Broken Home
Cerita Dewasa · 18+
Cerita Sex Broken Home – Namaku Carline (20thn) atau biasa juga dipanggil Fei Chen, terlahir sebagai keturunan Chinese di Indonesia. aku anak kedua dari 3 bersaudara yang semuanya perempuan, ciciku Christine (22 thn), adikku Evelyn (16 thn). Seperti umumnya gadis Chinese, kulit kami bertiga sangat putih dan mulus karena aku selalu merawatnya, tapi adikku yang terkenal paling putih diantara kami bertiga.
Kata orang, wajah kami bertiga sangat innocent sehingga membuat penasaran para pria yang melihatnya, dan ciciku yang tercantik diantara kami bertiga. Aku agak tomboy, adikku malah sangat feminim, ciciku terkesan cuek.
Papaku pengusaha garment home industri yang cukup sukses. Keluargaku mulai berantakan sejak aku mengetahui mamaku menjadi simpanan Pak Nurdin, sopir keluarga kami dan papa mengizinkannya karena dia kena penyakit impoten 5 tahun yg lalu sehingga tidak dapat memberi kepuasan pada mama.

Umur papa dan mama memang terpaut jauh 10 tahun, sekarang mama berumur 38 tahun, dulu mereka menikah diusia muda karena menurut selentingan mereka kebablasan. Mama jadi sering menginap ditempat lain bersama sopir itu, sedangkan papa menyibukkan diri dengan pekerjaannya sehingga kami, ketiga anaknya sudah terlupakan.
Dirumah seringkali hanya ada kami bertiga bersama para buruh garment papa, sopir truk dan kernetnya yang kerjanya malas-malasan dirumah karena kerjanya hanya order barang seminggu sekali. kalau papa dan mama sedang tidak dirumah, mereka seringkali menggoda kami bertiga sehingga kami semua sangat ketakutan kalau bertemu mereka.
Terus terang kami bertiga sangat risih terhadap mereka yang sering melihat kami dengan pandangan menelanjangi itu. Kami hanya berani memarahi mereka kalau kami semua ada dirumah atau kalau ada papa dan mama, kalau mereka tidak ada kami semua lebih suka diam dikamar karena bila keluar kamar para buruh itu sering menggoda kami secara kurang ajar.
Kejadian ini tidak diketahui papa atau mama karena kami sendiri malu untuk menceritakannya. Apalagi setelah hubungan mama dan sopir kami mulai diketahui buruh-buruhku, mereka seakan mendapat angin segar untuk lebih bisa bersikap semaunya pada kami bertiga yang notabene adalah putri majikan mereka sendiri.
Mereka menganggap papa sangat pelit dan suka memeras tenaga mereka, padahal bagi kami sudah merupakan keharusan untuk bekerja keras, bukan memeras karena mereka bekerja pada papa, jadi sudah seharusnya begitu.
Papaku tahu hal ini, tapi keluarga kami harus mempertahankan mereka bekerja pada kami karena kebetulan daerah rumah kami dikelilingi rumah-rumah penduduk pribumi yang rata-rata kumuh, jadi bila papa memecat mereka, bukan mustahil akan memicu kerusuhan yang sasarannya tentu rumahku.
Singkat cerita, sejak aku sering memergoki mama sedang disetubuhi Pak Nurdin, aku malah jadi ingin terus menontonnya, seakan adegan live sex, aku sering mengintipnya bila mereka ada dirumah, bagiku mulanya hanya ingin membandingkan penis Albert, pacarku dengan penis pria lain dan aku sangat terkejut karena ternyata penis Pak Nurdin jauh lebih besar dibanding penis Albert.
Aku masih perawan karena aku dan Albert belum berani bersetubuh, kami hanya berani melakukan oral sex. Sejak aku sering mengintip itu, gairahku seringkali bangkit terutama bila melihat pria-pria pribumi yang kekar seperti Pak Nurdin, celakanya semua buruh dirumah kami rata-rata punya perawakan yang kekar dengan kulit yang gelap menghitam, mungkin karena sering bekerja dipanas matahari, sehingga dadaku sering bergolak bila sedang dirumah.
Aku tidak tahu apa reaksi cici dan adikku terhadap mama, tapi aku tidak peduli, yang jelas reaksiku menjadi horny bila melihat mereka sedang berdua dirumah. Terlebih bila buruhku bekerja, mereka terbiasa bertelanjang dada, sungguh jauh beda dari Albert yang berdada kurus rata dengan kulit putihnya.
Tapi aku tidak berani bertatapan langsung dengan mereka, karena aku takut melihat kegarangan wajah mereka, aku hanya berani melihat dari jendela kamarku. Kalaupun aku keluar dari kamarku, tentu kulit mukaku menjadi merah sekali karena mereka sering menggoda dan melecehkanku dengan ucapan yang jorok.
Dahulu aku sering marah bila mereka mengolok-olokku, tapi anehnya sekarang aku malah merasa sudah biasa bila dilecehkan mereka, dadaku bergetar hebat bila mereka memandangku dengan penuh nafsu.
Terbayang kembali diotakku adegan mama yang bertubuh putih dan masih kencang digumuli oleh nurdin sampai merintih-rintih, sepertinya nikmat sekali. Aku mulai berpikir ada kelainan pada diriku, tapi dorongan dalam dadaku ini sulit untuk dibendung sehingga pada akhirnya aku harus mengalah pada nafsuku sendiri.
Aku mulai berani memakai rok 10 cm diatas lutut dalam rumah, padahal dulunya aku hanya memakai itu waktu jalan-jalan atau kepesta saja. Hasilnya mudah ditebak, mata para buruh-buruhku seperti mau loncat melihatku keluar kamar dengan pakaian begitu.
Dulah : ” waw, liat si amoy itu putih amat pahanya ya.. gua jadi pengen nih. hahaha”
Kodir : ” Iya, tumben ya si neng keluar pake rok pendek gitu”
Odet : “Woi, non, sering-sering dong pake rok mini gitu, putih tenan pahanya non. boleh dipegang gak nih?:
Suhe : ” gua bisa langsung ngecrot nih”
Arman : “Neng sini dong ngobrol sama kita-kita biar akrab, koq sombong banget sih”
Darahku berdesir mendengar komentar-komentar jorok mereka, tapi aku tidak berani meresponnya, aku dengan cepat berlari melintasi tempat kerja mereka diiringi tawa-tawa kurang ajar tapi anehnya lagi-lagi aku menikmatinya, terbayang dipikiranku bila aku disetubuhi mereka dengan penuh nafsu, tentu nikmat sekali.
Vaginaku terasa berdenyut bila memikirkan itu. Saat aku balik kekamarku pun terdengar lagi celotehan kotor dan suit-suitan mereka. Aku segera berpikir untuk mengusir pikiran itu, bayangkan saja aku masih perawan, masa sebagai gadis suci malah mengobralnya pada pria-pria yang notabene adalah pekerjaku sendiri, sungguh sangat memalukan sekali.
Aku langsung saja tertidur dikamarku, ada rasa menyesal dalam diriku. Hari berikutnya gairah itu datang kembali dan bahkan semakin tak terkendali. Aku sungguh telah menjadi gadis yang menderita exhibist, aku kegilaan memamerkan tubuhku pada pekerjaku dengan maksud supaya mereka melecehkanku, menggodaku atau bahkan agar mereka berani menyentuh tubuhku, menyetubuhiku dengan liar.
Aku mulai tak dapat berpikir jernih, bahkan aku sudah tidak mempedulikan Albert. Aku seringkali menolak ajakan kencannya. Aku lebih suka dirumah terutama bila cici dan adikku sedang kuliah.
Suatu hari secara tidak sengaja aku mengintip dan menguping pembicaraan 5 orang buruhku yang kebetulan sedang membicarakanku sambil tertawa-tawa.
Odet : “Dir, gua hari ini koq belum liat neng Carline ya, padahal udah kangen liat badannya yang putih itu, aduh coba kalau gua bisa ngentotin dia, pasti enak banget kayaknya ya”
Kodir : ” Bukan cuma elu yang kepingin, gua juga udah lama pengen ngentotin si non kalau bisa sih bukan cuma Carline, tapi kakak dan adiknya juga. hahaha”
Dulah : ” Ternyata kita sama-sama punya minat ngentotin amoy ya.. hahahaha betul sekali deh, kayaknya badan mereka tu enak sekali ya buat kita gumulin seharian, putih-putih lagi, mulus pula dalamnya.hahaha”
Arman : “Ah si abang bisanya cuma ngomong aja, berani gak kalau beneran, bilang langsung sama non Carline, kali aja dia mau sama kita”
Suhe : ” Mimpi kali yee, mana ada amoy yang mau sama kita-kita, buat ngentot lagi, mustahil bang, kecuali kita yang mulai duluan ngerjain dia, biar dia juga tau rasa terlalu sombong sama kita, iya ga?”
Dulah : “Akur, sekalian kita kasi pelajaran sama bokapnya yang pelit itu, boleh aja gaji ga naek, tapi anaknya yang kita naekin. hahaha, kan adil namanya.”
Terdengar suara riuh rendah digudang tempat mereka bekerja, aku terkesima mendengarnya, serasa sumsumku mau copot dilanda gairah asing yang melanda tubuhku.
Kodir : “Tapi gimana caranya Dul, biar non Carline mau kita ewe bersama-sama, gua jadi gak tahan nih pengen melumat susunya, pasti badannya lebih putih lagi ya.. sedapp!”
Dulah : “Gimana kalau kita kasih obat perangsang aja diminumannya, trus dikamarnya kita kasih juga film porno yang maen keroyokan biar dia horny, baru kita sergap”
Arman : “Bagus juga tuh rencana, nanti biar gw rekam biar dia tutup mulut”
Odet : “Setuju, besok aja kita jalanin, gua punya obat perangsang super yang bisa bikin cewek kepingin semaleman, jangan lupa juga obat biar dia ga bunting, biar bisa kita pake terus. heheheh”
Dulah : “gua sih malah pengen buntingin tuh amoy, biar tau rasa terutama bapaknya yang pelit pasti pingsan liat anaknya kita entotin sampe bunting, malah kalau bisa semua anaknya kita buntingin, pasti rame ya dir”.
Kodir : “Wah kalo masalah bunting-buntingan gw mikir-mikir dulu deh, nanti malah kita yang kena bui, bapaknya kan banyak kenal pejabat polisi, kalau mau juga suruh aja temen-temen kita yang diterminal buat buntingin mereka, jadi bisa langsung kabur kalo ketauan, iya ga? yang penting kan kita puas ngentotin mereka”.
Odet : ” Udah deh bang, jangan ngehayal, non Carline aja belum dapet, udah mikir yang lain-lain, kita garap Carline dulu aja pas bokapnya ga dirumah, toh kayaknya tuh amoy udah pengen dientot, liat aja bajunya sekarang kan jadi berani liatin ke kita-kita, kalian sadari gak?”
Arman : “Betul juga lu det, gua koq baru sadar ya, dulu kan non Carline selalu pake celana panjang, jeans lagi kalau dirumah, lha, sekarang koq dia mau-maunya pake celana pendek dirumah, apa gak takut lagi sama kita?”
Kodir : ” hahaha bukan takut lagi mungkin man, tapi sengaja liatin sama kita.hahaha dulu ibunya juga gitu sama bang Nurdin, eh malah mau diewe, sekarang jadi kecanduan deh”
Dulah : ” dasar amoy-amoy munafik, sok kaya lagi, akhirnya malah kecanduan kontol bang nurdin, Mungkin anaknya juga bakal kayak gitu ya, kita coba besok, anaknya kan lebih muda, pasti lebih enak dibanding ibunya, siapatau malah jadi ketagihan kayak ibunya”
Odet : ” Pasti bang, udahlah kita jadiin aja rencana kita besok, kontol gua jadi tegang nih, kira-kira masih perawan gak ya si Carline itu”.
Arman : ” Ah, lu kayak gak tau aja pergaulan mereka, ke kita aja mereka nutup diri, tapi ke sesamanya kan ga, apalagi non Carline kan suka dugem sama pacarnya, pasti udah ga perawanlah…”
Aku segera kembali kekamarku, pikiranku meracau sekali mengingat obrolan mereka itu, dadaku serasa mau pecah menahan birahi yang menerpaku, tapi aku harus berpikir jernih, aku masih virgin dan aku tidak mau menyerahkan keperawananku begitu saja, tapi gairah ini seakan tidak peduli pada virginitas.
Aku menutup mataku, tapi tetap tak dapat mengusir rasa itu dalam dadaku, akhirnya aku seperti kesetanan berfikir untuk besok, bukan untuk menghindari buruh-buruhku, tapi bersiap-siap menyambut apapun yang terjadi padaku.
Paginya aku mandi membersihkan tubuhku lalu pergi kuliah seperti biasa pura-pura tidak tahu apa yang akan terjadi. Di kampus pun aku tidak sabar ingin cepat pulang. akhirnya jam 11 siang aku cepat-cepat memacu mobil new accordku ke rumah. Tiba dirumah aku langsung menuju kamarku, hari terasa panas sekali, dipicu gairah birahi aku berganti pakaianku, baju tanktop dan rok pendek seperti biasa kupakai.
Sudah kebiasaanku minum segelas air sepulang kuliah, hari itupun aku minum segelas air putih yang sengaja sudah kusiapkan sejak pagi.
Terasa segar, tapi sejam sesudahnya kepalaku menjadi pusing, aku sadar para buruhku sedang menjalankan rencananya, gairahku menjadi terbakar disela-sela panasnya udara hari itu, dadaku seakan meluap, tubuhkupun bereaksi seakan-akan tidak sabar ingin disentuh tangan-tangan kasar itu.
Aku teringat film porno yang dibicarakan buruhku dan benar saja dimejaku telah ada setumpuk DVD porno, entah siapa yang menyimpannya dengan masuk kekamarku.
Seakan tidak tahu aku memutar film-film itu, hampir pingsan aku menahan gejolak birahi yang melanda tubuhku, aku mulai bepikir para buruhku tentu menaruh obat perangsang pada air minumku.
Gairah yang memang sudah ada sejak semula menjadi kian bertambah dipicu perangsang dan film porno yang mereka berikan cukup untuk membuatku segera keluar kamar dan melihat para buruhku, berharap mereka cukup jantan untuk bertanggung jawab atas birahi yang mereka timbulkan padaku, karena aku masih sadar bahwa aku seorang gadis tidak boleh meminta lebih dulu apalagi masalah birahi, gengsiku masih tinggi.
Jadi kubiarkan saja mata mereka melumat tubuhku ketika aku lewat gudang tempat kerja mereka, mereka bersorak ketika melihatku.
“Neng, kepanasan ya, sini dong, biar kita bukain baju neng, pasti asik”, Arman mulai menggodaku.
Mereka semua bertelanjang dada karena memang sudah kebiasaan mereka bekerja apalagi hari panas begini.
“Sini aja lah non, kita tau koq non kepanasan, kita bikin asik yuk non, mama non juga mau koq di telanjangin sama Nurdin”, Kodir yang sudah terlihat horny berusaha membujukku.
“Ada apa bang? buka aja jendelanya biar ga panas, papa kan belum beli ac buat ruangan ini”, kataku pura-pura ketus tidak mengerti.
“Non carline bukain jendelanya dong, kita udah ga kuat kepanasan nih”, Odet cengar-cengir mesum memandangku.
“Kalian tau masalah mama? gimana mulanya sampai mama bisa begitu sama Pak Nurdin?” teriakku ketika sadar ucapan mereka tadi telah menyinggung-nyinggung mama, aku sudah tidak tahan lagi menahan gejolak nafsuku.
“Sini Non, biar gua ceritain mama lu yang jadi lonte sekarang, tapi buka dulu baju lu, nanti kita ajarin juga ke Non…pasti demen deh”, teriak Dulah dengan muka garangnya.
Dengan langkah ingin tahu akupun menuruti perintah Dulah, aku masuk ke gudang tempat kerja mereka, tempat yang selama ini aku tidak berani memasukinya, kotor dan bau keringat diruangan itu.
“Heh, lu masih belum buka baju, ayo buka! atau mau kita yang bukain?”, Dulah kembali teriak seakan memberi sugesti padaku.
Keempat temannya serentak mendekatiku dan menarik tanganku
“Sini non biar abang yang buka, ga usah malu-malu ya, nanti juga non kalau ketagihan pasti mau buka sendiri”, Arman yang mulai menyentuh punggungku.
“Bang, kalau mau cerita, cerita aja, kenapa harus buka-buka baju segala”, kataku seolah mempertahankan kehormatanku.
“Harus neng!, karena kita juga tau neng Carline lagi horny, nanti kalau diceritain, neng bisa lebih horny lagi, kan lebih enak kalau sambil telanjang, kalau mau kita telanjang sama-sama aja gimana?” kodir mulai melecehkanku lagi.
Mereka rupanya sudah menebak bahwa aku sudah ingin digarap sehingga tanpa tedeng aling-aling lagi Dulah berkata, “Udahlah ga usah banyak bacot, buka cepet Non, karena kita semua mau nyoba ngentotin lu sekalian meriksa amoy kayak lu masih perawan atau ga? lu pasti bisa dipake kan?”
Seharusnya aku marah dan takut mendengarnya, tapi aku malah senang tapi pura-pura ketakutan.
“Saya masih perawan bang, jangan perkosa saya bang, ampun! Nanti papa marah”, kataku dengan wajah tegang.
Mereka tertawa bergelak mendengar kata-kataku yang terdengar aneh.
“Dasar amoy sombong, udah horny juga masih pura-pura malah bawa-bawa bapaknya segala, lu tuh malah mau kita bikin bunting tau!! harusnya lu seneng dapet hadiah anak dari kita.”
“Coba neng abang periksa apa bener nih masih perawan? duh mulusnya dada neng, pasti pentilnya merah ya”
Kodir berani meraba dadaku yang masih memakai tanktop. Anehnya aku seakan terkena hipnotis akibat sentuhan itu, aku diam saja ketika tangan-tangan kasar mereka melucuti pakaianku satupersatu hingga aku hanya mengenakan bra dan celana dalam saja.
“Bang, ampun, Fei Chen ga mau hamil, jangan bang, Fei janji gakan sombong lagi sama abang-abang”, rintihku masih pura-pura.
Rintihanku ternyata membiuat mereka semakin beringas.
“Hehehe telat neng, kontol kita udah ngaceng nih, ga kan hamil koq, abang punya obatnya”, Odet berkata sambil mulai membuka celana panjangnya, terlihat gembungan besar dalam celana dalamnya, bulu kudukku bergidik melihatnya, tapi tulangku terasa lemas sekali.
“kalo lu hamil pun apa peduli gua, lo emang harus kita bikin hamil biar ga pada sombong, ayo det sekalian buka semuanya, gila putih banget euy, mulus lagi, gua mau ngecrot banyak nih, pasti dalemnya lebih mulus lagi”, kata Odet lagi.
Secara tiba-tiba aku merasa dadaku dingin ketika Odet menarik braku sampai terlepas. mereka tertawa-tawa sambil membuka celana masing-masing.
“Buset! baru sekarang gua liat susu amoy, putih banget non! pentilnya pink lagi, pasti memek non juga pink ya”, Kodir berkata keras sekali.
Dadaku memang cuma berukuran 32B, tapi bentuknya bulat tegak menantang. Sesaat kemudian Dulah melepas celana dalamku sambil tidak henti menjilat payudaraku yang sudah mengeras.
“Non, kita maen dikamar lu aja yah, biar ada kasurnya, masa lu mau kita entotin dimeja”, Dulah berkata sambil memanggul tubuhku seperti ringan sekali.
Diiringi tertawa temannya aku beramai-ramai di gotong kekamarku lalu mereka mengunci pintu kamarku dari dalam.
“Dul, periksa dulu bener ga dia masih perawan”, Arman berkata penasaran.
“Ayo lu tengkarak diranjang lu, gua periksa dulu memek lu..”, kata Dulah.
Aku menuruti kata-kata dulah, aku telentang diatas ranjangku.
“Wah, bener kata lu dul, memeknya pink, mirip film bokep jepang, jembutnya tipis lagi, neng buka pahanya donk, biar kita semua liat memek neng”, Kodir menyuruhku mengangkang sambil tangannyapun ikut membuka pahaku.
Dengan sangat malu aku membuka kedua belah pahaku, terasa angin menyentuh lubang vaginaku. aku merasa sangat terhina dalam keadaan ini, mengangkang dan dipelototi mata buas para buruhku.Tapi dadaku sudah terbakar nafsu sehingga aku malah menikmatinya.
“Anjrit, ni amoy emang masih perawan, rejeki nomplok nih dir, memeknya udah basah gini lagi. Heh Non lu ga pernah sama pacar lu gitu?”, Dulah bertanya padaku
Aku menggeleng lemah.
“Hahaha kita beruntung amat ya dapet barang mewah gini, siapa yang mau duluan hayo?”, kata Dulah.
Suhe berkata lantang, “Ga usah rebutan, suruh aja nih amoy pilih sendiri kontol mana yang beruntung dapetin perawannya”.
