Ranjang yang Ternoda
Cerita Dewasa · 18+
PARA ISTRI & PRIA TUA
DISCLAIMER: Cerita bersambung ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa. Di dalamnya termuat kisah erotis dan dewasa terkait dengan hubungan seksual. Jika anda termasuk dalam golongan minor yang masih berusia di bawah umur dan atau tersinggung serta tidak menyukai hal-hal yang berkenaan dengan hal tersebut di atas, tolong JANGAN DIBACA. Internet adalah media bebas untuk menyalurkan semua kreasi.
Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan belaka. Penulis tidak menganjurkan dan atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan.
Copyright (c) 2007 Pujangga Binal & Friends.

“Dasar tua bangka bejat!” maki Lidya Safitri saat Pak Bejo pergi meninggalkan rumah.
Alya Arumsari terkejut dan melotot ke arah adiknya dengan pandangan marah. “Heh! Ngawur! Jangan keras-keras! Mengatai-ngatai orang kok seenaknya sendiri! Kalau dia denger gimana coba?”
Pak Bejo Suharso adalah seorang tetangga yang baik, gemar membantu orang lain dan sangat ramah walaupun hidup mereka sedikit kekurangan. Ia dan istrinya, Bu Bejo, adalah tetangga dekat keluarga Alya. Sejak kepindahan mereka ke kawasan pemukiman ini Pak Bejo dan istrinya amatlah sering memberikan bantuan. Bahkan ketika Alya atau suaminya sibuk, Pak Bejo dan istrinya sering menjaga Opi, putri mungil mereka. Lidya adalah adik Alya yang semalam kebetulan menginap di rumah Alya. Lidya sudah mulai tidak suka dengan Pak Bejo sejak pertama kali bertemu dengannya.
“Habis dia nggak tau diri sih, Mbak,” jawab Lidya. “Waktu Mbak Alya membungkuk mau mengambil mainannya Opi yang jatuh, matanya jelalatan, ngeliatin ke belahan dada Mbak Alya, lalu menjilat bibirnya dengan mesum. Itu kan nggak sopan namanya!” Lidya berhenti sebentar, lalu melanjutkan sambil menatap kakaknya yang molek dengan pandangan serius. “Jangan-jangan Pak Bejo pengen tidur sama Mbak Alya?”
Seketika Alyapun tertawa, Lidya ikut-ikutan tertawa. Alya tidak membela Pak Bejo, tapi berjanji dalam hati di lain kesempatan akan lebih hati-hati saat tetangganya itu datang berkunjung. Lidya juga tidak bisa menyalahkan Pak Bejo, jangankan dia, semua orang yang normal pasti mau tidur dengan Alya. Kakak Lidya itu memiliki tubuh yang seksi seperti bidadari dan memiliki kecantikan luar dalam. Ditambah perilaku yang sangat lembut dan ramah, makin lengkaplah kesempurnaan Alya.
Rambut panjang indah sebahu, tubuh ramping yang jauh lebih indah lekukannya daripada sirkuit sentul, kulit putih mulus dan buah dada yang luar biasa ranum menggiurkan meskipun sudah beranak satu. Ya, semua orang pasti punya pandangan mesum pada kakaknya itu.
Tapi Lidya sendiri juga sangat cantik. Tubuhnya juga tidak kalah indah, walaupun kalau dibanding Alya yang memiliki ukuran BH 36, Lidya hanya 34C. Kecantikan keluarga mereka memang sudah terkenal. Kadang banyak laki-laki kampung sekitar berkumpul di depan rumah keluarga Alya kalau Dina, Alya dan Lidya sudah berkumpul.
###
Dina Febrianti sedang resah menghitung tagihan bulanan yang bertebaran di atas mejanya. Wanita cantik berusia 32 tahun yang masih terlihat seperti remaja belasan tahun itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan membolak-balik kertas berisi angka-angka. Tagihan listrik, telepon, air, credit card, cicilan motor, cicilan mobil, pembayaran kredit kontrak rumah dan cicilan kredit biaya rumah sakit mertua. Jumlah terhutang sangatlah besar, dan tiap bulannya seakan jumlah itu selalu bertambah besar karena bunga yang ditanggung juga meningkat.
Karena stress, Dina menarik nafas panjang, menyisihkan surat-surat tagihan dan mengambil sebuah amplop besar berwarna coklat yang berisi tagihan kredit pinjaman pembangunan rumah. Anton dan Dina tengah membangun sebuah rumah di kawasan pinggir kota karena sudah bosan selama ini mengontrak terus.
Sayangnya, rumah yang sedang mereka bangun menurut Dina terlalu besar dan mewah untuk ukuran mereka. Dina sering membujuk Anton agar berhemat karena dia tahu untuk membangun rumah seperti yang diinginkan Anton akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan seandainya mereka mengambil kredit, maka biaya berikut bunganya akan sangat besar. Anton hanya tertawa dan mengatakan istrinya terlalu banyak khawatir. Saat menyesuaikan keuangan rumah tangga dan tagihan hari ini, Dina merasa kekhawatirannya menjadi kenyataan.
Untungnya jumlah uang yang mereka kumpulkan bulan ini cukup untuk membayar semua tagihan, Dina menarik nafas lega. Paling tidak mereka bertahan sampai bulan depan. Dina berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih hati-hati dalam hal keuangan. Dia berniat memaksa Anton untuk lebih bijaksana. Paling tidak mereka bisa memotong anggaran untuk credit card dan kembali ke pembayaran cash. Bunga yang ditarik oleh bank untuk credit card sangatlah besar dan membuat mereka mengalami defisit. Sayangnya permintaan Dina selalu ditampik oleh Anton.
“Biarlah yang terjadi esok hari, terjadi esok hari. Yang penting kita hari ini bisa bertahan.” Kata Anton setiap kali Dina mengajukan usulan. Seandainya Dina sadar kalau kata-kata Anton itu bagaikan ramalan, dia seharusnya lebih cemas lagi.
Kalau mengesampingkan kesulitan finansial yang dialami keluarganya, kehidupan Dina sangatlah sempurna. Dia amat mencintai Anton dan suaminya itu memang memiliki gaji yang lumayan untuk menghidupi keluarga. Bersama kedua putranya yang masih kecil, ibu muda yang cantik ini memiliki segala yang mereka inginkan. Hanya sayangnya, mereka tidak punya tabungan di bank seandainya sewaktu-waktu diperlukan pengeluaran mendadak.
Dina tersenyum saat teringat pada kedua anak kebanggaannya. Dani, putranya yang paling besar sudah kelas 5 SD, sedangkan Dion baru masuk ke kelas 1 SD. Mengingat kebutuhan mereka yang semakin besar, senyum Dina memudar. Alat tulis, buku dan seragam makin hari makin mahal. Belum lagi si Dani sudah waktunya disunat, tentu biaya yang dibutuhkan akan sangat besar kalau mereka mengadakan syukuran.
Dina mencari amplop berisi uang belanja bulanan yang biasa diberikan Anton. Begitu menemukannya, Dina langsung menghitung uang yang diberikan Anton bulan ini. Betapa kagetnya Dina begitu tahu jumlah pemberian uang belanja bulan ini sangat sedikit.
Tidak akan mencukupi kebutuhan rumah tangga selama sebulan! Dina tidak meminta uang belanja yang berjuta-juta, cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja sudah bersyukur. Tapi jumlah uang yang mepet itu ternyata masih dipotong lagi oleh Anton. Dina memutuskan untuk menelepon suaminya. Ibu rumah tangga yang kebingungan itu segera memencet nomor HP Anton.
Sayangnya HP Anton tidak aktif. Dina menelepon ke kantor. Menurut Desi sekretaris Anton, suami Dina itu sudah meninggalkan ruangannya.
Dina meletakkan gagang telepon dengan terheran-heran. “Kemana lagi dia? Bukannya pulang malah keluyuran?”
Tanpa sepengetahuan Dina, Anton memiliki penghasilan lain yang tidak halal. Sudah bertahun-tahun Anton membohongi Dina. Anton adalah seorang pemain judi. Bahkan saat ini pun dia sedang berada di arena taruhan. Suami Dina itu sedang menyobek-nyobek kupon taruhannya karena lagi-lagi kalah memasang nomor. Perhitungannya meleset jauh padahal jumlah uang yang dijadikan taruhan tidak sedikit.
Saat Anton pulang ke rumah dan ambruk di ranjang, dia beruntung Dina tidak sedang dalam kondisi bad mood. Dina segera menanyakan perihal jumlah uang belanjanya yang berkurang, senyum Anton yang menawan membuat hati si cantik itu luluh.
Dina sangat mencintai suaminya dan dia tahu Anton juga memujanya. Memangnya kenapa kalau suaminya itu sedikit boros? Uang belanja adalah uang Anton juga, sehingga kalau dia memang memerlukannya, tidak ada salahnya Dina rela. Apalagi Anton sudah memberikan banyak hal untuk Dina dan anak-anaknya. Anton sudah membuai mereka dengan harta benda.
“Shhh, anak-anak belum tidur. Jangan ribut,” Bisik Dina pada suaminya yang tiba-tiba saja ‘menyerangnya’.
“Oh, masa aku nggak boleh ngentotin istriku sendiri?”
“Anton Hartono! Bahasanya kok jorok gitu? Kampungan!”
“Hm, kalau tahu aku dulu akan menikahi perempuan lugu, aku pasti protes keras pada almarhum Bapak dan Ibumu,” canda Anton. “Mereka membesarkan seorang anak perempuan yang cantik jelita namun sangat naif.”
“Tidak lucu. Aku bukan perempuan lugu.”
Anton mengamati istrinya – rambutnya dipotong ala Dian Sastrowardoyo presenter acara kuis berhadiah 3 Milyar rupiah, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, pipinya halus mulus tanpa bercak ataupun jerawat, kulitnya putih mulus bagai susu, buah dadanya masih membusung kencang dan tidak melorot, pinggang langsing, pinggul sempurna di atas pantat yang bulat merangsang dan kaki jenjang yang sangat menawan.
Dulu pernah sekali waktu, seorang agen iklan meminta Dina menjadi model iklan sabun mandi terkenal, namun Dina menolaknya. Anton mengagumi keindahan istrinya yang hampir sempurna. Tangan-tangannya yang nakal menjelajahi perut Dina. Masih seperti perut seorang gadis remaja, walaupun kenyataannya Dina sudah melahirkan dua orang anak.
“Baiklah, kalau begitu wanita konservatif,”
“Maksudnya?” Dina mulai gusar.
Anton menyesal memulai percakapan ini. Dina sangat lugu dan naif dalam hal bercinta dan berpenampilan. Pakaian yang dikenakan istrinya selalu sopan dan tidak pernah menonjolkan kemolekan tubuhnya. Dina juga bukan seorang petualang di ranjang. Dia pemain seks yang konservatif dan monoton. Berciuman, saling menggesek dan bercinta dengan posisi missionary. Selalu begitu.
Sekali dua kali, Anton bisa melakukan doggie style, tapi istri Anton itu tidak pernah mengijinkan sang suami menyentuh anusnya dalam kondisi apapun. Walaupun Dina pernah mengatakan kalau doggie style itu juga merendahkan diri sama seperti binatang, namun dalam kondisi ‘panas’ Dina biasanya menyerah pada keinginan suaminya.
Di awal pernikahan mereka, Anton pernah mencoba melakukan oral seks pada organ kemaluan Dina, tapi istrinya itu langsung menjerit dan melonjak-lonjak marah. Dia langsung menghardik Anton dan mengatakan kalau kemaluan mereka kotor.
Dina tidak pernah mengerti kenapa Anton ingin menjilati bibir kemaluannya yang merupakan sumber penyakit. Sebaliknya pun begitu. Suatu ketika sesaat setelah Anton meminta Dina mengulum penisnya, istrinya itu langsung mengunci diri di dalam kamar mandi dan tidak mau keluar selama dua jam. Anton tidak pernah meminta posisi yang aneh-aneh lagi.
“Jadi? Ayo katakan saja! Kenapa aku ini wanita konservatif?”, lanjut Dina. “Apa karena aku ini bukan wanita murahan? Bukan pelacur?”
“Sudahlah. Lupakan saja.”
“Tidak mau. Kau yang memulai percakapan ini, jadi aku ingin mendengar lanjutannya.”
“Yah, kamu kan memang tidak ingin mencoba hal-hal baru saat bercinta denganku?”
“Aku melakukan apa yang menjadi tugasku,” kata Dina penuh emosi. “Aku seorang istri yang baik, setia, penurut dan telah memberimu dua orang anak!”
“Maafkan aku, sayang. Kamu benar,” Anton mengalah. Dia berusaha mengembalikan mood sang istri yang nampaknya mulai naik pitam.
“Aku sedang tidak ingin melakukannya,” kata Dina sambil melepaskan tangan Anton yang meremas payudaranya. Dina mematikan lampu dan menarik selimut.
Anton memahami nada suara istrinya yang tinggi dan memiringkan badan untuk mengecup bibir Dina. Setelah mencium bibir Anton, Dina membalikkan badan dan memunggunginya. Si cantik itu segera terlelap. Anton bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Entah kenapa, setelah 12 tahun menikah dan hapal dengan sifat-sifat Dina, dia dengan tololnya memutuskan untuk membicarakan hal yang menyinggung perasaan istrinya. ‘Dasar sial’ batin Anton. Suami Dina itu terpaksa coli di kamar mandi untuk melepas hasrat birahinya malam itu.
###
Pak Bejo Suharso yang pensiunan PNS bertubuh gemuk, dengan kulit hitam kecoklatan terbakar matahari dan berusia enam puluh dua tahun. Wajahnya sudah dipenuhi keriput, matanya kemerahan dan rambutnya yang ikal mulai membotak. Wajahnya bukan wajah seorang pria tua yang simpatik, bahkan cenderung buruk rupa. Walaupun bukan orang berada dan hidup serba kekurangan, Pak Bejo dikenal lumayan akrab dengan penghuni sekitar sehingga sering dimintai bantuan dan punya banyak kawan di kampungnya.
Tapi di balik penampilannya pada Alya sekeluarga, Pak Bejo sebetulnya adalah seorang preman yang sering judi, jajan PSK, mabuk-mabukan dengan anak-anak muda dan berkelahi dengan orang yang tidak disukainya. Satu lagi kejelekan Pak Bejo, orang ini sangat mesum.
Pak Bejo dan istrinya hampir tiap hari berkunjung ke rumah keluarga Hendra dan Alya. Biasanya Bu Bejo akan merawat Opi yang masih kecil setiap kali Hendra dan istrinya pergi bekerja. Pak Bejo dan istrinya memang suka dengan anak kecil apalagi yang selucu dan secantik Opi, tapi Pak Bejo lebih suka dengan ibunya yang luar biasa manis dan seksi.
Alya yang masih muda dan jelita adalah wanita impian Pak Bejo. Sejak pindah ke kampung ini, Pak Bejo tak pernah melewatkan mengamati ibu muda yang segar itu. Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang seksi, baunya yang harum, kakinya yang jenjang, kulitnya yang putih mulus, rambutnya hitamnya yang panjang sebahu, buah dadanya yang montok dan membusung, pantatnya yang bulat, semuanya Pak Bejo suka. Sejak Bu Bejo dipercaya dan sering dipanggil sebagai babysitter keluarga Hendra, Pak Bejo bisa memuaskan dahaga nafsunya dengan mencuri-curi pandang ke arah semua titik lekuk keindahan tubuh Alya.
‘Si Alya memang benar-benar dahsyat.’ Kata Pak Bejo dalam hati, “Coba lihat aja bibirnya. Uahahhh, pokoke maknyuuuss. Kalo dipake buat nyepong, baru nempel aja paling aku udah keluar.”
Hari ini dia lebih beruntung lagi, karena tadi pagi sempat mencuri celana dalam Alya yang belum dicuci. Dia sempat mencium bau harum belahan selangkangan Alya dari celana dalam bekas pakainya itu. Setelah istrinya tidur, malam ini Pak Bejo beringsut ke kamar mandi dengan sembunyi-sembunyi sambil membawa celana dalam Alya. Buat apa lagi kalau bukan buat coli? Ia segera bermasturbasi dengan membayangkan wajah Alya dan mimpi bercinta dengan istri Hendra itu dari segala macam posisi. Pak Bejo merem melek dan mendengus-dengus penuh nafsu.
‘Wah,’ pikirnya. ‘Kalau cuma begini terus, bisa rusak kontol ini aku betot. Gimana yah caranya bisa ngentotin si Alya yang semlohay itu? Aku musti cari cara buat bisa masukin kontol ini ke memeknya!’
Setelah orgasme dan melepaskan air mani ke lantai kamar mandi, Pak Bejo kembali ke teras dan kongkow-kongkow. Dia masih mengatur strategi untuk melaksanakan pikiran kotornya. Suatu saat, teringatlah Pak Bejo pada adik Alya yang juga sangat cantik dan seksi yang bernama Lidya.
‘Si molek itu kayaknya curiga sama aku. Suatu saat nanti aku harus memberi dia pelajaran di tempat tidur!’ kata Pak Bejo dalam hati. ‘Yang mana yah enaknya? Alya atau Lidya yang sebaiknya aku entotin duluan? Wah wah, satu keluarga kok semlohay semua. Belum lagi kakaknya yang paling gede, siapa itu namanya… Dina Febrianti? Wah… teteknya oke banget… ah ah… Dina, Alya atau Lidya?’
Pak Bejo lantas membuka folder-folder gambar di dalam HPnya. Di dalamnya terdapat tiga foto yang sangat dia sukai. Semuanya seronok dan diambil tanpa sepengetahuan sang target. Gambar Dina saat mengenakan kaos ketat yang memperlihatkan kemolekan buah dadanya, gambar belahan dada Alya saat pujaan Pak Bejo itu membungkuk dan gambar paha mulus Lidya.
Dina sudah menikah dan tinggal tidak jauh dari rumah Alya, berbeda gang tapi masih dalam satu komplek. Bersama suaminya, Anton, Dina memiliki dua orang anak yang sekarang sudah bersekolah di SD terdekat. Sedangkan Lidya adalah penganten baru yang tinggal di sebuah rumah agak jauh di pinggiran kota. Karena sering tugas keluar kota, maka Andi suami Lidya sering menitipkan istrinya ke rumah Alya.
Kedua orang tua kakak beradik Dina, Alya dan Lidya sudah meninggal dunia karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
Sambil menikmati gambar ketiga kakak beradik yang seksi itu, Pak Bejo Suharso terus melamun hingga larut malam sambil menggaruk-garuk selangkangannya yang makin gatal.
###
Alya sudah bekerja keras sepanjang hari Minggu ini dan dia kelelahan. Ibu rumah tangga muda yang cantik itu sudah mencuci baju, memasak, membersihkan rumah, memandikan Opi dan menidurkannya. Apalagi hari ini Alya harus melayani kunjungan ibu mertuanya yang baru pulang sore hari sementara Bu Bejo sedang mengunjungi relasi sehingga tidak bisa datang. Akhirnya Alya bisa beristirahat dengan tenang malam itu.
Setelah mandi dengan shower, keramas dan mengenakan piyama, Alya merebahkan diri di tempat tidur. Sayangnya, Hendra punya pikiran lain dan mulai bergerak mendekati istrinya yang tidur membelakanginya. Hendra memeluk Alya dari belakang, menepikan rambut dan menciumi lehernya yang putih.
“Jangan sekarang ah, Mas Hendra,” kata Alya manja. “Aku capek banget.”
Hendra tidak menjawab. Suami Alya itu terus menciumi lehernya dan meletakkan tangannya di payudara kiri Alya. Hendra meremas susu Alya perlahan dan menjilati daun telinganya, sementara tubuhnya kian mendekat dan akhirnya Hendra menempelkan alat vitalnya di belahan pantat Alya yang montok.
“Mas…” Alya menggeliat dan mencoba mendorong suaminya menjauh. Tidak enak juga rasanya menolak melayani suami seperti ini, karena biar bagaimanapun Alya sangat mencintai Hendra dan ingin melayaninya sampai puas. Sayangnya, Hendra sering memilih waktu yang tidak tepat saat meminta jatah.
“Ayolah, sayang,” kata Hendra sambil mencopoti kancing baju piyama yag dikenakan Alya. “Aku pengen.”
“Aku capek, Mas,” jawab Alya. Tapi karena Hendra terus merangsang payudaranya, Alya akhirnya mengalah. Akan lebih baik kalau dia menyerah dan pasrah pada kemauan sang suami.
Alya berhenti menolak dan mulai rileks saat Hendra selesai melepaskan semua kancing baju piyama yang dikenakannya. Telanjang dari perut ke atas, Hendra segera menyerang kedua payudara Alya yang ranum dan indah. Hendra memijat buah dada Alya dengan kedua belah telapak tangannya. Suami Alya itu lalu mengelus-elus susu Alya dan menciumi sisi-sisinya. Hendra hanya sekilas mencium puting susu Alya (tidak cukup lama untuk membuatnya mengeras), lalu bangkit dan berlutut. Ia meraih bagian atas celana piyama yang dipakai Alya dan mencoba menariknya. Alya dengan desahan panjang mengangkat pantatnya ke atas supaya celananya mudah ditarik.
Hendra melucuti celana panjang piyama Alya dan melakukan hal serupa dengan celana dalam istrinya. Kini Alya sudah telanjang bulat di depan suaminya.
“Seksi banget, sayang. Sudah lebih dari lima tahun kita menikah, tapi bentuk tubuhmu masih jauh lebih indah dari gadis manapun. Masih seksi, masih mulus dan hmm… tidak, aku salah. Tubuhmu jauh lebih seksi, lebih mulus dan lebih aduhai dari siapapun.” Kata Hendra memuji keindahan tubuh istrinya. Alya tersenyum, paling tidak dia masih mendapatkan pujian dari suaminya.
“Ini semua untuk kamu, Mas.” Kata Alya mesra.
Hendra ambruk di atas tubuh Alya dan istrinya itu otomatis merenggangkan kakinya yang jenjang. Alya mengaitkan kakinya diantara pinggang Hendra dan menjepitnya lembut. Beberapa saat kemudian, Alya merasakan ujung kemaluan Hendra mulai menyentuh ujung vagina Alya. Wanita cantik itu menarik nafas panjang. Hendra mungkin bukan orang paling romantis di dunia, tapi penisnya lumayan besar, dan itu biasanya mampu mengagetkan dan memuaskan Alya.
Alya menahan nafas sementara Hendra melesakkan penisnya ke dalam vagina istrinya dengan sangat perlahan. Setelah seluruh batang kemaluan Hendra masuk ke dalam mulut rahimnya, Alya melepas nafas. Hendra mulai menyetubuhi Alya dengan gerakan pelan dan lembut. Gerakan Hendra yang ajeg dibarengi dengan erangan dan lenguhan kenikmatan. Alya merintih pelan dan manja, untuk memberikan kesan dia menikmati permainan cinta yang diberikan suaminya. Padahal dalam hati Alya sama sekali tidak puas.
Sebenarnya permainan Hendra tidaklah terlampau buruk, tidak pula singkat, kadang Alya juga terpuaskan perlahan-lahan, tapi permainan Hendra tidak mampu melejitkan Alya ke puncak kepuasan yang optimal.
Alya mencoba mengimbangi gerakan memilin suaminya dengan gerakan pinggulnya, mencoba menyamakan ritme dengan gerakan mendorong yang dilakukan Hendra, tapi lagi-lagi Alya harus berpura-pura karena tak berapa lama kemudian Hendra sudah orgasme. Alya tersenyum dan mencium suaminya lembut. Hendra menyentakkan penisnya dalam vagina Alya untuk kali terakhir sementara air maninya membanjiri liang kemaluan sang istri.
Setelah semuanya usai, Hendra bergulir dari atas tubuh Alya dan memejamkan matanya penuh kepuasan. Alya bangkit dari ranjang, membersihkan diri sebentar dan kembali ke tempat tidur sambil memeluk suaminya yang sudah tertidur lelap penuh rasa cinta.
Sementara itu, di luar sepengetahuan Alya dan Hendra, sesosok tubuh gemuk berhenti merekam adegan persetubuhan mereka. Sosok itu sedari tadi bersembunyi di luar jendela kamar Alya. Entah bagaimana, sosok itu bisa menemukan celah di antara tirai, mengintip ke dalam kamar lalu merekam adegan seks mereka dengan kamera HP.
Sosok itu melangkah puas sambil terkekeh-kekeh pulang ke rumah. Sosok Pak Bejo Suharso!
###
Dina duduk di kamar santai dan menyalakan televisi. Tapi ibu muda yang cantik itu tidak menonton tayangan sinetron di televisi. Dina terus memijat-mijat tangannya dengan gelisah di pangkuan dan bertanya-tanya apa yang diinginkan oleh Pak Pramono, bos kerja Anton.
Pak Pramono telepon tadi pagi dan bertanya apakah dia boleh datang berkunjung. Pak Pramono mengatakan ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan. Anehnya, saat ini Anton justru tengah dinas keluar kota. Apa yang ingin disampaikan Pak Pramono padanya? Dina selalu merasa rikuh saat berhadapan dengan Pak Pramono.
Walaupun sudah tua, tapi pria yang rambutnya sudah beruban semua itu sangat besar dan masih terlihat gagah. Kulitnya yang hitam dan kumisnya yang lebat menambah sangar penampilan Pak Pramono. Dia lebih mirip seorang perwira militer ketimbang bos perusahaan IT. Dina bertanya-tanya dalam hati apa yang ingin dibicarakan oleh Pak Pramono saat kemudian bel pintu berbunyi.
Dina buru-buru membukakan pintu dan mempersilahkan seorang pria masuk. Dia mengantarkan sang tamu ke ruang duduk di mana mereka berdua akhirnya berhadapan. Dina merasa sedikit grogi berbincang-bincang dengan pimpinan suaminya. Sangat jarang pimpinan Anton berkunjung kemari, bahkan bisa dibilang ini baru pertama kalinya mereka berdua berhadapan langsung.
“Bagaimana kabar anda?” tanya Pak Pramono memulai percakapan.
Dina cukup terkejut dengan pertanyaan sopan ini. Pak Pramono bukan orang yang suka berbasa-basi dan wajahnya cenderung menyeramkan. Satu-satunya pertemuan empat mata antara Dina dan Pak Pramono berlangsung di sebuah pesta perusahaan. Saat itu Pak Pramono bahkan tidak tersenyum pada siapapun. Sebaliknya Bu Pramono adalah seorang istri yang sangat ramah. Dina memutuskan untuk tidak memasang wajah kaku dan berlaku santai. Dia duduk dengan tenang.
“Baik, terima kasih. Bagaimana kabar anda sendiri, dan Bu Pramono, sehat-sehat saja kan?” Dina menjawab ramah.
“Baik. Baik. Ibu juga baik baik saja. Semua sehat.”
Dina melihat wajah Pak Pramono mengeras, sehingga perasaan tegang kembali menyelimutinya. “Pasti Bu Anton bertanya-tanya kenapa saya ingin menemui ibu?”
“Betul Pak, saya cukup terkejut dengan telpon dari anda… apalagi saat ini Mas Anton sedang keluar kota dan…”
“Akan lebih baik kalau dia tidak ada di sini. Saya ingin berbincang-bincang soal serius pada Bu Anton perihal bapak.”
“Tentang suami saya? Apa ada masalah di tempat kerja?
“Pertama, apakah ibu tahu soal kebiasaan Pak Anton berjudi?”
Dina terkejut dan hampir pingsan, tapi setelah beberapa saat berdiam, dia mencoba menguasai dirinya sendiri dan menjawab. “Mas Anton tidak pernah berjudi, tidak tepat kalau disebut ‘kebiasaan’, Pak Pramono.”
Pak Pramono membuka tas kerjanya dan mengambil secarik amplop manila. Dia membukanya dan mengeluarkan beberapa carik kertas dari dalamnya. Memisahkan sebagian dan mengambil beberapa lagi. Dia lalu menunjukkannya kepada Dina. Kertas-kertas itu adalah foto. Dina duduk terdiam. Dia hampir pingsan.
“Ini buktinya,” kata Pak Pramono tenang.
Dalam foto-foto itu tergambar kegiatan Anton saat dia sedang di meja judi. Entah itu saat bermain kartu atau berbagai jenis kegiatan judi lain. Ada foto-foto saat Anton sedang memasang nomor taruhan, ada foto saat Anton merobek nomernya yang kalah dengan kesal dan ada foto Anton saat dia sedang minum bir bersama beberapa bandar.
“Darimana anda mendapatkan foto-foto ini?” tanya Dina kebingungan.
“Itu tidak penting. Jadi patut diketahui oleh ibu, kalau kami selalu melakukan penyelidikan mendetail pada seluruh karyawan, termasuk Pak Anton. Dalam kasus ini, kami memang mencurigai beliau.”
“Mencurigai! Kenapa?”
“Saya baru hendak menyampaikan alasannya. Auditor kami menemukan catatan sejumlah besar dana yang telah diselewengkan oleh seorang karyawan. Hal itu membuat kami harus memulai langkah penyelidikan. Setelah langkah-langkah diambil, semua bukti yang ada mengarah pada Pak Anton, suami ibu. Kami menghubungi pihak yang berwajib dan mereka mengirim beberapa intel untuk, mm, mematai-matainya.”
“Ini pasti kesalahan besar. Anton tidak mungkin mencuri. Dia tidak pernah berjudi!” Dina mulai gusar, matanya mulai basah.
“Tentunya, seperti yang terbukti dari foto-foto ini, suami ibu jelas-jelas berjudi.” Pak Pramono mengeluarkan beberapa foto lagi dari amplop manilanya. “Bahkan kami punya bukti kalau Pak Anton juga telah melakukan korupsi dan menggelapkan uang perusahaan untuk kegemarannya itu.”
Dina yang shock duduk dengan mulut terbuka lebar karena terheran-heran. Ruang tamunya seakan berputar dan perlahan menjadi gelap. Dina pingsan.
###
“Alya.”
“Iya Mas?”
“Dasiku yang biru kamu simpan dimana? Aku kok tidak bisa menemukannya dimana-mana?”
“Ada kok, di dalam lemari.”
Hendra selalu berharap Alya akan menyiapkan segala kebutuhannya sebelum berangkat ke kantor. Ketika mereka menikah beberapa tahun yang lalu, Alya sanggup melayani Hendra. Tapi kini, sebagai seorang wanita yang juga bekerja dengan seorang anak yang masih kecil, kesibukan pagi Alya sangatlah padat. Bangun pagi, menyiapkan makan, membangunkan Opi, menghidangkan sarapan… terus berlanjut sampai Hendra berangkat kerja, Opi diasuh Bu Bejo dan Alya sendiri berangkat bekerja.
Saat Bu Bejo tidak datang, kehidupan Alya jauh lebih hiruk pikuk. Untungnya suami istri Pak dan Bu Bejo gemar menolong dan mereka selalu datang untuk membantu. Bu Bejo tidak pernah menolak membantu dalam hal apapun juga, hubungan kedua tetangga inipun terjalin erat. Hendra dan Alya sering memberi uang lebih pada Pak Bejo dan istrinya sebagai balas jasa.
Sayangnya Alya kemudian mengetahui kehidupan gelap Pak Bejo Suharso. Pak Bejo adalah seorang suami yang pemabuk dan sering memukuli Bu Bejo dengan kasar. Tanpa alasan yang jelas (kemungkinan besar karena kalah judi), Pak Bejo bisa menghajar Bu Bejo sampai bengkak dan biru. Biasanya kalau sudah begitu, hanya Pak Bejolah yang datang ke rumah Hendra selama beberapa hari. Alya mengasihani Bu Bejo, kenapa dia masih tetap bertahan sebagai istri Pak Bejo? Mungkin kondisi ekonomi membuat kehidupan Pak Bejo menjadi keras, tapi itu bukan alasan untuk menganiaya istrinya sendiri.
Seandainya Hendra yang berlaku demikian, maka Alya akan minta cerai dan pergi sejauh mungkin dari rumah ini. Bukanlah penganiayaan fisik yang membuat Alya marah, tapi penghinaan berlebih terhadap kaum wanita yang membuatnya tersinggung. Alya hanya tertawa saat membayangkan Hendra menjadi seorang penganiaya istri, tidak mungkin terjadi. Mereka sudah pacaran sejak SMU dan Hendra adalah orang terbaik yang pernah ia kenal.
Suatu ketika Alya pernah menanyakan perihal alasan Bu Bejo bertahan, Bu RT itu hanya tertawa penuh kesabaran. “Kamu belum tahu apa-apa, nDuk. Mbak Alya belum mengerti apa-apa.”
Tapi, Bu Bejo berjanji, setiap kali Pak Bejo berlaku kasar, dia akan lari minta perlindungan pada Alya sekeluarga dan berusaha menyadarkan suaminya dari tindakan yang semena-mena itu. Hari ini Bu Bejo belum menampakkan batang hidungnya, dan Alyapun bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
“Opi, ayo habiskan makannya.” Kata Alya memperingatkan putrinya.
Putri kecil Alya punya kebiasaan buruk menghambur-hamburkan sarapan. Toh walaupun sudah masuk kelas 0 kecil, Opi masih seorang anak kecil. Alya melirik ke arah jam di dinding. Jam tujuh tiga puluh.
“Sayang, aku pergi dulu. Mungkin pulang agak telat hari ini. Ada meeting nanti sore dengan pemegang saham.” Kata Hendra sambil mencium pipi sang istri.
Melangkah keluar dari dapur, Alya dan Hendra mengangkat Opi dari meja makan. Kalau Bu Bejo tidak datang, Hendralah yang mengantarnya ke TK. Kalau sudah begitu, biasanya Opi dititipkan pada neneknya yang kebetulan tinggal di dekat TK dan juga bersedia menampung Opi. Hendra atau Alya akan menjemput Opi nanti sore sepulang kerja.
Alya merasa pusing hari ini, sehingga dia memutuskan untuk absen kerja. Setelah menelpon kantor untuk minta ijin, Alya juga menelpon mertuanya untuk menitipkan Opi. Saat melintas di depan kaca, tidak sengaja Alya memperhatikan tubuhnya sendiri. Sangat susah mempertahankan badan agar tetap langsing bagi sebagian orang. Tapi bagi Alya, dia bagai dikaruniai sebuah tubuh indah yang sangat sempurna. Alya merapikan rambut sebahunya yang agak kusut.
“Kamu memang seksi banget, sayang. Kalau jalan-jalan di mall, pasti banyak cowok pengen menggodamu.” Kata Hendra. Dia selalu memuji istrinya. Memang bukan hal aneh kalau Alya sering digoda cowok dimanapun dia berada karena sangat cantik dan seksi. Tapi Alya adalah seorang istri yang setia dan punya martabat yang ia junjung tinggi.
“Mama, Opi pegi dulu.” Kata si kecil sambil mencium pipi sang bunda.
“Iya. Ati-ati ya sayang.” Alya mengecup dahi Opi.
“Aku pergi dulu, say.” Hendra pamit sambil menggandeng Opi.
Alya melambaikan tangan pada mereka berdua.
Alya ambruk ke atas ranjang setelah Hendra dan Opi pergi. Pengaruh obat yang dia minum setelah sarapan tadi membuatnya sangat mengantuk. Ibu rumah tangga yang jelita itu tertidur selama hampir dua jam sebelum terbangun dan memutuskan untuk bersantai-santai sambil membaca tabloid. Alya bertanya-tanya kemanakah Bu Bejo hari ini.
###
Saat kemudian terbangun, Dina sedang berbaring di sofa dan Pak Pramono duduk di sampingnya.
“Anda ingin saya ambilkan segelas air?” tanya Pak Pramono.
“Apa yang terjadi? Ya Tuhan, saya ingat. Tidak mungkin. Anton tidak akan melakukan itu semua. Apa yang akan anda lakukan?”
“Itulah sebabnya hari ini saya memutuskan kemari dan menemui Mbak Dina. Saya punya penawaran.” Kata Pak Pramono.
“Penawaran? Untuk saya? Apa yang bisa saya lakukan?”
Pak Pramono tersenyum nakal. “Begini, Bu Anton, atau boleh saya panggil Mbak Dina saja supaya akrab? Anda terlalu muda dan cantik untuk dipanggil ibu.”
Dina mengangguk.
“Baiklah, Mbak Dina. Anda bisa membantu suami, dalam hal ini Mas Anton, dan juga seluruh keluarga Mbak Dina. Saya punya bukti-bukti kuat yang akan menggiring Pak Anton ke penjara untuk jangka waktu yang sangat lama. Saat melakukan penyelidikan, kami juga menerima berkas-berkas laporan keuangan dan bon tagihan bulanan keluarga anda.”
Dina sudah siap memprotes, tapi kemudian terdiam dan membiarkan Pak Pramono meneruskan keterangannya.
“Memang apa yang saya lakukan bersama tim terdengar ilegal, tapi saya bersumpah apa yang kami lakukan sah sesuai hukum. Saya memberitahu anda saat ini karena ingin anda mengerti posisi kami. Dari apa yang kami dapatkan, kami menemukan bukti bahwa keluarga anda telah berfoya-foya dengan membeli berbagai peralatan elektronik dan…”
“Berfoya-foya? Kami tidak minta apa-apa! Itu semua Mas Anton yang membelikan!” teriak Dina panik.
“Kami minta maaf, tapi saya tetap pada pernyataan saya. Suami anda menghabiskan uang dalam jumlah yang tidak sedikit dan seiring dengan kegiatan judi yang dia lakukan dan banyaknya hutang yang dia tanggung dari kegiatannya itu, saya rasa anda tidak sanggup mengeluarkan lebih banyak lagi dana dari anggaran belanja anda. Pak Anton harus kehilangan pekerjaan dan mendekam di penjara.”
“Ya Tuhan, lalu apa yang akan terjadi kalau anda melakukan itu?! Kami akan kehilangan rumah! Anak-anak! Apa yang terjadi pada mereka? Sekolah dan lain-lain!”
“Benar sekali. Itu sebabnya saya disini. Saya bukan pendendam. Saya memang sangat marah saat tahu Pak Anton telah mencuri uang perusahaan, tapi saya lalu teringat pada Mbak Dina dan… ahh, saya punya penawaran menarik.”
“Apa yang anda maksud… penawaran menarik?”
“Apakah anda berniat membantu Pak Anton mempertahankan pekerjaannya dan menjauhkan suami anda dari jeruji penjara?”
“Tentu saja.”
“Apa yang anda akan lakukan untuk itu?”
“Apa saja.”
Tentunya Dina bermaksud membayar kembali hutang Anton pada perusahaan, bahkan jika dia harus menjadi pembantu rumah tangga atau buruh cuci untuk melakukannya.
Dina akan sangat terkejut saat Pak Pramono melanjutkan niatnya.
“Saya sangat lega anda berpendapat demikian, Mbak Dina. Tahu tidak, anda sungguh sangat cantik jelita. Sangat mempesona.”
“Terima kasih. Tapi sebaiknya kita tetap pada pokok permasalahan.”
“Itulah yang sedang saya lakukan. Saya ingin menolong keluarga anda keluar dari kesulitan ini. Dengar baik-baik apa yang hendak saya sampaikan: saya orang yang sangat kaya, jadi saya bisa melupakan uang yang dicuri suami anda dari perusahaan hanya jika… jika anda berlaku ‘baik’ terhadap saya.”
“Pak Pramono, apa saya tidak pernah berbuat baik pada anda? Apa pernah saya berlaku tidak sopan pada anda?”
“Mbak Dina. Anda selalu sopan terhadap saya. Tapi itu bukan ‘kebaikan’ yang saya maksudkan. Apa anda tahu maksud saya?”
“Mohon maaf, tapi saya tidak tahu. Pikiran saya sedang kalut dan saya tidak bisa berpikir jernih. Apa yang anda maksud?”
“Baiklah. Saya akan terus terang saja. Kalau kamu ingin aku melupakan kelakuan suamimu dan kerugian yang diderita perusahaan, aku ingin kamu melayaniku. Tidur denganku. Aku ingin menggauli tubuh indahmu.”
Mulut Dina menganga tak percaya. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi dan dia duduk di kursi dengan menggigil ketakutan. Akhirnya, setelah mengumpulkan semua kekuatan karena shock, Dina berteriak kencang. “Keluar dari rumahku! Pergi! Orang tua tidak tahu diri!”
Pak Pramono perlahan memindahkan foto-foto yang berada di amplop manila dan meletakkannya di dalam tas kerja. Sengaja dia meletakkan tas itu dengan keras di atas meja sehingga membuat Dina terperanjat. Pak Pramono berdiri, membalikkan badan dan perlahan berjalan ke arah pintu. Setelah lima langkah, Pak Pramono berhenti dan melirik ke belakang.
“Penawaran ini tidak akan aku ulangi,” kata Pak Pramono dingin. “Saat aku melangkah keluar dari rumah ini tanpa kau turuti kemauanku, pihak yang berwajib – kepolisian, akan segera aku hubungi. Segera.”
Dina meloncat dari kursinya dan berusaha menahan kepergian Pak Pramono. “Tunggu! Saya mohon, Pak! Berhenti dulu!” Dina sangat kebingungan. Apa yang harus dilakukannya? Apa yang sebaiknya ia perbuat? Seluruh tubuhnya bergetar karena takut dan dia tidak dapat berpikir jernih. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tanpa banyak berpikir, Dina mengganguk lemah. “Baiklah. Anda menang.”
“Apa itu artinya kamu mau melakukan semua yang aku minta?”
Dina ragu-ragu sesaat, matanya menatap ke lantai dengan hampa dan akhirnya dengan suara lemah dia menjawab. “Iya. Saya tidak punya pilihan lain.”
“Bagus. Kalau begitu ayo kita buktikan saja.” Pak Pramono duduk di sofa dan menunggu dengan santai. Saat Dina berdiri terdiam, Pak Pramono pun tersenyum puas.
“Buka bajumu.” Perintah Pak Pramono.
###
Hari mulai siang dan Alya masih terus membolak-balik halaman tabloid Ibu & Anak. Dia masih menunda pekerjaan rumah seperti mencuci piring atau memasak. Setelah merasa sedikit sembuh dari pusing, barulah Alya bangkit dari bermalas-malasan dan melangkah menuju dapur.
Saat itulah terdengar pintu pagar dibuka.
Siapa yah? Apa mungkin tukang pos yang mengantarkan surat atau paket? Pikir Alya dalam hati. Saat membuka pintu, Alya menemui Pak Bejo sedang membawa tas kresek hitam besar.
“Oh, saya kira siapa. Gimana Pak Bejo?” tanya Alya.
“Mbak Alya kok di rumah? Tidak kerja hari ini?”
“Oh, nggak, Pak. Soalnya hari ini badan agak kurang sehat, kepala juga pusing.”
“Oh begitu. Ini saya mau ngambil sampah. Biasanya Bu Bejo yang ngambil sampah di keranjang belakang. Tapi tadi tiba-tiba saja Bu Bejo juga tidak enak badan.”
Meskipun sedang malas berbasa-basi, Alya tidak mau tidak sopan terhadap tetangganya ini. “Oh begitu. Sampahnya ditaruh depan rumah saja, Pak. Nanti diambil sama tukang sampah yang keliling kan?”
“Iya, Mbak,” jawab Pak Bejo. “Kalau diletakkan di keranjang depan, pasti diambil tukang sampah komplek.”
Alya mengangguk dan mempersilahkan Pak Bejo masuk.
“Em, maaf Mbak. Tapi boleh saya minta segelas air putih? Saya haus sekali.” tanya Pak Bejo.
“Tentu saja boleh, Pak. Kan sudah biasa? Anggap saja rumah sendiri. Sini, biar saya saja yang mengambilkan. Bapak duduk dulu.” Kata Alya sopan.
Ketika kembali dengan segelas air putih, Pak Bejo sudah duduk di ruang tengah. Dengan cepat Pak Bejo meneguk air putih dan mengembalikan gelasnya pada Alya. Ibu muda yang cantik itu mencoba mengambil gelas, tapi sebelum sempat menarik gelas, tangan Alya sudah ditarik oleh Pak Bejo. Tubuh Alya tertarik ke depan ke arah pelukan Pak Bejo.
Dengan sigap Alya memutar tubuh sehingga Pak Bejo kini berada di belakangnya dan mencoba lari, tapi Pak Bejo terus memegang tangan Alya dan memeluk tubuhnya. Saat mereka bergumul gelas yang dipegang Alya terlempar hingga pecah berkeping-keping. Tangan Pak Bejo mulai nakal meraba-raba dada kenyal Alya dan meremasnya dengan sangat keras hingga terasa sakit. Alya membungkukkan badan ke depan mencoba melepaskan diri dari pelukan erat Pak Bejo.
Semua usaha Alya sia-sia. Untuk bisa mempertahankan keseimbangan diri, Alya harus mundur ke belakang. Tanpa dikomando, Pak Bejo segera beraksi. Pria tua itu menyelipkan selangkangannya yang sudah membusung besar ke lipatan pantat Alya. Tangannya juga meremas buah dada Alya dengan sangat kasar. Alya mengernyit kesakitan.
“He-Hentikan, Pak!! A-Atau saya akan teriak minta tolong!” kata Alya terbata-bata. Dia sangat ketakutan.
“Aku tahu Mbak Alya tidak akan melakukan itu. Apa yang dibutuhkan Mbak Alya adalah tidur dengan laki-laki sejati. Setelah kita bersetubuh nanti, Mbak Alya akan menjadi seorang wanita yang mendambakan kontol besar setiap hari.” Kata Pak Bejo sambil terengah-engah penuh nafsu.
Setelah berusaha mengatasi kepanikan, Alya mencoba melawan. Tangan Alya meraih rambut Pak Bejo, memaksa pria tua itu menunduk dan dengan sekuat tenaga Alya menyepak kemaluan Pak Bejo.
“Aduh! Lonthe!!”
Pria tua yang mesum itu pantas menerimanya. Dengan nekat Alya mencoba kabur ke pintu depan sambil melewati Pak Bejo yang sedang kesakitan. Salah besar. Tangan Pak Bejo menarik rambut Alya dan membanting tubuh si cantik itu ke lantai. Alya yang jauh lebih ringan terbanting dengan keras.
Pak Bejo melepaskan rambut Alya.
Alya mencoba berdiri dengan sempoyongan, ia berusaha mempertahankan kesadarannya. Dengan satu tamparan keras di pipi, tubuh Alya terlempar lagi ke lantai. Air mata mulai menetes di pipi mulus Alya. Tamparan kedua menyusul tak lama kemudian, membanting tubuh Alya ke arah yang berlawanan. Akhirnya pukulan dan tendangan Pak Bejo seakan tak berhenti menghajar tubuh Alya.
Pak Bejo mengunci tubuh Alya, sehingga walaupun Alya berusaha melawan, semua tidak ada gunanya. Tak perlu waktu lama sebelum akhirnya perlawanan Alya mengendur dan tubuhnya mulai lemas. Tamparan demi tamparan Pak Bejo menjadi hajaran yang tak tertahankan.
“Pak!! Saya mohon!! Hentikan! Hentikan!!” ratap Alya sambil menangis.
Akhirnya Pak Bejo berhenti menghajar Alya. Alya mulai meraung-raung dan menangis sejadi-jadinya. Darah menetes dari hidungnya yang sembab.
“Nggak apa-apa. Sebentar lagi juga sembuh.” Pak Bejo menyeringai.
Tangan Pak Bejo mulai bekerja dengan cepat melucuti pakaian yang dikenakan Alya. Pak Bejo melepas rok dan rok dalam yang dipakai Alya. Akhirnya Alya bisa merasakan tangan kuat pria tua itu merobek celana dalamnya.
Alya tidak percaya ini semua terjadi padanya. “Ini pasti mimpi buruk.”
Pak Bejo juga tidak percaya melihat kemolekan tubuh Alya. Kaki yang jenjang, paha yang mulus dan rambut tipis tercukur rapi menutup gundukan memek yang bersih. Keindahan yang tidak ada duanya. Keindahan tubuh Alya persis seperti apa yang selalu diidam-idamkan oleh Pak Bejo ketika masturbasi sendirian di kamar mandi. Tubuh yang indah itu kini tergolek pasrah di atas lantai.
Pak Bejo tak perlu waktu lama untuk menyerang tubuh Alya. Dia membenamkan kepala di antara paha Alya dan mulai menghirup aroma wangi liang kewanitaannya. Pak Bejo mulai menjilati bibir kemaluan Alya.
“Ya Tuhan!” Alya menggigil tak berdaya sambil mencengkeram kepala Pak Bejo dengan kedua tangannya dan mencoba mendorongnya menjauh. Bahkan Hendra tak berani melakukan itu padanya. Lidah Pak Bejo makin lama makin meningkat intensitas iramanya dan Alya mulai kehilangan kendali pada tubuhnya. Dengan malu Alya mulai menyadari kalau tubuhnya perlahan menikmati apa yang dilakukan oleh Pak Bejo sementara batinnya mencoba mengingkari.
“Aaah!!” lenguh Alya keras sambil terus mencoba mendorong kepala Pak Bejo.
Lenguhan Alya makin lama makin keras dan tubuhnya menggigil penuh nafsu birahi di bawah rangsangan luar biasa dari Pak Bejo. Alya sudah tidak ingat lagi akan semua hal yang ia junjung tinggi, pekerjaan, pendidikan, latar belakang, keluarga, suami, anak… semua hilang ditelan nafsu. Tidak ada jalan keluar. Dia akan ditiduri oleh laki-laki ini, seorang pria tua yang ternyata memiliki hati busuk.
Dengan kecepatan tinggi, Pak Bejo mulai meloloskan baju dan celana yang ia kenakan. Saking nafsunya, ia bahkan merobek kaos oblongnya. Berbaring di lantai, Alya sekilas melihat batang zakar Pak Bejo sebelum dia akhirnya memeluk Alya. Kontol Pak Bejo sangat besar, bahkan lebih besar dari milik Hendra, batin Alya dalam hati. Kaki Alya yang jenjang diangkat ke atas oleh pria tua yang sudah nafsu itu, keduanya ditautkan di pundak Pak Bejo dan dengan secepat kilat, Pak Bejo sudah sampai di selangkangan Alya. Tanpa tunggu waktu terlalu lama, langsung dilesakkan kontolnya ke dalam memek Alya.
“Ya Tuhan!” lenguh Alya ketika penis Pak Bejo masuk ke dalam liang kemaluannya. Si cantik itu bahkan harus menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak kesakitan saat kontol Pak Bejo dipompa dalam rahimnya berulang-ulang kali.
Tapi Pak Bejo tetaplah seorang pria tua. Tidak sampai lima menit, Pak Bejo sudah melepaskan cairan pejuhnya di dalam rahim Alya. Alya menatap wajah Pak Bejo dengan perasaan campur aduk.
“Sudah kubilang kalau kau akan menikmati semua ini, Mbak Alya. Lenguhanmu terdengar sangat keras dan merangsang.” Kata Pak Bejo sambil meringis penuh kemenangan.
Alya yang malu memalingkan wajah.
Saat Alya berusaha bangun, Pak Bejo menarik tubuh Alya dan memeluknya.
“Mau kemana, sayang? Kita kan belum selesai. Kamu nggak pengen dikenthu lagi?”
“Mau ke kamar mandi.” Kata Alya berusaha melepaskan diri dari pelukan Pak Bejo.
“Tapi kamu kan nggak bisa pergi seperti ini.”
Pak Bejo berdiri dan membantu Alya ikut berdiri. Satu persatu dilepaskannya semua pakaian yang melilit tubuh indah Alya. Mulai dari baju, BH sampai rok dalam yang masih tersangkut di kaki Alya. Setelah selesai, dibaliknya tubuh Alya.
“Sekarang baru boleh pergi.” Kata Pak Bejo terkekeh sambil menampar kecil pantat Alya yang bulat dan mulus. Sambil menahan air mata, Alya pun pergi ke kamar kecil.
Saat kembali ke kamar tengah, Pak Bejo sedang menonton acara TV.
“Duduk di pangkuanku!” Perintah Pak Bejo sambil menepuk kakinya. Alya sempat ragu-ragu untuk sesaat, dia sangat sadar bahwa dirinya saat ini sedang telanjang tanpa sehelai benangpun di depan seorang pria yang bukan suaminya sendiri. Orang itu kini menghendaki tubuh indah Alya duduk di pangkuannya. Alya hanya bisa mendesah penuh kepasrahan. Air matanya kembali menetes.
Tak berapa lama setelah duduk di pangkuan Pak Bejo, tangan jahil pria tua itu mulai meraba-raba tubuh indahnya. Lama kelamaan, api yang tadinya padam mulai menyala lagi. Kali ini Pak Bejo ingin mengeluarkan pejuh di mulut Alya. Istri Hendra itu memang sangat jarang melakukan oral seks atau fellatio pada suaminya sendiri karena terlalu alim. Sekali dua kali dilakukannya dengan terpaksa. Alya selalu menganggap hal itu kotor dan menjijikkan. Hanya pemain film porno yang pernah melakukannya.
“Aku tidak mau melakukannya.” Kata Alya bersikukuh.
Tanpa banyak bicara Pak Bejo meraih kepala Alya dan akhirnya istri Hendra itu hanya bisa pasrah. Alya mulai mengoral kontol Pak Bejo.
Remasan tangan Pak Bejo di kepala Alya mengeras. Si cantik itu bisa merasakan denyutan di kontol yang diemutnya kalau Pak Bejo hampir mencapai orgasme. Kontolnya sangat besar dan keras di dalam mulut Alya sehingga dia mulai batuk-batuk dan kehabisan nafas tapi Pak Bejo tidak peduli.
Alya berusaha mundur untuk menarik nafas, tapi tangan Pak Bejo meraih rambut belakang Alya dan mendorongnya maju sampai tertelan seluruh batang kemaluan sang pria tua. Karena kuatnya dorongan Pak Bejo, tubuh Alya menggelepar karena tercekik kehabisan nafas.
Alya berontak dan berusaha melepaskan diri, tapi Pak Bejo terlalu kuat untuknya. Lalu perlahan pria tua itu berhenti sesaat, memberikan kesempatan bagi Alya untuk bernafas sejenak. Sayang hanya sebentar, karena kemudian tiba-tiba saja kepala Alya didorong maju dan dipaksa menelan seluruh batang kontolnya. Tepat ketika ujung kepala kontol Pak Bejo menyentuh tenggorokan Alya, air mani pun meledak di dalam mulutnya.
Tidak ada jalan lain kecuali menelan seluruh pejuh yang dikeluarkan oleh Pak Bejo untuk menahan diri agar tidak tercekik. Saat dilepas oleh Pak Bejo, Alya rubuh ke belakang dan menarik nafas lega. Seluruh pipi dan dagunya belepotan air mani Pak Bejo yang keluar dari bibirnya yang merah.
Sadar apa yang baru saja diminumnya, langsung saja Alya merasa mual. Istri Hendra itu segera lari ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana. Setelah muntah, Alya merasa lebih baik dan tidak lagi merasa mual. Sesaat setelah muntah, barulah Alya sadar kalau Pak Bejo sudah berdiri di sampingnya. Alya tidak melakukan perlawanan apapun saat pria yang lebih pantas menjadi ayahnya itu memeluk tubuh indahnya yang telanjang dan mengelus rambutnya yang indah untuk menenangkan si cantik itu.
“Apa Mbak Alya sudah enakan sekarang?” bisik Pak Bejo. Mau tak mau Alya mengangguk pasrah.
Pak Bejo membantu Alya bersih-bersih sebelum membawa ibu rumah tangga yang cantik itu kembali ke ruang keluarga. Pak Bejo menyuruh Alya duduk di salah satu sofa sementara dia sendiri duduk tepat di hadapan Alya.
“Santai saja. Jangan dianggap masalah berat.” Kata Pak Bejo sambil mengeluarkan sebungkus rokok dan mulai menghisapnya. “Pindah channel TVnya.”
Dengan menurut, Alya meraih remote TV dan memencet tombol. Entah acara apa yang ingin ditonton Pak Bejo, Alya tidak peduli.
###
Bagaimana nasib Dina, Alya dan Lidya selanjutnya?
Bersambung…
SERANGAN PARA PRIA TUA
Pak Hasan adalah mertua Lidya dan ayah kandung Andi. Usianya sudah 58 tahun, bertubuh gemuk, botak dan sudah menduda sejak 12 tahun terakhir. Setelah kehilangan rumahnya yang berada di desa karena tidak bisa membayar hutang yang menumpuk, Pak Hasan sedianya akan ditampung sementara oleh Andi dan menantunya Lidya yang sama-sama baru berusia 26 tahun sebelum nantinya mendapat rumah kontrakan yang baru.
Pak Hasan mengetuk pintu depan dan menantunya yang ayu segera menyambutnya. Si seksi itu hanya mengenakan daster tipis yang menerawang, khas baju ibu-ibu rumah tangga. Tapi entah kenapa, saat Lidya yang mengenakan baju itu, terlihat sangat menggairahkan. Lidya terlihat sangat cantik dan segar.
“Lho? Bapak? Aku kira bapak baru akan datang besok lusa? Ayo masuk dulu,” kata Lidya sambil memutar badan. Walau tertutup daster, tapi Pak Hasan bisa melihat jelas lekuk pantat sempurna milik Lidya yang menerawang di balik daster. Lidya, seperti juga kakak-kakaknya memiliki kecantikan natural yang sempurna. Walaupun menantu Pak Hasan itu memiliki perangai yang manis, ceria dan suka bercanda, tapi sosok ayu dan seksinyalah yang membuat setiap lelaki ingin menidurinya.
“Mas Andi belum pulang, tapi sebentar lagi pasti datang.”
“Tadi aku naik bis yang sore.” kata Pak Hasan sambil mencari sofa untuk duduk.
“Oh begitu. Istirahat dulu, Pak. Anggap saja rumah sendiri.” Jawab Lidya sambil membungkuk untuk mengambil cangkir yang ada di meja di depan Pak Hasan. Karena daster yang dipakai Lidya sangat longgar, gerakan ini membuat Pak Hasan bisa mengintip celah buah dada putih ranum yang menggiurkan di balik BH Lidya.
Melihat keseksian menantunya, kemaluan Pak Hasan langsung mengeras. Mertua Lidya itu segera menyembunyikan tonjolan di selangkangannya karena malu. Setelah menata meja, Lidya duduk di depan Pak Hasan dan menyilangkan kakinya, seakan memamerkan kakinya yang putih, mulus dan jenjang dengan bulu-bulu halus yang menggairahkan. Pak Hasan harus konsentrasi penuh untuk mendengarkan pertanyaan Lidya.
“Jadi bagaimana perjalanannya? Capek yah, Pak?”
“Lumayan melelahkan. Lima jam perjalanan.”
Mata Pak Hasan bergerak menelusuri seluruh lekuk tubuh Lidya, dari atas sampai bawah, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Hampir 5 tahun sudah Pak Hasan tidak melakukan kegiatan seksual. Setelah kematian istrinya, Pak Hasan sering memanggil pelacur saat masih tinggal di desa. Tapi kemudian berhenti karena hutang-hutangnya kian bertumpuk dan dia tidak bisa membayar seorang pelacurpun. Lidya mulai sedikit rikuh dengan tatapan mata Pak Hasan yang seakan menelanjanginya.
“Aku naik dulu ke kamar ya, Pak. Mau mandi sebentar lalu aku siapkan makan malam. Bapak pasti sudah lapar kan? Anggap aja rumah sendiri,” kata Lidya sambil menaiki tangga. Mata Pak Hasan tidak lepas dari goyangan pantat menantunya yang aduhai sampai ke atas tangga. Walaupun sudah uzur, tapi Pak Hasan tetap laki-laki normal, dia butuh melepaskan hasrat birahinya. Dia ingin masturbasi untuk melepaskan gejolak nafsunya.
Saat itu telepon berbunyi. Pak Hasan mengangkatnya.
“Halo?”
“Halo, ini Bapak ya?”, tanya suara di ujung, yang rupanya suara Andi.
“Iya, ini Bapak, Ndi,” kata Pak Hasan.
“Pak, aku minta maaf aku nggak bisa pulang hari ini, soalnya aku harus lembur di luar kota dan baru akan pulang sekitar hari Minggu sore. Mendadak banget dan tidak bisa ditunda. Tolong pamitin ke Lidya ya. Pesawatnya hampir berangkat, aku tidak bisa lama-lama. Maaf tidak bisa menemani Bapak. Aku telpon kalau sudah sampai di sana nanti.”
“Baik, Ndi. Nanti Bapak sampaikan. Iya.”
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Pak Hasan menutup telepon.
Pak Hasan berniat untuk membawa tas-tasnya yang berisi baju ke kamar atas. Perlahan dia menaiki tangga, melewati kamar utama — tempat tidur Lidya dan Andi. Terdengar deru suara air mengalir dari kamar mandi yang terletak di dalam kamar utama. Pak Hasan meletakkan tasnya di depan pintu kamar. Setelah berpikir keras, dia memutuskan untuk memasuki kamar tidur utama pasangan Andi dan Lidya.
Di atas ranjang terdapat celana jeans dan atasan kaos putih. Saat mengambil kaos itu Pak Hasan mendapati BH dan celana dalam tipis yang juga berwarna putih. Pak Hasan benar-benar tidak kuat lagi menahan birahinya. Diambilnya celana dalam Lidya, dibukanya celananya sendiri, dan mulailah ayah mertua Lidya itu coli dengan menggesekkan celdam Lidya di kontolnya yang mulai keriput.
Detak jantung Pak Hasan makin cepat karena ia tahu menantunya sedang mandi sementara dia coli menggunakan celana dalam yang akan dipakai Lidya. Gerakan Pak Hasan makin meningkat cepat karena saat coli Pak Hasan membayangkan enaknya menikmati tubuh Lidya di ranjang dan bagaimana rasanya memeluk menantunya yang cantik itu. Pak Hasan membayangkan asyiknya melihat tubuh molek Lidya terhentak-hentak didera sodokan penisnya.
Pak Hasan mengintip sedikit ke kamar mandi. Lidya rupanya lalai dan membiarkan pintu kamar mandi sedikit terbuka, memudahkan akses bagi mertuanya mengintip. Pak Hasan mendapati Lidya sedang menyabuni buah dadanya yang besar dan kenyal.
“Wow. Tubuh si Lidya benar-benar indah. Sangat seksi,” batin Pak Hasan. “Seandainya mungkin, aku ingin masuk ke dalam sana dan mengenthu menantuku yang aduhai itu.”
Pak Hasan meneruskan colinya di celdam Lidya saat menantunya itu membungkuk untuk menyabuni kakinya yang jenjang dan pahanya yang mulus. Tak lama kemudian, Lidya bersandar pada dinding sementara air shower membilas tubuhnya yang putih mulus. Tangan kiri Lidya menangkup buah dadanya yang indah. Jari jemarinya mulai mengelus dan menowel-nowel pentilnya. Pak Hasan terpana melihat menantunya itu memainkan payudaranya. Tangan kanan Lidya menuruni perutnya yang langsing dan masuk ke selangkangannya.
“Aaaaahhhhhh,” Lidya mendesah kecil.
Tangan kiri Lidya yang penuh gelembung sabun itu kini memilin dan meremas-remas pentil payudaranya hingga mengeras, lalu meremas buah dadanya bergantian. Tangan kanan Lidya masih berada di selangkangannya. Semakin mencondongkan tubuhnya ke belakang, Lidya membentangkan kakinya sedikit. Pak Hasan bisa melihat jari jemari lentik tangan menantunya keluar masuk memeknya sendiri. Pak Hasan terpesona melihat si cantik Lidya menggunakan jempolnya untuk menggosok dan menggerakkan daging menonjol yang ada di ujung atas bibir vaginanya.
“Ah! Ah! Ah! Ehm! Ehm! Ooooohhh!!!” kaki Lidya melengkung saat si jelita itu melenguh perlahan. Akhirnya tangan kirinya turun lemas ke samping badannya, sementara jari-jarinya tangan kanannya berhenti bergerak, namun tetap berada di dalam liang vaginanya.
Pak Hasan merasakan air maninya membanjir. Tangannya belepotan sperma dan ia membersihkannya menggunakan celana dalam Lidya. Terdengar suara shower dimatikan dan Lidya mulai keluar dari shower. Secepat kilat Pak Hasan meletakkan celdam Lidya seperti sediakala dan meninggalkan kamar itu. Pak Hasan menutup pintu kamar, namun masih membuka sedikit celah. Saat sudah beranjak meninggalkan tempat itu, terlihat Lidya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang terlilit di tubuhnya yang indah.
Pak Hasan sebenarnya bisa langsung orgasme hanya dengan melihat Lidya setengah telanjang dan hanya mengenakan handuk, ternyata mertua mesum itu jauh lebih beruntung daripada yang dia kira. Tak sengaja, Lidya menjatuhkan handuknya ke lantai. Tanpa sepengetahuan wanita ayu itu, sang ayah mertua yang nafsu birahinya sedang memuncak ada di luar kamar sedang mengawasi tiap gerak-geriknya yang molek. Karena memunggungi pintu, Pak Hasan bisa menyaksikan pantat putih mulus Lidya yang sempurna.
Perlahan-lahan Lidya berbalik dan Pak Hasan hampir tak kuat menahan nafsu. Baru kali inilah dia menyaksikan keindahan tubuh Lidya secara langsung tanpa sehelai benangpun. Rambut di atas kemaluan Lidya terlihat terawat karena dipotong rapi dan sangat lembut, sementara payudara Lidya yang montok sangat ranum dan besar. Si molek itu mengambil handuk lalu mengeringkan rambutnya yang dikeramas. Karena bergerak cepat, buah dada Lidya bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan erotis. Pak Hasan meletakkan satu tas kresek yang dibawanya dan mulai mengocok kontolnya lagi.
Saat Lidya usai mengeringkan rambut, istri Andi itu mengambil celana dalamnya dengan sedikit membungkuk. Tentu saja Pak Hasan makin puas karena bisa melihat lebih jelas ke arah lubang anus sang menantu. Untung saja Pak Hasan kuat menahan diri, bisa saja ia masuk ke dalam dan menyetubuhi Lidya dari belakang dengan paksa. Warna merah muda anus mungil milik menantunya itu sangat mengundang selera sang pria tua. Pak Hasan berandai-andai apakah anaknya si Andi pernah menyodomi istrinya. Lidya mulai mengenakan celana jeansnya dan kembali payudara si cantik itu bergoyang-goyang. Pemandangan erotis ini makin lama makin memuaskan Pak Hasan. Tak perlu waktu lama, sperma pria tua itu akhirnya meledak di dalam celana.
Pak Hasan mengambil semua tasnya dan berjalan kembali ke kamar untuk berganti pakaian. “Situasinya menarik sekali!”, batin laki-laki tua itu sambil membersihkan tangan dengan tissue. “Aku sendirian di rumah selama beberapa hari dengan menantuku yang cantik jelita dan sangat seksi itu! Aku harus mendapatkan tubuh Lidya! Aku harus menanamkan penisku di memeknya yang wangi secepatnya!”
Entah apa yang akan dilakukan Andi seandainya dia mengetahui rencana ayah kandung pada istri yang dicintainya.
###
Setelah hampir setengah jam menonton TV dan menghabiskan rokok, Pak Bejo kembali mengajak Alya. “Sudah waktunya. Ayo.”
“Ayo kemana?” tanya Alya.
“Sini. Berlutut di depanku.” Perintah Pak Bejo sambil membuka kakinya.
“Pak Bejo! Saya mohon, jangan suruh saya melakukan hal itu lagi! Saya tidak pernah menyukai melakukan hal itu sebelumnya!”
“Oke. Oke.” kata Pak Bejo. Pria tua itu sepertinya memahami dan melangkah ke arah Alya.
Alya bahkan tidak punya kesempatan mengelak saat kemudian Pak Bejo menampar pipinya dengan keras. Alya pun menangis tersedu-sedu. Belum pernah seumur-umur dia diperlakukan dengan kasar oleh seorang pria. Airmatanya meleleh dan isak tangisnya terdengar hingga beberapa saat.
Pak Bejo kembali duduk di hadapan Alya.
“Berapa kali aku harus ngomong sama Mbak Alya kalau Mbak Alya sudah tidak punya pilihan lain lagi? Mbak Alya harus menuruti semua perintahku. Jadi ada baiknya kalau Mbak Alya juga mulai menikmati apa yang aku perintahkan. Jadi merangkaklah kemari dan jangan pernah membantah apa yang aku perintahkan lagi!” ancam Pak Bejo.
Kali ini tidak ada ulangan perintah. Dengan penuh kepasrahan, Alya menyepong tetangganya yang mesum dan berusaha menahan diri agar kali ini dia tidak mual lagi. Pak Hasan melenguh keenakan dan sesekali tertawa terbahak-bahak menikmati enaknya disepong wanita secantik Alya. Setelah usai menyepong, Alya duduk di lantai. Ia masih berada di daerah selangkangan Pak Bejo. Wajahnya yang jelita hanya beberapa centimeter saja dari kontol besar Pak Bejo. Si cantik itu bahkan sudah terlalu takut dan malu untuk mengamati bentuk kontol kebanggaan tetangganya itu. Pak Bejo tahu dia sudah menaklukan wanita cantik bertubuh indah ini.
Alya melihat ke arah jam dinding dan langsung kaget. Opi sebentar lagi pulang! Dengan buru-buru Alya melepaskan diri dari pelukan mesra Pak Bejo dan berdiri.
“Pak Bejo, anda harus pergi sekarang. Opi sebentar lagi pulang dan…”
“Ijinkan aku menciummu sekali lagi.” Kata Pak Bejo sembari melihat ke selangkangan Alya dengan pandangan nafsu.
Alya mendekatkan tubuhnya ke Pak Bejo dan merenggangkan kakinya, memberikan akses penuh pada pria tua itu untuk bisa mencium bibir kemaluannya. Pak Bejo segera mengulum-ngulum bibir vagina Alya dengan buas. Alya merem melek dan melenguh tak henti-henti. Kenikmatan bercampur rasa bersalah menguasai istri Hendra itu.
Setelah beberapa saat menjilati, Pak Bejo bangkit.
Pak Bejo mulai berpakaian. Alya merasa aneh karena kini dirinya mulai terbiasa dan tidak merasa malu lagi telanjang bulat dihadapan pria tua ini.
“Aku akan kembali lagi. Mungkin besok, waktu yang sama. Saat membuka pintu, aku harap Mbak Alya tidak mengenakan sehelai benang pun. Besok aku akan memberikanmu kenikmatan yang terhebat dan aku akan mengambil lubang keperawananmu yang tersisa.”
Alya mengangguk karena berharap pria tua brengsek ini segera meninggalkan rumahnya. Setelah berpamitan dan meremas-remas dada Alya, Pak Bejo pun pergi. Alya menutup pintu rumah sambil menangis tersedu-sedu. Dia ambruk ke kasur dan bertanya-tanya dalam hati. Apa yang dimaksud begundal tua itu dengan ‘lubang perawan yang tersisa?’.
Tapi karena Opi hampir pulang, Alya memaksakan diri untuk bangun. Dia mandi dan menggosok seluruh tubuhnya yang kotor. Dia telah dijilati oleh lidah seorang pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya akan menggaulinya. Alya membersihkan tubuhnya dan mandi lebih lama dari biasanya.
Saat itulah dia sadar.
“Aku memang bodoh.” Renung ibu rumahtangga yang jelita itu dalam hati. Jangan-jangan yang dimaksud Pak Bejo adalah lubang anusnya? Pasti akan sangat menyakitkan. Jari jemarinya yang lembut menelusuri bagian belakang tubuhnya, mengitari pantatnya yang bulat. Dia meremas pantatnya sendiri dan menangis sejadi-jadinya.
Pasti akan sangat menyakitkan.
###
Setelah mandi dan membersihkan diri, Pak Hasan kembali turun ke ruang keluarga. Dia duduk di sofa dan menonton berita di televisi, berharap bisa sejenak melepaskan hasrat birahinya yang liar kepada menantunya sendiri. Tidak lama kemudian, Pak Hasan mendengar suara lembut dari atas tangga.
“Pak, siapa tadi yang telepon?”
“Oh, itu si Andi dari bandara,” jawab Pak Hasan. “Katanya dia harus langsung lembur dan berangkat ke luar kota malam ini juga. Baru pulang hari Minggu sore. Untuk keperluan bisnis atau yang lain, Bapak kurang paham.”
Pak Hasan mendengar gerutu kecil dari Lidya tentang kebiasaan Andi yang jarang pulang dan lain sebagainya. Tak lama kemudian Lidya turun ke ruang keluarga. Pak Hasan hanya bisa menatap takjub penampilan menantunya yang indah itu. Lidya memakai baju putih tanpa lengan yang membuat buah dadanya yang besar terlihat menonjol menantang dan celana jeans yang hampir-hampir tidak sampai ke pinggulnya. Dari belakang, Pak Hasan bisa mencuri pandang belahan pantat Lidya.
Pak Hasan mulai terangsang lagi saat membayangkan Lidya menggunakan celdam yang tadi digunakan oleh Pak Hasan untuk coli. Rambut indah panjang Lidya diikat kucir kuda dan membuat si cantik itu tampak lebih muda. Pak Hasan menahan diri dan kembali menatap layar televisi.
Lidya mulai menyiapkan makan malam sementara Pak Hasan menyusulnya ke dapur untuk melihat apakah dia bisa membantu Lidya. Sekitar dua puluh menit memasak dan bercakap-cakap, makanan pun siap. Tak disadari oleh Lidya kalau sedari tadi Pak Hasan memanjakan matanya dengan mengamati setiap lekuk tubuh Lidya dari atas sampai bawah sementara Lidya memasak. Pantatnya yang bulat dan montok itu makin terlihat sempurna karena ketatnya celana jeans yang dikenakan. Saat mengambil bumbu di atas lemari, celana dalam putih yang dipakai Lidya sedikit terangkat dan terlihat oleh Pak Hasan. Lelaki tua itu puas melihat menantunya memakai celdam yang sama yang dia gunakan untuk coli.
Pak Hasan langsung membayangkan nikmatnya menubruk tubuh Lidya, membungkukkan tubuh si cantik itu ke depan, dan melesakkan kontolnya ke dalam memek Lidya sementara tangannya meremas-remas susunya. Lamunan itu sirna begitu Lidya berbalik dan menghidangkan makan malam.
###
Tangan Dina bergetar hebat saat dia melepaskan kancing bajunya. Pandangan mata Pak Pramono tidak lepas dari payudara Dina yang masih tertutup kemeja, menunggu dengan penuh harap untuk menyaksikan susu Dina dalam kondisi tidak tertutup sehelai benang pun. Dina ingin berhenti, tapi terus membuka kancing dan melepas bajunya. Bh dan isinya yang putih mulus dan montok menjadi perhatian utama Pak Pramono. Dina meraih kancing BH di belakang dan melepaskannya. Saat BH itu menggantung di atas payudaranya, Dina mulai ragu-ragu dan berusaha menggunakannya menutup buah dadanya. Dina melepaskan celananya sambil masih memegang BH.
Pak Pramono jelas menikmati pertunjukan ala striptease ini. Sudah jelas bagi pria tua itu bagaimana malunya perasaan Dina, yang tentu malah menambah nikmat rangsangannya. Saat buah dada Dina keluar dari BH, Pak Pramono bisa melihat pentil payudara Dina sudah membesar, tentu karena udara dingin. Saat melepas celana panjang, Pak Pramono memperhatikan celana dalam yang dipakai Dina. Celana dalam putih biasa saja. Hal ini justru menambah minat Pak Pram. Lebih jelas lagi kalau Dina adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana dan mungkin orang yang pernah melihat Dina dalam kondisi setengah telanjang hanyalah Anton dan dirinya sendiri.
Dina menggigil ketakutan. Wanita cantik itu berdiri setengah telanjang di hadapan pria asing yang juga bos dari suaminya. Satu tangan mengapit BH yang sudah hampir copot agar tetap menutupi payudara dan tangan yang satu lagi menangkup selangkangannya. Dengan satu gerakan dilemparkannya BH ke samping sehingga Pak Pramono bisa menyaksikan tubuh bugil istri pegawainya.
Pak Pramono menatap si cantik Dina dan menikmati ketidaknyamanan wanita itu. Tapi dia kemudian menjadi tidak sabar. Pak Pramono membuka tasnya dan melambaikan amplop manila ke arah Dina. Istri Anton itu tahu apa yang dimaksud Pak Pramono dan mengambil nafas sekaligus keberanian ganda. Dina menarik celana dalamnya ke bawah secepat mungkin dan langsung menutup selangkangannya kembali dengan tangannya. Dina kini sudah berdiri tanpa sehelai benangpun di hadapan Pak Pramono, dan berusaha keras menutupi payudara dan vaginanya.
“Letakkan tanganmu di samping,” kata Pak Pramono dingin.
Dina tahu inilah saatnya. Saat-saat penentuan. Apakah dia akan menunjukkan tubuh telanjangnya pada laki-laki di hadapannya ini? Setelah mempertimbangkan resiko tidak melakukannya, Dina menarik nafas panjang dan menyerah. Berdiri tegap dan bergetar hebat, Dina akhirnya mempersembahkan keindahan tubuh telanjangnya yang luar biasa mempesona pada pria selain suaminya. Dina membenci pandangan asusila Pak Pramono pada dirinya, dia membenci pandangan laki-laki tua yang sedang memuaskan diri dengan menjelajahi sekujur tubuh Dina.
“Berbaliklah… perlahan,” kata Pak Pramono.
Dina menurut, dia berbalik memutar badan. Pantatnya yang mulus terangkat merangsang di hadapan Pak Pramono. Dina terus memutar sampai dia kembali berhadapan dengan Pak Pramono.
“Aku tadi bilang berbalik. Bukan memutar,” kata Pak Pramono galak.
Sekali lagi Dina memutar badan, tapi kali ini dia berhenti saat pantatnya berada di depan Pak Pramono. Ruangan itu menjadi sunyi dan bagi Dina semuanya menjadi lebih parah karena tidak bisa melihat ke arah Pak Pramono. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan laki-laki tua itu. Bagi ibu muda yang cantik dan sederhana itu, kesunyian ini seakan berlangsung amat lama.
“Renggangkan kakimu,” suruh Pak Pramono. “Bagus. Sekarang membungkuklah dan lihat kemari melalui sela-sela kakimu.”
Dina menahan nafas saat dia melihat ke arah Pak Pramono di antara sela-sela kakinya. Celana panjang sekaligus celana dalam Pak Pramono sudah copot dan penisnya yang mengeras bagaikan menantang langit. Tidak hanya keras, sepertinya kontol Pak Pramono juga lebih besar – lebih besar dan panjang – daripada milik Anton. Dina juga sadar kalau memeknya bisa dilihat jelas oleh Pak Pramono. Angin semilir membelai bibir vaginanya yang terbuka menantang. Sebelum ini belum ada satu orangpun yang pernah menyaksikan liang kemaluannya seperti ini, bahkan suaminya sendiripun belum pernah.
Saat Pak Pramono memintanya mendekat, Dina berdiri tegak dan menarik nafas lega. Tapi ketika dia berdiri di samping bos Anton itu dengan bertelanjang bulat, wajah cantik Dina langsung memerah karena malu. Dina melompat mundur ketika jari jemari Pak Pramono mengelus bagian dalam paha mulusnya.
“Kembali ke sini dan buka kakimu lebar-lebar!”
Dina berjalan gontai ke arah kursi tempat Pak Pramono duduk dan memejamkan mata saat jari jemari Pak Pramono masuk ke vaginanya. Kali ini walaupun tubuhnya menggigil, Dina tidak beranjak seinci pun.
“Memekmu kering. Aku pengen memekmu basah, masturbasi dulu!”
Dina tidak tahu seberapa jauh lagi dia bisa menahan malu. Bos suaminya tengah memasukkan sebuah jari ke dalam memeknya dan menyuruhnya bermasturbasi. Dina pertama kali bermasturbasi saat dia masih remaja. Dina tahu perbuatan ini tidak baik untuk pertumbuhan mental sehingga dia berhenti melakukannya. Tapi kini seorang pria asing memerintahkannya bermasturbasi langsung dihadapannya.
Dina mencari lubang kemaluannya dengan jari tengah dan menggosoknya dengan gerakan pelan. Wanita cantik yang dipermalukan itu kemudian merasakan desakan jari jemari Pak Pramono di dalam memeknya pada saat dia bermasturbasi. Dina tidak tahu mana yang lebih memalukan – saat mata Pak Pramono menatap jari tengahnya atau wajahnya. Kini jari jemari Pak Pramono makin bebas keluar masuk liang vagina Dina karena cairan pelumas dinding vaginanya mulai mengalir.
Pak Pramono mencabut jari jemarinya dan berkata. “Duduk di pangkuanku.”
Dina lega saat Pak Pramono menarik jemarinya sehingga Dina bisa berhenti bermasturbasi. Dina mencoba duduk di pangkuan Pak Pramono dengan sesopan mungkin, dia berusaha menutup kedua kakinya dengan rapat. Tapi Pak Pramono menggeleng dan kaki Dina segera dibuka lebar-lebar. Wanita cantik itu mencoba berdiri ketika melihat penis Pak Pramono berdiri tegak menantang.
Pak Pramono tersenyum saat melihat Dina memalingkan wajah dan berkata, “Masukkan ini ke dalam memekmu.”
“Kumohon, Pak Pramono! Aku tidak bisa melakukan ini! Aku sudah menikah! Ini- ini akan menjadi skandal! Ini zinah!”, Dina merengek.
“Masukkan ini ke dalam memekmu, atau…”
Dina tahu dia tidak punya pilihan lain. Duduk di pangkuan Pak Pramono, Dina mencoba melesakkan penis laki-laki mesum itu ke dalam memeknya tanpa menyentuh batang kemaluan bos Anton itu. Tapi usaha Dina gagal. Ibu rumahtangga yang cantik itu mendesah kecewa dan dengan tertunduk malu meraih batang zakar Pak Pramono dan menaikkannya ke atas. Dina memposisikan vaginanya di atas kontol yang sudah menghadap ke atas lalu perlahan melesakkannya sambil duduk di pangkuan Pak Pramono. Dina bisa merasakan kontol yang besar dan gemuk itu meraja di liang rahimnya. Dina dan Pak Pramono saling bertatapan saat kontol Pak Pramono melesak seluruhnya ke dalam memek Dina.
Tangan Pak Pramono meraih buah dada Dina. Dielus dan diremasnya buah dada putih mulus, molek dan montok itu. Jemarinya menjepit pentil susu Dina dan memutar-mutarnya dengan kasar. Dina merasa sangat malu saat pentil itu mulai membesar. Dina berusaha keras menahan dirinya agar tidak terangsang dengan remasan dan perlakuan Pak Pramono pada buah dadanya, tapi gagal. Payudara Dina menegang dan pentilnya membesar.
Tangan Pak Pramono melepaskan buah dada Dina, tapi kini giliran mulutnya yang nyosor ke susu putih mulus si Dina. Saat Pak Pramono mengelamuti satu pentilnya, Dina bisa merasakan jari jemari Pak Pramono menangkup bulat pantat Dina. Diangkat, lalu diturunkan, lalu diangkat lagi, berulang-ulang. Pak Pramono bergeser ke pentilnya yang lain, lalu menikmatinya untuk beberapa saat.
Setelah bosan, Pak Pramono menyandarkan kepala ke belakang dengan menggunakan lengan sebagai bantalannya. Dengan posisi relaks, Pak Pramono tersenyum sinis.
“Sekarang, genjot kontolku!”, perintah Pak Pramono.
Mulut Dina menganga tak percaya, dia telah dilecehkan, dihina dan diperdaya. Tapi wanita jelita itu melakukan apa yang diminta oleh Pak Pram. Karena membutuhkan sandaran, Dina meraih pundak Pak Pram dan perlahan mengangkat tubuhnya. Saat seluruh penis Pak Pram hampir keluar dari memeknya, Dina menghentakkan tubuh ke bawah dan kembali ke pangkuan Pak Pram. Lalu Dina naik lagi, lalu turun, lalu naik, turun, naik turun, naik turun berulang-ulang.
Dina mengentoti Pak Pramono, bosnya Anton. Dinalah yang bergerak naik turun, meskipun Pak Pram sekali-kali menggoyang pinggulnya untuk menumbuk gerakan turun tubuh Dina, tapi ibu muda itulah yang bekerja keras. Dinalah yang saat ini sedang menyetubuhi Pak Pram! Meskipun hal itu saja sudah memalukan, tapi Dina kian tak punya muka saat merasakan kehangatan yang nikmat merajai liang vaginanya. Penis Pak Pram yang jauh lebih besar dari penis suaminya menjejal liangnya yang sempit dan memenuhinya dengan nikmat. Gerakan naik turunnya menjadi lebih cepat.
Pak Pramono mulai melihat perubahan pada wajah Dina. Pada awalnya, Dina bersetubuh dengan perasaan malu dan sakit hati, tapi kemudian perasaan itu berubah menjadi birahi. Pak Pram tahu Dina mulai menikmati dientoti oleh pria tua itu. Bukan maksud hati Dina untuk bersetubuh dengan Pak Pramono, tapi tubuh Dina mengkhianatinya karena lama kelamaan ibu muda yang cantik itu mulai merasa kenikmatan yang tiada tara walaupun awalnya dia dipaksa untuk melayani bandot tua ini.
Pak Pramono mulai menelusuri tubuh istri Anton dengan satu tangan dan akhirnya mencapai ujung kelentit kemaluan Dina. Saat Pak Pramono menggosok klitoris Dina, mata istri Anton itu terbelalak dan menatap Pak Pram tak percaya. Tapi Dina tetap meneruskan gerakannya, naik turun dan membiarkan kontol Pak Pram menusuk tiap jengkal ruas liang kemaluannya. Pak Pram tidak berhenti menggosok klitoris Dina. Tak lama kemudian, Pak Pramono merasakan kuku jari Dina menancap makin dalam di pundaknya. Gerakan Dina makin lama makin cepat hingga Pak Prampun tidak sanggup lagi merangsang klitoris Dina. Dina melepaskan lenguhan keras dan tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya berhenti. Dia sudah mencapai klimaks.
Pak Pramono menunggu Dina sampai si cantik itu membuka matanya. Wajah Dina yang dilanda kepuasan memerah karena malu. Pak Pramono menganggukkan kepalanya sebagai tanda agar Dina meneruskan pekerjaannya. Maka wanita cantik itu kembali menggunakan memeknya untuk memeras penis Pak Pramono. Dina kembali menyetubuhi pria tua yang telah membuatnya orgasme. Tadi Pak Pramono memang ingin memuaskan Dina agar ibu muda yang cantik itu malu, tapi kini Pak Pramono hanya menginginkan kepuasannya saja. Pak Pramono menarik bokong Dina dan membimbing tubuhnya naik turun batang kemaluannya dengan lebih cepat. Dia mendorong tubuh Dina turun ke pangkuannya dengan kasar sementara pinggulnya bergerak sembari menggoyang si manis itu. Makin lama makin cepat. Pak Pramono makin tersengal-sengal karena keenakan.
Tak lama kemudian Pak Pramono orgasme. Dina duduk di pangkuan Pak Pramono saat pejuh pria tua itu membanjiri liang senggamanya. Dina merasa malu, dia merasa dirinya sangat rapuh karena menyerah pada Pak Pramono. Dina merasa diperkosa, tapi lebih malu lagi, karena Dina merasa dirinyapun telah mencapai titik klimaks yang belum pernah dirasakannya selama ini. Walaupun awalnya terpaksa, Dina kini juga merasa bersalah pada Anton. Dia merasa dirinya telah ternoda dan bersalah karena mencapai orgasme.
Dina duduk terdiam penuh rasa malu pada diri sendiri saat Pak Pramono mulai kembali sadar dari kenikmatan orgasmenya. Perempuan molek itu itu bisa merasakan penis Pak Pramono mulai mengecil dan keluar perlahan dari memeknya sementara dia duduk di paha sang pria tua. Dengan posisi kaki terbentang, Dina bisa merasakan pula cairan mani Pak Pramono meleleh keluar dari lubang memeknya. Dina tidak bergerak sama sekali karena takut pada pria tua yang bengis itu. Pak Pramono membuka matanya dan tersenyum puas. Dia mendorong tubuh Dina ke samping.
Mengambil nafas dalam-dalam, Pak Pramono berkata. “Aku berterimakasih atas kerja samanya. Selama kamu terus menerus memberikan kepuasan padaku, maka aku jamin Pak Anton tidak akan pernah disentuh oleh pihak yang berwajib. Heh heh heh. Besok, datanglah ke Hotel Elok di Jalan Surabaya jam dua siang dan masuk ke kamar 224. Aku akan menunggu Mbak Dina untuk kesepakatan kita selanjutnya.”
Dina hanya memandang diam ke arah Pak Pramono saat pimpinan Anton itu mengenakan baju kerjanya dan bangkit. Dina duduk di ranjang tanpa berkeinginan untuk menutupi ketelanjangannya. Untuk apa? Dia baru saja bersenggama dengan pria tua ini dan Pak Pramono sudah melepaskan pejuh di dalam rahimnya. Apa akan ada perbedaan berarti kalau sekarang Pak Pram melihatnya bugil?
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Pak Pramono meletakkan amplop dan celana dalam milik Dina ke dalam tas kerja lalu berjalan pergi meninggalkan rumah Anton dan Dina.
###
Lidya sudah hampir terlelap ketika dirasakannya angin semilir masuk melalui selimutnya yang tebal. Baru disadarinya ternyata selimut itu diangkat oleh seseorang. Lidya yang masih terpejam tersenyum gembira, ternyata Andi tidak jadi berangkat ke luar kota.
Saat membalikkan badan, barulah disadari bahwa bukan Andi melainkan Pak Hasan yang berada di samping tubuhnya! Karena sangat mengantuk, Lidya lambat bereaksi, dan dengan cekatan Pak Hasan langsung memeluk tubuh menantunya.
Gesekan tubuh telanjang mereka menyadarkan Lidya akan gawatnya situasi yang sedang dihadapi. Lidya pun segera mendorong tubuh Pak Hasan dan berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Pak Hasan hanya tersenyum sinis dan menelikung tangan Lidya hingga dia tidak bisa berkutik. Tubuh keriput Pak Hasan menindih tubuh mulus Lidya sehingga istri Andi itu terengah-engah. Semakin Lidya memberontak dan mencoba melepaskan diri sergapannya, semakin Pak Hasan terangsang.
“Bapak! Lepaskan aku! Apa yang bapak lakukan di sini?” tanya Lidya.
###
Malam itu, rasa bersalah yang amat besar membuat Alya tidak bisa tidur. Dia tidak pernah bisa memaafkan dirinya karena memiliki nafsu birahi liar yang tersembunyi di balik kesetiaannya. Dia tidak pernah memaafkan dirinya sendiri yang menjadi hamba nafsu dan terlena oleh perkosaan yang dilakukan Pak Bejo. Awalnya dia mengira itu semua terjadi karena rasa takut, tapi perasaan nikmat itu tidak bisa ia bohongi. Seluruh kejadian bersama Pak Bejo terulang bagaikan film di benak Alya.
Apakah dia seorang korban yang pasrah? Saat itu dia teringat kalimat yang pernah diucapkan oleh Bu Bejo. “Mbak Alya belum mengerti apa-apa.”. Saat ini Alya baru sadar kenapa Bu Bejo bertahan walaupun didera semua penyiksaan fisik yang dilakukan oleh Pak Bejo. Pak Bejo memberikan kenikmatan seksual yang tidak ada bandingannya. Itu sebabnya Bu Bejo pasrah oleh perlakuan kasar sang suami. “Bahkan terhadapku pun dia kasar.” Pikir Alya. Dan seperti Bu Bejo pula, Alya harus melalui siksaan fisik luar biasa sebelum akhirnya menikmati puncak nafsu liarnya yang terpendam.
Dinginnya malam tak tertahankan. Alya melangkah keluar dari kamar dan duduk termenung sendirian di ruang depan. Berusaha menenangkan pikirannya yang kalut.
Bagaimana mungkin Alya mengkhianati Hendra demi nafsu birahi sesaat? Ibu rumah tangga yang cantik itu tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Hendra. Mereka saling mencintai satu sama lain. Hendra sangat mencintai Alya. Tapi apa yang bisa diharapkan Hendra dari istrinya? Alya telah ditiduri oleh tetangga mereka yang bejat dan berhati busuk. Dia pasti akan sangat shock jika tahu apa yang telah terjadi. Alya berusaha keras agar tidak menangis. Dia tidak akan mengijinkan Pak Bejo melakukan apapun pada tubuhnya lagi. Alya adalah milik Hendra. Istri sah Hendra. Alya tidak mau dirinya berakhir sebagai istri simpanan atau bahkan budak seks laki-laki busuk seperti Pak Bejo.
“Maafkan aku, Mas Hendra. Aku berharap Mas mau memaafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengkhianati kepercayaan Mas Hendra lagi.” Gumam Alya pada dirinya sendiri. Dia berharap bisa menyelesaikan urusan dengan Pak Bejo besok. Dia akan menutup pintu rumahnya kuat-kuat supaya lelaki busuk itu tidak akan bisa masuk dan menodainya lagi. Dia ingin Pak Bejo tahu apa yang mereka lakukan kemarin tidak ada artinya bagi Alya. Istri Hendra itu merasakan beban yang ia pikul perlahan-lahan terangkat.
###
“Itu pertanyaan bodoh, menantuku sayang,” Kata Pak Hasan. “Kurasa kau tahu pasti apa yang sedang aku lakukan. Birahiku sedang tinggi dan aku bosan onani. Aku pengen memek yang enak, jadi aku masuk ke sini.”
“Gila!! Aku ini menantumu!!” protes Lidya. “Ini tidak mungkin! Bapak tidak bisa…”
“Memangnya siapa yang akan menghentikan aku?” tanya Pak Hasan. “Tidak ada orang lain di sini. Kamu boleh berteriak kalau mau tapi aku yakin tidak akan ada orang yang akan masuk dan menjebol tembok untuk menyelamatkanmu. Dan kau lihat sendiri, aku juga jauh lebih kuat daripada kamu.”
“Jika bapak memperkosaku, aku akan lapor pada polisi!” ancam Lidya.
“Bisa saja kau lakukan itu. Tapi menurutmu, bagaimana perasaan Andi?”
“Apa maksud bapak?”
“Seandainya kamu berani pergi ke polisi dan mengaku diperkosa oleh ayah mertuamu sendiri, Andi akan hancur perasaannya. Istrinya yang cantik dan mempesona diperkosa oleh ayahnya sendiri. Apalagi aku akan mengarang sebuah cerita kepadanya kalau istrinya, Lidya yang jelita merayu ayah mertuanya. Bahkan jika dia mencoba untuk tidak mempercayai ceritaku, dia tidak akan pernah percaya lagi padamu. Aku, tentu saja akan menceritakan bagaimana enaknya menyetubuhimu dan membuatmu orgasme. Semua detail akan aku ceritakan. Semua kenikmatan yang tidak pernah ia bisa berikan kepadamu. Oh ya, sayang. Jika kau cerita pada Andi atau polisi tentang perkosaan ini, kau akan menghancurkan hidupnya.”
Lidya terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya menganga lebar karena tiap perkataan Pak Hasan ada benarnya.
“Bapak tidak peduli pada Andi? Apa yang akan dirasakannya?” tanya Lidya dengan lirih. “Bapak benar-benar ingin menyakiti putra bapak sendiri?”
“Bukan aku yang akan menyakitinya. Kamu yang akan menyakiti perasaannya. Aku sih cuma pengen ngentotin kamu. Kalau kamu tidak cerita apa-apa sama dia, semua beres. Semua senang.”
“Kecuali aku.”
“Oh, kalau sampai kamu tidak puas bercinta denganku, namaku bukan Hasan.” Kata lelaki tua itu dengan bangga. Dengan berani dia mencium bibir Lidya.
Ciuman yang disosorkan oleh Pak Hasan bukanlah ciuman mesra seperti yang biasa diberikan oleh Andi pada Lidya. Ciuman Pak Hasan sangat kasar dan penuh nafsu, dengan buas Pak Hasan memaksa lidahnya masuk ke mulut Lidya, lalu mengeluarmasukkan lidahnya dengan cepat. Gerakan lidah Pak Hasan seirama dengan gerakan pinggulnya yang mendorong ke depan. Sekali lagi Lidya berusaha mendorong tubuh Pak Hasan. Kali ini usahanya hampir berhasil. Pak Hasan yang tidak siap terdorong mundur. Namun saat Lidya berusaha lari dari ranjang, Pak Hasan menarik kaki sang menantu dan merentangkannya lebar-lebar. Pria tua yang sudah kehilangan akhlak itu menarik lutut Lidya dan menjepitkan pinggangnya di antara dua paha Lidya.
Si cantik itu bisa merasakan jembut kasar Pak Hasan menyentuh bibir kemaluannya. Memek Lidya yang lama kelamaan basah bisa dirasakan oleh kulit Pak Hasan yang langsung menyentuh selangkangan Lidya. Istri Andi itu berusaha mendorong mundur mertuanya. Tak henti-hentinya Lidya memukul dan menampar Pak Hasan, tapi apa daya seorang wanita lemah? Pak Hasan tidak mempedulikan perlakuan Lidya dan meremas payudara sang menantu. Pria tua itu tidak lagi berlaku lembut pada buah dada Lidya. Dengan kasar diremas-remas dan dipelintirnya pentil susu Lidya. Lidya merasa malu saat kemudian puting susunya malah makin mengeras. Pak Hasan tidak melewatkan hal ini dan memelintir pentil Lidya dengan jari-jari tangannya. Lidya tidak berkutik, sambil merem melek dia melenguh keras. Pak Hasan mencium pentil Lidya dan menjilatinya dengan penuh nafsu.
Hangatnya mulut Pak Hasan terasa begitu nikmat sehingga Lidya lupa melawan. Dengan sadis Pak Hasan memangsa buah dada Lidya dengan lidahnya, sesuatu yang sudah dia idam-idamkan sejak lama. Pak Hasan menjilati pentil Lidya lalu menciumi buah dadanya. Kenikmatan yang dirasakan oleh Lidya begitu tinggi sehingga istri Andi itu melenguh keras dan menjambak rambut Pak Hasan. Dengan wajah senang dan puas, Pak Hasan tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
“Susumu bagus sekali, nduk,” kata Pak Hasan. “Aku selalu memperhatikan buah dadamu dan bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau dijilati. Tidak begitu besar dan tidak terlalu kecil. Cukupan. Sempurna. Pentilnya juga mempesona, lumayan besar.”
Lidya yang tersinggung oleh ejekan itu mulai melawan Pak Hasan lagi, kali ini si cantik itu bahkan berteriak-teriak meminta tolong. Sia-sia saja, tidak ada yang mendengar teriakan Lidya. Pak Hasan tertawa-tawa dan terus meremas payudara Lidya. Dijilati dan digigitinya susu putih Lidya, pria tua yang sangat nafsu itu berusaha menelan seluruh buah dada Lidya ke dalam mulutnya. Dia bahkan meremas payudara Lidya dan berusaha menelan keduanya bersama-sama. Walaupun tindakannya kasar, tapi Lidya mulai merasakan sensasi kenikmatan yang aneh dan kesulitan menolak Pak Hasan.
Pak Hasan mengagetkan Lidya saat mertuanya itu berbalik dan berlutut di atas tubuhnya. Kepala Pak Hasan menghilang di antara paha Lidya dan kontol Pak Hasan bergelantung di atas wajah cantiknya. Penis Pak Hasan sangat berbeda dengan milik Andi. Milik Pak Hasan jauh lebih pendek dan tebal, warnanya juga lebih hitam kemerahan. Lidya bergidik saat membayangkan kontol Pak Hasan memasuki tubuhnya. Rasa ngeri dan ketakutan membuat Lidya mengeluarkan cairan pelumas yang membanjir di selangkangannya. Lidya menggigit bibirnya saat tiba-tiba saja mulut Pak Hasan menjelajahi selangkangannya yang basah. Pak Hasan mulai mencium, menjilat dan menghisap memek sang menantu. Tangan Pak Hasan merenggangkan kaki jenjang Lidya supaya mendapatkan akses bebas ke vaginanya. Direntangkannya lebar-lebar sehingga Lidya tidak bisa menolak perlakuan ini.
Pak Hasan dengan mahir menggunakan lidahnya menjilati klitoris Lidya, lalu pada bibir vagina dan akhirnya lidah Pak Hasan menjelajah ke dalam liang cinta Lidya. Ia menjilat dengan gerakan memutar dan menusuk, membuat Lidya menggelinjang keenakan. Pak Hasan bahkan menggunakan giginya untuk menggigit-gigit kecil klitoris Lidya. Istri Andi itu masih terus berteriak dan melawan, bergerak mengelilingi tempat tidur dengan sekuat tenaga. Tapi Lidya sudah tidak tahu lagi, apakah teriakannya itu teriakan takut atau teriakan penuh nikmat. Tiba-tiba saja Lidya mengalami orgasme. Kenikmatan menguasai tubuh indahnya, Lidya bergetar hebat saat mencapai puncak. Sebuah kenikmatan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Tubuh Lidya tergolek lemas. Tapi bahkan saat orgasme itu sudah menghilang, Pak Hasan belum selesai menikmati tubuh molek Lidya.
Pak Hasan membalikkan badan dan sambil menarik pinggul Lidya, dilesakkannya kontolnya yang besar ke dalam nonok sang menantu. Lidya merem melek karena tidak bisa menahan kenikmatan yang diberikan oleh mertuanya. Seluruh memeknya seakan terulur sampai batas dan terisi penuh oleh kontolnya. Lidya bisa merasakan denyutan demi denyutan kontol sang mertua di dalam liang cintanya. Vaginanya terus memeras penis sang mertua yang keluar masuk dengan cepat. Tiap kali digerakkan, seakan tusukan Pak Hasan makin ke dalam, membuat Lidya mendesah-desah karena tak tahan. Desahan si cantik itu membuat Pak Hasan makin cepat memompa vagina Lidya.
Akhirnya Lidya mencapai puncaknya lagi, tubuhnya yang sempurna melejit karena mengeluarkan cairan cinta. Lidya bisa merasakan air mani Pak Hasan juga tumpah di dalam rahimnya.
Pak Hasan jatuh menimpa Lidya, tubuh mereka menggigil dan bermandikan keringat. Akhirnya dia berdiri dan keluar dengan santai dari kamar Lidya, meninggalkan istri Andi itu terlentang telanjang di kasur.
Saat Pak Hasan akhirnya tertidur, Lidya memutuskan untuk mandi keramas dan mengganti seprei yang baru saja dipakainya untuk melayani nafsu ayah mertuanya. Dia mencoba melupakan apa yang terjadi tapi getaran yang terasa di tubuhnya tak kunjung menghilang. Lidya tahu dia tidak mungkin mengatakan sejujurnya apa yang terjadi pada Andi ataupun pada pihak yang berwajib. Lidya tak punya bukti apapun dan dia takut kalau Andi bertanya padanya apakah Lidya menikmati bersetubuh dengan ayah mertuanya. Andi selalu tahu saat Lidya berbohong jadi dia pasti tahu kalau Lidya mendapatkan sensasi kenikmatan lain saat bersetubuh dengan Pak Hasan. Lidya tidak akan menceritakan apapun pada suaminya.
Saat membersihkan kamar keesokan paginya, Lidya menemukan sepucuk kertas di atas meja riasnya. Surat dari Pak Hasan.
“Aku berharap bisa tidur denganmu lagi, Lidya sayang. Kalau aku sudah tidak kecapekan tentunya. Membayangkannya saja sudah membuatku nafsu. Aku berjanji akan lebih perkasa.”
Walaupun Lidya berharap Pak Hasan hanya mengancam, tapi dia tahu mertuanya itu bersungguh-sungguh. Istri Andi itu gemetar ketakutan. Dia membayangkan ayah mertuanya akan menyetubuhinya lagi setiap ada kesempatan dan tidak ada satupun yang bisa dilakukan si cantik itu untuk menghentikannya.
###
Dina memasukkan kunci dan membuka pintu kamar hotel nomor 224. Sesuai dengan petunjuk yang ia peroleh dari Pak Pramono. Lampu kamar langsung menyala saat ia masuk. Dina lalu menaruh jaket dan tas jinjing yang ia bawa di dalam lemari pakaian. Memperhatikan ruangan kamar hotel, Dina tahu dia datang lebih awal daripada Pak Pramono. Dina melangkah ke arah jendela dan memperhatikan mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan dengan perasaan yang campur aduk.
“Kupikir kamu tidak jadi datang.”
Dina kaget dan hampir melompat saat suara berat di belakangnya terdengar. Dina tidak perlu membalikkan badan untuk tahu siapa yang datang.
“Aku tidak punya banyak pilihan kan, Pak Pramono?”
“Siapa bilang? Jalan hidup kita selalu tergantung pada pilihan.” Kata pria yang sangat percaya diri itu sambil memasukkan tas dan jaket ke dalam lemari. Dia meredupkan cahaya lampu supaya lebih temaram dan romantis.
Dina melirik ke arah jari jemarinya. Cincin emas putih yang melingkar di jari manis sebagai lambang pernikahannya dengan Anton membuatnya bergetar ketakutan. Demi cinta dan kesetiaan. Dina membalikkan badan. Tangannya memeluk pinggang seakan hendak menghangatkan badan yang kedinginan.
“Tidak ada yang memaksa Mbak Dina datang kemari. Ingat itu baik-baik.” Kata Pak Pramono sambil mendekati istri Anton. Sekitar satu meter jarak mereka, Pak Pram berhenti. Dina berusaha menantang pandangan tajam Pak Pramono, namun dia tidak sanggup. Pandangan mata Dina turun ke lantai.
“Apa yang Bapak inginkan?”
“Mbak Dina tahu apa yang aku inginkan.”
“Aku membencimu! Orang tua berhati busuk!” Desis Dina sengit.
“Bencilah aku sesukamu, sayang. Aku malah lebih suka kamu benci daripada kamu cintai.”, Dengan jarinya yang hitam Pak Pramono mengelus pipi dan rahang Dina yang halus mulus. “Sangat sempurna. Cantik sekali.”
Dina menarik wajahnya dan mundur ke belakang. Tapi Pak Pramono segera menahan Dina dengan menarik kembali bagian belakang leher Dina, mendekatkan tubuh moleknya ke depan.
“Aku sudah menginginkanmu sejak pertama kali kita bertemu, Mbak Dina. Begitu tenang, sopan, penuh percaya diri. Tapi aku bisa melihat watak aslimu.”
“Watak asli? Apa yang anda maksud?”
“Aku tahu sejak pertama kita bertemu, kamu ingin tidur denganku. Kamu ingin aku menusukkan batang penisku dalam-dalam di liang cintamu yang sempit itu. Kamu ingin menelan kontolku yang besar dan panjang lalu menelan semua pejuhku. Iya kan, sayang?”
“Dasar gila.” Kata Dina sambil mencoba menjauh.
“Gila?” Pak Pram membiarkan Dina menjauh hingga jarak mereka ada sekitar dua meter.
“Mungkin aku gila. Tapi saat ini, aku yang pegang kendali. Saat ini, tubuhmu yang indah itu adalah milikku!” Kata Pak Pramono sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Pak Pramono, saya mohon. Pertimbangkanlah perasaan Mas Anton!”
“Anton? Apa menurutmu dia memikirkanku saat dia mencuri uang perusahaan?”
Dina terdiam tak berdaya.
“Memang tidak. Jadi beritahu aku, Mbak Dina tersayang, apa menurutmu aku harus menghentikan tindakanku ini?”
“Seharusnya.”
“Bah! Tidak akan! Dia sudah mencuri dariku, jadi aku akan mengambil miliknya yang paling berharga! Istrinya yang cantik jelita!”
“Apa anda akan membuka rahasia ini pada Mas Anton?” tanya Dina.
“Tergantung. Menurutmu apa yang akan terjadi jika dia mengetahui istrinya sudah melayani bosnya bermain cinta?”
“Dia pasti minta cerai.”
“Apa Mbak Dina mencintai Pak Anton?”
“Sangat. Mohon pertimbang…”
“Aku kan sudah bilang. Mbak Dina harus menuruti semua perintahku kalau ingin semua ini berakhir dengan baik bagi semua pihak. Anton tidak akan dipecat dan tidak akan masuk penjara. Aku dapat hiburan gratis dari seorang wanita yang cantik jelita dan molek, sedangkan Mbak Dina sendiri siapa tahu akan mendapatkan seorang keturunan yang berasal dari spermaku.”
Dina menundukkan kepala. Airmatanya mengalir.
“Semudah itu. Aku menginginkan tubuh Mbak Dina. Tiap kali aku butuh, aku telpon atau sms, Mbak Dina melakukan apa yang aku minta, dan Anton tidak perlu tahu apa yang kita lakukan.”
“Aku menjadi budak seks Pak Pramono?”
“Aku ingin kau melayaniku, sayang. Aku ingin kau menerima apa saja yang ingin aku lakukan pada tubuhmu yang lezat itu selama aku belum bosan. Setelah merasa bosan, aku akan melepaskanmu dan Anton.”
“Aku tidak bisa melakukannya.”
“Tentu saja bisa.”
“Aku belum pernah mengkhianati suamiku.”
Pak Pramono tersenyum sinis dan mengingatkan Dina. “Belum pernah? Lalu apa yang kita lakukan kemarin? Wah-wah, anda benar-benar seorang istri yang sempurna. Cantik, setia dan baik hati pula.”
Air mata semakin menggenang di pipi Dina.
“Kemarilah, sayang.”
Perlahan Dina bergerak mendekati Pak Pramono. Airmata mulai deras menuruni pipi ibu muda yang cantik itu. Dengan mata berkaca-kaca Dina menatap Pak Pramono.
“Cium aku.”
Dina membungkuk dan mencium bibir Pak Pramono.
“Dingin sekali. Kamu bisa lebih baik dari itu.” Kata Pak Pram saat Dina mundur.
Sambil meletakkan tangan di pundak Pak Pram, Dina membungkuk sekali lagi dan menangkup bibir hitam Pak Pram dengan bibirnya yang merah mungil. Dina bisa merasakan bibir Pak Pramono membuka dan lidahnya menjelajah ke dalam mulut Dina. Tangan Pak Pram memeluk pinggang langsingnya dan menarik tubuh Dina agar lebih mendekat. Lidah mereka beradu dan Dina memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian ciuman itu berakhir. Dina merasa mulutnya sudah sangat kotor.
“Boleh juga.” Kata Pak Pramono sambil duduk di ranjang. “Sekarang buka bajumu. Aku ingin melihatmu bugil.”
Dina memang sudah pernah telanjang di hadapan pria ini, satu-satunya lelaki yang pernah menidurinya selain suaminya sendiri. Tidak ada jalan keluar kecuali menuruti semua permintaannya. Tangan Dina segera membuka kancing bajunya. Satu persatu pakaian Dina melorot ke lantai. Baju, rok, sepatu dan rok dalam sudah dilepas oleh Dina. Kini di hadapan Pak Pramono berdiri seorang ibu rumahtangga yang amat molek yang hanya mengenakan celana dalam dan BH.
“Tubuhmu memang benar-benar seksi.” Kata Pak Pramono, matanya nanar ingin segera melahap tubuh Dina. “Aku sudah sering meniduri banyak wanita, tapi tubuhmu adalah yang paling indah yang pernah aku entoti.”
Dina mencoba menutupi ketelanjangannya karena risih.
“Bukankah aku sudah bilang aku ingin melihatmu bugil?”
Dina mendesah pasrah dan mulai melepas BHnya. Perlahan-lahan Dina meloloskan BH melalui kedua lengannya dan melemparkannya ke dekat pakaian di lantai. Dina membungkuk dan melepas celana dalamnya.
“Lemparkan celdamnya.” Kata Pak Pramono.
Dina melempar celdamnya ke tangan Pak Pramono. Pria tua itu segera mencium dan menghirup bau memek Dina yang masih tertinggal di celana dalamnya.
“Hmmmmm… harumnya.” Kata Pak Pramono sambil memasukkan celdam Dina ke kantong celananya sendiri.
“Pak Pramono……”
Tanpa banyak bicara Pak Pram kembali menganggukkan kepala ke arah Dina. Dia masih duduk di pinggir ranjang.
“Berlutut di depanku, Mbak Dina.”
Dina berjalan perlahan ke arah Pak Pramono dan duduk berlutut di hadapannya. Dina tidak pernah menikmati oral seks. Anton sering menyuruhnya tapi Dina selalu menolak dengan berbagai alasan. Dina tidak pernah mau menelan sperma suaminya.
“Keluarkan burungku dari sarang, Mbak Dina. Aku kok ingin lihat kontolku diciumi oleh bibir semerah bibir anda.”
Dina membuka celana Pak Pram dan menarik semua ke bawah berikut celana dalamnya. Kontol Pak Pram langsung terbebas dan berdiri tegak di depan wajah Dina. Walaupun sudah pernah melihatnya, Dina selalu terkejut melihat kontol Pak Pram. Penis ini memang Pak pram begitu panjang, besar dan bertonjolan urat halus.
“Pak Pram……”
“Anda sudah pernah melakukan oral seks, kan?”
“Sudah. Hanya untuk Mas Anton. Tapi aku tidak suka melakukannya.”
“Sayang. Sesudah melakukannya denganku, Mbak Dina tidak akan ragu lagi untuk melakukan oral seks.”
Dina terus memperhatikan penis Pak Pram. Dia hanya pernah memasukkan satu penis ke dalam mulutnya dan itu adalah milik suaminya sendiri. Tapi hari ini, sambil berlutut di hadapan penis Pak Pramono, istri yang tadinya setia itu harus melayani nafsu hewani sang pria tua. Dina mengeluarkan lidah dan menjilat ujung gundul kontol Pak Pram, merasakan lendir yang keluar dari rekahan dengan lidahnya. Perlahan-lahan, ditelannya seluruh kontol Pak Pram.
“Ah, enaknya……” desis Pak Pram. Tangannya meraih rambut Dina dan menguntainya lembut. Dia mendorong penisnya lebih jauh ke dalam mulut Dina.
Dina menutup mata dan mencoba menahan diri agar tidak tersedak oleh desakan kontol Pak Pram yang terus didorong masuk ke tenggorokan. Dina berusaha keras agar bisa bernafas saat Pak Pram mulai mendorong pinggulnya. Kini kontol Pak Pram terbenam dalam di mulut Dina. Tangan Pak Pram memegang kepala Dina dan membimbingnya agar bisa mengocok penis Pak Pram dengan mulut. Tiap kali menarik kepala Dina, hidung si cantik itu terbenam sampai ke dalam keriting jembut Pak Pram.
“Terus sayang. Enak banget disepong istri orang!” kata Pak Pram sambil terus menggerakkan kepala Dina pada kontolnya.
Dina meletakkan tangannya di paha Pak Pram agar bisa meraih keseimbangan. Jari jemari Dina bisa merasakan sentuhan bulu-bulu kaki Pak Pram yang keriting.
“Pakai lidah.” Perintah Pak Pram sambil memompa lebih kencang.
Dina menggunakan lidahnya untuk memijat seluruh batang penis Pak Pram. Suara berkecap mulut Dina memenuhi ruangan yang sepi. Dina memejamkan mata, dia tidak ingin melihat dirinya sendiri menelan kontol Pak Pram.
“Ampun, Mbak Dina! Enak banget! Aku mau keluar nih!”
Dina berusaha menarik mulutnya, tapi Pak Pram menjambak rambut Dina dan memaksanya terus menelan kontolnya yang besar. Dina menggelengkan kepala dan berusaha melepaskan diri dari tangan Pak Pram. Dina tidak mau Pak Pram orgasme di dalam mulutnya. Dina bisa mendengar suara tawa pria tua itu ketika akhirnya pejuh Pak Pram meledak di dalam mulutnya. Pak Pram membanjiri tenggorokan istri Anton dengan spermanya.
“Telan.” Kata Pak Pram dengan geram, kontolnya dilesakkan sampai ke ujung.
Dina tidak bisa menahan lagi dan dengan satu tegukan, dia menelan semua muntahan sperma Pak Pramono.
“Anak baik.” Kata Pak Pramono sambil mengendurkan pegangannya dan membiarkan Dina jatuh ke lantai dengan lemas.
Dina menundukkan kepala, dia tidak bisa menghentikan air mata yang terus jatuh menuruni pipinya yang putih mulus. Bibirnya memar dan mulutnya terasa sakit usai mengoral penis Pak Pramono. Tenggorokan Dina juga terasa lecet karena dipaksa menelan kontol besar sampai ke ujung. Dina menunggu sampai Pak Pramono menyuruhnya mengenakan baju. Dia ingin segera pergi meninggalkan kamar ini. Pulang ke rumah, mandi besar lalu tidur. Dina ingin segera meninggalkan semua mimpi buruk ini.
Jari jemari Pak Pramono mengelus dagu sembari mengangkat wajah Dina.
“Mbak Dina kok menangis? Tidak menyukai oral seks?”
“Tidak.” Kata Dina pelan.
“Mbak Dina pintar sekali melakukan oral seks. Seharusnya bangga bukannya malah menangis. Belum pernah aku orgasme secepat itu.”
“Saya mohon Pak Pram, bolehkah saya pergi sekarang?”
“Pakai bajumu dulu.”
Wajah pria itu berubah menjadi sopan. Dina segera berdiri dan mengenakan pakaiannya.
“Pak Pram, celana dalam saya?” tanya Dina yang sudah bersiap mengenakan rok.
“Itu milikku sekarang. Beli yang baru.”
Dina tidak ingin berdebat dengannya. Setelah usai mengenakan pakaian, Dina langsung bergegas berdiri dan mengambil tas serta jaketnya di lemari. Dina sudah membuka pintu saat Pak Pramono memanggilnya.
“Mbak Dina.”
Dina terhenti di koridor. Dia hanya melirik sedikit ke belakang.
“Aku akan menghubungimu lagi.”
Dina tidak mengatakan apa-apa dan melangkah pergi meninggalkan Pak Pramono. Dia amat bersyukur Pak Pram tidak menidurinya hari ini.
Bersambung…
PRIA TUA BERAKSI KEMBALI
Lidya tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri yang gegabah karena selalu tidur tanpa mengenakan pakaian, kebiasaan buruknya itu membuat mertuanya yang bejat bisa memanfaatkan situasi dengan mudah. Selain selalu tidur tanpa sehelai benang pun, satu lagi kebiasaan buruk Lidya adalah dia sering meremehkan situasi. Lidya dengan santainya tidur telanjang tanpa mengunci pintu kamar, padahal dia hanya berdua saja dengan mertuanya. Sungguh sebuah kesalahan yang sangat fatal. Ingatan Lidya tak bisa lepas dari kejadian di malam terkutuk saat Pak Hasan, mertuanya sendiri dengan leluasa memperkosa Lidya.
Lidya terjaga sepanjang malam, dia tidak bisa tidur karena masih teringat apa yang telah dilakukan Pak Hasan kepadanya. Dia berusaha melupakan semua kejadian, tapi amatlah sulit melupakan perkosaan yang terjadi pada diri sendiri. Jangankan melupakan, denyutan penis mertuanya yang melesak di dalam vagina seakan tidak pernah hilang dari memek Lidya. Pak Hasan mengancam akan melakukannya lagi, dan dengan kepergian Andi selama beberapa hari ini, tentunya amat mudah bagi Pak Hasan memperoleh kesempatan untuk menidurinya lagi. Lidya berusaha mencari cara untuk melarikan diri dari terkaman nafsu sang ayah mertua. Untungnya ayah mertuanya yang bejat itu seharian pergi entah kemana.
Sudah sepanjang pekan Lidya kesulitan menghubungi Mbak Alya, sejak kunjungannya yang terakhir kali, mereka tidak pernah bertemu lagi, kalaupun berhubungan hanya melalui sms singkat menanyakan kabar. Mungkin Alya dan Hendra sedang sibuk sehingga jarang berada di rumah. Satu-satunya harapan Lidya kini ada pada Dina. Tadi pagi Lidya sudah berusaha menghubungi Mbak Dina. Tapi ada sesuatu yang aneh dari nada suaranya. Kakaknya itu biasanya senang kalau ditelpon Lidya atau Alya, tapi hari ini sangat lain, sepertinya ada beban berat yang tengah dipikul Mbak Dina.
“Mbak, aku boleh tidur di sana seminggu ini? Paling tidak sampai Mas Andi pulang.”, tanya Lidya saat menelpon Dina. “A-aku takut di rumah sendirian, Mbak.”
“Eh… ehm… gimana yah… ehm… a-aku…” Dina terbata-bata menjawab.
Lidya mengernyitkan dahi. Aneh sekali, ada apa dengan kakaknya itu? Tidak biasanya Mbak Dina terbata-bata saat menerima telepon darinya. Pasti kakaknya itu tengah menghadapi satu masalah yang sangat berat.
“Mbak Dina? Mbak kenapa?”
“Eh… ehm, aku nggak apa-apa kok. Hanya saja untuk beberapa hari ini aku tidak bisa menerima tamu, dik. Karena… ehm… karena… karena… aku dan Mas Anton sangat-sangat sibuk, iya, kami sangat sibuk. Bahkan untuk mengurus anak-anak saja tidak sempat dan… dan… lalu… ehm…”
“Oh ya sudah kalau begitu. Mbak Dina baru sibuk ya? Nggak apa-apa kok, Mbak. Aku juga nggak pengen nggangguin kalau Mbak Dina lagi sibuk.”, Lidya jadi tidak enak hati. Tapi sebagai seorang adik yang hapal dengan sikap dan sifat kakaknya, Lidya tahu ada sesuatu yang tidak beres di rumah Dina. Itu sebabnya kakaknya itu menolak kedatangannya. Belum pernah seumur hidupnya Dina menolak kehadiran Lidya, Alya ataupun keluarga yang lain. Lidya paham benar ada masalah berat yang tengah dihadapi kakaknya. Dengan berat hati karena kecewa gagal melarikan diri dari rumah, Lidya pun pamit. “Kalau begitu, nanti aku telepon lagi yah, Mbak.”
“I-iya, dik. Sori banget yah. Aku baru…”
“Iya Mbak, nggak apa-apa. Dah Mbak Dina.”
“Dah Lidya.”
Kekhawatiran mulai merasuk ke diri Lidya.
###
Alya menguap usai menonton film malam di televisi, karena sudah merasa mengantuk maka dimatikannya pesawat tv. Film yang diputar mulai jam 23.00 itu baru usai jam 01.00 dinihari. Hendra sudah terlelap setelah kelelahan seharian bekerja, Opi juga sudah nyenyak di kamar. Hanya tinggal Alya sendiri yang belum tidur. Akhir-akhir ini Alya mengalami kesulitan tidur, mungkin karena trauma akibat insiden yang dialaminya. Alya telah diperkosa oleh Pak Bejo Suharso, salah seorang tetangga di komplek.
Saat hendak melangkah dan mematikan lampu, tiba-tiba saja telepon berdering. Dengan langkah yang sedikit malas karena sudah sangat mengantuk, Alya mendekati meja telepon. Siapa yang menelpon jam segini? Alya khawatir kalau-kalau ada keluarganya yang tertimpa musibah.
“Halo?” Alya mengangkat telepon.
“Suaramu merdu sekali, manis. Ini aku, Bejo.”, terdengar suara dengung lembut khas telepon genggam di telinga Alya. Tetangganya yang mesum itu menelpon dengan HP.
Sudah beberapa hari ini baik Pak maupun Bu Bejo tidak terlihat datang ke rumah Alya dan Hendra. Sejak hari naas bagi Alya itu, hanya sekali Bu Bejo datang ke rumah. Alya merasa lega karena berharap Pak Bejo lupa akan niatnya yang jahat. Sayangnya harapan Alya tidak terwujud.
Suara Pak Bejo yang berat membuat jantung Alya langsung berdebar-debar. Seketika itu juga rasa kantuknya menghilang. Alya mengintip ke arah kamar tidur dan berharap mudah-mudahan Hendra tidak terbangun.
Pak Bejo terus menyerang. “Akhir-akhir ini aku sangat sibuk bekerja sampai-sampai tidak sempat mengunjungi Mbak Alya lagi. Jangan takut, aku akan selalu ingat saat-saat indah kita bermain cinta, sayang.”, bisik Pak Bejo.
“Pak Bejo sudah gila? Menelponku jam segini?” Alya mendesis marah. Suaranya bergetar karena ketakutan.
“Aku pengen menidurimu lagi malam ini. Bagaimana kalau Mbak Alya datang ke pos kamling yang sepi di ujung gang? Aku pengen memeluk tubuhmu yang seksi itu untuk menghangatkan diri di malam dingin ini.”
Alya mendengar suara dari arah kamar. Sepertinya Hendra, suaminya sudah terbangun.
“Sekarang?! Pak Bejo benar-benar sudah gila ya?” Bisik Alya sepelan mungkin.
“Alya? Sayang? Ada telpon ya? Dari siapa malam-malam begini?” tanya Hendra dari dalam kamar. Untunglah Hendra tidak terbangun. Dia hanya bertanya dari tempatnya berbaring.
“Bu-bukan siapa-siapa, sayang. Salah sambung. Tidur saja lagi.”
Pak Bejo terkekeh-kekeh. “Aku belum gila, manis. Cuma lagi pengen ngentotin kamu saja. Sudah dua hari ini aku tidak melihatmu, padahal aku selalu membayangkan tubuh indahmu yang telanjang dan bermandikan keringat. Aku selalu teringat suaramu merintih nikmat saat penisku menembus vaginamu yang wangi itu.”
Hendra menutup kembali tubuhnya dengan selimut. Dia sudah terlampau capek sehingga tidak bisa bangun. “Ya sudah.”, kata Hendra. “Aku tidur lagi ya.”
“Dengar, Pak Bejo.”, bisik Alya supaya Hendra tidak curiga. Dia takut suaminya itu belum benar-benar tertidur sehingga bisa mendengarkan percakapan ini. “Aku tidak mau melakukannya lagi. Tidak mungkin. Apalagi sekarang ?! Bapak tahu ini jam berapa?”
“Sayang sekali.” Pak Bejo terdiam agak lama. “Apa perlu aku yang ke rumahmu sekarang? Apa perlu kamu aku hajar sekali lagi? Atau mungkin perlu besok aku membawa Opi jalan-jalan dan meninggalkannya di tengah kota?”
Alya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Tidak ada jalan lain melepaskan diri dari ancaman maut Pak Bejo. Alya ketakutan, dia tidak mungkin menceritakan semua perkosaan yang dilakukan Pak Bejo pada Hendra karena takut pria tua yang sangat kasar itu akan menyakiti tidak saja dirinya tapi juga suami dan anaknya yang masih kecil. Alya hanya bisa pasrah. Ancaman Pak Bejo sangat nyata. Tubuhnya bersandar di dinding dengan lemas.
“Tidak.”, desah Alya pasrah. “Tidak perlu kemari. Aku yang akan segera ke sana.”
“Manis…”
“Ya?”
“Aku ingin kamu menggunakan pakaian rumah paling seksi yang pernah kamu miliki dan juga jangan memakai BH dan celana dalam. Aku akan menunggumu.”
“Aku tidak punya pakaian yang seksi.” Bisik Alya sambil mengintip ke arah kamar. Hendra benar-benar sudah terlelap sekarang.
“Jangan bohong.”
“Aku tidak punya! Mas Hendra bukan orang yang pikirannya kotor seperti Pak Bejo! Dia menikahi aku karena mencintaiku, bukan hanya menginginkan tubuhku!”
Pak Bejo terdiam lagi. Alya takut pria tua marah karena nada suara Alya meninggi. Tapi terdengar suara kekehan pelan yang menyeramkan. “Kalau begitu aku menyerahkan keputusan itu padamu, sayang. Pokoknya aku pengen kamu segera ke pos kamling pakai baju seksi, daster yang tipis juga boleh. Ha ha ha ha!”
Alya menggerutu kesal. “Aku sudah bilang aku tidak pun…”
“Aku tunggu di pos kamling.” Klek. Pak Bejo menutup telpon.
Tetesan air mata Alya mulai deras. Dengan sesunggukan istri Hendra itu berusaha bangkit, tapi tubuhnya tak mau beranjak dari dinding tempatnya bersandar. Kepalanya terasa berat dan jantungnya terus didera detakan bertubi.
Tiba-tiba telpon berbunyi kembali. Alya bergegas mengangkat telpon. Terdengar suara kekehan Pak Bejo.
“Ada apa lagi?! Apa bapak mau orang satu kampung ini bangun? Bapak pengen Mas Hendra tahu?” desis Alya marah.
“Aku cuma mau mengingatkan, kalau-kalau suamimu nanti terbangun dan kebingungan mencari-cari istrinya yang tidak ada di rumah. Hendra pasti kalut. Kamu harus mencari alasan yang tepat untuk mengelabui Hendra karena aku pengen pakai memekmu agak lama malam ini.”
“Apa yang harus aku katakan pada Mas Hendra?”
Terdengar suara dari kamar. Hendra bergerak lagi. “Alya? Sayang? Ada telpon lagi?”
Sambil berharap Hendra tidak bisa menangkap getar rasa takut dari suaranya, Alya menengok ke arah kamar. “Ti-Tidak apa-apa kok, sayang. Bener. Tidur aja lagi.”
“Bilang saja Bu Bejo lagi sakit atau apa. Pikirkan sesuatu. Kamu kan pintar.” Klek. Sekali lagi Pak Bejo menutup telepon.
Alya kembali ke kamar dengan perasaan kacau. Dia berpikir dengan keras. Apa yang harus dikatakannya pada Hendra? Dia harus punya alasan secepat mungkin. Perlahan Alya kembali ke kamar dan duduk di samping Hendra memeluk selimutnya erat.
“Siapa yang telepon?”, tanya Hendra. Matanya masih tertutup. Alya mengelus rambut suaminya dengan penuh sayang. Hendra memeluk tubuh sintal istrinya.
“Itu tadi Pak Bejo.”, Alya mencoba mencari alasan, paling tidak memang benar Pak Bejo yang menelponnya. “Dia baru bepergian jauh dan ditelpon dari rumah, katanya Bu Bejo sakit. Aku disuruh menengok dan menemani Bu Bejo malam ini. Paling tidak sampai Pak Bejo datang. Boleh?”
“Boleh saja. Bu Bejo kan sudah banyak menolong kita. Perlu aku antar?”
“Tidak usah. Mas Hendra kan capek dan besok pagi harus berangkat ke kantor. Kalau aku besok bisa berangkat agak siang.”
Alya membungkuk dan mencium bibir Hendra. Pria itu tersenyum saat merasakan sapuan bibir mungil Alya yang basah. “Aku sayang Mas Hendra.” Untung saja Hendra terlelap dan tidak membuka mata sehingga tidak bisa melihat Alya yang hampir menangis.
“Aku juga sayang kamu.” Hendra menguap. “Mudah-mudahan Bu Bejo tidak apa-apa. Kalaupun tidak bisa ditinggal, kamu tidur di sana saja malam ini. Kasihan Bu Bejo sendirian. Pak Bejo kemana sih, kok istri sakit ditinggal sendiri?”
“Se-sedang mencari obat katanya.” Alya tergagap. Dia merasa sangat bersalah pada Hendra. Suaminya itu tidak tahu, kalau lelaki tua yang disebutkan namanya itu sebentar lagi akan melesakkan penisnya dalam-dalam di vagina Alya. “Katanya tadi sih begitu.”
“Baiklah, hati-hati di jalan ya. Sori, aku mengantuk sekali.” Hendra berbalik dan perlahan tenggelam lagi dalam tidurnya.
Setelah Hendra terlelap, Alya mulai membuka lemari pakaian dan mencari-cari baju. Pak Bejo tidak menginginkan Alya mengenakan BH ataupun celana dalam, tapi Alya tidak mau ambil resiko. Diambilnya satu celana dalam G-String yang sudah tidak pernah dipakainya sejak sangat lama. Hendra membelikannya saat bulan madu. Untung saja, Alya bukanlah tipe wanita yang melar tubuhnya saat melahirkan ataupun berubah ukuran celananya dengan drastis. Walaupun agak kesempitan, tapi celana dalam itu pasti masih cukup dikenakannya.
Alya mengambil daster terusan bermotif bunga yang ada di dalam lemari. Baju itulah yang menurutnya paling seksi yang ia miliki. Daster itu tipis sekali, sehingga dengan cahaya seredup apapun, kemolekan lekuk tubuh Alya akan terlihat menerawang. Selain itu dengan daster yang sedikit longgar di bagian leher dan bahu, belahan dada Alya akan terlihat sangat menantang, belum lagi bagian bawah daster sangat pendek hingga hanya bisa pas menutup sampai satu jengkal di atas lutut Alya. Kalau dia membungkuk sedikit pasti celana dalamnya kelihatan.
Saat melangkah ke pintu depan, terdengar suara panggilan kecil dari kamar Opi.
“Mama?”
Alya berbalik dan menemui Opi yang terbangun. “Shhh. Tidur lagi yah sayang.”, bisik Alya sambil memeluk dan mencium putri tersayangnya. Opi langsung terlelap dengan cepat. Si kecil itu tidak merasakan lelehan air mata yang menetes di pipi sang ibu.
###
Lokasi pos siskamling yang dimaksud oleh Pak Bejo ada di pojok jalan. Pos itu berbentuk bangunan kecil yang hanya memiliki dua jendela, satu di sisi kanan dan satu di kiri serta satu pintu di sisi luar sementara sisi lain menempel di tembok sebuah pagar beton tinggi milik rumah warga. Tidak ada apa-apa di dalam pos itu kecuali tikar, asbak dan kartu remi. Alya sangat berharap, tidak ada orang lain yang berada di luar rumah malam itu kecuali dirinya dan Pak Bejo.
Harapan Alya terkabul karena malam itu suasana sangat sepi. Hanya suara angin menggesek daun dan beberapa ekor kucing hilir mudik sambil mengeong mencari makan yang menemani suara jangkrik dan serangga malam lain.
Alya merasa aneh berjalan sendirian malam hari seperti ini dengan pakaian yang sangat tipis dan menerawang. Dia berjalan mepet di sisi tembok agar bisa bersembunyi di balik bayangan pagar yang tinggi. Walaupun suasana sepi, tapi Alya tidak mau mengambil resiko. Untung saja jarak antara rumah dan pos kamling tidak terlalu jauh.
Walaupun hanya mengenakan daster dan tidak mengenakan make-up apa pun, wajah Alya tetap mempesona. Hanya dengan memandangi keelokan paras dan keseksian tubuhnya saja, penis tua Pak Bejo bisa menegang. Bandot tua itu geleng-geleng. Dia masih belum bisa mempercayai keberuntungannya. Pria tua buruk rupa seperti dirinya akhirnya bisa juga meniduri wanita cantik dan alim seperti Alya.
Terdengar suara ketukan pelan di pintu pos kamling. Pak Bejo segera membukanya.
Alya terlihat sangat cantik dalam balutan daster tipis menerawang. Tubuhnya yang luar biasa indah terlihat semakin seksi dan kulitnya yang putih seakan menyala di kegelapan malam. Dia terlihat bagaikan seorang bidadari yang baru saja turun dari khayangan.
Pak Bejo Suharso terkekeh-kekeh melihat penampilan mempesona wanita yang akan segera disetubuhinya. “He he he, luar biasa, Mbak Alya. Benar-benar cantik.”
Alya terdiam dan memalingkan wajahnya yang memerah karena malu. “A-aku sudah datang kemari. Aku harap Pak Bejo…”
“Sstt, jangan membangunkan tetangga yang sudah tidur. Ayo masuk ke dalam.”
Alya menurut saja dan masuk ke dalam pos kamling. Hanya berdua dengan bandot tua yang bejat itu membuat tubuh Alya menggigil ketakutan. Dia hampir tak percaya apa yang sedang dilakukannya. Alya dengan rela menyerahkan diri untuk digauli tetangganya yang buruk rupa sementara suaminya yang tampan sedang tidur di rumah. Pak Bejo menutup pintu pos kamling dan menguncinya. Tak lupa dia juga menutup gorden agar tidak ada orang yang bisa mengintip adegan yang akan segera terjadi di dalam pos kamling ini.
Alya berdiri di tengah pos kamling sambil memeluk dirinya sendiri yang kedinginan terkena udara malam. Tubuh Alya masih terus bergetar, bukan dikarenakan oleh dinginnya semilir angin tapi karena perasaannya yang campur aduk.
“Uhhhhhmmm.” Desah Alya lirih saat tubuh hangat Pak Bejo memeluknya dari belakang. Pria tambun itu tidak perlu berbasa-basi dan ingin langsung menyantap hidangan utama yang lezat yang disuguhkan oleh ibu rumah tangga yang masih muda dan sangat cantik ini. Tangan Pak Bejo bergerak menyusur seluruh tubuh Alya sementara dia menempelkan tubuhnya sendiri di belakang sang ibu muda yang molek itu.
Alya memejamkan mata, setengah tak rela tubuhnya disentuh lelaki selain suaminya, setengahnya lagi menikmati rabaan Pak Bejo di setiap jengkal tubuhnya. Alya makin merinding ketika pria tua itu mulai menciumi bagian belakang leher dan telinganya. Suara kecupan Pak Bejo menjadi satu-satunya suara yang mengisi sepinya malam itu.
Alya melenguh lagi saat Pak Bejo menempelkan penisnya yang mulai mengeras di sela-sela pantat sang ibu muda. Pria tua yang makin bernafsu itu menggerak-gerakkan kontolnya di belahan pantat Alya dengan gerakan yang lembut sementara bibirnya terus menciumi bagian belakang kepala Alya. Tangan Pak Bejo mulai bergerak bebas, meraba buah dada Alya yang ranum.
Untuk beberapa saat lamanya Alya hanya berdiri di tengah pos kamling sementara Pak Bejo terus meraba-raba seluruh tubuhnya. Baru kali ini pria tua menjijikkan itu memperlakukannya dengan lembut.
Tak perlu waktu lama bagi Pak Bejo untuk segera melucuti pakaian yang dikenakan oleh Alya. Dia segera mendorong tubuh ibu muda jelita itu ke tikar yang kotor di lantai pos kamling. Satu persatu baju Alya dilucuti. Setelah pertahanan terakhir Alya yang berupa celana dalam mungil dilucuti oleh Pak Bejo, pria tua itu segera beraksi. Pak Bejo menciumi ujung jari kaki Alya dan perlahan turun terus hingga ke daerah betis, lutut, paha dan akhirnya selangkangan Alya. Ketika sampai di daerah rambut halus bibir vagina Alya, ibu muda itu menangis sesunggukan dan meremas ujung tikar dengan perasaan campur aduk, antara menikmati dan menolak.
Saat Pak Bejo menjilati memeknya yang manis, Alya menggerakkan pinggulnya tanpa sadar dan tubuh seksi wanita cantik itu melonjak-lonjak karena rangsangan luar biasa yang diakibatkan oleh jilatan lidah Pak Bejo. Ketika masih meresapi manisnya cairan cinta yang meleleh di pinggir bibir vagina Alya, Pak Bejo merasakan jemari Alya menjambak rambutnya. Pak Bejo gembira karena Alya rupanya telah tenggelam dalam nafsu birahi.
“Jangaaan… jangaaaan… aku tidak mauuuuu!!!” Alya megap-megap sambil menggeleng kepala menolak kenikmatan badani yang tiba-tiba saja mencapai puncak dan menguasai tubuh indahnya. Wanita cantik itu telah mencapai orgasme awal karena tidak bisa menahan gejolak nafsu birahinya sendiri.
Tubuh Alya melejit dan lepas dari pelukan Pak Bejo. Pria tua itu melepaskan Alya dan membiarkannya terbaring di tikar. Mata Alya terbelalak dan tubuhnya menggigil karena ketakutan saat melihat Pak Bejo melucuti pakaiannya sendiri.
Pria tua yang bertubuh gemuk dan berkulit gelap itu berlutut dan menempelkan ujung gundul kemaluannya yang basah di bibir vagina Alya. Saat dilesakkan kontolnya ke dalam memek Alya, ternyata liang cinta ibu muda itu belum sepenuhnya terlumasi. Hanya sebagian saja dari keseluruhan batang kemaluan Pak Bejo yang bisa masuk.
“Ahhhh… jangaaaaan diteruskaaan… saya mohon Pak! Sakiiiit!! Jangaaan… pelaaan! Pelaaan sajaaa!! Jangaaaan!! Hentikaaan!! Hentikann!!” Alya menjerit lirih karena takut membangunkan penghuni komplek di sekitar pos kamling, tapi rasa sakit yang dirasakannya terlalu menyiksa sehingga air mata menetes di wajahnya.
Alya berusaha mendorong tubuh Pak Bejo menjauh darinya walaupun sia-sia. Alya hanya bisa menangis sesunggukan dan berusaha tabah saat Pak Bejo malah menyodokkan sisa kontolnya ke dalam memek Alya.
“Siap-siap digenjot ya, Bu Hendra?” ejek Pak Bejo yang sengaja memanggil Alya dengan nama suaminya. Wajah Alya memerah karena dipermalukan seperti itu.
Pak Bejo menarik kaki Alya yang jenjang dan menempelkannya di kedua sisi wajahnya. Ibu rumah tangga yang cantik itu harus merelakan tubuhnya dibolak-balik oleh Pak Bejo yang memang berniat menikmati seutuhnya keindahan tubuh Alya. Dengan kaki terangkat ke bahu Pak Bejo, Alya memejamkan mata karena tahu apa yang akan segera dilakukan pria tua itu.
Pak Bejo menarik pinggul Alya dan menjebloskan penisnya ke dalam memek Alya.
“Aaaaaaaaaduhhhh!!! Jangaaaaaaaann!! Sakiiiiiiiiiit!! Aduuuhhhhh… jangaaaan… pelaaan sajaaa! Pelaaaan!!” pinta memelas Alya belum digubris oleh Pak Bejo.
Teriakan dan desis perih Alya ibarat musik yang merdu di telinga Pak Bejo yang bejat. Mendengarkan suara wanita idamannya menjerit kesakitan dan menggeram karena merasakan desakan penisnya di dalam vagina membuat Pak Bejo sangat terangsang. Pak Bejo menarik sedikit batang kemaluannya. Hal ini membuat Alya bisa bernafas sedikit lega, sayang tak berlangsung lama. Saat Alya masih terengah-engah dan menarik nafas, tiba- tiba Pak Bejo mendorong batang penisnya masuk ke rahim Alya sampai ujung terdalam! Alya menjerit kesakitan saat kontol itu menguasai liang cintanya yang sempit.
“Hiyaaaaaaahhh!!” teriak Alya di tengah sepinya malam. Dia sudah tidak peduli lagi kalau-kalau ada orang yang melewati pos kamling itu.
Kontol Pak Bejo masuk sepenuhnya ke lubang vagina Alya. Sekali lagi wanita cantik itu merasakan pahitnya disetubuhi lelaki menjijikkan seperti Pak Bejo.
###
Duduk di depan meja rias, Dina menyisir rambutnya dengan rapi. Ibu muda yang jelita itu menatap muram refleksi dirinya di dalam cermin. Dina tidak mempercayai nasib buruk yang telah dialaminya selama beberapa hari terakhir. Dina masih tetap cantik, masih tetap seksi, masih tetap molek dan masih tetap menggairahkan mata setiap orang yang menatapnya. Akan tetapi predikat istri setia dan ibu yang baik sudah jauh meninggalkan dirinya. Dina yang sekarang bukan lagi Dina yang lugu dan suci. Sudah dua kali Dina yang sebelumnya tidak pernah disentuh pria lain itu bermain api dengan Pak Pramono, atasan suaminya sendiri. Walaupun baru sekali disetubuhi, tetap saja Dina merasa sangat kotor, apalagi saat dengan kesadaran sendiri datang ke hotel yang diinginkan Pak Pram untuk melayaninya menuntaskan hasrat beroral seks.
Pernikahannya dengan Anton seakan lenyap terbakar hawa nafsu birahi yang menyala. Dina malu mengakui nikmat yang dirasakan saat disetubuhi laki-laki selain suaminya sendiri. Walaupun awalnya terpaksa melayani Pak Pramono agar keluarganya selamat dari malapetaka, namun kenikmatan luar biasa yang dirasakan Dina saat melakukan affair dengan Pak Pram tetaplah tidak bisa disembunyikan begitu saja.
Berawal dari sebuah ancaman akan memenjarakan Anton dan menyita seluruh harta mereka, Pak Pram kini menguasai seutuhnya jalan hidup ibu rumah tangga dua anak itu. Dina takluk pada semua perintahnya termasuk menjadi budak seks pribadi Pak Pramono. Apa yang akan terjadi seandainya Anton mengetahui semua kejadian ini? Tentunya dia akan langsung menceraikan Dina begitu tahu istrinya telah ditiduri Pak Pramono. Dina bahkan sangat malu berhadapan dengan adik-adiknya seperti Alya dan Lidya. Sebisa mungkin mereka tidak terlibat dalam masalah ini.
Seandainya saja Dina mampu menolak setiap keinginan Pak Pramono, dia akan melakukannya. Tapi tiap kali pria tua berwajah garang dan berperawakan gagah itu menyentuh dirinya, Dina seperti takluk pada semua perintahnya. Dina juga sangat khawatir dengan aksi Pak Pram yang tidak menggunakan alat pengaman apapun saat menyetubuhinya. Apa yang akan terjadi nanti seandainya Pak Pram menghamilinya? Bagaimana mungkin istri yang tadinya setia dan sangat alim itu terjatuh ke dalam jurang kenistaan dan berubah menjadi pekerja seks privat untuk Pak Pramono?
Tanpa sadar, Dina menyelipkan jari jemarinya ke selangkangan saat membayangkan apa yang telah dilakukannya dengan Pak Pramono. Jari jemari lentik ibu cantik itu masuk ke dalam celana dalam dan menggosok lembut daerah bibir kemaluannya. Lama kelamaan jari itu masuk ke dalam liang cinta Dina. Wanita jelita itu tenggelam dalam masturbasi sambil membayangkan sosok pria yang lebih pantas menjadi ayahnya yaitu Pak Pramono sedang menyetubuhinya dengan penuh nafsu.
Inikah sosok istri yang tadinya setia itu?
###
Pak Bejo mulai memompa penisnya dalam-dalam di memek Alya. Kenikmatan bersetubuh dengan Pak Bejo yang pernah dirasakan oleh Alya saat diperkosa pria tua ini kembali terulang. Pandangan mata Alya mengabur karena kenikmatan luar biasa yang ia rasakan. Tubuhnya menjadi lemas dan kepalanya ia sandarkan pada tubuh Pak Bejo. Mulut Alya menganga keenakan dan rahangnya mengeras saat si cantik itu akhirnya menyerah pada kenikmatan yang diberikan Pak Bejo.
“Uh! Uh! Uh! Uh!” lenguh Alya pasrah saat pria tua itu menyetubuhinya.
Pak Bejo meremas susu Alya yang montok dan menjilatinya dengan lidah. Dia melakukannya dengan sedikit kasar karena gemas oleh keindahan payudara Alya. Ibu rumah tangga yang cantik itu menarik nafas dalam-dalam karena bibir Pak Bejo yang besar seakan memoles seluruh buah dadanya dengan air liur. Jilatan Pak Bejo mengitari pentil Alya yang mengeras dan sekali dua kali dia menggigit ujungnya dengan lembut.
“Aaaaaaaahh!!” Alya menjerit karena sensasi yang ia rasakan. Sakit yang ia rasakan berasal dari selangkangannya berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa. Memek Alya yang ditembusi penis Pak Bejo berulang-ulang akhirnya mengeluarkan cairan cinta yang langsung membanjir. Rasa malu dan puas bercampur menjadi satu sehingga wajah Alya memerah.
Pak Bejo melepas buah dada Alya dan menangkup pipi pantatnya yang bulat mulus. Alya melenguh saat Pak Bejo meremas dan memilin bokongnya yang halus dengan tangannya yang kuat. Penis Pak Bejo masih keluar masuk ke dalam memek Alya yang hangat dan becek. Pinggang Pak Bejo berulang kali bertamparan dengan paha mulus Alya. Karena dilepas oleh Pak Bejo, payudara Alya yang besar bergoyang-goyang erotis seiring gerakan maju mundur pria tua itu.
“Ah! Ah! Ah! Ah!” Alya terengah-engah tiap kali kontol Pak Bejo menerobos ke dalam liang cintanya yang hangat dan basah. Pria tua itu menyetubuhi Alya dengan kecepatan yang makin lama makin meningkat. Seiring makin cepatnya Pak Bejo mengentoti Alya, makin bertambah pula kepuasan mereka hingga hampir sampai ke puncak. Keringat mulai membasahi sekujur tubuh telanjang Alya yang putih mulus. Pak Bejo meringis menahan kekuatan dan giginya terkatup kuat-kuat.
“Huh! Hh! Huh! Hh!” Alya melenguh berulang, tubuhnya bergerak seiring desakan penis Pak Bejo dalam rahimnya.
“Ayo… Hunggh!! Kita… buatkan… Opi… adik baru…!! Huhnggh! Mbak Alya!!” kata Pak Bejo. Wajahnya yang berkeriput penuh keringat dan nampak cerah karena bisa menyetubuhi wanita idamannya.
Pak Bejo meraih ke belakang kepala Alya dan menarik rambut panjangnya. Ia mendekatkan wajah Alya ke wajahnya sendiri dan mulai menangkup bibir Alya dengan bibirnya. Bibirnya yang tebal mengelus-elus bibir Alya hingga basah kuyup oleh air ludah. Lidahnya yang panjang juga bergerak menyusur seluruh bagian dalam mulut Alya. Mata indah Alya terbelalak karena hampir tersedak.
