sini sejak tadi. Tetapi tidak sejak fajar yang sudah berlalu 4 jam silam!
“Hayo, kita pulang dulu. Aku perlu menaruh tas dan bertemu orangtuaku. Kau juga bisa ikut!” seru Kino sambil merengkuh tangan Alma dan menariknya pergi meninggalkan terminal. Alma membiarkan dirinya ditarik, tetapi ia lalu berkata,
“Kenapa harus langsung ke rumah?”
Langkah Kino terhenti lagi. Ia memutar tubuh, menghadap Alma. “Apa maksudmu?” tanyanya.
Alma melirik ke arah tas Kino, berucap, “Tas mu tidak terlalu besar. Kenapa harus ditaruh di rumah?”
Kino memandang tangan yang memegang tas. “Ya, memang tidak besar…”, ucapannya tak selesai. Ia merasa Alma hendak mengatakan sesuatu.
“Aku harus berangkat sore ini,” ucap Alma pelan.
“Hah? Berangkat ke mana?” sergah Kino, sungguh kaget karena gadis itu tak pernah bicara tentang hari keberangkatan. Mengapa begitu tiba-tiba?
Alma tersenyum melihat kekasihnya terperanjat dengan wajah bagai orang bego. Tetapi senyum itu sungguhlah sendu, karena kedua matanya agak basah, menerawangkan sinar kesedihan. Kino tiba-tiba sadar, Alma akan berangkat dengan bis malam ke kota S, lalu dari sana akan naik kereta api ke ibukota. Tentu saja, bis malam itu akan berangkat pukul 5 dari terminal ini!
“Kalau begitu, kita cuma punya waktu setengah hari ini untuk berjumpa….,” bisik Kino, nyaris tak terdengar ditelan hiruk pikuk pasar di seberang.
Alma mengangguk, masih memandang lekat kekasihnya dengan matanya yang lembut-sendu. Ia sungguh ingin memeluk pemuda itu, membenamkan muka ke dadanya yang bidang. Menangis di sana sepuasnya.
“Kau bilang apa kepada orangtuamu pagi ini?” tanya Kino. Ia kini punya rencana baru.
“Aku bilang ingin pergi berjalan-jalan dengan kamu, dan semua pakaian sudah kumasukkan ke tas. Tinggal berangkat saja, nanti sore. Mereka pun sudah tahu aku ke terminal menunggumu,” jawab Alma.
“Kalau begitu, ayolah berjalan-jalan!” ucap Kino cepat. Ia tidak ingin pulang dan menghabiskan waktu. Semua rencananya harus segera diganti.
“Kemana?” tanya Alma, walaupun ia tak peduli ke mana. Ke bulan pun ia akan ikut.
Kino menyebut sebuah kota tempat peristirahatan, tak begitu jauh ke arah selatan. Direngkuhnya tangan Alma, berbelok kembali ke terminal. Mereka harus naik mini bus ke kota itu. Beriringan mereka masuk ke terminal, lalu naik mini bus yang masih menunggu penumpang. Kursi di depan, di sebelah supir, masih kosong. Di situ mereka duduk berdampingan dengan kedua tangan saling menggenggam.
Ketika bus akhirnya berjalan, Alma menceritakan alasan kenapa ia harus segera berangkat sore ini. Ayahnya tiba-tiba harus bertugas ke S, sehingga ia memutuskan untuk mengajak serta Alma, sekalian mengantarnya ke ibukota setelah urusan di S selesai.
Kota peristirahatan itu terletak dekat puncak sebuah gunung, terkenal karena pemandangannya yang indah dan pemandian air panasnya yang mengandung belerang. Konon bagus untuk menyembuhkan sakit kulit. Ke kota ini banyak berkunjung turis domestik maupun internasional. Sebuah taman alamiah terdapat di sana, dilengkapi air terjun cukup tinggi dan sebuah danau bening yang cukup luas.
Kino dan Alma pernah mendaki gunung ini, maka setelah menitipkan tas di tempat penitipan barang dan membekali diri dengan sedikit makanan-minuman, mereka menuju puncak yang bisa dicapai kurang dari setengah jam berjalan kaki. Untunglah keduanya memakai sepatu olahraga dan membawa jaket hangat yang waterproof.
Puncak gunung sangat sepi ketika mereka tiba. Matahari belum lagi tinggi, udara masih sangat dingin. Mereka duduk di dekat sebuah batu besar dan langsung bercumbu. Keduanya telah dilanda kerinduan sejak pertemuan di terminal.
Alma sudah tak sabar ingin dipeluk-dilumat-diremas. Sebuah gelegak yang amat kuat telah terhimpun di tubuh kedua remaja ini, sama seperti gelora kawah gunung yang masih aktif di hadapan mereka.
Percumbuan kali agak berbeda. Ciuman-pagutan terasa bagai sebuah campuran antara kerinduan birahi dan kesenduan perpisahan.
Alma terpejam, merasakan air hangat hampir tumpah dari kelopak matanya, sementara bibirnya sibuk mengulum bibir Kino, bagai tak ingin melepaskannya. Kino pun merasakan getar yang berlainan, tidak melulu birahi melainkan juga kehangatan kasih. Jauh di dalam lubuk hati keduanya juga timbul sebentuk kekhawatiran terhadap perpisahan yang kini telah di ambang mata.
Kedua tangan Kino memang meremas-gemas payudara Alma yang langsung mengeras itu. Tetapi kini tidak hanya kenikmatan yang datang dari remasan itu, melainkan juga kecemasan akan masa panjang yang memisahkan mereka.
Mereka berdua akan segera kehilangan kontak badan yang selama ini menjadi bumbu bagi jalinan batin dan cinta. Apakah ketiadaan-kontak itu akan melunturkan kasih? Apakah birahi fisik demikian mereka perlukan untuk melanjutkan percintaan? Sungguh pertanyaan yang sulit!
Alma, seperti biasa, menikmati duduk di pangkuan Kino, membiarkan kedua payudaranya dipermainkan. Rasa nikmat, seperti biasa, telah menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya mengerang. Tetapi, tidak itu saja yang ia rasakan.
Ia juga merasakan betapa tangan-tangan kekasihnya memancarkan getar yang berbeda. Ada kegetiran di setiap remasannya, semacam pernyataan tak rela. Seakan Kino tak ingin melepaskan tangan dari tubuhnya.
Apakah pemuda ini akan melupakannya, jika ia tidak lagi bisa meremas-remas dadaku? pikir Alma di tengah gelimang nikmat yang memenuhi benaknya. Apakah aku akan kehilangan tangan-tangan yang bergelora itu, dan lalu akan melupakannya?
Bibir Kino menjalari leher kekasihnya. Harum khas Alma memenuhi rongga hidung Kino. Ah, senang sekali menghirup aroma tubuh gadis yang segar itu! Betapa Kino akan kehilangan keharuman-kesedapan wangi Alma yang alamiah.
Betapa ia akan merindukan harum lembut pengikat jiwa itu. Bagaimana kah nanti rasanya, tidak bisa lagi mencium leher jenjang yang halus ini? tanya Kino dalam hati. Rasa kehilangan seperti apakah yang akan dialaminya?
Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kedua kepala dan hati remaja itu, sehingga perlahan percumbuan mereka menghambar.
Perlahan-lahan birahi mereka padam, seperti perapian yang kehabisan bahan bakar. Alma bahkan perlahan-lahan tersedu, membiarkan air mata tumpah menerobos lentik bulu matanya yang berkerejap. Kino melepaskan remasannya, dan kini memeluk tubuh Alma erat-erat, mendekapkan kepala gadis itu ke dadanya.
Suara tangis Alma menyelinap ke luar dari dekapan Kino, mengusik keheningan puncak gunung. Tangan pemuda itu mengusap-mengelus rambutnya yang hitam. Sesekali Kino mengecup pula rambut yang harum itu, mencoba menghibur kekasihnya.
Lama mereka berpelukan, Alma masih di pangkuan Kino, sesenggukan menumpahkan semua kesedihannya. Dada Kino kini mulai basah oleh airmata Alma, terasa hangat dan menyakitkan.
Pada saat-saat seperti ini, Kino menyesal mengapa harus mencintai seseorang yang toh juga akan pergi jauh. Mengapa selalu ada saat di mana engkau harus meninggalkan atau ditinggalkan oleh seseorang yang kau sukai?
Tak lama kemudian mereka turun dari puncak gunung, lalu duduk-duduk saja di taman dekat air terjun. Ketika siang tiba, mereka makan di sebuah warung murah-meriah. Lalu, tepat pukul 1 siang mereka kembali ke kota.
Dalam perjalanan, mereka lebih banyak diam, masing-masing terbenam dalam kerisauan dan kepasrahan. Risau karena banyak sekali pertanyaan yang belum mereka jawab. Pasrah karena mereka tak punya pilihan lain, selain harus berpisah.
Dan ketika akhirnya Kino mengantar Alma ke terminal sore itu, seluruh hari terasa kelabu belaka. Tubuhnya terasa letih. Kepalanya terasa pening. Ia juga merasa sangat kesepian, walaupun bus malam belum lagi berangkat dan Alma masih berdiri di sampingnya di pelataran terminal.
Orang-orang ramai bercakap, tetapi bagi kedua remaja ini, dunia terasa sungguh sunyi. Kedua orangtua Alma mencoba menghibur, mengajak Kino berdiskusi tentang masa depan, mencoba meyakinkan pemuda itu bahwa kesedihan perpisahan tidaklah seberapa dibandingkan kecerahan masa depan. Dengan sopan, Kino menyetujui semua wejangan orangtua Alma. Ia tidak punya pilihan lain, bukan?
Lalu bis malam itu berangkat. Alma duduk di dekat jendela, melambaikan tangan dan tersenyum kepada Kino yang terpaku di pelataran.
Selamat tinggal, bisik pemuda itu di dalam hati. Dibalasnya lambaian tangan gadis itu. Dibalasnya pula senyum sendu itu. Selamat tinggal kekasih. Mari kita tutup babak berikutnya dari kehidupan yang masih terasa panjang ini. Mari terus berharap akan ada babak-babak selanjutnya.
Selamat tinggal, Alma.
Bersambung…
Seorang Bidadari dan Sebuah Mimpi
Seorang gadis kecil berambut ikal dengan pita merah dan gelang gemerincing berlari-larian di taman mengejar seekor kucing. Di tangan gadis kecil itu ada sepotong biskuit. Mulut kecilnya ramai berteriak-teriak memanggil sang kucing. Pastilah ia bermaksud baik, memberi makanan yang ia anggap enak. Tetapi pastilah pula sang kucing berpikiran lain, karena binatang lincah itu sangat cepat memutuskan untuk naik ke atas pohon.
Si gadis kecil bertolak-pinggang di bawah pohon dengan gayanya yang lucu. Memanggil-manggil sang kucing yang mengawasinya dari atas dengan pandangan curiga. Lalu, gadis kecil itu tampak semakin sewot, dan akhirnya melemparkan biskuit ke arah sang kucing. Lemparannya luput karena terlalu lemah. Biskuit malah kembali ke bawah dan jatuh di atas kepala pelemparnya. Gadis itu menjerit berang. Kucing terkejut dan lompat lebih tinggi lagi.
Kino tersenyum memandang semua kejadian itu. Ia sedang duduk di taman di seberang kampus, menikmati roti yang menjadi bekal untuk makan siangnya. Gadis kecil di tengah taman itu mengingatkannya pada Susi, adiknya yang telah lama sekali ia tinggalkan.
Berapa tinggikah sekarang ia? pikir Kino sambil mengunyah perlahan. Ada rasa sendu menyergap setiap kali ia mengenang adiknya. Pastilah Susi kehilangan kakak yang selalu bersedia memboncenginya berjalan-jalan ke pantai, atau membantu mengumpulkan biji kenari di hutan dekat danau, atau mengantarnya ke tempat latihan menari.
Kino bangkit, mendekati pohon tempat si kucing bersembunyi. Diulurkannya sepotong roti yang berisi telur dadar. Nah, … rupanya si kucing lebih tertarik pada roti dan telur katimbang biskuit manis. Binatang itu cepat sekali turun, secepatnya naik,.. dan tiba-tiba saja sudah mencaplok roti dari tangan Kino, lalu turun ke tanah untuk menikmatinya.
Si gadis kecil memandang ke Kino sambil mengernyitkan dahinya. Tampangnya lucu sekaligus manis. Kino membalas senyumnya. Si gadis membuka mulutnya, tetapi lalu menutupnya kembali. Kino menegur dengan bersahabat.
“Halo … apakah itu kucingmu?”
Gadis itu mengangguk-angguk. Rambutnya bergerak-gerak ramai. Pita merahnya berterbangan di tiup angin yang agak kencang siang ini.
“Kenapa dia lari?” tanya Kino sambil berjongkok dekat si kucing yang kini asyik melahap makanannya. Gadis itu ikut jongkok dan berkata dengan gayanya yang cadel, “Ci pus nakal, Oom … ngga cuka mamam”
“Oh, mungkin dia tidak suka biskuit,” ucap Kino.
“Tapi … tapi,” gadis itu berceloteh, “Tapi .. Lia cuka cekali biskuit … manisssss cekali.”
Kino tersenyum. Pantas gigimu habis, pikirnya dalam hati melihat gadis itu ompong. Pasti terlalu banyak makan makanan bergula.
“Siapa nama kucingmu?” tanya Kino.
“Unyil!” jawab Ria, gadis kecil itu, dengan cepat dan keras. Senang sekali rupanya ia dengan nama itu.
Tiba-tiba terdengar dehem seorang wanita di belakang Kino. Cepat-cepat Kino memutar tubuhnya, lalu bangkit. Ah! Di depannya berdiri seorang bidadari. Betul-betul seorang bidadari, dengan rok terusan panjang berwarna putih bersih tanpa pola. Dengan rambut sebahu tergerai lepas, dan sepasang anting mutiara yang juga menegaskan dominasi warna putih. Di lehernya yang jenjang ada seuntai kalung perak dengan bandulan burung dara kecil berwarna putih. Bahkan sepatu sandalnya juga berwarna putih, terbuat dari kain jeans. Tas kecil yang tersampir di bahunya juga putih, terayun-ayun perlahan.
Kino terpana sejenak. Bidadari itu tersenyum. Giginya juga putih sekali!
“Maaf. Apakah Ria telah berbuat nakal?” ucap bidadari itu.
“Oh, tidak. Tidak,” jawab Kino gelagapan. Kaget juga ia mengetahui bahwa bidadari itu bisa berbahasa Indonesia. Sejak kapan ada kursus bahasa Indonesia di surga?
“Dari tadi ia mengejar-ngejar kucing itu,” ucap bidadari itu lagi.
“Oh,” ucap Kino, tak tahu harus berkata apa lagi. Ia sungguh-sungguh masih menyangka berhadapan dengan bidadari. Tidak saja wanita di hadapannya ini serba putih, tetapi juga serba menarik dan cemerlang. Matanya yang dihiasi bulu panjang lentik seringkali tampak berkerejap bercahaya. Bibirnya yang tersenyum seringkali seperti menyemburatkan sinar terang.
“Mama … mama…, Oom ini baik cekali, Mama!” teriak Ria masih berjongkok dekat si kucing.
Ah! Kino bergumam dalam hati. Bidadari itu punya anak yang menyukai kucing!
“Hayo, kita pulang Ria. Kamu sudah hampir dua jam main di sini. Nanti nenek dan kakek mencari-cari!” ucap sang bidadari sambil mendekati Ria.
Kino melangkah mundur perlahan. Menjauhi kedua mahluk yang mempesonanya itu. Ia melihat si gadis kecil meronta, memprotes keputusan ibunya untuk pulang. Lalu ibunya -sang bidadari itu- mengucapkan sesuatu yang tak jelas. Lalu, si gadis kecil bangkit sambil tetap menggerutu. Si kucing, yang ternyata bukan kucingnya, masih asyik mengunyah roti yang diberikan Kino. Akhirnya, mereka bergandengan tangan menjauhi taman. Kino masih berdiri menatap mereka.
Menjelang keluar dari gerbang taman, tiba-tiba si bidadari menengok ke arah Kino lalu melambaikan tangan. Dengan kikuk, Kino membalas lambaian itu. Samar-samar ia melihat si bidadari tersenyum dan rasanya langit tambah terang. Kino menggeleng-gelengkan kepalanya, heran sendiri, mengapa ada wanita bisa seperti bidadari begitu.
Perlu kiranya diketahui, Kino kini telah memasuki semester keempat di sebuah institut teknologi di kota B yang sejuk. Begitu cepat waktu berlalu sejak ia meninggalkan kota kelahirannya yang kecil dan jauh sekali dari B. Hari dan minggu dan bulan berjalan cepat, berlarian, seperti kereta api ekspres yang membawanya ke mari satu setengah tahun yang lalu. Kesibukan kuliah membuat segalanya bertambah cepat saja berlalu. Rasanya, baru kemarin ia mengucap selamat tinggal kepada Alma yang kini ada di ibukota. Alma, yang kini semakin jarang ia dengar kabarnya, karena konon gadis itu sibuk sekali dengan kuliah-kuliahnya di kedokteran. [Bagi pembaca yang belum membaca kisah Kino dan Alma, silakan klik di sini -Red.].
Sepanjang hampir dua tahun telah banyak sekali yang terjadi pada Kino. Ia berubah dari seorang pemuda kota kecil menjadi seorang mahasiswa kota besar. Ia melanjutkan hobinya berenang dan mendaki gunung dengan bergabung ke klub di kampusnya. Sama halnya ketika ia masih di kota kelahirannya, Kino juga cepat populer di kalangan teman-teman sekampus. Ia dikenal ramah, cekatan, dan pintar berorganisasi. Wajahnya termasuk cakep, walau kalah ganteng oleh Ridwan, teman sekelasnya, menambah popularitas Kino di kalangan gadis-gadis. Antara Kino dan Ridwan tercipta hubungan aneh: keduanya merasa saling bersaing, tetapi keduanya juga saling bersahabat. Tak jarang Kino bertandang ke rumahnya yang besar di pinggiran kota dan menginap di sana. Ayah Ridwan seorang berpangkat tinggi di militer, dan ibunya punya usaha perhotelan.
Selain Ridwan, Kino juga punya seorang teman dekat bernama Rima, seorang gadis dari ibukota yang tidak pernah memakai rok. Seorang yang agak tomboy, yang sebetulnya berwajah manis kalau saja ia rajin menyisir rambutnya. Rima menyukai Kino, bahkan mungkin juga sangat menyukainya dalam arti Rima ingin Kino menjadi pacarnya. Tomboy bukan berarti anti pria, bukan?
Tetapi Kino menganggap Rima biasa-biasa saja. Ia suka berteman dengan Rima, tetapi tak punya maksud apa-apa selain itu. Ia senang bepergian dengan Rima, naik gunung atau hiking menyusuri sungai-sungai besar di sekitar kota B. Gadis itu pintar main gitar, dan Kino suka sekali kalau ia menyanyikan lagu-lagu tua dari Joan Baez. Tetapi, selain dari itu, Rima adalah teman semata. Maka, Rima pun kecewa berat, walau tetap saja mereka sering mendaki gunung bersama dan berhubungan sangat akrab.
Lalu ada seorang gadis lain, bukan teman sekampus, melainkan tetangga di sebelah tempat kost Kino. Namanya Indi, dan centilnya melebihi gadis manapun yang pernah dikenal Kino. Jelas sekali, Indi juga menyukai Kino karena gadis itu selalu punya alasan untuk mampir ke tempat kost Kino. Entah meminjam penggaris, atau jangka. Entah meminta sebotol air es, atau meminjam selang untuk menyemprot halaman. Entah mengantarkan kue untuk tuan rumah, atau menumpang cuci kaki. Pokoknya, hampir setiap hari Kino bertemu Indi.
Indi juga merupakan gadis yang menurut ukuran Kino sangat bebas. Memang, Kino punya cukup banyak “pengalaman” dengan wanita, tetapi semuanya dalam konteks kota kecil. Mba Rien dan Alma adalah wanita-wanita “biasa” dalam perjalanan hidup Kino. Pengalaman Kino dengan mereka terasa begitu alamiah dan sederhana. Sedangkan Indi kelihatan lebih “canggih”, lebih lepas-terbuka dalam hal sensualitas, dan lebih penuh gaya. Indi memakai rok mini yang kadang-kadang tersingkap menampakkan celana dalamnya. Indi memakai eye shadow berwarna ungu yang kadang-kadang membuat Kino terkejut jika berjumpa di malam hari. Indi juga sering tidak berbeha, dengan t-shirt tipis yang tidak mampu menyembunyikan kedua putingnya.
Pernah Indi masuk ke kamar Kino tanpa diundang, lalu pura-pura bertanya tentang soal matematika (gadis itu masih duduk di kelas 3 SMA). Kino pun tak curiga, menjawab semua pertanyaannya yang sebetulnya amat-sangat mudah itu. Indi berdiri di sebelah meja belajar Kino, membungkuk dan menopang dagunya dengan tangan. Kedua sikunya diletakkan di meja. Gayanya, seperti biasa, selalu manja dan centil.
Kino menjelaskan semua jawabannya, dan tampaknya Indi memperhatikannya. Tetapi, ketika Kino mengangkat muka, ia menemukan kedua pasang mata Indi tidak melihat ke buku, melainkan menatap wajahnya. Selain itu, gadis itu memakai kaos berleher rendah, dan tidak memakai beha. Posisinya yang membungkuk menyebabkan seluruh payudaranya yang indah itu terpampang di depan mata Kino. Sejenak Kino menelan ludah, tetapi lalu ia berhasil menguasai diri.
Sambil tersenyum, Kino menutup buku matematika Indi, dan berucap, “Kamu mau belajar atau menantang berkelahi?”