Semua buruhku ternyata sudah telanjang bulat, aku merasa ini akhir masa keperawananku, terlihat penis-penis yang rata-rata hitam itu sudah tegak mengeras.
Kodir yang maju lebih dulu, ” neng, jilat dulu kontol kita ya”
Dia memasukkan penisnya dalam mulutku, terasa lain ketika aku mengoral Albert, mulutku terasa lebih penuh oleh penis Kodir yang melesak sampai tenggorokanku, lidahku terbiasa bermain dalam mulutku ketika aku mengoralnya membuat Kodir merem melek menikmatinya.
“Duh enak bener neng, udah biasa ya, gimana rasanya kontol gua? enak kan?”, Kodir meracau.
Aku merasakan aroma menyengat pada penis kodir, tapi aku menikmatinya.
” Hai, gantian donk Dir, kita-kita juga mau dikaraoke sama non Carline”, yang lain teriak-teriak minta jatah, akhirnya satu persatu penis mereka masuk dalam mulutku, sampai mulutku terasa bau aroma penis mereka.
Rupanya mereka kuat sekali karena kalau aku mengoral Albert, dalam 10 menit spermanya sudah keluar, tapi para penis buruhku ini malah terasa makin membesar dan mengeluarkan cairan pelumas dari kepala penisnya yang sudah disunat itu, sungguh berbeda dengan albert, penisnya tidak berkepala karena dia tidak disunat sehingga cairan pelumasnya masih dalam kulit penisnya.
Benar-benar sensasi yang membuat darahku berdesir melihat penis-penis hitam yang mengkitat didepan wajahku. Penis Dulah yang terbesar tapi tidak sepanjang penis arman, sementara penis yang lainnya mirip-mirip, tapi tetap lebih besar dari milik albert yang hanya kira-kira 10 cm waktu ereksi. ini rata-rata bisa sampai 20 cm, duakali lipat dari segi panjangnya dan juga besarnya
“Nah non ayo pilih penis yang mana yang non mau buat pertama kalinya?”, Suhe memintaku memilih penis dari buruh-buruh yang mengelilingiku.
Aku kembali merasa terhina dengan kata-kata itu.
Aku menggeleng lemah lirih sekali aku berkata, “Yang mana aja bang, Fei udah ga tahan” tanpa sadar aku mengakuinya.
“Iya gua tau, tuh memek lu udah keliatan basah. Dir, ambil saputangan disitu, kita tutup aja matanya biar ga liat siapa yang ambil perawannya, iyakan Non, yang penting nanti kita bikin lu enak waktu diperawanin”, Dulah menyuruh Kodir, matakupun ditutup oleh saputanganku sendiri.
Farahku bergolak menikmati sensasi ini, dalam keadaan terhina aku malah tidak tahu siapa yang pertama menyetubuhiku, tanpa sadar pula aku makin membuka kedua pahaku hingga lubang vaginaku terasa sedikit terbuka. Terdengar tawa-tawa kurang ajar yang makin melecehkanku.
“Tuh kan anak pasti mirip ibunya, ni cewek bakal jadi calon lonte kita hahaha, ayo kita undi siapa yang beruntung”, terdengar suara mereka tertawa-tawa aku tidak melihat apa yang mereka lakukan tetapi sesaat kemudian terasa ada lidah yang menjilati vaginaku.
Aku semakin tidak tahan,, para buruhku seakan mau mempermainkanku, mereka tidak bersuara sama sekali sehingga aku tidak tahu saat ada benda tumpul yang berusaha menerobos vaginaku, aku tahu sesaat lagi aku akan melepas virginku, aku berusaha supaya tidak tegang dan melemaskan otot-otot tubuhku.
Aku merasakan penis itu berusaha menerobos vaginaku yang masih sempit tertutup.Penis itu menekan kuat sekali sampai aku merasa ada yang pedih sekali, aku mengerang kesakitan, penis yang telah terbenam itu tiba-tiba dicabut keluar dari vaginaku, perih sekali rasanya.
Lalu aku merasakan penis memasuki vaginaku kembali, rasa nikmat mulai menjalari sekujur tubuhku disela-sela perihnya vaginaku.penis itu maju mundur sebentar lalu keluar lagi, lalu penis itu masuk lagi. Aku mulai sadar pastilah kelima buruhku sedang bergantian menggagahiku, karena penis ketiga ini terasa berbeda dari yang sebelumnya, begitupun dengan peniis-penis sesudahnya.
Setelah kelima penis itu bergiliran memasuki lubang vaginaku, terdengar suara riuh rendah buruhku yang telah berhasil memerawaniku.
“Neng sekarang buka penutup matanya, pasti neng mau liat kan?\” aku mengangguk pelan, lalu kubuka penutup mataku.
Aku kaget sekali waktu kulihat darah merah tua mengalir diantara kedua pahaku, dipenis kelima buruhkupun ada darahku.
“Nah sekarang lu udah bebas kita entotin, hahaha lu pasti bingung siapa yang pertama tadi? mulai sekarang lu harus mau kita entotin, sekarang lu telentang lagi kayak tadi, buka mata lu lebar-lebar biar lu tau enaknya kontol kita”, Dulah dengan kasar mendorong tubuhku sampai terjengkang keatas kasurku, rupanya dia sudah ingin menggagahiku lagi.
Aku menurut saja meskipun vaginaku masih terasa sakit, diiringi sorak para buruhku aku kembali membuka kedua pahaku memperlihatkan vaginaku yang sudah berdarah.Penis Dulah begitu besar ketika menyeruak memasukiku, aku terpejam menikmatinya, aku tidak sadar telah merintih-rintih menikmatinya.
“he Non, memek lu ternyata enak juga ya, lebih enak dari memek perek terminal Dir, coba kalau semua amoy kayak lu, pasti laku dah”, Odet yang dari tadi memperhatikan kami mengelus-elus kedua putingku lalu menyedotnya.
Suhe yang bertugas memegangi kakikupun sibuk mengelus-elus kedua pahaku, sementara Dulah menindihku diantara kedua pahaku, arman sibuk mengocok-ngocok penisnya dan kodir menyuruhku mengulum penisnya. Seluruh otot ditubuhku seakan copot ketika aku merasakan arus orgasme pada vaginaku.
Inikah rasanya orgasme… nikmat sekali. Dulah semakin mempercepat gerakannya, terasa penisnya sudah keras sekali dalam tubuhku, lima belas menit kemudian terasa ada aliran hangat membanjiri rahimku, rupanya Dulah sudah mencapai klimaks. Spermanya banyak sekali dirahimku sampai yang meleleh keluar vaginakupun banyak.
“Wuah bener-bener enek ni amoy, gua udah lama nungguin saat ini, anjrit banget Dir lu cobain deh”, Dulah melepaskan penisnya dari vaginaku, melelehlah sperma dulah bercampur darah dan mungkin juga cairan orgasmeku.
“Neng, sekarang giliran abang ya, Dul lu tega, memeknya udah disiram begini, dibersihin dulu ya neng”, Kata kodir sambil mengambil tisu dan mulai mengorek vaginaku.
Setelah bersih Kodir memintaku dalam posisi nungging. Aku yang sudah dikuasai birahi sudah tidak peduli siapa yang menyetubuhiku, aku hanya ingin merasakan orgasme lagi.dan lagi, pantas saja mamaku betah bersama Nurdin.
Aku menuruti Kodir, lalu dia memasukkan penisnya dalam vaginaku, masih terasa ngilu pada posisi dogi ini, tapi karena vaginaku sudah licin oleh sperma dulah, penis Kodir pun berhasil memasuki vaginaku.
“hhmmmmm, bang”, aku melenguh sejadi-jadinya saat kenikmatan itu menguasai tubuhku.
Penis Kodir yang panjang bergerak maju mundur menggedor rahimku, sementara tangan-tangan jahil odet, arman dan suhe masih sibuk menggerayangi sekujur tubuhku. Tiba-tiba tubuhku mengejang saat puncak kenikmatan datang, tawapun kembali meledak dikamarku.
“Si non udah ngerasa keenakan tuh, terusin Dir, lebih dalem lagi, liat matanya sampe merem melek gitu.enak ya non?,” ucap Odet setengah melecehkanku.
Tanpa mempedulikannya aku mengangguk.
“Mmhhhh enak bang… aduuuhh”, tak terasa glombang orgasme kembali menimpaku.
Inilah keuntungan jadi wanita, bisa orgasme berulang-ulang. Penis Kodir masih saja terus menyodok-nyodok vaginaku, dia telah tahu titik lemah wanita, aku melenguh sejadi-jadinya menikmati perlakuan ini.
“Non, daripada ribut-ribut nih emut aja kontol gua”, Odet memegangi penisnya menuju mulutku.
Benar-benar tak sadar aku membuka mulutku menyambut penis Odet yang tampak berurat tegang. Dia memaju mundurkan pantatnya sehingga penisnya pun ikut maju mundur dalam mulutku.
“Non Carline keliatan cantik sekali kalo lagi kayak gini ya, liat susunya bergerak-gerak”, aku tak tahu siapa yang nyeletuk begitu.
“Neng Carline…… gua mau keluar nih, didalem ya neng”, sperma Kodir akhirnya muncrat-muncrat dalam vaginaku.
Mulutku tetap mengulum penis Odet karena gerakan odet pun semakin cepat sampai akhirnya diapun menyemprotkan spermanya dalam mulutku, terasa asin, jijik sekali.
“Telen aja non, nanti kebiasa malah jadi enak koq”, Odet rupanya tahu aku mau memuntahkan spermanya.
Aku mengangguk sambil berusaha menelan cairan spermanya yang kental. masih mending makan telor mentah pikirku karena baunya aneh sekali. Baru kali itu aku menelan sperma, dengan Albert dia selalu keluar diluar mulutku. Sekarang tubuhku sudah penuh lelehan sperma, dan Arman yang sedari tadi mengocok-ngocok penisnya mulai maju mendekatiku.
“Neng masih tetep nungging ya, gua mau coba anus lu”, kata Arman membuatku kaget sekali.
“Jangan bang, jangan lewat situ, takut”, cegahku sambil menutupi anusku dengan tangan.
Dulah terlihat menyeringai, dia sudah ada dikasurku, sambil memegangi tanganku dia berkata, “Elu nurut aja deh,biar kita jebol semua lubang dibadan lu, nanti juga lu kebiasa, jadi hari ini sekalian aja bukan cuma memek sama mulut lu tapi juga anus lu”.
Tenaga dulah sangat kuat bagiku, dalam posisi tak bisa bergerak penis Arman masuk dalam anusku, berkali-kali gagal sampai Arman meludahi anusku.
“Anjing lu susah bener”, omel Arman.
Setengah berteriak menahan sakit aku sampai menggigit bibirku.
“Tahan neng, dikit lagi”, arman terus menyodok anusku.
Dan dia berhasil menerobos anusku dan langsung orgasme karena daritadi dia sudah lama mengocok penisnya.
“Gila sempit banget nih bool, baru masuk aja gua udah ngecrot”, katanya kecewa.
Semua menertawakannya, jangan-jangan lu ga tahan lama man”.
Aku merasa lega setelah semua sudah membuang hajat najisnya. Dalam keadaan telanjang bulat aku masih telentang dikasurku dengan posisi kaki mengangkang, rasa nyeri, perih dan linu masih ada dalam vaginaku.
“hari ini neng boleh istirahatin memek neng ya, lain kali kita maennya semaleman. Mulai sekarang lu harus layanin kita semua kapanpun, dimanapun kecuali kalo lu lagi haid, itu juga lu harus buktiin dulu kalo lu bener-bener haid, Suhe ambil kanera itu cepat”, Tak lama Dulah memotret tubuh telanjangku dengan kamera digital milikku.
“Non, kamera ini kita pinjem dulu, kalo lu macem-macem, inget gua punya kamera yang isinya tubuh lu hahhahaha”, kata Dulah.
Aku menghela nafas panjang, kenapa harus begitu pikirku, tanpa kamerapun aku masih mau disetubuhi mereka, tapi ah aku tidak ambil pusing jadi kubiarkan saja mereka mengambil kamera dan mengambil foto bugilku.
“Tapi jangan sampai tersebar ya bang, Fei malu kalo sampe ketauan”, aku memohon.
“Tenang aja non, ini rahasia kita koq, ini cuma buat jaga-jaga aja”, Odet menimpaliku.
“Lah, masih takut ketauan segala, mama lu juga sekarang malah terang-terangan, Udah sekarang lu gua suntik dulu biar ga hamil, karena kita masih mau entotin lu laen kalim ayo cepat tengkurap!”, perintah Dulah, yang segera kuikuti karena akupun tidak ingin hamil oleh mereka.
Setelah disuntik aku diberi sebutir pil yang katanya supaya aku terlindungi dari penyakit. Aku tidak tahu mereka mendapat obat seperti itu darimana tapi aku tidak mau ada resiko hamil, jadi kuturuti saja anjuran mereka.
Hari sudah sore, tak terasa sudah 4 jam yang lalu aku digilir para buruhku, aku masih tergolek dikamarku tanpa busana. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Aku mandi setelah cici dan adikku pulang. Sejak saat itu sikapku pada buruhku berubah 180 derajat, seakan aku sudah menjadi milik mereka.
Setiap rumahku sepi, aku berani berkeliaran dirumah tanpa pakaian, dan merekapun berani memasuki kamarku, menyetubuhiku dengan bebas. Kalau aku berkunjung ke gudangpun, mereka tidak ragu lagi meraba-raba pahaku yang sengaja kuperlihatkan pada mereka, mereka pun tidak ragu lagi menyetubuhiku digudang.
Demikianlah pembaca sekalian, sampai sekarang aku selalu ketagihan untuk disetubuhi. Merekapun punya jadwal tidur bersamaku. Cerita berikutnya aku membawa cici dan adikku untuk disetubuhi bersama-sama, tunggu kelanjutan cerita ini pada kesempatan berikutnya.
Bersambung…
Hari menjelang sore ketika kudengar suara deru mobil digarasiku, tak lama kemudian ciciku Christine terlihat setengah berlari menuju kamarnya. Tak sengaja kulihat ada air menggenang dipelupuk matanya, aku tersentak beberapa saat kemudian.
Ada apa dengan ciciku itu, biasanya dia tidak pernah menangis apalagi bila terlihat orang. Tanpa mempedulikan aku, dia berlari kecil kekamarnya. Dengan rasa penasaran kuikuti cici kekamarnya, aku mulai kuatir dengannya.
Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya dan terlihat ciciku itu benar-benar menangis dikasurnya. “Cici, ada apa? Kenapa nangis?” kataku sambil mendekati ciciku dan kupegang bahunya. “Fei chen…. cici putus… ” suara ciciku tercekat diantara tangisnya.
Aku sebenarnya tidak terlalu aneh mendengar hal ini karena sudah kukira hubungan mereka cepat atau lambat pasti segera berakhir. Steven nama pacar ciciku itu, dia sering kupergoki sedang kencan dengan gadis yang berbeda,
Steven itu tipe cowok mata keranjang, selama ini aku tidak berani memberitahu ciciku tentang perilaku Steven, aku tahu cici begitu berharap padanya karena disamping wajahnya yang keren, dia juga terkenal tajir, aku tidak mau melihat ciciku sedih, meskipun akhirnya sekarang ciciku sudah putus, aku pura-pura tidak tahu saja. Aku memeluk ciciku dan berusaha menghiburnya, “Sudahlah ci, mungkin Steven bukan yang
terbaik buat cici, mendingan cici lupain aja, toh semua sudah terjadi, tenang ci, masih banyak cowok yang lebih baik” kataku sambil mengusap-usap punggung ciciku. Dia masih terus menangis, tapi kubiarkan saja, dia memang butuh menangis untuk meluapkan kesedihannya, pelan-pelan
aku bertanya padanya “Ci, ada apa dengan kalian? apa yang terjadi? padahal kemarin sabtu kalian terlihat baik-baik saja, kenapa sekarang koq bisa putus tiba-tiba?” Sambil terisak ci Christine menceritakan apa yang dialaminya.
Aku tidak tahu harus menulis apa untuk menceritakan kembali kata-kata ciciku buat para pembaca Ngocokers sekalian karena dia ceritakan itu sambil menangis dan dalam keadaan emosi. Aku tersentak kaget mendengar pengakuan ci Christine karena semua dugaanku meleset jauh. Aku jadi semakin membenci para cowok seperti Steven, apalagi setelah kudengar ternyata cicikupun sudah diperawaninya.
Yah, pembaca sekalian, ciciku menceritakan Steven yang dipaksa menikah oleh keluarga pembantunya karena telah manghamili Surti, gadis 16 tahun yang menjadi pembantunya, keluarganya tentu menentang ini tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena ternyata keluarga Surti tidak bisa terima anaknya hamil diluar nikah.
Diberi uang banyakpun keluarga Surti tetap tidak mau, malah balik mengancam keluarga Steven, dan pada akhirnya keluarga stevan harus menyerah menikahkan stevan dengan Surti sang pembantu. Semua menyayangkan kejadian ini, betapa tidak, Steven coeok ganteng,chinesse,tajir pula harus menikah dengan Surti gadis jawa pembantu rumah
tangga, sungguh Surti yang beruntung dan ciciku yang malang. Sejak putus dengan Steven, ci Christine menjadi pemurung, sering melamun dikamarnya. Aku ikut prihatin melihat keadaannya itu. Sikapnyapun berubah drastis dari cuek menjadi pemarah. Aku sudah menduga sikanya sekarang ini akan menjadi bencana baginya dikemudian hari, tapi akupun tidak berani menasihatinya karena sikapnya benar-benar meradang.
Suatu hari sepulang kuliah aku mendapati ciciku sedang memarahi Oman, sopir truk yang biasa disewa papa untuk mengangkut barang. Usep sang kernet berusaha menengahinya, tapi sia-sia malah ikut kena marah ciciku,.
”Dasar goblok, liat liat dong kalau jalan, ini buku mahal sekali tau!” teriak ciciku yamg ternyata buku kuliahnya terinjak Oman waktu mengangkut barang.”Maaf neng, ga sengaja” gagap Oman dengan wajah pucat. ” Iya, maaf neng, tadi ga liat ada buku dibawah jadi ga sengaja kita injak, maaf ya” Usep tampak berusaha sesopan mungkin menghadapi ciciku yang memang sedang kalap. ”
maaf-maaf enak saja kalian bilang maaf, gimana buku gua jadi kotor neh, gaji kalian saja ga cukup kalau beli buku ini, enak saja bilang maaf, makanya kalau jalan matanya dipake atau kalian ga punya mata yah! cuih! dasar orang kampung ga tau diri! udah sana pergi, jangan bengong disitu! teriak ci christin sambil meludah kearah Oman dan Usep. Keduanya segera pergi dengan wajah menahan marah.
Buru-buru aku menyusul mereka untuk minta maaf “mang Oman, maaf ya tadi cici sikapnya begitu, dia memang lagi stress, jangan diambil hati” kataku. Kedua orang itu memandangku masih dengan wajah marah ” iya neng, ga apa, memang begini nasib orang kecil, cuma bilang sama kakak neng jangan meludah sembarangan, ga semua orang bisa terima diludahi begitu” jawab mereka ketus. ”
Iya nanti saya sampaikan sama cici, terimakasih ya” kataku berusaha tersenyum.Memang sejak aku digauli oleh para buruhku, sikapku berubah drastis terhadap mereka, mungkin ini reaksi bawaanku sebagai seorang gadis.
Sebagai gadis keturunan, aku belum dapat menerima mereka sebagai orang pribumi, tapi naluri kewanitaanku memaksaku menerima mereka sebagai pejantan yang telah memerawaniku, aku tidak ingin mereka memuaskan nafsu mereka pada wanita lain. Aku selalu ingin merasakan jamahan tangan-tangan mereka pada tubuhku. Aku sekarang terbiasa ramah pada mereka dengan catatan mereka harus merahasiakan hubungan aku dengan mereka.
Tidak terasa hari-hari berlalu dengan cepat, dua bulan sudah sejak virginku hilang, aku mulai terbiasa dengan sex bebas dirumahku sendiri tanpa terasa sakit lagi pada vaginaku.
Setiap habis dipakai, Dulah selalu memberiku obat anti hamil dengan diminum atau disuntikkan pada pantatku, sedangkan Suhe selalu memberiku jamu agar vaginaku tetap sempit katanya, aku sendiri rajin senam aerobic agar bentuk tubuhku tidak berubah akibat persetubuhan itu.
Tak terasa pula koleksi rekaman yang isinya adegan persetubuhanku dengan mereka mulai banyak, Arman rajin sekali mendokumentasikan sex bebas kami. Akupun selalu wanti-wanti agar rekaman itu tidak tersebar, meskipun aku meragukan kejujuran mereka.
Sebenarnya aku takut sekali pada Dulah, dia sering sekali mengancamku dengan adeganku atau dengan tidak memberiku obat anti hamil untuk memeras uangku, terpaksa aku memberinya uang demi menyelamatkan nama baikku.