“Hngghh!!” Alya melenguh parau. Pak Bejo melepaskan ciumannya.
“Bersiaplah menerima… uh! …spermaku…, manis!!” Pak Bejo meraung dan mengatupkan mata saat dia hampir mencapai titik puncak kepuasan. Tangannya mencengkeram bulat pantat Alya, melebarkan bibir memek istri Hendra itu agar bisa menerima penisnya yang besar.
“Engh! Engh! Engh! Huff! Ahhh!! Ahmm!!” Alya mengeluarkan lenguhan berirama tiap kali Pak Bejo melesakkan penisnya ke dalam vagina Alya. Ibu rumah tangga yang sintal itu tidak bisa mengumpulkan pikirannya dan berkonsentrasi, dia hanya mengikuti gerakan Pak Bejo. Alya telah dibuai kenikmatan sehingga tidak bisa berpikir apalagi mengucapkan kata-kata. Tubuhnya mental-mental dalam pelukan Pak Bejo. Alya melemparkan kepalanya ke belakang dan menyerah pada rasa nikmat yang ia rasakan di daerah selangkangan. Entah kenapa dia ingin sekali merasakan kehangatan sperma Pak Bejo di dalam liang cintanya. Dia ingin laki-laki tua itu segera menuntaskan permainannya.
“Hah! Hah! Hah! Hah!”, Pak Bejo melenguh penuh nikmat. Ia menarik pinggangnya ke belakang untuk menyiapkan satu tusukan akhir ke vagina Alya.
“Huuuuuuuuuuuunnngggghh!!”, raung pria tua saat akhirnya ia melesakkan penisnya dalam-dalam. “Hunngghh!! Hunghhh!! Engghhh!! Hahhhh!!”, Pak Bejo menggeram keenakan saat pinggangnya menampar paha Alya dan memuncratkan banjir air mani dalam liang kemaluan ibu muda yang seksi itu.
Alya bisa merasakan semprotan air mani yang hangat dan lengket di dalam rahimnya. Sensasi yang ia rasakan membuatnya sampai ke ujung kenikmatan. Kepalanya dilempar ke belakang, rambutnya melambai di udara dan Alyapun berteriak penuh kepuasan. “Ahhhhhhhh!!”. Seluruh sudut tubuhnya mengeras untuk sesaat dan kemudian orgasme pun meledak dalam tubuhnya. Tak pernah sebelumnya saat bermain cinta dengan Hendra Alya memperoleh kepuasan seksual seperti sekarang. Walaupun dalam hati Alya lebih baik mati daripada mengakui kenikmatan ini.
“Fuhh… fuhh… fuh…” Alya terengah-engah usai mengalami orgasme dan melayani nafsu iblis Pak Bejo. Pria tua itu segera menarik penisnya dari dalam vagina Alya.
Tubuh telanjang Alya tergolek tak berdaya dan air mani meleleh keluar dari dalam memeknya.
Pak Bejo masih belum selesai. Pria tua itu meringis bengis dan bersiap lagi.
Dia menginginkan lubang Alya yang lain.
###
Jam dinding sudah menunjukkan angka melebihi tengah malam saat Lidya mendengar pintu depan terbuka. Lidya yang kelelahan tertidur di sofa di depan pesawat televisi setelah menonton acara hiburan malam. Karena masih mengantuk, Lidya sedikit lambat bangun dari sofa dan lupa menghindari pertemuan dengan ayah mertuanya. Pria gemuk dan botak itu langsung mencari menantunya yang molek. Pak Hasan berhasil meraih lengan Lidya dan membungkukkan badan Lidya di dekat anak tangga menuju ke lantai atas sebelum si cantik itu berhasil lari ke kamar atas.
“Bapak! Apa yang bapak lakukan!? Aku tidak mau melakukannya lagi! Ini nista! Zina!” Lidya menjerit dan meronta mencoba melepaskan diri dari pelukan mertuanya.
“Percuma kamu menjerit. Di rumah ini cuma ada kamu dan aku, toh?”
Lidya mencoba meronta lebih keras lagi namun gagal, semua usahanya sia-sia. Dengan sekali sentak, Pak Hasan menarik tubuh Lidya dan melemparnya ke atas bantalan empuk bagian belakang sofa yang berada di dekat mereka. Tubuh Lidya melayang dan mendarat hanya bertumpukan perut yang sekarang berada di atas bagian sandaran empuk sofa. Wanita cantik itu tersentak dan hampir muntah.
Dengan cekatan Pak Hasan melucuti kaos santai yang dikenakan menantunya. Mertua yang sudah gelap mata itu sekaligus menarik BH yang dikenakan Lidya dan menggunakannya untuk mengikat tangannya. Kecepatannya menarik BH dan kaos cukup membuat Lidya kagum sesaat, seakan-akan pria tua itu sudah sering melakukan hal ini sebelumnya. Pak Hasan menarik rok pendek yang dikenakan Lidya ke pinggang dan dengan kasar melucuti celana dalamnya.
Lidya berusaha keras menendang ayah mertuanya, tapi karena posisinya yang kurang pas, Pak Hasan bisa menghindar. Setelah seluruh tubuh Lidya terekspos, Pak Hasan dengan leluasa bergerak bebas. Ia segera menampar pipi pantat Lidya dengan sekeras mungkin. Lidya menjerit kesakitan. Sayang, hal itu malah menambah semangat Pak Hasan yang kemudian tertawa terbahak-bahak dan mengulangi tamparannya beberapa kali lagi. Saat ia puas melakukannya, pantat Lidya memerah karena sakit dan istri Andi yang seksi itu hanya bisa sesunggukan menahan air mata. Pak Hasan menarik rambut Lidya dan membalik kepalanya sehingga mereka bisa saling berhadapan.
“Itu hukuman buat menantu nakal yang menghindari ayah mertuanya yang sudah kangen. Jangan pernah lari dariku lagi! Mengerti? Sekarang coba tebak apa yang bapak bakal lakukan sama kamu?” Pak Hasan tertawa terbahak-bahak melihat wajah Lidya yang memelas dan bersimbah air mata. “Bapak bakal entotin kamu sampai kamu tidak bisa berdiri tegak lagi!”
Setelah mengatakan itu, Pak Hasan melepaskan jambakannya pada rambut Lidya dan merenggangkan kedua kakinya melebar. Dia kini memiliki akses penuh ke memek Lidya yang sudah menantang. Pria tua menggunakan jempol tangannya untuk membuka lebar-lebar bibir vagina Lidya. Pak Hasan segera membuka celananya dan seketika penisnya yang ternyata sudah mengeras keluar dari sarang. Tanpa basa-basi lagi, Pak Hasan menekan penisnya ke dalam vagina Lidya dengan satu sentakan yang sangat menyakitkan Lidya.
Wanita cantik itu menjerit kesakitan dan berusaha keras melepaskan diri dari mertuanya, tapi usahanya gagal. Pak Hasan menarik penisnya dan kembali dia sentakkan ke dalam memek Lidya keras-keras. Lidya kembali menjerit kesakitan karena liang rahimnya belum terlumas secara menyeluruh, sehingga penetrasi yang dilakukan Pak Hasan membuatnya sangat kesakitan. Pak Hasan kembali tertawa terbahak-bahak melihat menantunya menjerit-jerit tanpa daya.
Tangan Pak Hasan mencoba meraih buah dada Lidya yang bergelantungan. Setelah mendapatkan yang dicari, tangan gemuk Pak Hasan mulai meremas-remas serta memilin payudara Lidya seiring gerakan penisnya yang keluar masuk di liang cinta sang menantu. Lidya menangis dan terus memohon pada Pak Hasan agar menghentikan perbuatannya, tapi yang dilakukan mertuanya yang gila itu malah terus menjejalkan kontolnya ke dalam vagina Lidya. Sempitnya liang cinta sang menantu membuat Pak Hasan serasa terbang ke langit nirwana.
Kemudian saat-saat yang ditakutkan Lidya akhirnya datang juga. Wanita cantik bertubuh indah mulai merasakan kenikmatan merambat naik ke seluruh penjuru badan. Mulai dari rangsangan Pak Hasan yang meremas-remas payudaranya sampai kecepatan penis sang mertua yang masih terus keluar masuk lubang vaginanya. Entah kenapa Lidya mulai menikmati perlakuan seperti ini. Rasa takut dan bersalah yang ada di benak Lidya bertarung dengan rasa nikmat yang melanda seluruh tubuhnya. Ada kenikmatan unik yang bercampur antara rasa sakit dan kenikmatan luar biasa yang diberikan oleh sang ayah mertua. Istri Andi itu makin kebingungan saat Pak Hasan akhirnya menyemprotkan maninya ke dalam liang rahim Lidya. Dia bingung karena entah harus merasa lega atau malah kecewa.
Tubuh Pak Hasan menegang dan sesaat kemudian penisnya mengecil. Dengan diiringi suara meletup yang nyaring, mertua Lidya itu menarik kontolnya dari memek sang menantu.
Lidya berbaring di atas sofa dengan perasaan campur aduk. Dia merasa lelah dan malu. Lidya merasakan sentakan kecil dalam tubuhnya, hampir saja si cantik itu mencapai puncak kenikmatan. Pak Hasan berjalan mengitari sofa menuju ke arah Lidya. Sekali lagi mertua cabul itu menjambak rambut Lidya dan menarik kepalanya. Dengan terpaksa Lidya duduk di sofa sementara Pak Hasan berdiri. Kepala Lidya tepat berada di depan selangkangan Pak Hasan.
“Bersihkan kontolku.” Perintah sang mertua.
“Apa?!”, seru Lidya heran. Dia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Walaupun sudah mulai mengecil, tapi penis Pak Hasan itu masih cukup keras dan belepotan air mani. Tangan Lidya masih terikat oleh kaos dan Bhnya sendiri sehingga dia tidak bisa banyak bergerak.
“Jilati kontolku sampai bersih, nDuk. Cuma gitu aja kok repot? Lebih baik cepat kau lakukan apa yang aku suruh sebelum sebagian pejuhku menetes di sofamu yang mahal itu dan menimbulkan noda! Kalau tidak mau, akan kuhajar kau malam ini juga!”
Karena rasa takut yang amat sangat, tidak ada jalan lain bagi Lidya kecuali menyerah. Sebagai pengantin baru, Lidya amat sering mengoral penis suaminya, tapi hal itu bukanlah hal yang menyenangkan. Dengan perasaan segan, istri yang tadinya setia itu mulai menjilat ujung kontol ayah mertuanya yang masih belepotan air mani. Lidya membersihkan kontol Pak Hasan dengan bibir dan lidahnya. Pria tua itu merem melek karena akhirnya sang menantu tunduk di hadapannya. Perasaan nikmat karena disepong menyatu dengan pikiran erotis bahwa kontolnya sedang dijilati oleh menantunya sendiri yang luar biasa cantik dan seksi.
Penis itupun perlahan kembali mengeras. Pak Hasan menarik kepala Lidya dan menggerakkannya maju mundur. Menantunya yang cantik itu hampir kehabisan nafas dan tersedak karena penis Pak Hasan terus didesak masuk makin dalam. Lidya merintih dan mencoba menarik kepalanya, tapi Pak Hasan jauh lebih kuat darinya. Entah kenapa rintihan Lidya membuat Pak Hasan berhenti mengeluarmasukkan penisnya ke dalam mulut Lidya.
“Wah wah, sepertinya aku terlalu berlebihan ya, nDuk?” tanya Pak Hasan. “Untung kamu hentikan, soalnya kita belum selesai ngentotnya, toh?”
Sebelum Lidya mampu berpikir jernih tentang apa yang dikatakan mertuanya, pria gemuk dan botak itu menarik tubuh sang menantu dan menyandarkannya ke tembok. Di samping pesawat televisi. Perasaan sesak yang diderita Lidya menyebabkan tubuhnya lunglai dan lemas sehingga tidak mampu berdiri tegak. Hal ini dimanfaatkan Pak Hasan untuk melucuti seluruh pakaian menantunya hingga telanjang bulat. Pak Hasan sendiri juga melepas seluruh pakaian yang dikenakannya dengan cepat dan mendorong tubuh Lidya mepet kembali ke tembok.
Tiba-tiba Pak Hasan menampar Lidya. Lagi dan lagi. Dengan kasar Pak Hasan menampar Lidya berulang-ulang kali. Lidya menjerit-jerit kesakitan dan mohon ampun. Airmatanya mengalir deras. Akhirnya Pak Hasan menghentikan siksaannya.
“Jadi begini situasinya, nDuk.” Bisik Pak Hasan galak. Wajahnya sangat dekat dengan Lidya sehingga wanita jelita itu bisa merasakan hembusan nafas penuh nafsu Pak Hasan di pipinya. “Aku masih terangsang dan pengen menyetubuhimu lagi malam ini. Hanya saja karena aku baru saja orgasme, tentunya kali ini akan membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke klimaks kedua. Aku ingin mencapai orgasme keduaku malam ini, bahkan kalau untuk mencapai kesana aku harus menyetubuhimu sampai pagi. Aku harap kamu mau bekerja sama, karena kalau sampai aku tidak mencapai apa yang aku inginkan, aku akan menghajarmu sampai mati!”
Lidya panik. Si cantik itu tidak tahu mertuanya itu serius atau tidak, tapi yang jelas tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri kecuali menurut pada permintaan Pak Hasan.
“Jangan, Pak. Aku mohon…” bisik Lidya lemah, “aku mohon jangan sakiti aku lagi.”
“Mengemis tidak akan mengubah pendirianku. Bahkan rengekanmu malah membuat kontolku jadi lemas lagi, nDuk. Tentunya kamu tidak ingin itu terjadi setelah bekerja keras mengeraskannya dengan mulutmu. Ayo. Entoti aku.”
Dengan terpaksa Lidya menurut saat Pak Hasan mengangkat tubuh telanjang sang menantu dan menyandarkannya ke tembok. Pak Hasan melesakkan penisnya masuk ke dalam vagina Lidya dengan lebih lembut kali ini. Wanita cantik itu mengangkat kakinya dan mengaitkannya di pinggang Pak Hasan sementara tangannya menggantung di leher ayah mertuanya, tangan Pak Hasan sendiri menahan beban tubuh Lidya dengan mengangkat pantatnya. Rasanya luar biasa nikmat bagi keduanya berada dalam posisi seperti ini.
Memek Lidya masih licin oleh air mani yang tadi disemprotkan Pak Hasan ke dalam liang rahimnya sehingga dia bisa melesakkan penisnya dengan mudah. Kali ini jejalan kontol sang mertua di dalam liang cinta sempitnya membuat Lidya merasa nyaman dan bergairah, seluruh tubuhnya bergetar merasakan liang rahimnya yang sempit kini meremas-remas penis besar Pak Hasan yang meraja di memeknya.
Dengan punggung Lidya bersandar pada tembok, kedua manusia berlainan jenis itu mulai bergerak bersamaan. Lidya mulai merasa nikmat karena Pak Hasan kali ini memperlakukannya lebih lembut. Rasa sakit yang diderita kedua pipinya karena tamparan Pak Hasan menghilang berganti rasa nikmat yang meraja di selangkangannya. Lidya berusaha keras menyembunyikan perasaan nikmatnya agar tidak terlihat terlalu jelas di depan sang mertua yang cabul. Klitoris Lidya menempel di tubuh Pak Hasan dan setiap gerakan naik turun membuatnya tergesek seirama, tambahan bulu-bulu halus yang menyentuh ujung klitoris Lidya membuatnya melejit ke nirwana. Lidya memejamkan mata dan berusaha keras tidak mendesah keenakan.
“Mana susumu, nDuk?” perintah Pak Hasan lagi tiba-tiba.
Dengan wajah memerah karena terhina, Lidya menyorongkan buah dadanya dengan satu tangan ke arah mulut Pak Hasan. Pria tua itu meringis penuh kemenangan dan menikmati wajah malu sang menantu. Dengan penuh nafsu, Pak Hasan segera menyerang pentil payudara Lidya. Dia tidak lembut lagi kali ini, tapi sangat lihai memainkannya. Dia menarik dan menghisap pentil itu dengan mulutnya, lalu menjilati pinggiran puting payudara Lidya, setelah itu dia mengelamuti pentil itu dan menggigitinya dengan penuh nafsu.
Rangsangan yang dirasakan Lidya terlalu hebat sehingga menggiring wanita jelita itu ke puncak kenikmatan. Tanpa sadar dia menggerakkan pinggangnya lebih cepat dan kuku-kuku jarinya menancap di punggung Pak Hasan sampai akhirnya Lidya orgasme. Lidya bisa merasakan memeknya meremas batang kemaluan Pak Hasan dengan sebuah remasan hebat dan dia mulai merintih serta menjerit lirih penuh nikmat. Akhirnya setelah selesai mengejang dan memeknya banjir cairan cinta, Lidya membuka matanya. Pak Hasan meringis penuh kemenangan. Kontolnya tetap keras dan dia masih terus menumbuk vagina Lidya.
Tak lama setelah Lidya mencapai klimaks, Pak Hasan dengan sengaja menarik penisnya keluar. Pria tua itu lalu duduk di anak tangga. Dia memberi isyarat supaya Lidya menghampiri dan duduk mengangkanginya. Dengan patuh, menantu yang baru saja digauli sampai orgasme oleh mertuanya itu duduk di pangkuan Pak Hasan.
Lidya menurunkan badannya perlahan dan membiarkan kontol Pak Hasan yang masih keras menusuk vaginanya dari bawah. Seluruh tubuhnya melejit begitu penis itu menguasai bagian dalam lubang rahimnya. Rangsangan yang memberikan nafsu hewani dan kenikmatan pada Lidya kembali terpusat pada selangkangannya. Kali ini Pak Hasan tidak perlu meminta karena Lidya tahu apa yang diinginkan mertuanya. Si cantik yang seksi itu pun bergerak naik turun dan mulai menyetubuhi mertuanya.
Buah dada Lidya yang memantul-mantul terlihat sangat erotis di hadapan Pak Hasan. Pria tua itu segera memainkan kedua payudara Lidya dan menghisap pentilnya dalam-dalam. Lidya melenguh manja dan merintih keenakan. Dia tidak peduli lagi, seluruh pikirannya, seluruh kesetiaan dan perasaan bersalahnya seakan menghilang ditelan gelombang nafsu birahi yang diberikan ayah mertuanya. Semakin kasar perlakuan Pak Hasan, semakin memuncak nafsu Lidya. Setelah beberapa lama tubuh Lidya meremas-remas kontol Pak Hasan, akhirnya pria tua itu sampai juga pada ujung klimaksnya. Pak Hasan meremas pinggul Lidya dan menyemprotkan air mani ke dalam lubang rahimnya.
Untuk beberapa saat lamanya Lidya dan Pak Hasan terbaring berpelukan telanjang di anak tangga. Tubuh mereka basah bermandikan keringat dan nafas mereka mendengus karena kecapekan. Perlahan kesadaran akan kejadian yang telah berlaku menyentakkan Lidya. Dia kembali sadar akan nistanya perbuatan ini. Bagaimana mungkin dia malah melayani nafsu binatang sang ayah mertua? Kemana istri Andi yang telah bersumpah setia itu?
Lidya menangis sejadi-jadinya. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena terlena oleh nafsu birahi. Lidya meronta dari pelukan Pak Hasan, mengumpulkan pakaiannya yang tercecer dan lari ke kamar, langsung menuju kamar mandi.
Saat Pak Hasan masuk ke kamar dan menyusul Lidya, istri Andi yang cantik itu tengah menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun. Wajahnya penuh dengan kemarahan dan perasaan geram.
“Enak juga punya menantu seksi kayak kamu. Tiap kali butuh ngentot tinggal ambil. Beberapa hari lagi Andi pulang. Kalau tidak mau semua terbongkar, sebaiknya mulai sekarang kamu turuti kemauanku! Besok pagi kalau aku masuk ke sini, aku tidak ingin melihatmu mengenakan sehelai pakaianpun, mengerti? Aku ingin melihat tubuh indahmu telanjang dan jangan lupa untuk merentangkan kakimu lebar-lebar!”
Pak Hasan melangkah keluar kamar meninggalkan Lidya yang terhina, putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan diri dari situasi ini.
Air mata menetes deras di pelupuk mata Lidya. Kisahnya masih jauh dari usai.
###
Pak Bejo mengelus seluruh tubuh Alya tanpa ada perlawanan berarti. Seluruh perasaan dan keinginan Alya untuk melawan hilang ditelan oleh kenikmatan orgasme yang baru saja dirasakannya. Pak Bejo mengecup pantat Alya yang bulat, mulus dan kencang. Beberapa kecupan meninggalkan bekas cupang memerah di pantat Alya. Pak Bejo merenggangkan kedua sisi pantat itu dan mulai menjilat lubang kecil yang berada di tengah, tepat di atas bibir vagina Alya yang masih meneteskan air mani. Lubang anus Alya dibuka sedikit melebar.
Tanpa aba-aba, Pak Bejo mencelupkan jari ke dalam vagina Alya, menciduk cairan cinta yang leleh di dalam lubang kemaluan wanita jelita itu dan mengoleskannya di seluruh anus Alya yang menantang. Pak Bejo melumasi dubur Alya dengan cairan cintanya sendiri, dia berniat menusukkan jari jemarinya ke dalam lubang kecil yang sangat sempit itu.
“Renggangkan kakimu!” bentak Pak Bejo. Alya hanya bisa menurutinya dengan isak tangis yang tertahan, ibu muda yang cantik itu pasrah dan merenggangkan kakinya melebar. Jari jemari Pak Bejo terus melumasi dubur Alya dan masuk ke dalam tanpa mengindahkan rasa sakit yang menyiksa Alya. Wanita cantik itu mengernyit kesakitan. Siksaan Pak Bejo sangat tak tertahankan olehnya. Alya melompat ke depan dan berusaha menggeliat melepaskan diri dari tusukan jari jemari Pak Bejo di anusnya. Tapi Pak Bejo ikut bergerak maju dan menindih tubuh Alya.
Pak Bejo terus memasukkan jari demi jari ke dalam dubur Alya sementara ibu muda itu meronta-ronta kesakitan. Rongga di dalam anus Alya perlahan melebar karena jari yang masuk ke dalam makin lama makin banyak. Alya menjerit-jerit tapi Pak Bejo tetap melaksanakan niatnya. Setelah dirasa cukup melumasi, Pak Bejo menarik jarinya keluar.
“Membungkuk! Ayo cepetan! Lelet amat sih?” maki Pak Bejo. “Naikkan pantatmu tinggi-tinggi! Aku ingin memerawani lubang anusmu!”
Walaupun hatinya menolak, tapi Alya sangat ketakutan. Apa yang harus dilakukannya? Apakah dia harus menyerahkan lubang anusnya pada pria tua yang sangat bejat ini? Tidak ada jalan lain. Alya menurut dan membungkuk. Dia mengangkat pantatnya yang bulat dan mulus tepat di hadapan Pak Bejo. Alya bisa merasakan penis Pak Bejo dieluskan di tengah-tengah pantatnya. Wanita cantik itu melelehkan air mata saat ujung kontol Pak Bejo ditempelkan di bibir anusnya. Pak Bejo memejamkan mata dan menikmati saat-saat terindah hidupnya ini. Sudah saatnya. Dia memeluk tubuh Alya.
“Masukkan ke dalam!” desis Pak Bejo. Dengan tangan bergetar Alya meraih kontol besar pria tua bejat yang sedang memeluknya.
Alya memejamkan mata dan menahan nafas saat Pak Bejo meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya ke belakang. Alya menggunakan perasaannya dan membimbing kontol besar Pak Bejo di bibir duburnya yang sempit dan kecil. Alya bisa merasakan penis yang besar dan tegang seperti sebatang kayu itu melesak ke dalam, ujung gundulnya mendesak masuk ke liang terlarang Alya dan memerawani anusnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Alya mengijinkan seorang lelaki melesakkan penis ke dalam lubang duburnya.
Saat rasa sakit mulai menguasai Alya, wanita cantik itu sadar kontol Pak Bejo tidak akan muat masuk ke dalam anusnya. Tidak akan cukup! Pak Bejo menggeram dan menusuk lubang anus Alya dengan tenaga ekstra.
Alya menjerit. Seandainya ada warga sekitar yang masih terbangun saat itu pasti mereka mendengar jerit kengerian Alya. Ibu muda yang cantik itu menggeliat dengan panik dan berusaha menarik diri dari desakan penis Pak Bejo. Tapi pria tua yang sudah bernafsu itu tidak membiarkannya pergi dan memegang tubuh Alya erat-erat. Alya tidak bisa melepaskan diri dari pelukan Pak Bejo.
“Ampuuuun!! Sakiiiit!! Sakit sekaliiiii!! Terlalu besaaar!! Jangaaan!! Hentikaaan!! Bisa robeeek!!” teriak Alya yang tersiksa. Dia sudah tidak peduli lagi seandainya ada orang yang bisa mendengarkan teriakannya. Ia tak tahan lagi pada rasa sakit yang dideritanya. “Hentikaaaan!! Ampuuuuuuuun!!”
Tapi Pak Bejo tidak mengindahkan teriakan Alya. Dia terus saja mendorong penisnya maju tanpa belas kasihan sambil menarik pinggul indah ibu muda yang molek itu. Pak Bejo melesakkan kemaluannya makin dalam ke dalam lubang mungil yang berada di tengah pantat Alya. Anus Alya belum pernah dilesaki penis sepanjang hidupnya, inilah pertama kali dia merelakan lubang pengeluarannya dijadikan alat pemuas nafsu.
“Dorong ke belakang! Dorong ke belakang!!” suara Pak Bejo terdengar parau. “Goyang bokongmu! Dorong ke belakang! Pasti bisa masuk!”
Alya sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Dia hanya bisa merasakan rasa sakit yang tak tertahankan yang menembus sampai ke tulang sumsum. Rasa nyeri yang ia rasakan membenamkan seluruh kesadaran Alya hingga dia tidak ingat apa-apa lagi. Seakan-akan ada sebatang kayu besar yang ditusukkan ke dalam anusnya.
“Ayo! Dorong ke belakang! Terus! Dorong bokongmu ke belakang!” bentak Pak Bejo dengan penuh emosi, keringat sebesar jagung memenuhi alisnya yang tebal.
Alya mendorong, menggeliatkan badan dan mundur ke belakang. Dengan hati-hati dia mencoba membuka lubang anusnya agar penis Pak Bejo bisa masuk dan memerawani lubang pembuangannya. Alya menjerit-jerit kesakitan tapi Pak Bejo menutup mulutnya dengan tangan, sehingga ibu muda yang cantik itu hanya bisa memendam rasa sakit yang dirasakannya. Alya menggelengkan kepala kesana-kemari dengan panik saat perlahan-lahan batang kemaluan Pak Bejo masuk ke dalam lubang yang sempit itu. Alya terus saja memberontak, tapi eratnya kuncian Pak Bejo membuat istri Hendra itu tidak bisa berbuat banyak. Alya bisa merasakan lubang anusnya yang sempit sobek ketika penis Pak Bejo masuk.
“Hyarrrrgghhh!!” lenguh Alya kesakitan saat pinggul Pak Bejo menghantam pantatnya yang bulat. Bukan hantaman itu yang menyakitkan, melainkan desakan kontol pria tua bejat yang kini tengah menyumpal lubang anusnya. Alya bisa mendengar suara lengkingan Pak Bejo yang sangat bernafsu mengeluarmasukkan penis ke dalam duburnya.
Akhirnya, detik demi detik berlalu dan rasa sakit yang tadinya merajai anus Alya perlahan menghilang. Kini, anus Alya malah terangsang oleh penis Pak Bejo yang masih memenuhi liang pembuangannya. Alya mengatupkan gigi dengan erat sementara kepalanya terombang ambing dari kanan ke kiri. Rambutnya yang sebahu acak-acakan dan menutupi hampir seluruh wajahnya. Alya melenguh keras saat Pak Bejo terus melesakkan penisnya ke dalam anus Alya berulang-ulang, lagi dan lagi dan lagi dan lagi… Alya telah berhasil disodomi Pak Bejo.
Perlahan-lahan kesadaran mulai menyeruak di benak sang ibu muda yang cantik itu. Dia mulai sadar apa yang telah dilakukan Pak Bejo pada dirinya. Alya telah direndahkan derajatnya hingga titik yang paling nista. Wanita yang tadinya alim dan setia itu kini telah terjerembab ke jurang yang paling dasar. Tidak seharusnya wanita semulia Alya mendapatkan perlakuan yang busuk dan cabul seperti yang telah dilakukan Pak Bejo. Pria bejat itu telah memanfaatkan ketidakberdayaan wanita seperti Alya dan rasa malu yang amat sangat membuat istri Hendra itu hanya bisa menangis tersedu-sedu. Rasa bersalah, jijik dan malu silih berganti menaungi kesadaran Alya, namun rasa nikmat yang dirasakan di lubang duburnya membuat ibu muda itu mulai menyukai perlakuan Pak Bejo ini.
Tanpa kekuatan untuk menguasai diri sendiri dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, membuat Alya pasrah dan menyerah pada gairah seksual yang semakin menguasai tubuh dan perasaannya. Alya mulai bergerak menumbuk ke belakang dan menerima kontol Pak Bejo di dalam anusnya. Gerakan mereka berdua mulai seirama, sodokan demi sodokan yang dilancarkan Pak Bejo dibalas oleh gerakan mundur Alya yang menghentak. Penis Pa k Bejo makin lama makin melesak ke dalam. Permainan cinta mereka telah melewati ambang batas yang baru.
Keringat yang menetes deras membuat dahi Pak Bejo basah kuyup, namun pria tua itu memaksakan diri mencapai kenikmatan yang didapatkan terutama karena sempitnya lubang dubur Alya yang terus menerus digenjotnya. Pak Bejo kagum dengan bibir anus Alya yang mungil dan ketat yang meremas-remas penisnya yang keluar masuk dengan cepat. Senyumnya makin melebar saat merasakan kantong kemaluannya menumbuk bibir vagina Alya tiap kali dia menyodokkan kontolnya ke dalam anus wanita jelita itu. Pak Bejo menatap bangga penisnya yang keriput dan gemuk saat batang kemaluannya itu masuk ke dalam celah di antara pantat putih mulus Alya dan lenyap masuk ke dalam lubang anusnya.
Sempitnya lubang anus Alya memang tidak bisa mengalahkan nikmatnya menyetubuhi memek ibu muda yang cantik itu, tapi tiap kali melesakkan kontolnya, seakan Pak Bejo memasukkan penis ke dalam mesin penggiling daging. Perlahan-lahan pria tua itu bisa merasakan makin meningkatnya simpanan sperma yang menggunung dan siap meluncur kapan saja. Alya melenguh, menggila, meronta dan kebingungan. Wajahnya yang cantik memerah dan bola matanya bergerak naik turun seperti sedang kesurupan sementara keringat deras membanjir di seluruh tubuhnya. Alya sedang mengalami pengalaman luar biasa.
Alya mengembik seperti seekor kambing muda di bawah pelukan Pak Bejo. Teriakannya tercekat dan seluruh tubuhnya dipasrahkan kepada lelaki tua yang lebih pantas menjadi ayahnya itu. Alya hanya bisa mengembik dan melenguh penuh nafsu. “Eungh, Pak Bejo! Pak Bejoooo!! Eunghhh!! Ahh! Ahh! Ahh! Ahh!”
Seluruh desahan yang keluar dari bibir merah Alya membuat Pak Bejo Suharso makin bersemangat. Tiap sodokan membawa Pak Bejo selangkah menuju kepuasan seksual yang prima. Pak Bejo menarik penisnya sampai ke ujung dan menikmati pemandangan di bawah pantat Alya. Anus Alya yang elastis dan sempit itu mengerut di ujung gundul kepala penisnya, Pak Bejo sengaja membiarkan ujung gundul itu tertinggal di dalam liang. Dengan satu sodokan yang mantap, Pak Bejo melesakkan lagi seluruh batang pelirnya. Alya mendesah manja karena kenikmatan yang dirasakannya. Pak Bejo menumbuk lagi lubang anusnya dan menarik tubuh indah ibu muda yang cantik itu ke belakang. Berulang-ulang Pak Bejo menyodomi Alya. Sempitnya anus mungil Alya membuat Pak Bejo seakan sedang memerawani memek seorang gadis berusia belasan tahun. Nikmatnya luar biasa.
Pak Bejo membelalakkan mata. Spermanya sudah mulai terkumpul di ujung gundul kepala penisnya dan setiap saat bisa meledak. Tubuh pak tua yang mesum itu tersentak-sentak merasakan kenikmatan luar biasa yang disediakan oleh lubang di pantat Alya. Pria tua itu mendorong penisnya ke dalam sekali lagi, dia juga menarik pantat Alya agar penisnya bisa masuk lebih dalam lagi. Rapatnya anus Alya membuat Pak Bejo merem melek keenakan. Tinggal sekali sentakan lagi, Pak Bejo akan mencapai orgasme.
“Argh! Aku mau keluar! Dorong ke belakang! Dorong pantatmu ke belakang! Lagi! Lagi! Lagi! Argh!!” Pak Bejo berteriak-teriak dan memejamkan mata penuh kenikmatan.
Alya yang berada dalam pelukan Pak Bejo untuk pertama kali sepanjang hidup akhirnya merasakan semprotan cairan sperma yang berwarna putih dan lengket memenuhi lubang anusnya. Semprotan mani Pak Bejo menyiram bagian dalam saluran pembuangan Alya bagaikan banjir besar yang mengantarkan kedua orang yang sedang bercinta itu ke titik klimaks persetubuhan mereka. Klimaks kedua Alya ini membuatnya menjerit lega, ia melepaskan gairahnya ke awang-awang. Alya bisa merasakan air mani Pak Bejo yang membanjiri lubang anusnya menetes ke bawah ke bibir memeknya.
Pak Bejo menggeram dan jatuh sambil memeluk tubuh telanjang Alya, mengunci tubuh indah itu di atas tikar dengan berat badannya sendiri. Pak Bejo melenguh puas. “Hebat! Itu tadi luar biasa! Memekmu memang masih sempit dan enak sekali dientoti, tapi lubang anusmu yang masih perawan itu luar biasa nikmatnya! Lezat! Ha ha ha! Aku puas sekali menjadi orang yang pertama kali memerawani bokong wanita secantik Mbak Alya! Ha ha ha!”
Di bawah tubuh Pak Bejo, sosok indah Alya bergetar karena perasaannya sangat kacau. Nikmat sekaligus menyakitkan. Ibu muda itu bingung dengan perasaannya sendiri. Ya Tuhan, apa yang telah dilakukannya dengan pria hidung belang ini? Dia telah menyerahkan lubang anus yang bahkan belum pernah disentuh oleh suaminya sendiri pada Pak Bejo. Kini tidak ada lagi lubang yang tersisa dari tubuhnya yang belum pernah dilesaki kontol pria tua itu. Isak tangisnya tertahan karena takut pada Pak Bejo.
Perasaan malu dan kotor menyergap Alya. Wajahnya memerah karena dia tidak bisa melawan nafsu bejat tetangganya yang menjijikkan ini. Tubuh Alya bergerak mencoba melepaskan diri, tapi pelukan Pak Bejo terlalu erat.
“Ijinkan aku istirahat, Pak Bejo… aku harus bekerja besok pagi…”
Pak Bejo bersungut-sungut. Tapi pria tua itu melepaskan pelukannya dari tubuh indah Alya. Penisnya mulai mengecil dan ditariknya keluar dari anus Alya. Terdengar bunyi letupan kecil saat kontol Pak Bejo ditarik keluar dari dalam dubur Alya yang menyempit.
Tubuh telanjang kedua sosok manusia berbeda jenis dan bertautan usia hampir 30 tahun itu berpelukan di tengah dinginnya udara malam. Keduanya lemas setelah bersetubuh di pagi ini. Pak Bejo merasa di puncak kebahagiaan karena ia mendapatkan kesempatan meniduri istri Hendra yang muda dan segar ini. Sedangkan bagi Alya, sekali lagi dia merasa malu dan bersalah baik kepada dirinya sendiri maupun pada keluarganya. Inilah dia, seorang istri yang tadinya setia dan alim dalam pelukan seorang laki-laki tua yang hanya menginginkan tubuhnya.
“Sana pulang.” bisik Pak Bejo sambil mengelamuti daun telinga Alya. “Aku puas sekali malam ini. Sayang sekali besok pagi kamu harus masuk ke kantor.”
“Iya, aku harus bekerja besok pagi.”, Alya mendongak dan menatap mata Pak Bejo dalam-dalam. Inilah saatnya menyampaikan isi hatinya. “Pak Bejo, ini tidak bisa diteruskan. Aku istri sah Hendra. Apa yang kita lakukan adalah perbuatan yang salah dan sangat terkutuk. Ijinkan aku pulang dan melupakan semua ini pernah terjadi. Biarlah yang sudah berlalu kita lupakan. Aku tidak akan melaporkan kepada siapapun tentang perkosaan yang dilakukan Pak Bejo kepadaku, tapi kumohon dengan sangat, Pak. Inilah terakhir kali Pak Bejo menyentuhku.”
“Enak saja! Kapan saja aku pengen, kamu akan aku entoti! Awas, kalau sampai kamu lapor pada orang lain! Kuhajar kamu! Kubunuh anakmu! Tidak usah banyak tingkah! Pulang dan tidur! Besok kita ngentot lagi!” Pak Bejo dengan kasar melempar tubuh Alya yang sudah dinikmatinya ke samping. Bandot tua itu segera mengambil celana dan bajunya lalu memakainya tanpa mempedulikan Alya yang masih telanjang bulat.
Tak lama kemudian, Pak Bejo yang sudah berpakaian kembali meninggalkan ibu muda yang cantik itu sendirian di dalam pos kamling.
Air mata menetes deras di pelupuk mata Alya. Kisahnya masih jauh dari usai.
Bersambung…
DALAM CENGKRAMAN PRIA TUA
Lidya menguap. Wanita cantik itu membolak-balik halaman tabloid wanita yang sedang dipegangnya dengan bosan. Walaupun sudah berusaha membaca dan konsentrasi, tapi susah sekali memahami apa yang ditulis di tabloid itu karena dia tidak bisa fokus. Benaknya masih dibebani perkosaan yang dilakukan Pak Hasan. Dia sangat trauma dan ketakutan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa menceritakan petaka yang menimpanya baik pada suaminya sendiri ataupun pada pihak yang berwajib, dia takut kalau dia membeberkan semuanya, situasinya akan lebih buruk lagi. Semalam suntuk Lidya berusaha tidur tapi tak kunjung bisa memejamkan mata, dia takut sewaktu-waktu Pak Hasan akan datang ke kamar dan menyetubuhinya lagi. Selangkangannya masih terasa sakit setelah mendapatkan perlakuan kasar kemarin.
Dasar panjang umur, pria tua busuk itu tiba-tiba saja muncul dan berdiri di samping Lidya.
“Aku pengen jalan-jalan ke mall, Nduk.”
Lidya meneguk ludah, dia diam saja dan pura-pura tidak mendengar. Biasanya Pak Hasan akan pergi selama berjam-jam dan Lidya terbebas darinya. Pria tua itu biasanya pergi begitu saja tanpa pamit, entah kenapa hari ini dia pamit pada Lidya. Karena perasaannya masih kacau balau, Lidya diam membisu.
Tidak mendapat tanggapan dari Lidya membuat marah Pak Hasan. Dengan geram Pak Hasan mendekati menantunya yang sedang membaca. Tabloid wanita yang sedang dipegang Lidya disambar Pak Hasan dengan kasar sampai jatuh berserakan di lantai.
“Kamu dengar tidak? Aku mau mengajak kamu jalan-jalan ke mall!”
Ajakan Pak Hasan pada Lidya itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Ke mall? Apa lagi yang diinginkan kali ini?
“Ke mall?” tanya Lidya sambil merapikan rambutnya yang jatuh ke kening. “Ngapain kita jalan-jalan ke mall? Kebutuhan dapur dan yang lain masih ada. Besok lusa Mas Andi juga sudah pulang… kita tidak perlu…”
Wajah Pak Hasan memerah menandakan kemarahannya makin lama makin memuncak.
Pak Hasan menarik tubuh Lidya dan memeluknya dengan kasar. “Justru karena besok lusa Andi sudah pulang, aku mau menikmati saat-saat terakhir bersamamu, Nduk! Aku tidak ingin menyakitimu lagi, jadi sebaiknya kau turuti semua permintaanku tanpa mengeluh, atau aku akan berubah pikiran! Hari ini kita mulai dengan jalan-jalan ke mall karena aku pengen memamerkan menantuku yang cantik jelita pada orang-orang sekota.”
Pak Hasan mencium bibir Lidya dengan kasar bahkan menggigitnya sampai menantunya itu kesakitan. Akhirnya setelah Lidya meronta-ronta, Pak Hasan melepaskannya. “Aku juga tidak suka kamu bertanya padaku dengan sinis! Lain kali pikir dulu sebelum mengajukan pertanyaan!”
Lidya yang sudah lepas dari pelukan Pak Hasan meringkuk di sofa dan menundukkan kepala, dia sangat ketakutan sampai-sampai tubuhnya bergetar. “Aku minta ma-…”
“Maaf? Sudah seharusnya!” dengan sombong Pak Hasan memalingkan muka dan duduk di sofa. “Ganti pakaianmu, dandan yang cantik! Aku menunggu di sini, jangan lupa bawa uang yang banyak dan kartu kredit. Siapa tahu aku ingin belanja-belanja.”
Lidya melangkah lemas ke kamar atas, entah apa lagi maksud Pak Hasan.
###
Paidi Sutrisno bukanlah orang yang beruntung. Di usianya yang sudah mencapai angka 55, pria tua ini masih hidup berkekurangan. Masa mudanya yang suram membuatnya sering keluar masuk penjara, dia bahkan sangat terkenal sebagai preman pasar dengan sebutan Paidi Tatto, tentunya karena tatto gambar wanita bugil yang menghias sebagian besar punggungnya. Karena kehidupannya yang keras, Paidi diceraikan oleh istrinya dan bekerja sebagai penjaga pintu sarang PSK. Hanya sebentar bekerja di sana, Paidi terlibat perkelahian dengan seorang pelanggan. Hal ini menyebabkan Paidi kembali masuk penjara.
Saat terakhir di penjara, Paidi berkenalan dengan seorang mantan dosen yang berasal dari keluarga baik-baik dan dipenjara entah karena masalah apa. Pria itu memberikan ilmu pengetahuan dan mengajarkan banyak hal pada Paidi. Berkat orang ini pulalah Paidi berani menghapus semua tatto di tubuhnya walaupun akhirnya meninggalkan bekas luka permanen di kulit punggungnya. Punggung Paidi yang tadinya bergambar seorang wanita cantik berubah menjadi kulit carut marut. Kemahiran Paidi berlipat ganda berkat pengetahuan yang diberikan oleh pria itu.
Setelah keluar bui untuk yang terakhir kalinya di usia 45, Paidi ternyata tak kunjung bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Entah karena sejarahnya yang buruk atau karena pengaruh krisis ekonomi. Di jaman seperti sekarang ini, sangat susah mencari pekerjaan yang halal dengan mudah. Apalagi Paidi tidak memiliki modal besar dan wajahpun tidak menunjang, codet besar bekas luka menghias wajahnya sehingga banyak perusahaan menolak memperkerjakannya.
Akhirnya, Paidi mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Paidi memperoleh modal kecil dari temannya dan berjualan bakso keliling. Paidi Tatto kini berubah menjadi Paidi tukang bakso.
Tubuh Paidi yang dulu gagah dan tegap kini kurus kering dan hitam legam terbakar matahari. Wajahnya yang dulu bersih kini menjadi kurus dan kasar, kulitnya tipis dan tulangnya terlihat menonjol di seluruh badan. Paidi sadar masa-masa keemasannya sebagai preman sudah sirna dan kini dia berniat melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk membalas kebaikan sahabat yang telah memberinya pengetahuan dan modal berjualan bakso. Demi mencari nasi untuk sekedar mengisi perut, Paidi menjalankan pekerjaannya tanpa mengeluh. Tapi, sesungguhnya tidak semudah itu Paidi berubah menjadi orang baik, dia masih seorang pria oportunis yang menghalalkan segala cara, dalam hatinya dia masih seorang penjahat.
Hidup Paidi akan segera berubah.
Beberapa malam yang lalu, Paidi baru saja pulang dari nongkrong di warung kopi yang buka sampai jam dua pagi. Paidi sengaja lewat jalan komplek yang sepi karena ada jalan tikus yang bisa lebih cepat sampai ke pasar di seberang komplek. Paidi memang biasa begadang, jam dua minum kopi, lalu pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk bakso, dan paginya keliling lagi. Pasar di seberang komplek memang sudah buka sejak jam empat pagi dan biasanya pembeli yang datang jam segitu akan mendapatkan potongan harga yang lumayan langsung dari distributor, apalagi barangnya masih segar dan fresh.
Malam itu, entah kenapa Paidi memilih untuk beristirahat sebentar di pojok pengkolan jalan di dekat pos kamling. Kebetulan tempat Paidi beristirahat agak pojok dan terlindung oleh bayangan. Jadi siapapun yang melintas jalan akan terlihat oleh Paidi, namun sebaliknya, orang itu tidak akan melihat si tukang bakso.
Paidi tidak akan pernah melupakan pemandangan indah yang lewat di depannya.
Malam itu, Paidi melihat seorang bidadari berjalan terburu-buru menuju ke pos kamling. Bidadari dalam balutan daster tembus pandang. Rambutnya sebahu, kulitnya putih mulus, hidungnya mancung, dadanya membusung dan pantatnya bulat menggemaskan. Entah kenapa bidadari itu seperti ketakutan dan kebingungan.
Malam itu, Paidi memergoki Alya sedang menemui Pak Bejo.
###
Mall yang dituju taksi yang ditumpangi oleh Lidya dan Pak Hasan berada di tengah kota. Sejak berangkat dari rumah sampai ke lokasi, Pak Hasan lebih banyak diam. Untunglah Pak Hasan tidak turut campur mendikte pakaian yang akan dipakai Lidya sehingga dia bisa pergi menggunakan baju yang lumayan sopan. Lidya mengenakan rok mini selutut dan baju yang tidak terlalu ketat. Walaupun berpenampilan seadanya, Lidya masih tetap terlihat cantik mempesona.
Walaupun mulutnya terdiam, tapi tangan Pak Hasan masih tetap beraksi. Duduk berdampingan dengan Lidya di kursi belakang, Pak Hasan dengan nakal mengelus-elus kaki menantunya itu dengan santai. Berulang kali Lidya merasa tidak enak karena melihat mata sang sopir melirik ke belakang menggunakan kaca.
Bahkan Pak Hasan kadang nekat membelai paha Lidya yang mulus atau sesekali meremas payudaranya. Wanita cantik itu sudah memperingatkan mertuanya agar tidak nekat karena sang sopir bisa melihat mereka. Tapi Pak Hasan hanya tersenyum. Beberapa kali suara sang sopir meneguk ludah bisa terdengar dari belakang.
Akhirnya setelah menempuh jarak cukup jauh, Pak Hasan dan Lidya sampai di pusat pertokoan yang dituju. Ketika Lidya hendak membuka dompet untuk membayar taksi, Pak Hasan menggeleng. Dia melirik ke arah argo dan memberikan uang dari kantong celananya.
Sang sopir melongo melihat uang pemberian Pak Hasan. “Wah, gak salah nih, Pak? Duitnya kurang dong! Argonya aja segitu, masa bayarnya cuma segini? Yang bener aja!” Wajah sang sopir memerah karena merasa dipermainkan.
“Ini, ada kok…” Lidya kembali hendak membuka dompet. Tapi tangannya diremas Pak Hasan yang langsung menggeleng dan melotot galak, Lidyapun mengurungkan niatnya. Kenapa lagi Pak Hasan ini? Mau cari perkara dengan sopir taksi? Keringat mulai menetes di dahi istri Andi itu.
“Menurut mas sopir, menantu saya ini cantik tidak?” tanya Pak Hasan tiba-tiba. Lidya langsung mengernyitkan dahi, perasaannya tidak enak.
Sang sopir meneguk ludah. Pandangannya beralih ke arah Lidya. Bagaikan seekor macan yang siap menerkam mangsa, dia memperhatikan Lidya dari atas ke bawah. “Gila, kirain tadi ini istrinya, soalnya mesra banget, ternyata menantunya ya?”
“Menantu saya ini orangnya sangat pengertian dan baik. Dia senang kalau bisa menghibur orang lain yang kesusahan, contohnya saya ini, saya sudah lama jadi duda. Jadi bagaimana menurut mas, menantu saya cantik tidak?” Pak Hasan mengulang pertanyaannya.
Lidya merasa jengah mendengar percakapan dua orang ini, apalagi sang sopir kemudian memandang ke arahnya dengan remeh dan tersenyum menjijikkan.
“Wah, Pak! Bukan cantik lagi namanya kalau yang seperti ini!” jawab sang sopir taksi, “Cuantikkk!! Kayak bintang sinetron!”
“Bagaimana pendapat mas tentang tubuhnya, bagus tidak?” tanya Pak Hasan lagi. Lidya sudah bersiap keluar dari taksi tapi ditahan oleh Pak Hasan.
“Seksi, Pak!”
“Baiklah, bagaimana kalau untuk membayar kekurangan saya tadi, saya tawarkan bibir menantu saya ini? Masnya boleh mencium dia selama satu menit plus meremas susunya selama itu pula. Bagaimana?” tanya Pak Hasan.
Sopir itu melongo.
Tubuh Lidya langsung lemas. Dia tidak menyangka Pak Hasan akan menggunakan dirinya sebagai alat pembayaran. Geram sekali rasanya Lidya karena diperlakukan seperti pelacur hina oleh mertuanya sendiri. Tapi cengkraman tangan Pak Hasan yang tidak bisa dilepaskannya menyadarkannya akan satu hal, dia harus melakukan apapun perintah sang mertua, separah apapun perintahnya itu.
Sang sopir taksi yang bertubuh kurus dan berkulit gelap terbakar matahari kembali meneguk ludah. Gila, kalau begini caranya orang ini membayar, bisa kurang nanti duit setoran ke bos, tapi kapan lagi dia bisa mencium orang secantik bidadari? Walaupun cuma semenit, tapi bibir Lidya yang ranum itu membuatnya sangat nafsu, belum dekat dengannya saja si otong yang di bawah sudah ngaceng, apalagi kalau boleh mencium, wah, asoy sekali. Bininya di rumah jelas kalah jauh. Hatinya bimbang, tapi nafsu akhirnya mengalahkan akal sehat sang sopir.
Lidya makin merasa tertampar saat melihat sopir berwajah ketus itu mengangguk sambil cengengesan. “Bolehlah, Pak. Sekali ini saja. Kapan lagi saya bisa ngerasain yang begini?”
Pak Hasan tersenyum. “Silahkan mas sopir pindah ke kursi belakang, saya yang akan menghitung waktunya.”
Buru-buru sopir itu pindah ke belakang dan duduk di samping Lidya.
“Pak, aku…” Lidya mencoba memprotes.
Pak Hasan kembali mencengkeram lengan Lidya. Tidak ada gunanya melawan pria tua yang busuk ini, Lidyapun menunduk pasrah.
Sang sopir tidak membuang waktu, begitu Pak Hasan mengangguk memberi ijin sambil memegang erat tubuh Lidya yang sudah siap meronta, dia langsung mencium bibir Lidya. Lidya memejamkan mata karena tidak tahan melihat wajah sopir taksi yang sudah mupeng abis, mulutnya yang terkatup perlahan-lahan dibuka karena ia takut Pak Hasan akan menyakitinya seandainya ia menolak membalas ciuman sang sopir.
Awalnya mereka berciuman dengan lembut, bibir sang sopir yang sudah basah dan bau rokok membelai bibir Lidya yang ranum dan membasahinya pelan-pelan. Lalu pria itu menghisap lembut bibir bawah Lidya sebelum akhirnya benar-benar menangkupkan seluruh bibirnya ke bibir Lidya. Menantu Pak Hasan itu melenguh kesakitan saat kemudian sang sopir meremas buah dadanya dengan kasar dan penuh nafsu. Karena ukuran buah dada Lidya lebih besar dari milik istrinya, sang sopir makin bernafsu, remasan tangan sang sopir makin lama makin cepat.
Lenguhan Lidya membuat mulutnya terbuka, sang sopir menyorongkan lidahnya masuk ke mulut menantu Pak Hasan yang cantik itu. Lidah sang sopir bertemu dengan lidah Lidya dan keduanya bertautan. Perasaan takut mengkhianati suami dan rasa bersalah yang menebal malah membuat Lidya makin pasrah. Dia sudah tidak tahu lagi mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang tidak. Bibirnya selalu menjadi milik Andi sang suami, tapi kini, mertuanya dan bahkan seorang sopir taksi tak dikenal telah mencicipi keranuman bibir Lidya.
Pak Hasan tersenyum kegirangan melihat menantunya kembali melenguh, jelas sekali kalau Lidya lama kelamaan terangsang juga walaupun pada awalnya menolak mati-matian. Dengan sengaja Pak Hasan memberikan kesempatan pada sang sopir untuk menikmati bibir Lidya lebih dari satu menit yang dijanjikan. Dari tonjolan besar di selangkangan, terlihat jelas sopir itu pasti sudah ngaceng sedari tadi, Pak Hasan terkekeh melihatnya.
Ciuman Lidya dan sang sopir taksi berakhir saat Pak Hasan menepuk pundak sang sopir. “Oke, mas. Sudah satu menit lebih dua puluh detik”. Kata Pak Hasan sambil menunjuk jam digital di dashboard taksi. “Yang dua puluh detik aku hitung bonus.”
Sopir taksi itu mengangguk puas. “Wah, bapak beruntung sekali punya menantu seperti ini, dicium semenit aja udah bikin blingsatan! Apalagi kalau dipake!”
Sambil mengucapkan terima kasih, Pak Hasan dan Lidya keluar dari taksi dan masuk ke dalam mall. Sopir taksi itu tidak bisa melepaskan pandangan dari Lidya, sayangnya, beberapa saat kemudian ada seorang penumpang masuk sehingga dia harus segera pergi Entah kapan lagi dia bisa berjumpa dengan si cantik itu, mungkin inilah yang dinamakan pengalaman sekali seumur hidup. Sopir itu menggelengkan kepala mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi dan membawa penumpangnya meninggalkan mall.
###
Anissa Wibisono merasakan kegembiraan yang meluap-luap seakan meledak di dalam dadanya. Tunangannya, Dodit Darmawan masih berada di belakang setir mobil saat Toyota Avanza hitam yang mereka naiki mulai memasuki jalan menuju komplek perumahan yang cukup terkenal di daerah pinggiran kota. Pepohonan yang rindang dan sejuk menyambut mobil yang menggelinding dengan lembut di jalan yang sepi. Anissa melirik ke arah Dodit dan mencubit paha tunangannya dengan genit. Dodit melirik ke arah Anissa dan tersenyum penuh rasa sayang.
Dodit sebenarnya agak ragu berkunjung ke rumah kakak Anissa, mereka belum terlalu akrab sehingga dia khawatir kunjungannya akan mengganggu kegiatan keluarga Mas Hendra. Tapi karena Mas Hendra ditunjuk sebagai calon wali dari Anissa kelak di pernikahan mereka, Dodit mau tidak mau harus mengakrabkan diri dengan Mas Hendra dan Mbak Alya, dalam hatinya yang paling dalam Dodit berpikir mungkin akan jauh lebih mudah mendekati putri kecil mereka, Opi.
Baru beberapa bulan bertunangan setelah hampir dua tahun pacaran membuat pasangan Anissa dan Dodit kembali hot. Dodit yang juga senior Anissa di kampus sudah lulus tahun lalu dan sekarang magang di sebuah perusahaan swasta. Tahun ini Anissa juga dipastikan akan lulus dan pernikahan yang sudah mereka nanti-nantikan akan segera menjadi kenyataan.
Anissa sangat mengagumi Dodit dan bisa berkunjung ke rumah Mas Hendra dan Mbak Alya bersama tunangannya tercinta sudah menjadi keinginannya sejak lama. Karena kesibukannya, Mas Hendra sempat menengok rumah lama. Atas perintah ibunya, Anissa dan Dodit diminta berkunjung dan menginap selama akhir pekan di rumah Hendra agar mereka bisa lebih akrab.
Dodit sedikit grogi, walaupun sudah bertunangan dengan Anissa, dia masih grogi kalau disuruh bertemu dengan keluarganya, apalagi weekend ini mereka berdua diminta menginap di rumah Mas Hendra. Berulang kali Dodit melirik ke arah spion untuk memperhatikan penampilannya.
“Kamu ganteng kok, sayang.” Kata Anissa sambil membenahi make-upnya sendiri. “Tampan, seperti biasa.”
Wajah Dodit memang cukup lumayan, dia pantas bersanding dengan Anissa yang cantik dan menggairahkan. Walaupun masih muda dan tidak memiliki perawatan khusus, tapi tubuh Anissa benar-benar indah dan menggiurkan. Didukung wajah cantik melankolis, kulit putih mulus, buah dada menggunung dan rambut panjang sepunggung, penampilan gadis ini sangat sempurna.
Dodit tertawa mendengar sindiran Anissa. “Ah, kamu ini. Aku kan grogi, say. Ini pertama kali aku menginap di tempat Mas Hendra. Aku harus tampil serapi mungkin. Takut tidak direstui nantinya…”
Anissa tersenyum manis dan dengan rasa sayang membelai rambut Dodit. “Jangan khawatir, sayang. Mas Hendra dan Mbak Alya pasti akan menyukaimu. Mudah-mudahan kamu juga bisa menyukai mereka.”
“Ah, sudah jelas aku menyukai mereka. Kakakmu orangnya baik hati walaupun sedikit pendiam. Mbak Alya apalagi, sangat ramah dan baik hati, cantik pula,” Dodit merapikan kemejanya yang berkerut, “tapi menurutku yang paling enak diajak ngobrol sebenarnya si Opi. Aku sudah kangen ingin menemuinya.”
Anissa tertawa. “Opi memang lucu, menggemaskan sekali. Aku juga sudah kangen.”
Mobil mereka melaju melewati sebuah komplek pemakaman.
“Tapi dengar-dengar, lokasi komplek perumahan ini cukup seram lho. Aku dengar dari beberapa orang teman, katanya di tempat ini banyak setannya.” Kata Dodit dengan sengaja menakut-nakuti tunangannya yang jelita, tentunya dia hanya bohong belaka. “Kalau tidak tahan, boleh tidur seranjang denganku nanti malam.”
“Ha ha! Dasar otak mesum! Aku tidak mudah kau takut-takuti seperti itu!” Anissa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dodit, dengan manja gadis itu menggelayut di samping Dodit. “Biarpun ada suster ngesot dan hantu jeruk purut, aku punya pahlawan perkasa di sampingku!”
Dodit tersenyum sipu, wajahnya memerah tapi dia meneruskan godaannya, “Kalau tidak salah dengar pula, informasi ini berasal dari sumber yang bisa dipercaya lho, kabarnya ada hantu cabul yang hobi memangsa anak perawan orang!”
Dengan manja Anissa memukuli pundak tunangannya. “Udah ah! Bercandanya nggak asyik! Mas Dodit jahat! Aku nanti nggak bisa tidur!”
“Kamu kan masih perawan, say. Kalau aku jadi kamu… hmmm…” Dodit tersenyum sok ngeri. “aku akan lebih berhati-hati nanti malam… lebih baik aku tidur minta ditemani Mbak Alya atau… atau minta ditemani sama Mas Dodit tersayang! Ha ha ha!”
Anissa mencibir dan menjulurkan lidah, wajahnya yang malu memerah, makin manis saja gadis ini. “Huh, itu kan maunya Mas Dodit! Dasar otak mesum!”
Entah kenapa, ada angin dingin yang bersemilir di udara dan menghembuskan udara dingin di tengkuk Anissa dan Dodit. Perasaan mereka menjadi tidak enak, seakan suatu hal yang buruk akan segera terjadi.
Tiba-tiba saja Dodit menghentikan mobilnya. Dia mengedip ke arah Anissa. “Kau tahu tidak, say. Kau terlihat sangat mempesona.”
###
Lokasi pusat pertokoan yang didatangi oleh Pak Hasan dan Lidya berada di tengah kota dan sangat ramai pengunjung. Hilir mudik orang berjalan keluar masuk toko. Pandangan Lidya masih kabur, entah karena pusing melihat banyaknya pengunjung mall atau perasaan jengahnya yang tidak juga mau hilang setelah mencium seorang sopir taksi yang tak dikenal. Dia merasa seperti seorang pelacur hina dan ini semua karena ulah ayah mertuanya yang bejat.
Pak Hasan menarik tangan Lidya dengan kasar memasuki sebuah toko baju yang cukup terkenal. Pria tua itu berkata, “Ayo, nduk. Kita cari baju yang lebih cocok untuk pelacur seperti kamu.”
Lidya menggeram kesal tapi tak bisa berbuat banyak, mertuanya memang benar-benar tidak tahu malu, berani-beraninya dia mengatainya pelacur, padahal ini semua ulahnya. Lidya hanya diam saja di pojok saat Pak Hasan berkeliling dan menarik beberapa lembar baju wanita, dia bahkan tidak malu saat mengambil beberapa helai pakaian dalam untuk Lidya. Beberapa orang SPG menatap heran pada pasangan aneh ini.
Akhirnya, Pak Hasan menarik lengan Lidya untuk ikut berkeliling bersamanya. “Aku akan memilihkan baju yang terbaik dan bisa membuatmu tampil seksi, nduk. Jangan khawatir, kau pasti akan terlihat sangat mempesona. Baju yang sekarang kamu pakai itu kesannya kuno, aku carikan yang baru.” Kata Pak Hasan.
Lidya melotot galak dan disambut cengiran cabul sang mertua. Setelah mengikuti Pak Hasan berkeliling dan mengambil beberapa baju, akhirnya Lidya digiring ke kamar ganti. Sekilas lihat Lidya langsung tahu jenis baju yang dipilih Pak Hasan, baju-baju yang hanya pantas dikenakan seorang pelacur. Bahkan menurut Lidya, pelacur yang paling menjijikkan sekalipun hanya berani mengenakan pakaian seperti itu saat sedang ‘menawarkan dagangannya’, sementara Lidya akan mengenakannya di dalam mall yang ramai pengunjung.
Lidya dan Pak Hasan masuk ke kamar ganti bersamaan. Lidya melirik ke arah Pak Hasan, dia berbalik ke arah mertuanya dan memandangnya heran, dalam hati Lidya bertanya-tanya kapan mertuanya itu akan keluar dari kamar ganti. Pak Hasan menggelengkan kepala. “Aku tetap di sini. Aku sudah pernah lihat kamu telanjang, apa salahnya melihatmu berganti pakaian? Tidak perlu pura-pura sok suci. Ayo cepat ganti!”
Dengan perlahan Lidya melucuti pakaiannya, walaupun air matanya sudah di ujung pelupuk karena merasakan pahitnya nasib yang ia alami, tapi wanita cantik itu berusaha menahan diri agar tidak menangis. Dia tidak mau Pak Hasan lebih marah lagi. Satu persatu pakaian yang dikenakan dilepasnya, sampai kemudian Lidya hanya mengenakan BH dan celana dalam.
“Kamu memang benar-benar seksi, nduk. Bapak bangga punya menantu seperti kamu.” Celoteh Pak Hasan. “Dilihat saja enak apalagi kalau ditiduri. Lezat sekali.”
Pak Hasan menatap tubuh Lidya untuk beberapa saat. Saat menantunya itu hendak mengambil pakaian, Pak Hasan menggeleng dan melarang. Pria tua itu mengambil sesuatu dari dalam tumpukan baju dan memberikannya pada Lidya, rupanya sebuah celana dalam yang sangat mungil, g-string.
Lidya menatap tak percaya celana dalam yang diberikan Pak Hasan padanya. Dia juga terheran akan dua hal. Satu adalah bagaimana mertuanya itu bisa tahu ukuran celana dalamnya dan yang kedua adalah ukuran celana g-string yang sekarang berada di tangannya. Bagaimana mungkin barang sekecil dan semungil itu bisa dipakai? Terlalu kecil untuk bisa menyembunyikan apa-apa. Celana itu bagaikan tali kecil yang hanya melingkar di selangkangannya.
“Cepat dipakai.” Desis Pak Hasan galak. Dia mencubit pantat Lidya sampai memerah. Lidya meringis kesakitan dan mengangguk.
Dengan malas Lidya melepaskan celana dalam krem yang dipakainya dan menggantinya dengan g-string. Ternyata celana kecil itu pas sekali, bisa dirasakannya temali celana g-string itu menggaris bibir kemaluannya. Hanya dengan mengenakan celana ini saja sudah bisa membuat Lidya sangat terangsang. Wajah Lidya memerah karena malu saat melihat Pak Hasan tersenyum cabul menatapnya di cermin.
“Masih ada yang kurang…” Pak Hasan memperhatikan tubuh menantunya yang hanya mengenakan BH dan celana dalam. “Lepaskan BHmu,” perintahnya kemudian, “dadamu itu bagus, nduk. Dada seperti itu seharusnya dibanggakan dan dipamerkan, bukannya malah disembunyikan di balik BH yang sesak.”
Belum sempat Lidya memprotes, Pak Hasan sudah melangkah ke belakang Lidya, pria tua itu dengan cekatan membuka kait di bagian belakang BH. Wajah Lidya memerah ketika BHnya jatuh ke lantai ruang ganti. Tanpa perlindungan BH, payudara Lidya yang ranum bergelantungan dengan erotis di dada wanita cantik itu.
Pak Hasan meraih ke tumpukan baju yang dibawanya dan mengambil sebuah rok mini berwarna hitam, dia memberikannya pada Lidya untuk segera dipakai. Lidyapun segera mengenakannya. Rok yang diberikan Pak Hasan itu adalah rok mini yang paling pendek yang pernah dipakai Lidya sepanjang hidupnya. Rok itu sama sekali tidak cocok dikenakan seorang wanita dengan kaki jenjang seperti Lidya, karena jika dia membungkuk sedikit saja maka orang-orang di belakangnya akan bisa mengintip isi roknya dengan jelas dan gratis padahal dia hanya mengenakan g-string tipis. Sementara bagian atas rok yang rendah akan membuat orang lain bisa menikmati bagian atas celana dalam yang dipakai Lidya dan celah pantatnya yang menggaris. Dia tidak akan bisa berdiri dengan nyaman.
Lidya mendesah. Dia hanya bisa pasrah, dalam situasi normal, dia hanya mau mengenakan pakaian seksi seperti ini di hadapan suaminya seorang. Tapi saat ini Lidya tidak sedang berada dalam situasi yang normal. Mertuanya yang bejat membuatnya tak bisa berbuat apa-apa kecuali menurut padanya.
Lidya menarik baju dari tumpukan pakaian pilihan Pak Hasan. Sebuah kemeja berwarna putih yang tipis. Tubuh Lidya bergetar ketakutan melihat pakaian yang dipilih Pak Hasan itu. Jika dia tidak diperbolehkan mengenakan BH, maka buah dadanya yang kencang dan besar akan terbentuk jelas di kemeja, bagian lehernya juga rendah sehingga akan mempertontonkan belahan dada Lidya, belum lagi puting susunya pasti akan menjulang maju ke depan. Kemeja itu membuat kemontokan dada Lidya bisa dinikmati oleh banyak orang. Dia akan semakin terlihat seperti seorang pelacur murahan. Dengan panik Lidya memilih baju lain dari tumpukan pakaian, ternyata semua sejenis, malah beberapa pakaian ada yang lebih parah lagi.
“Aku tidak bisa mengenakan baju ini.” Protes Lidya dengan keringat mengalir deras di dahinya. “Tidak mungkin aku bisa mengenakan pakaian seperti ini di luar sana. Pak, kumohon… kasihani aku… tolong, Pak! Carikan baju yang lebih pantas! Aku ini masih menantumu, Pak! Kumohon…”
“Itu baju bagus, nduk. Kenapa tidak mau? Kamu akan terlihat sangat mempesona.” Jawab Pak Hasan sambil menggeleng kepala menolak protes Lidya. “Kamu harus memakainya. Kalau tidak mau, aku akan membiarkanmu keliling mall tanpa menggunakan celana dalam. Pilih mana?”
Lidya tidak percaya ini semua terjadi, ini sudah keterlaluan! Mertuanya benar-benar sudah kehilangan akal sehat! Tidak saja dia sudah memperkosa Lidya, memukulinya, menggunakan bibir dan dadanya untuk membayar taksi, masih ditambah sekarang hendak mempermalukannya di depan orang banyak! Emosi wanita cantik itu memuncak dan wajahnya memerah, dia marah pada diri sendiri karena lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak sanggup menjalani ini semua. Bagaimana nanti seandainya ada orang yang dia kenal melihatnya berjalan-jalan dengan pakaian seperti ini? Atau bagaimana nanti seandainya Mbak Dina atau Mbak Alya melihatnya? Atau… atau…
“Aku tidak bisa melakukannya…” Lidya berbisik lirih.
Sayang Pak Hasan tak bergeming dan menatapnya galak. Tangannya mencengkeram lengan Lidya hingga terasa sakit sampai ke tulang. Tubuh Lidya bergetar ketakutan. Tidak mungkin ayah mertuanya itu begitu tega, tapi Pak Hasan tidak main-main. Istri Andi itu akhirnya pasrah dan hanya bisa menganggukkan kepala pertanda setuju. Ia mencoba mengenakan pakaian yang dipilih oleh sang ayah mertua.
Dalam sekejap, pakaian Lidya sudah berganti. Pak Hasan memasukkan pakaian yang tadinya dikenakan oleh Lidya ke dalam tas plastik. Saat sudah menggunakan pakaian ala pelacur ini, barulah Lidya sadar susahnya berjalan tanpa mempertontonkan bagian tubuhnya yang mulus. Dia harus berhati-hati agar tidak mengangkat kaki terlalu tinggi atau membungkuk terlalu dalam karena bagian pantatnya yang hanya mengenakan celana dalam g-string akan terlihat jelas oleh orang di belakangnya.
Kemeja yang dikenakan Lidya juga lebih mengerikan, kemeja itu seharusnya dikenakan dengan kamisol melihat bagian lehernya yang rendah, tapi Pak Hasan tidak mengijinkan Lidya mengenakannya, seakan-akan belum parah, Pak Hasan juga membuka kancing teratas kemeja Lidya sehingga belahan dadanya makin terlihat jelas, sangat menggoda birahi laki-laki yang menatap. Buah dadanya yang montok dan kencang menyeruak ke depan sementara pentilnya makin lama makin menegang karena ac mall yang dingin. Tiap kali berjalan, Lidya khawatir payudaranya suatu saat akan terpantul dan mental keluar tepat di depan pengunjung mall. Jelas hal itu tidak diinginkan olehnya.
Akhirnya, setelah Pak Hasan puas, mereka berdua pergi membayar ke kasir. Entah sial bagi Lidya entah kebetulan, seorang pemuda tanggung sedang bertugas di meja kasir, kemana para pegawai wanita yang biasa berjaga di kasir? Pak Hasan dan Lidya berdiri di depan pemuda itu.
“Saya beli baju yang sudah saya pakai ini…” desah Lidya lirih. “Juga celana dalam yang saya pakai sekarang…”
Saat melihat ke arah Lidya, rahang si pemuda seakan mau copot. Gila, wanita cantik ini berani sekali berpenampilan seksi! Si otong di selangkangan pemuda penjaga mesin kasir langsung ngaceng melihat penampilan Lidya. Dengan hati-hati pemuda itu melepaskan tag harga dan penjepit anti-maling dari baju dan rok yang dikenakan Lidya, dia melakukannya sambil hati-hati sekali karena takut dianggap tidak sopan, wangi tubuh Lidya membuatnya terbang ke awang-awang. Untung saja Pak Hasan sudah melepaskan tag harga dari celana dalam yang dikenakan Lidya sehingga dia tidak perlu mempertontonkannya pada sang pemuda yang masih terlihat sangat lugu ini.
Beberapa orang customer laki-laki yang kebetulan menemani pasangan mereka belanja juga tidak bisa melepaskan pandangan dari Lidya sambil meneteskan air liur. Penampilan seksi Lidya benar-benar membuat mereka nafsu. Lidya merasa malu dan memperhatikan pentil susunya sendiri perlahan mengeras dan menyodok kemeja yang dikenakannya. Dengan buru-buru Lidya mengeluarkan dompet dan mengambil kartu kredit.
Pemuda yang menjadi kasir menggesek kartu kredit Lidya dengan tangan gemetar. Beberapa kali dia salah memencet tombol karena terganggu oleh pemandangan indah di hadapannya. Penisnya juga makin ngaceng dan menghunjuk ke luar, pemuda itu dengan malu mengempit otongnya sendiri. Keadaan ini makin membuat Lidya khawatir, sayangnya makin khawatir wanita cantik ini, makin besar puting payudaranya mengembang.
Pemuda kasir itu memberikan kesempatan bagi Lidya untuk menandatangani berkas yang keluar dari mesin kartu kredit. Saat tanda tangan, Lidya terpaksa membungkuk karena posisi kasir yang pendek. Saat itulah satu buah dada Lidya tiba-tiba saja melompat keluar dari dalam kemejanya.
“Ya Tuhan!!” desah si pemuda yang langsung terperanjat.
Dengan cekatan Lidya merapikan kemejanya dan memasukkan buah dadanya kembali ke dalam sebelum ada orang yang melihat. Walaupun hanya beberapa detik saja, tapi pemuda kasir itu jelas sangat beruntung. Wajah Lidya memerah karenanya dan secepat mungkin meninggalkan meja kasir setelah urusan pembayaran usai. Pak Hasan terkekeh bahagia saat mereka akhirnya sampai di luar toko.
“Kamu lihat tidak tadi wajah bocah itu?” Pak Hasan tertawa cekakakan sambil menggandeng Lidya yang pucat pasi menuju tempat lain. Seandainya mungkin, Lidya ingin pingsan saat ini juga.
Berjalan-jalan di sebuah mall besar yang ramai oleh pengunjung dengan mengenakan busana minim jelas bukan ide yang baik menurut Lidya. Berkali-kali wanita muda yang cantik itu membenahi rok dan baju yang dikenakannya agar tidak terlalu mencolok. Tapi seperti apapun usaha Lidya untuk membenahi, kemolekannya mengundang birahi. Kepalanya terus menunduk karena Lidya tidak mau dikenali oleh teman atau siapapun yang kebetulan berjumpa dengannya. Seandainya tidak kenalpun, Lidya tetap merasa malu dengan penampilannya yang seronok. Entah mana yang lebih parah, berjalan di tengah mall dengan pakaian seperti pelacur atau sekalian saja telanjang. Yang jelas saat ini Lidya merasa dirinya sangat telanjang.
Seorang satpam garuk-garuk kepala karena indahnya pemandangan yang disajikan oleh Lidya. Walaupun sudah sering melihat seorang wanita cantik berpakaian seksi, baru kali inilah satpam itu melihat cewek yang sepertinya perempuan baik-baik mengenakan baju super minim. Kalau saja RUU Anti Pornografi & Pornoaksi disahkan, Lidya pasti akan langsung ditangkap polisi.
“Pak, sudah saja ya, Pak. Kita pulang saja.” Wajah Lidya memelas memohon ampun pada ayah mertuanya. Wanita cantik itu terus meratap manja. “Aku malu sekali. Kita pulang saja.”
Pak Hasan menggelengkan kepala sambil tersenyum sadis. “Baru masuk kok sudah mau pulang?”
“Aku malu sekali…”
“Sini, mendekat kesini, nduk!”
Satu-satunya cara bagi Lidya untuk menutupi kejengahan dan rasa malunya yang membuncah adalah dengan merapatkan tubuhnya dengan sang ayah mertua. Pak Hasan tertawa saat sang menantu yang seksi itu mendempel erat. Pak Hasan merangkul pundak Lidya sehingga mereka berdua nampak seperti sepasang kekasih. Beberapa orang yang berpapasan atau nongkrong di pinggir koridor menatap heran ke arah sepasang manusia ini. Bagaimana mungkin bidadari secantik dan seseksi Lidya mau bergaul dengan pria gemuk buruk rupa seperti Pak Hasan?
Saat mereka berjalan berdua, Pak Hasan memperhatikan banyak laki-laki tua muda yang sedang berjalan-jalan melirik penuh minat ke arah Lidya. Buah dadanya yang terpantul naik turun bisa dilihat dengan jelas, sementara kaki Lidya yang jenjang terlihat seksi dan sangat mulus dengan rok super mini yang dikenakannya. Beberapa orang meneteskan air liur melihat kemolekan menantu Pak Hasan itu. Makin bangga mertua bejat itu pada menantunya.
###
Dodit menghentikan mobil tidak begitu jauh dari gerbang utama komplek perumahan kakak kandung Anissa. Tunangannya yang lugu itu terheran-heran.
“Lho? Kok berhenti, Mas? Apa ada yang salah?” tanya Anissa.
Dodit tersenyum. “Tidak ada yang salah. Kamu manis sekali, say. Manis dan seksi.”
Dodit menggeser posisinya duduk agar bisa sedikit mendekati Anissa. Gadis itu langsung bisa melihat perubahan ukuran gundukan di selangkangan Dodit. Tangan Dodit membawa jari-jemari Anissa ke arah gundukan itu. Sembari dibimbing oleh Dodit, tangan Anissa mengelus kemaluan tunangannya yang makin lama makin membesar di balik celana. Tangan Dodit sendiri tidak diam begitu saja. Dia mengelus seluruh tubuh Anissa dari atas sampai ke bawah.
Dengan berani Dodit menciumi wajah dan leher sang kekasih.
“Mas Dodit! Jangan Mas! Apa yang Mas lakukan?” tanya Anissa sambil merem melek, walaupun sepertinya menolak, tapi gadis cantik itu cukup menikmati serangan tangan dan banjir ciuman dari Dodit. Dengan penuh semangat Dodit meremas-remas buah dada Anissa yang montok dan menggemaskan. Anissa berusaha mendorong Dodit menjauh tapi tunangannya itu jelas lebih kuat.
Anissa melenguh keenakan saat Dodit mengecup dan melesakkan tangannya ke balik baju yang dikenakan Anissa. Tangan Dodit kian merajalela di balik baju yang dikenakan gadis cantik itu. Dengan nekat tanpa takut ketahuan orang yang kebetulan lewat, Dodit menyelipkan tangan ke balik BH Anissa yang masih dikenakannya dan memainkan pentilnya dengan memilin dan meremas gumpalan dagingnya yang indah. Berulang kali Anissa melenguh.
Baju Anissa terbuka dan BHnya terangkat naik. Dodit makin leluasa menikmati bagian dada dari Anissa yang memang besar dan indah itu. Makin lama makin tidak kuatlah Dodit menahan gejolak nafsu birahinya, dia menggumuli Anissa dan mencoba melepaskan kancing celana jeans tunangannya. “A-aku ingin bercinta denganmu, say…” bisik Dodit lirih di telinga Anissa. Laki-laki muda yang sudah horny itu memeluk tubuh indah Anissa dan mengulum bibirnya dengan nafsu, kedua tangannya bergerak bebas meremas-remas gundukan indah buah dada Anissa.
Anissa menggelengkan kepala, walaupun merasa panas dan siap bercinta, tapi Anissa tidak mau menyerah pada nafsu birahinya. Dengan sedikit memaksa, Anissa mendorong Dodit menjauh. “Jangan, Mas. Aku mohon… sudah cukup, jangan melakukan sesuatu yang akan kita sesali nantinya… aku tidak bisa… aku mohon, kalau Mas Dodit benar-benar mencintaiku… Mas harus menghargai keputusanku untuk mempertahankan milikku yang berharga sampai pernikahan kita nanti…”
Dodit mundur sambil ngos-ngosan. Nafasnya tersengal dan tidak teratur. Dodit memandang ke arah Anissa dengan kesal.
###
Pak Hasan meninggalkan Lidya sendirian duduk seorang diri di sebuah bangku panjang di depan toko yang menyediakan peralatan elektronik. Pria tua itu cekikikan melihat kegelisahan sang menantu dari jarak jauh. Pria busuk ini memang sengaja membiarkan Lidya sendirian, dia ingin melihat menantunya yang cantik itu digoda laki-laki lain. Dengan pakaian yang super seksi seperti itu, pasti mudah bagi Lidya memperoleh perhatian seorang lelaki, apalagi yang hidung belang. Tanpa mengenakan pakaian seksipun Lidya sudah mampu membuat mata seorang pria terpukau, bagaimana seandainya dia mengenakan baju super seksi?
Keringat dingin mulai membasahi tubuh Lidya. Duduk di depan sebuah toko elektronik yang ramai dikunjungi oleh laki-laki berbagai usia dengan pakaian seperti seorang pelacur murahan membuatnya ingin lari. Tapi Lidya takut dengan ancaman Pak Hasan yang tidak saja bisa menghajar tubuhnya secara fisik tapi juga menghancurkan masa depannya bersama Andi. Dia hanya bisa pasrah dan berharap mertuanya itu segera keluar dan menjemputnya. Saat ini Lidya hanya ingin segera pulang ke rumah.
Untungnya Lidya membawa handphone. Walaupun simcard yang tadinya berada di dalam hp sudah dicabut dan disita oleh Pak Hasan sebelum mereka berangkat ke mall, tapi dia masih bisa menggunakannya untuk kamuflase. Tidak peduli berapa jumlah lelaki yang menggoda ataupun nanar menatapnya seperti akan menelan tubuh indah Lidya bulat-bulat, wanita cantik itu berkonsentrasi menatap layar mini di hpnya dan berpura-pura memencet tombol.
Sialnya, bukannya cuek, malah makin banyak pria-pria nakal yang memperhatikan Lidya. Seorang pria yang berusia sekitar 40 tahun keluar dari toko yang dimasuki Pak Hasan dan langsung berdiri di depan Lidya. Pria itu membawa tas jinjing plastik yang berisi mainan anak-anak. Lidya yang melirik diam-diam langsung tahu kalau pria ini pasti sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak yang masih kecil, tapi sepertinya dia pergi sendirian. Lidya makin gelisah, dia berusaha menyilangkan kakinya sesopan mungkin untuk menutup bagian selangkangannya yang terbuka lebar. Tapi dengan cara itu, kini pahanya yang mulus bisa dinikmati oleh sang lelaki hidung belang yang sedang memanjakan mata.
Lidya kian jengah, dia terus menanti-nanti Pak Hasan yang tidak kunjung keluar dari toko elektronik. Paha mulus Lidya sudah melambai-lambai seakan minta dielus, walaupun sudah berusaha sebisa mungkin untuk menutupinya, penampilannya tetap terlihat seronok. Mata wanita cantik itu memerah karena menahan air mata. Lidya melirik lagi ke arah sang pria hidung belang, ia berharap pria itu sudah pergi. Ternyata dugaan Lidya salah, orang itu malah makin mendekat. Terlihat jelas dari posisi Lidya, sebuah gundukan kian membesar di bagian selangkangan pria itu. Lidya memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.
Pria hidung belang itu memutari etalase toko seperti seorang anak kecil yang tersesat, berputar tanpa arah yang jelas, tapi satu hal yang pasti, pandangan matanya selalu kembali ke arah paha Lidya yang putih mulus tanpa cacat. Entah harus khawatir atau malah bangga, Lidya sedikit menyunggingkan senyum karena sikap orang itu malu-malu. Tapi Lidya tidak mau bermain api, dia segera membenahi posisi duduknya dan berpura-pura tidak memperhatikan.
Orang itu ternyata malah mendekati Lidya dengan berani. Dia mengira senyuman Lidya tadi ditujukan untuknya!
Lidya mengejapkan mata tak percaya dan menahan nafas saat pria itu datang mendekatinya.
“Sedang menunggu teman?” tanyanya, “saya juga. Boleh saya duduk di sebelah anda? Rasanya capek sekali berdiri di sini.”
Lidya mengangkat bahu dengan cuek, jantungnya mulai berdetak dengan kencang, matanya bergerak mencoba mencari Pak Hasan. Kemana lagi pria tua brengsek itu? Lidya makin gelisah dan ingin segera pergi dari sini. Pria yang genit itu duduk di samping Lidya. Dia sengaja duduk sedikit merapat ke arah si cantik. Lidya bisa merasakan senggolan-senggolan kecil di daerah pinggul dan pantatnya.
“Wah, hp seri **** ya?” tanya pria genit itu lagi sambil menunjuk telpon genggam yang dipegang Lidya. “Saya selalu ingin memiliki hp seperti itu. Sayang di tempat ini sangat susah mendapatkan hp seperti yang anda miliki, hp seri baru stoknya terbatas. Padahal saya tidak peduli dengan harganya yang mahal. Berapapun harganya, pasti saya beli. Saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri, kalau saya menginginkan hp, harus yang memiliki fitur lengkap. Kebetulan hp itu memiliki fitur-fitur seperti yang saya butuhkan.”
Lidya mengangguk dan mengangkat bahu, dia masih cuek dan tidak peduli apa yang dikatakan laki-laki di sebelahnya. Pria itu mendekat dan makin nekat, kini lengan mereka bersinggungan dan saling menempel sisinya. Lidya berusaha menyembunyikan hpnya karena toh telpon genggam itu menyala tanpa simcard. Dia tidak ingin ketahuan oleh si hidung belang ini sedang berpura-pura. Untungnya pria hidung belang itu lebih tertarik memperhatikan paha dan belahan buah dada Lidya yang putih mulus dan menggoda daripada hp yang sedang ia sembunyikan.
Sekali lagi, pria hidung belang itu masih terus mencoba mendekati Lidya.
“Hpnya bagus, cocok dengan pemiliknya yang cantik.” puji si hidung belang dengan rayuannya. “Anda sangat cantik.”
“Terima kasih.” Jawab Lidya mencoba ramah.
“Sebelumnya belum pernah saya memuji seorang wanita yang baru saya temui seperti saat ini.” Kata si hidung belang lagi. “Tapi anda benar-benar mempesona.”
“Terima kasih. Saya beruntung menjadi yang pertama yang pernah anda puji.” Jawab Lidya. Dia menarik nafas lega karena sepertinya orang ini cukup sopan untuk tidak berbuat yang aneh-aneh di tengah keramaian.
“Saya tidak tahu apa yang merasuki diri saya, mudah-mudahan anda tidak tersinggung.” Kata pria itu lagi.
“Ah tidak.” Jawab Lidya pendek. “Saya tidak tersinggung.”
Lidya berusaha membenahi caranya duduk agar pria di sebelahnya tidak bisa menikmati pahanya yang putih mulus dengan bebas. Matanya masih terus mencari Pak Hasan. Kalau hanya digoda oleh laki-laki sudah jadi langganan bagi Lidya, yang membedakan kali ini adalah caranya berpakaian. Dengan busana yang ia kenakan, Lidya seakan seperti seorang pelacur yang sedang menunggu pelanggan. Memalukan sekali!
“Saya juga sangat menyukai pakaian yang anda kenakan, sangat modern dan seksi. Jujur saja saya sangat kagum dengan kecantikan anda. Apakah anda seorang model iklan atau bintang sinetron?” pria itu mulai berani melancarkan serangan.
“Bukan. Saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa.”
Kata-kata ‘ibu rumah tangga’ membuat lelaki itu sedikit terkejut. Jarak mereka merenggang. Lidyapun akhirnya bisa menarik nafas lega. Tapi pria itu masih juga belum mau menyerah.
“Apa anda sedang menunggu suami anda?” tanya laki-laki itu.
“Tidak.” Kali ini Lidya menjawab jujur. “Suami saya sedang berada di luar kota. Saya bersama ayah mertua saya.”
Di saat genting, Lidya malah keceplosan mengatakan hal-hal jujur pada laki-laki ini, tapi memang Lidya mulai kebingungan mencari kata-kata karena ditelan oleh perasaan gelisah yang makin lama makin membuncah, dan pada akhirnya, dia mengatakan hal jujur di saat dia harus berbohong. Keringat si cantik mengalir deras. Laki-laki itu merasa kembali mendapatkan angin, dia merapat lagi, kali ini bahkan agak mendesak tubuh Lidya.
“Wah, kalau begitu suami anda adalah seorang pria yang sangat beruntung karena memiliki seorang istri yang cantik dan seksi yang juga sangat sayang pada mertua.” Katanya. “Saya selalu berharap istri saya berani mengenakan pakaian yang lebih membuat saya bergairah tapi dia selalu menolaknya.”
“Saya yakin istri anda punya alasan sendiri.” Jawab Lidya sambil menjauh.
Lidya tidak berani menatap mata laki-laki di sebelahnya, pria itu menatapnya nanar seperti ingin menjilat seluruh tubuh Lidya. Lidya ingin pergi, dia ingin cepat-cepat meninggalkan pria ini, dia takut sekali, tapi Lidya jauh lebih takut pada Pak Hasan sehingga dia tidak beranjak meninggalkan bangku.
“Tentunya kaki istri saya yang gemuk tidak bisa dibandingkan dengan keindahan kaki anda yang langsing. Suami anda benar-benar seorang laki-laki yang beruntung.” Kata pria itu lagi. “Sayang dia tidak mempedulikan anda dan pergi ke luar kota sendirian…”
“Dia sedang dinas keluar kota .”
“…mungkin saja. Tapi hari ini, di mall ini, pasti banyak orang yang mau meninggalkan istri mereka dan mengajak anda pulang ke rumah.”
“Anda sungguh berani mengatakan hal itu.”
Pria itu tersenyum penuh percaya diri, tangannya perlahan mengelus lengan Lidya yang putih mulus, dia benar-benar yakin Lidya akan jatuh ke tangannya. Si cantik itu mulai jengah, kata-kata orang ini terdengar sopan dan terpelajar, sayang kelakuannya menjijikkan.
“Apakah anda termasuk pria tidak mempedulikan istri anda?” tanya Lidya menantang. Dia menepis tangan pria hidung belang tak dikenal yang mulai keterlaluan itu.
“Bagaimana pendapat anda? Apa anda mau saya ajak pulang?” tanya pria itu sambil cekikikan, wajahnya terlihat sangat nafsu dan menjijikkan. Dalam benaknya pasti sudah terbayang beribu macam cara menunggangi Lidya. Dia pasti sudah gatal ingin melesakkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang rahim si cantik ini.
“Maaf sobat. Tapi nampaknya menantu saya tidak tertarik pada anda.” Sebuah suara menyelamatkan Lidya.
Pak Hasan sudah datang.
Beberapa hari ini Lidya merasa jijik dan marah pada mertuanya, baru kali ini dia merasa sangat lega Pak Hasan datang dan menyelamatkannya dari godaan seorang lelaki hidung belang. Lidya segera bangkit dan berlindung di balik tubuh Pak Hasan. Laki-laki itu tahu diri dan mundur teratur sambil memasang muka masam. Tapi dia masih sempat melirik ke arah Lidya dan menjilat bibirnya penuh nafsu.
Dasar hidung belang!
Pak Hasan memeluk pinggang menantunya dan mereka berjalan lagi menyusuri lorong-lorong mall. Karena sudah diselamatkan dari lelaki iseng dan terlindungi, Lidya diam saja saat tangan mertuanya itu nakal meraba dan meremas-remas pantatnya saat mereka berjalan bersama. Lidya seakan sudah tidak peduli seandainya ada orang yang saat itu menatap mereka.
Satu perasaan bangga memenuhi batin Pak Hasan. Seumur hidupnya, dia belum pernah memiliki suatu hal yang bisa dibanggakan. Kini, saat berjalan bersanding dengan seorang wanita yang masih muda, cantik dan seksi yang bisa ditunggangi setiap saat, banyak lelaki menatapnya iri. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Pak Hasan bisa memamerkan sesuatu yang membuat orang lain ingin menjadi dirinya. Pak Hasan benar-benar puas.
“Bagaimana rasanya, nduk?” bisik Pak Hasan di telinga Lidya.
Sekujur tubuh wanita jelita itu merinding karena bisikan Pak Hasan disertai pula dengan ciuman dan jilatan kecil di telinganya.
“Ra-rasanya apa, Pak?” Lidya menggelinjang geli.
“Bagaimana rasanya digoda laki-laki?”
“Bu-bukan yang pertama kali. Aku tidak suka…” Lidya tidak meneruskan kalimatnya karena sekali lagi Pak Hasan mengendus telinganya yang wangi. Lidya tidak bohong, walaupun terkesan sombong tapi memang dia sudah sering sekali digoda laki-laki hidung belang. Sebenarnya Lidya benci sekali pria semacam itu, karena meskipun Lidya sudah mengenakan pakaian yang sopan, tidak seksi dan tidak menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah, masih banyak yang mendekatinya dengan tidak sopan. Kali ini situasinya sedikit berbeda, karena Lidya jelas-jelas menggunakan pakaian seksi yang mengundang birahi, dia bagaikan seorang pelacur yang sedang menawarkan dagangan dengan mempertontonkan keindahan lekuk tubuhnya. Lidya meneruskan kalimatnya dengan lirih sambil memejamkan mata sesaat ketika lidah Pak Hasan nekat menjelajah daun telinganya di tengah keramaian mall. “…tidak suka…”
“Kamu tidak suka digoda?”
“Ti-tidak…”
Pak Hasan menyeringai jahat.
###
“Kamu kecewa, Mas?”
Dodit yang sedang merapikan bajunya terdiam membisu. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Anissa itu? Jujur saja dia kecewa karena tidak bisa melampiaskan nafsu birahinya yang sedang memuncak, tapi di sisi lain, dia juga sangat bangga pada kekasihnya karena masih menjunjung tinggi nilai dan budaya timur yang kini sudah mulai luntur. Sangat jarang menemui gadis seperti Anissa.
“Kamu pasti kecewa ya, Mas?” Anissa mengulangi pertanyaannya.
Dodit tersenyum dan mengelus rambut tunangannya yang panjang dan indah dengan mesra. “Kenapa harus kecewa? Aku bangga sama kamu, say. Di jaman sekarang ini, susah sekali menemukan gadis yang masih memandang penting keperawanan seperti kamu. Aku bangga dan merasa terhormat. Pernikahan kita sudah hampir tiba, jadi kenapa harus kecewa? Aku hanya perlu sabar dan menunggu sebentar lagi.”
Anissa tersenyum mendengar perkataan Dodit. Dia tidak tahu apakah Dodit berbohong untuk sekedar menenangkan dirinya atau benar-benar jujur, tapi Anissa yakin Dodit pria yang baik, dia bersedia menunggu sampai datang hari pernikahan mereka untuk bisa bersatu dengannya. Anissa tahu saat ini Dodit sudah sangat horny, tapi kemampuannya mengendalikan diri memang pantas diacungi jempol. Dia dengan bangga akan menyerahkan segalanya untuk Dodit di hari pernikahan mereka. Dia akan memberikan miliknya yang paling berharga, kegadisannya yang sudah dia jaga sejak kecil.
“Terima kasih, sayang,” kata Anissa sambil lembut mengecup pipi Dodit, “kau tahu seandainya kau teruskan, aku tidak akan bisa menolakmu karena aku sangat mencintaimu, tapi aku ingin malam pertama kita benar-benar menjadi malam pertama yang sangat berharga.”
Dodit tersenyum dan balas mengecup pipi Anissa, dia kembali terdiam dan membisu. Dodit memutar kunci dan menghidupkan mesin mobil.
###
“Pak, kenapa kita harus mencarinya? Dia menjijikkan! Dia menggodaku… dia… dia…” kata-kata Lidya patah-patah karena bingung mencari kata yang cocok. Dia kesulitan berjalan cepat sambil tetap mempertahankan pakaiannya agar tidak terbuka dengan vulgar, meskipun saat ini dia sudah seperti seorang pelacur hina.
“Itu sebabnya kita harus menemuinya! Bapak akan memberinya pelajaran berharga!”
Pak Hasan mencari-cari pria hidung belang yang tadi menggoda Lidya. Setelah berkeliling dari lantai ke lantai, mereka menemukannya sedang duduk di sebuah restoran siap saji, dia segera menarik tangan Lidya dan menghampirinya. Lidya yang sudah berharap tidak akan bertemu lagi dengan orang itu menjadi sangat kecewa, bagaimana mungkin di mall sebesar dan seramai ini, Pak Hasan bisa menemukan orang itu lagi?
“Selamat siang, mas.” Kata Pak Hasan. Orang itu memang lebih muda dari Pak Hasan, dengan pandangan curiga dan ragu pria hidung belang yang tadi menggoda Lidya menatap ke arah Pak Hasan dan menantunya.
“Ya?” pria genit itu mengernyitkan dahi.
“Kenalkan, nama saya Hasan dan ini menantu saya, Lidya.” Kata Pak Hasan sambil mengajak pria mupeng itu bersalaman.
“Saya Nyoto.” Pria itu masih menjawab dengan pendek, tapi dia tidak melewatkan kesempatan untuk menjabat tangan Lidya dan mengelusnya sedikit. Pria itu terkekeh pelan menikmati halusnya tangan Lidya. Si cantik itu sendiri ingin mati rasanya.
“Saya lihat tadi Mas Nyoto tertarik dengan menantu saya, apa benar?”
“Kalau iya kenapa?” Nyoto menjilat lidahnya ke arah Lidya dengan sengaja, membuat Lidya makin jengah. Dia menarik-narik ujung baju Pak Hasan dan mengajaknya pergi, tapi rupanya mertuanya itu punya rencana lain.
“Yah, menantu saya ini rupanya juga sangat tertarik pada anda. Bahkan dia tadi mengatakan kalau seandainya diberikan kesempatan sebentar saja dia ingin merasakan kehangatan yang mungkin bisa anda berikan padanya. Berulang kali dia meminta untuk kembali dipertemukan dengan anda.” Kata Pak Hasan sambil melirik Lidya puas.
Lidya benar-benar ingin mati, dua pria ini pantas dibunuh. Seandainya bisa, dia ingin mengambil sebilah pisau dan menancapkannya di dada Pak Hasan dan Nyoto. Pria yang bernama asli Sunyoto itu bagaikan baru saja menjadi pemenang undian berhadiah, dia hampir-hampir melompat dari kursinya dan hendak memeluk Lidya. Tapi Pak Hasan menghentikannya.
“Tapi tentu saja, saya tidak bisa mengijinkan Mas Nyoto memakai menantu saya ini, karena biar bagaimanapun juga, dia masih menantu saya dan istri sah dari anak saya. Saya tidak akan mengijinkan siapapun juga menidurinya.” Kata Pak Hasan sambil menatap Nyoto galak.
Nyoto yang ternyata cukup pengecut kembali duduk ke kursinya. Pria genit itu menatap Pak Hasan heran. “Kalau tidak boleh dipakai, buat apa ditawarin?”
“Berhubung anak saya sedang keluar kota, menantu saya ini sangat kesepian. Bagaimana kalau Mas Nyoto bermain-main sebentar dengan buah dadanya? Seperti yang mas Nyoto lihat, Lidya tidak mengenakan BH dan ingin dibelai-belai sebentar di kamar kecil.” Kata Pak Hasan.
Perlahan Lidya meneteskan air mata. Dia sudah tidak mampu lagi berucap ataupun mengeluarkan protes. Penghinaan Pak Hasan sudah hampir membuatnya pingsan, dia sama sekali tidak mengira mertuanya itu akan menyerahkannya pada pria menjijikkan ini.
Nyoto melonjak lagi. “Berapa perlu saya bayar untuk melakukan itu?”
“Mas Nyoto hanya perlu membelikan makan siang untuk kami berdua.”
“Setuju.” Nyoto langsung mengangguk. Dia meraih dompet dan mengeluarkan lembaran ratusan ribu pada Pak Hasan. “Terserah kalian mau makan di mana.”
Dengan buru-buru Nyoto menggandeng lengan Lidya dan menariknya ke kamar kecil di ujung gang yang untungnya sedang sepi. Dia tidak peduli lagi dengan makan siangnya yang belum habis di restoran siap saji tadi. Dia lebih bernafsu menikmati buah dada Lidya. Pak Hasan tertawa sambil mengikuti mereka berdua dari belakang.
Nyoto tidak menunggu terlalu lama, saat berada di gang menuju kamar kecil yang sepi, dia segera menubruk Lidya. Dengan kasar dia membuka kancing baju kemeja Lidya dan tidak mempedulikan airmata yang menetes di pipi wanita cantik itu. Lidya benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali pasrah.
“Kamu pikir kamu bisa lolos dariku, yah?” kata Nyoto sambil terkekeh pada Lidya. “Untung sekali kamu punya mertua yang pengertian. Dasar sombong, rasakan sekarang pembalasanku!”
Dengan sekali sentak, kemeja Lidya terbuka lebar. Perempuan cantik itu menjerit lirih tak berdaya, tangisannya makin menjadi. Buah dada Lidya meloncat keluar tepat di hadapan Nyoto dan pentilnya yang menunjuk ke depan mempesona pria genit itu. Lidya kembali menjerit dan terisak saat Nyoto dengan kasar meremas buah dadanya dengan gemas dan memainkannya dengan nakal. Lidya bisa merasakan jari jemari Nyoto melingkari pentilnya dan perlahan memencetnya. Karena tubuh Lidya dan Nyoto berdempetan, Lidya bisa merasakan gumpalan kemaluan di selangkangan Nyoto makin lama makin membesar.
Cukup lama Nyoto meremas-remas buah dada Lidya dan mereguk kenikmatan darinya, sebelum ada orang yang melewati gang itu, akhirnya Pak Hasan menghentikan ulah cabul Nyoto pada menantunya. Nyoto mengangguk tanda mengerti dan menghentikan serangannya pada dada Lidya. Wanita cantik itu jatuh luruh ke lantai sambil terus menangis terisak-isak.
“Maaf, Mas. Waktunya habis.” Kata Pak Hasan.
“Wah… nanggung sekali, Pak. Saya belum menjilatinya, saya belum menikmati buah dada itu seutuhnya.” Nyoto ngos-ngosan menahan birahi yang sudah hampir memuncak. “Saya ingin lebih, saya ingin menidurinya.”
Nyoto meraih dompet dan bersiap mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu lagi. Pak Hasan tersenyum dan menggeleng. “Maaf sekali, tapi perjanjian adalah perjanjian. Dia masih menantu saya, Mas. Saya masih harus menghormati dia.”
Nyoto menunduk kesal, dengan setengah membentak, dia mendorong Pak Hasan. “Berapapun saya bayar, Pak! Berapapun!! Saya punya ATM, kartu kredit, semua buat Bapak! Saya hanya ingin memeknya! Saya ingin memek menantu bapak ini! Sekali saja!!”
Pak Hasan menyeringai marah dan balas mendorong Nyoto, di luar dugaan, ternyata Pak Hasan jauh lebih kuat dari pria yang sedang birahi ini. “Saya sudah katakan berulang-ulang, perjanjiannya hanya soal buah dada Lidya, bukan memeknya! Dia bukan pelacur!!”
Nyoto menunduk lagi. Akhirnya emosinya perlahan menyurut. Dengan langkah lemas dia meninggalkan Pak Hasan dan Lidya. Di luar dugaan, Pak Hasan mendatangi Lidya dan memeluknya mesra. Lidya memeluk Pak Hasan erat dan menangis sejadi-jadinya. Pak Hasan mengelus-elus rambut Lidya dan memberinya penghiburan. Walaupun merasa aneh, Lidya sedikit merasa terlindung ulah sikap Pak Hasan yang tiba-tiba baik ini.
Nyoto ternyata masih belum menyerah. Dia mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya dan menaruhnya di lantai. “Seandainya bapak butuh uang dan berniat melakukan perjanjian lagi, silahkan hubungi saya. Saya bukan orang yang kaya raya, tapi berapapun saya bayar untuk bisa menikmati memeknya.”
Pak Hasan menatap Nyoto sambil meringis sadis. Dia mengambil kartu nama itu dengan terkekeh. “Yah, kita toh tidak tahu kapan butuh uang. Siapa tahu Lidya suatu saat nanti kangen pada Mas Nyoto.”
Lidya kaget dengan ucapan mertuanya dan mendorongnya menjauh. Pak Hasan dan Nyoto tertawa berbarengan.
“Kurang ajar! Kalian anggap apa saya ini? Barang dagangan? Pelacur murahan?” Lidya menjerit marah. Kesabarannya sudah habis. “Pak, saya ini menantumu! Istri dari anakmu! Teganya kamu melakukan ini semua?”
Plakk!! Tamparan Pak Hasan mendarat di pipi Lidya. Bekas merah merona tertinggal di pipi mulus wanita cantik itu. Lidya kembali menangis tak tertahankan.
“Jangan pernah bicara kurang ajar di depan kenalan baru!” bentak Pak Hasan. “Maafkan menantu saya, Mas Nyoto. Seandainya dia nanti merindukan remasan-remasan anda, pasti saya hubungi anda lagi.”
“Baik, saya tunggu telpon anda.” Kata Nyoto sambil menyeringai puas. Sebelum pergi, pria genit itu mengerlingkan mata pada Lidya yang masih menangis.
Lidya menatap mertuanya ketakutan.
“Bersihkan wajahmu di kamar kecil. Benahi make-upmu! Kuberi waktu sepuluh menit. Kalau selesai dalam sepuluh menit, kita pulang. Kalau tidak, akan aku cari orang lain lagi untuk meremas-remas buah dadamu!”
Lidya segera lari ke kamar kecil dengan terburu-buru.
###
“Bang! Baksonya tiga ya, Bang!”
“Iya Bu!”
Akhir-akhir ini Paidi sering lewat di komplek rumah di sekitar pos kamling lokasi dia memergoki wanita cantik idamannya. Pagi siang malam Paidi berkeliling untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok bidadari yang kemarin lusa dia lihat. Wanita itu sangat cantik dan terlihat seperti wanita baik-baik. Paidi tidak habis pikir apa yang dilakukan wanita seperti itu malam-malam di pos kamling. Bisa dipastikan wanita cantik itu adalah warga komplek ini, itu sebabnya Paidi bersemangat mencarinya. Walaupun nanti kalau sudah bertemu, Paidi tidak tahu apa yang akan dia lakukan.
Hari ini, Paidi kembali berusaha mendapatkan jawabannya. Kebetulan sekali ada tiga orang ibu-ibu komplek yang sedang ngerumpi dan membeli bakso dagangannya. Dengan hati-hati Paidi mendekati mereka dan berpura-pura memotong-motong sayuran, Paidi menguping pembicaraan ibu-ibu yang sedang asyik ngobrol, siapa tahu ada informasi yang bisa dia simpan.
“Eh, Bu Syamsul, katanya Pak Bejo punya cewek simpanan baru lho.”
“Cewek simpanan? Pak Bejo yang gemuk itu? Pak Bejo Suharso? Masa sih, Bu? Siapa yang mau sama Pak Bejo? Istrinya aja nolak-nolak!”
Ibu-ibu itu tertawa.
“Bener kok, Bu. Ini gosip dari Bu Bejo sendiri. Katanya akhir-akhir ini Pak Bejo jadi lebih sering dandan dan lebih wangi. Dia jadi lebih memperhatikan diri. Kalau dulu boro-boro dia mau pakai minyak wangi, sikat gigi aja jarang!”
“Ah, Bu Tatang ini…”
“Kalau berita itu bener, saya jadi heran sendiri. Siapa sih wanita bodoh yang mau sama Pak Bejo? Meskipun di depan orang kelakuannya baik, tapi sebenarnya itu kedok karena di belakang dia punya perangai dan watak yang jelek! Busuknya kan sudah terkenal sampai kemana-mana! Kasihan istrinya.”
“Iya tuh, saya juga sering ngeri kalau melihat Pak Hendra dan Bu Hendra mempercayakan rumah dan anak pada Pak Bejo. Mungkin mereka satu-satunya warga yang tidak tahu seperti apa Pak Bejo sebenarnya.”
“Yah, kalau soal itu sih, awalnya juga tidak ada yang tahu, Bu Syamsul. Soalnya Bu Bejo kan orangnya baik banget! Suka menolong dan ramah. Bu Hendra juga baik, tidak pernah mencurigai orang dan sifatnya lemah lembut, jadi saya yakin keluarga Pak Hendra pasti mempercayai keluarga Pak Bejo.”
“Eh, jangan-jangan cewek simpenan Pak Bejo itu Bu Hendra yah?”
Ibu-ibu itu kembali tertawa.
“Ah, Bu Tatang ini ngaco terus! Mana mau Bu Hendra sama Pak Bejo! Suaminya saja cakep banget, belum lagi Pak Bejo itu gemuk, botak dan jelek! Buat apa Bu Hendra yang cantik dan seksi itu selingkuh sama Pak Bejo? Kalau beneran mau selingkuh kan dia bisa cari laki-laki lain yang lebih cakep? Ah ada-ada saja.”
“Bener, Bu Syamsul. Bu Hendra itu bener-bener tipe ibu rumah tangga idaman di komplek kita. Masih muda, cantik, seksi, setia, baik, ramah, sopan, udah gitu lemah lembut pula. Gak ada kurang-kurangnya. Suami saya aja sering diam-diam melirik nakal kalau sedang berpapasan di jalan dengan Bu Hendra.”
“Wah, suami saya juga, Bu Sani. Kalau sudah ketemu Bu Hendra, itu mata kayaknya nggak mau lepas-lepas! Dilalapnya sampai habis penampilan Bu Hendra dari atas ke bawah! Kakinya yang jenjang, kulitnya yang putih mulus, bodinya yang aduhai, buah dadanya yang indah, wajahnya yang cantik, semua ditelan mentah-mentah. Dasar laki-laki, kalau sudah lihat yang bening lupa sama istri sendiri!”
Ibu-ibu itu tertawa lagi.
Paidi mengangguk-angguk sambil memainkan mangkok baksonya. Pria itu sepertinya mulai menemui titik terang.
Paidi mencatat informasi yang didapatkannya dari percakapan ibu-ibu itu dalam benaknya. Sepertinya ada seorang wanita yang sangat cantik dan seksi yang tinggal di komplek ini dan menjadi idola tidak saja bagi kaum pria tapi juga kaum wanita. Perempuan itu adalah istri dari seorang warga komplek yang bernama Hendra, apakah mungkin dia wanita yang dia lihat malam itu?
Paidi jelas berniat mencari tahu.
###
Lidya masuk ke kamarnya dengan langkah lunglai. Badannya lemas dan capek, wajahnya kuyu, seluruh kekuatannya telah diserap habis oleh kegiatannya sehari bersama Pak Hasan. Dia sudah tidak bisa lagi menangis sedih karena sangat lelah. Dia hanya ingin bisa tidur dengan tenang malam ini.
Lidya menatap dirinya sendiri dalam cermin, dia seolah melihat seorang pelacur yang sudah kelelahan melayani pelanggan. Tidak nampak lagi sosok wanita cantik yang ceria seperti dahulu, tidak ada lagi senyum tersungging di bibirnya yang mungil. Semua hilang karena ulah mertua yang cabul.
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan Pak Hasan masuk sambil cengengesan.
Untuk beberapa saat lamanya Lidya berdiri kebingungan tanpa tahu apa yang sebaiknya ia lakukan. Mulutnya sudah terbuka, tapi tak kunjung keluar kata-kata yang bisa ia ucapkan. Seluruh pikirannya sudah kabur. Akhirnya Lidya hanya berkata lirih. “Apa yang Bapak inginkan? Aku capek sekali.”
“Apa yang aku inginkan? Kamu ini benar-benar bodoh atau cuma pura-pura saja, nduk? Tidak usah pakai basa-basi, langsung dibuka saja bajumu.” Perintah Pak Hasan. “Sejak tadi pagi aku menahan diri tidak memakai memekmu, sekarang saat yang tepat”
Wajah Lidya berubah menjadi muram. Dalam hatinya dia sudah berharap Pak Hasan tidak akan menyetubuhinya lagi malam ini. Harapannya jelas tidak terwujud. Lidya berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Mertuanya yang cabul itu sudah pernah menidurinya beberapa kali dan pakaian yang dikenakannya sendiri saat ini sangat terbuka, apalah bedanya kalau saat ini dia bugil atau tidak?
Senyum yang tersungging di bibir Pak Hasan makin melebar saat melihat Lidya melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Seluruh pakaian yang dibelinya siang tadi di Mall akhirnya terlepas dari tubuh sang menantu. Kemeja tipis menerawang tanpa BH, rok mini hitam yang seksi dan celana dalam g-string super kecil jatuh satu persatu ke lantai.
“Indah sekali.” Pak Hasan tertawa puas menyaksikan menantunya sendiri berdiri telanjang bulat dan kedinginan dihadapannya. Pria tua itu juga meringis melihat Lidya berusaha keras menutupi rasa malu luar biasa yang ditimbulkan karena berdiri tanpa sehelai benangpun di depan mertuanya sendiri. “Berbaliklah, nduk. Aku ingin melihat pantatmu.”
Lidya menggigit bibir bawahnya dengan geram dan menurut pada perintah Pak Hasan. Wanita cantik itu berbalik dengan sangat perlahan sehingga mertuanya bisa melihat dengan jelas gelombang gerakan erotis yang ditimbulkan oleh pantat Lidya. Pantat sang menantu sangat mempesona Pak Hasan. Pantat yang bulat, putih mulus dan tanpa cacat, kemolekan yang sempurna.
“Menakjubkan.” Kata Pak Hasan. Matanya nanar menatap keindahan bokong sang menantu. “Berbaringlah di ranjang dan buka kakimu lebar-lebar. Aku pengen ngentot sekarang.”
Lidya menahan nafas karena terkejut dan mulai panik. Dia berusaha menghindar dari Pak Hasan. Setelah seharian mendapatkan rangsangan demi rangsangan, Lidya takut dia mulai rindu pada kontol sang mertua yang beberapa hari ini telah membuatnya orgasme berkali-kali. Hal ini berusaha dihindarinya sedini mungkin. Dia tidak mau tenggelam dalam nafsu pada sang mertua. Dengan rasa takut yang amat sangat, Lidya berusaha menghindar. Dia masih memiliki kesadaran untuk menolak. Walaupun sudah pernah diperkosa, Lidya tetap menolak untuk pasrah. Tapi apalah daya seorang wanita lemah sepertinya? Apalagi kini Lidya sudah bugil di hadapan sang mertua.
“Baiklah, sepertinya kau mendapat kesulitan berkomunikasi dengan Bapak, ya nduk?” kata Pak Hasan sambil tersenyum lebar. “Bagaimana kalau kita adakan perjanjian saja?”
“Pak, aku mohon. Cukuplah apa yang Bapak lakukan ini. Perbuatan kita sangat nista, Pak. Ijinkan aku…”
“Shhh, jangan ribut to, nduk. Kita buat perjanjian saja ya? Soalnya aku masih penasaran sama tubuhmu yang seksi itu,” kata Pak Hasan. Wajahnya terlihat sangat sadis dan membuat Lidya bergidik ketakutan, tamparannya siang tadi di mall masih terasa panas di pipinya, “Kali ini kau akan memperbolehkanku menyetubuhimu tanpa perlawanan. Tidak hanya itu saja, kali ini kau juga harus membuatku orgasme dan kalau kau tidak bisa membuatku orgasme secepat mungkin, ah, resiko ada di tanganmu…”
Lidya menatap Pak Hasan heran. “Kenapa resiko ada di tanganku?”
“Oh ya, Lidya sayang. Ada sesuatu yang lupa aku sampaikan padamu.”
Lidya menatap mata ayah mertuanya dengan pandangan bertanya-tanya. Tubuhnya yang telanjang menggigil terkena angin. Lidya berusaha menutup ketelanjangannya dengan memeluk dirinya sendiri. Tangan kanan menyilang menutupi pentil dan tangan kiri menutup gundukan lembut di selangkangan.
“Aku bohong soal Andi.” Kata Pak Hasan.
Jantung Lidya berdetak kencang, perlahan rasa takut menyebar di seluruh tubuhnya. Pak Hasan tersenyum menghina, dia bergerak mendekati Lidya dan memeluk tubuh menantunya itu erat-erat. Tangan-tangannya yang nakal mengelus dan meraba lekuk-lekuk tubuh Lidya. Wanita cantik itu masih tak bergeming, kedua tangannya juga masih berusaha menutup auratnya. Pak Hasan terkekeh, dia dengan berani menyentakkan tangan kanan Lidya dan meremas-remas payudaranya perlahan.
“Andi pulang hari ini. Dia baru saja telpon dari bandara.” Kata pria tua itu.
Mata Lidya terbelalak.
“Dia akan segera sampai di rumah.”
Dengan panik Lidya mencoba melepaskan diri dari pelukan ayah mertuanya. Menantu Pak Hasan yang cantik itu menjerit-jerit dan menangis tak tertahankan, dia berusaha menarik tubuhnya dari kuncian sang mertua namun tidak berhasil. Tubuhnya yang indah dan basah oleh keringat tak bisa lepas dari pelukan Pak Hasan.
“Lepaskan aku! Lepaskan! Andi sudah mau pulang! Kita tidak boleh terlihat seperti ini! Kumohon, Pak! Kasihani aku! Kasihani akuuu!!”
Pak Hasan meringis sadis dan tak memberi ampun sedikitpun. Gerakan tangannya meremas buah dada Lidya malah makin kencang.
“Aduh, sial sekali! Aku lupa mengunci pintu depan!” goda Pak Hasan.
Lidya menjerit-jerit ketakutan. Pelukan Pak Hasan makin erat.
“Bagimana menurutmu, nduk? Aku janji akan segera melepaskanmu begitu aku mencapai klimaks. Sebaiknya kita segera bersetubuh dengan cepat karena Andi hampir sampai. Aku tidak berani menjamin apa yang akan dilakukan anakku itu padamu seandainya dia pulang mendapati istrinya yang cantik jelita telanjang bulat digauli oleh bapaknya sendiri. Jujur saja, aku tidak peduli seandainya Andi pulang dan menemui kita dalam posisi seperti ini, tapi aku yakin pendapatmu pasti sebaliknya. Pasti kau ingin ini semua cepat selesai, iya kan?”
“Ba-bapak benar-benar sudah gila… aku… aku tidak bisa melakukannya! Mas Andi… mas Andi sudah mau pulang! Ti-tidak akan sempat! Kita tidak akan sempat ber…” Lidya menjerit putus asa, tubuhnya yang telanjang kian bersinar indah karena derasnya kucuran keringat bercampur dengan air mata. Wajahnya yang menunjukkan rasa takut dan gelisah malah membuat Pak Hasan kian terangsang dan bergairah. Pria tua itu melepaskan pelukannya dan berdiri di dekat ranjang.
“Tidak sempat bercinta, maksudmu? Kalau begitu, tidak ada waktu lagi untuk berpikir, nduk,” kata Pak Hasan sambil menyeringai, “Andi bisa setiap saat pulang ke rumah. Berapa jam sih waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sini dari bandara?”
“Tidak bisa. Tidak sempat. Tidak … aku tidak mau!” Lidya terus menggeleng. Pikirannya kalut. Dia meremas-remas jemarinya dengan perasaan gelisah.
“Waktu terus berjalan, nduk,” Pak Hasan terkekeh menghina, “Sebenarnya kau tidak punya banyak pilihan, kalau tidak mau melayaniku, ya berarti kau lebih memilih kuperkosa saja. Karena kalau itu yang kau mau, aku tidak yakin Andi bisa menerima kenyataan yang harus dihadapi. Bayangkan, istri dan ayahnya…”
“Hentikan!! Jangan bapak teruskan kata-kata itu!!” Lidya makin panik.
Desah nafas Lidya yang memburu kian keras terdengar, bahkan sampai ke telinga Pak Hasan. Dadanya naik turun dengan cepat dan nafasnya yang cepat terdengar berat. Lidya berusaha mencari jalan keluar dari situasi ini tapi sepertinya tidak ada pilihan yang bisa menyelamatkannya.
Lidya menundukkan kepala dengan pasrah. Tidak ada jalan lain.
Lidya berbisik lirih memohon maaf kepada suaminya. Sambil terburu-buru Lidya segera menghampiri Pak Hasan, menarik celana pendeknya dan meraih tongkat kemaluan kebanggaan sang mertua. Mata Lidya terbelalak melihat ukuran penis Pak Hasan yang terlihat jauh lebih besar dari sebelumnya.
“Nah, gitu kan enak, bagaimana kontolku, nduk? Pas di tanganmu yah?” Pak Hasan tertawa melihat menantunya akhirnya mau melayaninya tanpa paksaan. Selama ini Pak Hasan hanya berhasil memperkosa Lidya, belum bisa membuat menantunya yang cantik itu bercinta dengannya dengan kesadaran sendiri. Kali ini akhirnya apa yang diimpikannya menjadi kenyataan.
Lidya tidak menjawab sindiran Pak Hasan. Matanya berulang kali menatap ke arah jendela dengan takut. Lidya segera mulai mengocok kontol Pak Hasan. Jemari lembut Lidya bergerak cepat mengocok penis Pak Hasan naik turun dengan harapan pria tua yang bejat itu segera mencapai klimaks.
“Ayo cepat, cepat…” desis Lidya, matanya terus beralih dari jendela ke kemaluan Pak Hasan. Lidya makin tidak sabar dan bertanya-tanya butuh waktu berapa lama lagi Pak Hasan akan menembakkan spermanya.
“Menyenangkan, sayang,” kata Pak Hasan, “Tapi percayalah, kalau cuma begini terus aku tidak akan cepat mencapai klimaks.”
Lidya mulai merasa pening. Dia benar-benar sangat stress. Pandangan matanya terus beralih dan berputar, cukup lama dia menatap penis Pak Hasan yang besarnya luar biasa itu. Mertuanya itu benar, kalau hanya begini saja pasti akan memakan waktu yang sangat lama.
“Dasar!” teriak Lidya kalut, dengan serta merta dia melepaskan pegangan pada kontol Pak Hasan dan menarik celana pendek sang mertua sampai ke bawah. Kontol besar milik mertuanya itu bergelantungan di depan wajah Lidya.
Lidya menarik nafas panjang karena lagi-lagi harus melakukan hal yang tidak begitu disukainya. Seandainya ini Andi, Lidya akan melakukannya dengan sukarela dan penuh rasa cinta, tapi kontol di depan wajahnya ini justru milik ayah dari Andi, mertuanya sendiri.
Lidya menarik batang penis Pak Hasan yang menegang dan berukuran besar. Si cantik itu sempat melirik ke arah mertuanya yang tersenyum meringis dengan wajah menghina. Lalu sambil mencoba menahan nafas agar tidak tersedak, kepala Lidya maju ke depan dan mulutnya membuka. Perlahan lidahnya yang mungil mulai menjilat ujung gundul kepala penis Pak Hasan. Gerakan Lidya makin lama makin cepat, dia berusaha menelusuri setiap jengkal penis Pak Hasan dengan lidahnya itu. Pak Hasan mendesah penuh kenikmatan.
Lidya menggelengkan kepalanya dengan jengkel karena penis Pak Hasan tidak segera mencapai klimaks walaupun dia sudah berusaha keras. Panik mulai merasuk ke dalam diri Lidya.
“Memang enak dijilati seperti itu, sayang,” kata Pak Hasan, “tapi aku tidak akan mengeluarkan sperma dan mencapai kepuasan maksimal hanya dengan cara seperti itu. Bersiap-siaplah. Sebentar lagi Andi akan segera pulang…”
“Ahhhhhhhh!” Lidya menjerit keras-keras karena panik dan bingung.
Setelah berpikir keras dan tak kunjung mendapat solusi, akhirnya Lidya menyerah. Tubuh indah wanita cantik itu pasrah dalam mendekap sang mertua yang bejat. Pak Hasan makin bergairah saat merasakan gesekan buah dada Lidya pada tubuhnya, baru kali inilah Lidya mau memeluknya. Menantunya yang cantik itu kini sedang meletakkan penis Pak Hasan tepat di pintu masuk surgawinya. Dengan jemarinya yang lentik, Lidya memasang penis sang mertua tepat di bawah lubang memeknya.
“Nah, gitu dong! Dari tadi kek!”, Pak Hasan terkekeh-kekeh dan menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan santai.
Lidya sempat ragu-ragu ketika dia mulai merasakan ujung kepala kontol mertuanya mengelus bibir vaginanya dengan lembut, tapi perasaan ragu itu hilang karena Lidya kemudian teringat apa yang akan terjadi seandainya dia tidak segera melayani Pak Hasan. Setelah menarik nafas panjang dan memejamkan mata menahan sakit, Lidya menurunkan badannya dan merasakan batang kemaluan sang mertua perlahan memasuki lubang vaginanya.
Kedua orang yang tengah bersenggama itu melenguh bersamaan. Mereka mendesahkan gairah dengan alasan yang berbeda. Lidya mendesahkan rasa gelisahnya karena telah melayani seorang pria yang bukan suaminya. Wanita itu merasa bersalah dan tidak berdaya karena diharuskan melayani ayah mertuanya sampai dia bisa orgasme dan ini semua berlangsung karena paksaan mertuanya yang bejat itu. Lenguhan panjang Pak Hasan adalah lenguhan kepuasan. Kebalikan dari apa yang dirasakan oleh Lidya, Pak Hasan merasa sangat puas bisa menyetubuhi menantunya yang memiliki tubuh luar biasa seksi itu. Semua paksaan dan intimidasi yang dilakukannya pada Lidya akhirnya berbuah juga, Lidya akhirnya mau melayaninya. sebenarnya Lidya tidak ingin ini semua terjadi karena Pak Hasan yang menyuruhnya melakukannya. Pria tua bejat itu amat menyukai kekuatan, dia bangga bisa membuat seseorang melakukan hal-hal yang di luar kebiasaannya, melakukan suatu hal yang biasanya tidak pernah atau tidak mungkin akan mereka lakukan dalam kondisi normal.
Lidya meremas pundak Pak Hasan karena rasa nikmat yang dia alami sudah di ambang batas. Wanita jelita itu bisa merasakan rasa hangat yang melanda seluruh tubuhnya. Cengkraman Lidya di pundak sang mertua membuat tubuh indah Lidya bergerak naik turun dengan kecepatan tinggi mengendarai penis Pak Hasan. Tidak pernah terbayangkan dalam benak Lidya dia akan bersetubuh dengan Pak Hasan, apalagi harus memberikan pelayanan ekstra.
Pak Hasan makin menikmati permainan kali ini. Sudah dua kali dia bersetubuh dengan menantunya yang bohay itu, tapi baru kali ini Lidya sendiri yang mau melayaninya tanpa harus diperkosa. Pak Hasan menyandarkan tubuh ke belakang dan memejamkan mata menikmati detik demi detik saat memek Lidya naik turun dengan cepat mengendarai batang penisnya yang berdiri tegak menjulang ke atas. Batang kemaluan Pak Hasan mulai basah oleh cairan cinta Lidya. Buah dada Lidya yang indah mental ke atas dan ke bawah seiring gerakan tubuhnya. Keringat yang mengucur deras membasahi tiap inci bagian tubuh Lidya termasuk di puting susunya yang menegang ke depan.
Lidya berusaha mengenyahkan semua pikiran erotis dan nafsu birahi yang melanda seluruh badannya. Namun sebuah perasaan aneh membuatnya terangsang secara perlahan. Perasaan itu adalah wujud ketidakmampuannya untuk mengendalikan situasi, Lidya yang biasanya ceria dan enerjik itu kini berada dalam kendali seorang pria yang seharusnya menjadi figur ayah, bukannya malah melesakkan penisnya dalam-dalam ke tubuhnya. Tiap kali penis Pak Hasan melesak masuk dan menghantam dinding vaginanya dengan penuh kekuatan, Lidya mengeluarkan desahan demi desahan menyuarakan kenikmatan, tapi Lidya tidak akan mau mengakuinya.
Lidya berusaha keras membuat pria tua ini segera mencapai klimaks. Dia menggunakan seluruh kekuatan dan kecepatannya. Lidya bahkan mencoba melakukan gerakan-gerakan erotis yang selama mungkin bahkan belum pernah dia praktekkan pada suaminya sendiri. Wanita cantik itu sesekali memutar pinggulnya, membuat gerakan melingkar tiap kali bibir memeknya sudah menyentuh ujung batang penis Pak Hasan.
“Bagus sekali, nduk!” pria tua itu tertawa puas. “Begitu baru enak! Kenapa nggak dari tadi? Ayo teruskan! Teruskan!”
Lidya tidak akan sudi menjawab kata-kata sang mertua. Dia melanjutkan gerakan naik turun mengendarai batang kemaluan Pak Hasan dengan kecepatan yang makin meningkat. Makin lama makin cepat. Lidya menghantamkan pantatnya ke arah paha Pak Hasan yang gemuk, mengocok penis keriput sang mertua dengan memeknya dan berusaha keras membuat pria tua bejat itu mencapai titik akhir permainan cinta mereka.
Makin lama Lidya makin berani mengangkat pantatnya lebih tinggi dan menghantamkannya ke bawah dengan kekuatan penuh dan kecepatan tinggi. Lubang vagina Lidya yang sudah basah oleh cairan cinta menelan seluruh batang kemaluan gemuk milik Pak Hasan. Lidya meneriakkan jeritan kekecewaan dan rasa panik, tapi bagi Pak Hasan, teriakan itu terdengar seperti kenikmatan yang makin memuncak.
Lidya melakukannya berulang-ulang kali, ia mengendarai batang kemaluan mertuanya dengan kecepatan tinggi seperti kesetanan. Lidya menghantamkan memeknya ke bawah sampai ke batas pangkal kemaluan Pak Hasan dengan keras. Naik turun naik turun. Berulang-ulang.
Pak Hasan serasa berada di nirwana. Pria tua itu menjerit dan melenguh dengan puas, dia sangat menikmati setiap detik saat memek menantunya yang cantik meremas penisnya yang besar dan menyukai tiap kali bibir memek Lidya mengatup dan menjepit batangnya saat tubuh indah Lidya naik turun dengan cepat. Sungguh sangat nikmat.
“Hampir!!” teriak Pak Hasan.
“Cepaaat! Cepaaaaat!!” jerit Lidya panik. Lidya memperkirakan sang mertua akan segera mengeluarkan air maninya. Seluruh desah dan tangisannya adalah karena paksaan Pak Hasan, tapi entah kenapa Lidya tidak yakin lagi. Dia tidak yakin apakah dia sudah berhasil membuat mertuanya itu mencapai klimaks, atau malah dirinya sendiri yang keenakan dan mendapatkan kepuasan batin.
Lidya masih bergetar dan tidak mampu mengembalikan kesadarannya dengan sempurna. Penis Pak Hasan masih terus berdenyut dan bergerak maju mundur tanpa terhenti di liang cintanya. Campuran antara kenikmatan dan rasa bersalah membuat Lidya tidak mampu melakukan apa-apa, seluruh tubuhnya lemas.
Cairan bening mengalir melalui sela-sela memek Lidya yang kini tersumpal oleh batang penis mertuanya sendiri. Lidya tidak peduli apakah dia sudah mencapai orgasmenya atau belum. Dia tidak peduli seandainya cairan cintanya meleleh, kalaupun benar dia sudah klimaks, istri Andi itu tidak ingin mengetahuinya. Lidya hanya punya satu keinginan saat ini dan itu adalah membuat Pak Hasan orgasme. Tubuh indah wanita muda itu terus bergerak naik turun, membiarkan penis sang mertua merajai liang cinta yang seharusnya hanya diserahkan pada sang suami.
Bibir memek Lidya menjepit kontol Pak Hasan lebih erat lagi dan sang mertua melenguh keenakan, mertua bejat itu kembali melesakkan satu sentakan keras ke dalam vagina Lidya. Gerakan tubuh Lidya yang turun ke bawah disambut oleh gerakan pinggul sang mertua yang mendorong batang kemaluannya ke atas. Sekali lagi Pak Hasan melenguh puas sebelum akhirnya menembakkan spermanya ke dalam vagina sang menantu.
“Akhirnyaa… keluaaar…” desah Lidya lemas. Seluruh tubuh wanita jelita itu basah oleh keringat dan dia juga terengah-engah kelelahan. Lidya hampir-hampir tidak bisa bernafas.
Terdengar bunyi bel berdentang.
Pak Hasan tersenyum mesra menatap menantunya yang ketakutan mendengar bel itu. Mertua bejat itu mencium bibir Lidya dan menampar pipi pantatnya dengan lembut. “Itu, anakku sudah pulang.” Kata pria tua itu. “Sana kau sambut suamimu, Nduk.”
Lidya segera bergegas melepaskan diri dari pelukan Pak Hasan. Dia buru-buru mengenakan pakaiannya dan berlari ke bawah menuju pintu depan.
Bersambung…
KEJUTAN PRIA TUA
Anissa Wibisono. Cantik. Seksi.
Pak Bejo geleng-geleng kepala dengan takjub, pria tua cabul itu sedang asyik memotong rumput dan memperhatikan kegiatan Anis, Opi dan Dodit yang sedang bermain-main di halaman rumah Hendra dan Alya. Gadis muda itu mengenakan celana jeans pendek dan kaos tipis yang bisa dibilang gagal menyembunyikan balon payudara pemiliknya yang sempurna, BHnya yang berwarna merah jambu bisa terlihat dari kejauhan karena diterawang sinar matahari.
Pak Bejo tersenyum sendiri saat menyaksikan buah dada Anissa melonjak-lonjak ketika sedang berlarian bersama Opi. Payudara sempurna itu mental ke atas dan ke bawah dengan mempesona, membuat pria tua itu meneteskan air liur mesum. Belum lagi menatap pantatnya yang hanya dibungkus celana jeans ketat yang ukurannya sangat mungil. Kakinya yang jenjang begitu mulus dan seputih pualam, ingin rasanya Pak Bejo mengelus paha indah milik Anissa.
Tubuh yang indah, seperti apa ya kira-kira tubuh itu kalau telanjang? Pasti lebih menggiurkan lagi. Pasti segar rasanya menyetubuhi tubuh gadis muda seperti Anissa. Pak Bejo terkekeh, sebentar lagi gadis itu akan menikah, dia bertanya-tanya apakah Anis masih perawan atau tidak, mungkin perlu ditest dulu sebelum menikah. Pak Bejo terkekeh mesum.
Mungkin sedang beruntung, tiba-tiba saja Anissa membungkukkan badan menghadap ke arah Pak Bejo ketika sedang bermain bersama Opi. Bagian atas kaosnya yang longgar memberikan kesempatan pada Pak Bejo untuk menikmati belahan dada gadis muda itu.
“Wah, wah, pagi-pagi sudah disuguhi susu non Anis. Enak enak enak. Putih mulus, besar bulat, wah, pasti lezat sekali dijilati.” Pak Bejo mengecap lidah menatap keindahan belahan dada Anis yang bisa dilihat jelas olehnya. “Lihat ginian saja aku ngaceng, apalagi kalau pegang.”
Tiba-tiba saja Anissa berbalik dan kali ini Pak Bejo disuguhi keindahan bulat pantatnya yang juga sempurna. Bokong gadis itu begitu indah menopang kedua kaki jenjangnya, menyeruak ke atas seakan minta dielus seseorang.
“Kalau sampai tidak bisa menjejalkan kontolku ke dalam anus Anissa, namaku bukan Bejo Suharso!” batin Pak Bejo sambil pelan mengelus kemaluannya yang kian membesar. “Akan kubelah memek dan anusnya sampai gadis itu tidak bisa lagi berdiri tegak!”
“Ayo, semuanya! Sarapan dulu!” panggil Bu Bejo dari dalam rumah, menghancurkan lamunan suaminya yang cabul.
###
Air hangat yang menyegarkan seluruh badan Alya yang terasa pegal membuatnya rileks. Gelembung sabun yang meletup-letup seakan mengingatkan Alya pada permainan cintanya yang panas dengan tetangganya yang cabul, Pak Bejo. Ketika menyabuni kakinya yang panjang dan jenjang, Alya berusaha keras untuk tidak bermain-main dengan kemaluannya, dia membuang jauh-jauh semua birahi yang setiap saat dikobarkan oleh Pak Bejo. Wanita cantik itu bersungut dan memaki pria tua itu dalam hati, Pak Bejo telah membangkitkan gairah seksual liar di dalam dirinya dan karenanya Alya membenci pria tua itu setengah mati. Alya hanyalah seorang wanita lemah yang dimanfaatkan dan tidak bisa melepaskan diri dari cengkramannya. Alya beruntung karena kehadiran Anissa dan Dodit membuat Pak Bejo sedikit menarik diri karena tidak bisa diam-diam mendekatinya.
“Mandinya enak, manis?” tiba-tiba saja sesosok tubuh yang sangat ia kenal hadir di hadapan Alya tanpa diundang.
“Pak Bejo?!” Alya yang kaget spontan menutup dadanya dan menenggelamkan diri di dalam bak mandi. Hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan karena pria tua itu toh sudah pernah melihatnya telanjang berulang kali.
“Pak Bejo!” teriak Alya lagi ketika Pak Bejo membuka celananya. Batang kemaluannya yang besar dan keras dikeluarkan dari dalam celana dan pria menjijikkan itu kemudian kencing sembarangan. Alya panik namun tidak bisa berbuat apa-apa, bagaimana mungkin laki-laki ini bisa masuk ke kamar mandi pribadinya? Alya yakin sekali dia sudah mengunci pintu kamar, jangan-jangan Pak Bejo sudah menduplikat kunci semua pintu di rumah ini? Ketegangan Alya memuncak karena Hendra belum berangkat kerja dan masih sarapan di belakang bersama Anissa, Dodit dan Opi. Alya tidak tahu di mana Bu Bejo berada, mungkin sedang bersih-bersih. Walaupun marah, pandangan Alya langsung terpatri pada kemaluan Pak Bejo yang memang besar itu.
“Kamu kangen sama kontolku, manis?” Pak Bejo tersenyum meringis.
“Pak Bejo sudah gila? Mas Hendra ada di belakang! Anissa! Dodit! Opi! Bu Bejo! Kalau sampai ketahuan Pak Bejo masuk kemari…”
“Santai saja, Mbak Alya. Suamimu memang masih di belakang dan aku memang tidak berencana lama-lama di sini. Aku hanya mampir untuk memastikan tubuhmu masih seindah beberapa malam yang lalu. Aku kangen sekali sama kamu.” Pak Bejo dengan santai mendekati Alya dan duduk di tepian bak mandi tanpa menaikkan lagi celananya. Dia membiarkan saja kemaluannya tergantung di hadapan Alya.
“Aku ingin mandi tanpa diganggu, Pak. Silahkan meninggalkan kamar mandiku sebelum aku berteriak.”
“Ha ha ha. Beraninya kamu mengancamku, manis. Untung saja hari ini aku sedang tidak mood menamparmu, jadi kamu selamat, tidak perlu kerepotan lagi menyembunyikan lebam di wajahmu dengan bedak. Jangan khawatir, aku tidak akan lama.”
Pak Bejo memiringkan tubuhnya ke dalam bak mandi, tangannya yang kasar menarik leher Alya supaya lebih maju ke depan. Dengan hati-hati Pak Bejo menarik tubuh Alya dan mendekatkan kepala mereka. Bibir Pak Bejo segera mencumbu bibir Alya, lidah pria tua itu tidak kesulitan menyeruak masuk ke dalam rongga mulut Alya. Sambil melenguh lirih, Alya menerima ciuman Pak Bejo dan memejamkan mata. Alya beruntung ciuman itu tidak berlangsung lama, Pak Bejo melepaskan Alya kembali ke dalam bak mandi.
“Pak Bejo sudah gila! Nekat! Bagaimana kalau sampai ada yang tahu Pak Bejo masuk ke kamar mandiku?!”
“Aku sudah bosan main di belakang terus. Aku ingin bisa menidurimu siang malam tanpa khawatir, soalnya tubuhmu yang seksi itu benar-benar membuatku blingsatan tidak bisa tidur.”
“Dasar cabul!”
“Setelah apa yang Mas Hendra dan Mbak Alya lakukan dengan membantu aku dan Bu Bejo sekeluarga, tentunya aku bertekad untuk mengembalikan semua bantuan itu tanpa pamrih pada kalian.”
“Apa maksud Pak Bejo?”
“Tak lama lagi aku pasti bisa menidurimu tiap kali aku mau tanpa harus menunggu suamimu pergi bekerja atau tertidur lelap.” Bisik Pak Bejo mesra di telinga Alya. “Kenikmatan yang kau rasakan akan menjadi seratus persen murni berasal dariku dan memekmu yang lezat itu akan melupakan penis Hendra yang kecil dan tak bisa lepas dari kontolku ini.”
“KELUAR! KELUAR SEKARANG JUGA!” bentak Alya. Dia berusaha keras menahan suara agar tidak ada mendengar keributan di kamar mandi ini. Selain kemarahannya memuncak, ibu muda yang panik itu juga tidak ingin skandalnya dengan pria mesum ini terkuak karena ulahnya yang berengsek dan nekat.
Pak Bejo tertawa-tawa, sambil membenahi celananya dia keluar dengan lagak sombong, dia merasa sudah berhasil menaklukan Alya yang jelita dan diidolakan banyak orang, dia pantas untuk sombong.
Setelah Pak Bejo meninggalkan kamar mandi dan menutup pintu, Alya berulang kali membenamkan kepalanya ke dalam air. “Pria tua mesum itu makin tak terkendali. Nekat sekali dia masuk kemari dan menciumku…” batin Alya.
###
Dengan gelisah Dina menunggu panggilan.
Sudah hampir setengah jam ia menunggu panggilan Pak Pramono. Entah apa maksud pria tua itu memanggilnya ke kantor. Dina punya cukup alasan untuk gelisah, dia baru saja bertemu dengan beberapa orang teman Anton dan menurut mereka suaminya itu sudah menghilang sejak pagi tadi. Mereka memperkirakan, itulah alasannya Pak Pram memanggil Dina ke kantor, dengan karir yang makin tersendat sungguh tidak bijaksana bagi Anton kalau tiba-tiba saja dia memutuskan untuk pergi tanpa pamit.
Mungkin saja Anton tiba-tiba kalut setelah mengetahui skandal finansial yang dilakukan olehnya telah menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan. Tanpa mengetahui perjanjian rahasia yang dilakukan oleh Dina dan Pak Pram, Anton lantas melarikan diri entah kemana. Dina takut Pak Pramono mengingkari perjanjian yang sudah mereka sepakati, Dina bersedia diapakan saja oleh Pak Pram asal mengampuni kesalahan suaminya. Seharian ini Dina tidak bisa menghubungi telpon genggam sang suami, kekhawatirannya makin memuncak ketika Pak Pramono kemudian juga menghubunginya lewat sms. Tapi pesan sms dari Pak Pramono di hp Dina sudah jelas mengatakan kalau dia memanggilnya karena ‘alasan’ lain. Untuk kesekian kalinya, dia harus melayani nafsu pria biadab itu.
Sekretaris Pak Pram sudah meninggalkan ruangan sejak istirahat makan siang, seorang satpam yang tadinya berada di lantai atas juga sudah turun ke lantai bawah, Dina hanya sendirian saja menunggu panggilan Pak Pramono di ruang tunggu kantornya. Ruangan Pak Pram yang eksklusif dan luas dan terletak di lantai atas gedung perkantoran ternyata cukup sepi, di lantai ini hanya ada seorang satpam, seorang sekretaris dan tentunya Pak Pram seorang. Saat ini, satpam dan sekretarisnya sedang istirahat dan Dina harus menunggu sendiri. Dina curiga, jangan-jangan satpam dan sekretaris Pak Pram itu memang sengaja meninggalkannya seorang diri di sini.
“Ibu Dina, silahkan masuk.” Terdengar suara entah dari mana dan pintu masuk ke ruang pribadi Pak Pram terbuka.
Dengan langkah berani dan berusaha mempertahankan harga diri, Dina masuk ke dalam. Pak Pram rupanya sedang berbincang-bincang dengan seorang laki-laki yang sudah terlihat sangat tua dan keriput. Walaupun begitu, terlihat binar mata ceria berkilat di mata lelaki tua itu.
“Ibu Dina, kenalkan ini Pak Bambang Haryanto.”, kata Pak Pramono sambil mengenalkan sosok kakek tua di sebelahnya. Entah kenapa Pak Pramono tidak memanggil Dina dengan sebutan ‘mbak’ seperti biasa. “Pak Bambang, wanita cantik ini adalah Ibu Dina Febrianti, istri dari salah satu pegawai saya, Pak Anton Hartono.”
“Oh, Anton yang itu.” suara Pak Bambang terdengar berat dan serak, sangat tidak enak didengar. Dari nada kalimat yang diucapkannya, Dina menduga Pak Bambang mengetahui kejadian penggelapan uang perusahaan yang dilakukan oleh Anton suaminya. Pasti mereka ingin menanyakan keberadaan suaminya yang sejak pagi tadi menghilang. Dina mulai ketakutan.
Dina segera menyalami Pak Bambang. Sepertinya Pak Pramono sangat menaruh hormat kepada kakek tua ini. Rambut di kepala Pak Bambang sudah beruban, putih semua. Wajahnya sudah keriput dan alisnya yang tebal panjang juga sudah memutih, sekilas penampilannya mengingatkan pada presiden kita yang kedua. Tubuh Pak Bambang lebih pendek dari Pak Pram, bahkan lebih pendek dari Dina. Hanya saja tubuh Pak Bambang jauh lebih gemuk sehingga terlihat sangat besar dan mengintimidasi.
Kalau Pak Pramono walaupun sudah berusia di atas kepala lima tapi masih terlihat gagah, sebaliknya dengan Pak Bambang. Kakek gemuk ini mungkin sudah 70 tahun, wajahnya juga terlihat sangat tua dan keriput, walaupun pada kenyataannya sangat sehat dan segar.
Berhubung tubuh Pak Bambang pendek, tentunya saat menyalaminya Dina harus sedikit membungkuk supaya terlihat sopan. Saat menegakkan badan, Dina melihat mata Pak Bambang nanar melihat belahan dadanya yang indah dan tentunya terlihat jelas di hadapan kakek tua itu. Wajah Dina memerah karena malu dan segera membenahi cara berdirinya. Mata Pak Bambang tidak bergeming dan terus menatap kedua buah dada Dina. Ibu rumah tangga yang cantik itu ingin menyilangkan tangan di depan dada karena merasa sangat malu, tapi pandangan mata galak dari Pak Pramono membuatnya mengurungkan niat. Dia tidak mau membuat Pak Pramono marah.
Ketiga orang itu segera duduk di tempat masing-masing. Pak Pram duduk di belakang meja kerjanya, sementara Dina dan Pak Bambang duduk bersebelahan.
“Pak Bambang adalah pendiri dan direktur dari PT Sasana, salah satu owner baru perusahaan ini.”, kata Pak Pram. “Setelah suksesnya pengambilalihan perusahaan melalui pembelian saham yang dilakukan oleh PT Sasana serta merger dengan anak perusahaan lain yang akan dilakukan sesegera mungkin, kami dari pihak perusahaan hendak memberikan kenang-kenangan untuk Pak Bambang selaku pemegang saham terbesar.”
Entah kepada siapa Pak Pram menerangkan panjang lebar. Dina hanya terdiam dan duduk dengan sopan. Pak Bambang terus saja mencuri-curi pandang ke arah payudara montok wanita cantik di sebelahnya.
“Nah, Ibu Dina. Karena Pak Anton belum juga memberikan laporan yang sangat penting dan amat kami butuhkan sehubungan dengan pengambilalihan perusahaan oleh PT Sasana dan keberadaan Pak Anton juga entah di mana saat ini, maka saya harapkan Ibu Dina sebagai istri dari Pak Anton bersedia memberikan down payment sekaligus kenang-kenangan pada Pak Bambang.”
Perasaan Dina mulai tidak enak. Pak Pram menatapnya tajam. Pandangan mata itu seakan-akan hendak mengatakan – jangan berani-berani melawan –.
“Kita mulai saja pertemuan ini dengan membuka baju Ibu Dina. Saya pribadi sangat menyukai pilihan baju yang Ibu Dina kenakan, tapi kalau saya tidak salah, nampaknya Pak Bambang jauh lebih tertarik pada isi yang ada di balik blus Ibu Dina. Silahkan blusnya dibuka dulu.”
Dina hampir pingsan. Dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Pak Pram. Dia hendak menyerahkan tubuh Dina pada kakek tua pendek menjijikkan ini? Benar-benar gila! Dina sudah siap berdiri dan meninggalkan ruangan itu, namun dia segera teringat perjanjiannya dengan Pak Pram dan tubuhnya pun langsung lemas. Selama Anton masih belum didepak dari pekerjaan dan posisinya aman, maka Dina masih harus melayani Pak Pram sampai dia bosan. Tidak ada gunanya melawan, semua sudah terjadi dan harus dihadapi. Dina menundukkan kepala sambil menahan air matanya agar tidak tumpah. Walaupun terdesak Dina tidak ingin terlihat lemah di hadapan dua laki-laki tua yang mesum ini.
Dengan tangan bergetar, Dina berusaha membuka kancing bajunya. Sekilas Dina melirik pada Pak Bambang yang menatapnya penuh nafsu. Karena dalam sms sebelumnya Dina dilarang mengenakan pakaian dalam oleh Pak Pram, maka Dina sempat mampir ke kamar kecil di lantai bawah untuk melepas pakaian dalamnya, dia sengaja mengenakan pakaian yang sopan dan tertutup rapat sehingga tidak menarik perhatian orang. Setelah dibuka seluruh kancing bajunya, Pak Bambang bisa segera menikmati keindahan buah dada sempurna milik Dina. Ibu rumah tangga yang cantik itu sengaja tidak segera melepas blusnya dan beralih membuka roknya.