“Berkelahi!” jawab Indi cepat-cepat. O-o.., gumam Kino dalam hati, gadis ini nakal sekali.
“Baiklah. Mari di luar berkelahi. Aku pakai satu tangan saja, lah!” jawab Kino sambil bangkit. Indi menggerutu tak jelas, lalu menarik tangan Kino, mencegahnya keluar.
“Di sini saja. Indi mau berkelahi di kamar Kak Kino saja!” sergahnya.
Kino menghindari tangan Indi dan tetap melangkah keluar. Indi meraih baju Kino, mencoba menahannya, tetapi ia malah ikut terseret keluar. Terpaksalah Indi mengurangi kecentilannya di luar. Ia juga masih punya rasa sungkan kepada tuan rumah. Ibu kost Kino adalah seorang bekas 9uru SD yang galak. Indi takut kepadanya. Maka ketika mereka sudah berada di luar, Indi tak bisa leluasa lagi. Ia pun lalu pamit pulang sambil tak lupa mencibirkan bibirnya yang ranum itu ke arah Kino.
Itu bukan kali pertama Indi “menjebak” Kino. Berkali-kali Indi berusaha memancing Kino untuk berbuat sesuatu kepadanya. Berkali-kali pula Kino berhasil menghindar. Hanya satu kali ia nyaris tak berdaya…
Waktu itu, hari Minggu siang, Kino mampir ke sebelah karena ia perlu meminta kembali selang yang dipinjam Indi kemarin. Ibu kost meminta tolong kepada Kino untuk membantunya membersihkan kamar mandi, dan Kino memang selalu bersedia membantu ibu tua yang sudah seperti ibunya sendiri itu. Dengan hanya bercelana pendek, Kino masuk ke rumah sebelah dan memanggil Indi. Tak ada jawaban. Rumah Indi tampak sepi sekali, tetapi pintu belakang terbuka lebar. Maka, karena sudah terbiasa dan sudah mengenal keluarga Indi, Kino pun melakang masuk. Tetap memanggil-manggil Indi.
Akhirnya terdengar Indi berteriak menjawab, tetapi orangnya tidak kelihatan, “Di sini, Kak Kino. Perlu apa, sih?”
“Selang yang kamu pinjam kemarin di mana In?” sahut Kino sambil mencari-cari di sekitar dapur.
“Di sini!” teriak Indi dari arah dalam.
“Di mana kamu?”
“Di sini. Di dalam!” sahut Indi lagi. Memang suaranya terdengar dari dalam rumah. Maka Kino pun melenggang masuk lebih ke dalam.
“Di sini Kak. Di kamar mandi!” teriak Indi. Oh, pikir Kino, pasti gadis itu sedang mencuci atau membersihkan kamar mandi juga. Ia pun melangkah ke arah suara Indi.
Pintu kamar mandi tampak agak tertutup, tetapi tidak terkunci sama sekali. Dengan santai Kino mendorong pintu itu dan melangkah masuk. Dan …
“Hey!” Kino berteriak kaget. Indi memang ada di dalam kamar mandi, tapi tidak sedang mencuci atau membersihkan kamar mandi. Ia berdiri di tengah kamar mandi dengan tubuh nyaris bugil. Gadis itu memakai handuk di sekeliling pinggulnya, tetapi cuma itulah pembalut tubuhnya. Badannya masih agak basah, dan kedua payudaranya yang sedang tumbuh pesat itu tampak segar menantang. Kedua putingnya yang coklat kemerahan tampak sangat sensual di puncak bukit-bukit kenyal yang membulat sempurna. Rambutnya juga masih basah kuyup, mungkin habis keramas. Ia berdiri di dekat bak mandi. Di tangannya ada selang yang dicari-cari Kino. Bibirnya tersenyum …. Senyumnya nakal!
“Apa-apaan kamu Indi!” seru Kino sambil menatap tubuh gadis itu dari atas ke bawah. Sesungguhnyalah tubuh itu indah sekali di mata Kino yang biar bagaimana pun adalah seorang pria normal. Tetapi ia sama sekali tidak tertarik, karena perbuatan Indi ini menurutnya tidak normal.
“Katanya Kak Kino mencari selang!” sahut Indi sambil menyodorkan selang yang bergulung-gulung tidak karuan. Bibirnya yang basah masih tersenyum nakal.
“Ya. Tapi kenapa tidak pakai baju dulu!” sergah Kino sambil menerima selang. Sukar sekali bagi Kino untuk melepaskan tatapannya dari tubuh Indi yang tampak segar-basah. Apalagi harum sabun mandi juga datang dari tubuh itu!
“Aku baru selesai mandi waktu Kak Kino teriak-teriak di belakang. Belum sempat handukan!” ujar Indi sengit, membela diri mati-matian. Bukan Indi namanya kalau tidak membantah.
“Ya, sudah!” sergah Kino tak kalah sengit, “Lepaskan selang itu.”
“Kenapa, sih, Kak Kino marah-marah?” ucap Indi sambil menghentakkan tangan melepas selang yang digenggamnya, tiba-tiba suaranya berubah seperti mau menangis.
“Kalau orang tuamu tahu, apa kata mereka melihat aku masuk seperti ini?” ucap Kino masih sengit, sambil mulai melangkah mundur untuk keluar.
“Orang tuaku tidak di rumah. Memang kenapa kalau Kak Kino masuk?” kata Indi, kali ini jelas nampak matanya mulai basah oleh airmata.
“Aku …,” Kino menghentikan kalimatnya. Ditatapnya gadis setengah bugil di hadapannya. Hatinya langsung luluh melihat Indi mulai menangis. Kino selalu lemah jika berhadapan dengan airmata wanita.
“Kak Kino jahat!” sergah Indi lalu menutup mukanya dengan kedua tangan dan mulai sesenggukan.
“Bukan begitu, In …,” ucap Kino lemah. Tak sadar, ia melangkah masuk kembali ke kamar mandi, meletakkan selang di lantai dan memegang kedua pundak gadis itu. Dingin sekali badannya, pikir Kino.
Tiba-tiba Indi menubruk Kino, memeluk pria muda itu, dan menangis di dadanya. Kino limbung sejenak, bingung menerima serbuan yang sangat mendadak itu. Apalagi dirasakannya kedua payudara Indi menempel langsung ke dadanya yang juga telanjang. Segera badan Kino ikut basah…. dan sebuah serbuan birahi tiba-tiba muncul. Betapa tidak! Tubuh gadis itu erat sekali memeluk tubuh Kino. Lagipula, Indi sesenggukan menahan tangis, sehingga gerakan badannya menyebabkan kedua payudaranya bergesek-gesek dengan dada Kino.
Untung Kino cepat sadar. Dengan sekuat tenaga, didorongnya tubuh Indi menjauh. Lalu dengan agak keras ia berucap.
“Stop! Indi. Aku tidak mau main ke sini lagi, atau berteman denganmu, kalau kamu tidak berhenti menangis!”
Nah, berhasil. Mendengar ucapan yang bernada ancaman itu, Indi akhirnya menahan tangisnya. Menunduk, gadis itu mundur dan mendekapkan kedua tangan di dadanya, menutupi bagian tubuhnya yang telanjang. Kino menghembus nafas lega kuat-kuat, lalu mengambil lagi selang yang tadi diletakkan di lantai. Cepat-cepat ia membalikkan badan, sambil berkata, “Aku pulang dulu. Kalau masih perlu selang, kamu bisa pinjam lagi.”
“Oke .. ,” terdengar Indi menyahut pelan. Diam-diam Kino tersenyum mendengar jawaban itu, sambil terus melangkah keluar. Gadis itu memang nakal sekali! sergahnya dalam hati.
Begitulah antara lain kisah hidup Kino di rantau. Masih banyak yang menarik yang bisa diceritakan, mungkin tak cukup 1000 halaman buku untuk menuliskannya.
Pada umumnya, kisah hidup pemuda ini menyenangkan walau seringkali pula diganggu kerinduan pada kampung halaman. Semenjak tiba di kota B satu setengah tahun yang lalu, ia belum pernah pulang ke kota kelahirannya. Belum pernah berjumpa ayah, ibu, dan adiknya. Juga tak lagi pernah berjumpa sahabat-sahabat lamanya. Tidak pula pernah menatap lagi mata Alma, atau mendengar lembut suara Mba Rien.
Masa lalu Kino seperti sebuah lembaran yang sulit dibuka kembali. Seperti buku yang membatu. Kadang-kadang, Kino sedih sekali mengenang semua itu. Tetapi, karena kesibukan kuliahnya, kesedihan itu cepat terhapus. Sehingga akhirnya Kino kini bisa menerima kenyataan bahwa kehidupan adalah sebuah perjalanan yang selalu maju, tak pernah bisa mundur kembali.
Satu hal yang sempat merisaukan Kino adalah keterikatan perasaannya kepada kedua wanita yang telah mematri kisah kasih di hatinya: Mba Rien dan Alma. Sejak berpisah dengan mereka, Kino belum pernah terpikat oleh gadis lain. Apakah itu normal? Apakah itu namanya kesetiaan? Apakah itu namanya cinta yang sesungguhnya?
Tetapi apakah sebenarnya kesetiaan itu? Apakah sesungguhnya cinta itu? Kino selalu menyimpan pertanyaan-pertanyaan berat itu di hatinya. Dalam hal ini, tak ada teman diskusi untuk diajak berbincang. Dalam hal ini, Kino pun bergulat sendiri, mencari jawabnya sendiri.
Sampai suatu hari ia bertemu bidadari itu. Malamnya, Kino tiba-tiba terbangun dan merasakan keringat memenuhi tubuhnya, walau sebetulnya udara kota B sangat dingin untuk ukuran tropis. Kino terbangun oleh sebuah mimpi yang misterius. Ia bangkit dan duduk di ranjang, mengatur nafasnya yang agak menderu.
Kino bertemu lagi dengan Ria -si gadis kecil- dan sang bidadari yang adalah ibunya. Kino melihat gadis kecil itu berlari-larian di tengah lapangan yang sangat luas tak berbatas. Bukan hanya berlarian. Gadis kecil itu juga tampak seperti terbang melayang-layang, diselimuti kabut putih tipis.
Ibunya – sang bidadari yang jelita itu – ikut berlarian, melayang-layang sambil menebarkan bunga-bunga putih. Indah sekali pemandangan mereka berdua berlarian-berterbangan seperti dua kupu-kupu putih. Seperti menari balet di sebuah panggung yang dipenuhi dry ice. Ada suara musik samar-samar, mungkin dari harpa dan seruling bambu. Betul-betul indah. Kino sangat menikmatinya.
Lalu, entah dari mana, muncul seekor binatang aneh. Besar sekali binatang itu, menyerupai T-rex (sejenis dinosaurus) di film Jurassic Park. Seram sekali binatang itu, dengan mulut yang terbuka lebar dan gigi-gigi besar dan tajam. Kino terpana, melihat binatang itu mengejar Ria dan ibunya, yang juga terperanjat dan tampak berusaha lari menghindar. Tetapi binatang ganas itu jauh lebih cepat larinya, dan sebentar kemudian ia sudah dekat sekali dengan kedua anak beranak itu.
Kino berteriak, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Lalu dengan ngeri ia melihat binatang itu menangkap Ria dan ibunya dengan mulutnya. Darah muncrat. Kino berteriak lagi keras-keras. Suaranya tercekat lagi di tenggorokan. Kino berusaha sekuat tenaga untuk mendekat, untuk memukul binatang jahat itu agar melepaskan buruannya. Tetapi kakinya terpaku di tanah. Kino frustrasi, terasa ingin menangis.
Lalu ia terbangun … Entah apa makna mimpi itu, Kino tak tahu. Lama ia terpekur di ranjangnya. Malam masih jauh dari pagi. Suara jangkerik terdengar ramai di luar. Ketika jarum jam menunjukkan angka 1, barulah Kino bisa memejamkan mata kembali.
Bersambung…
Bayang-Bayang Sang Bidadari
Pagi belum lagi terik. Matahari masih bersembunyi di balik pucuk-pucuk pohon. Udara masih segar. Kino sudah duduk di angkot reyot yang akan membawanya ke kampus. Mobil buatan Jepang itu pasti berumur sekitar 3 tahun. Catnya sudah dekil, suara mesinnya seperti kakek-kakek yang sedang sakit TBC. Penumpangnya belum banyak; hanya Kino dan seorang laki-laki yang tampaknya pegawai kelurahan, lengkap dengan map-map bututnya. Sang kondektur masih berteriak-teriak mengundang penumpang. Suaranya lantang sekali sepagi ini. Kino menatap arlojinya.
Mudah-mudahan tidak terlambat, gumamnya dalam hati.Lima menit kemudian, datang tiga penumpang lagi. Lalu menyusul dua orang anak SD dengan tas di punggung mereka. Angkot sudah hampir penuh, tetapi sang kondektur tetap berteriak, “Kosong! .. Kosong!”, sementara para penumpang mulai menggerutu. Kino melirik lagi arlojinya. Ah, masih ada waktu. Tetapi, kalau angkot ini harus penuh dulu baru berjalan, tentu waktu akan habis juga akhirnya.
Seorang ibu gemuk dengan tas belanja yang tak kalah gemuknya tergopoh-gopoh mendekat. Sang kondektur yang ceking menyambutnya dengan penuh semangat, mencoba membantu memegangi tas si ibu, tetapi ia tampaknya terlalu kurus untuk tas itu. Si ibu berhasil naik dengan susah payah, selain karena berat tubuhnya, juga karena angkot hanya menyisakan satu ruang saja. Itu pun untuk penumpang berbadan sedang. Akibatnya, penumpang yang lain terhimpit satu sama lain. Persis ikan asin yang ditumpuk dalam satu kotak kaleng rombeng. Sial…, keluh Kino dalam hati.
Akhirnya sang supir muncul, entah dari mana. Angkot pun bersiap meninggalkan tempatnya. Sang kondektur sudah bergantungan di pintu keluar. Mobil tua itu terbatuk-batuk lagi, lalu mulai bergerak seperti orang malas. Gerakannya tersendat-sendat, membuat para penumpang terhenyak-henyak saling berbenturan. Lalu, kesialan Kino pagi ini memuncak: angkot itu mogok setelah berjalan tak lebih dari 3 meter!
Penumpang berhamburan keluar. Kino mencoba membantu mendorong. Ibu gemuk belum lagi turun, sehingga angkot jadi terasa sangat berat. Untung jalan agak menurun. Tetapi, walau dicoba berkali-kali, dan walau Kino sudah berpeluh, angkot itu tetap ngadat. Akhirnya sang supir menyerah. Angkot tidak jadi mengangkut penumpang, yang kini kembali bergerombol menunggu angkot berikutnya.
Tetapi Kino memang sial. Tiga angkot berikutnya selalu penuh, dan hanya mampu menampung satu orang setiap kalinya. Kino terpaksa mengalah kepada dua anak SD dan si ibu gemuk. Sementara waktu cepat berlalu, dan Kino kini tahu bahwa ia pasti akan terlambat untuk kuliah pertamanya. Padahal, itu kuliah paling penting di semester ini, dan dosennya paling galak. Kino menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Ia berdiri di pinggir jalan, berharap agar angkot yang berikutnya kosong. Ada satu angkot tampak di kejauhan menuju ke arahnya. Angkot itu berhenti dan menurunkan beberapa penumpang, sehingga Kino yakin ia akan bisa naik kali ini. Ia pun bersiap maju agak ke tengah jalan untuk mencegat angkot itu.
Tiba-tiba sebuah Honda Civic putih berhenti tepat di depannya. Kino menepi kembali, menyangka mobil itu akan parkir. Tetapi ternyata tidak, mobil itu tetap di depannya, dan kaca jendela depan kirinya terbuka perlahan dengan suara mendesing. Kino mengernyitkan dahi, mencoba mengintip ke ruang dalam yang agak gelap. Apakah salah seorang temanku? ucap Kino penuh harap. Kalau ya, tentu ia bisa menumpang ke kampus.
“Halo Oom!” sebuah kepala kecil dengan rambut ikal dan pita merah menyembul. Tentu saja itu kepala si gadis kecil yang mengejar-ngejar kucing di taman. Ria!
“Hai!” sahut Kino terkejut dan terheran, sekaligus kagum atas ingatan gadis kecil yang baru dijumpainya satu kali beberapa minggu yang lalu (lihat cerita yang lalu).
“Mau kuliah, ya!?” terdengar suara lain dari arah pengendara mobil. Kino maju mendekat dan membungkukkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas. Astaga! …, yang bicara itu tadi adalah si bidadari!
“Eh.., ya… mau kuliah, ya… ya!” jawab Kino gelagapan. Sungguh kaget ia ditegur oleh sang bidadari yang pagi ini tidak memakai setelan serba putih, tetapi tetap dengan dua anting mutiaranya yang berbinar. Cantik sekali bidadari itu!
Bidadari itu lalu menyebut nama kampus Kino, dan katanya mereka akan menuju ke arah sana. “Mau ikut sampai kampus?” tanya bidadari itu ramah. Dan Ria juga ikut mendesak “Oom”-nya berkali-kali sambil membuka pintu belakang. Kino menggaruk-garuk kepalanya lagi. Ah, bagaimana aku bisa menolak, pikirnya.
Akhirnya Kino menghenyakkan tubuhnya di jok belakang Honda Civic yang ruang interiornya menyebarkan harum semerbak itu. Mobil pun segera melaju dan Kino merasa seperti sedang naik kereta kencana yang ditarik kuda-kuda terbang!
“Kuliah di jurusan apa?” tanya si bidadari sambil melirik dari kaca spion.
“Arsitektur,” jawab Kino pendek.
Bidadari itu tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Kino bisa melihat dari kaca spion, betapa manisnya senyum itu. Betapa cepatnya kesialan pagi ini berubah menjadi keberuntungan!
“Oom mau cekolah juga ya!” celoteh si kecil Ria dengan cadelnya, sambil membalikkan tubuhnya menghadap Kino.
“Iya,” jawab Kino, “Ria sekolah di mana?”
“Lia cekolah taman kanak-kanak. Tapi…tapi…. tapi, Lia ngga cuka cekolah!”
“Lho, kenapa?” ucap Kino pura-pura kaget, “Apakah di sekolah Ria tidak ada kucing?”
Gadis kecil itu mengangguk-angguk cepat. Rambutnya bertebaran menutup keningnya. Kino senang sekali melihat gadis kecil ini. Cantik dan lucu dan tampak cerdas.
“Kenapa tidak minta kepada bu 9uru untuk membeli kucing?”
“Bu gulu ngga cuka kucing…, Bu gulu cuka cama donal bebek!”
Kino tertawa mendengar jawaban Ria, dan si bidadari juga ikut tertawa kecil. Oh, merdu sekali tawa itu, pikir Kino, ….sebuah campuran yang pas antara tertawa manja dan tertawa geli.
Lalu Ria berceloteh terus sepanjang perjalanan, dan Kino dengan senang hati menimpalinya. Si bidadari sendiri tidak begitu banyak berbicara, tetapi selalu tertawa dengan tawanya yang memikat itu. Sesekali Kino melirik ke kaca spion, diam-diam memandangi wajahnya yang menatap lurus ke depan mengawasi lalu-lintas. Wajah itu manis sekaligus anggun, juga tampak bersinar riang. Barangkali ia memang bidadari, pikir Kino.
Akhirnya, setelah sepuluh menit lebih sedikit, Honda Civic itu menepi di depan kampus Kino. Cepat-cepat Kino mengucapkan terimakasih, berkali-kali sampai ia merasa malu sendiri. Lalu ia turun dan berdiri di tepi jalan menunggu mobil itu pergi. Ria menyembulkan kepalanya, berteriak, “Daah…. Oom Kucing!” .. sialan, sejak kapan aku jadi kucing? Sergah Kino. Dilambaikannya tangan ke arah Ria. Sang bidadari juga mengeluarkan tangannya ke atas dan melambai. Lalu, mobil itu menghilang di tengah keramaian.
Kino masih tertegun beberapa jenak. Sepanjang perjalanan tadi ia tak sempat bertukar nama dengan sang bidadari. Tololnya aku! Kino berseru dalam hati. Kenapa tadi tidak memperkenalkan diri? Mana mungkin wanita yang lebih dulu memperkenalkan diri? Bego sekali kamu, Kino. Dasar orang desa! Kata-kata hatinya bersusulan menyalahkan dirinya sendiri. Sambil melangkah gontai menuju gerbang kampus, Kino menggaruk-garuk lagi kepalanya yang tidak gatal. Rambutnya yang agak gondrong itu kini sudah acak-acakan.
Di gerbang kampus ia bertemu Rima yang rupanya juga baru tiba dan tadi melihat Kino turun dari Honda Civic yang ditumpanginya. Gadis itu, seperti biasanya, tersenyum manis menyambutnya. Kino suka sekali senyuman itu, yang selalu bisa menambah cerah hari-hari kuliahnya. Seringkali Kino heran sendiri, kenapa ia tidak bisa memacari gadis itu, padahal ia suka kepadanya.
“Aku tidak tahu kamu punya mobil,” ucap Rima sambil menggamit lengan Kino.
“Aku memang tidak punya mobil. Itu tadi tetanggaku, kebetulan lewat sini,” jawab Kino berbohong. Tetapi, mungkin juga ia berkata benar. Mungkin juga bidadari itu tetangganya. Sebenarnya, Kino betul-betul berharap bahwa ia memang tetangganya!
“Cantik, ya!?” ucap Rima. Kino mendeteksi nada lain di ucapan itu.
“Hmm,” jawab Kino pendek sambil mengangguk. Mereka berjalan beriringan sepanjang koridor yang diteduhi tanaman merambat.