Kadang aku kesal sekali padanya, tapi aku tidak berdaya karena ancamannya itu, aku tahu dia tidak akan ragu untuk menyebarkan rekaman itu pada teman-temannya karena pada dasarnya mereka benci sekali pada orang-orang bermata sipit sepertiku.
Aku menyesal sekali dulu pernah memulai permainan ini dengan membiarkan mereka merekam semuanya, tapi sesal kemudian memang tidak berguna, kini aku seperti memakan buah simalakama, harus rela melayani para buruhku dengan sperma dalam rahimku dan aku harus mengemis untuk mendapatkan obat anti hamil dari mereka, itupun aku harus membayar mahal sekali.
Para buruh itu senang sekali mengerjaiku, sialnya tubuhku ini selalu merespon ulah mereka, dan aku tidak bisa menolaknya sama sekali.
Suatu hari setelah kelima buruhku bermain sex denganku, Kodir mengeluarkan spermanya dalam anusku karena vaginaku telah penuh cairan sperma Odet dan Dulah, sementara tubuhku telah basah oleh sperma arman dan suhe. Aku tergolek tanpa busana digudang tempat kerja mereka, diatas matras busa tempat tidur mereka.
”Bang, mana obat anti hamilnya? sekarang Fei lagi masa subur, please bang, Fei chen ga mau hamil” pintaku pada mereka.dan memang saat ini adalah masa-masa suburku. “Gua juga udah tau lu lagi masa subur, barusan memek lu ngasih tau kita semua hehehehe”
Kodir berkata sambil tetap berbaring disampingku. “Moy, kenapa lu ga mau bunting? kita-kita juga mau koq punya anak dari lu, lagian sekarang harga obatnya naik jadi gua udah ga punya cadangan lagi” Dulah menimpali omongan Kodir dan membuatku kaget setengah mati. Hamil? aku tidak mau hamil!! apalagi aku tidak tahu sperma siapa yang membuahiku tadi. ”
Tolonglah bang, berapapun Fei bayar asal abang semua carii lagi obat itu buat Fei, Fei ga mau punya anak dari kalian” kataku setenngah menangis. “Jangan nangis non, harganya sekarang xxxrb yang pil, kalau suntikan Rp xxrb.. nanti kita beli deh” wajah suhe cengengesan membuatku tidak percaya perkataannya.” xxxrb? kan biasanya juga cuma xxrb, kalo suntikpun cuma xxrb? ga
salah tuh bang?” Eh si non malah ngeyel, udah dikasitau sekarang semua harganya naik, kalau non ga mau ya sudah hamil aja hehehe” Kodir menimpali setengah mengancamku. “
Kalau lu ga percaya, lu beli sendiri sana” Aku memang tidak percaya, kalau xxxrb harga sekali digauli, berarti dalam sebulan aku bisa mengeluarkan uang banyak sekali untuk menjaga kehamilan, apalagi hampir tiap hari mereka menggauliku kecuali jika aku haid. oooo aku harus beli langsung obat itu.
“iya deh bang, Fei beli sendiri aja, tapi Fei ga tau tempatnya, minta alamatnya saja, nanti Fei beli sendiri” kataku akhirnya. Kodir segera mengambil kertas kecil dimejaku, lalu menuliskan sebuah alamat kemudian memberikannya padaku sambil tersenyum penuh arti, anehnya semua temannyapun ikut tersenyum nakal.
Waktu kubaca tertera sebuah alamat yang ternyata masih daerah rumahku hanya beda beberapa blok. Aku ingat daerah itu adalah tempat yang rawan karena sering ada preman mabuk dan pemalak-pemalak yang korbannya anak sekolah yang kebetulan lewat situ, aku tahu karena dulu Albertpun pernah kena palak dan nyaris dipukuli.
Tapi selama ini aku sendiri belum pernah kesana karena aku selalu keluar rumah memakai mobilku atau diantar papa waktu masih kecil, jadi selalu dilarang bermain diluar rumah.
yah begitulah gadis-gadis keturunan Chinesse, tempat mainpun tidak boleh sembarangan. Tak terasa bulu kudukku merinding membayangkan daerah rawan itu, tapi aku tidak mau terus menerus diperas para buruh ini, aku harus mencari anti hamil itu karena aku yakin sekali harganya tidak semahal yang dikatakan Kodir.
“lu cari aja yang namanya Ahmed atau asistennya si Parjo, lu bilang aja tau dari Dulah, taukan tempatnya? kakau ga tau, biar ntar gw anterin, tapi harus jalan kaki karena rumahnya masuk gang, gimana moy? ” Dulah merinci alamat itu.”
ehmm iya deh bang, nanti besok pagi kalau papa dan mama sudah berangkat, kita kesana, Fei belum tau tempatnya, abang anterin Fei ya” kataku akhirnya. ” nah gitu dong neng, harus ada pengorbanan biar ga hamil, jangan cuma bisa nyuruh-nyuruh kita, cuma neng Carline harus pakai sunblok dulu biart kulitnya ga jadi item, sayangkan kulit putih mulus gini harus jadi item” Suhe memberi masukan tentang kulitku, aku tersenyum, mereka tidak tahu kulitku ini sangat unik, kepanasanpun paling cuma merah sebentar lalu balik lagi putih kapas. ”
iya deh bang, nanti Fei pake sunblok biar abang selalu horny” kataku sambil memegang batang penis suhe yang dalam posisi setengah tegang, suhe pun tersenyum mesum.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, diruangan itu aku masih tampak telanjang bulat bersama kelima buruh yang juga telanjang, aroma spermapun tercium pekat sekali terutama ditubuhku.
“Non cepat pake baju non, sebentar lagi papa non pulang, mama non juga pasti sebentar lagi pulang, nanti kita malah dikawinin heheheh”arman mengingatkanku. Aku tersentak, gawat, dengan cepat aku memakai kembali bajuku lalu segera berjalan cepat kekamarku dan mandi bersih.
Buruh-buruh itupun segera berpakaian lalu kembali ke mess mereka dibelakang rumahku. Jam 4.45 sore mamaku pulang bersama Nurdin dari kantornya, sementara papaku masih belum pulang. Mereka terlihat mesra sekali, apakah mama sudah jatuh cinta pada Nurdin? kataku membatin.
Aku tahu pasti Nurdin sengaja menjerat mamaku agar gajinya jadi berlipat. ahhhh sudahlah, itu urusan mereka. tak lama kemudian papaku pun pulang. ” Fei chen,
mana Fei ling dan Fei shuang? papa ada perlu nih” kata papa, ” Wah ga tau pap, dari siang Fei chen belum liat cici atau Evelyn. ada perlu apa gitu pah? tanyaku ingin tahu.
“ya sudah nanti kalau sudah pulang, suruh ketemu papa ya, kamu sendiri hari ini koq ga kuliah? “
” Sudah koq pah, tadi siang Fei sudah pulang” kataku datar
Huh biasanya dia tidak peduli aku kuliah atau bolos, basa basi sekali. Tapi kasian juga papa, mama sudah nyeleweng pun dia masih mau tinggal serumah, benar-benar pria yang baik.
Malamnya aku kembali merenungkan kejadian yang kualami hari itu, aku membayangkan betapa dulu aku sempat membenci kulitku yang putih ini karena aku sering menjadi bahan pelecehan orang, tapi sekarang aku bangga sekali pada kulitku yang mulus, aku ingin orang-orang yang dulu sering melecehkanku itu menjamah tubuhku, keinginanku sudah terlaksana.
Aku teringat cerita-cerita buruhku bahwa mereka ingin sekali menikmati tubuh gadis-gadis chinesse sepertiku, tapi mereka hanya mendapatkannya dariku. Dalam keadaan wajar mereka tidak mungkin mendapatkan wanita sepertiku, dari ras, status sosial atau sifat kebudayaan yang membuat tidak dapat bersatu.
yah, itu kata sejarah, tapi di rumahku ini telah terjadi hal yang melawan sejarah, aku malah sudah ketagihan merasakan keperkasaan buruhku, kebencian dan nafsu terpendam mereka seakan mendapatkan pelampiasannya padaku, dan aku sangat menikmatinya.
Apalagi wajahku ini tergolong cantik inocent, yang saat ini jadi trend dikalangan anak-anak muda. Albert bagiku sudah menjadi kenangan, dia cowok baik, tapi kurang berani bertindak, sedangkan aku lebih membutuhkan cowok jantan yang bisa memuaskan hasratku.
Aku sungguh mendapat kepuasan itu dari para buruhku, orang-orang yang dulu sering kuhina, yang ternyata juga sangat berhasrat menyetubuhiku.
Hari sudah malam saat aku mengatur rencana untuk besok, aku ingin membeli banyak obat anti hamil untuk persediaan
dikamarku, tentunya aku bisa mendapatkan harga yang murah, otak bisnisku muncul dengan sendirinya. Aku ingat teman-teman kuliahku yang rata-rata sudah melakukan ml
dengan pacarnya tentu membutuhkan obat itu dan aku bisa menjualnya dengan harga tinggi.
“Carline, bangun dong sayang, udah siang nih, mama mau pergi survey dulu ya, mau nitip apa kamu?” mamaku teriak didepan kamarku, tak terasa hari sudah jam 7 pagi.
“iya ma, sebentar lagi, Fei masih ngantuk, nitip nasi tim aja deh buat nanti sore, siang ini Fei makan diluar” teriakku pula dari kamar, wuahhh, masih malas nih, apalagi disuruh
bangun, badanku masih terasa penat sekali, otot-otot dipangkal pahaku terasa pegal dan ngilu-ngilu, mungkin akibat acara gangbang kemarin. Aku sudah terbiasa dengan keadaan itu karena hampir tiap hari aku pasti pegal-pegal bila bangun pagi.
Tiba-tiba aku ingat rencanaku hari ini, bisnis baruku ini harus lancar. Buru-buru aku mandi karena kamar mandinya ada di dalam kamar tidurku, aku segera berpakaian, ku pakai baju kaos merah dan celana jeans biru kesukaanku.
Aku harus cepat menemukan obat itu karena aku terancam hamil kalau terlambat mengkonsumsinya. Dengan terdesa-gesa aku ke mess buruhku di belakang rumah. Kelima orang itu tampaknya sudah bersiap-siap kerja menuju rumahku, belum apa-apa tampang mereka sudah terlihat mesum begitu melihatku datang.
“aduh non Carline pagi-pagi gini udah kesini, kangen ya sama kita”Suhe menyapaku dengan tampang sesopan mungkin tapi tetap saja matanya itu seperti mau menelan tubuhku.
“non, siapa aja yang tahu hari ini non mau kemana?” tanya Kodir
“tenang aja bang, ga ada yang tau koq, semua pasti ngira Fei pergi kuliah dijemput temen, toh tadi pagi mama sudah berangkat jadi gak bakal ada yang tanya-tanya lagi, cici dan Evelyn kayaknya masih tidur.
“duh dasar amoy pemalesan, gua kira cuma kita doank yang males, ya udahlah tapi kenapa lu pake pakaian kayak gitu” Dulah dengan mata besarnya memandangku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Maksud abang? inikan sudah rapi, katanya kemaren ga boleh kena sinar matahari, daripada pake bodi lotion kan lebih enak pake baju ini, jadi ga lengket kulitnya” kataku.
“Hahaha dasar bego lu, kaya-kaya tapi tetep aja bego, kemaren maksud kita lu ga usah pake baju yang tertutup gitu, jangan sok munafik, memek lu aja udah kita jebol, jadi ga usah pura-pura, kalo lu ga mau pake lotion gua sih ga peduli, ayo, lu ganti baju lu sekarang atau ga gua anter, siapa tahu lu lagi bunting anak gua. hahaha”
Tentu saja aku kaget dan terhina sekali mendengarnya tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, sekarang mereka memang sudah mengendalikan keadaan,
“jangan deh bang, Fei belum biasa keluar rumah pake baju yang terbuka, malu ah” kataku berusaha memberi alasan, aku memang tidak pernah berani keluar rumah memakai bau yang minim kecuali kalau jalan-jalan ke mall, itupun kalau aku naik mobilku sendiri.
“hai, lu mau hamil ya, udah gua bilang lu harus ikut kata gua, gua mau pamerin lu ke temen-temen gua di deket terminal, mereka udah lama pengen kenalan sama amoy secantik lu”
“apa, jangan kurang ajar gitu bang, emangnya Fei ini murahan gitu, jangan karena kita udah pernah gituan jadi seenaknya ya!” teriakku marah, harga diriku tersinggung mendengar kata-kata Dulah tadi.
“Neng, gapapa kalau neng ga mau, tapi neng harus siap-siap hamil anak kita ya, kemarinkan neng lagi subur, saya justru seneng koq, kapan lagi ada amoy yang mau kita hamilin hehehe”
Kembali aku tersentak mendengar celoteh Odet yang sangat melecehkanku itu, tapi pikiranku cepat berfikir jernih, aku tidak mau hamil anak mereka, aku hanya mau beli obat anti hamil, toh cuma sekali ini saja aku keluar rumah, sebaiknya aku tidak membuat masalah dengan mereka, disamping aku takut sekali mendengar ancaman mereka itu.
“Jadi Fei harus pakai baju yang mana bang? jangan macem-macem dong, kita kan cuma mau beli obat, masa pakai baju yang minim sih?”
“Lu jangan banyak omong lah, lu pake aja rok yang 10 cm diatas lutut, bajunya sih gapapa kaos merah juga tapi gausah pake kutang” Dulah dengan seenaknya memberi usulan bajuku. Dengan nafas panjang aku segera kembali kerumahku untuk ganti pakaian sesuai permintaan mereka, untung saja baju kaosku cukup tebal sehingga putingku tidak terlalu terlihat jelas.
“Ci, pagi-pagi gini mau kemana? gile, roknya koq mini banget?!” tiba-tiba suara adikku, Evelyn terdengar diluar pintu kamarku dan tak lama kemudian masuk ke dalam kamarku.
“Gua mau kuliah dulu ya, nanti pulang kuliah ada temen yang ulang tahun, jadi sekalian aja gua pake baju ini, bagus ga? kataku berkelit”
“wow, keren banget ci, mirip Utada Hikaru” kata adikku polos.
“hehehe thnx ya, udah deh, cici buru-buru nih nunggu yang jemput didepan rumah”
“ya deh ciciku yang cantik, siapa lagi yang jemput nih, ko Albert ya”
“eh, ehm, iya, udah ya, bye” kataku berbohong, dan dengan cepat aku keluar rumah lalu berjalan kebelakang rumah.
Tampak Dulah sudah menungguku
“ayo cepat sedikit, jem 8 gua harus kerja lagi nanti bapak lu marah, gaji gua dipotong lagi, nah gitu donk, lu harus banyak pamerin kaki mulus lu” Dulah mulai mengejekku
“tenang aja bang, papa tadi jam 7.30 sudah pergi ke bank, paling balik lagi jam 9an” kataku sambil mengikuti langkah Dulah.
Sudah kuduga sebelumnya, daerah itu sangat sangar terutama bagi pejalan kaki wanita sepertiku, baru aku masuk blok itu, terdengar suitan-suitan kurang ajar yang muncul entah darimana karena di situ banyak sekali rumah-rumah kumuh yang letaknya berdempetan,
jalanannya hanya dapat dilalui satu mobil, mobil yang lewatpun kebanyakan angkot-angkot atau truk barang karena bukan jalan utama, hasilnya sudah tentu jalan menjadi rusak berat, pantas saja mobil-mobil pribadi enggan lewat jalan sini.
Aku masih kesal, karena Dulah melarangku untuk memakai mobil, tapi melihat kondisi
jalan yang parah begini, aku agak mengerti juga meski aku ragu apa ini alasan Dulah melarangku.Aku merasa banyak mata yang memandang padaku dengan pandangan aneh, waduh daerah ini lebih dari dugaanku, mungkin penduduknya para pemulung atau orang-orang buangan semua, Dulah malah sengaja berjalan sangat cepat didepanku seakan mau meninggalkanku disitu.
“Bang masih jauh ga?” kataku gelisah.
“Cerewet lu, ikutin aja gua mau jauh atau ga, mending lu inget-inget ini jalan supaya lu bisa kesini sendiri” tanpa banyak bicara aku terus menikuti Dulah, hingga akhirnya Dulah berhenti disuatu rumah yang bertulisan Jual Obat Kuat Pria.
“Ayo lu masuk, jangan malu-malu, gua kenalin lu sama penguasa sini, hehehe lu pasti puas” Dulah menarik tubuhku kedalam ruangan yang mungkin ruang tamu tapi kumuh sekali.
Sekelebat aku melihat mobil truk barang yang tak asing bagiku.
“lho, itukan truk papa” pikirku, koq bisa ada disini?
Dari dalam ruangan itu muncul seorang pemuda berpakaian lusuh dan kurus.
“weleh, ini toh amoy yang lu ceritain itu dul, cantik amat, beruntung lu ya, hai, nama lu Carline yang tinggal dirumah besar itukan? gile, ga beda jauh sama difilmnya yah, panggilan lu siapa moy, kenalin gua Paijo”
Celoteh orang itu seenaknya membuat aku kaget setengah mati, film? dia bilang film? film apa? perasaanku mulai gelisah, ada yang tak beres, tapi aku berusaha tenang
“nama saya Carline, biasa dipanggil Fei chen bang, film apa ya? ada yang mirip saya gitu?” tanyaku tak mengerti.
“ya ada dong neng, film lu kan udah kita tonton semua, wuih, ternyata aslinya juga mulus banget ya, dul, anak majikan lu ini boleh juga, si bos pasti suka nih, diakan udah lama ngincer amoy-amoy kayak gini” lemaslah tubuhku mendengar itu.
Aku mengerling kearah Dulah, dia dengan tampang kurang ajarnya berkata ” hehehe u ga usah kaget, film lu emang sengaja gua sebarin dikalangan kita-kita aja koq, sori yah moy, abis kita semua memang kepingin cewek kayak lu sih, disini banyak yang naksir sama lu tuh, lu tinggal pilih” aku berkata lirih ” kan dulu Fei bilang jangan sampai tersebar, koq malah disebarin, gimana sih?”
aku marah sekali karena merasa dibohongi kelima buruhku, sebenarnya aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan kelima buruhku ini tapi aku tidak menyangka film ku akan disebarluaskan. Aku bangkit berdiri dan langsung keluar dari situ, tapi belum sampai dipintu ada seorang pria berbadan tinggi kekar menghadang jalan keluarku.
“Wah akhirnya lu dateng juga dul, lu tau aja gua lagi konak nih, bawa-bawa amoy segala lagi, owh, yang difilm itu ya, neng adegan lu sama Dulah boleh juga, gua suka rintihan lu, boleh dong gua coba juga, lho kalau ga salah lu pacarnya akew yang kita kerjain kemaren minggu kan?”
Hampir pingsan aku mendengar itu, ada apa pula dengan Albert, apa yang terjadi dengannya, kita memang hampir putus, jadi jarang komunikasi, aku tidak tahu apa yang
terjadi minggu kemarin karena Albert memang tidak kerumahku.
“apa maksud abang? Albert?” tanyaku terbata-bata.
“Wah, gimana nih dul, koq dia gak tau apa-apa” tanya orang yang baru datang itu.
”Biasa bos, amoy-amoy memang munafik semua, tapi mungkin pacarnya malu jadi kagak cerita hehehe kasi liat aja bos videonya, biar joss”
Tanpa banyak berkata lagi orang yang dipanggil bos itu menarik bajuku sehingga mau tidak mau aku harus mengikuti arah tarikan agar bajuku tidak sobek.
“sini Lin, lu musti liat kontol pacar lu, lu pernah liat ga?” dia mengambil handycam di sudut ruangan, lalu memberikannya padaku, aku penasaran, jadi aku menurut saja waktu dia memperlihatkan film yang membuatku merasa jijik sekali pada Albert, di film itu
Albert tampak ketakutan sekali berada disudut ruangan, tampak habis dipukuli, lalu tampak 3 orang preman memegangi tangan dan kakinya lalu melucuti pakaian Albert, terdengar suara Albert memohon ampun, tapi ketiga orang itu tidak peduli, malah tampak sangar sekali, pakaian Albert dilepas paksa sampai bugil, lalu penis Albert di close up pada jarak dekat.
“liat tuh moy, ga disunat mana enak, kecil lagi..” Dulah berkata dibelakangku.
“o, itu pacar lu moy, kasian deh lu punya pacar kayak banci gitu” kata orang pertama yang kuduga adalah teman si bos. Adegan berikutnya tampak Albert dikencingi ketiga preman itu sambil merangkak dan
membersihkan air kencingnya dengan lidah, tampak seorang preman menendang Albert, dan memaksanya trus menjilati lantai lalu membersihkan penis preman-preman itu. adegan berdurasi kira-kira 15 menit itu berakhir dengan proses mastubasi Albert di depan preman itu yang tertawa-tawa mengerikan.