Pandangan mata Dina yang mulai berlinang air mata memohon ampun pada Pak Pram, karena selain dilarang mengenakan BH, Dina juga dilarang mengenakan celana dalam, seandainya roknya dilepas, Dina akan langsung bugil di hadapan kedua orang ini, dia malu sekali. Tapi pria tua itu tidak mengindahkan tatapan Dina. Dia bahkan bangkit, menghampiri Dina dan membantu menarik resleting rok pendek istri Anton itu. Dina beruntung karena rok yang ia kenakan sangat ketat sehingga walaupun resletingnya sudah ditarik sampai ujung, tapi rok itu tidak lepas. Pak Pram menahan diri untuk tidak menarik dan melepas rok Dina, sebaliknya ibu rumah tangga itu panik dan berusaha menahan rok serta blusnya agar tidak terlepas dan membuatnya telanjang bulat di depan Pak Bambang.
“Nah. Nah. Begitu baru seksi. Anda setuju dengan saya, Pak Bambang?”
Dina melirik ke arah kakek gemuk yang terkekeh-kekeh di sebelahnya. Selain wajahnya yang menatap tubuh Dina lumat-lumat, dia juga memperhatikan adanya tonjolan yang makin lama makin besar di selangkangan Pak Bambang. Pandangan mata Pak Bambang beralih dari dada ke kaki jenjang Dina, lalu ke paha dan tentunya selangkangan si seksi itu. Pak Bambang nampaknya tidak terlalu memperhatikan pertanyaan dari Pak Pram.
“Ibu Dina sayang, tolong antarkan Pak Bambang beristirahat di sofa yang ada di samping sana.” Kata Pak Pram sambil menunjuk sebuah sofa panjang yang berada di dalam ruangan pribadi Pak Pram. “Temani beliau duduk di dalam.”
Pak Bambang terkekeh-kekeh lagi saat tangannya dibimbing oleh Dina bak seorang jompo yang sudah tidak mampu berdiri dengan tegak. Dina sendiri berusaha keras berada di belakang langkah Pak Bambang sehingga kakek gemuk itu tidak bisa menyaksikan langsung perjuangan kerasnya mempertahankan blus dan roknya agar tidak melorot. Walaupun begitu, berkali-kali lengan Pak Bambang dengan sengaja disenggolkan ke payudara Dina.
Setelah duduk di sofa dan disusul oleh Pak Pram, Dina duduk di samping Pak Bambang. Saat duduk, salah satu bagian blus yang dikenakan Dina melorot dan susu sebelah kanannya pun bisa dilihat jelas oleh kedua laki-laki yang ada dalam ruangan. Dina hendak membenahi bajunya tapi Pak Pram menggelengkan kepala sehingga diurungkannya niatnya itu.
Dina tersentak saat tangan Pak Bambang meraih buah dadanya yang terbuka. Dina bisa melihat kilau emas cincin kawin di jemari Pak Bambang. Dina baru teringat kalau dia juga masih mengenakan cincin kawinnya. Nama Anton terngiang berulang-ulang kali dalam benak Dina, begitu pula nama kedua anaknya. Ini semua untuk keluarga. Dia melakukan ini semua untuk keutuhan keluarga. Dina berusaha menenangkan dirinya sendiri. Belum pernah seumur hidupnya Dina membayangkan hal seperti ini akan menimpa dirinya.
Tangan Pak Bambang meremas-remas buah dada Dina dengan lembut dan beralih ke payudara yang sebelah lagi. Karena merasa terganggu, kakek bejat itu segera melepaskan blus yang dikenakan Dina. Setelah melepaskan blus Dina, Pak Bambang segera meremas-remas kedua payudara si cantik itu.
“Ibu Dina, tolong keluarkan kemaluan Pak Bambang agar tidak sesak di dalam.” Kata Pak Pram. “Sekalian digosok agar tidak kedingingan. Ruangan ini ACnya dingin sekali.”
Dina memejamkan mata dan berusaha tidak memikirkan apa yang saat ini sedang dialaminya. Dengan tangan bergetar, Dina meraih sabuk celana Pak Bambang dan membuka kaitannya. Setelah sabuk itu tidak terkait lagi, Dina menarik resleting celana Pak Bambang ke bawah. Dina memasukkan tangan ke dalam dan mencari batang zakar Pak Bambang. Setelah beberapa kali mencari dengan grogi, Dina menemukan penis Pak Bambang yang berada di balik celana dalamnya. Dina membuka celana dengan tangan kiri dan menarik keluar penis Pak Bambang dengan tangan kanannya.
Dina mengocok penis Pak Bambang dengan jemarinya yang lembut.
###
Hendra meninggalkan Anissa dan Dodit yang masih duduk di meja makan sambil menonton TV. Setelah menelpon taksi, Hendra siap berangkat kerja. Sudah beberapa hari ini Hendra tidak mengendarai mobilnya sendiri.
“Bagaimana mobilnya, Mas Hendra? Sudah dibawa ke bengkel yang saya sarankan?” tanya Pak Bejo yang tiba-tiba saja muncul dan mengagetkan Hendra.
Hendra tersenyum, “Wah, sudah Pak. Bengkelnya bagus dan murah. Nanti sore mobil saya sudah jadi, saya ambil sepulang kerja. Terima kasih banyak buat rekomendasinya, Pak Bejo. Kalau tahu dari dulu ada bengkel yang murah seperti itu pasti saya sudah langganan sejak lama.”
“Ah sama-sama, Mas. Saya kan juga sudah sering dibantu Mas Hendra.”
Hendra tersenyum dan masuk ke dalam kamar untuk menemui istrinya.
Pak Bejo menengok ke dalam sejenak kemudian meraih ke dalam saku celana dan mengambil telpon genggamnya. Dia mulai mengetikkan sms dan mengirimnya ke sebuah nomor.
– Bgmn psnku td? Kalian sdh sabot mobil si Hndr? Truk si Somad sdh siap? –
Tak lama kemudian, balasan sms itu datang, Pak Bejo terkekeh membaca pesan singkat yang masuk ke hpnya.
– Semua sdh diatur. Brs bos. –
###
Alya sedang memandangi dirinya sendiri di dalam cermin ketika suaminya masuk ke dalam kamar, ia terkejut dan bersiap karena mengira yang masuk adalah Pak Bejo. Wanita cantik itu langsung menghembuskan nafas lega begitu tahu yang masuk adalah suaminya.
“Kamu selalu cantik, sayang. Tidak perlu berkaca terlalu lama.” Kata Hendra sambil mendekap tubuh istrinya dengan mesra.
Alya tersenyum manis dan membiarkan kehangatan penuh cinta yang diberikan suaminya memberikan kedamaian setelah tadi sempat tegang dikejutkan Pak Bejo. Tangan Hendra yang nakal membelai tubuh istrinya yang masih mengenakan kimono. Dengan hati-hati sekali Hendra membuka bagian atas kimono itu dan membelai payudara Alya. Puting susu Alya menonjol ke depan dan dimainkan Hendra dengan lembut.
Alya mendesah penuh kenikmatan. “Aku menyukai sentuhanmu.”
Hendra memeluk istrinya erat-erat. “Aku sangat mencintaimu.”
“Aku lebih mencintaimu daripada kau mencintai aku, mas.”
Hendra mengecup bibir istrinya dengan lembut, tidak ada kekasaran yang dirasakan oleh Alya, hanya usapan bibir penuh cinta yang sangat didambanya. Sayangnya Hendra tidak tahu kalau bibir yang sama juga baru saja dinikmati oleh tetangganya yang cabul.
“Sudah mau berangkat kerja, Mas?”
“Aku sudah telpon taksi tadi.”
“Opi?”
“Diantar Bu Bejo. Kamu berangkat siang?”
“Iya. Katanya Anis sama Dodit mau jalan-jalan ke mall, aku mau numpang.”
“Ya udah kalau begitu, tadinya aku kira kamu mau dianter Pak Bejo pakai motor.”
Nama itu bagaikan kilat yang menyambar batin Alya. Tiap kali Hendra menyebut nama pemerkosanya, seluruh tubuh Alya terasa lemas tak berdaya. Batinnya menjerit-jerit namun tidak ada kata-kata yang terucap. Maafkan aku, Mas. Maafkan istrimu yang telah membiarkan diri dinodai oleh tetangga yang kurang ajar itu. Maafkan istrimu yang tidak mampu menjaga diri. Banyak yang ingin terucap, tapi bibir Alya tetap terkatup rapat.
“Nanti pulangnya jangan malam-malam ya, Mas.”
“Memangnya kenapa? Mungkin agak sore, aku ambil mobil dulu di bengkel.”
Alya menggelayut manja di pelukan sang suami. “Sudah beberapa hari ini kita tidak bercinta, aku kangen sekali sama kamu.”
Hendra tertawa dan mencium bibir Alya sekali lagi. “Gampang, nanti bisa diatur.”
Terdengar bunyi klakson taksi.
“Taksinya udah datang, aku berangkat dulu ya, sayang.”
“Iya, mas. Hati-hati.”
Hendra meninggalkan istrinya dan membuka pintu kamar lalu melangkah keluar. Belum sampai satu menit, Hendra kembali lagi ke kamar dengan keringat bercucuran.
“Mas? Kamu kenapa?” Alya terkejut melihat suaminya dan mengambil sapu tangan, dengan hati-hati diusapnya keringat Hendra. “Kamu sakit?”
“Nggak tau nih, nggak sakit kok, hanya saja perasaanku tiba-tiba tidak enak.”
Alya mulai khawatir. “Kamu yakin tidak apa-apa? Aku telpon ke kantor saja ya, minta ijin?”
Hendra tersenyum dan mencium dahi Alya. “Aku tidak apa-apa kok, sayang. Bener. Apapun yang terjadi, aku selalu mencintai kamu.”
“Aku juga, mas.”
“Aku berangkat ya.”
“Iya, mas.”
Perasaan Alya tidak enak.
###
Saat ini Dina sedang berada di sebuah ruangan di kantor suaminya. Tepatnya di sebuah ruangan pribadi yang berada di dalam kantor pimpinan Anton. Dina sedang mengocok seorang pria tak dikenal sementara tangan pria itu meremas-remas buah dadanya. Tak tahan lagi akan keindahan susu Dina, Pak Bambang mengelamuti payudara ibu muda itu. Dina mengernyit saat tangan Pak Bambang yang tadi meremasi payudaranya kini beralih mengelus bagian bawah pahanya yang mulus. Kaki Dina masih tertutup rapat sehingga tangan Pak Bambang harus mendesak ke dalam jepitan paha agar bisa masuk ke selangkangan kaki Dina.
Tangan Pak Pram menepuk bahu Dina sedikit keras. Karena kerasnya, suara tepukan itu mengagetkan Dina.
Dina tahu apa yang diinginkan Pak Pramono. Dengan penuh kepatuhan, Dina membuka kakinya. Tangan Pak Bambang langsung masuk ke selangkangan dan meraih belahan memek Dina. Tidak perlu waktu lama bagi Pak Bambang untuk menjelajahi bibir vagina Dina. Jari jemari gemuk pria tua itu beraksi dengan cepat, mencubit, menusuk dan mengelus bagian dalam memek Dina. Jempol Pak Bambang digunakannya untuk mengelus-elus klitoris Dina sementara jari tengahnya masuk ke liang cinta ibu rumah tangga yang cantik itu.
Dina mendesis lirih saat jari tengah Pak Bambang memasuki vaginanya dengan kasar.
Saat memperhatikan ke bawah, Dina melihat Pak Bambang masih asyik menjilati kedua buah dadanya dan mengelamuti puting susunya. Dengan sekali tarik, rok Dina dilepas oleh Pak Bambang sehingga memudahkannya mengakses memek Dina. Kakek itu segera sibuk dengan vagina Dina yang wangi.
Dina memejamkan matanya lagi. Betapa rendahnya diri Dina saat ini, beberapa hari yang lalu Dina adalah seorang istri setia yang tidak sudi melayani pria lain selain suaminya. Bahkan Anton sendiri kadang ditolaknya bermain cinta. Kini, sudah ada dua orang laki-laki lain yang tidak saja menyaksikannya bugil, tapi juga mempermainkannya seperti seorang pelacur. Dina merasa lebih rendah dari seorang pelacur, dia adalah seorang istri yang berzina dan mengkhianati kepercayaan suaminya. Tapi ini semua demi masa depan keluarga, ini semua untuk Anton dan kedua anaknya, Dina bersedia mengorbankan apa saja.
Gerakan mulut dan jemari Pak Bambang tidak ada hentinya menghujani tubuh indah Dina dengan rangsangan. Sebagai perempuan normal, rangsangan kakek mesum itu lama kelamaan berpengaruh juga pada tubuh Dina. Dina membuka kakinya yang jenjang makin melebar tanpa sadar. Bau cairan cinta Dina yang kian membanjir memenuhi seisi ruangan yang berAC, begitu pula bunyi becek memek Dina yang terus disodok jari jemari Pak Bambang yang keluar masuk dengan cepat. Kali ini tidak perlu waktu lama sebelum Dina akhirnya menyerah pada nafsu birahinya sendiri. Istri Anton itu meraih kepala Pak Bambang dan ditekannya ke arah buah dadanya sementara pinggul Dina bergerak seiring sodokan jemari Pak Bambang di memeknya. Tangan Dina yang lain terus mengocok penis Pak Bambang dengan gerakan yang makin lama makin cepat.
“Uaaaahhhhh!!” Dina menjerit lirih karena rangsangan hebat yang dilakukan Pak Bambang. Kakek mesum itu terus menyerang payudara dan vagina sang ibu muda yang cantik. Bagaikan seorang pekerja seks komersial yang binal, Dina menggerakkan pinggangnya agar tusukan jemari Pak Bambang masuk lebih dalam, Dina sudah lupa pada statusnya sebagai seorang istri dan ibu yang setia. Entah kemana Dina yang beberapa saat tadi masih teringat pada Anton dan dua orang anaknya.
Saat membuka matanya yang terpejam sedari tadi, Dina menyadari tubuhnya sudah hampir jatuh dari pinggir sofa. Kakinya terbentang sangat lebar dan memeknya dapat diakses dengan mudah oleh Pak Bambang. Bibir vagina Dina terlihat lebih merah dari biasanya dan rambut-rambut di sekitar lubang cintanya itu basah oleh cairan pekat. Baik pakaian maupun roknya sudah terbuka. Dia sudah telanjang bulat.
Pak Bambang meraih kepala Dina dan menariknya ke bawah, ke arah selangkangannya. Sebelum Dina menyadari apa yang terjadi, penis Pak Bambang sudah masuk ke dalam mulutnya.
Walaupun sudah keriput dan tidak terlalu besar, tapi penis Pak Bambang masih tetap bisa membuat Dina tersedak saat pria tua itu memaksa kepala Dina naik turun dengan cepat. Tangan Dina menggapai-gapai lengan Pak Bambang dan berusaha meronta. Tapi walaupun sudah uzur, kakek tua yang bejat itu masih tetap perkasa dan Dina tidak semudah itu bisa menghentikan aksinya.
Tiap kali kepala Dina turun ke arah selangkangan Pak Bambang, penisnya yang besar masuk ke tenggorokannya. Dina tersedak dan makin lama makin kehilangan kesadarannya karena tidak bisa bernafas. Pria tua yang dihormati oleh Pak Pram itu mencekik Dina dengan kontolnya sampai ibu rumah tangga itu hampir mati lemas. Untungnya Pak Bambang mengakhiri aksinya dan menarik kontolnya dari mulut Dina. Wanita cantik itu segera jatuh ke lantai dan terbatuk-batuk. Dina berusaha menarik nafas dalam-dalam dan menghirup udara walaupun terasa sangat berat.
Akhirnya, sambil mengangkat pinggul indah Dina ke arahnya, Pak Bambang menyelipkan kemaluannya yang mengeras ke dalam lubang vagina ibu muda yang cantik itu. Pak Bambang bisa merasakan gerakan spontan Dina yang mencoba melawan dengan beringsut menjauh, tapi itu malah membuat sang kakek tua mendesah keenakan karena tubuh mereka saling bersinggungan dengan lembut. Dengan pandai, kakek tua yang banyak pengalaman itu mengelus-elus paha Dina yang terbentang lebar dan mulai bergerak maju mundur sementara lubang rahimnya terus menyedot penis Pak Bambang dengan nyaman. Gerakan penis kakek tua itu makin lama makin dalam menjelajah rapatnya pertahanan vagina Dina. Walaupun mendesak ke dalam terus menerus, tapi Pak Bambang tidak ingin menusukkan penisnya sampai ke ujung, dia merasakan pelan-pelan katupan bibir memek Dina yang menjepit kontolnya bagaikan penghisap debu, liang cinta ibu muda yang hangat dan basah ia rasakan dengan nikmat dan perlahan. Dina hampir-hampir gila dibuatnya.
Tiap sentakan, tiap putaran dan tiap kali kontol Pak Bambang berpilin di dalam lubang vagina membuat Dina tidak bisa menahan gairah sensual yang makin lama makin meraja dalam dirinya. Dina tidak mampu menahan hausnya diri sendiri akan kenikmatan bercinta, dia ingin penis Pak Bambang menusuk lebih dalam dan lebih dalam lagi. Dia ingin menurunkan vaginanya sampai mentok ke paha Pak Bambang agar batang penisnya bisa masuk semua ke dalam vaginanya. Tapi Pak Bambang menahan diri dengan menikmati tubuh Dina selama mungkin dan itu membuat istri Anton itu melenguh tak berdaya.
Saat akhirnya penis itu menusuk lebih jauh ke dalam dan membelah vaginanya yang masih cukup rapat, Dina seakan hampir mati oleh gelombang kenikmatan yang mengubur dirinya. Sayangnya, sekali lagi Pak Bambang menahan diri dan tidak memasukkan seluruh kontolnya masuk ke dalam memek sang ibu rumah tangga yang cantik.
Dina menggeleng frustasi, walaupun dia malu mengakui kalau dia menginginkan penis Pak Bambang lebih dalam lagi tapi gairah sensual yang makin dirasakan membuatnya lupa diri. Dengan penuh keputusasaan, wanita cantik itu hanya bisa melenguh panjang dan meminta dengan dengan manja. “Pak… masukkan…”
Dina merasakan jemari kakek tua yang dengan nakal meremas, meraba dan memijat pipi bokongnya yang bulat putih mulus, mata Dina memejam dan seluruh tubuhnya bagaikan disetrum jutaan volt llistrik ketika tangan Pak Bambang menyibakkan pantat Dina dan jari tengah kakek tua itu masuk ke dalam lubang anusnya.
“Hngghh!!” Dina mengernyit menahan rasa sakit bercampur nikmat yang disebabkan oleh jari sang kakek nakal.
“Masukkan apa… Ibu Dina?” tanya Pak Pram yang kemudian menyadari kalau istri Anton itu sudah di ambang batas penyerahan diri yang total.
“I-itu… dimasukkan…”
“Apanya?”
“I-itunya…”
“Itunya apa?”
“Penisnya… masukkan… masukkan lebih dalam!!”
Pak Pram mengerling pada Pak Bambang dan kakek tua itu lagi-lagi mempermainkan Dina, dengan sengaja dia menggerakkan pinggulnya dengan gerakan sangat pelan yang menyiksa sang ibu rumah tangga. Dia tidak mau membuat Dina puas dan tak pernah mau melesakkan penisnya sampai mentok jauh ke dalam. Dia belum mau membuat Dina puas, dia ingin Dina lebih responsif, dia ingin Dina lebih binal lagi, dia ingin ibu muda yang cantik itu melupakan eksistensinya sebagai seorang istri dan ibu dan berubah menjadi budak seks yang haus disetubuhi saat itu juga.
Dengan penuh keputusasaan, Dina merayapkan bibir vaginanya yang haus kemaluan lelaki dan menangkup penis kakek tua yang walaupun keriput tapi berukuran besar dan memenuhi seluruh liangnya dengan sangat rapat, dinding vagina Dina seakan tidak rela diserang dan liang rahimnya itu langsung mengeluarkan cairan cinta yang menjadi pelumas. Dina sudah pasrah, dia sudah siap dihina sampai serendah-rendahnya, dia hanyalah seorang wanita biasa yang ingin merasakan disetubuhi saat ini juga.
Rangsangan hebat dari Dina membuat Pak Bambang tak tahan lagi. Dengan sebuah teriakan keras, kakek tua itu menghunjamkan seluruh kontolnya yang mengejang keras ke dalam vagina Dina dengan kekuatan penuh, dia tidak main-main lagi sekarang, seluruh batang kemaluannya melesak ke dalam sampai paha mereka saling tampar. Pak Bambang membiarkan kontolnya berada di dalam untuk sesaat sambil mendengarkan desahan kekalahan yang keluar dari mulut Dina. Dengan kekuatan penuh, kakek tua yang masih perkasa itu mulai menggiling memek sang ibu rumah tangga yang cantik dan menusukkan kemaluannya dalam-dalam sampai seluruh batangnya selalu tertelan habis.
Pak Pramono bisa merasakan lesakan dahsyat kemaluan Pak Bambang di seluruh tubuh Dina, dia bisa merasakan pahitnya kekalahan yang tentunya menguasai diri Dina yang kini hanya bisa pasrah disetubuhi Pak Bambang. Pak Pramono bergerak ke hadapan Dina, tubuh wanita cantik yang tersengal-sengal dientoti Pak Bambang itu terkulai pasrah di atas lantai. Dengan gerakan ringan, Pak Pram mengangkangi dada Dina dan duduk di atas buah dadanya. Satu tangan Pak Pram meraih rambut Dina, menjambaknya dan menarik kepalanya ke depan. Tangan Pak Pram yang lain menggiring penisnya yang sudah tegang ke bibir mungil Dina. Mata Dina terbelalak karena terkejut dan dia memalingkan wajah dengan marah, walaupun sedang dilanda gairah birahi yang sangat tinggi tapi Dina tahu dia tidak mau melayani dua orang sekaligus! Dia masih waras dan tidak ingin disamakan seperti seorang pelacur!
Dina merintih, “Jangan! Aku mohon… aku tidak bisa melayani kalian berdua bersamaan!”
“Kenapa tidak? Sekarang saat yang tepat, Ibu Dina… ayo kulum penis saya.” Kata Pak Pram tenang.
“Tidak! Jangan… aku tidak mau!!” Dina menolak. “Aku bukan pelacur! Aku tidak mau… dua orang… aku…”
Pada saat bersamaan Pak Bambang menusuk kontolnya lebih jauh lagi ke dalam liang rahim Dina, entah sudah berapa jauh ia menguasai memek Dina, yang jelas, ia sudah lebih jauh dari apa yang pernah dicapai oleh Anton, suami Dina. Wanita cantik itu melenguh nikmat dan hal itu memberikan kesempatan untuk Pak Pramono menyerang Dina. Dengan sedikit kasar Pak Pram menyodokkan penisnya ke dalam mulut Dina.
“Atas kena bawah bisa, Ibu Dina sayang.” Bisik Pak Pram menggoda.
Rongga mulut Dina langsung sesak begitu penis Pak Pram masuk ke dalam dengan paksaan, ibu muda yang cantik itu hampir saja tersedak dan merasakan daging berotot milik Pak Pram melindas lidahnya sampai ke dalam. Tubuh Dina tersentak dan dia menggelinjang tak berdaya. Di bawah, Pak Bambang terus saja membenamkan kontol raksasa yang keriput ke dalam memeknya sementara di atas Pak Pram menghunjamkan penis ke dalam rongga mulutnya. Air mata Dina meleleh saat dia menyadari betapa rendah dirinya saat ini, apalagi jika ia teringat pada sang suami yang tentunya masih mengira dia seorang istri setia. Penghinaan dan rasa malu apalagi yang masih bisa ia hadapi saat ini? Dia disetubuhi oleh dua orang sekaligus. Jari jemari Pak Bambang yang sesekali masuk ke dalam lubang anus membuat Dina menyadari satu hal lagi, seluruh lubang di tubuhnya sudah mereka kuasai, seluruh tubuhnya sudah menjadi milik dua laki-laki tua biadab ini. Dia sudah tidak berharga lagi. Dia sudah tidak punya harga diri lagi.
Sementara Dina menghisap-hisap penis Pak Pram, Pak Bambang kian liar mengendarai memek sang ibu muda yang cantik itu. Dengan sisa tenaga yang entah didapat dari mana, kakek tua itu terus menggerakkan kontolnya keluar masuk, Dina juga menggerakkan pinggulnya seiring gerakan penis Pak Bambang dan melayani permainan kakek tua itu. Pak Bambang dengan pandangan mata bahagia menyaksikan batang kemaluannya yang masih tetap keras keluar masuk dari memek Dina dengan perkasa, dengan sengaja kakek tua itu menarik penisnya hingga ujung gundulnya saja yang tersisa di dalam. Kemudian dengan kekuatan penuh, Pak Bambang kembali melesakkan kontolnya masuk ke memek Dina.
Disepong oleh wanita secantik Dina sungguh nikmat rasanya, Pak Pram menekan penisnya jauh lebih dalam ke mulut Dina, memasuki rongga tenggorokannya sampai perempuan cantik itu sesak dan hampir tersedak. Gerakan tubuh Dina yang didorong oleh Pak Bambang juga membuat sensasi tersendiri bagi Pak Pram, seakan-akan ibu muda yang cantik itulah yang bergerak naik turun, padahal dorongan itu datang dari bawah.
Dalam keadaan tidak berdaya, tubuh Dina menjadi bulan-bulanan kedua laki-laki tua yang kini menguasai dirinya itu. Berkali-kali Pak Bambang membolak-balik tubuh Dina agar bisa mendapatkan posisi yang enak dan kini ibu rumah tangga yang cantik itu turun ke lantai dan menelungkup ke bawah. Wajahnya berada tepat di bawah perut Pak Pramono sementara di belakang, Pak Bambang mengendarai Dina secara ‘doggie-style’. Wajah Dina semakin pucat dan sayu, dengan memelas Dina memohon pada Pak Pramono agar menyelamatkannya dan segera mengakhiri semua ini. Sayangnya tidak ada harapan bagi Dina.
Dengan satu tusukan penuh tenaga, Pak Bambang melesakkan penisnya ke dalam liang cinta Dina.
“Hnnghh!” Dina menggeram dan memejamkan mata menahan sakit.
Tubuh pendek Pak Bambang berada di belakang tubuh Dina. Tangannya memeluk pinggang Dina agar seimbang sementara dia melesakkan penisnya ke dalam rahim Dina. Tidak ada kelembutan saat kakek mesum itu menyetubuhi Dina, Pak Bambang bergerak dengan sangat cepat dan kasar. Agar tidak tergoyang terlalu hebat, Dina mencengkeram lutut Pak Pram yang duduk di sofa. Dina menengadah dan Pak Pram kembali menyodorkan kontolnya. Lagi-lagi Dina harus menyepong Pak Pram. Dina segera menjilati batang kemaluan Pak Pramono sementara Pak Bambang mengentoti vaginanya dengan kecepatan tinggi.
Hampir sepuluh menit posisi ini tidak berubah. Pak Pramono menjambak rambut Dina dengan gemas. Dina merasakan semprotan air mani membanjiri mulutnya. Agar tidak tersedak, Dina menelan seluruh sperma yang disemprotkan oleh atasan Anton itu. Walaupun sudah mencapai klimaks, Pak Pram tidak segera menarik kontolnya dari mulut Dina. Sementara itu, Pak Bambang masih terus menggerakkan pinggulnya menyetubuhi Dina dari belakang. Gerakan Pak Bambang sangat cepat dan penuh nafsu, mengingat usianya yang sudah uzur, Dina takjub pada kekuatan dan kecepatan Pak Bambang. Belum pernah seumur hidupnya Dina merasakan dientoti sedemikian cepat dan lama. Makin lama makin cepatlah kocokan kontol Pak Bambang di dalam memek Dina sampai pria tua itu melenguh keras dan menyemprotkan pejuhnya membanjiri vagina Dina.
Kedua lelaki busuk itu mencapai klimaks hampir bersamaan, dua laki-laki buas yang mencengkeram erat tubuh Dina berebut ingin memeluknya, masing-masing ingin melesakkan penisnya jauh lebih dalam ke dalam mulut dan vagina wanita cantik itu dan menembakkan air mani mereka dalam dalam. Pak Pram beralih ke sisi kiri Dina, dia menarik kontolnya yang mulai lemas meskipun si cantik itu masih saja menyedot air mani yang masih keluar dari ujung kemaluannya. Pak Bambang mundur ke belakang dan menarik keluar kontolnya dari dalam memek Dina, terdengar suara letupan kecil dan desahan nikmat dari kakek tua yang mesum itu. Pak Bambang berbaring di sisi kanan Dina.
Mereka bertiga kelelahan… kenyang oleh nikmatnya regukan birahi yang telah diraih. Dina memejamkan mata kecapekan, dia tidak mengira bahwa sekali ini dia benar-benar sudah mengkhianati suaminya dengan cara yang paling menjijikkan, tidak saja dia berselingkuh dengan atasannya, tapi dia juga melayani tamu Pak Pram secara bersamaan. Bagaimana mungkin wanita seperti dia bisa melayani dua orang sekaligus? Dulu bersetubuh dengan Pak Pram saja sudah seperti kiamat, rasa malu dan jijik yang hinggap tidak bisa hilang oleh apapun. Tapi kini? Dia disetubuhi oleh dua orang lelaki sekaligus. Seorang pria tua yang masih gagah dan seorang kakek-kakek yang keperkasaannya menakjubkan. Rasa malu pada diri sendiri kian membuncah karena Dina merasa mendapatkan kenikmatan yang luar biasa disetubuhi oleh mereka berdua.
Ibu rumah tangga seksi yang baru saja dinikmati dua pria tua itu ambruk ke lantai kantor. Nafasnya terasa berat hingga Dinapun terengah-engah. Belum sampai lima menit beristirahat, rambut Dina sudah dijambak oleh Pak Bambang. Pria tua itu menarik kepala Dina dan menyorongkan kontolnya yang basah oleh air mani ke mulut Dina. Dina segera menjilati kontol Pak Bambang dan membersihkan semua pejuh yang ada di batang kemaluan kakek tua itu.
Setelah Dina selesai membersihkan penis Pak Bambang dengan mulut, kakek mesum itu mendorong kepala Dina menjauh. Sekali lagi Dina duduk dengan lemas di lantai sementara dua pria yang baru saja menyetubuhinya duduk di sofa dan bersantai tanpa mempedulikannya.
“Bagaimana rasanya, Pak Bambang?” tanya Pak Pram dengan sopan sambil merapikan celananya kembali.
“Luar biasa, memeknya kok masih sempit ya? Padahal anaknya sudah dua, enak sekali. Untung saja tadi aku sempat minum obat kuat. Kamu beruntung punya koleksi seperti dia. Sudah berapa lama kamu pakai?”
“Sekitar dua minggu.”
“Buat aku saja. Dia cantik sekali.”
“Wah, saya tidak tahu apakah Ibu Dina…”
“Kalau di luaran, harga lonthe yang cantik dan seksi seperti ini mahal sekali, padahal kebanyakan memeknya sudah melar, aku sering rugi kalau beli. Yang dia punya masih sempit, padahal sudah pernah melahirkan, mungkin prosesnya melalui operasi caesar ya? Luar biasa, masih rapat, aku puas.” Suaranya yang serak terdengar semakin menyeramkan di telinga Dina. “Bagaimana kalau aku beli saja dia? Berapa harganya?” Pak Bambang mencari-cari buku cek di dalam saku bajunya.
“Wah-wah…” senyum Pak Pramono makin melebar. “Kalau dijual harganya mahal sekali, Pak Bambang. Dia ini masih orisinil. Ibu rumah tangga biasa yang…”
“Berapapun harganya aku beli. Aku bisa membeli perusahaanmu, Pram. Kalau hanya membeli lonthe semacam ini tentunya aku lebih dari sekedar mampu.”
Sudah jelas kalau Pak Bambang memang lebih kaya dibanding Pak Pram. Tapi selain lebih kaya dan jauh lebih tua, kakek-kakek yang bertubuh pendek dan gemuk ini nampaknya juga menjadi panutan Pak Pramono sehingga dia sangat hormat kepadanya. Kekhawatiran makin menyeruak ke dalam batin Dina.
Dina sadar sepenuhnya kalau dia sebelumnya telah berjanji bersedia menjadi budak seks Pak Pramono. Apa yang terjadi saat ini sudah menyalahi janji dan seandainya Pak Pram memberikannya pada Pak Bambang maka bisa dipastikan hidupnya akan lebih sengsara lagi. Pak Bambang jelas tidak selembut dan segagah Pak Pramono. Walaupun telah membuatnya menderita, tapi ada sisi-sisi lembut Pak Pramono yang kadang membuat Dina merasa sedikit dihargai. Dari dua bajingan tua ini, Dina jelas tahu siapa yang dia pilih.
“Pak Pram,” bisik Dina lirih, “perjanjiannya kan tidak seperti ini…”
“Diam! Siapa yang menyuruhmu bicara?” bentak Pak Pram galak.
Dina kaget oleh bentakan Pak Pram, ibu muda cantik itu lantas diam membisu karena takut, airmatanya meleleh membasahi pipi. Bagaimana mungkin ini terjadi? Dulu dia adalah seorang wanita baik-baik yang tidak mungkin akan berselingkuh dengan lelaki lain, tapi kini tubuhnya diperjualbelikan bagaikan seorang pelacur di pasar budak. Dina merasa sangat terhina. Dina meyakinkan dirinya sendiri kalau ini adalah jalan untuk menyelamatkan keluarga sehingga tidak ada jalan keluar dari masalah ini kecuali menjalankan semua perintah Pak Pram. Pandangan mata Dina kian mengabur karena pikirannya yang shock berat. Dia berusaha menahan tangisnya.
Tiba-tiba terdengar suara gemerincing di balik sebuah tirai yang tertutup sedikit di pojok ruangan. Karena sibuk meladeni nafsu kedua bandot tua tadi, Dina tidak memperhatikan sudut itu. Dina melirik ke arah Pak Pramono, entah kenapa orang itu tersenyum sinis.
“Pak Bambang.” Kata Pak Pram kemudian. “Rasa-rasanya saya tidak bisa memutuskan hal itu karena terkait dengan banyak hal. Tapi seandainya Pak Bambang memang berminat pada Ibu Dina, mungkin bisa ditanyakan langsung pada yang bersangkutan.”
Dina bingung dengan maksud Pak Pramono, jantungnya berdetak dengan kencang karena nasib dan masa depannya ada di tangan Pak Pramono, bagaimana mungkin dia melanggar perjanjian dan memberikannya pada kakek menjijikkan ini? Namun belum sempat Dina memprotes, suara gemerincing terdengar lagi. Suara dari sudut itu makin keras dan mengganggu. Pak Pram mendengus kesal.
“Ibu Dina, tolong buka tirai itu.” perintah Pak Pram jengkel.
Dina yang lemas dan masih telanjang hendak mengambil pakaiannya. Namun Pak Pram menggeleng.
“Aku ingin Ibu Dina membuka tirai. Bukan mengenakan baju.”
Dina menatap Pak Pram pilu dan mencoba berdiri. Tetesan air mani masih leleh dari sela selangkangannya yang sudah dinikmati Pak Bambang.
Dengan langkah kaki yang masih lemas dan bergetar, ibu rumah tangga yang cantik itu berjalan telanjang menuju ke arah sudut ruangan yang terus mengeluarkan suara gemerincing. Nampaknya ada sesuatu yang tersembunyi di balik tirai itu.
Sesuatu atau… seseorang?!
Seseorang sedang duduk di kursi yang berada di balik tirai!
Selama Dina melayani Pak Pram dan Pak Bambang, tentunya orang ini bisa melihat semua aksi mereka. Dina bisa melihat garis tali temali, orang yang duduk di atas kursi di balik tirai sedang terikat erat. Suara gemerincing itu berasal dari lonceng kecil yang ada di ujung tirai. Orang itu pasti berjuang keras agar bisa membunyikan lonceng kecil karena diikat sedemikian erat di kursi, mulutnya juga disumpal oleh kain.
Dengan sedikit ketakutan dan berusaha menutupi ketelanjangannya, Dina membuka tirai.
Dina menjerit karena shock melihat sosok di balik tirai.
Sosok itu adalah Anton! Suaminya!
###
Alya terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Dia baru sadar ternyata dia tertidur di depan televisi sepanjang malam, suara telepon di tengah malam mengejutkannya. Alya tidak menyukai suara telpon yang berdering di tengah malam. Suara dering telpon yang terus berbunyi mengingatkannya pada kejadian bersama Pak Bejo beberapa malam yang lalu dan itu terus menghantuinya. Masih belum terlalu malam, jam sebelas lebih sedikit, Hendra belum pulang dan Opi sudah terlelap. Anissa dan Dodit juga belum pulang, mungkin mereka masih jalan-jalan ke kota.
Alya berharap telpon itu bukan datang dari Pak Bejo. Dengan berat hati diangkatnya gagang telpon dan ditempelkannya ke telinga.
“Halo…”
Suara seorang wanita kemudian bertanya. “Selamat malam. Apa benar ini rumah Bapak Hendra Wibisono?”
Jantung Alya berdegup kencang. “Benar.”
“Dengan siapa saya bicara?”
Makin berdebar. “Saya Alya, istrinya. Maaf, ini siapa?”
“Ibu Alya, kami dari Rumah Sakit ***** hendak memberitahukan kalau malam ini Pak Hendra Wibisono mengalami kecelakaan, mobil yang dikendarai beliau bertabrakan dengan sebuah truk di jalan *****. Keadaan Pak Hendra cukup parah dan membutuhkan perawatan medis yang serius. Sampai saat ini beliau belum sadarkan diri dan kami membutuhkan kehadiran ibu segera.”
Dunia Alya berputar dan semua berubah menjadi gelap.
“Halo? Halo? Ibu Alya? Ibu masih di sana?”
Bersambung…
PERAWAN & PRIA TUA
Dina sangat kaget, ia tidak menyangka ternyata sejak awal suaminya berada di dalam ruangan tempat ia melayani nafsu dua bos tua yang penuh nafsu terkutuk. Ibu muda yang cantik itu sama sekali tak mengira, Pak Pramono tega melakukannya.
Anton ternyata berada di dalam ruangan kantor Pak Pramono sepanjang hari ini. Ia bisa mendengar dengan jelas dan melihat bayangan Dina dari balik kelambu tempatnya disembunyikan dengan badan terikat dan mulut tersumpal. Suami Dina itu bisa melihat tubuh sang istri dipermainkan dengan buas oleh dua lelaki tua yang haus seks, perasaan Anton hancur melihat istrinya menderita, apalagi semua ini terjadi karena ulahnya yang menggunakan aset kantor. Ia tak mengira sama sekali perbuatannya yang merugikan perusahaan tertangkap basah dan berdampak langsung pada kehancuran kehidupan rumah tangga Anton dan Dina.
Dina mengusap pipinya yang basah oleh air mata, ia tidak menduga akan bertemu Anton dalam situasi seperti ini. Entah kenapa, Dina merasa malu dan berusaha menutup ketelanjangannya dari tatapan nanar mata Anton yang menyala penuh kebencian. Kedua tangan Dina bergerak menutup dada dan selangkangannya, walaupun usaha itu tentunya tak berhasil. Sementara itu, dua sosok lain yang juga telanjang, Pak Bambang dan Pak Pramono tertawa melihat Anton yang terikat erat di kursi tak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan istrinya.
Sambil bermain-main, Pak Pram merenggut tangan Dina dan membimbingnya ke arah kemaluannya yang kembali menegang. Dengan gerakan berulang, didorongnya tangan Dina naik turun mengocok kemaluannya. Mulusnya tangan Dina membuat Pak Pramono kembali terangsang, penis itu membesar dan ukurannya membuat Anton terbelalak takjub. Dina menggelengkan kepala dan merintih memohon ampun dengan air mata menetes. Tidak ada seorangpun yang akan percaya, ia – seorang ibu muda yang alim – sedang mengocok kemaluan pria lain di hadapan suaminya. Tetesan air mata Dina deras menuruni wajah membasahi lantai. Hebatnya, setelah berkali-kali menegang hari ini, Pak Pram tidak menunjukkan tanda-tanda kecapaian, malah kemaluannya kembali menegang menantang usai dikocok perlahan oleh jari-jari lentik Dina.
Pak Pramono menjambak rambut Dina agar kepala perempuan jelita itu tak bergerak kemana-mana. Dengan nakal Pak Pram mengoleskan ujung gundul kemaluannya ke mulut Dina dan menggesekkannya di pipi, mata dan hidung istri Anton itu. Dina tahu apa maksud Pak Pram, dengan terpaksa ibu muda dua anak itu membuka mulut. Tanpa menunggu aba-aba, Pak Pram langsung melesakkan penisnya yang besar menjejal masuk ke mulut Dina. Anton terbelalak melihat kemaluan Pak Pram yang besar dan panjang bisa masuk ke mulut Dina, ia bisa membayangkan penderitaan sang istri yang harus membuka mulutnya lebar-lebar agar benda itu bisa masuk.
Ada sensasi aneh melihat seorang suami berada dalam posisi tak berdaya menyaksikan istrinya sibuk menyepong lelaki lain tepat di depan matanya, apalagi sang istri adalah seorang wanita molek yang sangat cantik dan seksi seperti Dina. Sensasi itu membuat Pak Pramono mencapai klimaks dengan sangat cepat. Hanya beberapa menit disepong Dina, Pak Pram menyemprotkan pejuhnya membanjiri mulut istri Anton. Dina terbatuk-batuk dan berusaha memuntahkan kembali sperma Pak Pram yang dijejalkan ke tenggorokannya, untunglah Pak Pram segera menarik batang kemaluannya sehingga wanita cantik itu tidak sampai kehabisan nafas. Karena Pak Pramono menarik penisnya dengan terburu, air maninya menyemprot juga ke wajah Dina.
Dengan penuh kemenangan, Pak Pramono menyorongkan wajah Dina yang belepotan air mani ke arah sang suami. “Lihat ini baik-baik, Pak Anton. Lain kali anda berbuat kesalahan, yakinkan diri anda untuk menebus kesalahan itu sebelum sesuatu seperti ini terjadi.”
Anton menatap jijik wajah istrinya yang belepotan sperma lelaki lain, ia menatap geram ke arah Pak Pramono. Dina yang merasa kotor menunduk malu tak berani menatap mata Anton sementara pejuh bercampur air mata menetes dari pipi turun ke lantai.
Sambil duduk di kursi, Pak Pramono dengan santai mengelus-elus tubuh Dina yang duduk lemas di lantai. Wanita cantik itu bahkan tak berani menatap mata suaminya yang terikat erat, ia tahu nasib dan masa depan mereka berada di tangan Pak Pramono dan rekannya yang bernama Bambang.
Pak Pram melirik ke arah Pak Bambang yang ternyata sudah kembali menyiapkan kemaluannya. Dengan senyum menghina Pak Pram menatap Anton yang menatap tak percaya gerakan Pak Bambang menarik Dina dan membaringkannya di lantai. Tubuh gemuk Pak Bambang masuk di antara kaki jenjang Dina yang putih mulus. Dengan main-main pria tua itu menepuk penisnya yang besar di selangkangan sang ibu muda.
“Aku tidak akan menjamin istrimu bisa menikmati penisku ini, Pak Anton. Tapi aku bisa menjamin kalau AKU pasti menikmati detik demi detik mencicipi tubuh seksi istrimu.” Kata kakek tua itu.
Anton meraung namun karena mulutnya tersumpal kain, tak ada suara keluar dari mulutnya. Dina menggelengkan kepala karena kelelahan, ia tidak mengira Pak Bambang akan menyetubuhinya lagi dan kali ini, langsung di hadapan suaminya!
“Siap Ibu Dina? Mudah-mudahan yang kali ini bisa membuatmu hamil ya.” Pak Bambang terkekeh lagi. Ia menarik pinggulnya ke belakang dan dengan kecepatan tinggi menghunjamkan penisnya masuk ke dalam kemaluan Dina.
“Ahhhhh!! Sakit!!” jerit Dina sambil memejamkan mata, air mata menetes dari ujung pelupuknya. Bermain cinta tanpa foreplay sangat menyakitkan bagi seorang wanita, karena liang rahimnya belum benar-benar basah oleh cairan pelumas yang keluar dari dinding vagina. Kali ini Pak Bambang menusukkan penisnya di saat Dina belum siap, membuat penis yang lebih besar dari milik Anton itu meraja di liang kemaluan sang ibu muda. Dina menjerit kesakitan tiap kali penis Pak Bambang menusuk masuk ke dalam memeknya.
Anton tidak bisa mempercayai pemandangan yang kemudian berlangsung di depan matanya. Selama hampir seperempat jam istrinya yang cantik jelita disetubuhi oleh monster tua bertubuh gemuk menjijikkan. Lebih pedih lagi bagi Anton, istrinya itu berulang kali mengejang dan berteriak-teriak kesakitan tiap kali Pak Bambang melesakkan kontolnya ke dalam. Karena tak tahan dengan sodokan demi sodokan penis Pak Bambang, Dina akhirnya mengangkat kakinya dan menggunakan kaki jenjang itu untuk memeluk pinggang Pak Bambang yang lebar sementara tangannya mengait di leher. Istri Anton yang merem melek akhirnya mencoba menikmati permainan ini, bahkan dengan berani Dina menggoyang pinggulnya untuk membalas sodokan penis sang kakek tua.
“Ehhhmmmm… a-aku sudah mau keluaaar…” begitu nikmatnya Dina dientoti Pak Bambang sampai-sampai wanita cantik yang tadinya alim itu meracau tak jelas. “Auuuhh… ehmm… jangaaan… teruuuus… sakiit… ugh… ahhh… ahh…”
Akhirnya Dina tak kuat lagi menahan nafsu birahinya yang sudah memuncak, tubuhnya langsung mengejang dan tak lama kemudian liang rahimnya dibanjiri oleh cairan cinta. Pak Bambang menyusul Dina tak lama kemudian, tubuhnya menegang, lalu bergetar, lalu tanpa bisa ditahan, air mani menyemprot tanpa henti di dalam memek Dina yang masih dijejali kemaluannya. Air mani mengalir dari sela-sela penis yang melesak di dalam memek Dina dan menetes keluar.
“Ha ha ha. Lihat ini, Pram. Gadis kecilmu ini benar-benar pelacur, mudah sekali dia dibikin orgasme. Berani taruhan, pasti kontol suaminya tidak sanggup memuaskannya seperti ini.” kata Pak Bambang. “Pak Anton! Istrimu jago ngentot nih, aku puas sekali. Mudah-mudahan ada spermaku yang bisa menembus ke dalam dan menghamilinya. Pengen lihat aku, kalau bapaknya sejelek aku, ibunya secantik istrimu, anaknya jadi kayak apa…”
Pak Pram melangkah dengan penuh percaya diri menghampiri suami Dina yang terikat tak berdaya di kursi, penisnya masih berdiri tegak seakan menantang kejantanan Anton yang tak mampu berbuat apa-apa menyaksikan istrinya digumuli dua orang bejat. “Istrimu enak sekali dientoti, Pak Anton. Susunya empuk, memeknya rapet, bibirnya mungil, bokongnya bulet, pokoknya enak sekali dientoti. Mudah-mudahan kami tidak merusak memeknya, karena penis kami ukurannya jauh lebih besar daripada milikmu yang sebesar pensil itu. Memek Ibu Dina masih terhitung rapat untuk kami berdua, tapi saya tidak yakin ukuran penis Pak Anton akan sanggup memuaskan Ibu Dina. Apalagi Ibu Dina sudah merasakan nikmatnya dientoti dua laki-laki sejati.”
Pak Bambang tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan Pak Pramono yang menyakitkan bagi Anton itu. Di samping Pak Bambang, Dina terbaring lemas dengan memek yang masih terus mengeluarkan sperma tumpahan sang kakek bejat. Berkali-kali ibu muda itu terbatuk sambil mengeluarkan air mani Pak Pramono yang masih tersisa di mulutnya.
“Lihat keadaan istrimu sekarang, Pak Anton. Bisa dibayangkan berapa banyak pejuh yang sudah kami tumpahkan dalam rahim Ibu Dina. Mungkin saja kelak Ibu Dina akan melahirkan anak kembar, yang satu mirip Pak Bambang dan yang satu lagi mirip saya.”
Kembali Pak Bambang tertawa, Pak Pramono amat pintar memanipulasi kata-kata untuk mengumbar emosi Anton.
“Untuk mengakhiri semua penderitaan ini…” kali ini Pak Pram tidak main-main, ia mendekat ke arah Anton, menatapnya tajam dan mencengkeram kedua lengannya dengan sekuat tenaga, “aku sangat berharap Pak Anton mau bekerja sama untuk terakhir kalinya dengan kami.”
Keringat Anton mengucur deras, apalagi yang diinginkan bosnya yang kejam ini? Dia sudah menghancurkan hidupnya, hidup Dina, hidup keluarganya. Apalagi yang diinginkannya?
“Pak Bambang adalah orang yang sangat kaya dan sangat mampu membiayai kehidupan Ibu Dina selanjutnya, termasuk biaya untuk menyekolahkan kedua anak kalian dan biaya hidupmu yang menyedihkan itu. Kami akan berbaik hati menyediakan sebuah rumah di kota lain dan modal untuk usaha bagi Pak Anton, sekaligus menjamin kehidupan kedua anak kalian, dengan syarat… Pak Anton bersedia menceraikan Ibu Dina dan menyerahkan kepemilikan Ibu Dina pada Pak Bambang. Itu artinya, Pak Anton tidak boleh bertemu lagi dengan Ibu Dina… selamanya.”
Mata Anton dan Dina terbelalak tak percaya, mereka tidak mempercayai pendengaran mereka, benarkah Pak Pram mengajukan proposal pada Anton untuk menjual Dina? Anton menggeram marah dan melompat-lompat gemas. Pria itu meraung-raung dan menggeram penuh emosi, tapi dalam keadaan terikat ia tidak bisa berbuat banyak, air matanya menetes membanjiri wajah, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, semua ini terjadi karena kesalahannya. Ia harus tunduk pada indecent proposal yang diajukan oleh bosnya ini kalau ingin selamat.
Dina menangis tersedu-sedu, ia terlalu lemah untuk menolong Anton, wajahnya menunduk ke bawah dengan pasrah. Yang akan terjadi terjadilah.
“Aku tidak tertarik menikahi wanita ini.” tiba-tiba saja Pak Bambang berucap. “Akan tetapi, aku punya seorang anak yang usianya kurang lebih sama dengan Pak Anton, bedanya kalau Pak Anton lulusan universitas terkenal, anakku itu lulusan SLB. Sangat tidak membanggakan seorang konglomerat punya anak idiot, tapi akan sangat membanggakan memiliki cucu cantik seandainya anakku itu menikah dengan wanita secantik Dina.”
Kali ini giliran Pak Pramono yang menganga heran. Ia memang sudah tahu kalau Pak Bambang memiliki seorang anak idiot yang disembunyikan di sebuah villa jauh dari kota besar. Tapi ia tidak menyangka pria tua ini berniat menikahkan Dina dengan anaknya itu, benar-benar tindakan yang di luar perkiraannya.
Mendengar kata demi kata yang diucapkan Pak Bambang, mata Dina menjadi berkunang-kunang, pandangannya pun mengabur. Wanita cantik itu ambruk ke lantai dan pingsan.
Kisah penderitaan Dina belumlah usai, justru baru akan dimulai.
###
Ruang Dokter Wibowo menjadi sepi ketika sang dokter berusia lanjut itu menerangkan dampak kecelakaan yang menimpa Hendra, suami Alya.
“Kecelakaan fatal yang dialami oleh Pak Hendra mengakibatkan beliau menderita trauma atau benturan di kepala dan akibatnya terjadi kerusakan syaraf motorik pada jaringan fungsi otaknya. Sejauh pengamatan kami hingga saat ini, mulai dari bagian bawah perut hingga ke ujung kaki syaraf beliau tidak bisa berfungsi secara normal dan mengakibatkan terjadinya kelumpuhan. Saluran pengeluaran beliau sejauh ini tidak mengalami masalah, tapi tidak ada jaminan beliau akan mampu melakukan kegiatan-kegiatan lain seperti berjalan ataupun berlari secara normal, termasuk melakukan hubungan suami istri. Walaupun kelumpuhan semacam ini tidak permanen tapi bisa dikatakan kelumpuhan Pak Hendra adalah kelumpuhan jangka panjang.” Kata Dokter Wibowo.
“Ja-jadi suami saya lumpuh, Dokter?” Seluruh tubuh Alya bergetar dan airmatanya tidak berhenti meleleh membasahi pipi. Lidya memeluk kakaknya yang sedang tertimpa musibah dan berusaha menenangkannya agar tetap tabah. Tubuh Alya bergetar menggigil karena perasaannya panik dan kalut, Lidya hanya bisa berdoa agar semua masalah yang menimpa keluarga mereka segera bisa terlewati.
“Lumpuh dari bagian perut ke bawah, beliau tidak akan bisa menggunakan kedua kaki dan tidak akan lagi mampu melakukan hubungan suami istri, walaupun seperti yang saya katakan tadi, tidak ada masalah dengan saluran pengeluarannya.” Lanjut Dokter.
“Apakah kelumpuhan itu bisa sembuh nantinya, Dokter?” tanya Alya lagi.
Sang dokter menggeleng, “belum bisa dipastikan, Bu Hendra. Dalam beberapa kasus, kelumpuhan semacam ini memang bisa sembuh karena sifatnya tidak permanen dan hanya menimpa bagian tubuh tertentu saja, walaupun tidak bisa dipungkiri kemungkinan Pak Hendra bisa kembali pulih seperti sediakala dalam waktu singkat mungkin hanya hanya sekitar 5 sampai 6%, itupun dalam jangka waktu yang sangat panjang bahkan mungkin hingga menahun, apalagi semakin tua umur seorang penderita, makin berkurang pula kemampuan syarafnya bisa pulih. Sangat tipis kemungkinan Pak Hendra bisa sembuh total.”
Ruangan Dokter Wibowo yang berada di RS ***** menjadi sangat panas, ac memang sudah menyala, tapi perasaan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu semua sangat kacau balau. Alya, Lidya dan Anissa sedang berada di dalam ruang periksa dokter sementara Andi, Dodit dan Pak Bejo menanti di luar. Opi tidak ikut menemani mereka dan dititipkan pada Bu Bejo di rumah.
“Berapa lama kakak saya harus menjalani rawat inap, Pak Dokter?” tanya Anissa, seperti halnya Alya, gadis cantik itu juga menangis sesunggukan meratapi nasib kakak kandungnya yang malang.
“Paling cepat sekitar dua minggu dan paling lambat mungkin satu bulan, tergantung dari kondisi Pak Hendra sendiri. Saat ini beliau sangat lemah dan tidak bisa melakukan aktivitas apapun, walaupun bagian perut ke atas bisa dibilang tidak mengalami cidera serius.” Jawab Dokter.
“Seandainya suami saya tidak mengalami masalah dengan saluran pengeluaran, kenapa dia tidak bisa melakukan kegiatan suami istri, dok?” tanya Alya lagi.
“Sayangnya, kecelakaan itu juga membuat beliau mengalami impotensi. Saya masih belum bisa memastikan apakah impotensi Pak Hendra juga bersifat temporer atau permanen. Hasil testnya baru bisa diperoleh dalam beberapa hari ke depan.” Jawab Dokter Wibowo.
Air mata Alya kembali meleleh, tapi ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada dokter yang telah merawat suaminya. Ketiga wanita cantik itupun meninggalkan ruang dokter.
“Mbak Alya tidak apa-apa, kan?” tanya Lidya khawatir melihat kakaknya.
“Tidak apa-apa. Aku bersyukur Mas Hendra selamat dari kecelakaan itu.” kata Alya kemudian. “Aku tidak peduli dia cacat atau lumpuh, aku akan selalu berada disisinya, aku sangat mencintainya. Di saat sulit seperti inilah, aku wajib menemaninya.”
Anissa dan Lidya saling berpandangan dan kagum pada Alya yang sedang berusaha kuat menabahkan diri. Tapi sesungguhnya, kisah penderitaan Alya belumlah usai, justru baru akan dimulai.
###
Annisa memperhatikan Alya yang masih duduk di samping ranjang Hendra dengan setia. Tidak mudah mengajak Mbak Alya pulang walaupun mungkin kakak iparnya itu sudah sangat kelelahan. Mbak Lidya dan suaminya sudah pulang dan Mbak Dina belum juga menunjukkan batang hidungnya sedari tadi. Harus ada seseorang yang menemani Mbak Alya seandainya dia butuh makan atau mengurus administrasi rumah sakit yang belum selesai. Anis segera mendiskusikan masalah itu dengan Dodit dan Pak Bejo.
“Begini saja, Non.” Usul Pak Bejo. “Karena Mbak Alya belum mau diajak pulang, sebaiknya salah satu dari saya atau Mas Dodit mengantar dulu Non Anis pulang karena hari sudah mulai gelap. Nanti kalau Mbak Alya sudah merasa capek dan ingin pulang, yang tinggal di sini bisa mengantar pulang setiap saat. Kalaupun Mbak Alya mau menginap di sini, lebih baik ada seseorang yang menemani.”
Annisa menganggukkan kepala, “wah, kalau begitu biar Mas Dodit saja yang tinggal di sini, kalau-kalau nanti Mbak Alya mau cari makan atau mengurus surat-surat, Mas Dodit bisa lebih cepat membantu.”
“Saya juga tidak apa-apa kok, Mbak.” Kata Pak Bejo.
“Terima kasih, Pak, tapi sepertinya kami sudah terlalu banyak ngrepotin Pak Bejo.” Kata Dodit. “Kamu pulang dulu aja ya, say. Aku tinggal di sini sama Mbak Alya.”
Annisa mengangguk sementara Pak Bejo tersenyum malu-malu. “Wah, Mas Dodit ini bisa aja, saya gak merasa direpotkan kok Mas, kan keluarga Mas Hendra sudah saya anggap keluarga sendiri.”
“Iya sih, tapi siapa tahu Bu Bejo juga ada urusan yang gak bisa ditinggal? Kan kasihan anak-anak Pak Bejo kalau di rumah gak ada yang ngurus? Lagipula mobil yang dibawa Pak Bejo kan mobil pinjaman dari saudara, pokoknya, kami sekeluarga berterimakasih banyak sama Pak Bejo.” Kata Dodit lagi, sambil tersenyum dia mengambil dua lembar lima puluh ribuan berwarna biru dan memberikannya pada Pak Bejo saat bersalaman. “Ini Pak, buat beli rokok.”
“Lho? Mas Dodit gimana sih? Gak usah, Mas! Beneran, gak usah!” Pak Bejo menggeleng kepala sambil berusaha mengembalikan uang Dodit, pria tua itu memang jagonya sandiwara, pura-pura nolak padahal pengen. Pemuda baik hati itu tetap memaksa sambil memasukkan uang ke dalam saku baju Pak Bejo.
“Cuma seadanya kok, Pak. Buat beli rokok atau ganti bensin nganterin Non Anis.”
“Iya, Pak. Gak apa-apa, diambil aja.” Rayu Anissa sambil tersenyum manis.
Pak Bejo yang pintar bersandiwara pun pura-pura luluh dan menerima uang pemberian Dodit. “Wah, sebenarnya saya melakukan ini semua tanpa pamrih apa-apa, Mas Dodit. Beneran. Keluarga saya sudah sangat sering ditolong Mas Hendra dan Mbak Alya, ini kesempatan saya untuk membalas kebaikan hati mereka. Terima kasih banyak ya, Mas Dodit. Non Anis.”
Dodit dan Anissa mengangguk dan tersenyum ramah. Setelah Anissa dan Dodit berbincang-bincang berdua, akhirnya mereka menemui Pak Bejo di teras rumah sakit.
“Ayo, Pak. Kita pulang sekarang.” Ajak Anis, gadis itu melambaikan tangan pada Dodit. “Aku pulang dulu ya, say. Titip Mbak Alya sama Mas Hendra.”
“Iya. Hati-hati di jalan.” Balas Dodit.
“Mari, Mas Dodit. Saya duluan.” Ujar Bejo.
“Iya, Pak Bejo. Saya titip Anissa ya.”
“Pokoknya beres, Mas.” Pak Bejo menyeringai aneh sambil meninggalkan Dodit di tangga rumah sakit dan mengiringi kepergian Anissa menuju mobil. Dodit menatap kepergian orang tua itu dengan perasaan yang tidak enak, tapi dia percaya penuh pada tetangga Mas Hendra itu karena Pak Bejo sekeluarga sudah seperti saudara sendiri. Kenapa orang tua itu menyeringai aneh? Dodit menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan masuk kembali ke gedung utama rumah sakit.
Sementara itu, kemaluan Pak Bejo bergerak menegang karena gembira. Kesempatan berduaan dengan Anissa telah datang. Pantat bulat si cantik itu akan jadi miliknya.
Anissa tidak sadar, ia kini sedang berada dalam ancaman hebat lelaki yang sudah memperkosa kakak iparnya. Anissa sudah berada dalam genggaman Pak Bejo Suharso!
###
Nada tunggu.
Tidak ada yang mengangkat, Lidya menutup gagang telpon.
Lidya bertanya-tanya kemana Mbak Dina sebenarnya. Sudah sejak pagi dia tidak bisa menghubungi HP dan telepon rumahnya. Mas Anton juga sama saja, tidak bisa dihubungi. Kemana mereka pergi? Mas Andi sudah mencoba menjemput tapi ternyata rumah mereka kosong dan terkunci rapat, anak-anak juga tidak terlihat berada di rumah. Padahal ada musibah yang menimpa salah satu anggota keluarga, tapi Mbak Dina gagal dihubungi. Kasihan Mbak Alya, dia amat butuh dukungan dari keluarga. Kemana Mbak Dina sebenarnya?
Usai gagal mencoba menghubungi Mbak Dina, Lidya melangkah masuk ke dapur untuk menghangatkan lauk makan malam. Pikiran wanita muda itu sangat kalut, ia sama sekali tidak menyangka, di saat dia mengalami masalah berat ternyata kesulitan yang tak kalah hebatnya dialami oleh Mbak Alya. Apa sebenarnya yang terjadi pada keluarga mereka? Lidya merasa beruntung suaminya sudah pulang, kedatangan Andi membuat Pak Hasan tidak berani macam-macam terhadapnya, walau sekali dua kali Pak Hasan dengan nakal menepuk pantat atau mencolek buah dadanya.
Lidya mulai mengambil bahan makanan dari dalam lemari es dan menyusunnya dengan rapi di tempat yang sudah ia sediakan. Ketika sedang sibuk menyiapkan bahan masakan itulah tiba-tiba saja ada sepasang tangan perkasa memeluk tubuh Lidya dengan sangat kuat. Wanita cantik itu tidak bisa bergerak dan pucat pasi. Mulut yang berbau minuman keras, tangan yang nakal menggerayang, tubuh yang masih tegap dan kasar. Orang ini jelas Pak Hasan, Andi akan memperlakukannya dengan lebih lembut.
“Pak! Jangan ah! Mas Andi kan ada di atas! Dia sedang mandi… bagaimana kalau dia nanti…”
“Memangnya kenapa kalau Andi sedang mandi di kamar atas? Kita pasti akan mendengar suara langkah kakinya kalau dia turun lewat tangga. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan, Nduk. Sejak anakku datang, kamu selalu menghindari aku dan tidak pernah lagi mau berdua denganku.” Desis Pak Hasan menahan emosi. “Aku kangen sekali dengan tubuhmu yang molek ini, aku ingin tidur denganmu.”
“A-aku…” Lidya kebingungan mencari kata-kata yang tepat.
Kepanikan Lidya dimanfaatkan dengan baik oleh Pak Hasan. Pria tua itu menggunakan kedua tangannya untuk menjelajah keseksian tubuh sang menantu. Tangan kirinya masuk ke dalam celana pendek Lidya dan meremas-remas pantatnya yang bulat, sementara tangan kanannya memainkan buah dada Lidya yang ranum. Pantat Lidya putih mulus dan sangat halus tanpa cacat, sangat merangsang nafsu Pak Hasan. Sedangkan buah dada menantu Pak Hasan itu tidak perlu lagi diceritakan, bulat besar menggiurkan.
“A-aku tidak mau melakukan ini lagi …” Lidya mencoba meronta dan melepaskan diri dari pelukan ayah mertuanya, sia-sia saja karena pria tua itu jauh lebih kuat. “Lepaskan aku… Mas Andi…”
“Bayangkan apa yang akan dilakukan oleh anakku itu seandainya dia turun ke bawah dan melihat kita sedang bermesraan seperti ini, hmm? Ayah kandungnya sedang bermain-main dengan pantat mulus dan payudara molek istrinya.” Pak Hasan membisikkan kata-kata yang membuat Lidya urung melakukan perlawanan. “Aku hanya ingin menikmati keindahan tubuhmu, Nduk. Bukan hal yang aneh kan? Kita sudah berulang kali bermain cinta dan…”
“Aku tidak ingin melakukan ini lagi!” Lidya mencoba tegas.
Karena jengkel, Pak Hasan menggeram dan mendorong tubuh menantunya sampai menempel ke tembok. Karena posisi tubuhnya yang terjebak pelukan Pak Hasan dari belakang, Lidya tidak mampu melawan, dia terdorong ke depan sampai menempel ke tembok. Untunglah dorongan Pak Hasan tidak cukup keras sehingga menyakiti sang menantu. Lidya menjerit kecil tapi karena takut Andi akan mendengar suaranya, si cantik itu menutup mulutnya sendiri.
Dengan terengah-engah Pak Hasan menahan agar tubuh Lidya tetap menempel di tembok dapur, pria tua berbisik perlahan ke telinga Lidya. “Aku sudah berusaha ramah padamu, Nduk. Tapi kalau kau mengajak main kasar, aku tidak akan segan-segan meladenimu. Aku ingin kau mendengarkan kata-kataku karena aku tidak akan mengulanginya lagi… paham?”
Lidya mengangguk dengan ketakutan.
“Aku ingin menidurimu lagi. Aku tidak peduli Andi sedang berada di rumah atau pergi bekerja, tapi saat aku ingin memasukkan kontolku ke dalam memekmu yang wangi, maka kau wajib membuka lebar-lebar kakimu agar aku bisa menikmatinya. Aku tidak suka perlawananmu hari ini, dan sebagai hukumannya, selama seminggu ini aku akan memberikan perintah-perintah yang harus kau turuti. Kalau tidak mau melakukannya, aku akan tetap menjepitmu dalam posisi ini sampai Andi turun ke bawah.” Ancam Pak Hasan. “Pendek kata, aku ingin kau menjadi budakku seminggu ke depan, bagaimana?”
Lidya menggeleng kepala, “A-aku tidak ingin melakukan ini lagi… ini salah… ini…”
Terdengar langkah kaki di lorong kamar atas, sepertinya Andi sudah bersiap turun ke bawah menyusul Pak Hasan dan Lidya. Keringat istri setia itu menetes sebesar jagung, apa yang harus dilakukannya? Ia tidak mau lagi melayani kebejatan sang mertua, tapi kalau Mas Andi sampai tahu, seluruh dunia mereka pasti akan hancur berantakan. Detik demi detik berlalu, terdengar langkah kaki Andi turun melalui tangga, Lidya makin panik, ia berusaha meronta tapi gagal karena jepitan kunci Pak Hasan sangat kuat. Dengan hati remuk redam, akhirnya Lidya mengangguk pasrah.
“Baiklah…” bisik Lidya lemah.
“Baiklah apa?” Pak Hasan meringis keji penuh kemenangan sambil mengulum-ngulum daun telinga Lidya. “Baiklah kau akan menjadi budakku atau baiklah kau akan nekat membiarkan Andi melihat kita sedang bermesraan?”
“Baiklah aku bersedia menjadi budak bapak…” desahan yang keluar dari mulut Lidya terdengar panjang dan pasrah.
Kisah penderitaan Lidya belumlah usai, justru baru akan dimulai.
###
Mobil yang dikendarai Pak Bejo berkelak-kelok melalui jalan yang belum dikenal Anissa, karena memang belum mahir menyetir mobil, Anissa kurang begitu mengenal wilayah dan tidak hapal jalan-jalan kecil yang dilalui Pak Bejo. Tapi kali ini Pak Bejo melalui jalan yang tidak biasanya dilalui, berkelak-kelok melalui jalan sempit dan melewati daerah yang sepi hunian. Kendaraan yang berpapasan dengan mobil mereka bisa dihitung dengan jari.
Rumah sakit tempat Mas Hendra dirawat dan rumah tempat tinggal Mbak Alya memang cukup jauh, tapi jalan yang dilalui Pak Bejo ini seakan-akan membuat perjalanan mereka pulang menjadi lebih jauh dan lama. Karena hari mulai gelap, Anis memberanikan diri bertanya pada Pak Bejo.
“Pak, kita lewat jalan apa sih? Kok kayaknya malah jadi lebih jauh?” tanya Anissa.
“Oh, maaf. Saya belum menjelaskan ya? Kita mampir sebentar ke rumah adik saya, Non Anis. Kebetulan tadi dia sms katanya ada titipan untuk istri saya.”
“Oh gitu. Sms yang masuk saat kita keluar dari rumah sakit ya?”
“Iya. Nggak apa-apa kan, mampir sebentar?”
“Nggak apa-apa kok, tapi sebentar saja ya, Pak.”
“Iya.”
Walaupun jengkel karena tidak diberitahu sebelumnya kalau Pak Bejo akan mampir ke tempat lain, Anissa diam saja. Perjalanan berlanjut tanpa ada percakapan lagi, Anissa terus melirik ke arah jam tangannya karena walaupun hari semakin larut, tidak ada tanda-tanda mobil akan berhenti.
Tiba-tiba saja mobil berhenti mendadak di tengah kawasan perbukitan yang dipenuhi pohon rindang dan amat sepi, mereka jauh dari jalan utama dan sudah cukup jauh untuk kembali ke rumah sakit. Annisa mulai khawatir, walaupun ia sangat percaya pada Pak Bejo tapi karena hari sudah gelap, Anissa mulai berpikiran macam-macam.
“Kok berhenti di sini, Pak?” Anissa makin ragu. “Pak Bejo yakin ini jalan pulang ke rumah Mbak Alya?”
Ada sesuatu yang ganjil pada kelakuan Pak Bejo sore ini dan makin lama kecurigaan Anissa makin besar, walaupun masih muda, Anis bukanlah gadis bodoh. Rute pulang yang tidak seperti biasa, alasan mampir di rumah saudara, berhenti mendadak di tengah jalan, situasinya makin aneh. Anissa memeluk dirinya sendiri yang menggigil dan mulai membayangkan hal yang tidak baik.
“Aduh, saya minta maaf, Non Anis. Tiba-tiba saja saya ingin buang air kecil, sebentar saja ya Non…” rayu Pak Bejo. Anissa tidak bisa melihat senyum licik tersungging di bibir Pak Bejo karena gelapnya malam.
“Iya deh, tapi jangan lama-lama ya Pak, saya takut.” Anissa tersenyum, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dan meyakinkan bahwa Pak Bejo bukanlah orang jahat.
Pria tua itu meninggalkan kursinya dan melangkah keluar mobil sambil menahan tawa iblisnya.
###
Anissa sedang menikmati lantunan lagu jazz lembut yang mengalun di radio ketika terdengar ketukan pelan di jendela mobilnya. Wajah Pak Bejo yang tiba-tiba muncul mengagetkan dara itu. Anis memencet tombol membuka jendela.
“Ada apa, Pak?” tanya Anissa.
“A-anu, non… sepertinya saya kehilangan kunci mobil sewaktu buang air kecil tadi.”
“Aduuuh… Pak Bejo ini gimana sih?” nada suara Anissa meninggi karena jengkel, tapi gadis itu segera memperbaiki nada suaranya agar Pak Bejo tidak marah. Mereka hanya berdua saja di tempat sepi ini dan hal terakhir yang diinginkan Anissa adalah membuat Pak Bejo marah. “Saya temani deh mencari kuncinya.”
Anissa melangkah keluar dari mobil, karena hari mulai gelap, ia menggunakan nyala HP-nya sebagai penerang sementara Pak Bejo menyiapkan lampu darurat bertenaga baterei yang ia ambil dari bagasi mobil. Karena sering memakainya, Pak Bejo sudah sangat hapal dengan mobil yang ia pinjam dari salah seorang sepupunya ini.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Anissa, di suatu tempat di lokasi itu, Pak Bejo baru saja menggelar koran yang sudah ia bawa sedari tadi sebagai alas, tempat di mana nantinya Pak Bejo akan menikmati malam terindah bersama Anissa, tempat di mana Anissa akan kehilangan kegadisannya.
Anissa mulai khawatir karena Pak Bejo menggiringnya makin masuk ke tengah pepohonan rindang dan sudah cukup jauh dari jalan utama. Gadis itu mulai merasa seakan-akan dia sedang memasuki satu jebakan.
Akhirnya Anis menyerah, “Saya telpon Mas Dodit aja deh, Pak… hari sudah terlalu malam, saya takut…”
Belum sempat Anissa melanjutkan kata-katanya, Pak Bejo dengan sigap menubruk gadis itu! Anissa menjerit ketakutan karena tiba-tiba disergap Pak Bejo yang bertubuh besar, ia ambruk ke tanah dan HP yang sedari tadi ia bawa terlempar jauh.
“PAK BEJO! APA-APAAN INI?!” Anissa mencoba menyadarkan pria tua yang sudah lupa diri itu, tapi Pak Bejo sudah berubah menjadi setan dengan hawa nafsu tak terkendalikan. Bagaimanapun Anissa mencoba meronta dan melawan, Pak Bejo tetap tak bergeming. Dengusan nafas Pak Bejo yang berat membuat Anissa makin panik, ia tahu apa yang diinginkan Pak Bejo saat ini, ia tahu pasti dari dengusan nafas penuh nafsu itu. “LEPASKAN SAYA!! LEPASKAAAAN!!”
Jeritan, pukulan, cengkraman, semua upaya silih berganti dilakukan oleh Anissa yang terus meronta dalam pelukan lelaki tua berotak mesum itu. Sayangnya Pak Bejo adalah seorang preman yang sangat kuat, semua perlawanan Anis malah membuat pria tua itu semakin terangsang, makin Anis melawan, makin ingin rasanya Pak Bejo menaklukkan si cantik ini. Setelah si jelita itu takluk nanti, Pak Bejo akan menidurinya tanpa ampun!
Cukup lama dua sosok manusia itu bergumul di tanah, Pak Bejo yang mulai merasa jengkel akhirnya mengeluarkan pisau lipat dari dalam kantong celananya dengan susah payah dan menempelkannya di leher Anissa.
“Kalau begini terus, kita berdua yang akan rugi dan kelelahan, Non Anis.” bisik Pak Bejo sambil menekan leher Anissa dengan pisau dan mengancamnya. Anissa yang menyadari adanya sebilah pisau yang siap menggorok lehernya akhirnya menghentikan semua aksi perlawanan.
Dengan senyum kemenangan dan terkekeh pelan, Pak Bejo mengelus pipi Anissa. “Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah ingin mencicipimu, gadis manis.”
“Dasar lelaki tua busuk! Bajingan! Laknat! Lepaskan aku sebelum…”
JLEB!
Pak Bejo menancapkan pisau tepat di sebelah kepala Anissa dengan penuh kemarahan, gadis itu langsung lemas dan menggigil ketakutan. Mata Anissa mulai berkaca-kaca karena ia sadar bencana apa yang saat ini sedang mengancam dirinya. “Jangan… jangan…”
Pak Bejo kembali menarik pisaunya dari tanah dan menempelkannya ke leher Anissa.
“Kamu sudah dewasa, sudah tahu permainan apa yang sedang kita mainkan saat ini. Aku tidak akan segan menyakitimu baik dengan pisau ini ataupun dengan tangan kosong seandainya kau berani melawanku. Lebih baik kita bekerja sama maka aku tidak akan menyakitimu, setuju?” dengan sengaja Pak Bejo menekan pisaunya lebih dalam ke leher Anissa namun tidak sampai menyayat kulitnya yang putih mulus seperti pualam.
“I-Iya…” lirih Anissa menjawab, ia sangat ketakutan. Air mata gadis itu mulai menetes.
“Cup cup, tidak perlu menangis, sayang. Aku janji tidak akan menyakitimu, semuanya pasti baik-baik saja dan menyenangkan. Kalau sampai tidak enak, jangan panggil aku Bejo. Heh heh heh…”
Dengan penuh percaya diri, Pak Bejo memeluk Anissa dan menempelkan kemaluannya yang sudah membesar ke paha sang gadis cantik. Tangan pria tua itu bergerilya menyusuri seluruh tubuh Anis, bergerak turun dari atas, mulai rambut, hidung, pipi, leher, hingga ke payudara.
“Kamu cantik sekali, sayang.” Bisik Pak Bejo di telinga Anis.
Anissa memejamkan mata ketika bibir hitam pria tua itu menelusuri leher dan pipinya, sentuhannya membuat bulu kuduk sang dara berdiri dan merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Belaian demi belaian Pak Bejo disarangkan, semua demi mencoba membuai angan Anissa yang masih dilanda shock dan ketakutan yang amat sangat.
Tangan Pak Bejo dengan mahir membuat gadis itu rileks dan mulai pasrah pada tangan jahil sang pria tua. Nafas Anissa mulai berat, walau pasti tidak mau mengakui, tapi gadis itu pasti mulai terangsang. Kali ini Pak Bejo menarik tangan dan menjelajah masuk ke perut Anissa dari bagian bawah pakaian yang dikenakan dara cantik itu.
Sentuhan lembut Pak Bejo mau tidak mau membuat Anissa merinding, pria tua itu bisa merasakan gelinjang tubuh Anis ketika tangannya bergerak ke atas menuju ke buah dada sang dara yang ranum. Gadis itu menatap Pak Bejo dengan mulut terbuka kecil dan mata yang menerawang entah ke mana.
Mengetahui Anissa sudah mulai terangsang, Pak Bejo memberanikan diri menyingkap baju dan BH gadis muda itu. Sekejap saja, gundukan payudara sentosa sang dara menyambut dinginnya malam dan siap dinikmati oleh sang pria tua. Pak Bejo mengusap dan meremas payudara Anis, membuat gadis itu menjerit lirih karena tak kuat menahan nafsu.
“Ouuughhh…” desah Anissa lirih ketika puting susunya dipermainkan lidah Pak Bejo.
Kecupan demi kecupan membuat Anissa yang masih minim pengalaman bercinta menjadi merem melek menahan diri agar tidak terangsang.
“Aheemm… haaahhh… ahhh…” erangan sensual Anissa terdengar sangat erotis bagi Pak Bejo, ia menggigit puting payudara gadis itu dengan gigitan kecil dan meninggalkan cupang di balon buah dadanya.
Kepasrahan Anissa membuat Pak Bejo dengan bebas melucuti satu demi satu pakaian yang dikenakan gadis itu. Sesuai dengan namanya, Pak Bejo adalah orang yang ‘bejo’ atau beruntung. Ia menjadi orang pertama yang menikmati keindahan utuh tubuh seksi sang gadis muda rupawan ini. Akhirnya kedua sosok berlainan jenis itu bertelanjang bulat.
“Benar-benar bidadari turun dari langit.” Walaupun hanya diterangi oleh lampu darurat, tapi setiap lekuk keindahan tubuh Anissa bisa terlihat jelas oleh Pak Bejo. Pria tua itu menundukkan kepala dan mendekatkan bibirnya ke bibir Anis. dengan satu sapuan, bibir mereka saling bersentuhan. Bibir mungil yang ranum, basah dan sensual. Dengan penuh nafsu, Pak Bejo melumat bibir Anis.
Pak Bejo memaksakan lidahnya masuk ke mulut Anissa, sementara tangannya menarik tangan Anis dan memaksanya memegang kemaluan Pak Bejo yang sudah mengeras seperti batang kayu. Gadis polos itu hanya diam saja dan menurut perintah Pak Bejo, ia sangat takut pada pria tua yang nekat itu.
Tiba-tiba saja Pak Bejo berdiri, setelah berdiri tegak di hadapan Anissa, Pak Bejo menjambak rambut indah Anis supaya bangkit dari posisi berbaring dan dengan kasar pria tua itu mendorong kepala Anissa ke depan selangkangannya supaya wajah dara itu bisa mendekat ke arah penisnya, Anissa meronta dan menolak, tapi Pak Bejo mengunci tubuhnya dengan erat sehingga sang dara tidak bisa bergerak banyak.
Anissa masih terus meronta hendak melawan ketika akhirnya, PLAKK!! Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya. Tamparan itu begitu keras sehingga pipinya memerah dan air matanya meleleh seketika, Anis tidak mengira Pak Bejo akan menyakitinya setelah beberapa saat memperlakukannya dengan lembut.
“Kalau tidak mau mati kuperkosa sebaiknya kamu berlutut sekarang juga dan melayani apa mauku!” Kata Pak Bejo tegas, kata-kata pria tua itu diucapkan pelan namun sangat menakutkan hati Anissa karena penuh ancaman. Mata gadis itu berlinang air mata dan tubuhnya merinding karena tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Anissa kebingungan, Pak Bejo malah terangsang, akhirnya penis Pak Bejo berdiri tegak tepat di hadapan sang dara, ukurannya yang besar mengagetkan Anis.
“Berlutut, kulum kontolku.” Perintah Pak Bejo pada gadis yang sedang ketakutan itu.
Walaupun masih perawan, tapi Anissa sudah pernah menyepong penis Dodit, itupun karena Anissa yakin Dodit adalah pria yang kelak akan menikahinya sehingga Anissa mau melayani sang kekasih beroral-seks. Dodit yang baik juga menahan diri dengan tidak melanjutkan petting dan foreplay mereka sampai ke tahap penetrasi. Satu-satunya penis milik seorang laki-laki yang pernah dilihat oleh Anissa adalah milik Dodit, tapi kini dia menatap satu kontol besar yang ukurannya melebihi milik sang kekasih, perasaannya bercampur antara kalut dan takjub. Tangan Pak Bejo yang sudah tak sabar membimbing Anissa menggenggam kemaluannya.
“Ampuuun… jangan paksa saya, pak… jangan… ter-terlalu besar…” rengek Anissa tanpa dihiraukan oleh Pak Bejo. Tangannya yang halus tanpa cacat menggenggam batang kemaluan sang pria tua dengan ragu-ragu.
Setelah menunggu lama tanpa ada reaksi dari Anissa, dengan jengkel Pak Bejo menampar lagi pipi Anissa yang tadi sudah memerah. Pria itu memang sangat kasar dan memuakkan, dia semena-mena menyakiti gadis muda yang tak berdaya. Anissa jatuh terjerembab karena tamparan Pak Bejo, wajahnya kian sembab membiru karena terus dihajar.
“Sudah ditampar masih berani melawan! Kalau tidak mau kubunuh sebaiknya cepat kau kulum kontolku!!”
Tangis Anissa makin menjadi, dia meringkuk di bawah dan tidak mau berdiri, tapi setelah Pak Bejo mengancam dengan mengangkat tangannya, Anissa buru-buru berlutut dan meraih kembali penis Pak Bejo yang tadi ia lepaskan dan meletakkan batang kontol itu tepat di depan mulutnya. Anis masih ragu-ragu hendak menyepong kemaluan Pak Bejo.
“CEPAT!” kembali Pak Bejo membentak.
Dengan nakal pria tua itu mendorong pinggulnya ke depan sehingga kemaluannya berulang kali menyentuh wajah Anissa. Gadis muda yang cantik itu terpaksa menahan tangis dan membuka mulut dengan berat hati. Pak Bejo tertawa-tawa dengan sadis sambil menyorongkan kemaluannya pada gadis jelita itu.
“Nah… begitu… baru… anak… baik…” kata-kata Pak Bejo terpatah-patah karena merasakan enaknya disepong gadis secantik Anissa. Mulut Anis yang mungil menerima sodokan demi sodokan kemaluan Pak Bejo. Dengan lembut Pak Bejo mengelus-elus rambut Anissa.
“Jilati batangnya… anak manis…” kata sang pria bejat sembari menahan kepala Anissa dan menarik penisnya dari mulut gadis itu. Walaupun malu dan ragu, Anissa terpaksa membiarkan lidahnya menari di batang kemaluan Pak Bejo. Beberapa saat kemudian, kembali Pak Bejo menahan kepala Anis dan memasukkan ujung gundulnya ke mulutnya. Sedikit demi sedikit Anissa mulai diajari cara menyepong oleh pria bejat itu, beberapa kali Anissa tersedak ketika penis Pak Bejo menyodok hingga ujung. Pria tua itu hanya tertawa melihat penderitaan Anissa.
“Sudah ya, Pak? Saya sudah capek… saya mohon… kasihan …” pinta Anissa memohon ampun. Air matanya deras mengalir, tapi Pak Bejo menatapnya galak. Dengan kasar dijambaknya rambut Anis sehingga mereka saling bertatapan.
“Aku yang bilang kapan harus berhenti.” Geram sang pria tua mengancam Anissa, ia mengambil kembali pisau lipatnya yang tadi ia simpan di dalam saku baju. Gadis cantik itu menggigil ketakutan dan mengangguk pasrah.
“Sekarang, berbaringlah menghadap ke bawah.” Perintah Pak Bejo sambil memasukkan kembali pisau lipat yang ia gunakan untuk mengancam Anis kembali ke saku.
Dengan hati-hati Anissa berbaring, walaupun sudah beralaskan kertas koran, berbaring di atas rumput di alam bebas membuat tubuh Anissa menggigil kedinginan, apalagi dengan posisi menelungkup. Dengan berani Pak Bejo mengangkangi tubuh Anissa, kakinya yang besar dan penuh bulu mengempit sisi kanan kiri paha Anissa. Lalu tangan pria tua itupun mulai bergerilya dan meraba tubuh si cantik, perlahan sekali ia menikmati setiap jengkal tubuh telanjang Anissa yang memang sangat seksi. Gadis itu terhenyak ketika merasakan tangan jahil Pak Bejo masuk ke sisi bawah lengan dan meremas payudaranya yang empuk.
“Pak Bejo! Sudah Pak! Jangan diteruskan! Aku mohon…!”
Pria tua itu hanya tertawa dan menarik tangannya dari payudara Anissa, tapi ia tidak berhenti begitu saja, Pak Bejo beralih ke kaki jenjang si jelita dan mengelus-elusnya penuh nafsu birahi. Makin lama tangan Pak Bejo makin naik, dari betis ke paha. Anissa berusaha menutup kaki agar Pak Bejo tidak bisa dengan mudah meraba bagian dalam pahanya, tapi pria itu lebih kuat dan membuka lebar-lebar paha Anissa. Elusan tangan Pak Bejo makin lama makin naik ke atas ke arah selangkangan Anissa sampai akhirnya dengan nekat pria tua itu menyentuh bibir vagina sang dara.
Anissa menjerit tertahan, merasakan sentuhan tangan pria yang lebih pantas menjadi ayah atau kakeknya itu meraba-raba bagian tubuhnya yang paling sensitif. Pak Bejo menangkupkan tangan di atas memek Anissa.
“Jangan!” keluh Anissa tanpa daya, ia berusaha meronta kembali, tapi Pak Bejo sudah siap, tubuhnya menubruk Anissa hingga gadis itu tak berdaya dalam pelukannya.
Terjebak di bawah tubuh pria tua berotak busuk seperti Pak Bejo, Anissa bagaikan seekor kijang muda yang takluk dalam sergapan seekor singa lapar. Gadis muda yang jelita itu harus memutar kepalanya ke kiri kanan hanya untuk bisa menarik nafas yang berat karena seluruh tubuhnya ditekan ke bawah. Anissa meneteskan air mata pasrah ketika merasakan tangan Pak Bejo beraksi dengan berani mengelus-elus bibir memek Anissa. Gadis itu mulai sesunggukan dan menangis tersedu-sedu, tapi Pak Bejo tak mau berhenti, tangan pria tua itu malah masuk ke dalam bibir memek Anissa dan merogohnya bagai kantong mainan.
“Hebaaat! Rapet banget! Siapa sangka? Tubuhnya seksi, wajahnya cantik seperti bintang sinetron, tapi memeknya masih rapet dan orisinil. Ini baru namanya perawan!” Pak Bejo menarik tangannya dari dalam memek Anissa. “Dengan tubuh indahmu itu, kamu pasti berharga mahal kalau mau jadi pelacur. Siapa tahu dapat langganan anggota DPR, mau?”
Anissa menjerit marah karena merasa dipermalukan, kembali ia meronta, tapi kali ini Pak Bejo melawan dengan mengeluarkan senjata andalannya. Pak Bejo menempelkan penisnya di antara selat dua bokong indah Anissa. Gadis itu menjejakkan kakinya dengan panik, ia tahu sebentar lagi pria tua busuk itu pasti hendak memperkosanya! Tubuh Pak Bejo terlalu berat dan kuat, Anissa tak bisa melawan kehendak sang pria tua yang sudah tertelan nafsu birahi liar. Kemaluan Pak Bejo yang besar dan tegang menyelip di antara paha mulus Anissa.
“Jangan, Pak… jangan…” lemas suara Anissa memohon.
“Ssst… kamu menurut saja, ya manis. Pasti enak kok.” Jawab Pak Bejo tanpa belas kasihan. “Aku ingin jadi orang pertama yang merasakan lezatnya memekmu.”
Pak Bejo menggesek-gesekkan kemaluannya di celah bukit bokong Anissa, ia dibuat merem melek oleh pantat bulat seksi milik gadis muda itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, pantat Anissa menerima sentuhan langsung penis menegang milik seorang pria, sayang pria itu bukanlah calon suaminya. Gadis itu tersengal-sengal karena didorong maju mundur oleh Pak Bejo, ia sangat berharap Pak Bejo kelelahan dan mengurungkan niat memperkosa dirinya.
“Teruuuus… terussss…” Pak Bejo merem melek keenakan.
Setelah beberapa saat lamanya keenakan menggesekkan penis di belahan pantat Anis, Pak Bejo membalik tubuh gadis itu sehingga wajah mereka saling berhadapan. Pak Bejo mencium bibir mungil Anissa sementara tangannya bergerilya meremasi buah dada sang dara jelita. Tubuh gemuk besar Pak Bejo menindih tubuh mungil Anis di bawah langit malam terang, udara dingin berhembus menerpa kedua tubuh telanjang yang bermandikan keringat.
Pak Bejo menarik puting payudara Anissa dengan gigi dan menggigitinya kecil-kecil, ia juga mencupang balon buah dada gadis itu hingga membekas merah. Ketika gadis itu lengah, Pak Bejo menempatkan kemaluannya di mulut vagina Anissa sebelum dara cantik itu sadar apa yang akan segera dilakukan oleh sang pria tua bejat.
“Jangan Pak! Jangaaaaaaan!!!” rengek Anissa mencoba menghalangi Pak Bejo mengambil miliknya yang sangat berharga dan tak tergantikan itu. Tapi Pak Bejo jauh lebih kuat dan nafsu birahinya sudah sampai ke ujung ubun, Anis tak berdaya dalam pelukan Pak Bejo. Rengekan mohon ampun dari Anis malah semakin membuat Pak Bejo bernafsu, ia menyiapkan penisnya untuk melakukan tugas yang paling menyenangkan, merenggut kegadisan Anissa.
Pak Bejo bertanya-tanya dalam hati, benarkah gadis ini masih perawan? Hanya ada satu jalan untuk membuktikannya. Pak Bejo mengangkat tubuh dan melesakkan kemaluannya ke dalam memek Anissa dengan sekuat tenaga. Karena kerasnya usaha Pak Bejo, akhirnya bobol juga pertahanan terakhir Anissa. Pria pertama yang berhasil mencicipi madu kenikmatan dari kegadisannya bukanlah Dodit yang diharapkan menjadi suaminya, melainkan seorang pria tua bejat bernama Bejo Suharso.
“Jangaaan!! Kumohon, Pak Bejo! Sudah! Sudaaaah!!” Anissa meronta dan memukuli Pak Bejo sekuat tenaga, tapi mantan preman itu jauh lebih kuat daripada sang gadis muda. Karena jengkel, Pak Bejo menampar gadis itu di pipi kanan dan kiri. Saat itulah Anissa berhasil ditundukkan.
Anissa mendengar lenguhan Pak Bejo yang mulai melesakkan penisnya pelan-pelan, “Duuuh… enaknya memek kamu, Non Anis. Rapet banget! Wah, beneran nih Non Anis masih perawan!”
Kemaluan Pak Bejo maju sedikit demi sedikit, Anissa memejamkan mata ketika merasakan ujung gundul penis pria tua itu mulai melesak masuk melewati bibir vaginanya. Anissa ingin menjerit tapi tenaganya sudah habis, batang kemaluan Pak Bejo masuk ke dalam liang rahim Anissa dengan lembut. Gadis jelita itu hanya bisa pasrah dan menangis sesunggukan tanpa daya.
“Jangan…” bisik Anissa memohon ampun untuk yang terakhir kali sebelum Pak Bejo mengambil miliknya yang paling berharga. Calon pengantin itu mengerang ketakutan dan kesakitan namun tak berdaya, ia tak bisa mempertahankan diri dan gagal menahan serangan pria tua menjijikkan yang menginginkan kesuciannya ini. Jika Pak Bejo berhasil mendapatkan keperawanannya, maka Anissa akan kehilangan Dodit. Anissa tahu dia akan menjadi gadis kotor yang tidak lagi pantas menjadi istri kekasihnya itu. Pernikahan mereka terancam berantakan.
“Ahhhhhhhhh!!” jerit Anissa setengah berteriak ketika seluruh batang kemaluan Pak Bejo berhasil menembus masuk ke dalam memeknya, selaput daranya berhasil disobek. Pak Bejo menikmati tiap detik kenikmatan memerawani Anissa.
“Wow, surprise! Non Anissa bener-bener masih perawan!” teriak Pak Bejo sambil tertawa puas, ia bahagia menjadi orang pertama yang memasuki liang kewanitaan Anissa dan menembus selaput daranya.
Merasakan kenikmatan luar biasa menjadi pembobol keperawanan Anissa yang sebentar lagi akan menikah itu, Pak Bejo menyetubuhinya tanpa ampun. Ia menusukkan kemaluannya ke dalam vagina Anissa yang terbaring tak berdaya di bawahnya. Gadis itu tak henti menggigil sambil bergetar dan menangis sesunggukan. Pak Bejo menatap mata Anissa lekat-lekat dan tertawa terbahak. “Nggak nyangka sama sekali, di jaman seperti sekarang masih ada cewek yang mempertahankan keperawanannya sebelum menikah. Tadinya saya pikir Non Anis sudah berkali-kali ditiduri Mas Dodit. Sayang sekali dia tidak berani melakukannya, tentunya sekarang Non Anis akan mengingat saya seumur hidup ya, cinta pertama memang tak akan terlupakan, ha ha ha.”
Anissa kembali menjerit-jerit karena tak rela dirinya diperawani pria sebejat Pak Bejo. Pria tua itu hanya tertawa terbahak melihat gadis itu mencoba meronta. Gerakannya malah justru membuat gairah birahi Pak Bejo melejit tak tertahan.
“Ahh… enakgh… enak sekali… ahhh memekmu top banget, Non Anis!” kata pria tua sambil merendahkan martabat gadis yang tengah diperkosanya dengan mengeluar masukkan penisnya sekuat tenaga.
“Ohhhh… ampuuuun! Ampuuuun, Pak! Sudaaaah! Cukuppp! Ahhhh! Ehhhmm…!!” rintihan suara Anissa bercampur antara rasa sakit dan nikmat, sangat menyenangkan di telinga Pak Bejo yang terus menggenjot kemaluannya.
“Gadis cantik seperti kamu memang harus diperlakukan seperti ini… unghhh… enak banget memek kamu, Non Anis… ungh… ungh… ungh…” Pak Bejo merem melek merasakan sempitnya kemaluan gadis yang ada di pelukannya.
Anissa menyeringai menahan sakit ketika penis Pak Bejo berulang-ulang menjejal di dalam liang rahimnya, air mata Anis menetes tak tertahan. Pak Bejo tak kunjung usai, ia menarik paha si cantik dan menumbukkan kemaluannya sampai ke ujung leher rahim, sangat menyakitkan bagi Anissa yang baru pertama kali ini bersetubuh dengan seorang lelaki. Belum cukup rasa sakit ditimbulkan oleh Pak Bejo, pria tua menjijikkan itu juga meremas-remas payudara Anissa dengan ganas.
“Aduuuhh… sakit! Sakit! Ampuuun…” rintih Anissa tanpa henti sementara Pak Bejo menyetubuhinya dengan berbagai macam gaya. Pria tua itu tidak puas hanya dengan posisi misionaris biasa, ia menarik Anissa dan menyetubuhi dari belakang dengan gaya doggie-style. Berkali-kali Anissa merengek minta ampun ketika Pak Bejo menjambak rambutnya hingga wajah gadis itu mendongak menatap ke atas. Karena waktunya sempit, Pak Bejo tidak bisa terlalu banyak melakukan eksperimen posisi, tapi dia merasa puas merasakan memek Anissa yang masih sangat rapat hingga penisnya terasa sangat enak di dalam memek gadis itu. Tidak hanya asyik melesakkan penisnya keluar masuk memek Anissa, Pak Bejo juga menggigiti pundak dan menciumi leher gadis itu sementara tangannya asyik meremas-remas buah dada si cantik.
“Aduuuh! Aduuuh! Aku tidak tahaaan lagiiii!!” erang Pak Bejo setengah berteriak. Sesaat kemudian Anissa merasakan ujung gundul penis Pak Bejo seperti membengkak dan berdenyut di dalam liang kewanitaannya. Tiba-tiba saja terpancar cairan hangat yang keluar dari ujung penis Pak Bejo, kemaluan Anissa dipenuhi oleh air mani pria tua bejat itu. Setelah hampir satu jam Pak Bejo menyetubuhi Anissa dengan kejam, diapun menyemprotkan air maninya di dalam liang rahim sang gadis manis yang sudah direnggut kesuciannya itu.
Bukannya takut dilaporkan pihak yang berwajib karena telah memperkosa calon istri orang, Pak Bejo malah berharap ia bisa menghamili Anis. Pak Bejo tetap mendiamkan penisnya berada di dalam memek Anis untuk beberapa saat lamanya, sementara gadis itu terdiam tak berdaya di bawah pelukan sang pria tua. Setelah beberapa menit mereka beristirahat, Pak Bejo melepaskan penisnya dari dalam vagina Anis. Pak Bejo menangkup selangkangan Anis dengan nakal dan terkekeh menghina.
“Memang paling enak acara belah duren.” Pak Bejo menggesekkan penisnya di dada ranum dan wajah cantik Anissa tanpa rasa dosa. “Dengarkan baik-baik, anak manis. Ada baiknya kejadian ini tidak kau sebarkan ke semua orang. Aku punya banyak kawan di luar sana, jadi seandainya kau lapor polisi atau membacot pada Mas Hendra, Mbak Alya atau Mas Dodit dan yang lainnya, siap-siap saja. Tidak hanya menyiksamu, aku juga akan meminta orang menghabisi Mas Doditmu tercinta itu! Paham?!”
Anissa mengangguk lemah tak berdaya.
Puas mempermalukan dan mengancam Anissa, dengan santai Pak Bejo membersihkan dirinya dengan tissue yang ia ambil dari saku kantong celana, ia melemparkan beberapa helai tissue pada Anissa yang masih sesunggukan dan meringkuk tak berdaya. Pak Bejo dengan senyum puas membersihkan penisnya yang belepotan air mani bercampur darah perawan Anissa. Ia puas sekali bisa mendapatkan seorang gadis yang cantik dan seksi apalagi masih perawan seperti Anissa, ia merasa jauh lebih muda setelah meneguk kenikmatan sejati seorang gadis perawan.
Beberapa saat kemudian, mereka kembali ke mobil yang diparkir di tepi jalan.
Sementara Pak Bejo merasa puas dan merokok di kursi depan, Anis menangis terisak-isak di kursi belakang. Tubuh gadis itu terasa berat dan lemas sampai-sampai ia tak mampu bergerak. Anissa tahu, pasti orang tua sinting ini akan mengulangi lagi perbuatannya kapanpun ia mau. Anissa tidak bisa melaporkannya ke pihak yang berwajib karena Pak Bejo adalah orang yang sangat kasar dan berani melakukan setiap ancamannya, ia takut Pak Bejo akan melukai dirinya, keluarga Mas Hendra atau bahkan Dodit. Anissa tidak mau itu terjadi, dia juga tidak ingin melapor ke polisi karena merasa malu sudah ternoda, seumur hidup Anissa ingin memberikan yang terbaik pada suaminya yang sah, ternyata, mendekati hari-hari pernikahannya, ia malah kehilangan kesuciannya karena diperkosa oleh seorang pria tua bajingan.
Hampir dua jam kemudian baru mereka pulang. Ketika berpindah dari belakang ke kursi depan, Anissa berjalan dengan sedikit timpang, tentunya karena selangkangannya terasa sangat sakit. Pak Bejo terkekeh menatap nyeri yang dialami korbannya. Ia sangat puas menjadi orang pertama yang bisa meraih kenikmatan vagina Anissa.
###
Anissa terbangun dengan badan kaku dan linu. Matahari menembus ke dalam kamar dengan sinar tipis yang menyeruak melalui sela-sela kain gorden jendela dan lubang angin di atasnya. Gadis muda itu menguap, dia kecapekan, seluruh tubuhnya terasa remuk. Ketika melirik ke arah jam dinding, Anis baru sadar kalau ternyata hari sudah siang.
Kaca besar yang berada di meja rias menyadarkan Anissa. Wajahnya sembab dan membekas biru, kelopak matanya sayu dan berkantung tebal. Peristiwa semalam mengagetkan Anissa seperti kilat menyambar, semalam ia diperkosa! Ia telah diperkosa! Ia bukan perawan lagi! Ia sudah diperkosa!
Anissa menggeleng, ia tidak mau menerima kenyataan ini… ia tidak mau… ini semua hanya mimpi, pasti hanya mimpi. Buru-buru gadis itu menyibakkan selimut dan memeriksa bagian selangkangannya. Ada rasa gatal yang hangat di bagian lekuk selangkangan yang terasa aneh, Anissa meneteskan air mata lagi, ia tidak mau menerima kenyataan yang pahit ini. Ia tidak mau menerimanya. Detik demi detik yang berlalu semalam kembali terulang dalam benak Anissa, akhirnya ia sadar sepenuhnya. Semalam, ia telah ditiduri Pak Bejo. Ia telah diperkosa oleh orang yang lebih pantas menjadi orang tuanya itu. Anissa tidak bisa mempertahankan kegadisannya karena direnggut seorang lelaki hina.
Dengan tubuh lemas lunglai, Anis berjalan tertatih menuju kamar mandi. Bagian selangkangannya terasa panas dan perih, ia duduk di toilet dan berusaha mengenyahkan semua kejadian semalam yang berulang di benaknya bagaikan film yang diputar berkali-kali. Gadis itu berusaha tabah dan menahan diri agar tidak menangis, tapi air matanya tetap menetes membasahi pipi.
Anissa duduk terdiam di toilet dengan pikiran yang melayang jauh. Entah apa yang sedang dilamunkan gadis malang itu.
Ia tidak ingin berjumpa dengan siapapun saat ini, tidak juga Dodit. Karena ia tahu, kisah penderitaannya belumlah usai, justru baru akan dimulai.
Bersambung…
DALAM PELUKAN PRIA TUA
Kamar VIP tempat Hendra dirawat mulai terlihat membosankan bagi Alya, dia ingin segera pulang dan membawa suaminya meninggalkan kamar rumah sakit yang berbau obat ini untuk kembali menjalani hidup bersama di rumah sendiri. Ibu muda yang cantik itu duduk termenung di samping jendela kamar sambil melamun, pandangannya tak berpindah dari halaman rumah sakit yang asri dan dipenuhi pepohonan menghijau, walaupun hari sudah gelap tapi pemandangan taman tetap terlihat karena nyala terang lampu hias di taman. Malam mulai menggelayut dan gelap menyelimuti hari. Pandangan Alya beralih dari satu lampu ke lampu yang lain, setelah bosan ia beralih memperhatikan pepohonan tinggi yang menunduk seakan tertidur lelap di tengah malam yang sunyi.
Pikiran Alya termenung lebih jauh lagi, seperti apa kehidupan mereka selanjutnya dengan keadaan Mas Hendra yang seperti ini? Separuh tubuhnya sudah lumpuh, masa penyembuhannya akan berlangsung lama, belum lagi pengaruh psikisnya pada Mas Hendra dan keluarga mereka. Pekerjaan Mas Hendra memang masih bisa dikerjakan dari rumah melalui internet bahkan perusahaan Mas Hendra sudah mengatakan opsi pekerjaan tersebut bisa dikerjakan oleh Mas Hendra selama sakitnya. Mereka tidak akan memecat Hendra, melainkan tetap memperkerjakannya walaupun tetap berada di rumah karena kemampuan Hendra memang tidak ada duanya dan dia sangat dibutuhkan untuk tetap bekerja. Walaupun begitu, akan tetap butuh waktu bagi mereka semua untuk menyesuaikan diri.
Alya menatap keluar halaman dengan pandangan yang makin mengabur. Bagaimana dengan dia sendiri? Kuatkah dia menghadapi semua masalah demi masalah yang makin lama makin besar dan meremukkan seluruh jiwaraganya? Kuatkah dia untuk terus berada di samping suaminya sementara hidupnya terus berada di bawah ancaman pria tua busuk seperti Bejo Suharso? Keluhan pelan keluar dari mulut Alya, wanita cantik itu hanya bisa berharap ini semua segera berakhir.
Terdengar ketukan pelan dari pintu, Alya melirik ke jam dinding, siapa gerangan yang mengetuk jam segini? Jam bezuk sudah lewat dan Alya tidak menunggu siapapun termasuk Dodit, Anis ataupun Lidya sementara Opi sudah dititipkan pada Bu Bejo. Siapa yang malam ini datang? Susterkah? Jarang sekali suster masuk ke dalam ruangan jam segini, biasanya mereka datang hampir tengah malam.
“Halo… halo… kamu sendirian ya sayang? Bagus! Ayo kita bersenang-senang!”
Alya hampir menjerit ketika sosok gemuk Bejo Suharso masuk ke dalam kamar sambil menyeringai. Dengan bantuan tangannya sendiri, Alya membekap mulut agar tidak menjerit dan menimbulkan kegaduhan. Pak Bejo datang seorang diri, pria tua itu bahkan dengan berani menggeser kursi yang ada untuk memalang pintu kamar, siapapun yang hendak masuk akan kesulitan membuka pintu kecuali kursi itu disingkirkan. Alya meringkuk ketakutan di pojok ruangan. Berulang kali wanita cantik itu melirik ke arah suaminya yang masih lelap. Kepada siapa Alya harus minta pertolongan? Keringat deras mengalir di dahinya.
“Ayo… ayo… tidak usah takut. Ini aku, sayang. Kekasihmu tercinta.”
Bejo berjalan tegap ke arah istri Hendra yang pucat pasi dan ketakutan, kangen sekali rasanya dia pada si molek ini.
Alya menggeleng. “Jangan mendekat! Jangan mendekat!!”
Alya bangkit dan mencoba melarikan diri, tapi tangan besar Pak Bejo lebih cekatan dari gerakan Alya yang panik. Dengan satu sentakan, Alya dilempar kembali ke pembaringan di samping tempat tidur Hendra yang masih terlelap. Di kamar VIP itu, memang disediakan satu pembaringan untuk tamu penunggu pasien.
“Jika kau mau semua ini berakhir, diam dan layani aku.” bisik Pak Bejo mengancam.
###
Lidya tidak bisa tidur malam ini, saat makan malam tadi Andi mengatakan kalau dia harus pergi lagi selama seminggu ke luar kota. Suaminya itu mengatakan kalau ternyata ada beberapa pekerjaan kantor yang belum tuntas diselesaikan saat dia ke dinas di sana seminggu yang lalu. Karena pekerjaan itu sifatnya mendesak, besok Andi harus segera terbang lagi kesana dan membereskannya.
Sebenarnya bukan perpisahan selama seminggu dengan Andi yang membebani batin Lidya, melainkan rasa takutnya kembali berdua saja dengan ayah mertuanya yang cabul. Pantas saja Pak Hasan memaksa Lidya menjadi budaknya seminggu ini, ternyata mertuanya itu sudah lebih dahulu tahu kalau Andi akan pergi dinas lagi selama seminggu. Membayangkan senyum ejekan menggaris di bibir Pak Hasan, ingin rasanya Lidya menamparnya. Menjijikkan sekali! Orang yang tadinya dianut sebagai pengganti orang tua, malah menjebloskannya ke lembah hina.
“Mass…,” Lidya menggelayut manja di pundak suaminya yang baru saja naik ke ranjang. “Apa perginya tidak bisa ditunda? Mas Andi kan baru saja pulang, belum sampai seminggu di rumah sudah pergi lagi.”
“Maaf sayang, tidak bisa, aku tetap harus pergi besok. Kamu tahu sendiri kan ini sudah masuk jadwal rutin akhir tahun anggaran, pekerjaan di daerah menumpuk sementara teman kerjaku malah cuti karena istrinya melahirkan, tidak ada orang lain lagi selain aku yang bisa mengerjakannya, padahal rencananya bulan depan bos besar akan datang dari Singapore, reportnya harus segera selesai dalam minggu ini.” bisik Andi yang sudah mulai memejamkan mata, dia lelah sekali hari ini.
“Terus aku bagaimana?” desah Lidya lagi.
“Kamu bagaimana gimana? Kamu ya di rumah aja, aku kan cuma seminggu, nggak lama, lagi pula ada Bapak di rumah. Dia bisa menemani kamu selama aku pergi, kamu tidak perlu takut kesepian, kalau butuh jalan-jalan tolong temani Bapak keliling-keliling cari kontrakan baru. Siapa tahu bapak bosan di rumah terus.”
Lidya merengut, kalau diberi kesempatan dan diperbolehkan, dia justru ingin menghajar mertuanya yang dengan biadab telah memperkosa dan mempermalukannya itu, tapi Lidya tentu saja tidak mungkin melakukannya.
“Aku kan masih kangen,” rayu Lidya manja sambil menciumi bagian belakang leher suaminya. “baru beberapa hari kamu di rumah… malam ini… kamu… kita…”
Andi yang tertidur sambil membelakangi Lidya geli diciumi oleh istrinya, diapun membalikkan badan. “Aduh sayang, jangan sekarang ya… aku capek sekali.”
Setelah mendorong Lidya agar menjauh sedikit, Andi kembali berbalik dan terlelap.
Lidya mencibir dengan kesal.
###
“Apa mau Pak Bejo?” tanya Alya geram. Dia menyimpan kekhawatiran pada tatapan mesum lelaki tua itu.
“Buka resleting celanaku!” perintah Pak Bejo.
“Sinting! Gila! Pak Bejo pikir ini dimana? Ini rumah sakit! Bagaimana nanti kalau ada orang masuk?” Alya mengeluarkan keringat dingin karena tegang. “Lagipula aku tidak mau melakukannya di depan Mas Hendra!!” tambah Alya. Si cantik itu mencoba mengelak dengan segala cara namun pergelangan tangannya dipegang erat oleh Pak Bejo. Alya buru-buru mencari cara lain untuk meloloskan diri dari situasi gawat ini. “Aku akan layani Pak Bejo kalau kita sudah sampai rumah nanti! Tidak di sini, tidak sekarang! Pokoknya aku tidak mau!”
“Aku tidak peduli. Kamu pikir selama ini aku tidak mengamati kegiatan di rumah sakit ini? Aku lebih pintar dari yang kau kira, sayang. Suster tidak akan datang ke kamar ini dalam waktu seperempat jam ke depan dan sekarang bukan jam bezuk, jadi tidak akan ada orang lain di sini kecuali kita berdua, Mbak Alyaku yang cantik jelita.” Pak Bejo terkekeh digdaya, “Coba lihat suamimu itu. Kasihan sekali kan kalau sampai arah infusnya berbalik? Darahnya akan tersedot ke atas… hehehe. Kau sadar tidak, mudah sekali kalau aku ingin menyakiti orang-orang yang kamu cintai kapanpun aku mau. Kalau tidak ingin Mas Hendra kucelakai sampai mampus di tempat ini juga, sebaiknya kau segera buka resleting celanaku dan sedot kontolku sampai aku puas!”
Alya menatap Pak Bejo tak percaya, ia memutar otak mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang sedang ia hadapi, tapi memang tidak ada jalan lain yang aman baginya kecuali melayani kemauan bajingan tua ini. Keselamatan Mas Hendra lebih penting dari martabatnya yang sudah tak ada harganya lagi. Alya akhirnya menurut, ia jongkok ke bawah, membuka kancing lalu menarik turun kait resleting celana Pak Bejo. Setelah dibuka, Alya menarik turun celana panjang berikut celana dalam yang dikenakan oleh pria tua itu sampai ke betis. Kemaluan Pak Bejo yang besar dan panjang meloncat keluar dari celana dalam yang ia kenakan dan menampar pipi mulus Alya.
Ingin sekali rasanya Alya menendang kantung kemaluan Pak Bejo dan melarikan diri dari ruangan ini, tapi melihat Hendra yang lelap tak berdaya Alya tahu ia harus tunduk dan menuruti semua kemauan Pak Bejo. pria tua itu menjambak rambut Alya dan menariknya ke belakang, wajah Alya menengadah ke atas dan bertatapan mata langsung dengan mata jalang Pak Bejo.
Wajah takluk Alya membuat Pak Bejo tersenyum puas. Dengan jari-jari nakalnya, pria tua itu memainkan rambut indah Alya lalu dengan kasar dia mendorong wajah Alya mendekati kemaluannya.
“Sedot.” Bisik Pak Bejo, suaranya pelan namun tegas.
Alya tahu, dia harus segera melayani kemauan Pak Bejo saat ini juga atau pria tua yang jahat itu akan menghajarnya seperti beberapa waktu yang lalu. Pak Bejo memang tidak berperasaan, dia menyuruh Alya mengoral kemaluannya tepat di hadapan sang suami yang masih lelap, belum lagi kalau ada suster yang datang. Benar-benar nekat orang tua tak tahu malu ini. Mereka berada cukup dekat dengan ranjang penunggu pasien tempat Alya biasa tidur menemani Hendra.
“Kamu mau ketahuan orang? Mumpung sepi, cepat sedot.” Gertak Pak Bejo sekali lagi.
Alya melirik ke arah Hendra yang masih terlelap, lalu menatap sengit mata Pak Bejo.
Alya mencondongkan badan ke depan dan membuka mulutnya perlahan. Si cantik itu menelan batang kemaluan Pak Bejo dan memainkan lidah di sekitar ujung gundulnya. Alya memegang kontol Pak Bejo dengan lembut dan mengocoknya perlahan. Si cantik itu mendorong Pak Bejo agar tidur terlentang di ranjang penunggu pasien dan ia mulai menjilati seluruh batang kemaluan lelaki tua itu, mulai dari kantungnya, lalu batang, sampai ke atas. Jilatan lidah Alya membuat Pak Bejo terangsang dan belingsatan, enak sekali rasanya.
Nafas Pak Bejo kian berat, ia sangat menyukai perasaan berkuasa seperti ini. Ia merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani oleh selirnya. Saat ini pria tua itu tahu apapun yang ia perintahkan pasti akan dilaksanakan ibu muda yang seksi itu. Membayangkan wanita secantik Alya melakukan hal-hal yang memalukan membuat Pak Bejo terangsang. Kontolnya langsung ngaceng, bahkan akan meledak mengeluarkan air mani seandainya tidak ditahan-tahannya.
Lama kelamaan, seluruh batang pelir Pak Bejo sudah tertelan oleh Alya, kepalanya naik turun bersama gerakan mulutnya mengocok kemaluan sang lelaki tua dari ujung gundul sampai kantung kemaluan. Pak Bejo memiringkan kepala Alya dan menyibakkan rambut yang menutup wajah cantiknya. Ia ingin melihat langsung kontolnya keluar masuk bibir mungil wanita secantik Alya, pemandangan indah itu membuatnya semakin terangsang.
Benar saja, hanya beberapa detik melihat Alya mengoral kemaluannya, Pak Bejo sudah siap mencapai klimaks. Pria tua itu mengencangkan cengkramannya pada rambut Alya dan menggerakkan kepala wanita jelita itu seraya memompakan penisnya ke dalam mulut Alya. Si cantik itu memberontak sesaat, tapi tatapan galak Pak Bejo meluruhkan niatnya, nyali Alya menciut dan Pak Bejo pun membentaknya galak. “Ayo dikulum terus! Kenapa berhenti?”
Walau kesal dan jengkel tapi Alya tak melawan sedikitpun. Si cantik itu melumat kontol Pak Bejo seiring gerakan sang pria tua menggiling kemaluannya memasuki tenggorokan Alya dengan gerakan yang sangat cepat sampai-sampai si cantik itu tak sempat menarik nafas. Lama kelamaan sodokannya makin cepat dan pendek sementara nafas Pak Bejo terdengar mendengus-dengus. Alya yakin pria tua itu pasti akan segera mencapai puncak kenikmatan.
“Mainkan kantungku,” lenguh Pak Bejo sambil menggemeretakkan gigi. Pria itu masih terus menyodokkan kemaluannya ke mulut Alya. Begitu jari-jari lembut Alya menyentuh kantung kemaluannya, Pak Bejo tidak kuat lagi, ia langsung mencapai klimaks dengan cepat. Diiringi lenguhan panjang, Pak Bejo menyemprotkan cairan cintanya. Pria tua itu memaksa Alya menerima semua semprotan pejuh dengan mulutnya, tangan Pak Bejo bahkan memegang kepala Alya erat-erat agar si cantik itu menelan semua semprotan air maninya tanpa ada yang tersisa. “Telan!” desak Pak Bejo melihat Alya enggan menerima air maninya, perintah Pak Bejo terpaksa dituruti oleh ibu muda yang cantik itu karena takut dan ia ingin sesegera mungkin mengakhiri sesi oral seks dengan orang tua bejat itu.
Merasakan penisnya dikulum dan pejuhnya ditelan mentah-mentah oleh Alya membuat Pak Bejo sangat puas. Setelah penis Pak Bejo menembakkan peluru pejuhnya yang terakhir, pria tua itu meringis dan menarik penisnya dari kuluman Alya. Beberapa tetes air mani kental ikut terbawa saat ia menarik kemaluannya. “Bersihkan kontolku.” Perintah pria tua itu.
Dengan hati-hati Alya menjilat dan menelan setiap tetes pejuh yang membasahi kemaluan Pak Bejo. Bibir si cantik itu belepotan air mani sang pria tua, Alya memang sengaja tidak menelan seluruh cairan yang keluar dari kemaluan Pak Bejo karena jijik, pejuh putih kental menetes dari sela-sela mulutnya dan jatuh di atas lantai. Pak Bejo menepuk-nepuk kepala Alya dan mengenakan kembali celananya dengan penuh kepuasan.
“Memang enak seponganmu, Mbak Alya,” kata Pak Bejo. “mungkin Mas Hendra bisa sembuh dari lumpuhnya dan bangun dari tempat tidur kalau kau sepong terus tiap hari.”
Sambil tertawa terbahak-bahak Pak Bejo melangkah pergi meninggalkan kamar tempat Hendra dirawat, Alya menatap kepergian orang tua bejat itu dengan penuh kebencian. Beberapa orang suster yang sedang duduk beristirahat di ruang administrasi menatap heran langkah jumawa dan senyum sumringah Pak Bejo meninggalkan bangsal, baru kali ini ada orang yang tertawa terbahak-bahak usai mengunjungi pasien yang sakit parah, keterlaluan sekali orang ini.
Sepeninggal Pak Bejo, Alya membersihkan lantai yang basah oleh air mani dengan tissue dan mencuci mulutnya di kamar mandi.
Tanpa sepengetahuan Alya yang telah masuk ke kamar mandi, setetes air mata mengalir di pipi Hendra.
###
Andi memasuk-masukkan tasnya ke dalam mobil, bersiap hendak berangkat. Matahari pagi terasa jauh lebih panas dari biasanya, walaupun enggan meninggalkan istrinya yang jelita sendirian di rumah lagi, Andi tetap harus berangkat.
“Yakin nih, Mas? Bakal seminggu lagi?” tanya Lidya sambil memendam rasa kecewa. Belum tuntas rasanya ia melepaskan rasa rindu dan mencari perlindungan pada suaminya, ternyata kini Andi harus pergi lagi. “Apa nggak bisa dipercepat pulangnya?”
“Maunya sih begitu, sayang. Tapi ini kan perintah langsung dari atasan, aku tidak bisa bilang tidak. Aku coba lihat nanti berapa banyak pekerjaan yang numpuk, kalau memang bisa pulang lebih awal, aku pasti pulang.” Andi tersenyum lembut melihat istrinya cemberut, ia tahu Lidya kecewa. Dengan penuh rasa sayang dikecupnya bibir sang istri. “Aku janji, kalau pulang nanti akan aku bawakan oleh-oleh makanan kesukaanmu.”
Lidya masih tetap cemberut.
Tiba-tiba saja Pak Hasan datang dan dengan santai merangkul pundak Lidya. Wanita cantik itu tentu terkejut sekali, berani-beraninya Pak Hasan merangkulnya di depan Andi!
“Jangan khawatir, Bapak pasti akan menjaga istrimu baik-baik, Ndi.”
“Iya, Pak. Untung saja ada Bapak di sini, jadi Lidya tidak akan kesepian.” Kata Andi.
Dasar bodoh, amuk batin Lidya, andai saja suaminya itu tahu, kalau selama ini justru ayahnya yang telah memperlakukan Lidya seperti seorang pelacur jalanan. Dengan gerakan sesopan mungkin, Lidya menurunkan tangan Pak Hasan yang tadinya merangkul pundaknya.
“Aku pergi dulu yah, sayang.” Pamit Andi, “Pak, titip Lidya ya.”
“Iya. Hati-hati di jalan.” Pak Hasan menyeringai. Ia sangat bahagia diberi titipan yang sangat berharga oleh anaknya itu, seorang wanita jelita yang seksi yang bisa ia tiduri kapan saja ia mau.
Lidya terdiam saat mobil Andi berangkat meninggalkan rumah.
Ketika mobil itu menghilang dari pandangan, tangan Pak Hasan langsung beraksi, meremas-remas pantat bulat Lidya. Si cantik itu menghardik mertuanya dan melangkah masuk ke rumah dengan sewot. Pak Hasan meringis penuh kemenangan.
###
Dina mengejap-kejapkan matanya yang masih mengantuk. Semalam suntuk ia tak bisa tidur memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Pak Pram dan Pak Bambang telah menyewakan satu kamar hotel mewah yang semalam ia gunakan untuk beristirahat, tapi Dina tetap tak bisa tidur, ia ingin tahu bagaimana kabar anak-anaknya, bagaimana kabar Alya dan Lidya – adiknya dan bagaimana kabar Anton suaminya.
Proposal yang diajukan Pak Bambang adalah pisau bermata ganda yang bisa membuat mereka sekeluarga hidup berkecukupan walaupun hidup terpisah tapi juga akan membelenggu hidupnya sebagai istri seorang idiot pewaris kekayaan seorang konglomerat yang sudah sangat tua. Apa yang akan dilakukannya?
Langkah kaki Dina terasa berat menyusuri lorong hotel mewah menuju kamar pertemuan yang berada di ujung. Dalam hati kecilnya, Dina merasa dirinya bagaikan seorang narapidana yang hendak dihukum mati. Ia memang bersalah, ia sudah bersedia melacurkan diri untuk menyelamatkan kelangsungan hidup keluarga, ia berani menanggung resiko sebagai wanita jalang yang mau melayani kemauan binal orang-orang tua tak tahu diri. Ia merasa bersalah, karena telah mengkhianati janji pernikahan dengan Mas Anton. Seandainya hari ini Anton memutuskan untuk memberikannya pada Pak Bambang… sepertinya… Dina rela…
Wanita cantik itu mengambil tissue dari kantong bajunya dan menghapus airmata yang menetes perlahan membasahi pipi. Beberapa orang penjaga melirik ke arah Dina dengan pandangan meremehkan, bibir mereka tersungging menghina dan merendahkan, menambah pedih sakit di dalam hatinya. Langkah kaki yang terasa berat membuat pinggul Dina bergerak pelan, bagi para penjaga, gerakan pantat Dina bagaikan suguhan pertunjukkan yang mengasyikkan, seandainya wanita ini tidak lagi diinginkan oleh pimpinan mereka, ingin rasanya mereka mencicipi tubuhnya yang indah.
Pintu besar ruang pertemuan dibuka lebar, beberapa orang menemani Dina masuk ke dalam. Di dalam ruangan, terdapat sebuah meja besar dengan kursi yang saling berhadapan. Di sisi jauh, Pak Bambang, Pak Pramono, beberapa orang pegawai pemerintah berjabatan tinggi serta beberapa orang asisten sudah sedari tadi menunggu Kedatangannya. Sementara di kursi yang menghadap ke arah mereka, duduklah suami Dina dengan kepala menunduk tanpa berani diangkat.
Dengan wajah lesu Dina duduk di kursi yang telah disediakan di samping suaminya.
Pak Bambang dan Pak Pramono duduk dengan tenang sementara asistennya mengeluarkan beberapa lembar berkas dan meletakkannya di hadapan Anton dan Dina. Sepasang suami istri itu tidak saling memandang dan terdiam membisu, perasaan keduanya kacau balau.
“Ini adalah berkas-berkas yang perlu ditanda-tangani seandai kalian berdua bersedia menerima penawaran dari Pak Bambang. Dengan menandatangani surat-surat ini, kalian berdua akan resmi bercerai secara sah dan legal.” Kata asisten Pak Bambang.
Dina dan Anton menatap tak percaya surat-surat yang berada di hadapan mereka. Bagaimana mungkin Pak Bambang dan Pak Pramono bisa menyediakan surat cerai bagi mereka dalam waktu yang sangat singkat? Anton menatap geram kedua orang tua yang sangat kaya itu dan yakin, surat ini bisa turun tentunya dengan menyogok petugas pemerintah yang mengurusnya. Ada uang ada barang. Bagi orang sekaya Pak Bambang, mudah sekali mendapatkan surat-surat yang diinginkan, apalagi hanya surat cerai bagi kaum menengah sepertinya. Mereka bahkan tidak perlu menghadiri sidang perceraian atau apapun, hanya menandatangani surat-surat ini, pernikahan mereka sudah berakhir. Urusan legalitas dan administrasi sudah ditangani oleh dua pengusaha kaya yang memeras mereka itu, segala sesuatunya benar-benar sudah disiapkan.
Tubuh Dina gemetar ketakutan melihat surat-surat di hadapannya sementara Anton membolak-balik kertas dengan geram. Benar-benar sudah lengkap semua yang dibutuhkan, tidak ada celah sedikitpun bagi Anton dan Dina untuk berkelit.
“Keputusan sekarang berada di tangan kalian berdua.” Kata Pak Pram.
Anton menatap Dina dengan pandangan sedih yang tak terkatakan, Dina menatap suaminya kembali dan menggelengkan kepala. Anton menunduk sedih tanpa mampu mengucap kata-kata. Tangannya memegang pena dengan gemetar, Anton bingung, perasaannya bimbang, apa yang harus ia lakukan? Manakah keputusan yang terbaik bagi semuanya?
Mata Anton menatap surat-surat berisi pemberian modal usaha dan surat tanah serta hak milik rumah dan tempat usaha yang akan diberikan Pak Pramono bersamaan dengan surat cerainya. Anton menatap Pak Bambang, Pak Pramono dan akhirnya ia melirik ke arah cincin yang dulu ia sematkan di jari manis sang istri saat prosesi pernikahan mereka.
“Baiklah, sudah saya putuskan.” Kata Anton.
Dina menutup mata dan menarik nafas karena tegang, saat ini yang bisa dilakukannya hanyalah berharap.
###
Aneh sekali rasanya memasak hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya, Lidya merasa risih sekali, apalagi di belakangnya, Pak Hasan menyantap sarapan di meja makan dengan wajah bahagia. Siapa orang yang tidak senang, makan pagi ditemani seorang wanita cantik laksana bidadari yang hanya mengenakan handuk sebagai penutup tubuh. Apalagi handuk milik Lidya berukuran medium, hanya bisa menutup sebagian balon buah dada dan berada tipis di atas paha, jika dia merunduk sedikit, pasti selangkangannya akan terlihat dengan jelas dari belakang. Dalam situasi normal, Lidya tidak akan mau berpakaian senekat ini, tapi ini bukan situasi normal, Lidya sedang berada di bawah kekuasaan sang ayah mertua yang bejat. Pria tua itu menghendaki menantunya memasak dan menghidangkan sarapan hanya dengan mengenakan handuk.
Lidya geram dan jengkel sekali pada sang mertua karena memperlakukannya seperti pelacur hina. Yang lebih mengerikan lagi adalah penyakit Pak Hasan yang suka memamerkan tubuh Lidya di depan keramaian. Tempo hari saat berjalan-jalan di mall, Lidya bahkan dipermalukan dengan dipaksa melayani dua laki-laki tak dikenal, yang pertama seorang pengemudi taksi dan yang kedua seorang laki-laki hidung belang. Entah apa lagi yang diinginkan Pak Hasan karena seminggu ini dia harus bersedia dijadikan budak seks lelaki tua mesum itu.
“Nduk, kamu masaknya sudah selesai belum? Makan siang kan masih lama, apa tidak sebaiknya kamu selesaikan nanti saja memasaknya?” tanya Pak Hasan setelah menyelesaikan sarapannya. Lidya yakin, pasti si tua ini ada maunya.
“Sudah hampir selesai, Pak.” Jawab si cantik itu dengan nada suara datar.
“Aku tadi sudah mencuci baju dan celana, tapi belum aku jemur. Bisa minta tolong dijemurkan sebentar di lantai atas?”
Bukan permintaan yang aneh-aneh. Tumben.
“Bisa, Pak. Setelah ini selesai.”
Pak Hasan berdiri dan mensejajari menantunya, pria tua itu geleng-geleng kepala. Andi memang benar-benar lelaki yang beruntung, lihat saja perempuan mulus yang menjadi istrinya ini, kurang apa lagi? Wajahnya cantik jelita, tubuhnya seksi seperti biola, kulitnya putih mulus seperti pualam, rambutnya panjang dan hitam, payudaranya montok dan kencang, pantatnya bulat dan memeknya masih sangat rapat. Benar-benar spesimen perempuan yang sangat menggairahkan. Dengan main-main Pak Hasan menepuk pantat menantunya pelan.
“Tentunya tidak baik menjemur pakaian di halaman belakang hanya memakai handuk seperti ini.” kata Pak Hasan. “Aku carikan baju untukmu.”
Lidya curiga, tapi diam saja dan hanya mengangguk mengiyakan. Pak Hasan bersiul-siul aneh sambil melangkah meninggalkan dapur, Lidya menarik nafas lega. Saat itulah tiba-tiba Pak Hasan membalikkan badan dan melucuti kemeja yang sedang ia pakai.
“Hah, bodohnya aku ini. Semua bajuku kan sedang dicuci, bagaimana kalau kau pakai dulu kemejaku ini saja?”
Lidya menunduk lesu, ini dia rupanya, si tua ini memang selalu ada saja maunya. Dengan langkah malas Lidya mendatangi ayah mertuanya dan menerima kemeja yang diberikan padanya. Kemeja itu adalah sebuah kemeja putih tipis yang menerawang, seandainya dipakai pasti akan terlihat sangat seksi.
“Bagaimana celananya?” tanya Lidya.
“Celana apa? Siapa yang menyuruhmu pakai celana?” Pak Hasan belagak bodoh. “Aku hanya ingin melihatmu pakai kemeja ini dan menjemur pakaian di atas sana. Tentunya tidak usah menggunakan BH dan celana dalam pula, hari ini panas sekali, aku takut kamu kepanasan, kasihan sekali.”
Mulut Lidya menganga terheran. Dia tidak percaya mendengar permintaan Pak Hasan. Mertuanya itu memintanya menjemur pakaian di tingkat atas hanya mengenakan sehelai kemeja tanpa baju yang lain? Bagaimana kalau nanti terlihat oleh tetangga sebelah rumah? Rumah Andi dan Lidya memang cukup besar, dengan pagar tinggi melindungi bagian tengah hingga belakang. Untuk menjemur pakaian, Lidya biasa menggunakan lantai atas yang terbuka dan kosong. Walaupun tidak akan terlihat langsung oleh tetangga-tetangga yang berada di bagian depan rumah, namun keerotisan Lidya bisa terlihat jelas oleh tetangga samping dan belakang seandainya mereka secara tidak sengaja mendongak dan menatap ke atas.
“Apa ada masalah?” Pak Hasan mendekatkan wajahnya ke arah Lidya sambil menatapnya galak. Lidya tahu, pria tua itu bisa menyakitinya kapan saja ia mau, hanya satu cara untuk menghindari pukulannya yaitu dengan menuruti semua permintaannya. Toh, Lidya sudah bersedia menjadi budak seksnya untuk seminggu ini.
“Ti-tidak, Pak… tidak ada masalah…” Lidya menundukkan wajahnya yang ayu.
Pak Hasan terkekeh lagi sambil menyerahkan kemejanya pada Lidya.
###
Sudah beberapa hari ini Anissa malas bangun dan keluar dari kamar. Ia ingin pulang saja ke rumah, ia ingin menghindar sejauh mungkin dari tempat terkutuk ini, tapi dengan kecelakaan yang menimpa Mas Hendra, Anis harus siap merawat Opi jika Bu Bejo sedang berhalangan karena Mbak Alya lebih sering berada di rumah sakit.
Walaupun sudah mandi dan makan, Anis lebih suka berdiam diri di kamar, sejak diperkosa oleh Pak Bejo yang bejat, Anissa berubah total. Perangainya yang tadinya manis dan ceria berubah menjadi seorang gadis yang paranoid dan menutup diri. Anissa bahkan tidak mau berlama-lama di luar kamar walaupun itu ditemani oleh Dodit sekalipun.
Hari ini Dodit akan seharian berada di rumah sakit menemani Mbak Alya karena kondisi Mas Hendra drop lagi. Bu Bejo sudah pulang dan Opi sekolah, sepertinya hari ini Anis bisa sedikit tenang. Ia merasa lelah karena setiap hari menangis, Dodit mengira Anissa menangis karena mengkhawatirkan kakaknya yang masih berada di rumah sakit, tapi gadis itu sebenarnya menangis karena meratapi nasibnya yang malang, diperawani oleh seorang pria tua yang bejat menjelang hari perkawinannya.
“Jangan melamun terus. Sudah makan belum?”
Kaget sekali Anissa mendengar suara itu, siapa yang tiba-tiba saja masuk ke kamarnya? Apa dia tadi lupa mengunci pintu?
Sosok tua menjijikkan mendekati Anis dengan langkah penuh keyakinan.
Suara Anissa tercekat dalam tenggorokan ketika ia melihat pria tua yang telah merenggut kegadisannya tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamarnya! Ia tidak mendengar suara pria busuk itu masuk ke dalam rumah. Dengan langkah arogan dan pandangan mata bengis penuh nafsu birahi, Pak Bejo berjingkat-jingkat menuju ranjang Anis. Mata pria tua itu bersinar-sinar jalang, membuat bulu kuduk si cantik Anis merinding.
“Ya Tuhan, ini tidak mungkin… tidak mungkin terjadi lagi… tidak lagi…” bisik Anissa pada diri sendiri. Gadis itu meraih selimutnya yang tebal dan menutupi tubuhnya yang indah, tapi tentunya sia-sia saja. Dengan sekali sentak, selimut itu melayang jauh ke pojok kamar, membiarkan tubuh Anissa terbuka lebar untuk dinikmati sang pria tua yang bejat. Pak Bejo menubruk tubuh gadis muda itu sebelum Anissa sempat melarikan diri. Mereka sempat bergumul sesaat di atas ranjang sebelum akhirnya Pak Bejo berhasil menangkup buah dada Anissa yang ranum di balik kaos yang dikenakannya dalam cakupan jemarinya yang kotor.
“Aku dengar seharian ini kamu tidak mau keluar kamar, anak manis?” tanya Pak Bejo sambil memainkan payudara Anissa yang masih berada di balik baju. “Kenapa? Kamu malu sudah tidak perawan lagi? Kamu malu sudah bersetubuh denganku?”
“Dasar bajingan!” desis Anis geram.
“Aku tadi berbincang-bincang dengan Mas Doditmu. Dia mengira kamu tidak ingin diganggu seharian ini karena sedang tidak enak badan dan ingin beristirahat, dia sama sekali tidak tahu akulah penyebab semua ini, dia tidak tahu aku sudah menjebol selaput daramu yang sangat berharga itu. Dia tidak tahu kalau aku telah memperoleh keperawanan pengantinnya yang cantik jelita.” Pak Bejo terkekeh-kekeh saat mengucapkan kata-kata yang melukai perasaan Anissa itu, “Dia tidak bisa menolongmu waktu kau kuperkosa, jadi jangan harap tunanganmu itu akan menolongmu sekarang. Mas Doditmu itu sedang menunggu Pak Hendra di rumah sakit, dia tadi bahkan menitipkan salam untukmu. Katanya Non Anis yang cantik diminta minum obat supaya lekas sembuh, makanya aku datang kemari untuk memberikan obat.”
Air mata Anissa mulai turun, dia takut sekali.
“Karena disuruh mengantar obat, maka harus saya sampaikan toh?” Pak Bejo terkekeh lagi. “Ini obatnya…” Dengan gerakan cabul, Pak Bejo meremas selangkangannya sendiri dan menghunjukkan benjolan penis di celananya ke wajah Anissa. Gadis itu memalingkan wajahnya dengan sebal, ia menghardik Pak Bejo karena kesal. Tapi Pak Bejo merenggut rambut Anis dan menyentakkannya kuat-kuat sampai-sampai gadis itu menjerit kesakitan. sekilas tercium bau minuman keras dari mulut Pak Bejo, apakah pria tua itu sempat mabuk sebelum masuk ke kamarnya? Anis tidak berani bergerak banyak karena takut oleh ancaman Pak Bejo. Melihat mangsanya hanya pasrah, tangan Pak Bejo bergerak bebas meremas-remas payudara ranum Anissa.
“Tolong kasihani aku, tinggalkan aku sendirian…” bisik Anissa lemah, “tolong…”
“Rasanya Mas Dodit pasti akan sangat berterima kasih seandainya kita berdua memberinya hadiah yang terindah yang akan selalu ia ingat sepanjang hidup.” Tangan Pak Bejo turun dari dada Anis ke perutnya, tangan itu menepuk pelan perut langsing Anis, “Hadiah terindah berupa seorang anak dari kekasihnya tercinta yang didapatkan dari sperma seorang pria tua buruk rupa.”
Anissa menutup mulutnya karena kaget dan takut, dia terhenyak berdiri dari posisinya yang rebah di ranjang, dia memang sudah diperkosa Pak Bejo, tapi gadis itu tidak akan mau dihamili oleh sang pria tua yang menjijikkan itu! Dia tidak sudi! Sayang, walau sudah berusaha bangkit, tapi tangan nakal Pak Bejo masih tetap erat memeluk tubuh indahnya.
“Jangan! Saya mohon, Pak! Kita tidak bisa melakukan ini! Saya ingin menikah dengan Mas Dodit, jangan hancurkan impian saya, jangan hancurkan kehidupan saya!” air mata Anis menetes membasahi pipi.
Pak Bejo menarik tubuh Anissa dan memeluknya erat, gadis itu terpaksa mundur ke belakang dan membiarkan tubuhnya bersandar di perut gendut sang pria tua. Tangan Pak Bejo mulai beraksi, tangan kanannya menyusuri buah dada ranum Anissa sementara tangan kirinya menggosok-gosok selangkangan si cantik itu. Anissa sendiri tak tahan diperlakukan penuh nafsu oleh Pak Bejo, gadis itu bisa merasakan kejantanan sang pria tua digesek-gesekkan ke pahanya.
Dengan menggunakan mulutnya, Pak Bejo melalap daun telinga Anissa sambil berbisik kepadanya. “Aku tidak melarang kamu menikah dengan siapapun, Non Anis. Kamu boleh menikah dengan Dodit atau siapa saja, aku hanya ingin menyetubuhimu tiap kali aku mau. Itu saja. Layani aku dengan baik dan aku tidak akan mengganggu hubungan kalian. Tapi kalau kau melawanku, aku bersumpah, kau tidak akan pernah merasakan lagi yang namanya cinta kasih sejati! Akan kubuat Mas Doditmu itu menderita!!”
Anissa bergetar ketakutan dalam pelukan si tua bejat, Pak Bejo bisa merasakan gerakan tubuh gadis muda itu. Anissa makin bingung, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Anissa menendang tulang kering kaki Pak Bejo dan meloncat turun dari tempat tidur.
“Auuughh!! Lonthe!!!” maki Pak Bejo geram.
Pak Bejo menjerit kesakitan dan meraung penuh amarah mengejar sang gadis yang lari ketakutan dalam keadaan panik. Karena harus memutari ranjang untuk mencapai pintu, Anissa kalah cepat dari Pak Bejo yang meloncati ranjang dengan beringas, gadis itu kembali tertangkap olehnya. Dengan kekuatannya yang hebat, Pak Bejo menyeret Anis ke tempat tidur. Dengan mudah ia memutar tubuh gadis muda itu dan menghempaskannya ke ranjang. Pak Bejo kemudian melucuti pakaiannya sendiri, sekali lagi Anis melirik ke arah pintu dan mencari saat yang tepat untuk bisa melarikan diri.
“Jangan coba-coba.” Bentak Pak Bejo saat melepas kemejanya. Ia tahu apa yang sedang direncanakan oleh gadis muda itu. Karena Anissa terus melawan, dengan terpaksa pria tua itu mengeluarkan pisau lipat yang selalu ia kantongi. “Aku tidak mau menggunakan ini, manis. Tapi kalau sampai kau melakukan hal yang aneh-aneh, aku terpaksa mengiris-iris tubuhmu dan memberikannya pada anjing tetangga.”
Kemarin, ancaman pisau inilah yang mengakibatkan Anissa kehilangan keperawanannya. Kali ini ancaman pisau Pak Bejo kembali berhasil berhasil melunakkan perlawanan Anis. Gadis itu terdiam pasrah tanpa berani melawan, matanya menatap ngeri pada pisau yang diacungkan oleh Pak Bejo sementara keringatnya mengalir deras. Dengan bebas Pak Bejo mendapatkan keinginannya.
“Aduh, aku tidak tahan lagi, anak manis. Sejak datang ke rumah ini, tubuhmu itu selalu membuat penisku ngaceng nggak turun-turun. Hari ini aku jamin, aku akan memuaskanmu dengan baik sampai-sampai kau tidak akan mampu berjalan tegak lima hari lima malam, hahaha. Kau bisa memilih, kita melakukan hal ini bersama-sama dengan lembut atau aku akan memaksamu melakukannya dengan kasar. Bagaimana? Pilih yang pertama kan? Kalau setuju, buka pakaianmu itu pelan-pelan!”
Anissa masih berbaring tanpa daya dan tak mampu mengucapkan kata-kata. Semuanya berlangsung begitu cepat seperti mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir. Pak Bejo berdiri di depan Anis dengan gelisah dan tak sabar, pria tua itu sudah melucuti pakaiannya sendiri sampai hanya mengenakan celana dalam. Anis tahu Pak Bejo pasti akan memperkosanya dengan cara yang paling menyakitkan seandainya dia menolak. Satu-satunya jalan agar semua ini berlangsung tanpa rasa sakit adalah menuruti semua kemauannya. Dengan berat hati Anissa mencopot kaos dan mulai menelanjangi dirinya sendiri di hadapan sang pemerkosa.
Satu persatu pakaian yang dikenakan Anissa dilepas, atasan, bawahan dan BH yang ia kenakan semuanya sudah lepas. Gadis itu hanya mengenakan celana dalam dan menggunakan pakaian yang tadi ia lepas sebagai pelindung untuk menutup dadanya yang telanjang. Anissa bergetar ketakutan sambil menyembunyikan diri dari pandangan penuh nafsu Pak Bejo. Pria itu tidak kenal kompromi, ia mendekat ke arah Anis, menarik pakaian penutup dada Anis dengan kasar dan melemparnya jauh-jauh. “Sekarang celana dalamnya!” bentak Pak Bejo.
“Pak Bejo…” isak Anissa, “tidak bisakah kita…”
“Copot celana dalamnya, atau kau akan menyesal nanti,” Pak Bejo menatap Anis dengan galak sampai gadis itu ketakutan. Sambil terisak, Anis melepaskan pelindung tubuhnya yang terakhir, celana dalamnya.
“Gadis pintar.” senyum puas membentang di wajah pria cabul itu ketika dia menatap jalang selangkangan Anissa yang telanjang, “Sekarang berbaringlah ke ranjang dan buka kakimu lebar-lebar.”
Anissa menelan ludah dengan rasa takut yang membuncah, tapi gadis itu mengikuti perintah Pak Bejo. Setelah kembali berbaring di ranjang, Anis membuka pahanya lebar, memberikan akses pada Pak Bejo menatap liang kewanitaannya yang memerah. Anis melirik ke bawah dan melihat Pak Bejo sedang melucuti celana dalamnya sendiri dengan terburu-buru, penisnya yang berukuran besar melejit keluar seperti cemeti. Nafas Anis makin berat ketika dia menyaksikan benda yang sebentar lagi akan dilesakkan ke liang vaginanya yang masih rapat. Benda itu benar-benar sangat besar, akan terasa sangat menyakitkan seandainya dimasukkan ke dalam kemaluannya. Perut Anissa melintir dan mual menyaksikan ukuran kemaluan Pak Bejo, karena takut, gadis itu kembali menutup kakinya rapat saat Pak Bejo mulai merangkak di atas ranjang mendekati mangsanya.
###
Anton meraih pena dan menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar. Tiap goresan di atas kertas bagaikan pisau yang merobek-robek hati Dina. Seperti inikah akhir pernikahannya dengan Mas Anton? Seperti inikah berakhirnya masa-masa susah senang yang telah mereka arungi berdua bersama? Benarkah suaminya itu tega menjual istri untuk melarikan diri dari hutang dan tanggung jawab? Walaupun di kemudian hari Anton, Dina dan anak-anak tidak akan pernah kekurangan uang lagi, tapi…
“Selamat tinggal… sampaikan maafku pada anak-anak… ” bisik Anton lemah, tidak ada kekuatan dalam ucapan itu. Suara Anton terdengar seperti seorang lelaki yang sudah kalah perang. Anton menatap wajah Dina untuk yang terakhir kali, lalu mencium wanita jelita itu dengan penuh kasih sayang, sebuah ciuman terakhir. Dengan langkah tertatih Anton meninggalkan ruangan sambil membawa file-file kepemilikan modal, rumah dan tanah di kota lain yang diberikan oleh Pak Pramono. Entah masa depan seperti apa yang akan ia hadapi nanti, yang jelas, Dina dan Anton tidak akan pernah bertemu kembali.
Dina melepas kepergian suaminya dengan tertunduk lesu. Airmatanya sudah kering dan ia tak mampu lagi menangis. Inikah kelanjutan hidupnya? Menjadi menantu Pak Bambang yang pernah menidurinya? Sebuah foto yang berada di atas meja menjadi ketakutan lain bagi Dina, apakah ia akan bersedia menjadi istri seorang lelaki yang tidak saja buruk rupa namun juga idiot?
Dina tahu, demi masa depan anak-anaknya dan demi kelangsungan hidup mereka, itulah kehidupan baru yang harus dijalaninya. Di bawah payung perlindungan Pak Bambang, Dina dan anak-anak tidak akan pernah lagi hidup kekurangan, walaupun untuk mendapatkan semua ini, dia harus menjual diri.
Dina menandatangani surat cerai dengan Anton. Ia tidak menangis sama sekali.
Pak Pramono menyalami Pak Bambang atas keberhasilannya mendapatkan seorang menantu yang sangat cantik dan seksi.
###
Lidya mengelap keringat yang menetes di kening. Akhir-akhir ini sinar matahari sangat panas dan menusuk kulit. Si cantik itu geleng-geleng melihat banyaknya cucian yang diberikan oleh Pak Hasan, sudah berapa hari si tua itu tidak mencuci pakaian? Jangan-jangan dia memang sengaja tidak mencuci baju agar bisa mengerjai Lidya? Satu demi satu baju dan celana yang dijemurnya di tali-tali yang sengaja dipasang.
Lidya sudah tidak mempedulikan lagi penampilannya yang seronok, ia ingin semua pekerjaan hari ini segera selesai dan ia bisa istirahat. Ia sudah tidak peduli lagi pada angin nakal yang berhembus dan melambai-lambaikan bagian bawah kemeja yang ia kenakan. Si cantik itu tidak mengenakan sehelai bajupun kecuali satu kemeja berukuran besar yang diberikan oleh Pak Hasan. Saat angin berhembus meniup bagian bawah tubuhnya, selangkangan Lidya terbuka dan menerima langsung desiran angin yang mengenai kulit dan bibir kemaluannya.
Tanpa sepengetahuan Lidya, penampilan hotnya ternyata mendapat perhatian langsung dari sebelah rumah. Seorang pembantu rumah tangga yang kebetulan sedang membersihkan rumput secara tidak sengaja melihat wanita cantik itu dengan pakaian seronok sedang menjemur pakaian.
Pemandangan yang sangat indah.