“Beruntung sekali kamu punya tetangga cantik yang lewat di depan kampus setiap pagi,” ucap Rima lagi, kali ini dengan nada agak menggoda. Gadis itu selalu, ..se-la-lu … menggodanya. Tetapi Kino sudah kenal taktiknya. Kino sudah “kebal”.
“Hmm,” gumam Kino lagi sambil mengangguk lagi.
“Daripada naik angkot, lebih enak naik Honda Civic, ya?!”
“Hmm..”
“Pasti ruangan dalam mobil itu harum semerbak. Tidak seperti angkot yang bau keringat penumpang.”
“Hmmm..”
“Pasti kamu belum sarapan pagi ini?” ucap Rima tiba-tiba mengubah topik.
“Hmmm..”
Rima mencubit pinggang Kino gemas. Dari tadi pria ini cuma “hmmm” saja, mengindari ajakannya untuk mendiskusikan wanita bermobil Honda Civic itu. Kino tertawa gelak dan berlari menghindar. Rima mengambil sebutir kerikil sebesar kuku jarinya, melempar ke arah Kino. Luput. Kerikil itu justru mengenai punggung seorang mahasiswa lain, yang segera menoleh ke arah Rima.
“Maaf, Mas! … Tidak sengaja!” ucap Rima buru-buru sambil mendekat ke mahasiswa yang tampaknya senior itu. Kino tertawa di kejauhan.
“Lain kali tanya dulu sebelum melempar,” ucap mahasiswa senior itu.
“Oh, ya?!… Apa yang musti kutanyakan?” ucap Rima merasa aneh mendengar perkataan “korban” lemparannya.
“Tanya dulu, apakah saya mau dilempar atau tidak!” sergah si korban sambil berlalu dengan muka penuh kemenangan.
Rima membanting kakinya dengan gemas. Lalu berlari mengejar Kino yang sudah jauh sekali.
Setelah menumpang “kereta kencana” itu, Kino tak pernah bertemu lagi dengan sang bidadari. Setiap pagi, Kino berharap Honda Civic itu lewat, tetapi ternyata harapannya sia-sia belaka. Sia-sia ia menunggu setiap pagi selama sepuluh menit, dan setelah seminggu, Kino pun menyerah. Ia berkeputusan dalam hati: si bidadari pasti telah kembali ke kahyangan. Atau semua yang dialaminya adalah hayal belaka. Tetapi, bagaimana sebuah hayalan bisa disaksikan orang lain seperti Rima?
“Kenapa tidak pernah numpang tetanggamu lagi?” goda Rima pada suatu pagi.
“Mobilnya masuk bengkel,” ucap Kino berbohong, lalu mencoba mengalihkan pembicaraan. Tetapi, Rima bersikeras menanyakan apa yang sesungguhnya terjadi. Heran, gadis itu besar sekali rasa ingin tahunya, keluh Kino dalam hati.
“Wah.., pasti rusak berat. Seminggu masuk bengkel. Pasti tabrakan beruntun. Apakah ada yang luka-luka?” tanya Rima seperti senapan mesin memberondong musuh.
“Ah, tidak. Cuma mau ganti warna cat. Pemiliknya bosan dengan warna putih!” jawab Kino sekenanya. Untuk melawan celoteh Rima memang sebaiknya tidak memakai akal sehat, begitu Kino berpikir.
“Wow! Padahal mobil itu kelihatan masih baru. Pasti pemiliknya kaya sekali, berganti cat mobil seperti berganti baju!” ucap Rima.
“Memang dia kaya. Dia bahkan punya pabrik pesawat terbang tak jauh dari kota ini!” ucap Kino tak mau kalah dengan akal-akalan Rima. Tentu saja gadis ini tertawa terbahak mendengar jawaban Kino, dan ia senang sekali melihat Kino tersipu-sipu. Ia merasa memenangkan “pertempuran” yang menyenangkan ini. Ah!… bersama Kino semua rasanya menyenangkan belaka! Ucap Rima dalam hati.
Percakapan ini terjadi hari Sabtu, di kampus, sebelum kuliah pengganti yang diadakan seorang dosen karena ia pernah tidak masuk minggu lalu. Kino membiarkan Rima mengganggunya sepanjang hari, karena pemuda ini juga senang diganggu dan dibercandai. Ia merasa, Sabtu ini agak kelabu, entah kenapa. Mungkin karena harapannya bertemu sang bidadari tak kesampaian. Mungkin juga karena ia rindu kampung halaman (akhir-akhir ini Kino sering terkenang orangtua dan adiknya). Mungkin juga karena sebentar lagi malam minggu, dan Kino tidak punya pacar untuk dikunjungi.
Maka ketika Rima mengajaknya mendaki gunung sepulang kuliah, Kino menyambutnya dengan antusias. Ia segera pulang setelah kuliah bubar dan segera kembali menjemput Rima di tempat kostnya, lengkap dengan ransel dan perbekalan dan perlengkapan kemah. Sedangkan Rima telah pula siap dengan tenda dan gitarnya. Ranselnya kecil saja, dan tenda dititipkannya pada Kino.
“Berdua saja?” tanya Kino ketika sadar bahwa Rima tidak bersama siapa-siapa. Biasanya, gadis ini membawa serta seorang gadis sahabatnya. Biasanya pula Kino mengajak Tigor, temannya dari Jurusan Mesin yang punya hobi serupa. Sewaktu Rima mengusulkan mendaki di kampus tadi, Kino tak sempat bertanya tentang peserta.
“Iya. Berdua saja!” jawab Rima sambil memanggul gitarnya. “Kenapa? Takut?”
Kino mendengus pura-pura kesal. “Siapa yang tidak takut pergi berdua dengan tukang cubit!” sergahnya sambil memasukkan tenda ke ransel.
Rima tertawa. Rima mencubit lengan Kino… Rima memukul sayang kepala pemuda itu… Rima bernyanyi dalam hati!
Gunung yang mereka daki adalah gunung yang sangat populer di kalangan anak-anak muda. Jadi, tidaklah tepat kalau Kino berkata bahwa mereka mendaki “hanya berdua”. Sebab, setelah sampai di puncak, mereka bergabung dengan puluhan anak-anak muda. Keduanya telah pula dikenal oleh beberapa “veteran” pendaki yang berkumpul di kaki gunung. Rima bahkan sudah didaulat untuk bernyanyi sejak di tempat peristirahatan pertama di lereng gunung.
Seperti biasanya, Rima memenuhi permintaan para kawula muda pencinta alam itu dengan senang hati. Kadang-kadang Kino berpikir, Rima memang suka menampilkan diri di muka umum. Ia berbakat menjadi artis, barangkali!
Tetapi ketika malam menjelang pagi di puncak gunung, ketika keletihan memaksa para pendaki masuk ke tenda masing-masing untuk beristirahat setelah mengobrol sepanjang malam, …mereka pun akhirnya memang tinggal berdua. Tenda yang mereka tempati tidaklah terlalu luas. Untuk bisa tidur, Kino harus merelakan lengannya menjadi bantal Rima. K
alau tidak begitu, ruangan akan tersita dan tenda mungkin sudah rubuh. Bagi Rima, inilah enaknya pergi berdua. Ia bisa punya seribu alasan untuk memeluk pria yang sangat-sangat-sangat disukainya itu.
Angin berhembus keras sekali malam itu. Dingin menusuk tulang, dan bunga-bunga es berterbangan seperti pasir putih di sekitar tenda. Kino membiarkan Rima memeluk tubuhnya erat-erat. Kadang-kadang, ia merasa Rima adalah seorang lemah yang perlu dilindungi. Apalagi, sebelum masuk tenda tadi Rima mengaku agak ngeri melihat cuaca malam ini. Di puncak gunung, cuaca seperti ini memang menambah suasana semakin mencekam. Suara angin seperti raungan raksasa yang sedang marah. Gelap-gulita di sekeliling tenda, tak terdengar suara apa-apa selain badai yang mengamuk.
Kino mendengar gigi Rima bergemeletuk menahan dingin. Tidak tega, Kino melepas jaketnya, membungkus tubuh temannya. Ia sendiri kini hanya berkaus , tetapi kaos itu cukup tebal untuk menahan dingin. Apalagi di bawah kaos itu, Kino juga memakai kaos lain yang terbuat dari wol.
Desah nafas Rima dekat sekali di pipi Kino. Harum mulut gadis itu juga sampai samar-sama di hidung Kino. Entah sengaja atau tidak, bibir Rima yang agak basah itu sesekali menyentuh pipi Kino.
“Takut, Rim?” bisik Kino.
Kino merasakan gadis itu mengangguk. Juga merasakan nafasnya agak cepat. Jangan-jangan …
“Cium aku, Kino…,” gadis itu berbisik, hampir tak terdengar.
Kino tersenyum dalam gelap. Ada-ada saja permintaan Rima. Tetapi, … why not?, pikirnya. Mungkin perlu juga berciuman di tengah badai di puncak gunung.
Perlahan Kino menyentuh bibir Rima dengan bibirnya. Nafas gadis itu menyerbu mukanya, terasa semakin panas. Lalu, bibir gadis itu terbuka sedikit. Kino mengecupnya ringan, membiarkan masih ada jarak di antara kedua mulut mereka. Rima terdengar mendesah. Gelisah.
Terasa gadis itu menggeser tubuhnya semakin rapat ke tubuh Kino. Dibandingkan Indi yang seksi dan sintal, atau Alma yang berdada ranum, Rima pastilah kalah. Dadanya tidak membusung, hanya membukit seadanya saja. Walau begitu, jantung Kino bergetar juga merasakan lengannya menekan dada Rima yang turun naik dengan cepat.
Rima kini merangkul leher Kino, dan sepertinya tak sabar, ia menarik pemuda itu sehingga bisa sepenuhnya berciuman. Kino membiarkan gadis itu mengulum bibirnya dengan desah yang semakin gelisah. Diam-diam Kino khawatir juga, kemana arah percumbuan ini?
Lidah keduanya secara otomatis saling memagut, seperti dua ekor ular yang sedang bercengkrama. Kino sebenarnya hanya ingin berciuman di bibir, tetapi tampaknya Rima ingin lebih dari itu. Apalagi kini satu kakinya sudah naik, menumpang di paha Kino. Tangannya semakin kuat merengkuh leher pemuda itu. Nafasnya juga sudah semakin memburu.
Lalu, entah bagaimana mulanya, tangan Kino telah menelusup ke balik dua jaket yang membungkus tubuh Rima. Kini telapak tangan pemuda itu mengusap-usap bukit kecil di dada Rima. Gadis itu mengerang pelan, mulutnya semakin bersemangat menciumi Kino. Nafasnya kini tersengal-sengal, dan badannya gelisah bergerak kesana-kemari.
Kino membalas pagutan Rima. Dihisapnya kedua bibir gadis yang punya lesung pipit itu. Diemut-emutnya lidah gadis itu yang sejak tadi menerobos masuk ke mulutnya. Kadang-kadang digigitnya perlahan salah satu bibir Rima, membuat gadis itu mengerang manja.
Rima merasakan tubuhnya dibungkus kenikmatan birahi. Apalagi kini kedua pahanya menjepit erat salah satu paha Kino. Di balik jeans yang dikenakannya, celana dalam Rima mulai terasa lembab. Cairan hangat terasa mengalir perlahan di dalam pinggulnya. Selangkangannya terasa dipenuhi geli-gatal yang menggelisahkan. Dengan gerakan tak karuan, Rima menggosok-gosokan bagian depan kewanitaannya ke paha Kino. Oh,,,…, seandainya saja pria ini mau memasukkan tangannya ke sana! … jerit Rima dalam hati.
Tetapi rupanya Kino cepat sadar. Tiba-tiba teringat olehnya, sesama pendaki sebaiknya tidak menjalin hubungan seksual. Konon, hubungan itu hanya akan membawa sial. Walaupun tidak sepenuhnya percaya, Kino takut juga kalau-kalau petuah itu benar. Maka cepat-cepat ia menghentikan usapan tangannya di dada Rima, lalu menjauhkan mukanya dari muka gadis itu.
Namun Rima rupanya sedang berpacu menuju klimaks pertamanya. Tubuh gadis itu sedang meregang ketika Kino melepaskan ciumannya. Kedua pahanya erat mencengkram paha Kino, membuat pemuda itu meringis karena merasa agak pegal. Lalu, terdengar Rima mengerang pelan dan panjang “Ooooh…!… Aaaaaah”… dan kedua kakinya kaku mengejang, disusul guncangan seluruh tubuhnya.
“Kino,… jangan berhenti,… Kino,” gadis itu mengerang di tengah guncangan tubuhnya.
Dengan susah payah, Kino berhasil mengendalikan dirinya, menghindari tarikan tangan Rima yang seperti orang kalap.
“Tidak, Rima. Kita sedang di puncak gunung!” sergah Kino sambil memegangi lengan Rima yang terus berontak.
Setelah berusaha berkali-kali melepaskan tangannya, akhirnya gadis itu menyerah, gerakannya semakin lama semakin melemah. Lalu gadis itu lunglai memeluk Kino.
“Maafkan aku, Rima…,” bisik Kino sambil memeluk pundak gadis itu.
Tiba-tiba Rima tersedu. Air matanya yang hangat membasahi leher Kino, dan pemuda itu diam saja, membiarkan emosi Rima keluar bebas. Ia tahu, gadis itu mengerti benar apa maksudnya menolak bercumbu di puncak gunung.
“Sudahlah,… sebentar lagi pagi. Kita perlu tenaga untuk pulang,” bisik Kino lembut. Terasa kepala Rima bergerak mengangguk. Kino tersenyum, mengecup dahi gadis itu dengan sayang. Rima terdengar menghela nafas panjang, dan menghembuskannya keras-keras. Kino tersenyum lagi dalam gelap. Bersyukur bahwa segalanya bisa berlalu.
Tak lama kemudian, terdengar nafas keduanya semakin teratur. Sementara badai di luar ternyata juga mereda. Puncak gunung menjulang menghitam di malam yang semakin pekat. Kino dan Rima akhirnya mendengkur perlahan, dengan damai menyambut datangnya alam mimpi, bersamaan dengan tibanya kabut tebal yang menyelimuti seluruh lapangan kecil di puncak itu.
Di hari-hari berikutnya, hubungan Rima dan Kino kembali normal. Perlahan-lahan mereka bisa melupakan peristiwa di puncak gunung yang mencekam dan nyaris berakhir di luar kendali itu. Memang, Rima sempat menjadi agak kikuk akibat terpengaruh peristiwa itu. Ia sempat sering tersipu kalau bertemu Kino, padahal pemuda itu sudah berusaha keras bersikap seperti biasa.
Tentu saja, Kino juga tak akan lupa peristiwa itu. Tetapi ia tak ingin kehilangan persahabatan, dan sebab itu berusaha keras membantu Rima melupakannya. Untung saja, masa ujian segera tiba, dan kesibukan belajar akhirnya membuat gadis itu kembali seperti semula: suka menggoda Kino dan selalu mengajaknya bercanda.
Yang justru agak mengganggu pikiran Kino adalah si bidadari itu!
Pada suatu malam minggu, sepulang dari rumah Ridwan, ia bertemu lagi dengan bidadari itu. Sebenarnya tidak “bertemu” dalam arti sebenarnya, karena Kino hanya sekelebat melihatnya.
Ia sedang berada di boncengan motor Tigor yang akan mengantarnya pulang di tengah malam itu. Mereka sedang melintas di depan sebuah mall kecil yang masih ramai. Jalan yang mereka lalui agak macet, karena bioskop rupanya baru bubar, dan mobil para penonton sedang antri ke luar.
Waktu itulah, Kino melihat Honda Civic yang pernah ditumpanginya. Tentu saja, catnya masih putih. Di dalamnya ada sang bidadari, tetapi ia tidak duduk di belakang stir.
Yang duduk di belakang stir adalah seorang pria. Dengan cepat Kino menyimpulkan, pria itu pastilah suaminya. Ada sedikit rasa pedih menerima kesimpulannya sendiri itu. Kino diam-diam memperhatikan, seperti apa suami sang bidadari itu. Tetapi karena motor yang ditumpanginya tertahan agak jauh, Kino tak bisa melihat jelas. Apalagi kemudian mobil itu lolos terlebih dulu dari kemacetan, dan segera menjauh di kegelapan malam.
Ketika akhirnya Tigor berhasil lolos dari kemacetan, mobil itu sudah menghilang entah ke mana. Lalu, Tigor tancap gas dan mereka sampai di tempat tujuan hanya dalam waktu 5 menit karena jalanan lengang.
Kino turun di depan gang menuju tempat kost, mengucapkan terimakasih kepada sahabatnya yang segera melesat kembali menembus gelap malam. Suara motornya meraung-raung semakin lama semakin lenyap. Kino menunggu sampai motor itu tak terlihat lagi, baru membalikkan badan ke arah rumah kost-nya.
Pemuda itu berjalan gontai sambil terus memikirkan sang bidadari. Ah, ternyata ia telah bersuami. Tentu saja! Bukankah Ria memanggilnya “mama”. Tentu saja Ria punya ayah, dan pria yang tadi di belakang stir pastilah ayah Ria. Suami sang bidadari. Lalu, kini apa? Kau tertarik pada seorang wanita yang sudah bersuami! Suara hati Kino terdengar nyaring di telinganya. Kau terpesona pada istri orang! Duh… Kino menggeleng-geleng sendirian sambil melangkah pelan.
Ia baru saja hendak membuka gerbang halaman rumah kost-nya, ketika didengarnya seseorang berbisik, “Sssst… Kak Kino!”
Terkejut, Kino menoleh ke arah sumber suara. Indi sedang duduk di bawah pohon mangga yang membatasi rumah kost dengan rumah gadis itu. Di sana ada bangku kayu yang jika hari siang biasa dipakai duduk-duduk. Bayangan pohon agak menyembunyikan gadis itu dari sorot lampu di ujung gang. Apa yang dikerjakan si centil itu? Pikir Kino sambil melangkah mendekat.
“Aku ngga bisa tidur!” bisik Indi sebelum Kino sempat bertanya.
“Sedang apa di sini? Nanti ayahmu marah….,” sergah Kino berbisik, takut terdengar orang lain. Diliriknya arloji, … hmmm, sudah hampir pukul satu.
“Ayah sedang main catur di beranda. Ibu menginap di rumah kakak. Sini… Kak Kino, temani aku,” ucap Indi sambil meraih tangan Kino, menariknya ke bawah bayang-bayang pohon.
Kino membiarkan tubuhnya ditarik. Entah kenapa, tiba-tiba Kino ingin melayani tingkah Indi malam ini. Mungkin karena kesepiannya di malam minggu ini. Mungkin karena kekecewaannya setelah tahu sang bidadari bersuami. Mungkin …. Mungkin…. Mungkin. Semua serba memungkinkan.
Tiba-tiba saja Kino telah mencium Indi, menyenderkan tubuh gadis itu ke batang pohon mangga, dan melumat bibirnya dengan gemas. Indi sempat terkaget, tetapi lalu membalas ciuman Kino dengan tak kalah bersemangat.
Bersambung…
Interlude Indi dan Perjumpaan Itu
Kino sebetulnya agak terperanjat juga merasakan betapa Indi bukan gadis ingusan lagi dalam soal berciuman. Bibirnya yang lembut basah itu ternyata pandai sekali bermain-main, mengulum bibir Kino dengan lahap. Gadis itu juga dengan leluasa membuka mulutnya, membiarkan lidah Kino menelusup masuk, menjilati langit-langitnya. Harum lembut nafas Indi, membuat pemuda ini betah berlama-lama mengulum bibir yang ranum itu.“Mmmmm …,” terdengar Indi mengerang, hendak mengatakan sesuatu, tetapi tak jelas karena mulutnya dipenuhi lidah Kino yang menjalar-jalar menimbulkan kenikmatan.
“Mmmhhhh…,” desah Indi semakin gelisah. Kino mengurangi cumbuannya, melepas pagutannya. Muka keduanya sangat dekat, dan pemuda itu bisa melihat dengan jelas mata Indi berbinar seperti bintang kejora. Nafasnya deras menyerbu muka Kino.
“Jangan di sini, Kak Kino..,” bisik Indi, “Sebentar lagi ronda akan lewat…”
“Ke kamarku?” bisik Kino, memandang lekat kedua mata Indi. Letak kamar Kino di sisi jalan. Jadi, kalau mereka mengendap diam-diam, dan masuk lewat jendela di sebelah tembok yang membatasi rumah dengan jalan,….
“Aku ingin sekali, Kak …. Tapi ….” Indi tampak ragu.
“Tidak usah lama-lama …” ucap Kino, agak terdengar mendesak, karena entah kenapa malam ini tubuh Kino membara ingin melampiaskan birahi.
Indi membalas pandangan Kino, mencari-cari kepastian dari kedua matanya. Gadis ini memang suka menggoda Kino, karena sesungguhnyalah ia menyukai pemuda itu. Tetapi, dihadapkan pada pilihan menarik yang penuh risiko ini, hatinya bimbang juga.
“Kak Kino yakin tidak akan apa-apa?” bisik Indi, sementara tangannya yang masih memeluk leher Kino terasa agak bergetar.
Kino mengangguk. “Asal kita berdua hati-hati …. Oke?” ucapnya dengan suara serak. Degup jantung pemuda ini sangat kencang, karena ia pun sebenarnya kuatir.
Akhirnya Indi mengangguk, lalu membiarkan tangannya dituntun Kino. Berdua mereka mengendap masuk ke halaman rumah kost. Pintu gerbang dibuka Kino dengan hati-hati, agar deritnya tidak terlalu keras. Setelah mengintip ke arah rumah Indi, dan melihat ayahnya masih asyik menekuni papan catur, Kino menarik gadis itu menyelinap ke balik tembok. Lalu mereka berjalan menyusur dalam gelap, sampai di bawah jendela kamar Kino yang terletak dekat dapur.