“Pacar lu tuh udah belagu, pelit lagi, makanya biar tau rasa dia dikerjain si Abdul botak, tapi pacar lu cuma kita kasi pelajaran aja koq”
aku memejamkan mataku membayangkan kejadian yang menimpa Albert itu, dia memang tipe orang yang sok kaya dan pelit, aku kasihan melihatnya.
“bos, sekarang mana si botak itu? katanya mau nyobain ngentot ni amoy, tapi koq belum datang?” Dulah bertanya dan cukup membuatku shock.
Tak lama kemudian datang lagi 2 orang yang langsung kukenali sebagai sopir truk papa dan kernetnya.
“Lho non Carline koq ada disini, mau obat kuat juga ya, hehehe denger-denger non suka ngentot juga ya, kenapa ga ajak-ajak kita non?” kata Usep sang kernet. aku terdiam, panik dalam hatiku.
“Jo, ambilin obat kat buat kita semua dong, hari ini kita pake ni amoy sampe puas”Oman dengan berani mendelik padaku.
“Ok semua kebagian koq, gratis buat hari ini, dul lu mau ikutan ga?” Kata orang yang dipanggil jo, rupanya dialah Paijo sang asisten, bosnya tentu Ahmed.
“gua ga ikutan deh, mau kerja dulu, kalian saja yang nikmati ni amoy sampai puas, oya, jangan lupa kemaren kita keabisan anti hamil, ni amoy lagi subur, pengen beli obatnya langsung biar lebih murah” katanya, Dulah akhirnya memberitahu maksud kedatanganku sebenarnya.
“Tenang aja neng amoy, nanti abang kasih murah anti hamilnya, yang penting lu hari ini mesti layanin kita semua ya” Teriak Ahmed tidak sabaran. dengan ketakutan aku memelas “Jangan bang, Fei gak mau, bang Dulah tolongin Fei, Fei ga mau, Fei cuma mau beli anti hamilnya, Fei ga mau hamil” kataku hampir menangis “Emang gua pikirin, udah ga usah bawel, lu layanin aja mereka disini, gua mau kerja dulu, nanti lu pulang sendiri aja ya, kalo ga tau jalan minta anter aja sama Oman, makanya
layanin baek-baek ya, nanti malem baru giliran gua dikamar lu” Dulah berkata demikian sambil pergi keluar dengan tenangnya.
Lemaslah aku, sudah kubayangkan hari ini akan panjang bagiku, aku akan menjadi bulan-bulanan orang-orang yang tak kukenal. Lalu kudengan Oman berkata keras padaku
“harusnya kakak lu yang gua bantai, tapi ga apalah ga ada kakak, adiknya juga lumayan mulus buat gua bantai, hahahaha akhirnya kesampaian juga gua ngentotin anak majikan gua, sayang gua keduluan si Dulah merawanin ni cewek”
“Iyalah, ini juga udah bagus, gua sebenernya juga ngincer kakaknya, eh malah dapet adiknya, gapapalah yang penting gua puas” Usep menimpali Oman.
“Kita harus tunggu si Abdul dulu, jangan dientot sekarang, si Abdulkan yang paling pengalaman ngentotin amoy, mending kita bikin memeknya basah-basah dulu” Paijo tanpa diperintah mulai mendekatiku diikuti ketiga yang lainnya, aku berusaha mundur tapi ruangan itu sempit sekali, dua langkah mundurpun punggungku sudah menempel ditembok.
“ayolah non Carline, masa dientotin Dulah aja mau, masa sama kita-kita ga mau, kontol kita juga besar koq, kita kan rajin kesini ya bos, khusus ngegedein kontol” Oman terus mendekatiku
“Kontol kita semua jaminan mutu koq neng, mau liat dulu buktinya? gini-gini gua punya ramuan khas arab” Ahmed mulai beraksi melepas celananya diikuti yang lainnya,
aku tercekat tidak tahu harus berbuat apa dikelilingi pria yang terlihat bernafsu sekali memperlihatkan penisnya padaku. Dadaku serasa terbakar melihat penis mereka yang ternyata diatas ukuran normal, rata-rata hitam lagi membuatku bergidik, badan merekapun hitam berdaki, malah Oman bertatoo didadanya.
“bang jangan begitu please, saya kesini cuma mau beli anti hamil, tolong deh bang, jangan perkosa saya” kataku bergetar ketakutan.
“Duh si neng, kita udah pada lepas kolor nih, harus dituntasin, gapapa neng, nanti abang traktir anti hamil yang maknyus, sekarang buka dulu bajunya ya, kontol abang udah tegang nih, pasti badan neng mulus sekali, abang liat ya” kata Ahmed sambil meraba payudaraku,
aku berusaha memberontak tapi tak bisa karena tiba-tiba saja tangan-tangan mereka sudah memegangi tubuhku hingga tak bisa bergerak, aku panik sekali waktu itu karena memang aku tidak memakai bra akibat menuruti Dulah.Paijo meraba-raba kakiku mulai dari betis sampai paha sambil menyingkap rokku.
Oman sibuk mengocok-ngocok penisnya didekatku, Ahmed meremas-remas payudaraku, dan Usep memegangi tanganku sambil mulutnya menjilati tengkuk, telinga dan bahuku dari belakang.
“Buset ni amoy kulitnya putih amat, halus banget kulit lu neng, kakak lu dalemnya kayak lu juga atau gak?” bisik Usep ditelingaku.
Diperlakukan seperti itu lama kelamaan gairahku bangkit juga, tapi aku sungkan sekali pada mereka karena sebagian tidak kukenal, Oman dan Usep pun hanya kukenal sepintas karena mereka jarang ada dirumahku.
Hatiku kacau sekali ingin melawan tapi nafsu ini terlalu kuat untukku, tubuhku rupanya sudah ketagihan sodokan penis, maksud hati ingin melawan, tapi reaksi tubuhku mengatakan yang sebaliknya, aku diam saja waktu baju atasku dilucuti Ahmed, hingga aku setengah telanjang, kulihat kepala penis Oman sudah berkilat basah. Ahmed menciumi kedua payudaraku dengan rakusnya hingga putingku mengeras tegak.
“Nah yang begini ini yang gua mau dari dulu, kulit putuh mulus dengan puting merah pink, neng, enak gak abang sedotin putingnya? Jo, lu buka aja roknya, ni amoy kayaknya udah konak juga, gua penasaran pengen liat jembutnya, difilm kan kurang jelas.” Paijo tanpa disuruh duakali segera melepas rok yang kupakai, lalu Usep memelorotkan celana dalamku hingga aku polos tanpa busana.
“Aduh neng, bener-bener mulus, koq bisa sih badan amoy kayak gini, pantes aja si Dulah betah kerja disana, neng jadi simpenan abang aja ya.. “
Aku tertunduk malu sekali dilihat oleh empat pasang mata buas, aku hanya bisa menutupi kemaluanku dengan tangan kiri sementara tangan kanan menutupi payudaraku. Dinding vaginaku terasa berdenyut membayangkan komentar-demi komentar mereka. Sepertinya hari ini aku akan menyerahkan diriku pada mereka..
Detik berikutnya tubuhku digotong Paijo dan Usep kedalam kamar entah kamar siapa yang jelas ukurannya tidak sebesar kamarku dan warnanya sudah kumuh sekali, diterangi lampu neon, aku dibaringkan diatas dipan.
“Nah lu akhirnya nyerah juga, bilang kakak lu jangan belagu gitu, suatu saat kakak lu juga akan merintih-rintih kita entot rame-rame” Oman agaknya masih dendam pada ciciku, dia sepertinya akan melampiaskan nya padaku.
Bersambung…
Keempat orang itu sudah telanjang bulat didepanku tanpa malu-malu.
“Ayo moy dimulai dong, katanya sepongan lu yahud, coba isepin kontol gua”
“neng lu telentang aja posisinya, biar abang isepin memek lu, keliatannya udah basah ya, kayaknya enak tuh”
“Tangan lu kocokin kontol gua yah”
“biar gua yang isepin susu lu” kata-kata mereka meluncur begitu saja dalam otakku, aku
tidak tahu lagi siapa yang bicara padaku, tubuhku menuruti perintah mereka, Ahmed mendekatkan penisnya pada mulutku
“isep ya moy, lu bikin gua enak dulu nanti gantian lu gua bikin menggelepar nikmat” dengan terpaksa aku mengisap penisnya, untunglah aku sudah pengalaman menisap penis buruh-buruhku dirumah.
Tangan kananku mengocok penis Oman, sementara Usep sibuk mengisap dan menjilati seluruh tubuhku. Paijo sudah merangkak membuka kedua kakiku sehingga pahaku mengangkang dengan lubang vagina menghadap ke wajah Paijo.
“Wuih, bulu jembut nya tipis ya non, abang isep memeknya ya,” kata Paijo dengan lidah yang mulai menyeruak membuka vaginaku yang sudah basah, lidahnya mempermainkan birahiku, aku merintih merasakan kenikmatan seperti itu.
Sejak dipermainkan buruh-buruhku dirumah, aku memang berubah menjadi lebih bitchy, secara penampilan aku berubah 180 derajat, ternyata tubuhkupun sekarang menjadi haus belaian pria, aku bukan jablay, justru karena sering dibelai pria, tubuhku menjadi mudah bereaksi.
Aku menjadi penurut sekali pada pria yang menyetubuhiku, demikian pula saat Paijo memberi instruksi agar aku membuka lebih lebar lagi kedua kakiku, aku refleks mengikutinya hingga wajah Paijo benar-benar tepat didepan vaginaku yang membuka, dia mengisap cairan vaginaku yang memang sudah basah tak keruan.
Sensasi itu demikian hebatnya dalam dadaku hingga dadaku terasa bergolak menahan nafsu yang meledak-ledak, aku merasa malu untuk menunjukkan kalau akupun bernafsu sekali waktu itu, tapi tetap saja aku tidak dapat menyembunyikannya lama-lama karena bukti cairan di vaginaku itu cukup untuk membuat keempat pria ini tahu pasti bahwa aku sedang ingin digauli.
Mengetahui bahwa aku sudah takluk, mereka malah mempermainkanku dikamar itu, satu persatu mereka meraba-raba daerah sensitiveku tanpa memuaskanku dengan permainan final mereka.
Aku tergolek diatas ranjang itu tanpa busana disekelilingku tampak pria-pria buas sedang mempermainkanku, aku hanya dapat menunggu mereka menggagahiku.
Mereka tampak liar sekali dengan mata yang hampir tidak berkedip dan air liur pada penis mereka yang sudah mengacung siap merobek pertahananku. Tiba-tiba suara pindu digedor , lalu masuklah seorang pria tinggi besar agak botak dengan mata merah.
“Med, lu lagi apa pagi-pagi gini masih dikamar?” Sewaktu matanya melihatku, tampak mulutnya menyeringai buas
“wah, ada amoy disini, inikan yang pacarnya gua kencingin, hehehe gua juga mau dong ngencingin ceweknya tapi pake sperma gua.”
Aku kaget melihatnya tiba-tiba datang, tapi tubuhku yang telanjang tidak dapat berbuat apapun lagi untuk menutupi keadaanku itu, apalagi seluruh pakaianku entah dibuang
kemana oleh Paijo, aku hanya bisa menutup kedua kakiku yang sedang terbuka sehingga wajah Paijo tidak lagi didepan vaginaku.
“hei dul, kita memang lagi nungguin lu, dapet mangsa nih, amoy lagi kesukaan lu, mana si Somad sama Tirta, koq ga bareng?” Ahmed menanyakan pada pria botak yang baru datang yang ternyata Abdul yang kulihat videonya waktu melecehkan Albert, sontak saja aku ketakutan melihatnya karena dari mukanya seperti sedang mabuk dan bertampang residivis.
“mereka masih tidur semua, gara-gara kemaren banyak dapet mangsa jadi bisa mabok sepuasnya, eh sekarang malah bisa ngentotin cewek, terakhir gua ngentotin cewek amoy waktu di Jakarta minggu kemaren, eh sekarang dapet lagi amoy disini”
” Dasar lu lagi beruntung kali dul, dikejar-kejar polisi tapi selalu bisa lolos, gua salut” Oman memuji Abdul.
“hehehe iyalah, sekarang gua punya target ngerampok lagi di kota ini, hehehe pasti anak gadisnya banyak juga yang kayak gini nih” katanya sambil meremas dadaku dihadapan yang lainnya, aku hanya bisa memandang sayu pada mereka semua, aku sudah bisa membaca nasibku hari ini.
“Iya dul, lu kan pengalaman ngentotin amoy-amoy gini, apa enaknya sih? kita ikutan dong” Usep sambil mengerling padaku.
“Weleh-weleh, amoy gini sih memang enak memeknya, apalagi yang badannya putih mulus dijamin jembutnya sedikit, tuh kan bener” kata Abdul sambil membuka kakiku secara kasar, lalu meremas vaginaku yang memang berbulu tipis.
“Dapetinnya yang susah, amoy gini kudu dipaksa dulu ngerasain kontol, baru nyerah, tapi amoy yang ini sih gampang, udah kepelet si Dulah hohohoho, tenang aja, lu harus layanin kita semua hari ini, nyantei aja neng sama gua sih gampang mau hamil atau engga tetep enak, terakhir amoy yang gua entotin hamil gampang digugurin koq, tinggal bilang trus gua sodok lagi.”
Sudah kuduga Abdul ini residivis, perampok yang sadis.Abdul segera saja membuka pakaiannya, tampak penis hitam bergelantung diantara kakinya, tubuhnya kotor penuh daki.
“kalian liat ya, gua mau entotin ni cewek, nanti giliran kalian, nih gua kasih contoh titik-titik penting kelemahan cewek amoy, dijamin meler tuh memeknya” tangannya yang besar menarik kedua kakiku, lalu menggesek-gesek klitorisku, aku terpejam merasakan sensasi yang terbaru ini, jari tengahnya mulai menerobos vaginaku, besar sekali jari ini, mungkin tiga kali jari tanganku.
aku menggelinjang ditengah-tengah kasur dengan ditonton oleh lima pasang mata, kali ini vaginaku diaduk-aduk oleh tangan Abdul, lima menit kemudian aku langsung orgasme, tubuhku melenting diiringi lenguhan panjang tanda kepuasanku. Tampak kelima orang diselilingku menyeringai puas melihatku. Abdul manarik tubuhku,
“Nih moy, jilatin kontol gua atau lu gua kencingin kayak pacar lu” Aku bangkit pelan-pelan merangkak mendekati penis Abdul yang sudah tegak,
aku berusaha cepat memuaskannya, tapi sepuluh menit kemudian Abdul membanting tubuhku hingga telentang, lalu penis hitam itu akhirnya mengaduk-aduk vaginaku, aku merintih, ya tuhan penis ini enak sekali didalam rahimku, terasa denyutannya dan sodokannya menyentuh dinding rahimku hingga akhirnya aku terkapar lagi dilanda orgasme dasyat diiringi tawa liar Oman dan kawan-kawannya.
Tak lama kemudian Abdul memuncratkan spermanya dalam rahimku, kembali aku sadar saat ini aku dalam masa subur, tapi sudah kepalang, tampak keempat pria itu mulai meminta jatahnya menyetubuhiku, lalu mereka bergantian menyetubuhiku.
hari itu bertambah panas karena tak terasa sudah jam 2 siang, sekujur tubuhku terasa lengket oleh sperma demi sperma yang menyiram tubuhku di dalam dan luar rahimku. Oman dan kernetnya tersenyum puas melihat keadaanku itu.
“Gila, gua belum pernah ngerasain amoy seputih ini, biasanya amoy-amoy blasteran yang gua entot, akhirnya gua bisa juga ngentotin yang bener-bener amoy, enak ya, kulit badan lu halus amat moy, sering luluran ya? Kata Abdul kemudian, aku menggeleng lemah,
“Ehm engga juga bang, memang udah dari sananya gini” kataku sambil beristirahat.
“Dul, emang semua anak majikan kita putih-putih, apalagi lu liat adiknya pasti kontol lu gakan normal lagi, alias ngaceng terus, kapan-kapan boleh kan non kita maen sama adik non atau kakak non? ” pertanyaan Oman ini sangat mengganggu pikiranku karena bagiku ini kata-kata yang sangat kotor berani menghina cici dan adikku, tapi aku tidak berani berkata kasar pada mereka, aku takut tidak bisa pulang.
“maen apa maksud abang?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.
“terus terang ya non, sejak kita berdua kerja dirumah non, kontol kita cape ngaceng terus kalau liat kalian bertiga, jadi kalau bisa kita juga mau ngentotin kakak sama adek non” celoteh Usep membuatku shock.
“Jangan bang, cukup saya saja, jangan cici atau adik saya, mereka juga ga akan mau digituin sama kalian” protesku kesal.
“Yeuh si neng mah, neng aja betah kita entotin, siapa tau non Christin sama non Evelyn juga suka, kan rame semua anak bos kita dientotin, ga percuma gaji kita kecil, tapi bisa ngewe anaknya, kita baru puas nih” Oman berkata lagi, tapi aku kali ini tidak mempedulikannya, malas berbantah dengan orang kasar seperti mereka.
“Sudah ah bang, saya mau pulang, mana obat anti hamil yang saya pesan? tanyaku pada Ahmed yang sedang duduk menuntaskan spermanya yang masih menetes kelantai.
“Ok siap non, tapi lu bersihin dulu kontol gua nih, spermanya banyak yang masih netes-netes” katanya sambil mendekatkan penisnya pada mulutku, mau tidak mau aku terpaksa menjilati kepala penisnya dari sperma kental yang masih sedikit keluar.
“Nah gitu dong moy, kalau udah baru gua kasih anti hamilnya” Aroma sperma pekat seperti telah biasa kuhirup sejak aku hobi pesta sex di rumah hingga aku tak asing lagi dengan aroma sperma.
Tak lama kemudian aku menyudahi jilatanku karena sperma Ahmed tidak lagi keluar.
“Lu tunggu disini ya, jangan pake baju dulu, gua mau ambil obatnya dikamar sebelah” Kata Ahmed sambil segera keluar kamar dan tak lama kemudian dia melemparkan satu butir pil diatas perutku.
“Nih lu makan obat ini hasil racikan gua jadi ga dijual bebas dipasaran, lu kalau mau obat ini lagi harus kesini sendiri, puasin gua dulu baru gua mau jual pil ini, kalau ga mau yah selamat hamil aja ya…hahaha”
“Setuju med, pinter juga lu jadi kita bisa entotin lagi nih amoy sampe puas”
Aku memandang mereka tampa berkata lagi, percuma saja aku mau beli obat itu, aku malas melayani mereka, lebih baik aku batal bisnis anti hamil daripada aku jadi bulan-bulanan preman-preman seperti mereka. Aku segera berpakaian diiringi tatapan mesum lima orang pria diruangan itu.
“Non, celana dalamnya jangan dipake, nantikan abang anterin” Kata Oman sambil tangannya merebut celana dalam yang baru akan kupakai, lalu dia membuangnya kesudut ruangan.
“Titip disini aja celananya, nanti gua anterin kerumah lu, boleh kan?” Tiba-tiba Somad berkata demikian yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Tenang aja moy, gua denger mama kamu aja udah jadi perek sekarang, asal lu tau aja, si Nurdin itu minta peletnya dari gua, makanya mama lu betah sama kontol si Nurdin, gua juga suka pake memek mama lu, jadi kalau gua kerumah lu, pasti mama lu bakal kesenengan, tapi gua sekarang lebuh suka memek lu, lebih enak dari mama lu, siapa tau memek cici lu lebih enak lagi” Somad menjelaskan panjang lebar membuatku lebih sedih, ternyata preman inipun pernah meniduri mamaku, entah siapa lagi yangpernah tidur dengan mamaku.
Aku takut sekali mendengarnya, badanku sampai menggigil, siapa sangka orang yang baru saja menyetubuhiku ternyata juga pernah menyetubuhi mama.Tanpa berkata-kata lagi aku segera keluar diikuti Oman dan UIsep yang mau mengantarku. Sementara kutinggalkan kudengar para pria itu meneriakiku.
Aku duduk ditengah diapit Oman dan Usep dalam mobil box papaku. Sepanjang jalan aku menunduk tanpa kata, aku tidak berani bertatapan dengan Oman dan Usep, aku merasa malu sekali terutama pada diriku sendiri, aku merasa orang-orang dijalan berpandangan aneh melihatku gadis berambut pirang duduk diapit orang yang tidak pantas disebelahku, sementara aku tidak bisa berbuat banyak, aku masih terpukul masalah mamaku, sekarang orang-orang seperti para buruhku sudah melecehkanku, malah aku memberikan keperawananku pada mereka.
Tangan jahil Usep mulai menggerayangi pahaku yang terlihat sangat putih terkena sinar matahari, Sementara tangan kiri Oman menarik paha kananku kearahnya lalu Usep mengelus-elus vaginaku yang tampak memerah dan agak bengkak.
“Sudah ah bang, saya capek, mau cepat pulang”
“hehehe iya deh neng, abis paha neng Carline putih sekali begitu menggoda” Tangan kiri Oman kembali menyetir mobilnya.