Pembantu itu geleng-geleng kepala, dulu sewaktu pasangan muda Andi-Lidya baru datang menempati rumah sebelah, Lidya langsung menjadi perhatian banyak lelaki di sekitar sini, baik yang sudah menikah maupun yang masih bujang. Penampilan wanita cantik itu sangat modern dan hot, membuat setiap mata yang memandang blingsatan, tapi baru sekali ini pembantu itu memperoleh hadiah yang menyenangkan, tubuh seindah itu dipamerkan seenaknya, benar-benar nekat Bu Lidya… seandainya saja dia bisa menikmati tubuh indahnya… ah… mimpi…
Pembantu itu tak bergerak sedikit pun, hanya memandang setiap gerakan gemulai Lidya. Tapi sayang pertunjukan itu tak berlangsung lama, setelah sekitar sepuluh menit menjemur pakaian, Lidya turun kembali ke lantai bawah. Sang pembantu tersenyum puas, ia memang tidak akan pernah bisa mencicipi keindahan tubuh nyonya tetangga, bagai pungguk merindukan bulan, tapi begini saja dia sudah puas.
Sang pembantu kembali melanjutkan tugasnya memotong rumput dengan senyum tersungging di bibir.
Dari balik jendela kamar, Pak Hasan mengelus-elus dagu sambil mengamati gerak-gerik sang pembantu tetangga. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki Lidya turun dari tangga dan melewati Pak Hasan.
“Nduk, sudah selesai menjemurnya?”
“Sudah, Pak.”
“Omong-omong, apa kamu kenal dengan pembantu tetangga sebelah kiri kita ini?” tanya Pak Hasan sambil menunjuk rumah sebelah dari jendela tempatnya bersandar. “Siapa namanya?”
“Pembantu sebelah? Yang laki atau perempuan?”
“Yang laki.” Pak Hasan menunjuk ke luar jendela. “Itu, yang sedang memotong rumput.”
Lidya melihat keluar jendela dan mengenali sosok sang pemotong rumput. “Mas Marto?” Lidya menatap mertuanya curiga, “Kenapa memangnya?”
Pak Hasan hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. “Ah nggak…”
Ada senyum aneh menghias bibir lelaki tua itu, senyum yang membuat bulu kuduk Lidya berdiri. “Dulu kita pernah jalan-jalan ke mall. Bagaimana kalau besok pagi kita jalan-jalan ke pasar, Nduk?” tanya Pak Hasan sambil menyeringai lebar, “kita bisa beli sayur-sayuran dan ikan segar.”
Mata Lidya terbelalak ketakutan. Ke pasar? Kalau ingat apa yang dilakukan Pak Hasan saat mereka pergi ke mall tempo hari, pergi ke pasar bersama Pak Hasan bisa jadi hal yang menakutkan untuk Lidya.
Pak Hasan terkekeh melihat menantunya panik. Besok pagi pasti akan menyenangkan sekali.
###
Ruang VIP tempat Hendra dirawat sangat sunyi siang itu, Alya dan Dodit yang biasa menemani Hendra turut tertidur karena kelelahan. Alya terlelap di pembaringan penunggu pasien di samping ranjang Hendra, sementara Dodit duduk di kursi. Dodit lebih memilih menemani calon kakak iparnya karena di rumah Anissa bertingkah laku aneh tidak seperti biasanya. Gadis itu juga tidak menjawab SMS maupun misscallnya, entah apa yang telah terjadi kepada gadis tunangannya itu sehingga sikapnya berubah total. Sendirian saja di ruangan yang sepi, Doditpun akhirnya tertidur, ia terlelap sambil duduk di kursi.
Setelah beberapa kali kepalanya tersentak ke bawah, Dodit terbangun dari tidurnya. Saat ini dia masih berada di kamar VIP Mas Hendra. Calon kakak iparnya itu masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit, tertidur oleh pengaruh obat yang menenangkan, entah kapan Hendra bisa mulai sadar dan berinteraksi kembali, hari ini kondisi kesehatannya sangat drop dan sempat mengkhawatirkan, namun dokter sudah datang dan mengisyaratkan kalau Hendra hanya harus beristirahat total.
Kamar VIP yang dihuni oleh Hendra memiliki fasilitas berlebih, terdapat satu pesawat televisi, kamar mandi, lemari pendingin, bahkan terdapat satu ranjang tambahan untuk penunggu pasien. Pembaringan itu biasanya dipakai Mbak Alya, kalau harus bermalam, Dodit memilih tidur di lantai beralaskan tikar tebal.
Siang itu Dodit tertidur saat duduk di kursi sementara Mas Hendra dan Mbak Alya terlelap di ranjang masing-masing. Dodit merenggangkan tangan dan menguap lebar-lebar, capek dan pegal sekali rasanya.
Tiba-tiba terdengar suara desahan.
“Ohh… ehhhmmm…”
Suara apa itu? Dodit melirik ke arah Mas Hendra, masih tetap tidur dengan tenang, siapa yang tadi mendesah? Kali ini Dodit melirik ke arah Mbak Alya. Pemuda itu langsung terkesiap dengan pemandangan indah yang ia lihat. Alya yang sedang tidur nyenyak tanpa sadar menarik rok yang ia kenakan hingga tersingkap ke atas. Mungkin sekali, Alya juga tengah bermimpi sedang bermain cinta dengan seseorang karena desahan-desahan erotis kadang terdengar lirih dari mulutnya. Dengan pandangan yang menatap tajam ke arah paha mulus Alya, Dodit menelan ludah.
Berulang kali Dodit mengusap muka dan berusaha menekan hawa nafsunya, pemuda itu sudah mencoba mengalihkan pandangan ke jendela, tabung oksigen, meja, keranjang buah, televisi, tapi tidak ada satupun yang berhasil menghilangkan pikirannya yang mesum pada Mbak Alya. Sekali lagi Dodit melirik ke arah Alya, alangkah indahnya pemandangan yang ia saksikan. Paha mulus Mbak Alya sudah terlihat utuh hingga sampai ke selangkangannya. Sedikit lagi rok itu tertarik ke atas, Dodit pasti bisa melihat celana dalam yang dipakai oleh calon kakak iparnya itu.
Dodit mengerang, batinnya berkecamuk, terjadi perang antara akal sehat dan nafsu birahi. Dodit menggelengkan kepala mencoba menghapus pikiran busuknya. Mbak Alya adalah calon kakak iparnya. Calon kakak iparnya! Pemuda macam apa dia ini? Tidak tahu malu! Sebentar lagi dia akan menikah dengan seorang gadis yang alim dan manis yang telah susah payah menjaga keperawanan hanya untuk dipersembahkan padanya, sedangkan dia malah nafsu melihat keseksian kakak ipar tunangannya. Tidak, Dodit ingin menjadi pria yang baik dan setia bagi Anissa.
Dodit mencari-cari bungkus rokok di dalam kantong sakunya, ia menjumput satu batang, menjepit rokok itu dengan bibir lalu mencari-cari korek gas di dalam saku lain. Satu-satunya cara untuk menghapus pemandangan indah ini adalah dengan merokok di teras di luar kamar dan…
Rokok Dodit jatuh ke atas lantai. Mulutnya menganga.
Rok Alya tersingkap makin naik, seluruh pahanya sudah bisa terlihat dengan jelas, bahkan kini celana dalamnya pun sudah terlihat seutuhnya. Celakanya, calon kakak ipar Dodit itu mengenakan celana dalam yang tipis menerawang sehingga Dodit bisa melihat apa yang ada di balik celana dalam. Mulut pemuda itu menganga karena terkesima, sangat indah! Sangat indah sekali!
Pikiran alim Dodit sudah melesat meninggalkan raganya. Buru-buru pemuda itu mengambil telepon genggamnya dan segera menyiapkan handphone. Ia tidak akan melewatkan pemandangan seindah ini! Mas Hendra dan Mbak Alya sudah sama-sama lelap dan tidak akan sadar Dodit mengambil gambar-gambar seksi calon kakak ipar dengan kamera telepon genggamnya. Pemuda itupun segera menggunakan kamera handphone untuk mengambil gambar paha dan selangkangan mulus Alya dari berbagai sudut.
Setelah puas mengambil gambar, Dodit melangkah masuk ke kamar mandi, mengunci pintu dan membuka celananya. Ia melucuti celana yang ia kenakan berikut celana dalamnya, setelah itu Dodit membasahi kemaluannya dan mengambil sabun. Sambil membuka file gambar yang berisikan pemandangan paha dan selangkangan Alya, pemuda itu memuaskan birahinya dengan mengocok kemaluannya.
“Uhhhhmmm… Mbak Alya… ohhhhmmm… Mbak Alyaaaa…” desahan memanggil nama calon kakak ipar keluar dari mulut Dodit. Seluruh perasaan galau karena selalu gagal menggauli Anis tumpah ruah kali ini dan yang menjadi fantasi pemuda itu tak lain adalah calon kakak iparnya yang sangat seksi.
###
Sambil berlutut di hadapan kaki Anis yang ditutup rapat, Pak Bejo menggeram. “Buka kakimu! Jangan main-main, anak manis! Aku tahu kalau sebenarnya kau merindukan penisku yang keras ini menjejal di dalam liang memekmu, kan?” tangan Pak Bejo menggenggam erat pergelangan kaki Anissa. Gadis muda itu berusaha melawan dan meronta, tapi Pak Bejo terlalu kuat, ia berhasil membuka paha Anis dengan sedikit paksaan.
Anissa mengerang takut ketika Pak Bejo menarik pergelangan kakinya. Kedua kaki Anis kini diletakkan di samping pinggul Pak Bejo. Pantat Anis diangkat dari tempat tidur sementara pria tua itu meremas-remas pantat sang gadis muda yang ketakutan di depannya. Pak Bejo merenggangkan kaki Anis lebih lebar lagi dan ia membungkuk ke depan, membimbing belalainya yang mulai membesar ke arah memek Anis.
Anissa menahan nafas karena takut, ia merasakan kengerian membuncah di dalam hati ketika bibir kewanitaannya bersentuhan langsung dengan kontol besar Pak Bejo. Dengan senyum menggoda, Pak Bejo mengoles-oleskan ujung gundul kemaluannya ke bibir bawah vagina Anis, rangsangan itu membuat cairan cina Anis meleleh tanpa bisa dibendungnya. Pak Bejo menggerakkan kontolnya naik turun dan dengan sengaja dioles-oleskan ke bibir kemaluan sang dara, pria tua itu seakan meratakan cairan cinta yang meleleh di bibir kemaluan Anis ke seluruh bagian bibir vaginanya.
Akhirnya, dengan penuh nafsu, pria tua bejat itu menatap lekat mata Anis. “Saatnya melakukannya, ya sayang?” Pak Bejo terkekeh sadis.
Anissa menggeleng dan mencoba meronta, tapi ia tidak mampu berbuat banyak karena selain kakinya dijerat oleh kaki Pak Bejo, kini giliran kedua lengannya ditahan di sisi ranjang oleh tangan sang lelaki tua bejat. Ingin rasanya Anis berteriak, tapi ia tahu sia-sia saja melawan pria tua menjijikkan ini.
Dengan satu sentakan penuh tenaga, Pak Bejo mendorong penisnya ke depan, masuk ke dalam memek Anissa dengan satu tusukan yang sangat menyakitkan, Anissa melenguh karena kaget dan merasa perih, bibir memeknya terbelah dan vaginanya menelan batang kontol Pak Bejo. Ukuran penis Pak Bejo yang besar memenuhi rapat liang kewanitaan Anis. Tak mau menahan diri lagi, Pak Bejo terus menyorongkan kemaluannya hingga ujung terdalam vagina Anissa.
Terdengar suara kecipak becek memek Anis, tak terasa, seluruh batang kemaluan Pak Bejo telah melesak ke dalam. Anissa menarik nafas yang terasa berat, matanya terbelalak dan ia bisa merasakan ukuran sesungguhnya dari penis Pak Bejo yang kian lama kian membesar di dalam memeknya.
“Hrghhh!! Bisa kau rasakan itu, manis? Memekmu yang rapet meremas-remas kontolku!” Pak Bejo tertawa menghina, “pasti ini pengalaman baru bagimu ya sayang? Enak kan dientoti terus sama Pak Bejo? Kalau sudah merasakan kontolku, aku yakin kamu tidak akan mau disetubuhi calon suamimu yang kontolnya seupil itu!”
“Tidak mauu…” Anissa merintih, kesadarannya mulai melayang karena rasa sakit yang ia rasakan mulai menguasai seluruh tubuhnya. Tangan kotor Pak Bejo merenggangkan bokong Anissa dengan kasar, lalu sambil menggemeretakkan gigi dengan gemas, Pak Bejo menusuk memek Anis sekuat tenaga. Anis memejamkan mata, besarnya ukuran penis Pak Bejo membuatnya merem melek, ia bisa merasakan tiap sudut batang kemaluan pria tua cabul itu, tiap urat yang menonjol, benjolan kecil atau permukaannya yang kasar, semua bisa ia rasakan. Pak Bejo menggiling liang kewanitaan Anis dengan gelombang serangan bertubi-tubi sampai akhirnya ujung gundul kontol Pak Bejo menabrak ujung terdalam liang rahim gadis muda itu.
Anissa mengembik kesakitan, ukuran penis besar milik Pak Bejo membuatnya tak bisa menahan air mata yang mengalir. Seakan-akan sebatang tiang listrik dilesakkan ke dalam kewanitaannya. Sambil meringis kesakitan, Anis berusaha meronta dan melepaskan diri dari tusukan Pak Bejo. Selangkangannya terasa sangat panas dan nyeri, namun ketika dia meronta, gerakannya malah membuat Pak Bejo makin keenakan. Pria tua itu sudah gelap mata dan terus menusuk ke depan, menimpakan seluruh berat tubuhnya ke badan Anissa.
“Oooohhhh, memekmu rapet bangeeet!” Pak Bejo terengah-engah menyetubuhi Anissa. Ia menarik bokong gadis itu ke belakang dan tubuh mereka saling menampar dengan penis yang masih tertanam di dalam vagina Anis. Kemaluan Pak Bejo merenggang hingga ke ukuran terbesarnya, ia menggoyangkan pinggulnya dan menggiling liang kewanitaan Anissa sampai ke dalam leher rahimnya.
“Mas Dodit… maafkan akuuu… a-aku tidak kuat…” desah Anissa dalam keputusasaannya, ia bisa merasakan seluruh tubuhnya bergetar dan menyerah dalam pelukan sang lelaki tua. Ia belum pernah merasakan gelombang kenikmatan seperti ini menyapu seluruh tubuhnya. Perlahan-lahan, Anissa mulai menggoyangkan pantat agar kemaluan Pak Bejo bisa masuk ke dalam memeknya lebih dalam lagi.
Pak Bejo puas melihat takluknya Anissa. “Enak kan sayang? Enak kan kontolku? Bisa kau rasakan gerakan kontolku di dalam liang rahimmu, sayang? Bisa kau rasakan geliat kontolku di dalam liang yang telah aku perawani? Bagaimana rasanya disetubuhi seorang pria sejati, sayang? Berbaringlah dan rasakan kenikmatan permainan cinta yang sesungguhnya.” Tiap kata yang diucapkan Pak Bejo bagaikan pisau yang menusuk perasaan Anissa, dia terhina sekaligus menginginkannya.
Karena gerakan pantat Anissa itu melambat, Pak Bejo menarik pinggul gadis itu dan memompakan tubuh mungilnya itu ke arah kemaluannya yang masih tertanam di dalam memek. Pak Bejo menarik kemaluannya keluar dari memek Anissa, menimbulkan rasa sakit karena gesekan yang membakar dinding kewanitaan liang cinta Anis. Lalu dengan kecepatan tinggi, pria tua bejat itu menumbuk vagina Anissa tanpa ampun, berulang kali menusuk hingga terdengar suara kecipak campuran air cinta Anis dan penyerangnya.
“Oghh! Ouughhhhh! Ougggggggghh!!” Anissa mengerang tak berdaya. “Ahhhh!! Ahhhh!!”
Detik demi detik berlalu, Anissa memejamkan matanya, gerakan Pak Bejo makin lama makin stabil, dia ingin seperti ini terus, nikmat luar biasa yang berasal dari selangkangannya membuat Anissa terbang ke angkasa, ia tidak ingin Pak Bejo berhenti. Ia ingin terus disetubuhi. Sejenak Anissa lupa, bahwa pria yang tengah memberikan kenikmatan ini bukanlah orang yang pantas menjadi suaminya.
Kontol tua Pak Bejo keluar masuk dengan mantap menyetubuhi memek Anissa yang basah oleh cairan cinta. Ketika membuka matanya, Anissa mengalihkan pandangan ke arah cermin yang berada di meja riasnya. Bayangan yang berada di cermin membuat gadis itu bergidik ngeri. Tubuh gemuk sang pria tua memeluk erat paha Anis sambil memaju mundurkan pinggul untuk melesakkan kemaluan ke dalam vaginanya. Anissa menatap cermin dengan pandangan tak percaya namun pasrah, ia benar-benar sedang disetubuhi oleh Pak Bejo, orang yang juga telah memerawaninya. Yang lebih menyakitkan lagi bagi Anissa adalah, karena Pak Bejo adalah orang pertama yang memerawaninya, ia merasa begitu nikmat bersetubuh dengan pria tua itu, ia ingin lagi… lagi… dan lagi.
Nafas pria tua itu menjadi lebih pendek dan kembang kempis beberapa menit kemudian, begitu juga dengan gerakan maju mundurnya yang makin lama makin cepat. Ujung gundul kemaluan Pak Bejo makin membesar dan bisa dirasakan perubahannya oleh Anissa. Gadis itu membelalakkan mata dengan ngeri, inilah dia saatnya, pria tua itu akan orgasme di dalam vaginanya! Bayangan tubuhnya yang seksi di bawah pelukan lelaki tua gemuk buruk rupa yang menyemprotkan cairan sperma hangat di dalam vaginanya membuat Anissa muak. Apa yang akan terjadi seandainya ia hamil nanti?
“Ja-jangan di dalam… jangan… aku tidak mau hamil…” protes Anissa di sela-sela desahan nafsunya.
“Diam saja, anak manis.” Sergah Pak Bejo.
Saat yang dinanti pun tiba, Pak Bejo mengangkat kepalanya dengan penuh kenikmatan, ia melolong pelan dan bulat matanya berputar ke belakang hingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat. Pria tua itu benar-benar mengalami sensasi kenikmatan yang luar biasa. Anissa memang kalah jelita dibanding Alya yang jauh lebih feminin dan lebih matang, tapi vaginanya yang masih rapat memberikan kenikmatan hingga ke atas awan. Pak Bejo memeluk Anis erat-erat dan menyemprotkan semburan hangat air maninya ke dalam memek dara muda yang basah itu. Anissa hanya bisa terisak histeris karena dia tidak ingin hamil oleh sperma pria busuk ini.
Pak Bejo ambruk ke atas tubuh Anissa. Gadis itu masih terus terbaring di bawah tubuh Pak Bejo yang gemuk sambil menangis sesunggukan. Ia bisa merasakan kontol Pak Bejo yang masih tertanam di dalam liang rahimnya perlahan mengulir keluar. Mereka terdiam seperti itu untuk beberapa saat lamanya sampai Anissa mulai merasakan berat tubuh Pak Bejo membebaninya. Dengan tenaga yang tersisa, Anis bergerak ke samping mencoba melepaskan diri dari pelukan Pak Bejo. Lelaki tua itu mengerang malas dan ambruk ke samping dengan wajah memerah karena kelelahan.
Puas sekali rasanya ia bisa menikmati tubuh Alya dan adik iparnya, Anissa. Dua hari ini Pak Bejo merasakan nikmatnya hidup bagai seorang raja yang memiliki banyak harem. Suara berkecipak menandai lepasnya kemaluan lelaki tua itu dari bibir vagina Anis, air cinta yang bercampur di dalam memek Anispun ikut menetes keluar, leleh seakan menangis.
Anissa memejamkan mata di samping Pak Bejo tanpa berani mengeluarkan sepatah kata, gadis cantik itu terbaring dengan kaki yang terbentang lebar usai digauli dan air mata yang mengalir deras membasahi pipi. Pak Bejo meringis puas sambil menatap tubuh telanjang Anissa dari kepala hingga ke ujung jempol kaki. Keindahan tubuh gadis muda ini telah menjadi miliknya.
“Bagaimana rasanya disetubuhi pria tua seperti saya, Non Anis?” Pak Bejo terkekeh puas, “Kok diem aja? Pasti enak ya merasakan penis besar seperti yang aku punya? Kalau nggak percaya, coba saja rasakan punya Dodit, pasti kalah. Berani jamin.”
Sambil tertawa terbahak-bahak, tangan Pak Bejo maju ke depan, menyelip di antara paha Anis yang basah dan menangkup bukit kemaluan lembut gadis itu. Anissa terisak lagi tanpa bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa membiarkan jari jemari nakal Pak Bejo mempermainkan bibir vaginanya. Pria tua itu membuka lebar-lebar bibir kemaluan Anissa sampai-sampai gadis itu merasa risih, apalagi cairan cinta bercampur sperma Pak Bejo masih meleleh keluar dari sela-sela bibir kemaluan Anissa.
“Wah wah! Banyak juga tadi aku nyembur, kasihan sekali kamu, anak manis. Hahaha.” Pak Bejo tertawa melihat spermanya yang putih kental meleleh keluar dari memek gadis yang baru saja ia gauli. Pria tua bejat itu berdiri meninggalkan ranjang, kontolnya yang besar terkibas kesana sini. Setelah mengenakan celana dan baju, Pak Bejo melirik ke arah Anissa dengan pandangan jumawa.
Untunglah kemudian Pak Bejo memutuskan untuk meninggalkan Anissa. “Tubuhmu lezat sekali rasanya, anak manis. Besok pasti aku datang lagi untuk mencicipimu. Siapkan memekmu dan usahakan kali ini lebih bisa mengimbangi permainanku, jangan diam saja seperti kayu. Hahaha.” Tawa Pak Bejo bagaikan pisau yang mengiris-iris perasaan Anissa. Pria tua yang menjijikkan itu bahkan masih tetap tertawa saat telah melangkah keluar dari kamar Anis, seakan-akan kata-katanya yang cabul adalah hal yang sangat lucu baginya.
Setelah Pak Bejo pergi, Anis berlari ke kamar mandi. Selangkangan gadis itu terasa panas dan gatal, bibir vaginanya membengkak dan basah oleh air mani Pak Bejo. Ia merasa sangat kotor. Anissa jongkok di pojok kamar mandi dan membiarkan air shower menghujani tubuhnya tanpa henti, jari-jarinya bergetar saat ia membuka perlahan bibir vaginanya yang masih terasa sakit, sperma Pak Bejo menetes dari dalam liang cintanya.
Anis ingin menyemprot bersih-bersih kemaluannya dengan air tapi gadis itu tahu semprotan air yang masuk malah akan mendorong dan memperbesar peluang sperma itu membuahi sel telurnya, ia bukan gadis bodoh. Gadis itu terdiam di pojok sambil berharap sperma Pak Bejo sudah keluar semua dari memeknya.
Matanya sembab karena tak berhenti menangis. Ia bingung, ia ingin bertemu sekaligus ingin berpisah dengan Dodit, ia merasa kotor dan tak berharga lagi baginya, ia hanyalah seorang gadis yang sudah kehilangan kesucian akibat diperkosa seorang lelaki tua yang tidak akan bertanggung jawab.
Tak kuat rasanya gadis itu menanggung semua beban, ingin rasanya ia bunuh diri saja.
###
Pagi itu tidak seperti biasanya, terik panas mentari lebih panas dari biasanya. Keringat lebih cepat menetes walaupun baru berjemur beberapa menit di bawah sinar matahari. Beberapa orang pemuda berkulit gelap menurunkan karung-karung berisi beras dari mobil bak tanpa mengeluh, sementara di bawah, seorang pria berusia paruh baya menghitung karung dan meletakkannya di timbangan besar di mana seorang lelaki lain mengukurnya. Pria paruh baya itu berulang kali mengelap keringat yang menetes dari dahi dengan menggunakan handuk kecil yang ia selampirkan di leher, berkali pula ia menarik topi kerucut yang ia kenakan dan ia kipas-kipaskan ke wajah untuk memberikan angin.
“Panas banget si… hari ini.” keluh sang pria paruh baya.
“Iya bang, kali panas ini gara-gara pemanasan glo… apa tuh… yang disebut-sebut di tipi itu ya?” timpal sang pengukur timbangan.
“Pemanasan global kali maksudnya?” jawab sang pria paruh baya sambil mengerutkan kening.
“Iya yah? Saya sih gak maksud, bang. Ya itu yang dibilang sama abang itu.” Sang pengukur timbangan tersenyum dan tersipu malu.
Sang pria paruh baya menepuk-nepuk pundak sang pengukur timbangan. Tiba-tiba saja satu sosok wanita berkelebat melalui mereka, sosok yang membuat kedua orang itu dan para pemuda yang sedang menurunkan karung beras berhenti bekerja karena takjub.
“Buset! Apaan tuh yang barusan, bang?” tanya sang pengukur timbangan sambil mengucek mata. “Beneran kagak yang lewat? Beneran yah?”
Sang pria paruh baya menatap ke arah sosok yang lewat sambil geleng-geleng tak percaya. “Beneran, Jo. Gila. Yang baru lewat itu beneran.”
Apa yang membuat kedua orang itu dan para pemuda yang sedang menurunkan beras terpukau?
Sosok wanita yang baru saja melewati mereka adalah sosok Lidya. Kali ini menantu Pak Hasan itu mengikuti kemauan gila sang mertua dengan mengantarkannya berjalan-jalan di sebuah pasar kecil yang berada sedikit jauh dari rumahnya. Lidya tidak mau mengambil resiko berjalan-jalan di pasar besar yang berada di dekat rumah karena takut akan ketahuan beberapa orang kenalan atau tetangga.
Sambil menggandeng mertuanya yang tersenyum bangga, Lidya berlenggak-lenggok di lorong-lorong pasar sambil memutar pinggulnya, dia sebenarnya malu sekali melakukan ini di depan orang-orang pasar, tapi mertuanya yang bejat memaksanya tanpa kenal ampun. Seperti waktu berjalan-jalan di mall, Lidya mengenakan baju yang sama sekali tidak sepantasnya dikenakan sewaktu masuk ke dalam pasar.
Lidya hanya mengenakan sebuah kemeja kecil putih yang sangat pas dengan lekuk tubuh atasnya dengan memakai BH berukuran mini dan tipis. Ukuran kemeja yang terlalu kecil mencetak keindahan lekuk tubuh Lidya untuk santapan mata para lelaki yang saat itu berada di dalam pasar. Mata mereka mengikuti gerak tubuh Lidya bagaikan seorang penonton pertandingan tenis yang mengikuti gerak arah bola. Buah dada Lidya bergerak naik turun tanpa bisa dikendalikan seiring gerakan lenggok pantatnya yang bergerak dengan sempurna. Karena sempitnya pakaian dan tipisnya bh yang ia kenakan, orang bisa melihat ujung puting buah dada Lidya menjorok ke luar seakan minta diselamatkan dari sempitnya pakaian yang ia kenakan. Ukuran buah dada Lidya yang besar membuat pakaian itu sulit dikancingkan, ia hanya bisa pasrah seandainya ada orang yang dengan sengaja mengintip-intip buah dadanya melalui sela-sela kancing yang terbuka.
Selain mengenakan pakaian sempit dengan BH tipis, Pak Hasan memaksa Lidya mengenakan rok pendek yang terlalu mini untuk wanita setinggi Lidya, kakinya yang jenjang melangkah melalui lorong pasar tanpa dilindungi apapun. Pahanya yang putih mulus seperti pualam menimbulkan decak kagum sekaligus birahi yang makin memuncak dari para penjual, khususnya yang berjenis kelamin lelaki. Rok mini Lidya hanya bisa melindungi kira-kira beberapa cm saja dari selangkangannya, jika menantu Pak Hasan itu memaksa jongkok atau membungkuk, orang yang berada di depan atau belakangnya bisa melihat celana dalam jaring-jaring yang ia kenakan. Jaring-jaring itu tidak melindungi apapun, karena seandainya cermat melihat dan mengamati, bibir vagina Lidya akan terlihat jelas dan membayang.
Lidya bersyukur dia diijinkan mengenakan kacamata hitam, karena dengan begitu dia bisa menyembunyikan air mata dan bersembunyi dari pandangan mesum seluruh lelaki buas yang berada di pasar. Berbeda dengan keadaan saat mereka berjalan-jalan di mall tempo hari, kala itu banyak lelaki yang melirik namun malu-malu memandang. Tapi kini, hampir semua lelaki memandang ke arahnya tanpa rasa malu, bahkan beberapa orang menyiulinya dan berkomentar menjijikkan.
“Pak, sudah ya pak… kita pulang saja… aku takut… malu…” bisik Lidya pada sang mertua yang menggandengnya.
“Ayolah, sayangku. Kita sudah pernah melakukan ini kan? Kenapa harus malu?”
“Tapi itu kan di mall, ini pasar… lagipula…”
“Hh… apa bedanya mall dengan pasar?” senyum lebar menghiasi wajah menjijikkan Pak Hasan. Lidya langsung tahu usahanya sia-sia saja.
“Jangan berhenti melenggokkan pantatmu, pastikan orang yang berada di belakang bisa melihat lenggokanmu yang panas itu, Nduk.” Kata Pak Hasan sambil terkekeh pelan.
Saat berjalan-jalan di mall dulu, Lidya bahkan tidak mengenakan bra, tapi saat ini, saat ia masih mengenakan pakaian dalam, Lidya merasa lebih parah. Orang-orang yang berada di pasar kecil ini sebagian besar adalah masyarakat menengah ke bawah yang tidak pernah melihat pertunjukan heboh semacam ini, keberadaan Lidya mengundang banyak orang untuk melihat. Ia bagaikan seorang bintang sinetron yang sedang dikejar-kejar oleh banyak wartawan.
Bisa dibilang, mungkin di seantero pasar, tubuh seksi Lidya tidak ada yang bisa menyaingi. Rambutnya yang panjang dan indah seperti cewek cantik di iklan shampo, kulitnya yang putih bersih seperti pualam bagaikan bintang iklan sabun, kecantikannya yang di atas rata-rata seakan bagaikan bidadari yang turun dari langit, dan yang lebih hebat lagi, keseksian tubuhnya yang tak bisa disangkal siapapun juga sangat menggugah nafsu birahi.
Seorang penjual ayam potong hampir kehilangan jari-jarinya gara-gara tak berkonsentrasi saat memotong daging ayam yang dibeli oleh seorang ibu-ibu. Seorang kuli yang sedang mengusung plastik besar berisi makanan anak-anak bertabrakan dengan kuli lain yang sedang membawa plastik berisi sayuran. Seorang penjaja makanan kecil berkali-kali merobek plastik hingga bertaburan karena tak bisa berkonsentrasi. Singkat kata, kehadiran Lidya benar-benar membuat heboh pasar kecil itu.
Sebelum datang kemari bersama Lidya, Pak Hasan sudah melakukan survey terlebih dahulu. Dia tahu pasti kalau di pasar kecil ini banyak pemuda dan para penjaja yang sering berkumpul di sebuah tempat bilyard kecil yang ada di ujung pasar. Disanalah tempat sebagian besar laki-laki penghuni pasar berkumpul, dan kesanalah ia akan mengajak Lidya.
Hati Lidya berdegup tak menentu, dia diam saja digiring oleh sang mertua ke tempat paling ujung di pasar. Dia makin ketakutan dan panik namun tak berdaya setelah melihat di tempat yang dituju mertuanya ternyata banyak laki-laki yang berkumpul, jangan-jangan mertuanya membawanya ke sarang preman pasar?
Lokasi tempat permainan bilyard itu sedikit masuk ke gang dan tidak bisa dilihat dari luar ataupun dari pasar. Hampir semua penjual di pasar, khususnya yang laki-laki, nongkrong di tempat ini. Beberapa meja bilyardnya sendiri sudah rusak dan tidak bisa dipakai sempurna, tapi tetap saja banyak orang yang berkumpul di ruangan ini untuk bermain judi kartu. Alangkah kaget orang yang sedang berkumpul di ruangan itu tatkala Pak Hasan dan menantunya yang aduhai masuk ke ruangan dengan nekat. Lidya berusaha menutup bagian dadanya dengan lengan dan berulangkali membenahi roknya yang naik ke atas, tentunya usaha itu sia-sia.
“Selamat sore, nama saya Hasan dan saya ingin ‘mengamen’ di sini.” Kata Pak Hasan di tengah-tengah keramaian orang yang memandangnya heran dan galak. “Saya tidak akan menyanyi atau bermain gitar, tapi menantu saya ini hendak menghibur anda-anda semua dengan menari. Ada yang mau lihat?”
Sontak kumpulan orang itupun ramai, mereka berteriak-teriak dengan girang mengiyakan, Lidya makin kecut nyalinya melihat buas dan beringasnya orang-orang yang berada di tempat itu.
“Bapak sudah gila? Aku disuruh menari di depan orang-orang ini? Bagaimana kalau mereka nanti hilang akal dan memperkosaku? Apa masih belum cukup bapak memperlakukan aku seperti pelacur? Aku bersedia masuk ke pasar dengan pakaian seminim ini dengan syarat tidak akan ada orang yang menyentuhku lagi.” bisik Lidya pada mertuanya dengan geram, “Aku tidak mau melakukannya! Pokoknya tidak!”
“Kau harus menari di depan mereka! Ingat perjanjian kita? Hari ini peran yang sedang kau jalani adalah sebagai budakku dan bukan istri anakku! Semua permintaanku harus kau turuti!” Bisik Pak Hasan di telinga Lidya sambil menggenggam lengan menantunya itu dengan sekuat tenaga, Lidya mengernyit kesakitan karenanya, “Menarilah dengan erotis, jangan lupa beri servis lebih pada mereka, tidak perlu striptease, cukup buka baju dan rokmu itu, lalu goyangkan dada dan pantat pasti sudah cukup untuk membuat mereka puas.”
“Ini gila… aku tidak mungkin…”
“Tidak mungkin apa, Nduk?”
Geram hati Lidya, tapi apa yang bisa ia lakukan di hadapan serigala-serigala lapar ini? Dia hanya bisa berlindung pada Pak Hasan, jadi apapun yang dia minta harus diturutinya.
“Baiklah, tapi janji tidak akan membiarkan mereka melakukan apa-apa padaku.” Bisik Lidya lagi. Wajahnya yang tadinya keras berubah pasrah, ini sangat menggembirakan bagi Pak Hasan. Sebaliknya bagi Lidya, mimpi buruk menjadi kenyataan. Di siang bolong begini, di dekat pasar, di sebuah kios kosong yang kotor tempat para lelaki kasar biasa bermain bilyard, Lidya harus menari bagi mereka. Memang dia tidak akan benar-benar telanjang, tapi menari hanya dengan BH tipis dan celana dalam menerawang di depan banyak lelaki buas seperti ini sama saja seperti menari telanjang, sama saja parahnya.
“Tidak akan ada satu penispun yang masuk ke dalam memekmu hari ini kecuali milikku.” Bisik Pak Hasan, kata-kata itu menusuk perasaan sekaligus menenangkan Lidya, membuat wajahnya memerah. Lidya ingin menangis rasanya, tapi sangat takut Pak Hasan akan main kasar kalau sampai dia mengembik meminta ampun, karena itu dipendamnya semua perasaannya. Tubuh wanita cantik itu gemetar karena ketakutan. Lidya menundukkan kepala karena malu yang luar biasa, wajahnya memerah dan keringat dinginnya mengalir tanpa henti, tangannya meremas-remas pinggiran rok mininya dengan cemas.
“Siapa yang ingin menonton si cantik ini bergoyang? Silahkan menikmati pertunjukan gratis ini!” kata Pak Hasan, dia meletakkan satu tape kecil yang memang sudah sedari tadi ia siapkan di atas meja bilyard kosong. Tombol play ditekan, lagu dangdutpun mengalun.
“Goyang! Goyang! Goyang!” hampir bersamaan, para penonton berteriak-teriak.
“Ingat, selalu sunggingkan senyum. Buka bajumu sambil melenggak-lenggok seperti penari striptease, cukup sampai bh dan celdam saja, tidak perlu telanjang. Kalau kamu tidak mau melakukannya, aku akan meninggalkanmu seorang diri di tempat ini dan menyerahkanmu pada orang-orang itu… bagaimana?” bisik Pak Hasan pada Lidya. Istri Andi itu mengangguk, bukankah ia hanya bisa pasrah?
Setelah Lidya menganggukkan kepala tanda tunduk, dengan terpaksa ia menyunggingkan senyum pada orang-orang yang berkeliling menonton keindahan tubuhnya. Ketika Pak Hasan memperbesar volume musik yang sedang berdendang, Lidya mulai menggoyangkan badannya. Goyangan pinggul dan pantat bulat si cantik itu langsung menghipnotis dan mempesona tiap orang yang menonton. Wajah mereka langsung memerah menahan nafsu melihat wanita secantik Lidya melenggak-lenggok memancing birahi. Teriakan mesum dan siulan nakal bergema silih berganti, kata-kata kotor terlontar mengomentari kemolekan Lidya. Kebetulan dulu saat masih kuliah, Lidya pernah mengikuti kursus modern dance.
“Buka! Buka! Buka!” teriak orang-orang yang berada di situ. Tidak ada pilihan lain bagi Lidya. Lebih baik membuka pakaiannya sendiri sebelum para preman itu malah memaksanya telanjang nanti. Dengan gerakan perlahan dan sedikit meliuk-liukkan badan sesuai irama lagu, Lidya melucuti baju tipis menerawang yang ia kenakan. Payudaranya yang sentosa menggelinjang erotis dalam balutan bh tipis berwarna putih. Guncangan buah dada Lidya memompa birahi para penjual sayur dan buah-buahan, ingin rasanya mereka melihat balon buah dada Lidya meloncat keluar dari ketatnya bh yang menutupnya.
Dengan wajah merah karena malu dan keringat deras mengalir, Lidya mulai melucuti rok mini yang ia pakai dan melemparkannya pelan ke pojok ruangan. Istri Andi yang cantik jelita itu kini berdiri hanya mengenakan kutang dan celana dalam di sebuah bilik kecil tempat para preman pasar asyik bermain bilyar. Beberapa orang penonton yang berada di ruangan itu pun bersorak sorai dan bertepuk tangan melihat kemolekan Lidya. Dengan goyangan erotis yang mengundang syahwat, Lidya berlenggak-lenggok mengikuti irama lagu. Lidya sengaja beberapa kali memejamkan mata karena tak kuat menahan diri yang ingin menangis menari setengah telanjang di hadapan mata para lelaki buas yang menatapnya penuh nafsu. Pantat Lidya yang bulat sempurna dan montok bergerak-gerak erotis mengikuti lenggokan pinggulnya sementara buah dadanya berulang kali meloncat-loncat seakan mau copot dari ikatan ketat kaitan BHnya, penonton berseru meminta Lidya mendekat supaya mereka bisa meremasnya sekali atau dua kali, tentu saja seruan itu selalu ditolaknya.
Setelah hampir tiga lagu Lidya melenggak-lenggok di ruangan sempit yang gelap dikelilingi oleh sekelompok lelaki kasar, akhirnya Pak Hasan menyuruhnya berhenti. Tubuh si cantik itu basah kuyup dihujani keringat yang deras mengalir sampai-sampai tubuhnya yang seputih pualam bagai digosok sampai mengkilat. Tepuk tangan meriah sedikit mengagetkan Lidya, pria-pria buas dan kotor yang baru saja menyaksikannya menari terlihat bagaikan serigala kelaparan yang sudah siap menubruknya.
“Huibat sekali neng geulis ini menari, hayo dilanjutkeun! Kenapa berhenti? Merangsang pisan euy…” kata Pak Somad yang sehari-hari berjualan buah-buahan segar.
“Maaf, saudara-saudara semua, tapi pertunjukannya cukup sampai di sini dulu. Kalau ingin lanjut dan ingin lebih kenal dekat dengan menantu saya ini, silahkan menghubungi saya, tapi tentunya ada ongkos yang harus dibayar dan belum tentu semua orang akan saya ijinkan mendekatinya.” Kata Pak Hasan sambil tersenyum puas melihat orang-orang yang menonton aksi Lidya menjadi gelisah karena kecewa. Ia melemparkan baju dan rok yang tadi dipakai Lidya untuk dikenakan kembali.
“Yaaaah… masa cuma segitu doang? Nanggung nih ngacengnya!” keluh Pak Ramin si penjual gorengan disusul makian teman-temannya yang juga kecewa, tangan kirinya masih terselip masuk di dalam celana, tangan itu tadinya ia gunakan untuk mengocok si kecil dengan paksa, akhirnya tangan itu ditarik keluar dengan kecewa. Pemandangan indah adegan tari striptease Lidya memang membuat pria itu tadinya tak tahan, dia tak peduli kalaupun harus coli di depan teman-temannya.
“Terima kasih atas perhatian saudara-saudara sekalian. Demikianlah akhir dari pertunjukan ini.” Pak Hasan tersenyum lebar mendengar nada kecewa yang menggema di ruangan kecil itu, “dia ini menantu saya, boleh dilihat, tidak boleh dipakai.”
“Ka-kalau ada yang pengen ngentot? Bayarnya berapa ya, Pak?” tanya Pak Ngadi si penjual mainan anak-anak, dari tadi dia blingsatan melihat Lidya menari-nari, kecantikan dan kemolekan Lidya membuat Ngadi lupa pada anak istri, dengan bergetar Ngadi membuka kantong plastik berisi uang ribuan yang sudah beberapa hari ini dia kumpulkan untuk istri di rumah dan modal berjualan mainan esok hari.
Teman-teman Pak Ngadi tertawa mendengar pertanyaan itu, termasuk Pak Ramin. “Wah -wah, Ngadi… Ngadi! Jangan belagu kamu, punya duit dari mana? Emang ngewe cewek secakep ini murah? Mau kamu bayar pake apa? Utangmu gopek sama si Slamet aja belum dibayar dari bulan kemarin!”
Ngadi pun menunduk malu sambil melangkah ke belakang. Menggantikan posisinya kini adalah Abah Aseng, juragan beras di pasar itu. Pria keturunan bertubuh gemuk itu mendekati Pak Hasan. “You minta berapa duit? Aku mau pakai dia satu jam. Berapapun harganya aku bayar.”
“Ha ha ha… aduh, Abah Aseng! Masa cuma sejam?” Pak Ramin ribut lagi. “Bayarnya sih kuat, otongnya yang gak kuat… ha ha ha…”
Kumpulan lelaki mesum itu langsung ramai penuh tawa, tapi Abah Aseng yang sudah biasa menghadapi mereka segera menjentikkan jari. Dua orang laki-laki bertubuh besar dan berwajah sangar mendekati Pak Ramin. Penjual gorengan itu langsung mundur teratur tanpa berani berkomentar macam-macam lagi. Abah Aseng ternyata membawa dua premannya yang terkenal ganas.
Pak Hasan menggelengkan kepala. “Sepertinya semua orang di sini belum mendengar apa yang tadi saya sampaikan ya? Dilihat boleh, dipakai jangan.”
Abah Aseng tidak terima begitu saja, dia menjentikkan jari sekali lagi. Dua premannya mendekati Pak Hasan dengan pandangan mengancam. “Ayolah, Pak.” Kata Abah Aseng. “Dipikir dulu, aku kan pakenya ndak lama. You malah mestinya terima kasih, aku mau pake barang you itu. Jadi gimana? Aku bayar berapapun ndak masalah. Tapi kalau you ndak tau terima kasih, ya aku ndak tanggung jawab kalau nanti anak-anak turun tangan. You pikir you siapa bisa seenaknya masang cewek di pasar ini? You kan sudah tua, lebih baik tidur saja di rumah, biar aku yang rawat anak manis ini.”
Dengan kurang ajar Abah Aseng mencolek dagu Lidya. Si cantik yang sedari tadi ketakutan dan terdiam itu menjerit ketakutan, ia segera berlindung di balik tubuh Pak Hasan.
Pak Hasan tersenyum sinis. “Saya memang sudah tua, tapi kalau cuma dua preman kelas teri begini, saya sendirian masih sanggup menghadapi. Saya tidak datang ke pasar ini tanpa persiapan terlebih dahulu.” Dengan sigap Pak Hasan maju ke depan dan mendekati Abah Aseng, tangannya bergerak dengan cepat, masuk ke selangkangan sang juragan beras dan mencengkeram kantung kemaluannya tanpa bisa dicegah. Abah Aseng langsung berteriak kesakitan, suasana pasar yang tadinya ramai berubah menjadi senyap saat Abah Aseng menjerit-jerit.
Dua preman yang tadinya sigap jadi kebingungan, saat mereka maju, Pak Hasan mencengkeram lebih erat lagi. “Kalau dua preman itu nggak mundur, saya remuk bola Abah, bagaimana?”
Abah Aseng mengangguk-angguk dengan cepat, dia sangat kesakitan. Dengan gerakan tangan melambai, Abah Aseng menyuruh dua premannya meninggalkan tempat itu. Kelompok kecil itu bersorak-sorai, baru kali ini ada orang yang berani melawan Abah Aseng. Mereka puas karena selama ini selalu menjadi bulan-bulanan dua preman sang juragan beras. Abah Aseng segera lari terbirit-birit karena malu di bawah sorak sorai para penjual.
“Baiklah, karena hari ini saya sedang gembira, saya akan memberi kesempatan pada satu orang untuk ikut bersama kami dan menikmati keindahan tubuh menantu saya ini. Orang tersebut akan dipilih sendiri oleh menantu saya dan dia akan mendapatkan servis gratis tanpa ditarik biaya apapun. Siapa yang mau?”
Semua orang yang sedang berkumpul di tempat itu menunjukkan jari ke atas. Semua mau dipilih, semua ingin mendapatkan servis gratis, semua ingin mencicipi kemolekan wanita cantik kelas atas seperti Lidya. Siapa yang menolak?
“Siapa yang kau pilih, Nduk?” tanya Pak Hasan pada menantunya yang sedang sibuk mengenakan kembali pakaiannya, “harus dipilih salah satu.”
Lidya gelagapan karena bingung, mana kiranya yang harus dipilih? Wajah mereka kasar, rata-rata berkulit coklat gelap dan penampilannya jelas tidak ada menarik, mereka juga sangat bau dan tidak kenal sopan santun. Mana yang harus dia pilih?
“A-aku tidak…” Lidya menggelengkan kepala, dia menolak kalau harus melayani satu di antara para penjual dan preman ini.
Wajah Pak Hasan mengeras dan pandangannya berubah galak, Lidya tahu apa artinya perubahan wajah mertuanya itu, dia harus memilih.
“Siapa yang kau pilih, Nduk?” tanya Pak Hasan sekali lagi dengan suara tegas.
“Di… dia.” Lidya menunjuk Pak Ngadi, sang penjual mainan anak-anak.
###
Hari ini Alya terlalu lelah, ia memutuskan untuk istirahat dan membiarkan Dodit dan Anissa yang menjaga Hendra di rumah sakit. Ia ingin di rumah saja bersama Opi, beruntung sekali Pak Bejo dan istrinya harus pergi sehingga dia aman dari gangguan lelaki tua tengik itu. Wanita cantik itu duduk di teras depan rumahnya sembari melamun menatap awan yang beriringan di langit.
Alya menghapus airmatanya yang meleleh tanpa henti sedari tadi. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Hidupnya hancur berantakan, suaminya cacat dan tak akan bisa bekerja dan beraktifitas seperti sebelumnya, dirinya telah ternoda oleh perbuatan kotor Pak Bejo dan menjadi hamba seks tetangganya yang cabul itu. Bagaimana mereka akan melalui semua ini? Alya menundukkan wajahnya dan menangis tersedu-sedu, hampir satu jam ia tak bergerak, hanya menangis dan melamun.
Kecelakaan parah yang menimpa Hendra membuat Alya dan Opi sedikit kerepotan kalau hendak bepergian, sepertinya, mereka akan membutuhkan tenaga pekerja baru sebagai seorang sopir. Alya jelas tidak mau memperkerjakan Pak Bejo yang berhati busuk itu. Dimanakah ia bisa menemukan seorang driver yang dapat dipercaya?
Setelah satu jam berlalu, terdengar suara denting keras dan Alyapun mulai sadar kembali dari lamunannya, ternyata langit sudah gelap dan hari telah sore. Dentingan suara apakah yang telah menyadarkan Alya?
Suara apa itu? Alya menengok ke arah asal dentingan. Rupa-rupanya dentingan suara mangkok seorang penjual bakso keliling.
“Bakso, bakso. Baksonya, Mbak?”
Seorang penjual bakso bertubuh kurus dan berkulit hitam tersenyum pada Alya, penjual bakso itu bernama Paidi.
###
Ngadi menganga melihat rumah Lidya. Dia kagum sekali, ternyata Lidya adalah seorang wanita yang mapan dan berkecukupan, tinggal di kawasan perumahan kaum menengah ke atas yang tenang dan asri. Apa yang dia lakukan bersama seorang bandot tengik seperti Pak Hasan? Kalau tidak salah, kata pria tua itu wanita cantik ini adalah menantunya? Orang gila seperti apa yang melacurkan menantunya pada orang-orang pasar? Sudah kacau dunia ini.
Tapi segila-gilanya dunia, Ngadi masih waras, dia masih mau ditawarin tubuh ranum seperti milik Lidya, dia belum gila.
Duduk di ruang tamu selama setengah jam seorang diri membuat Ngadi melamun. Penjual mainan anak-anak itu tak puas-puasnya mengagumi isi rumah Lidya dan Andi. Berkali-kali ia menggelengkan kepala saat melihat foto mesra pasangan Lidya dan Andi, sungguh sayang wanita secantik Lidya jatuh ke tangan bandot tua seperti Pak Hasan.
“Bagaimana, Pak Ngadi? Sudah siap?” tanya Pak Hasan seraya turun dari tangga, “jamunya sudah diminum?”
Ngadi menganggukkan kepala, dia memang belum berganti pakaian dan membersihkan diri, tapi dia sudah tidak sabar lagi ingin menyantap hidangan utama yang sedari tadi sudah ditawarkan oleh Pak Hasan yaitu tubuh Lidya, sang nyonya rumah.
Pak Hasan tersenyum melihat ketidaksabaran Ngadi yang buru-buru berdiri. “Sabar… kalau ingin diservis menantu saya, tentunya Pak Ngadi harus mandi dulu yang bersih.”
“Ma… mandi?”
“Iya, Lidya sudah menunggu di kamar mandi atas, diharapkan Pak Ngadi mau mandi bersamanya. Silahkan.”
Mulut Ngadi menganga lebar tak percaya. “Mak… maksudnya mandi bareng Mbak Lidya?”
Pak Hasan mengangguk.
Mimpi apa Ngadi semalam? Mimpi kejatuhan durian mungkin? Setelah seharian hanya bisa melamunkan kecantikan Lidya, dia tidak menyangka akan diberi kesempatan mandi bersama wanita yang secantik bidadari itu. Benar-benar beruntung dia hari ini!
“Be-bener ini, Pak? Saya nggak mimpi kan?” Ngadi masih belum mempercayai keberuntungannya, “ng-nggak perlu bayar?”
“Nggak perlu bayar. Tapi ingat, hanya sekali ini saja.” Kata Pak Hasan sambil menepuk-nepuk pundak Pak Ngadi. “Oh iya, Pak Ngadi, meski gratis pegang apa saja, tapi tetap tidak boleh penetrasi. Memeknya tidak boleh diganggu-gugat oleh kemaluan Pak Ngadi, mengerti?”
“Wa-wah… sudah boleh mandi bareng saja saya sudah senang, Pak. Saya nggak akan minta macam-macam.” Kata Pak Ngadi jujur, penjual mainan anak-anak itu benar-benar sudah tidak ingat lagi pada anak istri. Siapa sih yang tidak mau ditawari mandi bersama seorang bidadari?
Dengan diantarkan oleh Pak Hasan, Ngadi berjingkat menuju kamar mandi yang terletak di kamar atas, kamar tempat pasangan suami istri Lidya dan Andi menghabiskan waktu bersama. Kamar itu sangat bersih dan harum, wangi semerbak juga tercium dari pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Pak Ngadi menahan nafas saat dia perlahan memasuki kamar mandi yang sudah terbuka.
Tubuh indah Lidya terpampang jelas di depan matanya. Si cantik itu telanjang! Pak Ngadi terbelalak tak percaya, ini semua benar-benar terjadi?
Lidya berdiri bersandar ke tembok dengan wajah menunduk malu dan lengan yang menutup buah dada dan kemaluannya. Walaupun begitu, di bawah guyuran air shower yang membasahi sekujur tubuh indahnya, Pak Ngadi bagaikan menatap keindahan seorang dewi.
Kejadian ini tentu saja disaksikan oleh Pak Hasan yang terus memantau di dekat pintu, dia selalu berada di belakang Pak Ngadi tanpa mau bergerak melindungi menantunya. Pria tua itu bahkan memberi kode pada Lidya untuk menarik tubuh Pak Hasan mendekat.
“P-pak Hasan ma-mau mandi?” Lidya terbata-bata. Dia tahu seharusnya dia mengucapkan kata-kata itu dengan suara semanja dan seseksi mungkin, tapi Pak Ngadi bukanlah suaminya, dia tidak mungkin bersikap manja pada orang tak dikenal berwajah buruk dan sekotor Pak Ngadi. Tapi bagi Ngadi, suara yang keluar dari mulut Lidya itu bagaikan nyanyian merdu seorang bidadari.
“I-iya… saya mau mandi.” Kata pria tua itu tergagap.
“Ma-Mau mandi b-bersama?” ajak Lidya. Berulangkali dia menatap Pak Hasan yang berdiri di pintu agar mau menyelamatkannya dari situasi canggung ini, tapi Pak Hasan bergeleng tanpa ampun. Hanya satu jalan keluar bagi Lidya, yaitu mempercepat semuanya agar segera selesai. Dengan gerakan pelan yang sangat erotis, Lidya mendekati Pak Ngadi.
Pria tua yang biasa menjual mainan anak-anak itu melotot dan menatap tak percaya gerakan tubuh Lidya, payudaranya yang besar dan kencang bergerak menggelombang ketika si cantik itu berjalan. Lidya kini tak peduli lagi apakah tubuhnya yang telanjang terlihat jelas atau tidak. Pandangan Pak Ngadi juga tak lepas dari gundukan mungil yang berada di selangkangan Lidya, karena rambut yang berada di atas kemaluan dicukur bersih, gundukan bibir kemaluan Lidya bisa terlihat jelas oleh Pak Ngadi yang langsung meneguk ludah karena menahan nafsu.
“Saya lepas ya baju Pak Ngadi.” Bisik Lidya perlahan. Ngadi hanya pasrah, mau diapakan juga dia mau, asal oleh Lidya.
Dengan gerakan gemulai, Lidya melucuti satu demi satu pakaian yang disandang Pak Ngadi dan meletakkannya. Berdiri sangat dekat dengan wanita telanjang secantik Lidya membuat Pak Ngadi merinding, nafsu, malu tapi mau. Buah dada Lidya yang masih kencang memompa semangat Pak Ngadi, ingin rasanya dia menjamah, tapi rasa takut dan segan membayangi. Akhirnya, seluruh pakaian Pak Ngadi telah dilepas. Pria sederhana itu kini berdiri telanjang di depan Lidya. Kemaluan Ngadi yang ukurannya sedang-sedang saja berdiri menantang di hadapan Lidya, tegangnya penis Ngadi tentu adalah hasil pertunjukan erotis Lidya. Walaupun situasinya sangat tidak menyenangkan, entah kenapa Lidya merasa geli dengan keluguan Ngadi.
“Jangan takut pak, saya tidak menggigit kok… kecuali diminta…” bisik Lidya sambil menggigit bibir bawahnya. “Ayo mandi sama saya.”
Si cantik itu kaget sendiri setelah mengatakan pernyataan erotis itu. Bagaimana mungkin kata-kata itu bisa terucap dari mulutnya? Apa yang terjadi pada dirinya? Apakah dia sudah mulai menyukai affair semacam ini setelah berhari-hari ‘dididik’ oleh Pak Hasan? Tidak… ia tidak mau… Mas Andi… tolong… Mas Andi…
Perubahan wajah Lidya terlihat jelas, ia mundur beberapa langkah dan menjauhi Pak Ngadi, kali ini sekali lagi Lidya menutupi buah dada dan kemaluannya. Sikap Lidya yang berubah-ubah membuat Ngadi bingung, pria tua itu berbalik menghadap Pak Hasan tapi mertua Lidya menggeleng.
“Maju saja, Pak Ngadi. Silahkan.” Kata Pak Hasan. Pak Ngadipun kembali berbalik dan mendekati Lidya yang menyudut di pojokan.
Setelah menyuruh Ngadi untuk maju, Pak Hasan mengambil kursi tepat di depan pintu kamar mandi dan duduk menghadap ke dalam, apapun yang terjadi di dalam, ia bisa menyaksikannya. Mertua Lidya itu melucuti celananya sendiri dan siap mengocok kemaluannya. Ada perasaan aneh yang bisa merangsang Pak Hasan saat ia melihat menantunya yang seksi berada dalam pelukan lelaki lain yang bukan suaminya. Ia pasti akan sangat menikmati pertunjukan ini.
“Sa… saya mandikan ya, Mbak Lidya…” kata Ngadi perlahan.
Lidya yang ternyata tengah meneteskan air mata mencoba menyembunyikan tangisnya lewat guyuran air yang turun dari shower, ia tidak mau Pak Hasan marah dan menghajarnya nanti. Mendengar suara lugu Pak Ngadi yang mendekatinya, Lidya hanya bisa mengangguk dengan pasrah. Yang akan terjadi terjadilah. Sebelum peristiwa ini terjadi, selama hidupnya Lidya hanya pernah mandi bersama dengan satu orang lelaki, yaitu Andi suaminya. Merinding juga rasanya mandi dengan lelaki tak dikenal seperti Pak Ngadi.
Air yang turun dari shower menghujani dua tubuh telanjang yang saling berhadapan, perlahan-lahan Lidya membalikkan badan karena malu, namun melepas kedua lengan yang menyembunyikan buah dada dan kemaluannya. Si cantik itu memejamkan mata menanti gerakan Ngadi. Penjual mainan anak-anak itu bergerak perlahan, dia tak puas-puasnya mengagumi keindahan tubuh Lidya yang molek. Bagian belakang tubuhnya pun sangat putih dan mulus tanpa bercak sedikitpun, berbeda dengan tubuhnya yang kotor dan bopeng-bopeng.
Tangan Pak Ngadi menyentuh punggung Lidya perlahan. Inilah untuk pertama kalinya mereka bersentuhan. Lidya mengeluarkan desahan pelan, ia berharap Pak Ngadi tidak mendengarnya. Walaupun tidak mendengar desahan erotis Lidya, Ngadi bisa merasakan getaran pelan dari tubuh wanita seksi yang sedang memunggunginya. Dengan perlahan, Pak Ngadi menggosok punggung Lidya dengan tangannya, ia mengambil sabun dan mengoleskan pelan di punggung seputih pualam milik istri Andi itu.
Melihat kepasrahan Lidya, Ngadi makin berani, tangannya bergerak ke depan dan perlahan-lahan meraih payudara Lidya yang sedari tadi membuatnya terpesona. Dengan dua tangan dari kiri dan kanan, pria tua itu menangkup buah dada Lidya yang besar dan kencang. Lidya meringkik lirih ketika Ngadi meremas balon buah dadanya. Pria tua itu makin mendekat dan memeluk tubuh Lidya dari belakang. Kini Ngadi menggosok punggung Lidya dengan dadanya, hal ini makin membuat Lidya terangsang hebat. Terlebih ketika dirasakannya kemaluan Ngadi terselip tepat di tengah-tengah lembah pantatnya. Pria tua itupun dengan nakal menggerakkan pinggul agar kontolnya menggesek-gesek pantat Lidya.
Lidya merengek lebih keras, gesekan kontol di pantat dan remasan tangan di payudara makin ditingkatkan, membuatnya tak mampu bertahan. Si cantik itu masih memejamkan mata ketika ia berbalik. Dengan sengaja ia mengeraskan aliran shower agar memancar lebih keras. Berhadap-hadapan dengan Lidya membuat kontol Ngadi makin menegang, ia memeluk wanita seksi itu erat-erat. Dengan bantuan sabun, Ngadi mengoles-oles buah dada Lidya, ia menggerakkan payudara Lidya naik turun di dadanya sendiri.
Lidya melenguh menahan nafsu, ia akhirnya bergerak naik turun tanpa diminta, menjadikan buah dadanya yang bersabun sebagai penggosok dada Ngadi. Pria tua itu sendiri tak berhenti, ia meremas pantat bulat si jelita dan mulai berani menciumi tubuhnya. Bibir Ngadi bergerak dari wajah namun menghindari bibir seksi Lidya, Ngadi menciumi setiap jengkal kulit mulus Lidya yang basah oleh siraman air dari shower, mulai dari lehernya yang jenjang, lalu turun ke dada yang masih belepotan sabun. Sambil membersihkan buah dada Lidya dengan tangan, ia juga menciumi kedua balon payudara si cantik itu dengan penuh nafsu, kali ini ia menghindar dari puting payudara Lidya. Ciuman Ngadi berlanjut ke daerah perut, terus turun sampai akhirnya ke bibir kemaluan Lidya. Kali ini Ngadi tak menghindar.
Dengan kepasrahan penuh birahi, Lidya menahan dirinya dengan menyandarkan tangan ke tembok kamar mandi. Ngadi berjongkok hingga kepalanya tepat berada di depan kemaluan Lidya. Air terus mengalir membasahi tubuh mereka berdua, sementara Pak Hasan menyaksikan adegan demi adegan sambil mengocok kemaluannya sekuat tenaga.
Ngadi mengelus-elus paha mulus Lidya lalu menciuminya bergantian, kiri ke kanan, kanan ke kiri, terus menerus. Ciuman itu tak berhenti dan makin lama makin masuk ke arah selangkangan.
“Ohhhhmmm… esssstttt…” desah Lidya tak berdaya saat bibir vaginanya mulai tersentuh lidah nakal Pak Ngadi.
Dengan menggunakan jemarinya, Ngadi membuka bibir memek Lidya yang berwarna merah muda dan menjejalkan lidahnya masuk ke dalam liangnya. Sodokan lidah Lidya yang hangat ditambah guyuran air shower membuat sensasi erotis yang lain daripada yang lain, Lidya makin tak mampu menguasai dirinya sendiri, si cantik itu merem melek diperlakukan sedemikian rupa oleh Ngadi.
Selang beberapa saat kemudian, giliran bibir Ngadi yang asyik mempermainkan seputaran selangkangan Lidya.
“Mmmmhhhh! Sssttthhh… oooohhh…” desahan Lidya terus menguat.
Melihat Lidya sudah tak kuat lagi, Ngadi malah melanjutkan serangannya dengan mempermainkan tonjolan klitoris Lidya. Dijilatinya tonjolan itu dengan lidahnya. Tubuh Lidya bergetar tak berdaya, ia tak tahan lagi, tubuhnya menggelinjang tanpa mampu ia hentikan.
“Yaaaaaaaaaaaaaahhhh…” Lidya menjerit lirih ketika ia akhirnya mencapai kenikmatan. Tubuhnya bergelinjang hebat dan menegang lalu ambruk ke depan. Untunglah Pak Ngadi sigap dan segera menangkap tubuh Lidya agar tidak sampai jatuh.
“Aduh… aku… lemas… sekali…” kata Lidya dengan suara lirih.
Sambil berhati-hati, Pak Ngadi mengangkat tubuh Lidya ke pinggir, mematikan keran shower dan mengelap seluruh tubuh Lidya dengan handuk. Pak Ngadi mengangkat tubuh telanjang Lidya yang sudah tidak basah dan berniat hendak menggendongnya ke ranjang. Si cantik itu sebenarnya keberatan, tapi tatapan mata galak Pak Hasan menundukkannya. Dengan berani penjual mainan anak-anak yang beruntung itu mulai mengangkat tubuh Lidya.
“Kuat kan, Pak? Tubuh saya berat.” bisik Lidya. Dia khawatir penjual mainan bertubuh kurus ini akan menjatuhkannya. “Kalau tidak kuat saya jalan sendiri saja…”
“Kuat kok, Mbak. Peluk saya erat-erat ya.” Kata Pak Ngadi.
Malu-malu Lidya memeluk Pak Ngadi, si cantik itu menautkan kedua lengannya ke leher sang penjual mainan saat dia digendong ke arah ranjang. Untunglah jarak antara kamar mandi dan ranjang Lidya tidaklah jauh. Wangi tubuh Lidya membuat Ngadi memiliki ekstra semangat, baru kali ini dia menggendong tubuh seorang wanita cantik yang tak mengenakan sehelai pakaianpun. Buah dada Lidya yang berukuran besar menempel di dada tipis Ngadi, menimbulkan percikan tenaga ekstra di hati sang penjual mainan.
Di pojok ruangan, Pak Hasan masih terus menyaksikan aksi sang penjual mainan dan menantunya, tangannya juga masih terus bergerak mengocok kemaluannya. “Nduk, kamu tidur tengkurap saja.” Kata Pak Hasan.
Lidya tidur tengkurap sesuai perintah Pak Hasan saat Ngadi meletakkannya di ranjang, matanya terpejam menanti serangan Ngadi selanjutnya. Pria setengah baya berkulit gelap mengkilap dan bertubuh kurus yang baru saja menggendong Lidya itu akhirnya naik ke atas ranjang, Ngadi bergerak dengan malu-malu mendekati istri Andi yang cantik itu. Perlahan-lahan Ngadi memulai serangannya dari ujung jari kaki Lidya. Ngadi belum pernah melihat jari-jari kaki yang mulus, lembut dan terawat seperti milik Lidya, sangat berbeda dibandingkan dengan jemari istrinya yang kotor dan keras karena jarang mengenakan sandal. Ngadi mencium dan menjilati satu persatu jari-jari kaki Lidya.
“Ehhhhmmm…” erang Lidya. Matanya masih belum terbuka tapi bibirnya tak kuat menahan rangsangan geli jilatan lidah Pak Ngadi.
Satu persatu jari-jari kaki Lidya dijilati oleh sang penjual mainan anak-anak sambil tak lupa mengelus-elus lembut telapak kaki Lidya yang putih. Ciuman Pak Ngadi naik ke betis, pria tua itu menikmati jengkal demi jengkal tubuh mulus Lidya, biarpun ini istri orang, tapi nikmatnya bukan main. Setelah puas menciumi satu kaki, Pak Ngadi beralih ke kaki yang lain, serangannya sama, mencium dan menjilati jemari kaki sang dewi.
“Engghhh…” Lidya menutup kepalanya dengan bantal, ia tidak tahan pada serangan Ngadi ini, membuatnya gelagapan. Pak Hasan yang masih duduk di kursi tak terlalu jauh dari ranjang tersenyum puas melihat menantunya keenakan, ia masih mengocok penisnya sendiri dengan gerakan ringan yang makin lama makin cepat.
Pak Ngadi meneruskan lagi, ia menggerakkan bibirnya menelusuri kaki Lidya hingga sampai ke paha. Pria tua itu sangat kagum, ini baru namanya paha, sangat sempurna, putih mulus tanpa cela. Ngadi menikmati detik demi detik, ia tahu ia hanya sekali ini saja bisa menikmati keindahan tubuh Lidya, itu sebabnya dia tidak ingin terburu-buru. Ini yang namanya sekali seumur hidup. Dia merasa sangat beruntung tadi Pak Hasan menyuguhkan jamu kuat yang diminumnya sebelum naik ke atas dan mandi bersama Lidya.
“Ohhhhh… ehhhmm…” Lidya tidak mau mengakui, tapi ciuman yang dilancarkan Pak Ngadi mulai dari jari kaki naik sampai ke paha membuat wanita jelita itu belingsatan, tak berdaya sekali dia rasanya. “Ohhhhh…” sekali lagi Lidya mengerang kala Pak Ngadi menjilati pahanya. Pria tua itu nekat naik hingga sampai ke perbatasan paha dan gunung pantat mulus Lidya.
Lidya menggelengkan kepalanya karena tak tahan ketika bibir dan lidah Pak Ngadi akhirnya sampai di gundukan pantatnya yang kencang dan bulat.
“Ouggghhsssttt… essssstt…” desah Lidya berulang-ulang, suara erotis yang keluar dari wanita secantik Lidya menambah semangat Ngadi. Pria tua mulai naik lagi, kali ini tangannya ikut bergerak, meremas-remas pantat Lidya yang montok dengan gemas. Lidya belum mau membuka matanya, tapi ia tak tahan dan menahan jeritannya.
Punggung Lidya menjadi sasaran selanjutnya, tubuh istri Andi ini sangat seksi, merangsang di setiap jengkalnya. Benar-benar bagaikan tubuh seorang dewi yang turun dari khayangan, sempurna tanpa cela. Kini tubuh yang indah itu menggelinjang di bawah sapuan lidah Ngadi yang menggerayangi bagian punggungnya. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai penjual mainan anak-anak itu sepertinya sudah sering melakukan ini pada sang istri, dia mahir sekali melakukannya. Sebaliknya, Lidya yang belum pernah merasakan lidah maut Pak Ngadi pun takluk dan tak bisa bertahan. Pak Ngadi naik lagi, lidahnya kini menyapu pinggir sela lengan dan dinding buah dada Lidya.
“Ouuuugghhhhh… asssstttt… eessssssssttt…” mulut Lidya mendesah-desah, tubuhnya menggelinjang, tapi ia masih tetap tak mau membuka matanya.
Pak Ngadi yang tadinya takut-takut mulai percaya diri, gelinjang tubuh dan desah nafas Lidya membuatnya yakin, walaupun wanita ini secantik dewi dan seindah bidadari, tetap saja dia seorang perempuan biasa, pasti bisa ditaklukkan. Ngadi mengangkangi tubuh Lidya dengan penis yang diarahkan ke belahan pantatnya.
Sampai di sela bokong mulus Lidya, penis pria setengah baya itu sengaja diselipkan di tengah lalu digosok-gosokkan naik turun. Saat tangan Ngadi mengelus-elus kelembutan pinggang Lidya, bibir dan lidahnya menjelajah punggung, naik ke pundak, lalu bagian belakang leher dan akhirnya sampai di daun telinga. Daun telinga adalah salah satu titik kelemahan Lidya, lidah Ngadi bergerak lincah menggoyang daun telinganya. Semua rangsangan ini membuat si cantik itu takluk, ia pasrah sepasrah-pasrahnya.
Ngadi masih belum selesai, dibaliknya tubuh Lidya agar menghadap ke atas. Lidah pria tua itu beraksi lagi, berawal dari serangan di leher depan, menuruni pundak sampai ke sela ketiak, turun lagi ke lengan sampai ke telapak tangan dan akhirnya berhenti di jari-jari Lidya. Ciuman bibir dan jilatan lidah Ngadi tak pernah berhenti, terus bergerak tanpa kenal lelah menguasai tubuh Lidya. Inilah yang dinamakan mencicipi tubuh seorang wanita dengan arti yang sebenarnya.
“Auuuuuhhmmm… esssssttt… eehhhgg…” walau tak mau mengakui dan merasa terpaksa melayani orang yang bukan suaminya, tapi kalau Lidya mau jujur, dia puas sekali dengan foreplay yang dilakukan Pak Ngadi. Siapa sangka orang seperti itu bisa melakukan foreplay seenak ini?
Lidah mungil Lidya merekah, seakan minta dicium, tapi Ngadi belum mau melakukannya. Pria tua itu terdiam sejenak karena takjub dengan kemolekan bagian depan tubuh Lidya, terutama bagian dadanya. Selama ini Ngadi harus puas dengan dada istrinya yang seperti papan cucian, ia tak mengira, akan datang hari dimana dia akan diberi kesempatan mencicipi payudara sempurna seorang bidadari. Pria tua itupun memanfaatkan waktunya yang longgar selama mungkin, dijilatinya gunung payudara Lidya tanpa menyentuh ujung pentilnya. Buah dada Lidya yang montok dilalap habis oleh Ngadi, istri Andi yang sudah pasrah itu hanya bisa mendesah penuh nikmat saat payudaranya dioles-oles oleh Ngadi. Pentil Lidya sudah mengeras sedari tadi, ujung payudara itu menonjol ke atas, memohon dikulum secepatnya.
Pak Ngadi makin berani, melihat puting susu yang bentuknya sempurna itu mau tak mau ia nafsu juga. Diawali hembusan nafas yang ditebarkan ke puting agar terasa hangat, Pak Ngadi menowel ujung pentil Lidya dengan ujung lidahnya, melontarkan nafsu Lidya bangkit sampai ke puncak.
“Uaaaaaaahhhh!!” Lidya membelalakkan matanya! Tubuh si cantik itu menggelinjang tak karuan. Pak Hasan makin kagum pada orang tua yang kini sedang menikmati tubuh menantunya ini, luar biasa juga kemampuannya, ia ternyata mampu menundukkan menantunya yang jelita dengan lidahnya yang lincah.
Bangkitnya nafsu birahi Lidya membuatnya tak bisa begitu saja membiarkan Ngadi terus berlama-lama, tanpa takut-takut Lidya mengangkat payudaranya dan menyodorkan putingnya pada Pak Ngadi. Melihat istri Andi itu menyerah pada nafsu membuat Pak Hasan ingin bertepuk tangan. Hebat, sungguh hebat penjual mainan anak-anak ini!
“I… ini… tolong… cepat…” desah Lidya, ia memejamkan matanya kembali dan menunggu Pak Ngadi menghisap pentilnya yang sudah menjorok. Ngadi melirik ke arah Pak Hasan, meminta persetujuan. Ketika Pak Hasan mengangguk, pria tua itu memberanikan diri, bibirnya menelan pentil payudara Lidya dan menghisap-hisapnya dengan buas.
“AAAAAAAAAHHHH!!!” Lidya setengah berteriak, matanya terbelalak karena nikmat yang ia rasakan. Setelah seharian memamerkan tubuh di pasar, kini seorang penjual mainan anak-anak berhasil mendapatkan akses ke pentilnya. Pentil yang selama ini hanya diperuntukkan sang suami tercinta dan direnggut paksa oleh mertuanya yang bejat. “Ah! Ah! Auuuhhh!! Esssstt!” Lidya menahan semua nafsu yang sudah siap meledak di selangkangannya, digigitnya bibir bawah untuk membantu menahan semua getaran nafsunya.
Pak Hasan akhirnya tak tahan hanya melihat saja menantunya yang bugil itu dipermainkan oleh seorang pria yang baru mereka kenal tadi pagi. Dengan langkah hati-hati agar tak mengganggu proses foreplay Pak Ngadi, Pak Hasan duduk di pinggir ranjang dengan rasa ingin tahu yang berlipat. Tangan Pak Hasan bergerak maju menyelip di antara paha Lidya, dengan lihai ia meraba-raba bibir memek sang menantu sambil memijit tonjolan di bibir atas vagina Lidya yang ternyata sudah basah.
“Eyaaaaaaagghhhh!! Uaaahhh! Aaahhh!! Jangaaaaan!!” Lidya tersentak kaget sekaligus mengalami kenikmatan yang luar biasa ketika jemari Pak Hasan bermain di sekitar mulut vaginanya. Belum usai serangan yang dilakukan Pak Ngadi, kini Pak Hasan sudah datang.
Pak Ngadi menyelipkan tangan kirinya ke punggung Lidya dan menarik tubuhnya ke atas, sementara tangan kanannya masih tetap beraksi meremas-remas payudara kanan dan kiri silih berganti. Begitu posisi mereka berhadapan, Pak Ngadi melumat bibir mungil Lidya dengan penuh nafsu. Bibir yang tadinya mendesah berulang-ulang itu kini terdiam dalam dekapan sang lelaki tua. Lidya yang sudah tak ingat apa-apa lagi menyerahkan dirinya penuh kepada kedua lelaki tua. Ia pasrah ketika Pak Ngadi melumat bibirnya, bahkan Lidya membalas ciuman sang penjual mainan dengan permainan lidah yang saling memilin.
Sementara Pak Ngadi mencium Lidya dengan hot, Pak Hasan menggerakkan jemarinya di selangkangan sang menantu dengan lincah. Digesek-gesekkannya jari tengahnya di bibir vagina Lidya sementara jari telunjuknya memainkan klitoris yang menonjol. Lidya sudah lupa diri, si cantik itu memaju mundurkan pinggul karena tak tahan, ia ingin memeknya segera ditembus sesuatu yang keras dan panjang.
Lidah Pak Ngadi beraksi sepuasnya di mulut Lidya, menjelajah masuk dan menjilati seluruh liang mulut si cantik itu. Bibir Lidya juga tak tinggal diam, ia mengulum dan melumat bibir Pak Ngadi yang besar, lidah si cantik itu juga masuk ke mulut Pak Ngadi, bau rokok murahan yang tersebar dari kerongkongan lelaki tua itu tidak membuat Lidya berhenti, ia terus menerjang, menjilat dan melumat.
Pak Hasan naik ke atas ranjang dan bersiap untuk melesakkan penis ke dalam memek sang menantu, penisnya yang sudah keras seperti kayu ditempelkan dan dimainkan di mulut vagina Lidya, ia belum mau memasukkannya, ia ingin menggoda si cantik itu. Pak Ngadi yang tahu si empunya cewek sudah siap melakukan penetrasi bergeser ke samping memberi tempat pada Pak Hasan untuk beraksi. Lidya mengerang dan mendesah, ia bingung sekaligus menikmati. Ia lupa pada suaminya, ia lupa pada statusnya sebagai seorang istri, ia lupa semuanya, ia hanya ingat ia sedang bermain cinta dengan dua orang lelaki tua yang perkasa yang memberinya kenikmatan tiada tara.
Pak Hasan bersiap, diangkatnya kontolnya yang kini bagaikan tiang bendera dan dengan satu tusukan pelan, masuklah kemaluannya ke dalam liang kewanitaan Lidya. Wanita jelita yang tak berdaya itu menggelinjang dan kebingungan, dia menjerit lirih di bawah serangan Pak Ngadi yang belum juga berhenti menciumi bibir dan meremas-remas payudaranya.
“Iiiiihhh… ehmmm… aaaahhh! Ahhhh!! Ahhh!!” desi Lidya berulang kala Pak Ngadi melepaskan pagutannya.
Pak Hasan menarik Lidya dan mengaitkan kakinya yang jenjang di pinggangnya. Bagian atas tubuh Lidya sudah kembali turun ke ranjang, walau masih dipermainkan oleh Pak Ngadi, sementara kakinya kini mengait pinggang sang mertua. Pak Hasan akhirnya mulai menggerakkan pinggul untuk menyetubuhi sang menantu, ia bergerak maju mundur dengan pelan.
Walaupun Lidya dan Andi adalah pasangan yang belum terlalu lama menikah, intensitas hubungan intim antara Lidya dan suaminya termasuk jarang. Andi lebih suka bekerja daripada tinggal di rumah dan tidur dengan istrinya. Hal ini sangat disyukuri oleh Pak Hasan, karena memek Lidya masih terasa rapat bagaikan seorang perawan. Entah karena jarang bermain cinta dengan suaminya ataukah karena kontol Andi hanya sebesar tusuk gigi sehingga tidak mampu merenggangkan dinding dalam kemaluan si cantik itu.
“Heeeeennghhhgghhh!!” Pak Hasan menggemeretakkan gigi dengan gemas saat ia mulai meningkatkan kecepatan tumbukannya.
Tubuh Lidya yang bergerak naik turun sesuai sodokan Pak Hasan dimanfaatkan oleh Ngadi, pria tua itu menyodorkan kemaluannya ke wajah Lidya. Si cantik itu awalnya jijik dengan kemaluan Pak Ngadi yang bentuknya tidak karuan, hitam, keras dan panjang. Dari segi ukuran, mungkin Pak Hasan lebih unggul. Tapi Lidya sudah tenggelam dalam nafsu birahi, ia tahu apa maksud Pak Ngadi menghunjukkan kontolnya. Segera saja Lidya meraih penis hitam itu dan memasukkannya ke mulut.
“Ughhhhhoooooohhh…” sekarang giliran Pak Ngadi yang merem melek keenakan. Siapa yang tidak mau kontolnya disepong seorang dewi bermulut indah seperti Lidya?
Pak Hasan makin getol memaju mundurkan pinggulnya, enak sekali rasanya memompa vagina menantunya yang masih sangat rapat ini. Tangan kirinya meremas-remas buah dada kiri Lidya sementara payudara yang kanan menjadi santapan tangan Pak Ngadi.
Pak Hasan terus menggenjot vagina Lidya dengan beringas, nafas pria tua yang sangat bernafsu itu tersengal-sengal karena ingin segera mencapai kenikmatan maksimal. Desah nafas tiga orang yang tengah bercinta itu menjadi musik indah pencapaian kenikmatan seksual. Pak Ngadi yang keenakan dioral oleh Lidya merem melek, ia makin tak tahan sepongan si cantik itu, apalagi setelah melihat wajah Lidya yang mempesona menelan bulat-bulat kontolnya yang hitam dan panjang.
“Huuuungghhhh!!!” akhirnya diiringi satu lenguhan panjang, Pak Ngadi mencapai orgasme. Ia tak kuat lagi bertahan.
Semburan pejuh Pak Ngadi tersebar ke seluruh permukaan wajah cantik Lidya, lalu ke dada dan akhirnya perut, cukup banyak cairan putih kental yang dikeluarkan ujung gundul kemaluan pria tua itu. Lidya tersengal-sengal mengatur nafas, baru kali ini dia bermain dengan dua orang pria yang sama-sama mahir bercinta, hebatnya dua laki-laki ini bukanlah suaminya, tubuh si cantik itu mengejang, dan pantatnya terangkat kuat-kuat. Bola mata Lidya berputar ke belakang, sampai hanya bagian putihnya saja yang terlihat, rupanya si cantik itu juga telah mencapai tingkat kepuasan maksimal.
Setelah Ngadi dan Lidya selesai, giliran Pak Hasan, ia merasakan air cinta membanjir di dalam liang kenikmatan Lidya, tapi mertua bejat itu terus saja menyodokkan kemaluannya dalam-dalam, tak mau berhenti. Tak terlalu lama menggoyang memek Lidya, akhirnya Pak Hasan juga mencapai ujung tertinggi tingkat kenikmatannya.
Meledaklah air mani Pak Hasan di dalam memek sang menantu. Pria tua itu mengejang, mengeluarkan semua birahinya dalam tumpahan air mani yang mengalir deras membanjiri memek Lidya. Benar-benar puas dia kali ini, untuk pertama kalinya Lidya bersedia melayaninya tanpa melawan dan menangis. Menantunya itu benar-benar telah berubah dan bersedia dijadikan budak seksnya. Setelah mengeluarkan penisnya dari vagina Lidya diiringi bunyi letupan kecil, Pak Hasan ambruk ke ranjang.
Pak Ngadi tidak mempercayai keberuntungannya. Walaupun ia memang tidak diijinkan memasukkan penisnya ke memek Lidya, tapi disepong wanita secantik bidadari seperti istri Andi itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Inilah pengalaman sekali dalam seumur hidup yang tak akan dilupakannya. Setelah tak lagi lelah nanti, ia akan memakai pakaiannya dan pergi dari rumah ini, kembali ke kehidupannya yang sederhana dengan membawa memori terindah yang pernah dirasakannya.
Lidya terbaring lemas tak berdaya di ranjang. Tubuhnya yang telanjang kini basah kuyup oleh semprotan air mani yang dikeluarkan oleh Pak Hasan dan Pak Ngadi. Mata si cantik itu terpejam, makin kotor saja dirinya – ia bahkan mulai menikmati permainan gila mertuanya ini, sampai kapan Pak Hasan akan memperlakukannya dengan hina seperti ini? Sampai kapan semua ini akan terjadi? Apa yang akan terjadi esok hari?
Perlahan wanita cantik yang kelelahan itu terlelap dan tenggelam dalam tidurnya.
Bersambung…
PERNIKAHAN DINA
Hari pernikahan adalah hari yang banyak ditunggu-tunggu oleh pasangan yang saling mencintai. Hampir semua orang yang sedang dilanda asmara akan beranggapan bahwa hari pernikahan adalah sebuah hari besar dimana mereka akan melangkahkan kaki menuju gerbang kebahagiaan yang sejati, dimana mereka bisa merasakan nikmatnya hidup bersama orang yang paling dikasihi untuk selama-lamanya. Hari pernikahan adalah ujung sempurna dari sebuah hubungan asmara.
Sayangnya hal tersebut tidak berlaku bagi seorang wanita jelita yang bernama Dina Febrianti. Baginya, hari pernikahan adalah bencana.
Esok lusa dia akan menikah.
Pernikahannya yang kedua.
Dengan seorang lelaki idiot yang tidak dia kenal sama sekali.
Dina tidak bisa mengelak dan menolak pernikahan yang telah direncanakan ini. Dia hanya bisa pasrah menghadapinya, sebagaimana ia juga pasrah menghadapi semua masalah yang datang bagaikan badai yang menghantamnya bertubi-tubi. Suaminya sendiri telah pergi dan menjual Dina pada laki-laki lain demi menyelamatkan diri dari hutang yang bertumpuk. Anton adalah laki-laki brengsek dan mungkin saja Dina beruntung telah berpisah dengannya. Kadang Dina heran pada dirinya sendiri, bagaimana dia bisa bertahan menghadapi semua masalah ini? Kalau saja tidak ingat pada anak-anaknya yang masih kecil Dina pasti sudah bunuh diri sejak pertama kali dia disetubuhi Pak Pramono yang bejat itu.
Dina hanya bisa pasrah menghadapi semua masalah ini. Yang akan terjadi terjadilah. Suatu saat kelak, keadaan pasti akan menjadi lebih baik.
Wanita jelita itu memperhatikan pantulan dirinya pada cermin yang terdapat di kamarnya yang besar. Usianya memang sudah lebih dari 30, tapi wajah dan tubuhnya masih bisa bersaing dengan remaja belasan tahun. Dina masih cantik dan masih tetap seksi. Lekukan tubuhnya yang matang sangat menggiurkan bagi seorang pria normal, wajahnya yang cantik namun tidak membosankan menimbulkan kesan mendalam bagi mata yang memandang, kulitnya putih bagaikan pualam, tubuhnya harum bagaikan bunga, rambutnya yang sebahu menambah aksen kedewasaan yang lembut yang didamba seorang pria. Dina adalah seorang wanita yang mendekati kata ‘sempurna’.
Walaupun tidak telanjang, keindahan tubuh Dina masih terlihat jelas di cermin. Dina tidak tahu apakah dia harus berterima kasih ataukah malah mengutuk semua karunia ini. Apakah kecantikan dan keseksiannya merupakan anugerah atau justru kutukan? Saat ini Dina sedang mencoba baju pengantin yang akan ia pakai esok lusa. Ia mengenakan baju berwarna putih tulang yang sangat indah dan cantik.
Gaun putih yang diberikan oleh Pak Bambang sebagai baju pengantin sangat pas ia pakai, selain menampilkan lekuk tubuhnya yang indah, Dina makin terlihat bercahaya jika mengenakannya, pas sekali dengan warna kulitnya yang seputih pualam. Dengan baju indah yang tentunya harganya sangat mahal ini Dina bisa memamerkan pundaknya yang halus putih mulus, leher yang sempurna dan belahan dada yang aduhai. Dia pasti terlihat sangat cantik dengan baju pengantin ini, jauh lebih cantik dari saat dia pertama kali menikah dulu.
Sungguh sayang, dia akan menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai calon suaminya kalau bertemu saja belum pernah?
Walaupun terpaksa mencoba baju pengantin, tapi Dina tak bisa memungkiri kalau baju yang sedang ia pakai sangatlah indah. Bahannya halus dan nyaman digunakan, harganya sudah pasti sangat mahal. Berulang kali Dina melenggak-lenggokkan badan di depan cermin. Karena asyik mencoba baju seperti layaknya seorang calon pengantin baru, perlahan-lahan Dina lupa kalau esok lusa dia akan dinikahkan paksa dengan putra Pak Bambang yang idiot. Pak Bambang memang hebat, dia bisa tahu pasti pakaian pengantin mana yang bagus dikenakan Dina tanpa perlu memastikan ukurannya. Baju tersebut membuat kemolekan tubuh mulus Dina makin bercahaya, seperti seorang bidadari. Selayaknya seorang wanita yang menggemari baju bagus, Dina menyukai gaun pengantinnya.
Kamar yang saat ini digunakan Dina berada di lantai atas villa raksasa milik keluarga Pak Bambang, letaknya jauh di luar kota. Dina tidak tahu dengan pasti di mana mereka sebenarnya berada karena Pak Bambang masih merahasiakannya, Dina hanya tahu mereka berada jauh di luar kota dan berada di lokasi yang asing baginya. Agaknya Pak Bambang masih takut Dina akan ketakutan dan melarikan diri dari pernikahannya nanti. Selain melarang Dina menggunakan telepon dan melarangnya keluar villa, kakek tua itu juga membatasi pertemuan Dina dengan anak-anaknya. Mereka hanya bertemu beberapa jam saja perhari. Pak Bambang sengaja membatasi pertemuan itu agar Dina tahu pasti, nasibnya dan nasib anak-anak berada di tangan laki-laki tua itu. Sesudah pernikahannya dengan putra Pak Bambang, barulah Dina bebas menemui anak-anaknya lagi. Anak-anak Dina dijadikan jaminan supaya Dina tetap menurut kepadanya.
Terlalu asyik melamun dan mengamati dirinya sendiri di cermin membuat Dina terlena dan lengah. Dia tidak menyadari ada sesosok laki-laki tua masuk ke dalam kamarnya.
“Cantik.”
Ungkapan kagum Pak Bambang membuat Dina kaget, ia terhenyak dan mundur ke belakang.
“Kamu cantik sekali. Aku puas punya menantu seperti kamu.” Wajah Pak Bambang yang sudah terbakar nafsu birahi membuat Dina bergidik ketakutan. Saat masih menjadi boneka Pak Pram saja kakek tua ini dengan mudah bisa menidurinya, apalagi sekarang saat mereka tinggal serumah. “Kalau nanti si Dudung absen meniduri istri barunya, Bapak bersedia mengambil alih pekerjaan itu. Mempercepat memperoleh keturunan.” Katanya sambil terkekeh-kekeh.
“Ma-maaf… tapi saya sedang tidak ingin diganggu, bisa Bapak keluar dulu sementara saya berganti…?” Belum sempat Dina melanjutkan, Pak Bambang sudah maju ke depan mendekatinya. Kepala Dina menunduk takluk, ia tidak berani melawan kakek cabul ini.
“Aku tidak akan mengganggumu bersolek.”
“Saya hanya sedang mencoba baju, bukan bersolek…”
“Bagus! Itu artinya kamu sudah siap menikah dengan anakku esok lusa, kamu sudah sadar dan menerima siapa kamu serta apa posisimu sekarang. Jujur saja, aku akan jauh lebih lega kalau kamu akhirnya dapat menikmati hidup bersama anakku, Dudung.” Kata Pak Bambang. “Tapi kalau melihatmu dengan baju itu, sayang sekali rasanya harus memberikanmu pada Dudung… kamu terlihat sangat cantik dengan baju pengantin.”
“Terima kasih atas pujiannya, tapi…”
“Tidak perlu takut seperti itu, aku tidak akan menyentuhmu hari ini. Aku masih lelah. Kecapekan gara-gara kemarin sore meniduri sekretarisku yang baru. Aku tidak ingin penyakit punggungku kumat gara-gara kebanyakan meniduri wanita cantik yang mengantri, walaupun harus kuakui, tubuhmu yang indah itu benar-benar menggiurkan.” Kata Pak Bambang sambil menjilat bibirnya.
Dina mengeluarkan nafas lega, sepertinya dia selamat kali ini.
“Tapi tidak ada salahnya kalau kamu ingin memuaskan calon ayah mertuamu dengan seponganmu yang nikmat itu.” lanjut Pak Bambang. Dina yang tadinya sudah lega kini menunduk kesal dan mengumpat, sekali bejat ternyata tetap bejat, dasar laki-laki tua busuk! Melihat Dina kesal, Pak Bambang tersenyum puas dan kembali menambahi. “Sangat tidak sopan kalau kamu tidak menyuguhkan hidangan yang menarik untuk calon mertuamu, kan, Mbak Dina?”
Dina mengangguk sambil menggemeretakkan gigi menahan jengkel.
Pak Bambang duduk dengan jumawa di tepi ranjang Dina. pria tua itu lalu membuka celananya dan mengeluarkan kemaluannya dari dalam celana dalam tanpa rasa risih sedikitpun. “Dihisap-hisap sedikit saja.” Katanya sambil menyunggingkan senyum tanpa dosa. “Seperti biasanya.”
Senyuman yang sangat menjijikkan dan membuat harga diri Dina jatuh ke dasar lantai terbawah. Si cantik itu terhina sekali namun tak bisa melakukan apa-apa, dia harus melakukan apapun yang diminta Pak Bambang.
“Kamu punya wajah yang sangat cantik,” kata Pak Bambang, “bibir yang indah…”
Dina tidak ingin mendengar kata-kata gombal dari kakek tua itu lebih panjang lagi, dia tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan langkah pelan ibu muda yang cantik itu berjongkok di hadapan calon ayah mertuanya, perut Pak Bambang yang gemuk menggelambir membuat Dina muak, tapi dia harus menahan diri agar tidak muntah di hadapannya. Pria tua itu sendiri kegirangan melihat Dina sudah siap mengulum kemaluannya.
Dengan jari jemari lentik yang terawat rapi Dina mengangkat kantong kemaluan Pak Bambang dan memainkannya dengan lembut. Ketika tangan kirinya sibuk mengelus kantung Pak Bambang, tangan kanan Dina mengangkat batang kemaluannya. Jari jemari Dina yang sangat halus dan lembut membuat kakek tua itu harus menggigit bibir agar bisa menahan nafsunya yang menggelegak. Baru dipegang saja sudah nafsuin, apalagi nanti kalau sudah masuk ke mulutnya…
Wajah Dina kian mendekati penis Pak Bambang, entah kenapa makin lama dia semakin ingin mengulum kemaluan laki-laki tua itu. Dia malu pada dirinya sendiri karena tak mampu mempertahankan harga diri dan lemah pada nafsu birahi yang selama ini telah dilatih dan dibangkitkan oleh Pak Pramono. Kemaluan Pak Bambang tidak menarik, keriput dan terlihat tua, tapi seperti apapun bentuk penis Pak Bambang, Dina mau tidak mau harus menikmatinya.
Pak Bambang terus mengamati wajah cantik dan jari-jari lembut yang kini memegang alat vitalnya. Wajah Dina yang segar dan sangat cantik membuat laki-laki tua itu hampir-hampir tak tahan.
Dina melirik ke atas, menatap wajah Pak Bambang yang diselimuti nafsu birahi. Wajah laki-laki tua itu berkeringat deras, matanya terbelalak tajam seakan hendak keluar dari wajahnya dan air liur menetes pelan dari ujung mulutnya. Dina tahu pasti, wajah yang sedang menatapnya bukanlah wajah yang tampan, wajah itu adalah wajah seorang kakek tua bejat yang penuh nafsu dan berkuasa penuh atas dirinya.
Mulut Dina terbuka, lidahnya keluar dan dengan lembut ia menjilat bagian bawah batang kemaluan keriput milik Pak Bambang. Kakek tua itu bergetar karena nikmat yang ia rasakan. Ia menatap tajam mata indah milik Dina ketika ibu muda dua anak itu mulai memasukkan ujung gundul kemaluan Pak Bambang ke dalam mulutnya yang mungil dan perlahan menghisapnya.
“AAARRGHH!!!” teriak Pak Bambang. Kakek tua itu tak mampu menahan dirinya lagi, ia merasa tubuhnya melayang dan melambung tinggi ke awan, ia merasa dirinya bagaikan raja yang sedang dilayani oleh hambanya. Rasa nikmat yang ia rasakan tak terucapkan, penis tuanya yang lelah masih bisa diperlakukan dengan lembut oleh wanita terhormat seperti Dina. Pak Bambang memejamkan mata ketika lidah Dina mulai berputar di ujung kemaluannya.
Pak Bambang memang sering bermain cinta dengan wanita muda, dengan istri atau bahkan dengan anak gadis orang. Tapi nikmat yang ia rasakan tidak setulus ini, kelembutan wanita dewasa yang anggun seperti Dina membuat Pak Bambang merasakan nikmat yang luar biasa. Sementara bibir Dina terus bergerak mengulum dan lidahnya menjilat, Pak Bambang mengelus rambut indah Dina yang lurus sebahu dengan jari jemarinya yang gemuk. Kedua tangan Pak Bambang lama kelamaan menjepit kepala Dina dan menyorongkannya maju mundur seiring gerak hisapan si cantik itu. Dina tak melawan sedikitpun. Pak Bambang mulai menggerakkan kepala Dina dengan cepat, mendorong kemaluannya masuk ke kerongkongan ibu muda yang jelita itu dan menariknya keluar, lalu mendorong masuk lagi secepatnya. Kakek tua itu melakukannya berulang dan semakin lama semakin cepat. Ia sangat menikmati kuluman bibir mungil Dina.
“Arrrggghhhh, …enaknyaaaa!!” kata Pak Bambang yang mulai kehilangan kontrol.
Dina tetap meneruskan sepongannya sementara Pak Bambang menggerakkan pinggulnya agar bisa melesakkan penisnya dalam-dalam ke mulut Dina. Jepitan tangan Pak Bambang di kepala Dina makin rapat dan dorongannya makin dalam, hal itu membuat Dina terbatuk-batuk.
“Aaaaggghh, aku mau keluar! Di dalam mulutmu! Aku mau keluarin di dalam mulutmu!” kata-kata itu diucapkan Pak Bambang sambil memejamkan mata dan menggemeretakkan gigi. “Yaaaaa!! Yaaaaaaaaaa…!!! Ahhhhhhhh!!!”
Tanpa basa-basi, kontol Pak Bambang menyemprotkan cairan kental ke dalam kerongkongan Dina seperti keran bocor. Dina harus berusaha menelan air mani kakek tua itu agar tidak tersedak. Semprotan kontol keriput itu hanya berlangsung beberapa detik, tidak terlalu lama dan tidak banyak.
Pak Bambang mengangkat kepala Dina agar wajah si cantik itu menatapnya. “Kamu cantik. Sungguh sangat cantik.” Pak Bambang tak pernah bisa menahan diri di hadapan wanita anggun yang jelita ini. Setelah tetesan terakhir mani kakek tua itu turun, Pak Bambang menarik kontolnya dari mulut Dina. Mulutnya tersenyum penuh kepuasan.
Dina berdiri dengan goyah, ia meneguk semua mani Pak Bambang agar tertelan ke perut, hanya itulah satu-satunya cara agar tidak tersedak. Tanpa menunggu Pak Bambang yang masih dibuai kenikmatan, Dina berjalan ke arah kamar mandi. Dia ingin berkumur dan membersihkan mulutnya yang kotor oleh penis peyot si kakek tua bejat. Pak Bambang mengawasi Dina yang melangkah pelan ke kamar mandi. Pantatnya yang bulat dan buah dadanya yang kenyal membuatnya meneguk ludah. Alangkah senangnya dia bisa memperoleh menantu seperti Dina yang bisa dipakai kapanpun dia mau.
Pak Bambang tertawa penuh kemenangan.
###
Hari sudah semakin siang, jam dinding di ruang tamu sudah berdentang sepuluh kali. Piring sarapan sudah dibersihkan oleh para pembantu, menyisakan beberapa buah gelas bersih dan satu pitcher minuman sari jeruk serta satu botol air putih mineral. Dina masih duduk bermalas-malasan di balkon ‘rumah’ barunya. Rumah yang kini ia tempati sangat besar dan mewah, mirip rumah-rumah yang sering ditampilkan di sinetron-sinetron lokal. Belum pernah seumur hidupnya ia membayangkan bisa tinggal di rumah sebesar ini, tapi apakah pantas semua ini ia raih? Apakah pantas semua ia dapatkan? Apakah pantas ia memperoleh semua ini dengan mengorbankan tubuhnya?
Dina mengelus bibirnya pelan, masih terasa di mulutnya – air mani Pak Bambang yang meleleh membasahi bibir dan pipinya. Walaupun baru kemarin ia melakukan oral seks dengan kakek tua bejat itu, tapi sampai sekarang ia tidak bisa melupakannya. Masih bisa dirasakannya penis keriput Pak Bambang keluar masuk mulutnya.
Dina memejamkan mata, mencoba menghapus semua kenangan buruk yang mengganggunya. Ia kehilangan cinta, ia kehilangan martabat, ia kehilangan harga diri, tapi demi kedua anaknya yang masih kecil, Dina tidak mau kehilangan kewarasannya. Entah di mana, entah kapan, Dina yakin, masih ada harapan.
Terdengar ketukan pelan di pintu kaca balkon, salah seorang pembantu menemui Dina dengan langkah tertahan. Gadis yang manis dan masih sangat muda, mungkin berasal dari desa. Dia berusaha sopan saat menemui Dina.
“Maaf, Bu. Tapi Pak Bambang ingin mengajak Ibu makan di ruang makan. Beliau juga berpesan agar Ibu mengenakan baju yang sudah disiapkan.” Kata sang pembantu.
Dina mengeluh kesal, mau apa lagi kakek tua itu sekarang? Dengan malas Dina masuk ke dalam kamar dan melihat baju yang sudah disiapkan oleh Pak Bambang tergeletak di atas ranjang. Ia sudah menduga kakek tua cabul itu memberikan baju yang sangat seksi. Baju yang diberikan Pak Bambang berupa rok terusan yang sangat ketat bila dikenakan. Ujung bagian bawah hanya bisa menutupi sampai ke paha, sehingga seandainya Dina membungkuk atau duduk maka selangkangannya akan terlihat jelas. Sementara itu atasan baju menutup dada agak rendah, baju ini tidak cocok dipakai dengan BH, karena memang difungsikan untuk mempertontonkan belahan sekaligus memamerkan kemolekan buah dada Dina. Baju yang sangat seksi dan merangsang, bukan baju yang pantas dipakai seorang ibu rumah tangga.
Sambil mendesah kesal Dina mengenakan baju pemberian Pak Bambang.
Dina melangkahkan kakinya dengan berat hati ke ruangan yang dimaksud sang pembantu. Ruangan itu berada di ujung villa, di lantai bawah. Saat Dina melangkah anggun menuruni tangga, beberapa orang pembantu Pak Bambang yang sedang membersihkan ruang tengah berdecak kagum melihat kemolekannya. Mereka tahu Dina cantik, tapi mereka kini jauh lebih kagum melihat keseksiannya. Ibu muda itu cukup pantas kalau berprofesi sebagai artis sinetron atau model pakaian dalam.
Dina membuka pintu ruang makan, melangkah masuk dan menutupnya kembali.
“Ah. Dina! Akhirnya datang juga!” sambut Pak Bambang dengan gembira.
Sambutan itu agak di luar dugaan Dina. Biasanya Pak Bambang jauh lebih tenang dan cool. Ia tidak mengira laki-laki tua itu akan menunjukkan perangai yang seperti ini.
“Ada perlu dengan saya, Pak?” tanya Dina sopan.
Pak Bambang mengayunkan tangan meminta Dina mendekat. Dengan langkah perlahan wanita cantik itu mendekati sang kakek tua. Ia melihat seorang laki-laki muda duduk di samping Pak Bambang.
“Perkenalkan. Ini Dudung, anak saya.” Senyum Pak Bambang terkembang. “Calon suami kamu.”
Dina terperangah.
###
Dudung Haryanto adalah putra Pak Bambang Haryanto. Banyak yang tidak menyangka kalau orang cerdas dan licik seperti Pak Bambang memiliki anak idiot seperti Dudung. Walaupun keberadaannya disembunyikan di sebuah tempat terpencil seperti villa yang kini ditempati pula oleh Dina, tapi sebenarnya Pak Bambang sangat menyayangi putranya ini. Pak Bambang bahkan ‘membeli’ Dina untuk disandingkan dengan Dudung walaupun wanita cantik itu juga menjadi obyek pemuasan nafsu birahinya.
Saat berhadapan dengan Dina, Dudung tidak berani menatapnya langsung, pemuda itu hanya menunduk malu tanpa berani sedikitpun mengangkat kepala. Walaupun kecantikan dan keseksian Dina membuat kejantanannya bergolak dan membuatnya melirik sedikit demi sedikit.
“Dina,” kata Pak Bambang sedikit ketus, wajahnya terlihat sangat serius, “cepat beri salam pada calon suamimu.”
Dina mendekati Dudung dan membungkuk sambil menawarkan jabat tangan. “Saya Dina.”
Dudung malah berbalik dan menjauhi Dina, ia tidak membalas jabat tangan ataupun salam perkenalan Dina. Dudung membungkuk sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas dan sangat pelan.
Pak Bambang tersenyum lembut sambil mendekati anaknya yang menggumam tidak karuan. “Dudung, ini Dina. Calon istri kamu.”
Dudung masih tidak bereaksi.
“Dudung, ini Dina. Calon istri kamu. Cantik tidak?” ulang Pak Bambang.
Dudung masih terdiam.
“Dudung…”
“Ca-ca-cantik sekali.” Tiba-tiba saja Dudung menjawab. Kata-katanya terdengar berat dan terpatah-patah.
Walaupun begitu, tidak ada perubahan posisi, Dudung masih membungkuk dan menghindari bertatapan langsung dengan Dina yang berdiri di belakangnya.
Dudung bertubuh sedang, dengan rambut panjang yang acak-acakan. Wajahnya tersembunyi di balik rambut, namun Dina bisa melihat kalau Dudung adalah versi muda dari Pak Bambang. Keduanya mirip sekali! Hanya saja kalau Pak Bambang sangat gemuk, Dudung biasa-biasa saja. Yang jelas, Dudung bukanlah orang yang tampan. Tubuhnya membungkuk seperti udang dan gayanya berpakaian sangat aneh, seperti anak-anak. Kalau dilihat-lihat, mungkin Dudung dan Dina sebaya.
“Dudung?” tanya Pak Bambang sekali lagi.
Dudung kembali terdiam tak menjawab.
Pak Bambang berdiri, lalu menggandeng Dina mendekati Dudung. Ibu muda yang cantik itu masih belum tahu apa yang diinginkan Pak Bambang, tapi tiba-tiba saja… Pak Bambang menarik tangan Dudung dan meletakkannya di payudara Dina!
Dina menjerit lirih karena kaget.
Secara reflek Dina ingin melepaskan tangan Dudung dari dadanya, namun ketika dia hendak menepis tangan lelaki idiot itu, Pak Bambang menatapnya galak. Dina terpaksa menurut. Sial sekali… buah dadanya harus dikorbankan untuk menarik perhatian Dudung!
Pada awalnya Dudung tersentak, ia kaget dan menarik tangannya saat ditempelkan ke payudara Dina, apalagi si cantik itu tidak mengenakan bra sehingga tangannya bisa langsung merasakan lekuk keindahan buah dada Dina. Tapi ketika Pak Bambang mengulangi aksinya, Dudung tidak menolak. Walaupun masih malu dan tidak mau memandang ke arah Dina, tapi tangannya meremas dan menelusuri buah dada Dina yang kenyal dengan liar.
“Ungghhh…” Dina mendesah. Ada perasaan campur aduk dalam dirinya, antara sakit secara fisik dan bergairah secara khayal.
“Bagaimana, Dudung? Enak tidak?” tanya Pak Bambang pada anaknya yang masih malu-malu.
Dudung belum menjawab, tapi butiran keringat mulai deras membasahi wajahnya. Laki-laki dewasa yang masih seperti anak kecil itu kebingungan harus menjawab apa. Untuk sesaat Dina merasa kasihan pada Dudung, dia hanya menuruti apa yang diperintahkan oleh ayahnya yang bejat. Dudung tidak punya pendirian, harus selalu dibimbing.
“E-enak…” tiba-tiba saja Dudung menjawab.
Pak Bambang dengan kasar menarik dan membuka baju Dina, kedua balon buah dadanya kini terpampang dengan jelas di depan kedua lelaki itu. Dina menjerit ketakutan, tapi remasan tangan Pak Bambang di pergelangan tangannya membuat si cantik itu bungkam. Pak Bambang mendekati Dina dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
Dina berbicara dengan nada bergetar. “D-Dudung… i-ini susu saya…”
Tiba-tiba saja Dudung berbalik! Cukup cepat bahkan, sampai-sampai Dina kaget dibuatnya. Kedua tangan Dudung langsung beraksi, meremas, memilin dan memutar-mutar buah dada Dina dengan liar. Kali ini Dudung beraksi tanpa bimbingan ayahnya dan tanpa rasa malu.
“E-enak… susu…” kata Dudung sambil menyeringai bahagia. “Susu… susu…”
Tanpa basa-basi Dudung nyosor ke dada Dina, menangkup puting susu Dina dengan mulutnya. Dengan buas, Dudung menyedot-nyedot pentil payudara Dina yang kuncup. Kelakuan Dudung persis seperti seorang bayi yang menetek pada bundanya.
“Aaaahh!!” Tubuh Dina bergetar, rasa nikmat dan geli membuatnya gelisah, enak sekali pentilnya dikulum-kulum laki-laki berbibir monyong seperti Dudung. Ukuran bibirnya yang besar membuat payudaranya seperti dioles oleh sepon besar basah yang mengitari balon buah dadanya. Entah harus senang atau malah risih, membingungkan Dina. Ia tidak ingin terlena oleh orang seperti Dudung, tapi ini enak sekali.
Tangan Dudung yang besar masih tak terhentikan, meremas dan memilin buah dada Dina sebelah kanan sementara mulutnya nyosor kesana kemari di dada kiri. Pak Bambang duduk di kursi yang agak jauh dan membiarkan anaknya menikmati keindahan payudara ibu muda yang cantik itu. Ini bukan pertama kalinya buah dada Dina menjadi sasaran laki-laki asing, namun entah kenapa Dina tidak ingin menghentikan Dudung menikmati tubuhnya. Entah kenapa pula Dudung bersikap sangat agresif sekaligus kebingungan, gerakannya patah-patah dan ragu-ragu, seperti seorang laki-laki penuh nafsu yang baru pertama kalinya mengenal payudara wanita.
Dudung menggerakkan bibirnya berputar liar di sekitar pentil susu Dina, lalu menangkupnya berulang, menghisap kenikmatan erotis yang diberikan oleh buah dada ibu muda yang cantik itu. Tangan Dudung tidak tinggal diam, bergerak bebas menyusuri perut dan pinggang Dina, menambah sensasi erotis bagi mereka berdua. Dina hanya bisa mendesah-desah menahan perasaannya. Ia menutup mata sambil menggigit bibir bawah untuk mempertahankan diri.
Sayangnya lama kelamaan Dudung berubah menjadi semakin buas, sedotan bibirnya pada payudara Dina mengencang dan menguat, cenderung menggigit. Karena gemas, Dudung juga mencubit puting dan meremas buah dada Dina kuat-kuat, tentu saja rasanya sakit sekali.
Dina berusaha bertahan, tapi ketika Dudung menggigit puting payudaranya, wanita cantik itu tak kuat lagi, ia menjerit kesakitan. “Aaaaahhh!!”
Rasa sakitnya tak tertahankan, gigitan Dudung meninggalkan bekas memerah di sekitar pentil Dina. Karena kaget mendengarkan teriakan Dina, Dudung melepaskan gigitannya dan melompat mundur.
“Maaf! Maaf! Maaf! Maaf!” ulang Dudung berulang-ulang, wajahnya ketakutan sekali.
“Ti-tidak apa-apa…” Dina berusaha meraih Dudung yang ketakutan, ia khawatir Pak Bambang akan tersinggung melihat Dudung ketakutan seperti ini.
Benar saja, pria tua itu bangkit dari kursinya dan mendekati Dina dengan penuh amarah.
PLAAKK!!
Pipi kanan Dina memerah karena tamparan keras Pak Bambang. Wajah pria tua itu berubah sadis, rahangnya mengeras. “Dengar baik-baik, pelacur brengsek! Aku tidak peduli sekalipun pentilmu itu putus digigit anakku! Pokoknya apapun yang dia mau, bagaimanapun caranya, harus kamu berikan! Mengerti?! Jangan sekali-sekali membuat dia kaget atau takut!”
“Tapi… tapi…” Air mata Dina mengalir, ia menutup dadanya yang telanjang dan menggigil ketakutan.
“TIDAK ADA TAPI!” bentak Pak Bambang. Tangannya sudah diangkat, bersiap menampar sekali lagi.
“Ja-jangan!”
Pak Bambang dan Dina sama-sama terkejut. Belum sampai Pak Bambang menampar Dina, Dudung sudah menahan tangan sang ayah. Rupanya ia tidak ingin Pak Bambang menyakiti Dina.
“Jangan. Jangan. Jangan…” Dudung menggelengkan kepala berulang kali. “Jahat. Jahat…”
Pak Bambang menurunkan tangannya dan mendesah, ia mengeluarkan nafas panjang dengan berat hati. Tangannya yang gemuk membelai rambut Dudung dengan penuh rasa sayang. Wajahnya berubah menjadi lembut. Dina akhirnya mengeluarkan nafas lega, dengan takut-takut ia meninggalkan Pak Bambang dan Dudung berdua di ruang itu. Beruntung, keduanya tidak mempedulikan kepergian Dina. Ibu muda yang cantik itu segera lari ke kamarnya yang berada di atas.
Dina hanya bisa menangis.
###
Dina tidak ingin hari pernikahannya tiba, tapi tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa menghentikan atau memutar waktu. Mau tidak mau, terpaksa atau tidak, hari ini, dia akan menikah dengan Dudung.
Awalnya Dina takut dan kecewa setelah melihat penampilan Dudung yang kurang mengesankan, tapi kebaikan hatinya mengagetkan Dina. Ia menghentikan Pak Bambang sebelum ia menampar Dina, itu membuktikan walaupun Dudung bodoh dan idiot, ia bukanlah orang yang jahat. Ada sedikit rasa tenang di batin Dina, kalaupun ia terpaksa menikahi seorang lelaki idiot, setidaknya ia menikah dengan orang idiot yang baik.
“Bagaimana, Mbak Dina? Sudah?”
Dina tersadar dari lamunannya. Ia sedang berada di kamar dan sedang dirias oleh penata rias pilihan Pak Bambang, wajahnya kini terlihat sangat cantik, ia bagaikan seorang artis yang sedang melakukan pernikahan di sinetron atau film, cantik sekali. Seandainya nanti sudah dipadu dengan gaun pengantin yang indah dan mewah, Dina akan tampil sempurna bagaikan seorang ratu.
“Bagaimana menurut Mbak Dina, sudah cukup riasannya?” tanya penata rias itu untuk kedua kalinya.
“I-Iya… sudah…” jawab Dina sambil memperhatikan dirinya di dalam cermin. “Terima kasih.”
“Mbak Dina ini cantik sekali, jadi saya tidak perlu mendandani terlalu berlebihan, semua riasan saya hanya untuk memperjelas kecantikan Mbak Dina saja.” Kata penata rias itu lagi, sedikit terlalu cerewet. “Saya iri sekali, bisa-bisanya Mbak Dina punya kulit yang halus, wajah cantik dan rambut yang sesempurna ini. Wah, kalau saya, bukannya Mas Dudung, saya lebih pilih bintang sinetron, penyanyi band terkenal atau pengusaha kelas atas sebagai suami saya, Mbak. Ah, tapi itu kan saya ya… bukan Mbak Dina. Nah, sekarang… kita pakai gaun pengantinnya, ya?”
Dina hanya bisa tersenyum lemas mendengar komentar jujur dari sang penata rias, seandainya bisa memilih, ia tidak akan memilih Dudung.
Sebelum gaun dipakai, tiba-tiba saja pintu kamar Dina terbuka dan sosok seorang lelaki tua yang gemuk masuk ke dalam. Rupanya Pak Bambang yang datang, entah apa maunya. “Kalian sudah selesai?”
Sang penata rias mengangguk dan menghampiri Pak Bambang. “Sudah, Pak. Hanya tinggal menata rambut dan memakaikan gaunnya saja. Mbak Dina ini cantik sekali, jadi riasan saya cukup sekedarnya, wajahnya sudah sempurna dan…”
“Ya sudah, kamu keluar dulu sana, saya ingin bicara dengan Dina.” kata Pak Bambang ketus. Mata lelaki tua itu melirik ke arah beberapa orang asisten sang penata rias, ia membuka pintu lebar-lebar, menyuruh mereka semua keluar. “Saya ingin bicara dengannya sendiri. Nanti kalau sudah selesai, kalian boleh masuk lagi.”
Tak perlu diminta untuk kedua kalinya, sang penata rias dan asistennya berbondong-bondong pergi ke luar meninggalkan Pak Bambang dan calon menantunya di dalam kamar. Mereka semua takut pada pria tua yang sangat kaya dan berkuasa ini.
Dina berpura-pura membenahi bedak di wajahnya untuk menghindari bertatapan mata langsung dengan Pak Bambang.
“Dina.” panggil Pak Bambang.
Dina menengok ke arah Pak Bambang dengan malas. “Ya?”
“Sebentar lagi kamu akan menikah dengan anakku, ijinkan aku mencicipimu untuk yang terakhir kali sebelum kamu menikah.”
Mata Dina terbelalak kaget.
“Angkat rokmu tinggi-tinggi dan buka celana dalammu, ini tidak akan lama.”
Tubuh Dina bergetar ketakutan. Sekarang? Bandot tua ini hendak menyetubuhinya sekarang? Beberapa jam sebelum pernikahan dengan anaknya dimulai?
“Buka!” Pak Bambang maju mendekati Dina yang ketakutan.
Ibu muda yang cantik itu kebingungan mencari beribu alasan, tapi mulutnya tercekat, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
Apa yang harus dilakukannya? Sebentar lagi dia akan menikah!
###
Tempat pernikahan telah tertata, Dudung duduk sendiri di tengah ruangan. Beberapa orang saudara mengitarinya dan menyiapkan tempat duduk.
Dudung melihat ke arah jam tangannya berulang-ulang kali, ia gelisah sekali, mana ayahnya? Kenapa tidak turun-turun? Ia tidak suka kalau ada banyak orang yang mengerumuninya seperti sekarang ini, ia tidak suka. Mana ayahnya? Dudung menggerakkan kerah bajunya dengan sebal. Baju ini tidak enak dipakai, terlalu ketat, terlalu panas, ia tidak suka. Ia ingin pakai kaos saja. Mana ayahnya?
Dua orang pembantu yang kebetulan berada di dekat Dudung saling berbisik.
“Mana Pak Bambang? Mas Dudung sudah gelisah tuh.”
“Katanya sih tadi ke atas, nyari Mbak Dina.”
“Nyari Mbak Dina? Bukannya Mbak Dina baru dandan juga? Emang Pak Bambang mau
ngapain?”
“Ngapain lagi coba? Ya pengen itu…”
“Astaga! Sekarang?”
“Iya. Sekarang.”
“Gila. Bener-bener gila. Kasihan sekali Mbak Dina.”
Hubungan Dina dan Pak Bambang memang sudah menjadi rahasia umum, terutama di kalangan karyawan-karyawan kakek tua itu. Kebanyakan dari mereka menyayangkan kemolekan Dina yang tersia-sia karena harus melayani bandot tua seperti Pak Bambang. Hampir semua karyawan bersimpati pada Dina.
###
Keringat Dina bercucuran, bola matanya yang indah berulang kali mengawasi jam dinding yang berdetak pelan di atas dinding.
“Ja-jangan lama-lama…” bisik Dina. “Ki-kita sudah ditunggu… ah!”
Pak Bambang tidak menanggapi kata-kata Dina, ia putar tubuh calon menantunya itu agar menghadap ke arah dinding dan membelakanginya. Dengan gerakan ringan laki-laki tua yang sudah dilanda nafsu syahwat itu mengangkat rok Dina, lalu menarik celana dalamnya tanpa basa-basi. Celana dalam Dina yang mungil merosot ke bawah melewati kakinya yang jenjang dan indah. Pantat bulatnya yang putih kini tinggi menantang sang pria tua.
“Ja-jangan…” desah Dina lagi.
“Jangan apa?” kali ini Pak Bambang menanggapi dengan nada ketus. Pria tua itu sedang melucuti celananya sambil menikmati keindahan bibir kemaluan Dina yang terlihat jelas di selangkangan sang calon menantu. “Buka kakimu lebar-lebar!”
Dengan gerakan patah-patah dan gelisah, Dina membuka kakinya. Tubuhnya bergetar, sebagian karena takut, sebagian lagi mengantisipasi kalau-kalau Pak Bambang melesakkan kemaluannya tanpa pemanasan.
“Jangan apa?” ulang Pak Bambang.
“Ti-tidak…” Dina menggelengkan kepala dengan takut.
“Buka kakimu! Lebih lebar!”
Karena takut, tanpa sadar Dina malah menutup kaki dan mengunci selangkangannya. Hal ini tentu saja membuat Pak Bambang jengkel. Dia menampar pipi pantat Dina keras-keras!
PLAKK!! PLAKKK!! PLAKKK!!
Dina yang takut dan kesakitan membuka kembali kakinya, memberikan akses pada Pak Bambang untuk bisa segera melanjutkan niatnya. Tubuh Dina bergetar ketika tangan-tangan Pak Bambang mulai menyentuh dan meremas pantatnya. Lalu…
“HNGHHHHH!!!” Dina memejamkan mata dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Sakit! Sakit sekali rasanya!
Tiba-tiba saja Pak Bambang melesakkan kemaluannya! Tanpa pemanasan dan tanpa aba-aba! Liang kenikmatan Dina belum sepenuhnya mengeluarkan cairan pelumas sehingga masih kering dan rapat. Penis Pak Bambang yang mendesak masuk membuat Dina sangat kesakitan!
“ANNGHHH!! Sakit!!!” desah Dina, ia mengerang berulang, tubuhnya mengejang dan berontak. Tapi Pak Bambang sudah siap, ia erat mengunci tubuh Dina dan mendorongnya ke depan – ke arah tembok. Karena tidak tahan, Dinapun menjerit. “Sakit!!! Sakit!!”
Pak Bambang tidak peduli, walaupun air mata menetes di pipi Dina dan merusak make-up tipis yang tadi dioleskan oleh penata rias, Pak Bambang tetap melaksanakan niatnya. Dengan ganas kakek tua itu memaju-mundurkan pinggulnya, menusukkan kemaluannya dalam-dalam ke memek Dina yang rapat. Kenikmatan bagi Pak Bambang, siksaan luar biasa bagi Dina.
Dina memejamkan mata menahan sakit, ia menggigit bibir, mencoba memberontak, merenggangkan kaki, tapi tidak ada yang bisa membuat permainan Pak Bambang jauh lebih nyaman baginya. Dia juga tak mungkin berteriak minta tolong karena tidak ada yang bisa menghalangi niat Pak Bambang menyetubuhinya. Setelah beberapa saat lamanya penis laki-laki tua itu keluar masuk liang kenikmatannya, Dina merasakan cairan pelumas mulai meleleh membasahi dinding vaginanya. Sayang sakit yang tak tertahankan masih terus terasa.
Pak Bambang menyetubuhi Dina dengan ganas, ia lepaskan semua penat yang ia rasakan dengan memanfaatkan tubuh calon menantunya yang aduhai. Semua cara ia lakukan untuk bisa meraih kepuasan tertinggi, ia meremas buah dada Dina, menciumi punggung dan tengkuk lehernya sembari berulangkali menghunjamkan batang kemaluan ke liang kenikmatan sang bidadari dari arah belakang. Tubuh ibu dua anak itu memang masih sangat sintal dan padat, menggiurkan sekali, tak rela rasanya Pak Bambang kalau dia harus menikmati keindahan tubuh Dina ini untuk terakhir kali. Walaupun resmi akan dinikahi Dudung, ia akan terus mencicipi kenikmatan sang bidadari setiap ada kesempatan! Kemolekan Dina terlalu sayang untuk dilewatkan!
Gerakan pinggul laki-laki tua gemuk itu makin lama makin cepat, ia memompa sekuat tenaga dengan gerakan bertubi, menumbuk memek Dina tanpa kenal henti. Untuk lelaki seumur Pak Bambang, hal ini sebenarnya luar biasa sekali, siapa sangka kakek tua gemuk itu masih punya tenaga ekstra?
Selagi kelaminnya bekerja keras, mulut Pak Bambang tak mau kalah, ia mencium dan menjilat bagian belakang leher dan telinga Dina, membuat bidadari itu merintih dihajar nafsu birahi. Rengekannya bagaikan musik yang merdu bagi sang lelaki tua, membuatnya semakin meningkatkan kekuatan tumbukan kontolnya pada liang kemaluan sang ibu muda. Walaupun awalnya kesakitan, namun lama kelamaan Dina bisa merasakan kenikmatan yang muncul dengan cepat.
“Paaaakkk!!!” jerit Dina tak kuat menahan nafsu birahinya yang mendesak keluar, matanya merem melek merasakan kenikmatan, tubuhnya bergetar dan bibirnya tak lelah mengeluarkan desahan. Ia ingin berteriak, tapi tak bisa. Kedua lengannya bertumpu ke dinding sementara calon mertuanya terus memompanya dari belakang, pipinya sampai menempel ke tembok dan berulangkali terhantam karena kuatnya dorongan dari belakang. Dina benar-benar tak kuat lagi, dia ingin teriak… “Paaaakk!!”
Pak Bambang merasakan tubuh Dina mengejang, kedua mata Dina naik ke atas dan hampir-hampir memutar ke belakang. Si cantik itu telah sampai ke ujung kenikmatannya. Kini giliran Pak Bambang, dia hampir sampai ke titik penghabisan, dia pastinya tak mau kalah. Gerakan laki-laki tua itu menggila, ia pompakan semua tenaganya, ia fokuskan pada kemaluannya.
“Harrrrghhh!!!!!”
Letupan sperma kental melesat ke dalam liang rahim Dina, berulang-ulang. Puas sekali Pak Bambang. Memek Dina yang tadinya sudah basah kini makin banjir oleh campuran cairan cinta mereka berdua. Pijatan liang kenikmatan pada penis Pak Bambang mulai mengendur, tubuh gemuk laki-laki tua yang kelelahan itu ambruk dan bersandar di punggung Dina.
Air mata tipis meleleh di pelupuk mata sang bidadari, Dina malu sekali. Dia tidak ingin diperlakukan seperti ini terus menerus. Tapi dia tidak bisa mengingkari kenikmatan yang ia rasakan, bagaimana mungkin ia mengaku terpaksa, kalau dia juga mencapai orgasme?
Pak Bambang menarik keluar kemaluannya dengan satu sentakan kasar, Dina sampai mendesis dibuatnya. Habis manis sepah dibuang. Setelah merasa puas, laki-laki tua itu berdiri dan memakai kembali celananya tanpa peduli pada Dina yang ambruk kelelahan. Air mani Pak Bambang meleleh dari sela-sela memek Dina, turun hingga sampai ke paha.
“Bersihkan dirimu, sebentar lagi kamu akan menikah.” Kata Pak Bambang ketus. “Besok kita lanjutkan lagi.”
Dina diam saja, dengan tenaga yang tersisa ibu muda yang cantik itu menyeret tubuhnya ke atas ranjang dan rebah di sana. Ia tak berkutik lagi karena lelah.
Ketika Pak Bambang melangkah keluar dari kamarpun, Dina tak beranjak.
Dina hanya bisa menangis tanpa suara.
###
Pak Bambang keluar dari kamar Dina dengan langkah kaki jumawa dan wajah yang sangat puas. Ia segera disambut penata rias dan para asistennya yang rupanya sudah menunggu sedari tadi.
“Bagaimana, Pak? Sudah selesai bincang-bincangnya?” tanya sang penata rias.
“Sudah. Sana masuk, bereskan yang tadi.” angguk Pak Bambang.
“Baik, Pak…” Sang penata rias melambaikan tangan mengajak para asistennya masuk ke kamar sementara Pak Bambang meninggalkan tempat itu.
“AH!” Sang penata rias menjerit!
Ia melihat Dina tertelungkup di atas ranjang pengantin dengan make-up berantakan dan baju yang acak-acakan. Calon pengantin itu nyaris telanjang!
Apa yang baru saja terjadi?
Apa yang Pak Bambang lakukan pada menantunya?
Sang penata rias rupanya belum mengetahui rahasia umum yang beredar di kalangan pembantu Pak Bambang.
Penata rias itu menjadi lemas karena harus mengulangi semuanya dari awal, terlebih lagi wajah Dina kini acak-acakan. Secantik apapun Dina, butuh waktu untuk mengembalikan semuanya seperti semula.
###
Matahari bersinar cerah, mendung yang menggantung sepanjang siang kemarin tidak nampak sedikitpun pagi ini. Awan yang berarak tipis tak mampu menghalangi terangnya sinar mentari yang menerawang menembus langit biru. Burung-burung berkicauan sepanjang pagi, mereka bertengger di ranting-ranting pohon mendendangkan pujian hari yang indah.
Villa besar milik keluarga Haryanto yang berdiri megah di atas bukit sejuk hari ini ramai oleh mobil-mobil mewah yang parkir di sepanjang halaman hingga ke jalan raya. Siapapun yang mengenal Bambang Haryanto, hadir hari itu di villa keluarganya yang megah. Tenda berwarna biru dan putih penuh hiasan digelar di halaman, meja penuh santapan lezat tak pernah sepi dikelilingi para tamu. Para tamu tidak tahu kalau Pak Bambang punya seorang anak yang sebelumnya tidak pernah terlihat di kota, tapi tahu-tahu sekarang akan menikah.
Hari itu adalah hari pernikahan Dudung Haryanto dan Dina Febrianti.
Prosesi pernikahan diadakan di ruang tamu di dalam villa. Pak Bambang duduk dengan santai di depan meja pernikahan sementara Dudung yang gembira tak mampu menutupi keceriaannya. Dudung yang sudah berjumpa dengan Dina bahagia sekali mendapatkan seorang pengantin wanita yang sangat cantik. Pak Bambang juga sama bahagianya, ia melakukan semua ini demi Dudung. Melihat putra yang paling dikasihi sekaligus paling memalukan itu bahagia membuat Pak Bambang menarik nafas lega dalam-dalam, tugas untuk merawat Dudung kini ia serahkan pada Dina.
Pak Bambang terkekeh sendiri kalau teringat dia baru saja mencicipi pengantin wanita yang cantik. Pasti butuh waktu agak lama bagi Dina untuk mempersiapkan diri lagi setelah Pak Bambang menyetubuhinya beberapa saat yang lalu. Petugas KUA yang sudah ditunjuk dan disuap oleh Pak Bambang duduk dengan tenang memeriksa semua berkas-berkas catatan yang ada di meja pernikahan.
Akhirnya, Dina datang diiringi kedua putranya yang membawa bunga dan saudara-saudara jauh Dudung. Wanita dewasa yang cantik jelita itu semakin nampak seksi dalam balutan baju pengantin berwarna putih tulang yang sangat indah. Kalau saja ada orang yang memeriksa, bercak-bercak pejuh Pak Bambang yang tadi bertebaran di sekujur paha dan selangkangan Dina mungkin saja menempel di baju pengantinnya. Si cantik itu hanya bisa membersihkan diri di beberapa bagian saja.
Dudung makin ngiler melihat calon pengantinnya datang, seksi sekali memang Dina saat itu. Langkah kakinya anggun memasuki ruang pernikahan. Walaupun kepalanya tertunduk dan wajahnya pucat, tapi semua orang yang berada di tempat itu setuju, Dina Febrianti menantu Pak Bambang adalah wanita yang sangat cantik dan seksi. Mereka juga sangat kasihan sekali melihat wanita secantik Dina disandingkan dengan pria seperti Dudung.
Dina duduk di samping petugas dari KUA, di depan Dudung.
Prosesi pernikahan dimulai.
###
Dina menangis. Ia menangis sejadi-jadinya.
Prosesi pernikahannya telah berlangsung dengan lancar tanpa gangguan dan kini namanya telah tertera resmi dalam buku penikahan dan catatan sipil sebagai istri dari Dudung Haryanto. Bukankah seharusnya ia bahagia? Sebaliknya, ia sakit hati sekali, ia merasa hancur, ia merasa kotor seperti seorang pelacur. Ia berharap Anton akan datang dan menghentikan pernikahan ini, ia berharap mantan suaminya akan datang dan menyelamatkannya. Tapi tak seorangpun datang untuk menyelamatkannya, tak ada seorangpun yang peduli, tak ada yang berani.
Dina tidak peduli kalau make-upnya berantakan dan wajahnya belepotan, ia tidak peduli kalau ia berubah menjadi jelek seperti orang-orangan sawah sekalipun. Ia hanya ingin pergi dari tempat ini bersama kedua anaknya dan kembali bersatu dengan Alya dan Lidya. Sayang semua itu tidak bisa ia lakukan, ia terjebak dalam genggaman laki-laki tua brengsek tapi kaya raya bernama Bambang.
“Mbak Dina? Mbak Dina ada di dalam? Mas Dudung sedang menunggu sendirian di luar, kasihan dia, masih banyak tamu yang ingin bersalaman. Ayo cepat keluar!” panggil salah seorang saudara dari luar kamar mandi.
“I-iya… sebentar.” Jawab Dina terbata-bata. Buru-buru wanita cantik itu mencermati cermin yang ada di kamar mandi dan membenahi make-upnya yang berantakan karena menangis.
Tak lama kemudian, Dina keluar dari kamar mandi dan menemani Dudung yang masih terus menemui beberapa orang tamu. Beberapa kali Dudung berteriak-teriak ingin masuk ke kamar karena capek dan bosan, tapi Pak Bambang selalu melarang. Untunglah Dina keluar dan menemaninya, karena setiap kali bersanding dengan pengantin barunya, Dudung menjadi pendiam dan sangat sopan.
###
Lampu dinyalakan sedikit temaram, beberapa batang lilin dinyalakan di pojok ruangan, lagu-lagu lama yang melodius dan menyejukkan penuh syair cinta dinyalakan dari satu CD player. Ranjang besar sudah tertata rapi. Wangi bunga yang semerbak mengharumkan seisi ruangan. Kamar pengantin yang sempurna. Entah siapa yang telah merapikan ruangan ini, mungkin penata rias yang siang tadi mendandani Dina.
Dina duduk terdiam di ujung ranjang, ia sendirian.
Bukannya takut ataupun khawatir, tapi Dudung tak nampak batang hidungnya sejak acara tadi siang. Mungkin dia kelelahan. Dina juga sudah sangat lelah, baik pikiran maupun fisik. Menurut Dina akan lebih baik kalau Dudung tidak datang ke kamar pengantin malam ini. Dina akan sangat bahagia kalau diperbolehkan tidur sendiri tanpa harus melayani suami barunya. Dia tidak peduli ini malam pertama atau bukan.
Dina merebahkan diri ke atas ranjang, ia memejamkan mata, lelah sekali rasanya hari ini, banyaknya tamu yang datang membuat Dina harus selalu tersenyum dan memasang wajah bahagia. Ia lelah harus berbohong sepanjang hari, apalagi vaginanya masih terasa nyeri karena diperkosa Pak Bambang pagi tadi.
Lalu, ketika Dina merasa aman, pintu kamarnya terbuka. Satu sosok masuk ke dalam dengan langkah ragu. Pintu kamar ditutupnya.
“Di… Dina?” bisik suara asing itu selembut mungkin.
“Mas Dudung?”
“I… Iya… Dudung.”
Dina bangkit dari tidurnya. Tapi sosok Dudung tetap tidak bergerak, pria itu masih berdiri di dekat pintu, seakan-akan takut mendekat ke ranjang. Dina menunggu dan duduk terdiam di atas ranjang.
Dina menunggu.
Dan menunggu.
Masih menunggu.
“Mas Dudung?”
“I… Iya?”
“Kenapa berdiri di situ terus? Mas Dudung mau tidur kan?”
“I… Iya…”
Masih dengan langkah ragu, Dudung bergerak maju ke arah ranjang. Ia duduk di tepi pembaringan, dengan tubuh membelakangi Dina.
Dina duduk menjauh, dia hanya berharap laki-laki bodoh ini sudah terlalu lelah sehingga mereka tidak perlu bermain cinta.
“Mas Dudung capek?”
“Iya…”
“Mas Dudung mau tidur?”
Dudung menggelengkan kepala dengan semangat.
“Katanya capek?” tanya Dina. “Kalau capek tidur saja, ya?”
“Ka-kata bapak… Du-Dudung… Dudung harus masukin kontol ke memek Dina sebelum tidur… boleh?”
Dina terhenyak, dasar kakek tua, tidak bisa membiarkannya beristirahat dengan tenang!
“Iya… tentu saja boleh, kita kan sudah suami istri? Tapi aku lelah sekali… kita bisa melakukannya besok. Hari ini kita tidur saja, ya?”
“Ka-kata bapak… Du-Dudung… Dudung harus masukin kontol ke memek Dina sebelum tidur…”
Dina jengkel. Wanita cantik itu akhirnya merebahkan diri tanpa mempedulikan Dudung. Dia ingin tidur! Kalau Dudung ingin menidurinya, maka dia akan meniduri wanita yang sudah tidur. Dina memejamkan mata dan membiarkan Dudung terdiam di tepi ranjang. Dina heran juga, walaupun bodoh – Dudung sepertinya tahu apa fungsi alat vital laki-laki dan perempuan. Dasar, anak bapak sama saja, batin Dina menggerutu.
“Ka-kata bapak… Du-Dudung… Dudung harus masukin kontol ke memek Dina sebelum tidur…” ulang Dudung lagi. Kali ini Dudung tidak diam saja, dia bergerak dan mendekati Dina yang berusaha untuk tidur. Dengan gerakan patah-patah karena takut akan mengganggu Dina, Dudung mulai membuka baju Dina.
Dina yang tidak tahu harus berbuat apa terdiam ketika Dudung membuka baju dan celananya. Dina diam tanpa perlawanan, ia seolah berubah menjadi boneka yang pasrah dilucuti busananya. Walaupun bodoh, tidak perlu waktu lama bagi Dudung untuk menelanjangi Dina.
Setelah selesai melepas semua pakaian Dina, Dudung melucuti pakaiannya sendiri. Telanjang dan tersenyum polos, Dudung membungkuk di antara selangkangan Dina, batang kemaluannya yang ukurannya luar biasa besar menggelantung di bawah, siap disentakkan ke dalam memek Dina. Dudung mencoba merenggangkan kaki Dina, ia menikmati pemandangan indah yang dipamerkan bibir vagina ibu muda yang cantik itu.
“Mas Dudung…! Apa… apa yang…?” Dina menjerit tertahan, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Dudung, setelah sekian lama, akhirnya Dina sadar. Betapa terkejutnya Dina ketika dia melihat ukuran alat kelamin Dudung yang menggantung. “Jangan, Mas!”
“Kenapa… kenapa Dudung tidak boleh? Apa gara-gara punya Dudung besar? Dina takut? Nanti Dudung paksa supaya bisa masuk…”
“Jangan! Ya Tuhan! Jangan… jangan kamu paksakan!” kata Dina kebingungan, bagaimana caranya menolak laki-laki bodoh ini? “Aku tidak bisa… aku… punyaku sempit sekali… punya Mas Dudung besar sekali… tidak bisa masuk! Punyaku tidak bisa menerima barang sebesar itu!”
“Tapi… tapi… tapi Dudung tidak tahan! Du… Dudung mau… mau… mau memasukkan ini… ke situ…” kata Dudung terpatah-patah, kepalanya menggeleng dan mengangguk dengan gerakan patah-patah. Pria bodoh itu menunjuk ke arah kontolnya sendiri lalu menunjuk ke bibir vagina Dina. “Du-Dudung mau… Dudung kepingin… Dudung… Dudung tidak mau menyakiti Dina, beneran… pasti enak… beneran. Dina cantik. Dina mau kan?”
Dina menggeleng, dia berusaha mendorong Dudung agar menjauh. Tapi pria bodoh itu diam tak bergeming. Secara tak sengaja Dina melihat wajah Dudung. Betapa kagetnya Dina melihat wajah laki-laki itu. Dudung terlihat sangat sedih dan terpukul, wajahnya memerah dan siap menangis. Melihat perubahan wajah Dudung membuat Dina menghentikan dorongannya.
Dudung sesunggukan, ia menyingkir dari atas tubuh Dina dan duduk di tepi ranjang.
Dina terdiam.
Di hadapannya kini, seorang pria dewasa tengah terisak-isak karena penolakannya, sangat berbeda dengan ayahnya yang pernah memaksa dan memperkosa Dina. Kenapa Dina menolaknya? Apa yang telah terjadi pada Dina bukanlah kesalahan Dudung… apalagi Dudung telah resmi menikahinya, sehingga sebenarnya dia berhak atas tubuh Dina.
Dina menundukkan kepala, berpikir keras sementara Dudung masih sesunggukan.
Dengan satu desahan panjang Dina menggeleng kepala dan menepuk pundak Dudung. Dia yakin akan menyesali keputusannya ini…
“Kamu mau melakukannya, Mas? Sekarang?” Dina memandang ke arah Dudung dengan pandangan mata pasrah. Dudung terhenyak kaget, ia menghapus air mata yang mengaliri pipinya. Dina bertanya lagi, “Kenapa? Kenapa kamu ingin melakukannya denganku, Mas?”
“Du-Dudung mau karena… karena… karena Dudung suka Dina. Dina cantik.”
“Kamu suka sama aku, Mas? Suka atau sayang?”
“Dudung sayang Dina. Dina cantik… Du-Dudung tidak mau menyakiti Dina. Janji! Tidak sakit… Dina pasti senang. Pasti…” wajah Dina yang cantik bersinar membuat Dudung makin bersemangat, dalam keluguan dan kebodohannya ia tidak sadar bahwa ia mungkin mencintai Dina sejak pertama kali bertemu dengannya.
Dina tidak bisa melepaskan pandangan dari benda menggantung yang ada di selangkangan Dudung, ukurannya, bentuknya… ah! Bagaimana mungkin ia bisa tertarik pada alat vital Dudung? Apakah dia akhirnya bersedia digauli Dudung karena kasihan dan terpaksa, atau karena dia ingin segera merasakan batang kemaluan Dudung itu di dalam memeknya?
Dina tahu dia tak akan pernah bisa menjelaskan pada siapapun, bagaimana dia bisa tertarik pada manusia aneh bernama Dudung ini. Dorongan seksual menggebu dalam batinnya menjadi gairah liar tak tertahankan yang mengurung perasaannya sendiri. Dina hanya mengangguk pasrah pada pria idiot yang berdiri tegak di hadapannya. Ibu muda yang cantik itu bahkan membuka kakinya lebar-lebar, mengeluarkan desahan mesra penuh irama kala batang kemaluan raksasa milik Dudung menyentuh paha bagian dalamnya. Sentuhan ringan ujung gundul kemaluan Dudung mengalirkan sensasi dahsyat ke seluruh bagian tubuh Dina, melejitkan nafsu birahinya sampai ke tingkat yang tak terkatakan. Dina hanya terdiam, memejamkan mata dan menunggu.
Dudung yang bodoh tidak tahu bagaimana caranya membuai seorang wanita, dia tidak mengerti bagaimana caranya melakukan permainan cinta sejati. Dia tidak tahu bagaimana melakukan pemanasan. Dudung mengulurkan jarinya ke dalam selangkangan Dina, membiarkan jarinya masuk dan mencubit bibir kemaluan sang istri yang berwarna merah jambu, dia melakukannya dengan kasar – tanpa mengelus dan tanpa rabaan.
Dina melonjak kaget ketika jari-jari Dudung yang ukurannya sangat besar mengobrak-abrik pukinya yang kini mulai basah. Dina malu pada dirinya sendiri, Dudung belum melakukan apa-apa tapi kemaluannya sudah mulai basah. Hanya dengan melihat penis Dudung yang besar itu, Dina tak mampu menahan nafsu birahinya. Dudung sendiri sekarang mulai maju, penisnya yang mengeras bagai baja seperti tak sabar ingin segera menjajah liang kenikmatan milik Dina. Wanita cantik itu sendiri juga tak sabar, ia ingin Dudung segera melakukannya, ia ingin penis itu segera masuk ke vaginanya yang dahaga. Tanpa ada seorangpun yang meminta, Dina mengangkat kakinya lebih tinggi, memberikan Dudung akses yang lebih bebas, si cantik itu telah menunggu.
“Ma… masukkan saja, Mas.” Desis Dina, tangannya mencengkeram dan kukunya menancap di pundak Dudung. “A… aku menginginkannya… berikan padaku… berikan pada istrimu ini…”
Kata-kata Dina bagaikan musik yang indah bagi Dudung, belum pernah ia mendapatkan seorang wanita yang mau ia perlakukan seperti ini sebelumnya. Senyumnya yang manis mengundang Dudung untuk segera melakukan apa yang mereka berdua inginkan. Dengan satu lolongan yang keluar dari mulut Dudung, kepala gundul kontol raksasa miliknya mulai masuk ke dalam liang kenikmatan Dina, sedikit demi sedikit, perlahan-lahan sekali.
Awalnya ujung gundul kemaluan Dudung hanya menyentuh bibir kemaluan Dina saja, walaupun begitu vagina si cantik itu sudah basah dan siap menerima serangan. Ketika Dudung benar-benar bersiap melesakkan kemaluannya, mata Dina terbelalak melebar. Ujung kontol Dudung dioles kesana kemari, bibir vagina, rambut kemaluan, paha dalam, seluruh bagian sensitif di sekitar memek Dina dirambahnya. Dudung tidak tahu mana yang enak dan mana yang tidak. Ia hanya mengamati perubahan wajah Dina saja. Lalu dengan satu hentakan pinggul yang kuat, pria bodoh itu memakukan batang penisnya ke dalam liang kenikmatan Dina yang elastis, merenggangkan dinding-dindingnya ke batas maksimal.
“Aaaaaaaaaahhhhh!!!” teriak Dina, gabungan rasa sakit dan kenikmatan yang dirasakannya tak terkatakan. Ia hanya bisa melolong tanpa daya. “Ooooohhhhhmmm… enaaaaaaakkkkghhhh…”
Luar biasa, kontol Dudung baru masuk hanya beberapa senti saja ke dalam memeknya, tapi Dina sudah melolong tak berdaya. Tubuh Dina bergetar hebat merasakan batang kemaluan yang kerasnya bagai kayu mulai dilesakkan ke dalam kemaluannya, diiringi dengan nafas yang kembang kempis, Dina mengangkat pinggul dan pantatnya agar Dudung lebih leluasa. “Terus… terus, Mas,” bisik Dina yang sudah tak mampu menahan diri lagi. “Tidak apa-apa… pelan-pelan saja… jangan –… jangan terlalu cepat…”
Dudung yang sudah sangat bernafsu tidak bisa mendengar kata-kata Dina, pria bodoh itu melanjutkan niat buasnya. Ketika penisnya ditusukkan, rasa sakit menyengat Dina. Si cantik itu mulai memukul-mukulkan tangannya ke pundak Dudung, perihnya tak tertahankan lagi, apa yang awalnya nikmat berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa.
Tapi Dudung sudah terlanjur berubah menjadi pejantan yang buas tanpa ampun, saat itu tiba-tiba saja Dina merasa bodoh. Ia menyesal merasa siap menerima kemaluan Dudung yang sangat besar itu. Kini, batang yang keras bagai baja itu telah melesak masuk dan akan terus masuk sampai ujung terdalam. Siap tidak siap, mau tidak mau, Dina harus menahannya. Ukuran kemaluan Dudung yang besar seakan membuat dia hendak merobek bibir kemaluan Dina ketika penisnya ditanam dalam-dalam di memek sang istri.
“Gakkghhh!! Aghhh!! Ahhh!” Dina melenguh berulang, tenggorokannya tercekat. Rasa sakit yang tak tertahan membuatnya berontak secara reflek, namun sia-sia, Dudung sudah berubah menjadi makhluk mengerikan yang memangsa tubuhnya dengan buas. Tidak ada kata berhenti atau istirahat, Dudung melanjutkan niatnya, mengobrak-abrik memek sempit Dina dengan batang kemaluannya yang raksasa. Dina mengeluarkan air mata, sungguh dia tidak tahan, dia sudah mencakar, memukul, mendorong, tapi Dudung tetap memompanya. Teriakan Dina juga tak digubris. Si cantik itu berharap dia bisa segera pingsan, lebih baik tak sadarkan diri daripada merasakan sakit yang seperti ini.
“Ja-jangan menangis, Dina,” pinta Dudung dengan suara memelas, “…ka-kalau Dina diam saja, Dudung cepat selesai. Kalau diam saja, Dina pasti merasa enak, soalnya Dudung juga enak. Sebentar lagi selesai, janji! Jangan menangis… jangan menangis…”
Dina mendengarkan permintaan Dudung yang memelas itu dan membuka matanya. Pandangan matanya buram dan kabur karena baru saja menangis. Rasa sakit itu tidak seberapa… batin Dina, setelah semua yang terjadi… setelah pernikahannya dengan Dudung yang diawali tanpa dasar cinta, ini semua tak seberapa. Bukanlah Dudung yang bersalah, tapi ayahnya. Pak Bambanglah yang telah memaksa mereka menikah. Dina merasa tidak enak hati pada Dudung, pria ini tidak mengenal siapapun kecuali Dina dan Pak Bambang dalam hidupnya. Pria yang kesepian dan tak punya teman. Dia tidaklah sebodoh yang Dina kira, Dudung bahkan sangat cermat dan perhatian, walau kadang terlalu sensitif. Dudung memang bukan suami yang sempurna, tapi Dina bisa belajar mencintai. Ketika Dudung menusukkan lagi kemaluannya ke dalam vagina Dina, si cantik itu memilih memejamkan mata dan menggigit bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Lebih baik dia yang kesakitan, daripada Dudung tahu rasa sakit yang ditimbulkan karena bersetubuh dengannya.