“Tunggu di sini, ya… Aku buka jendela dari dalam” bisik Kino sambil mengecup pipi Indi. Gadis itu mengangguk dan memepetkan tubuhnya ke tembok rumah.
Kino bergegas masuk ke dalam rumah lewat dapur. Dilihatnya ruang tengah sudah gelap. Ibu kos mungkin sudah tidur. Kino merasa agak lega. Dengan berjingkat, buru-buru ia masuk ke kamarnya, lalu mengunci pintu. Kemudian, tanpa menyalakan lampu, dengan sigap ia membuka jendela, yang letaknya kira-kira satu setengah meter di atas permukaan tanah.
Indi menjulurkan tangannya ke atas. Kino menggenggam erat pergelangan tangan gadis itu, lalu ….. hup …. Sekuat tenaga ia menarik Indi ke atas. Gadis itu pun dengan cekatan meringankan beban Kino; kedua kakinya sigap mendaki tembok. Tanpa susah payah, ia akhirnya berhasil masuk ke kamar Kino.
Cepat-cepat Kino menutup jendela, sementara Indi duduk di dipan sambil melepas sepatu dan kaos kakinya. Diam-diam pula, tanpa sepengetahuan Kino yang sedang sibuk mengunci jendela, gadis ini meloloskan celana dalamnya dan meletakkannya di bawah bantal.
Kino langsung duduk di samping Indi setelah selesai mengunci jendela. Lampu kamar tetap dimatikan, dan radio dinyalakan untuk menyembunyikan suara percumbuan mereka. Lalu, Kino memeluk gadis itu dan menciuminya lagi. Indi pun menyambutnya dengan sukacita, kembali menikmati kecupan, kuluman, dan jilatan lidah pemuda pujaannya.
Kino mendorong tubuh Indi perlahan sehingga rebah di kasur, sementara kedua kaki gadis itu tetap menjuntai di pinggir dipan. Sambil mencium dan mengulum bibirnya yang ranum itu, tangan Kino mulai membuka baju Indi. Dalam hati Kino heran sendiri, mengapa permainan cinta ini lancar sekali. Padahal baru kali ini ia berbuat begitu jauh dengan Indi. Mungkin memang naluri keduanya sudah sejalan, dan selama ini dipendam, kini keluar tak terbendung.
Indi bahkan membantu Kino, dengan tangan bergetar ia membuka sendiri kancing-kancing baju yang belum terbuka. Lalu, ia membuka sendiri behanya dengan melepas kait yang terletak di depan. Kedua dadanya yang ranum menantang itu segera terpampang bebas. Tangan Kino yang hangat dan agak berkeringat itu segera pula meremas gemas.
“Aaaaaah …!” Indi menjerit manja. Kino sempat terkaget mendengar jeritnya, lalu segera membungkam mulut gadis itu dengan mulutnya, sehingga akhirnya Indi cuma mengeluarkan suara “mmmmmmm…” yang tidak jelas.
Dengan jempol dan telunjuknya, Kino meraba-raba puting Indi. Oh, cepat sekali tonjolan kenyal yang panas itu menjadi tegak dan keras. Indi menggelinjang, merasakan sergapan rasa geli yang sangat nikmat memenuhi dadanya. Mulutnya yang dibungkam mulut Kino mengerang pelan. Satu tangannya memeluk leher Kino erat-erat, sementara satu tangan yang lain memegangi tangan Kino yang ada di dadanya. Indi ingin tahu apa yang dikerjakan tangan itu di dadanya,… ingin tahu mengapa tangan itu menimbulkan nikmat luar biasa di tubuhnya.
Dengan telapak tangannya, Kino menekan puting Indi hingga melesak. Lalu, ia memutar-mutar tangan itu, sehingga payudara Indi seperti dipilin-pilin. Gadis itu menggelinjang kuat-kuat, merasakan betapa tekanan dan putaran tangan Kino seperti menimbulkan percikan-percikan listrik di seluruh tubuhnya. Gadis itu mengerang lagi, menggelinjang lagi, gelisah sekali.
Lalu Kino melepaskan ciumannya, dan dengan cepat menurunkan mukanya. Indi mendesah, menunggu dengan cemas, apa gerangan yang akan dilakukan pemuda itu. Jangan dikira gadis ini tidak pernah bercumbu, karena ia pernah punya pacar yang diputusinya setahun lalu. Tetapi pacarnya itu cuma bisa mencium dan meraba-raba dadanya dengan kasar. Lain sekali dengan Kino yang lembut walau tak kalah liarnya. Pacarnya dulu ingin segera meraba-raba selangkangan, dan ingin agar Indi meremas-remas kejantanannya. Egois sekali.
Kino sepertinya tak begitu, pikir Indi, sambil menunggu perjalanan bibir pemuda itu. Mula-mula dirasakannya Kino menciumi lehernya. Hmm,… geli dan gatal sekali rasanya. Indi menggelinjang dan mengerang lagi. Ia merasakan tubuhnya seperti mau meledak oleh rasa geli yang nikmat. Seluruh dadanya terasa menggelembung dan penuh oleh getaran-getaran kecil yang pelan-pelan merambat ke seluruh permukaan badannya. Bersamaan dengan itu, ia merasakan temperatur tubuhnya naik dengan cepat, seperti sehabis dipanggang di terik matahari.
Lalu,… Ooooooh! …. Indi mengerang dengan suara tertahan ketika bibir Kino akhirnya tiba di puncak salah satu payudaranya. Punggung Indi terangkat dengan sendirinya, lalu tubuhnya miring ke arah mulut Kino yang kini sudah sepenuhnya berisi puting Indi. Akibat gerakan ini, hampir setengah dari payudara Indi menerobos masuk ke mulut Kino, membuat pemuda itu sejenak gelagapan. Cepat-cepat Kino menarik tubuhnya, mengendorkan pelukannya. Tetapi secepat itu pula tangan Indi meraih leher pemuda itu, menekan kepalanya kembali ke payudaranya!
“Aaaah,… Uuuuuh!” Indi mengerang-erang tidak karuan, merasakan untuk pertamakalinya betapa nikmat jika seorang pemuda menghisap-hisap ujung payudaranya. Dari ujung yang sensitif itu datang serbuan-serbuan rasa geli-gatal yang sangat kuat. Apalagi kemudian Kino memainkan lidahnya sambil menyedot-nyedot puting itu. Wow! … Indri bagai tersengat listrik yang menimbulkan gelombang-gelombang besar di tubuhnya. Membuat Indi tiba-tiba menggelepar seperti ikan terlempar ke atas pasir. Tubuhnya melenting, … lalu bergetar hebat, …. terhempas lagi ke kasur, …… miring ke kiri, lalu ke kanan, ….. lalu terlonjak, lalu terhempas lagi …
“Nnggg…,” Indi mengerang. Kino kelabakan berusaha menekan tubuh gadis itu agar tetap terlentang di kasur. Tetapi tenaga Indi tiba-tiba menjadi berlipat ganda, dan akhirnya Kino terlempar ke luar ranjang!
“Aduh!” jerit Kino karena kepalanya terbentur kaki meja di sebelah ranjang.
“Oh! … Maaf, Kak!” jerit Indi terkejut. Tiba-tiba ia sadar dari buaian birahi, dan terduduk di pinggir ranjang, melihat Kino terjerembab di lantai. Kedua tangannya mendekap dadanya yang tampak turun naik dengan cepatnya. Masih ada rasa geli-gatal di sekujur payudaranya.
Kino bangkit sambil mengusap-usap kepalanya. Indi tiba-tiba tertawa tertahan, merasa geli melihat samar-samar dalam gelap pemuda itu menggerutu dengan muka lucu. “Hi.. hi..hi.., maaf Kak … Indi ngga sengaja, lho!” katanya sambil menutup mulut dengan punggung tangan.
“Ssst.. jangan terlalu berisik!” bisik Kino sambil kembali ke ranjang. Indi segera menahan tawanya. Ia lalu memeluk leher Kino manja, sambil berbisik “Habis, … enak, sih!”.
“Belum pernah, ya?” ucap Kino perlahan sambil menatap kedua mata gadis itu lekat-lekat.
Indi menggeleng. Lalu menyembunyikan kepalanya di leher Kino. Nafasnya masih agak menderu. Kedua tangannya merengkuh leher pemuda itu erat-erat, seperti tak hendak melepaskannya lagi.
Kino mengusap-usap punggung gadis itu, yang kini sudah telanjang separuh badan. Ia berbisik, “Kamu suka?”
“Suka sekali ….,” desah Indi sambil mengangkat mukanya, mencari-cari bibir Kino dengan bibirnya. Pemuda itu membiarkan bibirnya dikulum dengan gemas. Harum sekali nafas Indi, ucap Kino dalam hati. Odol apa yang dipakainya?
Indi melepaskan ciumannya, lalu berbisik, “Aku mau lagi, Kak…”
Lalu ia merebahkan diri pelan-pelan, menarik tubuh pemuda itu bersamanya. Kino membiarkan dirinya terbawa turun. Lalu ia menciumi lagi leher jenjang Indi, menghirup wangi sabun mandinya yang segar seperti harum bayi. Lalu ia mengecup-ngecup pangkal leher itu, menggigit-gigit bahunya yang halus mulus. Indi mengerang lagi. Indi menggeliat lagi.
Lalu Kino menciumi seluruh permukaan dada gadis itu. Membenamkan mukanya di antara kedua payudaranya yang membukit indah itu. Sebentar kemudian mulutnya sudah kembali ke salah satu puncak payudara yang menantang itu…
Dan Indi pun langsung terbuai ke alam penuh nikmat yang seperti angin kencang membawanya terbang. Dirasakannya mulut Kino yang hangat mengurung putingnya, membuatnya menjadi tegang dan tegak. Ujung puting itu seperti menjadi sumber bagi sebuah sungai surgawi yang mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Indi mengerang ketika ujung lidah Kino bermain-main di ujung putingnya.
Oh…, rasanya seperti ditarik-tarik ke sebuah pusaran birahi yang siap menelan seluruh tubuhnya. Apalagi kemudian Kino menelusuri pangkal puting itu dengan lidahnya,… berputar … berputar … pelan dan penuh perasaan. Aaaah…, Indi menggeliat-geliat seperti ulat hendak berubah menjadi kupu-kupu. Nafasnya memburu sangat keras. Tangannya meremas punggung Kino. Kedua kakinya mengejang. Punggungnya mulai melenting lagi.
Lalu tangan Kino sudah merayap ke bawah, menyingkap rok Indi yang sebenarnya sudah tersingkap setengahnya. Telapak tangan Kino mengusap-usap paha gadis itu, merasakan betapa lembut dan licin kulit di bagian sana. Indi mengerang dan mendesah, dan tanpa sadar memperlebar jarak kedua kakinya, mengundang tangan Kino untuk naik lebih ke atas lagi. Dan tangan Kino pun perlahan merambat ke atas …. membuat darah Indi berdesir berpuluh-puluh kali lebih cepat. Membuatnya merinding, membangkitkan seluruh bulu di tubuhnya yang sudah mulai berkeringat. Oh … lama sekali rasanya tangan itu merayap ke atas. Lama sekali …
“Hei!” tiba-tiba Kino terperanjat. Menghentikan perabaannya. Pemuda itu menegakkan tubuhnya. Indi tersentak bagai terbangun dari mimpi panjang.
“Ah… ada… apa?” Indi ikut terperanjat dan tergagap. Ikut bangkit dari kasur.
“Kamu tidak memakai celana dalam?” desis Kino, antara kaget dan marah. Ia merasa Indi terlalu berani dan itu mengganggu pikirannya. Ia tidak menyangka gadis itu begitu cepat mau melepas celana dalamnya, dan sebetulnya ia tidak ingin lebih jauh dari meraba-raba di luar saja.
“Kenapa?” bisik Indi bergetar. Ia sendiri juga kaget mendengar nada marah di suara Kino.
“Kenapa kamu melepaskannya?” sergah Kino, menahan suaranya agar tidak terlalu keras.
“Supaya …., mmm …. Supaya lebih mudah,” bisik Indi semakin bergetar. Tiba-tiba ia ingin menangis. Apa salahku, bukankah biasanya pemuda ingin meraba-raba di daerah sana, bukankah ….
“Tapi itu berbahaya, Indi!” sergah Kino lagi. Tiba-tiba saja pemuda ini sadar bahwa yang dihadapinya adalah anak SMA, dan situasinya kini berbeda dengan saat Kino berpacaran dengan Alma. Saat itu keduanya sama-sama “buta”. Kini, Kino merasa seharusnya lebih tahu daripada Indi, dan perasaan itu membuat pemuda ini diterkam rasa bersalah.
Lalu Indi menangis, menyembunyikan mukanya di kedua telapak tangannya. Di antara sedu-sedan yang tertahan, ia berbisik nyaris tak terdengar, “Kak Kino jahat!”
Kino menghela nafas panjang dan melepaskannya dalam desah yang keras. Bubar sudah percumbuan mereka yang hangat itu. Kino kini merasa sangat-sangat-sangat bersalah. Ia yang lebih dulu mengajak gadis ini masuk ke kamar. Kini ia menyalahkan gadis itu, hanya karena ia tidak menyangka bahwa gadis itu sangat berani mengambil risiko. Kino mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
“Maafkan aku, Indi. …Sudahlah, hentikan tangismu!” ucap Kino pelan sambil meraih beha dan baju Indi, mencoba mengenakannya ke tubuhnya yang telanjang. Indi menolak dengan kasar, lalu memakai sendiri pakaiannya sambil menahan sedu-sedan. Kino mencoba memeluk bahu gadis itu, tetapi Indi terus menghindar sampai ke pojok ranjang. “Aku mau pulang!” bisiknya keras-keras.
“Baiklah. Tetapi jangan marah, dong. Aku minta maaf, Indi.” Ujar Kino sungguh-sungguh. Tetapi Indi seperti tak mau mendengar kata-katanya. Berkali-kali ia mengatakan “Kak Kino jahat..”
Indi baru mau dibimbing Kino ketika pemuda itu membuka pintu kamar. Ia memutuskan untuk mengeluarkan Indi lewat jalan “normal”, tidak lewat jendela. Toh, ibu kost sudah tidur dan takkan melihat mereka berdua keluar sambil berjingkat-jingkat. Indi berusaha keras menahan sedu-sedannya yang masih tersisa. Kino memeluk bahu gadis itu, merasa sangat bersalah dan sangat bertanggungjawab.
Indi akhirnya bisa pulang dengan selamat, karena ayahnya ternyata sudah tidur dan menyangka gadis itu masih di kamarnya. Untung pula Indi sudah membawa kunci cadangan. Ia bisa masuk dengan leluasa, tanpa menengok kembali ke Kino yang terpaku di pintu pagar dengan mata penuh penyesalan.
********
Affair pendek dengan Indi itu adalah sebuah bencana bagi Kino. Cukup lama pemuda ini tenggelam dalam penyesalan, dan cukup lama Indi menghindar darinya secara terang-terangan. Bahkan dengan tingkahnya yang centil, Indi membawa seorang teman prianya, sengaja menunjukkan ke Kino betapa ia sudah punya pengganti. Walaupun terlihat jelas pula oleh Kino, semua itu adalah sandiwara belaka. Tak urung, terpukul juga pemuda ini diberlakukan begitu oleh gadis yang dulunya seperti tak pernah berhenti menggodanya.
Lebih menambah sengsara lagi adalah reaksi Tigor, sahabatnya sesama pendaki. Pemuda yang hobinya ngebut itu tertawa terbahak-bahak ketika Kino menceritakan “kecelakaan”-nya dengan Indi. Kata Tigor, tolol sekali Kino sampai membiarkan peluang bercinta seperti itu berlalu tanpa ejakulasi. Agak kasar, memang, cara teman yang satu ini berbicara. Tetapi Tigor selalu terus terang, dan walaupun kadang-kadang Kino ingin meninjunya, pada akhirnya ia selalu merasa bersyukur punya teman seperti itu.
“Kamu sok suci, Kino. Kenapa harus kaget melihat gadis itu tak bercelana dalam. Itu, kan, sudah biasa di jaman sekarang!” ujar Tigor dengan suaranya yang keras dan bernada bariton. Untung mereka berada di pinggir tanah lapang yang agak sepi.
“Tapi, dia seperti mau menjebakku. Bagaimana kalau aku terjebak melakukan yang ….. ,” ucapan Kino tak berlanjut.
“Melakukan apa? Hayo, melakukan apa, Kino?” potong Tigor tak sabar.
“Melakukan itu …..,” ucap Kino terbata, “… Melakukan hubungan suami istri!”
Tigor tertawa terbahak-bahak. Kino melongo, heran mengapa pemuda itu tertawa. Apa yang lucu?
“Bagaimana kau bisa begitu naif, Kino!” sergah Tigor, “Kau sendiri rupanya yang berpikiran terlalu jauh. Darimana kau bisa tahu bahwa Indi menginginkan hubungan suami istri? Darimana kau tahu bahwa kalau buka celana itu artinya kau harus menyetubuhinya?”
Kino melihat ke sekeliling. Suara temannya ini sangat keras, dan pasti akan terdengar dari jarak 10 meter. Untung tidak ada orang di sekitar mereka, dan suara kendaraan di jalan raya di depan tanah lapang terdengar lebih keras dari suara mereka berdua.
“Tetapi, bukankah gadis itu ingin aku melakukannya? Kalau tidak, buat apa dia buka celana dalamnya?” Kino mencoba membela diri.
Tigor menepuk-nepuk bahu Kino, seperti layaknya seorang ayah. Kino tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, tetapi kali ini ia menyerah saja. Ia berharap Tigor punya solusi untuk problemnya.
“Kau tidak harus menyetubuhinya, kawan. Dia pun tak selalu perlu ‘anu’-mu untuk bisa mendapat kepuasan. Kenapa kau selalu mengarah ke persetubuhan? Kenapa tidak saling mengelus dan meremas saja?” ucap Tigor serius, lalu disambung derai tawanya melihat Kino melongo.
Lalu Kino teringat semua pengalaman seksualnya selama ini. Memang, ia tidak pernah benar-benar ‘melakukannya’. Ia hanya punya pengalaman saling meremas dan mengelus, walau dengan Alma ia nyaris masuk ke persetubuhan yang sesungguhnya. Betul juga Tigor, pikir Kino, kenapa ia harus selalu berpikir tentang persetubuhan setiap kali terlibat dengan seorang gadis? Apakah aku terlalu berorientasi ke sana? Apakah aku maniak? … aneka pertanyaan itu berkecamuk di kepala Kino.
Tigor akhirnya iba juga melihat sahabatnya agak tertunduk dan terdiam. Pemuda ini mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkan sebatang, yang disambut Kino dengan agak enggan. Ia sebetulnya tak suka merokok, tetapi kali ini ia rasanya perlu juga memenuhi paru-parunya dengan nikotin. Mereka berdua pun lalu diam menikmati asap rokok masing-masing, duduk berdampingan di akar sebuah pohon besar yang rindang.
“Apakah kamu pernah melakukannya, Tigor?” tanya Kino sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara.
“Pernah!” jawab Tigor pendek.
“Dengan pacarmu?” tanya Kino lagi.
Tigor menggeleng, lalu berkata, “Dengan kakak seorang temanku, ketika aku masih SMA di kota M..”
“Bagaimana rasanya?” desak Kino.
Tigor tertawa pelan, “Tidak enak! Aku waktu itu mabuk minum bir, dan dia tidak punya pengalaman sama sekali. Kami berdua serba tergesa. Cuma 2 atau 3 menit aku sudah keluar…,” katanya.
“Lalu ….,” desak Kino lagi.
“Kami mencoba lagi yang kedua kali, tetapi malah gagal total.” jawab Tigor, “Sejak itu hubungan kami memburuk, dan aku tak pernah berjumpa lagi dengannya.”
Kino terdiam. Teringat pengalaman pertamanya dengan Mba Rien. Mungkin Tigor juga merasakan hal yang sama; mereka berdua tak kan pernah bisa melupakan pengalaman-pengalaman pertama itu. Walaupun pengalaman itu jauh dari indah, jauh dari kehebatan cerita-cerita sensual yang biasa dipertukarkan antar anak laki-laki di kampus.
Keduanya lalu terdiam, tenggelam dalam lamunan masing-masing. Angin senja mulai bertiup, membawa kesejukan. Matahari mulai condong ke barat, cahayannya mulai memerah, semburat di langit yang mulai menggelap. Lama kemudian, keduanya bangkit menuju motor Tigor yang disandarkan di sebuah pohon. Lalu, dengan suara berisik, Tigor memacu kendaraan kesayangannya. Kino berpegangan erat di pinggang sahabatnya. Rambut keduanya berkibaran diterpa angin.
********
Pada suatu pagi, ketika Kino sedang menuju tempat menunggu angkot, ia bertemu Indi. Gadis itu menunduk, dan mencoba menghindar. Tetapi Kino terlalu cepat mendekat, sehingga akhirnya mereka berdiri berhadapan. Indi tetap menunduk, memainkan sebuah batu kecil dengan ujung sepatunya.
“Masih marah?” tanya Kino pelan.
Indi menggeleng. Tetap menunduk dan memainkan batu dengan ujung sepatunya.
“Maaf,” kata Kino, lalu disentuhnya bahu Indi dengan ringan. Sebetulnya ia ingin meremas bahu itu, ingin menegaskan kesungguhan permintaan maafnya. Tetapi banyak orang lain di sekeliling mereka, dan Kino takut Indi malah menjerit membuat onar.