Akhirnya aku sampao di depan pintu rumah, aku tidak mau Evelyn atau ciciku tahu keadaanku, dengan mengendap-endap aku bergegas kembali kekamarku.
“Lho non sudah kembali ya, koq bau peju non, enak ga maen sama Somad? hehehe
ketagihan ya non, tuh matanya masih sayu gitu, masih kerasa ya? ” Odet menyapaku dari belakang membuatku kaget setengah mati, kukira papa.
“aduh, bang jangan bikin kaget ya, mana Evelyn?mana cici? papa dimana?” tanyaku buru-buru.
“Tenang non, tadi semua udah pada berangkat kuliah, malah papa non baru saja berangkat 5 menit yang lalu.”
Plong dadaku mendengarnya, tanpa mempedulikan ocehan Odet aku segera mengunci pintu kamarku dan meminum pil anti hamil yang diberikan Ahmed padaku, sekujur tubuhku penat, rasa ngilu pada selangkanganku makin terasa. Pikirku aku butuh banyak istirahat hari ini, nanti malam Dulah sudah memesanku dikamarku, staminaku harus segera pulih atau aku bisa pingsan nanti malam.
“Ci, bangun! sore gini malah tidur” Samar-samar tubuhku merasa diguncang-guncang.Aku membuka mataku, tampak Evelyn adikku teriak-teriak membangunkan aku.
“Hah? sekarang jam berapa Lin?” tanyaku setengah sadar.
“Jam 5 sore ci, cepet bangun, mandi tuh udah ditunggu mama?”
“Lho mama kan biasa pulang jam 6?” tanyaku heran.
“Ga tau tuh mama pulang sendiri tadi ga sama mang Nurdin, lagi berantem kali, sukurin aja yah ci, kita kan mana mau punya papa tiri kayak gitu” Ujar Evelyn berbisik.
“Yah biar ajalah, toh kasian juga mama kalau gak punya pelampiasan, mama kita kan masih muda” kataku juga berbisik.
“Iya juga sih, tapi kenapa harus sama mang Nurdin coba?kan masih banyak cowok lain, kenapa harus sama sopir, kan memalukan!” Aku kembali teringat pembicaraan dengan Somad, aku baru mengerti kejadian ini, rupanya mamaku kena pelet yang dibuat Somad untuk Nurdin.
“Sudahlah plin, kita jangan ikut campur, nanti malah terbawa arus” kataku berusaha menenangkan adikku,
memang adik dan ciciku sangat membenci Nurdin yang dianggap telah merusak hubungan mama dengan papa, akibatnya mereka jadi tidak suka semua pegawai dirumahku, apalagi sejak kejadian mama dengan Nurdin, semua buruh-buruh itu sering menatap kami semua dengan pandangan buas.
Yah aku memang telah menjadi korban nafsuku sendiri akibat sering melihat mama bersetubuh dengan Nurdin, rupanya pelet Somad begitu ampuhnya hingga aku yang cuma melihatpun jadi ikut menyerahkan diriku.
Aku melihat adikku, pantas saja mereka juga begitu menginginkan adikku ini, Evelyn cantik sekali, dengan potongan tubuh yang seksi dalam usia belianya ditambah dengan tekstur kulitnya yang lembut, menjadi kelebihan dari aku dan ciciku,
selain putih sepertiku kulit Evelyn juga tampak sangat lembut, pria mana yang tidak akan tergoda menyentuhnya, hanya saja gaya berpakaian Evelyn yang memang sangat dijaga bila bertemu dengan orang-orang pribumi, tapi bila shoping dengan teman-temannya, Evelyn begitu modis.
“Ada apa mama nyari gua plin? Tanyaku setelah pikiranku kembali kealam sadarnya. “Gak tau ci, kayaknya mau ajak kita jalan-jalan tuh, mungkin dia lagi bete sama si Nurdin itu, tapi aku gak mau ikut ah, biar tau rasa tuh mama”
“Iya yah, gua juga ga ikut ah, males, lagi pengen tidur neh” kataku memberi alasan,
Sebenarnya aku tidak mau karena ingat acara malam ini dengan Dulah, lagian malas jalan-jalan sama mama.
“Fei Chen, kamu lagi apa?” Tiba-tiba mama sudah nongol dipintu kamarku
“Ikut mama yu kita makan diluar”
“waduh mama, malam ini Fei harus buat tugas kuliah” kataku berdalih.
“ooo, jadi mama makan sendirian dong, papa kamu lagi sibuk, gimana ya” mama merengut.
“Sama Nurdin aja ma” Evelyn memotong cepat.
“Mang Nurdin lagi mama suruh kerumah klien diluar kota, jadi ga bisa temenin” mama menjawab ketus.
Kami berdiam diri menunggu reaksi mama selanjutnya.
“Yah sudahlah kalau kalian gak bisa temenin mama, mama tunggu Fei ling aja, dia pasti mau diajak, oya, mama denger dia putus lagi ya sama pacarnya” Entah darimana mama mendapat informasi ini.
Aku tidak berani berkomentar, hanya mengangguk saja mengiyakan. Akhirnya mama pergi dari kamarku.
“Ci, koq akhir-akhir ini aku jarang lihat ko Albert? kemana dia ci? gak pernah lagi berkunjung kesini?tanya Evelyn sambil badannya siap-siap untuk pergi juga
“Yah, cici juga ada masalah sama Albert, lagi break”
“OOO break dulu ya, pantes aja gak pernah liat bareng, ya udah ya ci, aku mau mandi dulu” kata Evelyn benar-benar pergi dari kamarku.
Tiba-tiba aku merasa menyesal telah menyerahkan keperawananku pada buruhku, aku iri melihat adik atau kakakku yang sedang menikmati masa mudanya tanpa jadi budak sex.
Tak terasa, malam pun tiba sangat cepat, hari ini aku lelah sekali, semua orang dikeluargaku sudah ada dirumah, aku tegang sekali karena tadi pagi Dulah minta jatah malam ini dan aku harus memenuhinya karena kalau sekali aku tidak memenuhinya, tentu Dulah akan membuat aku malu di depan papa dan mama atau didepan cici dan adikku atau pula didepan semua teman-temannya, malah mungkin aku bisa jadi mangsa teman-teman Dulah yang lainnya.
Entah kenapa vaginaku berdenyut tak karuan padahal hatiku menolak perlakuan buruhku yang selalu ingin menikmati tubuhku, aku menjadi kesal sendiri merasakan dua hal yang bertentangan dalam hatiku dan dalam tubuhku, belum lagi aku takut ketahuan orangtua, cici dan adikku.
Bagaimana kalau mereka sampai tahu kegiatanku ini, ditambah ketergantunganku pada anti hamil yang justru makin menyeretku pada freesex terbayang juga kebuasan wajah Dulah terutama bila kutolak, tentu aku akan semakin dilecehkan.
Cuma satu hal saja yang tak dapat kutahan, yang berhasil mengalahkan semua pertimbanganku, yaitu nafsuku yang tak dapat kubendung terutama bila vaginaku mulai berdenyut dan basah, tentunya aku akan rela-rela saja dibuat semakin basah oleh semburan sperma, dan ini pula yang terjadi malam ini, keperkasaan Dulah membuat vaginaku ketagihan.
Aku teringat percakapan Abdul tadi siang, antara percaya dan tidak aku telah terkena pelet Abdul cuma gara-gara melihat mamakuyang kena pelet dengan bersetubuh dengan Nurdin. Benarkah? Yah entahlah, aku tidak terlalu mempercayainya, yang jelas kelompok mereka mempunyai cara-cara membuat penis pria jadi besar dan perkasa hingga mampu membuat aku dan mama
ketagihan. Jam telah menunjukkan pukul 11 malam, akhirnya terdengar ketukan dipintu kamarku, lalu muncullah Dulah dengan wajah mesumnya yang sangar sekali.
“Ada yang tahu gak bang?” tanyaku penuh kuatir,
“ga ada koq, semua udah pada tidur, lagian gua udah punya kunci duplikat pintu gerbang depan sama kamar lu” Dulah mencium bibirku penuh nafsu, akupun dibuat gelagapan melihat reaksi spontan seperti itu, meskipun pada akhirnya aku hanya pasrah menerima apapun perlakuan Dulah padaku, sampai Dulah membuka seluruh pakaian yang kupakai.
Aku menggelinjang di tempat tidurku sambil melihat Dulah membuka seluruh pakaiannya hingga kami telanjang bulat dikamarku. Nafasku mendengus tak teratur, sementara Dulah tanpa basa-basi menjilati seluruh tubuhku.
“mmmmmhhh…. bang, enakkk…” tak terasa aku merintih merasakan lidah Dulah menjilati dan menjalari seluruh lekuk tubuhku.
tanpa sadar pula aku malah membuka keduabelah kakiku seolah-olah berharap Dulah menjilat dan menghisap isi vaginaku yang semakin membanjir. Dulah semakin bernafsu merangsangku sedemikian liarnya.
“lu belum puas ya, tadi siang kata Usep lu ngelayanin si Abdul ya, masih pengen ya moy” Dulah seolah menghinaku, aku tak menjawab karena Dulah bertanya sambil mengisap-isap vaginaku, aku hanya mengangguk lemah tak peduli Dulah melihat anggukanku atau tidak.Dulahpun mungkin tak melihat anggukanku, dia hanya ingin melecehkanku.
“Udah gua bilang coba dari dulu lu rasain kontol kita semua, lu pasti ga akan sombong kayak sebelum kita perawanin, nahkan sekarang lu udah tau enaknya ngewe sama kita, tuh memek lu udah basah sekali moy, ga tahan ya, lu keluarin aja tuh pejunya, gua isepin sempe abis, lu isepin juga kontol gua ya”
tanpa disuruh duakali akupun menggenggam penis Dulah yang terasa sangat tegang dengan kepala jamurnya yang membasah juga. Aku dan Dulah mulai dengan posisi saling mengisap, kata Dulah itu posisi 69.Aku mulai terbiasa dengan aroma penis, jadi akupun menikmati penis Dulah, lama sekali kami dalam posisi itu.
“wah moy, lu ngacret ya, kerasa tuh memek lu ada yang nyembur, enak, tapi asem” wajahku mungkin memerah mendengar kata Dulah, ya tentu saja aku malu ketahuan menikmati permainan Dulah, tapi tubuhku tak dapat menutupi harga diriku di hadapan Dulah.
“Sekarang giliran gua yang ngecrot ya, gua mau dikeluarin didalem biar hemat kondom, kan kata papa lu juga kita harus hemat biar kaya” Dulah ngomong seenaknya
“Jangan terlalu sering bang, saya ga mau hamil” kataku perlahan.
“Gua ga peduli lu hamil atau kaga, yang penting gua puas, paling papa lu jadi punya cucu haram” kata Dulah sambil bersiap memasukkan penisnya dalam vaginaku,
Aku memejamkan mataku, hatiku mengeluh mendengar kebencian Dulah pada keluargaku, padahal dia sendiri hidup dari bekerja pada papa.
Tapi sekali lagi kepala penisnya yang besar telah meruntuhkan pemikiranku, lagi-lagi aku menyerah pada kenikmatan penis buruhku ini.Penis Dulah segera memasuki rahimku karena memang lubang vaginaku sudah membasah hingga memudahkan proses penetrasi.
Aku melenguh pelan merasakan kenikmatan saat penis Dulah menyentuh dinding rahimku, mengaduk-aduk isi vaginaku. Kakiku yang terkangkang tanpa sadar telah menjepit pinggang Dulah seolah aku tak mengizinkan penisnya lepas dari vaginaku, padahal hatiku berkata yang sebaliknya.
“mmmh… enak sekali bang, terussss…” lenguhku pelan sampai akhirnya terasa vaginaku mengeluarkan cairan kenikmatan, aku orgasme, sementara Dulah terus menggenjotku cepat sekali, lalu pelan, begitu seterusnya berirama hingga suatu saat kurasakan penisnya menegang keras sekali, aku tahu dia akan orgasme, lalu aku menarik pantatku supaya spermanya keluar di luar tubuhku.
“Heh mau kemana lu moy, sperma gua harus gua tanem di badan lu! teriak Dulah sambil malah menekan tubuhnya kearah tubuhku,
tentu saja niatku gagal, dan terasalah dalam rahimku cairan hangat yang muncrat-muncrat memenuhi rongga vaginaku.
Kulihat Dulah tersenyum puas, dia tak segera mencabut penisnya, sampai mengecil barulah dia cabut dari vaginaku.
Seiring dengan keluarnya penis Dulah, keluar pula cairan dari vaginaku bercampur dengan sperma Dulah. Aku memejamkan mataku lagi merasakan sensasi kenikmatan saat penis dicabut dan melelehnya semua cairan hingga membasahi kasurku.
“Gila, lu enak amat moy, gua jadi demen ngentot sama lu, lu jadi simpenan gua aja mau ga?”
“Jangan gila bang, saya gak mau!” kataku ketus.
“Udah gua kasih enak masih ga mau juga, daripada pacar lu kan ga bisa apa-apa, lagian papa lu juga dulu simpenannya banyak cewek-cewek pribumi sampe dia impoten sama istrinya sendiri. hahaha, apa salahnya kalau anaknya juga jadi simpenan gua, kan adil”
“Pokoknya ga mau, masa depan bisa suram” kataku bersikeras.
“heh lu amoy jangan menghina gua, lu liat aja nanti semua sodara lu bakal kita perkosa termasuk mama lu, kita liat siapa yang mohon-mohon minta gua kawinin. hehehe”
Bergidik aku mendengarnya, terdengar begitu menyeramkan, aku berusaha memperbaiki kata-kataku
“Jangan gitu dong bang, jangan bawa-bawa cici dan adik saya, cukup saya sama mama saja, lagian mungkin suatu saat saya juga berubah pikiran, tapi harus resmi nikah, ga mau jadi simpenan.” kataku melunak ketakutan.
“hahaha akhirnya lu nyerah juga, gua heran, kenapa sih amoy-amoy kayak lu semuanya sombong-sombong baru udah dientotin nyerahnya kayak lu, mama lu aja udah kena pelet baru nyerah sama mang Nurdin. Pokoknya sekarang lu musti tidur bugil bareng gua malem ini biar kalau nanti malem gua pengen ngentot lagi bisa langsung, atau gua bangunin seisi rumah ini.”
tentu saja aku lebih memilih tidur bareng Dulah meskipun terpaksa karena badannya bau sekali, karena jarang mandi, daripada seisi rumahku tahu kelakuanku dengan buruhku ini.
Begitulah sekelumit kisah hidupku, hari-hari kulalui dengan penuh hasrat sexual, dengan duabelas orang pria kasar yang selalu ingin menikmati tubuhku, hingga akupun menjadi selalu ketagihan akan adukan penis-penis pria itu didalam rahimku.
Meskipun aku tahu bahwa kemungkinan besar aku terkena ilmu pelet(guna-guna), entah siapa dari mereka yang mengerjaiku dengan cara itu, hingga aku benar-benar takluk pada mereka. Sejak awal aku memang sudah ingin merasakan enaknya bersetubuh dengan pria, tapi Albert tidak dapat kuharapkan melakukan itu padaku karena dia memang bukan tipe pria yang berjiwa petualang.
Bagai gayung bersambut mungkin keadaanku itu ditambah ilmu pelet yang ditujukan buruh-buruh itu padaku, membuatku benar-benar menikmatinya hingga tidak bisa lepas dari mereka. Padahal dalam hati kecilku sebenarnya aku ingin menjalani kehidupan normal seperti sebelum ada kejadian itu yang menimpaku.
Kini aku harus dengan sukarela menyerahkan tubuhku untuk dinikmati bersama oleh para buruh sekaligus preman didaerahku. Namun hingga saat itu belum ada satupun dari keluargaku yang mengetahui kejadian ini, termasuk mama, entahlah. hingga suatu saat…
Bersambung…
Hari demi hari berlalu dengan lambatnya, bentuk tubuhku sekarang agak berubah, ukuran bra yang semula 32 menjadi 34, pangkal pahaku mulai sedikit membesar. Banyak yang bilang tubuhku sekarang menjadi agak montok, tapi kulitku malah terlihat lebih bagus (putih cerah berkilat), kadang aku suka membandingkan dengan kulit Evelyn adikku, ternyata sudah mendekati kulitnya.
Tekstur kulit Evelyn bagiku terlalu lembut untuk ditiru, karena nyaris tanpa terlihat pori-porinya.Dia memang rajin sekali perawatan kulit sejak duduk dibangku SMP, sedangkan aku dan cici mulai merawat kulit mulai SMU.
Tapi pada dasarnya kami bertiga mempunyai kulit yang bagus, putih mulus tanpa noda sedikitpun, kecuali tahi lalat didada yang turun temurun diwarisi oleh anak wanita di keluargaku. Kami bertiga mempunyai wajah yang lebih mirip gadis Jepang modern daripada wajah Chinesse, mungkin dari darah mama yang konon ada turunan Jepangnya, tapi entahlah.
Keluargaku sangat tertutup, terutama terhadap orang-orang pribumi, tapi papa sengaja memilih tinggal dilingkungan kumuh seperti ini karena semua buruh diambil dari orang-orang di daerah kumuh ini, tentu saja agar papa tidak perlu lagi memberi uang transport, untuk buruh yang asalnya jauhpun papa menyediakan mess dibelakang rumah kami, papa memang sangat hemat dalam masalah uang.
Tentu saja rumahku adalah yang terbesar dan termewah didaerah kami, karena selain rumah tinggal rumah kami juga dipakai papa sebagai pabrik garment homeindustri yang meskipun kecil-kecilan tapi omzetnya lumayan lancar.
Akibatnya kami, ketiga putri papa harus sering merasa ketakutan terutama jika kebetulan sedang keluar rumah ataupun didalam rumah karena seringkali mendapat godaan ataupun pelecehan dari para penduduk pria di sekitar atau buruh-buruh yang kerja di rumahku.
Keluargaku mulai retak setelah mamaku selingkuh dengan sopirnya, parahnya papaku diam saja karena ternyata dia penderita impoten akut. Kami bertiga sudah tau hal itu, bahkan semua buruhkupun mengetahuinya. Benar-benar aib dalam keluarga.
Mungkin karena itu pula buruh-buruh itu semakin berani pada kami, karena meraka tahu kelemahan papa dan mama. Tidak jarang mereka mencolek-colekku atau ciciku ataupun adikku dengan amat kurang ajarnya.
Tapi lami cuma bisa melotot tanpa dapat melakukan apapun, karena posisiku yang memang hanya sebagai putri bos yang sering ditinggal papa yang sibuk keluar kota ataupun mama yang sibuk di luar dengan mang Nurdin entah apa yang mereka lakukan.
Sampai akhirnya akupun ikut terhanyut dalam suasana birahi mamaku, karena aku selalu dibuat penasaran dengan berita tentang mama, akupun jadi rajin mengintip kejadian dikamar mama dengan nurdin yang sedang bersetubuh.
Aku sering mendengar mama merintih-rintih dibawah tindihan Nurdin yang umurnya terpaut 10 tahun dengan mama. Sesuatu yang tidak pernah kudengar kalau mama bersama papa sebelum papa impotent.
Memang konon sejak kecil Nurdin kerja di kungkung (ortu mama) dan gosipnya sejak dulu Nurdin menyukai mama, tapi mama menolaknya karena ortunya yidak mengizinkan mama didapatkan oleh pria pribumi seperti Nurdin. Aku jadi semakin terobsesi dengan pria pribumi jantan yang selama ini selalu dipojokkan oleh keluargaku.Tubuhku mulai merasakan birahi pertama sebagai gadis yang baru dewasa.
Aku ingin memecahkan paradigma bahwa kami anak gadis dari keluarga keturunan Chinesse bebas menentukan pasangan sendiri. Aku ingin memberontak pada tradisi keluarga dengan cara berhubungan dengan pria-pria pribumi yang notabene selama ini kami dilarang untuk berhubungan.
Dan suatu saat aku menyerahkan keperawananku pada buruh-buruhku sendiri diiringi oleh pelecehan total mereka padaku sebagai putri majikannya (baca lust in broken home 1). Itulah titik balik kehidupanku dan keluargaku.
Tak kukira ternyata dalam hati mereka begitu tidak sukanya pada orang-orang Chinesse kaya seperti papa dan ternyata mereka juga punya hasrat terpendam dengan anak-anak gadis berkulit putih dan berwajah oriental sepertiku.
Aku sempat dibuat kaget oleh pengakuan Oman, sopir pengantar barang keluargaku disuatu sore saat dia kebetulan menjemputku dari kampus karena mobilku sedang diperbaiki di bengkel. Oman mengaku bahwa dia sejak lama sudah menyukai ciciku (kalau tidak salah dengar sejak ciciku smu), tapi Oman tidak berani karena merasa derajatnya berbeda dan lagi umurnya yang memang terpaut 10 tahun dari ciciku (mirip kisah hidup mama dengan Nurdin).