Batang kemaluan Dudung tidak berhenti berdenyut dan membesar, seakan-akan batang itu adalah balon gas yang terus membesar, bedanya kontol Dudung yang besar lebih mirip batang baja daripada balon gas. Kontol Dudung terus saja mendesak ke dalam bagian terdalam kemaluan Dina yang menolak kehadiran benda asing itu. Dudung mengira kalau dia sudah selesai menancapkan kontolnya, Dina akan merasa nyaman dan bisa menikmati permainan cinta mereka. Sayang tidak seperti itu keadaan sebenarnya. Dari gayanya — walaupun ada kesan malu-malu – Dina bisa memperkirakan kalau ini bukanlah pertama kalinya Dudung bermain cinta. Entah dengan siapa dulu dia bercinta… tapi bagi Dina sendiri, dari semua ‘lawan main’nya, barang milik Dudunglah yang paling besar.
‘Ampuuuun!’ batin Dina, sungguh dia bisa merasakan setiap senti desakan kontol Dudung dalam liang rahimnya. Kali ini, kemaluan Dudung amblas lebih dalam dari sebelumnya, tanpa ampun menusuk terus ke dalam, sakitnya terasa sampai ke perut si cantik itu. Batang penis Dudung yang keras bagai baja menjajah dan mengobrak-abrik dinding lembut memek Dina, mendesak ke dalam bagaikan paku. Dina tidak ingin berteriak lagi, tapi sungguh dia tidak tahan… dia tidak tahan kalau begini terus… dia tidak tahan kalau Dudung tidak berhenti!
Gaya permainan buas ala Dudung membuat Dina terombang-ambing tanpa daya, namun detik detik berikutnya hal yang mengejutkan Dina terjadi.
Dudung menggoyang penisnya dan memompa keluar masuk, sekali, dua kali, tiga kali… terus menerus tanpa henti! Dina mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benaknya… kenikmatan yang luar biasa. Terus… terus… terus… jangan berhenti… Dina tidak mau Dudung mengakhiri permainannya, enak… enak sekali… jangan berhenti…
Dina tidak percaya ini, setelah semua rasa sakit yang ia terima dan genjotan tanpa ampun dari Dudung, akhirnya ia menerima semuanya dengan penuh kenikmatan. Ia ingin Dudung melanjutkannya tanpa henti, Dina membuka kakinya lebar-lebar, ia ingin Dudung masuk lebih dalam! Lebih dalam! Ia percaya suaminya yang tidak begitu pintar ini ingin membuktikan kalau dia menyayangi Dina, mencintainya… sepenuh hati…
Tiba-tiba saja, denyutan batang kontol Dudung terhenti. Ujung gundul penis yang tadinya melesak ke dalam tiba-tiba saja terdiam. Dudung menarik batang kemaluannya dengan perlahan. Dina sudah bersiap melepas, ia merenggangkan kakinya dan memejamkan mata… tapi… tiba-tiba saja… dengan satu sodokan penuh tenaga, Dudung mendorong kemaluannya kembali masuk ke dalam!
“Aaaaaaaaaaaaahhhhh!!!” Dina menjerit kesakitan.
Seluruh batang kontol Dudung amblas ke dalam memek Dina, semuanya masuk ke dalam, dari ujung gundul sampai batas terbawah. Kantong kemaluan Dudung menampar bagian bawah bibir memek Dina sampai ke lubang anusnya. Ya Tuhan! Dudung benar-benar melakukannya… pria bodoh itu memasukkan semuanya sampai ke dalam!
“Sa-sakit?” tanya Dudung yang terkejut mendengar jerit kesakitan Dina.
“Sakit…” erang Dina.
Dudung memperlambat gerakannya. Wajahnya berubah, ia merasa bersalah.
“Ooooohhhh…” Dina melenguh perlahan.
Dudung mengubah gaya permainannya. Dia tidak sebuas seperti awal serangannya, dia kini lebih lembut, sepertinya pria bodoh itu mulai sadar kalau apa yang telah dia lakukan tadi menyakiti Dina dan kini ia berusaha memperbaiki kesalahannya. Dudung memegang lengan Dina dan mengelusnya lembut, bukannya berusaha memaksa kemaluannya masuk secara bertubi, Dudung kini menunggu agar Dina bisa menyesuaikan diri. Dengan sabar pria bodoh itu memperhatikan tubuh Dina mulai relaks dan bisa membiasakan diri dengan ukuran kemaluan Dudung yang memang di atas rata-rata lelaki Asia pada umumnya. Dudung tidak melakukan ini semua karena ia pintar, ia melakukannya secara refleks, intuisi laki-laki yang entah sejak kapan ia miliki.
Dina tidak percaya apa yang baru saja terjadi pada dirinya, seluruh batang kemaluan Dudung telah amblas! Masuk ke dalam liang kenikmatannya! Sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan olehnya… batang sekeras baja itu kini berada di dalam tubuhnya, masuk ke dalam liang rahimnya, menyodok seakan hendak mengoyak perut. Dina membuka mata dan menatap kekasih barunya dengan pandangan penuh pengertian, ia berusaha menyembunyikan rasa sakit yang masih dirasakannya, rasa sakit yang ditimbulkan oleh sesaknya desakan batang kejantanan Dudung di dalam vagina mungilnya.
Setelah gerakan lembut keduanya berinteraksi, otot-otot kemaluan Dudung yang tadinya lemas kini mulai mengeras kembali. Dina mengerang perlahan, ia takut Dudung akan menghentikan gerakannya kalau tahu dia kesakitan. Dengan sekuat tenaga, Dina berusaha bertahan, ia sampai menggemeretakkan gigi karenanya. Entah bagaimana Dudung merasa curiga, ia memperhatikan Dina, menunggu dan bergerak maju mundur kembali. Rasa sakit yang tadi begitu menyiksa Dina kini sudah mulai banyak berkurang, sekali lagi wanita cantik itu memaksakan senyum pada Dudung. Lagi dan lagi, luapan cinta keduanya saling bertumbukan, tersalurkan melalui tumbukan sebuah batang kemaluan yang sekeras baja. Dudung memperlakukan tubuh Dina dengan penuh kelembutan dan rasa sayang, ia bergerak pelan, memutar pinggul dan penisnya, menggiling kemaluan Dina dengan tumbukan yang sebisa mungkin tidak menyakitkan, sampai akhirnya dinding memek Dina yang elastis merenggang dan bisa menyesuaikan ukuran dengan kontol Dudung.
Dina merasakan kegairahan yang makin lama makin memuncak, membuatnya bingung dibuai kenikmatan yang tak seharusnya terjadi. Dina tidak mampu berpikir dengan jernih, tubuhnya terasa melayang ke atas awan. Ibu muda yang cantik itu membiarkan tubuhnya lepas, ia ikuti kemana saja suami barunya akan membimbing. Dina berharap perlakuan yang begitu nyaman dan enak ini tak akan pernah berakhir. Bidadari jelita itu membentangkan kakinya lebar-lebar, membiarkan lututnya membuka dan mengimbangi gerakan maju mundur suaminya yang idiot dengan hempasan pantat penuh nafsu. Wanita cantik yang tadinya jijik pada suaminya itu kini tergila-gila. Ia mengerang dan menjerit, membiarkan tubuh dan pikirannya terbebas.
Setiap hentakan yang dilakukan Dudung membuat Dina makin mabuk oleh kenikmatan yang diberikan suaminya. Kantung kemaluan sang pria idiot menumbuk kuntum liang anus sang istri tanpa kenal lelah sementara jembutnya yang lebat mencambuk kelentit Dina. Enak sekali rasanya. Sangat enak sekali.
Tiba-tiba Dudung berhenti dan menarik keluar kemaluannya. Dina menggeleng kepalanya keras-keras, dia lalu merubah posisi agar Dudung lebih nyaman, ia berbalik, merendahkan tubuhnya ke bawah hingga buah dadanya tergencet. Doggie style, siapa tahu Dudung menyukai posisi ini, ia berniat memuaskan Dudung sebisa mungkin, bukankah itu tugas seorang istrii? Permukaan karpet yang kasar merangsang pentil payudara Dina hingga menjorok ke depan. Dina mengembik penuh kenikmatan saat batang kemaluan Dudung yang sangat besar kembali melesat masuk ke dalam liang kewanitaannya tanpa bisa dihentikan.
Dina melejit nikmat ketika batang penis Dudung digenjotkan di dalam kemaluannya, wanita cantik itu tidak percaya penis raksasa milik Dudung bisa masuk ke dalam memeknya. Ia sudah pernah merasakan milik Anton, milik Pak Pramono dan milik ayah Dudung, tapi semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pria idiot yang kini telah resmi menjadi suaminya ini.
Ujung gundul penis Dudung mengoles-oles dinding dalam kewanitaan Dina. Belum pernah ada lelaki yang pernah melesakkan penis sedalam Dudung, nyeri dan sakit yang dinikmati oleh Dina bagaikan gadis yang sedang diambil keperawanannya. Si cantik itu menjerit-jerit dengan bingung, sebenarnya dia kesakitan atau malah keenakan. Saat ini Dina sudah tidak peduli lagi siapa sebenarnya Dudung, suami barunya yang idiot itu menyimpan keperkasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dina bagaikan seorang budak seks yang duduk berlutut dan membiarkan seorang pria bodoh menggenjot memeknya dari belakang, menanamkan nafsu birahinya dalam-dalam di liang kenikmatan yang diberikan oleh Dina. Setelah selama ini dipermainkan oleh pria-pria hidung belang, baru kali inilah Dina tahu bagaimana rasa nikmat yang sesungguhnya. Tidak ada pria yang bisa menandingi Dudung dalam hal memuaskannya, tidak ada. Dina tahu dia ingin selalu menikmati kebersamaan dengan Dudung seperti ini, dia ingin selalu di samping Dudung, Dina ingin selalu menghentakkan tubuhnya yang indah di atas penis tegak milik Dudung. Dina sudah dibuat terpukau oleh penis raksasa Dudung.
Dina tidak ragu sedikitpun. Ada sesuatu yang mendesak dan membuncah dalam hatinya yang membuat si seksi itu hampir-hampir gila karena nafsu birahi yang menggelegak. Dina ingin menghisap seluruh kemaluan Dudung dengan memeknya! Malu rasanya Dina mengaku pada dirinya sendiri kalau dia ingin terus menikmati batang penis laki-laki itu! Awalnya dia kalap dan panik ketika Dudung mendekati dan akhirnya menidurinya, tapi semua kini berbalik. Dia ingin menikmati permainan cinta dengan Dudung, dia menginginkan Dudung. Dia membutuhkan Dudung.
Kenikmatan dalam tubuh Dina makin lama makin memuncak menuju sebuah ujung yang tak ingin ia capai dengan cepat. Dina tahu inilah saatnya ia merasakan kenikmatan puncak itu! Kenikmatan yang tidak ia dapatkan dari mantan suaminya yang pengecut dan telah menjualnya. Dudung mengerang hebat dan Dina bisa merasakan batang penis suami barunya menegang dengan sangat keras di dalam liang kewanitaannya. Tak perlu waktu lama bagi Dudung untuk segera menyemprotkan air maninya yang putih lengket ke dalam memek wanita cantik yang kini sudah ia miliki itu.
Semprotan pejuh Dudung menggila di dalam memek Dina, memenuhi seluruh ruang liang kewanitaan sang istri hingga luber keluar, membasahi pinggul dan kantung kemaluannya sendiri.
Tanpa malu-malu Dina memutar-mutar pantatnya dan mengisi seluruh rahimnya dengan sperma kiriman Dudung. Si cantik itu tidak ingin permainan seks yang indah ini segera berakhir, dia ingin Dudung tetap menyetubuhinya selama mungkin. Tapi sekuat apapun Dina berusaha bertahan, dia tetap seorang wanita biasa. Dengan satu teriakan sekuat tenaga, Dina melepaskan seluruh kenikmatan puncak yang bisa ia rasakan, kenikmatan yang telah dihantarkan oleh seorang lelaki idiot yang ternyata bisa memuaskannya. Dina merasakan tubuhnya meledak akibat aliran sensasi erotis yang dilepaskan, si cantik itu lalu terisak-isak saat mengeluarkan seluruh kegembiraannya yang meluap-luap, sampai-sampai inti sari kehidupannya seakan ikut tersedot keluar.
Saat semua usai, kedua insan berbeda jenis itu ambruk terkulai tak berdaya.
Puas.
Dudung memeluk Dina dengan penuh rasa sayang.
Dina memejamkan matanya, ia benar-benar lelah, seluruh badannya terasa linu, tapi ia tidak akan memungkiri, rasa nikmat yang diberikan Dudung benar-benar berbeda. Dia jauh lebih perkasa dari pria manapun yang pernah menidurinya.
“Dina… masih… sakit?” tanya Dudung setelah terdiam lama. Matanya yang polos menatap Dina takut, ia tidak mau wanita cantik yang berada di hadapannya ini kesakitan. Ia sangat menyayanginya, ia merasa bersalah tadi sempat menyakiti Dina.
Dina tersenyum lembut sambil membelai rambut Dudung, “sedikit.”
“Dina sudah hamil?”
“Hah?” terkejut Dina mendengar pertanyaan Dudung. “Hamil? Maksud Mas?”
“Se-setahu Dudung… kalau sudah memasukkan ke dalam, terus selesai, terus hamil, terus punya anak.”
Dina tidak tahu apakah harus tertawa atau sedih mendengarnya. Dengan lembut Dina mengecup dahi Dudung. “Tidurlah, Mas…” bisiknya pelan. “Kalau hari ini gagal, besok kita coba terus sampai aku hamil…”
Dudung menurut, pria dewasa yang masih seperti anak-anak itu meringkuk dalam balutan selimut dan pelukan bidadari.
Dua orang yang kelelahan itu akhirnya terlelap.
###
Pak Bambang membalik kalender duduk yang ada di meja kerjanya, hari telah berganti, memasuki bulan baru. Tidak terasa cepatnya waktu berlalu, sudah tiga bulan lebih sejak Dina menikah dengan Dudung. Betapa enaknya punya menantu yang cantik dan seksi seperti Dina, tiap seminggu sekali, Pak Bambang selalu meminta Dina datang dan melayani nafsu syahwatnya. Seakan-akan Dina memiliki dua orang suami.
Dengan perlahan, laki-laki tua itu melangkah menuju jendela dan melihat ke luar. Di taman villa yang asri, Dina, kedua anaknya dan Dudung sedang berpiknik. Sejak kemarin Dina memasak roti kesukaan kedua anaknya dan membuatkan steak kesukaan Dudung. Entah bagaimana Dina bisa berbincang-bincang dengan Dudung yang idiot itu, tapi makin hari, Dudung terlihat semakin dewasa. Dia semakin terlihat normal. Ketelatenan dan keikhlasan Dina merawat Dudung lama kelamaan membuat Pak Bambang terharu.
Setelah apa yang telah dia perbuat pada Dina, setelah semua masalah yang bertubi-tubi ditimpakan pada wanita cantik itu, dia membalasnya dengan perbuatan yang mulia. Pak Bambang geleng-geleng kepala. Dalam hati kecilnya yang terdalam, dalam hati yang ternyata masih berperasaan, Pak Bambang mulai merasakan penyesalan.
Dudung bermain bola dengan kedua putra Dina, mereka tertawa dan bahagia. Dina bertepuk tangan dan tertawa lepas ketika kedua putranya berhasil mengalahkan Dudung. Kalau saja tidak mengenal Dudung, mereka terlihat seperti keluarga biasa saja. Keluarga yang bahagia.
Pak Bambang terbatuk.
Ia tersenyum melihat kebahagiaan Dudung dan bahagia telah menemukan wanita yang tepat untuknya. Mulai hari ini, Pak Bambang tidak akan memanggil Dina ke kamarnya lagi. Biarkan dia menjadi milik Dudung seorang. Semoga mereka berdua membangun kehidupan yang jauh lebih baik dari hari ini.
Pak Bambang kembali ke meja kerjanya.
###
Pak Bambang menyalakan lampu kamarnya dan duduk di depan meja kerja sambil memegang pena dan beberapa carik kertas kosong. Apa yang ia saksikan beberapa minggu belakangan ini telah mengubah semua pandangannya, ia tidak menduga kehadiran Dina akan membawa perubahan besar dalam keluarganya, terutama pada Dudung, tapi nyatanya itulah yang terjadi. Dudung berubah menjadi laki-laki yang lebih baik, lebih menurut dan pada saat-saat tertentu Pak Bambang yakin, walaupun Dudung bukanlah orang yang pintar, paling tidak ia bukan orang jahat seperti dirinya.
Semua itu berkat Dina.
Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Dina meladeni Dudung dengan penuh kesabaran dan telaten. Ia berharap Dina mulai luluh dan jatuh cinta pada putranya yang lugu itu. Dina bisa membuat Dudung melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan dalam kemampuannya yang terbatas.
Semua berkat Dina.
Dina yang telah ia perkosa dan permalukan. Dina yang telah ia gagahi di depan suaminya sendiri. Dina yang ia paksa cerai. Dina yang ia paksa menikahi Dudung.
Bukannya dendam, Dina malah memberikan semua yang terbaik untuk Dudung dan keluarganya.
Pak Bambang terbatuk-batuk.
Akhir-akhir ini batuknya lebih terasa sakit di dada. Berat dan menyesakkan.
Pak Bambang menulis dengan tenaganya yang lemah sambil terbatuk-batuk. Sebuah surat yang panjang. Kalau ada yang bisa ia lakukan untuk Dina, mungkin inilah yang terbaik. Setelah semua yang ia paksakan pada Dina, mungkin inilah cara terbaik untuk membayarnya.
Pak Bambang meraih pesawat telepon di mejanya dan memencet beberapa tombol. Terdengar nada tunggu, lalu suara di ujung mengucapkan kalimat sapa.
Pak Bambang terbatuk-batuk sebelum berbicara. “Bud, ini aku, Bambang. Iya. Aku sudah menyelesaikan suratnya. Kelak bisa kamu ambil di tempat yang sudah kita janjikan di kamarku. Kalau bisa ajak juga Randy atau anak-anakku yang lain saat mengambilnya. Oke? Ya, begitu saja. Terima kasih.”
Pak Bambang meletakkan gagang telpon di tempatnya dan kembali terbatuk-batuk.
Pria tua itu tercenung ketika membaca kembali surat yang baru saja ia tulis.
Ia tersenyum dan sekali lagi terbatuk-batuk.
Kali ini batuknya mengeluarkan darah.
###
Pak Hasan sedang asyik membaca menonton acara televisi ketika telepon berdering. Jengkel juga dia diganggu malam-malam begini. Dengan langkah gontai orang tua itu berjalan menuju meja telepon dan mengangkat gagangnya.
Pak Hasan mengangkat telepon dengan malas, “Halo? Siapa ini?”
“Ini Dina, Pak. Lidyanya ada?”
“Ooh, Mbak Dina. sebentar, saya panggilkan Lidya ya.”
Dina menunggu sesaat di ujung telepon yang satu lagi.
Dalam hati, Dina iri pada Lidya. Rupanya Pak Hasan benar-benar betah tinggal di rumah adiknya itu, menemani sang menantu yang kesepian ditinggal suaminya saat sibuk bekerja. Baik benar mertua Lidya itu, tidak seperti mertuanya yang kalau malam malah menyuruh menantunya melayani keinginan bejatnya.
Seandainya saja Dina tahu.
Terdengar suara langkah kaki yang lari dan suara Lidya di ujung telepon, nafasnya kembang kempis. “Ha-halo?”
“Halo. Lidya? Ini Mbak Dina.”
“Eh? Mbak Dina!!! ini bener Mbak Dina??” Suara Lidya yang terkejut dan gembira terdengar sangat jelas di telepon. “Aduh, Mbak! Mbak Dina kemana aja? Aku sama Mbak Alya khawatir sekali! HP Mbak Dina dimatiin, HP Mas Anton juga. Telpon rumah nggak diangkat, rumah kosong… Mas Andi malah sudah menghubungi bagian orang hilang di kepolisian. Mbak Dina baik-baik saja kan? Mbak Dina kemana aja? Anak-anak bagaimana?”
“Semua sehat-sehat saja. Tapi…” suara Dina terputus.
Lidya mengerutkan kening. “Tapi apa, Mbak?”
“Ceritanya panjang. Terlalu panjang bahkan.” desah Dina. “Aku ingin bertemu dengan kalian, kamu dan Alya. Aku kangen sekali.”
“Sama, Mbak! Kami juga…” Lidya menghela nafas sejenak. “Aku kangen sekali, Mbak.”
“Jangan khawatir. Aku akan segera pulang. Semua akan baik-baik saja mulai sekarang.” Kata Dina penuh keyakinan. “Semua akan baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu, Mbak.”
Kedua wanita jelita itu menarik nafas lega, hampir bersamaan.
Angin sejuk berhembus membuai wajah Dina. Untuk pertama kali sejak berbulan-bulan, harapan yang tak pernah berhenti ia gantungkan, akhirnya datang juga kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Seperti kalimat yang ia ucapkan untuk menenangkan Lidya tadi, semuanya akan baik-baik saja. Dina yakin sekali.
###
Siapa yang bisa menduga nasib manusia? Kadang berada di atas kadang jatuh ke bawah, terdengar klise memang karena kata-kata tersebut selalu diulang dalam setiap pergulatan hidup manusia, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Hidup manusia seperti roda yang berputar. Kala seorang berada di bawah, dia selalu memimpikan puncak kejayaan yang berada di atas. Sebuah impian yang kadang bisa menjadi pemicu semangat untuk bergerak maju dan menggapai prestasi. Sayang kala dia sudah berada di atas, setelah meraih semua yang ia impikan, seorang manusia sering lupa pada semua hal yang mendukungnya, hal-hal kecil yang telah membantunya, semua harapan yang dipikulkan ke pundaknya. Ia lupakan semua yang telah membantu menapaki tangga kejayaan.
Bambang Haryanto dulunya adalah seorang pekerja keras, ia sempat bekerja sebagai tukang koran dan tinggal dari kontrakan murah ke kontrakan murah lainnya. Ia hidup sederhana dengan istrinya, seorang wanita sederhana yang berjualan gado-gado untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka dikaruniai beberapa orang anak, sayangnya anak yang paling bungsu dan paling mereka sayangi menderita keterbelakangan mental. Hal yang membuat hidup keluarga Pak Bambang semakin susah dan menderita. Tapi saat itu, Pak Bambang tak pernah berhenti berusaha dan mengeluh, sedikit demi sedikit mereka menabung, uang yang tidak seberapa ia gunakan untuk membeli barang dagangan di pasar dan dijual ke perumahan.
Lama kelamaan, karena jujur dan suka bekerja keras, banyak warga perumahan yang bersimpati dan membantu keluarga Pak Bambang. Warung gado-gado istrinya menjadi lebih besar dan laris. Pekerjaan demi pekerjaan serabutan diberikan pada Pak Bambang sampai akhirnya ia dipercaya menjadi karyawan sebuah perusahaan distributor yang sedang berkembang yang kebetulan dikelola oleh salah seorang warga perumahan. Berkat usaha kerasnya perusahaan tersebut sukses besar dan posisinya pun makin lama makin meningkat seiring prestasi dan jasanya pada perusahaan.
Berbekal pengalaman dan modal yang ia miliki, Pak Bambang mendirikan perusahaan sendiri. Berkat kerja keras dan relasi yang melimpah, Pak Bambang menuai sukses besar. Perusahaannya maju pesat bahkan mampu mengalahkan tempat kerjanya yang lama. Ia kini dikenal sebagai Raja Midas kecil, pengusaha yang punya sentuhan emas.
Sayang gelimang harta yang makin sering menghampiri tak mampu menyelamatkan nyawa istrinya yang terkena penyakit ganas. Setelah sempat menikmati sejenak kehidupan mewah, istrinya meninggal dunia. Hal ini sangat memukul Pak Bambang, ia begitu menyayangi istrinya yang setia. Rasa kehilangan yang amat sangat dirasakannya membuat Pak Bambang lupa diri, ia berubah menjadi lelaki dingin yang kejam.
Sepeninggal sang istri, Pak Bambang lalu menikahi banyak wanita dan terus memangsa gadis muda yang cantik sebagai pemuas nafsu birahinya. Ia kucilkan anaknya yang idiot di sebuah villa terpencil karena malu atas keberadaannya. Ia gusur perumahan yang dulu menjadi tempatnya mencari uang untuk didirikan kompleks industri yang sangat luas. Ia buat perusahaan lamanya gulung tikar. Ia menjadi predator yang buas dalam dunia usaha, kekayaannya tak terhitung. Pak Bambang melupakan masa lalunya.
Tapi semua kekayaan yang ia dapat semasa hidup tak mampu membahagiakannya. Ia tak mampu mengatur nasib yang ia jalani. Beberapa hari setelah merayakan ulang tahun ke-73, Pak Bambang meninggal dunia, meninggalkan kerajaan bisnis yang sangat besar ke tangan keluarga.
Tubuh kakek tua pendek yang sudah beruban itu terbujur kaku di dalam petinya. Inilah pertama kalinya Dina melihat ayah mertuanya itu tak berdaya. Dudung menjerit-jerit dan menangis melihat jenazah ayahandanya diangkat untuk dikebumikan di samping istri pertamanya. Istri-istri muda Pak Bambang datang untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus meminta hak waris, untunglah Pak Bambang sudah menitipkan surat warisan pada sang pengacara yang juga kawan dekatnya.
Dina menepuk-nepuk bahu suaminya yang menangis tersedu-sedu.
Dina tahu, kini dia bebas. Tak ada lagi pria tua yang membelenggunya dalam jeratan nafsu birahi. Namun walaupun ia kini bebas, Dina tak akan mengkhianati cinta Dudung, dibandingkan Anton yang telah menjerumuskan keluarga mereka dalam hutang yang tak bisa dilunasi dan menjualnya pada laki-laki lain, Dudung mencintainya dengan segala kepolosannya, dengan segala kejujurannya. Dina tak akan meninggalkan Dudung. Apalagi anak-anak juga sudah mulai menyukai ayah baru mereka ini, walaupun mereka menganggap Dudung sebagai teman, bukan ayah.
Hanya satu dendam yang masih menyala dalam hati Dina. Dendam pada laki-laki yang telah menghancurkan rumah tangganya, menghancurkan hidupnya sebagai istri setia dan ibu yang baik bagi anak-anaknya, menghancurkan kepolosannya sebagai wanita baik-baik yang tak ternoda.
Hanya tinggal satu orang lagi yang menjadi incarannya.
Pak Pramono.
###
“Setelah melihat keabsahan wasiat pemilik perusahaan sebelum beliau meninggal, kami memutuskan untuk mengadakan rapat ini guna mengumumkan bahwa kami dari pihak notaris dan badan hukum telah menerima dengan sah keputusan terakhir pemilik perusahaan sesuai tertera di surat wasiat. Sebelum meninggal Almarhum Pak Bambang telah memilih orang yang beliau pertimbangkan tepat untuk selanjutnya menggantikan beliau memimpin perusahaan ini.”
Terdengar desahan bisik dari peserta rapat.
“Pemilik seluruh asset dan juga pimpinan perusahaan yang baru adalah…”
Desahan bisik mereda, menunggu pengumuman.
“…Ibu Dina Febrianti.”
Terdengar suara kaget dan terkejut dari mimbar rapat.
Semua orang kaget mendengar keputusan itu. Mereka tahu Almarhum Pak Bambang telah menunjuk siapa pengganti pemilik perusahaan raksasa ini dalam surat wasiat yang ia tulis, tapi mereka tidak menduga orang tersebut adalah Dina. Terlebih karena mereka semua sudah mengenal siapa Dina, istri dari putra idiot Pak Bambang. Memang Dina adalah menantu kesayangan Pak Bambang, tapi mereka benar-benar kaget mengetahui wanita itu mewarisi semua kejayaannya. Mereka bahkan kaget mengetahui nama wanita itu tertulis di surat wasiat Pak Bambang. Bagaimana mungkin seorang wanita asing yang tidak tahu apa-apa tentang manajemen bisa menangani perusahaan sebesar ini?
Sebagian besar karyawan mengira perusahaan akan dipegang oleh Randy Haryanto, putra Pak Bambang dari istri kedua yang selama ini banyak membantu sang ayah. Itu sebabnya banyak petinggi yang memberikan ‘upeti’ untuk menjilat Randy. Mereka ingin dipertahankan di lingkaran utama manajemen puncak perusahaan. Bagaimana mungkin skenario itu bisa berubah?
Dengan penuh kebanggaan Dina berdiri di hadapan semua orang yang hadir, memberikan senyuman termanisnya. Wanita jelita itu tersenyum bangga. “Mulai sekarang, semua akan berubah.” Katanya tegas. Ia mengeluarkan secarik kertas dari tas yang ia bawa, “Saudara ipar saya, Bapak Randy Haryanto telah dipindahtugaskan ke cabang kita di luar negeri atas permintaan pribadi. Oleh karena itu saya kemudian diberi wewenang menjalankan perusahaan ini, sesuai dengan wasiat yang ditulis oleh mendiang Pak Bambang.”
Orang-orang yang selama ini menjilat pada Randy mendesah kesal. Mereka tahu Randy terlibat dalam skandal penggelapan dana pemerintah, itu sebabnya sebelum ia diciduk pihak berwenang, Randy dibuang ke luar negeri. Mereka memang sudah memperhitungkan kemungkinan itu, tapi tidak menyangka akan secepat ini Randy hijrah. Mereka menggeleng-geleng kecewa, hilang sudah uang untuk menyuap, sia-sia saja usaha mereka selama ini.
“Sebelum berangkat ke luar negeri, Pak Randy memberikan saya catatan berikut,” kata Dina sambil mengangkat kertas berisi daftar nama,”isinya adalah daftar nama orang-orang yang berusaha menyuap Pak Randy, melakukan tindak korupsi dan merugikan perusahaan tanpa pernah menerima hukuman.”
Beberapa orang terhenyak kaget.
“Nama-nama yang disebut silahkan kembali ke meja kerja, mengemas berkas-berkas dan barang pribadi, lalu mengambil uang pesangon yang saya sediakan di lobby depan dan pulang saat ini juga. Kalian saya pecat!” Kata Dina tegas. “Terhitung mulai hari ini, kalian dinyatakan tidak bekerja di perusahaan ini lagi. Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini, semoga mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih baik.”
Rapat itu berubah menjadi ramai. Orang-orang yang selama ini bekerja dengan jujur dan bersih bertepuk tangan sementara mereka yang pernah melakukan kesalahan menjadi risau dan gelisah.
Dina telah menancapkan kukunya. Tidak akan ada satu orangpun kini yang akan mempertanyakan kepemimpinannya. Dan yang lebih penting lagi…
Dendam akan ia balaskan.
Bersambung…
KEMELUT CINTA ALYA
“Selamat datang kembali, sayang.” Kata Alya sambil mendorong kursi roda Hendra masuk ke rumah.
Opi melonjak – lonjak gembira melihat ayahnya pulang, tapi pria yang duduk di kursi roda itu bereaksi negatif, dia diam saja tanpa ekspresi, tangannya bergerak lemah mengelus rambut Opi dengan wajah masam. Melihat wajah lesu suaminya Alya menggigil menahan emosi, ingin rasanya dia menangis melihat Hendra yang terus saja memperlihatkan ekspresi pahit terutama kepada dirinya, tapi apa yang bisa dia lakukan?
Dia hanya mampu memberikan dorongan doa agar suaminya itu bisa cepat sembuh dan kembali menjadi suaminya seperti Hendra yang dulu. Beberapa hari sebelum pulang Hendra sudah mulai bisa tersenyum dan bercanda, lalu entah kenapa, tiba – tiba saja senyum itu hilang dan berganti dengan kemuraman dan wajah penuh emosi yang tidak berkesudahan. Dalam hati kecilnya Alya merasa Hendra memendam kekecewaan dan rasa marah kepadanya, tapi kenapa?
Atas ijin dokter, Hendra sudah diperbolehkan pulang dan menerima rawat jalan, karena pertimbangan finansial dan kenyamanan, pihak keluarga membawa Hendra pulang hari ini. Sayangnya entah kenapa Hendra yang pada hari – hari terakhir memperlihatkan wajah optimis berubah total, ia terlihat enggan pulang ke rumah. Ketika Dodit menanyakan hal ini pada Alya, istri Hendra itu hanya bisa menggeleng dan mengangkat bahu tanda tak tahu.
Alya sudah mencoba menanyakannya langsung tapi Hendra tak menjawab, ia bahkan menggeram marah ketika Alya terus bertanya. Itu sebabnya Alya memilih diam dan berpura – pura semua baik – baik saja. Ia yakin suatu saat nanti, Hendra akan kembali seperti semula. Paling tidak Hendra sudah pulang ke rumah.
“Tas – tasnya Bapak langsung dibawa ke kamar, Bu?” tanya supir yang membawa tas berisi baju dan perlengkapan Hendra.
“Iya, Mas Paidi.” Angguk Alya. “Letakkan saja di samping tempat tidur Bapak, nanti biar saya yang membereskan.”
“Baik, Bu.” Kata Paidi sambil bergegas membawa barang – barang itu masuk ke dalam rumah.
Paidi? Ya. Paidi yang dulunya adalah penjual bakso keliling kini telah resmi diangkat sebagai supir keluarga Hendra. Alya memutuskan untuk menyewa Paidi karena kondisi Hendra yang masih memerlukan perawatan secara intensif. Dia tidak mempercayai Pak Bejo untuk melakukan tugas – tugas yang penting lagi, itu sebabnya dia menyewa Paidi. Memang tidak mudah mempercayai orang yang baru saja ia kenal, tapi Paidi sudah mengenalkan diri dan jujur tentang masa lalunya. Setelah beberapa kali membeli bakso dan akrab dengan Paidi, Alya memutuskan bahwa lelaki tua kurus ini orang yang dapat dipercaya. Tentu saja Paidi tidak pernah mengatakan kalau dia adalah mantan napi sehingga memperoleh kepercayaan Alya.
Paidi memang orang asing bagi keluarga Alya, tapi mungkin akan lebih baik menyewa orang asing yang benar – benar membutuhkan pekerjaan daripada membiarkan pria brengsek seperti Pak Bejo merajalela di rumahnya. Masa lalu Paidi yang masih simpang siur, memang membuat Alya sedikit merasa was – was, tapi pada dasarnya setiap orang bisa berubah, kenapa tidak memberi kesempatan pada orang ini untuk membuktikan kesungguhannya bekerja pada Alya dan keluarga? Tentu saja Paidi tidak lantas dengan mudah menceritakan masa suramnya ketika harus mendekam di bui. Ia sengaja menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri, karena kalau sampai Alya tahu, sudah pasti dia tidak akan bekerja bagi ibu muda yang seksi itu lagi.
Karena berbagai pertimbangan pula, Alya meminta Paidi tinggal di kamar pembantu yang ada di kebun belakang, sebuah kamar yang terpisah dari rumah utama.
###
Paidi bersiul sambil membilas Toyota Avanza milik Alya dengan riang gembira. Lagu – lagu ceria ia dendangkan dengan siulan merdu. Ia akan membuat mobil ini bersih dan cantik seperti majikannya. Panasnya terik matahari yang bersinar tak membuat mantan napi itu gerah, ia bahagia sekali bisa bekerja sebagai supir pribadi Alya. Walaupun baru memperoleh pekerjaan itu selama beberapa hari, tapi Paidi berniat akan menjadikan pekerjaan ini pekerjaan terakhirnya. Kalaupun gagal dan dipecat, paling tidak sekali dalam hidupnya ia bisa tinggal di rumah yang sama dengan wanita secantik Alya. Siapa yang tidak ingin selalu berada di dekat seorang wanita yang semolek bidadari?
Paidi bekerja dengan gembira, ia mengoleskan sabun, membilas, menyemprot dan membersihkan mobil dengan perasaan berbunga. Pekerjaan sudah hampir selesai ketika hari mulai siang.
Saat itulah sebuah suara serak mengagetkannya.
“Siapa kamu? Ngapain kamu di sini?”
Paidi berbalik ke belakang dan melihat sesosok tubuh gemuk menghampirinya. Ini dia orangnya, Bejo Suharso. Orang yang ia lihat malam itu, preman kampung yang meniduri Alya di pos kamling tempo hari. Orang yang telah membuat kehidupan Alya berubah menjadi neraka. Pandangan kedua laki – laki itu segera beradu, tapi karena teringat statusnya sebagai orang baru, Paidi memilih untuk mengalah. “Nama saya Paidi, Pak. Saya supir baru di sini.”
“Supir baru?” Pak Bejo mulai gelisah, kenapa Alya menyewa supir baru? Apakah dia dengan sengaja hendak menyingkirkannya? Dasar lonthe tidak tahu diri! Sudah diberi kenikmatan malah mau membuangnya begitu saja! Perek itu harus diberi pelajaran! Pak Bejo berkacak pinggang, “ohhh… kalau begitu perkenalkan, nama saya Bejo Suharso. Saya tinggal di dekat sini.”
Kedua orang itu bersalaman dan memegang tangan masing – masing dengan sangat erat. Entah siapa yang memulai, keduanya beradu kuat saat bersalaman, seakan menunjukkan siapa yang memegang kendali. Pak Bejo kaget juga melihat kekuatan Paidi, ia tidak mengira supir kurus itu akan membalas jabat tangannya dengan sekuat tenaga.
“Kalau butuh apa – apa, bilang saja sama saya. Saya sudah sering bantu – bantu kok.” Kata Pak Bejo. “Keluarga Pak Hendra sudah saya anggap keluarga sendiri.”
“Iya Pak.” Walaupun kurus, Paidi tidak kalah kuat dibanding Pak Bejo. Supir baru Alya itu cuma nyengir sewaktu Pak Bejo menegangkan rahang tanda geram sambil menarik tangan dengan kasar.
###
Alya mendesah di ruang kerja, ia menatap layar netbooknya dengan malas. Pekerjaannya menumpuk. Ia memang sudah menduga perawatan Hendra di rumah sakit akan memakan banyak biaya dan waktu, tapi ia tidak menduga pekerjaannya yang tertunda akan menumpuk begitu banyaknya. Alya meregangkan tangannya ke atas, lelah sekali rasanya. Ah, seandainya saja Mas Hendra mau memijatnya…
Satu tangan gemuk tiba – tiba saja meraih pundak Alya dan mulai memijit bahunya yang pegal. Awalnya Alya mengerang lirih karena keenakan, tapi lalu terdiam saat tahu siapa yang datang.
“Capek ya, sayang? Tenang saja. Akan kubuat tubuhmu rileks supaya nanti malam bisa melayaniku sampai pagi.” Kata Pak Bejo sambil menurunkan kepala tepat di samping kepala Alya, tak lupa pria tua itu menyunggingkan senyum menjijikkan. Sambil terkekeh, Pak Bejo mengecup pipi Alya yang halus.
Alya berontak ketika ia sadar siapa yang datang. “Tidak perlu. Terima kasih. Pekerjaan saya banyak sekali hari ini. Pak Bejo ada perlu apa? Kenapa masuk ke ruang kerja saya? Jangan lupa sekarang ada Mas Hendra di rumah ini! Pak Bejo tidak boleh berbuat seenaknya lagi!” Alya berdiri dan melangkah menjauh dari Pak Bejo. Walaupun tubuhnya bergetar karena takut, tapi untuk pertama kalinya sejak diperkosa, ia berani melawan.
Pak Bejo geram, wajahnya memerah karena marah. “Begitu ya sekarang? Berani kamu melawan? Dasar lonthe! Habis manis sepah dibuang! Setelah semua jasa – jasaku selama ini, kamu berani – beraninya menyewa seekor anjing untuk menjaga rumahmu!?”
Ingin muntah rasanya Alya mendengar Pak Bejo memaki-makinya dan mengungkit-ungkit jasa yang sebenarnya tak ada artinya dibandingkan perlakuan kasarnya pada Alya. Tapi ibu muda yang cantik itu menahan diri dan berpura – pura bodoh. “Apa maksud Pak Bejo? Menyewa siapa?”
“Siapa laki – laki yang sedang mencuci mobil di luar?”
“Mas Paidi maksudnya?”
“Kenapa kamu menyewa supir baru?”
“Saya butuh supir.”
“Buat apa? Kan ada saya?”
“Saya butuh supir yang bisa mengantar Opi dan Mas Hendra kapan saja dibutuhkan. Pak Bejo belum tentu ada setiap hari. Lagi pula…”
Pak Bejo mendengus. “Aku tidak suka orang itu. Kamu pecat saja.”
Alya mengerutkan kening dengan marah. “Pak Bejo! Saya memang sudah Bapak peras habis – habisan, luar dalam, tapi saya tidak mau Pak Bejo mendikte apa yang boleh saya lakukan dan apa yang tidak! Saya bukan budak! Paidi saya sewa karena Mas Hendra masih belum kuat menyetir sendiri! Siapa yang akan mengantarkan Opi? Siapa yang akan merawat mobil? Saya…”
PLAK!!
Bekas tangan memerah terasa perih di pipi Alya.
“Lonthe tidak tahu diri!” geram Pak Bejo mendekati Alya. “Kalau aku bilang pecat ya pecat! Susah amat sih!”
Titik airmata siap menetes di pelupuk mata Alya, tapi istri Hendra itu berusaha tegar. Ia tidak akan mau lagi menjadi bulan – bulanan laki – laki bejat ini. Semua kejadian pahit yang telah menimpanya adalah karena ia dan suaminya menaruh kepercayaan terlalu besar kepada preman kampung ini untuk bisa keluar masuk rumah mereka. Hal itu tidak boleh diteruskan dan tidak boleh terjadi lagi! Cukup sudah!
“Pak Bejo…” desis Alya dengan segenap kekuatan, suaranya terdengar bergetar karena menahan diri dari rasa takut yang amat dalam. “Saya ingin Bapak segera keluar dari ruang kerja ini dan…”
Pak Bejo tidak tahan lagi. Dengan geram ia mendorong tubuh lemah Alya ke dinding. Pak Bejo menekan kedua tangan Alya di belakang punggungnya sendiri. Karena eratnya tekanan Pak Bejo, kedua tangan Alya terkunci dan tidak mampu digerakkan. Setelah tubuh molek Alya terkunci, Pak Bejo lantas menjepit leher Alya dengan lengannya yang gemuk. Istri Hendra itu tidak bisa bergerak. Ia mencoba berontak untuk melawan tapi sia – sia saja, tenaga mereka tidak sebanding. Perbedaan kekuatan jelas terlihat. Pak Bejo telah mengunci tubuhnya.
“Baiklah, manis. Aku tidak tahu sejak kapan kamu punya keberanian untuk melawanku. Apalagi kamu cantik sekali kalau sedang marah. Tapi…” Pak Bejo berbicara dengan nada pelan namun penuh ancaman. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Alya, si molek itu bahkan bisa merasakan hembusan nafas berat dan bau yang keluar dari hidung dan mulut Pak Bejo, “aku tidak akan mengulang lagi semua yang aku katakan, jadi aku ingin kamu mendengarkan aku baik – baik. Setuju?”
Alya mengangguk lemah.
Pak Bejo tersenyum menghina. Ia mencoba mencium bibir Alya, namun ibu rumah tangga yang cantik itu tidak mau membuka mulut, ia terus meronta dan menolak. Sayang desakan lengan Pak Bejo di leher sangat menyesakkan nafasnya, mau tak mau Alya merintih kesakitan. Ketika mulutnya membuka sedikit, lelaki tua gemuk itu langsung menempelkan bibirnya di bibir mungil Alya. Pak Bejo bahkan menggigit kecil bibir bawah wanita cantik yang hanya bisa meringis kesakitan itu.
“Besok…” kata Pak Bejo dengan suara berat setelah puas menciumi bibir Alya, “aku ingin tikus kurus itu mengepak semua barang – barangnya dan meninggalkan rumah ini. Aku tidak peduli bagaimana caranya kamu menyuruhnya pergi, yang penting aku tidak mau melihat muka jeleknya di tempat ini lagi! Mengerti?”
Alya diam, ia tidak menjawab.
Pak Bejo mendengus, ia mengecup bibir Alya beberapa kali lagi. “Huh. Alya… Alya… apa sih hebatnya orang itu sampai – sampai kamu mempertahankannya mati – matian? Memangnya dia itu siapa kamu? Jangan – jangan kamu juga sudah tidur sama dia? Dasar lonthe… sopir sendiri juga mau.”
Alya meronta lagi dan membelalakkan mata dengan marah. Ia geram namun tak bisa mengeluarkan kata – kata karena lehernya ditekan sangat keras oleh lengan Pak Bejo. Matanya berlinang, air matanya siap tumpah kapan saja.
“Aku kangen sama bibir kamu yang mungil itu. Bukan bibir atas lho, tapi bibir bawah. Ha ha ha ha!” kata Pak Bejo sambil tertawa terbahak. “Nanti malam semprot pakai parfum biar wangi, aku mau pakai kamu sampai pagi! Ha ha ha!”
“Apa ada masalah di sini?”
Terkejut dengan suara yang tiba – tiba saja muncul dan mengagetkannya, Pak Bejo melepaskan kuncian pada Alya. Setelah berhasil lepas, Alya langsung menghempaskan diri ke sofa yang berada tak jauh darinya dan terbatuk, ia duduk sambil berusaha menenangkan diri, nafasnya terasa sesak sekali. Alya memicingkan mata dan menahan lehernya yang sakit. Si cantik itu mencoba melihat siapa yang datang… Mas Hendrakah?
Bukan! Ternyata Paidi!
“Heh, supir! Mending kamu urus urusanmu sendiri! Apapun yang aku omongin sama Bu Alya sama sekali bukan urusanmu! Tahu!?” bentak Pak Bejo sambil melotot.
Paidi hanya tersenyum melihat pria bertubuh gempal itu membentaknya, mantan napi itu jelas bukan orang yang mudah digertak, ia menjawab bentakan Pak Bejo dengan tenang. “Bu Alya itu majikan saya. Tentunya sebagai karyawan yang baik dan mengabdi, saya tidak ingin ada hal – hal yang buruk menimpa beliau.” Pandangan mata Paidi menusuk tajam ke arah Pak Bejo. Keduanya saling menatap, siap mengeluarkan pukulan. Suara Paidi berubah menjadi geram, wajahnya mengeras. “Bukan begitu, Pak Bejo?”
Alya ketakutan sekaligus bingung melihat situasi ini, keributan sedikit apapun akan mengundang perhatian Mas Hendra yang sedang berisitirahat walaupun kamarnya jauh dari ruang kerja Alya, kedatangan Mas Hendra kemari saat itu adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan. Ia tidak ingin Hendra tahu perbuatan bejat Pak Bejo kepadanya selama ini. Alya mendorong Paidi dan Pak Bejo yang sudah sangat dekat dan saling mengancam agar menjauh satu sama lain. “Sudah! Sudah! Kalian bisa membuatku gila kalau begini caranya, tolong pelankan suara kalian! Mas Hendra dan Opi ada di dalam! Kalau kalian mau ribut, bukan di sini! Jangan sekarang!”
“Baiklah.” Pak Bejo mendesah, “tapi kalau boleh aku memberi usul, lebih baik supir baru ini diberi pelajaran tambahan soal tatakrama, Bu Alya. Apalagi di kampung kita dia bukan siapa – siapa. Aku tidak ingin ada hal – hal yang buruk menimpanya. Kecelakaan sering terjadi di wilayah ini.”
Paidi menggemeretakkan gigi dengan geram, dia tahu itu ancaman, tapi melihat wajah Alya yang menatap mereka khawatir, dia diam saja. Demi majikan yang sangat ia kagumi, Paidi mengalah.
Pak Bejo melangkah dengan penuh kemenangan meninggalkan ruang kerja, dengan sengaja ia menyenggol pundak Paidi sambil meringis menantang. Pak Bejo berjalan keluar rumah dengan bersiul – siul santai.
Tetes air mata mulai leleh di pipi Alya. Betapa lelahnya ia dengan semua ini, betapa inginnya dia lepas dari semua masalah yang membebani pikirannya. Perih pula rasanya tamparan Pak Bejo yang masih terasa menyengat di pipinya.
“Maaf kalau saya lancang, Bu. Tapi tadi saya sudah mencuri dengar percakapan Ibu dengan Pak Bejo, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Paidi dengan lembut. “Benarkah…”
Alya kaget mendengar pertanyaan nekat dari supirnya itu, ia bangkit dan mengusap air matanya yang menetes. Wajahnya yang cantik berubah menjadi ketus, “Dengar baik – baik, Mas Paidi. Aku ingin kamu tahu kalau aku bisa mengatasi semua persoalanku sendiri. Aku tidak suka karyawanku tahu rahasia – rahasiaku, jadi lebih baik kau lupakan semua yang kamu dengar hari ini, atau besok kamu angkat barang – barangmu dan pergi dari rumah ini! Mengerti?”
Paidi kaget, tapi ia lalu tersenyum lembut karena tahu tentunya saat ini Alya sedang kacau dan sangat kalut. Wanita jelita itu tentunya masih sangat terbawa emosi. “Saya tidak berani lancang. Tentu saya tahu apa yang harus saya lakukan, Bu. Saya tidak akan mengungkit kejadian ini lagi di masa mendatang. Ibu bisa percaya pada saya.”
“Bagus!”
Alya meninggalkan Paidi sendiri, ia berjalan keluar dengan langkah tegas, tapi getaran kaki Alya tidak bisa mengelabui Paidi.
Pria tua itu duduk di sofa dengan tenang sambil menatap kepergian majikannya yang jelita. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi besok, ia harus menolong si cantik itu lepas dari genggaman Pak Bejo yang bejat. Kalaupun ia harus dipecat karena usahanya, ia tidak akan menyesal karenanya.
Ia harus melakukannya, karena sejak melihat Alya di Pos Kamling malam itu, Paidi telah jatuh cinta.
Ia akan melawan Pak Bejo. Demi Alya.
###
Alya ambruk di ranjang kosong di dalam kamarnya dan menangis tersedu – sedu. Bagaimana caranya dia bisa lepas dari semua ancaman Pak Bejo? Dia tidak ingin disakiti lagi, dia tidak ingin diperkosa setiap hari. Tapi kalau dia nekat melawan Pak Bejo, dia khawatir akan keselamatan Opi dan Mas Hendra, belum lagi di rumah ini juga ada Anissa dan Dodit. Preman kampung seperti Pak Bejo selalu mengancam keselamatan keluarganya, oleh karena itu Alya tidak berani berbuat gegabah. Apa dia harus pindah rumah? Alasan apa yang sebaiknya disampaikan pada Hendra agar mereka bisa pindah dari lingkungan ini tanpa membuka semua nista yang telah ia perbuat? Bagaimana caranya meyakinkan Mas Hendra agar pindah ke tempat lain tanpa membuka aib bahwa istrinya sendiri telah diperkosa?
“Kamu kenapa?”
Alya berbalik, ia terkejut mendengar suara itu… suara Mas Hendra!
“Mas?”
Di hadapan Alya, Hendra yang sedang duduk di atas kursi rodanya tengah menyantap setangkup roti tawar dengan keju, ia baru saja kembali dari ruang tengah menonton acara TV kesukaannya. Walaupun wajah Hendra masih ketus dan sepertinya acuh tak acuh, tapi Alya senang sekali! Ini pertama kalinya sejak mereka pulang ke rumah suaminya mau menyapa!
“Kamu sudah lebih baik, Mas?” tanya Alya dengan semangat, “akan aku buatkan lauk untuk makan ya. Sepertinya Mas sangat lapar…”
“Aku tadi tanya kamu kenapa.” Nada suara Hendra sama sekali tidak enak didengar, ketus dan keras.
“A – aku tidak apa – apa… mungkin hanya kecapekan.” Jawab Alya dengan gugup.
“Ya sudah.” Hendra mengayuh roda kursinya dengan tangan, berbalik, dan meninggalkan Alya sendirian saja di kamar.
Alya menatap kepergian suaminya dengan wajah sendu.
“Mas…?”
Tidak ada jawaban, Hendra telah pergi tanpa mempedulikannya.
Alya menundukkan kepala. Tubuhnya ambruk ke lantai dan ia kembali menangis tersedu – sedu. Kenapa di saat satu hal kacau, yang lain juga jadi ikut berantakan?
###
Alya meregangkan tangannya yang pegal. Saat ini ia sedang duduk di kursi yang berada di beranda halaman belakang rumah, tempat yang langsung menghadap ke kebun belakang. Kebun belakang ini cukup luas dan dikitari oleh tembok tinggi yang mengisolasinya dari tetangga sekitar, tidak akan ada tetangga yang bisa melihat keadaan di kebun Alya yang asri. Hijaunya tanaman, harum wangi bunga yang semerbak, burung yang berkicau dan selintas hinggap, serta langit yang biru cerah, membuat suasana hati Alya lebih riang dari biasanya.
Hari ini wanita cantik yang juga seorang wanita karir itu sedang libur. Dodit dan Anissa pergi mengantarkan Mas Hendra check – up rutin di rumah sakit sedangkan Opi sudah diantar Paidi ke sekolah. Akhirnya ia bisa istirahat sebentar tanpa gangguan dari siapapun. Setelah beberapa saat melihat suasana kebun belakang yang menyejukkan, ibu muda yang jelita itu memutuskan untuk melakukan senam sebentar. Semua stress yang harus ia hadapi membuatnya lelah, ada baiknya dia melepas semua penat dengan berolahraga.
Alya mengenakan tanktop putih ketat yang menampilkan kemolekan lekuk tubuhnya, tanktop mungil itu hampir – hampir tidak sanggup menahan kemontokan buah dada Alya yang ukurannya cukup lumayan, ia memang sengaja mengenakan tanktop agar bisa lebih rileks berolahraga, karena ketatnya tanktop, Alya sengaja tidak mengenakan bra. Selain tanktop, sebuah celana ketat pendek yang juga berwarna putih ia kenakan agar lebih mudah bergerak. Paha Alya yang putih mulus bagai pualam terlihat sangat seksi dalam balutan seadanya celana mini yang sangat ketat itu.
Hari ini ia tahu tidak akan ada seorangpun yang bisa masuk ke rumah, termasuk Pak Bejo yang tengah pergi keluar kota karena ada urusan keluarga, jadi ia benar – benar sedang sangat bebas. Itu sebabnya dia berani mengenakan baju ketat ini.
Sambil memasang headset di telinganya, Alya menyalakan IPod untuk memutar lagu sembari ia berolahraga. Untuk beberapa saat lamanya, Alya berlari di tempat atau memutar kebun, melakukan peregangan badan, lalu berlari lagi, senam sebentar, angkat berat sedikit, meregangkan badan lagi, lalu berlari lagi. Ia melakukannya berulang kali, lebih lama dari waktu yang dianjurkan.
Seandainya ada orang yang melihat, mereka pasti akan heran melihat olahraga yang dilakukan Alya. Ada kesan kalau si cantik itu tidak hanya sekedar melakukan olahraga namun mendorong kemampuannya melebihi batas maksimal, seakan hendak menghukum diri sendiri entah atas alasan apa. Dampaknya jelas terlihat, karena memaksakan diri, keringat mulai deras mengalir di pelipis Alya, jauh lebih deras dari keringat biasa. Nafasnya kembang kempis dan tidak teratur, jantungnya juga berdebar lebih kencang.
Alya tidak mau tahu dengan kondisi badannya yang mulai tidak karuan, ia makin memaksakan diri. Ia hanya menganggap kalau itu semua terjadi hanya karena akhir – akhir ini ia jarang berolahraga. Sayangnya ia lupa kalau manusia tetap punya batasan. Tubuhnya terlalu lemah dan pikirannya sudah terlalu lelah. Ia tidak sadar kalau ia belum mampu berolahraga seberat itu.
Perlahan, Alya makin lemah. Badannya makin susah digerakkan. Pandangan matanya kian berkunang – kunang, semuanya jadi kabur. Kepalanya juga sangat berat dan pusing sekali. Entah kenapa rasanya Alya ingin tidur saat ini juga.
Lalu semuanya gelap.
Alya pingsan di kebun rumahnya.
###
Alya mencoba membuka matanya, tapi rasanya berat sekali. Ia mendengar suara seseorang memanggilnya. Di mana ini? Kenapa berat sekali rasanya bangkit dari tidur? Tunggu dulu… ini bukan tempat tidurnya, ia tidak sedang berada di ranjang, ia sedang berada di rerumputan… ia sedang berada di kebun! Ya! Alya ingat sekarang! Dia tadi pingsan karena kelelahan!
Perlahan fokus Alya mulai kembali, matanya terbuka perlahan, sinar terang seperti menembus ke dalam batok kepalanya, nyeri sekali. Untungnya Alya tidak perlu membuka mata terlalu lebar untuk tahu siapa yang datang.
“Bu Alya? Ibu tidak apa – apa?” tanya Paidi khawatir, keringat yang mengalir di tubuh Alya adalah keringat dingin. Paidi mengetahuinya ketika ia mencoba mengusap keringat yang menetes di dahi majikannya dengan menggunakan punggung tangannya. Paidi merinding ketika merasakan betapa lembut dan halusnya kulit wajah Alya. Paidi mengulang pertanyaannya ketika Alya tak segera menjawab pertanyaannya. “Ibu tidak apa – apa? Ibu bisa bangun?”
Alya mencoba bangun dan menggelengkan kepala, namun ia tidak tahan dan berbaring lagi. “Ohh, pusing sekali.” Keluhnya.
“Ibu berbaring saja. Biar saya yang membawa Ibu ke kamar!”
“Ti – tidak usah! A – aku…” belum sempat Alya menolak, Paidi sudah mengangkat tubuh Alya dan menggendongnya masuk ke dalam rumah utama. Kaget juga Alya melihat kekuatan sesungguhnya dari supir tua yang terlihat kurus, lemah dan keriput ini. Dengan sekali angkat, tubuh indah Alya sudah digendongnya. Karena lemah dan tak mampu bergerak, Alya hanya bisa mengalungkan tangannya di leher Paidi. Untuk pertama kali, tubuh keduanya bersentuhan dengan sangat dekat.
Alya bisa merasakan kerasnya kulit Paidi yang berwarna gelap. Nafas pria perkasa yang sedang menggendongya terasa hangat menerpa wajah Alya. Mau tak mau Alya membuka mata dan menatap langsung wajah keras supirnya yang sudah mulai keriput. Paidi hanya mengenakan kaos yang tipis, liatnya kulit sang lelaki jantan itu membuat Alya merinding. Ia salah menduga, ia mengira supirnya itu adalah seorang pria lemah. Kini, dalam gendongannya, Alya merasa terlindungi dan mendapat kehangatan yang selama ini ia cari dari sosok suaminya, perlindungan dan rasa hangat yang sudah lenyap dari Mas Hendra. Eh, apa yang dia pikirkan? Alya memejamkan mata lagi. Gara – gara pingsan, pikirannya melantur kemana – mana!
Gejolak semangat Paidi bangkit ketika mencium harum wangi tubuh Alya. Paidi semakin kagum, tidak hanya cantik, Alya ternyata juga sangat harum. Namun yang membuat gairah kelelakiannya tak kuat bertahan adalah mulusnya paha Alya yang memang jenjang dan luar biasa indah. Sebuah kaki yang pas bagi tubuh yang sangat sempurna. Ia berusaha keras agar keindahan wanita yang sedang ia gendong tidak membuatnya kehilangan fokus. Ia harus tetap bertahan dan mengantarkan Alya ke kamar, jangan sampai jatuh hanya gara – gara tergiur kemolekan majikannya… tapi… ini benar – benar di luar dugaan Paidi, Alya mengalungkan tangannya di leher Paidi dan bergantung sepenuhnya kepadanya. Dada Alya yang montok dan tidak mengenakan bra itu kini menempel seutuhnya di dada Paidi! Dada Bu Alya! Dada yang selama ini ia impikan! Paidi meneguk ludah, toh ia lelaki biasa. Merasakan kenyalnya payudara Alya menempel di dadanya membuat lututnya ngilu, kalau saja tidak ingat situasinya, Paidi bisa – bisa ikut pingsan karena pelukan Alya ini!
Dengusan nafas Paidi yang kian menguat membuat Alya sedikit tidak enak, jangan – jangan Mas Paidi malu karena pakaian ketat yang ia kenakan? Apalagi dia tidak mengenakan BH! Habisnya… dia tidak mengira dia akan pingsan! Kalau dia tahu dia tidak akan mengenakan baju dan celana yang ketat dan minim seperti ini! Tapi ya sudahlah, tidak apa – apa, untuk kali ini saja. Apalagi Mas Paidi juga sudah menolongnya.
Akhirnya Paidi meletakkan Alya di pembaringannya yang kosong.
Alya menderu nafasnya yang masih tak teratur, begitu juga Paidi, walaupun untuk alasan yang lain.
“Te… terima kasih.” Kata Alya malu – malu. Ia mencoba tersenyum, wajahnya yang cantik mulai memerah kembali setelah sempat pucat selama pingsan tadi. “Aku khilaf. Berolahraga terlalu berlebihan, padahal tubuhku lemah karena tidak pernah berolahraga. Jadi merepotkan Mas Paidi saja…”
“Tidak apa – apa, Bu.” Paidi menundukkan kepala, ia tidak berani menatap langsung ke arah Alya, takut dia akan terpesona. Dia takut akan menubruk tubuh gemulai yang sangat menggiurkan itu dan memperkosanya saat ini juga. Tidak. Dia tidak boleh jatuh ke dalam perangkap nafsu seperti Pak Bejo. Alya terlalu indah untuk disakiti. Dengan suara lemah Paidi menjawab. “Sudah menjadi tugas saya sebagai karyawan ibu.”
Alya masih tersenyum, Paidi dan Pak Bejo memang dua orang yang sangat berbeda. Entah kenapa Alya jadi membandingkan Paidi dan Pak Bejo, dalam bayangannya, mereka adalah dua sisi mata koin yang berlawanan dilihat dari kelakuan keduanya yang sangat berbeda. Dan lihatlah pria ini! Begitu lembut dan sopan dalam pembawaannya yang sederhana. Mungkin itu sebabnya Alya jadi semakin tertarik pada sosok Paidi yang bersahaja. Wajahnya buruk, usianya lanjut, kulitnya gelap, tubuhnya kurus namun dia sangat kuat dan lebih penting lagi, berpikiran lurus.
“Mas… boleh saya minta tolong lagi?”
“Iya, Bu?”
“Tolong ambilkan minum di…”
“Oh iya! Maaf jadi lupa! Segera saya ambilkan!” Paidi yang tadi sempat khawatir pada kondisi Alya jadi lupa diri karena terpesona kemolekan sang majikan. Ketika teringat kalau tadi Alya pingsan iapun jadi malu sendiri. Bukannya merawat malah memperhatikan lekuk – lekuk tubuh majikannya! Dasar tidak tahu diri! Bergegas Paidi menuju dapur, mengambil segelas air putih dari dispenser, meletakkannya di tatakan lalu membawanya ke kamar Alya. “Ini Bu, maaf saya tadi…”
“Tidak apa – apa, Mas. Saya sudah enakan kok. Kalau nanti sore masih lemas, saya minta diantarkan ke dokter saja.”
“Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu. Kalau ada apa – apa, panggil saya saja.”
“Iya, Mas. Terima kasih banyak.”
Paidi beranjak keluar kamar dan mengelus dadanya. Ia tidak sanggup lagi berlama – lama di kamar hanya berdua saja dengan sang bidadari. Kalau saja tadi pikiran jahatnya kambuh, ia pasti sudah menubruk Alya dan menelanjanginya! Ah, betapa senangnya hati Paidi ia sudah berhasil mengalahkan nafsunya sendiri… tapi… Alya memang benar – benar seorang dewi. Sangat cantik, seksi dan luar biasa mempesona. Dengan hati gembira mantan narapidana itu melangkah menuju kamarnya yang berada di kebun belakang.
Sementara itu, di dalam kamar, hati Alya menjadi berdebar tak menentu saat sosok tubuh Paidi berjalan keluar. Kenapa… kenapa ia jadi seperti ini? Kenapa rasanya ia ingin terus berada dalam pelukan hangat Paidi? Kenapa ia ingin selalu bersamanya? Kenapa rasanya ia tidak rela Paidi meninggalkannya sendiri dalam keadaan lemah? Tubuh Alya bergetar ketika ia mencoba melawan perasaannya sendiri yang tidak masuk akal itu, ia tidak ingin semua ini terjadi… tapi jangan – jangan… apakah ia sudah mulai tertarik pada supirnya sendiri? Ah tidak mungkin! Ia tidak akan pernah mengkhianati Mas Hendra, apalagi untuk seseorang seperti Paidi! Hilangkan jauh – jauh pikiran kotor itu!
Dengan geli Alya menggelengkan kepala. Ini pasti gara – gara pingsan tadi, pikirannya jadi kacau dan berkeliaran dengan liar.
Alya meminum air putih, memejamkan mata dan berusaha beristirahat.
###
“Haaaaaaaahhh!!!”
Hendra terbangun dari mimpi buruknya dan hampir saja terlempar karena terbangun dengan kaget. Ia mengambil handuk kecil dan menyeka keringat yang turun deras di dahinya. Nafasnya terengah – engah, berulangkali ia batuk kecil dan susah mengatur beratnya nafas. Tangannya mencengkeram erat gagang kursi rodanya ketika ia menatap foto pernikahannya dengan Alya yang ada di atas meja rias.
Hendra mendengus kesal, ia tidak akan pernah memaafkan Alya. Ia tidak akan pernah memaafkan Pak Bejo. Ia tidak akan pernah memaafkan siapa – siapa lagi! Tidak akan pernah!! Tidak akan pernah!!
Air matanya perlahan turun, ia tahu laki – laki sejati tak akan menangis, tapi hatinya begitu sakit, hatinya sangat terluka. Kenapa ia harus melihat secara langsung kemesraan antara Alya dan Pak Bejo? Kenapa? Kenapaaaa??
###
Jantung Alya berdegup kencang ketika ia sudah sampai di depan pintu kamar Paidi. Sendok dalam piring yang ada di tangannya sampai berderak kencang karena tangannya yang gemetar. Kenapa dia takut? Atau mungkin ini bukan rasa takut? Jangan – jangan ini gairah? Gairah yang sudah lama sekali tidak ia rasakan sejak pertama kali bertemu dengan Mas Hendra? Gairah yang sama ia rasakan ketika mereka pertama kali kencan, menikah atau bercinta? Kenapa dia merasa takut dengan gairah ini? Dia hanya mengantarkan roti kepada sopirnya. Kenapa dia harus takut?
Tangan mungil Alya pelan mengetuk pintu kamar Paidi.
Sosok kurus hitam yang ia tunggu akhirnya membukakan pintu. Karena tidak menduga Alya akan datang ke kamarnya, Paidi hanya berpakaian seadanya, ia tidak mengenakan baju dan hanya memakai celana pendek ketat.
“Ah, Bu Alya? Ada apa ya, kok malam – malam begini? Ibu mau saya antar keluar? Sebentar, Bu… saya ganti pakaian dulu…”
“Ti… Tidak usah, Mas. Tidak perlu, saya tidak mau keluar kok,” kata Alya. “Saya hanya ingin mengantar roti ini untuk Mas Paidi.”
“Terima kasih, Bu.” Jawab Paidi sambil meraih kemeja yang ada di atas kursi. Kemeja itu sebenarnya sudah dicuci, namun belum disetrika, ia memakainya karena tidak enak berhadapan dengan Alya dengan bertelanjang dada. Setelah memakai baju, Paidi menerima roti pemberian Alya dengan sangat berterima kasih.
“Boleh saya masuk?”
Pertanyaan itu mengagetkan Paidi, tapi Alya kan majikannya? Ia berhak masuk ke ruang mana saja di rumah ini. “Bo… boleh saja, Bu. Tapi kamar saya masih berantakan. Belum sempat dirapikan.”
“Ah, tidak apa – apa.” Alya pun masuk ke kamar Paidi setelah sopirnya itu mendahului untuk merapikan beberapa bagian kamar. “Se… sebetulnya saya kemari karena saya ingin berterima kasih pada Mas Paidi yang telah membantu saya beberapa hari yang lalu sewaktu saya pingsan di kebun.” Kata Alya sambil menyerahkan roti kepada Paidi.
“Lho, itu kan sudah tugas saya, Bu. Tidak perlu repot – repot seperti ini.”
“Terima kasih juga karena telah mengusir Pak Bejo malam itu.” Lanjut Alya dengan suara yang lirih.
“Ahhh…” Paidi menghela nafas. Ia meletakkan piring roti di meja, menarik sofa kecil dan mempersilahkan Alya duduk. “Pak Bejo sebenarnya patut diberi pelajaran karena telah bertindak kurang ajar terhadap Ibu. Kenapa tidak dilaporkan saja kepada Pak Hendra, Bu?”
Alya menggeleng dan tersenyum, “Mas Hendra sudah punya masalah yang jauh lebih berat dan menyita pikiran, kita tidak boleh membebaninya lagi. Aku juga tidak ingin Mas Paidi menceritakan peristiwa pingsannya aku di kebun kepada siapapun. Mengerti?”
“Mengerti.” Angguk Paidi. “Walaupun kalau menurut saya, preman seperti Pak Bejo tidak perlu diberikan kunci rumah ini.”
“Sebenarnya hanya Bu Bejo yang membuatku segan, Mas. Beliau sudah banyak membantu. Tanpa bantuan Bu Bejo, keadaan rumah ini pasti sudah berantakan.”
Paidi tiba – tiba terdiam. Dengan langkah pelan ia mendekati Alya, ia menatap wajah Alya dengan pandangan aneh, lama dan sangat lekat, membuat Alya menjadi tidak enak. “Kenapa, Mas? Ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Alya risih.
“Ibu baru saja menangis?”
Alya tertegun. Pasti gara – gara kantung matanya. Ia menunduk. “Iya.”
“Kenapa?”
“Tidak apa – apa.” Jawab Alya sambil tersenyum.
Walaupun senyum itu sangat manis bagi Paidi, namun kegalauan hati majikannya lebih penting. Ia membungkuk di depan Alya dan berlutut. “Bu. Saya ini sudah Ibu bantu lebih dari cukup. Ibu sudah mengangkat derajat saya dari orang tak punya apa – apa menjadi memiliki segalanya. Ibu sudah menolong mengembalikan harga diri saya… sekarang, saya mohon. Jika ada masalah, ibu bersedia menceritakannya kepada saya karena saya akan membantu ibu sekuat tenaga.”
Kembali Alya hanya tersenyum. “Terima kasih atas tawarannya, tapi benar kok. Saya tidak apa – apa.”
Paidi mendesah kecewa, tapi ia lalu berdiri dan mengangguk. “Mudah – mudahan begitu, Bu. Tapi kalau ada apa – apa, silahkan Ibu minta saya untuk melakukan apa saja karena pasti saya akan mengerjakannya.”
“Terima kasih.” Alya pun berdiri dan siap untuk kembali ke rumah utama. “Ya sudah kalau begitu, saya tinggal dulu ya, Mas?”
“Baik, Bu.”
Berat hati Paidi melihat Alya mengalami depresi dan menyimpannya untuk diri sendiri, seandainya bisa, dia ingin membantu, memeluknya dan memberinya kehangatan agar dia bisa merasa aman dan terlindungi.
Langkah Alya mendadak terhenti sebelum melangkah keluar kamar. Ia tidak berbalik namun dari gerak tubuhnya Paidi tahu kalau majikannya yang jelita itu gemetar mencoba menahan tangis.
“Bu…?” tanya Paidi sambil mencoba maju mendekati Alya.
“Semua yang aku lakukan salah. Mas Hendra tidak mau lagi bicara padaku, Pak Bejo selalu bersikap kurang ajar tanpa pernah mau berhenti, kakakku hilang entah kemana, adikku juga tidak bisa dihubungi. Semua yang aku lakukan salah, semuanya membuat aku bingung dan aku tidak ada tempat untuk menceritakannya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Apa yang harus aku lakukan, Mas?” kepala Alya menunduk dan ia menangis tersedu – sedu. Walaupun awalnya ragu untuk bercerita kepada sopirnya, Alya kini membuka semuanya karena dia sudah tidak kuat menahan beban hidupnya. Kepada siapa dia akan berterus – terang kecuali kepada Paidi yang pernah menolongnya mengusir Pak Bejo.
Paidi menutup pintu dan memberanikan diri memutar tubuh Alya berhadapan dengannya. Wajah cantik itu kini berlelehan air mata. Dengan gerakan reflek, Alya memeluk sopirnya. Ia menangis tersedu – sedu di dada kurus Paidi.
Awalnya Paidi terkejut karena tiba – tiba Alya memeluknya, namun karena ia tahu ibu muda yang cantik itu tengah dilanda dilema, iapun membiarkan saja Alya luruh dalam pelukannya tanpa mengembangkan pikiran mesum. Berulangkali Paidi harus mengusir pikiran kotor karena dada Alya yang ranum amat rapat di dadanya. Wangi harum rambut Alya membuat Paidi terbang ke awan. Dengan berani Paidi mengelus rambut Alya untuk memberikan ketenangan. Ia biarkan si cantik itu menangis tersedu hingga selesai.
“Mas…” desah takut Alya melantun manja di telinga Paidi. Indah sekali bunyinya. Ia ingin Alya terus memanggilnya dengan nada manja. Isak tangis Alya mulai reda. Ia menatap ke atas, ke arah mata Paidi yang menatapnya lembut.
“Bu Alya…” Paidi dengan berani mencium kening majikannya yang gemetar takut dan menggenggam jemarinya.
Tangan mereka kembali bersentuhan, jari jemari Paidi erat menggenggam tangan Alya. Terlalu lama dan terlalu hangat. Mereka sadar hanya ada satu jalan untuk menyudahi ini semua, terjun ke dalam nafsu atau pergi tanpa berpaling. Alya hanya terdiam, tapi bola matanya yang indah menatap tajam ke arah Paidi, sopir itu tentunya tidak akan melewatkan kesempatan yang ada di depan mata. Ia bergerak maju sedikit, lalu sedikit lagi, lalu lagi. Wajah mereka kini sudah sangat dekat hingga hanya seukuran kuku jari.
“Bu Alya sangat cantik… sangat cantik sekali… selama ini saya selalu membayangkan bisa bersama dengan Ibu…” batin Paidi dalam hati.
Bibir mereka akhirnya bertemu. Mata Alya tetap terbuka lebar pada awalnya, namun ketika lidah Paidi yang melumatnya mulai bergerak, ia memejamkan mata untuk menikmati ciuman dari sang sopir. Alya melenguh kecil dan membalas ciuman Paidi. Mereka berdua saling mencium dan melumat, lama sekali. Keduanya sudah jatuh dalam jebakan nafsu. Mulut dan lidah bekerja bersamaan hingga menimbulkan rangsangan kenikmatan.
Kali ini Paidi sudah membulatkan tekad. Ia tidak akan berhenti apapun yang terjadi! Ia sudah tidak tahan lagi. Tubuh Alya terlalu indah untuk dibiarkan begitu saja melenggang di depan matanya! Ia harus mencicipinya! Sekarang juga! Peduli amat kalau nanti dia bakal dipecat atau bahkan dipenjara! Biar bagaimanapun dia mencoba menahan diri, dia tetaplah seorang lelaki normal yang membutuhkan kehangatan seorang wanita dalam dekapannya. Godaan yang hadir dalam bentuk bidadari bernama Alya ini terlalu berat untuknya.
Tapi saat ini Alya dalam kondisi sadar. Ia tidak mau mengkhianati suaminya lagi. Ia sudah berdosa karena telah menerima Pak Bejo dan mau – maunya diperlakukan seperti budak. Tidak! Hal semacam itu tidak akan terulang lagi! Apa yang ia perbuat telah membuat Hendra semakin jauh dan ia tidak mau semakin terjerembab lebih dalam ke lembah nista! Ia ingin lepas dari semua masalah seperti ini, bukan malah terjun ke dalamnya! Alya akhirnya berusaha menjauh dari sang sopir.
Ketika Alya berusaha mendorong tubuh Paidi, ia baru teringat betapa kuatnya laki – laki yang terlihat kurus dan lemas ini. Alya dilanda dilema. Di satu sisi perasaan Alya berusaha mengingatkannya agar segera tersadar dari godaan dan teringat pada suaminya, namun sisi yang lain lagi – sisi yang lebih menuntut dan lebih kuat – mengeluarkan semua pancaran nafsu birahi yang selama ini ia simpan. Pria ini begitu kuatnya sehingga membuat fantasi Alya melayang, apakah mungkin lelaki tua ini bisa memuaskan hasrat dan… ah… Alya menggelengkan kepala. Tidak! Dia tidak mau terhanyut. Dia adalah wanita karir yang terhormat, ibu rumah tangga yang baik dan istri yang berusaha untuk setia. Ia ingin bangkit setelah semua yang ia alami dengan Pak Bejo, Alya tidak mau jatuh lebih dalam ke jurang nista dengan menyerahkan tubuh ke supirnya sendiri! Sungguh tidak pantas!
Paidi mengangkat dagu Alya, mulutnya turun ke bawah. Dengan satu gerakan, supir itu sekali lagi melumat bibir Alya.
Semua sisi kesadaran Alya hilang. Beradunya bibir mereka membuat sentakan luar biasa yang menghapus penolakan dalam tubuhnya yang haus kasih sayang. Ia balik mencium Paidi. Keduanya kini melupakan pikiran yang kalut dan membiarkan hasrat kebinatangan mengambil alih. Esensi diri terdalam yang hanya menuruti kenikmatan membuat keduanya lupa diri, melupakan status mereka sebagai supir dan majikan. Melupakan status sebagai istri dan ibu. Membiarkan tubuh mereka mereguk kenikmatan terlarang. Nafsu mengambil alih jati diri mereka.
Lidah Alya bergerak lentur dan luwes seakan memiliki nyawa, bagaikan ular yang melata. Lidahnya menyambut kedatangan lidah lawan dengan tumbukan dan lumatan penuh nafsu yang menggelegak hebat. Alya mengingkari perasaan dalam dirinya sendiri, perasaan bersalah yang tiba – tiba saja menghinggap. Ini… terlarang! Tidak seharusnya ia melakukan ini! Ia sudah menikah! Ia… ia… ia pernah diperkosa… dan…
Batin Alya berkecamuk. Mata Alya menutup dan perlahan membiarkan nafsunya menggelora. Ia ingin melawan, namun gejolak nafsu yang ditumpahkan oleh Paidi membuatnya takluk. Ciuman Paidi sangat memabukkan dan membuat pikirannya melayang. Alya bingung, kenapa tubuhnya justru pasrah ketika pikirannya sangat kalut, ia tidak sadar bahwa tubuhnya ingin dibelai, ingin disayang, ingin menikmati indahnya permainan cinta yang bukan karena terpaksa.
Sudah lama sekali rasanya ia tidak dicium seperti ini oleh Mas Hendra.
Mas Hendra! Suaminya! Astaga! Alya terbangun dari fantasinya. Ia sedang dicium oleh laki – laki yang bukan suaminya! Mata yang tadi terpejam mendadak terbuka. Wajah yang ada di hadapannya bukanlah orang yang seharusnya berhak menikmati keindahan tubuhnya! Alya tengah menatap wajah Paidi! Supirnya! Paidi sedang menciumnya! Begitu kesadaran menguasainya kembali, Alya mencoba bangkit dan berontak tapi tangan kuat Paidi mengingkari perlawanannya.
“Jangan Mas… suamiku…” tangan Alya menghalangi tangan Paidi yang mencoba meraih buah dadanya. Rasanya seperti mengangkat tiang besi yang berat, hangat tapi berat. Usaha Alya gagal, Paidi berhasil menangkup buah dada kanannya. Pria tua kurus itu segera meremas, memilin dan menggoyang payudara Alya dengan bebas. Tidak ada perlawanan berarti yang dilakukan Alya. Si cantik itu malah semakin mendesah tidak berdaya.
Alya kecewa pada dirinya sendiri yang tidak kuat menahan godaan. Semudah inikah dia takluk pada Paidi? Orang yang tak lebih adalah supirnya sendiri? Orang yang ia angkat menjadi supir setelah sering berlangganan baksonya? Orang asing yang tidak dia kenal asal – usulnya! Alya tidak ingin dikalahkan semudah itu… ia tidak ingin… ia tidak…
Lidah Paidi masuk ke dalam mulut Alya dan pikiran si cantik itu kembali melayang ke awan. Semudah inikah dia takluk?
Paidi merasa bangga pada dirinya sendiri karena Alya – istri Hendra majikannya yang cantik jelita dan tadinya setia itu kini mulai menyerah. Tangannya yang kurus dengan berani meremas buah dada Alya yang montok, Paidi meremas dan memilinnya tanpa perlu takut. Walaupun sudah berstatus sebagai seorang ibu dan sudah digauli dua orang laki – laki lain, Alya masih memiliki payudara yang kencang dan kenyal. Paidi sangat mengagumi tubuh Alya, ia merawat tubuhnya dengan baik.. Lekuk tubuhnya masih sangat indah dipandang, ramping dan seksi. Kulitnya juga sangat halus dan mulus, kulitnya yang seputih susu membuat kenikmatan lain dalam menggelegak dalam hati mantan napi yang sudah sejak lama tidak bercinta itu.
Payudara Alya yang indah itu sama sekali tidak melorot walaupun sudah dinikmati Hendra dan Bejo, bahkan menjadi sumber ASI bagi seorang anak yang sangat manis. Paidi menikmati keindahan susu Alya sesuka hati. Ia menangkup, meremas, menggoyang, menimang dan membelai buah dada sang nyonya rumah tanpa ada perlawanan berarti. Jari – jari Paidi yang kurus menyentil puting payudara Alya yang masih berada di balik kaos dan BH yang ia kenakan. Karena kaos tipis yang dikenakan Alya berwarna putih, BH berenda warna ungu yang ia pakai saat itu bisa terlihat dengan jelas. Sambil terus menggoyang payudara sang bidadari, Paidi memberanikan diri menggigit bibir bawah Alya dengan lembut.
Wanita jelita yang ada di dalam dekapan Paidi itu menggeliat, mencoba melawan untuk yang kesekiankalinya. Namun pria kurus berkulit hitam itu masih belum melepaskan ciuman ataupun remasannya. Untuk yang kesekian kalinya pula, Alya kembali takluk pada ciuman Paidi.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka berciuman dengan penuh nafsu.
Ketika Paidi akhirnya melepaskan remasan tangan pada susu Alya, si cantik itu masih tetap menghamba pada ciumannya. Tubuh Alya merinding dan menggigil karena tak kuat menahan nafsu. Paidi bukan orang bodoh, rangsangan hebat yang menaklukan Alya ini pasti berkat sentuhan ringan namun efektif pada pentil buah dada sang ibu muda. Sekali lagi Paidi meremas payudara Alya dan menggoyang puting payudaranya dengan jempolnya yang besar. Alya menggeram dan merintih, tubuhnya gemetar tersambar kenikmatan.
Alya mulai terengah – engah, ia kesulitan mengatur aliran nafasnya sendiri. Matanya yang tadi terpejam kini terbuka lebar, menatap pria yang bukan suaminya tengah menggumulinya dengan penuh nafsu. Bibirnya basah oleh lumatan bibir Paidi yang sedari tadi tak berhenti menciumnya, dadanya naik turun oleh nafsu birahi yang menggelora. Satu persatu pakaian Alya dilucuti tanpa ada perlawanan berarti. Ketika Paidi melepaskan BH dan menyisakan rok serta celana dalam, barulah wanita cantik itu kembali tersadar… ia sudah setengah telanjang dalam pelukan supirnya!
“Apa yang… apa yang telah aku lakukan?! Jangan!! Tidak! Aku tidak mau! Sudah…! Aku mohon! Kita sudah terlalu jauh dan… dan…” Alya kebingungan mencari kata – kata, ia tidak ingin mengucapkan kalimat vulgar yang hanya akan menambah nafsu Paidi. “Aku mencintai suamiku. Dia mencintai aku. Aku mohon… jangan tambah lagi dosaku…”
Tangan Paidi kini bisa menyentuh payudara Alya yang sudah telanjang. Alya menggeleng dan mencoba mendorong tangan sang supir. Usaha ibu muda itu tentu saja gagal, Paidi jauh lebih kuat dan Alya sama sekali tidak mengeluarkan tenaga, bahkan sepertinya dia menginginkan Paidi menyentuhnya! Dia ingin supir itu melanjutkan niatnya!
Payudara Alya segera tergenggam tanpa halangan oleh tangan buas Paidi. Diremas dan digoyangnya payudara istri Hendra yang jelita itu sesuka hati. Alya merintih tak berdaya, ia tak mampu mengontrol tubuhnya sendiri. Sensasi hangat serangan Paidi membuatnya tenggelam dalam kenikmatan dan tak ingin melawan. Yang dilakukan Paidi sama sekali berbeda dengan Pak Bejo yang memaksakan kehendak, Paidi membuat Alya keenakan sehingga justru Alyalah yang ingin meminta lebih. Alya berusaha melawan keinginan dirinya sendiri yang tidak tahan ingin segera membuka kaki lebar – lebar agar Paidi bisa memasukkan penisnya ke dalam… tidak! Alya tidak mau itu terjadi! Alya harus melawan!
Paidi menatap penuh pesona ke pentil susu Alya yang kini menjorok ke atas, benda mungil merekah itu seakan menantangnya. Sangat menggiurkan dengan warnanya yang gelap kecoklatan. Balon buah dada Alya bagaikan benda pusaka yang masih terawat rapi. Dia tak boleh membiarkannya sia – sia! Kepala Paidi segera turun ke bawah, bibirnya melumat tanpa ampun pentil susu yang sedari tadi terus menantangnya itu!
Alya melonjak kaget ketika mulut hangat Paidi menangkup puting payudaranya. Apalagi ketika bibir pria tua itu lalu mencium dan lidahnya menjilat seluruh balon buah dadanya! Akhirnya, tanpa dipaksa, Alya mendorong dadanya ke depan agar Paidi bisa lebih leluasa menikmati dadanya. Gigi Paidi bahkan menggigiti daerah ujung pentilnya, membuat sensasi kenikmatan menjalar dari dada ke seluruh tubuh, bahkan jari kaki Alya sampai merenggang karena keenakan!
“Oooooh!” lenguh Alya menahan nikmat.
Paidi menyeringai dan menggerakkan giginya dengan tenaga. Paidi bisa merasakan tubuh Alya yang gemetar dan menggelinjang karena rangsangan hebatnya pada puting susunya. Dengan sigap lidah Paidi melingkari pentil yang masih menonjol keluar. Hal ini membuat Alya makin salah tingkah, tubuhnya melengkung ke belakang, matanya terpejam dan tanpa sadar wanita cantik itu menghunjukkan buah dadanya ke mulut sang supir yang terus merangsangnya.
Bertentangan dengan apa yang ia rasakan, Alya menggunakan kedua tangannya untuk terus mendorong tubuh Paidi agar segera melepaskan pelukannya. Akhirnya Paidi bersedia mundur sesaat, ia melepaskan pentil payudara Alya, lalu memperhatikan wajah Alya, menikmati kecantikannya. Mata Alya sangat indah, bercahaya dan penuh pengharapan. Buah dada kirinya yang belum tersentuh terlihat gersang dibanding buah dada kanan yang terus menerus diserang sejak tadi.
“Sudah… cukup! Aku… tidak bisa melanjutkan ini semua, aku harus pergi!” pinta Alya dengan suara bergetar. Tangan si manis itu terus berada di pundak Paidi, menghalanginya mendekat. Tapi Alya tidak melakukan apapun untuk menutup payudaranya yang telanjang. Paidi kembali menyeringai dan menurunkan kepalanya ke dada kiri Alya.
“Jangan!” tangan Alya mencoba mencegah Paidi agar tidak mendekat. Namun tangan ramping Alya bukanlah penghalang berarti bagi supir tua berwajah buruk itu, dengan sigap ia menangkup pentil kanan Alya dengan mulutnya dan kembali menyebarkan sengatan kehangatan ke seluruh tubuh sang ibu muda.
Demi dewa… Paidi sungguh sangat kuat! Alya tak mampu berkutik. Si cantik itu hanya bisa megap – megap menggapai nafas ketika gigi Paidi mengunyah puting payudaranya, setelah pentil itu menonjol, lidah Paidi ganti menjilati sisi areolanya. Tubuh Alya melenting ke belakang, ia berusaha melepaskan dadanya dari mulut Paidi, namun belum sampai payudaranya bebas, Alya sudah terganggu oleh tangan sang supir yang dengan nakal menjelajah ke bawah roknya dan membelai ke atas menuju selangkangan!
Alya ingin melepaskan diri dari pelukan Paidi, sungguh dia telah berusaha, namun supirnya ini telah memakunya di atas sofa. Alya benar – benar tak berdaya di bawah rengkuhan sang lelaki kurus. Tubuh Paidi mengunci rapat kaki dan lengan Alya sementara gigi, bibir dan lidahnya merangsang habis – habisan puting payudara istri Hendra itu. Belum lagi rangsangan yang datang dari bawah roknya… apa yang bisa dilakukan Alya kecuali pasrah?
Tangan Paidi yang hangat berputar – putar di paha sang wanita pujaan, melaju ke atas tanpa halangan. Tangan hitam di atas paha putih mulus, sangat kontras. Paidi mengagumi seluruh tubuh Alya, paha yang ia sentuh ini dulu adalah milik suaminya seorang, sebelum akhirnya Alya jatuh ke jebakan maut Pak Bejo.
Ketika melihat Paidi lengah, Alya melawan lagi. Bayangan wajah suami yang ia cintai mendatangi benaknya dan ia melakukan semua yang ia bisa untuk mendorong sang supir. Tapi… tapi… ini enak sekali…! Mas Hendra sekarang berubah menjadi laki – laki dingin yang tak berperasaan, padahal Alya masih sangat membutuhkan belaian kasihnya! Apakah kini apa yang ia lakukan adalah hal yang salah? Membiarkan Paidi menguasai tubuhnya? Alya butuh kehangatan seorang laki – laki! Ia tidak mau terus menerus melayani Pak Bejo… ia ingin melakukannya dengan orang yang dia suka! Hasrat birahinya selalu bergejolak… Alya bingung saat ini, apakah dia diperkosa Paidi… atau justru membuka diri terhadap supirnya itu? Toh seandainya ia melayani Paidi, tidak akan ada orang yang tahu, kan? Batin Alya berkecamuk. Ini enak sekali… apa yang harus ia lakukan? Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ini memang enak sekali…
Tidak ada orang yang akan tahu, kan? Termasuk Mas Hendra!?
Saat perang berkecamuk dalam batin Alya, tangan Paidi leluasa masuk ke dalam celana dalamnya yang mungil dan membiarkan rok Alya tetap di tempatnya. Kini ia lebih bebas bergerak merangsang sang nyonya majikan! Tangan Paidi meraih tempat yang lebih atas dan Alya membiarkan laki – laki yang bukan suaminya ini membuka kakinya lebar – lebar. Tubuh wanita cantik itu menegang ketika Paidi menemukan bibir vaginanya yang lembut bagai sutra. Alya melonjak kaget saat sang supir mulai membelai bibir kemaluannya secara perlahan – lahan.
Ya Tuhan! Tidak seharusnya ia mengijinkan Paidi melakukan ini! Tapi batin Alya berkecamuk… benarkah dia yang mengijinkan? Paidi walaupun kurus jelas lebih kuat dan perkasa, bahkan mungkin lebih kuat dari Mas Hendra saat ia sedang sehat sekalipun! Tangan, bibir dan gigi Paidi dibiarkan bebas berbuat apa saja dengan tubuhnya, bagaimanapun caranya Alya menolak, ia tidak mampu menahan keinginan Paidi. Namun… ia juga tidak diperkosa… ia mengijinkan Paidi menggumulinya!
Sekilas rasa takut menyambar batin Alya. Setelah semua peristiwa mengerikan yang ia alami dengan Pak Bejo, ia tidak ingin kehilangan kontrol atas situasi lagi. Apa yang ia alami saat ini adalah karena ia kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Ia tidak ingin jatuh ke dalam kubangan yang lebih dalam. Hanya saja… saat ini, di atas sofa ini, Alya jelas tidak sedang mengontrol apapun. Sensasi birahi berlebih membuat tubuhnya lemah atas semua rangsangan. Alya tidak ingin mengkhianati suaminya… tapi apa yang Paidi lakukan sungguh membuatnya terbang ke awang – awang.
Satu jari telunjuk masuk ke dalam memek Alya.
Wajah wanita cantik itu memerah karena malu saat ia menyadari memeknya sudah mulai basah. Sangat memalukan menjaga harga diri di hadapan supirnya kalau memeknya sudah mulai membanjir seperti ini. Dari wajahnya yang tersenyum, Alya yakin Paidi juga sudah tahu hal itu. Tangan Alya meraih lengan Paidi, ia berusaha mendorong tangan itu meninggalkan tubuhnya. Tapi Paidi jauh lebih kuat, bukannya tangan Paidi yang terdorong menjauh, malah justru tangan Alya yang kini digenggam oleh sang supir.
Paidi membimbing tangan Alya yang halus ke dalam selangkangannya. Jari – jari lentik Alya segera bersentuhan dengan batang kejantanan yang hangat, besar dan panjang. Kaget, Alya menarik tangannya mundur. Si cantik itu terkejut dengan kehangatan dan kerasnya batang kemaluan Paidi. Alya tidak tahu sejak kapan Paidi mengeluarkan kemaluannya dari dalam celana. Paidi tidak menyerah begitu saja, supir nakal itu menarik kembali tangan Alya dan membimbingnya lagi ke kontolnya yang besar dan hitam. Kali ini Alya tidak melawan. Jari – jari mungilnya mengitari batang besar kontol Paidi.
Ukuran kontol Paidi ini pas sekali dalam genggaman tangan mungil Alya, ukurannya yang besar tidak cocok dengan postur tubuh Paidi, tapi sangat mempesona ibu muda satu anak itu. Urat – urat yang mengitari batang kemaluan Paidi berdenyut dalam genggaman tangan Alya, wanita cantik itu berusaha mencari cara untuk menghindari kekagumannya pada alat vital Paidi, namun seperti anggota tubuh yang telah dipasangi susuk, Alya tidak bisa melepas pandangan dari kemaluan Paidi. Ingin sekali rasanya Alya merasakan kontol Paidi itu di dalam memeknya, ia tidak yakin benda besar dan panjang ini bisa masuk seluruhnya, tapi… Alya tidak akan mengijinkan Paidi menyetubuhinya. Ya. Itu pasti. Tidak mungkin. Tidak boleh.
Tangan Paidi meraih pergelangan tangan Alya dan membimbingnya mengocok kemaluannya secara perlahan. Kontol Paidi yang hitam, besar dan panjang membuat Alya sangat terpesona. Penis Paidi memang tidak segemuk milik Pak Bejo, tapi lebih panjang dan sangat keras. Panjangnya melebihi milik Mas Hendra. Hitam… besar… panjang…
Setelah beberapa saat membiarkan tangan Paidi membimbingnya, Alya tidak membutuhkan dorongan apapun lagi untuk terus menikmati kemantapan alat kelamin Paidi, ketika Paidi melepas tangannya, Alya masih terus mengocok kontol pria kurus itu. Apa yang dimiliki supirnya itu seakan – akan mengingkari hukum alam, bagaimana bisa orang sekurus dan sehitam Paidi memiliki penis yang seperti ini? Begitu besar dan panjang… tangan Alya bergerak turun ke pangkal batang kemaluan Paidi, mengagumi ukuran kejantanan yang sebelumnya belum pernah ia lihat. Nafas Alya makin berat, nafsunya mengambil alih, birahinya makin meningkat. Alya tidak akan keberatan kalau benda ini dicoba dimasukkan ke dalam liang kenikmatannya… tapi… tapi…
Saat itulah Paidi mendorong jarinya yang panjang ke dalam bagian terlarang milik Alya. Terpengaruh oleh rangsangan bertubi, Alya mencoba menyikapi dengan kesadaran yang tersisa. Hanya ada satu konsekuensi yang akan ia peroleh jika mengijinkan Paidi melakukan rangsangan lagi, dan hal itu tidak boleh terjadi.
Alya berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Dia telah menikah. Dia mencintai Hendra, suaminya. Dia tidak mencintai Paidi, dia tidak mencintai Pak Bejo. Tubuhnya hanya milik Hendra, suaminya. Dia tidak boleh membiarkan ini semua berlanjut!
“Lepaskan aku!” tuntut si seksi itu. Tapi Paidi tidak menghiraukannya. Bibir pria hitam dan kurus itu masih terus memagut leher putih mulus milik Alya. Jari jemari Paidi menusuk lebih ke dalam. Kaki Alya menggeliat dan menjepit tangan Paidi, ia berusaha menarik tangan Paidi keluar dari selangkangannya.
“Ini sudah keterlaluan, kita tidak boleh melakukan ini! Aku ini istri orang!”
Paidi malah nyengir ketika dia diingatkan bahwa tubuh molek yang menggiurkan yang sedang menggeliat di bawah tubuhnya ini adalah milik laki – laki lain, tubuh seorang majikan bahkan! Dengan nekat Paidi memutarkan jarinya di bibir kemaluan Alya yang makin lama makin basah, lalu menusukkan jarinya itu ke dalam memek Alya lebih dalam lagi.
Ketika jari Paidi melesak masuk, tanpa sadar Alya meremas kemaluan Paidi dengan kencang. Penis itu begitu besar dan keras, Alya seakan tak mampu menggenggamnya utuh karena ukuran lingkarnya yang sangat besar. Dia tak pernah menduga orang sekurus Paidi memiliki penis yang sedemikian besarnya, ia sudah memperkirakan ukurannya, tapi penis milik Paidi ini melebihi semua imajinasi lliarnya. Batang kemaluan hitam besar milik Paidi berdenyut dalam genggaman tangan Alya yang halus, si cantik itu bisa merasakan denyut yang bergerak di urat yang bertonjolan di batang yang terisi oleh desakan darah dan sperma yang siap diledakkan.
Paidi menarik jarinya dan merubah posisi. Ia mengangkat tubuhnya sehingga Alya kini bisa melihat langsung ukuran sebenarnya batang kemaluan laki – laki yang baru saja menindihnya. Mata indah si cantik itu langsung terbelalak!
Luar biasa besarnya!
Jauh lebih besar daripada milik Hendra atau bahkan Pak Bejo!
“Ya Tuhan!” desis Alya yang terkejut.
Paidi nyengir. Dia bangga dan bahagia melihat reaksi majikannya yang terkejut saat melihat ukuran kontolnya. Reaksi jujur yang ditunjukkan oleh Alya sungguh sedap baginya. Rasa ketakutan karena tak ingin ketahuan, perasaan bersalah, nafsu yang menggelegak yang sangat terlihat di wajah Alya adalah keindahan sempurna bagi Paidi. Inilah yang membuatnya terangsang hebat.
Alya memang bukan seorang perawan, tapi Paidi memperkirakan tusukan pertama penetrasinya akan seret sekali, karena walaupun sudah pernah berkali – kali melayani nafsu binatang Pak Bejo, memek Alya masih sangat mungil.
Alya memandang penis Paidi dengan penuh ketakutan sekaligus kekaguman. Seakan ia berhadapan langsung dengan seekor ular kobra dan takut untuk menggerakkan tubuh sedikitpun. Bagi Paidi, menyaksikan konflik batin ibu muda yang jelita itu sungguh suatu kenikmatan yang tak terkira.
“Apakah ini yang anda inginkan selama ini?”
Alya menatap Paidi bingung, apa maksud kata – katanya itu?
Paidi tersenyum dan mengulangi lagi ucapannya, “setelah selama ini ditiduri oleh laki – laki lemah seperti Pak Hendra dan laki – laki brengsek seperti Pak Bejo… apakah ini yang ibu inginkan? Kejantanan sejati seperti ini?”
Wajah Alya memerah karena malu. Ia marah dan kesal pada sikap Paidi yang arogan, tapi memang benar apa kata supirnya itu – Alya sangat tertarik mencicipi kejantanan milik Paidi yang luar biasa besarnya. Warna merah jambu karena malu menutup pipi hingga ke dada Alya. Kejantanan sejati… kejantanan sejati… kata – kata itu terus berulang di otak Alya yang dipenuhi kekalutan.
Tidak mungkin ada penis sebesar itu! Terlalu besar! Ini semua pasti rekayasa! Batin Alya dalam hati. Kalau mau hiperbola, tidak mungkin ada penis yang batangnya hampir sama besarnya dengan pergelangan tangan Alya! Ketika Paidi berpindah posisi dan kedua tangannya kini berada di bawah rok Alya, ibu muda yang jelita itu bisa melihat dengan jelas batang penis Paidi!
Alya terbata – bata melihat panjang penis Paidi. Tidak akan muat! Benda ini tidak akan muat masuk ke dalam kemaluannya yang mungil! Benda itu akan menghancurkan rahimnya! Batin Alya lagi.
“Terlalu besar…” desis Alya perlahan. Nafasnya kembang kempis, ada desakan berat di dalam dadanya, di tenggorokan dan dalam pikirannya. Panas menghentak – hentak membuat birahi Alya meninggi, ada kehausan luar biasa yang ditimbulkan pemandangan indah yang diberikan Paidi pada lubang kemaluan Alya. Paidi tersenyum penuh kemenangan ketika dia menarik celana dalam Alya, wanita cantik itu menggerakkan pinggulnya tanpa sadar, memudahkan Paidi melucuti celana dalamnya yang mungil.
Alya telah menyerah kepada supirnya…
Alya telah ditaklukkan…
“Ya Tuhan! Apa yang… suamiku…”
Paidi tersenyum, lagi – lagi laki – laki kurus berkulit hitam itu menempelkan bibirnya ke bibir tipis Alya, mengatupkan mulutnya ke mulut Alya dengan satu ciuman penuh nafsu. Apapun kata – kata yang hendak diucapkan Alya, semua permohonan dan penolakannya, luruh oleh ciuman itu. Alya menggeser kepalanya mencoba menghindar dari ciuman Paidi, tapi gerakan itu justru membuat Paidi mendapatkan akses ke arah telinganya yang seputih pualam. Setelah gagal mencium Alya, perhatian Paidi beralih ke arah lain. Bibir dowernya menyosor ke daun telinga Alya. Lidah supir itu bergerak lincah menjelajahi tiap sudut bagian dalam telinga Alya. Tubuh wanita cantik itu menggelinjang geli ketika merasakan sentuhan lembut lidah Paidi pada telinganya. Lidah Paidi bergerak lincah membuai Alya sementara tangannya bebas bergerak di bawah roknya. Jari – jari nakal milik lelaki kurus itu membelai tiap jengkal paha putih milik istri majikannya.
Paidi tidak berhenti di bibir Alya, lidahnya menjilat pipi dan telinga si cantik itu, masuk ke dalam daun telinganya, memutar dan merasakan tiap sisi kecantikan parasnya. Dada kurus Paidi bisa merasakan kehangatan yang dihadirkan buah dada Alya yang menempel kepadanya, mendorongnya naik turun seiring emosi dan nafsu yang menggelora di badan sang ibu muda. Alya tidak bisa menghindar dari rangsangan hebat yang dilakukan Paidi pada telinga dan pipinya, tubuhnya bergetar dan menggelinjang. Tangan Paidi merenggangkan kedua paha Alya, mengangkat roknya sampai ke lekuk pinggul.
Pria itu memposisikan dirinya di antara kedua kaki sang majikan.
Alya menyadari bahaya yang tengah ia hadapi. Godaan lidah Paidi yang terus menjilati wajah dan telinganya tak berbelaskasihan… sekaligus menggairahkan. Lelaki kurus berkulit gelap itu benar – benar tahu bagaimana caranya membuatnya bergairah! Sangat nakal, sangat… terlarang. Alya memiringkan kepala, membuat telinganya jauh dari jangkauan lidah Paidi, ia menatap pria yang tengah menggumulinya dan hendak memintanya berhenti. Ia menatap mata Paidi… mata yang penuh dengan hasrat dan nafsu.
Nafsu birahi untuk menggauli tubuh indah majikannya.
Batin Alya dipenuhi perasaan yang berkecamuk dan menggelora. Dia bingung, jantungnya berdebar kencang dan nafasnya kembang kempis naik turun. Bukannya menolak laki – laki yang bukan suaminya, Alya malah menggoyang pinggul karena tak tahan godaannya. Ia malu sekali. Ia ingin memaki – maki dirinya sendiri yang tak mampu menahan birahinya, namun ketika mulut Paidi mencium bibirnya, Alya tak mampu melawan sedikitpun. Bibirnya yang indah membuka sedikit untuk menerima serangan nafsu dari sang supir. Ketika lidah Paidi masuk ke dalam mulutnya, lidah Alya menyambut dan keduanya segera bertemu dalam pertempuran nafsu.
Ujung gundul penis Paidi menyentuh bibir vagina Alya, batang kemaluan laki – laki tua itu siap dilesakkan ke dalam liang cinta sang ibu muda yang jelita. Mata indah milik Alya menyala karena kaget. Dengan pandangan bingung, wanita cantik itu menatap mata buas penuh nafsu milik Paidi yang sedang memeluk dan menciuminya.
Paidi menatap mangsanya dengan senyum penuh kemenangan. Dia sangat menyukai saat – saat seperti ini, saat di mana wanita yang hendak ia tiduri menatap tak percaya kepadanya. Mata Alya terbelalak lebar karena tahu penis hitam milik sang supir sudah siap masuk ke dalam liangnya yang mungil. Paidi mendorong pantatnya ke depan dan melepaskan ciuman dari mulut Alya.
“Ja – Jangan! Jangan…!! Kamu tidak boleh…” Alya mencoba melawan.
Paidi menusuk lagi. Akhirnya ia benar – benar menembus gerbang kewanitaan Alya.
“Ahhhhhhhh!!!” jerit Alya tertahan.
Ia lalu berhenti. Paidi kaget sekaligus senang ketika tahu bahwa memek Alya ternyata masih cukup sempit dan rapat, batang penisnya yang masuk ke dalam liang kenikmatan Alya seperti dihimpit oleh dinding basah yang rapat dan nyaman, memberikan kehangatan yang lain daripada yang lain. Setelah tidur dengan Hendra dan Pak Bejo, memek mungil itu masih tetap seperti milik seorang pengantin baru. Paidi menggerakkan badan ke depan, menusukkan kontolnya ke memek Alya lebih dalam lagi.
Masuknya batang penis Paidi yang menjajah vaginanya sedikit demi sedikit membuat Alya secara refleks membuka kakinya lebar – lebar. Paidi mengangkat pinggul Alya yang seksi dan mengangkatnya tinggi sementara dia melanjutkan niatnya menumbuk sang bidadari. Hampir tiga perempat bagian batangnya sudah masuk ke dalam, melewati bibir vagina Alya yang basah dan merah. Paidi menusuk sekali lagi, menambah kedalaman batangnya.
“Ooooooh… jangan… aku tidak kuat lagi!”
Paidi tertawa penuh kemenangan dan mendorong kemaluannya lagi. Pinggul Alya mulai tersentak – sentak tak teratur di bawah pelukan sang supir, kakinya yang jenjang meronta – ronta. Alya mencoba mendorong tubuh Paidi, ia mencoba memberontak meskipun semuanya sia – sia, Paidi masih tetap bertahan. Justru karena Alya memberontak, batang kemaluan laki – laki kurus itu makin membenam di dalam liang cintanya. Akhirnya si cantik itu menyerah, batang kemaluan sang supir sudah terlalu dalam terbenam dan memeknya sudah menangkupnya dengan erat, tak akan ada gunanya melawan apalagi mencoba mendorong Paidi. Dia harus rela disetubuhi Paidi.
Kalimat itu membuat gemetar seluruh tubuh Alya. Dia tak mampu berbuat apa – apa lagi! Dia hanya bisa pasrah! Dia akan segera disetubuhi supirnya!
Nafsu birahi yang bercampur dalam benak sang ibu muda membuatnya sangat bergairah. Ada perasaan aneh yang menyapu tubuh Alya, gairah sensasi birahi yang menyelimuti dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Ia mulai terbiasa dengan ukuran kemaluan Paidi. Memeknya yang terus disiksa oleh kenikmatan mulai lengket pada batang penis sang supir, dinding memek Alya mulai merenggang dan menyesuaikan dengan ukuran penis yang menginvasi.
Namun… ketika Alya sudah bersiap, tiba – tiba saja Paidi berhenti.
Setelah beberapa detik tanpa ada gerakan, Alya akhirnya sadar Paidi sudah berhenti menusuk. Ketika mata indah ibu muda yang cantik itu melihat ke tubuh yang menguasainya, Paidi rupanya tengah terdiam dan menikmati saat – saat yang sangat diimpikannya, yaitu saat penisnya masuk ke dalam memek Alya. Vagina Alya meremas batang penis yang ditusukkan ke dalam, menyebarkan sentakan birahi ke seluruh tubuh Alya. Wanita cantik itu puas sekaligus malu karena bagian dalam tubuhnya seakan membelai batang kemaluan Paidi. Bagaimanapun caranya Alya mencoba untuk mengendalikan tubuhnya sendiri.
Ketika Alya melihat ke atas, ia melihat Paidi menatapnya tajam, merekapun saling bertatapan. Wajah Alya memerah karena malu.
“Su… sudah semua? A… apa sudah masuk semua?” tanya Alya.
Paidi menyeringai. “Belum.”
Pria kurus berkulit gelap itu mengeluskan tangannya di lekuk pinggang Alya, menikmati kehalusan kulit sang bidadari, naik ke atas, lalu menggenggam erat lengan mungil ibu muda itu.
“Belum, ini belum masuk semua,” tambah Paidi. Ia ketawa dan menusuk lagi.
Betapa nikmatnya melihat wajah Alya yang terkejut oleh jangkauan tusukannya. Kali ini Paidi memeluk erat Alya supaya posisi mereka tidak berubah dan ia bisa menusuk lebih dalam. Paidi sangat menyukai cengkraman vagina Alya yang seperti sarung tangan erat menangkup batang kemaluannya. Tusukan penis panjang itu bagai melawan dinding rahim Alya dan menembus terus ke dalam rintangan yang sebelumnya belum pernah ditembus oleh penis lain.
“Ooooooh… Ya Tuhan… oooooh.” Desah Alya.
Paidi melepas satu tangan dan meraih rambut panjang Alya, ia menjambak rambut si cantik itu dan membuat kepalanya tertarik ke belakang. Alya berteriak kesakitan, tapi rasa sakit itu seiring dengan gelombang nikmat sodokan di selangkangannya. Vagina Alya meremas penis Paidi tiap kali benda panjang yang keras itu masuk dan mencoba menjajah ke dalam.
Beberapa sat kemudian, Alya bisa merasakan tamparan kantung kemaluan Paidi yang mengenai pantatnya. Saat itulah Alya sadar, kalau kantung kemaluan Paidi telah menempel di pantatnya, itu artinya batang kemaluan sang supir telah masuk seluruhnya ke dalam memeknya! Secara insting, Alya mulai menggoyang pantatnya.
Paidi menatap ke bawah, dia menikmati kecantikan alami Alya, dia menikmati halusnya leher jenjang Alya, dia menikmati matanya yang melebar dan nafasnya yang kembang kempis. Mata si cantik itu kabur, Paidi memberi kesempatan pada Alya untuk mengembalikan kesadaran, ketika akhirnya mata indah itu menatapnya tajam, Paidi tersenyum penuh kemenangan pada Alya. Wanita cantik itu membalasnya dengan senyuman lemah.
“Sekarang,” kata Paidi, “saatnya menikmati memek Bu Alya.”
Mata Alya terbelalak melebar, dia terkejut oleh situasi dan kata – kata kasar yang dikeluarkan sang supir. Tapi Paidi lebih terkejut lagi ketika dia merasakan kaki jenjang Alya melingkar di pinggangnya.
Paidi tersenyum lagi, kali ini Alya membalasnya dengan gugup.
Lalu Paidi mulai menyetubuhinya.
Alya melenguh dan mengembik penuh nafsu ketika Paidi menarik diri dan kemudian menusuk dengan kekuatan penuh. Berulang kali Paidi mengangkat pinggulnya dan menjatuhkan diri ke dalam selangkangan Alya yang terbuka lebar. Paidi menikmati kelembutan paha dalam Alya yang bagaikan sutra ketika majikannya ini mengikat pinggulnya dan menariknya ke bawah. Majikannya yang seksi takluk akan kenikmatan birahi di bawah pelukannya! Apakah ada yang lebih nikmat daripada ini?
Tentu saja ada, bagi Paidi, kenikmatan puncaknya adalah ketika dia menyemburkan spermanya dan berharap ia bisa menghamili wanita sesempurna Alya. Itu akan jadi hal yang terindah baginya.
Paidi merenggut pundak Alya dan menikmati tiap jengkal kedalaman memeknya, ia terus mendorong penisnya dan mengobrak – abrik memek yang seharusnya hanya menjadi milik suami wanita cantik yang kini meringkuk dalam pelukannya. Bagi Paidi, sesaknya memek Alya adalah surga yang menjadi nyata.
Kenikmatan yang terlalu berlebih membuat Alya tak kuat lagi, ia melolong ketika cairan cintanya mengalir. Ratapan yang keluar dari mulut Alya bertolak belakang dengan orgasme yang keluar dalam liang kenikmatannya. Paidi merasakan getaran pada tubuh indah yang kini berada di bawahnya, ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi genjotannya.
“Jangan Mas… sudah… sudah cukup… aku sudah keluar… sudah…”
Paidi hanya tertawa dan meneruskan gerakan maju mundurnya.
“Oh Tuhan! Sudahlah, Mas! Sudah cukup… aku tidak kuat lagi… kamu dengar tidak? Aku sudah keluar… aku tidak kuat…”
Paidi tidak mempedulikan rengekan Alya dan meneruskan gerakannya. Alya menggeliat dan meronta, mencoba mendorong tubuh Paidi. Tapi pria kurus itu lebih kencang memegang tubuhnya, ia juga lebih kuat dan lebih bernafsu. Tiba – tiba saja tubuh Alya mengejang, dengan satu lolongan kalah, Alya sampai di puncak kenikmatannya yang kedua. Wanita cantik itu tersentak – sentak dan bergetar akibat sensasi luar biasa yang berasal dari tubuh bagian bawahnya. Si cantik itu tidak percaya, kaget dan terkejut… belum pernah ia mengalami hal seperti ini sebelumnya…
Alya ambruk dalam pelukan Paidi, kalah dan pasrah. Tidak ada gunanya melawan. Paidi meneruskan aksinya menggoyang dan menusuk memek Alya sekuat tenaga, memberikan serangan bergelombang di antara selangkangan sang wanita idaman yang mengikat pinggulnya dengan kaki yang jenjang.
Gelombang orgasme membuat Alya lemas, ia tidak lagi melawan dan membiarkan Paidi melakukan apa saja dengan tubuhnya. Paidi adalah seorang pria kuat yang telah mengambil apa yang ia inginkan dan dari apa yang baru saja Alya alami, ia gembira sekali Paidi menginginkannya.
Kehangatan yang lembek terasa di sekitar selangkangan dan pinggang Alya, si cantik itu segera sadar kalau Paidi akhirnya mencapai puncak orgasme. Semprotan pejuh Paidi melesat jauh ke rahim Alya, tubuh wanita cantik itu bergetar seakan menunggu – nunggu bibit unggul yang ditanam oleh pria kurus berkulit hitam yang bukan suami sahnya ini.
Paidi menarik kontolnya dengan pelan, batangnya yang tebal dan panjang penuh dengan lumuran cairan cinta yang tercampur dari keduanya.
Untuk beberapa saat lamanya kedua tubuh telanjang itu diam tak bergerak di atas sofa. Paidi mengguling ke bawah dengan lemas, ia meninggalkan Alya yang masih diam tak bergerak. Sambil duduk dan menyalakan rokok Paidi melirik ke arah wanita jelita yang baru saja ia tiduri.
“Bagaimana? Ibu suka kan tidur sama saya?”
Alya mendengus keras dan berbalik, ia lebih memilih menatap tembok karena tak ingin melihat wajah puas Paidi yang telah berhasil menidurinya. Seluruh pikiran Alya terbagi menjadi dua bagian, saling bercampur dan bertarung. Alya tidak bisa memilah diri dan memutuskan apakah kenikmatan luar biasa yang telah ia raih sebagai hasil memuncaknya birahi ataukah rasa putus asa yang sangat mendalam yang saat ini sebenarnya ia rasakan. Dia gagal menjadi wanita yang tegar dan mampu berjuang demi diri sendiri. Ia selalu ditekan oleh keperkasaan lelaki bejat seperti Pak Bejo dan kini oleh nafsu binatang supirnya sendiri. Alya telah kalah dan ditundukkan.
Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Alya tidak tahu dan dalam hati kecilnya ia mungkin tidak peduli. Dia hanya tahu kalau dia kini sedang berbaring di samping seorang laki – laki yang telah membuatnya terbang ke langit ke tujuh dengan permainan cinta yang fantastis, penuh rasa cinta yang menggebu dan nafsu yang membuncah. Dia tidak peduli kalau laki – laki itu bukanlah suaminya yang kini tergolek lemah tak berdaya di salah satu kamar. Alya juga tidak peduli kalau laki – laki itu bukanlah pemerkosanya yang bejat dan tidak tahu diri. Dia tidak peduli.
“Sebaiknya Bu Alya segera kembali ke kamar sendiri. Bapak mungkin sudah menunggu.”
Alya menatap laki – laki di sampingnya dengan pandangan lemah. Entah kenapa dia lebih ingin menghabiskan malam ini bersama Paidi daripada harus kembali ke kamar dengan Mas Hendra. Tapi itu pemikiran yang salah dan bodoh. Si cantik itu bergegas bangkit dan mengenakan pakaiannya kembali.
Suaminya pasti sudah menunggu! Dengan buru – buru Alya mengenakan BH dan baju, ia mencoba mencari celana dalam tapi tak kunjung menemukannya. Dengan kebingungan Alya mencari kesana kemari, di mana celana dalamnya? Kemana tadi Paidi membuangnya?
“Celana dalamku…? Mana celanaku, Mas? Jangan diam saja! Ayo bantu cari!”
“Seandainya kita hanya bisa bercinta malam ini, biarlah celana dalam Ibu menjadi benda yang bisa saya bawa sampai kelak saya pergi, saya akan menyimpannya sebagai benda paling berharga yang pernah saya miliki.” Kata Paidi dengan tenang, “lebih baik sekarang Ibu kembali ke Pak Hendra.”
Dengan langkah cepat Alya keluar dari kamar Paidi, melewati taman dan masuk ke rumah induk, ia mencari Hendra ke kamar. Nafas Alya yang kembang kempis mengejutkan Hendra yang tengah mengetik dengan laptop. Hendra sudah bangun? Jangan – jangan ia sedang menunggu Alya? Sambil berusaha mengembalikan perasaannya yang kacau balau setelah disetubuhi Paidi, Alya duduk di samping sang suami. Alya berkeringat dingin, semuanya hancur. Dunianya kembali berantakan, bukan oleh ulah Pak Bejo… melainkan oleh ulahnya sendiri… yang tergoda laki – laki lain!
“Kamu baik – baik saja?” tanya Hendra dengan suara dingin. Ia hanya menatap Alya sekilas dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
Alya memandang wajah Hendra dari samping dan menyesali perbuatannya. Ia sangat menyesal… ia telah bersalah kepada suaminya, ia telah mengkhianati cinta mereka. Bukannya berusaha meraih kembali hati suaminya yang tengah terpuruk, ia malah jatuh ke pelukan laki – laki lain! Ini lebih buruk daripada diperkosa Pak Bejo. Ini sama saja dengan selingkuh! Sudah pasti, kesalahan ada di pundak Alya.
“Mmmm… aku baik – baik saja.” jawab Alya lirih.
“Kamu kok kebingungan begitu? Apa ada yang kamu pikirkan?”
“A… anu… aku… aku tadi sakit perut… dan… aku dari kamar mandi… dan…”, Alya tidak kuat menanggung ini semua, lagi – lagi dia harus berbohong kepada Mas Hendra. Yang lebih parah, kali ini dia menutupi ulahnya sendiri yang mau – maunya menerima rayuan Paidi dan bukan atas paksaan Pak Bejo. Dia benar – benar telah berubah menjadi seorang wanita gampangan! Ingin menangis rasanya Alya kalau ingat apa yang baru saja terjadi.
“Kamu sakit perut?”
“Mmm… sudah baikan… aku tidak apa – apa.”
“Tidur saja kalau sakit.”
“Iya mas…”
Tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Hendra meneruskan pekerjaannya tanpa mempedulikan kehadiran Alya. Dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan Alya berbaring di ranjang dan mencoba memejamkan mata. Pengkhianatannya dan tanggapan dingin Hendra membuat tubuhnya menggigil.
Tanpa sepengetahuan Hendra, setetes air mata mengalir di pipi Alya, sementara setetes air mani yang tersisa mengalir di pahanya.
###
Pojok pos ronda di gang keempat sebelah selatan rumah Pak Bejo sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya para preman kampung. Tempat ini sebetulnya sudah tidak pernah dipakai lagi karena warga kampung lebih memilih menggunakan pos ronda yang ada di dekat perumahan, yang pernah dipakai Pak Bejo menggauli Alya. Apalagi karena para preman sering sekali menggunakan pos ronda ini sebagai markas mereka kalau sedang bermain judi atau mabuk – mabukan, maka tempat ini makin ditinggalkan dan dilupakan. Lokasinya juga agak jauh dari rumah lain dan menempel di belakang gedung sekolah bertembok tinggi, berbatasan dengan sebuah gang kecil yang langsung menuju ke jalan besar. Jarang ada yang berani melewati gang kecil ini, karena kalau ada yang lewat, para preman langsung beraksi meminta retribusi. Karenanya, warga kampung lebih memilih memutar lewat perumahan daripada harus melewati gang kecil ini. Tidak ada lagi orang menyebut tempat ini Pos Ronda, mereka kini menyebutnya Pos Preman.
Di tempat inilah Pak Bejo biasa menghabiskan waktunya.
Namun hari itu lain, hanya ada tiga orang saja yang berada di pos preman itu, Badu, Jabrik dan Kribo, ketiganya anak buah Pak Bejo. Botol minuman keras berserakan, asap rokok mengepul tinggi, pemandangan yang biasa bagi warga kampung, walau sesungguhnya bukanlah pemandangan yang sehat. Ketiga anak buah Pak Bejo itu sedang asyik dengan kegiatan masing – masing sambil tertawa – tawa. Entah apa ada yang lucu ataukah syaraf mereka sudah terpengaruh minuman keras.
Jabrik dan Badu sedang bermain kartu sambil melempar – lempar uang ribuan, sementara Kribo sibuk menikmati gambar artis – artis berdada sentosa yang ada di dalam majalah khusus pria dewasa yang tadinya ia rampas dari tas seorang anak SMA. Dari ketiganya, Kribo adalah yang paling ditakuti, tubuhnya besar dan wajahnya sangar. Bisa dianggap kalau dia ini tangan kanan Pak Bejo. Perhatian Kribo yang sedang membuka – buka majalah terusik ketika dia melihat ada satu sosok masuk ke gang mereka.
“Sst… duit! Duit!” bisik Kribo pada Badu dan Jabrik.
Kedua orang yang tadinya asyik dengan kartu mereka bangun dan memasang wajah sangar.
“Siapa yang lewat?” bisik Badu.
“Bukan orang kampung.” Jawab Jabrik. “Gak kenal.”
“Abisin aja.” Kata Kribo sambil kembali menatapi kemolekan artis yang pernah tampil di iklan sabun mandi berpose menantang di dalam majalah. Kalau hanya urusan kompas – mengompas mending dia berikan saja kepada dua temannya itu, dia malas berurusan dengan hal – hal sepele.
Badu dan Jabrik tertawa – tawa lagi karena mereka akan kembali menuai uang. Anehnya, sosok yang baru saja datang itu bukannya menjauh saat melihat mereka, dia malah mendekat bahkan berjalan dengan langkah yang sangat cepat menuju mereka. Aneh sekali!
Bruk!!!
Tiba – tiba saja orang itu menendang Badu!
Tubuh Badu yang tak siap terlempar jauh menubruk tembok. Nasib yang sama menimpa Jabrik yang juga terkejut melihat temannya terlempar.
Brak!!!
Jabrik terlempar terkena tendangan dan jatuh tepat di samping Badu. Kedua orang itu meringis kesakitan. Melihat kedua temannya terkapar, Kribo dengan kesal melempar majalah yang ia baca dan mencabut pisau lipat dari saku di celananya. Dia berjalan pelan ke arah Badu dan Jabrik, lalu membantu mereka berdiri. Tiga lawan satu, kelihatannya tidak seimbang tapi kedua kawannya sudah jatuh, orang ini harus diwaspadai. Kribo meludah dan menatap orang itu dengan pandangan seram. Badu dan Jabrik yang melihat Kribo sudah memegang pisau ikut – ikutan menyiapkan pisau lipat mereka.
“Siapa kamu!? Kurang ajar! Berani – beraninya menantang kami! Jangan sok jago! Tadi kami belum siap! Ayo maju!” teriak Badu, walaupun menantang, ia sebenarnya gentar juga, dengan tangan gemetar ia mengacung – acungkan pisau yang ia pegang ke arah orang yang tiba – tiba saja datang.
“Banci! Beraninya pakai senjata!” ejek orang itu sambil mencibir.
Badu menggerutu geram ketika orang tak dikenal itu maju tanpa mempedulikan pisau yang ia pegang. Badu tidak takut, toh dia tidak sendirian. Kedua kawannya yang lain juga sudah siap menyerang lelaki asing itu. Ketika komando Badu diteriakkan, mereka bertiga menyerang membabi buta. Tapi dengan mudah dan sigap ia menghindari semua serangan mereka. Orang itu sebenarnya tidak besar dan kekar, bahkan kurus dan sangat hitam, wajahnya juga terlihat tua dengan keriput yang tidak bisa disembunyikan. Tapi orang ini sangat liat dan lincah, gerakannya cepat dan efektif, semua diperhitungkan masak – masak, sepertinya dia sudah sering melakukan pertarungan jalanan semacam ini.
Ketika serangan mereka dengan mudah dapat dihindari, Badu, Jabrik dan Kribo merubah strategi dan mengepung sang lawan yang tidak bersenjata. Kali ini mereka mengunci posisinya dari semua sisi.
Kribo berteriak kencang sambil menyergap maju, ia menusuk – nusukkan pisaunya ke kepala sang lawan. Orang yang ia serang berputar cepat menggunakan tumit kanan dan melambaikan tangannya dengan keras – memukul tangkai pisau yang dipegang Kribo. Kaget karena tiba – tiba saja kehilangan senjata, Kribo lengah. Dengan cepat sang lawan menggunakan lengan bawahnya untuk mendesak leher Kribo dan menjatuhkannya ke bawah. Kribo terbanting dengan keras dan berteriak kesakitan. Kribo masih belum mau kalah, ia mencoba menyepak lawannya menggunakan kakinya yang bebas. Namun orang itu bukan orang biasa, ia melompat dan menubruk tubuh Kribo dengan sangat keras. Satu pukulan di rahang dan satu sodokan sikut di perut Kribo membuat pria berambut afro itu berteriak kesakitan. Kribo tak mampu bergerak lagi.
Melihat Kribo gagal merubuhkan sang lawan, bahkan berhasil dibekuk dengan sangat mudah, membuat Badu dan Jabrik saling berpandangan dengan bingung. Dari mereka bertiga, Kribo adalah yang paling kuat, ulet dan susah dilawan. Kalau Kribo saja jatuh, apalagi mereka berdua! Keduanya berteriak kencang dan lari ketakutan. Mereka lari terbirit – birit seperti baru saja melihat hantu.
Lawan mereka, tentu saja bukan hantu.
Orang yang mereka hadapi adalah Paidi. Dulu narapidana, lalu penjual bakso, sekarang supir.
Pria tua kurus itu geleng – geleng melihat sifat pengecut Badu dan Jabrik yang meninggalkan Kribo seorang diri. Ia melirik ke bawah dan melihat Kribo meringis kesakitan, ia mengembik minta ampun. Kribo tak bisa melarikan diri karena tubuhnya tak bisa digerakkan. Perutnya mulas karena sodokan sikut dan rahangnya seperti mau copot.
Paidi mendengus, ia mencengkeram kaos Kribo dan mengangkatnya ke atas.
“Dengar aku baik – baik dan jangan sampai lupa menyampaikan pesanku ini, bocah ingusan,” gertak Paidi. Ia menjelaskan tiap kata dengan mendorong tubuh sang preman ke pagar besi yang tumpul, pasti sakit sekali rasanya. “Aku akan melepaskanmu, dengan syarat kau mau menyampaikan pesan kepada Bejo Suharso. Mengerti? Mengerti tidak? Bagus! Bilang sama dia kalau Paidi tidak takut menghadapi berapapun anak buah yang dia punya, karena aku juga punya anak buah. Teman – temanku yang sudah lepas dari penjara akan senang sekali kalau mereka punya ‘kantung pasir’ yang bisa dipukuli untuk melepas penat selama dipenjara. Dia hanya preman kampung yang sok aksi. Bilang sama dia kalau dia sampai berani mendekati keluarga Hendra lagi aku tidak akan segan menghajarnya. Mengerti?”
“I – iya, bang… ngerti… nanti saya sampaikan… ke… uhhh… ke Pak Bejo.”
Paidi melempar tubuh Kribo ke tong sampah yang langsung terguling berantakan. Ia meninggalkan tubuh Kribo dan mengelap tangannya ke kaos yang ia kenakan.
Dengan langkah yakin Paidi meninggalkan Kribo yang sudah tak berdaya.
###
Hari ini, lagi – lagi Hendra memilih untuk berangkat ke kantor dengan diantar oleh Paidi. Dia menolak diantar Alya ataupun mengerjakan pekerjaannya di rumah, padahal pihak kantor sudah memberikan kompensasi pada Hendra agar dia mengerjakan saja tugas – tugasnya di rumah. Jurang antara pasangan suami istri serasi ini memang makin melebar. Hendra sudah berubah, ia bukan lagi sosok yang tenang dan mencintai istrinya, bahkan ada kesan kalau Hendra benci sekali pada Alya. Entah apa sebabnya.
Sore itu, Alya yang sedih pulang ke rumah dengan kelelahan. Tadi Mas Hendra sudah SMS kalau dia akan pulang besok, malam ini Mas Hendra ingin berkunjung ke tempat saudara dan menginap di sana, pulang kerja langsung dijemput oleh Anissa dan Dodit yang baru saja berangkat. Setelah memandikan, makan dan menidurkan Opi, Alya bersantai – santai di ruang tengah.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Alya menyaksikan sinetron di televisi dengan pikiran yang menggelayut. Entah sinetron apa yang sedang diputar di televisi itu, Alya sama sekali tidak memikirkannya, ia hanya sedang pusing memikirkan semua masalah yang menimpanya. Bukannya berkurang malah bertambah semakin ruwet. Tapi mungkin itu juga gara – gara dia sendiri yang lengah.
Alya menggelengkan kepala, dalam benaknya kini berulang – ulang adegan permainan cintanya dengan Paidi yang tak bisa hilang. Ia tahu ia hanya bisa sekali itu saja bermain cinta dengan Paidi dan memang sudah menjadi niat Alya untuk tidak mengulanginya lagi. Besok, Alya memutuskan untuk memecat Paidi, ia tidak ingin mengulangi kesalahannya menjadi budak Pak Bejo yang bejat itu. Hanya sekali itu saja ia mau melayani Paidi… ya, hanya sekali itu saja ia… mmm… tapi… kenapa rasanya ia rindu sekali pada pelukan laki – laki tua itu? Kenapa… tidak! Tidak boleh! Ia tidak mau!
Benak Alya yang kacau memang diakibatkan oleh retaknya hubungannya dengan Hendra dan perubahan mental akibat berulangkali ditiduri Pak Bejo, gairah seksual Alya menjadi meledak – ledak, ia membutuhkan permainan cinta yang tidak pernah lagi disediakan oleh Hendra. Paidi yang tiba – tiba saja hadir dalam kehidupannya adalah sosok yang sama sekali berbeda dengan Pak Bejo. Paidi mungkin tidak setampan Hendra, tubuhnya cenderung kurus dengan wajah jelek yang keriput dan kulit yang gelap terbakar matahari. Tapi anehnya… ada sesuatu yang lain dalam diri Paidi yang membuat Alya merinding jika berdekatan dengannya. Mungkin akibat terlalu sering berkencan dengan Pak Bejo membuat pandangan Alya terhadap seorang laki – laki bergeser. Ia tidak lagi menganggap ketampanan adalah segalanya.
Alya menggelengkan kepala, ia sudah melamun terlalu jauh.
“Kesepian ya, sayang?”
Alya terkejut mendengar suara jelek itu. Suara Pak Bejo!! Alya segera membalikkan tubuh dengan cepat, benar! Pak Bejo ada dibelakangnya! Kurang ajar! Kapan dia masuk? Bagaimana dia bisa masuk? Oh iya, dia masih memegang duplikat kunci rumah!
“Sejak kapan Pak Bejo ada di dalam rumah?” desis Alya geram. “Keluar! Bapak tidak diundang masuk ke rumah ini!”
“Ha ha ha, sejak kapan aku butuh undangan untuk menikmati memek kamu yang manis itu, sayang?” tawa Pak Bejo sambil mengelap air liurnya yang menetes. Ia benar – benar sudah rindu pada tubuh molek Alya. Ibu muda cantik itu memiliki tubuh yang sangat menggiurkan dan membuatnya kangen. Seperti seorang perantau yang ingin selalu kembali pulang ke rumah, sekali merasakan kehangatan tubuh sang bidadari, dia ingin selalu menikmatinya. “Tahu rasa kamu sekarang! Sendirian saja di rumah tanpa Mas Hendramu yang cacat dan supirmu yang sok jago itu!”
Tanpa menunggu aba – aba dari siapapun, Alya bergerak cepat dan segera berlari menuju kamar. Kalau ia sudah sampai di kamar, dia akan mengunci pintu sehingga Pak Bejo tidak bisa masuk.
Sayang, laki – laki tua gemuk itu lebih cepat.
Dengan gerakan tak terduga yang lincah Pak Bejo menubruk Alya. Tidak menunggu lama, pria tua itu dengan paksa mencoba membuka baju sang ibu muda. Alya mencoba berteriak, namun mulutnya lalu dibekap oleh Pak Bejo, ia bahkan tidak bisa meronta karena eratnya pelukan sang preman kampung. Nasibnya kini ada di tangan Pak Bejo! Lagi – lagi dia akan diperkosa!
Pak Bejo mendengus – dengus seperti babi, nafsunya sudah memuncak hingga ke ujung ubun – ubun. Dia sudah tidak tahan, sekali dia bisa memasukkan penisnya ke memek Alya, dia akan memuntahkan semua pejuhnya di dalam perut ibu muda yang cantik itu! Dia akan hamili istri Hendra yang molek itu! Kalau sudah hamil, Alya pasti akan selalu merindukan ayah anaknya!
Alya yang tak berdaya meringkuk dalam pelukan Pak Bejo. Air matanya kembali mengalir walaupun mulutnya kini terkatup rapat. Ia tetap tidak mau membuka mulut saat Pak Bejo menyorongkan bibirnya untuk mencium bibir mungil Alya.
Pak Bejo yang sudah tak tahan melucuti bajunya sendiri, ia melepaskan celana dan membuka kancing bajunya, ia ingin segera menelanjangi Alya ketika tiba – tiba… terdengar suara dari jarak yang tidak begitu jauh.
“Lepaskan Bu Alya! Bajingan tengik!”
Suara itu lagi! Sial banget! Itu suara Paidi! Pak Bejo menoleh dan mendesis kesal. “Kurang ajar!! Lagi – lagi kamu! Lonthe ini milikku! Dasar Anj…”
Plaaaaaaaaakkkk!!!
Belum sampai Pak Bejo menyelesaikan kata – kata yang ia ucapkan, Paidi sudah menamparnya dengan sangat keras. Begitu kerasnya hingga tubuh Pak Bejo terlempar dari atas tubuh Alya. Si cantik itu meringkuk ketakutan, dia lega sekali melihat kedatangan Paidi.
“Sudah saya bilang, lepaskan! Jangan salahkan saya kalau saya jadi gelap mata! Saya minta dengan sangat untuk yang terakhir kalinya, tolong hormati majikan saya! Jangan berani – berani mendekatinya lagi! Selama ada saya disisinya, tidak akan saya biarkan siapapun juga menyakitinya! Mengerti!? Saya harap Pak Bejo sadar kalau Pak Bejo sudah tidak dibutuhkan lagi oleh keluarga ini! Pergi jauh – jauh dan jangan pernah kembali lagi!!” bentak Paidi dengan galak.
Melihat ketangguhan dan kekerasan hati Paidi, Pak Bejo mau tak mau gentar juga melihatnya. Ia sudah mendengar berita Kribo yang dihajar oleh lelaki ini tempo hari. Dengan langkah gemetar, preman tua itu meninggalkan Alya dan Paidi.
“Kau… kau… bajingan! Tunggu pembalasanku! Tunggu saja!” Pak Bejo memegangi pipinya yang memerah karena kerasnya tamparan Paidi. Pria gemuk itu langsung berlari tunggang langgang tanpa mempedulikan pakaiannya yang masih belum dikenakannya dengan benar.
Paidi mendengus. Orang seperti Pak Bejo kadang memang tidak boleh diberi hati. Dia harus diberi pelajaran supaya tidak memperlakukan orang lain dengan semena – mena. Dasar preman kampung tidak tahu diri! Belum cukup rupanya dia menghajar anak buahnya tempo hari. Paidi menengok ke belakang dan melihat ke arah Alya yang duduk bersimpuh dengan lemas. Pakaiannya terkoyak dan matanya berkaca – kaca. Dia memandang ke arah Paidi dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata – kata.
Dengan lembut Paidi berjongkok di depan Alya, dia merapikan rambut dan baju Alya. “Orang itu sudah pergi, Bu. Semua akan baik – baik saja mulai sekarang. Saya akan melindungi ibu.”
“Sudah pergi…?”
“Iya. Pak Bejo sudah pergi, semua pasti baik – baik saja. Ibu tidak apa – apa kan?”
Alya menggeleng. Dia masih belum bisa mempercayai kejadian yang baru saja ia alami.
“Bagus kalau begitu. Mari saya bantu berdiri.” Kata Paidi sambil mencoba mengangkat lengan Alya.
Tapi Alya tak bergeming, ia memandang ke arah Paidi dengan pandangan yang sayu dan lemah. Matanya yang berkaca – kaca kini mulai meneteskan air mata. Wanita cantik itu akhirnya tak kuat lagi, ia menangis dan berteriak keras dalam pelukan Paidi.
Dengan lembut Paidi mengelus – elus punggung dan rambut majikannya yang sangat indah. “Jangan khawatir, Bu. Mulai sekarang saya akan selalu melindungi Ibu. Orang itu tidak akan saya ijinkan mendekati Ibu lagi. Saya tidak akan membiarkan orang itu menganggu wanita yang saya cintai.”
Tadinya Alya terus saja menangis, menumpahkan semua kekesalan dan penat yang ia rasakan dalam pelukan supirnya. Namun ia tersentak ketika mendengar kata – kata cinta keluar dari mulut Paidi. Alya mundur dari pelukan Paidi, ia menghapus air mata yang leleh di pipi. Keduanya terdiam beberapa saat lamanya, saling memandang dan mendalami perasaan masing – masing.
“Ka… kamu… apa yang kamu…?” tanya Alya dengan terbata – bata.
“Saya mencintai Bu Alya.” Jawab Paidi dengan bersungguh – sungguh.
“Be… benarkah?”
Paidi mengangguk, sudah kepalang basah, ia tidak akan mundur lagi. Ia benar – benar telah mencintai Alya. Tidak masalah kalau ia ditolak dan harus mengundurkan diri menjadi supir keluarga karena toh Alya telah berkeluarga, yang penting, ia telah melindungi wanita yang ia cintai dan membuktikan cintanya tidak hanya sekedar keinginan yang berlandaskan nafsu semata.
Alya masih terus menatap mata Paidi dengan pandangan berlinang. Lalu… dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Alya menyorongkan kepala ke atas, menarik kepala Paidi ke bawah, dan mencium bibirnya dengan lembut.
Paidi kaget sekali melihat reaksi Alya ini, ia tidak mengira majikannya itu akan menciumnya. Namun Alya adalah wanita yang sangat diidam – idamkannya. Mendapat ciuman dari Alya bagaikan mendapat anugerah yang tak ternilai harganya. Paidi membalas ciuman Alya dengan sapuan lembut di bibir. Mereka saling melumat dan memberikan nafas, menyapu bibir dan lidah dengan kelembutan. Setelah lama tak merasakannya, baru kali inilah Paidi sadar, ia telah memperoleh apa yang telah ia damba selepas kehidupan kelamnya, ia telah memperoleh cinta.
Setelah cukup lama mereka berciuman lembut, Alya akhirnya melepas bibir Paidi.
Paidi terdiam tak mampu bicara, bibirnya bergetar karena merasakan keindahan yang telah lama ia idam – idamkan.
“Mas…”
“I… Iya, Bu?”
“Maukah kamu tidur lagi denganku?”
Pandangan mata Paidi terbelalak kaget.
###
Ketika masuk ke kamar Paidi, Alya baru sadar kalau ternyata kamar supirnya itu sangat bersih dan rapi. Ia tidak sempat memperhatikan ketika masuk ke tempat ini tempo hari. Barang – barangnya disusun di pojok, tempat tidurnya juga sangat bersih, sepreinya harum seperti baru dicuci. Kamar yang sebelumnya dijadikan gudang itu juga sangat wangi. Alya jadi semakin kagum dengan pria yang telah menyelamatkannya dari cengkraman Pak Bejo ini. Walaupun punya masa lalu yang bisa dibilang tidak menyenangkan, Paidi adalah pria yang mengagumkan. Paidi memang telah menceritakan masa lalunya yang kelam, menjadi seorang penghuni bui karena kesalahannya yang fatal. Kini Paidi ingin memperbaiki kesalahannya itu.
Bagaikan pengantin yang baru saja menikah, tanpa diminta Paidi mengangkat tubuh Alya dan meletakkan tubuh indahnya dengan lembut di atas ranjang. Walaupun awalnya kaget, namun Alya menuruti saja kemauan lelaki tua perkasa itu. Kain seprei yang bersih dan harum membuat Alya tidak merasa jijik, ia bahkan sangat kagum dengan kerajinan dan kebersihan Paidi, sungguh sangat jarang laki – laki seperti ini. Paidi duduk di samping Alya yang terbaring. Dengan berani istri Hendra itu menyentuh pundak laki – laki kurus dan tua yang rebah disampingnya. Ia menyentuh pundak Paidi tanpa melepaskan pandangan dari mata pria yang pernah berjualan bakso itu. Tangan lembut Alya meraih bagian belakang kepala Paidi dan menariknya ke bawah, lalu bibir seksi si cantik itu mengecup bibir sang supir.
Ciuman lembut Alya yang tulus mengoles bibirnya bagaikan obat untuk semua lelah, gelisah dan keluh kesah yang pernah Paidi keluarkan seumur hidupnya. Olesan lembut bibir mungil majikannya itu juga membuat tubuh Paidi bagaikan disentak aliran listrik berjuta volt, seandainya dia adalah sebuah baterai hidup, Paidi sudah langsung tercharge dengan energi hingga penuh. Bibir mereka berdua saling mengelus, saling menimang, beruntai, berjalin, menikmati sentuhan pelan dan nikmat yang tak bisa diungkap dengan kata.
“Mmmhh…” desah Alya manja. Ia memejamkan mata dan membiarkan bibir Paidi menari di atas bibirnya yang lembut, membiarkan bibir tebal dan keras sang sopir menyelimuti bibirnya yang ranum. Olesan bibir Paidi tidak seperti bibir Hendra yang lembut atau bibir Pak Bejo yang kasar dan menuntut.
Lama pagutan bibir mereka tak saling lepas, Paidi mulai mengeluarkan lidahnya yang bagai ular. Lidah Paidi membuat Alya makin tak berkutik dan tenggelam sepenuhnya dalam pelukan sang sopir.
“Mas?” tanya Alya ketika bibir mereka lepas sejenak.
“Hmm?”
Alya tak buru – buru menjawab karena kembali menikmati lidah dan bibir Paidi.
“Aku… mhh… mmhh… mau… tanya…”
“Hmm?”
Kembali bibir Paidi menggelayut di bibir sang kekasih namun kali ini Alya menolaknya.
“Iiihhh… Mas nakal! Aku kan mau tanya sesuatu yang penting, jangan digangguin dulu!”
“Habis bibir kamu menggemaskan, mungil dan mengundang, aku jadi tidak tahan.” Kata Paidi sambil tersenyum. “Baiklah, kamu mau tanya apa, sayang?”
“Bagian mana dari tubuhku yang paling Mas Paidi suka? Akan langsung aku berikan sekarang juga.” Kata Alya sambil menggigit bibir bawahnya dengan genit.
“Aku suka semuanya.”
“Ah, jawaban gombal.”
“Kalau begitu… aku suka dari ujung kaki sampai ujung rambut.”
“Hi hi hi, aku nggak percaya. Mana ada yang suka ujung kaki aku.”
“Aku suka.”
“Bohong.”
“Eh, gak percaya? Baik aku buktiin!”
Paidi membalik badannya dengan cepat tanpa mempedulikan protes Alya yang tertawa.
“Aku kan cuma becanda, Mas!”
Paidi membuktikan kesungguhannya dengan menciumi jempol dan jemari kaki Alya. Si cantik beranak satu itu adalah wanita yang amat memperhatikan kebersihan, sehingga Paidi tidak sedikitpun merasa jijik karena kaki Alya sangat mulus dan bersih. Mirip kaki seorang bayi yang lembut dan suci. Paidi mencium dan menjilat – jilat kaki sang kekasih dengan sepenuh hati. Alya bergetar karena rangsangan Paidi ini.
“A… aku percaya, Mas… aku percaya…”
Sambil tersenyum puas Paidi mengelus lembut betis sang bidadari. Tentu saja pria tua itu tidak berhenti sampai di situ saja. Ia mengeluskan tangannya dari bawah ke atas, naik ke arah paha mulus Alya. Kaki Alya yang jenjang membuat Paidi terkagum – kagum, begitu mulus, indah dan putih, sangat sedap dipandang. Alya memiliki karunia yang sangat lengkap dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, semua indah dan sempurna.
Tapi bidadari itu kini tengah dilanda nafsu birahi yang meledak – ledak, ia tidak mau tangan Paidi hanya mengelus – elus betis dan pahanya saja, ia ingin lebih. Sambil berbaring di ranjang, Alya memberanikan diri mengelus batang kemaluan Paidi yang masih tersembunyi di balik celana. Tangannya yang lembut bergerak naik turun dengan perlahan, membuat sekujur tubuh Paidi merinding keenakan. Siapa yang tidak mau penisnya dikocok wanita semolek Alya? Hanya dengan melihat pandangan mata Alya yang berbinar, Paidi tahu kalau Alya merindukan permainan cinta yang sebenarnya, bukan perkosaan brutal ala Pak Bejo, atau hubungan dingin tanpa perasaan seperti yang ditunjukkan Hendra. Paidi akan membuat si cantik ini menikmati seks yang indah bersamanya.
Perlahan Paidi menurunkan celana berikut celana dalamnya. Batang kemaluannya menegak kencang di hadapan wajah cantik Alya.
“Mas… aku ingin… mmm… boleh aku…?” tanya Alya malu – malu. “Mmm… bolehkah?”
Alya tidak melanjutkan kata – katanya saat ia melihat Paidi mengernyit keenakan. Elusan lembut jemari Alya pada batang kemaluan Paidi membuat mantan penjual bakso itu bergetar dan menggelinjang tak kuasa menahan nafsu. Hal itu membuat Alya tersenyum tertahan, seperkasa apapun Paidi, ia ternyata tidak tahan dengan jari – jarinya yang lembut.
Sembari menikmati elusan lembut jemari Alya pada penisnya, Paidi melucuti pakaian yang ia kenakan. Ia ingin bersentuhan langsung dengan kulit mulus Alya, tanpa terhalang baju mereka. Seakan mengerti kemauan Paidi, Alya mengikuti dengan melucuti pakaiannya sendiri. Ia berhenti sebentar mengelus penis Paidi untuk membuka baju. Pria tua itu mengerang kecewa ketika Alya berhenti menyentuh kemaluannya, namun karena ia mendapati Alya sudah tak berbusana ketika ia membuka mata, Paidi tak mengeluh sedikitpun.
Paidi berdecak kagum ketika kembali bisa menikmati keutuhan tubuh molek Alya. Benar – benar seorang bidadari yang turun dari langit, sempurna tiada duanya. Bila dibandingkan dengan bintang sinetron, mungkin Alya lebih cantik dan seksi, kini bayangkan jika tubuh sesempurna itu dipersembahkan untuk pria seperti Paidi! Pandangan matanya tak ingin lepas dari kesempurnaan Alya, wajah cantik lembut dengan rambut yang terurai indah, kulit mulus seputih susu yang memancarkan keharuman mewangi, payudara sempurna yang sintal dan menggairahkan, pinggang ramping, pantat bulat, semua – untuk Paidi.