“OK,” ucap Indi pelan sekali, nyaris tak terdengar.
Lalu Kino menjauh, sambil membisikkan, “OK, .. sampai ketemu lagi.”
Indi mengangkat muka sebentar. Tersenyum tipis sekali. Lalu menunduk lagi dan berjalan ke arah yang berlawanan. Dengan cepat jarak antara keduanya melebar, … terus melebar … , sampai akhirnya Indi hilang di tikungan. Kino berdiri termangu di dekat sebuah warung rokok, menunggu angkot berikutnya. Angannya melayang. Hatinya gundah.
Ia merasa segala sesuatunya serba salah. Ia merasa Indi justru lebih dewasa darinya. Ia merasa terlalu cepat menuduh Indi yang bukan-bukan, padahal mungkin dirinya lah yang terlalu bukan-bukan; terlalu cepat mengambil kesimpulan; terlalu cepat menuduh; terlalu ….
Sebuah klakson mobil membuat Kino tersentak dari lamunannya. Terlebih-lebih lagi, suara seorang anak kecil yang menyusul klakson itu! Suara Ria!
“Oom Kucing!” jerit Ria dengan suaranya yang renyai. Kino tiba-tiba merasakan pagi ini berubah indah sekali.
“Hai, Ria!” sahut Kino sambil bergegas mendekati mobil Honda Civic yang menepi itu.
“Ayo masuk!” suara lain terdengar dari dalam mobil. Suara bidadari itu! Jantung Kino seperti melonjak hendak keluar dari dadanya. Buru-buru pemuda itu membuka pintu belakang, tanpa pura-pura tidak mau lagi. Buru-buru ia masuk ke dalam, lupa mengucap salam. Lupa mengatakan apa-apa. Jantungnya terlalu cepat berdebur, sehingga ia susah berbicara.
“Apa kabar?” si bidadari bertanya sambil menebar senyumnya yang mempesona. Duh, Kino mau pingsan rasanya. Dengan gugup ia berucap, “B..b..baik.”
“Oom! Lia cekalang punya kucing benelan … Kucing benelan, lho!”, celoteh Ria ramai, langsung menengok ke belakang dari tempat duduknya di depan.
Lalu mobil melaju. Kino kembali merasa duduk di kereta kencana yang ditarik kuda-kuda terbang. Harum interior mobil kembali menyergap hidungnya, membuat perasaannya tambah tinggi terbang. Segalanya tiba-tiba menjadi begitu indah belaka. Hilang sudah gundah. Hilang sudah risau. Selamat tinggal gelisah.
“Lama tidak berjumpa, ya?!” tegur sang bidadari memotong celoteh Ria yang ramai. Matanya yang berbinar indah itu melirik ke arah Kino lewat kaca spion.
“Ya..ya.. lama juga, ya!” sahut Kino masih gugup. Si bidadari tersenyum simpul, tetap melirik dari kaca spion karena mobil sedang tertahan di sebuah lampu merah.
“Bagaimana kuliahnya?” si bidadari bertanya lagi. Menatap lagi dengan sinar mata yang bak pelangi bertaburan bunga-bunga. Tersenyum lagi dengan kejelitaan dewi yang baru turun mandi dari kahyangan. Uh! Kino sungguh terpesona dibuatnya.
“Baru selesai ujian,” jawab Kino, lalu dia teringat kesalahannya di masa lampau, dan sebelum lupa, ia segera bertanya, “Maaf … nama saya Kino, … nama bida … maksud saya nama mbak siapa?” Uh! hampir saja ia mengatakan “nama bidadari”!
“Panggil saya Tris,” ucap sang bidadari sambil mengalihkan pandangan ke jalan. Mobil melaju lagi karena lampu telah hijau.
Lalu percakapan mulai lancar, diselingi celoteh Ria yang ramai tentang kucingnya yang kini bernama si Empus. Kino merasa lega bahwa kini ia tahu nama bidadari itu, dan tahu bahwa wanita itu bukan bidadari!
Tris … Tris … Tris …, nama itu terus terngiang di kepala Kino sampai ia turun di depan kampus. Kependekan dari Tristantia …. oh, nama yang indah sekali. Seindah lentik bulu matanya. Seindah senyum simpulnya. Seindah gemulai rambutnya. Seindah ….
“Hmmm … mobilnya sudah keluar dari bengkel, ya!” sebuah suara yang sangat dikenal Kino tiba-tiba mengagetkan pemuda itu. Rima sudah berdiri di belakangnya, ikut memandang mobil Tris menghilang di kejauhan.
Kino tidak memperdulikan godaan Rima. Ia membalik, memeluk bahu sahabat tomboy-nya itu, dan merengkuhnya untuk bersama masuk ke kampus. Rima dengan senang hati mengikuti ayunan langkah Kino. Berdua mereka masuk seperti sepasang sahabat sejati. Ah, tapi mereka memang sahabat sejati, bukan?
“Tris ..,” bisik Kino sambil berjalan.
“Heh?! … kamu bilang apa?” sergah Rima sambil menoleh.
“Tidak apa-apa. Aku cuma mendesis!” sahut Kino berbohong. Rima mengernyitkan kening. Aneh sekali pemuda ini, pikirnya. Apalagi kemudian Kino tampak menepuk dahinya sendiri. Pemuda itu masih lupa satu hal: di mana Tris tinggal?
Bersambung…
Pertemuan Tak Terduga dan Kembalinya Indi
Sore itu cerah dan sejuk sekali di kota B; langit tampak terang tetapi angin dingin berhembus membelai pucuk-pucuk pohon besar yang memenuhi kampus. Sambil bersiul-siul sembarangan, Kino meninggalkan ruang kelas, menuju gerbang utama untuk pulang. Tigor dan Ridwan punya acara tersendiri, sementara Rima tidak masuk hari ini karena flu. Kino pun malas pulang ke tempat kostnya, dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar pertokoan pusat kota sendirian, sekedar melihat-lihat pajangan di toko, atau mungkin membeli kaset kalau ada yang bagus.
Senang juga rasanya sesekali berjalan sendirian, tidak terikat teman dan tidak punya tujuan jelas. Kino seakan-akan membiarkan kakinya melangkah tanpa perintah otaknya. Mulanya ia menyusuri toko-toko di pinggir jalan yang berjualan kain, pakaian dan perlengkapan rumah tangga. Sesekali ia berhenti, melihat ada obral jeans, tetapi tidak membeli karena toh masih juga mahal. Kemudian ia masuk ke sebuah mall, membiarkan tubuhnya dibawa lift ke lantai 5, tempat kebanyakan toko musik berada. Di sini dia berlama-lama, melihat-lihat kaset terbaru, tetapi memutuskan untuk tidak membeli.
Lalu ia turun ke lantai dua, tempat sebuah pasar swalayan menggelar barang dagangan mereka seantero lantai. Kino sendiri tidak tahu, untuk apa ia ke sini, karena ia memang tidak bermaksud membeli apa-apa. Atau mungkin membeli minuman ringan, pikir Kino sambil berjalan menuju rak minuman.
Seketika itulah, saat Kino membelok ke gang nomor 5 yang penuh berisi jejeran minuman, dia baru tahu kenapa kakinya melangkah ke swalayan ini. Kakinya ternyata lebih punya insting dibandingkan otaknya. Kakinya ternyata lebih cerdas daripada kepalanya, dan tidak pelu malu kalau ada yang mengatakan “otakmu di dengkul”, bukan? Karena kini di depannya, tidak lebih dari 5 langkah darinya, berdiri Tris, sang bidadari itu! Kino sejenak menghentikan langkah, merasakan jantungnya berdegup keras sekali.
Tris yang sedang memilih-milih minuman sendirian (mungkin Ria menunggu di rumah) segera menengok karena merasa ada orang yang memandangnya.
“Hai!” sapa sang bidadari itu ringan sambil melepas senyumnya yang mempesona, sambil menembakkan sinar matanya yang melebihi tajam sinar laser dalam robot-robot di film Spielberg, sambil mengibas rambutnya dalam gerakan indah seperti penari khayangan itu, sambil…
“Kenapa bengong seperti itu?” ucap Tris sambil memutar tubuh menghadap Kino. Senyumnya masih berkembang seakan-akan tersenyum adalah bagian dari gaya hidupnya.
Kino gelagapan, menyahut sekenanya. Entah apa yang diucapkan, dia sendiri tidak tahu. Kata-kata keluar begitu saja dari mulutnya, dan Kino mengeluh dalam hati, mengapa sekarang semua anggota badanku bergerak sendiri-sendiri. Kakiku melangkah sendiri, kini mulutku juga bertindak serupa. Jantungku apalagi, berdegup cepat tak terkendali.
“Oh, begitu!” sahut Tris sambil tertawa kecil. Ah, Kino mengeluh lagi dalam hati. Apa yang tadi kuucapkan sehingga ia tertawa. Pastilah sesuatu yang konyol!
“Sedang apa?” akhirnya Kino berhasil mengeluarkan kata-kata yang dia kenali artinya.
“Mencari minuman untuk pesta ulang tahun Ria,” kata Tris sambil mulai kembali mengamati jajaran rak di depannya. Kino melangkah mendekat, berdiri di samping kereta belanjaan yang tampak penuh oleh makanan kecil dan permen coklat.
“Ulang tahun ke berapa?” tanya Kino, tak tahu musti bertanya apa lagi.
“Lima,” jawab Tris, membuat otak Kino tiba-tiba berhitung cepat. Kalau Ria berusia lima, berapa usia bidadari ini sebagai ibunya? Mungkin 25, mungkin 30, mungkin 40 … ah, tak mungkin 40. Tak mungkin juga 30.
“Mau beli apa?” tanya Tris.
“Tigapuluh ..,” jawab Kino kembali gelagapan.
Tris menoleh dengan tolehannya yang mempesona itu, memandang Kino dengan matanya yang indah itu, dengan dahi berkernyit. Kino tiba-tiba sadar akan kelancangan mulutnya yang kembali memberontak dari otaknya itu.
Tris tertawa renyai, “Apa yang tigapuluh?” tanyanya masih dengan dahi berkernyit.
“Tigapuluh botol minuman,” ucap Kino sekenanya, “Maksudku, aku sedang berpikir untuk membeli tigapuluh botol minuman…”
Tris menghentikan tawanya, Kino mengeluh dalam hati: duh, janganlah berhenti tertawa!
“Buat apa minuman sebanyak itu?” tanya Tris.
“Aku …,” Kino gelagapan lagi, “Aku tidak bermaksud membeli… Aku baru berpikir untuk membeli.”
Dan Tris tertawa kecil lagi, dan Kino bersukacita lagi mendengar tawa kecil yang merdu itu, “Kamu terlalu banyak berpikir,” kata Tris sambil mengambil beberapa botol minuman beraroma jeruk.
“Bisa aku bantu?” cepat-cepat Kino mengalihkan topik. Dia malu sekali.
Tris tersenyum. Dalam hati, ia berpikir pemuda di sampingnya ini sungguh lucu. Tetapi ia menarik juga. Wajahnya cakep dan air mukanya polos seperti bayi. Apalagi kalau sedang memerah karena malu. Terlebih lagi, pemuda ini kelihatannya baik, terutama karena berhasil menarik simpati Ria. Menurut pengalaman Tris, jarang pemuda bisa menarik simpati Ria yang bandel itu. Entah kenapa, pemuda ini lain.
“Boleh,” jawab Tris, “Tolong ambilkan minuman yang di atas itu. Aku tidak bisa menjangkaunya.”
Dengan sigap Kino memenuhi permintaan bidadarinya. Ia lebih jangkung dari Tris, yang cuma setinggi kupingnya. Hm,.. entah kenapa Kino langsung berpikir tentang bagaimana harus berjalan di sampingnya, dan bagaimana cara terbaik untuk memeluk bahunya. Astaga, memeluk bahunya? Sergah Kino dalam hati, darimana pikiran itu datang. Duh, kini otakku juga memberontak!
Begitulah akhirnya, Kino mengiringi Tris berbelanja memenuhi kereta dorongnya dengan berbagai keperluan pesta. Pemuda ini bersukur dalam hati. Bersyukur bahwa Ridwan dan Tigor punya kegiatan lain. Bahkan bersyukur Rima sakit flu… jahat sekali kamu Kino, sergah hati kecilnya. Terlebih-lebih, ia bersyukur pada kedua kakinya, yang dengan tanpa perintah telah membawanya ke pertemuan ini. Sebuah pertemuan ringan yang sangat berarti bagi Kino. Mengapa? Karena tiba-tiba Tris merasa haus.
“Aku mau minum es kelapa muda,” ucap Tris ketika mereka sedang menunggu giliran membayar di kasir. Kino berdiri di belakang Tris, berdoa agar kasir bekerja selambat mungkin.
“Boleh aku ikut?” ucap Kino dengan keberanian yang menyebabkan lututnya agak sedikit lemas dan jantungnya berdegup keras. Bagaimana kalau ia menjawab “tidak”?
Tris tersenyum tanpa terlihat Kino. Dalam hati, ia mengagumi juga keberanian dan ketegasan pemuda yang tampaknya pemalu ini. Dalam hati pula ia bergumam, mungkin ada baiknya aku mengenal dia. Entah apa perlunya mengenal dia, tetapi entah apa perlunya pula menolak tawaran berteman. Pemuda ini tampaknya baik, pikir Tris, dan tentunya enak juga minum ditemani seseorang. Minimal ada yang mengangkat tas-tas plastik belanjaanku!
“Kamu suka kelapa muda?” jawab Tris tidak langsung meng-iya-kan permintaan Kino.
“Suka. Aku juga suka es alpokat. Atau es campur. Atau es dawet,” sahut Kino dengan lancar. Apa pula maksudnya membuat daftar kesukaan seperti itu.
Tris tertawa kecil lagi dengan langgam dan lagu yang selalu mempesona Kino itu. Ah, hari terasa lebih indah dari biasanya. Tetapi rasanya cepat sekali giliran membayar tiba, dan cepat sekali kasir itu bekerja menghitung belanjaan Tris, lalu belanjaan Kino. Mengapa mereka harus cepat-cepat seperti itu, sergah Kino dalam hati. Pemuda ini masih ingin berdiri lama-lama di belakang Tris, dekat sekali sampai ia bisa mencium keharuman parfumnya yang lembut. Dekat sekali sampai ia bisa melihat samar-samar tengkuknya yang putih mulus dan bahunya yang tak tertutup, melengkung indah bagai patung marmer hasil pahatan maestro Italia.
*****
Warung tempat mereka minum tidaklah terlalu besar dan terletak di lantai dasar mall. Ada sebuah meja dengan dua kursi di dekat jendela kaca besar lewat mana Kino bisa memandangi keramaian di luar. Tris meneguk es kelapa muda dalam gelas besar, dan Kino memilih minuman ringan dingin tanpa es karena alpukat tidak ada dan dawet terlalu mengenyangkan.
“Bagaimana kabarnya Ria?” tanya Kino dengan kesungguhan ingin mendengar cerita tentang anak kecil yang lucu itu. Ini memang bukan basa-basi. Kino memang menyukai anak perempuan itu, seperti ia juga menyukai ibunya. Ah, betapa ganjil rasanya seorang mahasiswa menyukai seorang ibu beranak satu!
“Baik-baik saja,” jawab Tris sambil memainkan sendok, “Tetapi tambah nakal dan tambah banyak permintaanya. Kemarin dia minta dibelikan bebek, katanya untuk ditaruh di bak mandi.”
Kino tertawa, membayangkan betapa nakal dan cerdasnya permintaan itu. Ketika anak-anak lain meminta mainan atau permen, Ria justru meminta bebek. Sebentar lagi anak itu pasti akan meminta kuda poni atau beruang.
Lalu Tris bercerita panjang lebar tentang anak itu, dan Kino dengan senang hati mendengarkannya. Mulai dari kebiasaan buruk Ria menggigit ujung bajunya, sampai kesukaan Ria pada telur mata sapi yang disiram kecap manis, sampai ke kamarnya yang tidak pernah rapi. Kino terpesona, menopang dagu di tangannya, memandang bidadari di hadapannya berkicau ramai dengan penuh semangat. Terutama, Kino terpesona melihat muka Tris yang selalu tampak bercahaya-cahaya. Lebih dari sekali pemuda ini tidak menyimak satu pun kalimat Tris karena terpaku pada wajahnya.
Setelah beberapa lama bercerita, Tris pun sadar bahwa Kino tidak terlalu menyimak. Ia juga tiba-tiba malu sendiri karena memborong pembicaraan. Tetapi yang lebih membuatnya berkesan adalah cara pemuda di hadapannya ini memandang dirinya. Tris tahu, dirinya adalah seorang wanita yang menarik. Hidup telah mengajarinya, sejak kecil, bahwa ia lahir dengan kecantikan yang mempesona. Orang-orang di sekelilingnya telah menunjukkan padanya kekaguman yang terkadang berlebihan. Maka kalau Kino terpesona, Tris tak terlalu heran. Yang membuatnya berkesan justru adalah cara pemuda ini menyatakan kekagumannya. Pemuda ini mengungkapkannya dengan halus, menyembunyikannya di balik kegugupan dan kecanggungannya, membuat Tris merasa lebih dihargai.
“Kenapa kamu memandang seperti itu?” ucap Tris tiba-tiba di tengah ceritanya. Ia sengaja ingin “menembak” pemuda ini, ingin melihat reaksinya. Kino pun memperlihatkan reaksi alamiahnya.
“Eh … ya.., aku,” jawab Kino tergagap, “Apa?”
Tris tertawa lepas, tidak saja dengan mengeluarkan suaranya yang renyai merdu itu, tetapi juga dengan matanya yang berbinar, dengan bibirnya yang basah, dengan rambutnya yang tergerai lepas, dengan bahunya yang berguncang-guncang mempesona. Kino benar-benar tak sanggup berkata-kata berhadapan dengan mahluk yang sejak lama memenuhi mimpinya ini.
“Kamu terlalu sering bengong. Apakah di kuliah mu ada pelajaran bengong?” ucap Tris setelah berhasil menghentikan tawanya. Kino menunduk, merasakan mukanya terbakar. Sialan, sergahnya dalam hati, bidadari ini ternyata nakal juga.
“Dan kamu juga memandang saya seperti memandang mahluk angkasa luar,” sambung Tris lagi sambil menahan tawa melihat Kino mati kutu seperti itu. Senang juga rasa hatinya menggoda pemuda cakep yang pemalu ini. Lagipula, ia diam-diam ingin menguji mental pemuda ini. Entah kenapa, banyak sekali yang ingin dilakukannya terhadap pemuda ini. Tris, bisik hati kecilnya, hati-hati lah dengan kesenanganmu. Tetapi kenapa musti hati-hati?
Kino akhirnya memberanikan diri memandang lurus ke mata Tris. Dia menghela nafas dalam-dalam, berharap agar jantungnya bisa berdetak lebih perlahan. Lalu ia menyusun kekuatan hati, sebelum akhirnya berucap pelan tetapi cukup jelas, “Kamu memang seperti bidadari.”
“Apa?” kini giliran Tris yang terkejut. Pemuda ini punya keberanian juga rupanya!
Kino mengumpulkan lagi kekuatan hatinya, lalu berucap lebih keras, “Kamu seperti bidadari.”
Tris menghentikan tawa dan senyumnya. Oh, bisiknya dalam hati, pemuda ini mengucapkan kalimat itu seperti sedang mengucapkan sumpah perkawinan. Pelan tetapi tegas. Lembut tetapi penuh kesungguhan. Nah, apa yang akan kau lakukan dengan pemuda ini, Tris! Sergah hati kecilnya. Kini sudah kau terima jawabannya, apa yang akan kau lakukan?
Kino kuatir melihat Tris tiba-tiba diam dan mengubah tidak saja sinar mukanya tetapi juga duduknya. Kini bidadari itu tidak lagi duduk santai, melainkan menegakkan tubuhnya dan mencurahkan perhatian ke minumannya.
“Maaf,” buru-buru Kino berucap hampir tak terdengar. Ia kuatir bahwa ucapannya terlalu lancang. Ya, memang tidak lumrah mengucapkan kata-kata seperti itu kepada seorang wanita yang sudah bersuami dan beranak satu, bukan?
Tris berdehem membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa gatal. Lalu ia tersenyum, merasa agak menyesal harus memulai permainan yang kini ternyata tidak begitu lucu itu. Ucapannya juga pelan nyaris tak terdengar, “Tidak apa-apa.”
Lalu kecanggungan memenuhi mereka, dan Kino menyesal bersikap terlalu terus terang. Lihatlah apa yang kau lakukan Kino, kau merusak suasana dengan ucapan lancangmu itu. Hatinya penuh dengan makian-makian. Oh, pikir Kino risau, kini hatiku pun ikut berontak terhadap diriku.
Lalu minuman Tris habis tandas dan ia mengatakan sebaiknya ia pulang karena hari sudah mulai gelap. Kino tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk memperbaiki suasana. Dengan enggan ia bangkit, memaksa untuk membayar minuman tetapi gagal, karena Tris menolak dan menganjurkan untuk membayar sendiri-sendiri. Kino semakin risau dan menyimpulkan tindakan Tris itu sebagai reaksi atas kelancangannya.
Lalu mereka pun berpisah. Tris naik taksi dan bahkan tidak menawarkan kepada Kino untuk ikut serta. Pemuda ini semakin terpukul walaupun ia berusaha keras menyembunyikan perasaannya dengan terus menerus tersenyum. Pastilah senyuman itu tidak bagus sama sekali.