Saat itu aku memang telah akrab dengan para buruh di rumahku karena mereka sering sekali menggauliku hingga dalam hatikupun telah ada ikatan emosional dengan mereka, meskipun mereka sering melecehkanku, aku malah bisa senyum-senyum menikmati kelainan emosi ku yang sejak semula senang dilecehkan.
Malah aku pernah ditelanjangi di dalam rumah dengan semua pintu kamar terkunci lalu aku disuruh masak untuk para buruh itu dalam keadaan bugil, lalu digilir sampai mereka puas. Aku mendukung Oman untuk mendekati ciciku, kalau mamaku saja bisa dengan Nurdin kenapa Oman tidak bisa mendapatkan ciciku.
Meskipun Oman sering ikut menikmati tubuhku, aku rela kalau ciciku bisa menikah dengannya, ciciku pasti puas karena dalam urusan sex, Oman memang jenis pejantan tangguh dengan penis yang lumayan besar meskipun tidak sebesar penis Dulah. Oman meminta bantuanku untuk mendapatkan cici dengan cara apapun.
“Boleh aja koq bang, Fei mah setuju saja asal cici ga ngerasa terpaksa, pasti saya bantuin, tapi gimana caranya?” tanyaku disela obrolan kami, aku bingung karena ciciku itu terkenal rasis dan juga jutek pada cowok apalagi kalau belum kenal lama.
“Saya punya caranya neng, tapi cuma neng Carline yang bisa bantu, kakak neng itukan benci sekali sama kita-kita, saya tau itu, tapi saya ga seperti si Dulah dan teman-temannya yang sering mengolok-olok kalian, karena itu neng Carline harus bantu, nanti kan kita jadi saudara ipar.” Oman menatapku sambil cengar-cengir.
Bah, pikirku di depan kami bertiga memang si Oman ini terlihat jinak, tapi di luaran aku tahu dari dia ini provokator pelecehan di belakangku, bahkan pernah menyebarkan foto evelyn adikku dengan pose sexy ke preman terminal yang terdiri dari anak-anak punk dan para gank motor sampai-sampai Evelyn menangis karena diganggu anak-anak punk waktu pulang sekolah dan mobilnya lecet-lecet, tapi aku diam saja pura-pura tidak tahu.
Mungkin ini akibat kedekatanku dengan mereka hingga buruh-buruh ini makin memandang sebelah mata pada adikku, mungkin pikir mereka akan bisa mendapatkan adikku juga semudah mendapatkanku.
“iya bang, tapi bagaimana caranya? Fei masih belum ngerti” kataku memang tidak mengerti rencana Oman.
“Kalau neng Carline mikir, kenapa mama neng bisa ada main sama mang Nurdin, atau kenapa neng jadi ketagihan kita entotin?”
Deg, hatiku berdebar-debar, ini pertanyaan hatiku selama ini, banyak dugaan yang aku pikirkan tentang hal ini, dan sekarang Oman malah dengan enteng membicarakannya denganku, tentu saja aku sangat antusias mendengarnya.
“Memang kenapa gitu bang? Kalau Fei mah memang suka dengan perlakuan kalian, mungkin Fei ada kelainan ya bang, tapi kalau mama, Fei juga ga tahu koq bisa ya, padahal mama juga agak rasis sama kalian”
Tiba-tiba Usep yang sejak tadi tidur di sebelahku bangun, rupanya dia mendengar pembicaraan kami sejak tadi.
“Itu namanya kalian tuh cewek munafik, kalau udah ngerasain enak baru nyerah sampai diapain juga mau, tapi memek lu memang enak koq moy, gua jadi ketagihan nih” Usep dengan kasar mencubit pahaku seenaknya.
“Auuu, iiih pura-pura tidur ya, sakit tau!” teriakku kaget.
“hahaha, sakit tapi enak ya, biar gua yang kasi tau lu rahasia kita selama ini, boleh kan Kang?”
“Yah bolehlah tapi jangan kasar sama calon adik ipar gua donk” kata Oman sambil juga tangannya mengelus pahaku yang bekas dicubit..
“Huuuh, dasar sopir sama kernetnya sama saja, mesum” umpatku dalam hati.
“lu sama mama lu tuh udah kita pellet, lu inget kan air yang lu minum, itu udah bercampur sperma kita semua yang udah dimantera, kata gurunya si Ahmed cewek manapun pasti bertekuk lutut kalau udah minum tuh sperma, makanya lu betah kita entotin, wong spermanya udah lu minum… hahaha kaget ya!
Mama lu juga sama, kita semua kan saudara seperguruan dalam memelet cewek cantik kayak lu, anak bos lagi… hahaha ga nyesel kan?” Kedua orang itu sontak tertawa-tawa penuh kemenangan.. “Haaah?
Pantas saja air yang kuminum dikamarku waktu itu rasanya beda, rupanya telah diracik dengan campuran sperma mereka semua.” Lemaslah kakiku mendengar pengakuan ini, namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur, kegadisanku sudah hancur, namakupun mungkin sudah tersebar di sekitar rumahku dan dengan adanya video rekaman itu benar-benar membuatku tidak bisa berkutik selain menuruti kemauan mereka, dan lagi ingatanku akan gairah kenikmatan itu membuatku semakin hanyut dalam permainan mereka, entah sampai kapan, bayangan Albertpun semakin menjauh dari pikiranku apalagi setelah melihat kejadian beberapa waktu lalu, kejantanan mereka jauh diatas Albert.
Aku tertunduk, mukaku terasa memerah panas, aku malu mengakui telah kena pelet buruh-buruhku, perasaan menyesal bercampur aduk. “makanya Neng, jadi cewek jangan sombong, dulu Neng kan yang sering menghina kita ke semua teman-teman Neng”
“Udah deh, sekarang lu nikmatin aja kontol kita-kita, toh kalau cowok lain belum tentu mau sama lu apalagi kalau nonton rekaman party kita hahaha” Usep setengah mengancam, namun dia benar juga, ooohh masa depanku sudah hancur.
“hahahaha begitu rupanya kalian mempermainkan mama, tapi Fei ga nyesel koq, Fei juga udah kalian puasin sampe ketagihan kayak gini, kalau gak, mana mau Fei diraba-raba orang macam kalian.” Kataku berusaha menutupi rasa sesalku. Memang sesal tidak ada gunanya, kepalang basah mending kuteruskan saja permainan ini, toh akupun senang.
“Nah, nanti sore, neng Carline harus bantu masukkin cairan sperma aku ke minuman kakak neng, sampai tujuh kali minum nanti kita lihat reaksinya” Oman menyodorkan sebotol kecil cairan keputihan namun encer kehadapanku.
“Ini cuma sperma abang aja kan?” tanyaku takut semua buruh memasukkan spermanya, nanti malah ciciku dipakai mereka bersama lagi.
“Iya dong neng, masa calon istri dibagi-bagi sama orang” Kata-kata Oman ini agak menyinggung harga diriku. Tapi betul juga, bagaimana dengan masa depanku, akupun ingin menjadi istri seseorang, tapi koq malah jadi piala bergilir.
“Ahh persetan, dengan fisik sepertiku aku pasti mudah mendapatkan suami, kalau perlu aku akan mengikuti jejak mama, bersuamikan buruhkupun tidak apa” kataku dalam hati “Iya deh bang, nanti Fei atur cairan ini bisa masuk keminumannya cici, Fei juga mau tahu reaksi cici gimana, pokoknya Fei dukung kalau abang bisa dapetin cici, mumpung lagi putus sama pacarnya tuh”
Deg tiba-tiba aku ingat pengakuan cici bahwa dia sudah tidak perawan lagi, waduh, gimana kalau Oman sampai tahu, tapi biarlah dia mengetahuinya dari ciciku sendiri. “Baguslah kalau gitu, neng Carline memang baek sekali ternyata ya Sep” seru Oman kegirangan. “Sebagai hadiahnya nanti kita bikin non amoy ini puas diranjangnya malam ini, okeh kan non! Usep pun kegirangan tapi wajahnya tetap saja mesum.
Aku tersenyum pada mereka. “Aku harus memikirkan cara supaya mereka tidak selalu memerasku begini” kataku membatin. Biarpun aku menyukai permainan mereka, tapi pantang bagiku kalau harus dikendalikan oleh para bawahan papaku ini, tapi untuk saat ini belum terpikir caranya, namun aku yakin pasti suatu saat kutemukan. Aku mengangguk lemah merespon ajakan mereka yang setengah memerintah itu.
“O iya nanti malam lu yang harus datang ke mess kita, masa kita terus yang ke kamar lu, dan ingat, pakai baju yang sesexy mungkin karena ada kejutan buat lu!” Usep sambil melirik kearah Oman. Oman menimpali sambil tersenyum penuh arti
“Yah, jangan dibilang sekarang atuh jang, nanti buka kejutan lagi, pokoknya neng Carline harus dating jam 9 malam atau menyesal”
“Ada apa gitu bang? Kejutan apa?” aku penasaran sekali
“makanya lu datang aja, jangan banyak bacot, pokoknya enak”
aku akhirnya harus mengalah menunggu kejutan yang entah apa telah mereka siapkan untukku. Sorenya, sebagaimana telah direncanakan, aku mencampur minuman susu coklat kegemaran ci Christine dengan ramuan sperma Oman, katanya butuh tujuh kali pencampuran untuk dapat melihat dampaknya.
Aku memang penasaran sekali mencoba resep pelet dari gurunya Ahmed ini yang katanya telah berhasil memelet aku dan mama. Akupun ingin menghibur ciciku agar tidak terlalu sedih memikirkan mantan pacarnya, kuharap ciciku bisa lebih bersenang-senang seperti aku dan mama.
Gairah pemberontakan terhadap tradisi keluargapun kembali muncul, apa salahnya kalau aku atau ciciku memberikan tubuhnya untuk dinikmati oleh golongan bawah seperti mereka, aku benci kemunafikan mama yang selalu melarangku bergaul tapi mama sendiri malah rela jadi budak nafsu buruhnya sendiri. Tak lama kemudian ciciku pun pulang dari kuliahnya, sengaja aku mengikutinya sampai ke kamar sambil bergurau.
“Ci, cape yah, koq sore amat pulangnya?”
“Biasa juga jam segini koq, kamu saja yang jarang perhatian sama cici, perhatiannya sama Albert terus sich” sindir ci Christine.
“ah cici mah suka gitu, aku sama Albert lagi break koq, bosen nih ci, pengen ganti suasana baru, cici punya temen cowok yang masih jomblo ga? Kenalin donk, lumayan tambah-tambah teman, siapa tau aja ada yang cocok” kataku tersenyum berusaha cari kesempatan.
“wow.. koq bisa bosen gitu? Kalian kurang komunikasi kali?” Cici langsung menjatuhkan dirinya ke kasurnya
“yah entahlah ci, pokoknya akunya lagi bosen tuh”
“Yah sudahlah, cici ga akan bahas, tapi cici gak punya teman dekat cowok yang masih jomblo tuh, semua rata-rata sudah ada monyetnya, nantilah cici cari info dulu, mungkin ada tapi cici gak tau, eh tolong ambilin minuman cici diatas meja dong, haus nih!” kata ci Christin sambil menunjuk minumannya yang telah kuberi ramuan diatas mejanya.
Segera aku mengambil dan memberikannya pada cici, dalam hitungan detik seluruh minuman itu telah pindah keperutnya.
“Wah haus yah Ci, koq rakus amat minumnya?” “Iya nih, di luar tadi panas banget, sengaja tiap hari cici siapin dulu minuman diatas meja biar bisa langsung minum kalau pulang”
“ooooh sama dong Ci, aku juga suka gitu koq” Kataku sambil memperhatikan mungkin ada perubahan pada Ci Christin setelah minum, ternyata tidak ada yang berubah, mungkin cici saking hausnya tidak memperhatikan ada yang sedikit beda dari rasa minumannya atau mungkin rasanya sama saja? entahlah, yang jelas minuman berisi ramuan Oman pertama telah masuk dalam tubuh ci Christin, tinggal menunggu 6 hari lagi sebelum aku bisa melihat efek pellet Oman.
“Ci, aku mau mandi dulu ya, udah sore nih”
“Iya sana mandi tapi di kamar sendiri ya, jangan di sini soalnya cici juga mau mandi”
Aku segera pergi dari kamar ciciku menuju kamarku sendiri untuk mandi. Kamarku memang ada kamar mandinya sendiri. Aku sengaja mandi pakai air dingin, biar tubuhku terasa lebih segar untuk malam nanti, tak lupa aku keramas dan luluran badanku.
Dalam kaca besar di kamar mandiku aku memperhatikan bentuk tubuhku sendiri.. “HHmmm memang putih banget, dan memang ada sedikit yang berubah tapi aku belum tau apa itu, mungkin ukuran dada atau pinggul yang jelas aku bangga punya tubuh sexy seperti ini dan aku berniat akan terus merawat tubuhku sesexy mungkin, dengan senam atau yoga.
Tak terasa sudah setengah jam lamanya aku mandi berendam dalam air, segar sekali rasanya. Segera aku mengeringkan badan, aku tak mau sakit gara-gara masuk angin.
Tak terasa pula sudah jam 20.30, aku malah menyibukkan diri main computer, hahhh aku harus ganti baju. Koleksi baju sexy ku banyak sekali karena sejak lama aku memang gemar memakai baju-baju modis seperti itu. Dulu papa sering melarangku memakai baju seperti itu, tapi aku tetap membeli dengan uangku sendiri sampai papapun kehabisan kata-kata, apalagi ternyata cici dan adikku pun punya kesenangan yang sama.
Aku memilih baju tanktop pink dengan tali yang dihubungkan ke punggung yang agak terbuka, untuk bawahan, aku memilih rok mini cream kesayanganku yang 10 cm diatas lutut.
Pokoknya malam ini aku harus mendapatkan kepuasan, aku kangen pada rasa orgasme setelah satu minggu kemarin aku mendapat haid jadi tidak berhubungan sex.. huuh rasanya lama sekali, baru malam ini aku serasa bebas dari darah bulanan di vaginaku..
Tanpa menemui kesulitan yang berarti, aku berhasil keluar rumah tapi aku terlambat 30 menit dari yang dijanjikan gara-gara tadi memilih baju.. Buru-buru aku memutar ke belakang rumahku lewat tikungan sekitar 10 meter dari rumah menuju mess karyawan.
Di atas tanah seluas 150 meter persegi itu dulu papa membangun mess karyawan yang terdiri dari 5 kamar tidur karena dari dulu karyawan papa memang tidak terlalu banyak, maklum usaha kecil-kecilan, 2 kamar mandi dan 1 ruang TV bersama.. Aku termenung di depan mess, kotor sekali mess ini, jauh beda dengan rumahku.
Pelan-pelan aku masuk lalu kututup gerbang mess, senyap sekali, penasaran aku masuk ke dalam rumah, sayup namun jelas kudengar suara perempuan sedang berbicara dengan sekumpulan pria. Aku tidak langsung masuk menemui buruh-buruh itu, tapi aku sengaja mendengarkan pembicaraan mereka.
“Ini anak kita kang, aku sudah hamil 2 bulan” kata si perempuan.
“Darimana aku tahu itu anakku? Cici kan pernah juga main sama si Abdul, Somad dan Tirta waktu kita ke Jakarta kan waktunya juga tepat” terdengar suara si pria dengan datar.
“tapi waktu itu kang Nurdin yang pertama, kan sudah kubilang aku lagi masa subur, mana tanggung jawabmu, dulu kang Nurdin mau tanggung jawab kalau ada apa-apa denganku, termasuk waktu sama Abdul, bukankah kang Nurdin yang memaksaku?” senyap sejenak setelah wanita itu bicara.
Hatiku berdebar keras, Nurdin? Suara wanita itupun kukenal sekali…mama!? Hamil?! Kepalaku terasa panas dan berputar-putar sejenak.
“Akibat permainan itu aku hamil sekarang, aku tidak mau tau anak siapapun ini, pokoknya kang Nurdin yang harus tanggung jawab” mama setengah teriak karena emosi. “Jangan teriak Ci, siapa tau itu anak aku juga, kenapa gak sama aku aja?” suara pria lainnya terdengar
“gak mau, kamu itu siapa? cuma preman Jakarta yang kelainan!” teriak mamaku menimpalinya.
“hahahaha si enci ini bisanya teriak-teriak, kenapa emang kalau sama preman, dulu juga kamu malah merintih rintih keenakan waktu kita double” pria lain terdengar malah bercanda.
“pokoknya gak mau, Nurdin, kamu harus tanggung jawab, inikan yang kamu mau dari aku sejak dulu?”
“Iya ci, memang sejak dulu aku ingin memperistrimu, tapi orangtuamu itu kelewatan sekali sombongnya, tapi bagaimana dengan suamimu sekarang, cici cerai dulu saja, tapi jangan bilang kalau cici hamil, nanti saya bisa masuk bui” suara Nurdin melemah.
“Aku tahu itu kang, aku sudah bilang suamiku sejak minggu lalu, tapi dia sibuk sekali, aku tidak tahu dia sudah mengurusnya atau belum” mamaku terdengar lega mendengarnya.
“Din, lu yakin mau kawin sama si enci ini, jadiin gundik aja, jadi kita juga bisa nyicipin..hehehehe lu suka juga kan ci?” kurang ajar sekali orang itu sama mama.
“Aku sih terserah si cicinya aja, kalau mau main sama kalian ya terserah, toh dulupun sudah pernah main, masa aku larang, suami macam apa aku ini kalau melarang kesukaan istrinya” Nurdin berkata tak kalah kurang ajarnya.
“koq kang Nurdin gitu sih, masa istrimu sendiri kau berikan pada teman-temanmu?” suara mama terdengar tajam.
“maaf ya ci, aku memang kelainan, tapi ini semua aku, Abdul, Somad dan Tirta lakukan atas persetujuan bersama, akupun pernah main sama istri Somad di kampungnya koq, nah sebagai istri yang baik cici harus biasa nurut sama suami” Nurdin akhirnya mempunyai alasan.
Mama terdiam, pasti mama terpukul mendengar itu, sesama wanita aku bisa merasakannya..
“Din, gua lagi kepingin lagi nih liat muka calon bini lu, bikin kontol gua ngaceng…..” tiba-tiba ada tangan dingin memegang tengkukku.
“Ssssshhh jangan berisik non, hehehe lagi asik dengerin mama ya, kita ke ruang sebelah yu, semua udah pada kumpul tuh nungguin non Carline” suara bisikan Odet terdengar dekat di telingaku.
“Nanti bang, aku mau tau mamaku dulu” sahutku.
“Dikamar sebelah juga suaranya jelas non, lagian gak baik nguping ombrolan orang, mending kita ngewe yuk, enakkkk” bisik Odet sambil menarik tanganku ke kamar terdekat.
Rupanya ini kejutan dari buruhku, ternyata mama ada disini.. Dalam kamar ternyata sudah lengkap ketujuh buruh itu tampak sudah bertelanjang dada, siap mempermainkanku malam ini.
“bang semuanya, bisa gak acaranya ditunda sampai besok, Fei lagi banyak pikiran nih, lagian ada mama di sebelah, gawat kalau ketauan” kataku setengah berbisik, maklum antara aku dan mama hanya terpisah 1 kamar kosong.
Bisa celaka kalau aku ketauan mama ada main dengan para buruh ini. Bagiku juga 7 orang pria terlalu banyak, tak terbayang kalau aku harus melayani mereka semua, aku bisa pingsan, lebih baik kutunda saja hasratku ini untuk besok. Pikiranku memang sedang kalut memikirkan pembicaraan mama tadi, mama hamil! Mau cerai! HAMIL!CERAI! dua kata itu menghantui pikiranku.
“Yah tanggung neng, kita semua udah siap-siap gini, barang si Ahmed udah kita borong nih buat kita main malam ini, neng pasti puas, gak bakal hamil koq, kita udah beliin kapsulnya” Suhe tampak sedikit kecewa.
Tiba-tiba diluar terdengar suara petir, keras sekali disusul oleh suara air hujan gerimis mengenai genting mess.
“Nah kan, di luar udah hujan lagi non, mending kita hangat-hangatan disini bareng aa semua!” Arman bersemangat sekali mendengar suara hujan.
Tiba-tiba Dulah mengangkat tubuhku “Udah kalian jangan banyak omong, ni amoy banyak alesan, tapi sebenernya mau, coba nanti liat memeknya pasti udah basah, gua berani taruhan”
Aku dengan kasar dibaringkan di dipan mereka.
“Koq tegang gitu Neng, tenang aja, mama Neng ga bakalan kesini, dia juga lagi asik entotan sama mang Nurdin dan temennya, asal Neng jangan teriak keras aja, nanti kita ketauan, lagian diluar hujannya sudah lumayan besar, ayo Neng, mamang buka bajunya yah” tangan Komar sudah siap-siap akan membuka bajuku.