Alya diam saja tanpa mempedulikan kekaguman Paidi kepadanya dan meneruskan ‘pekerjaannya’ memainkan kemaluan Paidi.
Paidi buru – buru sadar dari rasa kagum yang membuatnya terbengong – bengong dan segera kembali ke posisi semula, ia berbaring dan membiarkan wajah Alya tepat berada di depan penisnya sementara ia sendiri berhadapan langsung dengan kaki sang bidadari. Saat itulah pria tua yang perkasa itu menurunkan wajahnya hingga ke kaki sang bidadari. Alya meringis keenakan saat Paidi beraksi, tanpa malu – malu pria tua yang pernah berjualan bakso itu menjilati dan menciumi ujung – ujung jemari kaki Alya. Paidi melakukan aksinya dengan sangat pintar dan membuat Alya menggelinjang, ibu muda satu anak yang statusnya adalah istri orang itupun tak kuasa menahan desahan demi desahan yang terus menerus keluar dari bibir mungilnya.
“Auhhhhhmmm, Masss… geli mass… jangan… aaaaahhhh…” tangan Alya tak beranjak dari batang kemaluan Paidi, terus meremas dan mengocok penisnya yang besar dan hitam sementara sang supir mencumbu dan mengulum jari – jari kaki dan betisnya. Melihat Alya keenakan, Paidi menarik kaki wanita cantik yang mulus dan jenjang itu ke bawah. Jengkal demi jengkal sisi – sisi kaki Alya dicumbui dengan buas oleh Paidi, si cantik itu makin tak tahan dibuatnya, kakinya bergerak tak menentu arah, menyepak kesana kemari. Paidi tersenyum, dengan tangannya yang berotot dipegangnya kaki Alya erat – erat, lalu dijilatinya seluruh bagian kaki Alya yang sangat putih dan indah itu.
“Aaaahh, Massss… ouuuhhh, jahaaaat… geli ahhhh!!”
Paidi melanjutkan ciuman dan jilatannya tanpa memperdulikan desahan manja sang ibu muda. Alya memejamkan mata menahan nafsunya yang menggelegak hebat karena foreplay yang dilakukan oleh Paidi. Semua perasaan jijik yang selama ini dipelihara karena tidur dengan laki – laki yang tidak ia sukai ia lepaskan dengan bebas bersama Paidi. Laki – laki ini memang bukan Hendra, tapi paling tidak ia bukan Pak Bejo. Alya melenguh dan mengembik tanpa malu, membiarkan suaranya lepas menyebar ke seluruh penjuru rumah. Seluruh penat dan stress karena masalah Pak Bejo dan Hendra membuat Alya menyerahkan seluruh tubuhnya pada Paidi.
Paidi kini tak hanya menggunakan lidah dan mulutnya saja, tangannya bergerak menyentuh paha Alya dan mengelus – elusnya lembut. Tak pernah ia membayangkan sebelumnya kalau ia mampu melakukan hal ini selepas keluar dari penjara, yaitu mengelus – elus paha mulus seorang wanita cantik dan terhormat seperti Alya.
Istri Hendra itu masih memejamkan mata, ia membiarkan saja tangan Paidi bergerak nakal menyusuri pahanya yang putih mulus sampai ke pangkal paha. Setelah bagian bawah kaki Alya yang jenjang basah oleh ciuman dan jilatan bibir dan lidah Paidi, kini giliran paha mulus Alya yang diserang.
Ibu muda satu anak itu membuka pahanya lebar – lebar memperlihatkan keindahan bibir kemaluannya yang merekah merah muda, kuncupnya yang mungil mempesona Paidi. Ia kagum Alya masih memiliki bentuk vagina yang indah padahal sudah memberikan keperawanan pada Hendra, melahirkan Opi dan tidur berkali – kali dengan Pak Bejo.
Jari jemari Paidi bergerak lincah menyusuri daerah sekitar kemaluan Alya tanpa sekalipun menyentuh bibir vaginanya. Tubuh Alya menggelinjang karena menahan nafsu yang kian lama kian tak tertahankan. Sekali – sekali Paidi menyentuhkan jarinya ke bibir kemaluan Alya seakan tak disengaja.
“Ahhhh!! Ahhh!!” desah Alya manja, tubuhnya bergetar hebat tiap kali Paidi memancingnya. Tak tahan oleh perlakuan sang supir, Alya melenguh panjang, kepalanya bergerak makin tak terkendali ke kanan kiri sementara matanya masih terus terpejam. Melihat gerakan erotis dan lenguhan manja sang majikan, Paidi makin berani. Dengan nekat pria kurus berkulit gelap itu mendorong kepalanya masuk ke pangkal paha Alya.
“Aaaaaaaaaaahhhh!!!” Alya kembali mengeluarkan desahan panjang.
Paidi terus melaksanakan niatnya menguasai daerah kemaluan Alya dengan bibir dan lidahnya. Hisapan, ciuman dan jilatan silih berganti menyerang sang ibu muda. Belum sampai kemaluan Paidi masuk, liang cinta Alya sudah mulai basah. Bahkan Paidi bisa melihat tetesan air cinta mengalir tipis dari bibir mungil kemaluan sang kekasih. Alya mengangkat pantatnya, meminta bibir Paidi terus mengelus bibir vaginanya. Dengan lembut Paidi menyusuri rambut kemaluan Alya yang lembut. Paidi paling suka dengan wanita seperti Alya, dia merawat rambut kemaluannya dengan mencukurnya rajin, baunya juga sangat wangi dengan aroma khas. Paidi sengaja menggoda Alya dengan menghembuskan nafas ke liang memeknya tanpa menyentuh. Alya tak tahan lagi, dia sodorkan bibir kewanitaannya ke mulut Paidi.
Dengan kedua jarinya, Paidi membuka sedikit mulut kemaluan Alya. Iapun segera mencari titik kelemahan sang ibu muda – klitorisnya. Ketika tonjolan kecil yang mematikan itu berhasil ditemukan, Paidi memperlancar aksinya menaklukkan Alya. Jilatan, hisapan dan sedotannya membuat tubuh Alya melonjak – lonjak bagai kuda liar yang sangat binal. Paidi bahkan harus memegang erat tubuh Alya agar tak terlonjak jatuh dari ranjang. Paidi melumat lembut kelentit sang wanita cantik yang ada dalam pelukannya, ciumannya lalu beralih ke sisi luar bibir vagina dan akhirnya ke bawah, masuk ke dalam liang cintanya. Sekali lagi Alya melonjak ke atas dan mendesis dengan keras, wajahnya yang cantik terlihat histeris namun ia berusaha keras menahan teriakannya.
“Mas! Sudah, Mas! Aku tidak kuat lagi! Masukkan! Ayo! Masukkan…”
Paidi tidak begitu saja menuruti permintaan Alya. Ia mainkan dulu lidahnya di bibir memek Alya. Gerakan kaki sang bidadari makin tak tertahan, ia menendang kesana kemari tanpa sasaran. Kepalanya berpaling ke kanan dan kiri dengan mata terpejam dan keringat yang terus bercucuran. Alya mengambil bantal dan menggigit ujungnya untuk menahan kenikmatan yang terus ia rasakan. Ketika Paidi menyedot cairan cinta yang menetes keluar dari memek Alya, rasa gelinya ia alirkan dengan menggigit ujung bantal.
Lidah Paidi makin berkuasa. Ia mendorong lidahnya masuk ke memek Alya, menjilat dinding yang ada di dalam, menari dan bergoyang tanpa ampun. Jari jemari Paidi membuka sedikit bibir memek Alya agar lidahnya bisa lebih leluasa.
“Sudah, Mas! Sudah cukup! Aku tidak tahan lagi!” desis Alya untuk yang kesekiankali.
Paidi mengangkat kepala dan tubuhnya, kini ia membenamkan bibirnya ke telinga sang bidadari. Orang yang pernah menjadi narapidana itu terus membisikkan kata – kata mesra ke telinga Alya, sementara tangannya asyik memainkan pentil susu yang sudah sangat menjorok keluar. Istri Hendra itu sudah sangat bernafsu, wajahnya memerah karena sangat menginginkan kemaluan Paidi. Ia mengelus dada Paidi dan meminta dengan pandangan memelas. Paidi tahu apa yang diinginkan oleh majikannya yang jelita itu, ia segera mengambil posisi.
Paidi kembali mengincar klitoris milik Alya. Benda mungil yang menjorok tepat di dalam area kemaluan sang bidadari itu dijilatnya ke kanan dan kiri, digerakkan naik turun. Bagi seorang wanita, titik kelemahan inilah yang membuatnya tak tahan menerima godaan laki – laki. Begitu pula bagi Alya, tubuhnya melejit dan pantatnya diangkat tinggi – tinggi, cairan cintapun meleleh membasahi bibir kemaluan si cantik itu. Ketika Paidi nekat menyeruput cairan cinta Alya, istri Hendra itupun menggelinjang keenakan dan meronta.
“Masssss… ahhhhh… ooooohhhhmmm… jangan dimaininnnn…” Alya merem melek keenakan, dia sudah tidak tahan lagi. “Ayo masukkan, Mas! Cepeeeet!! Aku tidak tahaaaan!!” rengeknya manja.
Dengan hati – hati Paidi menaiki tubuh sempurna milik Alya, putihnya kulit mulus Alya yang bagai pualam membuat pria tua kurus itu terkagum – kagum. Kontras sekali kulit bidadari ini dengan kulitnya yang hitam legam. Apalagi melihat payudara sempurna yang tak puas – puas remas dengan gemas. Betapa kagetnya Paidi ketika Alya nekat menarik batang kemaluannya yang sudah mengeras.
“Ouuuughhhh, besar sekali… ehmmmm… masukin, Masssss!! Cepeeettt!!”
Tentu saja Paidi tidak ingin begitu saja menyodokkan penisnya ke memek Alya walaupun dia sangat ingin. Dengan gerakan ringan, digoyangkan ujung gundul penisnya ke bibir kemaluan Alya tapi selalu ditariknya batang kemaluan itu ketika Alya ingin membimbingnya masuk ke dalam.
“Aaaahhh! Gimana sih!! Ayoooo, aku sudah tidak tahaaaann!!!” rengek si cantik.
Dengan hati – hati batang kemaluan Paidi ditarik oleh Alya masuk ke dalam liang kemaluannya. Bagi Paidi, ini yang namanya mimpi menjadi kenyataan. Sang majikan yang cantik jelita dan seksi sangat bernafsu menikmati kemaluan supirnya yang buruk rupa, kurus dan hitam legam. Alya sudah tidak ingat lagi statusnya sebagai istri Hendra ataupun ibu Opi, ia hanya ingin disetubuhi saat ini – – disetubuhi oleh penis raksasa Paidi!
Penis Paidi melesak masuk dengan mudah karena memek Alya sudah sangat basah, cairan pelumas yang keluar di dalam liang kenikmatan Alya membanjir dengan deras, memudahkan batang kemaluan Paidi melesak masuk ke dalam. Alya mengerang dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan, ia menderita dalam kenikmatan. Ketika melihat Alya sedikit kesakitan, Paidi menunda menyodokkan penisnya, tapi Alya justru mengangkat pantatnya, ingin segera digenjot.
Paidi memaju mundurkan pinggulnya dengan perlahan, ia takut menyakiti vagina Alya. Tapi wanita cantik itu sudah terlalu tenggelam dalam kenikmatan birahi yang tanpa ujung. Paidi tak puas – puasnya memandang kecantikan dan kemolekan wajah dan tubuh Alya. Lekuk tubuhnya yang sempurna, buah dadanya yang kenyal, pinggang ramping dan kulit putih mulus sang majikan. Ia bagaikan berada di awang – awang, tak percaya ia ternyata berhasil menikmati keindahan tubuh istri Hendra yang sangat seksi ini.
“Masss… aku nggak tahan… terussss… aaaahhhh…” Alya merengek manja.
Paidi tidak mampu menjawab karena merem melek keenakan. Memek Alya meremas – remas kemaluannya, memilin dan menggilingnya dalam liang kenikmatan yang sempit dan lembab. Ia tidak menyangka memek ibu satu anak ini masih begitu sempit dan nikmat, penisnya seakan disedot ke dalam tubuh Alya. Memek si cantik itu lama kelamaan makin basah oleh cairan kenikmatan yang keluar dari dalam, membuat goyangan penis Paidi seakan menumbuk liang yang becek.
Desahan manja dan kecantikan Alya membuat Paidi makin tak kuat menahan nafsunya. Dengan penuh tenaga pria tua kurus berkulit gelap itu mempercepat gerakan menumbuknya. Alya makin kebingungan, sakit sekaligus enak sekali rasanya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Alya hanya bisa mengimbangi gerakan memilin Paidi dengan menggerakkan pinggulnya maju mundur. Kemaluan Paidi yang ukurannya sangat besar memenuhi liang kenikmatannya dengan penuh, hanya dengan menggerakkan pinggulnya sedikit, penis itu sudah sampai di ujung terdalam dinding memek Alya, si cantik itupun belingsatan dan merem melek keenakan.
Tempat tidur Paidi makin tak berbentuk, sepreinya acak – acakan, bantal dan gulingnya terjatuh entah kemana. Makin lama, kedua insan yang sedang bercinta itu semakin dekat ke puncak kenikmatan. Paidi berusaha keras menahan orgasme, ia tak ingin terlalu cepat mengeluarkan air maninya, ia masih ingin menikmati memek Alya yang nikmatnya bagaikan surgawi. Tapi ia tak bisa mengingkari kekuatannya sendiri, dengan sekuat tenaga, Paidi menyodokkan penisnya berkali – kali ke dalam memek Alya yang menjerit – jerit penuh kenikmatan. Akhirnya Paidi mengeluarkan satu lolongan panjang, ia meremas bahu Alya kuat – kuat. Ia hampir sampai di puncak kenikmatan.
Alya yang tahu Paidi sudah hampir orgasme juga tak mau kalah, ia menggerakkan tubuhnya dengan gerakan menggila dan mendaki jalan nikmat menuju puncak. Alya sudah tidak peduli lagi dengan posisinya sebagai majikan Paidi ataupun statusnya sebagai istri Hendra dan ibu satu anak. Ia hanya ingin memuaskan birahinya secara alami, tanpa paksaan, tanpa tuntutan. Alya mengangkat kakinya dan mengapit pinggul Paidi, ia sodokkan pantatnya ke atas untuk melesakkan penis Paidi lebih dalam lagi. Akhirnya si cantik itu sampailah ke ujung perjalanan permainan cinta ini, ia mengerang tanpa terkendali.
“Masssss! Massss! Aku mau keluaaaaaar!!” jerit Alya panik, ia tak kuat lagi menahan orgasme. “Ahhhhhh! Aaahhhh!!!”
“Ahhhhmmm!! Ayo sayang! Kita sama – sama keluar! Aaahhh!!! Alyaku sayaaaang!!”
Semprotan demi semprotan air mani mengalir deras di dalam memek Alya, bercampur dengan cairan cinta yang memancar dari dalam. Cairan kental meleleh dari ujung bibir kemaluan sang ibu muda, membuktikan penyatuan kedua tubuh insan berlainan jenis ini.
Desah nafas kelelahan berpacu dari mulut Alya dan Paidi yang masih berpelukan dalam ketelanjangan, keringat deras membanjir di seluruh tubuh mereka, kemaluan Paidi masih bertahan di dalam liang lembut Alya. Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya terdiam, membiarkan waktu berlalu dan mencoba memperoleh kembali nafas mereka yang kembang kempis.
Tangan Paidi menggenggam erat tangan Alya, untuk sesaat sekalipun, ia tidak mau melepaskannya. Ia ingin terus bisa melakukan ini, ia ingin terus bisa menikmati keindahan tubuh sang majikan… ah bukan… ia ingin terus bisa menikmati tubuh indah sang kekasih pujaan. Ya, walaupun di mata orang luar mereka adalah majikan dan sopir, tapi Paidi dan Alya kini resmi menjadi sepasang kekasih.
Mata mereka saling berpandangan, mencoba menyelami perasaan masing – masing. Paidi tahu, walaupun ada kepuasan dalam diri Alya, namun matanya yang indah itu tak bisa berbohong. Ia menyimpan kesedihan yang teramat dalam. Paidi tahu apa yang mereka lakukan ini salah, Alya adalah istri sah Hendra dan ia mungkin telah menggoda wanita cantik itu untuk berselingkuh. Mungkin apa yang mereka berdua rasakan bukan cinta, mungkin hanya nafsu… tapi… seandainya diijinkan, ia ingin selalu bersama… selamanya.
Alya menatap mata Paidi tajam, entah kenapa ia terlihat ragu hendak mengungkapkan sesuatu. “Mas, aku… bolehkah aku menanyakan sesuatu? Sebenarnya aku malu… tapi…”
“Boleh saja, sayang. Mau tanya apa?”
“Mas… emmm, sudah capek belum?… emm… mau… lagi?” Alya mengedip genit dan tersenyum manja.
Paidi tertawa geli. Ia memeluk bidadarinya erat – erat tanpa sedikitpun keinginan melepas tubuh indahnya. “Apapun yang kamu minta, sayang. Apapun yang kamu minta.”
Dengan manja Alya mengangkat tangan Paidi dan membiarkan jemarinya mengelus pantatnya yang bulat, Alya kemudian menggoyangnya tanpa merasa malu. “Mau coba dari belakang?” tanya si cantik itu dengan senyum nakal.
Ini bukan kali pertama baginya, dan jelas bukan yang terakhir.
Malam pun terasa panjang untuk mereka berdua.
Bersambung…
NAMANYA LIDYA
“Apa?” Lidya Safitri terbelalak kaget. Bola matanya yang indah menatap suaminya yang saat itu tengah membaca koran di ruang tamu. Kalau saja Lidya tidak mampu menguasai emosinya, kopi yang ia bawakan untuk Andi akan tumpah.
“Apa kenapa, sayang?” Andi balik melihat ke arah istrinya yang sedang berdiri kaku dengan heran.
“K – K – Kamu barusan bilang apa……..??”
“Sudah panjang lebar cerita ternyata masih harus diulang, makanya kalau ada orang ngomong itu didengerin,” keluh Andi, “tadi aku bilang, aku sudah menemukan rumah kontrakan yang bagus. Tempatnya tidak jauh dari sini, fasilitas lumayan, harganya juga murah. Aku sudah ajak Bapak ke sana, katanya sih cocok.”
Lidya mengangguk, bukan kabar ini yang membuatnya kaget. Kabar ini justru membuatnya senang sekali. Adalah kalimat – kalimat selanjutnya yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak.
“Dalam waktu dekat Bapak mau pindah ke sana.” Lanjut Andi, “Tapi… kata Bapak sebelum dia menempati rumah kontrakan yang baru, dia pengen balik sebentar ke desa. Berpamitan, ziarah atau apalah…” Andi membalik halaman koran yang ia baca sambil terus menerangkan hal yang sebenarnya baru saja ia sampaikan pada Lidya, “…berhubung aku harus mengurus kontrakan baru Bapak ditambah kerjaan yang belum selesai di kantor, maka kamu yang nganterin Bapak ke desa.”
Inilah yang membuat Lidya terkejut setengah mati.
“T – t – tapi, mas… kenapa Bapak tidak pulang sendiri saja?”
“Ah, kamu ini!” Andi menatap Lidya dengan tatapan mata galak. Pria itu paling benci kalau Lidya tidak mau berkumpul atau menyatu dengan keluarganya. “Bapak kan sudah tua, kasihan dong harus pergi jauh seorang diri walaupun hanya untuk sebentar. Biar bagaimana juga dia itu bapakku! Masa gitu aja kamu nggak mau? Kalau saja aku ada waktu, aku yang akan mengantarkannya ke desa! Aku tidak akan minta bantuanmu!”
“Bukan begitu. Bapak kan masih kuat, Mas. Aku pikir…” Lidya terus mencari celah untuk menghindar, si cantik itu meletakkan kopi Andi di meja tanpa sedikitpun menatap matanya. Dia tidak berani bertatapan mata langsung dengan suaminya, ia takut Andi akan mencurigainya. Lidya tidak ingin suaminya tahu ayahnya sendiri hampir tiap hari menidurinya. Lidya melanjutkan kalimatnya, ia mencoba mencari alasan yang tidak akan menyinggung perasaan Andi. “Aku juga tidak yakin beliau mau aku temani pulang ke desa…”
Andi mengeluarkan nafas panjang. “Aku kemarin sudah ngobrol sama Bapak. Tadinya dia memang menolak ditemani siapa – siapa, dia bilang tidak mau merepotkan. Tapi setelah aku bujuk lama – lama luluh juga. Bapak akhirnya setuju kamu antar.”
Lidya membalikkan tubuh untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi. Tubuhnya bergetar ketakutan dan keringatnya mulai menetes. Andi memang tidak tahu kalau Pak Hasan yang terhormat telah memperlakukan istrinya dengan tidak senonoh. Bayangkan apa yang akan dilakukan lelaki tua cabul itu jika Andi memberikan peluang bagi Pak Hasan untuk berdua saja dengannya?? Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana menolaknya?
“Kapan Bapak mau berangkat, Mas? Berapa lama di sana?” tanya Lidya dengan penuh harap. Tidak ada gunanya melawan Andi kalau sedang seperti ini.
“Berangkat besok lusa, naik bis. Mungkin sekitar empat hari, kalian menginap di rumah sahabat Bapak di desa, namanya Pak Raka. Kebetulan yang punya rumah malah baru pergi ke kota. Keluarganya juga kenal dengan aku kok, keluarga Pak Raka sudah seperti keluarga kita sendiri, dulu waktu kecil aku sering tidur di rumah Pak Raka……” jawab Andi sambil terus membaca korannya tanpa melirik sedikitpun ke arah Lidya.
Lidya memejamkan mata dan berusaha menahan geram. Sial.
###
Sudah hampir setengah jam Lidya menunggu, ia melirik ke arah jam tangan cantik yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Bis belum juga datang, padahal hari sudah semakin larut. Jika mereka berangkat terlalu malam, mereka baru akan sampai di desa esok siang. Perjalanan cukup jauh dan wanita cantik itu tidak begitu suka berduaan saja dengan mertuanya untuk waktu yang cukup lama. Bus malam yang akan membawa mereka pulang ke desa sudah dibeli tiketnya dan sudah dijadwalkan akan berangkat dari tempat ini… setengah jam yang lalu.
Seorang lelaki botak bertubuh gemuk berjalan pelan mendekati Lidya. Ia duduk di samping wanita cantik itu sambil menikmati cemilan kacang yang sudah hampir habis. Mulutnya terus berkomat – kamit mengunyah kacang.
“Bis itu pasti datang, Nduk. Sabar saja.” Kata pria yang baru datang dengan tenang. “Penjual tiketnya bilang jalan macet, jadi busnya terlambat masuk terminal.”
Lidya menggerutu. Walaupun tidak menyukai keterlambatan, dia justru berharap bis yang mereka naiki tidak kunjung datang hingga tahun depan. Si manis itu beringsut menjauh dari posisi duduk yang berdekatan dengan si pria gemuk yang sangat ia benci hidup mati. Pria gemuk itu tentunya adalah ayah mertuanya yang bernama Hasan. Lidya cukup kesal karena Andi tidak bisa menemani mereka, paling tidak sampai bisnya datang. Andi malah hanya mengantar sampai pintu terminal dan buru – buru berangkat ke kantor. Suaminya itu tidak tahu, dia tengah mengumpankan anak ayam ke kandang buaya.
Pak Hasan bukan orang bodoh, ia sadar Lidya berusaha menghindarinya. Pria tua mesum itu melirik ke arah menantunya yang mempesona. Sungguh pemandangan indah yang tiada duanya, rambut panjang yang indah, tubuh tinggi dengan kaki jenjang, kulit putih mulus bagai pualam, lekukan tubuh menggiurkan, wajah cantik rupawan dan buah dada yang sempurna. Seorang bidadari yang turun dari khayangan.
Pria tua itu tersenyum bangga, semua keindahan itu… kini jadi miliknya.
…paling tidak untuk empat hari ke depan.
Pak Hasan terkekeh kalau mengingat anaknya yang bodoh. Mudah sekali Andi ditipu. Pak Hasan berpura – pura tidak mau diantar Lidya pulang ke kampung, padahal dalam hati ia ingin sekali membawa menantunya yang molek itu dan menidurinya setiap hari di sana. Hawa di desa agak dingin dan berangin, pasti enak kalau tidur kelon dengan Lidya. Dengan sedikit tipu daya, bukan dia yang merengek ingin membawa Lidya, malah Andi yang memaksa dia mengajak si cantik itu. Ini mungkin yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba. Pak Hasan pun berhasil mengajak Lidya menemaninya ke kampung.
Sambil menghabiskan kacangnya, Pak Hasan mengamati kanan kiri. Beberapa orang di terminal sepertinya tidak tahan untuk tidak melirik ke arah Lidya. Hampir semua laki – laki yang ada di sana tidak mampu menjauhkan mata dari pesona menantunya, tidak tua tidak muda. Bahkan ada beberapa orang laki – laki yang berjalan bersama pasangannya melirik diam – diam ke arah si cantik itu. Geli juga Pak Hasan melihat ekspresi benci seorang wanita melihat pasangannya ngiler melihat Lidya.
Dilihat dari cara berpakaiannya kali ini sebenarnya Lidya tidak terlalu menampilkan kemolekan tubuhnya, hanya saja karena dia memang terlampau menarik, orang dengan mudah terpesona. Saat ini Lidya mengenakan baju putih kancing depan berlengan panjang yang ditekuk hingga tiga perempat. Baju itu agak ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya namun tidak terlalu seksi. Seperti biasa, Lidya melepas satu kancing teratas karena rasanya sesak dan memperlihatkan sedikit saja belahan dada sentosa. Ia mengenakan rok pendek selutut dengan warna abu – abu tua yang membalut pahanya yang mulus dan memperjelas keindahan kakinya yang jenjang.
Menyadari banyak laki – laki melirik ke arahnya Lidya memilih diam dan mengenakan kacamata hitamnya, ia berpura – pura memperhatikan bis yang datang dan pergi dan tidak menghiraukan mereka. Toh tidak ada gunanya ditanggapi.
Lama kelamaan si cantik itu melamun, benaknya melayang tak tentu arah. Lidya menyesalkan kehidupan yang telah dikacaukan oleh ayah mertuanya yang mesum dan cabul. Ia sudah mengkhianati suaminya dengan menyerahkan barangnya yang berharga pada Pak Hasan. Belum lagi ketidakjelasan kakak – kakaknya yang juga entah bagaimana nasibnya…
Sampai sejauh ini ia sudah…
Terbangun dari lamunan, Lidya baru menyadari kalau tangan gemuk Pak Hasan telah melingkar di pundaknya dan beberapa kali memencet buah dadanya. Dengan risih Lidya menggoyangkan badan untuk melepaskan kaitan lengan sang ayah mertua.
“Apaan sih Bapak?!” Kata Lidya ketus, ia memasang muka masam, “ini tempat umum. Jangan macam – macam.”
Pak Hasan mencibir. “Dulu kamu pernah seperti ini di mal dan pasar, bahkan saat itu keadaan lebih parah. Apa bedanya dengan terminal? Sama – sama tempat umum kan?”
“Pokoknya aku nggak mau seperti dulu lagi… aku ini…”
“Jangan banyak omong!!” tiba – tiba saja Pak Hasan menghardik dengan galak.
Lidya tercekat kaget, dia tidak mengira Pak Hasan akan membentaknya. Satu hal yang ia takutkan pada saat ini adalah mengundang perhatian orang sekitar. Melihat emosi Pak Hasan meledak, Lidya mengalah karena melihat beberapa orang melirik ke arah mereka. Dengan terpaksa ia membiarkan tubuhnya yang indah digerayangi sang mertua.
Dengan berani pria tua itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Lidya. Orang – orang yang melihat akan menganggap kedua orang ini sebagai pasangan karena mesra sekali. Rabaan tangan Pak Hasan melaju tanpa henti di tubuh Lidya, menggerayangi dan menikmati setiap lekuk tubuhnya yang indah. Membuat iri mereka yang melihatnya, bagaimana mungkin seorang pria botak, gemuk dan jelek seperti Pak Hasan bisa menaklukan wanita seindah Lidya sungguh di luar daya khayal mereka.
Untunglah penderitaan Lidya tak berlangsung lama karena bus yang mereka tunggu – tunggu akhirnya datang juga.
Pak Hasan mendengus kesal melihat bus memasuki terminal, menganggu orang seneng aja, baru seru malah masuk. Tapi beberapa saat kemudian pria tua itu terkekeh sambil menepuk pantat Lidya dan berjalan mendahului menantunya ke tempat bus parkir.
Lidya kembali menggerutu.
###
Lidya dan Pak Hasan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Berangkat di sore hari dengan menggunakan bus malam antar kota, mereka baru sampai di tujuan besok siang. Karena bus penuh dan mereka berdua sedikit terlambat memesan tiket, Lidya dan Pak Hasan mendapatkan tempat duduk di belakang, dekat dengan toilet dan sejajar dengan pintu belakang. Lidya jelas kurang suka posisi duduknya ini sedangkan Pak Hasan menganggapnya keberuntungan karena tidak akan ada gangguan selama perjalanan. Posisi tempat duduk adalah 2 – 1, dua kursi di kiri dan 1 kursi di kanan. Pak Hasan dan Lidya duduk berdampingan, pria tua itu memilih duduk di dekat jendela.
Lidya yang tidak biasa menempuh perjalanan jauh menggunakan bus malam merasa tidak nyaman dengan jalan yang bergelombang tidak rata. Sayangnya hanya dia sendiri yang sepertinya tidak merasa nyaman, penumpang lain tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan. Keadaan di dalam bis sendiri sudah sangat gelap sejak lampu – lampu dimatikan. Pak Hasan sudah tertidur sejak tadi, dengkurannya yang keras cukup mengganggu Lidya. Kepala mertuanya itu disampirkan sengaja di bahu kanan Lidya, ia tidur dengan enak sementara menantunya tak sedikitpun sanggup memejamkan mata.
Untunglah kelelahan yang menghinggap perempuan jelita itu akhirnya membuatnya terlelap. Rasa capek yang amat sangat membuat Lidya bisa tertidur nyenyak.
Beberapa jam perjalanan berlalu, Pak Hasanlah yang terbangun terlebih dahulu, ia melirik jam tangan dan menengok pemandangan di luar. Perjalanan masih jauh dan keadaan di luar terlalu gelap untuk dinikmati. Pak Hasan mengangkat bahu dan tertawa kecil, kalau pemandangan di luar tidak terlihat, sebaiknya menikmati saja pemandangan indah yang ada di dalam.
Pak Hasan menengok ke arah Lidya dan mengagumi kulit sang menantu, begitu halus dan mulus, putih laksana pualam, bahkan di kala gelap seperti ini, putihnya kulit Lidya seperti menyala. Bagian atas pakaian Lidya memperlihatkan sedikit balon buah dadanya yang lumayan montok. Menggiurkan sekali, pikir Pak Hasan. Pikiran kotornya mulai menggelora. Posisi kursi yang ada di belakang membuatnya bebas melakukan apapun karena tidak ada orang lain duduk di samping kursi mereka, lagipula hampir semua orang tidur. Pak Hasan menarik selimut kecil yang ia pakai turun ke bagian selangkangan dan dengan pelan membuka kancing celananya sendiri. Pak Hasan mengeluarkan kemaluannya sambil menyeringai lebar.
Setelah mengeluarkan penisnya yang mulai mengeras, tangan kanan Pak Hasan dengan nakal menjelajah ke bagian dada perempuan cantik yang terlelap disampingnya, meremas pelan dan membelai buah dadanya yang menggiurkan sementara tangan kirinya mulai membetot penisnya sendiri. Dengan berani pria tua melepas beberapa kancing baju Lidya agar ia bisa lebih leluasa menikmati buah dada sang menantu. Tangan keriput Pak Hasan makin tak terhalangi setelah dua kancing atas baju Lidya dilepas. Ia kini menyelipkan tangan ke bawah beha Lidya, meremas payudara montoknya dan memainkan puting yang makin lama makin menegak dengan sesuka hati.
Pak Hasan menyukai buah dada Lidya yang menurutnya berukuran sempurna, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Remasan pada payudara Lidya pas dengan tangkup jemarinya. Kenyalnya balon buah dada sang menantu makin membuat Pak Hasan tak tahan, beberapa kali ia mengenduskan hidung di buah dada Lidya, menikmati baunya yang harum. Ia tak puas berhenti di payudara Lidya, Pak Hasan meraba bagian lain seperti pantat bulat dan paha mulus sang menantu yang hanya terlindungi oleh rok mininya.
Dengan gerakan selembut yang ia bisa, jari – jari keriput Pak Hasan meraba paha Lidya, menaikkan roknya sedikit demi sedikit sampai akhirnya ia mampu melihat lamat – lamat celana dalam sang menantu dalam kegelapan. Gundukan berbelah yang ada di selangkangan Lidya membuat Pak Hasan meneguk ludah, ia menarik bagian bawah celana dalam Lidya ke samping, membuka akses utama menuju liang kewanitaan sang menantu dan mulai memijat lembut bibir vagina sembari mencoba mencari kelentitnya.
Apa yang dilakukan Pak Hasan tentu membuat Lidya terbangun, masih dengan mata yang setengah terpejam, si cantik itu berbisik pelan. “Bapak? Apa yang..?”
Pak Hasan tidak menjawab, ia menengadah, menaikkan kepala dan mengenduskan hidung di pipi sang menantu. Pak Hasan mencium pipi dan leher Lidya dengan lembut sambil berbisik, “sudah, kamu diam saja…..”
Gerakan jemari nakal Pak Hasan yang menjelajah di selangkangannya membuat Lidya tersadar, mana ada orang yang tidak bangun kalau dirangsang seperti ini. “Esssst….,” desahan pelan keluar dari mulut mungil Lidya. Ia tidak menyukai sedikitpun apa yang dilakukan Pak Hasan, tapi ini… ini… enak sekali.., “…ja… jangan… essstt…” tolak Lidya. Ia menggelengkan kepala dan mendesah manja, entah keenakan atau menolak.
Lidya mencoba mendorong tangan Pak Hasan namun gerakannya seperti setengah hati, hal yang justru membuat Pak Hasan meningkatkan serangannya dan membuat si cantik itu merem melek. Tak perlu waktu lama bagi pria tua itu untuk bisa mengeluarkan cairan pelumas yang segera meleleh keluar dan membasahi belahan liang cinta Lidya. Cairan itu juga mulai membasahi jemari Pak Hasan yang berkuasa penuh di memek menantunya. Lidya menggelengkan kepala dan terus menolak, “…jangan… jangan di sini… jangan…”
Ketika menggelengkan kepala untuk mencoba menolak, mata Lidya tertumbuk pada gundukan yang makin lama makin membesar di selimut yang menutup selangkangan mertuanya. Lidya semakin tidak percaya, jangan – jangan mertuanya yang gila itu sudah membuka celana? Tidak mungkin selimut itu menggunduk sebesar itu jika kemaluannya masih ada di dalam celana. Sudah pasti kemaluannya sudah ada di luar. Gila, mereka sedang berada di bus! Ada dua orang yang saat ini duduk di depan mereka!
“Saatnya mengulum sekarang, Nduk.” bisik Pak Hasan.
Mata indah si cantik itu melotot! Lidya menggelengkan kepala semakin keras, ia tidak mau! Jelas ia tidak mau! Ini gila! Mereka sedang dalam bus… dalam bus… yang gelap dan sepi… dalam bus yang hampir seluruh penumpangnya tertidur. Lidya mencoba melihat sekitarnya dalam kegelapan, orang yang berada di kursi – kursi terdekat telah tidur.
“Hgghh!!!” Lidya tercekat ketika ia merasakan sentakan di selangkangannya.
“Cepat kulum penisku!!” bisikan galak mengagetkan Lidya, hardikan itu semakin mengena karena pada saat yang bersamaan Pak Hasan menyentil klitorisnya. Pria tua cabul itu telah berhasil menemukan titik kelemahan Lidya. Tubuh wanita jelita itu menggelinjang tanpa henti, kalau ia tidak segera mengulum penis sang mertua bisa – bisa ia berteriak – teriak seperti orang gila karena Pak Hasan terus menerus merangsang kelentitnya.
Dengan takut – takut Lidya melihat ke kursi sekitar sebelum membungkukkan tubuhnya dan menarik selimut mertuanya. Penis tua Pak Hasan langsung menyambut dengan tegak wanita cantik itu, Lidya bersyukur saat itu gelap sehingga dia tidak harus menyaksikan penis keriput milik pria tua cabul yang sudah sering memperkosanya. Dengan jemarinya yang lentik Lidya meraih kemaluan Pak Hasan.
“Naaah… begitu.” Pak Hasan menarik nafas penuh kepuasan.
Lidya menurunkan kepala untuk mencapai kemaluan mertuanya. Pria tua itu mulai merasakan lidah yang lembut memutari kemaluannya. Pak Hasan terkekeh keenakan. Susah sekali menahan lenguhan jika Lidya menyepongnya seenak ini. Lidah sang menantu naik turun di batang kemaluan Pak Hasan, merasakan setiap cm kulit kemaluan yang telah keriput, menjilati urat yang menegang pada benda kebanggaan Pak Hasan. Tidak perlu waktu lama bagi penis Pak Hasan untuk menegak seperti tiang bendera dan sekeras kayu.
Namun ketika Lidya tidak juga segera memasukkan penisnya ke dalam mulut, Pak Hasan mulai gusar. Melepaskan tangan kanan dari selangkangan sang menantu, Pak Hasan meraih bagian belakang kepala Lidya, menjambak rambutnya pelan dan menggiring bibirnya ke penis keriput yang telah menunggu.
Lidya benci sekali disuruh melakukan hal ini tanpa kesempatan untuk menolak. Karena dia tidak ingin ada keributan terjadi di dalam bus, si cantik itu menurut saja apa kehendak Pak Hasan. Pria tua itu terus saja mendorong kepala Lidya ke bawah, melesakkan penisnya ke dalam mulut sang menantu sedikit demi sedikit. Lidya tak mampu mengangkat kepalanya karena ditahan oleh Pak Hasan, itu sebabnya dia membiarkan ayah mertuanya memasukkan kepala penisnya ke dalam mulut.
Makin lama makin dalam penis itu melesak masuk. Pak Hasan bisa merasakan gerakan tubuh Lidya yang meronta, mulut si cantik itu megap – megap mencari udara, ia mencoba mencari nafas karena mulutnya penuh dijejali penis. Merasa kasihan, Pak Hasan memberikan kesempatan pada Lidya untuk menarik nafas selama beberapa saat. Lidya megap – megap ketika kepalanya diangkat ke atas dan berusaha menarik nafas panjang. Tapi Pak Hasan belum puas, ia membiarkan Lidya menarik nafas sebelum akhirnya melesakkan lagi penisnya dalam – dalam.
Tapi mungkin Pak Hasan memasukkan penisnya terlalu dalam. Ketika sodokan kepala penis Pak Hasan menyentuh dinding terdalam kerongkongan Lidya, si cantik itu tersedak! Pak Hasan menjambak rambut Lidya dan untuk kedua kalinya ia melepaskan penisnya dari dalam mulut sang menantu. Lidya memekik lirih ketika penis Pak Hasan lepas dari bibirnya.
“Hak…! Hak…!” Lidya terbatuk.
Bukannya berhenti setelah Lidya tersedak, Pak Hasan justru kembali mendorong kepala si jelita untuk melanjutkan sepongan pada kemaluannya. Lidya menatap Pak Hasan tak percaya, mertuanya ini sudah gila atau benar – benar tidak punya perasaan?!!
Untungnya untuk yang kali ini Pak Hasan lebih lembut, Lidya pun melanjutkan sepongannya dengan lebih pelan, ia mencoba menikmati kemaluan keriput yang sebelumnya membuatnya merasa jijik. Pak Hasan membantu menantunya menyepong dengan kecepatan tetap, lidah Lidya bergerak lincah menjilat batang dan ujung gundul penis sang mertua sebelum akhirnya menelan batang kemaluan Pak Hasan.
“Harghhh!!” Pak Hasan mencoba menahan kenikmatan yang diberikan oleh Lidya.
Setelah beberapa saat lamanya mulut, lidah dan bibir Lidya bekerja tanpa henti, Pak Hasan akhirnya bergetar… ia sudah tak kuat lagi! Sekali mengejang, penisnya melontarkan semprotan demi semprotan cairan kental ke dalam mulut sang menantu. Karena tidak bisa bernafas, Lidya terpaksa menelan cairan cinta sang mertua. Ia memejamkan mata mencoba menahan diri agar tidak muntah.
Pak Hasan menarik penisnya dari mulut Lidya dan melepaskan rambutnya. Si cantik itu mengangkat kepalanya dan merasa lega. Akhirnya selesai juga… eh?!!
Lidya yang mengira penderitaannya sudah berakhir ternyata salah besar. Jari nakal pria tua yang juga mertuanya sendiri itu kini bergerak lincah memainkan bibir vaginanya! Lidya memejamkan mata mencoba menahan rangsangan luar biasa. Tangan Lidya mencoba mendorong tangan Pak Hasan tanpa hasil. Pria tua itu masih terlampau kuat.
Pak Hasan puas sekali melihat tubuh menantunya bergetar hebat mencoba menahan kenikmatan yang terus menerus ia terima. Lidya berusaha menahan teriakannya dengan memejamkan mata dan menutup mulut dengan tangannya. Ia menggelengkan kepala karena tak kuat bertahan. Ia harus berteriak… ia ingin berteriak… ia tak tahan lagi!!!
Lidya menarik bajunya ke atas dan menggigitnya.
Akhirnya Lidya mengejang beberapa kali. Matanya melotot dan ia berteriak tertahan sambil menggigit baju untuk mengurangi suara. Cairan cinta meleleh dari dalam vaginanya. Lidya menggigil sebelum akhirnya lemas. Pak Hasan tertawa dalam hati melihat Lidya berusaha bertahan mati – matian agar tidak mengeluarkan suara. Untuk terakhir kalinya tubuh Lidya mengejang hebat dan akhirnya lemas.
Lidya menatap benci ayah mertuanya, dia membalikkan badan dan merapikan pakaiannya.
Pak Hasan mengancingkan celananya dan menepuk kepala Lidya.
“Gitu dong, Nduk.”
###
HARI PERTAMA
Lidya mengejapkan mata, sinar matahari yang sudah menembus masuk ke dalam bus menerangi wajah para penumpang yang mulai terbangun dari tidur. Tubuh Lidya terasa pegal, ia merenggangkan tangan untuk menghilangkan penat. Karena masih mengantuk, Lidya menguap. Hm, perjalanan masih jauh nggak ya? …hm… Rasanya ada yang aneh, ada yang salah. Tapi apa ya? Entah kenapa, Lidya merasa ada sesuatu janggal. Ketika akhirnya benar – benar sadar dari kantuknya, barulah Lidya tahu apa sesuatu yang salah itu, ia membuka selimut kecil yang sedang bertengger didadanya. Tangan kanan Pak Hasan masih berada di dalam behanya! Jadi semalaman pria tua itu terus saja memainkan payudara dan putingnya setelah Lidya tertidur??!! Dasar terkutuk!
Dengan sengit Lidya melepas tangan Pak Hasan dan merapikan bajunya.
“Kasar sekali kamu.” Maki Pak Hasan.
“Ini sudah pagi, aku tidak ingin ada orang yang melihat…”
Pak Hasan menguap, ia terkekeh dalam hati.
“Kita sudah hampir sampai.” Kata Pak Hasan sambil melihat jam tangannya.
Lidya mencoba mencari cara untuk menjauhkan jari jemari Pak Hasan dari buah dadanya. Ia pun berusaha mengalihkan perhatian ayah mertuanya dengan menunjuk pemandangan di luar sambil merapikan pakaiannya yang semalaman terbuka, “Desa Bapak… kenapa namanya Desa Kapukrandu?”
Pak Hasan mengeluarkan nafas panjang. “Seperti yang kamu lihat, Nduk.” Kata Pak Hasan kemudian, dia membuka tirai jendela agar Lidya bisa melihat pemandangan di jendela samping, “di sekitar sini tanah kering, namun justru di tempat kering seperti ini pohon kapuk randu tumbuh subur. Nama pohon itulah yang yang jadi asal muasal nama desa.”
Desa Pak Hasan bernama Desa Kapukrandu, dinamakan demikian karena di sepanjang perjalanan menuju desa, pohon – pohon besar kapuk randu berjajar di sisi jalan membentang hingga jauh. Karena ditumbuhi oleh banyak pohon kapuk randu, selain bertani dan berternak, usaha kebun kapas pun menjadi penghasilan utama masyarakat desa. Desa Kapukrandu sendiri adalah tempat yang asri dan hijau, berbeda dengan tempat ini. Tanah di Desa Kapukrandu subur dan hawanya sejuk karena dikelilingi oleh perbukitan yang menghijau.
“Pohon kapuk randu?” tanya Lidya kembali sambil memperhatikan sepanjang jalan yang dilalui oleh bus, pohon – pohon besar berdiri tegak menyambut mereka di sepanjang jalan. Pohon – pohon besar yang menaungi daerahnya bagaikan payung raksasa dengan dahan – dahan yang menjorok ke langit.
“Biasa disebut juga Kapas Jawa. Tinggi pohon yang besar bisa mencapai 65 bahkan 70 meter, begitu besarnya, hingga garis tengahnya kadang mencapai dua meter.” Lanjut Pak Hasan menjelaskan. “dulu sekali aku sering memotong kayunya.”
Ketika angin bertiup, sebagian serat biji Kapuk Randu lepas dari cangkangnya, terbang berputar mengikuti arah angin. Ribuan serat yang lepas menghujani jalanan bagaikan salju yang tiba – tiba muncul di pagi yang cerah. Bis kecil yang melintasi jalan pun melaju seperti disambut hujan kapas oleh para penghuni hutan kapuk randu.
“Di sini anginnya kencang, begitu juga Desa Kapukrandu. Kalau di kampung hawanya lebih sejuk karena tempatnya berada di lembah perbukitan yang mengitari.” Kata Pak Hasan sambil memperhatikan dahan – dahan pohon yang bergoyang dan serat kapuk yang berterbangan kesana kemari.
Ketika melirik ke arah menantunya yang kagum melihat pemandangan menuju desa yang indah, Pak Hasan justru mengagumi kecantikannya yang natural. Lidya memiliki hidung mancung yang seperti seluncur dan pipi putih mulus menggemaskan. Alis matanya runcing alami bertengger di atas sepasang mata bulat yang tajam dan indah.
Pak Hasan menekuk lehernya sedikit untuk mendekatkan kepalanya ke arah kepala Lidya.
“Jadi berapa lama lag…”
Dengan satu gerakan pelan Pak Hasan mencium bibir mungil Lidya yang kaget. Mata si cantik itu terbelalak karena ciuman mertuanya begitu tiba – tiba. Lidya tak sempat mengelak dan menolak, lagipula gerakan sedikit apapun akan mengakibatkan kecurigaan tak penting dari kernet atau penumpang lain. Satu – satunya yang bisa dilakukannya adalah pasrah.
Pasrahnya Lidya membuat Pak Hasan leluasa mengulum bibir merah menantunya. Bibir mungil si manis itu sangat menggemaskan, sisa lipstik yang tadi sempat disapu lembut masih sedikit terasa. Tak mau berhenti begitu saja, Pak Hasan mengeluarkan lidahnya untuk merajai bibir Lidya. Lidah itu bergerak liar bagai seekor ular menggeliat di atas bibir sang menantu, menjilat dan menusuk ke dalam. Lidah Pak Hasan berusaha menemui pasangannya, lidah Lidya yang masih bersembunyi di lorong mulut.
Tak perlu waktu lama bagi lidah Pak Hasan untuk menemukan lidah Lidya, keduanya langsung bertaut dan menarik pasangannya, berpagut bagai saling merindu. Lidya tidak menduga dia akan menerima saja dicumbu seperti ini.
Pagutan Pak Hasan baru lepas ketika seorang penumpang berjalan ke belakang menuju kamar kecil. Pria tua itu menggerutu sementara Lidya menarik nafas dan bersyukur. Seperti apa kira – kira nasib empat harinya di Desa Kapukrandu?
Empat hari di Desa Kapukrandu. Dimulai hari ini.
###
Desa Kapukrandu yang berada di pelosok tentunya tidak dilewati oleh bus malam. Pak Hasan dan Lidya harus turun di pinggir jalan, tepatnya di sebuah pertigaan dimana terdapat jalan kecil menuju desa. Karena jaraknya masih jauh, keduanya harus memilih menggunakan ojek atau angkutan pedesaan yang biasa disebut angkudes. Saat itu kebetulan tidak ada ojek yang berada di pangkalannya, hingga Pak Hasan dan Lidya harus menanti angkudes.
Perjalanan menggunakan angkudes tidak membutuhkan waktu lama. Sekitar seperempat jam Lidya dan Pak Hasan telah sampai di tempat tujuan yaitu rumah Pak Raka, salah seorang sahabat Pak Hasan yang pada saat yang sama kebetulan pergi ke kota sekeluarga. Selama empat hari mereka akan tinggal di rumah sahabat Pak Hasan ini.
Rumah yang akan ditinggali adalah sebuah rumah sederhana namun rapi, dengan empat kamar tidur, kamar mandi dalam dan air dari sumur pompa. Bu Raka berbaik hati membelikan satu tabung gas ukuran kecil seandainya Lidya atau Pak Hasan ingin memasak. Tetangga terdekat berjarak beberapa meter saja, seorang diantaranya menyambut kedatangan Pak Hasan dan Lidya dengan gembira.
“Mbak Mirah. Sudah berapa lama ya kita tidak ketemu.” Kata Pak Hasan sambil bersalaman dengan tetangga yang menyambut. Orangnya gemuk, berwajah ramah dan suka sekali tertawa. Hanya dengan sekali lihat saja Lidya tahu wanita ini adalah orang yang baik dan sederhana, ia mengenakan daster besar dan memakai selendang, sepertinya memiliki seorang anak yang masih balita karena ia membawa piring plastik berisi bubur.
“Iya nih, Pak Hasan sudah lama sekali pergi ke kota. Di sana betah ya, Pak? Eh, ini siapa, Pak?” tanya Mbak Mirah sambil menunjuk Lidya.
“Ini mantuku. Istrinya Andi, namanya Lidya.”
“Ya ampun, istrinya Mas Andi to… walah walah cantiknya… kok bisa – bisanya Mas Andi menikah dengan orang secantik ini ya? Saya Mirah, Mbak. Tetangga Pak Raka – yang rumahnya kalian pinjam ini. Kebetulan beliau menitipkan kunci rumah sama saya. Mbak Lidya ini bintang sinetron atau apa ya? Kok cantik banget?”
Lidya tersenyum ramah menyambut salam perkenalan itu. “Saya bukan bintang sinetron mbak.”
“Lho? Bukan bintang sinetron? Wah, sayang cantiknya lho, Mbak… maaf ya, Mbak. Aku kira bintang sinetron atau film atau iklan gitu. Coba saja mendaftar ke sinetron mbak. Pasti diterima jadi bintangnya….”
Lidya baru sadar kalau Mbak Mirah ini tentunya seorang ibu rumah tangga yang hiburan terbaiknya adalah tayangan sinetron stripping yang disiarkan tiap malam oleh tv swasta. Lidya membalas ucapan Mbak Mirah dengan tertawa kecil.
“Kuncinya, Mbak?” tanya Pak Hasan sopan.
“Oh iya, bentar, Pak. Saya ambilkan dulu di dalam rumah… bentar ya. Tunggu saja di teras. Saya susul kesana.” Usai mengatakan itu, Mbak Mirah lari ke rumahnya.
Pak Hasan dan Lidya duduk di teras rumah Pak Raka.
“Jadi bagaimana pendapatmu tentang desa ini?” tanya Pak Hasan sambil duduk di kursi yang ada di teras. Ia mengeluarkan nafas panjang, lega sudah sampai di tempat tujuan.
Lidya mengerutkan kening, tumben – tumbenan pria tua cabul ini bertanya seperti itu. “Memangnya bapak peduli dengan pendapatku?”
“Tidak.” Pak Hasan mengangkat bahu. “Aku tidak peduli. Yang penting aku akan menidurimu setiap malam selama kita ada di desa ini.”
Lidya mendengus kesal. Dasar bajingan.
###
HARI KEDUA
Malam telah larut dan desa sudah sepi. Tapi di sebuah pos siskamling di ujung sawah, suara tawa cekakakan memecah kesunyian. Tawa yang berasal dari empat orang yang duduk bersila di dalam pos siskamling dan asyik bermain gaple. Pos siskamling ini terletak tak jauh dari rumah Pak Raka, rumah tempat Pak Hasan dan Lidya sementara tinggal.
Pos siskamling itu berada di ujung terluar sawah yang membentang beberapa hektar, agak terpisah dari jalan kampung. Posisinya yang pas berada di mulut jalan setapak menuju hutan kapuk randu menjadi salah satu alasan dibangunnya pos di tempat itu. Atau setidaknya itulah alasan mahasiswa KKN yang membangunnya. Kini pos itu sudah jarang digunakan untuk ronda karena di desa sudah dibangun pos yang baru dan letaknya yang terlalu jauh.
Pak Hasan membanting kartu dominonya. “Payah nih Ecep ngocoknya! Masa dari tadi aku dapatnya balak enam melulu?”
Ecep, Edi dan Eko tertawa hampir bersamaan. Keempat orang ini adalah kawan lama, walaupun tiga orang kawan Pak Hasan usianya jauh lebih muda darinya. Malam ini Pak Hasan sengaja menyempatkan diri untuk bermain gaple bersama dengan ketiga sahabatnya untuk mengenang masa lalu.
…sekaligus berharap dapat meraup uang.
Ya, keempatnya memang dikenal hobi judi domino atau gaple. Sejak awal permainan, Pak Hasan sudah menderita kekalahan. Ia bahkan harus merelakan uang saku dari Andi lepas dari tangannya. Agak bahaya juga seandainya ia tidak bisa memenangkan kembali uang itu, karena uang saku dari Andi rencananya akan dipakai untuk membayar hutang pada Koh Liem besok. Koh Liem adalah tengkulak dan tuan tanah yang cukup disegani di Desa Kapukrandu dan ketiga orang yang saat ini bersama Pak Hasan dikenal sebagai anakbuahnya.
“Ngomong – ngomong, Pak… siapa cewek yang Pak Hasan ajak itu?” tanya Eko. “Cantiknya gila, bodynya juga mantap. Tadi pagi aku lihat dia jalan – jalan ke pasar pojok. Segerrr beneerrrr… Boleh nih kalau dia dibagi – bagi?”
Kata – kata Eko itu langsung disambut gelak tawa dua temannya yang lain. Pak Hasan hanya tertawa kecil.
“Heh, jangan ngawur. Dia itu istrinya Andi. Dia itu menantuku.”
“Wah hebat punya menantu sebahenol itu. Bisa juga Andi milih cewek. Tapi… Andi kan nggak ada, Pak? Kalau bisa sih tetap dibagi – bagi.” Balas Eko yang kembali disambut gelak tawa Edi dan Ecep. Eko memang tidak bisa melepaskan pandangan sejak pertama kali berjumpa dengan Lidya. Kecantikannya yang natural dan tubuhnya yang indah membuat Eko panas dingin.
“Hm… mungkin itu bisa diatur?” Pak Hasan terkekeh, sebuah rencana menyeruak memasuki ruang pikirannya yang kotor. “Coba aku pulang dulu, aku tanyakan ke dia.”
Pak Hasan langsung meninggalkan ketiga kawannya dan bergegas pulang ke rumah. Entah nasib buruk apa yang selalu menggelayuti Lidya, kebetulan si cantik itu sedang menyapu teras rumah. Rambutnya yang panjang diikat kucir kuda, pakaian yang dikenakan hanyalah daster tipis sederhana, namun karena pada dasarnya ia memiliki pesona, kecantikan Lidya menerawang sampai jauh. Seakan – akan ada cahaya keemasan keluar dari tubuhnya yang indah. Pak Hasan yang sudah beberapa kali menyetubuhi menantunya itu masih tidak percaya ia bisa meniduri wanita seindah ini.
“Nduk.” Panggil Pak Hasan menghampiri Lidya.
“Ya.” Balasan keluar dari mulut yang terbuka tipis tanpa semangat.
“Berhubung ada kamu di sini, aku mau minta bantuan, Nduk.” Kata Pak Hasan sambil menatap mata menantunya dengan tajam. Ia menarik bagian atas lengan Lidya dan memegangnya erat – erat supaya Lidya menanggapinya dengan serius.
“Ba – bantuan apa?” Lidya menatap mata mertuanya dengan takut – takut. Begitu eratnya pegangan Pak Hasan pada lengannya sampai – sampai sapu yang sedang ia pegang terpaksa ia jatuhkan ke lantai.
“Yah, kamu kan tahu aku baru saja darimana? Teman – teman lamaku itu mengambil cukup banyak uang yang diberikan Andi. Kita harus memenangkannya kembali, uang itu aku butuhkan untuk membayar hutang besok. Aku mau kamu datang dan membantu…”
Lidya tahu Pak Hasan pergi bermain kartu di pos kamling, tapi ia tidak tahu apa yang dimaksud mertuanya itu. “Mengambil cukup banyak uang??? Maksud Bapak??”
“Judi.”
Lidya menepuk dahinya dengan kesal. “Judi?!! Bapak memakai uang Andi untuk judi?!! Astaga…!!”
“Makanya bantu aku memenangkannya.”
“Tidak mau! Aku tidak mau membantu Bapak kalau untuk alasan seperti itu… aku tidak mau berjudi!”
“Aku tidak menyuruhmu berjudi. Aku menyuruhmu membantuku mengambil kembali uang Andi yang mereka ambil. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan judi.”
“Maksudnya…?”
“Aku ingin kamu mengalihkan perhatian ketiga temanku itu.”
Lidya mengernyit heran, “Memang bagaimana caranya?”
“Kamu diam saja kalau mereka menggerayangimu, kalau perlu kau rayu mereka supaya mau menyentuh tubuhmu. Dengan begitu perhatian mereka teralih dari permainan ke kamu.”
Kata – kata itu bagaikan guntur yang membelah lautan di batin Lidya. Merayu teman – teman judi mertuanya! Dia pikir dia ini siapa? Pelacur yang bisa dipesan dan dibagikan kapan saja? Siapa pula Pak Hasan pikir dirinya itu? Germo yang menawarkan pelacur? Lidya menggerutu kesal. Dia ini menantunya!
“Aku tidak mau melakukannya! Gila!” tolak Lidya tegas.
Pak Hasan menggaruk kepalanya, “kenapa?”
“Jelas jawabannya tidak! Sadar dong, Pak. Aku ini menantumu sendiri, masih menikah dengan Andi, anakmu! Sekarang Bapak ingin aku merayu orang – orang yang tidak aku kenal demi uang judi? Aku tidak sudi! Apa yang pernah aku lakukan di mal dan pasar dulu sudah keterlaluan, aku tidak ingin melakukannya lagi.”
“Betul sekali. Tapi coba pikirkan ini baik – baik… jika Andi tahu apa yang terjadi pada dirimu, pada hubungan kita berdua, pernikahanmu yang sempurna akan hancur berantakan. Siap menerima resiko itu? Aku sih tidak ada masalah…”
Kata – kata Pak Hasan menohok Lidya. Wajah si cantik itupun berubah seratus delapanpuluh derajat.
“Kumohon, Pak… jangan lakukan ini… kalau Mas Andi sampai tahu…” rengek Lidya. Wajah pasrah dan kalah sang menantu membuat Pak Hasan makin berani menekan sang menantu. Si cantik itu jelas tidak ingin semua yang telah dilakukannya diketahui oleh Andi dan itu selalu menjadi kartu as bagi Pak Hasan.
“Sebenarnya sih semua terserah padamu, Nduk. Kalau kamu membantuku mendapatkan uangku kembali serta mendapatkan keuntungan tambahan, maka semua akan baik – baik saja. Teman – temanku itu juga bisa dipastikan tidak akan memberitahu Andi. Tapi kalau kamu tidak mau, ya terpaksa kita beritahu saja Andi apa yang sebenarnya terjadi. Begitu saja kok repot.”
“Kumohon, Pak….” Lidya masih terus merengek. “Aku mau melakukan apa saja asal jangan yang seperti itu…”
Terus menerus ditolak Lidya membuat Pak Hasan menunjukkan wajah yang sangat masam. Pria itu mendengus kesal dan dengan geram melempar gelas yang ia ambil dari atas meja teras, menumpahkan sisa kopi yang tadi sore dibuatkan oleh Lidya dan berjalan kembali ke arah pos siskamling meninggalkan Lidya yang berdiri dalam kegamangan. Pria tua itu sempat melihat Lidya menghapus tetes air mata dari pipinya. Melempar gelas itu hanya tipuannya saja supaya terlihat marah, ia bisa melihat Lidya ketakutan melihatnya mengamuk. Masalah mengganti gelas punya Bu Raka sih masalah gampang.
Lidya memunguti pecahan gelas yang tadi dilempar Pak Hasan dengan hati – hati, si cantik itu menimbang – nimbang sebentar apa yang harus dilakukan. Ia menggeram marah dan dengan langkah jengkel berjalan menuju pos siskamling setelah mengunci pintu rumah. Tak ada jalan lain, dia harus menurut pada mertuanya. Pos ronda tempat Pak Hasan dan teman – temannya bermain judi berbentuk balai – balai dengan empat kaki penyangga dan tiga sisi tertutup dinding kayu hingga langit – langit. Bagian depannya terbuka tiga perempat dengan separuh dinding bagian atas terbuka.
Kawan – kawan judi Pak Hasan adalah begundal dan preman desa, mereka dikenal dengan nama Eko Tompel – si gondrong kurus berhidung pesek yang memiliki tompel besar berambut di pipi, Edi Gagap – yang gundul dan bertubuh besar namun kurang lancar bicara, serta Ecep Sumbing – si penderita bibir sumbing yang tidak pantas dikasihani.
Ketiga orang kawan lama Pak Hasan ini membuat Lidya bergidik, ketiganya sangat lusuh dan kotor karena jarang mandi. Bau ketiganya juga membuat menantu Pak Hasan itu ingin muntah. Ketika melihat sosok wanita jelita itu datang, ketiga orang itu langsung mengamati Lidya dari atas ke bawah seperti hendak menelannya hidup – hidup. Desa Kapukrandu tentu tidak kehabisan stok warga yang cantik, tapi karena Lidya adalah wanita yang luar biasa mempesona maka penampilannya membuat Edi, Eko dan Ecep menahan nafas. Tubuhnya yang indah dan wajahnya yang cantik menjadi perhatian warga sejak kedatangannya bersama Pak Hasan di desa ini.
“Bapak – bapak sekalian, kenalkan ini menantu saya, namanya Lidya.” Kata Pak Hasan sambil tersenyum bangga. Dia mengedipkan mata pada Eko, Ecep dan Edi penuh arti. Karena sudah lama bergaul dengan Pak Hasan maka ketiganya langsung mengerti apa maksud Pak Hasan. Lidya melihat kedipan Pak Hasan pada tiga temannya, tapi dia tidak tahu apa artinya. Tanpa ia sadari, sesungguhnya Lidya telah jatuh ke perangkap maut yang sudah bertahun – tahun dipraktekkan oleh keempat orang ini pada gadis – gadis desa atau istri warga kampung yang terlalu lugu.
“Wah, ca – ca – ca – cantiknya menantu Pak Hasan! Sungguh beruntung Andi mendapatkan istri semacam ini… kalau yang seperti ini, a – a – a – aku juga mau!” kata Edi Gagap. Walaupun gagap, apa yang diucapkan Edi kadang keluar tanpa ia pikir dulu.
“Nyantik…” sambung Ecep. Karena sumbing, dia jarang bicara. Lidya biasanya merasa kasihan pada penderita bibir sumbing, tapi Ecep bukan orang seperti itu, tubuhnya yang hitam kekar nyaris penuh oleh tatto dengan bentuk tidak jelas karena gambarnya tumpang tindih. Lidahnya yang panjang menjilat – jilat bibirnya sendiri ketika melihat sosok Lidya yang seksi. Pandangan mata Ecep tajam menghujam mata Lidya yang ketakutan.
“Afa liat – liat?!!!” bentak Ecep.
“Ti – tidak… aku tidak… aku tidak…” Lidya mundur teratur mendengar bentakan Ecep, ia tidak ingin dianggap menghina bibirnya yang sumbing hingga membuat orang menyeramkan itu tersinggung. Tapi belum sempat Lidya kabur, tangannya sudah dipegang oleh Eko.
“Sini… sini, Nduk… jangan takut. Kenalkan namaku Eko. Kalau di desa sini sering dipanggil Eko Tompel. Dua temanku ini Edi Gagap sama Ecep Sumbing.” Tanpa rasa malu Eko menarik tangan Lidya, dengan berani dia bahkan mendudukkan Lidya sangat dekat dengannya. Tubuh mereka seakan tidak ada jarak, Lidya duduk tepat di tepat di depan Eko yang bersila. Dengan berani Eko memeluk tubuh Lidya yang kebingungan dari belakang.
“Ja – jangan kurang ajar…!” bentak Lidya takut – takut. Ia menundukkan kepala karena tidak berani beradu pandang dengan Pak Hasan yang melotot di hadapannya.
“Kurang ajar kenapa? Kamu mau pilih duduk sama siapa? Ecep? Atau Edi? Boleh saja…”
Lidya menggeleng, dari ketiga orang teman Pak Hasan, sepertinya Eko yang paling normal.
“Ini, coba kamu aja yang pegang kartu aku…” kata Eko sambil mendekatkan kepalanya ke samping kepala Lidya. Uuh, begitu baunya tubuh Eko sampai – sampai Lidya enggan menarik nafas karena akan langsung tercium bau tidak sedap, apalagi mereka terlalu berdekatan. Nafas orang yang jarang sikat gigi bukan nafas yang pantas dipamerkan batin Lidya, apalagi nafas Eko juga berbau alkohol bercampur rokok. Rambut Eko yang keriting gondrong sepertinya juga tidak terurus, membuatnya semakin tidak sedap dipandang apalagi dibau.
Posisi Lidya terus ditarik oleh Eko hingga kini duduk tepat di depannya. Si cantik itu awalnya bersimpuh namun kini terpaksa duduk bersila dengan kaki Eko mengapit paha kanan dan kirinya. Si tompel itupun dengan santai memeluk tubuh Lidya dari belakang dan menyuruhnya memegang kartu. Ketika Lidya menolak, kedua tangannya dipegang erat oleh Eko hingga tak bisa digerakkan. Begitu dekatnya tubuh mereka sehingga Lidya bisa merasakan ada tonjolan yang makin lama makin besar di selangkangan Eko. Tonjolan itu menyentuh sisi kanan pantatnya membuat Lidya bergelinjang jijik.
Lidya mencoba mencari bantuan, namun Pak Hasan sepertinya tidak peduli apa yang dilakukan oleh Eko Tompel pada menantunya. Setelah Lidya tidak bisa melakukan protes lagi, keempat pria yang ada di pos kamling itu melanjutkan permainan kartu domino mereka. Laki – laki buruk rupa yang ada di belakang Lidya makin berani, ia menempelkan dadanya ke punggung si cantik. Tangan Eko juga mulai nakal sesekali mengelus – elus paha mulus Lidya. Si cantik itu mengutuk dirinya sendiri karena memutuskan memakai daster malam ini. Dengan berani Eko mengendus harum rambut panjang Lidya sementara tangannya bergerilya di pahanya.
“Kucirnya aku lepas saja, ya?” tanya Eko.
Lidya mengangguk.
“Kamu lebih cantik jika rambutnya digerai.” Kata Eko sambil melepas kucir rambut Lidya.
Tubuh Lidya mulai bergetar karena takut. Pak Hasan sepertinya sudah tidak mempedulikan dirinya lagi, ia tidak ambil pusing apa yang dilakukan oleh Eko padanya. Namun berkat kehadiran Lidya, pria tua itu berhasil memenangkan satu putaran karena Eko sudah tidak bisa berkonsentrasi. Eko Tompel sendiri bagaikan raja karena dibiarkan bebas mengerjai tubuh Lidya. Ketika si pesek itu mengenduskan hidungnya yang rata ke tengkuk Lidya, tubuh si seksi itu langsung bergetar hebat. Makin berani, Eko mencium leher Lidya sementara tangannya makin naik menyusur paha sambil mengangkat dasternya sedikit demi sedikit.
“Jangan…..” bisik Lidya pada Eko. “Jangan, aku…”
Tapi kucing mana yang akan berhenti jika sudah mendapat suguhan ikan? Bibir Eko melaju tanpa henti di leher dan bahu Lidya. walaupun menolak, tidak bisa dipungkiri kalau dijadikan mainan seperti ini membuat Lidya lama kelamaan sedikit terangsang terutama pada saat Eko menggunakan gigi untuk melepas tali daster menuruni bahunya yang mulus. Lidya menggelengkan kepala seakan jika ia melakukan hal itu ia sanggup menghapus nikmat yang diberikan pria buruk rupa di belakangnya. Eko menggunakan gigi karena tangannya masih sibuk menghajar paha Lidya. Si cantik itu memejamkan mata ketika ia merasakan selangkangan Eko mulai bergerak maju menumbuk pantatnya berulang.
Pak Hasan, Edi dan Ecep menahan tawa geli ketika melihat Lidya mulai gelisah antara keenakan, takut dan malu. Tanpa bisa ditahan, Lidya menggerakkan pantatnya ke belakang secara reflek. Eko tambah bersemangat, ia mengangkat bagian bawah daster si cantik itu sedikit demi sedikit, semakin lama semakin naik dan makin menunjukkan celana dalam yang dikenakannya. Kini Edi dan Ecep bisa melihat jelas underwear berwarna merah jambu yang dikenakan menantu Pak Hasan yang seksi. Mata keduanya tidak bisa lepas dari belahan yang nampak di bagian bawah celana dalam itu.
Pak Hasan mengedipkan mata pada Eko yang langsung dibalas dengan anggukan kepala. Lidya yang memejamkan mata tak bisa melihat kode dari Pak Hasan kepada Eko itu.
Tanpa menunggu lama Eko mengelus bagian terbawah dari celana dalam Lidya. Menyentuhnya pelan dan menggeseknya dengan lembut.
“Oooooohhhhh….. essstttt…..” Lidya mendesis penuh nikmat ketika Eko menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam. Ia tidak bisa bertahan dan menjatuhkan kartu – kartu Eko yang sebelumnya ia pegang.
Melihat Lidya sepertinya sudah jatuh ke dalam jebakan nafsu, Edi dan Ecep melepas kartu mereka dan maju dengan air liur menetes ke arah Lidya. Keduanya tak ingin ketinggalan menikmati tubuh seksi Lidya, Ecep yang meyukai perut yang rata dan ramping meraba dan mengelus perut Lidya. Sementara Edi lebih berani lagi, si gagap itu sudah tak tahan melihat ranumnya bibir Lidya dan memutuskan untuk menciumnya. Bibir manis Lidya dikulum oleh bibir tebal Edi Gagap. Bau mulut yang jarang sikat gigi begitu busuk terasa di mulut Lidya. Jika si cantik itu merasa jijik, sebaliknya Edi gembira sekali bisa merasakan bibir ranum milik istri Andi, bibir milik seorang wanita yang seharusnya tidak bisa dijamah sama sekali.
Lidya yang merasa jijik diserang oleh tiga orang secara bersamaan menolak bibir Edi. “Aku tidak mau! Jang…”
Belum selesai Lidya mengucapkan kata – kata, Edi menarik kepalanya dan kembali menciumnya. Kali ini rangsangan dari semua arah membuat Lidya tak kuat bertahan, dengan tidak mempedulikan bau yang ia cium, Lidya membalas ciuman Edi. Si gagap itu bahagia sekali.
Tangan Ecep pun tak kalah nakal, melihat Edi berhasil mendapatkan bibir Lidya, Ecep menyerang payudaranya. Tangan Ecep menggerayangi buah dada Lidya yang masih berada di balik daster. “Euuuuuhhhh…” Serangan Ecep membuat Lidya melenguh keenakan di sela – sela ciuman Edi.
Melihat Edi telah mencium bibir Lidya dan Ecep menggerayangi payudara si cantik itu, Eko Tompel segera memasukkan jemarinya ke balik celana dalam Lidya untuk menyentuh kemaluannya. Bibir vagina Lidya sudah basah oleh cairan pelumas yang keluar karena rangsangan bertubi ketiga preman membuat Eko makin girang. Dengan lancar Eko melesakkan jari tengahnya ke dalam memek Lidya.
“Huaagghhh!!! Uuuhhh!! Hiikkkghhh!!!” Lidya mengembik mencoba menolak semua yang menyerangnya, ia tidak bisa bergerak karena tiga orang teman Pak Hasan menghajarnya tanpa henti, membuat tiga bagian tubuh utamanya merasa keenakan. Sementara jari Eko bergerak lincah menusuk – nusuk vaginanya, pantat Lidya digerakkan maju mundur dengan gerakan seirama.
Tiba – tiba saja…..
“Hei, hei, hei… kalian mau ngapain? Itu menantuku.”
Suara itu menggelegar menghentikan semua gerakan yang dilakukan oleh Edi, Eko dan Ecep. Lidya terengah – engah di tengah mereka, bajunya sudah acak – acakan, sebagian besar terbuka dan memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus. Pak Hasan yang duduk tenang di depan mereka tersenyum jumawa sambil mengocok kartu domino yang ia pegang.
“Walaupun aku tahu menantuku itu seksi dan kalian sangat ingin bisa memasukkan kontol ke memeknya, tapi maaf… aku tidak bisa menyerahkan dia pada kalian.” kata Pak Hasan.
“Yaaa, kok gitu sih, Pak?” Eko melepas cengkramannya pada Lidya dengan kecewa.
“Nyanggung amat niyh, Pak.” Sambung Ecep.
“Pa – padahal tadi i – i – ini kan su – su – sudah hampir…” Edi terduduk menahan kesal.
“Jangan sedih gitu dong, jangan khawatir. Kita kan kawan lama? Aku punya tawaran lain untuk kalian bertiga.” Pak Hasan mengeluarkan rokok dari kantongnya dan menyalakannya. “Begini lho, Lidya ini kan menantuku sendiri, aku tidak bisa membiarkan Andi sedih melihat istrinya dijadiin lonthe sama orang – orang kampung sini. Jadi kalian tidak boleh menyentuhnya…”
Edi, Eko dan Ecep mengeluh bersamaan, nafsu mereka hilang dalam sekejap.
“Hahaha, sudah aku bilang jangan sedih begitu, aku ada pengecualiannya untuk kalian. Supaya seru, kita bikin permainan. Bagaimana?” Pak Hasan terbahak sambil menarik Lidya dari kepungan ketiga kawannya. Untuk pertama kalinya malam ini, Lidya merasa lega sudah diselamatkan, tapi… permainan apa yang dimaksud Pak Hasan, ya?
“Kita lanjutkan permainan domino ini. Orang yang memenangkannya akan aku ijinkan menyentuh Lidya, hanya saja tidak boleh melakukan dikenthu. Kalau aku yang menang, permainan dibatalkan.” Pak Hasan menyeringai penuh kemenangan. “Tapi ada syaratnya, kalau kalian mau menerima tantanganku ini, kalian harus membayarnya dengan semua uang yang kalian bawa malam ini. Anggap saja untuk biaya administrasi…” Pak Hasan tertawa terbahak – bahak.
Lidya menggemeretakkan giginya dengan kesal. Ternyata belum selesai.
Edi, Eko dan Ecep saling berpandangan. Mereka mengangkat bahu dan berbisik – bisik kecil, lalu ketiganya mengangguk dan tertawa bersama. Mereka mengosongkan isi kantong dan memberikannya pada Pak Hasan.
“Dasyar merytua gila.” Geleng Ecep sembari tertawa.
“Si – si – sial, padahal ma – ma – malam ini aku bawa uang banyak.” Sambung Edi yang langsung menguras isi dompetnya.
“Tidak masalah! Kita kan temen lama, Pak. Atur aja dah.” Kata Eko yang langsung melemparkan dompetnya ke depan Pak Hasan. “Ambil berapapun Pak Hasan mau. Tapi kita juga butuh jaminan nih. Bagaimana kalau Pak Hasan minta menantunya yang cantik ini untuk membuka baju?”
“Bisa…. bisa…” Pak Hasan lalu menatap Lidya dengan galak. “Buka.”
Lidya menggeleng ketakutan. Tadinya ia merasa sudah diselamatkan, sekarang? Ia merasa seperti binatang tak berdaya yang sedang diumpankan kepada para pemburu.
“Aku bilang buka!” hardik Pak Hasan.
Lidya kembali menggeleng.
Mata Pak Hasan melotot melihat Lidya menolak membuka baju. Awalnya dia emosi karena Lidya melawan perintahnya, tapi kemudian dengan tenang Pak Hasan menyunggingkan senyum. “Aku akan memberikan pilihan, Nduk. Mana yang akan kau pilih? Buka baju sendiri atau aku minta mereka bertiga ini merobek – robek dastermu dan kamu akan pulang ke rumah tanpa sehelai benangpun?”
Lidya menundukkan kepala. Lagi – lagi dia tidak bisa membantah.
Dengan perasaan kalah, Lidya membuka dasternya. Ketika daster itu luruh ke tanah, Edi, Eko dan Ecep bertepuk tangan kegirangan. Tubuh Lidya kini hanya tinggal dibalut oleh pakaian dalam berwarna merah jambu. Melihat tatapan galak Pak Hasan, Lidya melanjutkan aksinya membuka baju. Dalam hati Lidya, ada sedikit perasaan ingin berbuat nakal di hadapan mertua dan ketiga temannya. Lihat saja Edi, Eko dan Ecep, seperti anak kecil yang berlomba untuk melihat mainan baru.
Lidya akhirnya melepas kait behanya dan menurunkan celana dalamnya.
Edi, Eko dan Ecep berteriak – teriak senang karena pada akhirnya bisa menyaksikan tubuh seksi Lidya tanpa balutan seutas benang pun. Ini benar – benar kecantikan yang sempurna karena dengan atau tanpa pakaian, Lidya sangat mempesona. Si cantik itu menundukkan kepala karena malu, wajahnya memerah.
Setelah Lidya telanjang, permainan dimulai kembali, kali ini Edi, Eko dan Ecep bermain dengan sungguh – sungguh. Tidak ada yang ingin melewatkan tubuh Lidya yang seksi itu walaupun hanya bisa menyentuh tanpa melakukan eksekusi. Sekali dua kali mereka yang bermain melirik ke arah tubuh Lidya.
Lidya yang lemas duduk di pojok pos siskamling. Memperhatikan empat orang pria sedang bermain domino untuk memperebutkan dirinya. Tidak pernah ia bayangkan selama hidup bahwa pada suatu ketika ia akan melayani tiga orang lelaki dari desa terpencil.
“Dingin?” bisik Pak Hasan lembut di tengah – tengah permainan.
Lidya mengangguk, ia memang tengah menggigil. “Di… dingin…”
“Coba pakai ini.” Pak Hasan melepas jaketnya yang tebal dan memberikannya pada Lidya. “Aku sudah pakai baju dobel.”
Terkejut juga Lidya menyaksikan mertuanya. Tumben sekali dia baik?
Sesaat kemudian Pak Hasan kembali asyik bermain, lupa pada Lidya yang kini mengenakan jaketnya. Untuk sesaat itu, Lidya merasakan kehangatan melebihi apa yang pernah ia rasakan. Sisi yang belum pernah ia lihat dari Pak Hasan. Untuk pertama kalinya, ia ingin memberikan semangat pada ayah mertuanya. Ia ingin Pak Hasan yang menang.
Tapi setelah beberapa putaran ternyata Eko Tompel yang memenangkan permainan.
Begitu menang Eko langsung melepas celananya. “Aku sudah tidak sabar lagi!” teriaknya penuh nafsu. Lidya langsung ketakutan melihat bentuk kemaluan Eko. Penis Eko sangat hitam dengan urat kemerahan melingkarinya, bentuknya agak bengkok dengan tonjolan – tonjolan di sekeliling batang yang besar. Rambut kemaluan Eko yang dibiarkan tumbuh tak teratur menambah kesan kotor pria itu.
Eko tidak mau berlama – lama, ia menarik Lidya yang ketakutan ke bagian tengah pos kamling. Lidya dibaringkan di tengah sementara Eko naik ke perut Lidya dan duduk di sana. Lidya berusaha meronta dan memukul dada Eko, namun pria bertompel itu lebih kuat darinya. Dengan mudah ia mengunci tubuh Lidya dan melepas jaket Pak Hasan yang melindungi bagian atas tubuh si molek.
“Tak ada memek, susupun jadi.” Kata Eko sambil menjilat lidah penuh nafsu melihat payudara Lidya.
“Tidak… aku tidak mau… aku tidak mau… aku tidak mauuuu…!!!” Lidya menjerit panik. Tapi Edi dan Ecep memeganginya dengan erat sehingga si cantik itu sama sekali tak mampu menggerakkan tubuh. Eko Tompel meletakkan penisnya di antara buah dada Lidya dan mulai bergerak maju mundur dengan teratur. Lidya menggelengkan kepala tak percaya, Eko tengah memperkosa buah dadanya! Penisnya kini digesekkan di dada Lidya, tepat di antara kedua payudaranya. Tangan Eko meremas susu Lidya dan mencoba mempertemukan kedua balon buah dada si cantik itu.
“Hghhh! Haghhhhh!! Hnghhh!!!” Lidya menghembuskan nafas setiap kali ujung gundul penis Eko bertumbuk dengan dagunya karena pada saat itulah beban tubuh Eko menekan dadanya. Ia meringis karena remasan tangan Eko menyakiti payudaranya. Air mata menetes perlahan dari pelupuk mata indahnya. Tidak hanya menyakitinya, tapi penisnya yang kotor itu membuat Lidya begitu jijik. Lidya meronta sejadi – jadinya tapi tanpa hasil, sementara Eko demikian bernafsu menungganginya.
Tiba – tiba saja…
“Haaaaaaaakkkkkhhh!!!” Mata Lidya melotot seakan ingin keluar dari lubangnya. Si molek itu menggeram karena merasakan sakit yang amat sangat di liang cintanya.
Tanpa aba – aba dan tanpa persiapan apapun, Pak Hasan tiba – tiba saja beringsut ke belakang Eko dan melesakkan penisnya ke dalam vagina Lidya dalam – dalam. Lidya yang kaget tentu saja langsung meronta – ronta sebisa mungkin. “Jangan Pak! Jangan!!! Jangaaaan!! Aku belum siap!!!”
Tapi kedua orang yang kini mengerjai Lidya tentu tidak ingin berhenti sampai mereka mendapatkan kepuasan puncak. Lidya menjerit – jerit sekuat tenaga, dia tidak peduli lagi jika ada orang yang akan datang. Dia justru sedang membutuhkan pertolongan! Lidya memejamkan matanya, rasa sakit di selangkangannya begitu ngilu, kasar sekali Pak Hasan menyetubuhinya. Gerakan maju mundurnya bukan gerakan yang lembut, tapi menyentak – nyentak dengan sangat cepat. Kaki Lidya dinaikkan ke pundak pak Hasan untuk mempermudah pria tua itu menghentakkan kemaluannya dalam – dalam dengan sekuat tenaga. Setiap sodokan membuat Lidya menggigil dan melenguh sakit.
Keringat deras membasahi tubuh ketiga anak manusia yang kini tengah bergulingan di pos ronda itu. Eko terus saja memangsa dan mengocok penisnya di antara buah dada Lidya. Rasa yang ditimbulkan antara gesekan penis bertonjolan dengan buah dada putih mulus membuat Eko dan Lidya sama – sama melayang. Setiap kali penis Pak Hasan menyentak masuk dan bertumbukan dengan dinding terdalamnya, saat itu pula ujung gundul penis Eko menyentuh dagu Lidya. Edi dan Ecep yang memegang tangan Lidya mengutuk ketidakmampuan mereka mengalahkan Eko dalam bermain domino, lihat betapa binalnya wanita kota ini.
“Gimana rasanya, Pak?” tanya Eko penasaran. “Gimana rasanya?”
“Sempit banget, Ko! Sempit!!! Enakk!!” jawab Pak Hasan sambil tertawa.
“Tantangan terakhir, Pak! Ayo semprotkan di dalam! Hamili dia!!! Hamili menantumu sendiri!!” kini giliran Eko yang tertawa terbahak – bahak.
“Siapa takut?!!!” Pak Hasan membalas.
Lidya menggeleng ketakutan, tidak! Itu yang dia tidak inginkan! “Jangan Pak! Jangan di dalam, keluarin di luar saja… aku tidak mau, Pak! Aku mohon!!! Aku mohon, Pak!!”
“Te – terus… kalau dia punya anak nanti, ma – ma – manggil Pak Hasan apa dong? Ba – ba – Bapak atau Kakek?” tanya Edi Gagap disusul tawa teman – temannya.
“Ayolah, Nduk. Kamu suka kan? Aku yakin anak kita akan jadi anak yang berbakti pada orangtua dan kakeknya.”
“Tidaaaaaak!!!” jerit Lidya, dia sudah menjerit sekeras mungkin, kenapa tidak ada orang menolongnya? Kenapa seandainya ada orang mendengar mereka membiarkan saja dia digumuli empat orang ini? Lidya meronta – ronta tanpa daya karena eratnya jepitan Eko pada perut dan payudaranya. Sesungguhnya orang – orang desa sudah terbiasa mendengar teriakan wanita di tengah malam datang dari pos siskamling. Itu karena Edi, Eko dan Ecep sudah terbiasa menyewa lonthe untuk mereka nikmati di sana. Jadi mereka tidak heran kalau malam itu ada teriakan dari pos kamling.
“Auuuuuhhhh!!!” Eko sudah mencapai orgasmenya, Lidya memejamkan mata dan menutup mulutnya. Penis Eko muncrat – muncrat tanpa halangan, membasahi bagian atas dada Lidya dan dagunya. Si cantik itu berusaha menahan mulutnya terkatup agar ia tidak sampai menelan sperma Eko. Tapi agak susah membersihkan bibirnya yang sudah belepotan sperma seperti ini. Belum selesai Lidya membersihkan bibir dan mendorong tubuh Eko menjauh, sentakan keras menghantam dinding terdalam liang cintanya.
“Haaaaaaghhh!!!” Lidya menahan sakit yang luar biasa. Tapi ia tidak bisa melawan Pak Hasan lagipula tidak ada gunanya, Pak Hasan tidak akan peduli. Pria tua itu menyemprotkan cairan cintanya begitu mencapai puncak kepuasan. “Hggghhhhh!! Sempit banget memekmu, Nduk!”
Lidya menjerit ketika dia merasakan semprotan cairan kental dari ujung gundul kemaluan Pak Hasan membanjiri liang cintanya. Rupanya Pak Hasan telah mencapai puncak!
“Bagaimana kalau akhirnya kamu membuatkan aku seorang cucu, Nduk?” tanya Pak Hasan sambil terus menyemburkan spermanya ke dalam liang cinta Lidya. Bagaikan mulut yang kehausan, vagina Lidya menyedot semua sperma yang disemprotkan oleh Pak Hasan. Lidya menggelengkan kepala lemas karena tak percaya, tidak hanya baru saja disetubuhi ayah mertuanya di depan tiga kawanan berandal desa yang seharusnya bertugas menjadi penjaga kampung, tapi bajingan tua itu juga berniat menghamilinya. Membayangkan dirinya dihamiliki ayah mertuanya sendiri di hadapan banyak saksi membuat Lidya ingin muntah.
Plop! Pak Hasan menarik penisnya dari dalam memek Lidya sambil meninggalkan bunyi lepasan yang nyaring. Tubuh Pak Hasan ambruk karena lemas, menimpa tubuh Lidya yang masih terlentang.
Dengan susah payah si cantik itu mencoba menyingkirkan tubuh Pak Hasan agar dia bisa berdiri tegak dan menutup ketelanjangannya. Ia membenahi tali behanya, lalu mengenakan roknya kembali. Vaginanya yang sedari tadi terus menerus diserang masih terasa perih, tapi Lidya sudah tidak tahan ingin meninggalkan tempat terkutuk ini. Dia bahkan tidak mampu berdiri, berjalanpun sempoyongan.
“Menantu yang hebat, Pak,” kata Eko sembari mengenakan kembali kaos dan jaketnya. “Lain kali kalau main kartu lagi, selalu ajak dia juga ya, Pak.”
Semua yang disana tertawa kecuali Lidya.
Malu sekali rasanya Lidya. Malu sekali. Wajahnya memerah tak tertahan. Walaupun semburat merah itu menambah manis wajahnya yang cantik, tapi tidak ingin dia mempersembahkan keindahan apapun kepada orang – orang ini. Tubuhnya seharusnya hanya menjadi milik Mas Andi, suaminya! Ingin rasanya Lidya cepat – cepat lari dan pergi dari tempat ini. ‘Menantu yang hebat’, menantu! Bukankah seorang menantu itu seharusnya dianggap sebagai anak sendiri? Bukan budak seks yang setiap saat disetubuhi? Untunglah malam kali ini begitu gelap sehingga baik Pak Hasan, Edi, Eko maupun Ecep tidak melihat merah wajah Lidya yang malu sekaligus marah. Setelah akhirnya nafasnya kembali normal dan rasa nyeri di selangkangan dan dadanya mulai menghilang, dengan buru – buru Lidya pergi meninggalkan pos ronda dan lari pulang ke rumah, meninggalkan Pak Hasan yang berjalan mengikutinya dengan santai sambil mengepulkan asap rokok.
Untuk pertama kali dan terakhir, ketiga orang yang duduk bersama dan meronda malam itu menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Mereka tidak akan pernah melupakan saat – saat terindah dalam hidup mereka ini. Saat – saat rahasia yang hanya mereka bertiga, Pak Hasan dan Lidya yang tahu.
Semuanya akan baik – baik saja, jika mereka diam.
Ketiga orang itu berbaring di pos ronda dan memejamkan mata mereka, berharap kejadian yang baru saja mereka alami akan berulang di kemudian hari. Oh, betapa inginnya mereka memiliki Lidya yang mempesona. Sungguh beruntung Pak Hasan, memilik menantu jelita seperti Lidya.
Edi Gagap, Ecep Sumbing dan Eko Tompel tidur dengan senyum mengembang.
###
HARI KETIGA
Hari ini hampir seharian Lidya menghabiskan waktu di kebun. Dimulai dari menikmati indahnya pagi dengan sarapan gurameh bakar kiriman Mbak Mirah, lalu mengagumi angin yang bersemilir sambil makan rujak buah – buahan buatan sendiri di siang hari dan akhirnya mengobrol dan bercanda dengan Mbak Mirah dan saudara – saudaranya di sore hari. Anak Mbak Mirah yang masih balita lucu sekali. Bersama dengan orang – orang ini, Lidya ingin melupakan kejadian sial yang terjadi kepadanya. Suasana Desa Kapukrandu yang tenang, asri dan bersahabat membuat Lidya sedikit demi sedikit merasa tenang dan nyaman, begitu nyamannya sehingga seandainya diminta, Lidya akan betah tinggal di sana. Bahkan jika dia harus tinggal di rumah pinjaman bersama dengan mertuanya yang bejat dan hanya memikirkan seks.
Itu pagi sampai sorenya. Tapi malamnya?
Malam ini sepertinya Lidya harus menepati janji pada Pak Hasan, janji apa? Janji melayani sang mertua di tempat tidur. Lihat saja pandangan buas Pak Hasan di meja makan hari ini, seperti hendak menelannya hidup – hidup. Setelah kemarin malam diancam akan dibuka rahasianya pada Andi, bisakah wanita cantik itu menolak?
“Malam ini, kamu tidur di kamarku.” Kata orang tua cabul itu dengan dingin sambil mengunyah nasi.
“Tidak.” Tolak Lidya.
“Kenapa?” tanyanya galak.
“Rumah Mbah Mirah tidak jauh dari rumah ini, kamar mereka juga dekat dengan kamar Bapak. Kalau sampai keluarga mereka mendengar jeritan…” wajah Lidya memerah ketika ia menyadari apa yang ia katakan. Ia segera meralat kata – katanya. “….kalau sampai keluarga Mbak Mirah mendengar suara mencurigakan, kita bisa digrebek. Aku tidak mau Mas Andi malu. Lagipula tadi malam Bapak sudah… sudah dapat.”
“Malu? Kenapa harus malu? Setelah apa yang kita lakukan di bus, di pasar atau di mal? Atau saat main kartu kemarin? Apanya yang bikin malu?” Pak Hasan tertawa renyah. “Tidak akan terjadi apa – apa. Malam ini kamu tidur di kamarku.”
Lidya meneguk ludah. Tiba – tiba saja nasi sayur yang ia makan terasa hambar. Ia tahu tidak ada gunanya menolak. Dengan gerakan kepala pelan, si jelita itu mengangguk.
Pak Hasan tersenyum puas, “habiskan makananmu, Nduk. Aku tidak mau Andi melihat istrinya kurus sepulang dari desa. Untuk nanti malam, pakai kaos tipis dan rok mini yang sekarang kamu pakai itu dan jangan memakai beha saat kamu masuk kamarku nanti.”
Lidya mengeluarkan nafas panjang, sudahlah, ia sudah letih melawan… ia menyerah. Si jelita itu kembali mengangguk.
Malam datang sangat cepat hari itu, detik demi detik yang biasa datang lambat justru berpacu dengan hening malam. Lidya sempat beristirahat sebentar usai mencuci piring, ia tahu ia harus masuk ke kamar sang mertua dan melayaninya bermain cinta. Bukan hal yang paling menyenangkan hari ini, tapi ia tahu dirinya tidak bisa mengelak. Cepat atau lambat, Pak Hasan pasti akan menikmati ranum tubuhnya.
Dengan langkah malas Lidya bangun dari pembaringan tempatnya bermalas – malasan sepanjang hari dan berjalan menuju kamar Pak Hasan. Walaupun kamar mereka hanya dibatasi oleh ruang keluarga, namun Lidya merasa dirinya bagaikan seorang narapidana yang berjalan melalui lorong penjara menuju hukuman mati. Ketika mendengar langkah kaki Lidya, Pak Hasan bergegas untuk membukakan pintu. Pria tua itu hanya mengenakan kaos oblong putih tipis dan sarung yang melilit. Dengan gerak langkah ringan, Lidya duduk di pembaringan. Tanpa bicara, tanpa kata. Lidya hanya diam dan menunggu.
Pak Hasan duduk di samping menantunya, lalu dengan lembut ia mencium bibir mungil Lidya. Sapuan lembut bibir sang mertua membuat gairah Lidya perlahan – lahan naik. Ini dia, seorang pria yang bukan suaminya mencium bibirnya dengan bebas. Tapi anehnya, hampir – hampir Lidya berharap Andi bisa menciumnya seperti yang dilakukan oleh Pak Hasan, begitu dominan, kuat dan jantan. Si cantik itu tentu saja tidak mau menikmati permainan kasar Pak Hasan dengan membayangkan suaminya. Ia tidak ingin menikmati ini, tapi… ketika bibir dengan bau tak sedap itu menyapu bibirnya dan menjelajah semua sisi rongga mulut dan bibir penuhnya, pagutan bibir mertuanya membuat Lidya menyeberang kenikmatan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
Tubuh gemuk Pak Hasan bertengger di atas tubuh Lidya yang ramping. Celananya sudah turun hingga lutut dan lidahnya yang cabul menjelajah mulut menantunya yang cantik sementara tangan nakalnya menjelajah seluruh lekuk tubuh Lidya. Tangan itu meremas – remas buah dada sang menantu yang kenyal dan sempurna yang masih ada di balik pakaian tipis. Bibirnya yang tebal terus saja menjajah bibir mungil Lidya, lidahnya menggeliat, memaksa sang menantu membuka mulut sedikit dan meneteskan air liur diantara bibir merah yang ranum.
“Haunnng…” Lidya mengerang sambil memejamkan mata keenakan ketika Pak Hasan menarik lidahnya yang nakal dan mulai menjilati sisi wajah dan dagu sang menantu sambil tak lupa sesekali mengecup bibir mungilnya yang menggemaskan.
Lidya memandang ke arah sang pencium dengan mata berkaca – kaca dan bibir yang menebal bahkan hampir luka karena ciuman kasar pria tua bejat yang kini sedang menciuminya penuh nafsu. Lidya berupaya mengangkat kepalanya, tapi bibir sang mertua yang bau itu mengejar bibirnya lagi, sekali lagi kepala Lidya terjerembab ke bawah.
“Ummmpphhhhh… glkkk… Ppaaakkk…” kepala Lidya bergerak tanpa henti karena kasarnya ciuman Pak Hasan. Bagaimana mungkin dia bisa menikmati ciuman buas seperti ini? Walaupun dalam hati menolak, tak urung Lidya merem melek juga dengan rangsangan hebat yang kini menderanya. Pak Hasan terus saja menumbuk bibir manis Lidya dengan bibirnya yang kasar dan mulutnya yang bau, belum lagi dengan air liur yang terus menetes dari mulut sang mertua membuat bibir Lidya benar – benar serasa dijajah. Lidya mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa mengatur kuasa tubuhnya. Bukannya merasa jijik, Lidya malah semakin menikmati ciuman menuju puncak orgasme. Orgasme, hanya dengan berciuman dengan Pak Hasan. Lidya malu sekali.
Penis Pak Hasan keras seperti kayu, menyembul dari sarungnya. Lidya bisa merasakan hawa nafsu yang menghangat keluar tiap kali tubuhnya bergesekan dengan kemaluan sang mertua. Bahkan ketika penis yang masih ada di balik sarung itu disandarkan dengan santai di perutnya yang rata. Lidya masih merem melek menerima serangan ciuman bertubi. Si cantik itu hampir tidak bisa bergerak dan berkonsentrasi untuk melakukan apapun karena intensitas serangan terus – menerus meningkat.
Tangan kasar sang mertua bergerak lincah dengan cepat, menyadari menantunya yang jelita kini ada dalam kuasanya, tangannya segera melucuti celana dalam pink mungil milik Lidya. Si cantik bahkan tak sadar bahwa bagian bawah tubuhnya kini telah telanjang.
“Sudah waktunya.” Kata Pak Hasan setelah melepas pagutannya yang liar pada mulut Lidya. Ia berdiri dan melepas sarungnya yang kumal.
Lidya tak menjawab, tapi matanya gelisah penuh penantian. Antara ingin dan jijik. Bola matanya yang indah memandang tubuh mertua yang tidak ada bagusnya, perut gembul berbulu dengan kemaluan yang keras menggantung di bawah, air cinta pelumas membasahi ujung gundul penis dan perlahan menetes membasahi roknya yang berantakan. Setelah mencopot pakaiannya sendiri, Pak Hasan menarik lepas celana dalam sang menantu yang tadi masih tergantung di kaki.
Ketika sedang melamun, Lidya dikagetkan oleh Pak Hasan yang tiba – tiba memegang paha mulusnya.
“Siap?” tanya Pak Hasan sambil menyeringai. “Hari ini sepertinya kamu juga menikmati.”
Lidya memandang geram ke arah mertuanya yang cabul. Tapi apa mau dikata, nafsunya sudah terlanjur naik, lagipula tidak ada gunanya lagi melawan seorang pria bertubuh gemuk yang kini berada di atas tubuhnya yang telanjang. Lidya mengangguk pasrah tanpa suara. Dengan kasar Pak Hasan merenggangkan kaki Lidya, lalu menarik pinggulnya dan mendekatkan tubuh si cantik itu kepadanya. Tak perlu waktu lama bagi Pak Hasan untuk melesakkan penisnya masuk ke dalam vagina si jelita yang telah basah.
“Ini dia, Nduk. Ini dia…. ini dia….!!! Hggghhhhhhh!!!” Pak Hasan memejamkan mata penuh kenikmatan saat penisnya berusaha menembus masuk ke vagina sempit bidadari yang jelita itu.
“Aaaaaauuuuhhhhhhh……. essssstttttt!!!!!” Lidya mendesis penuh nikmat ketika pria tua yang kini berada di atas tubuhnya melesakkan kemaluan ke dalam liang cintanya.
“Sudah berkali – kali aku menyetubuhimu, Nduk… tapi tetep sempit rasanyaaaa…”
Rasa sakit bercampur nikmat membuat Lidya tak bisa menahan diri, kepalanya berpaling kesana kemari dan mulutnya menghembuskan nafas berulang untuk mencoba menenangkan batin.
Sambil duduk bersimpuh dan memegang pinggang ramping Lidya, Pak Hasan memutar – mutar kemaluannya dan mengaduk isi liang cinta sang menantu. Bagian atas tubuh Lidya masih beralaskan kasur, namun pantatnya kini terangkat ke atas. Pak Hasan mulai menumbuk dengan kecepatan teratur, melesakkan barangnya yang hitam ke dalam liang cinta yang seharusnya hanya boleh dimasuki penis anak kandungnya. Lidya tak tahan lagi, rasa nikmat bercampur sakit membuatnya tak kuat, ia menggunakan punggung tangan untuk menghapus air mata yang kadang leleh keluar tanpa ia inginkan.
Dengan satu gerakan cepat Pak Hasan menggerakkan seluruh tubuhnya ke depan, hampir – hampir meremukkan tubuh mungil menantunya yang jelita dan melesakkan dalam – dalam kemaluannya hingga berbenturan dengan dinding dalam vagina Lidya. Pak tua bejat itu memejamkan mata keenakan, “hggghhh!!!”
“Eesssst!!!” Lidya meringis kesakitan ketika mertuanya menjejalkan penisnya.
Namun Pak Hasan tidak berhenti begitu saja. Sekali lagi dengan satu gerakan cepat, Pak Hasan menggulingkan tubuhnya dan merubah posisi mereka, kini justru Lidya yang berada di atas, duduk dan menunggangi kontol mertuanya.
“A… apa yang… oooooohhhhh!!! Esssttt!!” Lidya tak sempat mengeluarkan protes atau kata apapun karena kemaluan sang mertua mulai bergerak naik turun menikam liang cintanya yang sudah basah.
Melihat Lidya bergerak naik turun dengan erotis sambil mengendarai penisnya menuju puncak kenikmatan, tak urung Pak Hasan naik kembali nafsunya. Ia meremas – remas buah dada sentosa milik Lidya.
“Aaaaaahhhhh!!” desah Lidya, tangannya yang lentik bertumpu pada perut gembul sang mertua. Harga dirinya lenyap ditelan nafsu maut, Pak Hasan tidak hanya telah menyetubuhinya, tapi entah bagaimana kini Lidya justru berada di atas dan mengatur gerakannya sendiri. Mertuanya yang cabul telah membalik posisi mereka tanpa ia sadari.
Lidya masih belum melepas rok mininya yang kini menutup bagian selangkangan mereka berdua. Ia benci sekali posisi ini karena berkesan dialah yang sedang menyetubuhi Pak Hasan dan bukan sebaliknya. Entah kenapa Lidya terus menggerakkan pinggulnya, makin lama makin cepat. Si cantik itu ingin cepat memperoleh kepuasannya, dia ingin cepat, lebih cepat, semakin cepat, lebih cepat lagi… naik turun, naik turun, terus, terus… terus! Terus!!!
Saat itulah tiba – tiba telepon genggam Lidya berdering, mengeluarkan ringtone lagu cinta salah satu band lokal. Lidya kaget mendengarnya dan kehilangan fokus dengan cepat, ia mencoba menarik diri dari atas tubuh Pak Hasan dan melepas penisnya dari dalam vagina.
Namun satu tangan gemuk menahan pinggangnya.
“Jangan berhenti.” Kata Pak Hasan tegas. Lidya yang kebingungan melanjutkan gerakannya sesuai perintah, naik turun untuk memberikan kenikmatan pada penis keras sang mertua. Namun matanya tak lepas dari telepon genggam yang ternyata tak sengaja ia bawa ke kamar ini. Konsentrasi si molek itu sudah buyar.
Karena posisinya yang berada di bawah dan tangannya bebas, Pak Hasan meraih telepon genggam yang ada di atas meja di samping kasur, entah kapan Lidya meletakkannya di sana. Ia harus memicingkan mata untuk bisa melihat nama orang yang menelpon wanita jelita yang kini tengah mengendarai penisnya dengan penuh nafsu. “Ini Andi.”
Wajah Lidya pucat pasi, ia menggelengkan kepala. Tidak! Ia tidak mau! Ia tidak mau menerima telepon suaminya sementara penis sang mertua tengah menancap di dalam vaginanya. Si cantik itu terus menerus menggelengkan kepala, ia hampir menangis ketika Pak Hasan tidak mempedulikan gelengan kepala menantunya yang pucat pasi dan memencet tombol penerima telepon.
Lidya langsung merebut telepon genggamnya dari tangan sang mertua. Keringat dingin mengalir deras membasahi dahinya. Pak Hasan hanya tertawa kecil tanpa suara.
“Ha… halo?” tergagap Lidya berusaha menyesuaikan suaranya senormal mungkin.
“Halo sayang.” Suara mesra Andi menyambut istrinya.
“Ha – halo, mas…” Lidya berusaha mengeluarkan suara lembut tanpa ekspresi, sangat sulit mengingat penis Pak Hasan terus berdenyut di dalam liang cintanya.
“Gimana kabarmu? Aku susah sekali mencari waktu untuk menelpon. Baru bisa menelpon sekarang, pekerjaan banyak banget.”
“A… aku baik, Mas. Iya… di sini sinyal juga sering susah… jadi tidak bisa sering telepon dan… tidak pasti ada sinyal…. henghhh…”
“Sayang? Kamu kenapa?” sentakan nafas Lidya mengagetkan Andi. “Kamu tidak apa – apa kan?”
“Ti… tidak apa – apa… a… aku tersandung saja. Iya, tersandung.” Walaupun Andi tidak akan melihatnya, Lidya menganggukkan kepala, mencoba membenarkan kebohongannya. Pak Hasan tergelak melihat kepanikan menantunya, Lidya melotot galak melihat mertuanya itu.
“Suaranya kok tidak seperti tersandung? Seperti menahan sesuatu… memangnya kamu jalan kemana?”
“Beneran, Mas. Aku tersandung. Aku sedang… aku sedang mau ke dapur.” Lidya melirik ke arah mertuanya yang hampir – hampir tidak bisa menahan ketawa, ingin rasanya ia membungkam mulut mertuanya itu saat ini dan menghapus senyuman menghina dari wajahnya. “Ta… tadi tersandung… ta… tapi tidak apa – apa.”
Melihat Lidya memfokuskan perhatian kepada telepon genggam, Pak Hasan mulai nakal, ia menggerakkan pinggulnya dan menggoyang penisnya untuk menyengsarakan sang menantu. Lidya melotot kepada mertuanya, namun rasa enak yang ia rasakan di selangkangan tak bisa ia pungkiri. Tubuh Lidya bergetar hebat, rangsangan luar biasa yang ia rasakan dari sodokan penis Pak Hasan ditambah suara Andi yang sedang ia dengar di telepon membuat si cantik itu gelagapan tak tahu harus berbuat apa. Rangsangan hebat itu pula yang kini justru membuatnya menaiki puncak kenikmatan. Cairan cinta meleleh deras di dalam liang kewanitaannya, membuat sodokan Pak Hasan kian mudah.
“Hgnghh! Hgnghh…!!! Hgnghhhh…!!!” Pak Hasan menekan penisnya dalam – dalam dan pada tiap tusukannya ia berusaha melesakkan semakin dalam.
“Suara apa itu, sayang?” tanya Andi, ia mendengar dengusan teratur di belakang suara Lidya yang bergetar.
“Su… suara apa maksud kamu, mas?” Lidya bertanya balik, ia benci sekali melihat senyuman geli di bibir sang mertua. Ingin rasanya ia menampar wajah penuh kemenangan itu. Lidya memejamkan mata, ingin menangis rasanya.
“Seperti ada yang terengah – engah?” kata Andi bingung.
“Ti… tidak ada siapa – siapa di sini…” Lidya membuka mata dan menggemeretakkan gigi, menahan diri agar tidak mengeluarkan lenguhan yang mencurigakan atau menjerit tiba – tiba. Susah sekali rasanya menahan teriakan karena vaginanya terus menerus digempur. “Mu – mungkin ada gangguan di operator…”
“Iya, mungkin saja. Kamu tidak apa – apa kan?”
“Ti… henghhh… tidak apa – apa…” Lidya memejamkan mata. Tangannya berusaha menjauhkan tubuh Pak Hasan untuk sementara waktu, susah sekali rasanya menerima telpon dari suaminya kalau memeknya terus saja dihajar oleh sodokan penis mertuanya sendiri seperti ini. “ti… tidak apa – apa, hgnnngghhh!!!!!”
“Kok menggeram gitu? Memangnya kamu sedang apa sekarang?” suara Andi mulai terdengar gelisah.
“Ti – tidak sedang apa – apa kok… beneran.. henghhh… a – akuu sedang memasak… ini sedang menumbuk… enghh… bum… bumbu……”
“Memasak? Jam segini?”
“I… iya… Bapak belum makan…”
“Oooh gitu… kenapa kok sampai jam segini belum makan?”
“Ta – tadi Bapak keluar, barusan pulang dan katanya… katanya… minta dibuatin makanan….” dia bukan pembohong yang baik, batin Lidya.
“Oh gitu.” Suara Andi terdengar gamang, “baiklah, sehari lagi kamu pulang kan? Hati – hati di jalan ya, SMS aku kalau kamu sudah mau pulang besok.”
“Iya mas…..”
“Bye sayang. Love you.”
“Bye.”
Terdengar suara telpon ditutup. Tak terasa beberapa titik air mata menetes dari bola mata yang indah yang kini berkaca – kaca. Lidya baru saja berbohong kepada suaminya. Ia berbohong kepada orang yang paling ia cintai. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa saat ini tubuhnya yang indah sedang telanjang dan disetubuhi oleh Pak Hasan, ayah Andi sendiri!!!
Pak Hasan menyeringai puas.
“Kurang – ajar….!!!” Lidya mengumpat. Saat itu dia benci sekali laki – laki tua bejat yang kini tengah tertawa dengan penis tertancap dalam – dalam di lubang memeknya. Tapi umpatannya hilang ditelan gerakan maju mundurnya sendiri. Kemarahan yang dirasakan Lidya justru membuat nafsunya kian tak terkendali, ia bagaikan binatang yang tak bermoral dan menghamba pada nafsu. Tanpa dirasa, walaupun membenci mertuanya hingga ke ujung ubun – ubun, dia jugalah yang memberikan Lidya kenikmatan permainan cinta yang sesungguhnya.
Mereka tidak sedang bermain cinta, atau bahkan bergerak menekan satu sama lain. Pak Hasan hanya diam saja terbaring di atas kasur, penisnya yang menjijikkan bagi Lidya beraksi penuh kuasa di dalam liang cintanya. Selangkangan mereka masih bertaut ketika telepon genggam Lidya dilempar ke samping tempat tidur oleh si molek.
“Cium aku dulu, sayang…” Pak Hasan mengeluarkan seringai menjijikkan sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.
“Menjijik… keuuuuhhhhhhhhh!!! Aughhhh!!!” Lidya memejamkan mata ketika penis Pak Hasan membesar di dalam liangnya yang sempit.
Lidya mencondongkan tubuh ke depan, buah dadanya yang kenyal ia tekan ke dada sang mertua yang gemuk. Si cantik itu tidak percaya ia melakukan ini dengan kemauan sendiri tanpa diminta oleh Pak Hasan, sungguh gila. Tidak hanya ia membiarkan Pak Hasan menyetubuhinya tanpa perlawanan, kini ia malah bersedia memuaskan nafsu sang mertua yang bejat. Mertuanya yang arogan hanya terbaring di sana sementara Lidya mencium bibirnya dan menaikturunkan pinggulnya, sebisa mungkin ia melesakkan penis sang mertua dalam – dalam tiap kali diturunkan. Lidya membuka mulutnya, menanti lidah sang mertua menjelajah ke dalam mulutnya.
Pak Hasan menyapu bibirnya yang basah oleh liur Lidya yang bercampur dengan cairan lain dari mulut sang menantu. Lidya berusaha mengangkat bagian atas tubuhnya agar bisa bernafas sementara selangkangannya terus menerima sodokan dari bawah, ditusuk hingga ke dinding terujung. Penis gemuk yang menjelajah di liang terdalam kewanitaan Lidya berdenyut pelan seperti menikmati ditekan oleh dinding yang sempit.
Masih dengan mulut yang saling berpagut, Pak Hasan membalik tubuh Lidya dan membaringkan menantunya di atas kasur, memutar posisi mereka. Perut gemuknya ditekan hingga pipih di atas perut Lidya yang ramping. Pakaian si cantik itu sudah acak – acakan ketika Pak Hasan mulai memajumundurkan pinggang untuk menyetubuhi sang menantu. Menumbuk tubuh mungilnya di atas ranjang acak – acakan dan basah oleh keringat keduanya.
Kaki jenjang Lidya direntangkan lebar – lebar dan lututnya ditekuk. Wajahnya yang cantik acak – acakan oleh ulah Pak Hasan yang tak henti – hentinya mencium. Lidya berulang memejamkan mata merasakan batang kemaluan sang mertua keluar masuk di liangnya. Tubuh berat Pak Hasan membebani tubuh Lidya yang kecil dan ramping.
Pak Hasan melenguh keras, ia meremas payudara Lidya beberapa kali sebelum mengangkat bulat pantat si cantik itu dan menusukkan penisnya dalam – dalam. Makin lama makin cepat.
“A… aku tak kuat lagi…. haaaaarrrgghhhh!!!” teriak Pak Hasan yang akhirnya tak mampu bertahan dan menghamba menginginkan kepuasan.
Pria tua itu mengangkat kepalanya tinggi – tinggi ketika ujung gundul penisnya meledak di dalam kemaluan sempit sang menantu. Buah pelirnya bekerja dengan baik memberikan supply sperma yang berlebih dan membantunya memancarkan cairan kenikmatan di dalam liang kemaluan Lidya hingga penuh tanpa menghentikan gerakan maju mundur pinggulnya.
Lidya berteriak kencang sambil mencakar bahu sang mertua, si cantik itu rupanya juga mengalami orgasme yang telah ditunggu – tunggu. Ia mengejang sesaat dan kemudian terbanting lemas.
Saat kemudian ia sadar, Lidya hampir – hampir tak bisa bernafas karena tubuh gemuk Pak Hasan ambruk menimpanya. Lidya tak mampu menggerakkan tubuh karena terkunci pelukan sang mertua. Kakinya yang jenjang masih terbentang lebar, untuk memudahkan Pak Hasan melakukan penetrasi. Cairan cinta mereka yang beradu di dalam liang kemaluannya terasa berat dan kental, membuat ia merasa becek. Lama kelamaan Lidya megap – megap karena tak kuat lagi menahan beban.
“Kamu memang benar – benar kuda binal yang enak ditiduri, Nduk.” Kata Pak Hasan sambil berguling turun dari tubuh si cantik yang masih tersengal – sengal, perlahan – lahan orang tua bejat itu menarik keluar penisnya dari dalam kemaluan sang menantu. Lidya sempat tersentak kecil ketika penis itu keluar dengan menimbulkan bunyi plop yang nyaring.
Karena tidak mampu berpikir dengan jernih Lidya hanya bisa mendesah tanpa arti. Ia juga tak bisa melakukan apa – apa ketika lengan gemuk Pak Hasan memeluk tubuhnya erat. Si cantik itu terlalu lelah untuk mengeluarkan kata. Dia hanya ingin tidur dengan nyenyak malam ini.
###
HARI KEEMPAT
Sejuk semilir angin membawa damai di hati ketika hembusannya yang nakal sesekali mengibarkan helai demi helai rambut Lidya yang indah. Untaian udara dingin malam yang tertinggal dalam dekapan pagi tersebar di seluruh Desa Kapukrandu, menyatu dalam kabut yang hanyut, memberikan nuansa syahdu dalam kesederhanaan yang bersahaja menyambut pagi yang ceria.
Langkah kaki jenjang Lidya yang menyusur jalanan desa tidaklah sendiri di pagi yang dingin ini. Si cantik itu menyunggingkan senyum dan menganggukkan kepala berapa kali saat bertemu anak – anak desa berpakaian sekolah yang asyik bersenda gurau dan mengayuh sepeda mereka agar tidak terlambat masuk sekolah. Di pengkolan di ujung kampung, ibu – ibu penjaja dagangan sudah membuka lapak bahkan sebelum sang surya hadir menyambut pagi. Sayur mayur dan bumbu dapur digelar untuk menarik minat pembeli. Ramainya ibu – ibu bersenda gurau dan bertukar berita hanya bisa disaingi oleh teriakan penjual mainan anak – anak.
Lidya sengaja berjalan pelan. Si molek itu tidak ingin sedikitpun kehilangan momen indah di Desa Kapukrandu karena hari ini adalah hari terakhirnya di desa yang sejuk ini. Lidya teringat, beberapa hari yang lalu ia malas sekali pergi ke tempat ini karena takut dengan perlakuan Pak Hasan. Kekhawatirannya beralasan dan apa yang ditakutkan benar terjadi bahkan lebih parah lagi, ia melakukan hal – hal yang sebelumnya tidak ia sangka akan ia lakukan. Pak Hasan telah memperlakukannya dengan kasar, mencabuli dan memperkosanya.
Tapi……
Desa Kapukrandu yang sejuk ini telah memberikannya pelajaran berharga, untuk tidak menilai seseorang hanya dari sisi buruknya saja. Tiap orang memiliki dua sisi kehidupan yang saling mendukung walaupun dasarnya bertolak belakang. Bisa juga setiap orang membutuhkan keduanya karena pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna. Jika hendak mengagumi seseorang karena sisi baiknya, persiapkan hati saat mengetahui sisi buruknya. Seorang pejabat tinggi yang terlihat santun, sopan dan berwibawa ternyata koruptor yang doyan tidur dengan gadis yang jauh lebih muda dan bukan istrinya. Bandingkan dengan orang yang kasar, kotor dan tidak berpendidikan tinggi namun rela membantu dan berkorban demi orang lain tanpa memungut biaya.
Siapa sangka dibalik wajahnya yang menjijikkan dan selalu membuat Lidya bergidik ketakutan, Pak Hasan adalah orang yang sering dimintai bantuan bahkan pernah menjadi teladan bagi rakyat Desa Kapukrandu? Bagaimana tidak, mertuanya itu dulu pernah bertugas sebagai kepala desa!
Hari ini Pak Hasan pergi ke kelurahan untuk berpamitan dengan teman – temannya di sana. Setelah bercinta habis – habisan semalam, rasanya asyik juga kalau hari ini Lidya pergi mandi ke sungai. Pak Hasan bilang kalau ada satu tempat di mana Lidya bisa mandi tanpa perlu khawatir ada orang yang mengintipnya, tempat itu sepi, tak diketahui banyak orang dan airnya jernih. Sepertinya menyenangkan membasuh tubuhnya yang terasa kotor karena semalam dihujani cairan cinta Pak Hasan.
Untuk sampai ke tempat itu Lidya harus melalui jalan yang agak susah dan hanya bisa dicapai dengan jalan kaki, tidak – apa – apa batin si cantik itu, hitung – hitung olahraga pagi. Dari ujung jalan di dekat pengkolan penjaja sayuran, Lidya berjalan lurus ke arah sungai. Tidak banyak yang pergi ke sungai karena hampir sebagian besar masyarakat desa sibuk dengan pekerjaan pagi mereka. Setelah sampai di tepian sungai Lidya menyusurinya hingga masuk jauh ke dalam rerimbunan pepohonan. Di tempat ini pohon – pohon rindang berbaris tak rapi melindungi jalan setapak yang menurun, suasana yang masih asli dan asri, tak akan bisa ditemui di kota. Pantas saja Pak Hasan bilang kalau malam minggu anak – anak muda Desa Kapukrandu sering berpacaran di sini sementara pada malam hari para dukun mencari wangsit juga di tempat rimbun ini.
Berbeda dengan wilayah lain di luar Desa Kapukrandu yang cenderung gersang dan kering, tempat ini seperti hutan oase di tengah padang pasir dengan sungai yang mengalir dari sisi pegunungan hingga turun untuk memberikan sumber penghidupan bagi rakyat desa.
Karena jauh dari jalan utama, tempat itu jarang dilewati orang. Sejak menyusuri sungai Lidya tidak melihat siapa – siapa lagi. Bahaya juga kalau – kalau dia tersesat. Untung saja Pak Hasan mengatakan asal dia menyusuri sungai, Lidya tidak akan tersesat. Si cantik itu berusaha menghapal lokasi tempatnya berjalan, mencoba menghapal beberapa pohon yang bisa membantunya pulang nanti.
Dinginnya air, sejuknya angin, nyamannya suasana. Semua mendukung Lidya untuk menikmati pagi. Bahkan mungkin ia terlalu menikmati… ketidakhadiran Pak Hasan membuat Lidya bebas melakukan apa saja hari ini. Apalagi setelah dari kelurahan, mertuanya itu akan mengurus penyelesaian beberapa hutang dengan teman – temannya yang lain, kalau tidak salah namanya Koh Liem atau siapa. Hari yang bebas.
Akhirnya Lidya sampai di sebuah tempat yang seperti Pak Hasan bilang, tersembunyi dan aman baginya untuk mandi. Lidya berhenti sejenak sebelum melangkah.
Yakinkah dia tempat ini aman?
Lidya melihat ke arah sekitar, rimbunnya pepohonan tinggi membuat tempat ini seperti hutan yang terlindung dari cahaya sang surya. Peralihan udara dari dingin ke hangat disambut kabut tipis yang mulai menghilang dan semilir angin menyejukkan. Udara pagi ini juga sangat cerah, hampir tidak ada awan bergantung di langit dan burung – burung mulai berkicau ramai menyenandungkan lagu ceria menyambut mentari.
Benar apa kata Pak Hasan. Tempat ini memang cukup tersembunyi, pepohonan rindang menutupi sisi dengan dahan saling berkait dan tumbuh – tumbuhan berduri menghalangi pandangan siapapun dari arah seberang. Sebaliknya tempat ini juga cukup baik untuk memantau seandainya ada orang yang datang karena tempatnya agak lebih tinggi dari jalan setapak dan sungai yang mengalir ke desa. Air yang mengalir begitu jernih dan bening sehingga nampak segar sekali.
Jadi… amankah tempat ini? Mungkin tidak, tapi dia tidak lagi peduli.
Lidya melepas pakaian yang ia kenakan, mulai dari kaos, celana selutut hingga pakaian dalamnya. Melihat suasana, Ia cukup merasa aman untuk mandi telanjang. Lidya geli dengan keberaniannya, mungkin karena sudah pernah melakukan hal – hal aneh di mal dan pasar, Lidya menjadi sedikit berani membuka pakaian.
Sedikit demi sedikit Lidya mencelupkan ujung kakinya yang jenjang ke dalam air, merasakan lembutnya sapuan air dingin yang menyentak dan menyegarkan. Sambil memejamkan mata, si jelita itu masuk ke air. Mulai dari ujung jari kaki, lalu betis, lutut, paha, pinggul, perut dan akhirnya dada serta kepala. Seluruh tubuh Lidya kini sudah masuk ke dalam dinginnya air di pagi hari. Untuk sesaat ia menggigil kedinginan, namun sinar mentari yang akhirnya berhasil menembus payung alami di atas rindang pepohonan membuat tempat di mana Lidya berendam jadi terasa hangat.
Lidya tidak menyukai apa yang ia alami di Desa Kapukrandu karena memberikan kenangan yang tak menyenangkan baginya. Namun tempat ini bagaikan mutiara dalam tiram. Penyejuk jiwa dan pemberi keseimbangan batin. Mengherankan, di tempat gersang seperti Desa Kapukrandu ada juga wilayah hijau seperti ini, indah, asri dan asli. Sejenak Lidya terdiam, lalu tersenyum sendiri, ia akan meralat kata – katanya barusan, ia menyukai apa yang ia alami Desa Kapukrandu.
Lidya segera membasuh bagian – bagian tubuhnya, menikmati deburan air menumbuk tubuhnya yang telanjang. Segar sekali rasanya, ia merasa bersih, merasa tenang dan pada akhirnya, ia merasa nyaman.
Setelah sekian lama berada di dalam air, si cantik itu naik kembali ke darat, menyeka seluruh tubuhnya dengan handuk kecil yang sudah ia siapkan sejak tadi. Ia menyeka buah dadanya, yang masih memiliki bercak merah bekas cupang bibir Pak Hasan. Sebenarnya, seluruh tubuhnya masih memiliki bekas cupang.
Lidya membersihkan tubuhnya dengan hati – hati sekali, merasakan kesegaran angin berhembus di tubuhnya yang basah. Begitu enaknya hingga si cantik itu memejamkan mata. Hembusan angin begitu sejuk hingga benak Lidya melayang jauh dan jauh dan semakin jauh. Ia seperti memilliki sayap yang terkembang dan terbang naik ke awan.
Dalam khayalnya, Lidya membayangkan ada alunan suara yang memintanya untuk merenggangkan kaki. Bisikan gaib yang menghipnotisnya untuk menuruti kehendak jiwanya. Suara yang datang entah dari mana namun meminta Lidya untuk menurut apa kata hatinya. Ia merenggangkan kaki selebar – lebarnya. Telunjuk jari tangan kanannya menyentuh bibir dengan lembut, merasakan gesekan antara jari dan bibir, merasakan sentuhan ringan yang membuatnya merasa nyaman. Tanpa ia sadari, handuk kecilnya telah terjatuh…
Lidya membuka bibir dan memasukkan jari ke dalam ke dalam mulutnya, suara gaib yang menuntunnya kini memintanya mengulum jarinya sendiri. Bagaikan kesurupan, Lidya patuh dan menghisap jari jemarinya sendiri seperti permen. Tapi ia tak melakukannya lama – lama…
Dengan tangan bergetar Lidya menyentuh selangkangannya, mencoba mencari bibir memeknya yang mungil. Tanpa sadar, Lidya mulai mengusap bibir kemaluannya dengan dua jari tangan kirinya. Kepuasan… dia menginginkan kepuasan… saat ini juga… segera… cepat… semakin cepat… segera…. Tangan kanan yang jarinya sempat ia kulum kini meraih bulat buah dadanya yang kenyal. Jemarinya menarik puting susunya sendiri, memilin dan memijatnya, memohon kepuasan. Lidya mulai menghamba pada nafsunya sendiri tanpa disadari…
Perlahan – lahan Lidya berbaring di rerumputan yang ada di samping sungai, ia tidak peduli lagi tempat itu kotor atau tidak. Bidadari molek itu mengangkat kakinya dan merenggangkannya lebar – lebar. Matanya yang indah dipejamkan bersamaan dengan keluarnya lenguhan nafsu dari bibirnya yang mungil. Ia seperti sedang kerasukan, mencari kepuasan dengan menikmati tubuhnya sendiri.
Jari jemari jenjang turun ke bawah, masuk di antara selangkangan. Dengan jari telunjuk dan jari manisnya sendiri, Lidya membuka lebar – lebar pintu cinta kewanitaannya, pintu cinta yang telah basah. Sudut ibu jari digesekkan ke bagian atas bibir memek untuk mencari kunci kenikmatan dan ketika ia menemukannya, Lidya melenguh pelan. Jari tengah dimasukkan ke dalam vagina, diputar untuk menjelajah dinding kemaluannya sendiri. Desahan demi desahan manja keluar dari mulutnya yang dahaga oleh nafsu.
Jemari Lidya yang lentik basah oleh cairan cinta yang meleleh dari dalam liang kewanitaannya. Jari jemari itu bergerak lincah keluar masuk sementara remasan tangan pada buah dada menjadi sumber kenikmatan lain. Ia terus menerus meremas, memilin dan meraba bagian membusungnya yang indah.
“Eessssttt….. hmmmm….” desah Lidya keenakan. “Aku… tidak mau… seperti ini…” entah siapa yang diajak bicara oleh Lidya, karena saat itu dia seorang diri. Dalam bayangannya ia sedang bergumul dengan seseorang yang tak terlihat, yang mencoba menyetubuhinya, yang berkuasa dan memaksanya, yang terus menerus menjamahnya.
Kepalanya berdenyut seakan ada bunyi genderang bertalu – talu yang memekakkan telinga. Semua rasa takut dan malunya sudah hilang ditelan nafsu, ia kian merenggangkan kaki dan mendesah tanpa bisa bertahan.
Gerakan jemari Lidya makin lama makin cepat, makin buas, berubah dari gerakan lembut menjadi gerakan liar yang penuh tuntutan. Lidya tidak peduli lagi dimana saat ini dia berada. Seandainya ada orang datang, mereka pasti akan melihat aksi si jelita itu membuka lebar – lebar bibir memeknya yang basah.
Tiba – tiba terdengar bunyi dedaunan disibakkan oleh seekor hewan yang melintas.
Suara gemeresek dedaunan yang muncul seharusnya membuatnya tersadar, tapi Lidya sudah terbang terlampau tinggi terkungkung awan kenikmatan sampai – sampai ia enggan turun. Bunyi yang muncul justru membuatnya makin seperti orang kesurupan, ingin sesegera mungkin merasakan kenikmatan.
Tubuh wanita cantik itu melejit ke atas lalu terbanting ke bawah dengan cepat, demikian berulang – ulang. Bayangan dalam batin akan adanya orang yang saat itu datang dan menyaksikannya memainkan vaginanya sendiri membuat Lidya makin memuncaki tangga nafsu.
Makin naik… makin cepat… tambah naik… tambah lagi… terus…
Dan akhirnya…
“Hnnghhhhh!!!” geram Lidya mencoba melepas kepuasan yang tertahan. Mata wanita jelita itu dipejamkan rapat – rapat, tubuhnya mengejang. Ia merasakan cairan hangat lepas di dalam liang cintanya, seperti ratusan burung yang dilepas dari sangkar dan terbang ke awan bebas.
Lidya membuka matanya.
Tetes cairan kenikmatan kental meleleh melalui sela – sela jari jemari di selangkangannya.
Si cantik itu terengah – engah. Ia menyandarkan siku di atas rerumputan untuk menopang tubuhnya yang bermandikan keringat. Ia baru saja memberikan kenikmatan pada dirinya sendiri. Sesuatu yang sebelumnya tidak ia perkirakan akan ia lakukan di tempat seperti ini. yah, Paling tidak ia telah puas…
Puas?
Benarkah ia telah puas?
Lidya mencoba menyerap pertanyaan itu dan ia tahu jawaban yang muncul sedikit menyakitkan jiwanya.
Tidak. Ia tidak puas sama sekali.
Ya, ia tidak puas.
Kenapa?
Kenapa rasanya lain? Kenapa seperti ada kekosongan dalam hatinya?
Kenapa ia tidak bisa mendapatkan kepuasan sederhana itu?
Lidya jatuh terduduk. Tanpa bisa ia tahan, tetes demi tetes air mata meluncur. Harusnya tidak begini… harusnya tidak seperti ini. Harusnya semua selesai, harusnya semua perasaan itu tidak muncul. Harusnya ia bisa puas hanya dengan… hanya dengan… harusnya ia bisa puas… kenapa tubuhnya mengingkari apa yang ia inginkan, kenapa batinnya menjerit penuh dahaga nafsu yang menggelegak tak terbayar?
Apakah ketakutannya menjadi nyata?
Apakah benar sudah terjadi hal yang paling ia takutkan? Ia takut seandainya Pak Hasan gencar melatih nafsunya agar terus menerus terlampiaskan ia akan menjadi maniak pemuja seks. Ia takut ia tidak bisa lagi merasakan nikmat bermain cinta dengan suaminya, dia takut dia hanya bisa dipuaskan oleh Pak Hasan! Itu ketakutan utamanya! Dan kini… kini sepertinya itu benar – benar terjadi!
Ia bahkan tak mampu memuaskan dirinya sendiri… tak sama, rasanya tak sama…..
Cairan cintanya memang mengalir, tapi rasa itu tidak hadir. Kosong rasanya.
Lidya masih mengeluarkan air mata untuk beberapa saat lamanya. Ia membasuh wajah dan membilas air mata yang terus meleleh.
Dia tidak ingin pulang dengan mata sembab.
Ini hari terakhirnya di Desa Kapukrandu dan dalam hatinya Lidya tahu pasti, dia akan pulang kembali ke kota sambil membawa kekosongan dalam hati karena ada sesuatu yang hilang dan mungkin tidak akan kembali padanya…
Sampai saat ia menemukan kembali apa yang hilang itu, Lidya mungkin tidak akan pernah lagi merasakan kepuasan.
Lidya tahu apa yang sebenarnya hilang darinya, tapi ia ingin mengingkari perasaannya.
Ia tidak boleh membiarkan perasaan itu berlanjut.
Ia tidak boleh menghamba pada nafsu semata.
Ia tidak boleh… tidak bisa… tidak mau… tidak akan pernah!
…tapi…
Ah sudahlah, pokoknya, dia tidak ingin pulang dengan mata sembab.
###
SEMINGGU KEMUDIAN…
Seminggu telah berlalu sejak Lidya dan Pak Hasan pulang dari Desa Kapukrandu.
Tas berisi pakaian dan semua keperluan Pak Hasan sudah diletakkan di ruang tamu. Pria tua itupun sudah memesan taksi. Sekitar setengah jam lagi dia akan meninggalkan rumah Andi dan pergi menuju kontrakannya yang baru, jaraknya memang tidak jauh dari rumah ini, sekitar setengah jam perjalanan, namun segala sesuatunya pasti akan berubah.
Dengan santai Pak Hasan duduk di ruang tamu sambil menyeruput kopi susu yang dihidangkan sang menantu. Rokoknya yang masih mengepul ia letakkan di atas asbak.
Rencananya Pak Hasan akan pindah dan menempati rumah kotrakan baru mulai hari ini tapi karena Andi lagi – lagi ditugaskan keluar kota, Lidya yang akan melepas kepergian ayah mertuanya. Kadang Pak Hasan heran dengan anaknya itu…. dia sibuk sekali mencari uang dan tergila – gila dengan pekerjaan, bahkan sampai melupakan istrinya yang cantik dan seksi di rumah sendirian, seakan – akan tidak takut hal – hal buruk akan menimpa Lidya. Pak Hasan geleng – geleng kepala. Orang memang kadang tidak menyadari apa yang sesungguhnya telah ia miliki, sampai pada saat ia kehilangan.
Kepulan asap rokok menyeruak di ruang tamu rumah Andi, asap yang terbang mengendarai angin kecil dan kemudian lepas ke alam bebas melalui jendela berteralis yang dibuka lebar. Udara sejuk semilir berhembus sesekali ke dalam rumah, memberikan kenikmatan alami bagi Pak Hasan.
Langkah kaki ringan menghampiri sang lelaki tua. Harum wangi semerbak memenuhi ruangan, tanpa harus menengokpun Pak Hasan tahu siapa yang datang. Lidya duduk di kursi yang ada di hadapan Pak Hasan. Wajahnya yang cantik terlihat muram, kepalanya menunduk.
“Sudah saatnya kita bicara dari hati ke hati, Nduk.” Kata Pak Hasan sambil menebar senyum mesumnya yang khas.
Lidya terdiam tanpa ekspresi.
“Kamu pasti senang aku keluar dari rumah ini, kita tidak bisa bercinta lagi sesering biasanya. Aku akan sering berkunjung kalau kamu kangen… hmm…” tiba – tiba Pak Hasan menghentikan kallimatnya, untuk pertama kalinya di hadapan Lidya, pria tua itu gelisah. “Tidak. Tidak. Sudah cukup. Ya. Sudah cukup apa yang aku lakukan selama ini. Tapi… ah… tapi aku akan memberikanmu pilihan.”
Lidya masih terdiam.
“Aku rasa sudah cukup yang aku lakukan selama ini terhadapmu. Sejahat – jahatnya orang tua, aku ingin anakku juga bahagia. Aku ingin kamu membahagiakan Andi dan itu artinya aku harus melepaskanmu, urus anakku itu baik – baik. Walaupun tidak selamanya, tubuhmu terlalu indah untuk dilepaskan. Kalau aku butuh memekmu, ya kamu harus menyediakannya. Tapi untuk sementara waktu, biarlah Andi yang memenuhi nafsu liarmu…”
Lidya menatap mertuanya dengan tatapan tanpa ekspresi.
“Sebelum aku melangkahkan kaki keluar dari rumah ini, kamu harus memilih, Nduk.” Pria tua itu berdiri dengan tenang sambil meraih rokoknya. Ia menenteng tas yang sepertinya cukup berat. “Apapun permintaanmu, akan aku kabulkan. Jadi pilih dengan hatimu. Apapun yang kamu mau akan aku penuhi. Kali ini janji pasti aku tepati… termasuk jika kamu ingin bebas dariku.”
Lidya berdiri gamang dan menatap orang yang telah menghancurkan kesuciannya sebagai seorang istri setia itu dengan pandangan tak percaya. Lidya yang sudah sangat sering tidur dengan orang tua itu belum pernah melihat ekspresi wajah Pak Hasan yang sedemikian santai namun serius. Sosok lain Pak Hasan yang ini tidak pernah dilihat Lidya sebelumnya, mungkin pernah dulu.. sebelum dia berubah menjadi binatang pemerkosa yang menghancurkan statusnya sebagai istri setia dan menantu. Akankah dia bisa dipercaya untuk menepati janji?
“Aku ingin kamu memilih…” Pak Hasan melangkah menuju pintu.
Lidya masih tak bergeming, bola matanya yang tajam berkaca – kaca.
“…tetap menjadi budak seks… atau…”
“…atau?” desah suara Lidya pelan sekali, hampir berbisik. Seperti ada sesuatu yang mengganjal kerongkongan wanita molek itu.
“…bebas.”
Kata – kata yang diucapkan oleh Pak Hasan seperti tetes air di tengah padang pasir. Kata yang sudah lama sekali ia nantikan. Bebas. Betapa mahalnya harga kata – kata itu. Bebas. Lepas dari Pak Hasan, lepas dari eksibisionisme paksaan, lepas dari hubungan tak senonoh, lepas dari mertua cabul. Sejuk sekali di dalam hatinya mendengar kata – kata itu… ‘bebas’.
Tapi…
Tapi… apakah benar bebas adalah hal yang dia inginkan?
Keringat mulai menetes di dahi si cantik. Dia harus segera memutuskan. Dia harus bebas. Dia harus lepas dari pengaruh mertuanya yang cabul. Dia harus… harus…
“Jadi?” Pak Hasan mengulang pertanyaannya, “pilih menjadi budak atau bebas?”
Lidya tak menjawab, hatinya gamang. Si cantik itu bimbang dan bingung, walaupun ia sendiri masih tak tahu apa sebenarnya yang menyebabkannya kebingungan. Bisa dibilang Lidya bingung akan kebingungannya.
Bukankah sudah jelas pilihannya? Yaitu bebas? Lalu apa yang sebenarnya dia inginkan?
Apa suara yang bergejolak dalam hatinya?
Apa….?!
“Ini yang terakhir. Pilih… tetap jadi budak atau bebas?” kali ini Pak Hasan bertanya untuk yang terakhir kali, nada suaranya sudah terdengar lain. Ayah mertua Lidya itu sudah siap melangkah kaki keluar dari rumah. Tangannya telah membuka pintu dan menenteng tasnya keluar.
Lidya tahu dia harus menjawab pertanyaan itu sebelum Pak Hasan melangkahkan kaki keluar. Lidya tahu jawabannya, tapi lidahnya kelu dan bibirnya terkatup rapat. Jelas dia ingin bebas, dia tahu pasti dia ingin bebas, dia yakin sekali ingin bebas dari perangkap cabul Pak Hasan yang telah membuat dirinya kotor dan tak berharga. Tapi susah sekali bagi Lidya mengucapkan kata “bebas” itu. Ada yang menghalanginya, sesuatu yang berat dan nyeri sekaligus menghinggapi hatinya.
Dengan satu usaha terakhir, Lidya akhirnya mengucapkan apa yang benar – benar dia inginkan dalam hati sebelum Pak Hasan pergi.
“Aku memilih…” suara Lidya terdengar bergetar.
Pak Hasan terhenti dan menunggu.
“Budak…” Lidya mengucapkan sebisik kata dengan pelan dan gemetar.
Si cantik itupun luruh ke lantai dan menangis tersedu – sedu, Lidya menyadari konsekuensi pilihannya. Ia menyesali keputusan sekaligus mengutuk hatinya sendiri. Ia tak mengerti kenapa ia justru memilih hal yang terkutuk itu. Kenapa?
Senyum tersungging di bibir Pak Hasan.
“Telpon aku kalau Andi tugas keluar kota, Nduk. Aku akan datang.”
###
PENUTUP
Sumarto menatap bosan pesawat televisi yang menyala. Tangannya bergerak malas memindah channel menggunakan remote yang sudah mulai kehabisan baterai. Ia harus menepuknya beberapa kali sebelum channelnya berpindah. Ia sebenarnya sudah mengusulkan pada majikannya untuk membeli baterai remote baru, tapi sampai saat ini sang majikan enggan menanggapi, mungkin karena mereka memiliki pesawat televisi sendiri di dalam kamar sehingga malas membeli baterai baru untuk televisi ruang tengah yang memang hanya dipakai oleh Marto. Majikannya sudah beberapa hari ini bepergian ke luar kota, meninggalkan Marto sendiri di rumah. Walaupun milik orang yang lumayan berada, rumah ini tidak begitu besar, sehingga Marto tidak kerepotan mengurusnya tanpa teman.
Ketika channel diganti, sinetron demi sinetron mengisi layar televisi. Tidak satupun yang memuaskan Marto. Bagi pembantu rumah tangga seperti dia, menonton sinetron adalah hiburan utama, walaupun begitu ia sudah bosan menonton cerita sinetron yang begitu – begitu saja, sinetron – sinetron yang menjual cerita usang dan mengandalkan bintang – bintang muda berwajah indo. Ia heran kenapa pembantu sebelah mengidolakan acara semacam ini, hanya menjual mimpi dan wajah cantik penuh polesan. Sesungguhnya Marto hanya tertarik pada satu hal di layar televisi yaitu pertandingan sepakbola. Sayang tidak ada pertandingan bola hari ini. Yah, paling tidak dia bisa dipuaskan melihat wajah cantik pemain sinetron, dada – dada mereka yang membusung, pantat mereka yang bulat dan kaki mereka yang jenjang, sosok – sosok impian yang menggiurkan.
Omong – omong soal wajah cantik, Marto jadi teringat pada satu sosok menarik yang ia lihat beberapa minggu yang lalu. Wajah yang tampil sangat mempesona tanpa noda dan tanpa polesan bedak tebal seperti para bintang sinetron itu. Wajah yang bisa dibilang sempurna namun sayang statusnya adalah istri orang kaya yang tidak mungkin bisa ia sandingi. Marto menarik nafas panjang dan kembali menonton acara televisi yang menurutnya sangat tidak menarik dan membosankan.
Siapa wanita cantik yang sangat memukau Marto itu?
Sebenarnya dia sedang teringat pada Bu Lidya, istri Pak Andi yang tinggal di sebelah rumah. Wajahnya cantik, tubuhnya indah, perangainya halus dan sopan, benar – benar tipe istri setia yang pasti asyik sekali dikeloni di tempat tidur.
Dulu ketika keluarga Andi baru saja pindah, ia pernah mendengar bapak – bapak yang sedang ronda membicarakan kemolekan Lidya, mereka iri dan mengatakan kalau Andi sangat beruntung bisa menikahi wanita seseksi Lidya. Saat itu ia sedang mengantar gorengan yang dipesan sang majikan yang sedang ronda. Bahkan majikannya sendiri mengatakan kalau dia tidak keberatan kalau Andi mau tukar tambah dengan istrinya sekarang, ia bersedia membayar berapapun untuk mendapatkan Lidya. Dasar majikannya memang tidak tahu malu…
Tapi Marto tak sepenuhnya menyalahkan majikannya yang hidung belang, tidak ada lelaki yang tidak meneguk ludah kalau ditawari sesosok makhluk cantik seperti Lidya. Hanya dalam waktu singkat, Lidya sudah menjadi warga yang dikagumi dan terkenal, tentunya karena semua orang ingin dekat dengan wanita seseksi dan semolek dia. Kecantikannya membuat Lidya punya banyak kawan, Bapak – bapak ingin menikmati keindahan tubuhnya sedangkan ibu – ibu sangat menyukai sikapnya yang ramah dan manis. Pak Andi memang sangat beruntung, pikir Marto.
Pembantu berkulit gelap itu mengeluh, entah kenapa sejak tinggal di rumah ini dia belum pernah sekalipun memiliki pacar. Sejak putus dengan Narti yang pulang ke desa, Marto tak pernah dekat lagi dengan wanita. Dulu ia punya istri dan anak, tapi istrinya memilih untuk pergi tanpa pamit dengan seorang juragan bawang di kota lain. Sampai hari ini Marto tak pernah berjumpa lagi dengan istri dan anaknya.
Tiba – tiba, bel rumah berbunyi, Marto beranjak dari duduknya dengan satu desahan malas yang sangat panjang, hancur sudah lamunannya. Dengan dengusan kesal ia membuka pintu depan.
Betapa kagetnya Marto ketika ia tahu siapa tamu yang datang. Matanya terbelalak dan lidahnya kelu, dia tidak tahu harus berkata apa. Ini di luar dugaan dan ada di batas impian.
“Selamat malam, Pak.”
“Se – selamat malam, Bu Lid… eh… ma… maksud saya, Bu…. Bu Andi…”
Memang benar, Marto sama sekali tak mengira Lidya akan datang berkunjung malam itu, inikah yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba? Belum lama Marto membayangkan kemolekan tubuh sang tetangga, eh… dianya datang! Benar – benar panjang umur! Sampai terbata – bata dia menyambut kedatangan si makhluk seksi satu ini. Mimpi apa dia semalam?
Tapi senyum lebar Marto berubah lemas ketika tahu ternyata Lidya tidak datang sendiri. Dia datang dengan seorang laki – laki tua yang senyumnya aneh. Kalau tidak salah, orang ini adalah Pak Hasan… ayah Pak Andi, mertua Lidya!
“Kami tidak menganggu, kan?” tanya Lidya lembut.
“Ti… tidak! Tidak kok! Tapi rumah baru kosong ini, Bu! Pak Toni sama keluarga kebetulan baru pergi keluar kota.” Jawab Marto kikuk. “Mungkin seminggu lagi baru pulang. Ada acara nikahan.”
“Oh, tidak apa – apa.” Kata Pak Hasan, “yang kami cari bukan Pak Toni sekeluarga, kami mencari anda.”
Marto tambah kebingungan, jangan – jangan ia sudah melakukan hal yang menyinggung keluarga Pak Andi ini. Orang kecil seperti Marto memang selalu khawatir jika menyinggung ‘kaum majikan’, karena nasib mereka tentunya ada di tangan kaum majikan. Tubuhnya jadi merinding karena ia takut sekali seandainya berbuat salah di luar kemauannya. “Saya? Memangnya ada perlu apa ya, Pak? Perasaan saya tidak berbuat salah kan, Pak?”
“Ha ha ha, tidak kok, Pak Marto. Anda tidak melakukan kesalahan apa – apa. Kami hanya ingin berbincang – bincang sejenak. Kami tahu Pak Toni sekeluarga baru pergi, jadi kami sengaja datang malam ini karena kebetulan hari ini saya menginap di rumah anak saya, si Andi kan baru pergi keluar kota.” Jawab Pak Hasan sambil tertawa terbahak – bahak. Ia suka sekali melihat orang seperti Pak Marto ini kebingungan.
“Boleh kami masuk dulu?” tanya Lidya dengan lembut.
Suaranya bagai biduan surga menyenandungkan lagu yang indah, enak sekali didengar. Suara yang menyejukkan.
“Bo… boleh… si… silahkan…”
Lidya dan Pak Hasan masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa di ruang tamu setelah dipersilahkan oleh Marto.
“Jadi, kira – kira apa yang mau dibicarakan ya, Pak?” tanya Marto dengan cemas. Dia tidak mau dipecat gara – gara kesalahan kecil yang ia sendiri tidak tahu apa yang telah ia perbuat… eh tunggu dulu… jangan – jangan ini gara – gara beberapa minggu yang lalu ia melihat Lidya menjemur pakaian hanya dengan mengenakan kemeja kedodoran yang membungkus tubuh seksinya. Jangan – jangan ia ketahuan mengintip???
Jantung Marto berdetak dan nafasnya naik turun ketakutan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Keringatnya menetes deras dan membasahi wajah yang pucat pasi.
“Kalau tidak salah beberapa minggu yang lalu… Pak Marto mengamati menantu saya ini sedang menjemur pakaian?” tanya Pak Hasan pelan.
Mati dia! Jantung Marto makin keras berdetak bersamaan dengan bertambah derasnya keringat yang mengaliri jidatnya. “Su… sungguh, Pak! Saya tidak sengaja! Saya benar – benar menyesal melihat ke atas saat itu! Saya benar – benar tidak sengaja! Saya minta maaf… Pak… Bu…. saya minta maaf… saya…”
“Menurut Pak Marto, menantu saya ini cantik tidak?”
Kaget juga Marto mendengar pertanyaan lanjutan dari sang pria tua gemuk yang senyumnya aneh ini. “Ca… cantik.”