Tris melambai dari dalam taksinya. Dilihatnya Kino berdiri di trotoar memandang terus ke taksinya sampai taksi itu hilang di tikungan. Hmm, pikir Tris dalam hati, pemuda itu pasti menyangka aku marah. Sebuah senyum manis terkembang di bibirnya. Mungkin ada baiknya ia membiarkan pemuda itu berpikiran bahwa dirinya marah. Tris ingin tahu, apa yang akan dikerjakannya. Ah, kadang-kadang ia merasa dirinya terlalu sadis, suka mempermainkan perasaan orang.
“Mau kemana, non?” tiba-tiba ucapan supir taksi membuyarkan lamunan Tris. Astaga, taksi ini berjalan keluar dari pelataran parkir mall, tetapi tidak tahu hendak kemana. Tentu saja, Tris belum menyebutkan alamatnya. Maka buru-buru ia mengucapkan tujuan dan berbisik dalam hati, hei … ternyata kamu sendiri juga terpikat pada pemuda itu. Sialan, sergah Tris dalam hati, kesimpulan itu terlalu cepat. Tetapi, hmmm .. bagaimana kalau kesimpulan itu benar?
**********
Malam itu Kino tidak bisa tidur sampai menjelang fajar. Ketika akhirnya ia tertidur, mimpinya pun menggelisahkan. Ia bermimpi didatangi seorang lelaki yang mengaku adalah suami Tris. Lelaki itu memperingatkan Kino agar jangan sekali lagi mendekati istrinya. Lebih celaka lagi, lelaki itu datang bersama Ria yang ikut-ikutan memarahinya. Anak kecil itu mengatakan bahwa ibunya tidak suka kepada Kino.
Kino terbangun dengan tubuh penuh keringat. Kepalanya juga terasa sangat berat karena tidurnya tidak cukup. Ia bangkit hendak menuju kamar mandi karena harus kuliah. Tetapi keinginan tersebut dibatalkannya. Ia kembali ke dipan dan meringkuk meneruskan tidurnya. Biarlah ia membolos sekali ini, besok akan meminjam saja catatan Tigor atau Ridwan.
Tengah hari baru ia terbangun dengan perut lapar. Ibu kost tampak kuatir melihat Kino keluar dari kamarnya dengan wajah kusut masai. Ibu itu bertanya apakah Kino sakit, dan pemuda itu menjawab bahwa ia cuma kurang tidur.
“Tetapi wajahmu seperti mayat hidup,” ucap ibu kost yang baik hati itu.
“Mungkin karena saya lapar saja, bu,” jawab Kino, membuat wanita tua itu langsung sibuk menyiapkan meja dan menuju dapur. Kino merasa tidak enak dibuatnya. Ibu ini terlalu baik.
“Biarlah, bu. Saya bisa mengambil sendiri,” ucapnya sambil menyusul ke dapur.
********
Sehabis makan siang, Kino memutuskan untuk membaca saja di kamar. Tetapi ketika ia sedang membersihkan dan membereskan tempat tidurnya, terdengar ketukan pelan di pintu. Kino yang sedang membelakangi pintu menyangka itu ibu kost, maka ia berucap tanpa menoleh, “Sayur lodehnya enak sekali, bu.”
“Ini Indi, kak!” suara gadis itu terdengar nyaring bagai petir di siang bolong.
Kino hampir terlompat, membalikkan tubuhnya. Indi berdiri di ambang pintu, membentuk siluet berlatar belakang terik siang di luar sana. Kino memicingkan matanya, seakan ingin memastikan bahwa itu memang Indi.
“Kata Ibu kost, Kak Kino tidak kuliah dan ada di kamar,” ucap Indi masih berdiri di ambang pintu, “Maaf kalau Indi mengganggu..” (tentu saja, ini bukan Indi yang biasanya. Sejak “peristiwa lompat jendela” beberapa waktu yang lalu, Indi tidak lagi centil dan bahkan terlalu sopan).
“Eh, Indi!” ucap Kino dengan rasa kaget yang orisinal, tidak dibuat-buat, “Tumben ke sini. Ayo masuk.”
Dengan canggung Indi melangkah masuk. Di tangannya ada sebuah buku dan sebuah pena. Pasti PR matematika, pikir Kino. Dan betul saja.
“Boleh tanya soal matematik, Kak?” ucap Indi dengan suara ragu-ragu, tidak dengan manja seperti biasanya. Ah, Kino sebenarnya ingin Indi kembali seperti semula. Tidak wajar rasanya mendengar suara Indi yang serba formal itu.
Kino tersenyum semanis mungkin dengan harap dapat mencairkan suasana. Lalu ia melangkah mendekat, meraih tangan Indi dan menuntunnya ke meja belajar dekat jendela. Indi menurut saja dan duduk sopan di bangku yang tersedia. Kino permisi sebentar keluar untuk mengambil kursi lain. Ketika pemuda ini kembali, Indi masih duduk diam-diam. Biasanya, gadis ini sudah bergulingan di dipannya!
Lalu Kino dengan sabar menuntun Indi menjawab 20 soal matematika di buku PR-nya. Tidak seperti biasanya, soal-soal ini memang benar sulit. Artinya, Indi memang benar-benar memerlukan bantuan, bukan sekedar mengganggunya. Dalam hati Kino tersenyum, merasa senang bahwa akhirnya hubungan mereka membaik kembali.
“Boleh Indi tanya sesuatu, kak?” kata Indi ketika soal terakhir sudah selesai. Buku PR sudah ditutup.
“Boleh,” jawab Kino pendek sambil membersihkan bekas-bekas rautan pensil yang tadi dipakainya untuk mencoret-coret jawaban.
“Kenapa waktu itu Kak Kino marah?” tanya Indi dengan suara pelan. Terlalu pelan untuk gadis yang biasanya centil itu.
Kino terdiam. Sungguh ia tidak berharap Indi bertanya tentang soal yang satu itu. Ia sendiri sampai sekarang belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi malam itu. Tetapi Kino juga lega karena akhirnya ia punya kesempatan untuk mendiskusikan hal ini dengan Indi.
“Aku juga tidak tahu, Indi,” jawab Kino akhirnya, terus terang dan apa adanya.
Indi mengangkat mukanya, menggigit bibirnya yang ranum seperti sedang berusaha menahan sesuatu. Matanya yang sebenarnya memang indah itu tampak agak basah. Ah, jangan itu lagi Indi. Jangan menangis lagi. Sergah Kino dalam hati.
“Aku sudah minta maaf, bukan?” ucap Kino buru-buru.
“Indi juga minta maaf,” ucap gadis itu pelan, lalu menunduk memainkan ujung baju seragamnya. Kino tak tega juga rasanya melihat Indi menjadi murung begitu. Maka dengan lembut disentuhnya bahu Indi.
“Sudahlah, Indi. Kita lupakan saja peristiwa itu. Sekarang Indi bisa ke sini lagi seperti biasanya, dan kita bisa berteman lagi” kata Kino.
“Tetapi Indi tidak bisa melupakan peristiwa itu,” jawab gadis itu.
Kino menghela nafas panjang, “Baiklah. Tetapi jangan sampai membuat kamu berubah seperti ini”
“Seperti apa?” tanya Indi, matanya masih berkaca-kaca.
“Seperti ini,” ucap Kino sambil mengembangkan tangannya, “Terlalu dibuat-buat, terlalu formal. Tidak seperti biasanya.”
“Kak Kino ingin Indi seperti apa?”
Ups! Kino tiba-tiba sadar bahwa gadis ini sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius. Terlebih lagi, pertanyaan terakhir ini ternyata sulit: seperti apa Kino ingin Indi bersikap?
“Kembali seperti biasa, lah,” jawab Kino sekenanya sambil berpikir keras untuk menyiapkan jawaban berikut, karena ia tahu Indi bukan gadis yang gampang menyerah.
“Seperti dulu lagi?” tanya Indi.
“Iya. Seperti dulu lagi …,” ucapan Kino tak selesai, mengambang di tengah-tengah.
“Manja dan nakal?” tanya Indi. Wajah gadis ini menunjukkan kesungguhan. Mati aku, sergah Kino dalam hati. Gadis ini ternyata sama seriusnya dengan hakim di pengadilan yang sedang menanyai terdakwa.
“Iya… ya. Begitulah,” kata Kino cepat-cepat. Ia bangkit hendak membuang bekas rautan pensil, dan melakukannya dengan seperlahan mungkin agar bisa selama mungkin menjauh dari Indi yang masih duduk tegak di kursi.
“Tetapi Indi dulu suka sekali kepada Kak Kino. Apakah masih boleh begitu?” tanya Indi lagi. Ah, ini pertanyaan yang amat sulit buat Kino.
“Boleh saja,” sahut Kino sambil pura-pura membereskan buku-buku di rak dinding dekat pintu keluar.
“Boleh minta dicium lagi, misalnya?” tanya Indi pelan, tetapi benar-benar terasa seperti dinamit meledak dekat telinga Kino.
Kino terpaku di tempatnya berdiri. Keduanya saling memunggungi. Kino berpikir keras untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi ia tidak bisa melihat Indi tersenyum kecil walau matanya masih basah. Gadis ini merasa “menang angin”.
Setelah sekitar dua menit, akhirnya Kino berbalik, berjalan mendekat ke meja dan menghenyakkan tubuhnya di kursi. Indi mengangkat muka, memandang dengan matanya yang menusuk tajam ke hati Kino. Nah, begitulah akibatnya kalau menganggap enteng anak SMA, pikir Kino penuh penyesalan.
“Kak Kino tidak ingin Indi seperti dulu lagi, bukan? Tidak ingin Indi menyukai Kak Kino dan minta dicium. Tak ingin Indi masuk kamar seenaknya lalu tidur di kasur Kak Kino,” ucap gadis itu dengan lancar.
Kino terpana. Ya. Memang itulah yang diinginkannya. Kenapa ia tidak berani mengucapkannya. Karena kau tak ingin Indi berhenti manja kepadamu! Sergah hati kecilnya.
“Kak Kino tidak suka sama Indi, bukan?” tanya gadis itu lagi melihat Kino diam saja.
Kino menghela nafas panjang, menghembuskannya keras-keras, lalu ia menggeleng-geleng dengan kuat. “Tidak,” katanya, “Kakak suka sama Indi, tetapi juga takut kalau rasa suka itu berubah menjadi peristiwa seperti malam itu.”
“Kenapa takut?” tanya Indi.
“Karena kamu bisa hamil!” sergah Kino, lega bisa berucap terus terang.
“Tetapi kita tidak melakukan hubungan kelamin,” Indi bersikeras.
“Tetapi kamu membuka celana,” sahut Kino cepat.
“Tetapi semua anak laki selalu ingin membuka celana Indi,” sahut Indi tak kalah cepat.
“Ya ampun, Indi!” Kino menepuk dahinya sendiri, “Berapa, sih, anak laki-laki yang pernah ingin membuka celanamu?”
“Hmmm …,” Indi memejamkan matanya seperti berpikir keras, tiba-tiba ia sudah berubah menjadi centil lagi. Astaga, gadis ini cepat sekali berubah, sergah Kino dalam hati. Dan kemana sebetulnya arah pembicaraan ini?
“Delapan!” ucap Indi sambil membuka matanya. Kino tersentak. Gila, dia sudah punya delapan mantan pacar!
“Kenapa kamu ungkapkan semua ini, Indi,” ucap Kino lirih, “Apa yang ingin kamu diskusikan? Seks?”
Indi mengangguk. Kino terpana lagi. Celaka, kenapa aku harus punya tetangga centil dan cerdas seperti ini, keluhnya dalam hati.
“Indi ingin tahu, kenapa Kak Kino tidak meneruskan tindakan malam itu setelah tahu Indi sudah tidak bercelana dalam,” ujar gadis itu lancar, seakan-akan sedang bertanya tentang kenapa rumput warnanya hijau, atau kenapa ular tidak berkaki.
“Karena …,” Kino berhenti berucap. Ia tak tahu harus berkata apa.
“Kenapa Kak Kino tidak meraba-raba Indi di bagian itu, padahal Indi tak keberatan,” potong Indi melihat Kino tak melanjutkan ucapannya.
“Karena …,” Kino berhenti lagi. Ia betul-betul kehabisan kata-kata. Indi membawa persoalan yang jauh lebih sulit dari matematika tersulit yang pernah dipecahkannya.
“Apakah karena Kak Kino tidak pernah melakukannya? Maksud Indi, tidak pernah meraba-raba di bagian sana?”
“Aku pernah!” sergah Kino. Tetapi cuma itu yang bisa dikatakannya.
“Dengan siapa?” Indi mendesak dan tampak tenang-tenang saja. Bahkan kini duduknya pun tidak lagi tegak, melainkan sudah lebih santai.
“Dengan pacarku, tentunya!” sergah Kino lagi, “Tetapi sekarang sudah putus …,” sambungnya cepat. Ah, betulkah ia sudah putus dengan Alma ..
“Pacar Kak Kino senang diraba-raba di bagian itu?”
Kino bangkit tergesa-gesa, kursinya sampai terguling berkelontangan. Indi tersenyum melihat pemuda ini gelisah oleh pertanyaan-pertanyaannya. Dan Kino pun sadar Indi sedang menghukumnya, sedang membalas perlakuannya malam itu. Kini Kino sadar, apa yang dimaksud dengan “tak bisa melupakan” di kalimat Indi sebelumnya.
“Aku tak mau menjawab pertanyaanmu lagi!” sergah Kino akhirnya sambil mengembalikan kursi ke posisi semula.
Dari nada suaranya, Indi tahu Kino tidak marah. Ucapan itu lebih berupa pernyataan menyerah daripada marah.
“Jadi, Kak Kino tidak mau lagi mencium Indi, atau meraba-raba Indi, bukan?” ucap gadis itu sambil bangkit perlahan dan mendorong kursinya dengan rapi. Didekapnya buku PR matematika di dadanya, lalu ia memutar tubuh menuju pintu keluar.
Kino terpaku di tempatnya berdiri, memandang Indi perlahan-lahan meninggalkan kamar. Ah, rasanya ada yang belum selesai dalam diskusi ini, tetapi apa? Ucap Kino dalam hati. Terburu-buru, ia menahan Indi pergi, “Jangan pulang dulu,” katanya.
Indi berbalik di ambang pintu, kembali membentuk siluet dengan latar belakang terik siang di luar sana. Kino mendekat, meraih tangan gadis itu, dan menariknya kembali ke dalam. Lalu, dengan tanpa rencana sama sekali, gadis itu sudah ada dalam pelukannya. Tanpa rencana pula, bibir gadis itu telah diciumnya. Dilumatnya dengan gemas. Tanpa rencana sama sekali, pintu kamar tiba-tiba tertutup dengan suara berdebam.
“Kak Kino..,” desah Indi ketika pemuda itu merenggangkan ciumannya, tetapi segera gadis itu terdiam lagi karena Kino kembali melumat bibirnya yang ranum membasah.
Tangan gadis itu tahu-tahu sudah memeluk leher Kino. Buku dan bolpennya jatuh berserakan di lantai. Matanya yang tadi basah kini terpejam. Indi merasa tubuhnya seperti segumpal kapas ringan yang terbawa angin terbang tinggi. Sebersit rasa nikmat yang telah lama dikenalnya kini muncul lagi di dalam tubuhnya. Ia membuka mulutnya, membiarkan lidah Kino dengan liar bermain-main di dalamnya. Ia membalas setiap pagutan pemuda itu, membiarkan tubuh keduanya pelan-pelan terbakar birahi.
Kino pun tak tahu apa yang terjadi dengannya. Begitu cepat segalanya berlangsung. Tahu-tahu tangannya sudah berada di balik beha Indi, di balik baju seragamnya yang kini sudah terbuka setengahnya. Nikmat sekali rasanya memegang daging kenyal yang membukit itu. Telapak tangannya terasa geli menyentuh puting Indi yang segera tegak tegang. Dengan gemas Kino meremas, membuat Indi mengerang pelan. Kino meremas lagi lebih keras. Indi mengerang lagi, kini disertai desah gelisah dan nafas yang semakin memburu.
Perlahan-lahan, dengan terhuyung-huyung, keduanya bagai sepakat melangkah ke arah ranjang. Tak lama kemudian, keduanya sudah bergulingan di dipan yang belum lagi sempat dirapikan itu. Kino menindih tubuh Indi sambil terus melumat bibirnya.
Terus terang, bibir Indi sangat menggairahkan untuk dilumat dikulum. Ranum dan basah bagai mangga muda yang siap dirujak. Nafasnya harum memenuhi hidung Kino, membuat pemuda ini semakin mabuk kepayang. Tangannya masih pula bermain-main di dada Indi yang kini sudah terpampang terbuka, menjulang indah bergerak turun naik seirama nafasnya yang memburu. Dengan telunjuk dan jempolnya, Kino menjepit puting Indi, memilin-milinnya perlahan tetapi juga gemas.
Indi melepaskan mulutnya dari pagutan Kino karena ia ingin mengerang merasakan rasa geli yang nikmat bercampur sedikit perih datang dari puncak payudaranya, “Ngggg … aaah!”
Kino menciumi leher gadis itu, yang selalu harum sabun wangi bercampur kelembutan bayi. Perlahan digigitnya sedikit leher jenjang itu. Indi menggelinjang. Kino menggigit lagi lebih keras. Indi mengerang, berusaha menjauhi lehernya dari gigitan Kino, tetapi tidak sungguh-sungguh berusaha. Gadis itu menggelinjang lagi, merasakan dadanya diremas-remas oleh tangan Kino yang kini seperti menyebarkan bara hangat ke seluruh tubuhnya.
Tangan Indi kini merasuki rambut Kino yang mulai gondrong, lalu pelan-pelan dara itu mendorong kepala Kino ke bawah. Setengah memaksa, setengah meminta, Indi terus mendorong hingga akhirnya mulut Kino tiba di lembah payudaranya. Oh, terasa hangat nafas Kino memenuhi dada Indi. Oh, terasa semakin geli gatal puncak-puncak payudaranya, menunggu mulut yang nakal dan basah itu. Indi pun mengerang lagi, bahkan kemudian berbisik, “Ayo, Kak … gigit lagi….”
Dan Kino pun menggigit, menyebabkan Indi menggeliat sambil mendesis menyatakan rasa nikmatnya. Lalu Kino mengangkat kepalanya, menciumi puncak payudara Indi, terutama di pangkal putingnya. Indi menggeliat lebih hebat lagi, merasakan betapa kegelian itu bagai berpusing-pusing di puncak payudaranya. Bagai angin puting beliung yang menderu-deru memenuhi dadanya.
Apalagi kemudian Kino mengeluarkan lidahnya, menjilati pangkal puting dan daerah lingkaran berwarna coklat tua itu. Oh, Indi merasa dirinya dilambungkan ke langit luas. Apalagi lalu lidah itu naik ke puncak putingnya, …. Oh! … Indi menggeliat kuat, menyorongkan dadanya, sehingga mau tak mau Kino menerima puting itu di dalam mulutnya. Kino langsung menyedot kuat …. Dan Indi merasa tubuhnya seperti meledak oleh kegelian-kegatalan.
“Oooooooh! … terus Kak,” Indi mengerang mendesah, “Terus, Kak…. Ooooh!”
Lalu Indi merasakan kenikmatan yang amat kuat seperti mendesak keluar dari dadanya, turun ke bawah menuju perutnya, terus ke bawah memenuhi pinggulnya, sebelum akhirnya bermuara di antara dua pahanya yang kini bergetar. Dengan tak sadar, Indi merenggangkan kakinya, lalu memeluk pinggang Kino dengan kakinya, menarik bagian bawah tubuh pemuda itu semakin rapat ke tubuhnya. Roknya sudah tersingkap tak karuan, menampakkan kedua pahanya yang mulus dan ditumbuhi rambut-rambut halus yang nyaris tak terlihat.
Kino merasakan pinggulnya bagai dijepit kepiting raksasa. Perutnya terasa hangat menempel di perut Indi yang terbuka. Celana jeans-nya terasa sangat sempit, terutama di bagian depan. Sejak mencium tadi, kejantanan Kino telah tegak-tegang dengan sendirinya. Kini kejantanan itu terjepit di antara lembah hangat yang tertutup nilon tipis. Nyaman sekali rasanya. Geli dan gatal pula. Kino pun mengerang.
Sambil terus menghisap-menyedot tonjolan kenyal di dada Indi, pemuda ini pun menggerakkan pinggulnya berputar-putar. Bagi Kino rasanya memang tidak begitu leluasa, mengingat jeans yang dikenakannya terlalu tebal. Tetapi bagi Indi, gesekan jeans yang menyembunyikan tonjolan keras hangat itu sangatlah menimbulkan gairah.
Indi merasakan selangkangannya mulai basah dan ada rasa gatal yang minta digaruk di bawah sana. Ia pun mengeratkan jepitan kedua pahanya, menekan Kino lebih lekat lagi terhenyak ketubuhnya.
Indi merasakan geli-gatal itu kini bercampur rasa ingin buang air kecil, penuh desakan-desakan yang menggelisahkan. Ia memejamkan matanya kuat-kuat, tersengal-sengal bernafas karena dadanya terasa sesak, jantungnya berdegup makin kencang.
Seluruh tubuhnya meregang setiap kali Kino menggerakkan pinggulnya dan rasa geli-gatal itu kini menyebar keseluruh tubuhnya. Sebentuk desakan amat kuat terasa di bagian dalam kewanitaannya, yang kini seperti diremas-remas oleh tonjolan di celana jeans Kino itu. Indi mengerang keras sambil meregangkan kedua pahanya lebar-lebar, menyebabkan pemuda itu lebih leluasa bergerak.
Kino bergerak makin keras dan kasar. Tidak saja berputar-putar, tetapi juga mendorong mendesak ke depan, menyebabkan pantat Indi semakin terbenam di kasur. Gadis ini meregangkan kedua kakinya selebar mungkin. Satu tangannya mengait lututnya sendiri, sementara tangan yang lain mencekram rambut Kino.