Tiba-tiba terdengar tepat diluar kamarku suara mama “Jangan sekarang kang, aku lagi hamil muda, nanti bisa keguguran kalau dipaksa, nanti saja 3 bulan lagi baru boleh kalau kandungannya sudah kuat”
Lirih memang suara mama karena diluar suara hujan mengalahkan suara mama. Namun sayup-sayup kedengar suara paksaan dari para pria itu, entah apalagi yang mereka bicarakan, tapi rupanya mereka sudah pindah ke kamar sebelah kamarku, sekali-sekali terdengar suara tawa Abdul, preman botak yang dulu pernah ikut menyetubuhiku.
Rupanya aku terlena mendengar suara mama dikamar sebelah, waktu aku tersadar, baju atasku sudah berserakan dibawah dipan, tampak pula Oman dan Usep sedang masturbasi sambil menontonku dikerumuni Komar, Odet, Dulah, Armand dan Suhe.
“Bang jangan sekarang!!” aku meronta sekali lagi, tapi waktu aku meronta, rok yang kupakai malah terlepas,
Dulah tertawa senang, “gua horny banget kalau lagi telanjangin ni cewek, badan lu koq makin bagus aja moy, makin cantik dan sexy kalau lagi ditelanjangin gini” rupanya daritadi ia sudah melepas kancing rokku, jelas saja sekali aku meronta, malah rokku yang lepas dari pinggangku.
“Hei, Fei gak mood hari ini!” teriakku ditengah suara petir.
“Man, cepet lu lepas roknya sekalian celana dalamnya juga” Odet dan Dulah malah memegangi tangan dan kakiku, sementara Armand dan Suhe sibuk melepas rok dan celana dalamku.
Aku kalah tenaga tentunya, dalam waktu tidak kurang dari satu menit aku sudah telanjang bulat di tengah dipan. Dalam ketakutan gairahku mulai timbul kembali, buruh-buruh bejat ini memang pandai sekali membangkitkan gairahku.
Ciuman di mulutku, cupangan di leherku, sedotan di payudaraku, juga jilatan di vagina dan pahaku terasa sekali dilakukan oleh kelima buruhku. Lidah Mang Komar bermain-main di mulutku, menghisap cairan mulutku tanpa sungkan, aku terpejam, diam-diam kunikmati saat ada jari yang mulai mengorek vaginaku dan mengocoknya, tak lama kemudian aku orgasme dibuatnya, nikmat sekali.
“hehehe gimana neng, enak kan? Mau diterusin?” Suhe berbisik di belakang telingaku, rupanya dia yang menyupang leherku.
Seperti peristiwa sebelumnya, lagi-lagi aku menyerah pada nafsuku sendiri. Sementara di luar kamarku tak terdengar suara apapun, mungkin mama sudah pulang atau malah sedang dikerjai Nurdin, entahlah, yang jelas hujan bertambah deras di luar sana, tapi di kamar ini malah panas oleh gairah buruhku yang menggebu. Aku mengangguk mengiyakan supaya permainan ini diteruskan.
“Kita bikin undian yuk, siapa yang dapet jatah duluan, Sep, lu jangan coli terus, nikmatin nih memek anak bos kita”
“Udah siapa sajalah yang penting giliran, jadi semua kebagian, jaga jangan sampai ada yang ngacret duluan, nanti kita ngecrot sama-sama” entah siapa yang bicara aku sudah tidak memperhatikannya lagi.
Vaginaku terasa sudah banjir oleh cairan mani yang tadi aku keluarkan, sementara buruh-buruh itu mulai menbuka bajunya, tinggallah tujuh orang pria bugil mengerubungiku.
“Neng, sini naik keatas” Odet nerkata sambil telentang diatas dipan menyuruhku menaikinya, Dulah membantu mengangkatku, lalu mendudukan aku di atas badan Odet. Odet yang sedari tadi memegangi penisnya mengarahkannya pada vaginaku. Sedikit demi sedikit penisnya masuk dalam vaginaku, pinggul Odet naik turun membuat tubuhkupun ikut naik turun berirama, makin lama makin cepat.
“nih non kulum kontol aa” Suhe mendekatkan penisnya kewajahku, penis berukuran sedang, namun kepalanya telah berkilat oleh cairan pelumas pertanda Suhe telah terangsang.
Pelan-pelan aku menjilat kepala penis Suhe, terasa aroma penis di lidahku. Suhe dengan sendirinya memasukkan penisnya dalam mulutku.
“Ayo non, semuanya aja di kulum masa cuma kepalanya” perintah Suhe.
Dengan tubuh bergetar menahan gejolak nafsu, aku bergerak naik turun seperti naik kuda sambil mulutku menyedot-nyedot penis suhe. Arman kini sedang mengagumi keindahan pahaku yang jenjang dan mulus diatas tubuh Odet yang coklat tua, tangannya tak henti-hentinya mengelusi pahaku.
“Neng, pahanya mulus amat…putih lagi” puji Arman sambil menjilatnya, tentu saja ini menimbulkan sensasi tersendiri bagiku.
Dulah sibuk mengenyot payudara kananku. Tangannya membimbing tanganku untuk memegang penisnya yang telah tegak sempurna. Aku menengadah dengan mata terpejam, mulut mengap-mengap mengeluarkan desahan sambil menikmati asinnya penis Suhe.
Saat itu aku telah mabuk birahi, tubuhku menggelinjang saat Dulah sedikit menggigit bagian bawah payudaraku. Jantungku berdebar-debar dan mataku terpejam menikmati perlakuan itu.
Dulah mencium dan menjilat leherku sambil meremas-remas payudara satunya lagi, lalu ciumannya bergerak ke atas menggelikitik kupingku menyebabkan aku hamper saja menggigit penis Suhe yang masih maju mundur dimulutku. Aku sudah tidak merasa risih lagi dengan para buruh ini, yang kurasakan sekarang adalah birahi yang menggebu-gebu.
Aku mulai aktif mengocok penis Dulah, Penis yang hitam berurat itu terlihat besar sekali dengan cairan pelumas yang mulai menetes dari kepala penis yang mirip jamur itu.
Arman masih menjilati kedua pahaku, kini kedua kakiku ditariknya hingga aku menduduki Odet secara total, penis Odet otomatis terlepas dari vaginaku.
“Sekarang gentian Det, gua yang ngentot si non” Arman menarik kakiku hingga kebahunya lalu dia mencoblos vaginaku dari bawah.
Odet yang masih di bawahku memeluk perutku dari bawah, lalu membantu Arman mengangkat kedua kakiku. Dulah agaknya masih belum puas bermain-main dengan tubuhku. Sekarang dia sedang membelai-belai kedua pahaku yang sedang naik diagonal ke bahu Arman. Dia mengangkat paha kiriku, lalu menciumi mulai lutut sampai pantatku.
Sementara Komar setelah tadi ber-kissing denganku menunggu gilirannya sambil mengocok-ngocok penisnya bersama dengan Oman dan Usep. Mereka tentunya sedang enak nonton live-show sambil ngocok. Kini Aku menjilati secara bergantian penis Dulah dan Suhe sementara Arman menetralkan kakiku di atas dipan sambil terus menggenjotku. Odet yang betah ditindih sesekali membuka kedua pahaku yang kadang tanpa kusadari tertutup.
“hehehe enak ya neng ya rame-rame gini” bisik Odet ditelingaku.
“Hmmmmmh…” desahku
Tak lama kemudian kami berganti posisi, sekarang giliran Komar yang sedari tadi ngocok mulai meminta jatahnya. Dulah menghentikan jilatannya dan merentangkan pahaku lebih lebar.
“wah, memeknya becek amat, lu keenakan ya moy, tuh mar, sekarang giliran lu, ingat jangan sampe ngacret di dalem.”
Aku menghentikan sejenak oral seksnya, menatap penis komar yang makin mendekati bibir vaginaku dengan deg-degan. Nampaknya Mang Komar tidak mengalami kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku karena selain ukurannya yang standar, vaginakupun telah licin oleh cairanku sendiri, maka dia lakukan itu dengan gerakan tarik-dorong.
“Aakkhh…nggghhh…!” rintihku menahan rasa nikmat karena penis itu sudah masuk seluruhnya
“Kalau ibu lu di sebelah tau anaknya udah kita jadiin lonte, dia pasti pingsan. Hehehe tapi sayangnya ibu lu juga mungkin lagi merintih-rintih mirip lu sekarang” Dulah masih saja menghinaku sambil terus meremas-remas payudaraku.
“si Neng ini koq memeknya kecil terus ya, padahal udah sering kita entotin, apa rahasianya neng?” tanya Mang Komar cengengesan.
Bersambung…
Dulah dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kananku yang disedot dan dikulum dengan rakus. Arman menelusuri tubuhku dengan lidahnya, bagian-bagian sensitif tubuhkupun tidak luput dari jilatannya.
Aku mendesah-desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan kepala, tubuhku menggelinjang hebat, dan aku kembali orgasme dibuatnya. Badanku menegang dan menekuk ke atas namun Mang Komar masih belum keluar. Melihatku orgasme, Komar manarik penisnya.
“Saatnya gentian ya Neng, sekarang giliran bang Dulah” dia menyuruhku menungging sambil meregangkan kedua kakiku.
Dengan sekali genjot penis Dulah terasa melesak dalam vaginaku dengan gaya dogy, dia memacu tubuhnya makin cepat sampai menimbulkan bunyi kecipak dalam vaginaku, sementara Suhe menunggu giliran mencicipi vaginaku.
Mula-mula dia mendekati kepalaku lalu kembali penisnya minta aku kulum, setelah dikulum sebentar Suhe mulai bergerak maju-mundur didepan mulutku. Aku yang memang suka penis Dulah menaik turunkan pinggangku sendiri. Tentu saja melihat ini Dulah tertawa dan kembali melecehkanku
” anjrit, lu kayaknya keenakan ya gua entotin, demen ya sama kontol gua?”gairahkupun semakin berkobar, apalagi setelah terasa suatu kenikmatan yang tiada tara di dalam rahimku yang seakan meledak-ledak minta terus disodok.
Dulah tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga aku ikut terguling menyamping. Dia lalu mengaduk-aduk vaginaku dengan gaya menyamping. Kulihat matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya yang bertatoo.
Aku tidak kuat menahan gelembung kenikmatan dalam rahimku, kembali vaginaku orgasme untuk yang kesekian kalinya.
“Sekarang giliran lu” Dulah menyerahkan aku begitu saja pada Suhe yang penisnya masih ada dalam mulutku.
Suhe segera melepaskan penisnya dari mulutku, lalu ia segera memompa vaginaku dengan gaya standar, tapi tak lama kemudian
“Gilaaa gua gak kuat, mau keluar nihh” teriaknya.
Diapun segera melepas kembali penisnya. Sementara di luar masih hujan dengan derasnya, menambah tinggi tensi birahiku.
“Man, sep, kalian gak mau coba ngentotin non Carline ini? Tuh dia masih mau ditusuk-tusuk lho” Komar bertanya pada Oman dan Usep yang sejak tadi hanya mengocok-ngocok penisnya saja.
Akupun heran tapi tak ambil peduli karena meskipun mereka tidak ikut, tetap saja ada yang menyetubuhiku.
“Gak ah, gua lagi bayangin lagi ngentotin kakaknya, gak nahannn” Oman tetap mengocok penisnya.
“Hahaha beritanya lu naksir kakaknya ya… padahal nikmatin dulu saja adiknya, tapi terserah kalian lah”.
“Sekarang saatnya kita ngecrot sama-sama, ayo pilih sendiri mau keluarin dimana” Suhe yang nampak tidak sabar menuntaskan birahinya.
Mereka masing-masing menempati posisi pilihannya, kali ini Odet memilih dalam vaginaku, Dulah di payudaraku, Komar memilih dalam mulutku, Arman mengurut penisnya di depan wajahku sementara Suhe berniat keluar di perut atau pahaku.
Merekapun melancarkan aksinya, Odet menggenjotku dalam sekali, sementara Komar menjejelkan penisnya dalam mulutku, Dulah mengangkangiku untuk menjepitkan penisnya di kedua payudaraku, dan Suhe menggesek-gesekkan penisnya di pahaku yang putih.
Beberapa menit kemudian berbagai jenis sperma menyembur masing-masing di tempatnya, agak kaget aku menerimanya, namun nikmat sekali, dimulai dengan Arman yang menyemburkan spermanya di wajahku, belum tuntas kagetku melihat cairan putih kental mengenai wajahku,
Suhe menuntaskan hasratnya di pahaku, terasa basah dan hangat, lalu penis Dulah yang sengaja dijepit dipayudaraku meluncurkan spermanya hingga muncrat sampai ke daguku. Kekagetanku disusul adanya cairan hambar berbau khas di lidahku, membuatku gelagapan.
“Telen aja non, sekalian bersihin ya” Komar malah menyuruhku menelannya
Dengan sedikit tercekat, perlahan aku menelannya sedikit demi sedikit sampai habis, lalu aku menjilati penis komar sampai bersih, selagi aku menjilatinya, terasa lagi rasa hangat menjalariku, kali ini Odet yang menyemprotkan spermanya dalam rahimku sambil terus mengenjotku sampai terasa penisnya mengecil, baru Odet mencabutnya.
“Uuuhh… Neng, enak yaa…mmm !” desah Odet sehabis melepas hajatnya dalam tubuhku.
Aku yang masih terhanyut dalam lautan birahi tidak malu-malu lagi mengemuti semua sisa-sisa sperma pada masing-masing penis buruhku. Akhirnya Oman dan Usep secara bersamaan menumpahkan spermanya di atas kepalaku dan di luar vaginaku.
Di ruangan itu kami bertumpang tindih melepas sisa kenikmatan. Tubuhku belepotan oleh sperma-sperma, dari vaginakupun setelah kukorek baru mengalir sperma kental milik Odet.
Saat kami semua melepas lelah, tiba-tiba pintu terbuka dengan kerasnya, tampak mama dalam keadaan acak-acakan, matanya sembab merah. Aku hampir pingsan dibuatnya, tidak ada jalan untuk sembunyi, aku hanya bisa menutupi tubuhku dengan kedua tanganku seadanya..
“Fei Chen, mama sudah lihat semuanya!! Bisa-bisanya kamu lakukan ini semua, teganya kalian berbuat ini pada anakku!” teriak mama.
Anehnya semua buruhku tampak santai-santai saja, biasanya mereka panik kalau tau bakal kena marah mama. Lemaslah sekujur tubuhku, kini mama sudah tau seluruh perbuatanku, apa yang harus kulakukan.
Aku terdiam, tak terasa airmataku mulai menggenang dipelupuk mataku.
“Maafin Fei Chen ma…” hanya itu yang terlontar dari mulutku, lidahku serasa tercekat, tak mampu bicara banyak.
Di belakang mamaku muncullah 4 orang pria setengah baya, yang dua kukenal sebagai Nurdin dan si Abdul botak, tapi dua lagi aku tidak mengenalnya.
“hahahaha apa kabarmu moy, udah puas belum entotannya? Oya ini gua kembaliin celana dalam lu yang waktu itu lu tinggaalin” Abdul melemparkan celana dalamku yang minggu lalu diambilnya, hatiku perih sekali saat itu.
“Tuh ci, jangan marah gitu, anakmu inikan mirip cici waktu muda dulu, anak kan ga akan beda jauh dari induknya” Nurdin bicara dengan dingin
“Kalian semua, pakai baju kalian, permainan sudah selesai” Abdul berteriak pada para buruhku yang dengan patuh langsung memakai kembali bajunya masing-masing, sementara bajuku tergeletak jauh dari jangkauanku, untuk mencapainya tentu aku harus berjalan mendekati dua pria yang tak kukenal itu, itu tak mungkin kulakukan karena tubuhku dalam keadaan polos. Mamaku tampak terpukul berat melihat keadaanku.
“Buset, Dul, badannya mulus banget, ini amoy yang lu ceritain itu?”
“Iya, putihnya mirip ibunya ya, ini malah lebih putih karena mash muda, ayo Mad, lu jangan bengong gitu, beresin semua kamera di kamar ini, jangan sampe ada yang ketinggalan”
Somad lalu mendatangi tiap pojok kamar dan mengambil benda hitam bercahaya merah yang rupanya adalah kamera tersembunyi..
“Astaga, jangan-jangan…..” desahku dalam hati.
Mama mendekatiku, sambil terisak dia menamparku
“Anak gak tau diri, mama lahirin kamu bukan untuk jadi pelacur! Semua perbuatan kalian tadi mama lihat! Mama gak nyangka kamu sudah begini! ” teriak mamaku.
Nurdin kembali menengahi kami ” Sudahlah ci, ingat sebelum kawin sama suamimu dulu kita juga pernah kayak gini, gak usah marah-marah, terima saja anakmu ini, gini-gini juga ini calon anakku juga” katanya mengelus punggung mama.
Mama kembali terisak, dia terdiam mendengar kata-kata Nurdin.
“Fei, siapa yang pertama kali berbuat ini?” tanya mama padaku.
“Maksud mama apa?” tanyaku bingung harus menjawab apa.
“Siapa yang pertama kali berbuat sama kmu?” mama mengulanginya lagi.
Aku terdiam sesaat, apa yang harus kujawab, aku sendiri tidak tahu siapa yang menyetubuhiku pertama kali, mataku ditutup kain waktu itu terjadi.
“Fei gak tau ma, waktu itu mata Fei ditutup, jadi gat au siapa yang duluan, mama tanya sama mereka aja”
Aku melihat mama hamper histeris mendengarnya, lalu dia memandang buruh itu satu persatu,
“Siapa yang pertama kali menyentuh anakku?” tanyanya datar.
Aku melirik Dulah karena aku merasa dia yang mengambil keperawananku dulu.
“Wah ci, kami waktu itu lagi teler, jadi gak inget siapa yang berbuat, lagian non Carlinenya juga mau koq kami gilir” Komar mengajukan pembelaannya.
“Pokoknya salah satu dari kalian harus bertanggung jawab kalau sampai anakku hamil, atau aku akan tuntut kalian semua.” Para buruhku saling pandang lalu Nurdin berkata pada mama
“Sebaiknya kita tanya saja baik-baik mereka, jangan kasar begitu, tanya juga anakmu”
“Kalian, siapa yang mau tanggung jawab? Harus ada salah satu yang mau mengawini Carline” Mama malah seakan menawarkan aku pada para buruhku..
Aku mengerling pada Dulah, dalam hatiku aku tahu dia yang harus bertanggung jawab.
“Wah ci, ga bisa gitu dong, kita semua sudah punya istri di kampung, gimana kalau kita jadiin simpenan aja? Boleh gak? Iya gak teman-teman?” Dulah memberi komando.
“Iya ci, begitu ajalah tanggung jawab dari kita mah, kan kejadiannya juga atas dasar suka sama suka, iyakan neng?” Odet menimpali sambil memandangku.
Aku tidak bergeming, sungguh harga diriku sudah hancur. Mamaku sendiri seakan menjualku pada buruh-buruh ini.
“Dia tidak akan hamil koq ci, kita sudah kasih obat pelunturnya koq, tapi kalau hamil biar aku yang tanggung jawab deh, aku bersedia koq kawin sama non Carline” Bergidik aku mendengar kata-kata Odet itu, sementara Dulah malah tertawa-tawa puas diikuti yang lainnya termasuk Odet sendiri.
“Baiklah kalau begitu, ingat kata-katamu itu, yang lain jadi saksi! Kalau suatu saat anakku hamil oleh perbuatan kalian, kamu yang harus bertanggungjawab!” Mama memberikan pengumumannya sambil menunjuk Odet yang tentu saja terlihat senang sekali.
“Beres ci, kalau neng Carline ini hamil, saya yang tanggung jawab, asal neng Carlinenya mau dijadiin istri ketiga saja, gimana?”tawar Odet. Mama termenung lalu dia berkata
“ga bisa, masa anakku jadi istri ketiga, kamu harus ceraikan dulu semua istrimu!”
“Yehh si cici ini malah ngatur, disini kita yang bikin aturannya ci, masih untung anakmu ada yang mau tanggung jawab, kalau sama gua sih dijadiin gundik aja atau sekalian gua jadiin pecun didaerah terminal, toh anak enci aja malah seneng diewe rame-rame, iya ga?”
Dulah malah mendekatiku lalu dengan kasar dia membuka lubang vaginaku di depan semua orang termasuk mama “Tuh ci, liat sendiri memek anak enci malah banjir, artinya dia masih mau dientot,,hahhahaa”
semua pria diruangan itu tertawa kesenangan, aku tertunduk malu sekali tidak bisa mengontrol cairan dalam vaginaku yang sudah bercampur sperma ini. Pandangan mata mama terlihat jijik sekali melihatku seperti itu.
“kalau dia mau seperti itu, ya terserah kalian lah, masa bodo dengan kalian, Fei chen, kalau kamu ga suka, bilang sekarang!” bentak mama berharap kepastian dariku.
Aku tidak menyadari hal ini, malah terus menunduk, aku tak mampu menjawab mama, perasaan bersalah, malu, menyesal, takut bercampur jadi satu hingga aku benar-benar diam seribu bahasa.