“Seberapa cantik?”
“Se… seperti bidadari…” gagap Marto mencoba mengeluarkan kata. Walaupun akan terdengar aneh, namun Marto berucap jujur.
Wajah Lidya bersemu merah mendengar pujian dari pembantu sebelah rumahnya. Ia tersipu – sipu, menambah manis wajahnya yang menggemaskan.
“Kalau tubuhnya? Seksi tidak?”
Marto benar – benar tercengang, kok pertanyaannya aneh – aneh begini? “Se…seksi, Pak.”
“Seberapa seksi?”
“Sa… saya takut menjawab pertanyaan ini, Pak… saya takut kalau – kalau saya jadi kurang ajar. Sungguh, Pak. Saya mohon ampun kalau kemarin saya berbuat salah… bukan maksud saya untuk…..”
“Seberapa seksi menantu saya ini, Pak Marto?”
Marto gelagapan, ia benar – benar takut menjawab pertanyaan yang diajukan itu. Ia bagaikan seorang tahanan perang yang sedang dimintai keterangan oleh pihak lawan, salah menjawab, kepalanya akan dipenggal. Keringat pembantu rumah tangga yang sederhana itu menetes deras, pakaian yang ia kenakan basah kuyup oleh keringat. “Bu – bu Andi… se… seperti bintang film… tubuhnya sek… seksi sekali…”
Mendengar jawaban itu Pak Hasan tertawa terbahak – bahak dan bertepuk tangan sementara wajah Lidya yang manis kembali memerah.
“Luar biasa. Luar biasa.” Kata Pak Hasan, “karena Pak Marto telah menjawab pertanyaan kami dengan jujur, maka menantu saya ini akan memenuhi satu keinginan Pak Marto sebagai hadiahnya. Apapun keinginan itu! …termasuk jika Pak Marto ingin menyentuh… atau memeras, atau mencium bagian dari tubuh menantu saya…” kata Pak Hasan sambil mengedipkan mata.
Samber geledek!! Marto sampai melompat dari duduknya.
Sumarto adalah pria desa yang sederhana, apa yang baru saja dikatakan Pak Hasan membuatnya kaget setengah mati. Ia mengira apa yang pernah dilakukannya akan menyebabkannya dihukum, ia tidak menyangka Pak Hasan dan Bu Lidya justru memberikannya hadiah. Yang lebih mengagetkan adalah hadiah yang diberikan oleh mereka adalah… pelayanan dari Bu Lidya!!!
“A… apapun?”
“Apapun.” Tegas Pak Hasan.
“I… ini main – main kan?”
“Tidak.”
“Tidak bohong?”
“Tidak.”
Marto meneguk ludah. “Ka… Kalau begitu saya ingin… saya ingin…”
“Apapun. Kecuali yang ‘itu’.” Pak Hasan terkekeh, ia tahu dengan pasti apa yang diinginkan Marto bahkan sebelum ia mengucapkannya. Pembantu rumah sebelah itu tersipu – sipu malu karena ketahuan.
“Yang ‘itu’ tidak boleh, ya?”
“Sayangnya tidak boleh. Mau diapakan saja boleh, asal jangan ada ‘sesuatu masuk ke ‘sesuatu’.” Kata Pak Hasan. “Baiklah, apa keinginan Pak Marto?”
Marto mencoba mengamati Lidya dari jempol kaki hingga ke ujung rambut. Seorang bidadari yang sempurna. Apa yang akan kamu minta seandainya kamu bisa meminta seorang bidadari untuk mewujudkan impian terliarmu?
“Boleh apa saja?” Marto mengulang pertanyaannya.
“Apa saja.” Pak Hasan mengulang jawabannya.
“Ka… kalau begitu, sa… saya ingin Bu Andi menari di pangkuan saya…” Marto meneguk ludah dengan nafsu. “…tanpa mengenakan celana dalam.”
Mendengar permintaan itu, Lidya sedikit panik, si cantik itu tahu ia tidak bisa menolak permintaan Marto. Pak Hasan akan marah dan hal – hal yang buruk bisa terjadi. Satu – satunya harapan bagi si cantik itu adalah dengan menuruti kemauan pembantu sebelah rumah yang sederhana ini, lagipula Lidya sudah sangat sering menari di pangkuan mertuanya yang cabul.
Kebetulan Lidya mengenakan rok model mini flare yang hanya menutup hingga di atas lutut. Dia bisa dengan mudah melepas celana dalamnya karena bagian bawah rok berbentuk mekar. Dengan hati – hati sekali Lidya mengangkat bagian bawah roknya, mengait karet di pinggir celana dalam dan menarik turun satu – satunya pelindung kemaluannya itu. Lidya melakukan ini dengan pelan – pelan sekali.
Justru karena Lidya melakukannya dengan perlahan, apa yang dilakukan si cantik itu ibarat pertunjukan striptease, langsung di depan mata Marto! Pembantu sebelah rumah itu langsung meneguk ludah dan belingsatan melihat aksi Lidya. Ia bisa melihat dengan jelas paha mulus istri Pak Andi, benar – benar tiada duanya! Ini benar – benar pucuk dicinta ulam tiba! Dengan mata kepala sendiri Marto bisa menikmati celana dalam Lidya menelusuri kakinya yang jenjang dan seputih pualam lalu lepas di ujung kaki tanpa halangan.
“Berikan padanya…” bisik Pak Hasan pada Lidya yang tadinya hendak meletakkan celana dalam di lantai.
Dengan langkah yang bagi Marto luar biasa seksi, Lidya maju perlahan sambil membawa celana dalam mungil berwarna merah muda yang baru saja dilepas dari dekapan kemaluannya yang harum. Ia memberikannya kepada Marto yang menerimanya dengan tangan bergetar. Lidya membungkukkan badan sedikit agar ia bisa mencapai telinga Marto.
“Simpan baik – baik.” Bisik Lidya dengan suara bergetar. Siapa bilang ia juga tidak takut?
Marto menerimanya dan memasukkannya ke dalam kantong celana. Ia meneguk ludah.
Berada di dekat Lidya sudah membuat Marto belingsatan. Ia tak mampu mengendalikan nafsunya lagi, kemaluannya menegak dengan cepat. Pembantu rumah tangga itu bisa melihat kerling mata Lidya menyapu selangkangannya dan melirik ke arah tonjolan yang muncul di sana. Entah ia harus malu… atau malah…
Marto hanya duduk saja, terdiam tak tahu harus berbuat apa. Tiba – tiba saja hari menjadi semakin gelap baginya. Lidya duduk di sampingnya, bahkan gerakan si jelita duduk pun membuat Marto jadi semakin tidak karuan. Lidya menautkan satu kaki ke paha Marto dan mulai mengambil posisi untuk duduk di pangkuannya. Melihat keringat Marto makin deras, Lidya mulai kasihan, namun tatapan mata tajam Pak Hasan memerintahkannya untuk menggoda. Ia mengangkat perlahan roknya untuk memperlihatkan kakinya yang panjang dan seksi dan sedikit mempertontonkan bulat pantatnya yang ranum.
Perlahan – lahan Lidya naik ke pangkuan Marto.
Marto meneguk ludah, tangannya tak berani digerakkan, terkungkung walau tak terikat. Matanya menatap tak lepas belahan indah di selangkangan perempuan cantik yang kini duduk di pangkuannya. Lidya meletakkan kakinya ke lantai dan tangannya di lutut Marto, si cantik itu duduk membelakanginya. Bidadari jelita itu bisa merasakan gesekan antara belahan pantatnya dengan gundukan pada selangkangan Marto. Gundukan yang cukup keras, Lidya mulai membayangkan seberapa besar sebenarnya barang milik Marto karena gundukan itu terus saja membesar.
Lidya memejamkan mata setelah melirik Pak Hasan, senyum kejam yang tersungging di bibir sang mertua jelas merupakan perintah baginya untuk memuaskan sang pembantu rumah sebelah. Si cantik itu mulai menggerakkan pantatnya yang seksi dan menggesek gundukan kemaluan Marto, mencoba meletakkan gundukan itu di tengah belahan pantatnya, mempertemukan celana Marto dengan selangkangannya yang kini sudah telanjang.
Tubuh Marto bergetar, ia bisa merasakan bibir kemaluan Lidya menggesek celananya. Bibir kemaluan yang sepertinya sudah basah. Marto sudah tak mampu lagi bertahan… jika ini terus berlanjut… dia bisa… dia bisa keluar…
Melihat Marto sudah mulai tak tahan lagi, Lidya mengubah posisi. Dia berbalik ke belakang, berhadapan langsung dengan Marto. Tubuh mereka begitu dekat, hembusan nafas Lidya bisa dirasakan hangat menyentuh wajah Marto. Si cantik itu melepas kaos ketat yang membelit bagian atas tubuhnya, menyembulkan buah dada sentosa yang membusung di dalam bra. Mata Marto hampir copot melihat keindahan tubuh wanita jelita yang kini duduk di pangkuannya.
“Lepas behamu, Nduk.” Kata Pak Hasan, pria tua itu memilih menonton Lidya dan Marto di belakang. “Biar Pak Marto bisa melihat susumu…”
Malu sekali rasanya Lidya mendengar mertuanya mengatakan hal itu kepada orang yang tidak pantas melihat tubuhnya telanjang. Dengan jantung berdebar Lidya melepas kait belakang penyangga payudaranya.
Bagaimana dengan Marto? Tubuh pria sederhana itu bergetar hebat ketika ia secara langsung bisa menikmati buah dada wanita cantik yang menjadi pujaan semua orang ini. Balon payudara Lidya memiliki ukuran yang pas, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Putingnya yang berwarna merah jambu gelap menjorok keluar seperti menunjuk ke arah dada Marto.
Marto tak kuat lagi, matanya terpejam dan iapun terpekik tertahan. Oh tidak! Tidak! Jangan! Jangaaaaan!!! Aaaahhh!!! Siaaaaal!!! Ia telah mencapai puncak!!! Dengan segenap kekuatan, Marto menembakkan air cintanya, sayang… masih di dalam celana. Habis bagaimana lagi? Dia sudah tidak kuat.
Ketika selesai, tubuh si pembantu itu melemas. Lidya bisa merasakan denyutan penis Marto yang menggesek selangkangannya. Penis yang tadinya kencang kini melemas selepas mengeluarkan cairan yang membasahi celananya sendiri. Lidya ikut kebingungan dan berulang kali menengok ke arah Pak Hasan.
Pak Hasan malah tertawa tergelak. Lidya masih duduk di pangkuan Marto dan payudaranya kini memantul – mantul di depan wajah pembantu sebelah rumah yang ketakutan setengah mati. Pria sederhana itu tak akan pernah mengira hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Pak Hasan baru saja menjadikan impian Marto menjadi kenyataan. Sayang Marto sudah… lemas.
Pria tua itu tersadar ketika Lidya memandangnya dengan pandangan takut. Pak Hasan tergelak lagi, ia mengatupkan jemari, membuat semacam lingkaran dengan menekuk ibu jari dan menemukan ujungnya dengan ujung telunjuk dan jari tengah. Pak Hasan menggerakkan tangannya itu naik turun. Lidya mengangguk mengerti.
Jemari Lidya meraba selangkangan Marto dengan gerakan pelan, tubuh si pembantu yang sudah lemas bergetar kembali. Untungnya penis pembantu itu belum sepenuhnya lemas, dengan rangsangan wanita semolek Lidya, gairah Marto pasti kembali naik.
Melalui gerakan pelan yang sepertinya sudah sangat terlatih, Lidya menurunkan celana Marto. Si cantik itu terpekik pelan melihat penis hitam besar menyentak keluar seperti seekor tikus meluncur lepas dari jebakan. Dengan jemari yang sama bergetarnya, Lidya meraih penis itu dan menggenggamnya. Marto merem melek merasakan barang berharganya digenggam oleh tangan halus seorang bidadari, ia tambah tak tahan ketika Lidya menaikturunkan tangannya untuk mengocok penis Marto.
Marto membalas dengan meremas buah dada Lidya, mencubit pentilnya yang menjulang dengan gemas dan menelusuri lekuk tubuh Lidya sebelum akhirnya meremas pantatnya yang bulat. Tidak berhenti di situ saja, tangan Marto makin berani dengan menyentuh paha Lidya dan mengelusnya. Telapak tangan yang kasar milik Marto meraba paha putih mulus Lidya, membuat si cantik itu bergetar menahan rasa. Walaupun tidak boleh memasukkan penisnya ke dalam memek Lidya, tapi bola yang ada di kantung kemaluan Marto sudah sejak tadi terantuk – antuk bibir liang cinta Lidya. Lidya yang keenakan menggesekkan kantung kemaluan Marto ke bibir memeknya seiring tangannya mengocok penis yang kembali mengeras.
Marto berbisik kepada Lidya, menyatakan betapa ia ingin memasukkan penis ke dalam memeknya, namun si cantik itu tersenyum dan menggeleng. Marto tahu ia tidak mungkin bisa menyetubuhi Lidya, tapi tak ada salahnya meminta ijin dan bertanya kan? Lidya yang merasa kasihan tahu kalau Marto sudah sangat terangsang, ia mengulum ujung telinga Marto dan meneruskan kocokannya agar lelaki sederhana itu bisa segera mengeluarkan cairan cintanya. Ia membiarkan Marto menjilati leher dan buah dadanya.
“Ouuughhhhh…. ssstttt….” desah Lidya manja ketika lidah Marto bergulat dengan puting susunya.
Mendengar desahan Lidya, Marto tak tahan lagi, ia berteriak kencang ketika kembali sampai di puncak kenikmatan… “Hraaaaghhhhh!!!!”
Cairan kental berwarna putih gading terlontar berulang dari kepala kemaluan Marto. Muncrat dari ujung gundulnya dan membasahi jemari lentik Lidya yang saat ini tersenyum, akhirnya selesai juga, ia bisa pulang dan…
“Bersihkan dong, Nduk.” Perintah Pak Hasan, “kasihan Pak Marto kalau barang – barangnya kotor.”
Lidya mengutuk mertuanya yang tidak punya perasaan. Dengan memejamkan mata Lidya pertama – tama membersihkan jemarinya dulu, ia jilat seluruh cairan cinta yang menempel di sana dan ditelannya dalam – dalam. Dengan hati – hati pula Lidya menjilati batang kemaluan Marto dan menelan seluruh pejuh yang tadi sempat keluar. Kasihan sekali pembantu itu sekarang, merem melek keenakan.
Pak Hasan terkekeh melihat menantunya menjilati penis milik pembantu tetangga dan menelan cairan cinta yang keluar dengan segenap perasaannya. Ini akan jadi pertunjukan yang lama dan menarik.
Pak Hasan membuka tutup botol air mineral yang sudah ia siapkan dan meminumnya. Pertunjukan yang lama dan menarik, ulang batinnya. Pak Hasan bertepuk tangan ketika Marto menggenggam pinggiran kursi tempatnya duduk dan mengejang akibat menahan rangsangan hebat yang ditimbulkan oleh sepongan Lidya.
Benar sekali. Rasanya malam ini akan jadi malam panjang.
Pak Hasan tertawa.
Ini pasti akan menyenangkan!
“Ayo, Nduk! Bikin punya Pak Marto berdiri lagi!”
Benar – benar malam yang panjang.
Beruntung sekali Pak Hasan punya menantu satu ini.
Menantu, yang namanya Lidya.
Bersambung…
ANISSA TERANIAYA (1)
Anissa melamun. Si manis itu tenggelam dalam lembah pikirannya yang curam, kadang menukik kadang mendaki, tak tentu arah. Tatap bulat matanya yang indah kosong tanpa arah. Ia seperti menatap ke depan namun lamunannya melayang jauh. Bibirnya berulang kali mengucapkan gumaman tanpa arti dan tangannya sering bergetar tak berhenti. Gadis manis itu gugup dan gelisah tanpa alasan. Sikapnya ini jelas tak biasa karena dulu Anissa adalah seorang gadis yang ceria, sikapnya kali ini berbeda 180 derajat dengan sikapnya yang dulu.
“Nis? Anis? Kamu kenapa?”
Suara panggilan lembut seorang gadis membangunkan Anissa dari lamunan yang memenuhi pikiran. Si cantik itu tak sadar kalau sebenarnya ia telah dipanggil lebih dari empat kali sebelum akhirnya sadar dan menjawab.
“I…. iya…” gugup Anis menjawab. Ia menyeka pelupuk matanya yang seperti berair.
“Kamu kenapa, say?” tanya Ussy, gadis yang saat itu duduk berdua dengan Anissa. Aprilia Ussy Indriani adalah seorang sahabat yang sudah paham luar dalam Anis, oleh sebab itu sikap Anissa yang berbeda dari biasanya membuatnya khawatir.
“A… aku nggak apa – apa.” Secara reflek Anissa membenahi rok dan rambutnya yang sebenarnya masih rapi, Ia mencoba tersenyum pada Ussy. Anis tidak sadar lamunannya baru saja melayang begitu jauh tanpa bisa ia kendalikan sampai – sampai ia tidak mendengar Ussy mengajaknya berbincang. Banyak yang ia pendam, banyak yang ia simpan, namun walaupun Ussy adalah sahabat sejatinya, tentu saja ia tak bisa menceritakan segala sesuatunya begitu saja, terlebih lagi… masalah itu… rahasia itu… pria tua bajingan yang telah merenggut kebahagiaannya itu…
Ussy mengernyit ragu, “…yakin? Aku di sini, say. Kamu bisa cerita apa saja. Sejak dulu kita selalu berbagi susah dan senang. Kamu percaya kan sama aku?”
“Beneran, aku nggak apa – apa.” Anissa tersenyum manis, senyuman yang telah merontokkan hati banyak pria di kampus yang hanya bisa menikmati dari jauh. Siapapun tahu Anissa telah menyerahkan hatinya pada Dodit sehingga sebagian besar dari mereka sudah mundur teratur. Mereka yang mundur biasanya mengalihkan sasaran dengan mengejar Ussy, sahabat Anis. Ussy sendiri memang tidak kalah cantik dari Anis, bahkan ia lebih tinggi dan beberapa kali menjadi model iklan walaupun skalanya lokal. Namun hingga saat ini, Ussy lebih memilih untuk sendiri, ia belum ingin berpacaran dengan siapapun. Dibandingkan Anis yang introvert, Ussy lebih terbuka dan banyak bicara, namun demikian ia tidak ingin memilih tambatan hati sampai nanti selesai kuliah.
Saat itu Anis dan Ussy sedang duduk di kursi taman yang ada di samping kantin kampus X yang asri. Keduanya tengah menikmati milkshake yang baru saja mereka beli. Ussy tentu saja sadar kalau sahabatnya tidak menaruh perhatian pada minuman yang terhidang di hadapan mereka. Sejak pulang dari berlibur ke rumah kakaknya beberapa bulan yang lalu, ada yang berbeda dengan Anis. Ia jadi pendiam dan terlihat selalu gelisah. Apa yang telah terjadi pada sahabatnya ini?
“Say… aku ini sahabatmu. Kita kenal sejak SMP. Aku tahu kamu luar dalam, dari A sampai Z, dari ujung rambut ke ujung jempol kaki. Aku tahu dimana letak semua tahi lalatmu, aku tahu dimana kamu menyimpan foto idolamu, aku tahu berapa uang yang ada di dompetmu. Singkatnya, aku tahu kalau ada yang salah sama kamu.” Ussy menepuk lutut Anis. “Berjanjilah padaku kalau ada apa – apa kamu bakal cerita sama aku?”
Anissa tersenyum, “janji.”
“Halo gadis – gadis cantik… apa kabar kalian hari ini?” satu suara serak tiba – tiba datang menghampiri. Ussy dan Anissa mengerlingkan mata dengan sebal, mereka tahu pasti siapa pria pemilik suara yang lantang dan tidak enak didengar itu.
“Aku kira Non Anis yang cantik jelita bagai bidadari khayangan turun ke bumi sudah tidak lagi menginjakkan kakinya yang jenjang panjang indah dan menawan ke kampus? Sungguh bagaikan sebuah kejutan yang menyejukkan hati di hari yang gersang.” Pria yang baru datang itu langsung duduk di samping Anis sambil mengucapkan kata – kata yang ia pikir sangat romantis dan puitis padahal amat gombal. Ussy dan Anis malah berpegangan tangan erat dan berusaha sekuat tenaga menahan tawa. “Bagaimana kabar kalian, wahai kaum wanita jelita idaman semua pria? Aku begitu rindu pada kehadiran kalian berdua di kampus, kehadiran kalian ibarat tetesan air hujan yang bening yang turun menyegarkan hari.”
Tubuh Ussy gemetaran menahan tawa dan matanya berkaca – kaca. Melihat temannya sudah tak mampu lagi menahan cekikikan, Anissa dengan sangat terpaksa meladeni kicauan tak enak agar pemuda bersuara parau tidak marah karena mereka tertawakan. “Kabar kami baik. Kabarmu bagaimana, Din?”
Udin meringis lebar mendengar Anissa membalas sapaannya. Ia tak mempedulikan wajah Ussy yang sudah merah menahan tawa.
“Kamu semester ini selesai kan, Nis?” tanya Udin lagi.
“Iya, seharusnya sudah selesai. Tinggal menyusun skripsi dan ambil satu mata kuliah buat perbaikan nilai.” Jawab Anis sambil menganggukkan kepala, ketika ia melirik ke sebelah rupanya Ussy lebih memilih tenggelam menyusuri dunia maya melalui telepon genggam daripada melayani obrolan Udin. Dasar curang, batin Anissa sambil tertawa dalam hati ketika melihat kedipan mata Ussy.
“Tidak kusangka nona sepintar Anissa ini juga harus mengulang kuliah?” Udin mulai gombal lagi, “mata kuliah apa yang kau ulang, wahai Anissa yang mempesona?”
“Aku ambil ulang kuliah manajemennya Pak Doni, dulu di semester – semester awal aku banyak bolosnya.”
“Pak Doni yang mana? Di kampus ini kan ada dua Pak Doninya. Pak Doni yang orangnya kurus rambutnya beruban atau Pak Doni yang gemuk item?”
“Pak Doni yang gemuk dong, memang Pak Doni yang kurus mengajar mata kuliah X? Nggak kan?” senyum Anis. Wajahnya yang manis membuat Udin makin berdebar, seandainya saja si molek ini belum memiliki tunangan, hanya seandainya saja, betapa bahagianya dia…
Sesosok tubuh gemuk milik Pak Doni yang baru saja mereka bicarakan terlihat meninggalkan mobil dari tempat parkir dan melangkah menuju kelas. Anis yang melihat kedatangan Pak Doni segera mengemas bawaannya. “Eh, aku duluan ya, itu Pak Doni udah datang.” Ucap Anis yang langsung disambut guratan wajah kecewa Udin.
“Ok, say.” Angguk Ussy, “Ingat yang tadi ya, kalau ada apa – apa cerita sama aku.”
Anis terdiam, seperti hendak menjawabnya dengan sebuah kalimat yang panjang, tapi dia kemudian hanya menunduk dan mengangguk tanpa mengeluarkan kata – kata tambahan. Sedetik kemudian ia berlalu pergi menuju kelas. Ussy hanya bisa memandang sahabatnya yang melangkah meninggalkan mereka tanpa berucap, ia bersumpah bisa melihat setitik air mata di ujung pelupuk mata Anissa. Ayolah Anis, apa yang telah terjadi? Kenapa kamu jadi seperti ini?
“Cerita apa memangnya?” Udin bertanya sambil menggaruk – garuk kepala. “aku juga mau dong diceritain.”
Ussy menggerutu, uh. Kok jadi dia berduaan sama Udin begini? “Kapan – kapan ya, din. Eh, aku cabut dulu ya. Mau ketemuan sama dosen juga.”
“Dosen siapa?”
“Siapa aja yang mau ditemuin.” Cibir Ussy.
Udin kembali menggaruk kepala.
###
Lidah Anissa terasa kelu saat Pak Doni duduk di meja kerja dan memeriksa pekerjaan yang dikumpulkannya. Sebagai dosen yang dianggap sudah senior, Pak Doni memiliki ruangannya sendiri di kampus, dia sering duduk berjam – jam di tempat ini dan memberikan bimbingan pada para mahasiswanya mengenai skripsi atau keperluan lain. Ruangan Pak Doni terletak di lantai empat gedung perkuliahan kampus X, sore ini hanya dialah satu – satunya dosen yang masih memberikan bimbingan untuk mahasiswanya dan dari antrian bimbingan, Anissa adalah yang terakhir.
Ketika langit mulai gelap, barulah Anis bisa masuk.
“Silahkan duduk.”
“Terima kasih, Pak.”
Dengan sopan Anissa duduk di kursi yang terletak tepat di depan meja kerja Pak Doni. Keringatnya menetes deras, tubuhnya bergetar dan ia tidak nyaman duduk di kursi. Pikirannya melayang sementara pandangan matanya mulai kabur. Anissa berusaha keras untuk bisa fokus.
“Saya sebenarnya heran kenapa kamu mau mengulang di kelas saya. Nilai kamu lebih dari cukup untuk mendapatkan IPK yang di atas rata – rata. Bahkan cukup tinggi dibandingkan kawan – kawanmu. Tanpa nilai dari sayapun, kamu sudah bisa lulus dengan memuaskan seandainya ujian skripsimu sukses.” Pak Doni tersenyum puas melihat hasil kerja Anissa, “ini bisa dibuktikan dari revisi laporan kerja praktek yang baru saja kamu kumpulkan, walaupun bukan hasil yang terbaik, ini sudah lebih dari cukup.”
“Mungkin saya termasuk tipe perfeksionis, Pak. Saya ingin yang terbaik.”
“Begitu ya….”
“Karena Pak Doni juga dosen pembimbing PKL saya, maka saya pikir lebih baik saya mengulang mata kuliah terakhir ini di kelas Pak Doni. Lagipula, kalau saya mengulang di kelas Pak Untung, saya takut tidak bisa mendapatkan nilai yang saya inginkan. Pak Untung membenci saya, Pak.” Keluh Anissa sembari menundukkan kepala.
Anissa memang tidak bohong, dulu gadis itu pernah secara tidak sengaja bertemu dosennya yang bernama Untung itu sedang bermesraan dengan seorang wanita muda yang bukan istrinya di salah satu pusat perbelanjaan. Sejak saat itu Pak Untung membencinya, kebencian Pak Untung terhadap Anissa juga sudah diketahui dosen sejawat termasuk Pak Doni sehingga sudah jadi rahasia umum. Anissa melanjutkan keluhannya, “beliau pernah bilang kalau saya ini mahasiswi yang sok tahu dan senang berdandan menor. Beliau juga bilang… kalau saya norak dan…”
“Aku tidak bisa mengerti kenapa dia mengatakan itu, dandanan kamu natural. Kamu sangat cantik dan mempesona, seksi dan…” kata yang keluar dari mulut dosen setengah baya itu bagaikan terbang menyesaki isi ruangan, membuat kedua insan yang berada di dalamnya terhenyak kaget saat menyadari apa yang baru saja terucap.
Mata Pak Doni terbelalak lebar menyadari kesalahucapannya, dia berusaha memperbaikinya dengan gugup, “ma… maksud saya, kamu menarik dan pintar dan…”
“Menurut saya bapak juga… gagah dan tampan.”
Kata manis yang keluar dari mulut Anis itu bagaikan petir yang segera menyambar sang dosen, wajah Anissa pun menjadi merah ketika ia sadar kata – katanya membuat Pak Doni salah tingkah, kalau dibilang gagah tubuh besar Pak Doni memang masih cukup gagah, namun kalau tampan? Sepertinya itu jauh dari khayalan. Polah tingkah Pak Doni mendadak menjadi aneh, dia bangkit dari kursinya, melangkah dengan ragu menuju ke arah pintu, wajahnya menunduk seperti memikirkan sesuatu dengan sangat serius.
Dosen setengah baya itu membuka mulut tanpa mengeluarkan suara, melihat ke bawah, menyunggingkan senyum malu dan memastikan pintu benar – benar sudah tertutup, gerakannya seperti ragu – ragu dan penuh dilema. Ia bersandar di pintu dan memasukkan tangannya ke kantong celana. Ia menatap Anissa lekat – lekat.
“Anissa, apa kamu tidak sadar? Kata – katamu yang manis tadi membuat dosen tua seperti aku ini merasa muda kembali. Jangan buat aku canggung.” Senyum mengembang di bibir Pak Doni. “Jangan kau ulangi lagi, ya…”
Anissa menggeleng, keringatnya terus mengalir, ia berusaha keras untuk tidak menunjukkan perasaan ini, mencoba bertahan dari gejolak yang terus menggerogoti dan merangsek menghancurkan ketabahannya… tapi… perasaan ini muncul tanpa bisa ia kendalikan, begitu berdentum, mengeras dan makin mendaki, Anis tak tahan lagi… dia ingin memeluk Pak Doni, menciumnya, membiarkan tangan dosen tua itu menyentuh paha dan dadanya, membiarkan pria setengah baya itu memeluk dan menyetubuhinya… membuatnya merasa… astaga!! Apa yang dia pikirkan?!! Anissa! Apa kamu sudah gila?!!
Gejolak batin Anissa berperang dalam diri gadis muda itu.
Dia dosennya, dia dosennya, dia dosennya… berulang – ulang kali kata – kata itu berusaha ditusukkan ke dalam sanubari Anissa. Tapi… perasaan dalam hatinya ini tidak bisa ia tipu… ia menginginkannya, Anis menginginkan Pak Doni. Ia ingin bercinta dengan Pak Doni…! Saat ini juga!
Si cantik itu terkejut sendiri dengan perasaannya yang tiba – tiba saja menjadi liar. Sedari tadi ia sudah berusaha menahan, namun sepertinya ia tidak tahan lagi… perasaan ini membuatnya ingin mati saja… Anissa mengutuk orang yang telah dengan kejam membuat ia jadi haus seks seperti ini…
Tiba – tiba Anissa menyadari sesuatu.
Celaka! Hanya berdekatan begini saja sudah membuat selangkangan si cantik itu mulai basah! Gadis itupun menggigit bibir bawahnya. Bagaimana menghentikan perasaan ini? Bagaimana meredamnya? Bagaimana membuat dirinya sendiri sadar? Ia benci sekali perasaan yang muncul ini! Benci!
“Anissa…?” panggil Pak Doni heran, suaranya terdengar parau karena ia berulangkali meneguk ludah berusaha menghadang pesona Anissa yang luar biasa menggoda. Batin Pak Doni berperang… ini gawat sekali, kenapa ia tidak bisa mengalihkan pandangan matanya sekejap saja? Mengapa ia tak bisa melepaskan mata dari pesona Anissa? “…ke… kenapa kamu? A..Apa kamu sakit? Ada yang bisa aku… bantu…?”
“Ma… maaf, Pak. Saya tidak bermaksud menyinggung Bapak… maksud sa… saya…”
“Apa yang kamu katakan tadi sama sekali tidak menyinggung aku sedikitpun.” Kata Pak Doni lembut, ia berusaha bijak… namun mata dosen tua itu langsung terbelalak kaget ketika melihat tangan Anis mulai menyingkap rok yang ia kenakan sedikit demi sedikit untuk memperlihatkan paha putih mulus bagai pualam. Pak Doni sampai mundur karena takut dan kaget.
“Anissa…? Apa yang kamu lakukan?” Pak Doni menjadi sangat kebingungan oleh ulah mahasiswinya yang sangat seksi ini. Apa yang harus dia lakukan? Kenapa Anissa malah mulai menggodanya? “Apa yang ingin kamu…” suaranya tercekat karena ia tak mampu menahan panasnya nafsu birahi menggelegak memakan jiwanya.
“Tidak ada…” Dengan sengaja Anis mengangkat roknya hingga terlihat semakin pendek. Gerakannya begitu jelas terlihat sehingga Pak Doni bisa menduga hal itu disengaja, celana dalam hitam yang kontras dengan kulit putih mulus sang dara menjadi terlihat jelas oleh Pak Doni. Mata dosen setengah baya itu kian terbelalak dengan lebar. Suara mendesah Anissa kian parau, “…Bapak tidak suka?”
Pak Doni berhenti sejenak, kepalanya berputar keras memikirkan sesuatu. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus diperbuat? Kenapa ini terjadi? Dosen setengah baya itu mulai berpikir mempertimbangkan logika. Ia mencoba menekan nafsunya sekuat tenaga.
Tapi… tapi sebenarnya ada yang aneh… ini baru pertamakalinya dia menyaksikan Anissa bertingkah laku aneh seperti ini, apakah mungkin…
“Kamu sengaja mengambil ulang mata kuliah yang aku ajarkan… untuk menarik perhatianku… agar bisa merayuku?” tanya Pak Doni yang terheran – heran, ia memandang ke arah Anis dengan pandangan tajam yang tak bisa dielakkan oleh gadis itu. Tidak mungkin wanita secantik Anissa yang bisa dengan mudah mendapatkan pria manapun yang ia mau mencoba merayu dosen tua seperti dirinya, pasti ada udang di balik batu. Anis menggeleng kepala, mencoba fokus pada apa yang ia kerjakan, mencoba menghindar sebisa mungkin dari nasib buruk yang akan segera menimpa mereka berdua, tapi itu sangat tidak mungkin. Ada pertentangan di batin Anissa, antara apa yang dia inginkan berbeda dengan apa dibutuhkan tubuhnya. Anis tahu ia tidak bisa menghindar. Seorang dosen dan mahasiswi… berdua saja… ini akan jadi skandal di kampus, reputasi keduanya jadi taruhan… tapi… ia benar – benar tidak tahan lagi… ia ingin segera… melakukannya…
Anis menghunjukkan dadanya ke depan, berharap sang dosen juga melihat keindahan payudaranya. “Apa yang saya lakukan salah, Pak?” tanya Anis dengan suara yang dibuat – buat. Dia bukan perayu ulung, tapi… ada sesuatu yang mempengaruhi alam bawah sadarnya yang membuat Anis ingin mengucapkan kata – kata itu dengan mesra. Ketika melihat ke selangkangan Pak Doni, Anis bisa melihat gundukan kubah yang membesar di bawah sana. Anissa menelan ludahnya. Pak Doni yang menyadari pandangan Anissa tertumbuk pada bagian bawah celananya yang membesar menjadi tersadar dan malu, secara reflek dosen tua itu menutupinya. Wajah Anissa menjadi memerah turut malu.
“Anissa, mengapa kau harus begitu mempesona?” suara itu tipis bagaikan kabut, lembut hampir tak terdengar. Kewibawaannya menghilang berganti dengan parau penuh nafsu. Dosen hebat itu, yang berwibawa dan dihormati, ternyata juga manusia biasa. Anissa menatap wajah sang dosen yang penuh kerut dan sedikit menyeruak penyesalan tak berdasar dalam batinnya, kenapa… kenapa harus Pak Doni?
Pak Doni mengunci pintu dan Anis pun bangkit, degup dadanya makin menghebat. Ia makin tegang menanti apa yang akan datang.
Anissa bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan, apakah Pak Doni akan melakukannya? Apakah dia… akan… menyetubuhinya di sini? Di ruang dosen ini? Ruangannya cukup tertutup dan saat ini mereka hanya sendirian di lantai 4 gedung ini sehingga mungkin saja Pak Doni akan… atau… atau jangan – jangan Pak Doni justru akan mengusirnya? Tidak mungkin, pintunya baru saja dikunci. Atau akan mempermalukannya karena telah merayu dosen sendiri? Masa sih? Pikiran si cantik itu mengalir deras tanpa bisa dibendung, dadanya berdentum karena detakan jantung yang menghebat. Anissa sadar sepenuhnya melihat gundukan di selangkangan Pak Doni makin membesar.
Tiba – tiba saja Pak Doni melangkah mendekati Anis, jemari tua itu bergetar saat menyentuhnya. Dengan gemetar Pak Doni menarik pundak Anis untuk mendekat hingga bibir mereka hanya beberapa centimeter saja jaraknya. Pak Doni menyentuhkan telunjuknya untuk menelusuri bibir merah Anissa dan sensasinya membuat si cantik itu merinding. Tiba – tiba saja Pak Doni mencengkeram pelan wajah Anis yang mungil dan mendorong bibirnya untuk bisa mencium lembut si cantik itu. Anissa mendesah pelan merasakan ciuman Pak Doni, ia menempelkan tubuhnya pada sang dosen, menarik dasi yang ia kenakan dan memintanya mencium lebih hangat lagi.
Anis memang sudah tidak peduli lagi apa yang akan ia lakukan. Ia bisa merasakan benda mengeras di selangkangan Pak Doni bertumbukan dengan pahanya. Mata keduanya terbuka dan Anissa mundur perlahan, tiba – tiba saja menyadari sesuatu dan merasa malu, tapi kini justru Pak Doni yang sudah bangkit nafsunya tidak bisa berhenti begitu saja, ia menginginkan Anissa!
Pak Doni yang sudah hilang akal kembali mencium bibir Anissa lagi, kali ini tidak lagi dengan kelembutan, ciumannya keras, menuntut, menginginkan. Lidah pria setengah baya itu maju menusuk bibir Anis, mencari pasangannya. Si cantik pun melenguh mesra ketika lidahnya juga ingin segera bertemu, saling merasakan manisnya bercinta. Tangan mungil Anissa tanpa sadar bergerak naik untuk melepas kancing baju pakaian yang dikenakan oleh sang dosen. Satu persatu kancing lepas dengan mudah, Anissa tak perlu waktu lama untuk meloloskan pakaian luar dan pakaian dalam yang dikenakan oleh Pak Doni. Kulit yang mulai berkerut tidak menjijikkan bagi Anis, ia merasakan gerakan otot yang bergerak di bawah kulit itu. Saat masih muda Pak Doni pasti gemar berolahraga karena dadanya masih menyisakan sedikit keperkasaan masa lalu. Jemari lembut yang menari di atas dada membuat Pak Doni gelagapan, ia memejamkan mata karena keenakan.
Anissa mencium bibir Pak Doni sekali lagi dan mata pria setengah baya itu mengejap terbuka ketika tangannya diangkat oleh Anis dan diletakkan didadanya yang montok. Anis memejamkan mata sekejap ketika merasakan pentil susunya mengeras di bawah behanya. Si cantik itu mendesah ketika Pak Doni mulai melucuti pakaiannya, sama seperti yang ia lakukan pada sang dosen. Pria setengah baya itu berdecak kagum, ia tengah menyaksikan tubuh terindah yang pernah ia saksikan seumur hidup. Setiap centimeter lekuk tubuh Anissa begitu sempurna. Pak Doni benar – benar terperangah menyaksikan keseksian mahasiswinya ini. Kalau boleh jujur dia pernah membayangkan seperti apa tubuh Anissa, tapi ini tidak seperti bayangannya. Ini jauh lebih menggiurkan!
Ketika kesabarannya mulai menipis, Pak Doni menyingkirkan baju Anis yang sudah ia copot untuk melepas kaitan beha di punggung si cantik. Sembari mencopot, Pak Doni menghembuskan nafasnya di belahan dadanya. Ini membuat Anis merinding, terlebih lagi ketika dosen itu juga mencium dan menjilati gunung kembarnya ketika behanya sudah terlepas. Tak tahan melihat buah dada yang begitu montok, Pak Doni mendekap erat Anis hingga dada mereka saling menempel, kulit yang bergesekan bagaikan baja yang diasah, menimbulkan percikan nafsu yang makin bergemuruh. Begitu indahnya perasaan itu sehingga tidak bisa dituliskan dengan kata – kata.
Pak Doni makin tak sabar, ia mengangkat tubuh Anis, mendudukkannya di tepi meja, lalu secara beruntun mengangkat rok yang dikenakan si cantik itu hingga sampai ke pinggang, paha mulus bidadari itu menggugah semangat Pak Doni, apalagi ketika pria setengah baya itu juga melihat celana dalam hitam mungil yang dikenakan. Wajah Anissa memerah karena malu, selain Pak Bejo yang dulu pernah memperkosanya, Pak Doni adalah pria kedua yang bisa mendapatkan akses ke selangkangannya. Padahal tunangannya sendiri, Dodit, malah belum pernah sekalipun menyentuhnya. Ketelanjangannya mulai menyergap relung batin Anis, aneh sekali rasanya ia tampil tanpa busana di hadapan seorang dosen yang biasa mengajarnya. Malu dan aneh.
Seperti menyadari wajah Anis yang terus saja semburat memerah, Pak Doni mendoyongkan badan ke depan dan berbisik tepat di samping telinga si cantik itu. “Aku menginginkanmu, cantik. Ijinkan aku memiliki tubuhmu…”
Tanpa perlawanan sedikitpun, Anis menutup mata dan mengangguk. Ia membayangkannya seperti sebuah mimpi, seperti bayangan dalam angan yang berselimutkan hawa nafsu. Dengan senyum nakal si cantik itupun menurunkan celana dalamnya. Melihat ini, Pak Doni buru – buru melepas celana dan boxernya, dia membiarkannya jatuh ke pangkal kaki, Pak Donipun kini telah telanjang menyusul Anis. Pria setengah baya itu mendekati Anis dengan batang kemaluan yang mengeras tegak seperti pancang yang berdenyut dan tebal.
Ketika membuka mata Anissa terbelalak melihat benda itu telah menegak di hadapannya. Ukurannya yang jauh lebih besar dari milik Pak Bejo juga membuatnya kaget. Anissa menggigil, dia takut… takut sekali… tapi… di tengah rasa takutnya ada… ada perasaan ingin… ingin merasakan benda itu masuk dan menghunjam di dalam liang kewanitaannya. Perasaan menggebu yang membuat jantungnya serasa ingin terlepas.
Pak Doni menatap mahasiswinya yang molek bagai bidadari itu lekat – lekat. Mereka pernah saling bertatapan saat berada di dalam kelas, tapi tidak seperti ini. Anissa membuka lebar kakinya yang jenjang supaya Pak Doni bisa menyeruak masuk. Tanpa aba – aba, pria setengah baya itu menggiring pancang kemaluannya tepat di mulut liang kewanitaan Anis. Ia mulai menggerakkan batang itu naik turun di bibir kemaluan si cantik, merasakan cairan pelumas yang keluar dari mulut kemaluan dan membuat mahasiswinya itu menyentak – nyentak penuh nikmat. Anissa makin terangsang, itu tidak bisa dipungkiri, terlebih ketika pancang kemaluan Pak Doni menggesek perlahan klitorisnya yang menegang. Anissa mendesah panjang. Merasa tepat sasaran, Pak Doni mengulanginya lagi dan lagi dan lagi dan lagi… tiap kali ujung gundul pancang kemaluan Pak Doni menggesek klitoris Anis, gadis cantik itu melenguh keenakan. Ia benar – benar tak berdaya.
Namun saat Anis sudah menanti benda keras itu masuk ke dalam liang kewanitaannya, Pak Doni malah menarik tubuhnya, membuat si cantik itu terheran – heran. Mereka bertatapan lagi, kali ini wajah Anis yang sudah penuh nafsu tidak bisa disembunyikan lagi, dia ingin Pak Doni segera melakukannya! Cepat Pak… cepat… setubuhi aku! Batin Anis yang sudah mulai tak sabar.
Pak Doni rupanya memang ingin bermain sebentar, ia justru menyodokan jemarinya masuk ke dalam liang vagina Anis secara tiba – tiba. Karena tak siap, Anissa pun menjerit tertahan!
Jemari Pak Doni bergerak cepat menyodok – nyodok di dalam liang kewanitaan Anis, membuat cairan cintanya kian membanjir di atas meja. Dengan wajah yang penuh nafsu Pak Doni menarik jemarinya, mengangkatnya dan menjilati cairan cinta yang ada di telunjuknya dengan penuh kenikmatan.
Melihat apa yang dilakukan Pak Doni membuat wajah Anis kembali memerah, ia sama sekali tidak menyangka dosennya yang tenang dan berwibawa itu ternyata begitu liar saat bermain cinta. Ini membuat Anissa merasa sangat malu.
Sekali lagi Pak Doni mendorong tubuhnya ke depan untuk berbisik langsung di telinga Anissa, begitu dekatnya bibir itu sehingga saat terbuka, ia bersentuhan dengan telinga si cantik. “cairan cintamu manis sekali rasanya…”
Sekali lagi Pak Doni mengambil posisi seperti semula, tiang penisnya berada di depan mulut vagina Anissa yang telah menanti. Anis melirik ke mata sang dosen dan Pak Doni memberikan senyuman selintas. Anis mendengus dan menjilat bibir dengan gerakan manja. Gila! Apa yang ia lakukan? Batin Anis tanpa sadar, apa yang telah ia lakukan? Sekali lagi si cantik itu mendesah penuh penantian, betapa ia menginginkan batang kemaluan Pak Doni segera masuk ke dalam liang cintanya dan mengakhiri penderitaan yang nikmat ini.
Pak Doni ternyata juga sudah tidak tahan, dengan gerakan pelan tapi pasti dia menyodokkan penisnya masuk ke dalam vagina Anis. Bidadari jelita itu melenguh dalam lautan kenikmatan, penis itu begitu besar dan penuh dalam liang kewanitaannya yang mulai membanjir. Tekanan yang datang dari pinggul Pak Doni mengeraskan batang kemaluan sang dosen dan itu membuat Anissa makin tak tertahankan. Hawa nafsu binatang memenuhi relung batin sang bidadari, dia hanya ingin disetubuhi, terus menerus, keras dan lebih keras lagi, ia sendiri tak tahu bagaimana perasaan ini bisa datang. Namun ketika dahaga nafsu itu datang, Anis harus menenggak kenikmatan kalau tak ingin kehausan!
Si cantik melakukan hal yang tak disangka – sangka lagi, ia menarik pantat Pak Doni dan menghantamkan kemaluannya ke dalam berulang – ulang dengan sangat keras seakan ingin meremukkan selangkangannya sendiri. Mata Pak Doni terbelalak dan pria setengah baya itu melenguh sangat keras karena kenikmatan yang tak terperi. Begitu juga dengan Anissa, rasa nikmat tak terbayangkan itu membuatnya menjerit tak tertahan, ia harus menutup mulutnya sendiri supaya teriakan itu tak terdengar dari manapun.
Dosen setengah baya itu hanya diam saja untuk sesaat, membiarkan Anis terbiasa dengan ukuran penisnya yang terus menerus membuat bidadari mungil itu melenguh antara sakit dan nikmat, ketika Anis sudah mulai enak, Pak Doni kembali mendorong kemaluannya dengan kecepatan yang makin mendaki, Anis menarik kepala Pak Doni dan membisikkan kata – kata yang ia sendiri kaget bisa ia ucapkan pada lelaki yang bukan Dodit.
“Aku mohon… aku mohon… le… lebih cepat… lebih cepat lagi…”
Pak Doni yang sempat terkejut mendengar bisikan itu berhenti bergerak dan menatap ke arah Anis, ia menggigit bibir bawahnya ketika menyaksikan kemolekan wanita yang kini sedang ia tiduri. Matanya tak berhenti mengamati, rambut panjang yang halus dan indah, wajah cantik dengan mata bulat yang menyipit karena keenakan, alis tajam bagai burung elang, hidung indah bagai ukiran, bibir mungil yang nikmat dikulum, kulit putih mulus sehalus pualam, buah dada montok yang kenyal, memek yang sempit dan menekan, paha halus mulus, kaki panjang jenjang. Semuanya luar biasa. Pak Doni tengah berada di surga. Pria setengah baya itu bisa merasakan kemaluannya berdenyut di dalam vagina si cantik, seakan menanti. Pak Doni menarik penisnya keluar sedikit… sedikit saja… lalu…
Jleb! Jleb! Jleb! Tiba – tiba, dengan gerakan yang tak bisa diduga pria setengah baya itu mulai bergerak dengan sangat cepat! Meja tempat mereka bercinta ikut bergoyang dengan kerasnya, menimbulkan bunyi yang tak bisa ditahan. Anissa berkeringat deras, nafas mereka beradu. Dengusan Pak Doni makin keras terdengar, menghembus dengan sangat terasa di buah dada Anis yang telah bermandikan keringat. Anis yang kehabisan nafas mendorong dosennya supaya menjauh dan membagi udara untuk sesaat. Pak Doni melihat ke bawah keheranan ketika Anis tiba – tiba saja memegang lengannya untuk memutar.
Anis menarik lengan Pak Doni, memutar tubuh mereka, lalu menghempaskan keduanya ke atas meja, tangan pria setengah baya itu bergerak cepat untuk menyingkirkan apa saja yang ada di atas meja yang tadi belum sempat dibersihkan. Anis mengangkat kemaluannya di atas Pak Doni untuk beberapa saat lamanya, menggoda pria tua yang kembali menjadi tidak sabar itu. Si cantik itu menurunkan tubuhnya dan mulai mengendarai penis yang tegak seperti tugu. Mereka berdua kembali bergerak maju mundur, sama – sama memejamkan mata dan menikmati kerja selangkangan mereka yang memberikan kenikmatan hingga ke ujung ubun – ubun. Lenguhan terdengar dari bibir keduanya, lenguhan itu tak lama karena Pak Doni dan Anis seakan tak bisa memisahkan mulut mereka, sebentar saja berpisah, keduanya langsung berpagutan, saling mencium dan menjilat. Anissa merem melek, merasakan gerakan benda panjang dan keras di dalam tubuhnya membuat si cantik itu tak tahan lagi, apalagi ketika tangan Pak Doni mulai meraih pinggang Anis dan ia menarik pantat Anis ke bawah supaya penisnya bisa masuk makin dalam.
Anissa melenguh dan terengah, keringat sebesar jagung menetes menuruni kening, turun hingga ke buah dadanya yang melonjak – lonjak. Anissa melemparkan kepalanya ke belakang ketika Pak Doni menyentuh klitorisnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain meremas – remas buah dadanya. Berulangkali si cantik itu mengeluarkan lenguhan keenakan yang membuat Pak Doni makin mempercepat kocokannya pada klitoris Anissa. Tak perlu waktu lama untuk membuat vagina Anis banjir cairan cinta. Terus menerus didera kenikmatan, Anis memejamkan mata karena ia merasakan dirinya mulai mendaki ke arah puncak, si cantik itu memeluk Pak Doni erat dan merasakan dinding vaginanya meremas penis yang masih terus bergerak maju mundur.
Rasa nikmat itu juga dirasakan sang dosen yang meneriakkan kenikmatan, “…ouuughhh Anisssaaa!!” suaranya yang biasanya berwibawa kini penuh dengan nuansa nafsu binatang, Pak Doni tak tahan lagi dan dalam beberapa kali sentakan dosen setengah baya itu akhirnya mengeluarkan cairan cintanya di mulut vagina Anis tanpa halangan, sebagian masuk ke dalam. Cairan cinta meleleh dari mulut kemaluan Anis, ke atas meja tempat mereka bersenggama melalui pahanya yang mulus seputih pualam.
Setelah beberapa saat saling menarik nafas, Anis menarik tubuhnya, melepaskan diri dari pelukan Pak Doni dan merasakan penis dosennya itu mulai mengecil sebelum akhirnya ditarik keluar.
Suasana menjadi tenang, tanpa desahan, tanpa lenguhan, tanpa teriakan.
Anissa mengejapkan mata seakan tidak percaya apa yang telah dia lakukan. Dia sedang berada di ruang dosen, terbaring di atas meja. Dingin kayu yang menyentak membuatnya sadar dan ingin bangkit, namun tangan besar yang lembut memeluk tubuhnya dan melindunginya dari dingin. Anis mengejap sekali lagi, melihat sepasang mata yang menatapnya dan tubuhnya pun luruh lemas. Senyum lembut sang dosen membuat Anis tak tega untuk berontak, ia paksakan dirinya untuk tersenyum sementara dentum dadanya perlahan mulai kembali normal, dada mereka saling menumpuk. Pak Doni menurunkan kepala untuk kembali mengecup bibir mungil Anis dan mereka berciuman dengan lembut selama beberapa detik, saling menimpa dan melumat. Pak Doni merasa sangat beruntung ia masih bisa menikmati gadis secantik Anis di usianya yang sekarang. Ia berulangkali menggelengkan kepala merasa sangat beruntung.
“Aku tidak pernah menyangka aku akan tidur dengan mahasiswiku sendiri.” Kata Pak Doni yang masih sedikit terengah. Ketika ia melirik ke samping, si cantik itu masih memeluk tubuhnya sendiri yang tanpa busana, “Nis…?”
“Ya?” lirih jawaban Anis, seperti merintih. Memang kemaluannya masih terasa perih.
“Kamu benar – benar luar biasa. Luar biasa… aku belum pernah… maksudku… tubuhmu… kamu… ah, aku kehabisan kata – kata, sayang…”
Mereka berbaring beberapa saat lamanya tanpa kata, tanpa melanjutkan percakapan. Hanya saling menggugat impian dan bayangan apa yang telah dan akan mereka lakukan selanjutnya.
Anis menjadi yang pertama membuka suara.
“Pak Doni… saya ingin Bapak tahu, kalau… jujur… saya bukan wanita nakal, saya bukan wanita penggoda dan saya… saya tidak pernah menggoda suami wanita lain. Saya… saya belum pernah melakukan ini sebelumnya… apalagi dengan… dengan seorang dosen yang saya hormati. Saya minta maaf…” gelimang air mata menyeruak di ujung tipis kelopak mata indah Anissa. “saya minta maaf telah membuat Pak Doni melupakan ibu… dan…”
Pak Doni mengangkat telunjuk tangannya ke bibir Anissa dan menggelengkan kepalanya, menatap si cantik itu lekat dan berbisik perlahan. “aku tahu kamu bukan gadis semacam itu, kamu spesial, cantik.”
Pak Doni mencium kening Anissa dan tersenyum, ia menarik lembut kepala Anis ke dadanya. Anis memejamkan mata dengan penuh penyesalan, dia merasa sangat bodoh sekali, dia tidak sanggup menahan air mata yang sudah siap meledak. Seandainya… seandainya saja Pak Doni tahu…
Keheningan menyelimuti kamar yang kini tenang, lampu pun diredupkan.
###
Dengan langkah yang tertatih karena selangkangannya masih perih usai ditiduri Pak Doni, Anissa menyusuri lorong kampus yang telah gelap. Hanya satu dua orang masih ada di lantai bawah, tapi mereka sibuk dengan kegiatan masing – masing tanpa mempedulikan si cantik yang melewati mereka. Mereka juga tak menyadari air mata belum lagi kering menetes di pipi Anis.
Langkah kakinya terhenti ketika ia sampai di halaman parkir, sebuah mobil kijang berwarna merah tua berhenti tepat didepannya. Kaca mobil turun dan memperlihatkan wajah seorang pria tua gemuk yang langsung menyapa Anis. “Halo, apa kabar?”
Kepala si cantik yang sedari tadi menunduk menengadah untuk melihat siapa yang ada di balik kemudi, benar saja… orang yang paling ia benci, Pak Bejo Suharso! Pandangan mata mereka saling beradu.
“Sukses?” tanya Pak Bejo sambil memamerkan senyumnya yang menjijikkan.
Anis menatap preman tua itu dengan pandangan benci, si cantik itu meludah ke tanah. Pak Bejo hanya tertawa melihatnya, ia menelengkan kepala sekali untuk meminta Anis masuk ke mobil. Dalam situasi normal, Anissa tidak akan sudi masuk ke mobil Pak Bejo. Dibayar berapapun, dengan imbalan apapun, matipun ia tidak akan mau. Tapi ini bukan situasi normal, Anissa membuka pintu mobil dan duduk di samping Pak Bejo.
Pak Bejo tersenyum puas. Ia menginjak gas dan mobil itupun melaju.
###
Pak Doni bangkit dari duduknya, ia mengerang, sudah berapa jam ia ada di ruangannya? Ia merasa aneh, seperti hilang ingatan. Ia baru saja bercinta dengan Anissa, salah satu mahasiswi terbaik dan tercantik di kampus.
Ia… Ia baru saja mengkhianati janji pernikahannya.
Pak Doni menepuk wajahnya berulang – ulang kali, ia tidak bisa percaya pada dirinya sendiri, kenapa ia tergiur pada kemolekan Anis? Kenapa harus terjadi?
“Apa yang sudah terjadi jangan disesali.”
Pak Doni hampir melompat karena terkejut. Suara siapa itu?
Ternyata wajah yang sangat dikenalinya! Orang itu duduk di kursi yang ada di sudut ruangan, sejak kapan ia ada di sana? Kenapa ia sampai tidak menyadarinya?
“Kamu?! Apa yang kamu lakukan di sini?” Pak Doni bangkit dari duduknya dan mulai mengeluarkan suara bernada tinggi. “Keluar dari ruanganku!”
“Enak tidak ngewe Neng Anissa?” kata orang itu tanpa ekspresi, “pasti memeknya masih sempit ya? Permainan kalian cukup hot, cukup lama juga.”
Wajah Pak Doni langsung pucat pasi. “A… apa yang kamu maksud?”
“Pura – pura bodoh rupanya. Tidak apa – apa, akan coba saya jelaskan. Suara teriakan Neng Anissa menggema hingga ujung ruangan, mana mungkin saya tidak dengar. Pintu bapak sudah dikunci rapat, ruangan ini juga tertutup, tapi jangan lupa masih ada jendela angin di atas. Tinggal naik di atas kursi saya sudah bisa menonton adegan porno paling hot sore ini. Karena cukup hot itulah saya rekam kejadiannya di telepon genggam saya.”
Tubuh Pak Doni langsung lemas, tulangnya seperti lolos dari tubuh.
“Ketika keluar tadi Neng Anissa lupa menutup pintu, jadi saya bisa masuk. Herannya Pak Doni baru sadar sekarang saya masuk. Saya sudah cukup lama menunggu di kursi ini.”
“Apa maumu?” lemas suara sang dosen.
Orang itu hanya tersenyum, ia malah berdiri dan melangkah keluar. Sambil menutup pintu, ia memalingkan kepala dan berkata pelan, “Saya sudah dapat apa yang saya butuhkan. Pertunjukan luar biasa dari seorang dosen dan mahasiswi yang sama – sama menjadi idola di kampus ini. Saya salut, Pak. Sayang saya tidak bisa bicara sekarang, saya ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kita bicarakan lagi ini semua di lain hari.”
Orang itu melangkah keluar sambil bersiul.
Pak Doni hanya bisa terdiam mematung.
Apa ini?
Apa yang telah terjadi?
###
Ruangan tempatnya berada menjadi terasa gelap di bawah lampu yang redup dan hanya menyala dengan kekuatan 5 watt, namun wajah cantik Anissa seperti memiliki aura yang menyala dan sangat enak dinikmati. Sayang wajah itu kini muram dan sedih, mulutnya membungkam seribu bahasa. Anehnya, bagi beberapa orang, justru wajah seorang wanita yang takluk seperti ini yang indah dipandang.
Setidaknya itu yang dirasakan Pak Bejo yang sedang menikmati rokoknya. Dia duduk di sebuah kursi di samping meja kecil sementara Anissa berada di hadapannya, duduk di tepian pembaringan. Mereka belum bercinta hari ini dan Anis berharap pria tua itu sedang lelah sehingga dia tidak memperkosanya.
Ruangan tempat keduanya berada hanyalah sebuah kamar kecil di losmen kelas Melati yang menjadi tempat Pak Bejo biasa meniduri Anis, sebuah losmen milik teman Pak Bejo yang bernama Kobar. Pak Bejo dan Kobar kawan akrab sehingga ia tidak perlu membayar sepeserpun untuk menginap di tempat ini. Sejak diperkosa Pak Bejo, Anis memang tak bisa lepas dari cengkraman pria bejat itu. Termasuk ketika ia meninggalkan rumah Mas Hendra dan pulang ke rumah orangtuanya, Anis tetap berada di bawah pantauan Pak Bejo yang terus menerus mengikuti setiap jejaknya. Kemanapun Anis pergi, Pak Bejo akan membuntuti.
Anissa begitu takut Pak Bejo akan menyebarkan semua gambar dan video rekaman ketika mereka bersetubuh sehingga ia menuruti semua permintaan dan perintah orang tua cabul itu, sepahit apapun permintaannya. Anissa tunduk pada semua perintah Pak Bejo termasuk perintah untuk datang setiap hari ke losmen ini setelah pulang kuliah. Untungnya Dodit akhir – akhir ini juga sering sibuk sehingga tidak mencurigai kepergian Anis yang berkelanjutan setiap pulang dari kampus.
Adalah Pak Bejo yang memaksa Anis merayu Pak Doni.
Pak Bejo sadar betul kalau tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mampu menolak kemolekan Anis, terlebih seorang dosen setengah baya yang mungkin sudah tidak lagi dilayani oleh istrinya. Kecantikan Anissa tepat sekali untuk merayu Pak Doni yang tengah mengalami puber kedua dan membuat pria tua itu jatuh ke dalam perangkap yang telah ia dan teman – temannya persiapkan. Anissa tentu saja terpaksa melakukannya.
Lelehan air mata yang menetes di pipi Anissa seakan tak mampu meluruhkan rasa bersalahnya yang berdentam menghajar relung batin terdalam. Banjir air mata itu tak mampu membersihkannya dari perasaan kotor yang menempel lekat dan tak bisa lepas, membuatnya merasa jijik pada diri sendiri setiap saat. Anis malu, malu sekali, sangat malu, ia bahkan malu saat berkaca dan melihat dirinya dalam cermin, wajahnya seperti berlumuran dosa. Betapa hinanya dia, betapa menjijikkan dan rendahnya dia! Bukankah apa yang telah ia lakukan membuktikan kalau dia tak lebih rendah dari seorang pelacur?! Mengapa dia menuruti saja semua perintah Pak Bejo? Mengapa dia justru terlihat seperti menikmati peran yang rendah dan hina ini? Ketika Anissa memejamkan mata, air mata itu tak berhenti menetes di pipi.
Pak Bejo yang menyaksikan air mata deras mengaliri pipi mulus gadis yang mirip jelmaan bidadari jelita itu malah tertawa terbahak – bahak. “Kenapa kamu menangis? Aku justru telah memberimu kenikmatan, bukan penderitaan.”
“Biadab! Bejat!” hardik Anis penuh kemarahan. Dia marah dan takut pada saat yang bersamaan. “Aku melakukan ini semua karena terpaksa!!! Pak Bejo meminumkan obat perangsang itu!! Tega sekali Pak Bejo melakukan ini kepadaku! Aku salah apa, Pak? Kenapa Bapak tega? Kenapa memaksaku?!!”
Pak Bejo memberikan senyuman menghina, “terpaksa katamu? Terpaksa kok bisa sampai orgasme… lelehan air cintamu membuktikan kalau apa yang telah kamu perbuat dengan dosen sendiri bukanlah paksaan. Akui saja kalau kamu juga menikmati. Kamera hape yang dipakai untuk merekam kejadian di ruang Pak Doni bekerja sempurna hingga aku bisa mengetahui detail sekecil apapun.”
Anissa naik pitam. “Aku terpaksa!! Aku di bawah pengaruh obat perangsang!!”
Pak Bejo mengangkat bahu, “memangnya aku peduli? Yang penting apa yang aku perintahkan kepadamu sudah berjalan dengan sempurna. Kerja yang bagus, sayang. Aku akan menghapus satu foto vulgarmu dari telepon genggamku.”
“Satu??” mata Anis terbelalak, “hanya satu saja? Tapi Bapak sudah janji…!!!”
“Kamu pikir aku akan menghapus semua fotomu yang ada padaku? Jangan mimpi di siang bolong, anak manis.” Pak Bejo tertawa, “Semua akan aku hapus asal kamu menuruti semua yang aku minta. Aku punya pengharapan besar dengan memanfaatkan tubuhmu yang indah itu… apa yang aku inginkan bisa menjadi kenyataan.”
Mata Anissa terbelalak karena marah. Dia telah ditipu! Bajingan tua ini memanfaatkan situasinya untuk memerasnya habis – habisan. Luar dalam. Tidak saja ia dipaksa untuk merayu seorang dosen yang baik, ia juga berniat untuk memerasnya! Laki – laki hina macam apa Pak Bejo ini?
“Kurang ajar… Pak Bejo pikir saya ini siapa? Pelacur yang bisa dijajakan pada langganan Pak Bejo setiap saat? Enak saja! Jual saja istri Pak Bejo! Jual anak Pak Bejo!!! Jangan saya!!!”
PLAKKKKKK!!!!!!!!!!!
Anis hampir saja terlempar tubuhnya karena tamparan Pak Bejo yang sangat keras mendarat dipipinya. Belum lagi panas tamparan itu mendingin dan Anissa mampu bangkit dari sempoyongan, tiba – tiba saja tangan pria tua gemuk yang buruk rupa itu mencekik leher mungil Anis dengan sangat kuat. Gadis itupun megap – megap karena tak mampu bernafas, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar, tangannya bergerak cepat mencoba menggapai sesuatu atau mendorong Pak Bejo, namun semua gagal karena pria tua itu lebih kuat dan cekatan.
“Jangan pernah menghinaku dan jangan pernah menghina keluargaku.” Pak Bejo membisikkan kata ke telinga Anis. Cengkraman tangan di leher Anis masih belum mengendur, membuat nafas gadis itu makin sesak dan tersengal – sengal, tangan Anis mencoba memukul – mukul lengan Pak Bejo, tapi tentu apa daya gadis lemah sepertinya? Melihat Anis sangat tersiksa, Pak Bejo bukannya berhenti malah semakin menjadi. Lidahnya menjulur keluar dan dengan sangat menjijikkan ia menjilati seluruh wajah Anis yang berkeringat. Bau mulut bekas rokok dan minuman keras membuat Anis ingin muntah.
“Kamu paham, anak manis?” tanya Pak Bejo, ia menarik tubuh Anis ke belakang agar tangannya bisa menjangkau meja untuk meletakkan puntung rokok ke asbak.
Anis mengangguk sekuat tenaga, ia menyerah, terserah apa mau si tua brengsek ini, ia sudah tak bisa lagi menarik nafas. Ia bisa mati!!
Pak Bejo akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya. Anissa langsung terbatuk – batuk, ludahnya keluar membanjir dan tubuhnya luruh ke bawah. Orang tua bejat ini hampir saja membunuhnya!
“Aku tidak pernah memaksa kamu melakukan hal yang tidak kamu sukai, kamu bahkan bebas untuk pergi dan tidak lagi menemuiku. Tapi lebih baik kamu pertimbangkan juga nasib orang lain yang kamu sayangi. Kalau kamu meninggalkan aku, aku akan melakukan hal – hal yang tidak nyaman pada orang – orang itu.” Ancam si tua bejat itu sambil berkacak pinggang. Ia kembali duduk di kursi dan menarik satu batang rokok dari bungkusnya kemudian menyalakannya.
“A… uhuk huk…! huk..!. A… A… Apa maksud Pak Bejo?” Anissa mengerutkan kening sambil mencoba menahan batuknya, perasaannya tidak enak.
Pak Bejo menghembuskan asap rokoknya membentuk bulatan, ia membuka telepon genggamnya dan menelusuri aplikasi, membuka sebuah folder penuh foto dan memperlihatkannya pada Anissa.
“Ini hanya sekedar contoh. Aku sudah memindahkan salinan fotonya jadi kalau kamu mencoba merebut telepon genggam ini atau membantingnya, aku tidak akan takut karena aku tetap bisa menyebarkannya.” Kata Pak Bejo. “pilihan sekarang ada di tanganmu, anak manis. Mau menyelamatkan dirimu dan orang – orang yang kamu cintai? Tetap turuti semua permintaanku, tanpa membantah sedikitpun. Mau membelot dan melarikan diri dariku? Semua foto yang ada di sini akan tersebar. Mengerti?”
Mata Anissa terbelalak lebar melihat foto Mbak Alya dalam posisi – posisi vulgar yang sangat menantang birahi! Beberapa foto juga memperlihatkan Mbak Alya dalam kondisi telanjang atau tengah bersenggama! Foto – foto ini… foto – foto ini bukan rekayasa! Apakah… apakah… benarkah… tidak mungkin… tidak mungkin… ini pasti… tapi ini benar – benar terjadi! Pak Bejo rupanya sudah pernah memperkosa Mbak Alya juga?!!
Anissa menatap layar telepon genggam Pak Bejo dengan pandangan tak percaya ketika menyusuri folder dan melihat satu demi satu foto yang ada sementara orang tua bejat itu tertawa terbahak – bahak. Tidak hanya Mbak Alya, Pak Bejo juga telah merekam kaki jenjang, belahan buah dada yang tidak sengaja terbuka dan paha yang tak sengaja tersingkap dari Mbak Dina dan Mbak Lidya! Benar – benar orang yang sangat bejat!
Tubuh Anissa menjadi gemetar dan panas karena menahan amarah. “Bajingan bejat… tidak tahu diri… Pak Bejo… benar – benar bejat…”
“Bukan bejat, aku hanya mengagumi tubuh molek kalian. Aku sudah merasakan memekmu dan Alya. Tinggal memek Dina dan Lidya yang aku incar, sepertinya masih sempit juga.”
Anis menatap Pak Bejo dengan geram, “Jangan. Pernah. Dekati. Atau. Sakiti. Mereka. Lagi.” Katanya terpatah – patah karena menahan amarah yang menggelegak. Rasa sakit di lehernya juga masih membuatnya tak mampu mengucapkan kata – kata dengan lancar.
Pak Bejo mencibir hina, ia menebaskan abu rokok ke asbak. “maka dari itu, ikuti semua kemauanku, mengerti? Semudah itu saja syaratnya.”
“Mengerti…” desahan lirih penuh kekalahan bercampur geram tertahan keluar dari mulut mungil si cantik itu. Apalagi yang bisa ia lakukan selain menyerahkan tubuhnya pada orang bejat ini? Dia tidak punya pilihan, Anissa benar – benar geram karenanya. Tidak ada pilihan selain memberikan jawaban yang sangat ia benci.
Sebuah jawaban yang akan sangat ia sesali.
###
Hujan yang turun deras disertai guntur di sekitar kampus menjelang sore itu tak membuat Pak Doni beranjak dari mejanya untuk pulang ke rumah. Ia tak mempedulikan guntur yang menderu di luar ruangan dan menyebabkan kacanya sedikit berderak karena bergetar. Sebaliknya, dosen paruh baya itu justru sibuk berkutat dengan skripsi yang dikumpulkan oleh beberapa mahasiswa bimbingannya.
Pak Doni menarik nafas panjang dengan berat, entah mengapa ia tak bersemangat pulang cepat beberapa hari terakhir ini, ia lebih memilih lembur di kantor walaupun alasan lembur itu ia buat – buat sendiri. Terlebih sekali hari ini, ruang dosen yang kaku dan tak bersahabat ini justru membuatnya betah dan ingin berlama – lama. Walaupun barisan teks yang berjajar di buku – buku skripsi bagaikan kumpulan tentara berukuran mini yang menembaki matanya hingga terasa pedih karena terlalu banyak dibaca, namun ia tetap urung pulang ke rumah.
Pak Doni melambaikan lamunannya.
Dia ingin sendiri, ingin disibukkan, ingin bekerja, ingin melakukan sesuatu yang tidak akan mengingatkannya pada hal yang membuatnya gelisah dan merasa bersalah…
Pria setengah baya itu tertegun dalam renungannya.
Benar. Inikah yang dinamakan rasa bersalah? Inikah yang dinamakan pelarian? Apakah pelarian ini bisa menenangkan rasa bersalah yang membuat beban hidupnya sedemikian berat? Ia tahu apa yang ia lakukan beberapa hari yang lalu adalah perbuatan yang salah dan terkutuk. Tak pantas dilakukan oleh seorang guru dengan muridnya, seorang dosen dengan mahasiswinya, seorang pengajar dengan anak didiknya… apa yang telah ia lakukan? Apa sebenarnya yang telah membuat keteguhannya melayang? Kesetiaannya terbuang?
Pintu ruangan diketuk dari luar, membangunkan Pak Doni dari lamunannya yang lelap.
“Permisi. Apa Pak Doni ada di dalam?” terdengar suara dari luar, suara laki – laki. Jika orang ini bisa sampai di depan pintu ruangannya, tentunya satpam sudah mengijinkannya masuk. Ia pun tak curiga. Tapi aneh, kenapa satpam tidak menelponnya dulu untuk memberitahukan kedatangan tamu?
“Masuk saja, pintunya tidak dikunci.” Jawab Pak Doni dengan suara agak keras agar orang yang berada di luar bisa mendengar.
Pintu dibuka dengan sedikit berderak, seorang laki – laki memasuki ruangan. Mata bertemu mata dan dosen itupun terbelalak karena terkejut.
“Kamu!!??” Pak Doni seperti tersengat listrik ribuan watt.
“Saya.” Orang itu adalah Imron, sang penjaga sekolah.
Imron! Orang yang tempo hari memergokinya bercinta dengan Anissa!
Penjaga kampus berwajah buruk itu menebarkan senyuman tipis yang membuat Pak Doni jengah.
Dia memang sudah menduga Imron akan datang kepadanya karena si penjaga kampus itu telah memergokinya menggauli Anis bahkan telah merekamnya! Walaupun begitu ia tetap saja kaget karena tak menyangka si penjaga kampus itu akan menemuinya secepat ini. Dada Pak Doni berdegup kencang melihat senyuman hina dari wajah pria itu.
“Merasa muda kembali setelah kejadian itu, pak dosen yang terhomat?” Imron sengaja memberi tekanan pada kata terhormat untuk membuat Pak Doni makin gerah.
“Apa maumu? Aku sedang sibuk.” Kata Pak Doni ketus. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh dosen yang tengah berhadapan dengan Imron itu, dia tahu Dewi Fortuna sedang tidak memihak kepadanya. Keluarganya, istri dan anak – anaknya, orangtuanya, karirnya, segalanya, semuanya bisa lenyap hanya gara – gara kebodohan dan nafsu buta semata. Semua gara – gara dia tak mampu mengendalikan hasrat binatangnya, semua hancur karena dia tergiur kemolekan mahasiswinya yang memang sangat aduhai. Parahnya orang gila bernama Imron ini melihatnya bermain cinta dengan Anis dan semuanya bisa hancur berantakan. Hancur semudah membalikkan telapak tangan.
Kartu as jelas ada di tangan Imron. Pak Doni ingin melihat bagaimana penjaga sekolah ini memainkan kartunya.
“Tidak perlu cemberut seperti itu, Pak Doni. Saya cuma ingin berbincang – bicang sejenak sambil membicarakan sebuah proyek yang sepertinya mau tidak mau akan Pak Doni setujui.” Imron kegirangan melihat Pak Doni mulai gelisah, wajahnya yang sejak tadi menampilkan cengiran penuh kemenangan berubah menjadi wajah serius yang menyeramkan. Ia menatap Pak Doni lekat tanpa rasa takut sedikitpun, “tentu saja Pak Doni harus setuju karena kalau tidak rahasia busuk dosen paling terkemuka di kampus ini akan hancur berantakan.”
“…bajingan kamu, Imron.”
“Cih… ada maling teriak maling.” Imron mencibir, “Kita kembali ke akar permasalahan, Pak Doni. Siapa suruh bapak meniduri Anissa? Siapa suruh bapak meniduri mahasiswi sendiri? Saya tidak pernah meminta bapak melakukannya, kan? BAPAK MELAKUKANNYA DENGAN KESADARAN SENDIRI!!” Penjaga kampus berwajah buruk rupa itu menggebrak meja Pak Doni yang langsung bergetar karena kaget sekaligus takut, wajahnya pucat pasi. “Jangan lupa kalau bapak sendiri yang telah melakukan perbuatan itu tanpa ada paksaan, ingat itu baik – baik! Semua dilakukan dengan kemauan sendiri! Tidak ada yang meminta dan tidak ada yang menyuruh. Jangan sedikitpun berlagak seperti orang suci karena Bapak tidak pernah menolak ketika Anissa datang kesini dan menawarkan tubuhnya! Kalau Bapak memang orang yang tahu diri, ingat keluarga, ingat anak istri… bapak tidak akan pernah mau dirayu gadis itu! Laki – laki macam apa bapak ini… menggauli gadis yang lebih pantas jadi anaknya dan menolak mengakui perbuatannya…”
“… dasar… bajingan…”
“Jangan salah, saya juga tahu logika. Saya tidak akan pernah menyalahkan Pak Doni. Kenapa? Karena saya tahu tidak ada lelaki normal manapun di dunia ini yang sanggup menolak gadis semolek Anissa. Omong – omong, bagaimana rasanya? Pasti enak sekali ya? Paha seputih itu, kulit yang mulus, wajah cantik, tubuh tinggi, susu yang besar… bagaimana memeknya? Masih sempit? Saya sendiri belum pernah mencicipi anak ayam satu itu, mungkin nanti kalau ada waktu…”
“Begitu rupanya. Ini semua pasti sudah kamu rencanakan. Anissa juga jadi pion kamu, kan? Kalian memang berniat menjebakku… apa mau yang kalian inginkan? Apa untungnya ini semua buat kalian?”
“Kalau baru tahu sekarang ini semua jebakan, itu bodoh namanya. Yah, tidak percuma Pak Doni jadi dosen senior karena akhirnya berhasil menebak arah tujuan kita. Kami memang ada tujuan tertentu melakukan semua ini.”
“Baik… baik… BAIK! Kuturuti kemauanmu… bajingan tengik kamu, Imron…” deru nafas Pak Doni menggerus seperti seekor banteng yang hendak melabrak matador yang menggoyangkan kain merah. “Apa maumu? Berapa yang kamu inginkan?”
“Cih… lagi – lagi sikap meremehkan. Aku tahu berapa gaji bapak dan walaupun cukup besar, uang segitu tidaklah cukup untuk tutup mulut.” Imron memajukan tubuhnya, mendekatkan diri dengan Pak Doni yang menahan amarah. “Kampus ini kampus favorit, Pak Doni. Banyak calon mahasiswa yang bersedia mengorbankan apa saja untuk masuk ke sini namun gagal karena ketatnya persaingan dan susahnya tes masuk…”
Pak Doni mengernyitkan dahi, apalagi mau Imron tengik ini? Apa yang sebenarnya dia incar?
“…bayangkan kalau setiap orangtua yang mau memasukkan anaknya ke kampus ini kita tarik bayaran antara empat puluh sampai tujuh puluh juta perkepala untuk memastikan anak mereka bisa menjadi mahasiswa tanpa harus lulus tes tertulis. Kita bahkan akan menyediakan joki resmi sebagai pelengkap administrasi. Dengan mengesampingkan semua birokrasi, anak itu hanya tinggal datang pada saat kuliah dimulai.”
Pak Doni terbelalak saat menyadari apa yang diinginkan oleh Imron. “Gila kamu Imron… kamu… mau jadi calo?”
Imron menebarkan senyum sinis, “Boleh jujur? Aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu. Males banget.” Imron duduk dengan santai dan menyilangkan kedua tangan di dada. “Sebetulnya, bukan aku yang akan mengerjakan semua ini, aku bukan tipe orang yang butuh cari uang, yang aku butuhkan gadis – gadis muda yang segar dan seksi.” Imron tertawa terbahak dengan suara yang tidak nyaman didengarkan. “…tapi ada beberapa orang yang aku kenal yang mau masuk ke bisnis ini dan sebagai teman yang baik tugasku adalah menyediakan lahan dan tugas anda, Pak Doni yang terhormat… adalah memastikan kalau segepok uang itu sanggup membawa para pelanggan masuk tanpa halangan ke kampus kita, tentu setelah dikurangi pajak administrasi dari aku dan teman-teman lain.”
“Gila! Aku tidak mungkin melakukannya. Kampus ini kampus terhormat! Di sini punya sistem, tidak punya celah, aku tidak bisa…”
“Aku tidak peduli bagaimana caranya. Bapak kan punya banyak kenalan di bagian akademik dan petinggi kampus, Bapak juga punya banyak uang. Aku akan memberikan sebagian dari pembayaran ‘pelanggan’ kita untuk menambah uang pelicin kalau diperlukan.” Imron semakin mendekatkan wajahnya yang sangat bau. “aku akan tutup mulut tentang perilaku liar Pak Doni kalau proyek kita ini lancar, yang mana tentu saja aku tidak akan ikut campur karena semuanya ada di bawah komando seorang teman. Aku hanyalah seorang pengawas yang menjadi perantara.”
Pak Doni menundukkan kepalanya.
Apa yang harus dilakukannya? Apa yang sebaiknya dia perbuat? Haruskah dia menuruti kemauan orang – orang yang hendak memerasnya ini?
Cukup lama dosen yang cukup disegani di kampus itu terdiam. Wajahnya mengerut karena pikirannya kalut. Imron menunggu dengan santai, ia tahu hasilnya karena ia sudah sering memeras orang. Apapun pilihan Pak Doni, dia akan kalah, Imron yakin sekali.
Dengan lemas Pak Doni mengangguk, sepertinya memang tidak ada pilihan lain, “…kalian menang.”
Imron tertawa menghina, dia berdiri, melenggang keluar sambil terlebih dahulu menepuk pundak Pak Doni dengan kurang ajar. “Prosedurnya kita bicarakan lagi nanti. Terima kasih atas kerjasamanya. Saya tidak sabar lagi memulai proyek kita ini.”
Pak Doni menunduk kalah ketika Imron melangkah keluar dari ruangan sambil bersiul.
###
“Kamu kenapa, sayang?” tanya Dodit saat mobilnya melintas di jalan tol yang lengang.
Tidak ada jawaban. Mulut Anis seperti terkunci dengan rapat, bahkan tipis semburat senyumpun tak nampak. Anissa seperti bukan Anissa, dia seperti batu karang teguh tak tergoyahkan. Mereka baru saja berangkat untuk makan malam di malam minggu pertama yang bisa dilalui bersama setelah beberapa bulan meninggalkan rumah Mas Hendra.
“Anis?”
Masih belum ada jawaban.
Sejak tinggal di rumah Mas Hendra beberapa bulan yang lalu Anissa terlihat berubah, perangainya yang lembut dan ceria kini hilang ditelan sosok pendiam yang menutup diri dan pemarah. Dia jarang sekali tersenyum dan lebih senang melamun. Anissa dan Dodit sendiri sudah cukup lama tidak jalan berdua, calon suami istri ini seperti kehilangan gairah cinta di antara mereka.
“Kemarin aku sudah bertanya kesana kemari tentang jadwal gedung – gedung yang mungkin kosong pada tanggal yang sudah kita rencanakan tahun depan. Ada tiga gedung, hampir semuanya punya biaya sewa mahal, tapi salah satunya ternyata dikelola teman omku, kita bisa menyewanya dengan potongan harga yang lumayan.” Kata Dodit membuka cerita, ia membicarakan rencana pernikahan mereka. “Untuk pre – wedding kita bisa pergi ke studio foto milik Dimas, dia cukup bisa diandalkan. Baik untuk foto maupun pembuatan kartu undangan. Yang masih bikin bingung itu masalah catering dan baju… bagaimana sayang?”
Mendengar pernyataan Dodit itu Anis seperti ingin menangis, ingin berteriak dan ingin melemparkan dirinya ke api. Tahukah kamu, Mas Dodit… kalau kekasihmu ini, kalau wanita yang kami cintai ini… telah menjadi wanita yang sangat kotor? Yang telah bersetubuh tidak hanya dengan Pak Bejo yang sangat menjijikkan itu melainkan juga dengan Pak Doni, dosennya sendiri? Kekasihmu ini sudah tidak pantas lagi mendapatkan cinta sejatimu, Mas Dodit. Sudah tidak pantas lagi memperoleh kasih yang tulus… dia telah kotor… sangat – sangat kotor…
“Aku tidak pantas lagi…”
“Apa maksudmu, sayang?”
Anis mendesah kecewa, pandangannya kembali dilemparkan ke luar, “tidak apa – apa. Lupakan saja. Lupakan…”
Dodit mengernyitkan kening. Ada apa lagi ini?
“Lupakan apa, sayang?”
“Bukan apa – apa. Aku… ceritakan lagi mengenai gedungnya….”
Malam itu berlalu begitu saja dan Anissa masih terdiam seribu bahasa. Bahkan ketika mereka berdua duduk di sebuah kafe sambil menikmati minuman hangat. Sepasang calon pengantin yang biasanya mesra dan saling memuji ini bagaikan kehilangan nyala api mereka. Tidak ada canda, tidak ada kata. Sepi, senyap, kaku dan menjemukan.
“Sebenarnya kamu ini kenapa, Nis? Kenapa diam terus? Ini tidak seperti biasanya…”
Anissa terdiam.
“Apa aku telah melakukan kesalahan? Apa aku membuatmu jengkel?”
Tidak ada jawaban.
“Apa karena aku terlalu sibuk sehingga beberapa hari terakhir ini aku tidak menjemputmu?”
Anissa menggelengkan kepala, suara lirih keluar dari mulut mungilnya. “Tidak ada apa – apa. Aku hanya capek saja. Akhir – akhir ini aku mudah capek. Kita pulang yuk, aku pusing sekali, mau tidur.”
Dodit mendesah kecewa, apa yang terjadi padamu, sayang? Kenapa kamu tidak mau cerita? Adakah sesuatu yang kamu sembunyikan? Tapi Dodit tidak menolak ketika Anissa sudah bangkit dari duduk dan ingin segera pulang. Paling tidak hanya itu yang bisa dilakukannya untuk sang tunangan saat ini, melakukan apa yang diinginkan Anissa tanpa banyak berucap.
###
“Gadis ini berbakat jadi pelacur. Wajah cantiknya seperti tanpa dosa, mana ia juga sangat lembut. Ia penggoda yang hebat tanpa harus mengeluarkan sepatah katapun. Tidak ada laki – laki yang bisa menolak cewek seperti ini. Dia bisa seksi tanpa harus menjadi seksi.” Kata Pak Dahlan memuji kemolekan Anissa. “hebat kamu menemukan barang bagus seperti ini, Bejo.”
Pak Bejo mengangguk – angguk dengan bangga. “Pastinya.”
“Lain kali aku ajak kamu keliling kampus buat belanja barang dagangan baru, Jo. Jadi tidak fokus cuma ke tetangga – tetanggamu saja.” Susul Imron yang langsung disetujui oleh Pak Dahlan dan Pak Kobar. Mulut penjaga kampus itu komat – kamit sibuk mengunyah makanan yang sepertinya sangat lezat. “Tapi yang ada di hapemu itu semuanya memang seksi. Lebih lagi yang namanya Alya dan Lidya…”
“Terima kasih, Bro… tapi saat ini aku cuma pengen kipas – kipas pake duit yang disetor ke kita. Dosen goblok satu itu ternyata menepati janjinya. Kalau begini terus, kita bisa kaya.” Jawab Pak Bejo jumawa.
“He he he, jangan melecehkan institusi kampus, aku kan juga dosen. Tapi Pak Doni itu memang sok alim, giliran dapet anak ayam saja dia jadi penakut. Dia kan sebenarnya ada niat buat mencalonkan diri jadi rektor di tahun mendatang, satu skandal seperti kemarin bakal menghancurkan reputasinya. Tahu rasa dia sekarang, dasar sok alim, sukanya cari muka.” kembali Pak Dahlan pegang peranan menjelaskan. “Aku tahu awalnya kalian meminta aku menjadi orang dalam, tapi bukankah cara seperti ini lebih seru? Lagipula dengan reputasi yang bersih aku bisa mencalonkan diri menjadi rektor di tahun mendatang tanpa gangguan. Posisiku aman, uangpun datang.”
Pak Dahlan menghentikan ucapannya dan segera beralih ke orang – orang di sekitarnya, “Silahkan, silahkan dimakan… perjamuan makan seperti ini konsepnya dari Jepang, kebetulan aku baru belajar dan dengan bantuan salah satu lontenya Imron untuk memasak, kami bisa menyajikannya.” Pak Dahlan mempersilahkan semua yang ada di ruangan itu untuk makan, berbagai macam jenis penganan disajikan di tatakan besar.
Pak Kobar meneguk ludah, “Aku baru tahu ada jamuan makan seperti ini, siapa yang punya ide?” dia mencomot satu makanan berlapis daun. “Ini apa ya? Lemper?”
Pak Dahlan tergelak, “jamuan makan seperti ini ideku, dan yang anda makan itu namanya Makizushi, bisa dibilang semacam lemper Jepang.”
“Aneh – aneh aja, lemper ya lemper bukan mitsubishi. Aku sih tidak peduli lempernya, aku peduli sama tatakannya ini…” kata Pak Kobar mengedipkan mata sambil mencolek tatakan makanan yang ia maksud.
Terdengar suara erangan.
Pak Bejo dan Pak Dahlan tertawa, sementara Imron berusaha menahan tawa karena masih mengunyah makanan.
“Lemper yang ini rasanya manis.” Kata Pak Kobar lagi setelah mencicipi makanan yang ia ambil, “ambil lagi boleh, kan?”
Pak Dahlan mengangguk – angguk sembari juga menjumput satu penganan, “silahkan pak, silahkan…”
Ketika mengambil sekali lagi, secara sengaja… atau mungkin juga tidak, makanan yang diambil Pak Kobar jatuh ke tatakan. “Aduh… cerobohnya aku. Makanan enak sebaiknya jangan disia – siakan!” Pak Kobar memajukan kepalanya dan memakan apa yang tadi jatuh langsung di tatakan! Mulutnya mengunyah dan menjilat di tatakan itu.
Saat lidah Pak Kobar menjilat, tatakan itupun bergetar.
Bukannya jijik, bapak – bapak itu justru tertawa bersamaan.
Bibir Pak Kobar tidak berhenti begitu saja, ia masih terus menjilat dan mencium, sementara tatakannya juga tidak berhenti bergetar.
Kenapa bisa demikian?
Wajar saja, karena apa yang disebut tatakan itu sebenarnya adalah Anissa! Gadis malang itu berbaring telanjang dengan bagian mata ditutup handuk yang dilipat, tubuhnya yang indah dihidangkan tepat di muka Pak Dahlan, Pak Bejo, Imron dan Pak Kobar yang duduk bersila. Di atas tubuh Anis dihidangkan makanan – makanan kecil, ada yang makanan asli lokal, ada yang ala Jepang. Selama makanan dihidangkan dan belum habis, Anissa harus diam saja terbaring mematung tanpa boleh bergerak sedikitpun.
“Konsep jamuan makan menggunakan tatakan hidangan cewek telanjang seperti ini namanya nyotaimori dan asalnya dari Jepang,” kata Pak Dahlan. “Agar bisa menghidangkan makanan di atas tubuh cewek telanjang seperti ini, tubuh si cewek harus benar – benar bersih. Dimandikan dengan sabun khusus yang memiliki aroma wangi spesial agar membangkitkan selera. Itu sebabnya si Anis ini tadi sudah saya minta mandi sampai bersih. Tentu saja, Pak Bejo yang memandikannya.”
Pak Bejo terkekeh sementara Pak Kobar tidak peduli apa yang dikatakan oleh Pak Dahlan, ia terus saja menjilati perut Anis, pemilik hotel melati tempat mereka berkumpul saat ini itu mengincar buah dada sang dara jelita. Namun rupanya Imron jauh lebih cepat, dengan cekatan penjaga kampus itu mengambil makanan yang mirip lemper yang diletakkan di atas buah dada Anissa. Geliat lidah Imron yang menyusuri lekuk dada membulat milik Anissa membuat si cantik itu menggelinjang tak henti, antara geli dan jijik. Ia mengeluarkan desahan dan erangan.
Walaupun mata si cantik itu ditutup oleh handuk, namun Pak Bejo bisa melihat air mata menetes di pipi Anissa. Ia hanya tertawa, “eh, kalau jadi tatakan kamu tidak boleh menangis. Lagipula kamu kan tidak diapa – apain.”
“Jangan lama – lama ya kalian, kalau makanannya sudah habis aku mau mencicipi tatakannya.” Kata Pak Dahlan. “Aku sudah mengeluarkan uang buat mempersiapkan jamuan ini, jadi pantas kalau aku duluan yang pakai hari ini.”
Pak Kobar mengerang kecewa karena sebenarnya dia berharap bisa memakai Anissa.
Pak Dahlan tertawa nakal, dia memberi tanda dengan menyilangkan telunjuk secara vertikal di depan mulut pada Imron dan Pak Kobar agar mereka tidak mempermasalahkan siapa yang akan memakai Anissa hari ini. Imron geleng – geleng kepala, “dasar otak kontol. Tidak bisa lihat barang bagus nganggur sebentar saja.”
Mendengar apa yang akan terjadi pada dirinya sebentar lagi, lelehan tangis Anissa makin deras turun meski tidak sampai bersuara. Tubuhnya menggigil saat ia senggugukan.
Imron memberi tanda pada Pak Bejo yang langsung berbisik pada Anis. “Kalau kamu tidak diam, kami yang ada di sini akan langsung memperkosamu beramai – ramai sampai pagi. Kalau kamu tidak mau itu terjadi biar kami selesaikan makan dengan tenang dan nanti kamu hanya perlu melayani Pak Dahlan. Mengerti?”
Anissa mengangguk karena ketakutan.
“Ayo kita lanjutkan pestanya!” teriak Pak Bejo dengan senang. Iapun mengambil kesempatan untuk mencium bibir Anissa yang tengah merekah. Bibir mereka bertemu dan bertumbuk, bibir tebal milik seorang pria berusia lanjut dengan seorang gadis muda yang sangat seksi.
Lidah Pak Bejo menggeliat cepat di antara struktur manis bibir Anis, menjelajahi dan mengelilinginya. Membuat si cantik itu menggelinjang karena selain dicium begitu nafsu oleh Pak Bejo, Imron tengah menjelajahi buah dadanya sementara perutnya menjadi bagian dari serangan Pak Kobar.
Pak Dahlan sendiri tidak ikut menyerang karena setelah ini, dialah yang akan meniduri Anissa. Dia menyimpan tenaganya.
Anissa hanya bisa diam dan pasrah membiarkan para pria tua ini menjilati tubuhnya beramai – ramai. Ia teringat wajah Dodit yang kecewa kemarin, wajah orangtuanya, wajah Pak Doni… mengapa dia sampai jatuh ke perangkap Pak Bejo seperti ini?
Kenapa dia setuju mengikuti semua perintahnya?
Anissa kembali melelehkan air mata.
###
Sepeninggal Pak Dahlan dan Anissa yang masuk ke kamar berdua, Imron, Pak Kobar dan Pak Bejo melanjutkan bersenda gurau. Setelah cukup lama berbincang – bincang, tiba – tiba telepon genggam Pak Kobar berdering nyaring.
“Halo? Ya, aku masih di motel. Kamu mau kesini? Boleh, ya kesini saja.” Pak Kobar menutup hape dan kembali mengantonginya, “Keponakanku. Minta duit buat pinjem bokep di rental, aku suruh kesini saja.” Kata Pak Kobar. “Walaupun sudah sering ngewe tapi ponakanku ini masih malu – malu kucing, kucingnya ya kucing garong, dibilang malu tapi suka nyolong. Daripada belajar dari bokep, mending kita kasih dia pertunjukan langsungnya.”
Pak Bejo dan Imron tertawa bersama.
Tak sampai lima menit kemudian terdengar ketukan di pintu, ketika Pak Kobar membukanya masuklah seorang pemuda. Kulitnya gelap dan wajahnya jauh dari tampan. Rambutnya yang keriting tak terawat membuatnya makin terlihat kumal. Usianya sebenarnya baru menjelang 20, tapi wajahnya terlihat lebih tua dari itu.
“Ini keponakan saya, Bahrudin, tapi panggilannya Udin.” Kata Pak Kobar.
Pemuda yang berpenampilan kusut dengan rambut semrawut itu segera menyalami kedua orang yang ada di hadapan Pak Kobar. Sambil menunjuk, Pak Kobar mengenalkan mereka, “yang ini Imron, yang itu Pak Bejo. Mereka berdua kawan bisnisku.”
“Selamat datang, Din.” Kata Imron sambil memberi salam.
“Salam kenal, santai saja di sini.” Kata Bejo.
“Rasanya wajahmu nggak asing, Din?” tanya Imron. “kamu kuliah di Universitas X?”
“Betul. Saya kuliah di sana di Fakultas X.”
“Ooo, pantes aja kok aku sepertinya pernah lihat.” Lanjut Imron. “Dunia memang sempit. Aku penjaga kampus itu, tapi lebih sering berkeliaran di Fakultas XX.”
“Oooh, itu sebabnya tadi wajah Om Imron tidak asing.” Kata Udin sambil cengar cengir.
“Ayo duduk sini, itu ada bir atau kalau tidak minum bir, di sana ada teh botol.” kata Pak Bejo sambil menunjuk ke arah meja sajian. “Kamu sedikit terlambat, tadi di sini ada sajian spesial.” Katanya sambil tersenyum lebar.
“Iya, Pak.” Udin mengangguk sopan dan duduk di samping Pak Kobar.
“Gimana, Din? Kamu nggak jadi pinjem bokep ke rental?” tanya Pak Kobar yang disambut gelak tawa Imron dan Pak Bejo. “Di sini saja banyak live show, kenapa harus pinjem di rental?”
“Itulah, Pakde.” Kata Udin ikut tergelak, “saya jadi tertarik waktu tadi Pakde bilang ada live show. Memangnya live show macam apa?”
“Pakdemu itu kan orang kreatif, Din.” Timpal Imron, “begitu punya duit, dia langsung pasang CCTV di semua sudut kamar, hasilnya kalau ada pasangan ngewe, pakdemu ini dapat tontonan gratis. Kalau kamu mau lihat, bisa nonton di TV yang ada di kamar pojok. Aku yang bantuin masang kabel CCTVnya tempo hari.”
“Oooo, gitu. Wah menarik sekali, saya boleh lihat dong, Pakde?”
“Boleh aja, mau langsung sekarang?” tanya Pak Kobar, melihat anggukan Udin, iapun geleng – geleng sambil tersenyum lebar. “Dasar anak jaman sekarang, otak gak jauh dari selangkangan. Pak Bejo mau ke belakang? Sekalian tolong anterin ya si Udin ya?”
“Oke.” Pak Bejo yang sedikit mabuk karena kebanyakan minum bir berdiri sempoyongan. Ia harus menjejakkan kaki beberapa kali untuk bisa berdiri tegak. Setelah yakin bisa berdiri, pria tua itu merangkul Udin tanpa lupa menarik satu botol minuman keras. Mulutnya yang bau bir membuat Udin agak sedikit jengah namun dia tetap tersenyum, jangan sampai gagal nonton live show nih!
Sembari berangkulan Pak Bejo dan Udin berjalan keluar ruangan penjaga motel dan berjalan menuju sebuah kamar kecil di pojok. Kamar itu sebenarnya disediakan Pak Kobar untuk karyawannya yang mau tidur usai jaga malam, tapi hari ini kamar itu sepi karena Pak Kobar meliburkan karyawannya berkaitan dengan jamuan makan spesial bersama Pak Dahlan, Pak Bejo dan Imron.
Masuk ke ruangan, Udin mengajak Pak Bejo untuk menonton bersama namun orang tua itu menolak, karena mabuk gelengan kepalanya lebih kencang dari seharusnya.
“Tidak usah, aku mau ke belakang dan tidur setelah ini. Kamu nonton saja di situ, gambarnya lumayan jelas. Aku juga sering nonton kalau lagi ada pasangan ngewe.” Kata Pak Bejo sambil menyalakan layar CCTV, suara desahan terdengar cukup keras ketika suara dikencangkan. Pak Bejo tergelak ketawa, “Itu Pak Dahlan sedang ngentotin kembang baruku, masih muda dan cantik. Kamu kenal Pak Dahlan kan?”
“Tahu, Pak. Dosen di Universitas X. Saya kan juga kuliah di sana, cuma beda jurusan. Pakde Kobar yang cerita.”
“Iya betul. Ya sudah, nonton saja.”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
“Aku tinggal dulu ya,” kata Pak Bejo sambil menenggak birnya sekali lagi.
“Iya Pak.”
Udin mengeluskan telapak tangannya mengusir dingin, ini nih! Nonton live show! Seru!
Layar CCTV itu berwarna dan memiliki suara yang jernih walaupun hanya bisa ditonton melalui sebuah tv berukuran 14”, tapi bagi Udin semua jadi serasa high-def karena dia ingin sekali menyaksikan live show seks semacam ini. Udin cekikikan melihat di layar ada seorang pria yang sudah berumur menggumuli seorang gadis yang sepertinya cukup cantik dan muda belia.
Ya, gadis itu sangat cantik. Terlalu cantik malah untuk pria seperti Pak Dahlan, wajahnya yang cantik itu…
Udin memicingkan matanya, kenapa kok rasanya dia mengenal gadis itu ya? Pernah lihat dimana ya? Seperti…
Udin terbelalak kaget!
ITU KAN ANISSA??!!
Lampunya redup, tapi Udin bisa melihat dengan jelas. Gadis yang sangat ia kenal, yang pernah mengisi relung hatinya, yang membuatnya tak bisa tidur siang malam, yang ia inginkan seumur hidup, yang ingin ia jadikan ibu dari anak – anaknya, gadis yang ia cintai… bagaimana mungkin gadis itu sekarang berada di sana sedang bergumul tanpa busana dengan Pak Dahlan?!
Tak salah lagi, ia hapal benar wajah dan lekuk tubuh Anis! Benar itu Anissa! Anissa ada di sana! Terbaring telanjang di samping Pak Dahlan, salah seorang dosen Universitas X. Tangan Anis bergerak lincah menyusuri penis Pak Dahlan dan mengocoknya pelan sementara dosen itu memainkan payudara Anissa dengan bebas.
Udin benar – benar terkejut, dia tak mampu menggerakkan badan sedikitpun.
Bangsat tua itu!! Apa ia lakukan pada Anissa?!
Namun Udin perlahan menyadari, Anissa tidak seperti terpaksa melakukan ini semua, dia diam saja dan menerima perlakuan Pak Dahlan dengan pasrah, bahkan terkadang membalas perlakukan pria tua itu dengan lembut.
Apakah… apakah Anis sebenarnya adalah seorang pelacur?
Tidak mungkin.
Tidak mungkin…
Tidak mungkin!
Tidak mungkin itu Anissa?!!!
Walaupun besar keinginan Udin untuk mengingkari perasaannya bahwa gadis yang tengah bergumul dan berpagutan dengan Pak Dahlan di ruangan itu adalah Anissa, namun setelah detik demi detik berlalu untuk memastikan gerak tubuh yang sangat ia hapal itu memang benar yang ia kenal, Udin semakin dihadapkan pada kenyataan bahwa gadis itu memang benar Anissa.
Jemari Pak Dahlan terus saja memainkan puting susu Anissa dengan bebasnya, gadis itu menggelinjang karena rangsangan yang terus ia terima. Pak Dahlan tak berlama – lama di sana, tangan dosen tua itu akhirnya sampai di bibir kemaluan Anis.
“Ja, jangan, Pak…” protes si cantik itu ketakutan.
Pak Dahlan tentunya tidak mau berhenti begitu saja, jari tengahnya dengan lembut mengelus ujung kelentit Anissa.
“Sa, saya puaskan cuma pakai tangan saja boleh, Pak?” Anis masih terdengar takut.
“Aku mau merasakan memekmu.” Tangan dosen itu menangkup kemaluan Anis yang merekah merah dengan malu.
Anissa mendesah ketika jemari Pak Dahlan makin nakal, membuat si cantik itu mau tak mau membuka jenjang kakinya lebar. Salah satu tangan Anis mencoba menahan jemari Pak Dahlan agar tidak terus menerus menggoyang kelentitnya yang makin membuat Anissa gila.
“Ja, jangan… pak…”
Pak Dahlan tidak menjawab, bibirnyalah yang bergerak maju untuk mencium bibir mungil Anis. Udin tidak bisa mendengar bunyi ciuman mereka dari tempat ia menonton, tapi ia seakan bisa mendengar kecupan yang berkecipak cukup keras, basah dan lengket. Jelas mereka melakukannya dengan mulut yang terbuka. Tangan Pak Dahlan makin maju, kini masuk ke dalam liang cinta Anis dan bergerak memutar di dalam. Pemandangan ini, suara desahan yang kian lama terdengar makin keras dari keduanya, membuat Udin makin panas, ia tak bisa bergerak sedikitpun.
Udin bersumpah ia bisa melihat jempol Pak Dahlan bergerak untuk menstimulasi kelentit Anis menggantikan jari tengahnya yang kini masuk ke dalam memek Anissa menemani jari telunjuknya. Kaki Anissa yang jenjang ditekuk lututnya ke kanan dan kiri untuk memudahkan Pak Dahlan bermain. Bahkan pantat Anis pun kini bergerak seiring dengan gerakan jemari nakal Pak Dahlan. Udin bahkan bisa melihat saat Pak Dahlan membuka bibir kemaluan si cantik itu lebar – lebar untuk memperlihatkan bagian dalam liang yang berwarna merah muda. Udin gemetar, itu adalah bibir kemaluan gadis yang ia cintai!
Detak jantung Udin makin lama makin keras, ia tidak tau apakah sebaiknya menangis atau berteriak. Ia tidak rela Anissa diperlakukan seperti ini, namun ia juga tak bisa mengingkari kalau pemandangan ini membuatnya terangsang hebat. Udin hanya bisa terpaku karena tak percaya apa yang ia lihat, ia bahkan tak percaya ia masih bisa bernafas setelah melihat semua ini.
Tangan Pak Dahlan kini bergerak dari bawah ke atas kembali, mengincar buah dada sempurna milik Anis, ia meremas – remas kenyal payudara itu dan memilin pentilnya yang mungil. Ia tak lama melakukannya karena kemudian salah satu tangannya segera membimbing penisnya yang sudah mengeras ke bibir kemaluan Anissa. Udin bisa melihat kalau Anis ketakutan melihat penis itu mulai bergerak tanpa henti di mulut vaginanya, benar saja, dengan satu sodokan tanpa aba – aba Pak Dahlan melesakkan kontolnya ke dalam memek Anissa, membelahnya tanpa ampun, Anis hanya bisa menjerit karena sakit. Udin gemetar karena marah dan cemburu, pria itu tak pantas menyetubuhi Anis! Ia tak rela penis Pak Dahlan masuk ke dalam vagina Anissa yang ia cintai! Tapi… tapi pemandangan ini membuatnya… sangat panas… emosi dan nafsu Udin berbaur menjadi satu menimbulkan percikan perasaan yang tak bisa ia gambarkan.
Bibir kemaluan Anissa merekah menyambut penis Pak Dahlan yang keluar masuk tanpa ampun, bergerak cepat penuh tuntutan. Tubuh Udin gemetar antara tak tega melihat Anis diperlakukan seperti itu dan nafsu birahi binatang yang menggelegak dalam tubuhnya. Gadis yang cantik itu, yang jadi pujaan di kampus, yang telah bertunangan dengan seorang pria yang baik, sedang digauli oleh seorang serigala tua yang buas. Udin masih terus menatap tak percaya.
Ujung gundul penis Pak Dahlan menumbuk Anissa seperti pejuang yang hendak meruntuhkan tembok pertahanan musuh, cepat dan keras, tubuh Anis berulangkali terlonjak antara rasa sakit dan desakan yang sangat keras dari bawah. Udin sadar tak ada gunanya ia memprotes apa yang terjadi. Dalam alam bawah sadarnya ia ingin ini terjadi, ia ingin Anissa yang telah menolaknya itu dihakimi dan direndahkan seperti ini. Namun kecipak ciuman yang terjadi antara dosen dan mahasiswi dengan rentang usia jauh itu membuat Udin sakit hati.
Kenapa bukan dia yang ada di sana memeluk sang buah hati?
Kenapa bukan dia yang ada di sana mencium Anissa?
“Kamu manis sekali.” kata Pak Dahlan yang masih memeluk Anis.
Pak Dahlan mencium bibir Anis sekali lagi dan membisikkan beberapa kata yang terlalu pelan bagi Udin untuk bisa mendengarkannya. Tapi ia bisa melihat dengan jelas penis Pak Dahlan masih terus keluar masuk, menguasai vagina Anissa.
Yang bisa didengarkan Udin adalah suara erangan penuh nafsu yang dikeluarkan dari mulut manis Anissa. Gadis itu mendesah, mengembik dan mengerang ketika penis lelaki tua yang pantas menjadi ayahnya itu menguasai liang cintanya yang mungil.
Air mata hampir menetes di pelupuk mata Udin.
Sudah cukup. Sepertinya itu semua sudah cukup, batin Udin sambil berdiri dan mematikan TV. Ia tidak butuh melihat ini lebih lama lagi. Ia berhenti bukan karena ia tidak ingin melihat kemolekan Anissa, ia berhenti karena tidak kuat menahan gejolak cemburu dan nafsu yang terus menggelegak dan memangsanya dari dalam. Dengan pilu Udin meninggalkan tempatnya menonton. Pedih rasanya melihat Anissa seperti itu. Kenapa, Nis? Kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu jatuh ke dalam situsasi hina seperti itu? Apa yang telah terjadi?
Tangan pemuda itu terkepal dan nafasnya menjadi tak teratur.
Ya. Udin tahu apa yang ia inginkan.
Bukan. Ia tidak menginginkan jawaban kenapa Anissa berbuat demikian.
Yang ia inginkan adalah Anissa. Ia ingin tubuh indah itu jadi miliknya.
Ketika ia kembali ke ruangan tempat Pak Kobar, Pak Bejo dan Imron berada, mereka masih saja bersenda gurau dan bermabuk-mabukan. Udin menolak tawaran bir, duduk di pojok dan langsung memeras otak. Besok dia harus bicara dari hati ke hati dengan Anissa.
Oh ya, hati – hatilah Anissa.
Udin yang baru telah datang.
…dan kamu akan membayar mahal atas semua ini.
Bersambung…
ANISSA TERANIAYA (2)
Burung – burung berkicau di pagi yang indah, matahari bersinar terang dan hembusan angin sepoi membuat pagi itu terasa sejuk. Terlebih di Kampus X yang mahasiswanya sedang mempersiapkan diri untuk masuk kelas, sejuknya angin menjadikan suasana menjadi lebih tenang dan damai.
Dodit yang saat itu mengantarkan Anissa tengah duduk – duduk bersama tunangannya dan juga Ussy dan Udin. Sebenarnya Udin tidak diundang ke dalam percakapan mereka, tapi tentu saja ketiga kawan lain tidak mungkin menolak kehadiran pemuda aneh itu. seperti biasa, dia selalu bergabung sambil mengucapkan puisi – puisi gombal yang membuat Dodit, Ussy dan Anissa menahan tawa.
Anissa masih belum berubah, sikapnya sama dengan kemarin, dia masih menjadi sosok yang pendiam dan hanya mengeluarkan sepatah dua patah kata saja. Dodit sampai kebingungan dibuatnya. Ia melihat jam tangan dan menggelengkan kepala.
“Aduh, sudah waktunya aku pergi. Aku pamit dulu ya, sayang.” Kata Dodit sambil menepuk punggung tangan Anissa dan mencium kening kekasihnya itu. Anis hanya mengangguk dan tersenyum seulas. Tidak kurang dan tidak lebih. Udin melengos dan menghembuskan nafas karena cemburu melihat kedekatan mereka berdua.
“Dodit! Kamu mau lewat mana?” tanya Ussy tiba – tiba.
“Aku.. mungkin lewat pintu timur, kenapa?”
“Ah, kebetulan! Aku numpang sampai gerbang boleh?” Ussy menggoyangkan gulungan kertas yang isinya cukup banyak. “Aku harus fotokopi catatan kuliah ini semua rangkap lima.”
Dodit tersenyum, “tentu saja boleh. Yuk.”
“Oke, eh aku pinjam dulu tunanganmu, ya? Janji tidak akan lama, hi hi…” Ussy melambaikan tangan pada Anis dan Udin yang langsung disambut anggukan Anis dan senyum lebar Udin. Setelah Ussy dan tunangannya pergi, Anissa seperti tidak peduli dan membalikkan tubuh.
Senyuman Udin semakin lebar, tentu tidak ada yang memperhatikannya.
Dodit dan Ussy berjalan beriringan, sebenarnya kepergian dengan Dodit ini hanya alasan Ussy saja karena ia butuh waktu untuk membicarakan sesuatu dengan tunangan sahabatnya itu. “Dodit, kamu tahu tidak sikap Anissa akhir – akhir sangat aneh.” Kata Ussy saat mereka sudah jauh dari posisi Anis dan Udin.
Dodit menundukkan kepala dan memainkan kunci mobilnya dengan kaku, “aku tahu. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa dia bersikap demikian. Sepertinya aku tidak pernah berbuat salah kepadanya.”
Ussy menelengkan kepala, “kamu yakin kamu tidak pernah berbuat salah? Yang di sana itu bukan Anissa, dia bagaikan gadis asing yang tidak kita kenal sama sekali! Pasti ada sesuatu!”
“Aku juga tahu, tapi sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi padanya.” Dodit sempat menengok ke belakang untuk melihat Anissa, namun terhalang rindang pepohonan taman di depan kantin tempat tadi mereka duduk – duduk, ia menghela nafas dan menggelengkan kepala. “Entahlah, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari tahu, tapi Anis itu tertutup sekali.”
Ussy ikut menghela nafas sedih, “yang sabar ya. Aku juga kehilangan Anissa yang dulu.”
Dodit tersenyum pahit.
Ketika Ussy dan Dodit melangkah pergi, Anis juga melakukan hal yang sama menuju kelas, namun ke arah yang berlainan.
Ia diikuti oleh Udin.
Udin berkali – kali melihat ke arah belakang untuk memastikan Ussy dan Dodit sudah hilang dari pandangan dan ketika saat itu tiba, Udin memanggil gadis jelita disampingnya dengan pelan.
“Nis…”
Anissa menengok ke samping dan melihat ke arah Udin. “Ya, Din?”
Tapi Udin diam saja, ia bukannya menjawab malah menikmati kecantikan Anissa seperti hendak menelannya hidup – hidup. Dari atas, dari ujung rambut yang indah, hingga ke bawah, melalui lekuk tubuh yang seksi dalam balutan pakaian sederhana dan jeans ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh yang indah.
Pandangan mata Udin sangat menghina, membuat Anissa menjadi jengah. Ia mencoba menghindari tatapan Udin dan melangkah menjauh. Tapi Udin mengejarnya dan memaksakan diri untuk bertatapan muka kembali dengan sang dara jelita itu. Anissa mengerutkan kening, mempertanyakan sikap Udin yang aneh ini.
“Ada yang ingin kamu katakan, Din?”
“Aku tahu rahasiamu… Anissa…”
“Apa maksudmu?” Anis menghela nafas, mau apa lagi anak satu ini? Apa sih yang sudah diketahui Udin? Apakah…
“Semalam… di hotel melati X.. aku melihat…”
Mata Anis mulai terbelalak terbuka, tidak mungkin…!
“…kamu… sedang berduaan dengan Pak Dahlan…”
Kini mulut Anissa yang terbuka lebar, jantungnya seakan berhenti berdenyut dan nafasnya menjadi sangat berat! Udin tahu??!! Bagaimana dia bisa tahu?? Aduh, bagaimana ini?!! Dengan ketakutan dan panik Anis mencoba mencari alasan. “I…itu bukan aku! Aku semalam ada di ru-… rumah!”
“Oh ya? Kalian ada di kamar nomer XXX dan bercinta hingga larut malam sampai Pak Dahlan mengantarkanmu pulang. Semalam kamu meninggalkan tas di ruangan penjaga hotel dan aku sempat membuka tas itu untuk mengambil sepucuk kartu mahasiswa sebagai bukti seandainya aku bertemu dengan pemiliknya…”
Keringat Anis turun deras.
“Ini punyamu, kan?” Udin mengeluarkan kartu mahasiswa Anissa dari kantong bajunya.
Kepala Anissa berputar dan pandangan matanya berkunang – kunang. Pantas saja ia tidak bisa menemukan kartu itu tadi pagi! Anis duduk di kursi beton yang ada di belakang mereka dengan hempasan tubuh yang pasrah. Kepalanya menunduk dan tangannya digunakan untuk menyandarkan kening. “Apa maumu, Din?”
Udin terkekeh sambil duduk di samping Anissa, “Oh aku tidak mau apa – apa. Aku hanya ingin mendapatkan penjelasan darimu.”
“Penjelasan?”
Udin meremas – remas jemari Anis dengan gemas, membuat gadis itu merasa risih. Ia menyentakkan tangan Udin dan menatapnya galak.
“Maumu apa sih, Din? Jangan kurang ajar ya! Awas kamu!” desis Anissa dengan jengkel.
“Aku hanya butuh waktu untuk berdua saja denganmu dan mendengarkan penjelasanmu tentang apa yang terjadi semalam di Hotel X! Bukan hal yang susah kau iyakan karena selama ini kamu juga sudah melayani banyak lelaki lain.” Bisik Udin dengan pandangan mata yang sangat merendahkan. Sambil mengutarakan maksudnya, tangan Udin tak henti bergerak menelusuri lekuk tubuh Anissa yang aduhai.
Mata Anissa terbelalak kaget! Bagaimana Udin bisa tahu…
“Pak Kobar adalah pakdeku, Nis! Aku tahu apa yang kamu lakukan semalam dengan Pak Bejo, Pak Dahlan dan Om Imron! Siapa yang mengira, Nis. Di balik penampilanmu yang sopan dan santun, ternyata kamu adalah seorang pelacur!”
Langit seakan runtuh menimpa kepala Anissa! Ia kaget setengah mati, tidak saja karena Udin mengetahui rahasianya, melainkan juga karena Udin mengatainya pelacur!
“Kurang ajar kamu, Udin! Aku melakukan itu semua karena terpaksa! Aku ini bukan pelacur!”
“Entah bagaimana aku harus menghitung sakit hatiku, Nis.” Udin menunjukkan wajah sedih dan geram. “Yang pertama? Aku selama ini selalu memujamu, menganggapmu suci, menganggapmu sebagai wanita terindah yang jauh dari nista. Kenyataannya? Kamu tak ubahnya lonte pinggir terminal yang hobi mengobral vagina. Selama ini aku mengalah dari Dodit karena aku pikir kalian adalah pasangan serasi. Ternyata…”
“Sudah aku bilang aku melakukannya karena terpaksa, Din! Walaupun tubuhku pernah dijamah lelaki lain, hatiku selalu dan selamanya akan menjadi milik Dodit.”
“Tapi justru di situlah sakit hatiku yang kedua, Nis.” Udin masih tak bergeming, matanya berkaca – kaca. “sejujurnya, aku mencintaimu. Aku tak rela kamu dimiliki siapapun kecuali aku. Menyaksikanmu disetubuhi orang lain membuatku sakit, Nis. Sangat sakit. Melihatmu berdua dengan Dodit membuatku ingin mengiris urat nadiku sendiri. Setiap kali aku melihatmu, setiap kali pula aku cemburu.”
Anissa seperti dihantam palu raksasa yang meluluhlantakkan hati dan perasaannya. “Kamu… mencintaiku…?”
“Aku hanya ingin diberi kesempatan untuk bersamamu berdua saja.”
Anissa menunduk dan airmatanya membayang, demi dewa…kapan ini semua akan berakhir? Kenapa semua orang menginginkannya? Apa kelebihannya? Dia hanya gadis biasa saja! Hanya karena dia cantik?! Hanya karena dia seksi?! Dia hanya gadis biasa saja! Kenapa semua orang ingin mendekatinya dengan alasan yang dibuat – buat? Apakah mereka tidak sadar bahwa dia bukanlah seonggok daging yang tak berperasaan? Dia juga manusia!
“Bagaimana, lonteku sayang?”
“Sekali lagi kau panggil aku seperti dan aku akan…”
“Apa?” tantang Udin, “kamu mau apa? Apa hah? Lonte ya lonte!”
Air mata menggenang deras di ujung mata Anissa, “baik! Kalau itu maumu! Aku memang lonte! Aku lonte terkutuk! Pelacur murahan! Kamu mau tubuhku? Aku beri! Kamu mau aku telanjang sekarang? Bisa! Di depan semua orang ini aku akan telanjang! Aku akan beri kamu kenikmatan! Itu mau kamu, kan?”
“Malah nyolot! Siapa bilang aku mau tubuhmu?! Aku hanya ingin penjelasanmu!” Udin makin marah, ia menengok ke kanan kiri untuk memastikan tidak ada teman yang menyaksikan pertengkaran mereka. “Oke! Kalau itu maumu! Ikut aku sekarang juga ke losmen di utara kampus! Kita pesan short time agar bisa bicara dari hati ke hati tanpa gangguan seorangpun! Kita bicara terus terang dan selesaikan semuanya di sana!!”
Anissa yang tak berdaya ditarik dengan kasar oleh Udin, kenapa harus ke losmen? Apa yang harus dilakukannya? Sepertinya semua keputusannya selalu salah. Keadaan bukannya semakin membaik, melainkan justru bertambah parah. Kini dia harus menuruti apa permintaan Udin karena kalau tidak Udin akan menyebarkan aibnya dan orang – orang di kampus ini akan mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu. Anis menatap geram ke arah Udin.
###
Anissa melelehkan air mata ketika Udin memeluknya dari belakang dan memberi kehangatan. Udin mengecup pundak Anis yang berpeluh. Ia kagum pada gadis bertubuh indah ini, lihat saja kulitnya yang putih dan mulus ini, bahkan air keringatpun meluncur menuruni pundaknya seakan tak mampu berpijak. Tak ingin rasanya Udin melepas tubuh Anis, ia ingin selalu memeluknya. Udin membelai seluruh tubuh Anissa dari belakang dengan penuh kelembutan dan rasa cinta.
Tanpa disadari Udin, lelehan air mata Anis menetes dari kelopaknya yang memerah. Seumur hidupnya, Anis tak pernah membayangkan ia akan melayani Udin bermain cinta seperti ini. Tidak saja pernah membayangkan, ia sebenarnya tidak akan sudi melayani Udin seandainya saja tidak seperti ini keadaannya. Dunia seakan gelap bagi Anis, makin lama makin gelap.
Bahrudin atau Udin, selalu membayangkan Anissa setiap kali dia bermasturbasi di kamar mandi paling tidak seminggu tiga kali. Bulat pantat yang bergoyang menggoda setiap kali Anis berjalan didepannya, paha mulus milik kaki jenjang yang sering diperlihatkan saat Anis mengenakan hot pants, rambut panjang halus yang sebelumnya dia pikir hanya bisa dimiliki oleh seorang model iklan shampoo, kulit mulus seputih pualam yang halus licin, satu tubuh sempurna seorang wanita jelita yang layaknya bidadari khayangan. Dulu sekali, desakan dada kenyal Anis yang menumpuk dada Udin saat mereka berpelukan pada acara ulang tahun gadis jelita itu membuat batang kemaluannya tegang tak mau turun untuk beberapa saat lamanya, kini Udin bisa memeluknya lebih lama.
“Kenapa kamu melakukannya, Nis?” tanya Udin dengan suara parau. Nafsunya sudah menggelegak tapi ia mencoba bertahan demi berbincang sejenak.
Anissa yang kebingungan tergagap mencoba menjelaskan duduk masalahnya, “I.. ini.. itu.. maksudku, apa yang… apa yang aku lakukan tidak… tidak seperti.. yang kau bayangkan, Din.”
“Apa maksudmu tidak seperti yang aku bayangkan? Coba saja kamu menemui teman baikmu sedang bergumul dengan laki – laki lain yang bukan suaminya, bahkan bukan tunangannya.. bermain cinta semalam suntuk! Apa menurutmu yang aku bayangkan?” gertak Udin.
“A..aku tidak bercinta,” Anissa mencoba bertahan, nada suaranya bergetar karena takut, “aku dipaksa.. aku terpaksa melakukannya karena.. karena orang itu menyimpan.. gambar dan videoku! Orang itu..”
Udin menatap gadis itu tanpa perasaan iba sedikitpun, membuat Anissa kian turun mental dan percaya diri. “Sekarang coba jawab pertanyaan mudah ini, Nis.” Kata Udin tegas. “Benar atau tidak kamu sudah tidur dengan laki – laki lain yang bukan suami, tunangan bahkan pacar kamu? Mudah kan jawabannya? Benar atau tidak?”
“Aku tahu, Din! Aku tahu! Aku tahu aku mengacaukan semuanya!” suara Anis makin terdengar getarannya, ia memohon dengan putus asa, “tapi aku akan memperbaiki semuanya, begitu gambar dan video itu dihapus, aku akan baik – baik saja, semua akan baik – baik saja, Dodit tidak perlu tahu.”
“BODOH!” bentak Udin.
Bentakan pemuda itu membuat Anissa melompat karena kaget, ia tidak menduga Udin akan mengeluarkan suara sekeras itu. Bibir bawah Anissa bergetar, matanya yang bulat, besar dan indah kini mulai mengambangkan air mata, Anissa gemetar di hadapan Udin, wajahnya yang jelita memerah karena perasaan bersalah, ia bagaikan tengah dihakimi. Batang kejantanan Udin justru makin menegak melihat gadis yang sudah pasrah ini.
“Yang namanya pengkhianatan tidak ada alasan. Kamu sudah berkhianat atas cintamu pada Dodit, aku seharusnya menghubunginya untuk…”
“Jangan! Jangan, Din! Aku mohon! Aku mohon!!” Anissa mengangkat tangannya untuk mencoba menahan Udin, karena lengannya mendesak dada dan menyempit, Udin bisa melihat buah dada Anissa seperti ditekan dan menghunjuk ke depan dengan indahnya. Gila, Anissa memang benar – benar gadis yang teramat seksi.
“Jangan, jangan lakukan itu, Din! A..aku harus pulang, aku akan pulang dan tidak akan melakukannya lagi. Aku janji, aku janji perbuatan terkutuk itu memang harus dihentikan..”
“BODOH LAGI!” kembali Udin membentak Anissa. Ia kini benar – benar memuncak emosinya, “kamu sadar tidak semua sudah terlambat? Yang kamu hadapi itu orang – orang berbahaya yang tidak bisa dianggap main – main! Seharusnya dari dulu kamu sudah lapor polisi! Sekarang lihat apa yang terjadi! Kamu sadar tidak pada kebodohanmu?” Udin membalikkan badan dan mencoba meraih telepon genggam yang ia letakkan di meja. Anissa yang terkejut segera mengejar Udin, membalikkan tubuhnya dan menahan tangannya.
“Bahrudin! Jangan, Din. Aku mohon!!! Aku benar – benar mohon padamu, jangan ceritakan semua ini pada Dodit! Jangan pernah! A..Aku sangat mencintainya, Din! Aku sangat – sangat – sangat mencintainya! Jangan biarkan dia tahu aku telah menjadi wanita yang hina seperti ini! Jangan biarkan hatinya hancur, Din!! Aku mohon!” bola mata indah milik Anissa menjadi sangat sayu saat ia meratap memohon agar Udin tidak menghubungi tunangannya, ia bahkan memanggil Udin dengan nama lengkap tanpa sadar.
Udin menatap gadis itu iba, ia bisa merasakan nafas berbau mint yang segar dari mulut sang dara dan tetesan keringat membasahi belahan buah dada gadis jelita itu. Tubuh seksi itu kini hampir – hampir memeluk Udin, memohon dengan putus asa. Tanpa perlu dipinta, Udin sebenarnya tidak ingin melaporkan apapun pada siapapun, ia sangat mencintai Anissa, bahkan mungkin lebih dari apa yang ia sendiri bayangkan. Tapi kini rasa sayang itu berubah menjadi nafsu berlipat ganda. Udin mengangkat tangannya dan menyentuh kulit mulus Anissa, lembut dan perlahan ia memainkan jemarinya menelusuri keindahan lekuk tubuh sang dara, mulai dari kerongkongannya hingga ke atas balon buah dada Anissa. Degup jantungnya yang berdetak menghentak berulang kali dalam diri Udin, pikirannya seperti terbang tanpa tujuan, rasionalitasnya terpinggirkan oleh nafsu birahi menggelegak. Satu – satunya yang Udin inginkan sekarang adalah membuka pakaian yang dikenakan Anissa dan menikmati keindahan buah dada gadis itu!
“U..Udin? ka – kamu ngapain?” kepanikan Anissa membuatnya tergagap, ia benar – benar terkejut melihat kelakuan Udin ini hingga kalimat yang ia ucapkan menjadi terpatah – patah.
Udin memandangi wajah bingung Anissa sembari menggerakkan tangan yang makin berani, ia kini meremas – remas buah dadanya tanpa peduli. “Kamu bukan orang bodoh, Nis. Kamu tahu pasti apa yang aku lakukan.” Katanya dengan dingin. Melihat Anissa panik dan tak berdaya membuatnya merasa iba, namun di saat yang bersamaan Udin bisa merasakan adik kecil yang ada diselangkangannya justru kian mengeras. “Kamu tahu apa yang akan aku lakukan dan kamu juga tahu tidak ada gunanya melawan. Kenapa? Karena kamu tahu aku memiliki apa yang kamu tahu tidak sepantasnya aku miliki.”
Udin tidak percaya ia mampu mengucapkan kata – kata ancaman pada gadis yang ia cintai itu. Sejak ia mengenal Anissa, Udin hanya bisa melihatnya dari kejauhan, mengaguminya dan memimpikannya. Ia cemburu saat Anis dan Dodit saling berpelukan mesra, ia cemburu ketika pria lain mengajak gadis itu berbincang atau mengelus bagian tubuhnya pelan. Kini ia bebas menyelipkan jemari ke dalam belahan tengah buah dada Anissa untuk membuat gadis itu sadar siapa yang saat ini menguasainya.
“Ta…tapi, Din. Kita tidak bisa.. kamu tidak boleh… maksudku kita tidak bisa..” wajah Anissa memerah karena ia tidak sanggup mengucapkan kata yang tepat yang ingin disampaikan. Ia yakin Udin tahu apa maksudnya. “Kita tidak bisa, Din… aku yakin kamu bukan orang seperti itu!”
“Aku tidak perlu membuktikan apapun pada seorang pengkhianat. Kamu sudah mengkhianati cinta Dodit dan aku bisa saja datang kepadanya membawa bukti yang kuat. Kalian akan berpisah, namamu akan cemar, orangtuamu mungkin bisa sakit keras dan kamu hanya akan dianggap sebagai pelacur jalanan. Aku tidak peduli apa yang terjadi padamu seperti kamu selama ini tidak peduli padaku.” Udin merespon dengan ketus, tangannya yang bebas mengangkat hape. “Kalau kamu pikir aku bohong, aku bisa menelpon dia kapan saja aku mau untuk menceritakan pelacur kecil yang mengaku sebagai tunangannya.” Udin yakin sekali ancaman ini akan mengena tepat di hati Anis, menohok si cantik yang tak sanggup mengatakan apa yang telah terjadi kepada tunangannya dengan jujur. Dengan berani Udin memainkan telunjuknya untuk merunut kulit mulus Anissa mulai dari belahan dada yang menggiurkan naik hingga ke rahangnya yang mulus. Mereka berdua sama – sama terengah – engah dan Udin tahu Anissa menatapnya dengan panik.
“Ja..jangan… jangan telepon.” Desah Anissa lirih. “Apa yang kamu inginkan?”
“Buka bajumu.” Hanya dengan mengatakan itu saja penis Udin menggeliat mengeras, membayangkan tubuh indah wanita secantik Anis tanpa sehelai benangpun membuat teman kuliah Anis itu terangsang hebat. Anis ragu – ragu melakukan apa yang diminta Udin itu, membuat pemuda itu sedikit naik pitam. “Apa yang kamu tunggu? Cepat buka bajumu!”
Anissa masih ragu – ragu dan mempertimbangkan beberapa hal dalam benaknya untuk beberapa saat, namun ia kemudian membuka kancing bajunya dan segera memperlihatkan sebentuk buah dada sempurna yang kenyal dan empuk. Gadis jelita itu melempar bajunya ke lantai dan menatap Udin tajam, teman kampusnya itu tidak bergerak dan melihat keindahan tubuh bagian atas milik Anissa tanpa berkedip. Perut gadis itu amat tipis, langsing, rata dan seksi sementara payudaranya yang menjulang naik bagai menantang dengan bulat sempurna dan pentil susu yang menjorok keluar hingga membayang di beha mungil berwarna gelap yang dikenakan si cantik itu. Udin meletakkan hape dan mulai beraksi meraba payudara ranum milik Anissa.
Anissa memejamkan mata dan mendesah panjang saat jemari Udin mengelus dan meremas – remas payudaranya, merasakan buah dada besar itu dalam genggaman tangannya. Udin bisa melihat wajah kacau Anis saat tangan – tangan Udin yang kasar bersentuhan dengan kulit mulus di sekitar balon buah dada Anissa. Dengan tangan gemetar Udin melepas kaitan beha sang dara jelita yang kini wajahnya memerah antara malu dan gelisah.
Udin seperti disadarkan pada apa yang tengah terjadi, gadis cantik yang selalu muncul dalam mimpi indahnya, dalam mimpi basahnya, dalam masturbasinya, kini hadir secara nyata, darah dan daging, telanjang dada. Menyadari Anissa kini berada dalam kekuasaannya Udin meremas payudara gadis itu lebih kencang lagi, membuat sang pemilik menjerit lirih karena kesakitan. “Susumu ini, Nis…membuatku.. tidak bisa.. ini indah sekali..” nafas Udin menjadi berat seiring nafsu yang semakin membebani batinnya.
Cengkraman tangan Udin pada balon buah dada Anis membuat puting susu Anis kian lama kian mengeras seperti tutup botol yang menjorok keluar. Udin menciumi dan menjilati buah dada sempurna itu bergantian, merasakan kenyalnya keindahan susu sang bidadari jelita, membuat Anissa menggelinjang dan mengembik pelan. Udin mengoles puting susu Anis dengan jempolnya hingga keduanya benar – benar sampai menghunjuk ke atas. Tak tahan lagi, Udin turun ke bawah untuk melepas sisa pakaian yang dikenakan Anissa dan memperlihatkan tubuh indahnya.
Anis mengerang pelan karena kebingungan, gadis itu menyilangkan tangan di depan payudaranya saat Udin melepas pelindung terakhirnya. Bulu kemaluan yang halus dan rapi membuat Udin kian kagum, ia berhenti sejenak untuk menikmati keindahan selangkangan Anis yang dipadu sempurna dengan paha mulus yang tidak saja enak dilihat tapi juga nyaman disentuh.
Tak boleh disia – siakan begitu saja!
Udin meremas bokong Anissa dengan kedua tangannya, menahan supaya gadis itu tak bergerak, lalu dengan tiba – tiba membenamkan kepalanya ke dalam selangkangan Anis! Mulut dan hidungnya tenggelam di silang kemaluan sementara lidahnya menyusur dan mencari.
Anis terkejut setengah mati melihat kelakuan Udin ini! Si cantik itu mencoba meronta, mencoba membalikkan badan, mencoba menekan kepala Udin, namun semua sia – sia. Gerakan lidah Udin yang lincah memainkan bibir kemaluan Anissa membuat gadis itu menggelinjang hebat. Ampun! Ini enak sekali! Bagaimana ia bisa bertahan? Ia hanya gadis biasa! Tak bisa menolak kenikmatan seperti ini! Anissa yang tak bisa menemukan apapun sebagai pegangan, mencoba meraih sesuatu, tapi satu – satunya yang bisa ia lakukan adalah justru memegang bagian belakang kepala Udin dan menekannya agar masuk semakin dalam!
Lidah Udin yang lincah bergerak mengitari bibir kemaluan Anissa, lalu naik hingga mencapai kelentitnya yang menjorok keluar. Rasanya benar – benar susah dibayangkan bagi Anissa. Ia merem melek tak karuan, tubuhnya bagai hancur lebur ditelan kenikmatan yang diberikan oleh Udin! Untuk beberapa saat Udin masih terus memainkan kelentit Anissa dengan pagutan, jilatan dan kuluman yang memabukkan hingga Anissa akhirnya melenguh panjang sebagai penanda kekalahan.
Mendengar suara erangan Anissa yang pasrah, Udin berdiri dan mencumbu tunangan Dodit itu seperti sepasang kekasih. Gadis ini adalah tunangan orang lain dan kini ia bebas mengelus tubuhnya dan mencium bibirnya! Mereka berciuman lama, lidah dan bibir saling menaut menjadi satu kesatuan. Tangan Anissa kini bergerak bebas mengitari kepala dan pundak Udin menuntut sesuatu segera terjadi. Gadis itu rupanya sudah sangat pasrah dengan nasibnya. Udin melepaskan pagutannya dari mulut Anissa dan menatapnya dengan pandangan penuh nafsu birahi.
“Jongkok.” Perintahnya singkat sambil mengelus pipi si cantik itu.
Anissa tahu pasti si Udin kini ingin merasakan anunya disepong. Anissa turun ke bawah tanpa membantah sembari Udin melucuti celananya sendiri. Teman kuliah Anissa yang dijauhi banyak kawan itu kini berdiri telanjang dengan bangga di hadapan Anis dengan penis yang terhunus. Anissa jongkok di hadapan Udin, memandangi kemaluan Udin, dengan tangan gemetar Anis mulai menyentuh benda panjang yang agak lembek itu, merasakan ujung gundul dan batang kejantanan Udin dalam genggaman tangannya. Pemuda itu merasakan hembusan hangat nafas Anissa berada sangat dekat dengan batang kemaluannya. “Ayo anak manis, lakukan saja. Kamu sudah tahu apa yang aku inginkan.”
Nafas Udin tertahan ketika Anissa membuka mulutnya yang mungil dan mulai menelan ujung gundul kemaluan Udin seperti hendak menelan bola lampu. Udin merem melek hanya membayangkannya saja, wanita termolek yang pernah ia cintai sedang menyepong kontolnya. Hangat dan basah membungkus batang kemaluannya, ia tidak peduli kalau si cantik ini sudah bertunangan dengan laki – laki lain yang juga ia kenal. Anis memandang ke atas, matanya yang indah menatap pria yang tak pantas ia kulum kemaluannya dengan pandangan tajam dan jengkel sementara mulutnya yang manis membuka lebar menangkup batang kemaluan Udin. Mata mereka berpadu, mata tajam Anis dengan mata Udin yang terbelalak lebar karena tak percaya bibir manis Anissa mengelus batang kemaluannya.
Jemari Udin bermain di rambut indah Anissa dan ia mengangguk – angguk penuh nikmat. Si molek itu menggunakan pinggul Udin sebagai pegangan dan mulai mengulum kemaluan pemuda itu dengan berirama. Lidahnya menyusuri bagian tebal yang menggumpal di bagian bawah batang kejantanan Udin.
“Gila, Nis..” pandangan mata Udin mengabur dengan sensasi kenikmatan yang bertubi. “kamu sudah sering melakukan ini ya? Enak gila..”
Anissa diam saja, dia melanjutkan menghisap batang kejantanan Udin bagaikan permen lollypop yang rasanya sangat manis, lidah si cantik itu bergerak lincah mengukur batang dari ujung gundul hingga ke pangkal berbulunya. Beberapa kali Anissa harus memejamkan mata untuk menahan bau tak sedap yang ada di batang kemaluan Udin.
Sekali – sekali Udin membantu Anissa dengan mendorong bagian belakang kepala si cantik itu dengan lembut agar bisa bergerak lebih cepat. Batang kemaluan Udin kian basah oleh ludah Anissa yang terus menerus dioleskan ke seluruh bagiannya. Suara kecipak mulut yang mengulum, pipi menggembung dan menipis, kenikmatan melihat wajah bidadari membuat Udin kian terangsang.
Makin lama batang kemaluan itu makin melesak masuk dalam mulut si jelita, dengan lembut Udin menambah tekanan pada bagian belakang kepala Anis supaya gadis itu bergerak lebih cepat. Tidak ada yang bisa dijelaskan dari penis Udin yang ukurannya biasa – biasa saja, namun batang kelelakian Udin itu sangat keras seperti baja.
Udin memandang takjub bagaimana helai – helai rambut Anissa turun menyentuh pundaknya yang mulus. Lebih turun lagi Udin bisa melihat balon buah dada si cantik itu bergelinjang ringan saat ia menjilati kejantanannya yang menegang. Udin memang bukan perjaka tulen, ia sudah pernah merasakan dan mencicipi pelacur murah yang ia beli di dekat pasar, tapi merasakan bibir manis Anis menaungi kemaluannya dan hangat mengatup batang zakarnya membuat Udin terbang ke langit ke tujuh. Anissa memang bidadari terindah, apalagi ini belum usai, dia masih akan merasakan bibir kewanitaan Anissa yang sangat ia inginkan melebihi apapun.
Walaupun Udin merasakan rasa nyaman yang ingin ia perpanjang sepanjang hari saat penisnya berkuasa di mulut Anis, namun ia menarik batang kemaluannya dari bibir mungil itu dengan perlahan. Si cantik itu menatap Udin dengan tatapan meminta iba, seakan tak percaya ia baru saja mengulum batang kejantanan orang yang selama ini ia anggap kawan.
“Seponganmu enaknya luar biasa,” puji Udin dengan jujur, semakin bernafsu setelah menerima rangsangan dari Anis, Udin berniat mendorong si cantik itu ke tempat tidur. Tapi pandangan mata pemuda itu tertumbuk pada satu cermin besar yang digantung di samping ranjang. Alih – alih dilempar ke ranjang, Anis dibimbing Udin ke lemari pakaian pendek yang ada di samping cermin.
Udin mendorong tubuh Anis ke depan sehingga wajahnya menempel di atas lemari kecil itu. Pantat seksi si cantik itu menghunjuk ke belakang membuat siapapun yang melihatnya akan terangsang hebat. Udin tak menyia – nyiakan kesempatan ini untuk menampar kedua pipi pantat Anis dengan telapak tangannya.
“Aduuuh!” Anissa menjerit kecil, dia memandangi Udin dengan pandangan heran. “Sakit, Din! Kenapa ditampar?”
Udin tidak menjawab, dia terus saja menekan punggung bagian bawah Anissa agar si cantik itu tetap menempel di lemari, posisi ini membuat kemaluan Udin mengeras karena tubuh Anissa jadi terlihat sangat seksi, terlebih lagi mulusnya pantat si cantik itu membuat Udin serasa tak ingin usai merabanya. Tiba – tiba saja Udin ingin sedikit menyakiti bokong Anissa sebelum ia menyetubuhinya. “Kamu ini benar – benar.. anak.. manis.. yang nakal.” Kata Udin sambil menampar bokong Anissa saat menyebutkan kata ‘anak’ dan ‘manis’, Anis mengembik kesakitan dan berusaha meronta. Tapi Udin memeganginya erat, “biar kutunjukkan padamu apa yang seharusnya dilakukan pada.. anak.. manis.. yang nakal!”
Bokong Anis bergetar setiap kali telapak tangan Udin menamparnya, setiap tamparan pula, buah dada Anissa bergoyang – goyang. Cermin besar yang menggantung di samping tempat tidur menjadi saksi bisu pertemuan pandangan mata mereka. Ada cahaya redup penderitaan di wajah Anissa, tapi di bagian bawah, Udin bisa merasakan selangkangan si cantik itu mulai basah. “Menurutmu, apa yang akan terjadi? Apa yang dilakukan pada seorang anak manis yang nakal, Nis?”
“..dihukum?” parau terdengar suara Anissa.
“Benar sekali, aku akan menghukummu, manis. Aku akan memukul pantatmu pakai penggaris karena sudah nakal seperti yang dilakukan guru pada murid.” Kata Udin sambil tertawa, lelucon itu sama sekali tidak lucu bahkan kalimat yang melecehkan itu membuat Anissa semakin geram. Seluruh tubuh Anis bergetar hebat ketika Udin benar – benar memukul pantat Anissa menggunakan telapak tangannya, bukan rasa takut yang membuatnya gemetar, tapi rasa terhina. Si cantik itupun meneteskan air matanya. Udin yang melihat linangan air mata Anis menjadi segan. “Tidak mau disentuh bokongnya? Menurutmu, hukuman apa lagi yang tepat bagi orang sepertimu, Nis? Pelacur kecil yang senang berkhianat sepertimu?”
Anissa menatap Udin dengan pandangan panik, baru kali ini ia melihat Udin begitu kasar dan jahat kepadanya, biasanya Udin memperlakukannya dengan sangat manis. Anissa menunduk takut, apalagi yang bisa ia lakukan kecuali menuruti permintaan temannya yang sudah hilang akal oleh nafsu birahi ini? Jawabannya jelas hanya satu itu.
“…dientotin.” suara datar Anissa yang sudah pasrah menjadi musik indah bagi Udin.
“Benar sekali. Mereka pantasnya dientotin sampai kapok.” Udin mengelus lekuk – lekuk indah pinggul Anissa. Udin menatap puas cermin besar di samping mereka yang memperlihatkan dirinya sedang meraba – raba tubuh indah bidadari yang selama ini mengisi mimpinya. Nafsu birahinya semakin menggelegak.
Udin mendorong Anissa hingga berdiri dengan berjinjit, dengan kasar ia memisahkan kaki jenjang si cantik itu supaya melebar dan menekan ujung gundul batang kejantanannya ke dalam sela basah di selangkangan Anissa. Sembari terengah – engah Anis menengok ke belakang, wajahnya penuh dengan sejuta emosi. “Aku tidak percaya kamu tega melakukan ini……”
“Sekarang harus percaya.” Gumam Udin sembari menikmati saat yang sangat merangsang ketika bagian ujung gundul kemaluannya melesak perlahan ke dalam memek Anissa. Sedikit demi sedikit liang cinta Anis yang mungil itu menelan batang kontol Udin yang sudah keras seperti batang kayu. Anissa berusaha menahan jeritannya dengan menggemeretakkan gigi, matanya terpejam dan tubuhnya mengejang ketika merasakan ada benda asing memasuki liang cintanya.
“Sudah percaya sekarang?” sindir Udin.
Sodokan kemaluan Udin tidak lagi pelan dan lembut, ia menumbukkan batangnya ke dalam liang cinta Anis dengan kekuatan penuh hingga gadis itu bahkan sampai terangkat dan berjinjit tiap kali Udin melesakkan kemaluannya. Anissa berulangkali menjerit dan menggunakan pinggiran lemari yang ada di samping tempat tidur untuk menahan desakan dari Udin. Begitu bernafsunya Udin menggiling kemaluannya sehingga Anis berulang kali terangkat bahkan sampai hampir melayang. Sebenarnya Udin tidak sampai hati membuat Anissa kesakitan, tapi merasakan kemaluannya melesak masuk ke dalam vagina Anissa adalah mimpi yang menjadi kenyataan, sangat nikmat sekali.
Udin menarik penisnya, mundur sedikit lalu dengan kekuatan penuh menyodokkannya lagi ke dalam hingga membuat Anis berulang kali menjerit. “Ogghh, gila… kamu bener – bener enakkkgg…” erang Udin keenakan. Kini tubuh Anis benar – benar menempel di lemari, ia tak bisa bergerak karena Udin terus saja mendesaknya tanpa ampun, keras, cepat dan kencang. Memek Anis yang mulai membanjir membuat Udin kian giat menggenjot penuh nafsu. Tiap kali Udin melesakkan penisnya, Anissa tidak bisa tidak menjerit dan mengerang.
Dari cermin yang berada di samping ranjang, Udin bisa melihat buah dada Anissa bergoyang setiap kali ia menusuk – nusuk memek si cantik itu. Wajah Anis bersemu merah karena menahan campuran emosi yang hampir tak tertahan ia marah, sedih, geram namun juga merasa nikmat. Udin melihat dirinya sendiri di cermin itu, bukan seperti Udin biasanya, Udin yang dihina, Udin yang dihindari cewek – cewek atau Udin yang dikucilkan. Kini ia berubah menjadi Udin yang kuat, Udin penakluk dan Udin yang berhasil meniduri salah satu gadis paling didambakan lelaki di seantero kampus.
Udin menekuk tubuhnya dan bersandar di punggung Anissa sembari terus menggoyang kemaluannya di dalam liang cinta tunangan Dodit itu, wajahnya yang menyebalkan diturunkan hingga menempel beberapa senti saja dari wajah Anis, membuat gadis itu muak dan memalingkan muka. “Kamu cantik sekali, Nis. Cantik dan seksi. Memekmu enak gila! Sempit banget!” Udin kembali mengerang – erang keenakan, membuat Anissa menjadi risih. “…kamu tidak pernah tahu, Nis. Kalau aku ingin melakukan ini sudah sejak lama sekali. Aku kira aku hanya bisa melakukannya dalam mimpi. Ka..kamu tahu itu?”
“Yaaa…” Anis melenguh, “oooughhh… sakit sekali…!! jangan kasar – kasar!!”
Kata – kata Anissa jelas tidak menghentikan niat Udin, justru makin membuatnya bernafsu. Pemuda itu mulai bermain – main. Ia menarik batang kemaluannya hingga hanya tertinggal ujung gundulnya di dalam liang cinta Anis, lalu setelah bertahan sebentar, ia menumbuk lagi dengan memberikan tekanan yang sangat hebat sampai – sampai Anissa terlempar ke ranjang.
“Pegang kepala tempat tidurnya.” Perintah Udin, yang segera dituruti oleh Anissa yang merangkak dan menggunakan kepala tempat tidur sebagai pegangan sementara ia merenggangkan kaki kembali karena tadi penis Udin hampir keluar. “Duh, Anis…tahu nggak sih? Memekmu ini enak bangeeeeet!!”
Tapi Anissa sendiri sebenarnya melakukan lebih dari apa yang diperkirakan Udin, untuk beberapa saat dia merintih dan meringkuk, lalu tiba – tiba saja satu tangannya beralih dari memegang kepala tempat tidur menuju selangkangannya sendiri. Untuk sejenak Anis berhenti saat ia sadar apa yang sedang ia lakukan, tapi Udin memegang pergelangan tangannya agar tidak urung turun, pemuda itu senang melihat Anis mulai terangsang dan menggiring jemari Anis untuk menyentuh kelentitnya sendiri.