Tubuhnya melenting ketika ia tak kuasa lagi menahan desakan yang tampak bagai ingin menjebol pinggulnya itu. Ia menyerah, membiarkan sebuah aliran hangat seperti menyebar cepat di dalam kewanitaannya, dibarengi rasa nikmat yang luar biasa.
“Aaaaah…… Kak Kino……. Ooooooooh!” Indi mengerang keras, “Aaaaaah!”
Tubuh gadis ini lalu berguncang hebat, mula-mula hanya di pinggulnya, tetapi lalu juga di seluruh tubuhnya. Kino ikut terguncang tetapi ia tetap berusaha berada di atas tubuh gadis itu. Indi mengerang, mengeluh, mendesah, mendesis panjang. Tubuhnya bagai dipenuhi per yang membuatnya melenting melambung di atas kasur. Dipan pun berderit ramai membuat Kino kuatir terdengar ibu kost.
Lalu gadis itu terkulai lemas, seakan kehilangan seluruh tulang di tubuhnya. Matanya masih terpejam dan seluruh wajahnya berona merah seperti kepiting rebus. Mulutnya sedikit terbuka, menghamburkan nafas yang masih memburu. Dadanya yang telanjang tampak agak berkeringat, turun naik dengan cepatnya. Sungguh seksi pemandangan ini bagi Kino, yang masih menempel erat di tubuh dara itu, dengan kedua tangan mencekal serta menekan pergelangan Indi di kasur. Seperti seorang polisi yang menerkam dan menahan penjahat agar tidak berontak kabur.
Lalu nafas Indi mereda, dan ia membuka matanya, memandang Kino yang sedang termangu memandang wajah gadis itu. Manis sekali Indi dalam keadaan seperti ini. Rambutnya yang legam bagai membingkai wajahnya yang oval. Bulu matanya lentik, dan ada lesung pipit kecil di pipinya. Pelan-pelan senyum Indi mengembang.
“Berisik sekali kamu,” kata Kino sambil tersenyum pula.
“Sorry! Indi lupa diri…” bisik Indi manja. Ia sudah kembali seperti semula: centil dan penuh senyum manja menggoda. Kino pun sadar, gadis ini punya daya tarik yang tak bisa dianggap remeh.
Entah kenapa, birahi Kino sirna secepat datangnya. Melihat wajah manis manja di depannya, melihat tingkahnya yang terbuka dan tulus, Kino tiba-tiba merasa tak patut melanjutkan permainan berbahaya ini. Tetapi setidaknya ia berhenti pada saat yang tepat, tidak seperti sebelumnya saat Indi justru sedang mendaki puncak asmara.
Indi melepaskan diri dari cengkraman tangan Kino yang memang juga membiarkannya lepas. Lalu gadis itu mengembangkan tangannya, mengundang Kino ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan erat, Indi memejamkan mata sambil tersenyum puas. Kino merasakan kedua bukit kenyal Indi terhenyak di dadanya, menimbulkan kesan indah tersendiri yang tidak cuma berisi birahi tetapi juga kelembutan.
“Indi suka sekali sama Kak Kino,” bisik gadis itu.
“Tetapi kita tak bisa begini terus, Indi,” jawab Kino pelan sambil mengusap sayang rambut gadis di pelukannya itu. Terasa oleh Kino gadis itu mengangguk.
“Kamu mengerti, bukan?” ucap Kino lagi sambil berdoa semoga tidak ada diksusi lanjutan di atas tempat tidur dalam keadaan seperti ini.
“Mengerti boss!” kata Indi jenaka. Ah, ia telah kembali ke formatnya semula, pikir Kino gembira. Indi yang dulu telah kembali seperti sediakala. Kini persoalannya ada pada Kino kembali: apakah ia sanggup bersikap tegas terhadap gadis ini. Apakah aku bisa dengan tegas menyatakan pendirianku di depannya, tanya Kino gelisah dalam hati.
“Sebaiknya sekarang kamu pulang,” ucap Kino sambil melepaskan pelukannya. Indi pun melepaskan diri dan dengan tenang mengenakan kembali beha dan mengancing baju seragamnya.
“Apakah Indi masih boleh ke mari lagi?” tanya gadis itu sambil merapikan rambut dengan jemarinya.
Kino tersenyum lalu mencubit pipi Indi yang masih agak merona merah. Ia tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi mengangguk pelan dan samar.
“Indi mendapat PR matematika setiap hari, lho!” ucap gadis itu dengan mata yang dilebarkan.
“Boleh. Tetapi kita kerjakan di meja makan, di ruang tengah,” jawab Kino kalem.
“Bagaimana kalau PR itu harus dikerjakan hari Sabtu?” kata Indi sambil bangkit dan merapikan roknya.
“Kenapa memangnya?”
“Boleh mengerjakannya malam-malam di kamar Kak Kino?”
Sialan, sergah Kino dalam hati. Tentu saja, itu adalah malam minggu! Kino bangkit dan mendorong bahu gadis Indi, menyuruhnya keluar sambil tersenyum menyadari betapa ia kalah cerdik oleh gadis itu dalam soal-soal yang seperti ini.
“Boleh atau tidak?” desak gadis itu di ambang pintu yang sudah dibuka Kino lebar-lebar.
“Tidak,” jawab Kino pendek sambil menatap kedua mata Indi yang juga sedang lekat memandangnya.
“Benar-benar tidak boleh?”
Kino menggeleng. “Benar-benar tidak boleh,” katanya sambil mendorong lagi Indi agar melangkah keluar. Mereka lalu berjalan beriringan keluar. Kino mengantar sampai pagar lalu berbalik tanpa menjawab lambaian tangan Indi, tanpa mempedulikan pula cibiran gadis itu. Tiba-tiba ia merasa mengantuk sekali. Merasa letih sekali. Kejadian-kejadian dua hari ini membuat Kino merasa tak berdaya. Ia ingin segera tidur kembali.
Bersambung…
Rahasia Ridwan dan Petualangan Pun Dimulai
Suatu siang di kantin kampus yang ramai oleh celoteh mahasiswa, Ridwan mengajak Kino duduk berdua di sebuah pojok. Heran juga Kino dibuatnya, persoalan penting apa yang hendak disampaikan karib sekaligus “saingan”-nya ini?
“Kalau mau ngomong soal ujian jangan di sini, lah!” protes Kino tetapi membiarkan tangannya diseret Ridwan.
“Bukan soal ujian, tetapi soal yang lebih penting lagi,” kata Ridwan dengan muka serius. Pemuda ini jarang serius, dan kalaupun serius pasti ada maunya. Misalnya, pemuda ini sering meminta pendapat tentang gadis yang ditemuinya di jurusan lain, atau di kampus lain.
Ridwan terkenal sebagai play boy kampus yang berganti pacar hampir sama seringnya dengan ia berganti baju. Maklum, wajahnya ganteng dan mobil VW kodok mulus berwarna merah darahnya sangat memikat mata. Tetapi Ridwan selalu bertanya kepada Kino, bukan hanya untuk meminta pendapat, tetapi juga untuk menyampaikan semacam claim agar Kino tak berpikir untuk bersaing dengannya. Maklum, Kino termasuk urutan kedua dalam soal kegantengan, walau nomor terakhir dalam soal mobil.
“Soal si Anggi dari fakultas ekonomi di Universitas P itu, kan?” tebak Kino, karena seingatnya Ridwan terakhir kali tampak berjalan dengan dara tinggi berambut sebahu itu kira-kira 5 hari yang lalu. Dalam hemat Kino, pastilah Ridwan sudah menemukan penggantinya. Jarang ada gadis berada di samping Ridwan lebih dari 5 hari!
“Bukan!” sergah Ridwan sambil terus menarik Kino ke pojok yang agak sepi.
“Permisi!” kata Ridwan lagi kepada dua mahasiswa yang dari tampang dan tingkahnya jelas beberapa tingkat di bawah mereka. Dan kalau Ridwan bilang “permisi” seperti itu (suaranya keras dan lantang), maka artinya “minggir kalian”. Kedua mahasiswa yang tadinya duduk itu pun tampaknya mengerti bahasa sang senior. Mereka ngeloyor pergi tanpa basa-basi.
Kino duduk menghadap tembok. Ridwan duduk di sisi kiri, meletakkan kedua tangannya di meja dengan posisi sangat serius.
“Ada apa, Rid. Kamu tidak mau mengajak bertanding panco, kan?” tanya Kino tak sabar.
“Aku mau bicara soal Tris!” ucap Ridwan. Suaranya tenang, pelan, tetapi juga tegas. Kino langsung terperangah. Mulutnya terbuka tetapi kerongkongannya tersekat. Dari mana pemuda ini tahu tentang Tris? Ia bahkan belum pernah menyebut nama bidadari itu di kampus atau di manapun. Nama Indi sering ia sebut; tetapi Tris? .. belum pernah sekali pun. Bahkan Rima yang sering melihat Kino turun dari mobil Tris pun tidak pernah tahu nama bidadari itu.
“Dengan mulut terbuka seperti itu, kau persis keledai bego!” sergah Ridwan, dan Kino buru-buru menutup mulutnya. Tetapi sesungguhnyalah ia merasa amat bego. Jadi, pikir Kino, kini Ridwan adalah sainganku!
“Aku kenal Tris, walaupun ia tidak begitu mengenalku, dan tidak tahu aku satu kelas dengan mu,” ucap Ridwan. Kino terdiam. Pantas, belum sekali pun Tris menyebut nama seseorang yang dikenalnya di kampus, walau bidadari itu telah tahu di mana Kino kuliah. Kalau ia kenal Ridwan, pastilah namanya sudah disebut sejak awal. Hal ini sedikit melegakan Kino. Ternyata Ridwan, bukan saingannya. Lalu…
“Aku kenal suaminya, karena lelaki itu masih ada hubungan keluarga denganku,” kata Ridwan lagi. Pemuda ini tahu, Kino sedang terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Pemuda ini juga sebetulnya iba karena sahabatnya terlibat dengan sesuatu yang tak ia pahami sepenuhnya.
“Darimana kau tahu aku kenal Tris?” akhirnya Kino bisa bertanya.
“Aku melihat kalian berdua minum dan bercengkrama,” jawab Ridwan sambil menatap Kino tajam, lalu ia melanjutkan, “Dari tingkahmu, aku tahu kau tertarik kepadanya. Jangan coba membantah.”
Kino menunduk. Percuma menyembunyikan yang sebenarnya di hadapan Ridwan atau Tigor. Kedua sahabatnya ini menganggap Kino adalah an open book: sebuah buku yang terbuka lebar dan mudah dibaca!
“Seberapa jauh kau tahu tentang dia, Kino?” tanya Ridwan sambil mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api, lalu menyalakan sebatang tanpa menawarkan temannya.
“Dia punya anak bernama Ria,.. dia punya Honda Civic,… dia tinggal di sekitar tempat kost-ku, atau setidaknya searah dengan tempat kostku,” jawab Kino terus terang. Memang sedikit sekali yang ia ketahui. Buru-buru pula ia menyambung, “Dan dia cantik sekali!”
Ridwan tersenyum mendengar kalimat yang terakhir. Sambil menghembuskan asap rokoknya, ia berucap pelan, “Tris memang cantik. Tetapi Ria itu bukan anaknya…”
Kembali Kino terperangah. Tetapi, anak itu memanggilnya “mama”. Bukankah “mama” itu berarti ibu, atau apakah sudah ada arti baru dari mama?
“Ria adalah anak dari kakak Tris yang meninggal karena kecelakaan dua tahun yang lalu,” kata Ridwan, membuat Kino semakin terperangah. Ah, pantas saja Tris terlihat begitu muda untuk punya anak sebesar Ria. Ternyata ia adalah ibu angkat. Bagaimana bisa begitu?
“Tris terpaksa menerima usul keluarganya dan keluarga suami kakaknya agar menerima iparnya itu sebagai suami. Istilahnya, Tris menerima proses “turun ranjang” karena kedua keluarga tak ingin memutus hubungan,” Ridwan menjelaskan dengan suara pelan.
“Pasti Tris sangat mencintai kakaknya …,” ucap Kino.
“Mereka berdua seperti kembar walau usianya berbeda cukup jauh. Lima tahun, kalau aku tidak salah,” kata Ridwan sambil kembali membuat lingkaran-lingkaran dengan asap rokoknya. Sejenak keheningan menyelimuti kedua pemuda itu. Kantin yang sangat ramai pun seakan-akan sirna menjadi latarbelakang yang samar-samar saja terdengar di kuping Kino.
“Aku tidak begitu dekat dengan suaminya,” kata Ridwan, “Tetapi menurutku, sebaiknya kau tak usah lah berpikir mendekati Tris. Nanti akan menimbulkan persoalan.”
Kino menunduk, memainkan pinggiran meja. Apa yang diucapkan Ridwan tentunya benar belaka. Kalau pun Ridwan tak punya hubungan apa-apa dengan suami Tris, tetap saja tidak baik untuk mendekati istri orang. Kalau pun Tris seorang bidadari yang cantik dan memukau, tetaplah tidak wajar bagi seorang mahasiswa untuk bermimpi memacarinya; kecuali mahasiswa itu juga dari kahyangan. Bukankah begitu?
Ridwan menepuk bahu Kino secara bersahabat. Mereka berdua segera bangkit karena sebentar lagi harus masuk kelas kembali. Kino berjalan gontai di samping Ridwan yang juga terdiam, bersimpati kepada perasaan gundah sahabatnya. Sebagai teman, bagi Ridwan tentu lebih baik jika Kino tetap bisa mendekati Tris. Tetapi karena ia punya hubungan keluarga dengan suaminya, Ridwan merasa perlu memperingatkan sahabatnya ini agar menjauh. Walau diam-diam ia pun tak yakin, apakah Kino benar-benar bisa menjauhinya. Atau, tiba-tiba Ridwan berpikir, bagaimana kalau Tris yang mendekati Kino?
*******
Sejak penjelasan Ridwan di kantin itu, Kino memang belum pernah berjumpa lagi dengan Tris. Sebenarnya, sejak minum bersama di kantin pun, yakni dua minggu yang silam, Kino belum pernah bertemu lagi dengannya. Kecuali, tentu saja, dalam mimpi! Kino sering sekali mengimpikan bidadari itu. Tidak saja bermimpi berjumpa dengannya, tetapi juga bermimpi bercumbu dengannya. Sungguh memalukan rasanya bagi Kino kalau pagi-pagi ia harus segera berganti celana dalam karena mimpi yang erotik itu. Tetapi apalah daya pemuda ini, bayangan bidadari itu selalu muncul setiap kali ia mulai memejamkan matanya di tempat tidur.
Kini, setelah Ridwan menjelaskan siapa Tris, Kino tetap saja mengimpikannya. Tetap saja berharap berjumpa dengan perempuan yang senyumnya seperti menyebarkan keindahan di hari terburuk sekali pun. Tetap saja Kino susah membuang bayangan keindahan matanya yang selalu membuat tulang di tubuhnya bagai terbuat dari agar-agar.
Kata orang, kalau kau berharap sangat kuat, maka mungkin harapan itu akan terwujud. Kino berharap dan berharap terus. Setiap hari, saat menunggu angkot, ia sengaja berdiri sangat dekat dengan jalan. Ia sengaja pula menunda naik angkot sampai sering hampir terlambat dibuatnya. Ia selalu melihat ke kejauhan, kalau-kalau mobil yang kini sangat dikenalnya itu muncul. Demikianlah ia terus berharap, sampai suatu hari di awal musim hujan, bidadari itu muncul lagi dalam kehidupannya. Ini adalah hari ke 30 dari bulan yang sama dengan saat mereka minum di kantin dan saat Ridwan memberinya peringatan.
Mobil Honda Civic itu menepi dekat emperan toko tempat Kino berteduh menunggu angkot menuju kampus. Tidak ada suara Ria yang menegurnya. Kino mendekat dengan ragu-ragu, kaca mobil terlalu gelap untuk melihat siapa yang ada di dalam. Ketika akhirnya jendela depan sebelah kiri terbuka, Kino mendengar sebuah suara yang selalu dirindukannya, “Ayo ikut..”
Kino ragu-ragu lagi. Tetapi pintu depan kiri telah terbuka, dan dengan jantung berdegup keras akhirnya Kino masuk.
“Hai!…Apa kabar?” sapa Tris ringan sambil melemparkan senyumnya yang mempesona itu. Ia ternyata sendirian. Kemana Ria?
“Kabar baik,” jawab Kino agak canggung, “Terimakasih atas tawaran tumpangannya.”
“Aku harus ke sebuah tempat dekat kampusmu. Ria sedang ada di rumah neneknya, tidak sekolah hari ini,” jelas Tris sambil mulai menjalankan mobilnya.
Kino duduk canggung tak tahu harus berkata apa untuk membuka percakapan. Tris tampaknya juga tidak punya sesuatu yang akan dibicarakan, karena ia juga diam saja, serius memandang ke depan. Mungkin juga hujan yang mulai melebat menyebabkan ia harus berkonsentrasi. Ngocoks.com Mobil meluncur menembus tirai air rintik-rintik. Di luar, suara desir angin bercampur derum mesin bercampur berisiknya air yang tercercah oleh ban mobil. Tetapi di dalam mobil, suasana hening mencekam seperti kuburan di malam Jumat kliwon. Kino sungguh tersiksa oleh keadaan seperti ini.
Setelah hampir 10 menit membisu, Kino pun tak tahan lagi. Ia berucap pelan, menyembunyikan getar suaranya, “Maaf aku membuat kamu tersinggung waktu itu.”
Terdengar Tris menghela nafas, lalu menjawab dengan suara pelan pula, “Aku juga minta maaf karena bertanya yang tidak-tidak.”
“Jadi, kita sama-sama bersalah,” ucap Kino lagi. Tris tersenyum mendengar pernyataan yang polos ini. Sebenarnya, tadi ia ingin lebih dulu membuka percakapan, tetapi entah kenapa ia ingin pemuda di sampingnya itu yang memulai.
“Sudah lama aku berharap kita bertemu lagi,” ucap Kino terus terang. Getar di tubuhnya kini sudah agak berkurang.
“Untuk minta maaf?” tanya Tris.
“Ya. Untuk minta maaf, dan …,” Kino tidak meneruskan kata-katanya. Patutkah ia melanjutkannya?
“…dan untuk bertemu Ria?” sambung Tris.
Kino tertawa pelan, “Ya.. untuk bertemu Ria,” katanya, lalu disambung dengan suara lebih perlahan, “.. dan ibunya.”
Tris tertawa riang mendengar kalimat terakhir. Sebetulnya ia sudah bisa menebak kalimat itu, tetapi sekali lagi ia ingin mendengar langsung dari pemuda yang perlahan-lahan mulai kelihatan menarik baginya.
“Tetapi sekarang musim hujan, tak baik minum es terlalu banyak,” kata Tris sambil tersenyum. Lagi-lagi timbul keinginannya untuk menggoda Kino.
“Tetapi aku masih bisa mengangkat tas-tas belanjaanmu,” jawab Kino, meladeni permainan kecil yang dimulai oleh bidadari ini. Sesungguhnyalah, Kino ingin melayani permainan apa pun yang ditawari perempuan cantik di sebelahnya ini. Permainan yang berbahaya sekalipun!
Tris tertawa lebih keras. Ia benar-benar terhibur dengan jawaban itu. Ternyata pemuda ini cukup berani mengutarakan pendapatnya, pikir Tris. Sebuah permulaan yang bagus. Tetapi untuk sebuah akhir yang bagaimana?
“Aku belanja ke sana setiap Rabu,” kata Tris sambil membelokkan mobilnya menuju arah kampus Kino.
“Aku pulang kuliah pukul empat setiap Rabu,” kata Kino sambil tersenyum. Ia merasa seperti seorang pemancing yang sedang berspekulasi dengan umpannya: apakah ikan akan mencaplok umpan itu, ataukah ia harus terjun ke empang menangkapnya dengan tangan?
Tris tertawa lagi. Kino senang sekali mendengar tawa itu, serba lepas tetapi juga merdu. Tidak terlalu keras, tidak terlalu nyaring, tidak terlalu terbahak. Pokoknya, serba pas di telinga Kino.
“Kamu bisa bolos, karena pukul empat aku sudah harus pulang,” ucap Tris sambil menginjak rem. Mereka sudah tiba di depan kampus. Kino mengeluh dalam hati, kenapa cepat sekali ia menjalankan mobilnya?
“Atau kamu bisa menunda belanjamu sampai pukul empat,” ucap Kino tak mau kalah. Ia memberanikan diri menatap wajah Tris sebelum beranjak untuk turun.
Tris tersenyum manis sekali. Mungkin yang paling manis di antara senyum-senyum manisnya selama ini. Kino seperti disiram air sejuk surgawi rasanya melihat senyum itu. Duh, teruslah tersenyum bidadariku, bisik Kino dalam hati.
“Kenapa aku yang harus menunda?” tanya Tris dengan mata tajam memandang tepat ke mata Kino. Sejenak degup jantung pemuda ini kembali bertambah cepat.
“Karena hari Rabu itu ada dua dosen killer..,” Kino menjawab sekenanya. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Ia tak mungkin membolos hari Rabu.
Senyum Tris berkembang lagi. Kino terpesona lagi. Satu kakinya sudah berada di luar, tetapi rasanya enggan sekali ia turun dari mobil itu. Hujan yang kini mereda menjadi gerimis membuat sepatunya basah, tetapi Kino tak peduli.
“Kamu benar-benar ingin bertemu lagi rupanya,” ucap Tris, kali ini dengan nada serius. Suaranya berubah formal dan lebih perlahan. Kino sejenak kuatir menyinggung perasaannya lagi. Tetapi ia hendak berspekulasi hari ini. Ia hendak berterus terang saja.