“Udah ci, relain aja anak lu jadi gundik anak-anak disini, anak juga kan gimana ibunya, toh lu juga gundik kita meskipun nanti lu dikawin sama si Nurdin ini.” Pria bertato yang bernama Somad tiba-tiba angkat bicara, dan rupanya omongannya ini sangat mengena dihati mama, akupun sempat kaget mendengarnya meskipun sudah kuduga sebelumnya. Sebelum mama berkata sesuatu, Abdul mendahuluinya
“Tuh, karena anak lu juga diam, berarti setuju usulan si Odet itu, Sudahlah ci, ga usah disesali punya anak pecun kayak lu, lu harusnya bangga anak lu tu digemari kita-kita, artinya anak lu tu enak buat dientot, nah, sekarang daripada kita rebut-ribut, masalahnya kan udah selesai, mending lita kasih kesempatan anak lu nerusin entotannya, kasian tuh memeknya keliatan ngacai terus minta disodok, belum puas kan neng?”
Dengan kurang ajarnya Abdul berkata begitu sambil mencium dada mama sambil menurunkan baju atasan mama sampai payudaranya terlihat jelas.
Tentu saja mama teriak marah, tapi apa daya dia tidak bisa lagi membetulkan bajunya karena Somad pun malah membantu Abdul melucuti pakaian mama, sementara Nurdin menontonnya sambil tersenyum
“Jangan di sini Mad, di kamar sebelah aja, kita terusin lagi permainan kita”
Akhirnya mama dipanggul ke kamar sebelah, dan selanjutnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi disebelah, aku hanya mendengar teriakan mama memarahi Nurdin lalu suaranya berubah pelan dan lama-lama menjadi rintihan, suaranya cukup jelas karena diluar hujan sudah berhenti.
Sepeninggal mama dan keempat pria itu, terdengar riuh sekali diruanganku, sesekali tawa buruh-buruh itu meledak.
“Gilaa, gua bisa juga ngawinin amoy majikan kita.. hahhaha biarpun memeknya udah kalian cicipin juga, tapi gua ga nyesel” Odet dengan senangnya berceloteh
“Jangan seneng dulu det, itukan kalo neng Carline hamil, mana mau dia kita hamilin, apalagi udah tau bakal lu kawinin, dia pasti minta pelunturnya ke si Ahmed hehehehe jangan mimpi lu” Suhe mengingatkan Odet.
Tanpa sadar Suhe mengingatkan aku akan Ahmed, yaa tentu saja aku tidak mau sembarangan dihamili mereka, aku masih punya Ahmed dengan anti hamilnya yang mujarab itu. Hati dan pikirankupun menjadi lebih tenang, kini satu-satunya yang mengganggu pikiranku hanya masalah mama, bagaimana sikapnya padaku setelah tahu masalah ini?
“Nih moy, lu pake baju lu sekarang, udah cukup malaem ini, kita udah puas, kecuali kalau lu masih mau lagi, lu boleh telanjang disini semaleman, kita semua mau minum-minum dulu di depan rumah sambil main gapleh, siapa tau gua kepingin lagi” Dulah melemparkan pakaianku yang tadinya tergeletak diujung kamar.
“Non Carline sebaiknya jangan pulang dulu, hari udah larut malam, nanti di luar ada yang ngentotin lagi kan cape, itung-itung nunggu mama non yang lagi keenakan di ruang sebelah, tuh udah kita siapin nasi goreng kalo non lapar, kalau mau mandi, non masak air panas sendiri ya, disini gak ada pembantu kayak di rumah non” Arman orang tersopan di antara semua buruh-buruhku.
Aku mengangguk kelelahan sambil cepat-cepat berpakaian. Selesai berpakaian ketujuh buruhku sudah tak terlihat diruanganku, tapi suaranya masih terdengar ramai di beranda mess ini, memang mereka sering nongkrong didepan mess sambil merokok, main gitar, main kartu atau malah mabuk, inilah contoh kebiasaan masyarakat kumuh disekitar rumahku yang sangat membuat kami sekeluarga tidak berani keluar rumah karena banyak tindak kriminal yang terjadi didaerah ini.
Aku merasa sendiri terkurung dalam mess papaku, aku tidak berani pulang karena takut para preman yang mungkin sedang berkeliaran, tapi aku juga tidak nyaman dalam mess karena mama ada disini bersama Nurdin dan teman-temannya.
Aku memasak air panas untuk mandi, badanku terasa lelah sekali, sementara mataku malah penasaran ingin melihat apa yang mama lakukan di kamar itu, benar-benar kebiasaan yang sulit dihentikan. Akupun mandi dengan penuh rasa ingin tahu keadaan mama, aku berniat mengintipnya setelah mandi nanti… Lagi asik-asik mandi membersihkan badan, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, padahal rasanya sudah kukunci.
“Bener Dul, anaknya lebih mulus dari ibunya euy, hehehe lagi mandi ya neng” Seringai pria yang bernama Tirta.
“Iya udah gua bilang, kalau ibunya lagi ga bisa, sekalian aja kita kerjain anaknya juga, biar lu ga penasaran, gua sih udah coba, wuih, enak banget, Yuk kita bawa ke kamar bareng mamanya, ayo neng kita ngamar lagi nemenin mama lu” aku tidak sempat menutupi tubuhku karena bajuku di gantung dibalik pintu kamar mandi, sementara sekarang pintunya malah terbuka, otomatis bajuku tertutup pintu yang menuju tembok.
“Jangan Pak, aku capek” ringisku sambil berusaha menutupi kemaluanku dengan tangan kiri dan dadaku dengan tangan kanan, tapi kedua orang itu malah menerobos ke dalam kamar mandi
“Ga apa neng, nanti juga semanget lagi, kita two in one yuk, udah pernah belum? Mama neng suka sekali gaya ini” Abdul berkata sambil tangannya memondongku, aneh sekali, tubuhku malah menjadi lemas tanpa tenaga waktu tangannya menyentuhku.
Dengan sekali hentakan, akupun dibopongnya diikuti oleh Tirta yang bersiul kurang ajar.
Hatiku dagdigdug tak karuan saat pintu kamar dibuka dari dalam. Terlihat mamaku dalam keadaan telanjang bulat sedang mengoral Nurdin yang telentang di ranjangnya. Somad tampak gembira melihatku dibopong masuk
“Weleh-weleh anaknyapun mau ikutan, bakalan asik nih, ayo Dul, cepat bawa masuk, taruh aja di sebelah ibunya, tar kita gilir lagi.”
Abdul meletakanku disamping mama yang sedang berlutut mengoral Nurdin, melihatku dia tampak kaget.
“Lho, koq anakku dibawa kesini bang?” Tanya mama pada Somad.
“Ya gapapa dong ci, kan status anak lu sama dengan lu, gundik juga, jadi kita semua bebas pake, lagian gua penasaran sama anak lu ini, boleh kan Din?” Tirta yang rupanya menginginkanku balik bertanya pada Nurdin.
Pria setengah baya itu tampak nanar menatapku, penisnya masih terlihat basah sehabis dioral mama.
“I..iya tentu boleh, aduh ci, mirip kamu waktu muda yaaa.., mulus banget, gua juga jadi kepingin nyicipin” Nurdin seakan tanpa sadar berkata demikian..
Mama langsung bangun dari ranjang, dia segera mengambil bajunya, namun tindakannya itu dihalangi Somad yang langsung menindihnya di sampingku.
“Udah ci, kita ngentot sama sama aja, kalian punya bakat yang sama koq, ga usah malu sama anak sendiri” Kata-katanya membuatku bergidik, namun tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali.. hanya mataku saja memandang mama dengan takut.
Akhirnya mamapun terlihat lemas laagi disampingku setelah Nurdin mengisap vaginanya. Kini kami berdua tergolek di ranjang yang sama sementara empat pasang mata memperhatikan sekujur tubuh kami dengan mata melotot.
“Ci, kulit anak lu lebih kencang ya, lebih putih lagi, putingnya lebih merah, cuma susunya lebih kecil ” Nurdin kembali dioral mama, sementara vagina mama dijilati Abdul, Somad dan Tirta mengerubutiku, giliran Titra yang minta kuoral, dan Somad menjilati vaginaku.
Beberapa saat kemudian, mama terdengar sedang mengalami orgasme.
“Ibunya udah muncrat nih Din, gua entot aja ya, gak nahan nih” Abdul meminta persetujuan Nurdin.
“Eh, jangan dul, diakan lagi hamil, biar aja bayinya lahir dulu atau tunggu hamil tua, tuh anaknya aja lu kerjain lagi, lumayankan daun muda!” cegah Nurdin spontan.
“belum tentu juga itu anak lu Din, masa sama temen lu tega demi anak haram dia”Abdul tetap memaksa.
“Gak apa bang, saya juga gak terlalu kepingin punya anak lagi, siapa tau bisa langsung gugur” mama berkata disela pembicaraan mereka.
“Tuhkan Din si encinya juga udah kepingin dientot gini”
“Jangan! Nanti suaminya gak bakal mau cerai, bisa batal rencana gua ngawinin dia, kita kan teman, harus bagi senang atau susah bersama, nanti juga gua bagi lagi koq, siapa tau itu anak lu juga” Nurdin rupanya tak ingin kandungan mama gagal.
“Udahlah dul, lu demen amat sama si enci sih? Nih kan ada anaknya, lebih ranum juga lagi, lu ngalah dulu dah, demi temen, kita garap aja anaknya rame-rame sampe hamil, kan asik..hahahaha” Somad menengahi perdebatan itu.
“Wuah, bosen gua sama amoy ABG gini, stok gua udah banyak di Jakarta, terakhir tuh si Lingling anak toko emas yang pernah kita rampok, sampe sekarang masih betah kita culik sampe gak mau pulang, giliran kita juga yang repot ngentotin dia mulu kan? Sampe bosen guanya juga”kata Abdul pada semuanya.
“hahaha rupanya teman kita ini lagi bosen amoy yaa, padahal kan si Lingling itu bulan lalu udah lu jual ke Batam ketempatnya si Romli” Somad malah mengumumkan rahasia mereka.
“Yee gua jual juga karena kita semua udah bosen kan, daripada gua balikin ke tokonya mending gua jual, Ya sudahlah gua ewe juga ni amoy anak lu ci,”
“Jangan bang, sama aku saja, kasian a Chen”mama memandangku dengan mata memelas, akupun jadi tidak tega membiarkan mama yang sedang hamil harus melayani mereka berempat, ternyata dari tadi sore mereka hanya bercumbu dan oral sex, pantas saja begitu melihatku seakan singa mendapat mangsa.
“Biar aja ma, mama istirahat aja, biar saya yang lakuin buat mama” kataku memberanikan diri.
“Ternyata anak lu baik juga ci, demi mamanya rela dientot, hehehe atau sifat lonte anak lu udah parah ya.. hahaha, biar deh kita nyicip memeknya ya” Somad semangat sekali sekaligus melecehkanku, untung aku sudah sering dilecehkan jadi biasa saja bagiku, namun karena ada mama aku jadi sedikit merasa segan dan malu.
“Biar gua yang pertama, neng lu nungging sekarang! “perintah Tirta.
Setelah posisiku sesuai permintaannya, serta merta penisnya yang telah berpengalaman itu di jejalkan dalam vaginaku dengan gaya dogy, aku merasakan sensasi yang lain dengan yang pernah kurasakan, Sementara ketiga penis lainnya telah tampak teracung mengkilat-kilat kehitaman.
Somad mempunyai penis yang terbesar dari yang pernah kulihat, mereka bertiga termasuk Nurdin menyuruhku mengoral penis mereka sambil vaginaku diaduk-aduk penis Tirta. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk orgasme, rongga vaginaku sudah licin dan basah oleh cairan orgasmeku.
“Hei ci, liat sini dong, masa baliknya kearah tembok begitu, ayo liat aja anak cici nih lagi keenakan, kalian memang mirip kalau lagi gini..” Abdul membalikkan tubuh mama yang rupanya tidak tega melihatku dikerjai mereka, ajaib sekali, mama langsung menurut saja begitu abdul menepuk punggungnya.
Begitu mama berbalik Tirta yang sehabis mengaduk vaginaku dan melihatku orgasme, mencabut penisnya lalu menyuruh mamaku untuk menjilati penisnya.
Posisi sekarang berganti, Somad telah berbaring diranjang dan menyuruhku menduduki penisnya yang tegak teracung itu, agak bergidik juga aku meihat ukuran penis Somad, namun gairah membuatku menuruti semuanya, dengan posisi duduk aku disetubuhi Somad dari bawah, Nurdin membantu tubuhku supaya dapat naik turun dengan nyaman.
“Mad, bikin dia nungging dikit atuh, gua mau coba bool nya” Abdul sekarang berada di belakangku sambil meremas-remas payudaraku dan tanpa banyak bicara Somad memelukku kearahnya sehingga lubang anusku terpampang ke arah Abdul.
Aku berontak, aku agak trauma dengan posisi ini sebab terakhir melakukannya semua badanku terasa sakit terutama anusku, tapi dengan tepukan di punggungku tanpa sadar aku berhenti memberontak malah memajukan lubang anusku ke arah penis Abdul. Dengan terkekeh-kekeh dia, memasukkan kepala penisnya keanusku.
“Sakit pak, jangan disitu” keluhku.
“Tenang aja non, gak akan sakit, malah enak, mama non aja hoby koq” Abdul sambil meludah ke anusku lalu pelan-pelan menjejalkan kepala penisnya, aneh tapi nyata, penis itu sedikit demi sedikit masuk dengan mulusnya tanpa terasa sakit sedikitpun.
Tentu saja hal ini makin merangsang gairah birahiku, kedua lubang di tubuhku terasa penuh saling bergesekan berganti-ganti,
“ahhhh,…… oooowhhh” rintihku, sementara mama kulirik masih menjilati penis Tirta yang basah oleh cairan orgasmeku.
Mama kulihat asyik sekali mengulum dan menjilati penis Tirta sambil sesekali matanya melihatku, ahh akhirnya aku dan mama sama-sama menikmati disetubuhi oleh buruh dan preman-preman temannya, aku yakin sekarang dan selanjutnya mama tidak akan bermasalah denganku dalam masalah ini.
Satu hentakan Somad dirahimku membuatku melambung dalam kenikmatan yang tak dapat kutuliskan, disusul hentakan Abdul bergantian menghantarku pada orgasme berikutnya. Tubuhku mengejang, diam sesaat untuk membiarkan cairanku keluar.
“Enak ya neng, ayo sekarang sama Bapak, mumpung gua belum resmi jadi bapakmu” Nurdin meminta gilirannya padaku. Somad dan Abdul mengeluarkan penisnya masing-masing, sekarang aku terbaring telentang menunggu penis Nurdin yang mungkin nanti jadi bapak tiriku.
Mama terlihat akan mengatakan sesuatu pada Nurdin, tapi sesaat kemudian sperma Tirta muncrat memenuhi mulut mama sehingga untuk beberapa saat mama tidak dapat berkata-kata karena mulutnya masih dipenuhi penis Tirta dan spermanya juga.
“Telen aja ci, biar gak kotor kasurnya!” perintah Tirta, mamaku segera menelan sperma itu lalu dengan cepat dia berkata “Din, kalau mau harus pake kondom!” rupanya mama tidak mau aku hamil oleh Nurdin.
Hehehe rupanya mama tidak tahu aku bisa mendapatkan anti hamil kalau aku mau, tapi kubiarkan saja karena Nurdinpun tanpa mama suruh telah menyiapkan kondom.
Akupun dikerjai Nurdin, agak riskan memang disetubuhi oleh calon bapak tiri, apalagi sambil ditonton mama yang mulutnya kembali dijejali penis Abdul dan Somad bergantian.. Nurdin dalam beberapa genjotan saja menghentikan genjotannya, rupanya dia telah orgasme didalam tubuhku, untunglah memakai kondom.
“Gila ci, anakmu ini rasanya mirip cici waktu muda dulu, enak bener, jadi inget lagi nih ci, gua jadi cepet ngacret dah!”teriak Nurdin disela-sela orgasmenya.
“Gak salah tuh anak-anak milih anak lu jadi gundik mereka.” puji Nurdin padaku yang sekaligus membuat mukaku merah harga diriku kembali terinjak.
Kulihat Somad kembali padaku sambil mengocok-ngocok penisnya di depan wajahku, disusul Abdul yang juga mendekatkan penisnya kemulutku. Aku tahu keinginan mereka, tanganku mengocok penis besar Somad dan lidahku mengulum penis Abdul.
Tak berapa lama kemudian merekapun menyemprotkan sperma ditempatnya masing-masing. Wajahku kembali belepotan sperma, kali ini mulutkupun dipenuhi sperma, dan sama seperti mama, merekapun ramai-ramai menyuruhku menelan sperma Abdul. Setelah kutelan selesailah permainan mereka denganku malam itu.
Kulihat sudah pukul 3 dinihari, mama memasak air untuk aku mandi, dan kamipun akhirnya mandi bersama. Mama memelukku “Chen, sekarang kamu sudah jadi wanita dewasa, mama harap kamu bisa ketemu jodohmu, kalau bisa jangan dengan buruh itu, kamu harus jaga jangan sampai hamil seperti mama” kata mama padaku”
“Iya ma, Fei tau koq, maafin Fei juga ma, Fei dulu kebawa nafsu sampai jatuh ketangan mereka” kataku juga.
“Iyaa sudahlah Chen, mama sudah ngerti, memang sex itu kebutuhan semua orang, kita wanita juga butuh kepuasan, mama gak akan nyalahin kamu koq, tapi for fun aja yah, jangan sampai kebablasan, mama gak mau punya menantu orang-orang semacam mereka”
“Iyaaa ma, nasehat mama akan Fei ingat, tapi mama gak marah kan Fei main sama pak Nurdin?” tanyaku kuatir.
Mama tersenyum”kalau mama marah gimana?hehehe ya enggalah, namanya juga for fun, asal dia pake kondom aja, kalau gak nanti mama punya anak sekaligus cucu donk” mama tertawa kecil.
Aku mencubit mama”Iiih mama gitu, masa Fei mau punya anak dari pak Nurdin, amit-amit dehhhh, hihihi eh ma, sebentar lagi Fei punya adik lagi dong” kataku kemudian sambil mengelus perut mama yang masih belum membesar itu
“benerkan mama hamil?”tanyaku juga. Mama mengangguk, tampak wajahnya jadi kuatir.
“iya Fei, kemarin-kemarin mama sudah bilang papamu, dia marah besar, entahlah sampai sekarang dia belum mau bicara, mama sudah siap cerai koq, habis papamu tidak bisa memenuhi nafkah batin mama”
“Fei sudah tau cerita itu ma, tapi koq mama pilih Pak Nurdin? Apa gak ada pria lain?” tanyaku penasaran.
“Yah apa boleh buat, cuma dia yang dari dulu dampingin mama sebelum ketemu papa kamu, mama sempat lakuin seperti yang kamu lakuin sama pegawai kita, tapi mama cuma sama Nurdin aja” kata mama menatapku dengan mata nakal.
Kembali aku cubit paha mama ” Idih mama gitu deh, Fei juga kan gara-gara mama yang hot banget sama Pak nurdin” belaku. “haahaha tapi enak kannnn??” goda mama kembali.
“Udahlah ma, jangan diungkit terus, Fei kan jadi malu” kataku mungkin dengan wajah merah.
Aku senang ternyata mama bisa menerimaku, mungkin karena kami senasib. Tiba-tiba terdengar Nurdin didepan pintu kamar mandi
“Ayo cici cepat mandinya, sudah 1 jam nih, nanti masuk angin!” aku dan mamapun cekikikan di dalam kamar mandi.
Pagi harinya aku dan mama diantar pulang oleh Nurdin menggunakan mobil mama. Pakaianku tampak lusuh sekali, begitu juga dengan mama. Sepanjang jalan aku melamun disamping mama yang sebelah tangannya memeluk bahuku.
Cerita Sex Sang Penakluk Akhwat
Aku teringat masalah Oman yang naksir cici Christine, apakah aku harus memberitahu mama? Juga masalah cairan yang harus rutin kuberikan pada minuman cici? Belum lagi masalah adiku Evelyn yang akhir-akhir ini sering digoda anak-anak punk, memang itu aku tahu gara-gara Oman atau Usep yang menyebarkan foto Evelyn secara sembunyi-sembunyi?
Mungkin untuk saat ini belum mau kuungkap didepan mama, hari ini terlalu banyak kekagetan yang terjadi, meskipun semuanya berakhir dengan baik. Akupun saat itu masih menunggu kabar perceraian mama, pasti itu sangan mengganggu pikirannya, ditambah lagi dengan kehamilan mama diusianya yang ke 38 ini. Begitu banyak yang kupikirkan saat di perjalanan.
Aku menghela nafas panjang, biarlah semuanya terjadi seperti apa adanya, yang penting tidak ada yang merasa dirugikan. Apakah ciciku dirugikan? Entahlah, itu tergantung tanggapannya dikemudian hari.. aku sebagai adiknya cuma membantu perjodohan cici, masalah jodoh sebenarnya kan rahasia Tuhan, Jadi apapun yang kulakukan, jodoh ciciku tak akan lari kemana-mana.