“Ayo sayang… enak sekali kan?” bisik Udin menggoda. “sentuh dirimu sendiri, biarkan kepuasan itu datang lebih cepat.”
Di bawah bimbingan Udin, jemari Anis bergerak lincah menggosok selangkangannya sendiri. Tangan Udin sendiri kembali menekan bahu Anis sementara si cantik itu terangsang hebat sehingga ia bisa memusatkan perhatian penuh pada rasa nyaman yang ia rasakan pada batang kemaluannya.
Anissa bukanlah bintang film porno atau pelacur yang sudah sangat sering bermain cinta, dia hanyalah seorang gadis yang terjerat oleh serigala – serigala pemangsa penuh nafsu. Walaupun sudah sering diperkosa oleh Pak Bejo dan pernah bermain cinta dengan Pak Doni atau Pak Dahlan, Anis tetaplah gadis biasa yang mudah dirangsang ketika bercinta. Gadis itu setahap demi setahap hampir mencapai puncak orgasmenya, lenguhannya yang berirama makin lama makin naik dan berubah menjadi teriakan dan jeritan tak tertahan. Seluruh tubuh Anis seakan menjadi menciut ketika jemari si cantik itu bermain sendiri di kelentitnya sementara memeknya tengah menerima sodokan penuh tenaga dari Udin, terasa sekali bagi Anissa betapa kuat cengkraman dinding liang kewanitaannya pada batang kemaluan pria yang tengah menyetubuhinya. Anissa hanya bisa merem melek menerima tusukan demi tusukan penuh nikmat yang menghentakkan tubuhnya. Sensasi itu, bersamaan dengan bergetarnya tubuh indah dan lengkingan kecil jerit kepuasan membahana di ruangan yang sempit, membawa Anissa ke puncak kenikmatan.
Udin melepas pegangannya pada bahu Anissa dan menangkup buah dada si cantik itu yang membusung besar dengan puting susu yang tegap menjorok keluar, Udin menyingkirkan lengan Anis yang melindungi payudara itu dan meremasnya dengan sangat kuat seakan ingin mencairkan daging kenyal yang membuatnya sangat bernafsu itu. Anissa memang telah mencapai puncak, namun tubuhnya masih terus menghamba pada batang kemaluan Udin, banjir demi banjir pelumas dan cairan cinta bercampur menjadi satu sementara tubuh Anissa sendiri masih terus terhentak – hentak.
Tekanan yang makin menghebat berkumpul di kantong kemaluan Udin yang membesar seperti sansak. Bagi Udin, kemaluannya terasa seperti hendak melepaskan ledakan hebat yang akan melontarkan dirinya dan Anis ke segala penjuru. Tubuhnya bergetar seperti gunung besar yang menyimpan tenaga untuk memuntahkan material vulkanik. Semua ototnya mengeras, matanya terpejam dan tangannya meremas kencang buah dada Anissa hingga si cantik itu menjerit kesakitan, sedikit lagi… sedikit lagi….. sedikit lagi……. dan ahhhhh!! Semprotan cairan cinta terlontar dari ujung gundul kemaluan Udin bagai pompa air yang baru saja dibuka. Kepala Udin sampai terlontar ke belakang dan ia melolong keenakan saat pejuhnya terlempar banjir demi banjir di dalam liang cinta gadis yang sangat seksi itu.
“Arraaaaghhhhhhhhh! Aaaahhhhh!! Hhngggg!! Ooooowwwhh!!” Udin mengosongkan kantong kemaluannya sampai ke tetes terakhir sembari memeluk erat tubuh indah wanita cantik yang sangat ia idam – idamkan. “Oaaaaghhhh!!…. ahhh..hah..hah..hah..”
Tubuh Udin yang kelelahan ambruk ke depan menumpuk di atas tubuh Anis yang masih bergetar. Semua semangat dan keinginan untuk menikmati setiap lekuk tubuh gadis pujaannya lenyap tak bersisa dengan muntahnya klimaks yang ia keluarkan, untuk kali pertama ingatan Udin kembali bisa fokus. Ia baru sadar kalau ia sedang berada di sebuah ruangan di hotel melati yang khusus ia sewa untuk bisa meniduri Anissa. Tubuh yang ada di bawahnya ini adalah gadis yang sangat ia cintai, gadis yang baru saja menerima semprotan air mani darinya.
Udin menepuk dahinya sendiri. Gila, apa yang telah dilakukannya? Ia baru saja meniduri Anissa! Ia tak ubahnya pria yang dibutakan nafsu yang semalam juga membuat gadis ini menderita walaupun harus diakui, bisa menyetubuhi Anissa adalah impiannya sejak lama. Cairan cinta menetes baik dari sela – sela bibir vagina Anissa maupun sisi – sisi penis Udin. Dengan sepelan mungkin Udin menarik penisnya keluar dari mulut kemaluan Anis, penisnya yang masih sedikit tegak agak lengket sehingga harus ditarik kencang. Ketika Udin menariknya, Anissa mengerang pelan.
“Kamu, kamu tidak apa – apa, Nis?” tanya Udin pada Anis yang tergeletak bermandikan keringat dengan nafas menderu. “Anissa?”
Anis hanya menganggukkan kepala sambil mengeluarkan suara letih, “Ya… aku baik – baik saja.”
“Aku bisa mengambilkanmu sesuatu? Air minum?” sepertinya memang terdengar konyol, tapi Udin sungguh mencintai Anissa, rasa bersalah yang muncul karena memaksanya bermain cinta membuat Udin ingin melakukan sesuatu untuk gadis ini.
Anis menggulingkan badan ke samping dan menatap wajah Udin dengan kabur, seperti tidak sadar siapa yang ada di sebelahnya kali ini. Agak lama bagi Anissa sebelum ia bisa fokus kembali, “Ya… segelas air. Tolong.”
Udin bergegas mengambilkan segelas air untuk Anis, gadis itu kemudian minum di depan Udin dengan keadaan masih telanjang, seperti tidak lagi merasa malu memamerkan keindahan tubuhnya. Setelah meletakkan gelas di meja di samping ranjang, Anis menatap Udin lekat – lekat, “…bisakah kamu berjanji tidak akan menceritakan ini pada orang lain? Termasuk orang – orang yang ada di hotel semalam?”
“Aku janji,” jawab Udin jujur. “Aku mencintaimu, Nis. Aku tidak ingin kamu dimiliki orang lain, kamu bisa mempercayaiku untuk hal satu itu. Aku ingin bisa hidup selamanya denganmu. Aku ingin menikahimu, menghamilimu, memiliki anak darimu…”
Anissa seperti tidak peduli dengan kata – kata Udin setelah kata janji. Udin memakai celananya dengan seadanya sementara Anissa mengenakan pakaiannya kembali, tidak ada kata terucap di antara mereka. Seperti ada sebuah ikatan yang tak nampak untuk saling menahan diri.
“Aku ingin kau merahasiakan semua ini, Din.”
“Pasti, Nis.”
“Termasuk di kampus. Jangan ganggu aku lagi seperti tadi. Aku butuh ruang gerak.”
“Baik.”
“Aku pergi dulu.”
“Ya.”
Anissa merapikan diri dan berjalan tertatih menuju pintu.
Anissa berdiri termangu di pintu kamar sesaat sebelum dia pergi. Ada pandangan aneh yang ia tujukan pada Udin, pandangan tajam seperti yang biasa ditunjukkan seorang pengadil sebelum menghakimi seorang terdakwa. “Bahrudin. Kita sudah berteman sangat lama, tapi aku tidak pernah menyangka kamu begitu rendah.”
Udin yang masih berbaring di ranjang menatap pintu yang ditutup dengan keras. Dentuman jantungnya perlahan kembali normal.
Pemuda itu menerawang ke arah langit – langit, “demikian juga aku, Nis.” Bisiknya pada diri sendiri.
“Demikian juga aku.”
###
“Halo, Dodit? Ini Alya.”
Dodit yang sebelumnya tidur jadi terbangun kaget dan gelagapan, dia melirik ke arah jam dinding, sudah hampir jam 11 malam. Begitu gugupnya ia hingga hampir – hampir telepon genggamnya lepas dari tangan. “Mb…Mbak Alya? Kenapa, Mbak? Ada perlu dengan saya?”
“Iya… maaf ya, mengganggu semalam ini.”
“Tidak apa – apa, Mbak. Memangnya ada apa?”
“Anu, ini lho… Mas Paidi kan sedang sakit. Dia masuk angin, padahal besok aku harus mengantarkan Opi sekolah dan belanja karena beras dan kebutuhan pokok lain sudah habis. Mas Hendra tentu tidak bisa diminta tolong sedangkan SIM aku saat ini sudah habis masa berlakunya. Habisnya sih sudah sejak beberapa minggu yang lalu, tapi aku belum sempat perpanjangan karena repot. Aku jadi teringat kamu, bagaimana ya kalau aku minta tolong diantar? Daripada naik bis atau taksi, gitu.”
“Astaga, aku kira kenapa, Mbak. Ya tentu saja bisa. Kemanapun Mbak Alya ingin pergi, aku siap mengantar.”
“Aduh, terima kasih sekali ya. Oke, besok pagi sekitar jam setengah 10 aku tunggu di rumah ya? Kita antar Opi dulu, setelah itu belanja dan pulangnya jemput Opi lagi. Bagaimana?”
“Siap, Mbak.”
“Eh, tapi kamu tidak ada acara kan?”
“Nggak ada, Mbak. Santai aja.”
“Oke kalau begitu. Sampai jumpa besok. Terima kasih ya.”
“Sama – sama.” Dodit menutup hapenya dengan senang, dia akan mengantarkan Mbak Alya belanja! Beruntung sekali! Tidak akan dia sia – siakan kesempatan ini! Sudah sejak lama dia ingin bertemu kembali dengan ipar Anissa itu, wajahnya yang ayu dan tubuhnya yang molek… ahh, Mbak Alya besok memintanya ditemani belanja! Tidak ada yang lebih indah dari itu! Mbak Alya yang selama ini telah menjadi temannya berfantasi setiap kali bermasturbasi! Bukankah ini yang namanya pucuk dicinta ulampun tiba?
Oooh… Mbak Alya yang ayu…
Terdengar bunyi ringtone mengalun.
Ringtone? Dodit mengernyitkan dahi. Oh! Hape Dodit rupanya kembali bergetar dan berdering. Gara – gara bangun terkaget dan mendapatkan kabar gembira dari Mbak Alya membuatnya jadi lupa dering hapenya sendiri. Dodit melirik nomor di hapenya, nomor ini… Anissa?
“Halo?” suara Dodit sedikit ragu – ragu mengangkat telpon. “Sayang? Ada apa malam – malam begini…”
“Mas, aku butuh kamu ajak keluar besok pagi. Aku… aku bosan di rumah…”
“Be… besok pagi?” Dodit menggerutu dalam hati. Bukankah besok pagi dia sudah janji dengan Mbak Alya yang bagaikan dewi khayangan itu? Lagipula akhir – akhir ini Anissa aneh, kalau diajak pergi selalu terdiam seribu bahasa. Ia malas mengajaknya keluar. “Aduh, maaf sekali, sayang, aku tidak bisa. Aku sudah ada janji terlebih dahulu. Dengan… dengan calon klienku…maaf ya? Bagaimana kalau ditunda lain kali?”
“Mas, aku mohon mas. Perasaanku tidak enak. Aku ingin pergi denganmu besok.”
“Anissa sayang, aku benar – benar tidak bisa. Bagaimana kalau lusa saja? Atau sore? Sore dan malam aku bebas.”
“Tolong Mas, sekali ini saja aku minta tolong. Aku benar – benar butuh keluar.”
“Anissa, aku tidak bisa… aku kan sudah bilang kalau aku…”
Klik.
Telepon sudah ditutup, membuat Dodit termangu.
Di sisi lain, air mata Anis kembali berurai. Kalau Dodit saja tidak bisa datang dan menyelamatkannya, siapa yang bisa? Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana dia akan melalui hari esok? Perasaannya semakin tidak nyaman. Sejak tidur dengan Udin dia sudah menghindar dari Pak Bejo, tapi orang tua bejat itu terus saja menelpon dan sms, menerornya.
Dia harus pergi dari sini tanpa sepengetahuan siapapun.
Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi.
###
Matahari bersinar terik menghujani bumi.
Keringat deras menghujani tubuh Anissa, kakinya melangkah tertatih. Dia harus lari, dia harus kabur, tidak boleh ada yang tahu dan tidak boleh ada yang mengikuti. Tapi… dia tidak tahu kemana harus pergi…? Kemana…? Anissa kebingungan. Si cantik itu kini tengah berada di trotoar jalan besar yang jauh dari rumah, ia sampai kesini setelah berputar – putar dengan kendaraan umum. Kini ia menghadang bis namun tidak tahu bis tujuan mana yang seharusnya ia naiki.
Anissa memang akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah, dia tidak bisa hidup seperti ini terus menerus, dia harus lepas dari jebakan Pak Bejo walaupun untuk itu dia harus diam – diam pergi dari rumah tanpa sepengetahuan keluarga ataupun Dodit. Semuanya harus dilakukan mendadak, hari ini saja dia harus mengendap – endap keluar melalui jalan belakang. Anissa tidak pernah mau merepotkan keluarganya.
Tinggal di rumah sendiri sudah tidak aman lagi karena Pak Bejo setiap saat bisa tiba – tiba muncul dan menyerang keluarganya. Bukan sekali dua kali saja Pak Bejo mengancam Anis kalau dia akan menyakiti keluarganya seandainya Anis berani macam – macam. Ancaman Pak Bejo jelas tidak main – main dan bukan itu yang diinginkan oleh Anissa. Setelah kondisinya aman nanti, dia baru akan memberitahu keluarganya apa yang terjadi. Dengan begitu mereka bisa mencari cara bagaimana untuk lepas dari tangan Pak Bejo dan preman – premannya.
Ke tempat Ussy? Ya, hanya ke tempat dialah Anissa sepertinya bisa pergi menyelamatkan diri. Itu artinya dia harus naik bis jalur X jurusan X.
Kebetulan! Dia sedang beruntung! Itu ada satu yang datang dari kejauhan! Anissa bergegas bersiap di pinggir jalan, tas berisi pakaian ia siapkan agar mudah dibawa. Hati Anis berdetak kencang seiring datangnya bis kota yang melaju pelan.
Sudah dekat! Anissa kegirangan.
Pegangan tangan Anis makin erat mencengkeram tasnya.
Satu kakinya sudah turun ke jalan dan tangannya siap melambai menghentikan bis.
Tapi sebelum bis itu sampai di tempat Anissa, sebuah mobil kijang berhenti tepat di depan gadis itu. Begitu dekat jaraknya dengan Anis, sampai – sampai gadis itu terperanjat dan mundur.
Pintu tengah mobil terbuka dan seorang pria bertubuh besar melangkah keluar. Jendela depan turun untuk memperlihatkan penumpang di samping sopir, mau tak mau Anis menengok ke depan.
“Mau lari kemana kamu, sayang?” wajah tengik Pak Bejo yang tersenyum keji tiba – tiba muncul ketika jendela depan dibuka.
Anissa menjerit sekencang – kencangnya sebelum ia ditarik masuk ke dalam mobil yang kemudian melaju kencang.
###
“Hari ini panas sekali, ya?”
Suara Alya terdengar sangat merdu di telinga Dodit. Lebih merdu dari lantunan lagu yang dinyanyikan penyanyi di pemutar MP3 mobil. “Iya, Mbak. Panas banget. Maaf AC-ku ternyata agak rusak jadi kurang dingin. Jendelanya sudah dibuka sedikit kan?”
“Sudah. Ya angin dari jendela ini satu – satunya yang bisa bikin agak adem.” Alya mengangkat kepalanya ke dekat jendela untuk menikmati lintasan angin. Saat itu mereka berdua sudah pulang dari belanja dan sedang mengikuti jalan ke arah sekolah Opi. Beruntung jalan tidak macet dan lancar sehingga mobil Dodit bisa melaju cukup kencang.
Tapi entah kenapa tiba – tiba…
“Aduh! Aduh!” Alya menutup matanya dengan tangan.
Dodit pun kaget melihatnya, “Ke… kenapa, Mbak?”
“Aduh, mataku kelilipan!”
Dodit meminggirkan mobir ke trotoar, untung jalan sedang sepi. Dia melepaskan sabuk pengaman, mendekati kepala Alya dan membuka tangan yang mengatup di mata. Dodit memperhatikan mata Alya. Mata indah wanita jelita itu berwarna merah dan mengeluarkan air mata. Rupanya ada satu binatang kecil yang secara tidak sengaja ingin masuk menikmati keindahan mata si cantik itu.
“Sebentar… ada yang masuk…” kata Dodit sambil mendekatkan bibirnya ke mata Alya, “jangan ditutup dulu, Mbak. Aku tiup ya?”
“Iya… iya…”
Fuh! Dodit meniup dan binatang itu pergi.
“Nah, sudah hilang, Mbak.”
“Aduh… terima kasih….” ketika akhirnya bisa membuka mata kembali dengan jelas, wajah Alya memerah. Ternyata dia sangat dekat dengan Dodit! Pemuda itu hampir – hampir memeluknya!
“Sama – sama, Mbak.” Begitu juga Dodit yang wajahnya memerah. Karena posisi duduk yang sempit, tanpa disadari, ternyata tubuh mereka sangat berdekatan nyaris berpelukan. Tangan Dodit menyelinap di sela lengan Alya untuk menyangga sementara tangan lain menahan di pintu.
“Te… terima kasih.” Ucap Alya pelan mengulang ucapan terima kasihnya karena bingung apa yang harus dilakukan. Ia menatap Dodit dengan takut – takut.
Dodit juga menatap Alya dengan penuh perasaan. “Sama… sama…”
Entah spontan entah dorongan alam bawah sadar, kepala Dodit menunduk sedikit, bibirnya membuka dan merekah. Bibir Mbak Alya… basah dan mungil…
“A..apa yang…” ucapan Alya itu tak pernah terselesaikan karena bibirnya segera dilumat oleh Dodit.
Bibir Alya sangat lembut dan terasa manis, lipstiknya tipis dan bentuk bibir yang mungil sangat nyaman dikecup, dipagut dan dilumat. Untuk beberapa saat Alya tak melawan karena sangat terkejut. Dodit memejamkan matanya dan mulai memberanikan diri memanfaatkan kekagetan Alya. Tangannya bergerak nakal menyusuri bahu hingga ke dada Alya. Ia menangkup buah dada istri Hendra itu dan…
Bibir mereka lepas mendadak ketika tangan Alya mendorongnya!
Dodit masih terpejam ketika sebuah tamparan hadir di pipinya! PLAKK!
Dodit terbelalak kebingungan dan keringatnya menetes deras. A – apa yang baru saja ia lakukan? Kenapa dia melakukannya? Demi dewa… kenapa dia melakukannya? Ah, sial! Rasa panas akibat tamparan Alya memang sudah sepantasnya ia terima. Tamparan itu tidak keras, ia tahu Mbak Alya tidak ingin menyakitinya, hanya ingin membangunkannya dari mimpi di siang bolong saja.
Alya mencoba menata hatinya, ini semua kesalahan dan Dodit pasti hanya khilaf saja, ia yakin dan pasti akan hal itu, tidak mungkin membagi hatinya kepada orang lain, terlebih kepada calon adik iparnya. Alya tersenyum sambil mengelus punggung tangan Dodit.
“Jangan diulangi lagi.” Bisik Alya pelan, “itu tadi untuk pertama dan terakhir kali.”
Mendengar suara lembut Alya, Dodit justru semakin tidak karuan, ia merasa jengah telah melakukan hal yang tidak sepantasnya pada wanita cantik yang seharusnya ia anggap sebagai kakak ipar ini. Lihat sekarang, Alya malah memberinya ketenangan setelah menamparnya, bukan memarahinya dengan tudingan lelaki kurang ajar.
“I…. iya, Mbak. A… aku khilaf, Mbak. Aku minta maaf. Aku… aku…”
“Sshh… tak perlu membuat banyak alasan yang akhirnya nanti akan kau sesali lebih dari apa yang telah kau lakukan.” Kata Alya berusaha bijak walaupun dadanya masih terus berdegup dengan kencang. “Lupakan yang sudah berlalu dan jangan pernah kau ungkit kembali.”
“I…. iya, Mbak.”
“Kalau kamu berjanji tidak akan menceritakan apa yang terjadi hari ini kepada orang lain, aku juga tidak akan mengatakan apapun pada siapapun. Yang harus diingat adalah… kita berdua tidak akan pernah bisa mengulanginya lagi karena kita berdua sama – sama tahu, kalau kita mencintai orang lain, telah menjadi milik orang lain dan karenanya tidak bisa mengambil milik orang lain pula seenak perut kita sendiri.”
“I…. iya, Mbak.”
“Ya sudah, sekarang jalan.”
“I…. iya, Mbak.”
Dodit yang gelagapan meraih kunci mobil dengan tangan bergetar dan memutarnya dengan gugup. Ia begitu lega ketika mobil bergetar lembut dan mesinnya menyala, betapa ingin ia segera membawa mobil ini pulang ke rumah. Punggung tangannya berusaha menghapus keringat yang terus menerus turun. Dodit sangat merasa bersalah, sangat. Tapi…
Tapi…
Tapi… bibir mungil Mbak Alya… bibir yang basah itu… begitu manis, begitu lembut, begitu nyaman beradu dengannya. Dodit tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Alya, walau bagaimanapun ia tak akan pernah bisa melupakan ciuman yang sangat indah itu.
Alya melirik ke samping, melihat ke arah senyuman seiris di bibir Dodit. Ia memalingkan muka, menatap pemandangan, menyimpan seulas senyum.
Mobil melaju pelan membawa Dodit dan Alya meninggalkan kenangan yang tak akan pernah terulang.
Tak akan pernah.
###
“Saya mau dibawa kemana ini, Pak?” Anis mulai ketakutan melihat mobil melaju kencang menuju daerah yang sama sekali tidak dikenalnya, melaju dan meliuk melewati dearah perbukitan dan masuk ke jalan sepi yang gelap. Satu – satunya penanda yang bisa ia kenali adalah sebuah komplek rumah sakit besar namun Anis tidak yakin rumah sakit apa namanya karena laju kendaraan ini kencang sekali.
Sebenarnya sejak siang tadi mobil ini hanya berputar – putar saja melalui jalan tikus yang berbeda – beda dan belasan kilometer dari tempat Anissa tadi diculik, Pak Bejo ingin membingungkan Anissa supaya ia tidak mengetahui lokasi. Gadis itu bukan orang yang mudah menghapal tempat, sehingga usaha Pak Bejo ini berhasil.
“Sudah diam saja.” kering Pak Bejo menjawab. Wajahnya masih tanpa ekspresi, keras dan kasar.
Mereka sampai di sebuah tempat yang tersembunyi di balik perbukitan, tak jauh dari sebuah rumah sakit dan kompleks lapangan golf. Di tempat itu terdapat banyak sekali gudang – gudang penyimpanan barang pabrik di sepanjang jalan dan kios warung kopi yang berjajar. Mobil Pak Bejo masuk ke sebuah gudang kecil yang letaknya paling ujung dan jauh dari semua keramaian. Tempatnya sendiri tidak besar, bahkan pengap dan gelap. Gudang itu terletak di samping sebuah rumah sangat sangat sederhana dengan dua kamar.
Anissa walaupun kecapekan tetap meronta dan berteriak – teriak tanpa henti ketika digiring masuk ke dalam kamar di dalam rumah itu. Suasananya yang dingin dan gelap membuat Anissa makin ketakutan apalagi tasnya juga direbut salah satu anak buah Pak Bejo.
“Pak, tolong Pak! Kenapa saya disekap di sini? Pak Bejo! Saya mohon, Pak! Bebaskan saya, Pak!”
Tentu saja pintu itu tidak terbuka.
Anissa jatuh terduduk dan menangis sejadi – jadinya.
Siapa yang kini bisa menyelamatkannya?
###
Ruangan yang berada di rumah di sisi sebuah gudang yang ada pinggiran kota itu penuh dengan asap rokok yang mengepul tanpa henti. Wajah – wajah orang yang ada di dalamnya nampak serius, mereka duduk di kursi rotan yang mengelilingi sebuah meja yang menyuguhkan bir dan kacang goreng. Bidak – bidak catur yang belum sempat dibereskan tersebar dimana – mana.
Di ruangan itu, Imron, Pak Kobar dan Pak Bejo bertemu.
Imron geleng – geleng kepala dan memperlihatkan wajah tidak senang. “Aku tidak akan pernah setuju dengan cara seperti ini, Jo. Ini sudah tidak menyenangkan lagi. Aku tidak takut polisi, tapi cara seperti ini akan menggagalkan semua rencana kita. Percuma dong kita memeras dosen sialan itu kalau akhirnya cuma begini? Padahal uang yang masuk sudah ratusan juta! Aku tidak peduli dengan uang, aku hanya tidak mau rugi. Itu saja.”
Pak Kobar mengangguk – angguk setuju, “yang dikatakan Imron benar, Pak Bejo. Kita memang sering memaksa cewek manapun supaya mau dijadikan budak seks. Kita membuat mereka takluk di bawah lutut dan menyembah kita agar mau kita tiduri kapan saja, dimana saja, bagaimanapun caranya. Tapi itu bukan berarti kita akan menculik mereka berhari – hari lamanya. Setelah ini apa yang akan kamu lakukan? Memperkosa mereka, memukuli dan menghajar mereka seperti yang dulu pernah kamu lakukan?!”
“Dasar kalian semua penakut!!” maki Pak Bejo jengkel. “Kakak ipar gadis ini sudah membuatku malu! Kacungnya sudah menghajar anak buahku, berani pula menantangku! Mau ditaruh dimana mukaku ini kalau orang kurang ajar itu melenggang tanpa maaf? Ini adalah balasan yang setimpal! Akan kubuat gadis itu menderita dengan caraku!”
“Caramu sama sekali tidak elegan dan kotor. Aku kan sudah pernah bilang, kalau kamu mau cewek, aku bisa sediakan berapapun, tidak perlu cara menjijikkan seperti ini kamu lakukan! Menculik anak orang, cuih.” balas Imron dengan santai.
“Percayalah padaku, Ron.”
“Tidak. Ini bukan caraku, Bro. Apa yang aku lakukan kotor tapi elegan, tidak seperti yang kamu lakukan ini! Aku memaksa seorang cewek menjadi budakku dengan bermain cinta dan kemauan mereka sendiri, bukan paksaan dan siksaan. Aku tidak ingin ikut campur urusanmu lagi. Aku keluar dari bisnis ini! Maaf, tapi kamu sendirian mulai sekarang.”
Pak Bejo terkejut dan kecewa, “Tapi…”
Pak Kobar ikut mengangguk. “kamu sendirian, Jo. Aku juga tidak mau disangkutpautkan masalah ini. Kamu sudah keterlaluan. Aku tidak mengijinkan gadis itu dibawa lagi ke hotelku. Titik.”
Pak Bejo ambruk dengan lemas, tapi kemudian kerut wajahnya berubah kesal, “kalau kalian tidak mau ikut campur ya sana! Pulang saja! Aku kecewa dengan kalian!”
Imron dan Pak Kobar berdiri dan mengangguk hampir bersamaan. Tidak perlu menjawab pertanyaan orang yang sudah lupa daratan seperti itu. Sepertinya Pak Bejo lupa siapa yang telah menolongnya dulu, siapa yang memberinya uang, siapa yang memberinya makan, siapa yang memberinya penginapan. Orang tua itu hanya ingin mengeruk keuntungan demi keuntungan dengan memperkerjakan Anissa tanpa henti, dia mulai serakah.
Pak Kobar melirik ke arah Udin yang duduk diam di pojok, pemuda itu memang diam saja sedari tadi menyaksikan pertentangan antara Imron dan Pak Kobar melawan Pak Bejo, Udin tak tahu harus berbuat atau berkata apa. Pak Kobar tersenyum pada keponakannya itu. “Aku tahu kamu masih ingin berada di sini untuk memastikan nasib gadis itu. Jika kamu berubah pikiran, aku masih tetap berada di motel. Tapi ingat, jika polisi menemukanmu, aku tidak akan pernah mengakui pernah menampungmu.”
Udin mengangguk dengan pandangan kosong.
Pak Kobar menepuk pundak Udin dan melangkah menyusul Imron yang sudah berdiri di pintu keluar. Pak Bejo marah – marah melihat kepergian mereka berdua.
“Kalian pikir kalian siapa, hah?? Kalian pikir aku tidak bisa bekerja tanpa kalian? Kalian pikir kalian siapaaa??”
Tidak ada gunanya Pak Bejo berteriak – teriak karena Imron dan Pak Kobar sudah melangkah keluar ruangan, meninggalkannya sendirian.
Bersambung…
ANISSA TERANIAYA (3)
Hingga pagi menjelang, Anissa masih berharap Dodit akan datang dan menyelamatkannya. Itu yang membuatnya tetap bertahan, sinar matahari yang masuk samar melalui jendela dengan tirai yang selalu tertutup membuat harapannya terus terjaga, sepanjang malam hingga pagi ia berjaga. Asanya masih ada, segunung, sebukit, sekepal, sejengkal, setitik, sekecil apapun, berapapun ukurannya asa itu masih menyala.
Sayang hingga sinar matahari itu mulai redup dan menghilang Dodit masih juga belum datang. Justru Pak Bejo yang datang dan membuka pintu.
“Selamat sore, anak manis. Maaf membuatmu menunggu lama. Hari ini kursusmu akan segera dimulai.” Kata pria tua itu sambil terkekeh. “Aku akan memanggilkan guru kursus privat untukmu sore ini.”
Anissa kebingungan, ia meringkuk di pojok ruangan dengan ketakutan, wajahnya pucat pasi dan kepalanya menggeleng – geleng tak mau berhenti, ia benar – benar sangat ketakutan. Di samping Pak Bejo berdiri sosok wajah asing yang tak dikenalinya, wajahnya keras dan tubuhnya kekar, rambutnya yang keriting dipotong membulat.
“Dia ini panggilannya Kribo,” kata Pak Bejo. “Dia orang kepercayaanku. Dia yang akan menjadi guru privatmu hari ini.”
Kribo tersenyum meringis, wajahnya sangat bengis dan kejam. Anissa langsung tak menyukainya sejak pandangan pertama. Pria itu maju pelan dan menarik lengan Anis dengan kasar.
“Jangan! Jangan… saya tidak mau, Pak… jangan…” Anissa mencoba minta pertolongan Pak Bejo namun pria tua itu hanya mendengus tak mau tahu meninggalkan mereka berdua. Ia duduk di sofa yang ada di ruang tengah dan menyalakan televisi. Telinganya seakan tersumpal dengan raungan dan teriakan Anis yang dibawa paksa oleh Kribo keluar dari kamar.
Gadis itu dibawa paksa menuju gudang yang sepi, di sana hanya ada kayu dan kotak – kotak kardus kosong. Lampu ruangan awalnya dimatikan, sehingga Anissa tak bisa melihat apapun. Ia berjalan dengan tertatih karena digandeng paksa oleh Kribo. Anis bisa mendengar suara pintu dikunci rapat dan tawa beberapa orang yang ada di dalam gudang.
Ketika lampu kembali dinyalakan, Anissa ternyata sudah berada di tengah ruangan.
Terpaksa berjalan pelan di tengah gudang yang sudah kosong karena tak tahu harus kemana dan berbuat apa, Anissa menatap ketakutan ke sekelilingnya. Di sana sudah berdiri 5 atau 6 atau 7 orang berwajah sangar yang sama sekali tidak ia kenal yang mengitarinya, ia tidak bisa menghitung dengan pasti jumlah mereka karena ketakutan menatap satu demi satu wajah yang ada. Yang Anissa ketahui dengan pasti bahwa wajah mereka tidak ada yang tampan, hampir semua berkulit hitam dan sawo matang, memiliki otot yang kencang dan masing – masing memiliki tato yang memenuhi bagian tubuh tertentu.
Yang membuat si cantik itu makin gemetar dan ketakutan adalah karena orang – orang itu tidak mengenakan celana! Mereka tersenyum menjijikkan sambil menjulurkan lidah seperti hendak menelan Anis hidup – hidup sementara batang penis mereka dipamerkan kemana – mana! Tangan mereka bergerak ke selangkangan untuk mengocok kemaluan masing – masing saat Anissa melangkah ke tengah ruangan. Seakan hanya dengan menyaksikan Anissa melangkah saja mereka sudah terangsang, walaupun harus diakui, gerakan si cantik itu memang gemulai.
Di ujung ruangan terletak sebuah kursi kayu yang memiliki ikat permanen terbuat dari kulit di bagian lengan dan kakinya, bentuknya seperti kursi penyiksaan yang ada di cerita – cerita kuno. Melihat kursi itu Anissa makin merinding, apalagi ia juga melihat lima tripod dengan video kamera yang siap dinyalakan berada di sisi – sisi gudang semua diarahkan menuju ke kursi itu. Apa yang orang – orang ini rencanakan??!
Seorang laki – laki yang kulitnya hitam dan bibirnya tebal maju ke depan Anis sambil berulang kali menjilat bibirnya sendiri. Gadis yang ketakutan itu hendak mengucapkan sepatah kata… namun tiba – tiba saja orang itu menamparnya tanpa sebab!!
Anissa jatuh terjerembab dengan pipi yang merah dan tersengat. Walaupun bisa berdiri kembali, namun gadis itu shock berat sembari mengelus pipinya yang panas. Ia menatap orang yang ada di hadapannya dengan wajah pucat pasi. Kenapa dia ditampar? Apa salahnya?
Namun belum Anissa protes, anggota kawanan yang lain sudah datang mengerumuninya seperti anak – anak berebut es krim.
“Ck ck ck ck, coba lihat ikan yang kita dapat hari ini, anak – anak. Putri duyung kecil dengan lekukan tubuh yang sangat seksi dan molek. Tubuh macam ini yang aku bilang sangat menggiurkan…” goda salah satu pria yang mencoba mendekati Anissa yang ketakutan setengah mati, dia mencolek pundak Anis dan membuat gadis itu menjerit tertahan, si cantik itu pun bergerak memutar ketakutan sembari menutup dada dan bagian bawah perutnya.
“Jangan… jangan…” tolak Anissa sambil menggelengkan kepala ketakutan, hampir – hampir ia menangis.
Namun para serigala buas itu tentu tak berhenti. Salah seorang dari mereka bergerak ke belakang Anis, memegang tangannya dengan erat dan memutar tubuhnya agar mereka berdua bisa saling berhadapan. Anissa langsung menundukkan kepala, tak mau bertatapan wajah dengan orang itu!
“Senangnya, kita bisa bermain – main dengan putri duyung yang cantik seharian penuh hari ini. Putri duyung kecil yang menyelam di antara hiu sudah sepantasnya disantap kan?” kata orang yang memutar tubuh Anis tadi.
“Yaaaa…!! Dia ini putri duyung lonte!”
“Ayo kita lihat apa yang ada di balik pakaian putri duyung lonte ini!”
“Bokongnya bulet kencang! Aku suka bokongnya!”
Salah satu dari mereka bergerak maju dan meremas buah dada kanan Anissa. Meremasnya dengan begitu kencang, membuat dara jelita itu mengernyit kesakitan dan akhirnya sadar kalau situasinya saat ini sangat berbahaya sekali, keringatnya mulai menetes deras membasahi tubuh indahnya dan jantungnya berdegup sangat kencang. Nasib malang apalagi yang hendak menimpanya kini? Kenapa dia tidak melihat Pak Bejo?
“Auuuh! Jangan! Saya mohon, jangan…!!” pinta Anissa memohon ampun, ia berusaha mendorong tangan seorang lelaki yang mengelus paha dan berusaha menyentuh selangkangannya.
Tentu saja pria itu langsung naik pitam karena ditolak oleh Anissa!
“Lonte sialan!!” laki – laki yang didorong tangannya menjadi sangat gusar dan dengan kasar menarik kepala Anis ke depan dengan mendorong bagian belakang kepala dara itu, “Kamu dengar baik – baik dan simpan dalam – dalam! Kami akan melakukan apa yang ingin kami lakukan, bagaimana kami melakukannya, kapanpun kami ingin melakukannya! NGERTI KAMU?! Kamu itu cuma lonte murahan! Jadi lebih baik kamu diam saja!! Percuma minta tolong! Tidak akan ada orang yang akan menolong kamu, NGERTI?!”
“Sudah Yon, langsung saja! Dia ini kan cewek murahan, dia pasti sudah ga sabar mau dientotin! Heh! Pelacur tengik, diam kamu! Jangan buka mulut kecuali mau nyepong kontol!” laki – laki lain membentak Anis dengan galak sambil berusaha menenangkan rekannya yang marah.
Anissa merasa terbebas sebentar ketika orang yang memegang lengannya tadi melepas cengkramannya. Merasa mendapat angin sesaat, Anis bergegas dan bergerak cepat. Dengan panik, si cantik itu bangkit dan mencoba berlari menuju pintu! Sayang, baru satu kaki melangkah, ia sudah jatuh terjerembab karena tiga pasang tangan sigap menarik tubuhnya. Tentu Anis mencoba meronta dan berusaha melepaskan dirinya dari sergapan, walaupun sia – sia belaka.
Si molek itu dibawa ke sebuah tikar yang berada di sudut gudang dengan paksa.
“Mau kabur ya?! Dasar lonte sialan! Tidak tahu diri!”
“Telanjangi saja!”
“Ayo diewe sampe mampus!!”
“Bokongnya! Aku mau bokongnya!”
“Baunya harum! Aku mau jilati seluruh tubuhnya!”
Anissa mencoba melihat laki – laki yang mengitarinya satu demi satu untuk menandai mereka, tapi ia tidak bisa menghitung jumlahnya, ia mencoba fokus namun sulit sekali rasanya karena sudah terlalu panik dan degup jantungnya berdetak sedemikian cepat sehingga sekali ia berkonsentrasi, langsung buyar dengan cepatnya. Tangan si cantik itu dengan otomatis melingkar di dada untuk menutup buah dadanya sementara tangan lain melindungi bagian bawah perutnya. Air mata gadis yang sudah pernah diperkosa Pak Bejo itu mulai mengalir karena tahu nasib buruknya hanya tinggal menunggu waktu saja.
“Jangan.. saya mohon jangan lakukan ini. Berhenti… saya mohon … biarkan saya pergi…”
Laki – laki yang tadi menamparnya bernama Yono, selain anggota kawanan Pak Bejo, dia juga salah seorang saudara bandot tua itu. ia mengambil satu langkah ke depan ketika Anissa mulai merengek dan menatapnya galak, “kita bisa melakukan ini dengan kasar, atau kita bisa melakukan ini dengan lembut sesuai persetujuanmu. Lepas semua bajumu dan perlihatkan pada kami seperti apa tubuh molekmu kalau kamu bersedia melayani kami! Atau mau aku tampar lagi??”
“Jangan… saya mohon jangan…” Anissa bergerak mundur ke belakang menjauhi Yono.
“Memang dasar kamu pelacur kecil yang tengik! Buka bajumu!!” Yono yang sudah gelap mata meraih kerah baju Anis dan menariknya ke depan dengan satu sentakan yang mengagetkan. Tidak berhenti di situ saja, Yono merobek bagian depan baju berkancing Anissa sehingga dadanya terbuka lebar, begitu kasar dan kuatnya gerakan Yono sehingga kancing Anis terlempar dari bajunya. “Ayo buka susumu! Barang segitu gede jangan disembunyikan! Percuma!”
Tak perlu waktu lama bagi semua pria yang ada di ruangan itu untuk membantu Yono melucuti pakaian Anissa dan membuatnya telanjang bulat di hadapan mereka. Sebenarnya tiga diantara mereka sudah pernah kita kenal sebelumnya, Badu, Kribo dan Jabrik. Kroco anak buah Pak Bejo yang tempo hari dihajar oleh Paidi. Anissa meronta sebisa mungkin dengan hasil sia – sia, seluruh pakaian yang melekat di tubuh lepas tanpa sisa.
Anissa kini telah bugil. Dara cantik itu berdiri gemetar dengan tangan menyilang melindungi dada dan selangkangannya dari tatapan liar para preman yang buas.
Anis menangis sesunggukan di hadapan para serigala buas yang telah siap memangsanya itu. Begitu cepatnya para lelaki itu bergerak sehingga bahkan Anissa sendiri kaget ia bisa ditelanjangi dengan amat cepat. Begitu Yono membuka baju Anissa, laki – laki lain ikut maju, menyeretnya ke tikar, menekuk dan mengunci tubuhnya agar tidak bisa bergerak dan mulai menelanjanginya. Roknya ditarik ke bawah dengan sentakan demi sentakan yang menyakitkan kakinya, bra dan celana dalamnya ditarik dengan kasar tanpa mempedulikan teriakan sakit yang ia lontarkan.
Bagai karnivora kelaparan yang berebut daging segar, semua lelaki yang ada di sana menyerang Anissa, tak sabar ingin mempermalukan gadis cantik dan anggun itu. Anis sendiri tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah karena perlawanannya sedari tadi berakhir dengan sia – sia. Apalagi setelah ia telanjang, kawanan preman itu dengan beringas menyerangnya! Tangan – tangan mereka bergerak cepat menjarah keindahan tubuhnya, jari jemari dengan nakal meremas – remas payudara Anis seperti balon, mereka mencubit pentilnya, menggosok bibir kemaluannya dan menyentuh – nyentuh liang duburnya. Orang – orang biadab itu menganggap Anissa bagaikan tak bernyawa, ia dianggap seonggok daging tanpa hati dan perasaan!
Mereka makin menggila, seorang pria dengan kasar menampar payudara Anissa yang kenyal karena gemas, meremasnya dengan kencang dan menumbukkan sebelah kanan dan kiri bersamaan, yang lain menepuk pantatnya dengan keras berkali – kali hingga warnanya memerah dan yang lain lagi menjambak rambutnya kesana kemari. Anissa menjerit dan menangis histeris, memohon agar mereka berhenti, namun para lelaki yang sudah gelap mata itu terus saja menyentuh dan mengumpatnya.
“Gila! Lihat susunya! Gede banget! Ini bukan susu! Ini pepaya bangkok!”
“Hajar terus! Aku suka dengerin jeritannya! Jeritannya manja!”
“Lonte!”
“Cewek murahan!”
“Bibirnya manis banget, emang dasar tukang sepong!”
“Wew, memang nakal cewek satu ini! Masa rambut memeknya dicukur!”
Mendengar itu semua, tubuh Anissa makin merinding, ia benar – benar ketakutan.
“Sudah dengar sendiri kan? Kamu memang pelacur kecil yang nakal.” Kata salah satu dari mereka, “kamu bahkan mencukur rambut kemaluanmu sendiri! Itu tandanya kamu sudah biasa dientoti orang! Kamu memang pengen dientoti kan? Iya kan? IYA KAN??”
“Berani taruhan! Cewek macam ni begitu ketemu sama cowok, pasti langsung buka celana! Gak tahan dia lihat kontol!”
“Aku pengen bokongnya. Aku harus dapat bokongnya!”
Kribo menjambak rambut Anis dan menariknya ke belakang, gadis itu menjerit kesakitan! Tangis Anissa makin mendera karena ketakutan, preman – preman itu membuat bibirnya kelu dan lidahnya beku, airmatanya pun mulai menangis deras tanpa bisa dibendung. Belum selesai begitu saja dengan menjambak rambut indah si dara jelita, kemaluan Kribo ditampar – tamparkan ke pipi Anissa, kanan ke kiri, kiri ke kanan.
“Kamu pernah dientotin kontol segede ini, sayang?” tanyanya tanpa malu, “kalau belum pernah berarti kamu beruntung hari ini! Kontol gedeku bakal masuk ke semua lubangmu!”
“Jangan…! Ampun! Saya mohon! Ampuni saya… ampuni saya! Saya mohon! Saya mohooon!!”
“Dia malah minta tuh, Bo! Ambil aja gih! Emang dasar Lonte tuh! Malah minta dientotin!”
Anissa begitu bingung dan ketakutan, dia semakin tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nasibnya benar – benar dalam bahaya. Pemerkosaannya hanya tinggal menunggu waktu saja. Tanpa bisa memberikan perlawanan berarti, Anis digiring ke kursi yang memiliki ikat. Yono dan Kribo dibantu teman – teman lain mulai bekerja. Mereka membalik tubuh Anis dan membungkukkannya hingga wajahnya menempel di landasan kursi. Kembali gadis itu mencoba meronta dan kembali ia gagal melepaskan diri. Tangan Anis ditarik ke belakang, ditekuk agar lengan bawahnya saling bersilang dan diikat dengan erat menggunakan isolasi berukuran besar. Setelah selesai mereka membaliknya kembali sehingga Anis bersandar dengan tangannya yang sudah terikat di belakang. Posisi yang membuatnya tersiksa.
Badu mengambil ikat leher anjing yang berada di bawah kursi dan melingkarkannya di leher Anis, mengaitkannya hingga berbunyi klik dan menunjukkan wajah puas ketika melihat penampilan Anissa. “Nah, begitu seharusnya wajah seorang lonte sejati, terikat dan menggunakan ikat leher dalam keadaan telanjang, menunggu kontol datang!”
Jabrik dan salah seorang teman yang bernama Kemal membuka kaki Anissa lebar – lebar sementara Badu meremas buah dada dara itu dengan gemas, ia menarik puting susu Anissa dengan sangat kencang membuat dara jelita itu mengernyit menahan sakit. Kribo menjambak rambut Anis ke belakang, membuat gadis itu menengadah ke atas tepat berhadapan dengan wajah Kribo. Air mata Anis kini tak terbendung, ia begitu ketakutan sehingga tak bisa berhenti gemetar.
“Jangan..jangan..jangan..jangan…”
“Cuh!” Kribo meludahi wajah cantik Anis. Ludah itu tepat jatuh di dekat pelupuk membuat Anis memejamkan mata sekejap. Kribo menyeringai hina “ambil itu, pelacur!”
Anissa sudah tak bisa berbuat apa – apa, tubuhnya jadi sasaran serangan, seluruh kawanan preman yang ada. Ia disentuh, dicubit dan diremas di sekujur tubuh oleh tangan – tangan para begundal itu. Jabrik dan Kemal menaikkan lutut Anis hingga kakinya terangkat ke atas, membuat bagian bawahnya terekspos tanpa halangan. Tangan – tangan mereka bergerak liar, menyentuh, mencubit dan meremas setiap sentimeter jenjang kaki dan paha mulusnya termasuk meremas pantat bulatnya yang menggoda. Badu masih tetap mengerjai buah dada Anis, ia tak hentinya meremas dan memilin sehingga puting susu Anis menjorok ke depan dengan kencang. Kribo dan Yono kini merabai selangkangannya, mengelus bibir kemaluannya bergantian. Seorang pria berkulit gelap yang sepertinya berasal dari wilayah timur Indonesia, mencium bibir Anis dan memaksanya membuka mulut dengan menjambaknya. Lidah orang bernama Wewengko itu masuk menjelajah di mulut Anis dan menikmati apapun yang ada di sana, ia juga meludahi bagian wajah si cantik itu hingga belepotan air liur.
Begitu ketakutannya Anissa, sehingga ia tak mampu lagi meronta atau bergerak, ia hanya pasrah menerima apa yang mereka lakukan pada tubuhnya. Gadis malang itu gemetar ketakutan hebat dan selalu berharap kawanan itu selanjutnya akan berhenti.
“Ko punya tubuh sangat indah, eh! Kami akan bersenang – senang sepanjang malam!” Ejek Wewengko. Walaupun sudah pernah diperkosa oleh Pak Bejo, sudah pernah bercinta dengan Pak Doni dan sudah tidur dengan Udin, namun Anissa tak pernah membayangkan dia akan dijadikan santapan beramai – ramai seperti ini. Semuanya preman anak buah Pak Bejo dan semuanya bertujuan memperkosanya dengan kasar.
Anissa memejamkan mata dan kembali menangis senggugukan. “Kumohon jangan sakiti aku,” pintanya penuh peluh air mata.
“Kamu diam aja deh, dasar lonte! Bikin ilang feeling! Tadi kan sudah dibilang jangan banyak omong! Aku kasih tahu biar kamu nggak banyak omong lagi! Kamu tahu apa itu gangbang? Tahu ya? Jangan – jangan kamu malah udah langganan digangbang, dasar lonte! Hari ini kami akan mengangbangmu, memberi kenikmatan!” kata Kribo dengan meringis kejam, “kamu pasti menyukainya nanti, bahkan minta tambah. Kamu hanya perlu dilatih, jadi yang harus kamu lakukan adalah diam saja dan nikmati.”
Wewengko kini berada tepat di selangkangan Anis, “buka eh! Aku mau lihat dia punya!”
Badu dan Kemal membentangkan kaki Anis kembali, seakan memberi jalan lebar bagi Wewengko. Anissa tentu berusaha meronta dengan sekuat tenaga, tapi ia tetap tak bisa berbuat banyak, perlawanannya menjadi sia – sia dan tidak berarti. Wewengko kini jongkok di depan selangkangan Anis dan mulai menggunakan jarinya untuk mengerjai bibir kemaluan si cantik itu. Pria berkulit gelap itu mencibir dan menghina Anis, “apa aku bilang tadi eh, dia punya sudah basah. Memang dia ini pelacur!”
“Jangan! Jangan! Saya mohon! Saya mohon! Saya mohon! Jangan! Jangaaan! Jangaaaan!”
Dengan menggunakan jari jemarinya yang bergerak liar, Wewengko membuka bibir kemaluan Anis lebar – lebar dan mulai menjilati kelentitnya. Anissa bisa merasakan lidah pria itu bergerak menyusur di semua bagian bawahnya, tubuh si cantik itu menggelinjang tanpa bisa berhenti ketika Wewengko menjilati bibir kemaluannya dan sesekali menembus masuk liang cintanya. Gadis jelita itu memejamkan mata dan menggemeretakkan gigi. Tak ada satupun hal yang bisa ia lakukan untuk mencegah Wewengko. Seperti sedang menikmati buah yang manis, Wewengko menyeruput cairan yang ada di seputar kemaluan sang dara tanpa merasa jijik, membuat Anissa menggelinjang tak henti.
“Berhenti… saya mohon…! Saya mohon… berhenti…”
Selesai mencicipi bibir kemaluan Anis, Wewengko menengadah dan menatap si cantik itu dengan gembira, “Tahu tidak sayang? Rasanya nikmat sekali!”
Tak mau berlama – lama di bawah, Wewengko berdiri menghampiri kepala Anissa yang masih menggantung karena kakinya diangkat naik oleh Badu dan Kemal. Kemaluan hitam pria itu menggantung di depan wajah Anis, membuat gadis itu risih dan takut. Anissa pun membuang muka karena jijik. Wewengko yang merasa terhina hendak menampar Anis namun dicegah oleh Kribo yang menggelengkan kepala, ia maju menyodorkan kontolnya ke muka Anissa menggantikan Wewengko yang mundur.
“Kita mulai pelajaran pertama, nyepong kontol!” kata Kribo dengan penuh senyum, namun karena Anis kembali membuang muka, ia jadi sebal. “Oi, balik dia!”
Badu, Kemal, Jabrik, Wewengko dan Yono membalik tubuh Anissa hingga perutnya mengganjal kursi. Buah dadanya tergencet ke bawah dengan wajah menghadap langsung ke penis Kribo. Batang panjang kemaluan pria bertubuh kekar itu kini ditamparkan berulang kali ke wajah Anis, mengenai hidung dan pipinya. Ia sengaja melakukannya agar Anissa bisa merasakan kerasnya penis itu. Anis tentu saja berusaha memundurkan kepala atau bergerak ke kanan kiri untuk menghindari bersentuhan dengan batang kejantanan Kribo.
“Jangan..” pinta Anis sia – sia, “lepaskan saya..”
“Memangnya kenapa?” Kribo menghardik Anis, membuat gadis itu gemetar ketakutan. “Apa kamu takut melihat kontolku? Ini bukan kontol pertama yang pernah masuk ke mulutmu, kan? Ayo dikulum! SEKARANG!!”
Darah Anis terasa membeku dan wajahnya jadi pucat pasi ketika Kribo meminta Anis mengulum batang kejantanan pria kekar itu. Gadis itu takut sekali, selain ukurannya yang besar, penis Kribo memiliki urat – urat besar yang bertonjolan dan rambut kering yang menggerombol di pangkal. Anissa meneguk ludahnya, membayangkan bagaimana rasanya benda ini pun ia tak berani. Kini ia harus mengulumnya?
“Lama amat sih!!!” hardik Kribo emosi.
Anissa masih berusaha meronta ketika penis itu dioleskan dari tepian telinga ke pipi kiri hingga ke pipi kanan melintas wajah cantiknya. Bau batang kejantanan yang pesing membuat Anis mengernyit jengah dan kewaspadaannya pun lengah, mulutnya membuka secara reflek! Kribo pun menggunakan kesempatan ini untuk mendorong penisnya ke mulut Anis. Tidak mau mengalah, Anissa menutup mulutnya rapat – rapat.
Kribo semakin emosi karena gagal.
PLAK!
Tanpa ampun Kribo menampar pipi Anissa. “Mungkin niat kami masih kurang jelas ya? Apa aku perlu menjelaskannya sekali lagi? Kamu ada di sini untuk melayani kami. Tidak akan ada yang menolongmu, jadi jangan pernah berharap akan ada pahlawan kesiangan yang datang! Menolongmu juga percuma karena kami menjaga ketat tempat ini. Kami akan memperkosamu siang malam sampai Bos Bejo memutuskan untuk menjualmu ke lokalisasi atau menggunakanmu untuk memeras bos – bos gendut berduit tebal. Saat kami selesai dengan perkosaan ini, kamu akan menjadi pelacur kelas teri yang siap dijual 24 jam. Pelacur murahan yang cukup tahu bagaimana caranya membuka kaki lebar – lebar. Kamu hanya perlu bekerja sama dengan melakukan apa yang kami minta tanpa perlu melawan, kalau melawan kamu hanya akan sakit sendiri.”
Selama mengucapkan ancamannya, Kribo menyekik leher Anissa sehingga gadis itupun sesak nafas. Anis megap – megap mencari udara, wajahnya berubah pucat. Melihat Anis semakin kesulitan bernafas, Kribo melepaskannya, dia tidak mau Anissa mati sebelum berhasil diperkosa.
Sekali lagi dia menjambak Anis, mendekatkan wajahnya ke arah kejantanannya yang mengeras. Ujung gundul kemaluan Kribo dioleskan ke bibir mungil gadis jelita itu dan didesakkan supaya masuk, tapi Anis masih bersikeras menutup bibirnya.
“Buka mulutmu, pelacur tengik!” maki Kribo tak sabar lagi, tangannya naik ke atas bersiap menampar Anissa sekali lagi.
Dengan airmata menetes di pipi, Anissa membuka mulutnya pelan supaya ujung gundul kemaluan Kribo bisa masuk. Dengan menggunakan tangan kanannya Kribo membimbing batang kejantanannya untuk menembus bibir mungil gadis jelita itu, tangan kiri Kribo yang bebas digunakan untuk menggerakkan kepala Anis maju mundur menyusuri panjang batang hitam kemaluannya. Penis berkulit tebal berwarna gelap dengan urat yang melingkar – lingkar itu akhirnya berhasil keluar masuk mulut Anissa yang mungil manis.
“Pelacur sialan, gini aja kok lama banget!” gerutu Kribo tak jelas. “Wah! Sedotanmu enak sekali..”
Kribo menambah kecepatannya, memaksa si cantik itu bergerak lebih cepat. Kepala Anis terantuk – antuk seperti boneka tak bernyawa.
“Ayo hajar terus, Bang Kribo!” teriak Kemal penuh semangat.
“Makan terus batangku!” Kribo ikut terbakar semangatnya.
Anissa ingin mati saja rasanya. Kemaluan Kribo sangat bau dan tidak enak dikulum, ia jijik sekali namun tidak bisa berbuat banyak. Penis yang sudah keras itu justru makin lama makin keras dan membesar, terasa di dalam rongga mulutnya yang hangat.
Wewengko tertawa – tawa sambil membantu Kribo menggerakkan kepala Anissa supaya penis Kribo bisa semakin masuk ke dalam mulut sang dara. Benar saja, begitu dalam sodokannya ujung gundul penis Kribo bisa mengetuk dinding kerongkongan Anis! Si cantik itu tersedak dan memejamkan mata kesakitan karena mulutnya terus menelan batang kejantanan Kribo yang sudah mengeras. Gadis itu berontak dan meronta mencoba bebas, ia tak sanggup menarik nafas, belum pernah dalam hidupnya Anissa diperlakukan seperti ini, dia bisa mati! Suara menggelegak keluar dari tenggorokan si cantik itu.
Di saat Anissa meronta karena lemas tak bisa bernafas, Kribo malah mengeluarkan erangan kenikmatan yang panjang. “Gilaaaaaaaaaa! Enak banget!”
“Jebol tenggorokannya!”
“Pelacur!”
“Kalian harus coba mulutnya, bener – bener enak.”
Tangis dan air liur menetes dari wajah cantik Anissa yang mulutnya diperkosa secara brutal. Masih dengan kemaluan Kribo dimulutnya, dara cantik itu sesunggukan. Ia tahu pasti mereka semua akan mencoba melakukan hal yang sama kepadanya, memperkosa mulutnya. Tanpa henti. Kantung kemaluan Kribo terlempar – lempar bersamaan dengan gerakan maju mundur penisnya dan berulangkali menampar dagu Anis. Rambut kemaluan yang bau dan tebal berulang kali melesak dan mengkikis bibir indah si cantik itu. Semua preman yang ada di sana tertawa terbahak – bahak melihat wajah jijik Anissa.
“Top, semuanya ditelen sama lonte satu ini!”
“Suka makan jembut?”
Kribo tak berhenti mempermainkan Anissa, seluruh batang kemaluannya amblas ditelan gadis itu. Memang sukar dipercaya bibir semungil milik Anissa bisa menelan utuh kemaluan Kribo yang sudah membesar dan mengeras seperti kayu. Memegang bagian belakang kepala gadis itu, Kribo memaju mundurkan kemaluannya dengan lebih cepat, menggasak tenggorokan Anissa hingga hampir tersedak kembali. Suara basah menggelegak keluar dari mulut Anissa dan lelehan air liur mengalir deras dari mulut gadis itu.
“Benar, seperti itu. basahi mulutmu. Kontolku lebih enak masuk kalau mulutmu basah.” Kribo mengerang keenakan, menggoyang kemaluannya dan menusuk lagi ke dalam mulut Anissa. “Seperti itu. Seperti itu juga. Seperti itu juga. Seperti itu juga..”
Ujung gundul penis Kribo mendesak masuk tanpa ampun, Anissa juga tak berhenti meronta. Raung kesakitan dara cantik itu justru membuat Kribo makin terangsang. Suara menggelegak dan tersedak yang dikeluarkan Anis dan pemandangan indah mulut mungil yang terpaksa menelan kemaluannya membuat Kribo naik ke langit kenikmatan. Ia terus saja menggerakkan kemaluannya tanpa henti, ini membuat Anissa kian tersiksa, Kribo tak berhenti memperkosa mulutnya sementara ia kesusahan bernafas. Berhenti, cepat berhenti, cepatlah berhenti, jerit Anis dalam batin.
“Makan tuh kontol!”
“Bikin dia mati tersedak, Bo!”
“Lagi! lagi! lagi! lagi! terus! Lagi!”
“Telan sampai mampus!”
Gelegak suara tersedak kembali keluar dari mulut Anissa yang mencoba menarik nafas, namun desakan penis Kribo di mulutnya sangat cepat dan dalam, membuatnya tersiksa.
Kribo mengelus rambut Anissa yang menangis, “wajahmu kelihatan sangat cantik kalau menelan kontol seperti ini, lonteku…”
Anissa memejamkan mata, ia semakin tak kuat bertahan, pria bejat ini memperlakukan mulutnya seperti liang kewanitaan! Kribo bukannya berhenti namun malah makin menjadi, terlebih lagi ada semangat dari kawan – kawannya!
“Telan sampai dalam, lonte sialan! Kamu bisa makan semuanya!”
“Cekik dia sampai mampus, Bo! Lonte satu ini suka dicekik!”
“Wajahnya manis kalau mulutnya ngemut kontol!”
“Dia goyang terus, Bo! Ayo terus! Bikin dia goyang!”
“Bagus kalau dia suka kontol, dia akan jilat semua kontol kita!”
“Edan, baru make mulutnya aja sudah bikin aku pengen ngeluarin pejuh!!” Kribo menggelengkan kepala takjub, heran sekali dia. Sekejap kemudian pria berambut keriting itu memejamkan mata dan mendengus penuh nafsu, gerakan pinggulnya kian cepat! “Ya! Ya! Terus! Yaaa! Ohhh!! Uuughh!! Aku mau keluar, lonte sialan! Aku mau keluarin semua di mulut kamu! Semuanya! Semuanyaaa!!”
Semua preman yang sedang menonton kebuasan Kribo memperkosa mulut Anissa bisa mendengar suara hantaman perut pria itu di kening sang dara, kantong kemaluan laki – laki sadis itu juga menumbuk dagu Anissa hingga menimbulkan suara saat penisnya masuk sangat dalam ke kerongkongan. Bukannya merasa kasihan dengan Anissa yang jelas sangat tersiksa, mereka malah memberikan setiap kali Kribo menggeram dan penisnya melesak. Kribo memang tak peduli, ia menganggap mulut Anissa adalah liang cintanya, ia menumbuknya dengan cepat dan kejam, tak peduli gadis itu tersedak dan tak bisa bernafas.
Lalu saat yang dinanti Kribo pun tiba! Pria itu menekan kepala Anissa dalam – dalam hingga menempel di bagian perut bawahnya, membiarkan Anissa meronta sementara ia sendiri melenguh sangat lama sembari memejamkan mata. Kribo rupanya telah berhasil mencapai puncak! Dengan hidung yang menempel di pusar Kribo, Anissa bisa merasakan penis yang ditanam di mulutnya berdenyut berulang, benda keras itu bergetar dan makin kencang denyutannya, lalu tiba – tiba saja mengeluarkan cairan hangat yang membanjir di dalam mulutnya, turun melalui kerongkongan dan memenuhi perutnya!
Pria sialan itu orgasme dalam mulutnya!
Bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi pada dirinya? Batin Anissa sambil menjerit. Dia dipaksa menelan pejuh seorang begundal sadis! Mulut mungil Anissa memberontak, menolak menelan benda yang ia anggap menjijikkan itu, tapi goyangan meronta Anissa malah justru membuat Kribo makin merasa nikmat! Leleran pejuh yang menggumpal dan membuih keluar dari sisi – sisi mulut sang dara, menetes membentuk temali kental yang menuruni bibir dan dagunya. Meskipun sudah mengeluarkan seluruh mani dari ujung gundul kemaluannya, Kribo masih juga belum berhenti berherak maju mundur. Gerakan dan goyangan tubuh Anissa membuat leleran air mani tadi kian turun dari dagu, menetes ke leher dan jatuh ke balon buah dadanya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Kribo menarik penisnya dari mulut Anissa.
Saat kejantanan Kribo itu dilepas perlahan, dari ujung gundulnya melejit cairan cinta yang membanjiri kerongkongan sang dara. Menebarkan campuran rasa asin – hambar yang kenyal dan lengket di dalam mulut Anissa. Si cantik itupun megap – megap berusaha menarik nafas begitu penis Kribo lepas, ia tersedak dan berulang kali terbatuk. Lega sekali rasanya bisa bernafas dengan bebas kembali. Air mani yang tertinggal di dalam kerongkongan Anis terdorong keluar, menetes melalui pinggir bibir dan menetes ke dagunya. Hingga saat itupun, batang kemaluan Kribo masih belum tuntas mengeluarkan ledakan air cinta, penisnya masih terus berdenyut dan menyemprotkan pejuh ke wajah Anissa. Rombongan preman itupun bersorak – sorai menyambut orgasme pertama yang mendera tubuh sang dara jelita.
“Tuh dia suka sama pejuhnya!”
“Pelacur memang suka itu eh?”
“Telan! Jangan sampai keluar! Telan!”
“Telan, lonte!” pinta Kribo.
Anissa yang sudah hancur rasa percaya dirinya, membuka mulut dan menelan semua pejuh yang dikeluarkan Kribo. Lidahnya bergerak memutar di sekitar bibir dan menarik air mani Kribo kembali ke dalam, persis ketika ia sedang makan es krim.
“Enak kan rasanya? Sedikit asin tapi berkhasiat.” Kata Kribo sambil tertawa. “Masih belum bersih semua, tidak baik kalau masih ada yang tersisa.”
Kribo menggoyangkan batang kejantanannya beberapa kali dengan tangan untuk mengeluarkan sisa air mani yang masih tersisa. “Keluarkan lidahmu, lonte!”
Anissa membuka mulut dan menyentuhkan lidahnya ke penis Kribo. Pria itu bisa melihat sisa – sisa mani masih menempel di bibir Anis, namun ia tidak peduli. Mempergunakan penisnya, Kribo menghapus sisa pejuh itu dan menyodokkan batangnya ke dalam tenggorokan si cantik itu sekali lagi.
“Pelajaran selesai, jalang! Sekarang kamu sudah resmi jadi lonte kami. Wajahmu sudah penuh pejuh dan kerongkonganmu sudah menelan kontol.” Kata Kribo sambil tertawa walaupun tidak ada yang lucu. “Ayo, sekarang giliran kalian.”
Setelah menarik nafas panjang Anissa memejamkan mata, sepertinya ini semua masih jauh dari usai. Tubuhnya kembali ditarik dan dibalik hingga kepalanya menggantung di ujung kursi. Kemal dan Yono memulai aksi dengan meremas buah dada Anis yang menggantung dan kenyal seperti bantal. Melihat buah dada sentosa milik sang dara, Yono menjadi tak tahan, iapun menggigit puting susu si jelita itu dengan pelan, menggeriginya hingga Anissa menggelinjang, apalagi kemudian Yono menjilatinya penuh nafsu! Kemal maju ke depan dan menjambak rambut sang dara, seperti apa yang dilakukan Kribo tadi, pemuda itu menamparkan kemaluannya ke wajah Anis!
“Aku mau kamu melakukan seperti apa yang tadi kamu lakukan pada temanku! Rasakan kontolku, di mulutmu, dengan lidahmu, ke tenggorokanmu…”
Anissa tak menjawab, ia hanya bisa meneteskan air mata.
“Perempuan jalang sialan, bagaimana, masih mau ngemut kontol lagi?” tanya Kemal sambil memaksa Anissa menganggukkan kepala. “Kamu pasti mau, kamu kan lonte.” Pria bertubuh besar itu membalikkan badan ke arah kawan – kawannya. “Bagaimana, apa kalian mau membantu lonte ini dengan menyediakan kontol?”
“Ha – ha, ya! Tentu!” hampir bersamaan mereka menjawab. “Yang tadi belum apa – apa!”
“Ayo ngomong kalau kamu mau ngemut kontol lagi! Ngomong! Cuih!” Yono menampar Anissa pelan dan dengan kurang ajar meludah di wajahnya. “Aku mau mendengar kamu memohon, meminta kami memperkosamu lagi, misalnya meminta kami membuat anusmu lebih lebar dan lubangnya perih karena terluka!”
Anissa diam dan menatap Yono dengan pandangan benci yang tak terkatakan.
“Ayo ngomong!” tampar Yono lagi. “Malah melotot!”
“Aku mohon..!” teriak Anissa.
“Mohon apa?”
“Aku mohon..,” Anissa berhenti sejenak, tangis dan rasa malu membuat lidahnya tercekat. “mohon perkosa aku.” Bisiknya tanpa daya.
“Nah, kalau kamu sendiri yang ngomong gitu kan jauh lebih sopan dan manis.” ejek Kribo yang ikut datang untuk menghina gadis itu. “Yang perlu kamu lakukan kan hanya tinggal meminta..” Kribo berpikir sejenak, “..bagaimana kalau sekarang kita coba dengar pintamu sekali lagi tapi lengkapi dengan kata memek dan anus.”
“Aku tidak mau… aku tidak..”
“Katakan.”
“Ak.. aku mohon…, ak… akku..” Anissa tergagap namun kemudian ia menghela nafas sangat panjang, air matanya menetes ketika ia mengucapkan kalimat yang tidak pernah ia duga akan keluar dari mulutnya sendiri. “Aku mohon… perkosa memek dan anusku…”
“Bagus sekali.” Kribo bertepuk tangan, “sekarang katakan kamu ingin nyepong kontol.”
“Ak… aku ingin… nyepong kon… kont…” Anissa menggeleng, “aku tidak bisa mengatakannya…”
Kribo mendelik marah.
Anissa pun menganggukkan kepala sebagai permohonan ampun, “ja…jangan! ak… aku ingin… ingin…. nyep… nyepong kontol… aku ingin nyepong kont… kontol….”
Yono dan yang lain tertawa terbahak – bahak, “baiklah kalau itu maumu, lonte cantik.”
Sembari tersenyum licik, Yono membuka bibir Anissa dan mulai mencoba melesakkan kemaluannya ke dalam mulut yang masih menyisakan cairan mani Kribo. Sekali lagi Anis megap – megap mencoba bernafas, apalagi Yono menekan hidung sang dara sehingga mau tak mau Anissa harus membuka mulutnya lebar – lebar.
“Lonte cantik, sekarang giliranku merasakan mulutmu! Rasakan kontolku masuk ke kerongkonganmu, ke tenggorokanmu, kalau bisa akan kutembus sampai perutmu!! Akan kusemprotkan dalam – dalam pejuhku sampai kamu kenyang minum mani!” kata Yono kembali. Tanpa peduli sakit yang kini dirasakan Anissa, pria sadis itu duduk di atas kepala sang dara dan melesakkan penisnya ke dalam mulut yang terbuka. Dengan satu lenguhan panjang, Yono menjebloskan kemaluannya dalam – dalam. Ketika Anis mulai tersedak, Yono menarik keluar penisnya dengan menyisakan ujung gundul masih berada di mulut sang dara.
“Sedot, ayo sedot! Lonte sialan! Kenapa harus selalu disuruh?! Ayo sedot!!!”
Dengan air mata menetes deras, Anissa dengan patuh menghisap dan menjilat ujung gundul batang kejantanan Yono. Kribo datang membantu, ia menekuk kaki Anissa ke depan hingga lutut gadis itu hampir sampai di telinganya sendiri. Dengan tubuh yang ditekuk seperti itu, pantat dan memek Anissa mengundang sekali untuk diserang!
“Ayo! Lonte ini masih punya dua lubang lagi di belakang! Sumbat saja!” kata Kribo sambil menyunggingkan senyuman. Kalau kakak ipar Anissa yang cantik sudah menolak Pak Bejo mentah – mentah dan memilih bajingan kurus kering yang jadi supirnya itu untuk menghajar mereka tempo hari, kini dia akan lampiaskan semua kekesalan pada Anissa!
Usai Yono melampiaskan nafsunya pada Anissa, gadis itu bisa merasakan serangan datang silih berganti, tangan – tangan jahil merambah seluruh lekuk tubuhnya yang mulai bermandikan keringat. Ada tangan yang nakal mengelus paha mulusnya yang seputih pualam, ada jemari yang meremas pantatnya yang sekal dan ada telunjuk yang cekatan mengoyak bibir liang cintanya, semuanya hampir bersamaan! Buah dadanya yang sentosa jelas menjadi sasaran empuk, bergantian mereka menjilati, menggigit dan meremas – remas payudara Anis. Puting susunya dipilin dan ditarik – tarik membuat Anis meringis kesakitan sementara para pria buas yang mengitarinya justru tertawa terbahak – bahak. Sial bagi dara malang itu, rasa sakit yang mengitari putingnya justru membuat barang mungil itu menegak dan mengeras, menghunjuk ke atas. Wajah cantik Anis yang panik juga tak kalah parah, terus menerus diserang oleh tamparan kemaluan para penyerangnya.
“Pelacur!”
“Lonte!”
“Cewek murahan!”
“Sampah!”
Hinaan dari semua penjuru makin menyudutkan dan membuat Anis terhina sementara detik – detik pemerkosaannya kian cepat datang. Anissa sudah tak bisa lagi mengetahui siapa yang menyerang bagian tubuhnya yang mana, mereka berputar dan bergantian menyentuhnya. Salah seorang dari mereka meletakkan batang kemaluannya tepat di tengah lembah buah dada Anissa dan menggunakan balon payudara gadis itu untuk menekan penisnya, setelah dirasa ketat dan nyaman, orang itu mulai memperkosa payudara Anissa dengan bergerak maju mundur dengan cepat! Tak butuh waktu lama bagi orang itu untuk kemudian menyemprotkan cairan maninya ke dagu dan dada sang dara! Usai orgasme, ia meludahi dada Anissa dan turun dari atas tubuhnya.
Tangisan Anissa tak terbendung, entah sudah berapa lama ia menangis, mungkin bahkan hingga kering, tapi para preman itu tak juga berhenti melecehkannya. Hingga akhirnya ia mendengar teriakan Badu.
“Sudah waktunya ngentot!”
Preman itu melesakkan penisnya ke dalam memek Anissa perlahan, si cantik itu memejamkan mata ketika merasakan ujung gundul kemaluan Badu masuk hingga memenuhi liang cintanya. Anissa menarik nafas pendek satu dua karena mencoba bersiap dengan serangan Badu. Benar saja, dengan satu sodokan yang keras dan kejam, Badu menanamkan penisnya dalam – dalam! Anissa ingin menjerit kesakitan namun teriakannya terhenti karena ketika mulutnya membuka, satu penis berbau busuk menembus bibirnya!
Melihat Anissa tak berdaya dengan penis yang melesak di mulut, Badu mengulangi lagi sodokannya dengan lebih kencang lagi! Begitu kencangnya desakan penis Badu, sampai – sampai tubuh Anissa hampir melejit.
“Memekmu enak sekali!!” teriak Badu puas.
“Ayo, lonte…bibirmu seksi sekali, aku suka merasakan bibirmu…” orang yang sedang memperkosa mulut Anis, yang ternyata adalah Kemal mulai merem melek keenakan. Sama seperti Badu, ia juga bergerak maju mundur dengan cepat, menanamkan kemaluannya di dalam mulut Anissa. Saat gadis itu mulai tersedak, Kemal menarik penisnya dan tanpa disangka, ia telah mencapai puncak! Semprotan air mani meledak di mulut Anissa. Tembakan demi tembakan cairan kental memenuhi mulut, membasahi bibir dan menempel di lidah sang dara jelita itu.
“Ayo telan! Telan semua!” teriakan Kemal begitu nyaring rasanya di telinga Anissa. “Ayo, lonte sialan! Telan semuanya!”
Anissa hendak menelan, tapi kerongkongannya terasa begitu sakit sehingga ia terbatuk – batuk karena tersedak. Ketika gadis itu membuka mata, semprotan mani lain membasahi wajahnya! Entah siapa yang kali ini menyemprotkan air mani ke wajah Anissa karena gadis itu sudah kembali memejamkan matanya untuk mencegah semprotan itu masuk ke matanya. Kemal mengoleskan ujung gundulnya di pipi Anissa untuk membersihkannya dari air maninya sendiri. Para preman itu bersorak – sorak melihat wajah Anissa yang makin tak karuan belepotan cairan cinta.
“Begitu seharusnya wajah lonte!”
“Aku tidak mengira dia bisa menelan segitu banyak!”
“Lonte seperti dia pasti minta lagi! lanjut!”
“Lanjut!”
“Lanjuuuuttt!”
Dengan mulut megap – megap, Anissa berusaha bernafas. Rasanya susah sekali membuka mulut dengan cairan kental yang membanjir di mulutnya. Ia merasa seperti tenggelam dalam lautan air mani. Berulang kali gadis itu tersedak dan terbatuk – batuk. Setiap kali ia menelan atau mengeluarkan cairan itu melalui sela bibir, seperti masih ada sisa yang tertinggal hingga ia terus – menerus bisa merasakan cairan sperma dalam mulutnya. Satu garis panjang kental menetes dari bibir mungil Anissa, menetes melalui dagu turun hingga leher dan bagian atas dadanya. Ketika ia masih berusaha menata diri untuk bersiap, tiba – tiba Badu melenguh panjang penuh kenikmatan, preman yang masih memperkosa memeknya itu mengejang dan menarik keluar penisnya. Tak pelak lagi, satu semprotan hebat membanjir di buah dada dan perut sang dara!
Anissa sesunggukan dengan air mata yang kering, malam masih panjang. Orang – orang ini pasti belum akan berhenti…
“Sepertinya bagian yang ini sudah matang, ayo kita balik!” kata Kribo yang langsung disambut sorakan teman – temannya.
Mereka mengangkat tubuh Anissa dan berusaha membuatnya berdiri, namun karena tidak kuat dan kedua tangannya masih terikat isolasi, si cantik itu ambruk dan jatuh berlutut. Wewengko menarik kursi ke depan Anissa dan membungkukkan tubuh gadis itu ke depan hingga tubuhnya bersandar di kursi dengan kepala yang tergantung di ujung kursi dan pantatnya naik ke atas. Kini Kribo menarik kaki Anis dan mengikatnya di kursi, begitu juga dengan pinggangnya yang ramping.
“Pantat pelacur ini mulus sekali.” kata Jabrik yang langsung disambut sorakan teman – temannya, mereka memang tahu Jabrik sangat menyukai pantat mulus wanita cantik. “Kalian boleh menyoraki aku, tapi coba lihat lobang anusnya! Pasti sempit dan nikmat sekali!”
Jabrik menampar pipi bokong Anis dengan sekeras – kerasnya! Anissa pun menjerit sekuat tenaga! Ketika kepalanya tegak, ia bisa melihat sekeliling dan melihat wajah – wajah pemerkosanya sedang meringis puas melihat gadis itu ketakutan. Lebih ketakutan lagi karena kini penis dua orang yang berada di samping kepalanya kembali membesar dan mengeras. Dua orang itu adalah Wewengko dan Yono.
Keduanya tertawa terbahak – bahak melihat wajah Anissa yang memucat. Kembali penis – penis mereka ditamparkan ke pipi dan wajah Anissa yang walaupun sudah belepotan air mani namun masih terlihat sangat mempesona. Pipi, hidung, bibir, dahi, rambut, semua bagian wajah sang dara jelita terkena tamparan batang kejantanan. Anissa mulai menangis lagi walaupun kini tenggorokannya terasa kering, gadis itu tahu tinggal tunggu waktu saja sebelum salah satu batang kemaluan itu kembali masuk ke tenggorokannya.
Rambut Anissa yang panjang dan indah dijambak ke arah kiri, gadis itupun mengernyit kesakitan.
“Jilat kontolku.” Kata Yono dengan kasar.
Walaupun dengan tetesan airmata deras, Anissa menuruti permintaan Yono. Ia mengeluarkan lidahnya yang mungil dan dengan perlahan dan gugup menempelkannya di penis sang preman. Dengan gerakan lembut Anissa menggerakkan lidahnya naik turun menyusuri batang kejantanan Yono, membiarkan preman yang sebelumnya menyakitinya itu merasakan kenikmatan hingga merem melek dan menggelinjang. Anissa bahkan mengulum ujung gundul penis Yono, lalu melepaskannya hingga mengeluarkan suara letupan kecil yang membuat preman itu melenguh keras penuh kenikmatan.
Tak lama kemudian, giliran Wewengko yang menarik kepala Anissa. Kemaluannya yang keras, panjang dan hitam sudah menunggu. Pria itu tak lama – lama menunggu, begitu kepala Anis berbalik,penisnya langsung dilesakkan melalui bibir mungil sang dara. Untuk beberapa saat, Anissa memainkan penis Wewengko dalam mulutnya dan memberikan service yang sama seperti sebelumnya ia lakukan pada Yono. Gadis itu beranggapan, jika ia mau menuruti mereka, mudah – mudahan mereka tak menyakitinya dan ini semua cepat berakhir.
Sama seperti Yono, Wewengko pun akhirnya melenguh keras dan bahkan bisa mencapai puncak dengan cepat! Sekali lagi air mani disemprotkan ke wajah Anissa. Semua preman itu tertawa melihat wajah Anissa makin tak karuan. Tadi mereka mengocok penis masing – masing selama Anis mengulum penis Wewengko dan kini mereka siap menyemprotkan cairan sperma ke seluruh wajah sang dara. Tanpa ampun, cairan kental itu membanjiri wajah cantik Anissa, membuat gadis itu hanya bisa pasrah menerima dengan memejamkan mata.
Para preman itu tertawa lagi.
Kribo menowel dagu cantik Anis dan menatapnya tajam, “lihat aku baik – baik, lonte sialan.”
Anissa mencoba membuka matanya, namun karena ada leleran air mani yang lekat membasahi bagian matanya, ia hanya bisa mengejap beberapa kali sebelum menutup lagi matanya.
“Kamu sudah mulai mengerti apa yang harus kamu lakukan, betul?”
Anissa tak menjawab, bukan karena ia tak mau tapi karena ia sibuk menelan sisa mani dalam kerongkongannya. Dengan ketakutan gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.
Sayangnya Kribo tetap marah melihat dara itu terdiam, iapun menjambak dan menarik rambut Anissa. “Betul tidak? Jangan diam saja, dasar lonte!!!”
“Be..benar.” jawab Anissa sekuat daya.
“Dasar pelacur murahan…”
“Aku mau bokongnya,” kata Jabrik menyela Kribo, “kira – kira muat atau tidak ya?”
“Tentu saja muat.” Kribo terkekeh, “kamu bahkan bisa memasukkan lenganmu ke dalam sana kalau mau!”
“Cewek ini pantatnya mulus banget.”
“Bagaimana pelacur sialan? Kamu mau menikmati permainan baru kami?”
Anissa sudah berniat menggeleng namun karena ketakutan akan kembali disakiti, ia hanya bisa terdiam menggigil dengan wajah pucat pasi. Jabrik mengoleskan satu jarinya di bibir anus Anis yang mungil dan bersih, lalu perlahan menusuk ke dalam, menjajal sempitnya tempat itu. Anissa mengeluarkan satu erangan panjang karena sakit dan memejamkan matanya pedih.
Jabrik berujar gembira, “ini sempit banget!! Kontolku bakalan kegencet. Oh, tapi jangan takut, lonteku… kamu pasti akan terbiasa.”
Mendengar apa yang akan dilakukan Jabrik kepadanya membuat Anissa tak bisa lagi berdiam diri, ia meronta habis – habisan! Sayang ia tak bisa berbuat banyak karena terikat erat, bahkan kemudian Badu maju kembali dan menyodokkan penisnya ke dalam mulut sang dara, membuat gadis itu terkunci tak sanggup bergerak! Dengan mencengkeram pipi bokong Anissa dan menggerakkannya ke kanan dan kiri, Jabrik membuka akses ke anus gadis itu lebar – lebar. Ia sempat menampar pantat mulus dara itu sehingga berwarna merah, Anissa hanya bisa memejamkan mata dan menahan perih yang dirasa. Jabrik maju ke depan dan berbisik di telinga sang dara, “baiklah lonte sialan. Siap dientotin bokongnya?”
Jabrik meludahi jemarinya sendiri, lalu mengoleskannya di belahan pantat Anissa. Dengan penuh harap, ia meletakkan ujung gundul kemaluannya yang sudah menegang di lubang pembuangan Anis yang mungil dan bersih.
Jabrik mendorongnya masuk.
Anissa terbelalak lebar! Ia mengernyit kesakitan namun tak bisa berteriak karena mulutnya juga sedang diperkosa. Ia hanya bisa mengatupkan kedua kepalan tangannya erat – erat seakan hendak meremukkan sesuatu. Penis Jabrik yang memasuki wilayah sempit terangsang hebat dan kian lama kian membesar, sodokannya juga menguat dari saat ke saat, menguasai daerah jajahan baru, tempat yang seharusnya tidak boleh dimasuki oleh penis. Anis menangis hebat, rasanya sakit. Sakit sekali. Seakan lubang anusnya hendak dirobek dengan kasar.
Melihat gadis itu menderita, Jabrik malah tertawa. “Rasanya pasti enak sekali, ya sayang?”
Badu yang sedang menyumpal mulut Anis ikut menimpali, “pelacur yang doyan disodomi. Kamu pasti pelacur murahan yang sudah tidak laku lagi.”
Tanpa ancang – ancang, Jabrik melesakkan penisnya dalam – dalam, membuat Anissa kembali ingin menjerit. Seluruh urat gadis itu menegang dan wajahnya memerah.
“Bukankah kamu yang menginginkan kontol kami masuk di semua lubangmu, hei lonte?”
Jabrik masih terus menusuk dengan kasar. Lalu, di saat rasa sakit itu tak tertahankan, Anissa merasakan lubang anusnya mulai membuka dan penis milik Jabrik mulai bisa masuk dengan bebas. Suara menggelegak dan erangan menjadi satu – satunya protes yang bisa dilakukan sang dara jelita itu. ia tidak bisa berbuat apa – apa dengan mulut dipenuhi penis. Gadis itu bisa merasakan liang duburnya mulai menyesuaikan ukuran penis Jabrik dan mengatup mencengkeram penis preman itu. desahan nikmat Jabrik menjadi pertanda perasaannya benar, pria sadis itu tidak berhenti, ia menusuk semakin dalam.
Jabrik belum menusukkan seluruh penisnya ke dalam pantat sang dara, namun tiap kali ia menusuk, Anissa merasa pantatnya akan jebol. Duburnya memanas dan tubuhnya menegang, ia sangat kesakitan. Jabrik yang memaksa masuk membuat lubang anus Anissa terpaksa merenggang karena harus membuka jalan. Ini jauh lebih sakit daripada saat pertamakali Pak Bejo memperkosanya dulu. Yang kali ini seperti terasa ada batang pedang yang masuk tubuhnya untuk menjajah perut menembus hingga ke dada.
Tangisan Anis kian tak terbendung. Hentikan… hentikan… hentikan…
Menahan perih dan sakit seperti itu membuat mata Anissa berkunang – kunang, ia merasa pandangannya kabur, tubuhnya mulai melemah… dia tak tahan lagi… sepertinya dia… akan… pingsan… dia… akan…
PLAKK!! Tangan Badu menampar Anissa, untuk menyadarkannya. Gadis itu membelalakkan mata karena kini pipinya pun terasa panas dan perih. Tepat di saat Anissa sadar kembali, ia merasakan kantong kemaluan Jabrik sudah menampar pipi pantatnya! Penis pria itu sudah masuk semua ke duburnya!
“Auughhh… bokongnya sempit banget.” Ujar Jabrik sambil menggemeretakkan giginya dengan gemas, ia menggoyangkan pantatnya dengan penuh kenikmatan. “Aku sukaaa sekali bokongmuuuu, sayaaaang!!”
Kribo terbahak – bahak, “itulah pelajaran kedua, lonte sialan! Sodomi!”
Badu menarik penisnya yang sudah hampir orgasme dari mulut Anissa dan langsung menyemprotkan spermanya ke seluruh wajah si cantik itu. Hidung, bibir, kening, pipi, bahkan pelupuk mata, semua kena cairan lengket berwarna putih gading yang kental itu. Untungnya Anissa sudah tidak peduli lagi, karena begitu Badu menarik kemaluannya, Anissa langsung tersedak dan terbatuk – batuk, ia juga menggeram kesakitan karena Jabrik masih menggoyangkan penis di anusnya. Dengan kurang ajar, Badu membersihkan ujung gundul batang kejantanannya di rambut indah Anissa.
Kribo, Yono dan Wewengko memberi semangat pada Jabrik untuk terus menghajar dubur dara jelita yang malang itu.
“Kasih dia neraka, Brik! Hajar terus!”
“Mantap!”
“Lonte! Cuih!”
“Terus! Bikin dia pingsan!”
“Duburnya enak ya? Sempit ya? Habis ini aku juga mau!”
“Lonte sialan itu pasti suka!”
“Pantat putih montok kayak bakpao! Ditusuk – tusuk biar kempes!”
“Jangaaan…… jangaaaan! Saya mohon! Kasihani saya……! Saya salah apaa sama kalian? Jangaaan! Saya mau melakukan apa sajaa! Apa sajaaa! Asal jangan itu! Jangaaan…!” jerit tangis Anissa dengan putus asa.
Ketika Jabrik menarik mundur batang kejantanannya, Anissa menarik nafas lega, namun belum lagi setarikan nafas, Jabrik sudah melesakkan kembali dalam – dalam! Tubuh gadis itu seperti terlontar ke depan dengan penuh tenaga, kepalanya bahkan terlempar ke atas karena sodokan itu! Karena sudah mulai longgar, Jabrik kini bisa leluasa memaju mundurkan penisnya di dalam dengan cepat. Bagi preman itu, rasanya luar biasa enak. Bagi Anissa, ia seperti dihukum cambuk berulang – ulang. Gadis itu menjerit kesakitan tiap kali Jabrik menancapkan batang penisnya dalam – dalam.
Yono yang risih dengan jeritan Anissa mengambil posisi dan menyiapkan penisnya, begitu gadis itu menjerit dengan sigap Yono melesakkan penisnya ke dalam mulut sang dara! Sekali lagi Anis diserang atas belakang! Kini, tiap kali Jabrik mendorong ke depan, Yono yang merasakan nikmat luar biasa! Ia merem melek karenanya.
Di saat Anissa kembali tersedak dan kesakitan karena mulutnya diperkosa, para preman itu kembali tertawa terbahak – bahak dan bersemangat. Mereka seperti berlomba menyakiti gadis jelita itu! Jabrik yang bersemangat ikut meloncat – loncat dan menusuk semakin dalam dan semakin dalam!
“Hebat, Brik! Lontenya mulai suka kamu sodomi!”
“Sakit ya? Sakit ya? Syukurin!”
“Jabrik hebat!”
“Ini baru dua lubang, bagaimana kalau tiga lubang sekaligus?”
“Cepetan, Brik! Aku juga mau tuh pantatnya!”
“Memang dasar lonte murahan.”
“Dasar pelacur! Suka ya?” Diberikan semangat oleh teman – temannya, Jabrik menghajar dubur Anissa dengan satu sodokan sekuat tenaga, tubuh mungil Anissa bagai terlempar ke depan hingga hidungnya masuk ke rimbunnya rambut kemaluan Yono yang masih terus memaksa Anis mengulum penisnya. “Kamu suka kan, sayang? Kamu suka, kan?” tanya Jabrik lagi.
Dengan sekuat tenaga, Anissa mencoba berteriak ketika penis Yono sedang ditarik mundur.
“TIDAKKKhghhmmpp!!!”
“Tidak suka ya sudah, nikmati saja ini!” sekali lagi Jabrik menghajarkan penisnya dalam – dalam.
“Hauuughhhhhhkkkgghhh!!!! Jangaaannmmpphh!! Sakiiittttmmmpghhhhkk!!”
Yono geleng – geleng kepala melihat Anissa masih mencoba berteriak walaupun mulut gadis itu sudah dipenuhi batang kemaluannya. “Lonte! Cuih!” maki preman itu sambil meludahi kepala sang dara.
Jabrik menggoyangkan kemaluannya yang tertanam dalam – dalam dan ini membuat Anissa makin menderita karena liang itu kian merenggang. Tubuh gadis malang itu menggelinjang hebat karena tak tahan dengan penderitaan ini, melihatnya, bukannya simpati, Jabrik malah tersenyum sadis. “Kamu kesakitan ya? Kasihan banget, ya sudah aku tarik saja….” Batang kemaluan pria itu ditarik perlahan keluar, namun bukannya lega, Anissa malah semakin kesakitan ketika penis itu membuka jalan keluar. Jabrik menarik mundur semua batang kemaluannya kecuali ujung gundulnya. “Bagaimana? Sudah enakan?”
Anissa tahu apa yang akan dilakukan oleh Jabrik, ia menangis dan menggelengkan kepala.
Jabrik tertawa, “maaf sayang, aku tidak bisa mengeluarkannya sekarang, sempit sekali jalannya. aku coba maju saja ya?” dengan kekuatan penuh Jabrik mendesakkan kemaluannya ke dalam, lalu ditarik, lalu disodokkan lagi, ditarik, sodok lagi, tarik, sodok lagi, tarik, sodok lagi, lagi, lagi, lagi, lagi….
Tiap sodokan membuat Anissa menjerit dan menangis dalam penderitaan dan rasa malu. Tangisnya bisa terdengar dari sela – sela penis Yono yang masih menguasai mulut gadis itu. Mendengar tangis itu, Jabrik malah semakin cepat dan kencang melakukan sodokan. Anissa yang terikat di kursi hanya bisa melenguh dan mengembik penuh derita saat kedua orang preman sadis kini tengah memperkosanya habis – habisan.
Entah beruntung entah tidak, di mulutnya tiba – tiba saja membanjir cairan sperma kental. Lagi, lagi, terus, banjir itu terus datang hingga Anissa harus menelannya supaya bisa bernafas. Namun belum sempat Anissa bernafas lega, penis lain milik Wewengko datang menyerang mulutnya! Penis demi penis menjejal mulutnya tanpa henti, Anissa merasakan bibirnya mulai perih dan berasa seperti hendak robek karenanya. Wajahnya yang cantik kini makin kabur karena wajahnya basah oleh cairan mani kental yang menempel di sana – sini, di pipi, leher, kening, hidung, semua.
Begitu juga anus Anissa yang terasa panas dan perih berkelanjutan karena diperkosa oleh Jabrik. Preman itu masih juga terus menyakitinya tanpa henti, bahkan bukannya melunak malah semakin keras.
“Bokongnya sempit banget! Enak gila! Kayak ngentotin perawan!”
Sekali lagi dia menghunjamkan penisnya dalam – dalam lalu menariknya dan melesakkan lagi dengan cepat, menembakkan kantong kemaluannya seperti peluru hingga menampar bibir liang cinta Anissa, berulang – ulang kali sampai dia akhirnya hampir mencapai klimaks.
“Ambil itu, lonte sialan! Ambil semua kontolku! Hancur anusmu!”
Anissa mengembik menahan pedih, ia memejamkan mata sembari mengeluarkan lenguhan berulang di balik kuluman penis Wewengko, “Oh! Oh! Oh! Oh!”
“Terus aja, Bro! Dikenthu terus sampai pingsan!” teriak Yono memberi semangat.
“Hajar bokongnya, Bro!”
Sekali lagi Jabrik mengulang kekurangajarannya, ia menarik penisnya hingga ke ujung gundul dan dilesakkan dengan cepat dan kejam hingga sangat dalam. Ia memang berniat menyiksa dan menghancurkan dubur gadis tak bersalah itu.
“Aku akan membuatmu menyesal dilahirkan, sayang.” Erang Jabrik penuh nikmat. “Ooooh yaaa…” ia mengerang tiap kali penisnya masuk ke dalam. “Ambil semua kontolku, sayang. Ambil semua! Semua untuk kamu!”
Anissa kian lemah melawan, ia ingin ada yang memotong batang kejantanan Jabrik dan mengeluarkannya dari anus mungil gadis itu, tapi tentu saja itu mustahil. Jabrik bergerak sangat cepat dan kencang merusak anusnya seperti orang gila yang kesetanan.
“Ooooh, ini dia datang, sayang….!” teriak Jabrik menuju puncak kenikmatan. “Ini dia datang!!”
Dengan satu sodokan kencang, Jabrik menanamkan batang kejantanannya dalam – dalam di dubur Anissa. Cairan kental meluncur deras dari ujung gundul kemaluan Jabrik memenuhi lorong belakang sang dara cantik. Batang kemaluan Jabrik berdenyut beberapa lama ketika semprotan itu mengalir deras dan membanjiri liang dalam Anissa, lalu beberapa saat kemudian berhenti. Akhirnya, setelah beberapa saat yang menyiksa, penis itu mengecil lemas dan dikeluarkan dari pantat Anis. Saat penis itu keluar, leleran cairan cinta menetes dari anus hingga ke bibir kemaluannya.
Anissa berharap pemerkosaannya yang brutal oleh kawanan preman ini selesai. Tapi asa itu pudar ketika sekali lagi ia merasakan pantatnya dielus seseorang dan penis lain perlahan mulai memasuki anusnya. Cairan cinta yang sedari tadi disemprotkan Jabrik ke dalam liang belakang membuat penis yang ini masuk lebih mudah, orang ini bisa melesakkan penisnya dalam – dalam hingga kantong kemaluannya mentok menampar pipi pantat Anissa. Ia menyodominya untuk beberapa menit, menariknya dan melesakkannya dalam – dalam ke liang cinta sang dara. Preman ini rupanya tidak puas hanya dengan satu lubang saja. Anissa tetap memejamkan mata karena tak ingin melihat siapa pemerkosanya kali ini, tapi penisnya begitu kencang dan keras menghajar memeknya, berulang – ulang kali dia menggauli Anissa hingga akhirnya ia mencapai klimaks dan cairan cintanya disemprotkan ke dalam vagina si cantik itu.
Wewengko menggoyang kepala Anissa ke depan dan belakang dengan sangat kasar, rambut panjang dan halus milik si cantik itu bagai terbang memutar seperti baling – baling. Dara itu bisa merasakan air mani yang menetes dari mulutnya dan jatuh ke perut, tapi ia hanya bisa meneguk sedikit ke dalam mulut dan kerongkongannya.
“Mulai sekarang kamu tak lebih dari seorang pelacur hina yang harus menyediakan mulut, memek dan bokong untuk semua laki – laki yang menginginkanmu eh!” ujar Wewengko. “Kamu pikir kamu ini gadis suci yang masih perawan eh? Pikir lagi baik – baik! Semua kehormatanmu sudah kami renggut!”
Anissa tidak menjawab karena ia sekali lagi tersedak. Bibirnya tepat berada di ujung terdalam kejantanan pria itu tapi ia tahu kalau ucapan preman itu tepat sekali, dia sudah bukan lagi gadis perawan yang masih suci, dia sudah kotor dan menjijikkan. Saat tersedak, kerongkongan Anis bergejolak dan tubuhnya menggelinjang, hal itu justru membuat sang preman yang sedang memperkosa mulutnya menjadi semakin terangsang dan akhirnya melepaskan cairan lengket ke dalam tenggorokan dara jelita itu.
Saat penis preman itu ditarik, Anis berusaha menarik nafas dalam – dalam. Pria itu hanya tertawa, “Luar biasa, cewek satu ini memang jago kalau disuruh nyepong kontol.” Cengirnya, “lain kali kita harus mengundang lebih banyak orang lagi.” preman itu dengan kurang ajar membersihkan penisnya yang masih belepotan air mani menggunakan rambut halus Anis yang kini acak – acakan.
Selesaikah mereka? Tidak. Tubuh si cantik itu kembali ditarik, satu penis masuk ke mulut dan satu ke dalam memeknya, dengan brutal mereka memperlakukan tubuh Anis seperti boneka tak bernyawa. Yang memperkosa mulutnya tanpa ampun mendorong pinggulnya hingga kantong kemaluannya bisa menampar – nampar dagu Anissa. Gadis itu sudah tak mampu lagi merasakan dan memahami bagaimana, kapan dan apa yang terjadi. Yang bisa ia rasakan hanyalah penis yang keras, besar dan panjang yang dilesakkan ke dalam semua lubang di tubuhnya. Anis menggeram sebentar ketika satu batang kemaluan ditarik dari pantatnya dan digantikan penis lain, tetesan mani menetes hingga membasahi pahanya yang mulus. Lututnya terluka karena tergesek – gesek karpet yang dibentangkan di bawah kursi saat tubuhnya dipaksa membungkuk sembari terikat di atas kursi ketika ia berulangkali diperkosa.
Badu mengeluarkan sebuah spidol boardmarker warna merah yang biasa digunakan untuk menulis di papan tulis dari kantongnya. Saat itu Anissa masih diperkosa oleh Kemal yang merem melek saat merasakan kontolnya dipijat oleh liang cinta sang dara. Di pipi pantat kiri Badu menulis kata ‘PELACUR’ dengan spidolnya, sementara di pipi pantat kanan ia menulis kata ‘LONTE’, di tengah kedua kata itu, sembari membubuhkan tanda panah ke bawah menuju bibir anus Anissa, ia menulis ‘SILAHKAN MASUK’. Kemal tertawa terbahak – bahak karenanya dan gagal mencapai klimaks, dengan bercanda Ia memaki Badu yang membuatnya kehilangan konsentrasi.
Rasanya seperti tiada akhir, semuanya berlangsung terus dan terus. Penis berwarna hitam berulangkali berpindah dan bergantian, mengisi mulutnya sampai ia tersedak, membanjirinya dengan air mani di kerongkongan dan wajahnya. Vaginanya sudah bukan barang rahasia lagi karena semua preman di sana telah membanjirinya dengan sperma mereka, jika sampai Anissa hamil, ia tidak akan tahu siapa ayah anaknya karena semua orang ini telah memperkosanya tanpa ampun. Pantatnya yang molek telah diacak – acak dan anusnya begitu perih karena berulangkali disodomi. Dara itu kini seperti orang lumpuh, tak bisa bergerak dan hanya mampu terkulai pasrah, satu – satunya protes yang kini ia lakukan hanyalah menggeram dan mengerang, tangisnya tak berhenti mengalir sampai kering, ia kini hanyalah boneka mainan yang jadi sumber pelampiasan kebejatan para preman. Bagi mereka, Ia boneka yang hanya pantas diperkosa. Mereka tidak peduli ketika ia tersedak dengan mulut masih mengulum kontol ketika penis lain mendesak memeknya. Mereka tidak peduli ketika mereka bersamaan membanjiri lubang – lubangnya dengan pejuh deras. Mereka adalah binatang buas dan gadis itu tak lebih dari seonggok daging. Parahnya lagi, mereka sering memaksa Anissa membuka mulut untuk mengatakan bahwa ia menikmati perkosaan ini.
“Lonte satu ini suka digangbang! Lihat nih, airnya keluar terus! Kamu memang pelacur murahan! Lonte pinggir jalan! Kamu suka disodomi! Kamu suka ngemuk kontol! Kamu nggak bisa hidup tanpa ada kontol di memek! Ayo bilang kamu suka kontol! Ayo bilang!”
“A… aku suka kontol…” desah Anissa lemah. “Aku pelacur… aku lonte… aku suka disodomi… ngemut… kontol… memek… aku…”
“Kamu mau kontolku kan? Ayo bilang kamu suka kontolku!”
“A… aku suka kontolmu… aku mau… aku mohon…”
Pemerkosaan bergilir dan berantai ini telah menghancurkan kemurnian pikiran dan tubuh Anissa yang indah dengan rasa sakit dan penghinaan. Bertubi – tubi dan bergantian penis demi penis menjajah tubuhnya, menusuk, mendera dan menyakitnya. Satu selesai, diganti yang lain, lalu yang lain lagi, kemudian yang lain lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi… tanpa henti.
Ketika Anissa kembali terikat di kursi, Wewengko mengincar pantat Anissa, ia mengelus bokong mulus si cantik itu dengan perlahan – lahan, merasakan kemulusan pantat yang bulat indah dan putih bersih, walaupun saat ini sudah belepotan cairan sperma dimana – mana.
“Pelacur.” Ia memandang Anis dengan jijik, “coba katakan pada kami eh, seberapa ingin pantatmu disodomi?”
Dengan berani pria berkulit gelap itu mencelupkan jemarinya ke mulut sendiri, membasahinya, lalu mengelus bibir anus Anis, membukanya dengan perlahan dan tanpa memberitahu, langsung memasukkan kemaluannya yang keras seperti kayu ke dalam anus Anissa hanya dengan satu sodokan! Anissa melolong kesakitan dan menjerit – jerit.
“Bagaimana? Kamu bilang apa?” tanya Wewengko lagi.
Anissa sudah sangat lemah dan pasrah saat ini, dia tidak bisa berbuat banyak dan tidak ingin melawan kecuali menuruti apa yang mereka inginkan. “aku…aku.. mau disodomi.. aku mau dientoti bokongnya.. pantatku…tolong entoti pantatku.. aku akan melakukan apa saja…” kata gadis itu dengan sesunggukan menahan rasa sakit dan perih yang luar biasa di liang belakangnya, air matanya tak pernah kering mengalir.
“Teman – teman sudah dengar semua?” tanya Wewengko sambil menengok – nengok ke belakang, “pelacur baru ini mau dientotin bokongnya. Bagaimana kalau kita wujudkan saja keinginannya eh?”
Karena tadi sudah digunakan dan masih basah, Wewengko bisa menyodomi Anissa dengan mudah. Gerakannya ringan dan cepat, membuat tubuh Anissa bergoyang – goyang tak berhenti.
“Ada yang mau ikut? Masih ada lubang kosong.” Tanya Wewengko pada teman – temannya yang langsung disambut tawa. Posisi Anis yang disetubuhi secara vertikal memang membuat bagian depannya terekspos. Liang cintanya mengundang birahi preman lain.
Jabrik yang tadi menghancurkan anus Anissa yang akhirnya maju ke depan, ia menarik tangan Anis agar berpelukan padanya sementara tangannya sibuk menempatkan ujung gundul kemaluannya di liang kewanitaan sang dara. Tak butuh waktu lama bagi Jabrik untuk bisa melesakkan penisnya dalam memek Anissa. Tanpa ampun, tanpa malu, keduanya menghukum vagina dan dubur Anissa bersamaan! Gadis itu hanya bisa meringis menahan perasaan tak tergambarkan yang kini dialaminya, dua penis memasuki dan menjajah tubuhnya! Keringat deras membasahi tubuhnya yang telanjang bulat.
“Kau menyukainya kan? Suka kan? Suka dientoti bersamaan gini?” Wewengko menampar pantat Anissa.
Anissa menggeram sembari memejamkan mata dan menggemeretakkan gigi menahan sakit, “I..iyaaa.. aahhhhh!! Iyaaa!! IYAAAAAA!!”
Gadis cantik yang sedang menjadi bulan – bulanan itu tak bisa berbuat apa – apa selain membiarkan dubur dan vaginanya diperkosa oleh kawanan preman anak buah Pak Bejo, dia hanya bisa merengek minta ampun saat dua penis bergerak bersamaan memperkosanya. Setelah beberapa menit berselang, penis ketiga muncul di depan wajahnya!
“Aku mau disepong.” Kata Kemal. “Kamu suka nyepong kontol kan?” Ketika Anissa terdiam, Kemal menjadi naik pitam. “Jawab, lonte sialan!! Kamu suka nyepong konyol atau tidak? Jawab!!”
“Su…..suka,” kata Anissa pelan, kalimatnya bergetar karena ia merasa sangat terhina.
“Coba katakan begini : ya, saya lonte yang suka nyepong kontol.”
Anis meneguk ludah, “ya…… saya…… lonte yang su..suka nyepong konyol.” Tubuh Anis bergetar dan terasa menciut saat kawanan preman itu tertawa mendengar kata – katanya.
Kemal menjebloskan penisnya ke mulut Anissa dengan kantong kemaluan menggantung di dagu sang dara. Kemal di mulut, Wewengko di dubur dan Jabrik di vagina! Kribo bertepuk tangan melihat ketiga liang yang ada di tubuh Anissa dimasuki bersamaan! “Ini yang namanya asyik!” teriaknya puas melihat tontonan hebat, seorang gadis cantik jelita bertubuh indah dan seksi tengah diperkosa oleh tiga preman berwajah buruk rupa secara bersamaan!
Perkosaan tiga arah ini berlangsung cukup lama, membuat Anissa tersiksa melebihi apa yang ia rasakan sebelumnya. Tubuhnya yang sudah lemah tergantung tak berdaya seperti boneka yang mudah diombang – ambingkan oleh tiga pria buas yang memperkosanya tanpa ampun. ketika penis Kemal ditarik dari mulut, ia sempat menamparkan batang kemaluan itu di pipi Anis. Entah batang kemaluannya yang keras atau Anissa yang sudah sangat lemah, tamparan itu bisa membuat kepala Anissa bergeleng dari kanan ke kiri.
Preman yang sedang menamparkan kejantanannya ke wajah si cantik itu meraung, dari ujung gundul kemaluannya ia menyemprotkan mani ke seluruh wajah dan mulut Anis yang masih megap – megap mencari nafas. Semburan demi semburan dituangkan ke wajah cantik gadis itu, sebelum akhirnya iapun luruh dan terengah – engah di pundak sang dara karena puas dan kelelahan.
“Aku nyerah deh, kalian lanjut.” Kata Kemal pada dua temannya yang masih asyik memasukkan penis ke dalam bokong dan memek sang dara.
Tapi kedua teman Kribo itu juga tak mampu lagi bertahan lama, setelah beberapa menit memperkosa Anissa dengan brutal, mereka akhirnya mendaki kenikmatan menuju puncak, hampir bersamaan! Tak main – main, semprotan pejuh mereka tanamkan dalam – dalam di anus dan rahim Anissa. Gadis itu sudah tak tahu lagi berapa banyak air mani yang sudah masuk ke dalam rahimnya.
Anus Anissa terasa panas karena terus menerus dimasuki kemaluan secara bergantian, mereka tidak peduli kotor atau jijik, yang penting bisa menghajar seluruh lubang gadis cantik itu! Anissa terguncang – guncang dan hanya bisa mengembik kesakitan ketika kembali bokongnya menjadi sasaran. Suara yang keluar dari bibir mungil sang dara sangat beragam, mulai dari melenguh lirih hingga menjerit tertahan.
“Ayo bilang kamu ingin disodomi lagi, lonte sialan!” kata Badu penuh harap.
“A… aku mau disodomi lagi…”
“Mana mohonnya?”
“Mo…mohon saya di..disodomi lagi…”
“Nah begitu.”
Kembali Anissa menjerit – jerit saat anusnya diperkosa untuk kesekian kalinya.
Mereka semua memperkosanya, menggunakannya, membuatnya tersiksa. Semua lubang yang ada di tubuhnya. Semuanya digunakan tanpa terkecuali, tanpa henti, tanpa ampun. Anissa tahu semua lelaki yang ada di ruangan itu sangat menyukai tubuhnya dan gilanya mereka memiliki cara yang berbeda – beda memperlakukannya. Mereka begitu ingin mempermalukan seorang gadis baik – baik yang datang dari keluarga berada yang tidak mungkin mereka dapatkan dengan cara biasa. Mereka memperkosa dan menghancurkan rasa percaya dirinya, menghancurkan semangat dan mentalnya. Tanpa rasa kasihan mereka menyodominya dengan begitu menyakitkan, membuat mengulum penis mereka dan menyemburkan mani dalam kerongkongannya. Sadis, brutal, merendahkan. Mereka menganggap Anis seperti sampah, seperti pelacur yang bisa digunakan semua lubangnya, seperti pelacur yang mau digangbang oleh pria berkasta rendah, seperti pelacur murahan yang hanya perlu dibayar semurah – murahnya.
Waktu terus berjalan, terus menyayat hati dan nurani Anissa. Tubuhnya yang kelelahan banjir oleh keringat dan cairan cinta yang meleleh dari semua lubangnya. Wajahnya penuh lelehan air mani, rambutnya basah oleh air mani, buah dadanya, selangkangannya, pahanya, kakinya, semua. Ia terus menerus digangbang, depan belakang, atas bawah, mereka silih berganti menggunakan tubuhnya. Ia tidak tahu bagaimana mereka bisa terus menerus mengeluarkan mani dan semangat untuk memperkosanya, ia sudah begitu lemas, lemah dan tak berdaya.
Tapi mereka terus saja memperkosanya dan memompa air mani ke seluruh tubuhnya, seakan tanpa henti. Tanpa sepengetahuan Anis, mereka semua telah minum obat kuat dan pemacu daya tahan tubuh sehingga mampu berbuat seperti ini.
Hingga suatu ketika, Kribo adalah yang terakhir memperkosa memek Anissa. Kali ini ia sudah tidak bisa lagi mengeluarkan cairan cinta, bahkan penisnya sudah sangat terasa panas. Kawan – kawan lain mentertawakan Kribo yang sudah lemas.
“Payah! Begitu saja letoy!”
“Apa itu? sudah selesai? Begitu saja?”
Kribo mengayunkan tangan sambil bercanda dan terkekeh. “Aku sudah lelah. Kalian teruskan saja, aku mau ke tempat bos dulu.”
“Payah!”
Kribo kembali terkekeh, ia mengambil celana dan mengenakannya. Preman itu beristirahat sejenak, menenggak bir yang ada di meja dan meninggalkan kawan – kawannya yang masih lanjut mengerumuni Anissa. Preman itu melangkah keluar gudang menuju ruang tengah yang ada di rumah samping. Di sana, duduk di sofa yang ada di tengah ruangan sambil menonton sinetron sambil mengocok penisnya, adalah bandot tua pemimpin kelompok preman itu, Pak Bejo Suharso.
###
Langkah kaki Udin terasa berat. Kepalanya pun pening.
Menyaksikan apa yang terjadi di dalam gudang membuat hati Udin tersayat pedih, betapa tidak, ia tak menyangka Pak Bejo akan tega memberikan Anissa pada preman – premannya untuk diperlakukan sehina ini. Udin tidak mungkin bisa melawan mereka, dia hanya pemuda tolol yang lemah dan bodoh!
Udin meneteskan air mata saat ia berjalan meninggalkan gudang, betapa tololnya dia mau terjebak ke dalam permainan para preman ini, betapa malunya dia dulu telah memanfaatkan kelemahan Anissa hanya untuk bisa menidurinya. Dia tak akan pernah bisa meminta maaf padanya, pada gadis yang untuk selamanya akan ia cintai. Bagaimana mungkin dia berhadapan kembali dengan Anis setelah apa yang telah ia lakukan? Ia tak akan pernah bisa menatap mata indahnya lagi dengan jenaka. Ia tak akan sanggup bercanda lagi seperti dulu. Ia telah berubah menjadi pria terkutuk yang tak ada bedanya dengan para preman yang kini tengah memperkosanya tanpa ampun!
Apa yang membedakannya dengan para begundal itu? Ia sama menjijikkannya! Bukankah ia mengaku mencintai Anissa? Kenapa ia malah pergi? Kenapa ia tak melindunginya? Anis memang bukan perawan lagi, ia sudah kotor, tapi Udin merasa ia jauh lebih kotor. Dia yang seharusnya melindungi dan menyelamatkan, malah menggali nafsu binatang.
Langkah kaki Udin yang meninggalkan gudang tempat Pak Bejo dan kawan – kawan memperkosa Anis kian terasa berat. Hendak dibawa kemana kaki ini sekarang? Seluruh dunia seperti menatapnya jijik… benar, ia memang menjijikkan. Udin menutup telinga rapat – rapat karena ia tak sanggup mendengar teriakan Anissa yang masih bisa terdengar walau samar.
Wajah cantik Anis yang berkeringat deras, tubuh telanjangnya yang carut marut diperkosa oleh para lelaki buas, pandangan mata indah yang dulu mempesona kini runtuh dan selalu memohon ampun agar semuanya diakhiri… semua yang terjadi pada Anissa menghantui langkah kaki Udin.
Ia memejamkan mata, mencoba melupakan, mencoba mencari terang di hati dan pikiran.
Teriakan itu terdengar lagi…
Ia tak bisa membantu Anissa. Ia tak bisa…
Wajah Anissa yang mengajaknya makan siang di kampus terbayang dengan manis dan lembut…
Ia tak bisa membantu Anissa. Tak bisa…
Suara mesra Anissa saat memanggil namanya tak akan pernah ia lupakan…
Anissa… Anissa!
Batin Udin bergejolak, perasaannya… perasaannya pada Anis…
Ini semua salah! Semuanya salah! Kenapa ia malah pergi? Kenapa ia justru lari?!! Ada yang harus dia lakukan! Ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk Anissa! Ada yang bisa membuatnya kembali menjadi manusia! Batinnya.. perasaannya… semua meyakinkan Udin kalau dia tidak akan pernah sanggup dan tega meninggalkan Anis di dalam sana, menjadi mangsa para pria menjijikkan yang memanen keindahan tubuhnya.
Ia tidak sanggup.
Ia tidak boleh seperti ini…
Ia bukan orang seperti mereka!
Ia tidak dididik menjadi orang tidak bermoral seperti mereka!
…demi dewa, apa yang telah dia lakukan? Apa yang telah membuatnya sesat?
Ia memang telah kotor, tapi ia masih bisa menyelamatkan Anis. Ia masih bisa! Ia yakin masih bisa! Persetan dengan bajingan tengik seperti Pak Bejo dan kawan – kawannya! Udin tahu apa yang terbaik dan yang terbaik adalah menyelamatkan Anissa! Seandainya ini semua membuatnya harus masuk bui, tapi ia tahu mana yang baik dan mana yang buruk!
Masih ada waktu! Masih ada waktu!
Udin berlari sekuat tenaga.
Masih ada waktu!
###
“Halo, Bos? Baru sibuk?” kekeh Kribo yang menangkap basah Pak Bejo bermasturbasi.
Pak Bejo cuek sembari melanjutkan ‘pekerjaannya’ tanpa merasa risih sedikitpun. “Percayalah, nak. Marsha Timothy ini cewek yang hot sekali. Sekali waktu aku ingin menidurinya. Kebetulan aku ada teman yang bekerja di bidang foto artis di studio Naga Langit, pernah dengar? Dia biasa menjebak artis – artis dengan obat bius di minuman untuk membuat mereka pingsan dan mengambil foto mereka saat telanjang. Setelah itu memaksanya bercinta dengan ancaman akan menyebarkan gambar ke internet, saudara, orang tua dan teman.”
Kribo menganggukkan kepala setuju saat ia melongok ke TV, Marsha Timothy yang mengenakan kaos ketat dan celana hot pants memang tidak bisa dilewatkan, tapi gadis yang ada di gudang juga tidak kalah hot. “Bos. Sepertinya cewek itu sudah mau pingsan, yakin tidak mau ambil bagian?” tanya Kribo pada Pak Bejo yang awalnya cuek.
“Gila kalian, aku kira sudah berhenti sejak tadi sore. Sudah berapa jam kalian perkosa dia?”
“Cukup lama juga, kami tidak menghitung waktunya.”
“Bagaimana keadaannya?”
“Sejauh ini masih sadar, tapi dia sudah di ambang batas.” Kata Kribo, “kalau Bos mau pakai, sekarang saatnya. Mumpung cewek itu masih sadar.”
“Baguuuus!” Pak Bejo memasukkan batang zakarnya ke celana, bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Kribo, ia menepuk bahu anak buahnya itu dengan bangga, “gadis itu komoditi bagus yang bisa dijual kemana saja, jangan biarkan ia sakit, pingsan berlebihan atau mati. Layani dia dengan layak setelah ini, aku tidak ingin punya budak seks yang kurus kering karena kelaparan dan kedinginan. Aku ingin dia tetap seksi dan montok.”
“Siap, Bos.”
“Tapi saat ini kontolku juga sudah tidak tahan ingin masuk lagi ke memek sempit lonte sialan itu.”
Kribo tertawa, “silahkan saja dipakai, bos. Kami semua sudah mencicipi.”
“Ya… ya… kamu kembalilah dahulu ke gudang, nanti aku susul.”
“Siap, Bos.”
Saat kakinya hendak melangkah keluar, Kribo jadi teringat sesuatu.
“Si Udin kemana, Bos? Kok tidak kelihatan?”
“Mana aku tahu?! Dia tidak menyusul kalian?
“Tidak bos, dia tidak kelihatan sejak awal.”
“Ah, paling – paling dia ke WC. Dia kan pecundang, takut lihat ceweknya kalian perkosa habis – habisan. Sudah, nanti juga dia datang lagi minta jatah. Kamu balik saja ke gudang.”
“Siap, Bos.”
Kribo pun melangkah keluar, namun ia beristirahat sebentar di luar gudang. Preman sadis itu sempat menghabiskan sebatang rokok sebelum kembali ke dalam. Semua kawannya duduk bermalas – malasan di dalam, beberapa sudah mulai memakai baju, yang lain sedang membersihkan kemaluan mereka menggunakan pakaian yang diambil dari tas milik Anissa. Beha dan celana dalam menjadi kain pembersih favorit mereka.
Hampir semua orang yang ada di situ menatap ke arah si cantik yang tak berdaya. Tubuhnya yang sudah carut marut karena diperlakukan dengan kejam masih terikat di kursi, pantatnya masih tersumbat dildo yang masih bergerak karena baterainya tidak dimatikan dan cairan cinta yang bercampur melekat hampir di semua bagian tubuhnya. Entah darimana dildo itu berasal, Kribo tak tahu. Melihat kondisi sang gadis, preman itu sedikit merasa iba melihat seorang wanita bisa diturunkan derajatnya seperti ini.
Suara erangan yang keluar dari mulut Anissa mengingatkan Kribo sewaktu mereka menggilir mulut mungil Anis dan menyemprotkan air maninya ke wajah si cantik itu. Kini hampir seluruh wajah Anissa tertutup oleh masker mani yang belepotan. Dia hampir tak bisa dikenali. Satu desahan pelan dan lembut keluar dari mulutnya, sedikit terdengar seperti menggelembung karena masih adanya mani yang tersimpan di mulut. Bibir kemaluan Anis kini berwarna merah terang, terbuka dan membengkak dengan cairan cinta meleleh dari semua bagian dan menetes hingga lantai.
Kribo berjalan mendekat dan memegang rantai anjing yang mengikat leher Anissa. Wajah gadis itu sudah tidak karuan lagi, penuh air mani dan terlihat pucat tanpa nyawa. “Kamu kelihatan cantik, sayang. Beginilah seorang lonte seharusnya terlihat.”
“Aku menunggu lama untuk bisa melihat seorang lonte diperlakukan seperti ini,” kata Pak Bejo saat ia melangkah masuk ke ruangan, ia melepas celananya, meletakkannya di sebuah meja dan berjalan menuju Anis yang wajahnya berantakan. Kribo menarik rambut Anis agar si cantik itu menengadah melihat Pak Bejo.
“Sepertinya seseorang baru saja bermain cinta habis – habisan,” goda Pak Bejo tanpa perasaan, “kamu terlihat seperti seekor babi yang baru saja bermain di lumpur, anak manis. Kamu adalah sampah hidup paling kotor yang pernah aku lihat!”
Anissa tak bergeming, ia memang sudah tak mau dan tak bisa lagi melawan. Ia sudah tidak peduli apa kata dan perbuatan mereka.
“Lihat apa jadinya kamu sekarang, manis?” gelak Pak Bejo. “Itu akibatnya kalau kamu berusaha lari dariku. Kamu hanya akan menjadi lonte murahan yang diperkosa beramai – ramai oleh orang – orang rendahan seperti anak buahku. Kamu jadi sesosok tubuh tanpa jiwa yang hanya tahu bagaimana ngewe dan membuka kaki lebar – lebar buat jalan masuk kontol! Yang lebih parah lagi aku tahu kamu sangat menyukai hidup seperti ini!”
Sembari mengoleskan sejumlah besar air mani yang ditumpahkan ke wajah Anissa dengan kemaluannya sendiri, Pak Bejo menggoda gadis muda yang malang itu, “kamu ini kalau makan sering belepotan. Biar aku bantu.”
Jabrik, Badu dan Kribo semuanya maju untuk melihat.
Tanpa merasa jijik, dengan menggunakan penisnya yang mengeras seperti kayu layaknya sebuah sekop, Pak Bejo mengumpulkan air mani yang ada di wajah Anissa dan melesakkannya masuk ke dalam mulut mungilnya yang terbuka lebar. Tegukan demi tegukan terdengar saat Anis menelan semua pejuh yang masuk ke mulutnya. Terakhir sekali sembari memegang kepala Anissa, Pak Bejo melesakkan penisnya ke dalam mulutnya.
Tanpa mempedulikan bagaimana kondisi Anissa, Pak Bejo berpikir dengan santai, dia hidup menyenangkan. Lihat saja saat ini, seorang wanita yang teramat molek dan seksi ada dalam kuasanya, dia bisa melakukan apa saja dengan gadis ini, termasuk mengisi mulutnya dengan penisnya yang gemuk tanpa perlawanan sama sekali.
Untuk beberapa lama, Pak Bejo memperkosa mulut Anissa sampai ia mencapai puncak kenikmatan. “Buka matamu lebar – lebar, anak manis. Aku ingin melihat matamu yang indah saat aku mengucurkan pejuhku.”
Anissa membuka matanya perlahan, namun susah sekali karena dia sangat lemah. Anis hanya bisa membuka sebelah matanya.
“Ini dia!!” raung Pak Bejo sekuat tenaga. Tubuhnya bergetar saat ia merasakan sendiri luncuran cairan mani melesat dari dalam tubuhnya ke dalam mulut si cantik itu. Sekali lagi, cairan cinta meleleh dari pinggir bibir Anissa, menetes hingga turun hingga ke dagunya.
“Sudah? Pak Bejo mau apalagi?” bisik Anissa lemah karena kelelahan.
“Kita akan bersama selamanya, Anissaku yang cantik. Aku akan menggunakan memekmu setiap malam tanpa henti, aku akan membawa serta teman – temanku agar mereka juga bisa memakai semua lubangmu. Intinya, apapun yang aku minta, kau akan lakukan dengan sepenuh hati.” Kata Pak Bejo yang menginginkan agar Anissa menjadi budak seksnya, untuk melakukan apapun yang ia minta, untuk menjadi pelacur seandainya ada orang yang mau membayar.
Dengan kondisinya yang sudah seperti ini, apa gunanya melawan dan menolak? Anissa sudah terlampau lemah.
“Anak manis, aku ingin mendengar kau mengulang kata – kata yang tempo hari kau ucapkan saat kita bercinta…” bisik Pak Bejo di telinga Anissa sambil mengarahkan hapenya ke wajah mereka berdua. “…dan jangan lupa tersenyum saat mengatakannya.”
Anissa yang sudah tak berdaya berusaha untuk membuka mata tapi susah sekali. ia hanya bisa berkata pelan, “A…aku mencintaimu, Pak Bejo.”
Bejo Suharso, preman dan pemerkosa itu tertawa terbahak – bahak diikuti oleh kawanannya. Tingkah laku mereka mirip serigala yang meraung bersamaan di bawah cahaya bulan penuh yang menerangi langit malam.
Pak Bejo yang keji puas.
Ya, dia puas!
Dia sangat puas!
###
Seperti hari – hari biasa, suasana perpustakaan kampus X sangat tenang siang itu. Sebagian mahasiswa yang berada di sana sibuk mencari bahan untuk kuliah atau skripsi. Satu diantaranya adalah seorang gadis cantik berambut panjang yang diikat ekor kuda. Kulitnya yang putih dan wajahnya yang berbinar membuat gadis ini gampang dikenali dari kejauhan, apalagi dia juga pernah beberapa kali menghias sampul majalah sebagai model sehingga kecantikannya tidak asing lagi. Beberapa pemuda sengaja masuk ke perpustakaan hanya untuk duduk di dekat si cantik ini.
Namun wajah itu kini begitu serius, selain mencoba menyalin beberapa bagian keterangan dari buku yang ia baca, ia juga nampak sangat sedih. Satu pikiran menggelayut di benaknya dan terus menganggu tak mengijinkannya berkonsentrasi. Gadis yang sedang membaca itu bernama Aprilia Ussy Indriani, panggilannya Ussy, sahabat Anissa.
Sebagai seorang sahabat, Ussy benar – benar khawatir dengan keberadaan Anis yang hingga kini masih belum diketahui dimana. Anis nampak begitu berbeda dan aneh akhir – akhir ini sehingga beribu pikiran buruk membuat Ussy gelisah. Terlebih lagi ketika terakhir kali mereka bertemu, Anis juga tidak pernah lagi pulang bersama tunangannya, Dodit. Apa gerangan yang membuat Anis menjadi seperti ini?
Ussy mendesahkan nafas yang amat panjang, dia tidak bisa berbuat apa – apa lagi kecuali berharap ada yang menolongnya dengan memberitahukan keberadaan Anis. Keluarga Anis sudah menghubungi pihak yang berwenang sehingga mereka semua hanya bisa berharap. Ada di mana sebenarnya Anissa?
Saat Ussy menghela nafas untuk yang kedua kalinya, tiba – tiba pintu perpustakaan terbuka lebar dengan kerasnya, mengagetkan semua orang yang ada di dalam. Petugas perpustakaan pun bangkit dari duduknya dan menghardik marah, “siapa itu yang masuk ribut – ribut? Ini perpustaka…”
Belum selesai kata – kata sang petugas perpustakaan, sesosok tubuh lunglai berlari ke arah Ussy. Semua yang di dalam makin kaget karena mereka mengenal sosok yang sangat kumuh, kotor, berdebu dan berkeringat deras ini, bukankah ini Udin?
“Cepat… cepat… kita… harus… menolong… menolong… Anis… cepat…” kata Udin dengan suara patah – patah pada Ussy.
Suasana di sana langsung gempar. Banyak orang yang mengenali Udin dan Ussy mendekat untuk mencari tahu, mereka bertanya – tanya apakah yang sedang terjadi? Kenapa Udin masuk ke perpustakaan dengan cara seperti ini?
“Apa maksud kamu, Din?” Ussy mengernyitkan dahinya sembari menutup buku yang ia baca. Detak jantung Ussy berdebar dengan kencang. Penampilan Udin kacau balau dan berantakan. Dia juga sangat bau seperti sudah beberapa hari tidak mandi namun justru itu yang membuat Ussy penasaran, dia tahu pasti Anis sudah beberapa hari ini menghilang – kalau Udin tahu sesuatu tentang itu…
“Anis… dia… Anissa… dia… dia… aku tahu dimana dia…” mulut Udin yang masih megap – megap mencoba mengeluarkan kata yang dia inginkan walaupun seluruh kalimat seperti tercekat di dalam tenggorokannya, terasa berat sekali rasanya berucap. Betapa Udin seperti ingin membatukkan apa yang ada di dada, menumpahkan semua kata. Dia orang jahat, dia orang busuk, dia telah membuat Anis menderita, tapi dia tidak akan membiarkannya lama – lama, dia harus menyelamatkan gadis yang sangat ia cintai itu… “cepat… cepat… selamatkan Anis…”
Udin ambruk dengan lemas ke lantai, mengagetkan Ussy yang langsung menjerit, mengagetkan semua orang yang ada di sana.
“Udin? Kamu kenapa, Din? UDIN?!! UDIIIN!??? Tolooong! Toloooong!!”
Suara panik Ussy menggema di perpustakaan itu.
###
Anissa semakin tenggelam dalam khayal yang dalam, daya pikirnya melemah, tubuhnya sudah tak bisa dikendalikan lagi. Ia merasakan detak jantungnya sendiri melemah dan tarikan nafasnya kian tipis. Ia bahkan tak mampu lagi mengeluarkan suara selain erangan, ia sudah benar – benar tidak kuat lagi bertahan.
Mungkinkah sebentar lagi ia akan mati?
Mungkin lebih baik begitu…..
Tubuhnya yang lemah terbaring tanpa daya di tikar, sementara kelompok preman Pak Bejo beristirahat di sekeliling Anissa, menunggu kembalinya nafsu mereka untuk meneruskan pemerkosaan terhadap gadis malang itu. Mereka duduk dan bercanda sambil bermain kartu, minuman keras dan makanan kecil ditebarkan begitu saja di sekitar gudang.
“Kalian sudah capek? Aku lagi, ya? Gadis satu itu memang cantik, cuma istirahat sebentar sudah bisa bikin naik lagi.” Pak Bejo tertawa melihat penisnya kembali menegang hanya dengan melihat Anissa yang telanjang terbaring tanpa daya, kawan – kawannya pun tertawa dan mempersilahkan pria tua itu menikmati kembali nikmat liang cinta Anissa.
Pria tambun berwajah buruk itu berdiri dan melangkah menuju si gadis malang. Baru tiga langkah ia berjalan, tiba – tiba pintu depan dibuka dan cahaya terang lampu senter menyorot wajahnya! Siapa yang membuka pintu? Sejak kapan pintu itu tidak dikunci?
“Hei! Siapa nih main – main?” teriak Pak Bejo marah.
Sambil mengejapkan mata, Pak Bejo mencoba melihat siapa yang dengan kurang ajar menyorotkan lampu senter ke arahnya. Pria tua itu makin jengkel karena orang itu hanya berdiri saja di pintu tanpa menjawab, dari sosoknya, orang itu adalah seorang lelaki. Lampu senter yang disorotkan pria itu akhirnya dimatikan dan Pak Bejo bisa melihat siapa sebenarnya yang telah datang. Preman tua itupun terbelalak melihat siapa yang baru saja datang! Ia tak percaya ini! Bagaimana mungkin?!!
Pak Bejo pucat pasi. Wajah itu… adalah… adalah…
…Paidi!!
“Bajingan tengik! Berani – beraninya kau muncul di sini!” maki Pak Bejo marah, ia berbalik meninggalkan Anissa, mengambil sebatang kayu yang ada di lantai dan membawanya untuk menghadapi Paidi. Dia tidak tahu bagaimana Paidi bisa menemukan tempat ini ataupun bagaimana orang itu bisa datang di saat yang tidak tepat, tapi dia berniat mengakhiri kesombongan sang mantan napi itu sekali untuk selamanya! Pria gemuk itu berkacak pinggang menantang Paidi. Bisa apa si kurus kering ini di hadapan Kribo, Yono, Wewengko dan yang lain?! Mereka akan mengeroyoknya sampai mampus! Biar tahu rasa dia!
Penuh kegeraman, Pak Bejo mengancam. “Bagus kalau kau datang! Kami akan beri kamu pelajaran supaya jangan sok tahu!”
Badu, Jabrik dan Kribo yang tempo hari dihajar Paidi berdiri di belakang Pak Bejo dengan wajah penuh amarah, mereka juga punya dendam yang harus dibayar lunas!
Paidi tersenyum sinis, wajahnya tenang dan ia tak mundur selangkah pun menghadapi Pak Bejo dan preman – premannya. Ia justru menyilangkan tangan sembari maju beberapa langkah, sebelum maju Paidi membuka pintu lebih lebar dan dibelakangnya muncul deretan pria – pria kekar yang berwajah garang, jauh lebih garang dari Pak Bejo dan kawanannya! Satu orang masuk, dua orang, tiga orang, empat, lima, enam… berapa sebenarnya jumlah mereka? Susul menyusul orang berwajah kekar masuk ke gudang dan menatap marah kawanan Pak Bejo!
Ketika orang terakhir masuk, Pak Bejo akhirnya sadar jumlah lawan mereka lebih dari duapuluh orang dan tidak ada yang menatap ramah. Dari ukuran tubuh, kawanan yang dibawa Paidi jauh lebih besar dan kekar dibanding kawanan Pak Bejo.
Kawanan preman anak buah Pak Bejo yang sebagian masih ada yang telanjang buru – buru memakai celana dan tentu saja sedikit bergidik menghadapi rombongan orang yang datang. Mereka mundur teratur, apa – apaan ini? Siapa mereka? Siapa yang diajak Paidi datang ke sini?
“Ini kawan – kawanku saat masih di penjara dulu, Pak Bejo.” Kata Paidi tanpa ekspresi. “Kami akan mengambil Anissa kembali dengan atau tanpa persetujuanmu dan mengembalikan gadis itu pada keluarganya. Oh, dan kami tidak akan mengampuni kalian setelah apa yang kalian lakukan terhadap neng Anissa, itu sudah pasti. Kalian tuntas malam ini.”
Walaupun mendengar namanya disebut, Anissa hanya mengerang tak berdaya saat melihat kedatangan Paidi, ia sudah terlalu lemah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia juga hanya bisa mengerang saat teman – teman Paidi menyerang Pak Bejo sambil mengeluarkan suara nyaring yang nyaris memekakkan telinga. Tak lama kemudian terdengar suara gaduh disusul jeritan kesakitan yang menyayat. Entah kenapa, suara teriakan minta ampun dari Pak Bejo, Kemal, Yono, Wewengko dan yang lain terdengar menyenangkan bagi gadis itu.
Paidi mendekati Anissa, melepaskannya dari ikatan dan memberikan jaketnya untuk menutup tubuh telanjang gadis itu.
“Semua sudah aman… kami datang untuk menyelamatkanmu..” Dengan menggunakan kain handuk kecil, Paidi membersihkan wajah Anissa agar ia bisa lebih mudah bernafas. “Mas Dodit, Bu Alya dan yang lain ada di depan menunggu kita.”
Anissa hanya bisa mengeluarkan erangan pelan dan meneteskan air mata kembali.
Kembali Paidi berbisik, “Semua sudah aman sekarang..”
Anissa memejamkan mata dan tersenyum.
###
Paidi dan Dodit membawa Anissa meninggalkan gudang dan meletakkannya di ruang tengah rumah sebelah dimana terletak sofa panjang. Alya, Lidya dan Ussy langsung menangis melihat kondisi Anissa yang mengenaskan. Mata Anis terbuka tapi pandangannya jauh seperti tak sadarkan diri, nafasnya satu dua dan dari mulutnya hanya keluar erangan yang tak jelas.
Ussy mengeluarkan tissue dan langsung membersihkan bagian tubuh sahabat karibnya yang kotor dan basah. Dodit, Alya dan Lidya ikut membantu. Tangan Anissa terkulai lemas, wajahnya sayu dengan cairan mani berlumuran di sekujur tubuhnya. Dodit terus menerus menciumi dahi Anis yang telah bersih dan mendekapnya hangat. Ia juga terus berusaha mengajak bicara tunangannya itu tapi Anissa tak menjawab sepatah katapun. Wajah pemuda itu terlihat sangat khawatir.
Paidi membungkuk untuk memeriksa Anis, ia memeriksa mata, detak jantung dan luka – luka yang mungkin diderita tunangan Dodit itu.
“Bagaimana dia?” tanya Dodit.
“Keadaan Neng Anissa cukup parah, kita harus membawanya ke rumah sakit, segera.” Jawab Paidi saat melihat kondisi Anissa yang menyedihkan, “kawanan preman itu memperkosanya tanpa ampun. Seandainya kita terlambat datang, mungkin saja ia bisa mati.”
“Pak Bejo memang bajingan!” maki Lidya marah.
Alya segera mengeluarkan kunci mobilnya, “Ini pakai mobilku saja. Akan terlalu lama kalau menunggu mobil ambulance datang, apalagi rumah sakit tidak jauh kalau kamu ngebut. Kami akan baik – baik saja karena orang – orang sialan itu sudah tidak berdaya, apalagi polisi sebentar lagi juga datang. Mas Paidi tolong antar Dodit, Ussy dan Anis ke rumah sakit.”
“Baik, Bu. Saya akan jemput Bu Alya dan Bu Lidya setelah menurunkan Neng Anissa.” Jawab Paidi.
Sambil menunggu Anissa diberi pakaian layak dan dipersiapkan menuju rumah sakit, Paidi berlari menghampiri kawan – kawannya yang masih duduk menjaga kawanan Pak Bejo. Semua kawanan Pak Bejo sudah tak berdaya, mengerang kesakitan karena dikeroyok. Mereka terkulai di lantai dengan wajah babak belur bahkan ada yang patah tulang.
“Aku tidak bisa berjaga berlama – lama, harus mengantarkan Neng Anissa ke rumah sakit. Kalau boleh minta bantuan sekali lagi, aku harap kalian bersedia jaga di sini sampai nanti polisi datang, pastikan tidak ada satu bajingan pun yang lolos.” Kata Paidi.
“Jangan khawatir. Kamu jaga diri. Begitu polisi datang, kami pergi.” Seorang pria berkulit gelap, berwajah burik dan berusia sekitar empatpuluh tahun menjawab.
“Terima kasih Mas Wakidi dan yang lain… terima kasih banyak atas bantuan kalian,” kata Paidi. Kawan – kawan Paidi menepuk pundaknya seakan berterima kasih, selama ini, Paidi selalu membantu mereka tanpa pamrih, ini saatnya bagi mereka untuk membalas jasa.
“Kapan saja butuh bantuan, hubungi kami lagi.” kata orang yang bernama Wakidi. Ketika Paidi hendak beranjak pergi, Wakidi yang kikuk menahan sebentar. “Anu… tapi… aku sebenarnya mau sekalian pamit. Teman – teman yang lain mungkin bisa membantu menjaga orang – orang sialan ini untuk beberapa saat ke depan, tapi kami berenam harus segera pergi karena.. kamu tahu sendiri status kami masih pelarian. Kami tidak bisa bertemu polisi.”
“Kemana kalian akan pergi?” tanya Paidi lagi sambil melihat lima orang yang berdiri gelisah di belakang Wakidi karena takut polisi akan segera datang. Dia tidak begitu mengenal mereka sebaik Wakidi. Kalau tidak salah nama mereka Rustam, Asep, Bagong… dan ia tidak kenal yang lain.
“Entahlah, kami berpikir akan pergi ke pantai dan pergi ke pulau lain.”
Paidi mencabut dompetnya dan menarik secarik kertas bertuliskan nama dan alamat seseorang. “Ini alamat temanku, dia tinggal di pantai dan sudah berjanji akan memberikan kapal gratis untuk aku seandainya aku minta, dulu aku pernah membantunya hingga dia bisa bebas dari penjara. Kalian bisa kesana dan ambil kapal itu.”
Wakidi mengambil kertas itu dan mengangguk – angguk sambil mengucapkan terima kasih, matanya berkaca – kaca. “aku tidak tahu apa yang bisa kami beri…”
“Sudah, yang penting kalian semua selamat. Berhati – hatilah, semoga kalian mendapatkan yang terbaik. Jangan lagi berbuat jahat.” Kata Paidi sambil berlari. Ia menengok ke belakang dan tersenyum pada Wakidi, “cuaca laut sedang buruk, hati – hati.”
Wakidi mengangguk dan tersenyum.
Dodit dan Paidi segera bergegas membopong Anissa yang sangat lemah ke mobil diikuti oleh Ussy yang datang membantu. Alya dan Lidya hanya bisa melihat dengan pandangan iba, kedua kakak beradik itu berpelukan. Air mata tak berhenti menetes dari pelupuk mata mereka. Kasihan sekali nasib Anissa. Alya tak mengira Pak Bejo bisa sekejam ini.
Seperempat jam setelah mobil Alya pergi membawa Anis meninggalkan gudang tua, beberapa mobil polisi datang.
###
Raungan sirene polisi mengaung tanpa henti. Masyarakat sekitar yang penasaran apa yang terjadi bergerombol di sekitar gudang tua tempat Pak Bejo menyekap Anissa. Tanpa tahu permasalahannya, satu dua orang warga nekad maju untuk sekedar memukul anggota gang preman yang sedang digiring masuk ke truk satu persatu untuk dibawa ke kantor polisi. Pak Bejo, Jabrik, Badu, Yono, Kemal dan Wewengko semua tertangkap. Hanya Kribo yang tak terlihat, entah dimana dia berada. Sepertinya dia berhasil meloloskan diri.
Polisi sebenarnya datang terlambat karena anak buah Pak Bejo semua sudah babak belur setelah dihajar teman – teman Paidi. Saat sirene polisi datang, teman – teman Paidi lari dan berpencar karena ada sebagian dari mereka yang hanya bebas bersyarat, kalau sampai tertangkap tangan sedang main hakim sendiri, mereka bisa masuk bui kembali. Saat kawanan Pak Bejo ditangkap polisi, hanya ada sekitar empat belas orang tersisa.
Pak Bejo digiring terakhir, walaupun sudah tertangkap dan diborgol, sifat arogannya masih terlihat dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
Dengan darah yang mengucur dari pelipisnya orang tua bejat itu kesulitan menggunakan indera penglihatan, Pak Bejo memicingkan mata untuk melihat dua sosok tubuh yang sepertinya sudah sangat ia kenal dan melihat Alya serta Lidya memandang kearahnya dengan pandangan marah dan jijik. Pria tua yang tangannya sudah diborgol itu malah tertawa. Ia yang sedang digiring beberapa orang polisi masih sempat mendekati Alya dan Lidya, para polisi itu langsung mengencangkan pegangan mereka.
“Ini belum berakhir… semua belum berakhir… lihat saja nanti… aku pasti kembali…” tawanya yang serak terdengar parau dan tidak nyaman didengarkan. “Kau akan melayaniku lagi.. dengan penuh kepatuhan..” kata Pak Bejo pada Alya, ia melirik ke arah Lidya, “..dan kau bersiaplah menjilati kontolku…”
Alya menggelengkan kepala. “Tidak. Semua sudah berakhir. Kamu akan membusuk di penjara, bajingan jahanam!”
Pak Bejo tertawa terbahak – bahak.
Pak Bejo menundukkan kepala ketika dia digiring ke mobil polisi, beberapa orang yang berkumpul di tempat itu memaki – makinya, beberapa bahkan sempat melayangkan pukulan ke arah kepala dan tubuh Pak Bejo. Wajahnya juga masih berbilur biru karena sempat dihajar Paidi tadi.
Di kejauhan, dua sosok manusia sama – sama mengepulkan asap rokoknya dengan tenang. Mereka tahu apa yang terjadi dan mereka sebelumnya juga sudah memperingatkan Pak Bejo. Kalau ada apa – apa yang terjadi sekarang, itu jelas di luar tanggung jawab mereka. Mereka juga tidak takut akan diseret oleh Pak Bejo ke pengadilan karena keduanya sudah menyiapkan alibi yang sangat kuat dengan bantuan teman – teman mereka. Kalau Pak Bejo jatuh, dia harus jatuh sendiri. Itu resiko yang sudah dia ambil karena tidak mengikuti anjuran mereka.
Dua orang itu adalah Imron dan Pak Kobar.
“Kita pergi sekarang?” tanya Pak Kobar.
Imron melepas rokok yang ia hisap, dilempar ke tanah dan menginjaknya pelan. Pria buruk muka itu mengangguk dan tersenyum lebar pada Pak Kobar. Dia sudah punya rencana baru untuk membuat kampus menjadi mimpi buruk bagi seorang dosen cantik. “Pak Kobar kenal Bu….”
Percakapan mereka tak terdengar lagi begitu mereka berbalik dan berjalan menuju kegelapan. Setelah beberapa saat hanya siulan Imron yang terdengar lamat – lamat.
Keduanya hilang ditelan malam tanpa seorangpun melihat keberadaan mereka.
###
Beberapa minggu kemudian, di tempat lain…
Dina menguap sambil meletakkan novel yang baru ia baca di atas meja di samping kursi santainya, capek sekali rasanya beberapa hari ini. Apa sebaiknya tidur saja? Besok ada janji dengan seorang klien penting yang harus ia dapatkan kontraknya sehingga ia harus bangun pagi – pagi sekali agar tidak terkena macet di jalan. Mungkin memang lebih baik tidur saja sekarang, apalagi suami dan anak – anak juga sudah terlelap jauh lebih awal dan para pembantu sudah kembali ke kamar masing – masing.
Sebelum beranjak untuk mematikan lampu, mata Dina terpaku pada surat kabar yang ada di atas meja, tepatnya pada satu berita yang secara tidak sengaja ia baca judul artikelnya. Dina yang risih mengangkat koran dan mulai membaca berita yang menarik minatnya itu.
“Hari ini, seorang dosen ternama dari Fakultas X Jurusan X Universitas X, sebut saja namanya Dn (xx tahun) ditemukan tewas dirumahnya di kawasan X, pria setengah baya ini diduga keras meninggal dunia karena bunuh diri karena tidak nampak adanya tanda – tanda penganiayaan dan meninggal dengan cara gantung diri.
Saat ini polisi masih terus melakukan olah TKP untuk mendapatkan keterangan yang lebih lengkap. Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih bersekolah yang pada saat kejadian sedang tidak berada di rumah karena berlibur di Bali. Selain surat wasiat, Dn juga meninggalkan sepucuk surat pendek yang berisi permohonan maaf karena telah menyakiti perasaan sang istri dan mengaku tidak sanggup menahan beban dan dosa lebih lama lagi.
Cerita Sex Anak Tiri
Berdasarkan penelusuran ke pihak akademik, almarhum diduga keras terkait dengan skandal joki tes masuk Universitas X yang akhir – akhir ini merebak di media massa dan merugikan para korban hingga ratusan juta rupiah. Pihak universitas konon sudah melayangkan surat resmi pemanggilan pertanggungjawaban kepada almarhum namun sebelum sidang dimulai, Dn sudah melakukan bunuh diri, hal ini makin menguatkan…”
Dina menggelengkan kepala. Aneh – aneh saja sekarang ini, dosen terkenal kok jadi joki, eeh begitu dipanggil untuk pertanggungjawaban malah bunuh diri. Bukankah itu sama saja mengakui perbuatannya? Lagipula gaji dosen kan besar, kok mau – maunya dia jadi joki yang paling – paling tidak seberapa besar dapat persennya? Udah gitu bunuh diri pula, benar – benar pengecut yang tidak berani melangkahkan kaki menuju masa depan.
“Mama Dina sudah makan?”
Terdengar kata – kata lembut dari pintu yang terbuka. Dina tersenyum melihat Dudung membawakan roti tawar yang dioles dengan selai yang sedikit berantakan dan susu karton yang diambil dari lemari pendingin. Dia pikir tadi suaminya sudah tidur, Dina pun segera meletakkan koran yang ia baca.
“Belum. Mau makan sama – sama?” Dina berbohong, dia tadi sebenarnya sudah makan malam, tapi ia tidak tega menyaksikan Dudung memberinya perhatian berlebih dengan membuatkan roti dan membawakan susu. Dengan gerakan elegan Dina melangkah ke arah Dudung dan mencium bibirnya dengan lembut. “Kita makan sama – sama yuk.”
Dina menggandeng Dudung yang tersenyum untuk duduk di meja.
Dina tak peduli lagi seberapa larut malam ini.
Mereka berdua makan bersama.
TAMAT