“Ya,” jawab Kino mantap, “Aku ingin bertemu lagi, tetapi tak mungkin di rumahmu, bukan?”
Tiba-tiba air muka Tris berubah. Kino terkesiap dan berpikir, tamatlah sudah riwayatku. Hancurlah sudah spekulasiku. Bidadari ini pasti marah besar karena aku menyinggung sesuatu yang sensitif. Kino bersiap-siap keluar dari mobil secepat mungkin. Tetapi…
“Memang tidak mungkin, Kino,” ucap Tris dengan suara pelan. Baru kali ini ia menyebut nama Kino!
“Itu sebabnya hari Rabu adalah yang paling tepat,” kata Kino cepat-cepat. Ia tak jadi turun.
Tris tersenyum, tetapi kali ini ada kesenduan di senyum itu. Mungkin kesedihan, mungkin keterenyuhan. Entah apalah, .. tetapi Kino bisa merasakannya. Seandainya saja aku bisa mengusap wajah itu, keluh Kino dalam hati, aku mau menghapus kesenduan itu dari sana!
“Baiklah.., kita lihat saja nanti,” kata Tris setelah menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya, “Sekarang, turun dari mobilku kalau tidak ingin terlambat.”
Kino tersenyum lega mendengar jawaban itu. Ia segera keluar dari mobil, lalu berdiri di bawah hujan rintik (ia tak peduli!) memandang Honda Civic itu lenyap dari pandangannya. Di dalam mobil, Tris melirik ke kaca spion, melihat pemuda itu masih berdiri diterpa gerimis pagi.
Sebersit perasaan aneh memenuhi dadanya, dan tiba-tiba saja ia sudah menyusun alasan untuk tidak mengajak Ria jalan-jalan Rabu depan, dan datang ke swalayan setelah pukul empat. Apa yang terjadi pada diriku? Keluh Tris dalam hati.
*******
Rabu berikutnya, Kino tak mempedulikan teriakan Tigor yang mengajaknya jalan-jalan keliling naik motor. Tak menghiraukan pula bujukan Ridwan dan Rima yang mengajaknya makan bakso di seberang kampus. Ia mengarang alasan yang kurang akurat. Teman-temannya tentu saja heran, sejak kapan si Kino punya tugas berbelanja keperluan dapur untuk ibu kost?
Tentu saja teman-temannya tidak tahu, bahwa Kino sedang berusaha secepatnya tiba di pasar swalayan tempat Tris biasa berbelanja. Ia sebenarnya juga tidak berbohong kepada teman-temannya, sebab ibu kost memang kebetulan memintanya membeli selusin mie instant dan sebotol kecap asin. Ia juga dengan seksama telah menyembunyikan semua hal yang berhubungan dengan Tris dari telinga Ridwan maupun Tigor dan Rima. Untung pula, Ridwan bukan seorang teman yang nyinyir, sehingga kedua sahabat lainnya tidak pernah tahu persoalan Tris.
Dengan menumpang angkot, Kino tiba di swalayan itu sepuluh menit kemudian. Sebetulnya ia bisa berjalan dari kampus, tetapi tentu akan memakan waktu lebih lama. Setibanya di mall tempat swalayan itu berlokasi, Kino terlebih dulu masuk ke tempat parkir di lantai dasar.
Dengan sekilas ia mencoba melihat kalau-kalau Honda Civic putih yang sudah sangat dikenalinya itu ada di pelataran parkir. Ternyata ada! Itu berarti, Tris memang ada dan ia tidak datang dengan taksi. Itu pula artinya, Kino bisa memohon untuk ikut menumpang!
Dengan langkah panjang setengah berlari, dan dengan melompati dua anak tangga sekaligus, Kino akhirnya tiba di swalayan yang tidak begitu ramai itu. Sore-sore seperti ini, belum banyak yang berbelanja. Kino bersyukur dalam hati, dan segera mencari-cari ke seluruh pelosok swalayan. Satu kali ia memutari seluruh swalayan, belum juga Tris tampak. Dua kali, Kino belum juga menemukannya. Tiga kali, Kino sudah mulai kuatir ia berpapasan di tengah jalan. Mungkin Tris turun lewat lift….. Empat kali, Kino menyerah … menghembuskan nafasnya kuat-kuat, lalu mulai menuju rak tempat mie.
Baru saja ia berjongkok untuk mengambil beberapa bungkus mie di barisan bawah, suara yang dirindukannya itu terngiang jelas di telinganya. Cepat-cepat Kino bangkit dan berbalik ke arah suara. Wow! Bidadari itu berdiri dengan tangan bersidekap, berbaju kuning terang dan bercelana panjang coklat gelap, menambah kuat keputih-mulusannya yang cemerlang. Untuk sejenak, Kino yakin kembali bahwa di depannya ini adalah bidadari yang sedang menyamar dan sedang menyimpan sayap-sayapnya.
“Mau membeli tigapuluh bungkus mie?” tanya Tris dengan senyum menggoda dan dengan sinar mata yang cerlang cemerlang itu.
“Aku mencarimu sejak tadi,” kata Kino tak mempedulikan godaan Tris. Ia ingin sekali menegaskan bahwa pertemuan ini memang betul-betul diinginkannya. Mengertikah bidadari ini? keluh Kino dalam hati.
“Aku tahu…,” jawab Tris sambil tetap tersenyum, berdiri santai di hadapan Kino yang tegak canggung dan kini melongo mendengar jawabannya itu.
Tris tertawa kecil, “Kamu selalu begitu, Kino. Melongo setiap aku mengatakan sesuatu,” ucapnya.
“Dari mana kamu tahu aku sudah lama mencarimu?” sergah Kino penasaran.
“Aku duduk di sana sejak tadi,” kata Tris sambil menunjuk dengan dagunya ke arah sebuah kantin di seberang swalayan.
“Dan kamu diam saja melihat aku berputar-putar?” sergah Kino lagi. Bidadari ini pandai sekali mempermainkan orang, keluhnya dalam hati.
“Aku pikir kamu sedang mengukur luas lantai swalayan,” kata Tris sambil tertawa.
Gila! sergah Kino dalam hati (tentu saja). Bidadari ini betul-betul sedang mempermainkan aku. Mempermainkan seorang mahasiswa jurusan arsitektur dari sebuah institut teknologi yang terkenal, dan yang oleh banyak orang diakui sebagai paling pandai dalam matematika. Sungguh beraninya dia!
“Mana belanjaanmu?” cepat-cepat Kino mengalihkan pembicaraan. Dia merasa tidak akan sanggup meladeni godaan Tris, tetapi tak pula hendak segera berpisah.
“Di mobil,” kata Tris pendek.
“Oh!.. Jadi kamu sudah selesai berbelanja, tetapi….,” Kino tidak meneruskan kata-katanya. Hatinya tiba-tiba berbunga. Bidadari ini sudah selesai berbelanja, tetapi kembali lagi ke sini untuk bertemu dengan aku. Betapa indahnya dunia!
“Tetapi aku haus,” kata Tris cepat-cepat mengisi kalimat Kino yang terputus. Pemuda itu pun langsung kecewa…. bidadari itu tidak sedang menunggunya. Betapa GR-nya dia! Bahu Kino langsung terhenyak lunglai, seperti mendengar kabar bahwa ia tak lulus ujian. Bunga-bunga di hatinya seperti layu tersiram air panas mendidih. Hampir saja ia terhuyung karena kecewa, tetapi…
“Sambil menunggu kamu…,” sambung Tris. Senyumnya tipis mengembang. Kino pun terperangah. Apalagi kedua mata bidadari di hadapannya penuh dengan sinar gemilang yang membuat Kino seperti hidup di alam maya yang serba indah belaka. Bunga yang layu di hatinya mekar kembali. Semangatnya muncul kembali. Bidadari ini benar-benar membuat Kino seperti sedang menaiki roller coaster emosi!
“Sambil menunggu aku..,” Kino mengulangi kalimat Tris, seperti sedang memastikan bahwa kalimat itu nyata dan benar adanya.
“Cepatlah berbelanja!” sergah Tris menahan senyum, “Aku mau mencari ulekan batu di daerah selatan.”
“Oh,… ya..ya!” jawab Kino gelagapan. Kalimat terakhir itu bagai titah sang maharatu kepada hambanya. Kino menerjemahkannya sebagai berikut: aku mau kau ikut ke selatan mencari ulekan batu. Kino pun menjerit dalam hati: cihui!.. aku mau ikut kau ke ujung dunia sekalipun.
Tak sampai 10 menit kemudian, keduanya telah melesat ke arah selatan. Hujan mulai turun lagi. Bumi kota B kembali basah. Pohon-pohon kembali mandi air segar dingin; dedaunannya pun semakin tampak hijau segar. Angin sejuk melanda kota. Kino bernyanyi-nyanyi dalam hati.
*******
Pertemuan dan belanja bersama itu segera diikuti pertemuan-pertemuan berikutnya. Segalanya lancar sekali berlangsung, selancar air jernih di selokan besar di depan rumah kost Kino di kala hujan lebat. Pemuda ini menikmati kelancaran itu, seperti seorang nelayan menikmat angin kencang yang membawa perahunya meluncur cepat, meniti ombak membelah lautan.
Tak sedikit pun terpikir oleh Kino apa yang akan terjadi akibat pertemuan-pertemuannya dengan Tris. Tak sekalipun ia pernah mau berpikir bahwa perempuan cantik itu adalah seorang ibu bersuami resmi. Seluruh akal sehatnya tertutup kabut tebal setiap kali ia bertemu Tris.
Pada pertemuan kelima, Kino sudah menggandeng tangan Tris ketika mereka menuruni tangga swalayan (mereka selalu menghindari tangga berjalan atau lift, agar bisa lebih lama berdua!). Mereka pun sudah duduk berdampingan ketika minum di kantin (mereka selalu haus sehabis berbelanja!). Pandangan mereka lebih lama berkait erat seakan-akan tak mau lepas (mereka selalu punya alasan untuk bercakap-cakap sambil saling menatap!).
Pada pertemuan ke tujuh, Kino mencium pipi Tris di mobil.
Sejenak Tris terperangah, dan Kino mempersiapkan pipinya untuk ditampar melihat bidadarinya mengangkat tangan. Tetapi tangan Tris terangkat bukan untuk menampar, melainkan memegang pipinya sendiri yang tadi dicium Kino sekilas. Muka Tris semburat merah, bagai langit sore yang kebetulan saat itu tak tertutup awan.
“Kenapa kau cium aku?” bisik Tris dengan suara bergetar. Pandangannya tajam menembus kalbu Kino.
“Karena aku ingin menciummu,” kata Kino dengan kekuatan yang entah datang dari mana. Ia sudah bertekad untuk menunjukkan segala perasaannya. Whatever will be, will be. Que sera sera!.
“Tetapi aku tidak ingin…,” ucapan Tris terputus, masih bergetar walau agak samar.
Kino tersenyum lembut, “Tidak ingin dicium?” tanyanya pelan sambil melawan pandangan Tris dengan sekuat hati.
Tris mengalihkan pandangannya ke depan. Air mukanya tiba-tiba mengeruh, seperti sungai besar yang penuh lumpur akibat hujan berkepanjangan. Kino diam, menguatkan hati, merasa tidak punya pilihan lain.
“Aku sudah bersuami, Kino,” bisik Tris sambil tetap memandang ke depan. Hujan telah reda. Langit senja mulai menggelap.
“Itu suami almarhum kakakmu,” kata Kino pelan tetapi jelas.
“Tetapi ia suamiku kini,” desis Tris. Wajahnya semakin keruh dan pertahanan hati Kino perlahan-lahan runtuh.
“Maaf..,” bisik Kino. Ia bersiap turun, membuka pintu mobil dan melangkahkan satu kakinya untuk turun.
Tiba-tiba tangan Tris telah tiba di atas tangan Kino yang sedang bersiap turun. Pemuda ini menghentikan gerakannya, memandangi tangan Tris yang menumpang ringan di buku-buku jarinya.
“Kamu tidak perlu minta maaf,” kata Tris pelan tanpa mengalihkan pandangan, “Aku yang bersalah. Tetapi kamu membuat aku terkejut. Aku belum siap untuk itu.”
“Siap untuk apa?” tanya Kino dengan keberanian baru.
“Kamu tahu jawabnya,” sergah Tris, dan sebelum Kino sempat berkata apa-apa, perempuan cantik itu berucap, “Turunlah. Kita jumpa lagi Rabu depan.”
Dan Kino pun turun. Dan mobil Tris pun bergerak, lalu semakin cepat meluncur, dan akhirnya hilang dari pandangan. Dan Kino termangu di pinggir jalan dengan rambut tergerai ditiup angin sejuk. Di telinganya, terngiang ucapan terakhir Tris tadi, .. kamu tahu jawabnya. Betulkah aku tahu jawabnya? keluh Kino dalam hati sambil melangkah gontai ke rumah kostnya.
Sementara itu, sambil menyetir Tris menghapus air mata yang merebak di matanya dengan tisu. Sampai sebelum dicium Kino tadi, hatinya selalu berbunga-bunga setiap kali ia berjumpa pemuda itu. Ia sendiri heran, dalam kehidupan yang serba nyaman dengan seorang suami dan anak yang lucu, pemuda itu tiba-tiba mempunyai tempat khusus.
Pemuda itu seperti tiba-tiba muncul entah dari mana dalam kehidupannya. Padahal, sebagai seorang cantik, Tris dikerumuni banyak pria. Sebelum maupun sesudah pernikahannya dengan iparnya. Tak satupun yang menimbulkan kesan, karena ketika kakaknya meninggal ia bertekad menutup pintu hatinya, dan mengabdi total kepada iparnya.
Kini pemuda itu menciumku, bisik Tris dalam hati, dan aku gundah karena ia menggugah sesuatu yang selama ini aku hindari. Pemuda itu membawa kelembutan pada keriangan dan keteraturan hidupku. Pemuda itu melengkapi kebahagiaan perkawinan dan pengorbananku untuk kakak. Apa yang harus kulakukan?
“Maafkan aku, Kak..,” bisik Tris tak sadar. Air mata menggenang kembali, dan kali ini tak bisa dicegah meluncur deras di pipinya.
*******
Ridwan kembali mengingatkannya pada suatu sore sepulang kuliah. Kino menahan amarahnya, walaupun ingin sekali ia menjerit mengingatkan Ridwan bahwa itu bukan urusannya. Biar bagaimana pun, Ridwan berada dalam posisi yang benar. Sahabatnya itu semata-mata kuatir Kino terlibat dalam urusan yang tidak gampang.
“Kamu bermain api, Kino,” desis Ridwan sambil mengiringi langkah Kino. Mereka berjalan terpisah dari yang lain, sengaja mempertahankan rahasia ini di antara mereka berdua. Kino sungguh menghargai sikap Ridwan itu.
“Tetapi aku sendiri tidak berdaya, Rid. Dia juga suka padaku!” sergah Kino menahan diri agar suaranya tak terlalu keras.
“Risikonya terlalu besar, Kino!” jawab Ridwan sambil menahan geram.
“Entahlah. Aku sangat menyukainya. Mungkin juga mencintainya!” ucap Kino.
“Bullshit, Kino! Kau mencintai istri orang. Itu tidak bagus!” sergah Ridwan.
Kino berhenti melangkah, “Apa yang kamu tahu tentang cinta, Rid!? Kau tak tahu apa-apa. Kau hanya tahu “menyukai” dan “disukai”…,” ucapnya agak keras. Ridwan sampai kuatir pertengkaran mereka terdengar orang lain. Untunglah mereka terpisah agak jauh dari Rima dan Tigor.
Ridwan menghela nafas panjang, ucapan Kino memang benar. Tetapi ia merasa Kino sudah terlalu jauh melangkah, tak melihat jurang besar di hadapannya. Ia berucap pelan tetapi tegas, “Aku sudah memperingatkanmu, Kino. Jangan salahkan aku kalau nanti terjadi apa-apa!”
Kino terdiam, dan mereka menghentikan percakapan, lalu berpisah. Sepanjang malam itu Kino pun risau mengenang peringatan-peringatan Ridwan. Ia tidak bisa tidur, dan baru terlelap setelah lewat tengah malam.
Tetapi risau dan gundahnya segera hilang, karena pagi keesokan harinya ia menumpang mobil Tris lagi. Hari menjadi indah lagi. Kemurungan sirna secepat embun yang menguap disinari mentari pagi. Pertemuan demi pertemuan berlangsung lancar dan seperti telah menjadi kewajaran. Baik Kino dan Tris luruh dalam ketidaksadaran yang sebetulnya adalah ketidakwajaran, terhanyut dalam musik asmara yang memang selalu membuai itu.
Apalagi kemudian Tris menjemput Kino sepulang kuliah di satu sore yang cerah, mengajaknya pergi ke sebuah tempat peristirahatan di daerah utara yang berlembah. Ini adalah ide Tris, walau adalah Kino yang membujuknya secara halus. Mereka minum kopi susu di sebuah restoran yang menghadap kebun teh luas menghijau. Percakapan mereka berlangsung lancar dan ceria selalu adanya. Tiada sedikit pun kata-kata risau terucapkan. Segalanya cuma berisi kerinduan, kegemasan, impian, kenangan manis, keindahan …. ketakjuban …
Terlebih lagi, ketika malam tiba mereka tidak langsung pulang karena menurut Tris ia sudah minta ijin pulang terlambat. Kino tak peduli mendengar alasannya (“ada kursus tambahan malam hari”). Segalanya terjadi begitu saja.
Tris setuju memarkir mobil sebentar di pinggir jalan kecil menuju kebun teh. Tris diam saja ketika Kino dengan penuh kerinduan melumat bibir Tris di dalam mobil. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan lamanya Kino menunggu saat yang mendebarkan ini. Dengan segala perasaan, ia kecup bibir yang merah ranum dan basah itu. Ia hisap lembut dan sayang, ia tumpahkan seluruh kerinduannya di rongga mulut yang harum semerbak mempesona itu.
Tris memejamkan matanya, mendesah dan mengerang, membiarkan dirinya hanyut dibawa larut oleh gejolak perasaan pemuda itu. Ia menyerah. Tak ada lagi yang mampu menahan dirinya malam itu, karena sejak seminggu ini hatinya gundah jika tak bertemu Kino. Sejak dicium di pipi beberapa waktu yang lalu, hidupnya berubah total bagai sebuah desa kecil yang lenyap terhapus badai taifun. Tanpa sepenuhnya sadar, Tris merangkul leher Kino, menariknya lebih dekat lagi ke dadanya.
Kondisi mobil menyebabkan posisi keduanya agak kikuk. Tetapi lalu Tris meraih tombol di samping kursinya, dan tak berapa lama kemudian ia sudah terbaring di sandaran yang tertidur. Kino dengan leluasa bisa melumat bibir yang menggemaskan itu. Nafas keduanya pun dengan cepat berubah memburu menderu.
“Oooh.. Kino,” desah Tris ketika pemuda itu mengangkat mukanya untuk mengambil nafas, “Aku rindu sekali…”
Kino tak membalas ucapan itu. Ia langsung menciumi lagi bibir yang selalu ada dalam mimpinya itu. Tidak hanya bibir itu yang diciuminya. Juga ujung hidung Tris ia ciumi, kelopak matanya ia ciumi, dahinya ia ciumi, kedua pipinya ia ciumi… seluruh muka bidadari yang mempesona itu tak hentinya ia ciumi. Tris pun tertawa manja diperlakukan seperti itu. Belum pernah ia diperlakukan seperti itu oleh suaminya!
Bahkan Tris kemudian membiarkan tangan Kino meraba dadanya yang membusung indah. Ia bahkan membantu pemuda itu membuka kancing-kancing bajunya, menggeliat kegelian ketika jemari pemuda itu meremas lembut buah dadanya. Tris mengerang sambil memejamkan mata, seakan ingin tidur dengan mimpi sensual yang melenakan, yang juga sudah sering diimpikannya di ranjang di samping suaminya. Betapa nikmat rasanya diraba dan diremas oleh pemuda ini … betapa melenakannya … betapa membirahikannya.
Tetapi tiba-tiba semuanya buyar. Tak sengaja, akibat gairah yang menggebu, siku Kino menyentuh tuter mobil. Suara klakson yang nyaring di tengah malam yang sepi membuat keduanya tersentak kaget.
Cerita Sex Ranjang yang Ternoda
Tris tertawa tertahan. Kino juga ikut tersadar dan melepaskan pelukannya. Tris pun menegakkan tubuhnya, cepat-cepat mengancingkan baju dan menegakkan sandaran kursi. Kino menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir nafsu birahi yang tadi telah memenuhi seluruh kepalanya.
“Kita harus pulang, Kino,” ucap Tris menahan senyum dan mulai menstarter mobilnya.
“Ya,… harus segera pulang,” sahut Kino bagai baru bangun dari mimpi.
Mereka meninggalkan tempat sepi itu, beberapa saat saja sebelum sebuah mobil milik perkebunan lewat berpatroli. Sepanjang jalan menuju kota, mereka tenggelam dalam lamunan. Sesekali mereka berpandangan dan tertawa berdua. Indah sekali malam itu!
Sama sekali mereka tidak menduga, bahwa malam-malam seperti itu akan terus berulang. Lagi dan lagi. Semakin lama semakin panas membara
Bersambung…
Dalam Gelap Malam
Bagaimana sobat Ngocokers cerita Flashback diatas? jika bagus jangan lupa klik salah satu iklannya yah biar mimin update kelanjutannya (part 16) yang pasti lebih menarik. Jika mau tau kelanjutan kisah ini jangan lupa follow akun telegram Ngocokers yah, terima kasih.


